المنتقى من المتجر الرابح في ثواب العمل الصالح - المعتمد
كتاب جامع لجملة من أحاديث النبي -صلى الله عليه وسلم- الصحيحية في ثواب الأعمال الصالحة كطلب العلم والطهارة والصلاة، وصلاة التطوع، والجمعة والجنائز، والصدقات والصوم والحج والجهاد، وقراءة القرآن، وذكر الرحمن وغيرها.
HADIS-HADIS PILIHAN DARI BUKU AL-MATJAR AR-RĀBIḤ FĪ ṠAWĀB AL-'AMAL AṢ-ṢĀLIḤ
Pahala Ilmu dan Ulama
Mu'āwiyah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, niscaya Allah akan menjadikannya paham tentang urusan agamanya."
HR. Bukhari (71) dan Muslim (1037).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah mudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah sambil membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, dinaungi oleh para malaikat, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya."
HR. Muslim (2699).
Pahala Mengajarkan Ilmu
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
“Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
HR. Muslim (1631).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang mengajak kepada petunjuk (kebajikan), maka ia mendapatkan pahala sebesar pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosa sebesar dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun."
HR. Muslim (2674).
Abu Mas'ūd al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya."
HR. Muslim (1893).
Pahala Wudu dan Menyempurnakannya
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Apabila seorang muslim atau mukmin berwudu, lalu membasuh wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya setiap dosa akibat pandangan kedua matanya bersamaan dengan air itu, atau bersama dengan tetesan air terakhir. Lalu jika dia membasuh kedua tangannya, akan keluarlah setiap dosa akibat perbuatan yang dilakukan kedua tangannya bersamaan dengan air itu, atau bersama dengan tetesan air yang terakhir. Lalu jika ia membasuh kedua kaki, akan keluarlah setiap dosa akibat langkah kedua kakinya bersamaan dengan air itu, atau bersama tetesan air terakhir. Sehingga ia keluar (dari wudu) dalam keadaan bersih dari dosa.”
HR. Muslim (245).
'Uṡmān bin 'Affān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang berwudu dan dia menyempurnakan wudunya, maka dosa-dosanya akan keluar dari tubuhnya hingga dosanya itu keluar dari bawah kukunya."
HR. Muslim (229).
Pahala Menyempurnakan Wudu pada Saat yang Tak Disukai
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Apakah kalian mau aku tunjukkan amalan yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat?" Mereka menjawab, "Tentu wahai Rasulullah." Rasulullah bersabda, "Menyempurnakan wudu pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah kaki menuju masjid, dan menunggu salat setelah salat. Yang demikian itulah ar-ribāṭ (berjaga-jaga di jalan Allah)."
HR. Muslim (251).
Pahala Bersiwak
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,
"Bersiwak itu pembersih mulut dan pengundang keridaan Tuhan."
HR. Nasai (1/10) dan Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (4/158) secara mu'allaq.
Pahala Menjaga Wudu
Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Berusahalah istikamah karena kalian tidak akan mampu menguasai semua amal saleh. Ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian ialah salat dan tidak akan menjaga wudu kecuali orang beriman."
HR. Ahmad (22378).
Pahala Membaca Dua Kalimat Syahadat Setelah Wudu
Umar bin al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
“Tidaklah seseorang di antara kalian berwudu lalu ia bersungguh-sungguh atau menyempurnakan wudunya, kemudian ia mengucapkan: asyhadu an lā ilāha illallāh, wa anna muḥammadan 'abdullāh wa rasūluh, (aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya) melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga; ia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki.”
HR. Muslim (234).
Pahala Salat Setelah Wudu
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ bersabda kepada Bilal -raḍiyallāhu 'anhu- ketika salat Subuh,
"Wahai Bilal! Ceritakan kepadaku tentang amalan paling diharapkan pahalanya yang engkau kerjakan dalam Islam; sungguh aku mendengar suara jejak kedua sandalmu di hadapanku dalam surga."
Bilal menjawab, "Aku tidak pernah mengamalkan suatu amalan yang pahalanya lebih aku harapkan selain amalan wudu yang aku lakukan di waktu malam atau siang hari, kemudian dengan wudu tersebut aku salat sebanyak yang ditakdirkan bagiku untuk mengerjakannya."
HR. Bukhari (1149) dan Muslim (2458).
'Uqbah bin 'Āmir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa saja orang muslim yang berwudu dan memperbagus wudunya, kemudian berdiri melaksanakan salat dua rakaat dengan menghadapkan hati dan wajahnya kepada-Nya, niscaya wajib baginya surga."
HR. Muslim (234)
'Uṡmān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang berwudu seperti wuduku ini lalu menunaikan salat dua rakaat tanpa memikirkan hal-hal lain di dalam jiwanya pada kedua rakaat itu, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
HR. Bukhari (164) dan Muslim (226).
Pahala Muazin
Ibnu Abī Ṣa'ṣa'ah al-Anṣāriy meriwayatkan bahwa Abu Sa'īd al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- pernah berkata padanya,
"Sungguh aku melihatmu menyukai kambing dan daerah pedalaman. Jika engkau menggembala kambingmu di pedalaman lalu engkau mengumandangkan azan untuk salat, maka keraskan suara azanmu. Sungguh, tidaklah jin, manusia, dan apa pun yang mendengar suara muazin melainkan pasti mereka menjadi saksi baginya pada hari Kiamat."
Abu Sa'īd berkata, "Aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ."
HR. Bukhari (3296).
Ṭalḥah bin Yaḥyā meriwayatkan dari pamannya, ia mengisahkan:
Aku pernah bersama Mu'āwiyah bin Abu Sufyān, kemudian Muazin datang kepadanya dan mengajaknya salat. Mu'āwiyah -raḍiyallāhu 'anhu- lantas berkata,
"Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari Kiamat'."
HR. Muslim (387).
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan:
Rasulullah ﷺ biasa melakukan serangan dadakan bila telah terbit fajar. Sebelum itu, beliau menanti adanya suara azan. Bila mendengar azan dari objek serangan, beliau tidak menyerang. Namun bila tidak, maka beliau melakukan serangan. Suatu ketika beliau mendengar seorang laki-laki berseru, "Allāhu Akbar, allāhu akbar." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Ia di atas fitrah." Kemudian laki-laki itu berseru, "Asyhadu an lā ilāha illallāh, Asyhadu an lā ilāha illallāh." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Engkau telah keluar dari neraka." Para sahabat pun mencari tahu orang itu. Ternyata dia seorang penggembala kambing.
HR. Muslim (382).
Pahala Menjawab Seruan Muazin
Umar bin al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Bila muazin mengucapkan 'Allāhu akbar allāhu akbar', lalu salah seorang dari kalian mengucapkan 'Allāhu Akbar allāhu akbar'. Kemudian bila muazin mengucapkan 'Asyhadu allā ilāha illallāh', dia mengucapkan 'Asyhadu allā ilāha illallāh'. Kemudian bila muazin mengucapkan 'Asyhadu anna Muḥammadar-rasūlullāh', dia mengucapkan 'Asyhadu anna Muḥammadar-rasūlullāh'. Kemudian bila muazin mengucapkan 'Ḥayya 'alaṣ-ṣalāh', dia mengucapkan 'Lā ḥaula walā quwwata illā billāh'. Kemudian bila muazin mengucapkan 'Ḥayya 'alal-falāḥ', dia mengucapkan 'Lā ḥaula walā quwwata illā billāh'. Kemudian bila muazin mengucapkan 'Allāhu Akbar allāhu akbar', dia mengucapkan 'Allāhu Akbar allāhu akbar'. Kemudian bila muazin mengucapkan 'Lā ilāha illallāh', dia mengucapkan 'Lā ilāha illallāh', ia mengucapkan semua itu dari lubuk hatinya, maka ia masuk surga."
HR. Muslim (385).
Pahala Zikir dan Doa yang Disyariatkan Setelah Azan
Abdullah bin 'Amr bin al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwasanya ia mendengar Nabi ﷺ bersabda,
"Jika kalian mendengar pannggilan muazin, maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan. Kemudian berselawatlah kepadaku, sesungguhnya siapa yang berselawat kepadaku satu kali, Allah akan membalas selawatnya itu sepuluh kali. Kemudian mintakanlah kepada Allah untukku al-waṣīlah, sesungguhnya al-waṣīlah itu adalah kedudukan di surga yang tidak patut kecuali untuk salah satu hamba Allah, dan aku berharap akulah hamba itu. Siapa yang memintakan untukku al-waṣīlah, maka ia akan meraih syafaatku."
HR. Muslim (384).
Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa saja setelah mendengar azan membaca: Allāhumma Rabba hāżihid-da'watit-tāmmah waṣ-ṣalātil-qā`imah, āti Muḥammadanil-wasīlata wal-faḍīlah, wa-b'aṡhu maqāman maḥmūdanillaẓī wa'adtah (Ya Allah, Tuhan panggilan yang sempurna ini serta salat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad al-waṣīlah/kedudukan tinggi dalam surga serta keutamaan, bangkitkanlah dia di atas kedudukan yang terpuji/syafaat uzma yang telah Engkau janjikan kepadanya), maka dia akan mendapatkan syafaatku kelak hari Kiamat."
HR. Bukhari (614).
Sa'ad bin Abi Waqqāṣ -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang mendengar muazin lalu membaca: Asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah wa anna muḥammadan 'abduhū wa rasūluh, raḍītu billāhi rabban, wa bi muḥammadin rasūlan, wa bil-islāmi dīnan (Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Aku rida Allah sebagai Tuhanku, Muhammad sebagai rasulku, dan Islam sebagai agamaku), maka dosa-dosanya akan diampuni."
HR. Muslim (386).
Pahala Salat
Ma'dān bin Abu Ṭalḥah al-Ya'muriy meriwayatkan:
Aku pernah bertemu Ṡaubān, mantan budak Rasulullah ﷺ. Aku bertanya, "Kabarkan kepadaku amalan yang dapat aku kerjakan, yang dengannya Allah memasukkanku ke surga!" atau "Kabarkan kepadaku amalan yang paling Allah cintai!" Tetapi, ia hanya diam. Kemudian aku bertanya lagi, tetapi ia diam. Kemudian aku bertanya lagi kepadanya untuk yang ketiga kali, ia lalu menjawab, "Aku pernah menanyakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, lantas beliau bersabda, 'Hendaknya engkau banyak bersujud kepada Allah. Sungguh, tidaklah engkau bersujud satu kali kepada Allah, melainkan dengannya Allah akan mengangkatmu satu derajat serta menggugurkan satu dosa darimu'."
Ma'dān melanjutkan, "Kemudian aku bertemu Abu ad-Dardā` dan bertanya kepadanya, maka dia mengatakan kepadaku seperti yang dikatakan Ṡaubān kepadaku."
HR. Muslim (488).
Rabī'ah bin Ka'ab al-Aslamiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan:
Aku pernah bermalam bersama Rasulullah ﷺ. Kemudian aku membawakan air wudu dan kebutuhan beliau, lantas beliau bersabda, "Mintalah sesuatu kepadaku!" Aku Menjawab, "Aku minta kepadamu untuk menemanimu di dalam surga." Beliau bersabda, "Adakah yang lainnya?" Aku menjawab, "Permintaanku hanya itu." Beliau bersabda, "Bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu itu dengan banyak sujud."
HR. Muslim (489).
Pahala Salat Fardu dan Memeliharanya
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Bagaimanakah pandangan kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu rumah salah seorang kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotoran tubuhnya walau sedikit?" Para sahabat menjawab, "Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya." Beliau bersabda, "Itulah perumpamaan salat lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa."
HR. Bukhari (528) dan Muslim (667).
'Amr bin Sa'īd bin al-'Āṣ meriwayatkan:
Aku pernah bersama 'Uṡmān, lalu ia meminta air untuk bersuci kemudian berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
'Tidaklah seorang muslim tatkala tiba waktu salat wajib lalu dia membaguskan wudunya, khusyuknya, dan rukuknya, melainkan salat itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama dosa besar tidak dilanggar. Penghapusan itu berlaku sepanjang masa'."
HR. Muslim (227).
Pahala Salat Subuh dan Asar
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Malaikat saling bergantian dalam menjaga kalian, yaitu malaikat ketika malam dan malaikat lain ketika siang. Mereka akan bertemu ketika salat Subuh dan salat Asar. Kemudian malaikat yang bermalam bersama kalian akan naik, lalu Allah bertanya kepada mereka, padahal Allah lebih tahu, 'Bagaimana keadaan hamba-Ku ketika kalian tinggalkan?' Mereka menjawab, 'Kami meninggalkan mereka sedang salat dan kami mendatangi mereka sedang salat.'"
HR. Bukhari (555) dan Muslim (632).
Jarīr bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan:
Kami sedang bersama Nabi ﷺ lalu beliau memandang bulan di malam purnama, kemudian bersabda, "Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian memandang bulan purnama ini. Kalian tidak akan saling berdesakan dalam memandang-Nya. Jika kalian mampu untuk tidak ketinggalan salat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah!" Kemudian beliau membaca (ayat), "... dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam."
HR. Bukhari (554) dan Muslim (633).
'Umarah bin Ru`aibah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Tidak akan masuk neraka seseorang yang salat sebelum terbit matahari dan sebelum tenggelamnya."
Maksudnya salat Subuh dan salat Asar.
HR. Muslim (634).
Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang melaksanakan salat di dua waktu dingin (Subuh dan Asar) niscaya masuk surga."
HR. Bukhari (574) dan Muslim (635).
Al-Bardān (dua waktu dingin): salat Asar dan salat Subuh.
Pahala Salat Asar
Abu Baṣrah al-Gifāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan:
Rasulullah ﷺ pernah memimpin kami salat Asar di Mukhammaṣ, kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya salat ini telah ditawarkan kepada umat sebelum kalian, tetapi mereka menyia-nyiakannya. Sebab itu, siapa yang memeliharanya, baginya pahalanya dua kali."
HR. Muslim (830).
Pahala Salat Subuh
Jundub -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
“Siapa yang melaksanakan salat Subuh maka dia berada dalam jaminan perlindungan Allah. Oleh karena itu, jangan sampai Allah menuntut kalian terkait jaminan-Nya sedikit pun. Sungguh, siapa yang Allah tuntut terkait jaminan-Nya, Allah pasti akan menemukannya, kemudian Allah menelungkupkan wajahnya ke dalam neraka Jahanam.”
HR. Muslim (657).
Pahala Salat Isya dan Subuh Berjemaah
'Uṡmān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang mengerjakan salat Isya berjemaah, maka seakan dia mengerjakan qiamulail setengah malam. Siapa yang mengerjakan salat Subuh berjemaah, maka seakan dia mengerjakan qiamulail satu malam seluruhnya."
HR. Muslim (656).
Pahala Salat Tepat Waktu
Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan:
Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau bersabda, "Salat pada waktunya."
HR. Bukhari (527) dan Muslim (85).
Keutamaan Membaca "Āmīn" dalam Salat
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Bila imam membaca: Gairil-magḍūbi 'alaihim walaḍḍāllīn, maka ucapkanlah: Āmīn. Sungguh, siapa yang ucapan āmīnnya bersamaan dengan ucapan āmīn para malaikat, akan diampuni untuknya dosa-dosanya yang telah lalu."
HR. Bukhari (782) dan Muslim (410).
Abu Musa al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ pernah berkhotbah dalam rangka menjelaskan kepada kami Sunnah kami serta mengajari kami salat kami. Beliau bersabda, "Jika kalian salat, maka luruskanlah saf kalian, kemudian hendaklah salah seorang kalian mengimami kalian; bertakbirlah bila ia bertakbir, dan bila ia membaca: Gairil-magḍūbi 'alaihim walaḍḍāllīn, maka ucapkanlah: Āmīn, niscaya Allah mengabulkannya untuk kalian."
HR. Muslim (404).
Keutamaan Membaca "Allāhumma Rabbanā Lakal-Ḥamdu" Setelah Bangkit dari Rukuk
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Bila imam mengucapkan: Sami'allāhu liman ḥamidah, maka ucapkanlah: Allāhumma rabbanā lakal-ḥamdu, karena siapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan malaikat, akan diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu."
HR. Bukhari (796) dan Muslim (409).
Abu Musa al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan:
Rasulullah ﷺ pernah berkhotbah dalam rangka menjelaskan untuk kami Sunnah kami serta mengajari kami salat kami. Beliau bersabda, "Jika kalian salat, maka luruskanlah saf kalian, kemudian hendaklah salah seorang kalian mengimami kalian... Bila ia mengucapkan: Sami'allāhu liman ḥamidah, maka ucapkanlah: Allāhumma rabbanā lakal-ḥamdu, niscaya Allah mendengarnya untuk kalian."
HR. Muslim (404).
Keutamaan Membaca "Rabbanā Walakal-Ḥamdu Ḥamdan Kaṡīran ..." Setelah Bangkit dari Rukuk
Rifā'ah bin Rāfi' az-Zuraqiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan:
Suatu hari kami salat di belakang Nabi ﷺ. Setelah beliau mengangkat kepala dari rukuk dan mengucapkan: Sami'allāhu liman ḥamidah, seorang laki-laki di belakang beliau membaca: Rabbanā walakal-ḥamdu ḥamdan kaṡīran ṭayyiban mubārakan fīh. Setelah salam beliau bertanya, "Siapakah yang berucap itu?" Dia menjawab, "Aku." Beliau bersabda, "Aku melihat tiga puluh sekian malaikat berebutan siapa di antara mereka yang pertama menulisnya."
HR. Bukhari (799).
Pahala Salat Berjemaah
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Salat berjemaah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada salat sendirian."
HR. Bukhari (645) dan Muslim (650).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
“Salat seorang laki-laki secara berjemaah lebih banyak pahalanya daripada salat sendirian di pasar atau di rumahnya, dengan selisih dua puluh sekian derajat. Hal ini karena ketika seseorang berwudu secara sempurna kemudian pergi ke masjid karena dorongan salat; tidak ada niat lain kecuali salat, maka tidaklah ia melangkah satu langkah kecuali diangkat baginya satu derajat dan dihapuskan darinya satu dosa, sampai dia masuk masjid. Apabila ia telah masuk ke dalam masjid, ia dianggap mengerjakan salat selama ia menunggu hingga salat dilaksanakan. Para malaikat mendoakan salah seorang kalian selama diam di tempat salatnya, mereka berdoa, 'Ya Allah! Rahmatilah dia. Ya Allah! Ampunilah dosa-dosanya. Ya Allah! Terimalah tobatnya', selama ia tidak berbuat kejelekan (mengganggu orang lain) dan tidak berhadas di masjid.”
HR. Bukhari (647) dan Muslim (649).
Pahala Salat di Saf Pertama
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sekiranya manusia mengetahui keutamaan an-nidā` (azan) dan saf pertama kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan al-istihām (berundi), pastilah mereka akan berundi."
HR. Bukhari (615) dan Muslim (437).
An-Nidā` maksudnya azan.
Al-Istihām ialah berundi.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sebaik-baik saf laki-laki adalah yang paling depan dan sejelek-jeleknya adalah yang paling belakang. Sebaliknya, sebaik-baik saf wanita adalah yang paling belakang dan sejelek-jeleknya adalah yang paling depan."
HR. Muslim (440).
Keutamaan Salat di Masjidilharam dan Masjid Nabawi
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Mengerjakan satu salat di masjidku ini lebih baik daripada 1000 salat di masjid lainnya kecuali Masjidilharam."
HR. Bukhari (1190) dan Muslim (1394).
Pahala Orang yang Membangun Masjid Karena Allah -'Azza wa Jalla-
'Uṡmān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang membangun sebuah masjid karena mengharapkan wajah Allah -'Azza wa Jalla-, maka Allah akan bangunkan baginya sebuah rumah di surga."
HR. Bukhari (450) dan Muslim (533).
Pahala Berjalan Menuju Masjid untuk Salat
Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda,
"Orang yang paling besar pahalanya dalam salat ialah orang yang berjalan paling jauh, kemudian yang lebih jauh lagi. Orang yang menunggu salat sampai dia melaksanakannya bersama imam, pahalanya lebih besar dari orang yang mengerjakan salat sendiri kemudian tidur."
HR. Bukhari (651) dan Muslim (662).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Siapa yang pergi ke masjid pada waktu pagi atau sore hari, niscaya Allah menyediakan satu hidangan untuknya di surga setiap kali ia pergi di pagi atau sore hari."
HR. Bukhari (662) dan Muslim (669).
Ubay bin Ka'ab -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan:
Ada seorang laki-laki, aku tidak tahu ada laki-laki lain yang lebih jauh dari masjid daripada dia, namun ia tidak pernah tertinggal satu salat sekalipun. Ada yang berkata kepadanya, "Seandainya kamu membeli keledai yang dapat kamu kendarai pada waktu gelap dan pada waktu panas." Ia menjawab, "Aku tidak senang bila rumahku dekat dengan masjid. Sungguh aku menginginkan agar perjalananku menuju masjid dan ketika pulang ke keluargaku (rumahku), itu selalu dicatat untukku." Rasulullah ﷺ bersabda padanya, "Allah telah mengumpulkan semua itu bagimu."
HR. Muslim (663).
Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan:
Dahulu, rumah-rumah kami jauh dari masjid. Lalu kami ingin menjualnya agar kami mendekat ke masjid. Namun, Rasulullah ﷺ melarang kami seraya bersabda, "Sungguh, bagi kalian dengan setiap satu langkah akan mendapatkan satu derajat."
HR. Muslim (664).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang berwudu di rumahnya kemudian berangkat menuju salah satu rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari Allah, maka di setiap dua langkahnya; salah satunya menggugurkan satu dosa dan yang lain mengangkat satu derajat."
HR. Muslim (666).
Pahala Orang yang Hatinya Terikat dengan Masjid
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Ada tujuh golongan yang akan diberikan naungan oleh Allah -Ta'ālā- dalam naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, dan laki-laki yang jiwanya terikat dengan masjid ..."
HR. Bukhari (1423) dan Muslim (1031).
Pahala Orang yang Duduk di Masjid untuk Menunggu Salat
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Seorang hamba akan senantiasa dalam salat selama dia di tempat salatnya untuk menunggu salat, dan malaikat berkata: 'Ya Allah! Berikanlah untuknya ampunan. Ya Allah! Berikanlah dia rahmat', hingga dia beranjak atau berhadas."
HR. Bukhari (176) dan Muslim (649).
Pahala Salat Sunah di Rumah
Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Bila salah seorang kalian telah mengerjakan salat fardu di masjid, hendaklah dia memberikan rumahnya bagian dari sebagian salatnya, karena Allah akan memberikan kebaikan di rumahnya dengan sebab salatnya."
HR. Muslim (778).
Pahala Memelihara Salat Sunah Rawatib
Ummu Ḥabībah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Tidaklah seorang hamba yang muslim mengerjakan salat sunah karena Allah dalam sehari dua belas rakaat selain salat fardu, melainkan Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah dalam surga -atau: melainkan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga-."
Ummu Ḥabībah berkata, "Sebab itu, sejak saat itu aku senantiasa mengerjakannya."
'Amr (salah satu perawi hadis ini) berkata, "Sejak saat mendengarnya, aku senantiasa mengerjakannya."
An-Nu'mān (perawi hadis ini dari 'Amr) juga mengatakan yang seperti itu.
HR. Muslim (728).
Pahala Salat Dua Rakaat Sebelum Subuh
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Salat dua rakaat sebelum Subuh lebih baik daripada dunia beserta isinya."
Dalam riwayat lain, "Kedua rakaat itu lebih aku sukai dari dunia seluruhnya."
HR. Muslim (725).
Pahala Salat Witir di Akhir Malam
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang khawatir tidak bangun di akhir malam, maka hendaklah dia mengerjakan salat Witir di awal malam. Sebaliknya, siapa yang merasa mampu untuk bangun pada akhir malam, maka hendaklah dia mengerjakan salat Witir di akhir malam karena salat di akhir malam itu disaksikan (oleh para malaikat) dan hal itu lebih utama."
HR. Muslim (755).
Pahala Orang yang Salat Malam dan Membangunkan Keluarganya untuk Itu
Abu Sa'īd al-Khudriy dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya lalu mereka mengerjakan salat bersama, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah."
HR. Abu Daud (1451).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun pada malam hari, lalu ia mengerjakan salat dan membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan, ia memercikkan air di wajahnya. Pun Allah merahmati seorang perempuan yang bangun pada malam hari, lalu ia mengerjakan salat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan, ia memercikkan air di wajahnya."
HR. Ahmad (7410) dan Abu Daud (1308).
Pahala Salat Duha
Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Setiap persendian salah seorang kalian wajib bersedekah setiap hari. Setiap ucapan tasbih adalah sedekah, setiap ucapan tahmid adalah sedekah, setiap ucapan tahlil adalah sedekah, setiap ucapan takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Tapi, semua itu dapat dicukupi dengan salat dua rakaat yang ia kerjakan di waktu duha."
HR. Muslim (720).
Pahala Salat Jumat
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Salat lima waktu dan salat Jumat ke salat Jumat berikutnya adalah penebus dosa yang ada di antaranya, selama dosa besar tidak dilanggar."
HR. Muslim (233).
Pahala Mandi, Memakai Minyak Wangi, dan Diam Mendengar Khotbah Jumat
Salman al-Fārisiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang mandi di hari Jumat dan membersihkan diri semaksimal yang mampu ia lakukan, kemudian memakai minyak wangi, lalu berangkat segera tanpa memisahkan antara dua orang, lalu mengerjakan salat yang bisa dia lakukan, kemudian ketika imam keluar (naik mimbar) ia diam, maka diampuni baginya antara Jumat itu dan Jumat yang lain."
HR. Bukhari (910).
Abu Hurairah raḍiyallāhu 'anhu meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,
"Siapa yang mandi kemudian menghadiri salat Jumat, lalu mengerjakan salat yang bisa dia lakukan, kemudian diam hingga khatib menyelesaikan khotbahnya, kemudian salat bersamanya, maka diampuni baginya antara Jumat itu dan Jumat yang lain serta tambahan tiga hari."
HR. Muslim (857).
Pahala Bersegera Menghadiri Salat Jumat
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang mandi di hari Jumat seperti mandi janabat kemudian berangkat di awal waktu, maka seolah-olah ia berkurban seekor unta. Siapa yang berangkat di waktu kedua seolah-olah ia berkurban seekor sapi. Siapa yang berangkat di waktu ketiga seolah-olah ia berkurban seekor kambing bertanduk. Siapa yang berangkat di waktu keempat seolah-olah ia berkurban seekor ayam. Siapa yang berangkat di waktu kelima seolah-olah ia berkurban sebutir telur. Lalu apabila imam telah keluar (naik mimbar), para malaikat pun hadir untuk mendengarkan khotbah."
HR. Bukhari (881) dan Muslim (850).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Jika hari Jumat tiba, di setiap pintu masjid ada para malaikat yang mencatat orang yang pertama datang dan seterusnya. Orang yang pertama kali datang laksana orang yang berkurban dengan seekor unta, kemudian setelahnya seperti orang yang berkurban dengan seekor sapi, kemudian seekor domba, kemudian seekor ayam, kemudian sebutir telur. Jika imam sudah keluar (naik mimbar) maka para malaikat melipat catatan mereka kemudian mendengarkan zikir (khotbah)."
HR. Bukhari (929) dan Muslim 850).
Pahala Mencari Waktu Ijabah Doa di Hari Jumat
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Sesungguhnya pada hari Jumat ada satu waktu, tidaklah seorang muslim mendapatkan waktu tersebut kemudian ia meminta kepada Allah -'Azza wa Jalla- suatu kebaikan kecuali Allah pasti akan memberinya."
Beliau berkata, "Waktu tersebut sedikit."
HR. Bukhari (935) dan Muslim (852) dan redaksi miliknya.
Pahala Orang yang Ucapan Terakhirnya "Lā ilāha illallāh"
Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang ucapan terakhirnya (sebelum meninggal dunia): Lā ilāha illallāh, dia akan masuk surga."
HR. Abu Daud (3116).
Pahala Mengantar Jenazah
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang mengiringi jenazah seorang muslim karena iman dan mengharap pahala, dan tetap bersamanya sampai ia menyalatinya dan selesai memakamkannya, maka dia akan pulang membawa pahala dua qīrāṭ; setiap satu qīrāṭ seperti gunung Uhud. Siapa yang menyalatinya lalu pulang sebelum jenazah dimakamkan, maka dia akan pulang membawa satu qīrāṭ."
HR. Bukhari (47) dan Muslim (945).
Pahala Jenazah yang Disalati Seratus atau Empat Puluh Muslim
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Tidaklah seorang jenazah disalati oleh sekelompok kaum muslimin yang mencapai seratus orang dan semua mendoakannya, kecuali Allah menerima doa mereka untuknya."
HR. Muslim (947).
Kuraib meriwayatkan dari Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa anak laki-lakinya meninggal di Qadīd atau 'Usfān. Abdullah bin 'Abbās berkata, "Wahai Kuraib! Lihatlah apa yang dikerumuni orang-orang itu." Kuraib melanjutkan: Kemudian aku keluar, ternyata orang-orang berkerumun untuknya. Lantas aku pun mengabarinya. Dia bertanya, "Menurutmu, mereka ada empat puluh?" Kuraib menjawab, "Ya." Dia berkata, "Keluarkanlah jenazahnya. Sungguh aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya disalati 40 orang laki-laki yang tidak menyekutukan Allah sedikit pun kecuali Allah akan mengabulkan doa mereka untuknya.'"
HR. Muslim (948).
Pahala Orang yang Mengucapkan Istirjā' Ketika Musibah
Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan: Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah lalu ia mengucapkan apa yang diperintahkan Allah: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn, allāhumma-`jurnī fī muṣībatī wa akhlif lī khairan minhā (Sesungguhnya kami milik Allah dan sungguh kepada-Nyalah kami akan kembali; ya Allah, berilah aku pahala pada musibahku dan berilah aku penggantinya yang lebih baik), kecuali Allah akan memberinya pengganti yang lebih baik."
Ummu Salamah melanjutkan: Tatkala Abu Salamah meninggal dunia, aku bertanya-tanya, "Siapakah di antara umat Islam yang lebih baik dari Abu Salamah? Keluarganyalah yang paling pertama berhijrah kepada Rasulullah ﷺ." Tetapi aku tetap mengucapkannya, sehingga Allah menggantikannya untukku dengan Rasulullah ﷺ.
HR. Muslim (918).
Pahala Orang yang Meninggal dengan Sebab Wabah Taun
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Wabah taun adalah kesyahidan bagi setiap muslim."
HR. Bukhari (2830) dan Muslim (1916).
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang wabah taun. Beliau mengabariku bahwa ia adalah siksa yang Allah kirimkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Tidaklah ada seseorang ketika terjadi taun lalu dia menetap di negerinya dengan sabar dan mengharap pahala karena mengetahui tidak akan ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah tuliskan baginya, melainkan baginya pahala seperti pahala orang mati syahid."
HR. Bukhari (3474).
Pahala Orang yang Meninggal Dua atau Tiga Orang Anaknya Sebelum Balig
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺbersabda,
"Tidaklah ada seorang muslim yang meninggal tiga orang anaknya sebelum balig kecuali Allah akan memasukkannya ke surga karena sebab rahmat-Nya kepada mereka."
HR. Bukhari (1248).
Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa para wanita pernah berkata kepada Nabi ﷺ, "Tentukanlah satu hari untuk kami (bermajelis denganmu)." Maka beliau menasihati mereka dan bersabda, "Siapa saja perempuan yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya, mereka menjadi pelindungnya dari neraka." Seorang perempuan bertanya, "Apakah juga (yang ditinggal mati) dua anak?" Beliau bersabda, "Juga dua anak."
HR. Bukhari (1249) dan Muslim (2633).
Abu Hurairah raḍiyallāhu 'anhu meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,
"Tidaklah seorang muslim ditinggal mati oleh tiga orang anaknya lalu dia disentuh api neraka, melainkan sebatas momen realisasi sumpah (Allah)."
HR. Bukhari (1251) dan Muslim (2632).
Pahala Orang yang Ditinggal Mati Oleh Orang yang Dia Cintai, Lalu Dia Mengharapkan Pahala
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Tidak ada balasan (yang pantas) dari-Ku bagi hamba-Ku yang beriman apabila Aku mewafatkan ṣafiy-nya (orang yang ia cintai) dari penghuni dunia, kemudian dia rida dengan musibah tersebut, melainkan surga'."
HR. Bukhari (6424).
Aṣ-Ṣafiy: orang yang dicintai, seperti anak, saudara, dan semua orang yang dicintai oleh seseorang.
Pahala Sedekah
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sedekah tidak akan mengurangi harta."
HR. Muslim (2588).
Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan:
Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- adalah seorang Ansar yang paling banyak kebun kurmanya di Madinah. Kebun kurma yang paling dicintainya adalah kebun bernama Bairaḥā` yang berhadapan dengan masjid. Rasulullah ﷺ sering masuk ke kebun itu dan minum air bersih yang ada di dalamnya.
Anas melanjutkan: Ketika turun ayat: "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan harta yang kamu cintai", Abu Ṭalḥah mendatangi Rasulullah ﷺ lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadamu: 'Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan harta yang kamu cintai', dan sungguh, harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaḥā`. Kebun itu aku sedekahkan untuk Allah -Ta'ālā-. Aku mengharapkan kebajikan dan simpanannya di sisi Allah. Maka tempatkanlah ia, wahai Rasulullah, sesuai petunjuk Allah kepadamu!"
Rasulullah ﷺ bersabda, "Alangkah bagusnya, itulah harta (yang mendatangkan) untung. Itulah harta (yang mendatangkan) untung. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan dan aku sarankan agar kamu membagikannya kepada para kerabatmu!" Abu Ṭalḥah berkata, "Wahai Rasulullah! Saya akan melaksanakan petunjukmu." Selanjutnya Abu Ṭalḥah membagi-bagi kebun itu kepada kerabat dan anak-anak pamannya.
HR. Bukhari (1461) dan Muslim (998).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang bersedekah semisal satu biji kurma dari penghasilan yang baik, dan memang tidak akan naik kepada Allah kecuali yang baik, maka Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Allah memeliharanya untuk pemiliknya sebagaimana salah seorang kalian memelihara anak kudanya, hingga sedekah itu menjadi seperti gunung."
HR. Bukhari (7430) dan Muslim (1014).
Pahala Petugas dan Bendahara Zakat Jika Mereka Amanah
Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Seorang bendahara muslim yang terpercaya dan melaksanakan -atau memberikan- apa yang diperintahkan kepadanya secara utuh dan sempurna dengan senang hati lalu menyalurkannya kepada siapa yang diperintahkan untuk diberi, ia adalah termasuk orang yang bersedekah."
HR. Bukhari (1438) dan Muslim (1023).
Pahala Sedekah Orang yang Berharta Sedikit
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Satu dirham mengalahkan 100 ribu dirham." Sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana itu?"
Beliau bersabda, "Ada seorang laki-laki memiliki 2 dirham lalu mengambil 1 dirham dan menyedekahkannya. Sedangkan laki-laki lain memiliki harta banyak lalu mengambil 100 ribu dari hamparan hartanya itu dan menyedekahkannya."
HR. Ahmad (8929) dan Nasai (2527).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- pernah bertanya, "Wahai Rasulullah! Sedekah manakah yang paling utama?" Beliau bersabda, "Sedekah orang yang minim harta, serta mulailah dari orang yang engkau tanggung."
HR. Ahmad (8702) dan Abu Daud (1677).
Pahala Sedekah Rahasia
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Ada tujuh golongan yang akan diberikan naungan oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya..." Beliau menyebutkan di antaranya: "... laki-laki yang bersedekah suatu sedekah lalu ia merahasiakannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya."
HR. Bukhari (1423) dan Muslim (1031).
Pahala Orang yang Diberi Rezeki Secukupnya Lalu Bersifat Kanaah, Sabar, Ifah, dan Tidak Meminta pada Siapa pun Karena Yakin dan Tawakal Kepada Allah
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan dianugerahi rezeki yang cukup, serta Allah menjadikannya kanaah dengan anugerah yang Dia berikan."
HR. Muslim (1054).
Abu Sa'îd al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Sebagian orang dari kalangan Ansar meminta kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau memberikannya. Mereka minta lagi dan beliau berikan. Kemudian mereka minta lagi dan beliau berikan, sampai habis apa yang ada pada beliau. Lantas beliau bersabda, "Apa pun kebaikan yang aku punya, aku tidak akan menyimpannya dari kalian. Tetapi, siapa yang bersikap ifah (menjaga kehormatan dirinya), maka Allah akan jaga kehormatannya. Siapa yang mencukupkan diri, maka Allah akan cukupkan. Siapa yang melatih diri untuk bersabar, maka Allah akan menjadikannya penyabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada anugerah kesabaran."
HR. Bukhari (1469) dan Muslim (1053).
Pahala Memberi Makan Demi Mengharapkan Wajah Allah -Ta'ālā-
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sungguh Allah -'Azza wa Jalla- akan berfirman pada hari Kiamat, 'Wahai anak Adam! Aku sakit, tetapi kamu tidak menjengukku.' Dia berkata, 'Wahai Tuhanku! Bagaimana aku akan menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?!'
Allah berfirman, 'Bukankah kamu tahu bahwa hamba-Ku si polan sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya? Bukankah kamu tahu bahwa sekiranya kamu menjenguknya niscaya kamu mendapatkan-Ku di sisi-Nya?'
'Wahai anak Adam! Aku minta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberi-Ku makan.' Dia berkata, 'Wahai Tuhanku! Bagaimana aku memberi-Mu makan, sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?'
Allah berfirman, 'Bukankah kamu tahu bahwa hamba-Ku si polan minta makan kepadamu, namun kamu tidak memberikannya? Bukankah kamu tahu bahwa sekiranya kamu memberinya makan, niscaya kamu mendapatkan itu di sisi-Ku?'
'Wahai anak Adam! Aku minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberiku minum." Dia berkata, "Wahai Tuhanku! Bagaimana aku memberi-Mu minum, sedangkan Engkau Tuhan alam semesta?'
Allah berfirman, 'Hamba-Ku, si polan, meminta minum darimu, tetapi kamu tidak memberinya minum. Ketahuilah bahwa seandainya kamu memberinya minum, kamu akan mendapatkan itu di sisi-Ku.'"
HR. Muslim (2569).
Pahala Orang yang Memberi Minum pada Manusia atau Hewan
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Ada seorang laki-laki melihat seekor anjing memakan tanah karena kehausan. Laki-laki tersebut segera membuka sepatu botnya lalu mengambil air dengan sepatu tersebut dan meminumkannya ke anjing itu hingga hilang hausnya. Sebab itu, Allah memujinya lalu memasukkannya ke surga."
HR. Bukhari (173).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda,
"Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panas memutari sumur sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan, lalu ia menimbakannya air menggunakan sepatunya, sehingga dia pun diberi ampunan."
HR. Muslim (2245).
Pahala Orang yang Berkebun atau Menanam Tumbuhan
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Tidaklah seorang muslim berkebun atau menanam tumbuhan lalu ada yang dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali hal itu menjadi sedekah baginya."
HR. Bukhari (2320) dan Muslim (1553).
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Tidaklah seorang muslim menanam tumbuhan melainkan apa yang dimakan dari tumbuhan itu bernilai sedekah baginya dan apa yang dicuri darinya bernilai sedekah baginya. Bahkan, apa yang dimakan oleh hewan buas darinya bernilai sedekah, apa yang dimakan burung darinya juga bernilai sedekah, dan tidaklah seseorang mengambil darinya kecuali menjadi sedekah baginya."
HR. Muslim (1552).
Pahala Berinfak di Medan Kebaikan
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ bersabda,
"Tidaklah ada satu hari didapatkan oleh seorang hamba, melainkan ada dua malaikat turun (ke bumi). Salah satunya berdoa, 'Ya Allah! Berikanlah ganti (yang baik) kepada orang yang bersedekah.' Sedang malaikat yang lain mengatakan, 'Ya Allah! timpakanlah kehancuran pada orang yang menahan hartanya (kikir).'"
HR. Bukhari (1442) dan Muslim (1010).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,
"Allah beriman, 'Berinfaklah, wahai anak Adam, niscaya Aku akan berinfak kepadamu'."
HR. Bukhari (5352) dan Muslim (993)
Pahala Orang yang Memudahkan Orang yang Kesulitan Membayar Utang, Menangguhkannya, atau Membebaskannya
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Ada seorang pengusaha yang biasa memberi pinjaman kepada orang-orang. Bila melihat seorang yang kesulitan membayar utang, ia berkata kepada para pembantunya, 'Bebaskanlah dia, barangkali Allah akan memaafkan kita (dengan sebab itu).' Maka Allah pun memaafkannya."
HR. Bukhari (2078) dan Muslim (1562).
Abdullah bin Abu Qatādah meriwayatkan bahwa Abu Qatādah pernah mencari orang yang diberinya pinjaman, tetapi orang itu bersembunyi, hingga kemudian ia menemukannya. Orang itu berkata, "Sungguh, aku sedang kesulitan." Ia berkata, "Apakah benar, demi Allah?" Orang itu menjawab, "Demi Allah, benar." Ia berkata, "Sungguh aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Siapa yang ingin diselamatkan oleh Allah dari kesusahan hari Kiamat hendaklah ia melapangkan orang kesulitan atau membebaskan hutangnya."
HR. Muslim (1563).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang mengangkat satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, niscaya Allah angkat darinya satu kesusahan hari Kiamat. Siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang dilanda kesulitan, niscaya Allah memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya."
HR. Muslim (2699).
Abul-Yasīr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang menangguhkan orang yang kesulitan atau membebaskan hutangnya, Allah akan memberinya naungan dalam naungan-Nya."
HR. Muslim (3006).
Pahala Puasa
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, 'Semua amal manusia menjadi miliknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya; sebab ia telah meninggalkan syahwat dan makannya untuk-Ku.' Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya! Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah kelak hari Kiamat daripada aroma minyak kesturi. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: bahagia dengan berbukanya tatkala ia berbuka dan bahagia dengan puasanya ketika ia bertemu Tuhannya."
HR. Bukhari (1904) dan Muslim (1151).
Sahl -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Sesungguhnya di surga ada satu pintu bernama ar-Rayyān. Pada hari Kiamat kelak, orang-orang yang berpuasa akan masuk dari pintu itu. Tidak ada seorang pun yang masuk darinya selain mereka. Dikatakan, 'Di manakah orang-orang yang berpuasa?' Lantas mereka berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk dari pintu itu. Jika mereka telah masuk, pintu itu pun ditutup, sehingga tidak ada seorang pun yang masuk dari pintu itu setelahnya."
HR. Bukhari (1896) dan Muslim (1152).
Pahala Orang yang Berpuasa Ramadan Karena Iman dan Mengharap Pahala
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda,
"Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu."
HR. Bukhari (37) dan Muslim (759).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Bila Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahanam ditutup, dan setan-setan dibelenggu."
HR. Bukhari (3277) dan Muslim (2079), dan redaksi ini miliki Bukhari.
Pahala Orang yang Mendirikan Qiamulail di Bulan Ramadan Karena Iman dan Mengharap Pahala
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang salat malam pada bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu."
HR. Bukhari (37) dan Muslim (759).
Pahala Orang yang Melaksanakan Qiamulail di Malam Lailatulkadar Karena Iman dan Mengharap Pahala
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang salat pada malam lailatulkadar karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu."
HR. Bukhari (1901) dan Muslim (760).
Pahala Makan Sahur
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Makan sahurlah, karena dalam makan sahur terdapat berkah."
HR. Bukhari (1923) dan Muslim (1095).
Pahala Menyegerakan Berbuka
Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa."
HR. Bukhari (1957) dan Muslim (1089).
Pahala Orang yang Berpuasa Ramadan dan Melanjutkannya dengan Enam Hari di Bulan Syawal
Abu Ayyūb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka yang demikian itu seperti puasa setahun."
HR. Muslim (1164).
Pahala Puasa Hari Arafah
Abu Qatādah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺ pernah ditanya tentang puasa hari Arafah? Beliau bersabda, "Ia menggugurkan dosa setahun sebelumnya dan setahun yang akan datang."
HR? Muslim (1162).
Pahala Puasa Hari Asyura
Abu Qatādah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang puasa Hari Asyura, beliau bersabda, "Ia mengugurkan dosa satu tahun sebelumnya."
HR. Muslim (1162).
Pahala Puasa di Bulan Allah, Muharam
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Puasa paling utama setelah puasa Ramadan ialah puasa di bulan Allah, Muharam."
HR. Muslim (1163).
Pahala Puasa Bulan Syakban
Usāmah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Aku tidak pernah melihatmu berpuasa di salah satu bulan seperti engkau berpuasa di Syakban?"
Beliau bersabda, "Syakban adalah bulan yang biasanya manusia lalai di dalamnya karena berada di antara Rajab dan Ramadan. Padahal, ia adalah bulan diangkatnya amalan kepada Tuhan alam semesta, sebab itu aku ingin supaya amalku diangkat ketika aku berpuasa."
HR. Nasai (2357).
Pahala Orang yang Berpuasa Tiga Hari Tiap Bulan
Abdullah bin 'Amr bin al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku,
"Berpuasalah tiga hari di setiap bulan karena itu bernilai puasa setahun atau seperti puasa setahun."
HR. Bukhari (3419) dan Muslim (1159).
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim yang lain:
"Sungguh, cukup bagimu berpuasa tiga hari di setiap bulan karena setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Sebab itu, ia bernilai puasa setahun penuh."
HR. Bukhari (6134) dan Muslim (1159).
Abu Qatādah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Puasa tiga hari tiap bulan dan Ramadan ke Ramadan adalah senilai puasa setahun."
HR. Muslim (1162).
Pahala Puasa Hari Senin
Abu Qatādah al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau bersabda, "Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus, atau hari aku diturunkan wahyu (pertama kali)."
HR. Muslim (1162).
Pahala Berpuasa Selang Sehari
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku,
"Puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasa Daud, yaitu dia berpuasa sehari dan tidak berpuasa sehari."
HR. Bukhari (3420) dan Muslim (1159).
Pahala Haji dan Umrah
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang menunaikan ibadah haji tanpa berbuat keji dan kefasikan, maka ia pulang (tanpa dosa) seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya."
HR. Bukhari (1521) dan Muslim (1350).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,
"Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya dan haji yang mabrur tidak memiliki balasan kecuali surga."
HR. Bukhari (1773) dan Muslim (1349).
Pahala Umrah di Bulan Ramadan
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ berkata kepada seorang wanita Ansar bernama Ummu Sinān, "Apa yang menghalangimu ikut berhaji bersama kami?" Dia menjawab, "Dua unta milik Abu Polan -suaminya-; dia dan anak laki-lakinya berhaji dengan salah satunya, sedangkan satu lagi digunakan mengairi kebun oleh budak kami." Beliau bersabda, "Maka umrah di bulan Ramadan setara haji, atau haji bersamaku."
HR. Bukhari (1782) dan Muslim (1256).
Pahala Amal Saleh di 10 Hari Zulhijah
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Tidaklah amal di sejumlah hari lebih utama daripada amal di hari-hari ini (10 hari di permulaan Zulhijah)." Para sahabat bertanya, "Tidak juga jihad?" Beliau bersabda, "Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar berperang mempertaruhkan diri dan hartanya lalu tidak ada sedikit pun yang kembali."
HR. Bukhari (969).
Pahala Berdomisili di Madinah an-Nabawiyah
Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Madinah itu yang terbaik bagi mereka sekiranya mereka tahu. Tidaklah seseorang meninggalkannya karena membencinya kecuali Allah gantikan dengan orang yang lebih baik. Sebaliknya, tidaklah seseorang bertahan di atas kelaparan dan kesulitannya kecuali aku menjadi pemberi syafaat atau saksi baginya kelak hari Kiamat."
HR. Muslim (1363).
Pahala Mempelajari dan Membaca Al-Qur`ān
Abū Mūsā al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Perumpamaan mukmin yang membaca Al-Qur`ān seperti buah utrujjah (sejenis jeruk); aromanya harum dan rasanya enak. Perumpamaan mukmin yang tidak membaca Al-Qur`ān seperti buah kurma; tidak memiliki aroma tetapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur`ān seperti raiḥānah (sejenis kemangi); aromanya harum tapi rasanya pahit. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur`ān seperti hanẓalah (sejenis labu pahit); tidak memiliki aroma dan rasanya pahit."
HR. Bukhari (5020) dan Muslim (797).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sukakah salah seorang kalian ketika pulang ke keluarganya ia menemukan tiga unta bunting yang besar dan gemuk?" Kami berkata, "Ya." Beliau bersabda, "Tiga ayat yang dibaca salah seorang kalian dalam salatnya lebih baik baginya daripada tiga unta bunting yang besar dan gemuk."
HR. Muslim (802).
'Uqbah bin 'Āmir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan:
Rasulullah ﷺ pernah keluar menemui kami di suffah (tempat tinggal para sahabat dalam masjid). Beliau bersabda, "Siapakah di antara kalian yang suka bila pergi ke daerah Buṭḥān atau 'Aqīq lalu membawa pulang dua unta berpunuk besar tanpa berbuat dosa maupun memutus silaturahmi?" Kami menjawab, "Wahai Rasulullah, kami suka itu." Beliau bersabda, "Tidakkah salah seorang kalian pergi ke masjid lalu mempelajari atau membaca dua ayat Al-Qur`ān, itu lebih baik baginya dari dua ekor unta. Tiga ayat lebih baik baginya dari tiga unta. Empat ayat lebih baik baginya dari empat unta, dan bilangan-bilangan unta seterunya."
HR. Muslim (803).
Uṡmān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur`ān dan mengajarkannya."
HR. Bukhari (5027).
Dalam riwayat Bukhari yang lain:
"Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`ān dan mengamalkannya."
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Orang yang pandai membaca Al-Qur`ān akan bersama para malaikat yang mulia dan berbakti, sedangkan orang yang membaca Al-Qur`ān dengan terbata-bata dan merasa kesulitan dalam membacanya akan mendapatkan dua pahala."
HR. Bukhari (4937) dan Muslim (798) dan redaksi miliknya.
Abu Umāmah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Bacalah Al-Qur`ān karena ia akan datang pada hari Kiamat untuk memberi syafaat bagi orang-orang yang suka membacanya."
HR. Muslim (804).
'Āmir bin Wāṡilah meriwayatkan bahwa Nāfi' bin Abdul Ḥāriṡ bertemu Umar di 'Usfān, saat itu Umar telah menugaskannya sebagai gubernur Makkah. Dia bertanya, "Siapa yang engkau tunjuk (untuk mewakilimu) mengurus penduduk Makkah?" Nāfi' menjawab, "Ibnu Abzā." Umar bertanya, "Siapa Ibnu Abzā?" Nāfi' menjawab, "Salah seorang mantan budak kami." Umar bertanya, "Engkau menunjuk pemimpin mereka seorang mantan budak?" Ia menjawab, "Sungguh dia hafal Kitābullāh dan alim ilmu faraid." Umar lantas berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya Nabi kalian ﷺ telah bersabda, 'Sesungguhnya Allah memuliakan sebagian orang dengan kitab Al-Qur`ān ini dan dengannya pula Dia merendahkan sebagian yang lain.'"
HR. Muslim (817).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,
"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah -Ta'ālā- sambil membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, dinaungi oleh para malaikat, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya."
HR. Muslim (2699).
Pahala Membaca Surah Al-Fātiḥah
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan:
Ketika Jibril -'alaihis-salām- duduk di sisi Nabi ﷺ, ia mendengar ada suara dari atasnya. Lantas Jibril mengangkat kepalanya lalu berkata, "Ini adalah suara sebuah pintu langit yang dibuka hari ini, dan pintu ini sama sekali belum pernah dibuka sebelumnya kecuali hari ini." Lalu turunlah satu malaikat dari pintu itu. Jibril berkata, "Ini adalah malaikat yang turun ke bumi, sama sekali ia belum pernah turun kecuali hari ini." Malaikat itu mengucapkan salam lalu berkata, "Bergembiralah (wahai Muhammad) dengan dua cahaya yang telah dikaruniakan kepadamu, yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu, (yaitu): Al-Fātiḥah dan penutup Surah Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf dari dua surah ini (yang berisi permohonan) melainkan pasti diberikan apa yang engkau mohon."
HR. Muslim (806).
Pahala Membaca Surah Al-Baqarah
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Janganlah kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah."
HR. Muslim (780).
Abu Umāmah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Bacalah surah Al-Baqarah; sungguh, mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan tidak akan dimampu oleh para tukang sihir."
Mu'āwiyah (salah satu perawi hadis ini) berkata, "Telah sampai kepadaku bahwa yang dimaksud al-baṭalah ialah para penyihir."
HR. Muslim (804).
Pahala Membaca Ayat Kursi
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan:
Rasulullah ﷺ pernah menunjukku menjaga zakat Ramadan. Tiba-tiba ada yang datang lalu mengambil sebagian makanan sehingga aku menangkapnya. Aku berkata, "Aku akan membawamu ke Rasulullah ﷺ..." Abu Hurairah kemudian menceritakan hadis ini, sampai orang itu berkata, "Bila kamu telah pergi ke tempat tidurmu, maka bacalah ayat Kursi, niscaya akan selalu ada bersamamu penjaga yang berasal dari Allah dan kamu tidak akan bisa didekati oleh setan hingga memasuki pagi." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Ia telah berkata benar kepadamu, padahal aslinya dia pembohong. Itu adalah setan."
HR. Bukhari (3275).
Pahala Membaca Penutup Surah Al-Baqarah
Abu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda,
"Dua ayat terakhir surah Al-Baqarah, siapa yang membacanya di suatu malam, maka kedua ayat tersebut akan mencukupkannya."
HR. Bukhari (5009) dan Muslim (807).
Pahala Membaca Surah Al-Baqarah dan Āli 'Imrān
Abu Umāmah al-Bāhiliy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Bacalah az-Zahrāwain, yaitu surah Al-Baqarah dan Āli 'Imrān, karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti dua awan, atau keduanya seperti dua naungan, atau keduanya seperti dua kelompok burung yang berbaris, demi membela para pembacanya."
HR. Muslim (804).
An-Nawwās bin Sam'ān al-Kilābiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda,
"Kelak di hari Kiamat Al-Qur`ān akan didatangkan bersama orang-orang yang dulu mengamalkannya, di bagian depannya surah Al-Baqarah dan Āli 'Imrān." Rasulullah ﷺ membuatkan keduanya tiga permisalan yang saya tidak lupa setelahnya; yaitu beliau bersabda, "Keduanya seolah dua awan, atau dua naungan hitam antara keduanya cahaya, atau seolah dua kelompok burung yang terbang berbaris demi membela orang yang mengamalkannya."
HR. Muslim (805).
Pahala Membaca Surah Al-Kahfi
Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Ada seseorang tengah membaca surah Al-Kahfi sementara di dekatnya terdapat kuda yang diikat dengan dua tali. Lalu awan kecil menutupinya lalu mendekat dan mendekat sehingga kudanya lari menjauh. Pada pagi harinya, ia datang menemui Nabi ﷺ lalu menceritakan peristiwa tersebut pada beliau. Maka beliau bersabda, 'Itu adalah ketenangan yang turun karena Al-Qur'ān.'"
HR. Bukhari (5011) dan Muslim (795).
Pahala Menghafal 10 Ayat dari Permulaan Surah Al-Kahfi
Abu ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ bersabda,
"Siapa yang menghafal sepuluh ayat di permulaan surah Al-Kahfi, niscaya dia dilindungi dari Dajal."
HR. Muslim (809).
Pahala Membaca Surah Al-Ikhlāṣ (Qul Huwallāhu Aḥad)
Abu ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Apakah salah seorang kalian tak sanggup untuk membaca sepertiga Al-Qur`ān dalam satu malam?" Para sahabat bertanya, "Bagaimana caranya membaca sepertiga Al-Qur`ān?" Beliau menjawab, " Surah Qul Huwallāhu Aḥad setara sepertiga Al-Qur`ān."
HR. Muslim (811).
Pahala Berzikir kepada Allah -Ta'ālā-
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ berjalan menuju Makkah lalu melewati sebuah gunung yang diberi nama Jumdān, beliau bersabda, "Ini adalah Jumdān. Berjalanlah kalian (dengan berzikir). Sungguh al-mufarridūn telah mendahului."
Para sahabat bertanya, "Siapakah al-mufarridūn itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah."
HR. Muslim (2676).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
Allah berfirman, "Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku akan bersamanya bila ia berzikir kepada-Ku. Bila ia berzikir kepada-Ku dalam dirinya, Aku menyebutnya dalam diri-Ku. Bila ia berzikir kepada-Ku di depan orang ramai, maka Aku menyebutnya di hadapan makhluk yang lebih baik dari mereka. Bila ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila ia mendekat kepada-Ku sehasta, aku mendekat kepadanya sedepa. Bila ia datang kepada-Ku dengan berjalan biasa, Aku datang kepadanya dengan berjalan cepat."
HR. Bukhari (7405) dan Muslim (2675).
Pahala Majelis Zikir
Mu'āwiyah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ keluar menemui sekumpulan sahabatnya, lalu bertanya, "Apa yang membuat kalian berkumpul?" Mereka menjawab, "Kami duduk mengingat Allah serta memuji-Nya karena telah menunjuki kami kepada Islam dan menganugerakannya kepada kami." Beliau bersabda, "Beranikah kalian bersumpah demi Allah bahwa tidak ada yang mengumpulkan kalian kecuali hal itu?" Mereka menjawab, "Demi Allah! Tidak ada yang mengumpulkan kami kecuali itu." Beliau bersabda, "Ketahuilah, sungguh aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian, akan tetapi, Jibril datang kepadaku dan mengabarkan bahwa Allah -'Azza wa Jalla- membanggakan kalian di hadapan para malaikat."
HR. Muslim (2701).
Abu Hurairah dan Abu Sa'īd al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhumā- bersaksi pada Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tidaklah suatu kaum duduk berzikir kepada Allah -'Azza wa Jalla- melainkan mereka diliputi malaikat, diselimuti rahmat, turun kepada mereka ketenangan, dan Allah memuji mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya."
HR. Muslim (2700).
Pahala Kalimat Tauhid (Lā Ilāha Illallāh)
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa ia pernah berkata, "Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling beruntung mendapaatkan syafaatmu kelak hari Kiamat?" Beliau bersabda, "Sungguh aku telah menduga, wahai Abu Hurairah, bahwa tidak akan ada yang lebih pertama bertanya kepadaku tentang hadis ini darimu. Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak hari Kiamat ialah orang yang mengucapkan Lā ilāha illallāh secara tulus dari dalam jiwanya."
HR. Bukhari (6570).
Pahala Zikir "Lā Ilāha Illallāhu Waḥdahū Lā Syarīka Lah, Lahul-Mulku wa Lahul-ḥamdu, wa Huwa 'alā Kulli Syai`in Qadīr" Seratus Kali Dalam Sehari
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang membaca: Lā ilāha illallāh waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku walahul-ḥamdu, wahuwa 'alā kulli syai`in qadīr dalam sehari seratus kali, hal itu baginya setara dengan memerdekakan 10 budak, dituliskan baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 keburukan, dan itu menjadi tameng baginya hari itu dari setan hingga sore, dan tidak ada yang datang dengan membawa sesuatu yang lebih utama dari apa yang ia bawa kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu."
HR. Bukhari (3293) dan Muslim (2691).
Pahala Zikir "Subḥānallāhi wa Biḥamdih" 100 Kali Dalam Sehari
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang mengucapkan 'subḥānallāh wa biḥamdihi' seratus kali sehari, maka dosa-dosanya dihapuskan walaupun sebanyak buih di lautan."
HR. Bukhari (6405) dan Muslim (2692).
Pahala Zikir "Subḥānallāhi wa Biḥamdih Subḥānallāhil-'Aẓīm'
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Ada dua kalimat, ringan di lidah namun berat di timbangan dan dicintai oleh Allah Yang Maha Penyayang, yakni: Subḥānallāh wa biḥamdih, Subḥānallāhil-'aẓīm."
HR. Bukhari (6406) dan Muslim (2694).
Pahala Zikir "Subḥānallāh wal-Ḥamdulillāh"
Abu Mālik al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Bacaan alḥamdulillāh memenuhi timbangan. Sedangkan subḥānallāh wal-ḥamdulillāh, keduanya memenuhi atau dia memenuhi antara langit dan bumi."
HR. Muslim (223).
Pahala Zikir "Subḥānallāh wal-Ḥamdulillāh wa Lā Ilāha Illallāh Wallāhu Akbar"
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sungguh bila aku mengucapkan: Subḥānallāh wal-ḥamdulillāh wa lā ilāha illallāh wallāhu akbar (Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada sesembahan yang hak selain Allah, dan Allah Mahabesar), itu lebih aku cintai dari segala yang disinari matahari (dunia beserta isinya)."
HR. Muslim (2695).
Samurah bin Jundub -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Perkataan yang paling dicintai Allah ada empat, yakni: Subḥānallāh (Mahasuci Allah), Alḥamdulillāh (Segala puji bagi Allah), Lā ilāha illallāh (Tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah), dan Allāhu akbar (Allah Mahabesar). Tidak masalah dari mana pun engkau mulai."
HR. Muslim (2137).
Pahala Bertasbih
Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan:
Kami sedang berada di sisi Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, "Apakah salah seorang kalian tidak mampu untuk mendapatkan seribu kebaikan setiap hari?" Salah seorang yang hadir dalam majelisnya bertanya, "Bagaimana cara salah seorang kami memperoleh seribu kebaikan?" Beliau bersabda, "Hendaklah ia bertasbih seratus kali tasbih, sehingga dicatat baginya seribu kebaikan atau dihapus darinya seribu kesalahan."
HR. Muslim (2698).
Pahala Zikir "Subḥānallāhi wa Biḥamdihi 'Adada Khalqihi wa Riḍā Nafsihi wa Zinata 'Arsyihi wa Midāda Kalimātihi"
Juwairiyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ keluar meninggalkannya pagi hari ketika salat Subuh, sementara dia sedang di tempat salatnya. Kemudian beliau baru kembali setelah waktu duha sementara dia masih duduk, maka beliau bertanya, "Kamu masih dalam keadaan ketika aku meninggalkanmu?" Dia menjawab, "Ya." Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh, setelah meninggalkanmu aku telah membaca empat kalimat sebanyak tiga kali; sekiranya ditimbang dengan semua yang kamu baca sejak pagi ini niscaya dia akan dapat mengalahkannya, yaitu: Subḥānallāhi wa biḥamdihi 'adada khalqihi wa riḍā nafsihi wa zinata 'arsyihi wa midāda kalimātihi (Mahasuci Allah dan aku memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, sejauh rida-Nya, seberat Arasy-Nya, dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya)."
HR. Muslim (2726).
Pahala Zikir "Lā Ḥaula wa Lā Quwwata Illā Billāh"
Abu Musa al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ berkata kepadaku,
"Maukah aku kabarkan kepadamu salah satu perbendaharaan surga?" Aku menjawab, "Tentu mau." Beliau bersabda, "Yaitu (zikir): Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh."
HR. Bukhari (7386) dan Muslim (2704).
Keutamaan Sayyidul-Istigfār
Syaddād bin Aus -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Sayyidul-istigfār (penghulu istigfar) adalah apabila seseorang mengucapkan: Allāhumma anta rabbī, lā ilāha illā anta, khalaqtanī wa anā 'alā 'ahdika wa wa'dika ma-staṭa'tu, a'ūżu bika min syarri mā ṣana'tu, abū`u laka bi ni'matika 'alayya, wa abū`u laka bi żanbī, fa-gfir lī, fa innahū lā yagfiruż-żunūba illā anta (Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada tuhan yang hak kecuali Engkau. Engkau menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu selagi aku mampu. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui nikmat-Mu atas diriku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa selain Engkau).
Siapa yang membacanya di siang hari dengan penuh yakin lalu meninggal di hari itu sebelum memasuki sore, maka ia termasuk penghuni surga. Siapa yang mengucapkannya di malam hari dan ia meyakininya, lalu meninggal sebelum memasuki pagi, maka ia termasuk penghuni surga."
HR. Bukhari (6306).
Pahala Doa "A'ūżu Bikalimātillāhittāmmāti min Syarri Mā Khalaq"
Khaulah binti Ḥakīm as-Sulamiyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang singgah di sebuah tempat kemudian membaca doa: A'ūżu bikalimātillāhittāmmāti min syarri mā khalaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan makhluk ciptaan-Nya), maka tidak akan ada sesuatu yang membahayakannya hingga ia meninggalkan tempatnya itu."
HR. Muslim (2708).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan:
Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Aku merasakan sakit sekali akibat kalajengking yang menyengatku kemarin malam." Beliau bersabda, "Ketahuilah, sekiranya ketika memasuki sore engkau membaca doa: A'ūżu bikalimātillāhittāmmāti min syarri mā khalaq, maka kalajengking tersebut tidak akan mencelakakanmu."
HR. Muslim (2709).
Pahala Doa dan Zikir Sebelum Tidur
Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda,
"Bila engkau hendak pergi ke tempat tidurmu, maka berwudulah seperti engkau berwudu untuk salat. Kemudian berbaringlah ke sisi kananmu, dan bacalah doa: Allāhumma aslamtu wajhī ilaika, wa fawwaḍtu amrī ilaika, wa alja`tu ẓahrī ilaika, ragbatan wa rahbatan ilaika, lā malja`a walā manjā minka illā ilaika, allāhumma āmantu bikitābikal-lażī anzalta, wa binabiyyikal-lażī arsalta (Ya Allah! Aku serahkan wajahku kepada-Mu. Aku serahkan urusanku kepada-Mu. Aku sandarkan punggungku kepada-Mu karena penuh harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak pula menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah! Aku beriman kepada Kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus). Bila engkau meninggal di malam itu, maka engkau meninggal di atas fitrah. Jadikanlah bacaan-bacaan itu sebagai akhir ucapanmu."
HR. Bukhari (247) dan Muslim (2710).
Pahala Ibadah Orang yang Bangun di Waktu Malam
'Ubādah bin aṣ-Ṣāmit -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Siapa yang terjaga (ta'ārra) di waktu malam lalu membaca: Lā ilāha illallāh waḥdahū lā syarīka lah lahul mulku walahul-ḥamdu wahuwa 'alā kulli syai`in qadīr, alḥamdulillāh wasubḥānallāh walā ilāha illallāh wallāhu akbar walā ḥaula walā quwwata illā billāh, kemudian berdoa: "Allāhumma-gfir lī (Ya Allah, berilah ampunan untukku), atau doa lain, niscaya akan dikabulkan baginya; lalu kalau ia berwudu dan mengerjakan salat, maka salatnya diterima."
HR. Bukhari (1154).
"Ta'ārra" dengan huruf rā` yang bertasydid, artinya: terjaga.
Pahala Zikir-zikir yang Dibaca Setelah Salat Fardu
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin datang menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah! Orang-orang yang kaya memborong tingkatan-tingkatan surga yang tinggi serta nikmat-nikmatnya yang abadi." Beliau bertanya, "Bagaimana bisa demikian?" Mereka menjawab, "Mereka salat seperti kami salat dan mereka puasa seperti kami puasa, tetapi mereka bersedekah sedangkan kami tidak, dan mereka memerdekakan budak sedangkan kami tidak." Beliau bersabda, "Maukah kalian kuajari sesuatu, dengannya kalian dapat mengejar orang yang telah mendahului kalian dan mendahului orang yang datang belakangan setelah kalian serta tidak akan ada orang yang lebih utama dari kalian kecuali yang mengerjakan seperti yang kalian kerjakan?" Mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Yaitu kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap setelah salat sebanyak 33 kali."
Abu Ṣāliḥ melanjutkan riwayat ini: Kemudian orang-orang fakir Muhajirin tersebut kembali lagi menemui Rasulullah ﷺ lalu berkata, "Saudara-saudara kami para pemilik harta mendengar apa yang kami lakukan, lalu mereka ikut melakukan yang semisalnya." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Itu adalah karunia Allah yang Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya."
HR. Bukhari (843) dan Muslim (595).
Ka'ab bin 'Ujrah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Ada beberapa zikir pengiring, tidak akan rugi orang yang mengucapkannya -atau melakukannya- setiap setelah salat wajib, yaitu bertasbih sebanyak 33 kali, bertahmid sebanyak 33 kali, dan bertakbir sebanyak 34 kali."
HR. Muslim (596).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,
"Siapa yang bertasbih (membaca subḥānallāh) sebanyak 33 kali, bertahmid (membaca alḥamdulillāh) sebanyak 33 kali, dan bertakbir (membaca Allāhu akbar) sebanyak 33 kali setiap sesudah salat, maka semuanya berjumlah 99, dan ia menggenapinya 100 dengan mengucapkan: Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr (Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan dan segala pujian hanya milik-Nya dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu), maka akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan."
HR. Muslim (597).
Pahala Berdoa
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya Allah berfirman, 'Aku sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku dan Aku bersamanya bila ia berdoa kepada-Ku.'"
HR. Muslim (2675).
Pahala Orang yang Mendoakan Saudaranya Tanpa Sepengetahuannya
Abu ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Tidaklah seorang muslim mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, 'Semoga bagimu juga kebaikan yang semisalnya.'"
HR. Muslim (2732).
Pahala Istigfar (Memohon Ampunan)
Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ dalam hadis yang beliau riwayatkan dari Allah -'Azza wa Jalla- bahwasanya Dia berfirman,
"Wahai hamba-hamba-Ku! Kamu sekalian senantiasa berbuat salah pada malam dan siang hari, sementara Aku mengampuni dosa semuanya. Sebab itu, mohonlah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian."
HR. Muslim (2577).
Pahala Berselawat Kepada Nabi ﷺ
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang berselawat kepadaku satu selawat, Allah akan membalasnya dengan 10 selawat."
HR. Muslim (408).
Pahala Berbakti pada Kedua Orang Tua
Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ tentang amal apakah yang paling utama? Beliau bersabda, "Salat pada waktunya dan berbakti pada kedua orang tua."
HR. Bukhari (7534) dan Muslim (140).
Abdullah bin 'Amr bin al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan:
Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ lalu berkata, "Aku berbaiat kepadamu untuk hijrah dan jihad; aku menginginkan pahala dari Allah." Nabi bertanya, "Apakah ada satu di antara kedua orang tuamu yang masih hidup?" Dia menjawab, "Ya. Bahkan kedua-duanya." Beliau bertanya lagi, "Kamu menginginkan pahala dari Allah?" Dia menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Kembalilah ke orang tuamu. Temani mereka dengan baik."
HR. Muslim (2549).
Abu Hurairah raḍiyallāhu 'anhu meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Celakalah, kemudian celakalah, kemudian celakalah." Ada yang bertanya, "Siapa, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Yaitu orang yang mendapati orang tuanya di usia lanjut, salah satunya atau keduanya, namun dia tidak masuk surga."
HR. Muslim (2551).
Pahala Bersilaturahmi
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung tali silaturahmi."
HR. Bukhari (5986) dan Muslim (2557).
Abu Hurairah raḍiyallāhu 'anhu meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Sesungguhnya Allah menciptakan seluruh makhluk. Hingga ketika Allah selesai menciptakannya, rahim berkata, 'Ini adalah kedudukan orang yang berlindung kepada-Mu dari pemutusan kekerabatan.' Allah berfirman, 'Ya. Tidakkah kamu rida bila Aku menyambung orang yang menyambungmu serta Aku memutus orang yang memutusmu?' Rahim berkata, 'Tentu, wahai Tuhanku.' Allah berfirman, 'Hal itu bagimu.'" Rasulullah ﷺ bersabda, "Bila kalian berkenan, bacalah ayat (yang artinya): 'Maka, apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutus hubungan kekerabatan?'"
HR. Bukhari (5987) dan Muslim (2554).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku mempunyai beberapa orang kerabat. Aku menyambung hubungan tali kekeluargaan dengan mereka, tetapi mereka memutuskannya dariku. Aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka berbuat buruk kepadaku. Aku senantiasa berbuat ramah kepada mereka, tetapi mereka berbuat jahat kepadaku." Beliau bersabda, "Seandainya apa yang engkau katakan itu benar, maka seakan-akan engkau menyuapkan abu panas (al-mall) ke mulut mereka. Allah senantiasa menolongmu terhadap mereka, jika kamu tetap berbuat demikian."
HR. Muslim (2558).
Al-Mall, dengan lām yang bertasydid, bermakna: abu panas.
Pahala Memberi Nafkah kepada Istri dan Keluarga
Abu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Apabila seorang laki-laki memberi nafkah kepada istrinya dengan mengharap pahala, maka nafkahnya itu bernilai sedekah baginya."
HR. Bukhari (55) dan Muslim (1002).
Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan: Aku berkata, "Wahai Rasulullah! Apakah aku mendapatkan pahala bila menafkahi anak-anak Abu Salamah? Sungguh mereka anak-anakku juga." Beliau bersabda, "Berinfaklah kepada mereka, bagimu pahala infakmu kepada mereka."
HR. Bukhari (1467) dan Muslim (1001).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau berikan kepada orang-orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu."
HR. Muslim (995).
Sa'ad bin Abi Waqqāṣ -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Tidaklah engkau memberikan sebuah nafkah karena menginginkan wajah Allah kecuali engkau akan diberi pahala padanya, bahkan sampai yang kamu suapkan ke mulut istrimu."
HR. Bukhari (56) dan Muslim (1628).
Pahala Orang yang Memiliki Dua Putri atau Dua Saudari Lalu Bersabar dan Berbuat Baik pada Keduanya
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan:
Seorang perempuan datang menemuiku bersama dua putrinya. Dia meminta kepadaku, tetapi ia tidak menemukan sesuatu di sisiku kecuali satu butir kurma dan aku memberikannya. Dia pun mengambilnya dan membaginya di antara kedua putrinya sedangkan dia tidak makan sedikit pun. Kemudian ia berdiri lalu keluar bersama kedua putrinya. Lalu Nabi ﷺ masuk ke tempatku dan aku menceritakan kisahnya. Maka Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang mendapat ujian pada anak-anak perempuan, lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak tersebut akan menjadi pelindungnya dari neraka."
HR. Bukhari (1418) dan Muslim (2629).
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- juga meriwayatkan:
Aku pernah didatangi oleh seorang wanita miskin sambil membawa kedua anak perempuannya, lalu aku memberinya tiga butir kurma. Wanita itu memberikan satu butir kurma kepada masing-masing anaknya dan satu lagi diangkatnya ke mulutnya untuk dimakan. Namun, kedua putrinya itu memintanya, sehingga ia membagi dua kurma yang hendak dimakannya itu untuk mereka berdua. Keadaan wanita itu membuatku takjub, sehingga aku memberitahukan perbuatannya itu kepada Rasulullah ﷺ. Lantas beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menetapkan surga untuk wanita itu atau membebaskannya dari neraka karena perbuatannya tersebut."
HR. Muslim (2630).
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang mengurus dua orang anak perempuan sampai balig, maka ia dan aku akan datang bersama-sama pada hari Kiamat (seperti ini)." Beliau merapatkan jari-jarinya.
HR. Muslim (2631).
Pahala Orang yang Membantu Janda dan Orang Miskin
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda,
"Orang yang berusaha untuk memberi nafkah kepada janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad fi sabilillah atau orang yang salat sepanjang malam dan puasa sepanjang siang."
HR. Bukhari (5353) dan Muslim (2982).
Pahala Menanggung Anak Yatim
Sahl -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Aku akan bersama orang yang menanggung anak yatim dalam surga seperti ini." Beliau lalu mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah, serta merenggangkan sedikiti di antara keduanya.
HR. Bukhari (5304).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Orang yang mengurus anak yatim, baik keluarganya atau orang lain (lahū aw ligairihi), maka aku dan dia seperti dua jari ini di surga." Malik (perawi hadis ini) berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah.
HR. Muslim (2983).
Sabda beliau "lahū aw ligairihi", yakni: baik yatim tersebut kerabatnya ataupun orang asing yang tidak ada hubungan kerabat dengannya.
Pahala Orang yang Menziarahi Saudaranya Karena Allah
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa ada seorang laki-laki mengunjungi saudaranya di kampung yang lain. Lalu Allah mengutus malaikat untuk menunggunya di jalan. Ketika ia bertemu dengan malaikat itu, malaikat berkata, "Engkau mau ke mana?" Laki-laki itu menjawab, "Aku ingin menemui saudaraku di kampung ini." Malaikat bertanya, "Apakah engkau memiliki satu kebaikan yang ingin engkau ambil darinya?" Laki-laki itu menjawab, "Tidak. Hanya saja aku mencintainya karena Allah -'Azza wa Jalla-." Malaikat berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya."
HR. Muslim (2567).
Pahala Orang yang Membantu Kebutuhan Saudaranya Sesama Muslim
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak boleh menzaliminya dan tidak pula membiarkannya (terzalimi). Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesulitan dari seorang muslim di dunia, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan di antara kesulitan hari Kiamat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat."
HR. Bukhari (2442) dan Muslim (2580).
Abu Qatādah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang senang bila Allah menyelamatkannya dari kesulitan hari Kiamat, hendaklah dia memberi kelonggaran pada orang yang kesulitan (dalam membayar utang) atau membebaskan utangnya."
HR. Muslim (1563).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, niscaya Allah menghilangkan darinya satu kesusahan hari Kiamat. Siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang dilanda kesulitan, niscaya Allah memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup (aib) seorang muslim, niscaya Allah menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya."
HR. Muslim (2699).
Pahala Orang yang Menjenguk Orang Sakit
Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Siapa yang menjenguk orang sakit akan senantiasa dalam khurfatul-jannah." Ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah! Apa itu khurfatul-jannah?" Beliau bersada, "Yaitu tempat memetik buah-buahan surga."
HR. Muslim (2568).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- berfirman pada hari Kiamat, ‘Wahai anak Adam! Aku sakit, namun engkau tak menjenguk-Ku!’ Anak Adam berkata, 'Wahai Tuhanku! Bagaimana aku menjenguk-Mu, sementara Engkau adalah Tuhan seluruh alam semesta?' Allah menjawab, 'Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku, si polan sakit, namun engkau tidak menjenguknya?! Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau menjenguknya, engkau akan mendapati-Ku di sisinya? Wahai anak Adam! Aku telah meminta makan kepadamu, namun engkau tak memberi-Ku makan!' Anak Adam berkata, 'Wahai Tuhanku! Bagaimana aku memberi-Mu makan, sementara Engkau adalah Tuhan seluruh alam semesta?' Allah menjawab, "Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku, si polan telah meminta makan kepadamu, tapi engkau tidak memberinya makan?! Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau memberinya makan, engkau pasti akan mendapatkan (balasan) itu di sisi-Ku? Wahai anak Adam! Aku telah meminta minum kepadamu, namun engkau tak memberi-Ku minum!" Anak Adam berkata, "Wahai Tuhanku! Bagaimana aku memberi-Mu minum, sementara Engkau adalah Tuhan seluruh alam semesta?' Allah menjawab, 'Hamba-Ku, si polan telah minta minum kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya minum. Ketahuilah, sekiranya engkau memberinya minum, niscaya engkau mendapatkan balasan itu di sisi-Ku.'"
HR. Muslim (2569).
Pahala Bersikap Jujur
Ḥakīm bin Ḥizām -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Dua orang yang berjual beli memiliki hak khiyār (pilihan) selama belum berpisah. Jika mereka jujur dan menjelaskan kekurangan yang ada, jual beli mereka akan diberkahi. Tetapi, jika mereka berbohong dan menyembunyikannya, maka hilanglah keberkahan jual beli mereka itu."
HR. Bukhari (2079) dan Muslim (1532).
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Hendaknya kalian jujur karena kejujuran itu menuntun pada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu mengantarkan ke surga. Seseorang akan jujur dan berusaha untuk jujur sehinga dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur. Sebaliknya, jauhilah dusta karena dusta itu menjerumuskan pada kedurhakaan, dan sesungguhnya kedurhakaan itu menjerumuskan kepada neraka. Seseorang akan berdusta dan berupaya untuk berdusta sampai dicatat di sisi Allah sebagai pendusta."
HR. Bukhari (6094) dan Muslim (2607).
Pahala Sikap Memaafkan dan Tawaduk
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah pasti mengangkat kemuliaan seseorang karena sifat pemaafnya. Tidaklah seseorang merendahkan hatinya karena Allah kecuali Allah akan memuliakannya."
HR. Muslim (2588).
Pahala Berlemah Lembut dalam Seluruh Urusan
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah itu Mahalembut dan menyukai kelembutan. Allah akan memberi pada sikap lembut apa yang tidak diberikan pada sikap keras, dan apa yang tidak diberikan pada selainnya."
HR. Muslim (2593).
Dalam riwayat Muslim lain (2594) disebutkan: "Sungguh, tidaklah kelembutan ada pada suatu perkara melainkan akan menjadikannya indah. Sebaliknya, tidaklah kelembutan dicabut dari suatu perkara melainkan akan menjadikannya buruk."
Pahala Orang yang Menutupi Aib Saudara Sesama Muslim
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Tidaklah seorang hamba menutupi (aib) hamba lainnya di dunia melainkan Allah akan menutupi (aib)nya pada hari Kiamat."
HR. Muslim (2590).
Pahala Mendamaikan Antara Manusia
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Setiap persendian manusia wajib bersedekah (yang dikeluarkan) setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang yang sedang berselisih secara adil (ya'dilu bainal-iṡnain) adalah sedekah, menolong seseorang pada kendaraannya dengan menaikkannya ke atas kendaraan atau membantunya mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya itu adalah sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah berjalan untuk melaksanakan salat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah."
HR. Bukhari dan Muslim.
Sabda beliau: "ya'dilu bainal-iṡnain", yaitu mendamaikan antara keduanya dengan adil.
Pahala Orang yang Mengingkari Perilaku Gibah terhadap Seorang Muslim serta Membela Kehormatannya
Abu ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Siapa yang membela harga diri saudaranya, maka Allah akan menghindarkan wajahnya dari neraka pada hari Kiamat."
HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadis hasan".
Pahala Cinta Karena Allah
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hari Kiamat. Dia bertanya, "Kapan hari Kiamat terjadi?" Beliau menjawab, "Apa yang telah kamu persiapkan untuknya?" Dia menjawab, "Tidak ada sesuatu yang berarti, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ." Nabi ﷺ bersabda, "Kamu akan bersama orang yang kamu cintai."
Anas menyatakan, "Belum pernah kami bahagia dengan sesuatu seperti kebahagiaan kami dengan sabda Nabi ﷺ: 'Kamu akan bersama orang yang kamu cintai.'"
Anas berkata, "Sesungguhnya aku mencintai Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap bisa bersama mereka karena cintaku kepada mereka, sekalipun aku tidak mampu beramal seperti amalan mereka."
HR. Bukhari (3688) dan Muslim (2639).
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata,
Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah ﷺ lalu bertanya, "Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum padahal ia tidak mampu menyusul mereka?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Seseorang itu akan bersama orang yang dia cintai."
HR. Bukhari (6169) dan Muslim (2640).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- berfirman pada hari Kiamat, 'Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku menaungi mereka dalam naungan-Ku ketika tidak ada naungan selain naungan-Ku'."
HR. Muslim (2566).
Pahala Sabar terhadap Ujian Walaupun Sedikit
Abu Sa'īd al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang berusaha sabar maka Allah akan menjadikannya bersabar. Tidaklah seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran."
HR. Bukhari (1469) dan Muslim (1053).
Abu Mālik al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sabar adalah cahaya yang bersinar."
HR. Muslim (223).
Aṭā` bin Abi Rabāḥ meriwayatkan: Ibnu 'Abbās bertanya kepadaku, "Maukah engkau, kutunjukkan seorang wanita yang termasuk ahli surga?" Aku menjawab, "Iya." Ia berkata, "Wanita yang berkulit hitam ini. Dia pernah datang menemui Nabi ﷺ lalu mengadu, 'Sesungguhnya saya mempunyai penyakit ayan dan aurat saya terbuka karenanya. Oleh karena itu, mohonkanlah kepada Allah agar aku diberi kesembuhan.' Beliau bersabda, 'Jika engkau mau bersabar maka engkau mendapat surga, dan jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu.' Wanita itu menjawab, 'Aku akan bersabar.' Kemudian dia berkata, 'Wahai Rasulullah! Auratku terbuka karenanya, maka mohonkanlah kepada Allah agar auratku tidak terbuka.' Maka Rasulullah pun mendoakannya." HR. Bukhari (5652) dan Muslim (2576).
Abu Sa'īd dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tidaklah seorang mukmin ditimpa an-naṣab (kepayahan), al-waṣab (sakit), kegundahan, kesedihan, dan duka cita, hingga duri yang menusuknya melainkan dengan sebab itu Allah menghapus dosa-dosanya." HR. Bukhari dan Muslim dengan redaksi: "Tidaklah seorang mukmin ditimpa sakit, kepayahan, maupun sakit dan sedih hingga kegundahan yang dirasakannya melainkan dengan sebab itu kesalahan-kesalahannya diampuni."
An-Naṣab: kepayahan, sedangkan al-waṣab: penyakit.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim walaupun hanya berupa duri yang menusuknya kecuali dengan sebab itu Allah menghapuskan dosa-dosanya." HR. Bukhari dan Muslim.
Dalam riwayat lain milik Muslim: "Tidaklah seorang mukmin ditimpa sebuah duri atau yang lebih besar, kecuali dengan sebab itu Allah memotong kesalahannya."
Dalam riwayat lain lagi: "... kecuali dengan sebab itu Allah mengangkatnya satu derajat dan dengan sebab itu pula Allah menghapus satu kesalahannya."
Juga dalam riwayat lain miliknya: Seorang pemuda Quraisy masuk menemui Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ketika berada di Mina sementara orang-orang tertawa, Aisyah bertanya, "Apa yang membuat kalian tertawa?" Mereka menjawab, "Fulan tersungkur di atas tali tenda sampai-sampai ia hampir kehilangan lehernya atau matanya." Aisyah berkata, "Janganlah kalian tertawa, karena aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih darinya melainkan dengan sebab itu Allah mencatat untuknya satu derajat serta satu kesalahannya dihapus.'"
Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu gangguan berupa sakit atau yang lainnya, melainkan dengan sebab itu Allah akan menggugurkan kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daunnya." HR. Bukhari dan Muslim.
Pahala Demam
Jābir bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menemui Ummu as-Sā`ib atau Ummu al-Musayyib dan berkata, "Apa yang menimpamu, wahai Ummu as-Sā`ib atau wahai Ummu al-Musayyib, mengapa kamu menggigil?" Dia menjawab, "Karena demam. Semoga Allah tidak memberkahinya." Beliau bersabda, "Janganlah mencaci demam, karena ia menghapus dosa-dosa manusia sebagaimana tempaan api menghilangkan karat besi."
HR. Muslim (2575).
Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku datang menemui Nabi ﷺ ketika beliau sakit dan merasakan sakit sekali. Aku berkata, "Sungguh engkau sakit panas yang parah." Aku bertanya, "Apakah seperti itu karena engkau diberi pahala dua kali lipat?" Beliau bersabda, "Benar. Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu gangguan kecuali Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana daun pohon digugurkan."
HR. Bukhari (5647) dan Muslim (2571).
Pahala Orang yang Kehilangan Penglihatannya Lalu Bersabar dan Mengharapkan Pahala
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, 'Apabila Aku menguji hamba-Ku pada dua ḥabībah-nya (kedua matanya dibutakan), lalu dia bersabar, Aku akan menggantikan keduanya dengan surga.'"
Maksud dua ḥabībah-nya: kedua matanya.
HR. Bukhari (5653).
Pahala Menghilangkan Gangguan dari Jalan
Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Amalan-amalan umatku ditampakkan kepadaku, yang baik dan yang buruk. Aku dapati di antara kebaikan amal mereka adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sebaliknya, aku dapati di antara keburukan amal mereka adalah dahak di masjid yang tidak ditimbun (dibersihkan)."
HR. Muslim (553).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,
"Ada seorang laki-laki berjalan di sebuah jalan, dia menemukan ranting duri di tengah jalan, lalu dia menyingkirkannya. Maka Allah pun menerima amalnya dan mengampuninya."
HR. Bukhari (652) dan Muslim (1914).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Seorang laki-laki berjalan melewati dahan yang melintang ke tengah jalan, lalu ia berkata, 'Demi Allah! Aku akan menyingkirkan dahan ini dari jalan agar tidak mengganggu kaum muslimin yang lewat.' Maka ia pun dimasukkan ke surga."
HR. Muslim (1914).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Sungguh aku telah melihat seseorang yang bersenang-senang di dalam surga karena ia memotong pohon yang ada di bahu jalan karena mengganggu orang."
HR. Muslim (1914).
Pahala Orang yang Membunuh Ular atau Tokek
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang membunuh tokek dengan satu pukulan, maka dituliskan baginya seratus kebaikan. Membunuhnya dengan dua pukulan, maka baginya lebih sedikit dari yang pertama. Jika membunuhnya dengan tiga pukulan, maka baginya lebih sedikit dari yang kedua."
HR. Muslim (2240).
Pahala Pengusaha Jujur dan Amanah
Ḥakīm bin Ḥizām -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Dua orang yang berjual beli memiliki hak khiyār (pilihan) selama belum berpisah. Jika mereka jujur dan menjelaskan kekurangan yang ada, maka jual beli mereka akan diberkahi. Tetapi, jika mereka berbohong dan menyembunyikannya, maka hilanglah keberkahan jual beli mereka itu."
HR. Bukhari (2110) dan Muslim (1532).
Pahala Lapang Dada dalam Jual Beli
Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Semoga Allah merahmati seseorang yang lapang dada ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menagih (utang)."
HR. Bukhari (2076).
Pahala Orang yang Menjaga Kemaluannya Karena Takut kepada Allah -'Azza wa Jalla-
Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang dapat memberi jaminan kepadaku untuk menjaga apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (lisannya) dan di antara kedua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin baginya surga."
HR. Bukhari (6474).
Yang dimaksud dengan "antara dua rahangnya", yaitu: lisan. Sedangkan "antara dua kakinya", yaitu: kemaluan.
Pahala Taubat
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sungguh Allah lebih gembira dengan tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya daripada kegembiraan salah seorang kalian yang mengendarai tunggangannya di padang luas, kemudian tunggangannya itu lepas meninggalkannya, padahal bekal makan dan minumnya ada di atasnya. Dia pun putus asa untuk mendapatkannya, lalu datang ke sebuah pohon dan berbaring di bawah bayangnya. Dia benar-benar putus asa untuk mendapatkan kembali tunggangannya. Ketika ia dalam keadaan demikian itu, tiba-tiba ia mendapatkan tunggangannya berdiri di sisinya. Dia pun mengambil tali kekangnya, kemudian berujar karena kegirangan, 'Ya Allah! Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu.' Dia keliru karena teramat gembira."
HR. Muslim (2747).
Pahala Amal Saleh Ketika Zaman Rusak
Ma'qil bin Yasār -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Ibadah di saat al-harj (fitnah dan kekacauan) seperti hijrah kepadaku."
HR. Muslim (2948).
Al-Harj, dengan mensukunkan ra, yaitu kekacauan dan fitnah.
Pahala Orang-orang Fakir dan Lemah
'Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Aku melihat ke dalam surga, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir. Kemudian aku melihat ke neraka, maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah para wanita."
HR. Bukhari (3241) dan Muslim (2737) dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-.
Usāmah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Aku berdiri di pintu surga, ternyata mayoritas orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin, sedangkan orang-orang yang kaya (aṣḥāb al-jadd) masih tertahan. Namun, penghuni neraka telah diperintahkan untuk dimasukkan ke neraka. Aku telah berdiri di pintu neraka, ternyata mayoritas orang yang memasukinya adalah wanita."
HR. Bukhari (5196) dan Muslim (2736).
Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan:
Aku pernah berdiri di samping Rasulullah ﷺ, lalu seorang pendeta Yahudi datang seraya berkata, "Aku datang untuk bertanya kepadamu." Rasulullah ﷺ menjawab, "Apakah akan berguna bagimu jika aku menyampaikan kepadamu?" Dia menjawab, "Aku akan dengar dengan telingaku." Lalu Rasulullah ﷺ memukulkan kayu yang ada bersamanya dan berkata, "Bertanyalah." Laki-laki Yahudi itu kemudian bertanya, "Di manakah manusia pada hari bumi ditukar dengan selain bumi dan langit yang ada?"
Rasulullah ﷺ bersabda, "Mereka dalam kegelapan sebelum jembatan." Dia bertanya lagi, "Lantas siapakah yang paling pertama lewat?" Beliau menjawab, "Orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin."
HR. Muslim (315).
Abu Abdirrahman al-Ḥubulliy mengisahkan: Ada tiga orang datang menemui Abdullah bin 'Amr bin al-'Āṣ ketika saya sedang berada di sisinya. Mereka berkata, "Wahai Abu Muhammad! Sesungguhnya kami, demi Allah, tidak mampu apa-apa. Tidak nafkah, hewan, maupun barang." Maka Abdullah berkata ke mereka, "Terserah kalian. Bila berkenan, kalian bisa pulang bersama kami lalu kami berikan apa yang Allah mudahkan bagi kalian. Juga bila kalian berkenan, kami akan sampaikan urusan kalian pada pemerintah. Juga bila berkenan, kalian bersabarlah. Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Sesungguhnya orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin akan mendahului orang-orang kaya 40 tahun untuk masuk ke surga pada hari Kiamat nanti.'" Mereka berkata, "Kalau begitu kami bersabar. Kami tidak minta sesuatu."
HR. Muslim (2979).
"Al-Jadd" dengan memfatahkan jīm, artinya harta dan kekayaan.
Pahala Berbaik Sangka kepada Allah
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda,
"Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Aku tergantung prasangka hamba-Ku pada-Ku."'
HR. Bukhari (7405) dan Muslim (2675).
Pahala Menebar Salam
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu kepada kalian yang jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!"
HR. Muslim (93).
Abdullah bin Salām -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai sekalian manusia! Tebarkanlah salam, berikanlah makan, sambunglah tali kekerabatan, dan salatlah ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat."
HR. Tirmizi (2485) dan dia berkata, "Hadis hasan sahih".
Pahala Bersalam kepada Penghuni Rumah
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ pernah berkata kepadaku, "Wahai anakku! Apabila engkau masuk menemui keluargamu, maka ucapkan salam! Pasti itu menjadi berkah bagimu dan bagi penghuni rumahmu." HR. Tirmizi (2698) dan dia berkata, "Hadis hasan sahih".
Balasan Bagi Orang-orang yang Penyayang
Usāmah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,
"Sungguh yang dirahmati Allah di antara hamba-hamba-Nya ialah orang-orang yang penyayang."
HR. Bukhari (1284) dan Muslim (923).
Pahala Berdoa di Waktu Mustajab
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya pada malam hari itu ada satu waktu, tidaklah seorang muslim meminta kepada Allah kebaikan perkara dunia dan akhirat tepat pada waktu itu, melainkan Allah pasti memberikannya kepadanya. Hal itu ada pada setiap malam."
HR. Muslim (757).
Pahala Berdakwah kepada Allah
Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sungguh bila Allah memberikan petunjuk kepada satu orang dengan perantaraanmu, maka itu lebih baik bagimu dibanding engkau mendapatkan unta merah."
HR. Bukhari (3009) dan Muslim (2406).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang mengajak kepada petunjuk (kebajikan), maka ia mendapatkan pahala sebesar pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosa sebesar dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun."
HR. Muslim (2674).
Jarīr bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
"Siapa yang membuat contoh baik dalam Islam lalu hal itu diamalkan setelahnya, maka dituliskan untuknya sebanyak pahala orang-orang yang turut mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, siapa yang membuat contoh buruk dalam Islam lalu hal itu diamalkan setelahnya, maka dituliskan baginya dosa sebanyak dosa orang-orang yang turut mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun."
HR. Muslim (1017).
Pahala Menyampaikan Hadis Nabi ﷺ
Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
"Semoga Allah membaguskan rupa orang yang mendengarkan sebagian hadis kami kemudian ia menyampaikannya seperti yang ia dengar. Barangkali orang yang disampaikan padanya (suatu hadis) justru lebih paham daripada orang yang mendengarnya langsung."
HR. Tirmizi (2657) dan dia berkata, "Hadis hasan sahih".
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh Allah rida kepada seorang hamba bila ia makan lalu memuji-Nya karena makanan itu, atau meminum sebuah minuman lalu ia memuji-Nya karena minuman itu."
HR. Muslim (2734).