أسئلة وأجوبة عن شهر رمضان للصغار، ولا يستغني عنها الكبار
TANYA JAWAB TENTANG BULAN RAMADAN UNTUK ANAK-ANAK DAN DEWASA
TANYA JAWAB TENTANG BULAN RAMADAN UNTUK ANAK-ANAK DAN DEWASA
Lembaga Layanan Konten Islami dalam Berbagai Bahasa
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
Mukadimah
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan bulan Ramadan dan mengkhususkannya dengan banyak keutamaan dibandingkan bulan dan hari lainnya. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad bin Abdullah, beserta keluarga dan para sahabatnya. Amabakdu:
Ini adalah kumpulan tanya jawab tentang bulan Ramadan untuk anak-anak dan dewasa. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang hal-hal yang wajib, sunnah, dan yang dianjurkan dalam menyambut bulan Ramadan yang penuh berkah. Seorang pendidik dapat memilih pertanyaan yang sesuai dengan anak dan usianya.
Para sahabat yang mulia -raḍiyallāhu 'anhum- pada zaman dahulu sudah membiasakan anak-anak mereka agar berpuasa sejak kecil, supaya mereka terbiasa mengerjakan ketaatan ini.
Disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ar-Rubayyi' binti Mu'awwiż bin 'Afrā` -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Rasulullah ﷺ mengirimkan beberapa utusan pada waktu pagi, hari Asyura ke perkampungan kaum Ansar yang berada di sekitar Madinah, seraya menyeru, "Siapa saja yang hari ini berpuasa, maka lanjutkan puasanya, dan bagi yang tidak berpuasa, maka hendaklah ia menahan diri (dari makan dan minum) selama sisa hari itu." Setelah itu, kami pun berpuasa pada hari tersebut dan membiasakan anak-anak kecil kami untuk berpuasa, atas kehendak Allah. Lalu kami pergi ke masjid, dan kami buatkan mainan yang terbuat dari bulu, jika di antara mereka ada yang menangis ingin makan, kami berikan mainan tersebut sampai tiba waktu berbuka puasa." (((HR. Bukhari, no. 1960 dan Muslim, no. 1136, dan lafaz ini miliknya))).
Dalam hadis ini disebutkan, bahwa para sahabat membuat mainan untuk anak-anak mereka, yang terbuat dari bulu, yaitu wol yang berwarna, Jika salah satu dari mereka menangis karena lapar, mereka memberinya mainan itu agar terhibur sampai waktu berbuka puasa tiba. Hal ini dilakukan untuk memotivasi dan melatih anak-anak dalam beribadah.
Akan tetapi ada catatan penting di sini, bila seorang anak sudah terlihat benar-benar lesu, maka tidak seharusnya ia dipaksa untuk menyelesaikannya. Hal ini agar tidak menyebabkan kebencian terhadap ibadah, tidak mendorongnya untuk berbohong, atau menimbulkan dampak kesehatan yang buruk, sebab ia belum masuk kategori mukalaf, maka hal ini harus diperhatikan, dan tidak boleh bersikap keras dalam menyuruhnya untuk berpuasa.
Sebagai pelengkap faedah, akan kami paparkan permasalahan-permasalahan yang mesti diketahui orang-orang dewasa, dan harus dihindari saat sedang mengarahkan anak-anak kecil; serta kami telah menandainya di tempatnya dengan tanda kurung seperti ini: {Untuk orang dewasa}.
Demikianlah, dan hanya kepada Allah kami memohon agar memberikan manfaat darinya dan menerimanya.
Tanya Jawab
Apa itu bulan Ramadan?
Jawab: Bulan Ramadan adalah bulan terbaik dalam setahun. Ia merupakan bulan kesembilan dalam kalender hijriah, dan berpuasa di bulan ini adalah salah satu rukun Islam yang lima.
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Islam itu dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, membayar zakat, beribadah haji, dan berpuasa pada bulan Ramadan." (((HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16))).
Apakah wajib berpuasa di bulan Ramadan?
Jawab: Ya. Berpuasa di bulan Ramadan itu wajib, karena ia termasuk salah satu rukun Islam.
Dalilnya, firman Allah Ta'ala, "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." [QS. Al-Baqarah: 183].
Kata "kutiba 'alaikum" maknanya diwajibkan atas kalian.
Dan firman Allah Ta'ala, "Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah." [QS. Al-Baqarah: 185].
Apa yang dimaksud dengan puasa?
Jawab: Beribadah kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dengan menahan lapar dan dahaga serta segala hal yang membatalkannya, sejak terbitnya fajar hingga terbenam matahari, disertai dengan niat.
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala, "Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam." [QS. Al-Baqarah: 187].
Maksudnya, makan dan minumlah sepanjang malam hingga jelas bagi kalian terbitnya fajar sadik, yaitu munculnya cahaya putih fajar yang terpisah dari kegelapan malam. Kemudian, sempurnakanlah puasa dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam.
Apa saja keutamaan bulan Ramadan?
Jawab: Keutamaannya banyak, di antaranya:
1. Al-Qur`an diturunkan di bulan Ramadan. Allah Ta'ala berfirman, "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur`an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)." [QS. Al-Baqarah: 185].
2- Pintu-pintu surga dibuka
3- Pintu-pintu neraka ditutup
4- Setan-setan dibelenggu dan dirantai, sehingga tidak leluasa untuk mengganggu kaum muslimin, seperti yang biasanya dilakukan di bulan lain.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu." (((HR. Bukhari, no. 3277 dan Muslim, no. 1079))).
5- Di dalamnya terdapat lailatulkadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, bagi siapa saja yang menghidupkannya dengan iman dan mengharapkan pahala. Allah Ta'ala berfirman, "Malam kemuliaan (lailatulkadar) itu lebih baik daripada seribu bulan." [QS. Al-Qadr: 3].
6- Allah telah memilih bulan Ramadan dengan mewajibkan puasa, yang merupakan salah satu amalan terbesar dan paling mulia yang mendekatkan hamba kepada Allah Ta'ala.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, 'Setiap amalan anak Adam miliknya, kecuali puasa, ia milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya', demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aroma mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada aroma kasturi." (((HR. Bukhari, no. 1904 dan Muslim, no. 1151))).
Kata "aroma mulut orang yang berpuasa" yakni perubahan aroma mulut.
7- Siapa yang berpuasa dan mengerjakan salat malam di bulan Ramadan karena Allah, niscaya dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan berharap pahala-Nya, niscaya dosa yang telah lalu akan diampuni." (((HR. Bukhari, no. 38 dan Muslim, no. 760))).
dan hadis, "Siapa saja yang mengerjakan salat malam di bulan Ramadan karena iman dan berharap pahala-Nya, niscaya dosanya yang telah lalu akan diampuni." (((HR. Bukhari, no. 37 dan Muslim, no. 759))).
Kata "karena iman" yakni beriman kepada Allah, dan meyakini bahwa puasa tersebut adalah kewajiban yang ditetapkan oleh-Nya -Subḥānahu-.
Kata "berharap pahala-Nya" yakni meminta pahala dan ganjaran dari Allah Ta'ala, bukan lantaran ria atau motif lainnya yang menafikan keikhlasan.
8- Ibadah umrah pada bulan Ramadan pahalanya setara dengan pahala ibadah haji.
Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda, "Ibadah umrah pada bulan Ramadan seperti ibadah haji atau beribadah haji bersamaku." (((HR. Bukhari, no. 1863 dan Muslim, no. 1256))).
Kata "seperti ibadah haji" yakni pahalanya setara dengan pahala ibadah haji.
9- Seseorang yang memberi makanan berbuka untuk orang yang puasa, maka ia juga mendapatkan pahala yang sama dengannya.
Zaid bin Khalid Al-Juhani -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun." (((HR. Tirmizi, no. 807 dan Ibnu Majah, no. 1746))).
10- Allah membebaskan hamba-hamba dari neraka di setiap malam di bulan Ramadan.
Jabir bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah membebaskan hamba-hamba dari neraka pada setiap waktu berbuka, dan hal itu terjadi di setiap malam (bulan Ramadan)." (((HR. Ibnu Majah, no. 1643))).
11- Puasa Ramadan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa yang telah lalu sejak Ramadan sebelumnya, asalkan seseorang menjauhi dosa-dosa besar.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Salat lima waktu, salat Jumat ke Jumat berikutnya, Ramadan ke Ramadan berikutnya, adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya, selama menjauhi dosa-dosa besar." (((HR. Muslim, no. 233))).
Dosa-dosa besar memerlukan taubat yang khusus.
Secara umum, dalil-dalil menunjukkan bahwa bulan Ramadan adalah bulan ibadah, kebaikan, kemurahan hati, rahmat, ampunan, dan pembebasan dari neraka.
Apa saja keutamaan-keutamaan puasa?
Jawab: Berikut ini beberapa keutamaan puasa:
1- Allah sendiri yang akan memberikan balasannya secara khusus, berbeda dengan amalan-amalan lainnya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan-, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda, "Setiap amalan anak Adam miliknya, kecuali puasa, sungguh itu milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasan kepadanya." (((HR. Bukhari, no. 1904 dan Muslim, no. 1151))).
2- Puasa sebagai tameng, yakni perisai dan pelindung dari neraka.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan-, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda, "Puasa itu adalah tameng." (((HR. Bukhari, no. 1904 dan Muslim, no. 1151))).
3- Aroma mulut orang yang berpuasa, meskipun tercium tidak sedap, lebih harum di sisi Allah daripada aroma kasturi.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan-, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda, "Dan demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aroma mulut orang puasa lebih wangi di sisi Allah pada hari Kiamat daripada aroma kasturi." (((HR. Bukhari, no. 1894 dan Muslim, no. 1151))).
4- Orang puasa memiliki dua kebahagiaan.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan-, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda, "Orang puasa memiliki dua kebahagiaan: bahagia saat berbuka dan bahagia saat bertemu Tuhannya." (((HR. Bukhari, no. 1904 dan Muslim, no. 1151))).
5- Ada surga yang pintunya tidak akan dimasuki kecuali orang-orang yang berpuasa.
Sahl -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang disebut Ar-Rayyān, Pada hari Kiamat, orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu itu, tidak ada seorang pun selain mereka yang akan memasukinya. Dikatakan, ‘Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka mereka pun berdiri dan tidak ada seorang pun selain mereka yang akan memasukinya. Setelah mereka masuk, pintu itu ditutup, sehingga tidak ada lagi yang bisa memasukinya." (((HR. Bukhari, no. 1896 dan Muslim, no. 1152))).
6- Doa orang puasa tidak akan tertolak.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada tiga jenis doa yang tidak akan ditolak: -di antara mereka- orang yang berpuasa sampai ia berbuka." (((HR. Tirmizi, no. 3598))).
Apa hikmah dan faedah puasa?
Jawab: Puasa memiliki banyak hikmah yang agung dan mulia, di antaranya:
1- Hikmah terbesar yang Allah Ta'ala sebutkan adalah bahwa puasa sebagai sarana mewujudkan ketakwaan, dan takwa adalah menjalankan perintah Allah Ta'ala serta meninggalkan segala yang Dia larang.
Allah Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." [QS. Al-Baqarah: 183].
2- Puasa melatih manusia untuk bersabar, sedangkan kesabaran adalah inti dari segala urusan. Kesabaran ada tiga jenis: bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah sehingga bisa dikerjakan, bersabar untuk tidak bermaksiat kepada Allah sehingga bisa ditinggalkan, dan bersabar terhadap takdir-Nya.
3- Di antara faedah puasa Ramadan, menampakkan peribadahan kepada Allah -'Azza wa Jalla- di seluruh lapisan masyarakat. Anda mendapati seluruh kaum muslimin dari timur hingga barat mengerjakan puasa secara serentak pada bulan ini.
4- Membiasakan diri untuk mengerjakan ketaatan dan ibadah, terutama puasa.
5- Membiasakan diri agar bisa meninggalkan sesuatu karena Allah Ta'ala.
6- Orang puasa merasakan nikmat Allah Ta'ala yang diberikan kepadanya, di antaranya nikmat makanan dan minuman.
7- Puasa menjadikan seseorang merasakan apa yang dialami orang-orang yang lemah, fakir, dan miskin serta timbul rasa kasih sayang kepada mereka; karena ia mengalami rasa lapar.
8- Puasa melemahkan pengaruh dan gangguan setan.
9- Puasa melatih diri untuk ikhlas dan murāqabah (merasa diawasi oleh-Nya). Tidak ada yang dapat mencegah orang yang berpuasa untuk makan atau minum kecuali kesadarannya bahwa Allah Ta'ala senantiasa mengawasinya.
10- Puasa bisa menyehatkan dan menguatkan tubuh, sebagaimana telah ditetapkan oleh para dokter.
Apa saja yang membatalkan puasa?
Jawab: 1- Makan dan minum dengan sengaja pada siang hari bulan Ramadan; berdasarkan firman Allah Ta'ala, "Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam." [QS. Al-Baqarah: 187].
Adapun orang yang makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah, dan ia harus segera menahan diri (berhenti makan atau minum) jika ia teringat atau diingatkan bahwa ia sedang berpuasa, sebagaimana sabda beliau ﷺ, "Siapa yang lupa saat berpuasa, lalu makan atau minum, hendaklah ia melanjutkan puasanya, karena sesungguhnya Allah yang telah memberi makan dan minum kepadanya." (((HR. Bukhari, no. 1933 dan Muslim, no. 1155))).
2- Muntah secara sengaja, yaitu mengeluarkan apa yang ada di dalam perut berupa makanan atau minuman melalui mulut dengan sengaja; sedangkan jika muntah itu terjadi tanpa disengaja dan keluar tanpa kehendaknya, maka hal itu tidak mempengaruhi puasanya.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ, "Siapa yang muntah tanpa sengaja, maka tidak ada kewajiban menggantinya, adapun siapa yang muntah dengan sengaja, maka ia wajib mengganti puasanya." (((HR. Tirmizi, no. 720))).
Kata "muntah tanpa disengaja" yakni ingin segera muntah dan tidak tertahankan untuk keluar tanpa disengaja.
3- Murtad dan kafir, karena menafikan peribadahan. Hal ini berdasarkan firman-Nya Ta'ala, “Sungguh jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu." [QS. Az-Zumar: 65].
4- Bekam, yaitu mengeluarkan darah melalui kulit.
Hal itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ, "Orang yang membekam dan yang dibekam telah batal (puasanya)." (((HR. Abu Daud, no. 2367))).
Dan yang serupa dengan bekam adalah donor darah.
Adapun darah yang keluar karena luka, mencabut gigi, atau mimisan, maka hal itu tidak membatalkan puasa; karena bukan termasuk bekam dan tidak serupa dengannya.
5- {Untuk orang dewasa}. Puasa akan batal karena jimak atau onani (masturbasi).
6- {Untuk orang dewasa} Keluar darah haid dan nifas. Manakala seorang wanita melihat darah haid atau nifas, ia berbuka puasa (batal puasa) dan wajib menggantinya; hal ini berdasarkan sabda beliau ﷺ mengenai kondisi wanita, "...Bukankah jika mengalami haid, ia tidak salat dan tidak puasa." (((HR. Bukhari, no. 304))).
7- Apa pun yang serupa dengan makan dan minum: seperti suntik atau infus.
Apa saja sunah-sunah puasa?
Jawab: Orang yang berpuasa dianjurkan dan disunahkan untuk memperhatikan beberapa hal berikut dalam puasanya:
1- Sahur. Ini berdasarkan sabda beliau ﷺ, "Makan sahurlah kalian, karena dalam makanan sahur terdapat keberkahan." (((HR. Bukhari, no. 1923 dan Muslim, no. 1095))).
Sahur dapat dilakukan dengan makan yang banyak atau sedikit, bahkan dengan seteguk air. Waktu sahur dimulai sejak pertengahan malam sampai terbitnya fajar.
2- Mengakhirkan makan sahur. Hal ini berdasarkan hadis Zaid bin Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Kami makan sahur bersama Rasulullah ﷺ, kemudian kami beranjak salat." Aku bertanya, "Berapakah tempo waktu antara keduanya (sahur dan terbit fajar)?" Dia menjawab, "Sekitar lima puluh ayat." (((HR. Bukhari, no. 575 dan Muslim, no. 1097))).
Kata "Lima puluh ayat" maksudnya jarak waktu antara sahur dan azan salat Fajar (Subuh) kira-kira cukup untuk membaca lima puluh ayat. Dalam hal ini, terdapat anjuran untuk mengakhirkan sahur hingga mendekati waktu fajar.
3- Menyegerakan berbuka. Orang yang berpuasa disunahkan agar segera berbuka saat matahari terbenam.
Ini berdasarkan hadis Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Manusia akan senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka (puasa)." (((HR. Bukhari, no. 1957 dan Muslim, no. 1098))).
4- Berbuka dengan beberapa butir ruṭab (kurma muda), jika tidak ada, bisa dengan beberapa butir kurma kering, dan jika tidak ada, bisa dengan beberapa teguk air.
Ini berdasarkan hadis Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, "Dahulu Rasulullah ﷺ biasanya berbuka dengan beberapa butir ruṭab (kurma basah) sebelum salat, bila tidak ada ruṭab, maka dengan beberapa butir kurma kering, jika tidak ada juga, dengan beberapa teguk air." (((HR. Abu Daud, no. 2356))).
Kata "beberapa teguk" yakni minum tiga kali tegukan.
Apabila sedang di suatu tempat, lalu tiba waktu berbuka, namun tidak mendapati apa pun yang bisa dikonsumsi, maka dia boleh niat berbuka dalam hati, dan itu sudah mencukupi.
5- Berdoa saat berbuka dan di sepanjang hari puasa.
Ini berdasarkan sabda beliau ﷺ, "Ada tiga (orang) yang doa mereka tidak tertolak: (doa) pemimpin yang adil, orang puasa saat berbuka, dan orang yang terzalimi." (((HR. Tirmizi, no. 3598))).
6- Memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur`an, memberi berbuka kepada orang yang berpuasa, dan melakukan segala amal kebaikan.
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ manusia yang paling dermawan, dan menjadi lebih dermawan di bulan Ramadan saat bertemu Jibril. Beliau bertemu dengan Jibril setiap malam di bulan Ramadan, saling mengkaji Al-Qur`an. Sungguh Rasulullah ﷺ lebih dermawan dalam melakukan kebaikan melebihi hembusan angin." (((HR. Bukhari, no. 6 dan Muslim, no. 2308))).
7- Bersungguh-sungguh mendirikan salat malam, terkhusus di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, ia berkata, "Dahulu, saat masuk sepuluh hari (terakhir Ramadan), Nabi ﷺ mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya." (((HR. Bukhari, no. 2024 dan Muslim, no. 1174))).
Kalimat "masuk sepuluh hari" yakni sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan.
Kalimat "mengencangkan sarungnya" merupakan kiasan untuk bersiap-siap beribadah dengan lebih sungguh-sungguh, melebihi hari biasanya.
Kalimat "menghidupkan malamnya" yakni menghabiskan waktu malam dengan begadang (tidak tidur) untuk mengerjakan salat, dan melakukan ketaatan-ketaatan lainnya.
Kalimat "membangunkan keluarganya" yakni membangunkan mereka untuk mengerjakan salat malam.
8- Melakukan umrah.
Ini berdasarkan sabda beliau ﷺ, "Jika tiba bulan Ramadan, maka umrahlah, sebab ibadah umrah di bulan itu setara dengan ibadah haji." (((HR. Bukhari, no. 1782 dan Muslim, no. 1256))).
9- Mengucapkan "Aku sedang berpuasa" jika ada orang yang mencelanya, selalu bertutur kata baik dengan manusia, dan tidak berbicara dengan perkataan buruk.
Ini berdasarkan sabda beliau ﷺ, "Apabila di antara kalian berpuasa, jangan berkata rafas dan jangan bertindak bodoh. Jika ada orang yang mencelanya atau berbuat kasar kepadanya, hendaklah ia berkata, "Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa." (((HR. Bukhari, no. 1904 dan Muslim, no. 1151))).
Kalimat "jangan berkata rafas" yakni tidak mengucapkan kata-kata kotor.
Kalimat "tidak bertindak bodoh," bodoh di sini lawan dari kebijaksanaan dan kebenaran, baik dalam ucapan maupun perbuatan.
10- Orang yang puasa disunahkan mengucapkan doa berikut setelah berbuka, "Żahabaẓ-ẓama`u wabtallatil 'urūqu wa ṡabatal ajru insyā allāh." Artinya: "Telah hilang dahaga, urat-urat sudah basah, dan pahala pun diraih dengan kehendak Allah." (((HR. Abu Daud, no. 2357))).
Apa saja yang dimakruhkan dalam puasa?
Jawab: Bagi orang yang berpuasa, makruh hukumnya melakukan beberapa hal yang bisa menyebabkan puasanya batal atau pahalanya berkurang, yaitu:
1- Berlebihan dalam berkumur dan istinsyāq (menghirup air ke dalam hidung saat berwudu).
Karena dikhawatirkan air akan masuk ke dalam perutnya; berdasarkan sabda beliau ﷺ, "Hiruplah air ke dalam hidung dengan kuat, kecuali kamu sedang berpuasa." (((HR. Abu Daud, no. 2366))).
2- Menelan dahak, yaitu air liur atau lendir yang ingin diludahkan; karena itu bisa sampai ke dalam perut, dan memberi kekuatan pada tubuh, selain ia juga kotor dan berbahaya lantaran menelannya.
3- Mencicipi makanan tanpa ada kebutuhan. Jika seseorang membutuhkannya -seperti orang yang masak, ia butuh mencicipi rasa asin atau yang semisalnya- maka tidak masalah, asalkan berhati-hati agar tidak ada sesuatu yang masuk ke tenggorokannya.
4- Banyak tidur di siang hari dan membuang-buang waktu, melakukan aktivitas dan berbicara yang tidak berfaedah. Yang harus dilakukan adalah memanfaatkan waktu siang untuk mengerjakan ketaatan.
5- {Untuk orang dewasa}, mencium bagi orang yang nafsunya bergejolak, dan termasuk kalangan yang tidak bisa menahan nafsu. Maka makruh bagi orang yang berpuasa untuk mencium istrinya; sebab bisa menyebabkan nafsu syahwatnya bergejolak sehingga dapat membatalkan puasanya dengan keluar mani atau jimak. Namun, jika ia merasa aman dari hal-hal yang dapat merusak puasanya, maka tidak mengapa.
6- {Untuk orang dewasa}, memikirkan aktivitas jimak atau berbicara tentang hal-hal yang membangkitkan syahwat.
Apa hukum berbuka puasa pada bulan Ramadan tanpa uzur?
Jawab: Apabila seorang muslim tidak berpuasa satu hari saja pada bulan Ramadan tanpa uzur, ia wajib bertobat kepada Allah dan memohon ampun dari-Nya; karena ini termasuk dosa dan kemungkaran besar. Selain bertaubat dan memohon ampun, ia wajib mengganti puasa sebanyak hari yang ia batalkan setelah bulan Ramadan.
Siapa saja yang diberi keringanan untuk berbuka puasa di siang hari Ramadan serta apa saja kewajiban yang harus dilakukannya?
Jawab: 1. Orang yang memiliki penyakit yang tidak memungkinkannya berpuasa, musafir, wanita hamil dan wanita menyusui -baik karena khawatir terhadap diri sendiri atau bayinya-, atau uzur lainnya yang membolehkan untuk berbuka, maka ia boleh tidak berpuasa, namun ia wajib mengqaḍa (menggantinya) setelah bulan Ramadan. Ini berdasarkan firman Allah Ta'ala, "Maka siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain." [QS. Al-Baqarah: 184].
Maksudnya, siapa di antara kalian yang sedang sakit dengan kondisi yang puasa terasa berat baginya, atau musafir, maka ia boleh berbuka, Namun, setelah itu ia wajib mengganti puasa sebanyak hari yang ditinggalkan.
2. Jika seseorang menderita penyakit yang tidak ada harapan sembuhnya, yang bersifat menetap dan terus-menerus, atau seperti orang yang sudah lanjut usia yang tidak mampu berpuasa. Orang seperti ini tidak diwajibkan untuk mengqada puasa karena ketidakmampuannya, namun ia diwajibkan untuk memberikan makanan, yaitu memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan, sebanyak setengah ṣā' makanan, dan satu ṣā' sekitar tiga kilogram.
Ini berdasarkan firman Allah Ta'ala, "Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin." [QS. Al-Baqarah: 184]. Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- mengatakan terkait ayat tersebut, "Ayat ini tidak dimansukh. Yang dimaksud adalah laki-laki dan perempuan yang sangat tua dan tidak mampu untuk berpuasa, maka keduanya harus memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan sebagai pengganti puasa." (((HR. Bukhari, no. 4505))).
Kapan seseorang mengganti puasa? Apa konsekuensinya jika dia menundanya hingga masuk bulan Ramadan berikutnya?
Jawab: Siapa yang berbuka puasa di bulan Ramadan karena uzur yang dibolehkan syariat, maka ia wajib menggantinya sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, "Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain." [QS. Al-Baqarah: 185].
Dan ia wajib menggantinya di tahun yang sama, tidak boleh menundanya hingga masuk Ramadan berikutnya. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Dahulu aku pernah mempunyai tanggungan puasa Ramadan, dan aku tidak mampu menggantinya kecuali pada bulan Syakban, karena sibuk dengan urusan Rasulullah ﷺ." (((HR. Bukhari, no. 1950 dan Muslim, no. 1146))).
Pernyataan, "dan aku tidak mampu menggantinya kecuali pada bulan Syakban," ini merupakan dalil bahwa qada itu dilakukan sebelum masuk Ramadan berikutnya.
Akan tetapi jika seseorang menunda qada sampai bulan Ramadan berikutnya, maka ia harus memohon ampun kepada Allah, bertobat kepada-Nya, serta menyesali perbuatannya, dan harus mengganti hari tersebut; karena status qada tidak gugur disebabkan penundaan, sehingga ia tetap harus menggantinya walaupun setelah selesai bulan Ramadan berikutnya.
Apa saja etika yang wajib dilakukan saat berpuasa?
Jawab: Kami akan sebutkan secara umum. Etika ini dibutuhkan setiap waktu; tetapi ia menjadi lebih ditekankan pada bulan Ramadan dan bagi orang yang berpuasa.
1- Menjaga ketaatan dan kewajiban, di antaranya, salat tepat waktu secara berjamaah.
Allah Ta'ala berfirman, "Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." [QS. An-Nisa`: 103].
2- Orang yang berpuasa harus menjauhi semua hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ, antara lain: dusta, gibah, adu domba, curang, mendengarkan musik, serta berbagai dosa dan maksiat lainnya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa pun yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan orang tersebut meninggalkan makan dan minumnya." (((HR. Bukhari, no. 1903))).
Kata Az-Zūr maknanya dusta dan menyimpang dari kebenaran serta melakukan kebatilan.
Kata "Allah tidak membutuhkan" yakni Allah Ta'ala tidak peduli dengan puasanya serta tidak menerimanya, bukan berarti seseorang diperintahkan untuk tidak berpuasa, tetapi maknanya peringatan agar menjauhi perkataan dusta.
Apa saja yang boleh dilakukan orang yang berpuasa?
Jawab: Banyak hal yang disebutkan oleh para ulama terkait apa saja yang dibolehkan, di antaranya:
1- Mandi dan menyegarkan tubuh dengan air.
2- Menggunakan siwak.
3- Berkumur dan istinsyaq tanpa berlebihan.
4- Mengambil sampel darah untuk pemeriksaan medis.
5- Menggunakan tetes mata dan telinga.
6- Suntikan pengobatan yang tidak bersifat nutrisi.
7- Mencicipi makanan jika diperlukan tanpa menelannya, dengan syarat harus meludahkannya kembali setelah itu.
8- Memakai parfum dan mencium aroma.
9- Menggunakan celak mata.
Apa keutamaan salat malam pada bulan Ramadan?
Jawab: Mendirikan malam bulan Ramadan yang dikenal sebagai salat Tarawih, memiliki keutamaan yang besar.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa saja yang mengerjakan salat malam di bulan Ramadan karena iman dan berharap pahala-Nya, niscaya dosanya yang telah lalu akan diampuni." (((HR. Bukhari, no. 37 dan Muslim, no. 759))).
Kata "karena iman" yakni beriman kepada Allah dan bahwa salat tersebut adalah kewajiban yang ditetapkan oleh-Nya -Subḥānahu-.
Kata "berharap pahala-Nya" yakni meminta pahala dan balasan dari Allah Ta'ala, tanpa ria (pamer) atau hal-hal lain yang bertentangan dengan keikhlasan.
Dan hendaklah ia berusaha untuk melaksanakan salat Tarawih bersama jamaah hingga imam selesai, agar ia mendapatkan pahala salat malam yang sempurna, berdasarkan sabda Nabi ﷺ, "Siapa saja yang salat bersama imam hingga selesai, maka dicatat baginya pahala salat malam satu malam penuh." (((HR. Tirmizi, no. 806))).
Apa saja yang disunahkan untuk dikerjakan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dan lailatulkadar?
Jawab: Nabi ﷺ biasanya bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, yang tidak Beliau lakukan pada malam-malam lainnya, serta mencari lailatulkadar di sela sepuluh hari tersebut. Kami sebutkan secara umum amalan-amalan yang disunahkan untuk dilakukan pada malam-malam tersebut:
1- Lebih bersungguh-sungguh pada malam-malam tersebut.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, ia berkata, "Dahulu, saat masuk sepuluh hari (terakhir Ramadan), Nabi ﷺ mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya." (((HR. Bukhari, no. 2024 dan Muslim, no. 1174))).
Kata "mengencangkan ikat pinggangnya" merupakan kiasan untuk bersiap-siap beribadah dan berusaha lebih keras dalam beribadah, melebihi biasanya
Dan diriwayatkan dari riwayat Aisyah juga: "Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir, melebihi waktu lainnya." (((HR. Muslim, no. 1175))).
Malam lailatulkadar terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadan, maka seorang Muslim hendaknya memanfaatkan semua malam dalam sepuluh malam terakhir untuk meraih lailatulkadar. Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Carilah lailatulkadar pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan)." (((HR. Bukhari, no. 2021))).
2- Salat malam pada lailatulkadar.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Siapa yang salat pada lailatulkadar karena iman dan berharap pahala, niscaya dosanya yang telah lalu akan diampuni." (((HR. Bukhari, no. 1901 dan Muslim, no. 760))).
3- Iktikaf di masjid.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Nabi ﷺ biasanya beriktikaf di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadan." (((HR. Bukhari, no. 2033 dan Muslim, no. 1172))).
Iktikaf adalah fokus beribadah di masjid, meninggalkan kesibukan dengan banyak orang, mengosongkan hati dari urusan duniawi dan hanya menyibukkan diri dengan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Bacalah Surah Al-Qadr dan jelaskan tafsirnya!
Jawab: Bismillāhirraḥmānirraḥīm (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang). "Innā anzalnāhu fī lailatil qadr." (1) "Wa mā adrāka mā lailatul qadr" (2). "Lailatul qadr khairun min alfi syahr." (3). "Tanazzalul malā`ikatu warrūḥu fīhā bi`izni rabbihim min kulli amr." (4). "Salāmun hiya ḥattā maṭla`il-fajr." (5). [QS. Al-Qadr: 1-5].
Tafsirnya:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`an) pada malam lailatulqadar (malam kemuliaan)." [QS. Al-Qadr:1]. Kami telah menurunkan Al-Qur`an sekaligus ke langit dunia, sebagaimana Kami pun mulai menurunkannya kepada Nabi ﷺ pada lailatulqadar di bulan Ramadan.
"Dan tahukah kamu apakah lailatulqadar (malam kemuliaan itu?" [QS. Al-Qadr: 2]. Dan apakah kamu tahu -wahai Nabi- apa yang ada dalam malam ini terkait kebaikan dan keberkahan yang besar?
"Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan." [QS. Al-Qadr: 3]. Malam ini adalah malam yang penuh dengan kebaikan yang agung, lebih baik daripada seribu bulan bagi siapa yang menghidupkannya dengan iman dan mengharap pahala. Ini adalah malam yang penuh keberkahan, di mana amal saleh yang dilakukan di dalamnya lebih baik daripada amal seribu bulan.
"Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan." [QS. Al-Qadr: 4]. Para malaikat turun dan Jibril -'alahissalām- juga turun di malam itu dengan izin Tuhan mereka Yang Maha Suci, membawa segala urusan yang telah Allah tetapkan untuk tahun tersebut, baik itu rezeki, kematian, kelahiran, atau hal lain yang telah Allah takdirkan.
"Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar." [QS. Al-Qadr: 5]. Malam yang penuh berkah ini adalah kebaikan seluruhnya, dari awal hingga akhirnya, sampai terbit fajar.
Apakah yang dimaksud dengan zakat fitrah dan apa hukumnya?
Jawab: Dia adalah zakat yang diwajibkan dalam Islam bertepatan dengan berbuka (berakhirnya) bulan Ramadan.
Zakat fitrah wajib bagi setiap Muslim, baik yang dewasa maupun anak-anak, laki-laki maupun perempuan. Seorang Muslim mengeluarkannya untuk dirinya sendiri serta untuk orang-orang yang menjadi tanggungannya, seperti istri dan anak-anaknya.
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu ṣā' kurma atau satu ṣā' gandum atas hamba sahaya maupun orang merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun orang dewasa dari kaum muslimin." (((HR. Bukhari, no. 1503 dan Muslim, no. 984))).
Zakat fitrah dikeluarkan dari makanan pokok yang biasa dikonsumsi oleh penduduk setempat, seperti beras dan sejenisnya. Waktu yang paling utama untuk mengeluarkannya adalah pada pagi hari raya sebelum salat Idulfitri. Namun, boleh juga dikeluarkan satu atau dua hari sebelum hari raya, takarannya sekitar tiga kilogram.
Apa hikmah diwajibkannya zakat fitrah?
Jawab: Di antara hikmahnya:
1- Menyucikan orang yang berpuasa dari segala sesuatu yang mungkin telah terjadi selama berpuasa, seperti perkataan yang tidak bermanfaat dan perbuatan yang tidak senonoh.
2- Memberikan kecukupan kepada orang-orang miskin dan fakir agar mereka tidak perlu meminta-minta pada hari raya, dan menyenangkan hati mereka; agar hari raya menjadi hari kegembiraan dan kebahagiaan bagi seluruh lapisan masyarakat. Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan perbuatan yang tidak senonoh, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin." (((HR. Abu Daud, no. 1609))).
3- Zakat fitrah sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah terhadap hamba, karena telah menyempurnakan puasa selama satu bulan Ramadan dan mengerjakan salat malamnya, serta mengerjakan amalan saleh selama bulan yang penuh berkah ini.
4- Mendapatkan pahala dan balasan yang besar, dengan menyerahkannya kepada yang berhak menerimanya pada waktu yang telah ditentukan.
Apa saja sunah-sunah pada hari raya?
Jawab: Hari raya dalam Islam adalah wujud kegembiraan atas karunia dan rahmat Allah. Beberapa sunah yang dilakukan oleh umat Muslim pada hari raya adalah sebagai berikut:
1- Mandi sebelum berangkat untuk salat Id.
Ada hadis sahih dalam Al-Muwaṭṭa` dan yang lainnya, bahwa Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- biasanya mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat ke tempat salat Id. (Muwaṭṭa` Malik: 1/177).
2- Makan sebelum berangkat salat Idul Fitri. Jadi tidak keluar untuk salat hingga makan beberapa butir kurma. Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ tidak berangkat pada hari Idul Fitri hingga beliau makan terlebih dahulu beberapa butir kurma...beliau memakannya secara ganjil." (((HR. Bukhari, no. 953))).
3- Mengucapkan takbir pada hari Idul Fitri.
Waktu takbir pada Idul Fitri dimulai sejak malam Id -yakni waktu Magrib akhir bulan Ramadan- hingga imam memulai salat Id.
Allah Ta'ala berfirman, "Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur." [QS. Al-Baqarah: 185].
4- Ucapan selamat. Di antara etika pada hari raya adalah saling mengucapkan selamat antar sesama, apapun lafaznya. Seperti mengucapkan, "taqabbalallāhu minnā wa minkum," (semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian) atau "'īdun Mubārak" (semoga hari Id ini berkah), dan ucapan-ucapan selamat lainnya yang diperbolehkan.
Jubair bin Nufair -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Saat para sahabat Nabi ﷺ saling bertemu pada hari Id, mereka saling mengucapkan, "tuqubbila minnā wa minka." (Semoga amal kami dan amal kalian diterima). (((HR. Al-Maḥāmiliy, seperti yang tertera dalam Fatḥul Bārī (2/446), dan Ibnu Hajar mengatakan, "Sanadnya hasan.")))
5- Berhias untuk menyambut dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha).
Umar bin Al-Khaṭṭab -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Wahai Rasulullah, aku melihat Aṭārid menjual pakaian terbuat dari sutra, sekiranya Anda membelinya lalu memakainya saat menyambut para utusan dan hari Id?" (((HR. Bukhari, no. 984 dan Muslim, no. 2068))).
Nafi', ia berkata, "Sesungguhnya Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- biasa mengenakan pakaian terbaiknya pada dua hari raya." (((HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubrā, no. 6143))).
6- Berangkat untuk salat Id melalui satu jalan, dan kembali melalui jalan yang lain.
Jabir bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Nabi ﷺ biasanya pada hari Id melalui jalan yang berbeda (berangkat dan pulangnya)." (((HR. Bukhari, no. 986))).
Apa keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal?
Jawab: Puasa enam hari pada bulan Syawal setelah kewajiban puasa bulan Ramadan hukumnya sunah yang dianjurkan. Di dalamnya terkandung keutamaan yang besar dan pahalanya berlimpah; sebab orang yang berpuasa di hari-hari tersebut berhak mendapatkan pahala puasa selama setahun penuh. Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang puasa Ramadan, kemudian melanjutkannya dengan puasa sunah enam hari pada bulan Syawal, maka setara dengan puasa setahun." (((HR. Muslim, no. 1164))).
Pelajaran apa yang kita dapat dari bulan Ramadan dan apa yang akan kita lakukan setelah Ramadan?
Jawab: Kami akan mengakhiri dengan menjawab pertanyaan ini. Puasa adalah sekolah terbesar dalam Islam yang mendidik kaum muslimin, ia termasuk salah satu rukun agama dan pilar utama yang besar. Berikut ini beberapa pelajaran serta hikmah yang bisa dipelajari seorang hamba di sekolah puasa ini pada bulan Ramadan; agar ia dapat terus mengamalkannya setelah Ramadan.
Pelajaran Pertama:
Bulan Ramadan mengajarkan kita untuk bersabar. Sabar merupakan ibadah dan amal kebaikan yang paling mulia. Tatkala seorang hamba bersabar dari makan dan minum, maka ia terbiasa untuk bersikap sabar yang mencakup segala kebaikan; yaitu bersabar dalam ketaatan, bersabar menjauhi kemaksiatan, dan bersabar dalam menghadapi takdir yang menyakitkan. Allah Ta'ala berfirman mengenai keutamaan sabar, "Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." [QS. Az-Zumar: 10].
Pelajaran Kedua:
Bulan Ramadan mengajarkan kita untuk berserah diri kepada Allah Ta'ala dan kepada Rasul-Nya ﷺ dalam hal menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Allah Ta'ala berfirman, "Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata." [QS. Al-Aḥzāb: 36].
Pelajaran Ketiga:
Bulan Ramadan mengajarkan kita untuk bertakwa kepada Allah, dengan menahan lisan, anggota tubuh dan hawa nafsu demi meraih rida Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." [QS. Al-Baqarah: 183].
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda, "Allah 'Azza wa Jalla berfirman, 'Puasa itu milik-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya, seseorang meninggalkan syahwatnya, makanannya, minumannya demi Aku. Puasa merupakan perisai'." (((HR. Bukhari, no. 7492 dan Muslim, no. 1151))).
Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa pun yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan orang tersebut meninggalkan makan dan minumnya." (((HR. Bukhari, no. 1903))).
Pelajaran Keempat:
Bulan Ramadan mengajarkan kita tentang ibadah dan manisnya menjalankannya; agar kita terus melakukannya setelah Ramadan, seperti salat malam, puasa, dan membaca Al-Qur`an.
Terkait ibadah puasa, Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan berharap pahala-Nya, niscaya dosa yang telah lalu akan diampuni." (((HR. Bukhari, no. 38 dan Muslim, no. 760))).
Terkait keutamaan salat malamnya, beliau ﷺ bersabda, "Siapa saja yang mengerjakan salat malam di bulan Ramadan karena iman dan berharap pahala-Nya, niscaya dosanya yang telah lalu akan diampuni." (((HR. Bukhari, no. 37 dan Muslim, no. 759))).
Terkait ibadah membaca Al-Qur`an, beliau ﷺ, "Lebih dermawan lagi di bulan Ramadan saat bertemu Jibril, dan biasanya bertemu dengannya setiap malam di bulan Ramadan, saling mengkaji Al-Qur`an." (((HR. Bukhari, no. 6 dan Muslim, no. 2308))).
Maka seorang hamba hendaknya terus melanjutkan ibadah-ibadah ini, seperti puasa, salat malam, dan membaca Al-Qur`an, meskipun tidak seperti di bulan Ramadan.
Pelajaran Kelima:
Bulan Ramadan mengajarkan kita untuk selalu merasa diawasi oleh Allah, dan memahami kedudukan ihsan. Ihsan adalah kita beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat-Nya, jika kita tidak melihat-Nya, maka sungguh Dia melihat kita; karena orang yang berpuasa melatih dirinya untuk selalu merasa diawasi oleh Allah Ta'ala, lalu ia meninggalkan keinginan nafsunya, padahal ia mampu untuk melakukannya; karena ia tahu bahwa Allah selalu melihatnya. Allah Ta'ala berfirman, "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." [QS. Al-Ḥadīd: 4].
Pelajaran Keenam:
Bulan Ramadan mengajarkan kita bahwa agama kita mudah, dan Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya. Siapa yang mampu berpuasa maka ia berpuasa, dan siapa yang tidak mampu maka ia boleh berbuka dan mengganti puasa yang ditinggalkannya atau membayar kafarat (fidyah), dan hal tersebut disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Allah Ta'ala berfirman, "Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur." [QS. Al-Baqarah: 185].
Pelajaran Ketujuh:
Bulan Ramadan mengajarkan kita bersedekah serta berbuat baik kepada kaum fakir dan miskin, serta merasakan empati terhadap mereka. Nabi ﷺ adalah orang yang paling dermawan di bulan Ramadan. (((HR. Bukhari, no. 6 dan Muslim, no. 2308))).
Dan seorang hamba saat merasakan perihnya rasa lapar, akan timbul rasa empati kepada kaum fakir, dan ini termasuk salah satu sifat dari ketakwaan.
Pelajaran Kedelapan:
Bulan Ramadan mengajarkan kita betapa luasnya ampunan, rahmat, dan karunia Allah Ta'ala. Ia merupakan bulan yang penuh dengan rahmat, pengampunan, dan pembebasan dari api neraka. Di dalamnya ada lailatulqadar yang lebih baik daripada seribu bulan; yakni lebih dari delapan puluh tahun dan empat bulan. Allah Ta'ala berfirman, "Dan tahukah kamu apakah lailatulqadar (malam kemuliaan itu)? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar." [QS. Al-Qadr: 2-5].
Pelajaran Terakhir:
Apa yang akan dilakukan setelah Ramadan? Allah adalah Tuhan di bulan Ramadan dan Tuhan seluruh bulan dan hari. Maka seorang hamba harus berpegang teguh pada satu prinsip utama, tidak peduli bagaimana perubahan keadaan dan hari yang dilalui, yaitu takwa kepada Allah 'Azza wa Jalla.
Penutup
Pada bagian penutup ini, saya akan menyebutkan beberapa referensi dan sumber yang bermanfaat. Orang yang ingin memperdalam pemahaman tentang puasa dan mempelajari berbagai masalah terkait dengannya dapat merujuk pada sumber-sumber ini.
Buku "Dua Risalah Ringkas Terkait Zakat dan Puasa" karya Syekh Abdul Aziz bin Bāz.
Buku "Majālis Syahri Ramaḍān" karya Syekh Muhammad bin Ṣāliḥ Al-'Uṡaimīn.
Buku "Majālis Syahri Ramaḍān al-Mubārak" dan berikutnya "Itḥāf Ahlil-Īman bi Durūsi Syahri Ramaḍān" karya Syekh Ṣāliḥ bin Fauzān Al-Fauzān.
Buku "Uqūdul-Jumān fī Durūsi Syahr Ramaḍān" karya Syekh Sa'ad bin Turki Al-Khaṡlān.
Buku "Durūsu Syahr Ramaḍān" karya Syekh Muhammad bin Syāmī Syaibah.
Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, suka memberi maaf, maafkanlah kami. Semoga Allah mencurahkan selawat serta salam kepada junjungan kita, Muhammad, keluarganya, dan segenap sahabatnya.