من خلق الكون؟ ومن خلقني؟ ولماذا؟
SIAPA YANG MENCIPTAKAN ALAM SEMESTA? SIAPA YANG MENCIPTAKANKU? MENGAPA AKU DICIPTAKAN ?
SIAPA YANG MENCIPTAKAN ALAM SEMESTA? SIAPA YANG MENCIPTAKANKU? MENGAPA AKU DICIPTAKAN ?
Divisi Ilmiah Badan Urusan Keagamaan Masjidilharam dan Masjid Nabawi
Apakah aku telah berada di atas jalan yang benar?
Siapakah yang menciptakan langit dan bumi serta semua makhluk agung di dalamnya yang tak bisa diketahui semuanya?
Siapakah yang membuat sistem yang detail nan rapi ini di langit dan bumi?
Siapakah yang menciptakan manusia dan memberinya pendengaran, penglihatan, dan akal, sekaligus menjadikannya mampu menghimpun pengetahuan dan memahami berbagai hal?
Siapakah yang membuat ciptaan yang detail ini pada organ-organ tubuhmu serta memberimu rupa paling indah?
Cermatilah penciptaan makhluk hidup dengan berbagai variasi dan jenisnya. Siapakah yang menciptakannya dengan ragam rupa yang tiada batas?
Bagaimana alam semesta yang agung ini dapat teratur dan stabil dengan hukum-hukumnya yang mengaturnya secara sangat akurat sepanjang tahun?
Siapakah yang menetapkan sistem-sistem yang mengatur dunia ini (kehidupan dan kematian, reproduksi makhluk hidup, malam dan siang, perubahan musim, dan lain-lain)
Apakah alam semesta ini menciptakan dirinya sendiri? Atau ia tercipta dari sebuah ketiadaan? Atau ia ada secara kebetulan? Allah Ta'ala berfirman, "Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)." [QS. Aṭ-Ṭūr: 35-36].
Jika kita tidak menciptakan diri sendiri sekaligus mustahil kita ada tanpa asal-usul atau secara kebetulan, maka kebenaran yang tidak diragukan lagi adalah bahwa alam semesta ini pasti memiliki Pencipta yang Maha Agung lagi Maha Kuasa, karena mustahil alam semesta ini menciptakan dirinya sendiri! Atau datang dari ketiadaan! Atau datang secara kebetulan!.
Mengapa manusia memercayai keberadaan sesuatu yang tidak dilihatnya semisal: pengetahuan, akal, roh, perasaan, dan cinta? Bukankah karena ia melihat jejak-jejaknya? Maka bagaimana bisa manusia mengingkari keberadaan Sang Pencipta alam semesta yang agung ini, sedangkan ia melihat jejak-jejak ciptaan-Nya, karya-Nya, dan rahmat-Nya?
Tiada seorang pun yang akan percaya ketika dikatakan, "Rumah ini ada tanpa dibangun oleh siapa pun!" Atau dikatakan, "Ketiadaanlah yang menciptakan rumah ini!" Lalu, bagaimana sebagian orang dapat memercayai orang yang mengatakan, "Alam yang besar ini hadir tanpa pencipta?" Bagaimana seorang yang berakal dapat menerima ketika dikatakan bahwa keteraturan yang sangat rapi pada alam ini ada secara kebetulan?
Semua ini membawa kita pada satu kesimpulan, yaitu bahwa alam semesta ini memiliki Tuhan Yang Maha Agung, Maha Kuasa, dan Maha Mengatur. Hanya Dialah satu-satunya yang berhak disembah. Segala sesuatu yang disembah selain-Nya adalah ibadah yang batil, dan tidak berhak untuk disembah.
Tuhan Sang Pencipta Lagi Maha Agung
Hanya ada satu Tuhan pencipta. Dialah yang memiliki, mengatur, memberi rezeki, sekaligus yang menghidupkan dan mematikan. Dialah yang menciptakan bumi serta menundukkan dan menjadikannya layak dihuni oleh makhluk ciptaan-Nya. Dialah yang menciptakan langit beserta makhluk-makhluk besar yang ada di dalamnya. Dia juga membuatkan sistem yang detail nan rapi bagi matahari dan bulan serta siang dan malam yang menunjukkan keagungan-Nya.
Dialah yang telah menundukkan bagi kita udara yang tanpanya kita tidak bisa hidup. Dialah yang menurunkan hujan serta menundukkan lautan dan sungai-sungai untuk kita. Dialah yang memberi kita makan dan menjaga kita sejak berupa janin yang sangat lemah dalam kandungan ibu kita. Dia jugalah yang mengalirkan darah di pembuluh darah kita sejak kita lahir hingga kita meninggal.
Tuhan Yang Maha Pencipta dan Maha Pemberi Rezeki Itu Adalah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-
Allah Ta'ala berfirman, "Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang (yang semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan perintah menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah, Tuhan seluruh alam." [QS. Al-A'rāf: 54].
Hanya Allah-lah Tuhan Pencipta segala yang ada dalam alam semesta, yang kita lihat maupun yang tidak kita lihat. Segala sesuatu selain-Nya adalah makhluk di antara makhluk-makhluk-Nya. Hanya Dia semata yang berhak terhadap ibadah. Tidak ada seorang pun yang boleh diibadahi selain-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya di dalam kerajaan-Nya, penciptaan-Nya, pengaturan-Nya, maupun peribadatan kepada-Nya.
Seandainya ada tuhan-tuhan lain bersama Allah ﷻ, maka alam ini pasti rusak, karena tidak mungkin urusan alam diatur oleh dua Tuhan dalam waktu yang bersamaan. Allah Ta'ala berfirman, "Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa..." [QS. Al-Anbiyā`: 22].
Sifat-Sifat Tuhan Sang Pencipta
Tuhan kita memiliki nama-nama indah yang tidak terhitung dan sifat-sifat agung yang banyak nan mulia yang menunjukkan kesempurnaan-Nya. Di antara nama-nama-Nya: Al-Khāliq (Maha Pencipta) dan Allah. Nama "Allah" memiliki makna: yang disembah, satu-satunya yang berhak terhadap ibadah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Di antara namanya yang lain: Al-Ḥayy (Maha Hidup), Al-Qayyūm (Maha Mengurus makhluk), Ar-Raḥīm (Maha Penyayang), Ar-Rāziq (Maha Pemberi rezeki), dan Al-Karīm (Maha Pemurah). Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur`an Al-Karim, "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, sementara mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung." [QS. Al-Baqarah: 255].
Allah Ta'ala juga berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah, Yang Maha Esa.' Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.” [QS. Al-Ikhlāṣ: 1-4].
Tuhan yang Berhak Disembah Memiliki Sifat-Sifat Kesempurnaan
Di antara sifat-Nya adalah Dia berhak disembah dan diibadahi. Adapun selain-Nya hanyalah makhluk yang diberi taklif, diperintah, dan dikuasai.
Dia Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Semua makhluk dalam kehidupan ini, Allah-lah yang menghidupkan dan mengadakannya dari sebelumnya tidak ada. Dia pulalah yang mengurus keberadaannya, rezekinya, dan kecukupannya. Jadi, Tuhan kita Maha Hidup, tidak akan mati, mustahil bersifat fana, terus-menerus mengurus makhluk-Nya, dan tidak tidur. Bahkan, Dia tidak dihinggapi kantuk maupun tidur.
Di antara sifat-Nya adalah Dia Maha Mengetahui, tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya di bumi maupun di langit.
Sifat-Nya yang lain: Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Dia mendengar segala sesuatu dan melihat seluruh makhluk. Dia mengetahui semua bisikan jiwa dan yang disembunyikan oleh dada. Tidak sesuatu apa pun yang samar bagi-Nya, baik di bumi maupun di langit.
Dia Maha Kuasa, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengalahkan-Nya dan tidak seorang pun dapat menolak kehendak-Nya. Dia melakukan semua yang dikehendaki-Nya, menahan apa yang dikehendaki-Nya, Dia pula yang mendahulukan dan mengakhirkan, dan milik-Nya hikmah yang sempurna.
Dia Maha Menciptakan, Maha Pemberi rezeki lagi Maha Mengatur, Dia yang menciptakan makhluk dan mengaturnya. Semua makhluk ada dalam genggaman-Nya dan di bawah kekuasaan-Nya.
Dia mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan, menolong orang yang tertimpa kesusahan, dan mengangkat kesulitan. Setiap makhluk, apabila ditimpa kesusahan atau kesulitan, ia pasti akan berlindung kepada-Nya.
Ibadah tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah Ta'ala. Dialah Yang Maha Sempurna, satu-satunya yang berhak terhadap ibadah, tidak ada yang lain. Semua yang disembah selain-Nya adalah sembahan yang batil karena ia adalah makhluk yang memiliki kekurangan serta mengalami kematian dan kefanaan.
Allah ﷻ telah menganugerahi kita akal yang dapat mengetahui sebagian keagungan-Nya. Dia juga menanamkan pada diri kita fitrah yang mencintai kebaikan, membenci keburukan, dan merasa tenang ketika kembali kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Fitrah ini menunjukkan kesempurnaan-Nya bahwa Dia -Subḥānahu- tidak mungkin memiliki sifat kekurangan.
Tidak patut bagi orang yang berakal untuk menyembah kecuali sosok yang sempurna. Bagaimana bisa ia menyembah seorang makhluk yang juga memiliki kekurangan sepertinya atau bahkan lebih hina lagi!
Sembahan yang benar tidak mungkin berupa manusia, berhala, pohon, ataupun hewan!
Tuhan berada di atas langit-Nya, bersemayam tinggi di atas arasy-Nya, dan terpisah dari makhluk-Nya. Tidak sedikit pun zat makhluk ada pada diri-Nya, dan tidak sedikit pun dari Zat-Nya terdapat pada makhluk-Nya. Dia tidak menitis maupun menyatu pada sebagian makhluk-Nya.
Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Dia Maha Kaya, tidak membutuhkan makhluk-Nya, tidak tidur, dan tidak makan. Dia Maha Agung, tidak mungkin memiliki pasangan ataupun anak. Allah Sang Pencipta memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan sama sekali tidak memiliki sifat membutuhkan dan kekurangan.
Allah Ta'ala berfirman, "Wahai manusia, telah dibuat suatu perumpamaan, maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Penyembah dan yang disembah sama-sama lemah. Mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya. Sungguh, Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." [QS. Al-Ḥajj: 73-74].
Mengapa Kita Diciptakan Oleh Sang Pencipta? Apa yang Diinginkan-Nya dari Kita?
Apakah masuk akal bila Allah menciptakan semua makhluk ini tanpa tujuan? Apakah Allah menciptakannya sia-sia, padahal Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui?
Apakah masuk akal, bahwa Tuhan yang menciptakan kita dengan sangat rapi dan sempurna serta menundukkan untuk kita apa yang ada di langit dan bumi, ternyata menciptakan kita tanpa tujuan atau membiarkan kita tanpa jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan paling penting yang menyibukkan pikiran kita, semisal: Mengapa kita ada di dunia ini? Ada apa setelah kematian? Apa tujuan kita diciptakan?
Apakah masuk akal, bahwa tidak terdapat hukuman bagi orang yang zalim dan ganjaran bagi orang yang berbuat baik?
Allah -Subhānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Maka apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?" [QS. Al-Mu`minūn: 115].
Allah mengutus para rasul agar kita mengetahui tujuan keberadaan kita, membimbing kita tentang tata cara beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya, serta mengajarkan apa yang diinginkan-Nya dari kita dan cara meraih rida-Nya. Di samping itu, Dia juga mengabari kita tentang ujung perjalanan kita setelah kematian.
Allah mengutus para rasul untuk mengajari kita bahwa Dia semata yang berhak terhadap ibadah dan agar kita mengetahui tata cara beribadah kepada-Nya, menyampaikan kepada kita perintah dan larangan-Nya, dan mengajari kita nilai-nilai luhur yang akan menjadikan kehidupan kita indah sekaligus diliputi kebaikan dan keberkahan jika kita mengamalkannya.
Allah telah mengutus banyak rasul, misalnya: Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa. Allah memberikan para rasul tersebut tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat yang menunjukkan kebenaran mereka dan bahwa mereka diutus dari sisi-Nya -Subḥānahu-. Adapun rasul yang paling terakhir adalah Muhammad ﷺ.
Para rasul telah mengabarkan kepada kita dengan sangat jelas bahwa kehidupan ini adalah ujian, sementara kehidupan yang sejati akan hadir setelah kematian.
Ada surga yang dipersiapkan bagi orang-orang mukmin yang beribadah hanya kepada Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, serta beriman kepada semua rasul. Sebaliknya, ada juga neraka yang disiapkan oleh Allah bagi orang-orang kafir yang menyembah sembahan-sembahan lain bersama Allah atau yang mengingkari siapa pun di antara rasul-rasul Allah.
Allah Ta'ala berfirman, "Wahai anak cucu Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari kalangan kalian sendiri, yang menceritakan ayat-ayat-Ku kepada kalian, maka barang siapa bertakwa dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. Tetapi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." [QS. Al-A'rāf: 35-36].
Allah Ta'ala berfirman, "Wahai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui. Dan jika kalian meragukan (Al-Qur`an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar. Jika kalian tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kalian akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, "Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu." Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci, dan mereka kekal di dalamnya." [QS. Al-Baqarah: 21-25].
Mengapa Jumlah Rasul Itu Banyak?
Allah telah mengutus rasul-rasul-Nya kepada umat manusia. Tidak ada satu umat pun kecuali telah Allah utus kepada mereka seorang rasul untuk mengajak mereka beribadah kepada Tuhan mereka serta menyampaikan perintah-perintah dan larangan-Nya kepada mereka. Tujuan dakwah mereka semua adalah beribadah kepada Allah ﷻ semata. Setiap kali umat tertentu mulai meninggalkan atau merusak agama yang dibawa oleh rasul mereka berupa ajakan untuk menauhidkan Allah, maka Allah menugaskan rasul yang lain untuk meluruskan jalan dan mengembalikan manusia pada fitrah yang lurus dengan menauhidkan Allah dan menaati-Nya.
Hingga Allah menutup para rasul dengan Muhammad ﷺ yang datang membawa agama yang sempurna, syariat yang kekal dan berlaku umum untuk semua manusia hingga hari kiamat. Syariatnya menjadi penyempurna dan penasakh syariat-syariat para rasul sebelumnya. Bahkan, Allah ﷻ telah menjamin kekekalan dan keberlangsungan agama ini hingga hari Kiamat nanti.
Manusia Tidak Dianggap Beriman Sampai Dia Mengimani Semua Rasul
Allah-lah yang mengutus para rasul dan memerintahkan semua makhluk-Nya untuk taat kepada mereka. Siapa yang mengingkari kerasulan satu orang saja di antara mereka, maka ia telah mengingkari semua rasul. Tidak ada dosa yang lebih besar daripada dosa orang yang mengingkari wahyu Allah. Sebab itu, untuk masuk surga, seseorang harus beriman kepada semua rasul.
Setiap orang di masa kini wajib untuk beriman kepada Allah dan semua rasul Allah serta beriman kepada hari Akhir. Tetapi, hal itu tidak akan terwujud kecuali dengan mengimani dan mengikuti rasul terakhir dan penutup mereka, Muhammad ﷺ, yang dikuatkan dengan mukjizat abadi, yaitu Al-Qur`an Al-Karim, yang dijamin oleh Allah untuk dijaga hingga tiba waktu Dia mewarisi bumi dan penghuninya (hari kiamat).
Allah menyebutkan dalam Al-Qur`an Al-Karim bahwa orang yang menolak untuk mengimani siapa pun di antara rasul-rasul-Nya, ia telah kafir kepada Allah dan mendustakan wahyu-Nya. Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain),” serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir), merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Kami sediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan." [QS. An-Nisā`: 150-151].
Oleh karena itu, kita umat Islam beriman kepada Allah dan hari Akhir -sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah- serta kita beriman kepada semua rasul dan kitab-kitab terdahulu. Allah Ta'ala berfirman, "Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.' Dan mereka berkata, 'Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.'" [QS. Al-Baqarah :285].
Apa Al-Qur`an Al-Karim itu?
Al-Qur`an Al-Karim adalah firman dan wahyu Allah Ta'ala yang Dia turunkan kepada rasul terakhir, Muhammad ﷺ. Ia merupakan mukjizat paling besar yang menunjukkan benarnya kenabian beliau ﷺ. Al-Qur`an Al-Karim adalah kitab yang benar dalam hukum-hukumnya dan juga berita-beritanya.
Allah telah menantang orang-orang yang mendustakannya untuk mendatangkan walau satu surah saja yang semisalnya, tetapi mereka tidak mampu melakukannya karena keagungan dan kesempurnaan kandungannya yang mencakup semua yang berkaitan dengan manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat. Al-Qur`an berisikan semua perkara keimanan yang wajib diimani.
Selain itu, di dalamnya terkandung perintah dan larangan yang harus diikuti manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, atau dengan sesama makhluk. Semua itu disampaikan dengan gaya bahasa yang tinggi, fasih, dan jelas.
Di dalamnya, terdapat banyak dalil logika dan fakta-fakta ilmiah yang menunjukkan bahwa kitab ini tidak mungkin merupakan hasil buatan manusia, melainkan sebagai firman Tuhan manusia -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Apakah Islam Itu?
Islam adalah berserah diri kepada Allah Ta'ala dengan mengesakan-Nya (tauhid), tunduk kepada-Nya dengan menaati (perintah-Nya), melaksanakan syariat-Nya dengan ikhlas dan penuh penerimaan, serta mengingkari setiap yang disembah selain Allah.
Allah telah mengutus para rasul dengan satu risalah, yaitu mengajak beribadah hanya kepada Allah yang tiada sekutu bagi-Nya dan mengingkari semua yang disembah selain Allah.
Islam adalah agama semua nabi. Dakwah mereka satu walaupun syariat mereka berbeda-beda. Hari ini, umat Islam merupakan satu-satunya umat yang berpegang teguh kepada agama yang benar yang dibawa oleh seluruh nabi. Hanya risalah Islam yang benar pada zaman ini karena ia adalah risalah penutup dari Allah Sang Pencipta untuk umat manusia.
Jadi, Tuhan yang mengutus Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa -'alaihimussalām- adalah juga yang mengutus penutup para rasul, Muhammad ﷺ. Syariat Islam juga datang untuk menasakh syariat-syariat sebelumnya.
Seluruh agama selain Islam yang dianut manusia hari ini adalah agama hasil buatan manusia atau agama yang dulunya dari Allah kemudian diotak-atik oleh tangan manusia sehingga bercampur dengan tumpukan khurafat, dongeng-dongeng yang diwariskan secara turun-temurun, dan buah pikiran manusia.
Adapun agama umat Islam adalah agama yang satu dan jelas, tidak berubah-ubah. Sebagaimana ibadah yang mereka gunakan dalam beribadah kepada Allah juga satu. Mereka semua mengerjakan salat lima waktu, menunaikan zakat harta, dan berpuasa di bulan Ramadan. Lihatlah undang-undang mereka, yaitu Al-Qur`an Al-Karim yang merupakan kitab yang sama di seluruh negeri umat Islam. Allah Ta'ala berfirman, "...Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagi kalian, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian. Siapa yang terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. Al-Mā`idah: 3].
Allah Ta'ala juga berfirman dalam Al-Qur`an, "Katakanlah (Muhammad), 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.' Siapa saja yang mencari agama selain Islam, maka itu tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi." [QS. Āli 'Imrān: 84-85].
Agama Islam adalah pedoman lengkap untuk kehidupan, sejalan dengan fitrah dan akal, serta diterima oleh jiwa yang lurus. Ia disyariatkan oleh Sang Pencipta Yang Maha Agung bagi makhluk-Nya. Islam merupakan agama kebaikan dan kebahagiaan bagi seluruh manusia di dunia dan akhirat. Ia tidak membeda-bedakan antara satu ras dengan ras lainnya ataupun satu warna kulit dengan warna kulit lainnya. Manusia di dalamnya setara. Tidak ada orang yang istimewa di dalam Islam atas selainnya kecuali dengan kadar amal salehnya.
Allah Ta'ala berfirman, "Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dan dia beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan." [QS. An-Naḥl: 97].
Islam Adalah Jalan Kebahagiaan
Islam adalah agama semua nabi sekaligus agama yang disyariatkan Allah bagi semua manusia, bukan agama yang khusus bagi bangsa Arab.
Islam adalah jalan kebahagiaan hakiki di dunia dan sebab kenikmatan abadi di akhirat.
Islam adalah satu-satunya agama yang mengakomodir kebutuhan roh dan jasad manusia serta mengurai seluruh problematika mereka. Allah Ta'ala berfirman, "Dia (Allah) berfirman, 'Turunlah kalian berdua dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.'” [QS. Ṭāhā: 123-124].
Apa yang akan didapatkan seorang muslim di dunia dan akhirat?
Islam memiliki berbagai manfaat besar, di antaranya:
1- Meraih kesuksesan dan kemuliaan di dunia dengan menjadi hamba Allah. Jika tidak, maka ia akan menjadi hamba hawa nafsu, setan, dan syahwat.
2- Meraih kesuksesan di akhirat, Allah akan mengampuninya, meridainya, dan memasukkannya ke dalam surga serta meraih rida Allah dan kenikmatan abadi, sekaligus selamat dari siksa neraka.
3 - Pada hari kiamat, orang beriman akan dikumpulkan bersama para nabi, orang-orang sidik, syuhada, dan orang-orang saleh. Sungguh, merekalah teman terbaik. Sebaliknya, orang yang tidak beriman akan dikumpulkan bersama sembahan selain Allah, orang-orang buruk, para penjahat, dan perusak.
4- Orang yang dimasukkan ke dalam surga oleh Allah akan hidup dalam kenikmatan abadi tanpa merasakan kematian atau jenis apa pun di antara penyakit, rasa sakit, ketuaan, ataupun kesedihan. Allah akan mengabulkan semua yang mereka inginkan. Sebaliknya, orang yang masuk neraka akan berada dalam siksa abadi yang berkelanjutan tanpa henti.
5- Di dalam surga terdapat berbagai kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah tebersit dalam hati siapa pun. Di antara dalilnya ialah firman Allah Ta'ala, "Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dan dia beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan." [QS. An-Naḥl: 97].
Allah Ta'ala berfirman, "Tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan." [QS. As-Sajdah: 17].
Kerugian Apa yang Akan Dialami oleh Non-Muslim?
Orang yang menolak Islam akan mendapatkan kerugian ilmu dan pengetahuan yang paling agung, yaitu pengetahuan dan ilmu tentang Allah, sekaligus akan rugi keimanan kepada Allah yang memberi rasa aman dan ketenteraman di dunia serta kebahagiaan abadi di akhirat.
Manusia akan kehilangan iman dan kepatuhan terhadap kitab teragung yang diturunkan Allah kepada umat manusia.
Ia akan kehilangan iman kepada nabi-nabi yang mulia dan tidak dapat menyertai mereka di dalam surga kelak di hari kiamat. Bahkan, ia akan menemani para setan, penjahat, dan tagut-tagut di dalam neraka Jahanam. Sungguh, Jahanam adalah seburuk-buruk tempat tinggal dan mereka itu seburuk-buruk tetangga.
Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah, 'Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.' Ingatlah! Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Di atas mereka ada lapisan-lapisan dari api dan di bawahnya juga ada lapisan-lapisan yang disediakan bagi mereka. Demikianlah Allah mengancam hamba-hamba-Nya (dengan azab itu). 'Wahai hamba-hamba-Ku, maka bertakwalah kepada-Ku.'” [QS. Az-Zumar: 15-16].
Siapa yang menginginkan keselamatan di akhirat, hendaklah ia menjadi seorang Muslim yang taat kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya ﷺ.
Di antara fakta yang disepakati oleh para nabi dan rasul -'alaihimussalām- bahwa tidak akan selamat di akhirat kecuali orang-orang muslim yang beriman kepada Allah Ta'ala, tidak menyekutukan-Nya dengan siapa pun dalam ibadah, serta beriman kepada semua nabi dan rasul. Sebab itu, seluruh pengikut para rasul yang beriman dan membenarkan mereka akan masuk surga dan selamat dari api neraka.
Orang yang hidup di zaman Nabi Musa serta beriman kepadanya dan mengikuti ajarannya adalah umat muslim yang beriman dan saleh. Tetapi, setelah Allah mengutus Nabi Isa, para pengikut Nabi Musa wajib mengimani Nabi Isa dan mengikutinya.
Siapa yang beriman kepada Nabi Isa, mereka itulah orang muslim yang saleh. Sedangkan orang yang menolak beriman kepada Isa dan mengatakan, "Aku akan tetap di atas agama Nabi Musa," maka ia bukan mukmin karena ia menolak beriman kepada nabi yang diutus oleh Allah.
Setelah Allah mengutus rasul terakhir, Muhammad ﷺ, maka semua manusia wajib mengimaninya karena Tuhan yang mengutus Musa dan Isa adalah Tuhan yang juga mengutus penutup para rasul, Muhammad. Siapa yang mengingkari kerasulan Muhammad ﷺ dan mengatakan, "Aku akan tetap mengikuti Musa atau Isa," maka orang itu tidak beriman.
Seseorang tidak dianggap beriman dengan hanya mengatakan bahwa ia menghargai orang Islam. Bahkan, untuk keselamatannya di akhirat, ia tidak cukup dengan hanya bersedekah dan membantu orang miskin. Tetapi, ia harus beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Akhir, agar Allah menerima semua amal baiknya. Tidak ada dosa yang lebih besar daripada syirik dan kufur kepada Allah serta menolak wahyu yang diturunkan oleh Allah atau menolak kenabian nabi-Nya yang terakhir, Muhammad ﷺ.
Orang Yahudi dan Nasrani yang mendengar kerasulan Muhammad Rasulullah ﷺ lalu menolak beriman kepadanya dan menolak masuk ke dalam agama Islam, ia akan masuk ke dalam neraka Jahanam dan akan kekal di dalamnya selamanya. Ini merupakan keputusan Allah, bukan keputusan manusia. Allah Ta'ala berfirman, "Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk." [QS. Al-Bayyinah: 6].
Ketika agama terakhir dari Allah ini telah turun kepada manusia, maka setiap orang yang mendengar beritanya dan berita Nabi terakhir Muhammad ﷺ, dia wajib beriman kepadanya, mengikuti syariatnya, serta menaati perintah dan larangannya. Oleh karena itu, orang yang telah mendengar agama Islam namun menolaknya, maka Allah tidak akan menerima amalnya sedikit pun dan akan menyiksanya di akhirat.
Di antara dalilnya ialah firman Allah Ta'ala, "Siapa saja yang mencari agama selain Islam, maka itu tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi." [QS. Āli 'Imrān: 85].
Allah Ta'ala juga berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Ahli Kitab, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), 'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim.'” [QS. Āli 'Imrān: 64].
Apa yang Wajib Diketahui Oleh Seorang Muslim?
Seorang Muslim wajib mengimani keenam rukun berikut:
1- Beriman kepada Allah Ta'ala, bahwa Dia yang menciptakan, memberi rezeki, mengatur, dan yang memiliki segalanya. Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya. Dia tidak memiliki istri maupun anak. Dia semata yang berhak terhadap ibadah. Tidak boleh menyembah yang lain bersama-Nya dan wajib meyakini bahwa peribadatan kepada semua yang disembah selain Allah adalah ibadah yang batil.
2- Beriman kepada para malaikat, bahwa mereka adalah hamba Allah Ta'ala yang Dia ciptakan dari cahaya. Di antara tugas yang Allah berikan kepada mereka adalah membawa wahyu kepada nabi-nabi-Nya.
3- Beriman kepada semua kitab yang Allah turunkan kepada nabi-nabi-Nya, seperti Taurat, Injil, dan kitab yang paling terakhir, yaitu Al-Qur`an Al-Karim.
4- Beriman kepada semua rasul, seperti: Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan yang paling terakhir ialah Muhammad. Mereka semua dari kalangan manusia, Allah menguatkan mereka dengan wahyu dan memberikan mereka bukti dan mukjizat-mukjizat yang menunjukkan kebenaran mereka.
5- Beriman kepada hari Akhir, yaitu hari ketika Allah membangkitkan seluruh umat manusia, memberikan keputusan di antara para hamba-Nya, serta memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dan orang-orang kafir ke dalam neraka.
6- Beriman kepada takdir, bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi di waktu lampau dan yang akan terjadi di waktu mendatang, dan bahwa Allah telah menulis semuanya, menghendakinya, dan menciptakan segala sesuatu.
Dan beribadah kepada Allah dengan apa yang disyariatkan-Nya berupa mendirikan salat, menunaikan zakat, dan berpuasa, serta berhaji ketika mampu melakukan perjalanan ke sana. Kemudian ia wajib mempelajari agamanya yang akan menjadi sumber kebahagiaannya di dunia dan keselamatannya di akhirat.