Skip to content
839 Hadis

Ensiklopedia Hadis Nabi

Saring hasil

12 dari 839 kartu

Hapus filter

Derajat hadis

Ada seorang laki-laki yang aku tidak tahu ada orang lain yang lebih jauh (rumahnya) dari masjid daripada dirinya, namun ia tidak pernah tertinggal satu salat sekalipun. Ada yang berkata -atau aku berkata- kepadanya, "Seandainya kamu membeli keledai yang dapat kamu kendarai pada waktu gelap dan pada waktu panas." Ia menjawab, "Aku tidak senang bila rumahku dekat dengan masjid. Sungguh aku menginginkan agar perjalananku menuju masjid dan ketika pulang ke rumahku, itu selalu dicatat untukku." Rasulullah ﷺ bersabda padanya, "Allah telah mengumpulkan semua itu bagimu."
Sahih HR. Muslim
Al-Ḥaulā` binti Tuwait bin Ḥabīb bin Asad bin Abdul-'Uzzā melewatinya sementara Rasulullah ﷺ sedang ada di sisinya. Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Ini adalah al-Ḥaulā` binti Tuwait. Mereka menyebutkan bahwa ia tidak tidur sepanjang malam." Rasulullah ﷺ lantas bersabda, "Dia tidak tidur sepanjang malam? Lakukanlah amalan yang kalian mampu. Demi Allah! Allah tidak akan bosan hingga kalian sendiri yang bosan."
Sahih Muttafaq 'alaih
"Apabila seorang hamba sakit atau sedang safar maka (amal ibadah yang ia tinggalkan) akan dicatat baginya seperti yang biasa ia lakukan ketika dalam keadaan mukim dan sehat."
Sahih HR. Bukhari
"Ada seorang raja yang hidup sebelum kalian. Ia memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah lanjut usia, ia berkata kepada raja, 'Aku telah tua, maka kirimlah seorang pemuda kepadaku agar aku dapat mengajarinya sihir.' Lalu raja mengirim seorang pemuda kepadanya. Dalam perjalanannya, pemuda tersebut melewati seorang pendeta. Ia pun menemuinya dan mendengar nasihat-nasihatnya, lalu ia pun menyukainya. Setiap kali hendak pergi ke tukang sihir, ia pasti melewati pendeta itu dan duduk mendengarkan ajarannya. Apabila ia datang terlambat, tukang sihir memukulnya. Ia pun mengeluhkan hal itu kepada pendeta. Pendeta berkata, 'Jika engkau takut dipukul tukang sihir, katakan, 'Keluargaku menahanku.' Namun, jika engkau takut pada keluargamu (karena terlambat pulang), katakan, 'Si tukang sihir menahanku.' Pada suatu hari, dalam keadaan seperti biasa, tiba-tiba ia menjumpai seekor binatang besar yang menghalangi jalan orang banyak. Ia berkata, 'Hari ini aku akan mengetahui siapa yang lebih utama, tukang sihir ataukah pendeta?' Lalu ia mengambil sebuah batu lalu berdoa, 'Ya Allah, jika ajaran pendeta lebih Engkau sukai daripada ajaran tukang sihir itu, maka bunuhlah binatang ini agar orang-orang bisa lewat.' Ia pun melemparnya dengan batu tersebut dan berhasil membunuhnya. Orang-orang pun bisa lewat. Kemudian ia mendatangi pendeta dan menceritakan peristiwa itu. Pendeta berkata, 'Wahai anakku, hari ini engkau lebih unggul daripadaku. Aku melihat engkau telah mencapai derajat yang tinggi dan engkau pasti akan diuji. Jika engkau diuji, maka jangan menyebutkan namaku.' Pemuda itu dikaruniai kemampuan mengobati orang yang buta dan belang, serta mengobati orang banyak dari berbagai penyakit lainnya. Salah seorang menteri raja yang buta mendengar kehebatan pemuda itu. Ia pun datang dengan membawa banyak hadiah seraya berkata, 'Semua yang ada di sini menjadi milikmu jika engkau bisa menyembuhkanku.' Pemuda itu berkata, 'Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Hanya Allah yang dapat menyembuhkan. Jika engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada-Nya, lalu Dia akan menyembuhkanmu.' Akhirnya Sang menteri beriman kepada Allah, dan Allah pun menyembuhkannya. Kemudian ia kembali ke istana dan duduk di sisi raja seperti biasanya. Raja berkata, 'Siapa yang menyembuhkan matamu?' Ia menjawab, 'Tuhanku.' Raja berkata, 'Engkau memiliki Tuhan selain aku?' Ia berkata, 'Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.' Lalu raja pun menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menyampaikan perihal pemuda itu. Pemuda itu kemudian dijemput dan dibawa menghadap raja. Raja berkata, 'Wahai anakku, ilmu sihirmu sungguh tinggi sampai bisa menyembuhkan orang buta dan belang, serta engkau bisa melakukan ini dan itu.' Namun pemuda itu menjawab, 'Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Hanya Allah yang dapat menyembuhkan.' Lalu raja menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menyebutkan nama sang pendeta. Pendeta pun didatangkan dan dikatakan kepadanya, 'Tinggalkan agamamu!' Namun ia menolak. Maka raja meminta gergaji, lalu diletakkan tepat di tengah kepalanya, kemudian dia dibelah hingga kedua sisi tubuhnya jatuh. Setelah itu, menteri raja didatangkan dan dikatakan kepadanya, 'Tinggalkan agamamu!' Ia pun menolak. Maka raja meminta gergaji lalu diletakkan tepat di tengah kepalanya sampai ia terbelah dua hingga kedua sisi tubuhnya jatuh. Selanjutnya pemuda itu didatangkan dan dikatakan padanya, 'Tinggalkan agamamu!' Ia pun menolak. Maka raja menyerahkannya ke sekelompok tentaranya dan berpesan, 'Bawalah ia ke gunung ini dan ini. Bawalah ia naik. Jika di puncaknya ia mau meninggalkan agamanya, lepaskan dia. Jika tidak, lemparkan dia dari atas.' Mereka pun membawanya naik hingga ke puncak gunung. Pemuda itu berdoa, 'Ya Allah, Selamatkan aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki.' Gunung itu pun mengguncang mereka hingga jatuh. Pemuda itu lalu datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, 'Apa yang terjadi dengan orang-orang yang membawamu?' Pemuda itu menjawab, 'Allah telah menyelamatkanku dari mereka.' Lalu raja menyerahkannya ke kelompok tentara yang lain. Raja berkata, 'Bawalah ia pergi ke tengah laut, lalu naikkan ia ke sebuah perahu. Jika ia mau meninggalkan agamanya, bawalah ia pulang. Namun jika ia tidak, lemparkan dia.' Mereka pun membawanya ke tengah laut. Pemuda itu berdoa, 'Ya Allah, selamatkan aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki.' Perahu itu akhirnya terbalik dan mereka semua tenggelam. Pemuda itu pun datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, 'Apa yang terjadi pada orang-orang yang membawamu?' Ia menjawab, 'Allah telah menyelamatkanku dari mereka.' Maka ia berkata kepada raja, 'Engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali jika engkau mau melakukan apa yang aku perintahkan.' Raja bertanya, 'Apa yang kau perintahkan?' Pemuda itu berkata, 'Engkau kumpulkan semua orang di satu tanah lapang. Lalu salib aku pada batang kayu. Lalu ambil satu anak panah dari tempat anak panahku, letakkan di tengah busur, lalu ucapkan, 'Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.' Kemudian bidiklah aku. Jika engkau melakukannya pasti engkau bisa membunuhku.' Raja pun mengumpulkan orang-orang di satu tanah lapang dan menyalib pemuda itu pada batang kayu. Kemudian ia mengambil satu anak panah dari tempat anak panahnya, selanjutnya meletakkan anak panah itu di tengah-tengah busur. Kemudian ia mengucapkan, 'Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.' Kemudian ia membidiknya hingga anak panah itu tepat mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya tepat di tempat panah menancap, lalu ia meninggal dunia. Orang-orang pun berkata, 'Kami beriman pada Tuhan pemuda itu. Kami beriman pada Tuhan pemuda itu. Kami beriman pada Tuhan pemuda itu.' Lalu Raja didatangi dan diberi laporan, 'Tahukah Anda apa yang Anda khawatirkan? Demi Allah, apa yang Anda khawatirkan telah terjadi. Orang-orang telah beriman.' Sebab itu, raja memerintahkan pembuatan parit di jalanan. Parit-parit pun dibuat dan api dinyalakan di dalamnya. Raja berkata, 'Siapa yang tidak mau meninggalkan agamanya, lemparkan dia ke dalamnya.' Atau dikatakan padanya, 'Masuklah.' Mereka pun melaksanakan perintah tersebut. Hingga datang giliran seorang wanita yang membawa bayinya. Ia mundur agar tidak terjatuh dalam parit api. Maka bayi itu berkata, 'Wahai ibuku, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.'"
Sahih HR. Muslim
"Setiap persendian manusia wajib mengeluarkan satu sedekah setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang yang sedang berselisih secara adil adalah sedekah, menolong seseorang pada kendaraannya dengan menaikkannya ke kendaraan atau membantu mengangkat barangnya ke atas kendaraannya itu adalah sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah berjalan untuk melaksanakan salat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah."
Sahih Muttafaq 'alaih
"Menjelang Abu Ṭālib wafat, Rasulullah ﷺ datang menjenguknya dan beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mugīrah ada di sisinya. Beliau berkata, "Wahai pamanku! Ucapkanlah, 'Lā ilāha illallāh'; sebuah kalimat yang dapat aku gunakan untuk membelamu di sisi Allah." Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah berkata, "Apakah kamu membenci agama Abdul Muṭṭalib?" Rasulullah ﷺ terus mengajaknya mengucapkan itu, dan kedua orang tersebut juga mengulangi kata itu kepadanya. Hingga Abu Ṭālib berkata di akhir ucapannya kepada mereka, "Tetap di atas agama Abdul Muṭṭalib." Dia enggan mengucapkan "lā ilāha illallāh". Rasulullah ﷺ bersabda, "Demi Allah, sungguh aku akan memohon ampunan untukmu selama aku tidak dilarang memintanya untukmu." Maka Allah menurunkan, "Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik." [QS. At-Taubah: 113] Allah juga menurunkan ayat tentang Abu Ṭālib, yaitu Allah berfirman kepada Rasulullah ﷺ, "Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki." [QS. Al-Qaṣaṣ: 56]."
Sahih Muttafaq 'alaih
"Setiap persendian manusia wajib bersedekah setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang (yang sedang berselisih) merupakan sedekah, menolong seseorang pada kendaraannya, yaitu menaikkannya ke atas kendaraan atau membantunya mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya itu sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah berjalan untuk melaksanakan salat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah."
Sahih HR. Bukhari dan Muslim
Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam sebuah perjalanan, lalu beliau menjauh untuk buang air. Kemudian kami melihat seekor burung ḥummarah (sejenis burung kecil mirip pipit) bersama dua anaknya. Kami kemudian mengambil kedua anaknya sehingga burung ḥummarah tersebut datang berputar-putar di atas kami. Nabi ﷺ datang lalu bersabda, "Siapakah yang telah menyakiti burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan anaknya kepadanya." Beliau juga pernah melihat sarang semut yang telah kami bakar. Beliau lalu bertanya, "Siapakah yang telah membakar ini?" Kami menjawab, "Kami." Beliau bersabda, "Sesungguhnya tidak ada yang boleh menyiksa dengan menggunakan api kecuali Tuhannya api."
Sahih HR. Abu Daud