من معالم التوحيد

من معالم التوحيد

PEDOMAN MEMAHAMI TAUHID

Language: lang_id
Prepared by: Abdurrazzāq bin Abdul Muḥsin al-Badr.
Version: 1.0
Translations 11
Bengali Spanish French Indonesian +7
Attachments 7
PDF
Audio
Video
+3

PEDOMAN MEMAHAMI TAUHID

Abdurrazzāq bin Abdul Muḥsin al-Badr.

Bismillāhirraḥmānirraḥīm (Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

Segala puji hanya milik Allah Tuhan seluruh alam. Kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba dan rasul-Nya, semoga Allah mencurahkan selawat serta salam kepada beliau, keluarganya, dan segenap sahabatnya. Amabakdu,

Tauhid merupakan hal utama dan terakhir dalam agama, lahir dan batin. Tauhid adalah dakwah pertama dan yang terakhir para rasul, serta makna dari kalimat "lā ilāha illallāh" (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah). Tauhid menjadi tujuan makhluk diciptakan, para rasul diutus, kitab-kitab diturunkan, dan berdasarkan tauhid. Dengan tauhid, manusia terbagi menjadi mukmin dan kafir, serta menjadi penghuni surga yang berbahagia dan penghuni neraka yang celaka. Tauhid merupakan kewajiban pertama bagi mukalaf dan merupakan hakikat agama Islam yang tidak akan diterima oleh Allah agama selainnya. Urusannya sangat agung serta sangat besar. Setiap individu dari kita membutuhkannya sebagai pengingat dan pemahaman. Dalam buku ini "Pedoman Memahami Tauhid" terdapat sedikit penjelasan tentang tanda-tanda tauhid dan petunjuk-petunjuknya melalui beberapa pembahasan berikut:

Pertama: Keistimewaan dan Keutamaan Tauhid

Kedua: Pengertian Tauhid dan Hakikatnya

Ketiga: Merealisasikan dan Menyempurnakan Tauhid

Keempat: Pembatal dan Pengurang Kesempurnaan Tauhid

Kelima: Sumber dan Asal Tauhid

Keenam: Buah dan Manfaat Tauhid

Inilah enam pembahasan yang akan menjadi pokok pembicaraan dalam buku ini secara ringkas dan singkat. Setiap permasalahan memerlukan penjelasan yang lebih luas dan mendalam. Namun, saya akan mencukupkan pembahasan ini dengan uraian yang dapat mencapai maksudnya dengan izin Allah -Tabarakallāhu wa Ta'ālā-. Hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan dan taufik-Nya.

Permasalahan Pertama:

Keistimewaan dan Keutamaan Tauhid

Ketahuilah bahwa tauhid memiliki keistimewaan yang sangat banyak dan keutamaan yang bermacam-macam yang menunjukkan kedudukannya yang tinggi dan derajatnya yang mulia. Di sini, saya akan menyebutkan sepuluh di antaranya:

- Pertama: Tujuan utama kita semua diciptakan dan keberadaan kita di dunia ini adalah untuk merealisasikan tauhid. Hal ini berdasarkan firman Allah -Subhānahu wa Ta'āla-, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." [QS. Aż-Żāriyāt: 56]. Maksudnya dari kalimat: "melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku" adalah agar mereka menauhidkan-Ku. Maka tauhid adalah tujuan utama kita diciptakan di kehidupan ini. Allah -Subhānahu wa Ta'āla- tidak menciptakan kita dengan sia-sia dan Dia juga tidak membiarkan kita tanpa tujuan atau tanpa aturan. Sebaliknya, Dia menciptakan makhluk agar beribadah kepada-Nya. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- menghadirkan mereka ke dunia ini untuk menauhidkan-Nya. Cukuplah ini menjadi bukti keagungan tauhid dan ketinggian kedudukannya.

- Kedua: Tauhid merupakan inti dari dakwah para nabi dan rasul. Artinya setiap nabi yang Allah -'Azza wa Jalla- utus, dakwahnya terpusat pada tauhid dan berdiri di atasnya. Dalilnya cukup banyak, di antaranya: Firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, "Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt.'" [QS. An-Naḥl: 36]. Juga firman Allah Jalla Jalāluh, "Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku." [QS. Al-Anbiyā`: 25]. Allah -'Azza wa Jalla- juga berfirman, "Tanyakanlah (Muhammad) kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau, “Apakah Kami menentukan tuhan-tuhan selain (Allah) Yang Maha Pengasih untuk disembah?” [QS. Az-Zukhruf: 45]. Allah Jalla Jalāluh berfirman, "Ingatlah (Hud) saudara kaum 'Ād, yaitu ketika dia mengingatkan kaumnya di al-Aḥqāf. Dan sesungguhnya telah berlalu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan setelahnya, (dengan berkata), 'Janganlah kalian menyembah selain Allah.'" [QS. Al-Aḥqāf: 21]. Kata An-Nużur maksudnya adalah para utusan. Maksudnya seluruh rasul, baik sebelum maupun sesudahnya, sepakat pada tujuan yang sama ini: "Janganlah kalian menyembah selain Allah!" Tauhid adalah inti dakwah para nabi dan rasul. Oleh karena itu, kata pertama yang didengar oleh suatu kaum dari nabi mereka dan hal pertama yang mereka sampaikan dalam dakwah kepada Allah adalah ajakan untuk menauhidkan-Nya. Sebab, tauhid merupakan dasar yang menjadi landasan bagi agama. Sesungguhnya perumpamaan agama itu seperti sebuah pohon. Diketahui bahwa pohon memiliki akar dan cabang. Sebuah pohon tidak akan tegak kecuali dengan akarnya, begitu pula agama tidak akan tegak kecuali dengan dasarnya, yaitu tauhid. "Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit." [QS. Ibrāhīm: 24]. Sebagaimana pohon yang jika akarnya dipotong akan mati, demikian pula agama, jika tidak ditegakkan di atas tauhid, maka tidak akan memberikan manfaat. Kedudukan tauhid dalam agama seperti akar bagi pohon dan seperti fondasi bagi bangunan.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa tauhid merupakan inti dakwah para nabi dan rasul serta landasan utama risalah mereka adalah sabda Nabi ﷺ dalam hadis yang sahih, "Para nabi semuanya saudara seayah, ibu mereka berbeda-beda, tetapi agama mereka satu." ([1]) Artinya, akidah mereka satu. Semua nabi adalah para pendakwah tauhid, menyeru manusia untuk menauhidkan Allah. Adapun perbedaan ibu mereka bermakna bahwa syariat mereka berbeda-beda. "Untuk setiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang." [QS. Al-Mā`idah: 48]. (1) HR. Muslim (2365) dari hadis Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-.

- Ketiga: Di antara keistimewaan tauhid, ia merupakan kewajiban pertama bagi seorang mukalaf. Kewajiban pertama seorang manusia untuk bisa masuk agama ini ialah tauhid. Ketika seseorang memulai dakwah kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, ia harus memulainya dengan tauhid. Banyak dalil yang menunjukkan hal ini, di antaranya adalah sabda Nabi ﷺ, "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah." Hadis. ([2]) Dalil lainnya adalah sabda beliau ﷺ kepada Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- ketika mengutusnya ke negeri Yaman, "Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab, maka hal yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah beribadah kepada Allah -'Azza wa Jalla-." Hadis. ([3]) Dalam riwayat lain disebutkan dengan redaksi, "Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka jadikanlah hal pertama yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah agar mereka menauhidkan Allah Ta'ala" ([4]). Dalam riwayat lain dengan lafaz, "Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab. Maka jika engkau telah sampai kepada mereka, serulah mereka agar bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah." ([5]) Tauhid adalah kewajiban pertama bagi seorang mukalaf dan pertama yang dimulai dikerjakan, serta pertama kali yang memasukkan seseorang ke dalam agama ini. Sebab, agama ini berdiri di atas tauhid. Tauhid adalah fondasi utama yang menjadi landasan bagi seluruh ajarannya. (2) HR. Bukhari (25, 1399) dan Muslim (21, 22) dari hadis Abu Hurairah dan Ibnu Umar serta yang lainnya -raḍiyallāhu 'anhum-. (3) HR. Bukhari (1458) dan Muslim (19). (4) HR. Bukhari (7372). (5) HR. Bukhari (1496).

- Keempat: Di antara keistimewaan tauhid, ia merupakan sebab keamanan dan petunjuk, baik di dunia maupun di akhirat. Silakan baca dalam firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk." [QS. Al-An'ām: 82]. Keamanan itu di tangan Allah. Dia -Subḥānahu wa Ta'ālā- tidak akan memberikannya kecuali kepada orang yang bertauhid, yang mengikhlaskan agamanya hanya untuk-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Tatkala ayat ini turun -sebagaimana tercantum dalam hadis yang sahih-, maka para sahabat -raḍiyallāhu 'anhu- merasa berat dengan maknanya. Lalu mereka mendatangi Nabi ﷺ seraya berkata, "Wahai Rasulullah, siapa di antara kita yang tidak berbuat zalim kepada dirinya sendiri?" Maksudnya tidak ada seorang pun di antara kami kecuali pernah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Allah Ta'ala berfirman, "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk." Maknanya, kita tidak mempunyai bagian dari rasa aman dan petunjuk tersebut, karena setiap individu dari kita pasti menzalimi dirinya sendiri. Lantas Nabi ﷺ bersabda, "Bukan itu maksudnya -yakni, bukan itu yang dimaksud dengan kezaliman dalam ayat tersebut-. Bukankah kalian pernah membaca pernyataan seorang hamba yang saleh, yaitu Luqmānul Ḥakīm, "Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." [QS. Luqmān: 13]. Maka Nabi ﷺ menafsirkan bahwa kezaliman dalam ayat tersebut adalah syirik. Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa siapa pun yang beriman dan tidak berbuat syirik akan mendapatkan keamanan dan petunjuk, baik di dunia maupun di akhirat. Inilah salah satu keistimewaan tauhid, yaitu siapa pun yang bertauhid dengan benar, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- akan menganugerahkan kepadanya keamanan dan petunjuk dalam kehidupan dunia dan akhirat.

- Kelima: Di antara keistimewaan tauhid adalah bahwa tauhid memberikan keselamatan dari kegelisahan dan kontradiksi. Berbeda dengan keyakinan lain yang penuh dengan kebingungan dan pertentangan. Hal ini ditunjukkan dalam firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, "Sekiranya (Al-Qur`an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya." [QS. An-Nisā`: 82]. Keyakinan yang dibuat-buat oleh manusia dan diada-adakan mengandung banyak kegelisahan dan kontradiksi. Sebaliknya, keimanan yang benar, akidah yang lurus, serta tauhid yang kokoh —yang bersumber dari Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya ﷺ— terbebas dari semua itu.

- Keenam: Di antara keistimewaan tauhid adalah bahwa ia sesuai dengan fitrah yang suci dan akal yang lurus. Tauhid adalah agama fitrah, dan jika manusia dibiarkan dengan fitrahnya tanpa pengaruh luar, ia tidak akan menerima selain tauhid. Sebab, tauhid sejalan dengan fitrah, bahkan tauhid itulah fitrah itu sendiri, sebagaimana firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." [QS. Ar-Rūm: 30]. Adapun syirik, ia merupakan penyimpangan dan keluar dari fitrah yang lurus. Oleh karena itu, dalam Sahih Muslim terdapat hadis qudsi di mana Allah Ta'ala berfirman, "Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus semuanya, tetapi kemudian setan mendatangi mereka, lalu menyesatkan mereka dari agamanya." ([6]) Kalimat "Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus," maknanya di atas fitrah yaitu tauhid. "Kemudian setan datang kepada mereka dan menyesatkannya," maknanya setan membelokkan mereka dari agama yang benar. (6) HR. Muslim (2865) dari hadis 'Iyāḍ bin Ḥimār Al-Mujāsyi'iy -raḍiyallāhu 'anhu-.

Dalam hadis sahih dari hadis Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Tidak ada seorang pun yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani, sebagaimana kalian melihat seekor hewan ternak yang dilahirkan dalam keadaan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat pada hewan itu sebelum kalian sendiri yang membuatnya cacat?" ([7]) Dalam riwayat lain disebutkan, "Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebagaimana seekor hewan ternak melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat pada hewan itu sebelum kalian sendiri yang membuatnya cacat?" ([8]) Hewan ternak lahir dari perut induknya dalam keadaan sempurna, dengan telinga dan anggota tubuh yang lengkap. Jika kemudian kakinya, tangannya, atau telinganya terpotong, maka itu bukanlah bagian dari asal penciptaannya, melainkan akibat perbuatan manusia setelah ia lahir dalam keadaan sempurna. Lalu Nabi ﷺ bersabda, "Sampai kalian sendiri yang membuatnya cacat." Demikian pula, seorang bayi lahir dalam keadaan fitrah (tauhid). Jika kemudian ia menjadi Nasrani, Yahudi, Majusi, atau menyimpang ke dalam berbagai bentuk kesesatan, penyimpangan, dan kebatilan, maka itu disebabkan oleh kedua orang tuanya atau lingkungan tempat ia dibesarkan. (7) HR. Bukhari (6599). (8) HR. Bukhari (1358) dan Muslim (2658).

Seorang anak akan tumbuh *** sesuai dengan kebiasaan yang diajarkan oleh ayahnya

Nabi ﷺ bersabda, "Maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." Beliau tidak mengatakan "atau menjadikannya seorang Muslim", karena seorang anak sudah lahir di atas fitrah (Islam). Tauhid adalah agama fitrah, sedangkan syirik dan berbagai bentuk kesesatan serta kebatilan bertentangan dengan fitrah dan berlawanan dengannya. Adapun kesesuaian tauhid dengan akal yang lurus, maka akal yang sehat, yang tidak menyimpang dan tidak bengkok, tidak akan menerima selain tauhid. Siapakah orang yang memiliki akal yang sehat, tetapi rela menerima keberagaman tuhan? Atau menggantungkan dirinya pada kubah atau tanah? "Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Apa yang kalian sembah selain Dia hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat, baik oleh kalian sendiri maupun oleh nenek moyang kalian. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu." [QS. Yūsuf: 39-40].

Sosok yang bertauhid dari kalangan jahiliah, Zaid bin 'Amr bin Nufail, berkata ketika ia meninggalkan agama kaumnya,([9]) (9) As-Sīrah karya Ibnu Isḥāq (2/96).

Apakah satu Tuhan atau seribu tuhan *** yang aku sembah segala urusan terbagi-bagi?

Aku meninggalkan Al-Lat dan Al-Uzza seluruhnya *** demikianlah yang dilakukan oleh orang yang tegar dan sabar.

Maka aku tidak menyembah Al-Uzza maupun kedua putrinya *** juga tidak memuja berhala-berhala milik Bani Amr.

"Dan ia mencela penyembelihan kaum Quraisy serta berkata, 'Domba itu diciptakan oleh Allah, Dia menurunkan air dari langit untuknya, dan menumbuhkan makanan dari bumi untuknya, lalu kalian menyembelihnya tanpa menyebut nama Allah?' Ia mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai sebuah masalah yang sangat besar." ([10]) (10) HR. Bukhari (3826).

Tidak ada perkara yang paling jelas dan gamblang untuk bisa diketahui melalui akal melainkan kesempurnaan sang Pencipta alam ini, menyucikan-Nya dari segala jenis cacat dan kekurangan, serta serta mengesakan-Nya dalam ketundukan dan kepatuhan. Para rasul datang untuk mengingatkan pengetahuan ini serta merincikannya, maka kebaikan tauhid dan keburukan syirik telah tertanam dalam akal dan fitrah, serta diketahui oleh siapa saja yang memiliki hati yang hidup, akal yang sehat, dan fitrah yang lurus.

- Ketujuh: Di antara keistimewaan tauhid adalah bahwa tauhid merupakan ikatan sejati yang tetap abadi dan berkelanjutan di dunia maupun di akhirat. Tidak ada ikatan di antara manusia secara mutlak yang dapat menyamai ikatan tauhid, karena ikatan ini yang menghubungkan orang-orang yang bertauhid dan beriman adalah ikatan yang kekal, terus berlanjut, dan tidak terputus, baik di dunia maupun di akhirat. "Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa." [QS. Az-Zukhruf: 67]. Allah berfirman dalam ayat lain, "Dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus." [QS. Al-Baqarah: 166]. Maknanya, segala hubungan dan ikatan pada hakikatnya akan terputus. Setiap kasih sayang akan sirna, setiap keterikatan akan lenyap kecuali cinta, hubungan, dan keterkaitan yang berlandaskan tauhid dan keimanan kepada Allah -'Azza wa Jalla-. Apa yang dilakukan karena Allah akan tetap bertahan dan terus bersambung, sedangkan apa yang dilakukan demi selain-Nya pasti akan terputus dan berakhir. Sebesar apa pun kekuatan suatu ikatan dan sedalam apa pun hubungan tersebut, ia pasti akan berakhir —baik di dunia maupun di akhirat— kecuali hubungan yang dibangun atas dasar tauhid kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan keimanan yang benar kepada-Nya. Itulah satu-satunya hubungan yang kekal, terus berlanjut, dan tidak akan terputus, baik di dunia maupun di akhirat.

- Kedelapan: Di antara keistimewaan tauhid adalah kemurnian sumbernya. Tauhid berasal dari mata air yang jernih dan sumber yang murni, diambil langsung dari Kitab Allah Yang Maha Agung serta dari sunnah Rasul-Nya ﷺ yang tidak berbicara menurut hawa nafsu, melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya. Aspek ini akan dijelaskan lebih rinci pada bagian berikutnya.

- Kesembilan: Di antara keistimewaan tauhid adalah keteguhannya dan penjagaannya. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- telah menjamin untuk menjaga tauhid ini, menjaga agama ini, dan menjadikannya tetap bertahan. Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, "Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur`an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai." [QS. At-Taubah: 33]. Allah ﷻ juga berfirman, "Sesungguhnya Allah membela orang yang beriman." [QS. Al-Ḥajj: 38]. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Dan merupakan hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman." [QS. Ar-Rūm: 47]. Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat." [QS. Ibrāhīm: 27].

- Kesepuluh: Di antara keistimewaan tauhid adalah bahwa dia memiliki banyak faedah, keutamaan, dan dampak positif yang beragam baik di dunia maupun di akhirat. Pembahasan tentang sebagian dari hal tersebut akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian akhir dan kesimpulan dari topik ini.

Permasalahan Kedua:

Pengertian Tauhid dan Hakikatnya

Kata tauhid, bentuk maṣdar dari kata kerja waḥḥada yuwaḥḥidu tauḥīdan. Kata ini adalah pokok yang menunjukkan pada pengesaan. Menauhidkan Allah berarti mengesakan-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-, serta meniadakan sekutu bagi-Nya dalam hak-hak dan keistimewaan-Nya yang Maha Agung. Maka, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam segala keistimewaan-Nya dan tidak ada sekutu dalam hak-hak-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā- atas hamba-hamba-Nya.

Maka rububiyah —yaitu pengaturan alam semesta, penciptaan, pemberian rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur segala urusan— ini semua merupakan hak istemewa Allah -'Azza wa Jalla-.

Nama-nama Allah yang indah, sifat-sifat-Nya yang mulia, kehendak-Nya pasti terlaksana, kuasa-Nya yang menyeluruh, ilmu-Nya yang luas, dan kesempurnaan-Nya ﷻ dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, ini semua termasuk kekhususan Allah -'Azza wa Jalla-. Maka, siapa pun yang memberikan salah satu dari keistimewaan ini kepada makhluk, berarti ia telah merusak tauhidnya.

Hak-hak Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- atas hamba-hamba-Nya adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu-. Nabi ﷺ pernah bersabda kepadanya, "Wahai Mu'āż, tahukah kamu apa hak Allah terhadap hamba-Nya dan hak hamba terhadap Allah?" Dia berkata, "Aku menjawab, 'Hanya Allah dan rasul-Nya yang tahu.'" Beliau bersabda, "Sesungguhnya hak Allah terhadap hamba-Nya adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan hak hamba terhadap Allah -'Azza wa Jalla- adalah bahwa Dia tidak akan menyiksa siapa saja yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun." ([11]) Ibadah merupakan hak Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- semata. Siapa yang mengarahkan sebuah ibadah kepada selain Allah maka ia telah merusak tauhidnya. (11) HR. Bukhari (2856, 5967) dan Muslim (30).

Maka, tauhid adalah mengesakan Allah ﷻ dalam hak-hak dan keistimewaan-Nya. Sedangkan syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah -'Azza wa Jalla- dalam salah satu hak atau keistimewaan-Nya. Inilah hakikat tauhid, yaitu kita mengesakan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan tidak menjadikan sekutu bagi-Nya, sebagaimana firman-Nya -'Azza wa Jalla-, "Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun." [QS. An-Nisā`: 36]. Allah ﷻ berfirman, "Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia." [QS. Al-Isrā`: 23]. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama." [QS. Al-Bayyinah: 5]. Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak.

Dengan demikian, jelaslah bahwa tauhid terbagi menjadi tiga: tauhid rububiyah, tauhid asmā` wa ṣifāt, dan tauhid uluhiyah.

- Tauhid Rububiyah Tauhid ini adalah mengesakan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- sembari meyakini bahwa hanya Dia satu-satunya Pencipta, Pemberi rezeki, Pemilik, Pemberi nikmat, dan Pengatur segala urusan, yang tidak memiliki sekutu dalam hal tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Katakanlah (Muhammad), 'Siapakah Tuhan langit dan bumi?' Katakanlah, 'Allah.'" [QS. Ar-Ra'd: 16]. Allah Ta'ala juga berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Milik siapakah bumi dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Milik Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak ingat?' Katakanlah, 'Siapakah Tuhan yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki Arasy yang agung?' Mereka akan menjawab, 'Milik Allah.' Katakanlah, 'Maka mengapa kamu tidak bertakwa?' Katakanlah, 'Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan segala sesuatu. Dia melindungi dan tidak ada yang dapat dilindungi (dari azab-Nya), jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Milik Allah.' Katakanlah, '(Kalau demikian), maka bagaimana kamu sampai tertipu?'” [QS. Al-Mu`minūn: 84-89]. Allah Ta'ala berfirman, "Demikianlah Allah, Tuhanmu, Maha Suci Allah Tuhan seluruh alam." [QS. Gāfir: 64]. Allah Ta'ala berfirman, "Alllah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu." [QS. Az-Zumar: 62]. Dan ayat-ayat lainnya.

- Bagian kedua: Tauhid Asmā` wa Ṣifāt Yaitu mengesakan-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā- terkait nama-nama-Nya indah dan sifat-sifat-Nya yang mulia, yang tertera di dalam kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya ﷺ. Allah Ta'ala berfirman, "(Dialah) Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang mempunyai nama-nama yang terbaik." [QS. Ṭāha: 8]. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Serulah Allah atau serulah Ar-Raḥmān.' (Silakan) dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asmā’ul Ḥusnā)." [QS. Al-Isrā`: 110]. Allah Ta'ala berfirman, "Dialah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana." [QS. Al-Ḥasyr: 22-24].

- Bagian ketiga: Tauhid Uluhiyah Yaitu mengesakan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dalam peribadahan, seperti: berdoa, berharap, rasa takut, nazar, menyembelih, salat, puasa, dan ibadah lainnya, serta tulus dalam beragama kepada-Nya dan berlepas diri dari kesyirikan, sebagaimana Allah ﷻ berfirman, "Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama." Allah -'Azza wa Jalla- juga berfirman, "Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik)." [QS. Az-Zumar: 3]. Allah -'Azza wa Jalla- juga berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku.'" [QS. Al-An'ām: 162-163]. Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang meninggal dunia sementara dia berdoa kepada selain Allah sebagai sekutu maka ia akan masuk neraka." ([12]) Inilah tauhid dan hakikatnya. (12) HR. Bukhari (4497) dengan lafaz tersebut dan Muslim (92) dari hadis Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-.

Setiap bagian tauhid ini ada lawannya. Jika Anda mengetahui bahwa tauhid rububiyah adalah meyakini bahwa Allah Ta'ala sang Pencipta, Pemberi rezeki, Yang menghidupkan, Yang mematikan, sang Pengatur seluruh urusan, Pengatur segala ciptaan-Nya tanpa sekutu dalam kepemilikan-Nya, maka lawannya adalah ketika seorang hamba meyakini bahwa ada pengatur alam ini selain Allah dalam hal-hal yang hanya dapat dilakukan oleh Allah -'Azza wa Jalla-.

Apabila Anda sudah mengetahui bahwa tauhid Asma` wa Ṣifāt adalah menyeru Allah dengan nama-nama yang Dia tetapkan bagi diri-Nya, serta menyifati-Nya dengan sifat-sifat yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dan yang ditetapkan oleh Rasul-Nya Muhammad ﷺ, serta menafikan keserupaan dan penyamaan bagi-Nya, maka lawannya ada dua perkara, secara umum disebut sebagai ilḥād (ateis):

- Pertama: Menafikan hal itu dari Allah -'Azza wa Jalla- serta meniadakan sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan sifat-sifat keagungan-Nya yang telah tetap berdasarkan Al-Qur`an dan Sunnah.

- Kedua: Menyerupakan sifat-sifat Allah Ta'ala dengan sifat-sifat makhluk-Nya, padahal Allah Ta'ala telah berfirman, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11]. Allah Ta'ala berfirman, "Dia (Allah) mengetahui apa yang ada di hadapan mereka (yang akan terjadi) dan apa yang ada di belakang mereka (yang telah terjadi), sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." [QS. Ṭāha: 110].

Apabila Anda sudah mengetahui tauhid uluhiyah berarti mengesakan Allah Ta'ala dalam segala jenis ibadah, dan menafikan segala jenis peribadahan kepada selain Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-, maka hal yang berlawanan dengannya yaitu mengalihkan suatu jenis peribadahan kepada selain Allah -'Azza wa Jalla-. Inilah yang banyak dilakukan oleh kaum musyrikin dan termasuk sebab permusuhan yang terjadi antara para rasul dan umatnya mereka. ([13]) (13) Ma'ārij Al-Qabūl karya Syekh Ḥāfiẓ Al-Ḥakamī (1/418).

Permasalahan Ketiga:

Merealisasikan dan Menyempurnakan Tauhid

Merealisasikan tauhid adalah tingkatan yang tinggi, kedudukan yang mulia, dan derajat yang agung. Nabi ﷺ menyebutkan bahwa orang-orang yang mencapainya akan masuk surga pada hari Kiamat tanpa hisab dan tanpa azab, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang masyhur dari Ibnu 'Abbas dan lainnya -raḍiyallāhu 'anhum-. Beliau ﷺ bersabda, "Dan bersama mereka tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab." Kemudian beliau menyebutkan mereka dengan sabdanya, "Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan ruqyah, tidak meminta diruqyah, tidak melakukan ṭiyarah (menganggap sial suatu pertanda), dan tidak menggunakan kay (pengobatan menggunakan besi panas). Mereka bertawakal hanya kepada Tuhan mereka." ([14]) Maka ini merupakan derajat yang tinggi dalam tauhid yaitu merealisasikan tauhid dan menyempurnakannya. (14) HR. Bukhari (5705) dan Muslim (220).

Yang dimaksud merealisasikan tauhid ialah menyempurnakan tauhid dan melengkapinya serta memurnikan dan membersihkannya dari noda kesyirikan, bid'ah, dan kemaksiatan. Ketiga hal ini biasa disebut oleh ahli ilmu sebagai penghalang yang menghambat perjalanan seorang hamba menuju Allah dan negeri akhirat, yaitu: penghalang syirik, penghalang bid'ah, dan penghalang maksiat.

Adapun penghalang syirik, maka cara menyelamatkan diri darinya adalah dengan memurnikan tauhid kepada Allah. Adapun penghalang berupa bid'ah, solusinya dengan menekuni sunnah, meneladan Rasul ﷺ, dan berjalan di atas jalannya. Sementara untuk penghalang maksiat, solusinya adalah dengan menjauhinya dan waspada agar tidak terjerumus ke dalamnya dengan bertobat secara tulus kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- saat terjatuh ke dalam suatu dosa atau kemaksiatan. Jika seorang hamba mencapai tingkatan ini, maka ia telah mencapai realisasi tauhid yang sempurna.

Merealisasikan tauhid juga terbagi menjadi dua tingkatan: realisasi tauhid yang wajib dan realisasi tauhid yang sunnah (dianjurkan). Semua orang yang mencapai kedua tingkatan ini akan masuk surga pada hari Kiamat tanpa hisab dan tanpa azab.

- Tingkatan pertama dalam merealisasikan tauhid adalah tingkatan orang-orang yang pertengahan (al-muqtasidūn). Maksudnya orang yang mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram. Jika kondisi seorang hamba seperti ini, sembari konsisten dalam mengerjakan perkara yang wajib dan fardu, menjauhi hal-hal yang haram, dosa-dosa besar, dan dosa lainnya, maka ia telah merealisasikan tauhid dalam bentuknya yang wajib dan termasuk dalam golongan orang-orang yang pertengahan (muqtasidūn). Mereka termasuk orang-orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Inilah salah satu tingkatan dalam merealisasikan tauhid.

- Tingkatan kedua lebih tinggi daripada tingkatan sebelumnya, yaitu menerapkan tauhid yang sifatnya sunnah. Ini adalah level orang-orang yang berkompetisi dalam meraih kebaikan (as-sābiqūn bil-khayrāt). Mereka ini, di samping menjaga dan memperhatikan hal-hal yang wajib serta menjauhi dosa-dosa besar dan perkara yang haram, mereka juga tetap berlomba-lomba dalam perkara yang sifatnya sunnah, ibadah-ibadah nāfilah (tambahan), dan amal-amal yang dianjurkan.

Orang-orang yang merealisasikan tauhid dalam kedua tingkatan —orang-orang yang pertengahan (muqtasidun) dan orang-orang yang berlomba dalam kebaikan (as-sābiqūn bil-khayrāt)— semuanya akan masuk surga pada hari Kiamat tanpa hisab dan tanpa azab. Allah Ta'ala berfirman, "Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. (Mereka akan mendapatkan) surga 'Adn." [QS. Fāṭir: 32-33]. Yakni ada tiga golongan akan masuk ke dalam surga ‘Adn, yaitu: yang menzalimi diri sendiri, pertengahan, dan yang berlomba dalam kebaikan.

Adapun orang pertengahan dan orang yang berlomba dalam kebaikan maka keduanya masuk surga secara langsung sejak awal, tanpa hisab.

Sedangkan orang yang menzalimi dirinya sendiri dengan dosa-dosa selain syirik, maka ia tetap akan masuk surga. Namun, ia tidak akan memasukinya secara langsung tanpa hisab dan tanpa azab layaknya golongan pertengahan dan lebih dahulu kepada kebaikan. Namun, mereka berisiko mengalami azab dan hisab, itu pun di bawah kehendak Allah -'Azza wa Jalla-. Jika Dia berkehendak, Dia akan mengazabnya, dan jika Dia berkehendak, Dia akan mengampuninya.

Permasalahan Keempat:

Pembatal dan Pengurang Kesempurnaan Tauhid

Tauhid itu memiliki pembatal dan pengurang kualitasnya. Pembatal tauhid adalah sesuatu yang menghapus amalan dan membatalkan agamanya secara keseluruhan, yaitu kufur kepada Allah, syirik, dan nifak murni. Segala bentuk kekufuran, kesyirikan, dan kemunafikan besar adalah pembatal tauhid yang merusaknya dari akar dan menghancurkannya dari dasarnya. Syirik besar beserta jenis-jenisnya, kufur besar beserta ragamnya, dan nifak besar beserta macamnya, semua ini membatalkan tauhid dan menghancurkan sampai ke akarnya. Allah Ta'ala berfirman, "Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka." [QS. An-Nisā`: 145]. Allah Ta'ala juga berfirman, "Barang siapa kafir setelah beriman, maka sungguh, sia-sia amal mereka." [QS. Al-Mā`idah: 5]. Allah Ta'ala berfirman, "Sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, 'Sungguh jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.'" [QS. Az-Zumar: 65]. Tauhid seseorang bisa rusak, hancur, dan batal lantaran syirik besar dengan ragamnya, nifak besar dengan macamnya, serta kufur besar dengan segala jenisnya. Semua ini jika dibahas akan cukup panjang rinciannya.

Adapun pengurang kualitas tauhid adalah perkara-perkara yang mengurangi kesempurnaan tauhid, tetapi tidak sampai membatalkannya, tidak pula menghancurkannya dari dasar. Di antaranya kufur kecil dan kemunafikan dalam perbuatan. Ini seperti yang tercantum dalam suatu hadis, "Tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara berdusta, jika berjanji ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat." ([15]) Ini semua pengurang tauhid, jika didapati pada diri seorang hamba, tauhidnya berkurang serta imannya pun juga. Sama halnya dengan syirik kecil dan ucapan-ucapan syirik yang tidak dimaksudkan oleh seseorang untuk meyakininya, namun hanya terucap dari lisannya, perkara ini bisa mengurangi tauhidnya. Adapun jika seseorang meyakini makna hakikat dari lafaz syirik tersebut, maka statusnya adalah syirik besar yang membatalkan tauhidnya. (15) HR. Bukhari (33) dan Muslim (58) dari hadis Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-.

Karenanya, seorang mukmin harus senantiasa menjaga dan memperhatikan tauhidnya dengan menjauhi segala bentuk perkara yang dapat membatalkan dan mengurangi tauhidnya.

Syekh Abdurahman bin Hasan menuturkan, "Ketahuilah bahwa lawan dari tauhid adalah syirik. Syirik itu terbagi menjadi tiga jenis: syirik besar, syirik kecil, dan syirik tersembunyi.

Dalil untuk syirik besar adalah firman Allah Ta'ala, "Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali." [QS. An-Nisā`: 116]. Juga firman Allah Ta'ala, "Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, 'Wahai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.' Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim itu." [QS. Al-Māidah: 72].

Syirik besar ini ada empat macam:

- Pertama: Syirik dalam berdoa. Dalilnya firman-Nya Ta'ala, "Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) menyekutukan (Allah). Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan silakan mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya)." [QS. Al-'Ankabūt: 65-66].

- Kedua: Syirik niat, yaitu keinginan dan tujuan. Dalilnya firman Allah Ta'ala, "Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan." [QS. Hūd: 15-16].

- Ketiga: Syirik dalam ketaatan. Dalilnya firman Allah Ta'ala, "Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Ssa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan." [QS. At-Taubah: 31]. Penjelasannya yang tidak ada keraguan di dalamnya adalah: (Mereka) taat kepada para ulama dan ahli ibadah dalam melakukan kemaksiatan kepada Allah -Subḥānahu-, bukanlah dengan berdoa kepada mereka. Ini seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ kepada Adiy bin Ḥātim, tatkala beliau bertanya kepadanya, lantas Adiy berkata, "Kami tidak menyembah mereka." Lalu beliau menyampaikan bahwa menyembah mereka ialah dengan taat kepada mereka dalam kemaksiatan.

- Keempat: Syirik dalam cinta. Dalilnya firman Allah Ta'ala, "Di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat) bahwa kekuatan itu semuanya hanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal)." Sampai kepada firman-Nya, "Dan mereka tidak akan keluar dari api neraka." [QS. Al-Baqarah: 165-167].

Jenis kedua: Syirik kecil yaitu ria. Dalilnya firman-Nya Ta'ala, "Siapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” [QS. Al-Kahf: 110].

Jenis ketiga: Syirik tersembunyi. Dalilnya sabda beliau ﷺ, "Kesyirikan pada umat ini lebih samar daripada langkah semut di atas batu hitam di malam yang gelap." Penghapusnya ialah yang disebutkan dalam sabda beliau ﷺ, "Allāhumma ini a'ūżubika an usyrika bika sya`an wa ana a'lam, wa astagfiruka minażżanbillażī lā a'lam." (Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari tindakan menyekutukan-Mu dengan sesuatu sementara diriku tahu dan aku memohon ampunan kepada-Mu dari dosa yang aku tidak ketahui).

Kekufuran itu ada dua jenis:

A. Kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari agama. Kekufuran ini ada lima jenis:

- Pertama: Kufur mendustakan. Dalilnya firman-Nya Ta'ala, "Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan kepada Allah atau orang yang mendustakan yang haq ketika (yang haq) itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahanam ada tempat bagi orang-orang kafir?" [QS. Al-'Ankabūt: 68].

- Kedua: Kufur karena kesombongan dan penolakan meskipun meyakini kebenaran. Dalilnya firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kalian kepada Adam!' Maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir." [QS. Al-Baqarah: 34].

- Ketiga: Kufur ragu, yaitu kufur karena prasangka. Dalilnya firman Allah Ta'ala, "Dan dia memasuki kebunnya dengan sikap merugikan dirinya sendiri (karena angkuh dan kafir). Dia berkata, 'Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku kira hari Kiamat itu tidak akan datang. Sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada ini.' Kawannya (yang beriman) berkata kepadanya sambil bercakap-cakap dengannya, 'Apakah engkau ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakan engkau dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan engkau seorang laki-laki yang sempurna?'" [QS. Al-Kahf: 35-37].

- Keempat: Kufur berpaling. Dalilnya firman-Nya Ta'ala, "Namun orang-orang yang kafir berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka." [QS. Al-Aḥqāf: 3].

- Kelima: Kufur nifak. Dalilnya firman Allah Ta'ala, "Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir, maka hati mereka dikunci sehingga mereka tidak dapat mengerti." [QS. Al-Munāfiqūn: 3].

Sedangkan kufur kecil tidak mengeluarkan seseorang dari agama. Kufur ini adalah kufur nikmat. Dalilnya firman Allah Ta'ala, "Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat." [QS. An-Naḥl: 112]. Juga firman-Nya, "Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." [QS. Ibrāhīm: 34].

Adapun mengenai nifak, maka ia terbagi menjadi dua jenis: nifak dalam keyakinan dan nifak dalam perbuatan.

Adapun nifak dalam keyakinan,

dia ada enam macam:

- Mendustakan Rasul - Mendustakan sebagian apa yang dibawa oleh Rasul - Membenci rasul - Membenci sebagian yang dibawa Rasul - Merasa senang saat agama Rasul mengalami kemunduran - Benci saat agama Rasul berjaya Pelaku keenam macam kemunafikan ini tempatnya di kerak neraka yang paling bawah. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari sikap menentang dan kemunafikan.

Sedangkan nifak dalam perbuatan

ada lima macam:

- Jika berbicara dia berdusta - Jika berseteru dia curang - Jika membuat perjanjian dia mengingkarinya - Jika dipercaya dia berkhianat - Jika berjanji dia melanggar. Wallāhu a'lam. ([16]) (16) Ad-Durar As-Saniyyah (3/66).

Permasalahan Kelima:

Sumber dan Asal Tauhid

Tauhid adalah agama yang benar, keimanan yang lurus, bersumber dari Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya -'alaihiṣṣalātu wassalām-. Tauhid merupakan satu-satu keyakinan yang wahyu turun dari langit membawanya. Segala sesuatu yang dimiliki manusia terkait keyakinan yang berseberangan dengan tauhid dan menafikannya adalah akidah yang tumbuh di bumi, yang dibuat-buat oleh manusia, direkayasa, dan diada-adakan. Tauhid adalah satu-satunya akidah yang turun dari langit melalui wahyu Allah, yaitu agama Allah yang Dia ridai untuk hamba-hamba-Nya. Allah Ta'ala berfirman, "Dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu." [QS. Al-Māidah: 3]. Allah Ta'ala juga berfirman, "Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima." [QS. Āli 'Imrān: 85]. Dan Allah Ta'ala berfirman, "Dan orang yang membenci agama Ibrahim hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri." [QS. Al-Baqarah: 130]. Allah Ta'ala juga berfirman, "Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam." [QS. Āli 'Imrān: 19]. Tauhid adalah wahyu dari Allah -'Azza wa Jalla- yang diturunkan untuk hamba-hamba-Nya. Dia merupakan agama Allah. Allah menciptakan seluruh makhluk untuk tujuan mewujudkan agama ini dan Dia menciptakan mereka untuk mengamalkannya. Oleh karenanya, kita sudah menyebutkan firman Allah Ta'ala, "Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah dan jauhilah tagut.'" [QS. An-Naḥl: 36]. "Ketetapan Allah pasti datang, maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (datang)nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. Dia menurunkan para malaikat membawa wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, (dengan berfirman) yaitu, 'Peringatkanlah (hamba-hamba-Ku) bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku.'" [QS. An-Naḥl: 1-2].

Adapun selain tauhid, yaitu akidah-akidah lainnya, ia dibentuk di bumi dan dibuat serta diada-adakan manusia. Karenanya, di antara metode para nabi dalam memberantas akidah-akidah yang berada di tengah manusia seperti kesyirikan, kekufuran, kemunafikan, dan jenis lainnya dari kesesatan adalah dengan menjelaskan bahwa keyakinan tersebut tidak turun melalui wahyu. Kita sudah sudah menyebutkan ucapan Yusuf kepada dua penghuni penjara, "Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Apa yang kalian sembah selain Dia hanyalah nama-nama yang kalian buat-buat, baik oleh kalian sendiri maupun oleh nenek moyang kalian. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu." [QS. Yūsuf: 39-40]. Allah -'Azza wa Jalla- juga berfirman dalam Surah An-Najm, "Maka apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (berhala) al-Lāta, al-`Uzza, dan Manāh, yang ketiga dan paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (pantas) untuk kalian (anak) laki-laki dan untuk-Nya yang perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian ada-adakan. Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)nya." [QS. An-Najm: 19-23]. Nabi Hūd -'alaihissalām- berkata kepada kaumnya, "Apakah kalian hendak berbantah denganku tentang nama-nama (berhala) yang kalian dan nenek moyang kalian buat sendiri, padahal Allah tidak menurunkan keterangan untuk itu? Jika demikian, tunggulah! Sesungguhnya aku pun bersama kalian termasuk yang menunggu.” [QS. Al-A'rāf: 71].

Sumber dan asal tauhid adalah Kitabullah -'Azza wa Jalla- dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ. Dia diambil dari sumber yang jernih lagi bersih, sementara akidah-akidah buatan manusia, maka sumbernya bisa jadi dari akal mereka yang rusak dan pandangan mereka yang sesat, atau wahyu dari setan mereka yang durhaka. Karena wahyu ada dua, yaitu wahyu dari Allah Yang Maha Pengasih dan wahyu dari setan. Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya setan-setan akan mewahyukan (membisikkan) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kalian. Dan jika kalian menuruti mereka, tentu kalian telah menjadi orang musyrik." [QS. Al-An'ām: 121]. Allah Ta'ala juga berfirman, "Demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan." [QS. Al-An'ām: 112]. Allah Ta'ala berfirman, "Maukah kalian Aku beritakan kepada siapa setan-setan itu turun?" [QS. Asy-Syu'arā`: 221]. Al-Mukhtār bin Abu 'Ubaid termasuk golongan tersebut, sampai ada yang mengatakannya kepada Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Dikatakan kepada salah satu dari mereka berdua, "Sesungguhnya dia mengatakan bahwa wahyu turun kepadanya." Lalu beliau menjawab, "Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kalian." Kemudian dikatakan kepada salah satunya lagi, "Ia (Al-Mukhtār) mengatakan bahwa telah turun kepadanya (wahyu)." Lantas beliau menjawab, "Maukah kalian Aku beritakan kepada siapa setan-setan itu turun?" ([17]) (17) Majmu' Al-Fatāwā karya Ibnu Taimiyah (13/75).

Setan mewahyukan kepada para pengikut kesesatan hal-hal terkait keyakinan, pemikiran, bisikan, dan lintasan hati yang mereka percayai, lalu mereka mengajak manusia kepadanya dengan wahyu yang diturunkan setan kepada mereka, atau perkara-perkara yang dicapai seseorang melalui perasaannya yang rusak, kemudian dari situ muncul amalan, ibadah, dan ritual yang mereka dalilkan dengan mengatakan, "Kami telah mencobanya", atau "Para guru kami telah mencobanya." Padahal agama tidak diambil berdasarkan pengalaman semata. Atau ada juga amalan yang mereka ambil dari mimpi, lalu mereka berkata, "Aku melihat dalam mimpi begini dan begitu," kemudian membangun agama atau keyakinan berdasarkan mimpi itu. Demikianlah seterusnya dari berbagai sumber yang dijadikan banyak orang sebagai sandaran dalam mengambil keyakinan yang tidak pernah Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- turunkan suatu hujah pun untuknya.

Jadi, akidah yang penuh berkah adalah akidah tauhid yang merupakan agama Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Allah tidak menerima agama apa pun selainnya, suatu akidah yang bersandar dari sumber yang bersih dan tempat yang murni. Siapa yang mengambil dari sumber yang pertama serta dan mata air yang jernih niscaya ia mendapati bahwa sumber air lainnya keruh dan tercemar. Namun, seseorang terkadang tidak menyadari tercemarnya sumber-sumber tersebut kecuali setelah ia mengenal mata air yang murni dan suci, yang merupakan wahyu Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan kitab-Nya. Karenanya, kebanyakan orang musyrik setelah mendapatkan hidayah dan masuk ke dalam tauhid, mereka baru sadar bahwa dahulu mereka adalah kaum yang tidak berakal. Tatkala mereka tersesat, berbuat syirik, dan berbuat batil, mereka mengira bahwa apa yang mereka lakukan sesuai dengan akal sehat dan agama yang lurus.

Untuk itulah, sebagian sahabat pada masa lampau terkadang duduk-duduk, mengingat-ingat kisah mereka yang aneh ketika mereka masih dalam kesyirikan, lalu mereka memuji Allah yang telah memberikan hidayah kepada mereka kepada Islam dan Tauhid. Abu Uṡmān An-Nahdi -ia mengalami masa jahiliah, lalu masuk Islam pada masa Rasulullah ﷺ tetapi belum pernah melihat beliau- berkata, "Dahulu pada masa kami jahiliah menyembah batu. Lantas ada seorang penyeru memanggil, "Wahai para penghuni kafilah, sungguh tuhan kalian telah binasa, maka carilah tuhan lain -maksudnya batu yang biasanya mereka sembah hilang atau lenyap-. Lantas ia berkata, "Maka kami pun berangkat, baik dengan perjalanan yang sulit maupun mudah, ketika kami sedang mencari, tiba-tiba ada seseorang berseru, "Kami telah menemukan tuhan kalian atau sesuatu yang mirip dengannya!' Lalu kami datang dan ternyata itu adalah sebuah batu, maka kami pun menyembelih hewan kurban di atasnya." ([18]) Mereka mendapatkan batu lain yang semisal atau hampir sama dengan batu yang hilang sebelumnya. Lantas mereka membawanya, menghadap kepadanya, menyembah-Nya, berharap kepada-Nya, dan mempersembahkan doa serta kurban untuknya. Di manakah akal mereka (saat itu)?! (18) HR. Ibnu Abu Syaibah dalam Muṣannaf-nya (33914); Ibnu Sa'ad dalam Aṭ-Ṭabaqāt Al-Kubrā (7/97); dan Abu Nu'aim dalam Ma'rifah Aṣ-Ṣaḥābah (4707) dan sanadnya hasan.

Padahal, ketika mereka melakukan perbuatan dan praktik tersebut, mereka justru menyebut para nabi dan rasul Allah -'Azza wa Jalla- sebagai orang gila, sementara mereka menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang berakal. Tetapi ketika Allah ﷻ menerangi hati dengan tauhid dan iman, serta Allah -'Azza wa Jalla- memberikan petunjuk kepada hati untuk menerima Islam, maka manusia akan menyadari kebatilan yang dianut oleh kaum musyrik. Ia akan melihat bahwa sumber-sumber yang mereka jadikan pegangan itu sebenarnya tercemar dan bercampur dengan segala bentuk kebatilan dan kesesatan. Ketika itu, akan terlihat jelas bahwa setiap orang musyrik sesungguhnya memiliki akal yang rusak.

Permasalahan Keenam:

Permasalahan Keenam: Buah dan Manfaat Tauhid

Tauhid memiliki buah yang tak terhitung dan manfaat yang tak terhingga. Cermatilah petunjuk tentang hal itu dalam firman-Nya ﷻ, "Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu." [QS. Ibrāhīm: 24-25]. Yakni buah dan manfaatnya.

Faedah dan hasil dari tauhid yang diraih seorang hamba di dunia dan akhirat tidak terbatas dan tidak terhitung. Bahkan, kita bisa mengatakan secara umum,

"Sesungguhnya setiap kebaikan yang diraih seorang hamba di dunia dan akhirat, serta setiap keburukan yang dijauhkan dari seorang hamba di dunia dan akhirat merupakan hasil dari tauhid serta salah pengaruhnya." Apabila kita bahas lebih rinci lagi mengenai hasil-hasil dan pengaruh dari tauhid, maka di antara hasil terbesarnya serta pengaruh paling menonjol ialah ia memperbaiki dan menyucikan amal. Sebab, amal apapun dan sebesar apapun tidak akan sah dan tidak diterima dari pelakunya kecuali dengan tauhid. Tauhid bagi amal ibarat pondasi bagi bangunan dan akar bagi pohon-pohon. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman, "Siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik." [QS. Al-Isrā`: 19]. Allah -'Azza wa Jalla- juga berfirman, "Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan." [QS. An-Naḥl: 97]. Maka tauhidlah yang memperbaiki dan menyucikan amal. Meskipun seseorang memiliki banyak amal dan jumlah yang berlimpah, amal tersebut tidak akan diterima darinya kecuali jika ia berdiri di atas dasar tauhid. Allah Ta'ala berfirman, "Dan yang menghalang-halangi infak mereka untuk diterima adalah karena mereka kafir (ingkar) kepada Allah dan Rasul-Nya." [QS. At-Taubah: 54]. Allah Ta'ala juga berfirman, "Siapa yang kafir setelah beriman, maka sungguh, sia-sia amalnya." [QS. Al-Māidah: 5]. Allah berfirman, "Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, 'Sungguh jika engkau menyekutukan (Allah) niscaya akan terhapuslah amalmu.'" [QS. Az-Zumar: 65]. Tauhid menjadikan amalan sah, sebaliknya tidak akan sah suatu amalan kecuali dengan tauhid.

Tauhid salah satu sebab seseorang meraih keberuntungan dan kedudukan tinggi di dunia dan akhirat. "Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." [QS. Al-Baqarah: 5]. Orang-orang yang bertauhid adalah orang yang mendapat petunjuk dan keberuntungan. Kata Al-Falāḥ (keberuntungan) merupakan kata yang paling utama dalam meraih kebaikan. Orang yang beruntung adalah seseorang yang mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Kebaikan tidak akan didapatkan atau diraih dalam kehidupan dunia dan akhirat kecuali dengan bertauhid kepada Allah dan tulus dalam beragama untuk-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-.

Di antara hasil dari tauhid adalah ia menjadi penyebab seseorang meraih kemuliaan dari Allah -'Azza wa Jalla- serta surga-Nya, menjadi faktor penyelamat dari azab Allah dan murka-Nya. Siapa yang bertemu dengan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dalam keadaan bertauhid akan masuk surga. Sedangkan siapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan musyrik -kita memohon perlindungan kepada Allah darinya-, akan masuk neraka dan kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki." [QS. An-Nisā`: 48]. Di antara pengaruh dan hasil tauhid adalah meraih surga dan selamat dari neraka.

Jika seseorang benar-benar melaksanakan tauhid dengan sempurna sesuai dengan yang diwajibkan atau yang disunnahkan, maka keselamatannya adalah keselamatan dari masuk neraka. Adapun jika seseorang bertauhid tetapi ia melakukan maksiat dan dosa selain syirik, maka ia selamat dari kekekalan di neraka, karena tidak akan kekal di neraka kecuali orang musyrik, sebagaimana disebutkan dalam hadis, "Para malaikat diperintahkan agar mereka mengeluarkan dari neraka orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, hamba-hamba yang Allah Ta'ala kehendaki mendapat rahmat-Nya dari kalangan yang mengatakan 'lā ilāha illallāh'." ([19]) (19) HR. Bukhari (7437) dan Muslim (182) dari hadis Abu Hurairah.

Di antara hasil tauhid adalah ia menjadi sebab terbesar kelapangan dada, seiring dengan kesempurnaannya, kekuatannya, dan peningkatannya, maka semakin lapang dada pemiliknya.

Allah Ta'ala berfirman, "Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)?" [QS. Az-Zumar: 22]. Allah Ta'ala berfirman, "Siapa yang dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Sebaliknya, siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit." [QS. Al-An'ām: 125]. Hidayah dan tauhid merupakan faktor utama yang melapangkan dada, sedangkan kesyirikan dan kesesatan merupakan penyebab utama yang menimbulkan kesempitan dalam dada.

Di antara buah dari tauhid adalah bahwa Allah memberikan jaminan kepada orang yang menauhidkan-Nya berupa kemuliaan, pertolongan di dunia, kekuasaan di bumi, serta perbaikan dalam berbagai aspek kehidupannya. Allah Ta'ala berfirman, "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dia juga pasti akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai bagi mereka, dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi siapa yang (tetap) kafir setelah (janji) itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik." [QS. An-Nūr: 55].

Di antara hasilnya adalah bahwa tauhid membukan pintu kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan, keceriaan, dan ketenangan bagi seorang hamba. Allah Ta'ala berfirman, "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." [QS. Ar-Ra'd: 28]. Allah Ta'ala berfirman, "Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku maka (ketahuilah bahwa) siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. "Namun, siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta." [QS. Ṭāha: 123-124].

Demikianlah pedoman praktis mengenai tema yang sangat agung ini. Aku memohon kepada Allah -'Azza wa Jalla- agar menjadikan ilmu kita semua bermanfaat, menjadikannya pembela kita kelak bukan penuntut, dan semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita ke jalan yang lurus.

Hanya Allah yang Maha Tahu. Semoga selawat dan salam tercurahkan kepada hamba-Nya dan rasul-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga, dan segenap sahabatnya.