الله -جل جلاله- أنيس المحبين وملاذ القاصدين
كتاب مختصر لطيف يهدف إلى تعريف القارئ بأسماء الله وصفاته وأفعاله -جل وعلا- وأثرها في زيادة الإيمان. الكتاب مبني على منهج الجمع والصياغة بأسلوب مبسط بعيد عن الأكاديمية البحتة، ليكون ملائمًا لجميع أطياف القراء، ويسعى لتعزيز حب الله والشوق إلى لقائه في قلوب المؤمنين. يتناول الكتاب كيفية تأثير معرفة أسماء الله وصفاته في حياة المسلم اليومية، مشددًا على أهمية التوحيد والفهم الصحيح للعقيدة الإسلامية.
ALLAH ﷻ: TEMPAT BERNAUNG PARA PECINTA
NAMA-NAMA ALLAH YANG INDAH DAN SIFAT-SIFAT-NYA YANG MULIA DARI AL-QUR`ĀN DAN SUNNAH
Abdullah bin Musyabbib bin Musfir al-Qaḥṭāniy
Hak cetak milik penulis dilindungi undang-undang
Cetakan Kedua
1441 H / 2020 M
﷽
Hadiah
Teruntuk kepada kedua orang tuaku
Inilah sebagian anugerah yang pernah kalian minta dari Allah ﷻ agar dianugerahkan untukku. Aku tidak akan pernah mampu membalas sedikit dari limpahan pemberian kalian dan banyaknya kebaikan kalian.
Juga teruntuk kepada setiap jiwa yang mengenal Tuhannya dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Karya tulis ini, kupersembahkan kepada kalian sembari memohon kepada Allah agar Dia menerimanya sebagai amal saleh!
Mukadimah Cetakan Kedua
Segala puji bagi Allah dari permulaan hingga yang terakhir, secara lahir dan batin. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad. Amabakdu:
Inilah cetakan kedua buku saya. Saya hadirkan ke hadapan para pembaca budiman setelah cetakan pertama -dengan kedua modelnya- habis terjual sebanyak 6.000 eksemplar dalam jangka waktu yang singkat -alhamdulillah- dan setelah meninjau ulang isi buku ini sembari merevisi dan mengeditnya; dengan harapan agar buku ini semakin relevan bagi para pembacanya, memadai dalam pembahasannya, dan dapat mewujudkan tujuannya.
Demi menyebarluaskan ilmu dengan mengharapkan pahala, maka saya mengizinkan siapa saja untuk mencetak buku ini, dengan ketentuan:
(1) isi buku tidak dikurangi maupun ditambah: (2) dicetak luks agar sepadan dengan konten buku; dan (3) mengomunikasikannya dengan saya melalui nomor telepon 00966564570117 atau ke email [email protected].
Ini bertujuan untuk memastikan tidak ada modifikasi atau penambahan apa pun pada buku. Sungguh, kesempurnaan tidak mungkin tercapai kecuali untuk Kitab Allah .ﷻ
Kemudian, ucapan terima kasih saya haturkan kepada Penerbit Dār Ibnil-Jauziy dan Maktabah al-Mutanabbiy atas usaha mereka sebelumnya dalam mencetak buku ini sembari memohon kepada Allah agar semuanya diberikan taufik dan petunjuk, serta agar buku ini diterima sebagai amal saleh.
Segala puji hanya milik Allah, Rabb alam semesta.
Penulis
MUKADIMAH
Segala puji hanya milik Allah. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Amabakdu:
Di antara pintu paling besar untuk menambah keimanan ialah mengenal Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- melalui nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Setiap nama di antara nama Allah adalah satu di antara pintu untuk masuk kepada-Nya: "Allah memiliki al-Asmā’ul-Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu" [QS. Al-A'rāf: 180]. Lalu bagaimana dengan orang yang mengenal seluruh nama-Nya?! Dalam hadis sahih dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, yaitu seratus kurang satu; siapa yang menghafal lagi mengenalnya pasti akan masuk surga." [HR. Bukhari dan Muslim]
Dahulu saya memohon kepada Allah ﷻ supaya Dia menganugerahiku kemuliaan dengan mengenal 99 nama itu. Maka pada tahun 1430 H saya mulai mengajarkan maknanya secara ringkas. Saat itu, saya merasakan antusiasme peserta kajian untuk mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Bagaimana bisa seorang mukmin tidak rindu mempelajarinya, padahal ia semakin cinta kepada Allah dan bertambah rindu untuk berjumpa dengan-Nya ketika mempelajari setiap nama-Nya?!
Bagaimana bisa seorang mukmin tidak antusias mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah, sementara ia telah tahu bahwa nama dan sifat-sifat itu adalah kunci keselamatan bagi setiap orang yang dirundung sedih, terzalimi, terlilit hutang, terkena penyakit, terpenjara, atau sedang bimbang?!
Bagaimana bisa seorang mukmin tidak antusias untuk mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah, sementara ia mengetahui bahwa nama-nama dan sifat-sifat itu adalah kunci kesuksesan, kunci kebahagiaan, dan kunci rezeki?! Bahkan, siapa yang mengenalnya dengan sebenarnya, kebahagiaan tidak akan meninggalkannya selamanya.
Oleh karena itu, saya berharap semoga Allah membimbing saya untuk menulis sebuah buku sebagai amal jariah saya dan menjadi karya indah yang diraih manfaatnya. Saya pun memulainya dengan hanya menggunakan metode pengumpulan bahan tulisan dan peredaksian ulang karena menyadari ketidakmampuan saya dalam menulis karya tulis serta sedikitnya ilmu saya.
Saya kumpulkan semua yang saya baca, lalu saya menyusun bahasan yang membuat jiwa saya tenteram, dengan harapan saya telah melakukan sesuatu yang baik pada apa yang saya anggap baik untuk disusun sembari memperhatikan akidah para Salaf Saleh terkait nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Kemudian saya mengemasnya dalam bahasan menarik yang berpoleskan keindahan dengan tetap mempertimbangkan pemahaman para pembelajar dan kalangan terdidik, jauh dari metode akademik murni.
Di dalamnya, saya hanya menukilkan hadis yang sahih dan hasan secukupnya.
Saya berupaya menyederhanakan bahasan sekaligus menggugah rasa rindu dan mewujudkan harapan pembaca dengan metode termudah dan waktu yang singkat.
Saya berharap buku ini akan mendatangkan kebahagiaan, menghilangkan kegundahan, melapangkan dada, memperkuat iman, menambah ilmu, mengisi jiwa, menghidupkan hati, dan memberi asupan pikiran.
Semua itu berasal dari karunia Allah ﷻ, kemudian jasa para ulama tempat saya mengumpulkan wawasan terbaik dalam buku ini. Jika saya benar, maka itu berasal dari Allah ﷻ sehingga bagi-Nyalah seluruh pujian. Tetapi jika saya salah, maka itu berasal dari diri saya dan dari setan. Saya tidakl menginginkan kecuali kebaikan, dan saya memohon ampun kepada Allah serta bertobat kepada-Nya!
Akhir kata, ini adalah upaya dari orang yang minim ilmu dan tak memiliki kemampuan apa-apa. Saya memuji Allah karena telah menuntaskan penulisan buku ini, dan berharap semoga Allah menerimanya sebagai amal saleh, sekaligus khawatir Dia akan menolaknya. Allah sebagai saksi atas kecintaan kepada-Nya dan saya berprasangka baik kepada-Nya.
Hanya kepada Allah saya memohon agar Dia melimpahkan pahala dan ganjaran untuk saya, untuk orang-orang tempat saya mengumpulkan bahan buku ini, dan untuk semua pihak yang ikut berpartisipasi dalam mengedit, mengoreksi, menata letak, menyalin, dan mencetaknya ataupun yang memberikan saran atau pandangan.
Saya juga memohon kepada Allah ﷻ agar menjadikannya sebagai amalan yang benar dan murni untuk-Nya dan sebagai upaya mendekatkan diri kepada cinta dan rida-Nya. Semoga Dia mengampuniku, kedua orang tuaku, guru-guruku, keluargaku, dan semua kaum muslimin. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan!
Saudaramu
Abdullah bin Musyabbib bin Musfir al-Qaḥṭāniy
email: [email protected]
HP (pesan WhatsApp):
00966564570117
Tuhanku...
Sungguh, betapa mulia, agung, dan sulitnya tema tulisan ini.
Kata-kata tak mampu mengungkapnya, bahkan jiwa pun bergetar, lisan menjadi kaku, ungkapan terasa kurang, dan akal pun bingung. Hamba yang lemah ini bersimpuh di hadapan-Mu, ingin memuji-Mu dan mencurahkan segala isi hati ini pada-Mu meskipun Engkau telah mengetahuinya.
Para pemuja-Mu tak akan mampu sempurna memuji-Mu, sekalipun mereka berpanjang kata, sungguh yang ada pada-Mu jauh lebih agung.
Ya Tuhanku!
Kami mengetahui bahwa pujian kami kepada-Mu, pengagungan kami untuk-Mu, penghormatan kami pada keagungan-Mu, serta lantunan zikir kami kepada-Mu tidak lain adalah satu di antara nikmat dan karunia-Mu kepada kami. Engkaulah yang menunjuki kami untuk itu dan Engkaulah yang membimbing kami kepadanya.
Wahai Tuhan kami! Kami mengetahui bahwa kemuliaan dan kesempurnaan-Mu lebih tinggi dari semua pujian orang-orang yang memuji-Mu dan dari sanjungan orang-orang yang mengagungkan-Mu.
Sebab itu, terimalah - ya Allah- nikmat (zikir dan pujian) yang Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada pembaca tulisan ini, dan ampunilah kesalahan kami.
Kepada Allah aku hadiahkan pujian dan sanjunganku, serta ucapan yang diridai selama dunia masih ada.
1-2
ALLĀH AL-ILĀH ﷻ
Kita awali dengan nama paling agung dan paling sejuk yang pernah diketahui umat manusia; nama paling bagus dan huruf-huruf paling indah, dilantunkan oleh lisan ... membuat roh menjadi tenang... dekat dari jiwa ... dicintai oleh hati ....
Nama itu ialah: Allāh ﷻ "Apakah engkau mengetahui ada yang sama dengan-Nya?" [QS. Maryam: 65]
Nama "Allāh" adalah nama yang menjadi kekhususan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dari semua mahluk. Ia adalah nama yang khusus untuk-Nya saja, tidak terkait dengan siapa pun selain-Nya, tidak disematkan kepada siapa pun kecuali Dia, tidak seorang pun di antara makhluk-Nya yang mengklaimnya. Allah ﷻ telah mencengkeram hati dan lisan orang-orang jahil dari menamai diri mereka dengan nama tersebut.
Dialah Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-; yang memiliki kemuliaan, keindahan, keagungan, kewibawaan, dan keperkasaan.
Seindah apa pun kami goreskan berbagai huruf tentang keagungan-Mu, disenandungkan oleh jiwa.
Sungguh Engkau lebih agung. Makna yang dilukiskan pun berserakan (tidak sanggup) menggambarkan kemuliaan-Mu, wahai Tuhan kami.
Nama "Allāh" tidaklah disebut pada sesuatu yang sedikit melainkan akan dijadikannya banyak, tidak pula pada suatu ketakutan kecuali akan dilenyapkannya, atau pada suatu kesusahan kecuali akan diangkatnya, atau pada suatu kerisauan maupun kesedihan kecuali akan dihilangkannya, atau pada suatu kesempitan kecuali akan dilapangkannya. Tidak pula bergantung padanya orang yang lemah kecuali akan menjadikannya kuat, atau orang yang hina kecuali akan dimuliakannya, atau orang yang fakir kecuali akan dicukupkannya, dan orang yang dikalahkan kecuali akan dimenangkannya.
Itulah nama yang dengannya kesusahan sirna, keberkahan turun, doa dikabulkan, kebaikan diperoleh, keburukan diangkat, dan kesalahan dihilangkan. Tidak ada yang lebih agung daripada keagungan "Allāh"!
Nama "Allāh" berasal dari kata "al-Ilāh", yang memiliki arti: sembahan. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sungguh, Almasih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu mengatakan, '(Tuhan itu) tiga,' berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah sembahan Yang Maha Esa, Mahasuci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan cukuplah Allah sebagai pelindung." [QS. An-Nisā`: 171]
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Allāh ialah yang berhak terhadap peribadatan seluruh makhluk ciptaan-Nya."
Dialah Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- yang dicintai dan diagungkan; yang dirindukan oleh jiwa. Jiwa merasa nyaman dengan menyebut-Nya dan dekat kepada-Nya serta merindukan-Nya. "Di antara sebagian manusia ada yang menjadikan tuhan-tuhan tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman maka lebih besar cintanya kepada Allah." [QS. Al-Baqarah: 165]
Dialah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- tempat meminta pertolongan pada setiap musibah dan kesulitan: "Segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan." [QS. An-Naḥl: 53]
Dialah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang hakikat-Nya tak akan bisa dipahami oleh akal, tak akan diketahui oleh pikiran, dan keagungan-Nya tak akan bisa digapai oleh prasangka, ilmu seluruh makhluk tidak mampu meliputi-Nya: "Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." [QS. Ṭāhā: 110]
Dialah Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- yang dijadikan sebagai sembahan oleh hati dengan penuh cinta, ketundukan, rasa takut dan harap, pengagungan, dan ketaatan.
Dialah sembahan yang sebenarnya, sedangkan semua yang disembah selain-Nya ialah batil, dari Arasy-Nya hingga dasar bumi-Nya.
Dialah Allah ﷻ yang mengumpulkan semua sifat-sifat ketuhanan, yaitu sifat-sifat kesempurnaan, kemuliaan, keindahan, dan keagungan disertai dengan menafikan sifat-sifat kebalikannya dari-Nya.
Hati Menuhankan-Nya dan Jiwa Merindukan-Nya
Oleh karena itu, ketika seorang hamba telah mengetahui makna nama "Allāh", hatinya akan terpaut dengan Tuhannya. Sebab itu, dirinya akan tersibukkan oleh-Nya dengan merasakan cinta, rindu, dan nikmat, tidak ada sesuatu yang lebih indah dan lebih baik darinya. Itu adalah perkara paling agung yang menjadi ibadah para ahli ibadah: "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya." [QS. Al-Mā`idah: 54] Jernihnya keadaan jiwa mereka tergantung pada jernihnya pengetahuan tentang nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -raḥimahullāh- berkata, "Sesungguhnya di dunia ini terdapat surga, siapa yang belum memasukinya tidak akan memasuki surga akhirat."
Sebagian orang bijak berkata, "Sungguh, kadang hati benar-benar mengalami suatu perasaan yang bisa saya katakan: seandainya penghuni surga ada pada keadaan seperti itu, sungguh mereka berada dalam kehidupan yang baik!"
Ibnu 'Uyainah berkata, "Tidaklah Allah memberikan suatu nikmat kepada hamba yang lebih utama daripada mereka dipahamkan makna Lā ilāha illallāh. Sungguh, kalimat Lā ilāha illallāh bagi mereka di akhirat seperti air di dunia."
Orang yang beriman mengetahui bahwa kecintaan hamba ini bukan berasal dari upaya dan kuasa dirinya. Tetapi, Allahlah yang mencintai hamba-Nya lalu merasukkan cinta itu ke dalam hatinya, kemudian ketika hamba itu mencintai-Nya dengan taufik-Nya maka Allah mengganjarnya dengan cinta lain. Ini merupakan kebaikan Allah yang sempurna karena sebab itu berasal dari Allah dan dari Allah pula hasilnya.
Nama yang Paling Agung
Al-Qurṭubiy menyebutkan bahwa sebagian ulama berpendapat nama "Allāh" adalah nama yang paling agung; bila dimintai dengan menyebutnya, Dia akan kabulkan dan bila dimohon dengan menyebutnya, Dia akan memberi.
Nabi ﷺ pernah mendengar seseorang berdoa dengan mengucapkan: "Ya Allah! Aku meminta kepada-Mu dengan kesaksianku bahwa Engkaulah Allāh yang tiada sembahan yang benar kecuali Engkau, Yang Maha Esa, tempat meminta segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, yang tidak ada yang setara dengan-Nya." Lantas Rasulullah ﷺ bersabda, "Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya! Sungguh, ia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung; yang bila dimintai dengannya, Allah akan mengabulkan dan bila dimohon dengannya, Allah akan memberi." [Hadis sahih. HR. Aṣḥāb as-Sunan dan Ahmad dalam Musnad-nya]
Itulah satu-satunya nama yang disebutkan pada semua hadis yang disampaikan oleh Rasul ﷺ bahwa di dalamnya terdapat nama Allah yang paling agung.
Nama ini juga disebutkan dalam semua zikir yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ. Sebab itu, tahlīl, takbīr, taḥmīd, tasbīḥ, ḥauqalah, ḥasbalah, istirjā', basmalah, dan berbagai zikir lainnya selalu digandengkan dengan nama itu, tidak pernah lepas darinya.
Dialah pondasi semua al-Asmā` al-Ḥusnā, sehingga ia tidak pernah disandangkan kepada nama lainnya. Bahkan, nama-nama Allah yang lain disematkan kepada nama yang paling agung ini. Tidak pernah dikatakan: Allāh adalah bagian dari nama ar-Raḥmān, atau bagian dari nama ar-Raḥīm. Akan tetapi dikatakan: Ar-Raḥmān atau ar-Raḥīm termasuk di antara nama Allāh: "Hanya milik Allahlah al-Asmā`ul-Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.’" (QS. Al-A’rāf: 180) [QS. Al-A'rāf: 180]
Lafal seruan yang paling sering digunakan untuk berdoa kepada Allah ﷻ adalah "Allāhumma" (artinya: ya Allah). Rasulullah ﷺ seringkali berdoa kepada Tuhannya dengan mengatakan: Allāhumma!
Al-Ḥasan al-Baṣriy -raḥimahullāh- berkata, "Allāhumma adalah muara doa. Ketika orang yang berdoa mengucapkan: Allāhumma innī as`aluka (ya Allah, aku meminta kepada-Mu), seolah-olah ia mengatakan: aku berdoa kepada Allah yang memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang luhur dengan perantaraan nama-nama dan sifat-sifat-Nya itu."
Dengan nama ini, semua urusan diawali dalam rangka mengharapkan keberkahan dan kebaikan.
Ia juga adalah nama pertama di ayat pertama dalam Al-Qur`ān: "Bismillāhirraḥmānirraḥīm", atau: "Al-Ḥamdu lillāhi Rabbil 'Ālamīn". [QS. Al-Fātiḥah: 1]. Nama ini juga adalah yang paling terakhir disebutkan di antara nama-nama Allah dalam Surah An-Nās: "Ilāhin-nās". [QS. An-Nās: 3]
Inilah nama satu-satunya yang terdapat dalam kalimat syahadat yang mengalihkan seseorang dari kekafiran kepada Islam: "Asyhadu allā ilāha illallāh", dan syahadat tidak akan sah tanpa nama ini.
Di antara kemuliaan nama agung ini, yaitu Allah akan mengangkatnya dari muka bumi di akhir zaman ketika ruh orang-orang beriman dicabut. Rasulullah ﷺ bersabda, "Kiamat tidak akan terjadi pada orang yang mengucapkan: Allāh, Allāh." [HR. Muslim]
Ia juga merupakan nama Allah yang paling banyak disebutkan dalam Al-Qur`ān al-Karīm. Di dalamnya disebutkan lebih dari 2200 kali. Sebagian ulama memberikan keterangan tentang firman Allah-Ta'ālā-: "Katakanlah (Muhammad), 'Serulah Allāh atau serulah Ar-Raḥmān.'" [QS. Al-Isrā`: 110] Mereka menjelaskan bahwa dua nama ini disebutkan secara khusus karena kemuliaan keduanya, dan penyebutan nama "Allāh" lebih awal menunjukkan urutan kemuliaannya di atas nama "Ar-Raḥmān".
Telah diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya di antara nama kalian yang paling dicintai oleh Allah ﷻ ialah nama Abdullāh dan Abdurraḥmān." [HR. Muslim]
Hendaklah Kamu Bersama Allah, Niscaya Allah Akan Membersamaimu!
Apabila seorang hamba tidak menghadap kepada Allah dengan suka rela dan dengan pilihannya, maka ia akan menghadap kepada-Nya dengan cambuk paksaan.
Berdirilah dengan menghinakan diri dan panggillah, "Ya Allah"; sungguh Zat Yang Mahamulia akan mengabulkan siapapun yang memanggil-Nya
Ketika engkau diuji dengan keterasingan ataupun kesusahan, maka panggillah Allah dan katakan: Ya Allah.
Ketika kegundahan menimpa, kesedihan menyelimuti, kesusahan memuncak, dan keadaan semakin berat, sedangkan jalan semakin sempit dan tiada lagi jalan keluar, orang akan memanggil: Ya Allah!
Ketika penyakit orang yang sakit semakin keras dan dokter pun tidak mampu, ia akan memanggil: Ya Allah! Ketika kapal terombang ambing di tengah lautan serta dipermainkan oleh angin, orang akan memanggil: Ya Allah! Ketika bumi kekeringan, tumbuhan mati, dan binatang kekeringan air susu, orang akan memanggil: Ya Allah!
Dialah Allah tempat berlindung ketika susah, tempat bernaung ketika terasing, dan sebagai penolong ketika tak ada para penolong.
Manusia paling tidak mampu untuk menimpakan keburukan yang tidak diperkenankan oleh Allah, pun tidak mempu mengalirkan kebaikan yang tidak diperkenankan oleh Allah. Sebab itu, gantungkanlah hati Anda kepada Allah!
Semua ikatan pasti putus kecuali ikatan-Nya, dan semua pintu pasti tertutup kecuali pintu-Nya. "Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan?" [QS. An-Naml: 62]
An-Nasafiy -raḥimahullāh- berkata, "Al-Wāsiṭiy berkata: siapa yang mencukupkan diri dengan Allah, ia tidak akan kekurangan. Siapa yang memuliakan diri dengan Allah, ia tidak akan hina. Al-Ḥusain berkata: sesuai tingkat ketergantungan hamba kepada Allah, setara dengan itu ia akan merasa cukup dengan Allah."
Wahai orang yang sedang bersedih! Kesedihan pasti berlalu, bergembiralah dengan kebahagiaan karena yang akan menghilangkan kesedihan itu ialah Allah. Putus asa kadang membunuh tuannya, maka jangan pernah berputus asa karena yang memberikan jaminan ialah Allah. Allah pasti menciptakan kemudahan setelah kesulitan, maka jangan cemas karena yang membagi kesulitan dan kemudahan adalah Allah.
Bila engkau diuji, yakinlah kepada Allah dan ridalah dengan ujian itu. Sungguh, yang akan mengangkat ujian itu adalah Allah. Demi Allah! Engkau tidak memiliki siapa-siapa selain Allah, maka cukuplah Allah bagimu, sebab di semua keadaan engkau memiliki Allah.
Lā ilāha illallāh! Kami belum beribadah kepada-Mu dengan sebenarnya!
Ya Allah! Kami memohon surga kepada-Mu serta ucapan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Sebaliknya, kami berlindung kepada-Mu dari neraka serta ucapan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
3
AR-RABB ﷻ
Mengetuk Pintu Allah
Ya Rabbī! Kami meminta kepada-Mu dengan kagungan-Mu dan kehinaan kami, dengan kekuatan-Mu dan kelemahan kami, dengan ketidakbutuhan-Mu pada kami dan kebergantungan kami kepada-Mu, ubun-ubun kami yang berdusta dan bersalah di hadapan-Mu, hamba-Mu selain kami banyak, sedangkan kami tidak memiliki tuhan selain-Mu, tidak ada tempat meminta dan berlindung dari siksa-Mu kecuali kepada-Mu.
Kami meminta kepada-Mu seperti orang yang miskin meminta-minta. Kami menghinakan diri kepada-Mu seperti orang yang rendah nan hina merendahkan diri. Kami berdoa kepada-Mu seperti doa orang yang sedang takut dan sedang tertimpa keburukan.
Kami memohon pada-Mu seperti permohonan orang yang tunduk pada-Mu, yang terpaksa menghadap pada-Mu, sembari matanya menangis dan jiwanya hina untuk-Mu, agar Engkau memberikan kami dan seluruh umat Islam ampunan dan memasukkan kami ke dalam rahmat-Mu, wahai Tuhan yang paling pengasih di antara semua yang pengasih!
Tidaklah seorang hamba meminta tolong kecuali kepada Tuhannya.
Siapakah penolong bagi hamba di kala kesulitan dan kesusahan?
Siapakah yang memiliki dunia ini dan siapa juga yang memiliki penghuninya?
Siapakah yang mengangkat ujian, yang jauh maupun dekat?
Juga siapakah yang mengangkat kesusahan dikala ia turun menimpa?!
Semua tidak lain kecuali bagian dari perbuatan-Mu, ya Rabbī?!
Dengan senang hati, pada bahasan ini kita akan membahas salah satu di antara nama-nama Allah yang indah, yaitu: Ar-Rabb.
Allah ﷻ berfirman, "Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat." [QS. Ar-Raḥmān: 17] Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman, "(Kepada mereka dikatakan), 'Salām', sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." [QS. Yāsīn: 58]
Rabb (Tuhan) kita, Dialah yang menciptakan, yang memiliki, yang mengatur, dan yang mengurus seluruh makhluk. Dialah Rabb semua tuan dan sembahan semua hamba. Dia yang menguasai rakyat jelata, para raja, dan semua hamba. Dialah yang mengurus kemaslahatan makhluk-makhluk-Nya. Dialah yang menolong mereka dan yang mengurus urusan mereka, dari kalangan manusia dan jin. Dialah yang mengurus urusan dunia dan akhirat.
Rububiyah (sisi ketuhanan) Allah bagi makhluk-Nya ada dua macam:
1- Rububiyah yang bersifat umum. Ini mencakup semua makhluk, yang baik maupun yang jahat, yang beriman dan yang kafir, bahkan benda mati.
Yaitu Allah mengurus mereka dalam bentuk menciptakan, memberi rezeki, mengatur, dan memberi nikmat.
2- Rububiyah yang bersifat khusus. Ini berupa pengurusan khusus oleh Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- bagi wali-wali dan hamba pilihan-Nya. Allah memberikan mereka taufik kepada iman, meluruskan jiwa, ruh, dan akhlak mereka, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.
Itulah tarbiah berupa bimbingan kepada setiap kebaikan dan penjagaan dari semua keburukan.
Untuk-Mu Seluruh Pujian
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā - memuji diri-Nya sebagai Tuhan seluruh alam: “Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan seluruh alam." [QS. Al-Fātiḥah: 2]
Allah memuji diri-Nya sebagai Tuhan Arasy; Dia berfirman, "Mahasuci Tuhan langit dan bumi, Tuhan Arasy, dari sifat yang mereka katakan." [QS. Az-Zukhruf: 82] "Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Tuhan Arasy yang agung.” [QS. An-Naml: 26]
Allah memuji diri-Nya sebagai Tuhan langit dan bumi. Dia berfirman, "Mahasuci Tuhan langit dan bumi, Tuhan Arasy, dari sifat yang mereka katakan." [QS. Az-Zukhruf: 82]
Oleh karena itu, semua makhluk memuji Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "... dan dikatakan, 'Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan seluruh alam.'" [QS. Az-Zumar: 75] Dialah yang terpuji di dunia dan akhirat: "Doa mereka di dalamnya ialah 'Subḥānakallāhumma' (Mahasuci Engkau, ya Allah), dan salam penghormatan mereka ialah, 'Salām' (salam sejahtera). Sedangkan penutup doa mereka ialah, 'Alḥamdu lillāhi Rabbil-'ālamīn' (segala puji hanya bagi Allah, Tuhan seluruh alam)." [QS. Yūnus: 10]
Kunci Perbendaharaan
Manakala para nabi dan orang-orang saleh mengetahui bahwa nama ini adalah kunci doa, mereka segera merendahkan diri kepada Allah dengan menyebut nama itu di dalam doa-doa mereka.
Nuh -'alaihissalām- berdoa dengan nama itu, "Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu-bapakku, siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan..” [QS. Nūh: 28]
Ibrahim dan Ismail -'alaihimassalām- juga berdoa dengannya, "Ya Tuhan kami! Terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 127]
Nabi pilihan, Muhammad ﷻ pun berdoa dengannya, "Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku! Aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada-Mu, ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku.'” [QS. Al-Mu`minūn: 97-98]
Wahai Tuhanku!
Apabila Nabi ﷺ ditimpa suatu urusan dan kesusahan, beliau berdoa, "Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Mahaagung lagi Mahalembut. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Tuhan Arasy yang agung. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Tuhan langit, Tuhan bumi, dan Tuhan Arasy yang mulia." [HR. Bukhari dan Muslim]
Siapa yang tidak berdoa dengan nama-nama Ar-Rabb secara sukarela, pasti akan kembali kepadanya ketika terpaksa. Lihatlah orang yang sakit di atas tempat tidurnya, ketika berjuang melawan sakit, ia memanggil: Ya Rabbī, ya Rabbī! Lalu keafiatan dan kesembuhan pun turun dari sisi Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-.
Orang fakir yang tidak memiliki apa-apa mesti berdoa memanggil nama-Nya, seraya menarik napas panjang karena sengsara dan berteriak disebabkan kemiskinan: Ya Rabbī, ya Rabbī! Lalu Allah pun memenuhi kebutuhannya, dan hanay Dia yang mengangkat kesempitan tersebut dari sisi orang tersebut.
Orang yang kelaparan menyerunya sembari meringkuk karena kelaparan dan melilit karena kesakitan: Ya Rabbī, ya Rabbī! Lalu rezeki pun datang melimpah dan pemberian Allah mengalir kepadanya.
Orang yang terzalimi sembari mengusap air mata kesedihan dan menyembunyikan rintihan kepedihan berlindung kepada-Nya dengan mengucapkan: Ya Rabbī, ya Rabbī! Lalu datanglah pertolongan besar dan kesudahan yang baik dari-Nya.
Al-Ḥāfiẓ Ibnu Rajab -raḥimahullāh- berkata, "Terus berdoa kepada Allah dengan mengulang-ulang menyebut rububiyah-Nya merupakan sebab terbesar meraih pengabulan doa."
Ya Tuhanku, hilangkan kesusahan hamba-Mu dan berikanlah ia ketenangan dari apa yang ia hadapi dan yang menimpanya.
Tetapi kita selalu melupakan Ar-Rabb!!
Betapa agung kedudukan-Nya, betapa besar kekuasaan-Nya, betapa tinggi tempat-Nya, betapa dekat Dia dari makhluk-Nya, dan betapa lembut Dia kepada hamba-Nya.
Rububiyah (ketuhanan) Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- adalah rububiyah keagungan dan kemuliaan: "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi." [QS. Al-A'lā: 1]
Rububiyah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah keberkahan, kebaikan, dan anugerah: "Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam." [QS. Al-A'rāf: 54]
Rububiyah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah penutupan dosa dan pengampunan: "(Negerimu adalah) negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun." [QS. Saba`: 15]
Rububiyah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah keagungan, kekuatan, kemenangan, dan kekukuhan: "(Yaitu) Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Mahaperkasa, Maha Pengampun." [QS. Ṣād: 66]
Rububiyah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah rahmat: "Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pengasih." [QS. An-Naba`: 37]
Rububiyah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah kemuliaan dan kedermawanan: "Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?" [QS. Al-Infiṭār: 6]
Lā ilāha illallāh! Wahai Rabb kami! Kami belum beribadah kepada-Mu dengan ibadah yang sebenarnya!
Siapa yang mengetahui bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Rabb (Tuhan) untuk semua yang diklaim sebagai tuhan, maka ia tidak akan mencari selain Allah sebagai Tuhannya, tetapi ia akan rida dengan rububiyah Allah. Siapa yang rida dengan-Nya, ia akan menikmati manisnya iman. Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ secara sahih bahwa beliau bersabda, "Pasti akan mengecap kenikmatan iman siapa yang rida Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya." [HR. Muslim]
"Katakanlah, 'Ya Rabbi, berilah ampunan dan (berilah) rahmat, Engkaulah pemberi rahmat yang terbaik.'" [QS. Al-Mu`minūn: 118]
Ibnu Rajab -raḥimahullāh- berkata, "Terus berdoa kepada Allah dengan mengulang-ulang menyebut rububiyah-Nya (ya Rabb) merupakan sebab terbesar meraih pengabulan doa."
Rabb kami! Hanya rahmat-Mu yang kami harapkan, maka jangan serahkan kami kepada diri kami sendiri walau sekejap mata dan masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu.
Ya Rabb kami! Berilah kami ampunan dan rahmat, Engkaulah pemberi rahmat yang terbaik."
4-5
AL-AḤAD AL-WĀḤID ﷻ
Dalam Ṣaḥīḥ Bukhari diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Ibrahim akan bertemu ayahnya, Āzar, kelak hari Kiamat sedangkan muka Āzar dipenuhi debu. Ibrahim berkata kepadanya, 'Bukankah telah aku katakan kepadamu, 'Janganlah mendurhakaiku!?' Ayahnya berkata, 'Hari ini, aku tidak akan mendurhakaimu.' Ibrahim berkata, 'Ya Tuhanku! Engkau telah menjanjikanku bahwa Engkau tidak akan menghinakanku pada hari kebangkitan manusia; lalu adakah kehinaan yang lebih besar daripada ayahku yang paling jauh?!' Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Aku telah mengharamkan surga bagi orang kafir.' Kemudian dikatakan, 'Wahai Ibrahim! Apakah yang di bawah kakimu?' Lantas dia menoleh, ternyata ada aż-żīkh (sejenis anjing hutan) berlumuran darah. Lalu kaki-kakinya ditarik kemudian segera dilemparkan ke neraka.'"
Aż-Żīkh: anjing hutan jantan yang berbulu banyak.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- Yang Maha Penyayang tidak menerima syafaat Ibrahim -'alaihissalām- pada ayahnya lantaran ayahnya mati dalam keadaan musyrik, sedangkan Allah telah mengharamkan surga bagi orang kafir dan musyrik. Tetapi, karena Allah telah menjanjikan pada Ibrahim tidak akan menghinakannya pada hari Kiamat, maka Allah mengubah ayahnya pada hari itu menjadi anjing hutan, lalu dilemparkan ke neraka sehingga tidak ada yang tahu bahwa itu ayah Ibrahim. Sebab itu, ia tidak dipermalukan dengannya.
Syafaat Sang Kekasih Allah, Ibrahim, tidak diterima pada seorang musyrik, lalu bagaimana lagi dengan selain beliau?!
Allah -Subhānahu wa Ta'āla- berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik) dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” [QS. An-Nisā`: 48]
Oleh karena itu, kewajiban yang paling besar bagi seorang hamba ialah menauhidkan Allah dalam ibadah.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah memuji diri-Nya bahwa Dia al-Aḥad dan al-Wāḥid (Maha Esa, Mahatunggal): "Katakanlah, 'Dialah Allah Yang Maha Esa.'" [QS. Al-Ikhlās: 1] "Tidaklah mereka diperintahkan melainkan untuk beribadah kepada satu sembahan, tiada sembahan yang hak selain Dia." [QS. At-Taubah: 31]
Kita akan berhenti sejenak bersama dua nama ini, semoga Allah menganugerahi kita perealisasian tauhid kepada-Nya serta iman yang baik tentang keesaan dan ketunggalan-Nya.
Tuhan kita ﷻ esa dalam sifat-sifat kemuliaan, keagungan, kebesaran, dan keindahan.
Dia esa pada zat-Nya, tidak ada yang serupa bagi-Nya.
Esa dalam sifat-sifat-Nya, tidak ada yang semisal dengan-Nya.
Esa dalam perbuatan-Nya, tidak ada sekutu dan penolong untuk-Nya.
Esa dalam uluhiyah-Nya, Dia tidak memiliki tandingan dalam cinta dan pengagungan, maupun penghinaan dan perendahan diri.
Dia Maha Esa yang sifat-sifat-Nya sangatlah agung, sehingga Dia tunggal dalam semua kesempurnaan. Semua makhluk tidak mungkin mampu untuk menguasai utuh sebagian sifat-Nya, apalagi menyamai-Nya di sebagian sifat-sifat itu.
Fitrah...
Tauhid (pengesaan Allah) adalah inti dakwah para rasul dan pilar risalah mereka: "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya).'" [QS. Al-Anbiyā`: 108]
Keesaan atau ketauhidan adalah fitrah yang Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berikan kepada manusia, inti perjanjian yang Allah ambil dari mereka, asas dakwah yang dibawa oleh rasul-rasul utusan-Nya, dan pesan tertulis kitab-kitab yang diturunkan-Nya.
Demi ketauhidan ini, surga dan neraka diciptakan. Bahkan, dengan sebab itu, sirat dibentangkan, lembaran amal berterbangan, mizan amalan diletakkan, pedang agama dihunus, panji perang diangkat, ruh para syuhada melayang, kematian berasa nikmat, dan jiwa para mujahidin dijadikan mahar bagi ajal. "Katakanlah (Muhammad), 'Aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, tetaplah kamu (beribadah) kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, kebinasaan bagi orang-orang yang menyekutukan-Nya.'" [QS. Fuṣṣilat: 6]
Dalam rangka menetapkan keesaan Allah serta kewajiban mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama yang lurus dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang benar." [QS. Al-Bayyinah: 5]
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- juga mewajibkan manusia untuk tunduk pada keesaan dan keagungan-Nya: "Maka tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, berserah dirilah kamu kepada-Nya. Sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)." [QS. Al-Ḥajj: 34]
Dalil Nyata
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah membatalkan akidah orang-orang musyrik. Allah berfirman, "Allah berfirman, 'Janganlah kamu menyembah dua tuhan; hanyalah Dia Tuhan Yang Maha Esa. Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut." [QS. An-Naḥl: 51] "Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu, ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa?" [QS. Yūsuf: 39]
Allah juga telah membantah orang yang mengatakan bahwa Allah itu satu dari tuhan yang tiga: "Janganlah kamu mengatakan, '(Tuhan itu) tiga.' Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa." [QS. An-Nisā`: 171]
Allah menafikan adanya kesamaan, tandingan, dan kesetaraan dari semua sisi. Dialah -Tabāraka wa Ta'ālā- Yang Maha Esa, yang tidak memiliki kesamaan dan tandingan: "Apakah engkau mengetahui ada yang sama dengan-Nya?" (QS. Maryam: 65]
Allah melarang kita untuk menyerupakan-Nya dengan sebagian makhluk-Nya. Hanya saja, Dia mengabarkan kepada kita tentang diri-Nya karena Dia sendiri yang lebih tahu tentang diri-Nya.
Semua yang terlintas di pikiran manusia tentang Allah, Allah berbeda dari itu, karena Allah tidak memiliki tandingan, kesamaan, maupun keserupaan: "Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11] Tidak satu pun di antara makhluk-Nya yang serupa dengan-Nya. Hanya bagi-Nya nama-nama yang paling indah dan sifat-sifat yang paling luhur. Hanya bagi-Nya kesempurnaan, keindahan, kemuliaan, dan keagungan.
Orang-orang musyrik pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Terangkan kepada kami sifat-sifat Tuhanmu! Apakah dia terbuat dari emas? Ataukah dari tembaga atau kuningan?" Sebagian mereka berkata, "Terangkan kepada kami nasab Tuhanmu, wahai Muhammad!"
Orang-orang Yahudi berkata, "Kami menyembah Uzair putra Allah." Orang-orang Nasrani berkata, "Kami menyembah Almasih putra Allah." Orang-orang Majusi berkata, "Kami menyembah matahari dan bulan." Sedangkan orang-orang musyrik berkata, "Kami menyembah berhala."
Maka Allah ﷻ menjawab klaim mereka dalam firman-Nya, "Katakanlah, 'Dialah Allah Yang Maha Esa.'" [QS. Al-Ikhlās: 1]
Mahasuci Allah dari Apa yang Mereka Katakan!
Mereka sangat lancang kepada Allah ﷻ dan mendatangkan kejahatan yang sangat jelek. Hampir saja seluruh langit dengan segala kemegahannya runtuh, bumi terbelah, dan gunung-gunung hancur tumbang lantaran mereka menisbahkan anak kepada Allah. Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan!.
Semuanya di bawah kepemilikan dan kuasa Allah. Semuanya akan datang kepada-Nya kelak hari Kiamat seorang diri: "Sungguh, kamu telah membawa sesuatu yang mungkar. Hampir saja langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu). Yaitu mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Padahal, tidak mungkin bagi (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada (Allah) Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba. Dia (Allah) benar-benar telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat." [QS. Maryam: 89-95]
Dalam Ṣaḥīḥ Bukhari, diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah berfirman, 'Anak Adam mendustakan-Ku dan tidak sepatutnya ia mendustakan-Ku! Anak Adam mencela-Ku dan tidak sepatutnya ia mencela-Ku!
Adapun pendustaannya kepada-Ku ialah perkataannya: Allah tidak akan menghidupkanku kembali sebagaimana Dia menciptakanku pertama kali. Padahal, menciptakan pertama kali tidaklah jauh lebih mudah bagi-Ku daripada menghidupkannya kembali.
Adapun celaannya kepada-Ku ialah perkataannya: Allah memiliki anak. Padahal, Aku adalah Allah Yang Maha Esa, dan bergantung kepada-Ku segala sesuatu. Aku tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Ku.'"
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dia tidak memiliki sekutu dan tidak pula memiliki tandingan dalam zat-Nya, sifat-Nya, ataupun perbuatan-Nya.
Alam Semesta Menjadi Saksi Keesaan-Nya
Semua yang ada di alam semesta berupa penciptaan, keteraturan, keseimbangan, dan keselarasan menunjukkan bahwa penciptanya serta yang mengaturnya satu. Seandainya di balik alam ini terdapat lebih dari satu pengurus dan pengatur, sistemnya akan terganggu dan aturannya tidak seimbang: "Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Mahasuci Allah yang memiliki Arasy dari apa yang mereka sifatkan." [QS. Al-Anbiyā`: 22]
Perhatikanlah tanaman bumi (bunga narsis) dan lihatlah padanya jejak kekuasaan Tuhan Yang Maharaja. (Dedaunan bunganya) laksana kelopak dari perak yang memandang dengan pupil dari emas yang meleleh,
(terpampang) di atas tangkai (hijau) laksana zamrud; sebagai saksi bahwa Allah tidak memiliki sekutu.
Allah Sama Sekali Tidak Membutuhkan Sekutu
Allah ﷻ adalah satu-satunya yang berhak diibadahi. Seorang hamba tidak boleh berdoa kepada selain Allah serta tidak boleh mengalihkan sebagian ibadah kepada selain-Nya; baik berupa salat, doa, sembelihan, nazar, tawakal, harap, takut, khusyuk, ataupun khuduk: "Katakanlah, 'Sesungguhnya salatku, ibadahku (sembelihanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." [QS. Al-An'ām: 162-163]
Sebab itu, persoalan yang paling urgen bagi manusia ialah mengesakan Allah dalam ibadah: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." [QS. Aż-Żāriyāt: 56] "Tidaklah mereka diperintahkan melainkan untuk beribadah kepada satu sembahan, tiada sembahan yang hak selain Dia." [QS. At-Taubah: 31]
Tauhid adalah perkara yang paling lembut, paling bersih, dan paling jernih. Sebab itu, sesuatu yang paling kecil sekalipun akan merusaknya, mengotorinya, dan meninggalkan bekas padanya.
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, 'Siapa yang mengerjakan amalan yang di dalamnya dia menyekutukan-Ku dengan yang lain, maka Aku tinggalkan dia bersama perbuatan syiriknya itu.'" [HR. Muslim]
Juga sabda beliau yang sahih: "Bila Allah ﷻ mengumpulkan manusia pertama hingga terakhir di hari yang tidak diragukan, seorang penyeru akan berteriak, 'Siapa yang melakukan kesyirikan dalam suatu amalan yang ia lakukan untuk Allah dengan seseorang, hendaklah ia mencari pahalanya pada selain Allah ﷻ karena Allah adalah Tuhan yang paling tidak butuh disekutukan.'" [Hadis hasan; HR. Ahmad dalam al-Musnad]
Satu Peringatan
Di dalam hadis sahih terdapat banyak hadis yang mendorong kita untuk tauhid serta menerangkan keutamaannya, di antaranya:
Hadis riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mengucapkan: 'Lā ilāha illallāh waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku walahul-ḥamdu, wahuwa 'alā kulli syai`in qadīr (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya seluruh kerajaan, milik-Nya seluruh pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu)' dalam sehari seratus kali, hal itu baginya setara memerdekakan 10 budak, dituliskan baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 keburukan, dan menjadi tamengnya dari setan hari itu hingga sore. Tidak ada seorang pun yang bisa meraih hal yang lebih utama dari apa yang ia raih kecuali orang yang mengamalkannya lebih banyak dari jumlah itu." [HR. Bukhari dan Muslim]
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmizi dan Abu Daud dari Buraidah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mendengar seseorang berdoa, "Allāhumma innī as`aluka bi annaka antallāh, lā ilāha illā anta, al-aḥaduṣ-ṣamad, al-lażī lam yalid wa lam yūlad wa lam yakun lahū kufuwan aḥad (Ya Allah! Aku meminta kepada-Mu dengan kesaksianku bahwa Engkaulah Allah yang tiada sembahan yang benar kecuali Engkau, Yang Maha Esa, tempat meminta segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya)."
Maka beliau ﷺ bersabda, "Sungguh, engkau telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung; bila Allah dimintai dengannya, Dia pasti mengabulkan dan bila dimohon dengannya, Allah akan memberi." [Hadis sahih]
Rasulullah ﷺ juga pernah masuk masjid dan mendengar seseorang berdoa, "Allāhumma innī as`aluka yā Allāh, al-aḥaduṣ-ṣamad, al-lażī lam yalid wa lam yūlad, wa lam yakun lahū kufuwan aḥad, an tagfira lī żunūbī, innaka antal-gafūrur-raḥīm (Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu. Ya Allah Yang Maha Esa, tempat meminta segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak ada satu pun yang setara dengan-Mu, agar Engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang)."
Maka beliau ﷺ bersabda, "Dia telah diberikan ampunan. Dia telah diberikan ampunan. Dia telah diberikan ampunan." Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. [Hadis sahih; HR. Ahmad dalam al-Musnad]
Al-Ḥāfiẓ Ibnu Rajab -raḥimahullāh- berkata, "Merealisasikan tauhid akan melahirkan pembebasan hamba (dari penghambaan kepada selain Allah), sedangkan pembebasan hamba melahirkan pembebasan dari neraka."
Beliau juga berkata, "Di antara sebab ampunan ialah tauhid. Bahkan, ia merupakan sebab ampunan yang paling besar. Siapa yang kehilangan tauhid, maka ia telah kehilangan ampunan. Sebaliknya, siapa yang merealisasikannya, dia telah mendatangkan sebab ampunan yang paling besar."
Imam Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Kalimat tauhid adalah hal paling pertama yang mengantarkan masuk ke dalam Islam sekaligus hal paling terakhir yang mengantarkan keluar dari dunia. Hal ini sebagaimana sabda Nabi ﷺ: 'Siapa yang ucapan terakhirnya (sebelum meninggal dunia): Lā ilāha illallāh, dia akan masuk surga.' Sebab itu, tauhid adalah kewajiban paling pertama sekaligus kewajiban paling terakhir. Artinya tauhid adalah perintah pertama dan perintah terakhir."
Beliau juga berkata, "Tidak ada yang semisal dengan tauhid dalam menyingkirkan kesulitan-kesulitan dunia."
Beliau juga berkata, "Tidak akan masuk surga jiwa yang melakukan kesyirikan. Orang yang akan memasukinya hanyalah pemilik tauhid karena tauhid adalah kunci pintu surga."
Ibnul-Jauziy -raḥimahullāh- berkata, "Sufyān aṡ-Ṡauriy datang menemui Ibrahim bin Adham lalu berkata, 'Wahai Ibrahim! Berdoalah kepada Allah supaya mewafatkan kita di atas tauhid.'"
Rasulullah ﷺ pernah melihat seorang laki-laki berdoa dengan kedua jarinya, maka beliau bersabda kepadanya, "Tunggal. Tunggal!" [Hadis sahih; HR. Abu Daud] Hadis ini menunjukkan bila ia hendak memberi isyarat dalam berdoa, janganlah memberi isyarat melainkan dengan satu jari.
Ya Allah! Kami memohon pada-Mu. Wahai Yang Maha Esa ... Wahai Yang Mahatunggal ... Wahai tempat bergantung segala sesuatu! Jadikanlah kami termasuk di antara orang yang berdoa kepada-Mu lalu Engkau mengabulkan doanya. Jadikanlah kami di antara orang yang merendahkan dirinya kepada-Mu lalu Engkau merahmatinya. Jadikanlah kami termasuk orang yang memohon perlindungan kepada-Mu lalu Engkau melindunginya dari neraka. Jadikanlah ucapan kami yang paling terakhir di dunia: lā ilāha illallāh. Sesungguhnya Engkau yang paling penyayang di antara yang menyayangi.
6
AṢ-ṢAMAD ﷻ
Ketika engkau mengadukan suatu kebutuhan, datanglah kepada Aṣ-Ṣamad. Ketika kemuliaan menjauhimu sementara engkau diburu kehinaan, maka ketuklah pintu Aṣ-Ṣamad. Bila kelemahan menjalar ke tubuhmu, maka raihlah kekuatan dari Aṣ-Ṣamad.
Dialah Maha Esa yang tiada tandingan pada makna nama-nama dan sifat-Nya.
Dia kokoh, kepada-Nya seluruh manusia memohon, sekaligus sebagai penenang bagi jiwa yang gersang.
Nama Allah "aṣ-Ṣamad" tidak banyak disebutkan, tetapi memiliki kemuliaan yang khusus.
Allah ﷻ berfirman, "Katakanlah, 'Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah (Tuhan) yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia'." [QS. Al-Ikhlāṣ: 1-4]
Tuhan kitalah yang dituju oleh seluruh makhluk dari kalangan manusia dan jin, bahkan oleh seluruh alam di langit dan di bumi. Seluruh makhluk bergantung kepadanya dalam kebaikan dan memohon pertolongan kepada-Nya ketika ditimpa musibah.
Tuhan kita ialah Mahakuasa yang sempurna kekuasaan-Nya, Mahamulia yang sempurna dalam kemuliaan-Nya, Mahaagung yang sempurna keagungan-Nya, Mahalembut yang sempurna kelembutan-Nya, dan Mahakaya yang sempurna dalam kekayaan-Nya. Sifat-sifat ini tidak patut disandang kecuali oleh Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Tuhan kita ialah Tuhan yang tidak memiliki rongga (perut) sehingga tidak makan dan tidak minum. Bahkan, Dialah yang memberi makan makhluk-Nya, bukan yang diberi makan. Dia tidak butuh kepada yang lain, melainkan dibutuhkan oleh selain-Nya. Tiada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Jawaban yang Sempurna
Al-Baihaqiy meriwayatkan hadis Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- yang dinyatakan hasan oleh al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar: Bahwa orang-orang Yahudi datang menemui Rasulullah ﷺ seraya berkata, "Wahai Muhammad! Terangkan kepada kami nasab Tuhanmu yang mengutusmu?!" Maka Allah ﷻ menurunkan firman-Nya: "Katakanlah, 'Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah (Tuhan) yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia'." [QS. Al-Ikhlāṣ: 1-4]
Ini merupakan sebuah surah yang pendek, namun merangkum sifat-sifat kesempurnaan berupa sifat-sifat keagungan dan kemuliaan Allah.
Karena keagungannya, orang yang membacanya seakan membaca sepertiga Al-Qur`ān. Dalam aṣ-Ṣaḥīḥain, diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada sahabat-sahabatnya, "Apakah salah seorang kalian tidak sanggup untuk membaca sepertiga Al-Qur`ān dalam satu malam?" Para sahabat bertanya, "Bagaimana caranya membaca sepertiga Al-Qur`ān?" Beliau menjawab, " Surah 'Qul Huwallāhu Aḥad' setara sepertiga Al-Qur`ān." [Redaksi ini milik Muslim]
Sebagian ulama mengatakan, "Al-Qur`ān itu diturunkan tiga bagian. Sepertiganya hukum, sepertiga lainnya janji dan ancaman, dan sepertiga lainnya lagi nama-nama dan sifat-sifat. Sedangkan Surah Aṣ-Ṣamad merangkum satu di antara sepertiganya, yaitu nama-nama dan sifat-sifat. Oleh karena itu, pahala membacanya dijadikan setara sepertiga Al-Qur`ān."
Dalam Ṣaḥīḥ Bukhari, diriwayatkan bahwa seorang sahabat (yang menjadi imam) membacakan Surah Qul Huwallāhu Aḥad pada rekan-rekannya di semua salat mereka. Lalu mereka menyampaikan hal itu kepada Nabi ﷺ. Beliau bersabda, "Tanyakan kepadanya, lantaran apa ia melakukan hal itu?" Mereka pun bertanya kepadanya, maka ia menjawab, "Karena surah itu berisikan sifat Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga aku senang membacanya." Rasululllah ﷺ lalu bersabda, "Sampaikan kepadanya bahwa Allah ﷻ mencintainya."
Penyerahan Hati...
Cinta yang ada dalam jiwa orang-orang saleh itu, menjadikan para pecinta mengejar cinta dari Tuhan mereka.
Cinta yang ada dalam jiwa para hamba itu, tidak akan pernah sempurna kecuali dengan bersujud kepada-Nya, bertawaf di Ka'bah-Nya, berdiri di hadapan-Nya, salat malam karena-Nya, dan mengorbankan nyawa di jalan-Nya.
Jiwa para pecinta tidak tenteram kecuali dengan menyebut-Nya dan ruh para perindu tidak tenang kecuali dengan melihat-Nya.
Bila kami sakit, kami berobat dengan menyebutmu. Terkadang kami lalai dari menyebutmu, sehingga penyakit kami pun kambuh.
Mereka itu mendekat kepada Allah di kala lapang, sehingga Allah pun mengenal mereka di kala sulit. Sesuai dengan tingkat kedekatan, seperti itu pula pemuliaan dan pertolongan didapatkan.
Lihatlah Nabi Ibrahim -'alaihissalām- yang ditimpa sejumlah ujian. Dengan sebab itu, Allah -Ta'ālā- mengangkat derajatnya, hingga berhak mendapatkan kedudukan khullah (kesayangan) dari Allah. Allah ﷻ berfirman, "Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan-Nya." [QS. An-Nisā`: 125]
Lihatlah pula Ayub, imam orang-orang yang diuji dan acuan orang-orang yang sakit dan ditimpa musibah, manakala ia menghadap kepada Tuhannya sembari berkata, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” [QS. Al-Anbiyā`: 83] Maka jawaban dari Allah Aṣ-Ṣamad ialah: "Maka Kami kabulkan baginya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya." [QS. Al-Anbiyā`: 84]
Inilah Yunus -'alaihissalām- di dalam perut ikan, di tiga lapis kegelapan, ia menghadap kepada Tuhannya dengan mengucapkan, "'Tidak ada tuhan yang hak kecuali Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.' Maka Kami kabulkan baginya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman." [QS. Al-Anbiyā`: 87-88]
Seperti inilah keadaan semua nabi -'alaihimussalām- dan orang-orang yang saleh. Mereka mengenal Allah di kala lapang, maka Allah pun mengenal mereka di kala sulit.
Tidakkah Mereka Memenuhi Panggilan-Nya?!
Tuhanmu, Aṣ-Ṣamad ﷻ, membuka pintu-Nya tidak hanya bagi para wali, tetapi untuk semua makhluk.
Ini merupakan bagian dari kelembutan, kasih sayang, dan kebaikan-Nya. Orang-orang musyrik itu, tatkala dunia telah sempit bagi mereka dan mereka telah melihat kematian itu nyata, mereka datang kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- seraya memanggil: Ya Allah ... ya Allah! Ternyata keselamatan pun datang. "Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya. Tetapi, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)." [QS. Al-'Ankabūt: 65]
Mereka mengakui itu. Seluruh alam semesta ini, jika tidak kembali kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dengan sebab cinta, mereka akan kembali kepada-Nya dengan cambuk keterpaksaan.
Tenanglah!
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah mengabulkan permintaan orang kafir ketika mereka berada dalam kondisi darurat, lalu bagaimana dengan orang yang mengikrarkan keesaan bagi Allah serta mengikrarkan kerasulan bagi Nabi ﷺ?!
Bila engkau memiliki kebutuhan, datanglah kepada Allah, letakkan kefakiranmu di depan pintu-Nya, serta panggillah: Ya Ṣamad, berikan pertolongan pada apa yang menimpaku!
Jangan kalah dengan kesedihanmu, penyakitmu, ataupun hutangmu karena Tuhanmu adalah Aṣ-Ṣamad yang tidak akan menelantarkan dan meninggalkanmu ketika kamu datang kepada-Nya. Ingatlah bahwa ibadah yang paling utama adalah menunggu pertolongan. Ingatlah pula bahwa monotonnya suatu kondisi adalah mustahil lantaran dunia itu terbolak-balik, malam-malamnya penuh cobaan, dan perkara gaib (yang akan datang) tidak ada yang tahu. Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan.
Dalam Sunan Abu Daud, diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah masuk masjid dan mendengar seseorang berdoa, "Allāhumma innī as`aluka yā Allāh, al-aḥaduṣ-ṣamad, al-lażī lam yalid wa lam yūlad wa lam yakun lahū kufuwan aḥad, an tagfira lī żunūbī, innaka antal-gafūrur-raḥīm (Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu. Ya Allah Yang Maha Esa, tempat bergantung segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak ada satu pun yang setara dengan-Mu, agar Engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang)."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Dia telah diberikan ampunan. Dia telah diberikan ampunan." Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. [Hadis sahih]
Dalam riwayat lain disebutkan: "Sungguh, engkau telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang bila Allah dimintai dengannya, Dia pasti memberi dan bila dimohon dengannya, Allah akan mengabulkan." [Hadis sahih. HR. Abu Daud]
Wahai Tuhan sekalian hamba! Rahmat-Mulah yang kuharap,
rida-Mulah yang kutuju, maka kabulkanlah doaku.
Ya Ilahi! Aku memanggil nama-Mu dengan penuh tunduk.
Jika Engkau tidak mengabulkan, lalu siapa yang akan mengabulkan tangisku.
Engkaulah Yang Mahamulia, jangan tinggalkan aku terlunta.
Sungguh, aku sangat lemah akibat diriku yang teramat jauh (dari-Mu).
Ya Ilahi! Aku berharap kepada-Mu dengan penuh kerendahan
nan menghinakan diri, maka jangan abaikan harapanku.
Ya Allah ... Ya Aḥad ... Ya Ṣamad ... Kami memohon surga kepada-Mu serta ucapan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Kami juga berlindung kepada-Mu dari neraka serta ucapan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
7-8
AR-RAḤMĀN AR-RAḤĪM ﷻ
Allah -Subhānahu wa Ta'āla- berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Serulah Allāh atau serulah Ar-Raḥmān.' Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Al-Asmā` Al-Ḥusnā)." [QS. Al-Isrā`: 110]
Bila Nabi kita ﷺ ditimpa suatu kesusahan, beliau berdoa, "Ya Ḥayyu ... Ya Qayyūm! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan." [Hadis hasan. HR. Ahmad dalam Al-Musnad] Bagaimana Ar-Raḥmān tidak dimintai pertolongan, padahal Dialah tempat berlindung dalam kesulitan, tempat bersahabat dalam keterasingan, dan sebagai penolong dalam kekurangan?!
Dialah penenang bagi orang-orang yang taat, pelindung bagi orang-orang yang meminta perlindungan, dan penyelamat bagi orang-orang yang ketakutan. Sesungguhnya Dialah yang paling penyayang.
Hanya kepada-Nya tujuanku. Jika tidak, maka tidak akan ada tempat tujuan. Hanya dari-Nya semua harapku. Jika tidak, maka merugilah orang yang berharap.
"Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang." [QS. Al-Baqarah: 163]
Rahmat adalah ciri khas rububiyah (ketuhanan) dan inti uluhiyah (keilahian). Oleh karena itu, Allah ﷻ menyifati diri-Nya sebagai ar-Raḥmān ar-Raḥīm.
Kita memulai tilawah Kitabullah dengan menyebut dua nama yang agung dan dicintai oleh jiwa ini: ﷽
Dua nama mulia ini merupakan turunan dari kata "ar-Raḥmah" yang berbentuk hiperbola.
"Ar-Raḥmah" secara bahasa artinya: kelembutan dan kasih sayang.
Sebab itu, Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- memiliki rahmat yang meliputi semua makhluk: "Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." [QS. Al-A'rāf: 156] "Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia." [QS. Al-Ḥajj: 65]
Orang-orang beriman dikhususkan dengan rahmat yang lebih banyak dan lebih sempurna: "Sungguh, Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." [QS. Al-Aḥzāb: 43]
Tuhan kita ialah Ar-Raḥmān, yaitu yang memiliki sifat rahmat. Dia juga adalah ar-Raḥīm, yaitu yang merahmati hamba-hamba-Nya.
Dia lebih sayang kepada kita dari semua yang penyayang. Dia lebih menyayangi kita daripada kesayangan ayah, ibu, dan anak kita, bahkan dari diri kita sendiri.
Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya, al-Adab al-Mufrad, bahwa seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ bersama anak kecil yang dipeluk ke dadanya. Nabi ﷺ lantas bertanya, "Apakah engkau menyayanginya?" Dia menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Tetapi Allah lebih penyayang kepadamu daripada penyayangmu kepadanya dan Dia lebih penyayang dari semua yang penyayang." [Hadis sahih]
Nama "Ar-Raḥmān" hanya khusus bagi-Nya. Tidak boleh bagi siapa pun selain Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- diberi nama ataupun disifati dengannya: "Katakanlah (Muhammad), 'Serulah Allah atau serulah Ar-Raḥmān. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Al-Asmā` Al-Ḥusnā)." [QS. Al-Isrā`: 110] Ia setara dengan nama "Allah" yang tidak boleh menjadi nama bagi selain-Nya. Bahkan, sebagian ulama mengatakan bahwa Ar-Raḥmān adalah nama yang paling agung.
Adapun nama "ar-Raḥīm", maka makhluk boleh disifati dengannya; sebagaimana firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang (raḥīm) terhadap orang-orang yang beriman." [QS. At-Taubah: 128] Sebab itu, boleh dikatakan: laki-laki raḥīm (yang penyayang), dan tidak boleh dikatakan: laki-laki raḥmān (yang mahapenyayang).
Rahmat Allah terbagi dua:
Pertama: Rahmat yang bersifat umum, yaitu rahmat yang diperuntukkan pada semua makhluk. Sebab itu, semua makhluk dirahmati oleh Allah dalam bentuk diciptakan, diurus, diberi rezeki, dan diberi berbagai karunia lainnya yang tidak terhitung jumlahnya.
"Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." [QS. Al-Baqarah: 143] "Sungguh, Dia Maha Penyayang terhadap kamu." [QS. Al-Isrā`: 66]
Kedua: Rahmat yang bersifat khusus, yaitu rahmat yang menjadi kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Rahmat jenis ini tidak diberikan kecuali kepada hamba-hamba pilihan-Nya yang beriman: "Sungguh, Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." [QS. Al-Aḥzāb: 43] "Tuhan mereka memberikan mereka kabar gembira berupa rahmat, keridaan, dan surga dari-Nya." [QS. At-Taubah: 21]
Dialah Ar-Raḥmān
Dialah yang paling berhak untuk disebut, paling berhak untuk diibadahi, dan paling berhak untuk dipuji atas limpahan anugerah dan rahmat-Nya.
Kemana pun engkau menghadapkan wajahmu, engkau akan temukan keberadaan rahmat Allah di alam ini. Rahmat yang paling besar di dunia ini ialah wahyu yang diturunkan: "Kami turunkan kepadamu Kitab (Al-Qur`ān) untuk menjelaskan segala sesuatu sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang muslim." [QS. An-Naḥl: 89]
Ketika bumi tandus, tumbuhan mati, kantung susu binatang ternak mengering, dan ujian semakin keras, saat itulah berbagai rahmat-Nya turun: "Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji." [QS. Asy-Syūrā: 28]
Ketika azab melanda, laki-laki menangis, para wanita berteriak, anak-anak cemas, ketakutan merata, dan kecemasan memuncak, saat itulah berbagai rahmat Allah turun kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas: "Ketika azab Kami datang, Kami selamatkan Hud dan orang-orang beriman yang bersama dia dengan rahmat Kami." [QS. Hūd: 58] "Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami." [QS. Hūd: 94]
Tidak akan tercapai keinginan apa pun kecuali dari jalur Ar-Raḥmān. Tidak akan terwujud kebutuhan apa pun kecuali di hadapan Ar-Raḥmān. Tidak ada ruang yang memungkinkan terjadinya sesuatu kecuali dengan izin Ar-Raḥmān. Dialah satu-satunya Ar-Raḥmān yang tidak ada daya upaya dalam wujud ini kecuali dengan-Nya.
Dengan rahmat-Nya, Dia mengutus rasul-rasul-Nya kepada kita.
Dengan rahmat-Nya, Allah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada kita.
Dengan rahmat-Nya, Allah menunjuki kita jalan keluar dari kesesatan.
Dengan rahmat-Nya, Allah membimbing kita keluar dari kejahilan.
Dengan rahmat-Nya, Allah mengajari kita apa yang kita tidak ketahui.
Dengan rahmat-Nya, Allah mengatur matahari dan bulan, menciptakan siang dan malam, serta menghamparkan bumi.
Dengan rahmat-Nya, surga diciptakan dan diisi dengan penghuninya serta kehidupan mereka baik.
Di antara rahmat-Nya: Dia menciptakan 100 rahmat, setiap rahmat sepenuh ruang antara langit dan bumi, lalu Dia menurunkan satu rahmat ke bumi yang dibagi-bagi di antara semua makhluk. Dengan satu rahmat itu mereka saling menyayangi, dengannya seorang ibu menyayangi anaknya, dan dengan rahmat ini alam semesta tegak dan teratur.
Berita Gembira!
Renungilah tentang luasnya rahmat Allah: "Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhanya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." [QS. Az-Zumar: 53] Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Seandainya orang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berharap bisa masuk surga-Nya. Andaikan orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, pasti tidak akan ada seorang pun yang berputus asa dari masuk surga-Nya." [HR. Muslim]
Rahmat-rahmat ini adalah rahmat yang disertai kemuliaan, kekuatan, keperkasaan, dan ketahanan, bukan rahmat karena lemah: "Sungguh, Tuhanmu, Dialah Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang." [QS. Asy-Syu'arā`: 9]
Aku bersaksi bahwa Allah tiada tuhan selain-Nya, Mahamulia lagi Maha Penyayang, tempat menaruh harapan dan angan.
Kunci-kunci Rahmat
Dia tidak butuh kepada kita dan kepada ibadah kita. Kita tidak akan masuk surga, bahkan termasuk Nabi kita ﷺ, kecuali dengan limpahan rahmat-Nya. Dalam aṣ-Ṣaḥīḥain terdapat hadis riwayat Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada seorang pun yang dimasukkan ke dalam surga oleh amalnya." Para sahabat bertanya, "Tidakkahjuga engkau, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Tidak juga aku, kecuali jika Allah melimpahkan kepadaku suatu karunia dan rahmat."
Siapa yang mengetahui ini, hendaklah ia memperbanyak ibadah rajā` (harap), bergantung pada rahmat Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, dan mengusahakannya. Hal ini akan terealisasi dengan ketakwaan, keimanan, dan ketaatan.
Dengan itu semua, rahmat-Nya akan diraih: "Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” [QS. Al-A'rāf: 156]
Rahmat diraih dengan ketaatan kepada Allah ﷻ serta ketaatan kepada Rasulullah ﷺ, karena Allah berfirman, "Taatlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat." [QS. Āli 'Imrān: 132]
Rahmat juga diraih dengan berbuat kebaikan karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan." [QS. Al-A'rāf: 56]
Ia juga diraih dengan istigfar, karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat?” [QS. An-Naml: 46]
Juga akan diraih dengan berzikir kepada Allah ﷻ dan banyak berdoa.
Dalam Sunan Abu Daud, Rasulullah ﷺ bersabda, "Doa orang yang ditimpa kesusahan: 'Ya Allah! Hanya rahmat-Mu yang aku harapkan. Maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri sekejap mata pun. Perbaikilah urusanku seluruhnya. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.'" [Hadis hasan]
Rahmat tidak akan didapat kecuali oleh hamba-hamba Allah yang penyayang, karena Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh Allah hanya merahmati orang-orang yang penyayang di antara hamba-hamba-Nya." [HR. Bukhari dan Muslim] Lihatlah seorang wanita pezina masuk surga karena jiwa penyayangnya pada seekor anjing yang kehausan, lalu ia memberinya minum menggunakan kedua sepatunya.
Jangan Sampai Engkau Digembosi Setan!
Sebagian orang ketika diuji dengan musibah, krisis, dan kesedihan, ia menanggalkan keimanannya dan tidak ingat bahwa Allah lebih penyayang kepadanya daripada dirinya sendiri! Ia tidak mengetuk pintu ar-Raḥmān dan tidak berharap rahmat-Nya. Ia malah jatuh dalam tipuan setan dan bisa jadi sampai mengantarkannya kepada kebinasaan dirinya. Padahal Allah ﷻ berfirman, "Janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu." [QS. An-Nisā`: 29]
Jangan sama sekali engkau meyakini bahwa dosamu, seperti apa pun besarnya, lebih besar dari rahmat Allah! Setan hanya menginginkan ini. Ia hendak membesar-besarkan dosa di matamu dan mengecilkan rahmat Allah.
Rahmat Allah lebih luas daripada dosamu, bahkan dari semua dosa. Lihatlah laki-laki yang membunuh 99 orang dan menggenapkannya menjadi 100; Allah tahu ketulusan tobatnya, maka Dia pun mewujudkan tobatnya itu.
Sungguh aku, ya Allah Tuhanku, sangat yakin kepada-Mu,
aku tidak memiliki pintu masuk selain pintu-Mu.
Allah ﷻ berfirman, "(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada (Allah) Yang Maha Pengasih, bagaikan kafilah yang terhormat." [QS. Maryam: 85] Sungguh agung janji Allah ini, sungguh megah kafilah ini, dan sungguh indah perasaan yang mereka rasakan! Semoga Allah menjadikanku dan Anda sekalian termasuk di antara kafilah itu.
Ya Allah! Ketika kami belum layak menggapai rahmat-Mu, sungguh rahmat-Mu kuasa untuk menggapai kami karena rahmat-Mu meliputi segala sesuatu. Wahai Tuhan yang paling penyayang! Semoga rahmat-Mu meliputi kami di dunia dan akhirat.
9
AL-ḤAYYU ﷻ
Ketika mendung kesedihan menerjang dan untaian kegundahan saling merajut, lalu engkau tidak menemukan jalan keluar, jiwamu menjadi sempit sehingga seakan rohmu membuncah di kerongkongan, sedangkan keadaan mencekikmu dan engkau mengeluarkan nafas dengan sulit, dunia menjadi sempit, dan orang-orang pergi dari sekelilingmu, jadilah engkau seorang diri; tidak ada yang menghibur maupun meringankan bebanmu, saat itu engkau yakin pasti mati...
Saat itulah, Tuhan membuka untukmu pintu pertolongan dan secercah harapan. Dia hembuskan padamu ketenangan, Dia ulurkan untukmu tangan bantuan, dan Dia menghidupkanmu setelah engkau melihat kematian. Engkau pun bersungkur sujud dan tangis kepada-Nya, sedangkan lisanmu melantunkan: Yā Ḥayyu ... Yā Qayyūm! Hanya untuk-Mu syukur seluruhnya.
Ini tidak terjadi kecuali setelah engkau berserah diri kepada Tuhan Mahahidup yang tidak akan mati: "Bertawakallah kepada (Allah) Yang Mahahidup yang tidak mati dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya." [QS. Al-Furqān: 58]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah menetapkan sifat hidup bagi diri-Nya, yaitu kehidupan sempurna yang tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak juga disusul kesirnaan dan kefanaan untuk selamanya; tidak dihinggapi cacat dan aib maupun lalai dan lemah; tidak dihampiri rasa kantuk maupun tidur; tidak juga kematian dalam keadaan apa pun: "Dia tidak mengantuk dan tidak tidur." [QS. Al-Baqarah: 255] Mahamulia dan Mahasuci Allah dari itu semuanya.
Kehidupan Allah ﷻ terjauhkan dari menyerupai kehidupan makhluk: "Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11] Kehidupan yang melazimkan kesempurnaan sifat-sifat-Nya; pengetahuan-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kuasa-Nya, kehendak-Nya, rahmat-Nya pada apa yang Dia kehendaki, dan berbagai sifat-sifat kesempurnaan-Nya yang lain.
Tuhan kita Yang Mahahidup; dengan-Nya kehidupan menjadi tegak dan dengan-Nya semua yang hidup menjadi hidup. Semua selain-Nya, kehidupannya tegak di atas penghidupan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- kepadanya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan." [QS. Al-Baqarah: 28]
Tuhan kitalah yang menghidupkan jiwa dan roh dengan cahaya ilmu, petunjuk, dan iman.
Tuhan kitalah yang memberikan penghuni surga kehidupan kekal abadi. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui." [QS. Al-'Ankabūt: 64]
Dalil Nyata
Allah Yang Mahahidup, tiada sembahan yang benar kecuali Dia. Siapa yang berserah diri kepada-Nya, pasti akan dicukupkan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang mengalahkan kehendak-Nya dan tidak pula melemahkan-Nya. Dia mengangkat keburukan dan mengabulkan permintaan orang yang kesulitan. Dia menghidupkan tulang belulang yang telah hancur dan menghidupkan kembali makhluk sebagaimana mereka diciptakan pertama kali, bahkan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia Mahabijaksana yang tidak menciptakan sesuatu sia-sia dan tidak juga membiarkan sesuatu tanpa guna.
Ibnu Jarīr dan Al-Baihaqiy meriwayatkan bahwa Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Al-'Āṣ bin Wā`il datang menemui Rasulullah ﷺ lalu berdiri dan mengambil tulang yang remuk, lalu dipotong-potong dengan tangannya seraya berkata, "Siapa yang akan kuasa menghidupkan tulang-tulang ini setelah remuk?!" Dia melakukannya untuk mendustakan kebangkitan. Rasulullah menjawab, "Ya! Allah akan membangkitkan tulang ini. Kamu akan dimatikan lalu dihidupkan, kemudian kamu dimasukkan ke neraka Jahanam." Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- lalu menurunkan ayat: "Tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, namun ternyata dia menjadi musuh yang nyata!" [QS. Yāsīn: 77] Sampai akhir surah. [Hadis sahih; HR. Al-Ḥākim, dia menilainya sahih dan disepakati oleh Aż-Żahabiy]
Sungguh, betapa ingkarnya manusia! Dia lupa penciptaannya dan ingkar kepada penciptanya. Tuhan yang menciptakannya pertama kali, akan kuasa mengembalikannya dan menghidupkannya karena penciptaan yang kedua lebih mudah secara logika. Keduanya mudah bagi Allah karena menciptakan pertama kali dan menciptakan ulang di sisi Allah sama: "Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya." [QS. Ar-Rūm: 27]
Kemuliaan hanyalah milik-Nya. Keperkasaan hanyalah milik-Nya. Keagungan hanyalah milik-Nya. Kebesaran hanyalah milik-Nya. Kekuasaan hanyalah milik-Nya. Kerajaan hanyalah milik-Nya. Keputusan hanyalah milik-Nya. Kekuatan hanyalah milik-Nya. Pujian hanyalah milik-Nya. Betapa agung kedudukan-Nya, betapa besar kerajaan-Nya, dan betapa tinggi tempat-Nya.
Panggilan Alam ...
Mahasuci Tuhan yang memberikan setiap makhluk kehidupan yang khusus! Kehidupan malaikat berbeda dengan kehidupan manusia. Kehidupan jin berbeda dengan kehidupan manusia. Kehidupan hewan berbeda dengan kehidupan manusia, jin, dan malaikat.
Bahkan, benda mati juga mendapatkan limpahan jejak nama Allah "Al-Ḥayyu". Ia juga hidup. Benda mati juga mendapatkan kehidupan yang cocok dengannya. Lihatlah tongkat Musa -'alaihissalām-: "Kemudian Musa melemparkan tongkatnya, maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu." [QS. Asy-Syu'arā`: 45]
Begitu juga tumbuhan memiliki kehidupan yang khusus. Bahkan, batang pohon pernah menangis pada Rasulullah ﷺ. Dalam Ṣaḥīḥ Bukhari disebutkan: "Nabi ﷺ biasa berkhotbah di atas batang kayu. Setelah beliau membuat mimbar, beliau pun beralih kepadanya. Sebab itu, batang kayu itu menangis, lalu beliau mendatanginya dan mengusapnya dengan tangannya." Dalam kitab-kitab As-Sunan disebutkan: "Beliau pun menghampirinya lalu merangkulnya sehingga ia diam." Lalu Nabi ﷺ bersabda, "Sekiranya aku tidak merangkulnya, ia akan menangis hingga hari Kiamat." [Hadis sahih; HR. Ibnu Majah]
Lahirnya kehidupan tersebut pada benda yang mati, bukankah itu satu di antara tanda kebesaran Allah ﷻ yang menunjukkan bahwa Dia Mahahidup, tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia?!
Di segala sesuatu terdapat tanda untuk-Nya yang menunjukkan bahwa Dia itu Maha Esa.
Hati Para Pecinta ...
Di antara doa Nabi ﷺ ialah: "Ya Allah! Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu yang tiada sembahan yang benar kecuali Engkau agar Engkau tidak menyesatkanku. Engkaulah Mahahidup yang tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia pasti akan mati." [HR. Muslim]
Tidak diragukan bahwa hidayah adalah sumber kehidupan hati, dan itu berasal dari Allah Yang Mahahidup yang tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia. Siapa yang menginginkannya hendaklah ia mengharapkannya serta memintanya dari Tuhan Yang Mahahidup karena Allah ﷻ telah berfirman, "Dialah yang hidup kekal, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam." [QS. Gāfir: 65]
Ketika hati dipenuhi iman dan keagungan Allah, saat itu hidup menjadi indah, dunia terasa jernih, penglihatan hati bercahaya, kesedihan hilang, kegundahan pergi, serta ia bahagia dengan kehidupannya.
Nama-nama Allah ﷻ menumbuhkan cinta dan kesenangan dalam hati orang-orang beriman, sehingga mereka bahagia di dunia dan bahagia di akhirat: "Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." [QS. An-Naḥl: 97]
Sebaliknya, orang yang kafir hidupnya sempit serta kehidupannya di dunia dan akhirat susah karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta." [QS. Ṭāhā: 124] Kalaupun ia masih hidup dan berjalan di atas kakinya, sebenarnya ia ada dalam hitungan orang-orang yang mati: "(Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui kapankah (penyembahnya) dibangkitkan." [QS. An-Naḥl: 21]
Bukanlah orang yang mati lalu beristirahat tenang itu orang mati, tetapi orang mati itu adalah yang mati dari kalangan orang-orang yang hidup.
Merendahlah kepada-Nya!
Dalam Musnad Imam Aḥmad, Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Nabi ﷺ bila ditimpa suatu kesusahan, beliau berdoa: Ya Ḥayyu (Tuhan Yang Mahahidup)... Ya Qayyūm (Tuhan yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya)! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan." [Hadis hasan]
Juga diriwayatkan oleh Nasai bahwa Nabi ﷺ berkata kepada putrinya, Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Apa yang menghalangimu untuk mendengarkan apa yang aku wasiatkan kepadamu?! Yaitu agar ketika memasuki pagi dan ketika memasuki sore engkau membaca: 'Yā Ḥayyu yā Qayyūm! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, perbaiki untukku urusanku seluruhnya, dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.'" [Hadis sahih]
Sedangkan dalam riwayat Tirmizi dan al-Ḥākim dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang membaca: Astagfirullāh allażī lā ilāha illa huwa al-Ḥayyul-Qayyūm wa atūbu ilaihi (Saya memohon ampunan kepada Allah yang tiada sembahan yang hak selain-Nya, Mahahidup dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya, serta saya bertobat kepada-Nya), maka ia akan diberikan ampunan sekalipun ia lari dari medan perang." [Hadis sahih]
Dalam kitab-kitab Sunan diriwayatkan dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ada seorang laki-laki berdoa: "Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu, hanya milik-Mu segala pujian, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha Memberi banyak nikmat, yang menciptakan langit dan bumi. Wahai Tuhan yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, wahai Yang Mahahidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)!"
Maka Nabi ﷺ bersabda, "Dia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung; yang bila dimintai dengannya Allah akan mengabulkan dan bila dimohon dengannya Allah akan memberi." [Hadis sahih]
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Sifat al-ḥayāh (hidup) mencakup semua sifat-sifat kesempurnaan serta melazimkannya. Sedangkan sifat al-qayyūmiyyah (mengurus) mencakup semua sifat-sifat perbuatan. Oleh sebab itu, nama Allah paling agung yang bila dimohon dengannya Allah akan kabulkan ialah nama Al-Ḥayyu Al-Qayyūm."
Ya Allah! Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu yang tiada sembahan yang benar kecuali Engkau agar Engkau tidak menyesatkanku. Engkau Mahahidup yang tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia pasti akan mati.
Ya Allah! Ya Ḥayyu ... Yā Qayyūm! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya.
10
AL-QAYYŪM ﷻ
Wahai pencipta alam semesta, Engkaulah Yang Maha Esa, semua yang ada menjadi saksi keberadaan-Mu.
Wahai Yang Mahahidup dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya, Engkau tempat berharap, kepada kemuliaan-Mu membumbung kening yang bersujud.
Dalam riwayat Tirmizi disebutkan bahwa Nabi ﷺ mendengar seorang laki-laki berdoa dalam salatnya: Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu, hanya milik-Mu segala pujian, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha Memberi banyak nikmat, yang menciptakan langit dan bumi. Wahai Tuhan yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, wahai Yang Mahahidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)!"
Maka Nabi ﷺ bersabda, "Demi Tuhan yang jiwaku di tangan-Nya! Sungguh, ia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung; yang bila dimintai dengannya Allah akan mengabulkan dan bila dimohon dengannya Allah akan memberi." [Hadis sahih]
Ini adalah pesan dari Nabi Anda ﷺ kepada setiap orang yang dinasihati oleh kehidupan: Datanglah kepada Tuhanmu, kosongkan hatimu dari selain-Nya, lalu berdoalah dengan "Yā Ḥayyu yā Qayyūm", Dia pasti mengabulkan permohonanmu dan memberikanmu lebih dari yang kamu harapkan.
Hanya kepada-Nya (kami menuju). Jika tidak kepada-Nya, maka tak akan perjalanan.
Hanya dari-Nya (kami berharap). Jika tidak dari-Nya, maka orang yang berharap hanya akan berputus asa.
Mari kita merenungi bersama satu nama yang agung di antara nama-nama Allah yang indah, yaitu Al-Qayyūm ﷻ.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Semua wajah tertunduk di hadapan (Allah) Yang Mahahidup dan Yang Berdiri Sendiri." [QS. Ṭāhā: 111]
Tuhan kita ﷻ adalah yang tegak dengan sendiri-Nya secara mutlak. Dia tidak butuh kepada siapa pun dalam keberadaan dan keberlangsungan-Nya. Dia cukup dengan diri-Nya dari membutuhkan yang lain. "Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah, dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji." [QS. Fāṭir: 15]
Tuhan kita ﷻ adalah Tuhan yang dengan-Nya semua makhluk tegak, baik di bumi maupun langit. Tidak ada keberlangsungan dan kebaikan bagi makhluk-makhluk itu kecuali dengan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Makhluk-makhluk itu sangat butuh kepada Allah dari semua sisi, sementara Allah tidak membutuhkan mereka dari semua sisi. Bahkan, Arasy dan para malaikat pemikulnya membutuhkan-Nya karena Arasy itu tegak hanyalah dengan Allah ﷻ. Demikian juga para malaikat pemikul Arasy, mereka tidaklah tegak kecuali dengan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-.
Tuhan kita ﷻ ialah yang mengurus seluruh alam, baik alam langit maupun alam bumi, serta semua makhluk yang ada pada keduanya, di semua keadaan mereka, dengan mengatur, memberi rezeki, dan menjaga mereka, dan di semua urusan mereka berupa perhatian dan pengaturan di semua waktu dan saat.
Bahkan, Dialah yang mengurus hamba-hamba-Nya, yang menghitung perbuatan dan ucapan mereka serta kebaikan dan dosa-dosa mereka. Dialah yang akan memberikan mereka ganjaran atas itu semuanya di negeri akhirat: "Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang lain)? Mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah. Katakanlah, 'Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu.' Atau apakah kamu hendak memberitahukan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau (mengatakan tentang hal itu) sekadar perkataan pada lahirnya saja? Sebenarnya bagi orang kafir, tipu daya mereka itu dijadikan terasa indah dan mereka dihalangi dari jalan (yang benar). Barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memberi petunjuk baginya." [QS. Ar-Ra'd: 33]
Di antara bukti sempurnanya keilahian Allah ialah bahwa langit dan bumi tegak dan kokoh seimbang dengan perintah dan kuasa-Nya, tanpa ada satu tiang pun yang menyangganya: "Sungguh, Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. Jika keduanya akan lenyap, tidak ada seorang pun yang mampu menahannya selain Allah. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun." [QS. Fāṭir: 41]
Yang Paling Pantas Disembah ...
Allah adalah Tuhan Yang Mahahidup dan yang terus-menurus mengurus makhluk-Nya, Tuhan alam semesta, Tuhan yang paling penyayang, paling kuasa, dan paling bijaksana, yang menguasai penciptaan dan perintah, hanya di tangan-Nya kebaikan dan keburukan.
Dialah yang dikenal melalui fitrah, yang diakui oleh akal dan ditunjukkan oleh semua yang ada, yang disaksikan keberadaan dan eksistensi-Nya dengan semua gerak dan diam. Dialah yang mengabulkan orang yang terhimpit ketika berdoa kepada-Nya, menolong orang yang butuh bila memanggil-Nya, mengangkat keburukan, membuang kesusahan, dan menyingkirkan sandungan.
Dialah yang dimintai tolong atas semua ujian dan musibah dan yang dikenal memiliki semua kebaikan dan kemuliaan.
Dialah yang di hadapan-Nya semua wajah tertunduk dan semua suara kelu: "Semua wajah tertunduk di hadapan (Allah) Yang Mahahidup dan Yang Berdiri Sendiri." [QS. Ṭāhā: 111]
Dia paling pantas untuk disebut, paling pantas untuk disembah, paling pantas untuk dipuji, paling utama untuk disyukuri, paling menolong di antara yang diminta, paling belas kasih di antara yang memiliki, paling pemurah di antara yang diminta, paling memaafkan di antara yang punya kuasa, paling baik hati di antara yang didatangi, dan paling adil di antara yang membalas dendam.
Sifat lembut-Nya setelah pengetahuan-Nya, sifat pemaaf-Nya setelah kemahakuasaan-Nya, ampunan-Nya setelah keagungan-Nya, dan Dia menahan atas dasar kebijaksanaan-Nya.
Dialah Allah Yang Mahahidup dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, Maha Esa yang tidak ada tandingan untuk-Nya: "Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya)." [QS. Al-Baqarah: 255]
Dia terangkan dalil-dalil wujud-Nya bagi orang yang berpikir. Dia tampakkan bukti-bukti kebesaran-Nya bagi orang yang mau melihat. Dia jelaskan ayat-ayat-Nya kepada alam semesta. Dia pangkas alasan-alasan orang yang membangkang. Dia gelincirkan hujah orang-orang yang mengingkari. Sebab itu, bukti-bukti ketuhanan-Nya bersinar terang dan dalil-dalil keilahian-Nya terpancar jelas.
Dialah Allah ﷻ yang mengurus makhluk-makhluk-Nya; Dia tidak butuh kepada mereka, namun merekalah semua yang butuh kepada-Nya. Semua butuh kepada-Nya, baik para malaikat yang didekatkan pada-Nya, para malaikat pemikul Arasy, maupun seluruh penghuni langit dan bumi. "Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah, dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji." [QS. Fāṭir: 15]
Kemuliaan hanyalah milik-Nya. Keperkasaan hanyalah milik-Nya. Keagungan hanyalah milik-Nya. Kebesaran hanyalah miliknya. Kekuasaan hanyalah milik-Nya. Kerajaan hanyalah milik-Nya. Keputusan hanyalah milik-Nya. Kekuatan hanyalah milik-Nya. Pujian hanyalah milik-Nya. Dia sungguh sempurna dalam sifat-sifat dan perbuatan-Nya. "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi." [QS. Al-Baqarah: 255]
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- tidak tidur dan tidak patut bagi-Nya untuk tidur. Telah sahih bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah ﷻ tidak tidur, dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur. Allah merendahkan al-qisṭ (timbangan) dan mengangkatnya, kepada-Nya amalan malam dinaikkan sebelum amalan siang dan amalan siang sebelum amalan malam. Tirai-Nya adalah cahaya, sekiranya Allah membukanya niscaya sinar wajah-Nya akan membakar seluruh makhluk sejauh penglihatan-Nya." [HR. Muslim]
Mahasuci Allah yang dengan cahaya-Nya langit dan bumi bercahaya dan dengan wajah-Nya kegelapan bersinar! Mahasuci Allah Yang Mahahidup dan Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya!
Tenanglah!
Siapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Qayyūm (Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya), hatinya tidak akan terpaut kepada makhluk, serta hatinya akan tenang kepada penciptanya, pemberi rezeki, dan pengaturnya. Di dalam jiwa terdapat kebutuhan yang tidak akan dapat dipenuhi oleh harta, ketinggian tempat, kesenangan, maupun ketenaran.
Kebutuhan itu hanya dapat dipenuhi dengan iman kepada Allah ﷻ serta berserah diri kepada-Nya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "(Orang-orang yang bertobat itu ialah) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." [QS. Ar-Ra'd: 28]
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu. Ya Ḥayyu, ya Qayyūm! Semoga Engkau mengampuni dosa-dosa kami, menutupi aib kami, membantu kami untuk melakukan ketaatan kepada-Mu, memasukkan kami ke surga, dan melindungi kami dari neraka.
11-12
AL-MALIK AL-MALĪK ﷻ
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia mengisahkan: Salah seorang pendeta Yahudi datang kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya kami dapati (dalam kitab suci kami) bahwa Allah meletakkan semua langit di atas satu jari, semua bumi di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air dan tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, kemudian Dia berfirman, 'Akulah Penguasa (raja)'."
Maka Rasulullah ﷺ tertawa sampai tampak gigi gerahamnya karena membenarkan ucapan pendeta Yahudi itu, kemudian beliau membacakan firman Allah, "Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan." [QS. Az-Zumar: 67]
Tidak ada yang tahu seperti apa hak-Nya kecuali Dia!
Tidak ada selain-Nya yang menguasai ilmu-Nya!
Tidak ada yang mengetahui keagungan-Nya dengan sebenarnya kecuali Dia sendiri!
Tidak ada selain-Nya yang mampu memberikan pujian sempurna kepada-Nya!
Gubahan sastra seindah apa pun tak mampu memberikan pujian pada-Nya!
Rasa malu memenuhi hati kita sementara kita di saat ini ingin melantunkan sifat-sifat ِAllah, Sang Maharaja! Suatu kemuliaan besar bagi kita bila melekatkan hidung di tanah karena besarnya keagungan dan kekuasaan-Nya dan bila memulai ucapan dan tulisan kita dengan pujian kepada-Nya. Kalaupun kita bertasbih atau memuji-Nya, maka itu semata adalah karunia-Nya kepada kita.
Para pemuja-Mu tak mampu memberimu pujian sempurna,
sekalipun mereka berpanjang kata, karena yang ada pada-Mu jauh lebih agung.
Di Bawah Naungan Nama al-Malik
"Dialah Allah yang tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maharaja." [QS. Al-Ḥasyr: 23]
Tuhan kita ﷻ adalah yang kuasa mewujudkan perintah-Nya pada kerajaan-Nya. Dialah raja kerajaan seluruhnya. Kekuasaan-Nya sempurna. Dialah Raja Hari Pembalasan. Dia Raja semua makhluk, tidak ada penguasa di atas-Nya, dan tidak ada sesuatu pun kecuali di bawah kekuasaan-Nya. Dia kuasa mengambil tindakan pada segala sesuatu, tidak ada yang dapat menolak maupun menghalangi-Nya.
Raja mulia yang tidak pernah berpisah dengan kemuliaan-Nya, di sisi-Nya diputuskan dan diharapkan ampunan. Raja pemegang keputusan yang tampak dan yang tersembunyi, kekuatan kekuasaan-Nya tidak diluluhkan oleh zaman.
Dialah raja yang lantaran kelembutan-Nya, tetap memberi karunia meski didurhakai dan dikhianati. Semua raja yang dirajakan akan berakhir, sedangkan kekuasaan Allah ada tanpa akhir.
Kerajaan yang sejati adalah milik Allah ﷻ saja, tidak ada satu pun yang menyertai-Nya. Semua yang memiliki kuasa atas sesuatu, sebenarnya itu adalah pemberian kuasa oleh Allah kepadanya. Nabi ﷺ bersabda, "Tidak ada penguasa yang sebenarnya kecuali Allah ﷻ." Dalam riwayat lain: "Tidak ada raja sebenarnya kecuali Allah." [HR. Muslim] "Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." [QS. Āli 'Imrān: 26]
Tuhan kita ﷻ adalah penguasa perbendaharaan langit dan bumi. Di tangan-Nyalah seluruh kebaikan bersumber. Dia memberikan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki.
Dialah ﷻ yang menguasai kematian, kehidupan, kebangkitan, kebaikan, dan keburukan, dan kepada-Nya semua urusan kembali.
Dia melakukan tindakan apapun di kerajaan-Nya sesuai kehendak-Nya. Di setiap hari Dia dalam kesibukan pada urusan-Nya! Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Di antara urusan-Nya ialah mengampuni dosa, mengangkat keburukan, meninggikan kaum, dan menurunkan kaum yang lain." [Hadis hasan; HR. Ibnu Majah]
Inilah kerajaan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, Dia memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya: "Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki." [QS. Al-Baqarah: 247]
Dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian mencela masa karena Allah ﷻ berfirman, 'Akulah (yang menguasai) masa. Hari dan malam adalah milik-Ku; Aku memperbaruinya dan melewatkannya, dan Aku mendatangkan raja-raja setelah raja-raja lainnya.'" [Hadis sahih, bagian awalnya ada dalam Ṣaḥīḥ Muslim]
Mana raja-raja bermahkota dari Yaman?! Ke mana mahkota dan hiasan kepala mereka?!
Telah datang kepada semuanya perkara yang tidak terbendung, mereka pergi seakan orang-orang itu tidak pernah ada.
Setan Menipu Mereka ...
Manakala Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- memberikan kerajaan kepada Firaun, dia mengira dirinya raja sesungguhnya. Dia pun angkuh, semena-mena, dan menzalimi manusia. Sampai-sampai ia mengklaim diri sebagai tuhan! "Firaun berkata, 'Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada tuhan bagimu selain aku." [QS. Al-Qaṣaṣ: 38] Maka Allah ﷻ pun membinasakannya dan menjadikannya sebagai pelajaran bagi raja-raja bumi hingga hari Kiamat, supaya kekuasaan tidak menjadikan mereka diktator dan melupakan mereka pada asal muasal, kelemahan, dan tempat kembali mereka.
Sekalipun para raja memiliki kekuasaan di kehidupan dunia, yaitu mereka memiliki banyak istana, kebun-kebun, emas, dan perak, tetapi mereka dihadapkan di antara dua pilihan: kekuasaan itu yang hilang meninggalkan mereka atau mereka yang hilang meninggalkannya. Ia hanyalah kerajaan yang akan sirna dan pinjaman sementara yang harus dikembalikan.
Sebab itu, Allah ﷻ mengingatkan mereka bahwa tempat kembali mereka adalah kepada-Nya: "Milik Allah seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Hanya kepada-Nya semua akan kembali.” [QS. Al-Mā`idah: 18]
Nabi ﷺ telah melarang gelar "rajadiraja". Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Nama yang paling hina di sisi Allah ialah seseorang yang bergelar rajadiraja."
Raja Hari Kiamat ...
Pada hari Kiamat, Allah ﷻ menggenggam langit-langit dengan tangan kanan-Nya dan bumi dengan tangan-Nya yang lain, sebagaimana Dia berfirman, "Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan." [QS. Az-Zumar: 67]
Dalam aṣ-Ṣaḥīḥain, Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- akan menggenggam bumi pada hari Kiamat dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Dia berfirman, 'Akulah Raja! Di manakah raja-raja bumi?'"
Dalam Ṣaḥīḥ Muslim juga disebutkan dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhuma- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah ﷻ akan menggulung semua langit pada hari Kiamat, lalu diambil dengan tangan kanan-Nya dan berfirman, 'Akulah Raja! Di manakah orang-orang yang lalim? Di manakah orang-orang yang sombong?'
Kemudian Allah menggulung bumi-bumi dengan tangan kiri-Nya lalu berfirman, 'Akulah Raja! Di manakah orang-orang yang lalim? Di manakah orang-orang yang sombong?'"
Pada hari Kiamat, Allah akan memanggil, "Milik siapakah kerajaan hari ini?" Namun, tidak ada seorang pun yang menyahut! Lantas Dia sendiri yang menjawab, "Hanya milik Allah Yang Maha Esa Mahaperkasa." [QS. Gāfir: 16]
Kekuasaan-Nya Sempurna
Kendatipun Allah ﷻ Maharaja dan tidak butuh kepada ibadah kita, tetapi di antara bukti besarnya kebaikan-Nya kepada para hamba-Nya ialah Dia menggandengkan namanya "al-Malik (Maharaja)" dengan sebagian nama lainnya supaya jiwa kita tenang dan rindu bertemu dengan-Nya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Raja hari Pembalasan." [QS. Al-Fātiḥah: 3-4] Dia juga berfirman, "Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dialah Allah yang tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maharaja." [QS. Al-Ḥasyr: 22-23] Allah ﷻ mengabari kita bahwa kekuasaan tidak akan baik dan sempurna kecuali disertai dengan kebaikan dan kasih sayang. Sebab itu, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Maharaja sekaligus Maha Penyayang.
Kekuasaan Tuhan kita ﷻ sangat tersucikan dari berbagai kekurangan: "Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah, Yang Maharaja, Mahasuci, Mahaperkasa, dan Mahabijaksana." [QS. Al-Jumu'ah: 1]
Manakala raja-raja bumi ditimpa perilaku cacat seperti kesombongan, larut dalam syahwat, dan kezaliman, maka Allah ﷻ mengabarkan kepada kita bahwa kekuasaan-Nya sempurna, terkumpul padanya semua sifat kesempurnaan dan kebaikan. Oleh sebab itu, ketika bersalam setelah salat witir, Rasulullah ﷺ selalu membaca, "Mahasuci Tuhan Yang Maharaja Mahasuci". beliau mengucapkannya tiga kali dan mengangkat suara di kali ketiga. [Hadis sahih; HR. Nasai]
Wajib atas setiap hamba untuk memuji Allah atas kekuasaan dan kasih sayang-Nya dan banyak menyanjung-Nya secara berkesinambungan. Allah ﷻ berfirman, "Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya (pula) segala pujian." [QS. At-Tagābun: 1] Dia terpuji dalam kerajaan-Nya karena kerajaan tanpa pujian melazimkan adanya kekurangan, sedangkan pujian tanpa kerajaan melazimkan adanya kelemahan. Tetapi, pujian bersama kerajaan adalah puncak kesempurnaan dan kemuliaan.
Di antara bentuk kemuliaan kerajaan-Nya ialah Dia melindungi siapa yang meminta perlindungan kepada-Nya. Sebaliknya, tidak seorang pun dapat melindungi dan menjamin keamanan orang yang Allah inginkan kebinasaannya: "Katakanlah, 'Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak dapat dilindungi (seorang pun) dari (azab) Nya, jika kamu mengetahui?'" [QS. Al-Mu`minūn: 88]
Wahai Sang Raja yang memegang ubun-ubun serta ketetapan-Nya terlaksana pada segala sesuatu,
Aku berlindung kepada-Mu, wahai Yang Mahamulia; tidak pernah rugi hamba yang berlindung dengan keagungan-Mu.
Wahai Tuhan yang Tak Pernah Sirna Kerajaan-Nya!
Para sejarawan berkata, "Tatkala Harun Ar-Rasyīd membangun istananya, sama sekali belum pernah dilihat istana yang menyamai keindahannya di zamannya! Orang-orang pun datang menemuinya untuk memberikan ucapan selamat. Masuklah Abul-'Atāhiyah bersama mereka, lalu berdiri dan melantunkan syair:
Hiduplah sesukamu dengan selamat, dalam naungan istana yang menjulang. Kepadamu disuguhkan semua yang menjadi hasratmu, ketika sore dan ketika pagi. Kepadamu dialirkan apa yang kau ingin, setiap siang dan setiap pagi.
Ketika nyawa berdesir saat dada sekarat, Saat itu kau tahu pasti, selama ini kau hanyalah tertipu.
Harun pun menangis hingga jatuh ke tanah. Tidak sampai satu bulan pun ia meninggal."
Itulah Harun! Raja yang berkata kepada awan, "Turunkan hujan di mana pun engkau mau karena hasilmu akan sampai kepadaku!" Itulah Harun! Raja yang berhaji satu tahun dan berperang satu tahun!
Abdul Malik bin Marwan, Sang Penguasa Dunia Islam, tatkala sakratulmaut menghampirinya, ia mendengar suara tukang cuci di seputar istananya bernyanyi gembira dan senang! Abdul Malik berkata, "Seandainya aku seorang tukang cuci! Seandainya aku tidak mengenal kekuasaan dan kekhalifahan!" Setelahnya ia pun mati.
Raja yang lain berkata, "Wahai Tuhan yang tidak akan sirna kerajaan-Nya! Kasihanilah orang yang kerajaannya pasti sirna." Ketika Sa'īd bin al-Musayyib mendengar kata-kata ini, ia menjawabnya dengan mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang menjadikan mereka lari ke kita saat sekarat kematian, sedangkan kita tidak lari ke mereka."
Ketuklah Pintu Maharaja!
Wahai pembaca budiman! Penyakit dapat berlalu. Ujian dapat berganti. Dosa dapat diampuni. Hutang dapat dilunasi. Tahanan dapat dilepas. Orang yang hilang dapat datang. Pelaku maksiat dapat bertobat. Orang fakir dapat berubah kaya. Itu semuanya ada di tangan Sang Maharaja -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Sebab itu, jadikanlah Allah tempat berlindung dan berharap di setiap waktu dan saat, khususnya di penghujung malam karena Allah ﷻ turun setiap malam ke langit terrendah dan memanggil, "Akulah Maharaja. Akulah Maharaja. Siapakah yang berdoa kepada-Ku lalu aku kabulkan untuknya? Siapa yang meminta kepada-Ku untuk Aku berikan? Siapakah yang memohon ampunan kepada-Ku untuk Aku berikan ampunan?" Allah senantiasa seperti itu hingga fajar terbit. [HR. Muslim]
Nabi kita ﷺ yang paling tahu tentang Allah dan paling tinggi ibadahnya kepada-Nya menganjurkan kita untuk terus mengulang-ulang ungkapan pengakuan pada kekuasaan Allah ﷻ setelah salat, ketika terbangun tidur di malam hari, ketika membaca wirid kita di pagi dan petang, dan setelah pulang dari perjalanan jauh. Jika itu engkau ulang 100 kali dalam satu hari, maka engkau termasuk orang yang beruntung.
Telah diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Siapa yang mengucapkan: 'Lā ilāha illallāh waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku walahul-ḥamdu, wahuwa 'alā kulli syai`in qadīr (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan, milik-Nya seluruh pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu)' dalam sehari seratus kali, maka hal itu baginya setara memerdekakan 10 budak; dituliskan baginya 100 kebaikan; dihapus darinya 100 keburukan; hal itu menjadi tamengnya dari setan hari itu hingga sore; dan tidak ada yang datang membawa yang lebih utama dari apa yang ia bawa kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu." [HR. Bukhari dan Muslim]
Ya Allah! Wahai Raja yang menguasai hari pembalasan! Jadikanlah sebaik-baik umur kami bagian akhirnya dan ringankanlah hisab bagi kami. Wahai Tuhan alam semesta!
13
AS-SUBBŪḤ ﷻ
Para ulama mengatakan bahwa tauhid al-asmā` wa aṣ-ṣifāt berdiri di atas dua pilar, dan itu inti sari tauhid:
1- Menetapkan kesempurnaan dalam nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
2- Menyucikan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dari semua cacat yang bertolak belakang dengan kesempurnaan zat, sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya.
Di antara wujud rahmat Allah kepada kita ialah Dia mengajarkan kita cara menyucikan-Nya, yaitu dengan bertasbih kepada-Nya. Allah ﷻ berfirman, "Bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." [QS. Al-Aḥzāb: 42]
Mahasuci Dia yang senantiasa bertasbih selamanya, sedang selain-Nya tidak berhak mendapatkan tasbih
Mahasuci Dia yang jalan-jalan keridaan ada dalam zikir kepada-Nya, hanya dari-Nya dan pada-Nya kebahagiaan dan karunia berada.
Sungguh, selain-Nya tidak berhak mendapatkan tasbih, hanya dari-Nya dan pada-Nya kebahagiaan dan karunia berada.
Rasul kita ﷺ di dalam rukuk dan sujudnya biasa membaca, "Subbūḥun quddūs, Rabbul-malā`ikati war-rūḥ (Mahasuci lagi Mahaagung, Tuhan para malaikat dan Jibril).” [HR. Muslim]
Tasbīḥ secara bahasa ialah menyucikan. "Sabbaḥallāha" artinya: menyucikan Allah dan membersihkan-Nya dari semua aib.
Tuhan kita ﷻ tersucikan dari semua aib, cacat, dan keburukan. Ia memiliki kesempurnaan mutlak.
Engkaulah yang Paling Berhak ...
Seluruh alam tunduk pada Allah. Semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah ﷻ. Itulah ibadah yang paling agung kepada-Nya.
Lihatlah penduduk langit dari kalangan para malaikat: "Mereka berkata, 'Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?' Dia berfirman, 'Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'" [QS. Al-Baqarah: 30]
Tidak ada satu makhluk pun di alam semesta ini kecuali menyucikan penciptanya serta sahut-menyahut bertasbih kepada penciptanya, kecuali manusia dan jin yang kafir.
Allah ﷻ berfirman, "Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun." [QS. Al-Isrā`: 44]
Dialah yang berhak mendapatkan tasbih karena kesempurnaan zat-Nya dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada seekor semut menggigit salah seorang nabi, sehingga ia memberikan perintah untuk menghancurkan kampung semut itu. Kampung semut itu pun dibakar. Maka Allah wahyukan kepadanya, 'Apakah engkau membakar salah satu umat yang bertasbih karena digigit seekor semut?!'" [HR. Bukhari -redaksi ini miliknya- dan Muslim]
Gunung-gunung dan burung-burung bertasbih kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Semua bertasbih kepada-Nya: "Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Kamilah yang melakukannya." [QS. Al-Anbiyā`: 79] Sebab itu, kita lebih patut untuk beribadah dengan bertasbih kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Sebagian salaf mengatakan, "Tidakkah salah seorang kalian malu bila kendaraan yang dinaikinya dan pakaian yang dipakainya berzikir lebih banyak kepada Allah darinya?!"
Hati yang Mendengar ...
Manakala orang-orang yang saleh mengetahui pahalanya, yaitu bahwa kalimat tasbih adalah ucapan yang paling dicintai oleh Allah, mereka pun berlomba-lomba untuk bertasbih di semua keadaan mereka karena ia adalah amalan besar namun ringan dilakukan. Nabi ﷺ pernah bersabda, "Ada dua kalimat, ringan di lidah namun berat dalam timbangan dan dicintai oleh Allah yang Maha Penyayang, yakni: Subḥānallāhi wa biḥamdih, Subḥānallāhil-'Aẓīm." [HR. Bukhari dan Muslim]
Juga diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Siapa yang mengucapkan, 'Subḥānallāhi wa biḥamdihi' seratus kali sehari, maka dosa-dosanya dihapuskan walaupun sebanyak buih di lautan." [HR. Bukhari dan Muslim]
Nabi ﷺ juga bersabda, "Apakah seorang kalian lemah untuk mendapatkan seribu kebaikan setiap hari?" Salah seorang yang hadir dalam majelisnya bertanya, "Bagaimana cara dia memperoleh seribu kebaikan?"
Beliau bersabda, "Yaitu dia bertasbih seratus kali tasbih sehingga dicatat baginya seribu kebaikan atau dihapus seribu dosa darinya." [HR. Muslim]
Kunci Kebahagiaan
Bertasbih kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- termasuk amal saleh yang kebaikannya kekal.
Di dalam tasbih terdapat ketenteraman bagi orang-orang yang taat, tempat berlabuh orang-orang yang lari, dan tempat aman bagi orang-orang yang takut. Mereka tahu bahwa Tuhan yang mereka sucikan dari semua aib dan cacat adalah tempat berlabuh mereka ketika sulit, sahabat mereka ketika terasing, dan penolong mereka ketika kekurangan.
Bagaimana orang-orang yang bertasbih tidak akan diberikan pengabulan?! Merekalah yang mengenal Allah di kala lapang, lalu bagaimana Allah tidak akan mengenal mereka di kala sulit?!
Lihatlah Nabi Allah, Yunus bin Matta -'alaihissalām-, apa yang Allah ﷻ katakan tentangnya? "Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari mereka dibangkitkan." [QS. Aṣ-Ṣāffāt: 143-144]
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Ikan-ikan senyap di laut, sementara ia tidak berhenti bertasbih. Katak pun berhenti bersuara, sementara ia tidak diam dari berzikir kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-."
Al-Ḥasan berkata, "Yunus tidak mungkin mengerjakan salat dalam perut ikan. Akan tetapi, ia telah mengerjakan amal saleh di masa lapang, maka dengan sebab itu Allah mengingatnya di kala ujian."
Al-Karajiy berkata, "Ini adalah dalil bahwa tasbih dan tahlil mengangkat kesedihan serta menyelamatkan dari keburukan dan musibah."
Disebutkan dalam sebuah riwayat: "Seorang hamba bila ia saleh, maka akan dikenal di langit karena tasbih adalah amal saleh, sedangkan Allah ﷻ berfirman, "Amal kebajikan itu, Dia akan mengangkatnya." [QS. Fāṭir: 10]
Dengan bertasbih, seorang hamba akan diberi rezeki; sebagaimana diriwayatkan dalam al-Adab al-Mufrad dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "... dan subḥānallāhi wa biḥamdih, sesungguhnya ia adalah salat segala sesuatu dan dengannya segala sesuatu diberikan rezeki." [Hadis sahih]
Mahasuci Engkau!
Subḥānallāh sebanyak bilangan ciptaan-Nya di langit.
Subḥānallāh sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi.
Subḥānallāh sebanyak bilangan makhluk di antara keduanya.
Subḥānallāh sebanyak bilangan seluruh ciptaan-Nya.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk memperbanyak tasbih kepada-Nya ketika pagi dan petang; Dia berfirman, "Maka bertasbihlah kepada Allah pada petang hari dan pada pagi hari." [QS. Ar-Rūm: 17] Allah ﷻ juga berfirman, "Bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." [QS. Al-Aḥzāb: 42]
Karena urgennya tasbih, Allah mengilhami penghuni surga untuk bertasbih sebagaimana mereka diilhami bernapas: "Doa mereka di dalamnya ialah 'Subḥānakallāhumma' (Mahasuci Engkau, ya Allah) dan salam penghormatan mereka ialah 'Salām' (salam sejahtera). Adapun penutup doa mereka ialah 'Alḥamdu lillāhi Rabbil-'ālamīn' (segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam)." [QS. Yūnus: 10]
Ibnu Rajab -raḥimahullāh- berkata, "Semua amal ada akhirnya. Sedangkan zikir tidak memiliki ujung dan tiada berakhir! Amal seluruhnya berakhir dengan berakhirnya dunia dan tidak sedikit pun dari amal itu tersisa di akhirat. Sedangkan zikir tidak berakhir. Seorang mukmin hidup di atas zikir, mati di atas zikir, dan di atas zikir itu ia dibangkitkan."
Mahasuci Tuhan yang bertasbih kepada-Nya lisan semua makhluk
dengan tasbih pujian atas semua nikmat yang diberikan-Nya.
Mahasuci Tuhan yang bertasbih kepada-Nya lisan-lisan yang tahu
bahwa tasbihnya termasuk pelindung paling utama.
Mahasuci Tuhan yang menghinakan pelaku keburukan bila berkehendak, dan bila
berkehendak akan memaafkan dosa yang besar dan yang kecil.
Mahasuci Tuhan yang kita berharap dari-Nya ampunan diri-Nya Yang Mahakuasa,
serta pada-Nya kita berlindung dari siksaan diri-Nya yang kuasa membalas.
Semoga Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menjadikan kita termasuk yang bertasbih memuji-Nya, yang beriman kepada nama-nama dan sifat-Nya, dan yang merealisasikan tauhid dan pengagungan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.
"Maka bertasbihlah kepada Allah pada petang hari dan pada pagi hari. Segala puji bagi-Nya baik di langit dan di bumi, pada malam hari maupun pada waktu zuhur (tengah hari)." [QS. Ar-Rūm: 17-18]
14
AL-QUDDŪS ﷻ
Juallah dirimu hari ini kepada Allah! Pasarnya ada, alat penukar ada, dan barangnya murah. Akan datang pada pasar dan barang-barang itu hari yang engkau tidak akan dapat berniaga baik sedikit ataupun banyak: "Itulah hari pengungkapan kesalahan-kesalahan." [QS. At-Tagābun: 9] "(Ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya (menyesali perbuatannya)." [QS. Al-Furqān: 27]
Bila engkau tidak berangkat dengan bekal takwa, lalu kelak di hari mahsyar engkau melihat orang lain membawa bekal,
engkau pasti menyesal karena tidak seperti orang itu dan tidak mempersiapkan apa yang dia persiapkan.
Di sini, kita akan mengkaji salah satu nama Allah yang indah, yang akan mendekatkan kita kepada-Nya. Nama ini merupakan inti sari tauhid dan salah satu pilar tauhid al-asmā` wa aṣ-ṣifāt, yaitu Al-Quddūs ﷻ.
Allah -Subhānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Dialah Allah yang tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maharaja Yang Mahasuci." [QS. Al-Ḥasyr: 23] Dalam Ṣaḥīḥ Muslim diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ biasa membaca dalam rukuk dan sujud beliau, "Subbūḥun quddūs, Rabbul-malā`ikati war-rūḥ (Mahasuci lagi Mahaagung, Tuhan para malaikat dan Jibril).”
Diriwayatkan pula dalam Musnad Imam Ahmad bahwa ketika Nabi ﷺ selesai salat witir beliau membaca, "Subḥānal-malikil-quddūs, Subḥānal-malikil-quddūs, Subḥānal-malikil-quddūs (Mahasuci Allah Yang Maharaja lagi Mahasuci, Mahasuci Allah Yang Maharaja lagi Mahasuci, Mahasuci Allah Yang Maharaja lagi Mahasuci)". Beliau mengangkat suaranya di kali ketiga. [Hadis sahih]
Al-Quddūs secara bahasa memiliki arti: kesucian dan kebersihan. Ia juga bisa bermakna: yang diberkahi.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Al-Quddūs yang berarti bersih dari segala cacat dan aib, suci dari memiliki istri, anak, dan tandingan, terpuji dengan segala kemuliaan dan kebaikan, dan disifati dengan sifat-sifat kesempurnaan.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Tuhan Yang Mahaberkah; kebaikan-Nya melimpah dan merata sepanjang waktu di bumi dan di langit. Nama-Nya penuh keberkahan, demikian juga perbuatan, zat, dan sifat-sifat-Nya yang luhur penuh keberkahan. Dialah yang menyucikan siapa yang Dia kehendaki di antara makhluk-Nya menurut hikmah-Nya: "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." [QS. Al-Aḥzāb: 33]
Mahasuci Dia!
Tuhan kita ﷻ adalah Tuhan yang berhak disucikan, dimuliakan, dan diagungkan oleh seluruh makhluk.
Bertasbih ialah ibadah penduduk langit dari kalangan para malaikat: "Sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu." [QS. Al-Baqarah: 33]
Seluruh alam semesta bertasbih menyucikan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah. Milik-Nya kerajaan, bagi-Nya (pula) segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." [QS. At-Tagābun: 1] "Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya." [QS. Al-Isrā`: 44]
Dirimulah yang Paling Pantas ...
Makhluk yang paling pantas bertasbih ialah manusia.
Cara bertasbih menyucikan Allah ﷻ ialah:
1- Mencintai dan mengagungkan-Nya dari segala kekurangan dan aib.
2- Menetapkan sifat yang Dia tetapkan untuk diri-Nya ataupun yang ditetapkan untuk-Nya oleh Rasulullah ﷺ.
3- Menyucikan-Nya dari penyerupaan salah satu makhluk-Nya: "Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11]
4- Menyucikan-Nya dari kesyirikan. 5- Berhukum kepada syariat-Nya dan rida dengannya. 6- Tidak berburuk sangka kepada-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Siapa yang berprasangka kebalikan dari sifat yang Dia tetapkan bagi diri-Nya maupun yang ditetapkan oleh rasul-rasul-Nya, atau menolak hakikat dari sifat yang Dia tetapkan bagi diri-Nya maupun yang ditetapkan oleh rasul-rasul-Nya, sungguh dia telah berburuk sangka kepada Allah.
Demikian di antara sifat-Nya ialah Al-Quddūs, yaitu yang disucikan dengan pengagungan kepada ar-Raḥmān.
Bagianmu dari Nama Itu ...
Seorang mukmin membersihkan dirinya dengan mengerjakan ketaatan, menjauhi dosa dan kemaksiatan, membersihkan kotoran yang melekat pada hati, dan menghindari konsumsi harta yang haram dengan membersihkan harta dari syubhat. Inilah yang dipuji oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya: "Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Sebaliknya, sungguh rugi orang yang mengotorinya." [QS. Asy-Syams: 9-10]
Allah ﷻ telah menerangkan kepada Musa -'alaihissalām- tentang tujuan dari pengutusannya kepada Firaun, yaitu untuk membersihkan dirinya dengan menyucikan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "Pergilah engkau kepada Firaun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka katakanlah (kepada Firaun), 'Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri, dan engkau akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar engkau takut kepada-Nya?'” [QS. An-Nāzi'āt: 17-19]
Oleh karena itu, tidak akan ada keselamatan kecuali dengan penyucian iman ini: "Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, dan dia mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat." [QS. Al-A'lā: 14-15] Bahkan, Allah akan mencabut kesucian dari kaum yang zalim.
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Allah tidak akan menyucikan sebuah bangsa ketika orang yang lemah tidak dapat mengambil haknya dari yang kuat." [Hadis sahih; HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubrā] Juga diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Bagaimana Allah akan menyucikan suatu bangsa ketika orang lemah mereka tidak dapat diambilkan haknya dari kalangan yang kuat?!"
Ketika Abu Ad-Dardā` bersurat kepada Salman Al-Fārisiy -raḍiyallāhu 'anhumā- supaya pindah dari Irak ke negeri yang suci (Syam), Salman memberikannya jawaban telak yang menerangkan hakikat kesucian, dia berkata, "Bumi itu tidak menyucikan seseorang. Namun, yang menyucikan seseorang hanyalah amalnya."
Mahasuci Allah yang senantiasa rezeki-Nya bagi alam semesta ada dalam jaminan-Nya.
Mahasuci Allah yang mewujudkan harapan dengan sekadar bisikan hati yang tidak diucapkan lisan.
Ya Allah! Kami memohon kepada-Mu. Ya Subbūh ... Ya Quddūs! Semoga Engkau menyucikan kami serta mengampuni dan merahmati kami. Wahai Tuhan yang paling penyayang!
AS-SALĀM ﷻ
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya As-Salām adalah salah satu nama Allah -Ta'ālā- yang Allah letakkan di bumi. Sebab itu, tebarkanlah salam di antara kalian." [Hadis sahih; HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad]
Seorang mukmin akan selalu memohon kepada Allah keselamatan di dunia dan akhirat. Adapun keselamatan di dunia, terbagi menjadi lahir dan batin.
Keselamatan lahir ialah keafiatan dari penyakit dan semua yang tidak disukai.
Sedangkan keselamatan batin di dunia ialah keselamatan agama dan keselamatan keyakinan dari kekufuran, bidah, dan maksiat.
Keselamatan yang dimohon oleh orang beriman ini merupakan tali iman yang paling kuat. Bila ini semuanya selamat bagimu, engkau telah meraih hati yang salīm (bersih) dan engkau akan masuk ke dalam dār as-salām (surga).
Semua mengejar keselamatan, dan Allahlah As-Salām -Tabāraka wa Ta'ālā-.
Ibnul Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Betapa banyak orang yang hafal nama ini tetapi tidak mengerti rahasia dan makna yang dikandungnya!"
Allah -Tabāraka wa Ta’ālā- berfirman, "Dialah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maharaja Yang Mahasuci, Mahasejahtera, Maha Menjaga keamanan, Maha Pemelihara keselamatan." [QS. Al-Ḥasyr: 23].
Tuhan kita ﷻ adalah As-Salām, yaitu yang selamat dari segala aib dan kekurangan karena kesempurnaan zat, sifat, dan perbuatan-Nya.
As-Salāmah bermakna kebebasan. Ada juga yang mengatakan ia bermakna keafiatan.
Dialah As-Salām secara hakiki, yang bebas
dari segala penyerupaan dan dari cacat.
Tuhan kita ﷻ adalah yang paling pantas menyandang nama ini daripada semua yang dinamai dengannya.
Di Bawah Naungan Nama As-Salām
Renungkanlah nama ini dalam sifat-sifat Allah ﷻ! Kehidupan-Nya ialah kebebasan dari mati, kantuk, dan tidur. Sifat pengurusan dan kuasa-Nya ialah kebebasan dari rasa capek dan lelah.
Renungkanlah ilmu-Nya! Dia selamat dari ketidaktahuan tentang sesuatu atau mengalami lupa atau butuh mengingat dan berpikir! "Tidak ada sedikit pun yang luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarah, baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu melainkan semua tercatat dalam kitab yang nyata (Loh Mahfuz)." [QS. Yūnus: 61], "Sungguh, Tuhanmu tidaklah lupa." [QS. Maryam: 64].
Kalimat-kalimat-Nya jauh dari kedustaan dan kezaliman. Bahkan, Kalimat-kalimat-Nya sangat sempurna, penuh dengan kejujuran dan keadilan. "Telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur`ān) dengan benar dan adil." [QS. Al-An'ām: 115].
Sifat kaya-Nya bebas dari kebutuhan dalam bentuk apa pun kepada yang lain. Bahkan, semua yang selain-Nya butuh kepada-Nya, sedangkan Dia tidak butuh kepada selain-Nya.
Kerajaan-Nya bebas dari keberadaan pesaing, sekutu, ataupun pembantu.
Sifat lembut, maaf, lapang, dan ampunan-Nya bebas dari faktor adanya butuh, atau faktor lemah dan kepura-puraan, sebagaimana yang terjadi pada selain-Nya.
Bahkan, siksaan dan pembalasan-Nya bebas dari bentuk kezaliman, balas dendam ataupun sifat kasar. Sebaliknya, itu murni sebagai bentuk kebijaksanaan dan keadilan-Nya: "Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba(-Nya)." [QS. Fuṣṣilat: 46].
Renungkanlah ketetapan dan takdir-Nya! Ia bebas dari kesia-siaan, kelaliman, dan kezaliman.
Renungkanlah syariat dan agama-Nya! Ia bebas dari kontradiksi dan inkonsistensi: "Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur`ān? Sekiranya (Al-Qur`ān) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya." [QS. An-Nisā`: 82].
Keberadaan dan ketinggian-Nya di atas Arasy-Nya bebas dari sebuah kebutuhan pada sesuatu untuk memikul-Nya atau sebagai tempat bersemayam. Bahkan, Arasylah yang butuh kepada-Nya serta para malaikat pemikulnya yang butuh kepada-Nya. Allah sama sekali tidak membutuhkan Arasy, malaikat pemikul Arasy, dan semua selain-Nya.
Pendengaran dan penglihatan-Nya bebas dari semua yang diimajinasikan oleh seorang musyabbih (golongan yang menyerupakan sifat Allah dengan makhluk) maupun yang diada-adakan oleh seorang mu'aṭṭil (golongan yang menolak sifat Allah).
Bahkan, cinta-Nya kepada wali-wali-Nya bebas dari motif cinta makhluk kepada makhluk, seperti cinta karena butuh, cinta karena rayuan, atau cinta demi memanfaatkan keakraban.
Balasan kepada Para Pecinta
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memberikan salam kepada para nabi dan rasul-rasul-Nya karena keimanan dan perbuatan baik mereka supaya hal itu diteladani oleh umat manusia, sehingga mereka tidak dicela oleh seorang pun: "Selamat sejahtera bagi para rasul." [QS. Aṣ-Ṣāffāt: 181] Kemudian Allah ﷻ memuliakan Nabi Yahya -'alaihissalām- dengan mengkhususkan salam kepadanya di beberapa momen. Konon, momen-momen tersebut adalah momen yang paling asing dan menakutkan bagi manusia, yaitu hari kelahirannya ketika ia melihat dirinya keluar dari tempat sebelumnya, hari kematiannya ketika ia melihat sejumlah orang yang belum pernah dilihat sebelumnya, dan hari kebangkitannya ketika ia melihat dirinya di mahsyar yang dahsyat: "Kesejahteraan baginya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali." [QS. Maryam: 15].
Siapa yang mengikuti petunjuk Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- pasti selamat dari murka dan siksa-Nya. Inilah makna firman Allah: "Keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk." [QS. Ṭāhā: 47].
Surga adalah negeri keselamatan: "Bagi mereka (disediakan) negeri keselamatan (surga) di sisi Tuhannya." [QS. Al-An'ām: 127]
Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- memberi salam kepada hamba-hamba-Nya di surga: "(Kepada mereka dikatakan), 'Salām,' sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." [QS. Yāsīn: 58]
Para malaikat juga mengucapkan salam kepada hamba-hamba Allah yang saleh ketika mencabut nyawa mereka sembari menenangkan mereka: "Orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), 'Salāmun 'alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.'" [QS. An-Naḥl: 32]
Bagianmu dari Nama Itu ...
Di antara bentuk ibadah kepada Allah dengan nama-Nya "As-Salām" ialah dengan cara hati seorang muslim dan lisannya harus bebas dari segala bentuk keburukan kepada kaum muslimin karena Nabi ﷺ bersabda, “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari (keburukan) lisan dan tangannya. Orang yang berhijrah itu adalah orang yang berhijrah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." [HR. Bukhari dan Muslim]
Dia tidak boleh berhenti pada batasan tidak menyakiti muslim lain, melainkan dia juga harus menunaikan hak nama yang agung ini. Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya As-Salām adalah salah satu nama Allah -Ta'ālā- yang Allah letakkan di bumi, maka tebarkanlah salam di antara kalian." [Hadis sahih; HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad]
Di antara keutamaan ucapan salam "Assalāmu 'alaikum" ialah ia mengantarkan ke surga. Telah diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu, jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? (Yaitu) sebarkanlah salam di antara kalian!" [HR. Muslim]
Catatan ...
Tidak boleh mengucapkan: "as-salāmu 'alallāh"!
Alasannya ialah karena keselamatan itu berasal dari Allah dan merupakan milik-Nya. Ketika Nabi ﷺ mendengar para sahabat mengucapkan "as-salāmu 'alallāh", beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah adalah Yang Maha Pemberi keselamatan. Tetapi, ucapkanlah, 'At-taḥiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu 'alaika ayyuhan-Nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn (Segala pengagungan, selawat, dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan terlimpah kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta berkah-Nya. Semoga keselamatan terlimpah pada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh).
Asyhadu an lā ilāha illallāh wa asyhadu anna Muḥammadan 'abduhu wa rasūluh (Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya)." [HR. Bukhari dan Muslim dengan redaksi yang mirip]
Dalam riwayat lain: "Sungguh, ketika kalian mengucapkannya, ucapan itu didapatkan semua hamba Allah yang saleh di langit maupun bumi." [HR. Bukhari dan Muslim]
Ya Allah! Engkaulah Maha Pemilik keselamatan dan hanya dari-Mu keselamatan bersumber. Engkau Mahamulia, wahai Maha Pemilik keagungan dan kebaikan.
Ya Allah! Selamatkanlah bagi kami agama kami yang merupakan pangkal urusan kami. Selamatkanlah bagi kami dunia kami yang menjadi tempat kehidupan kami. Selamatkanlah bagi kami akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami. Masukkanlah kami ke negeri keselamatan. Wahai Tuhan kami! Sungguh Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
15
AL-MU`MIN ﷻ
Di atas puncak pegunungan matahari pertolongan bersinar memancar. Di atas ketinggian bukit cahaya melingkar menerangi. Sedangkan pada setiap pintu kesedihan terdapat kebahagian yang datang mengetuk.
Bukalah matamu dan tengadahkan tanganmu. Jangan bantu kesedihan menggerogotimu dan jangan biarkan pesimistis menghampirimu. Yakinlah, pasti ada yang memberimu keamanan dan menemanimu. Dialah Al-Mu`min ﷻ!
Ikan, hiu, burung, dan binatang buas, seluruhnya mengharap keamanan dari Yang Maha Pemberi keamanan -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Menghadaplah kepada Al-Mu`min ﷻ dan adukanlah keadaanmu kepada-Nya. Sungguh, pertolongan-Nya lebih cepat daripada kilat yang menyambar dan Dia memiliki banyak kebaikan di setiap saat.
Al-Mu`min adalah salah satu nama Allah ﷻ. Allah telah berfirman, "Dialah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maharaja Yang Mahasuci, Mahasejahtera, Maha Menjaga keamanan." [QS. Al-Ḥasyr: 23]
Nama Al-Mu`min disebutkan dalam Al-Qur`ān dalam satu ayat. Ia disebutkan sebagai jaminan keamanan bagi orang yang takut, pemberian keamanan bagi orang yang berharap, dan pertolongan bagi orang-orang yang bersedih.
Renungan: Di Bawah Naungan Nama Al-Mu`min
Para ulama menyebutkan bahwa nama Al-Mu`min memiliki dua makna:
Pertama: pemberian kesaksian. Kesaksian yang paling besar sejak Allah menciptakan makhluk hingga hari Kiamat ialah kesaksian Allah ﷻ untuk diri-Nya tentang keesaan serta ketunggalan-Nya dalam hak ibadah dan pujian-Nya bagi diri-Nya dengan kesempurnaan dan sifat-sifat luhur. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman tentang diri-Nya, "Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia." [QS. Āli 'Imrān: 18] Inilah kesaksian paling agung yang bersumber dari Maharaja Yang Mahaagung, yaitu Allah, Tuhan alam semesta, pada objek kesaksian yang paling agung, yaitu perkara tauhid dan pemurnian agama kepada Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- serta penegakan-Nya terhadap keadilan.
Aku bersaksi bahwa Allah tiada tuhan yang berhak disembah selain-Nya, Mahamulia lagi Maha Penyayang, tempat menaruh harapan dan angan.
Dialah yang membuktikan kebenaran ucapan-Nya dan mewujudkan janji-Nya: "Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?" [QS. An-Nisā`: 122].
Allah juga membuktikan kebenaran nabi-nabi-Nya dengan memperlihatkan ayat dan mukjizat-mukjizat nyata lewat tangan mereka: ""Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu." [QS. Āli 'Imrān: 49] "Kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sungguh kami orang yang benar." [QS. Al-Ḥijr: 64]
Allah wujudkan apa yang Dia janjikan kepada hamba-hamba-Nya berupa kemenangan dan kekuasaan di dunia serta balasan pahala di akhirat. Allah ﷻ berfirman, "Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas." [QS. Al-Anbiyā`: 9]
Demikian juga Allah tepati ancaman-Nya terhadap orang-orang kafir berupa siksaan dan kehinaan di dunia dan akhirat. Allah ﷻ berfirman, "Para penghuni surga menyeru penghuni-penghuni neraka, 'Sungguh, Kami telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada kami itu benar. Apakah kamu telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadamu itu benar?' Mereka menjawab, 'Benar.' Kemudian penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, 'Laknat Allah bagi orang-orang zalim.'" [QS. Al-A'rāf: 44]
Bahkan, seluruh informasi dari Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- benar.
Ya Allah, Tuhanku, sungguh aku sangat yakin kepada-Mu, aku tidak memiliki pintu masuk selain pintu-Mu.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mencintai orang-orang yang jujur dalam janji dan ucapan mereka: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur." [QS. At-Taubah: 119]
Kedua: pemberian keamanan, kebalikan dari memberi rasa takut, "Dia mengamankan mereka dari rasa ketakutan.” [QS. Quraisy: 4]
Manusia selalu berada dalam kondisi takut dari penyakit, kekurangan obat, penguasaan musuh, kemiskinan yang membuat lupa, atau kematian yang mengantarkan pada mati. Lalu engkau lihat mereka mencari keamanan lewat pencarian makanan, pembangunan benteng, pembangunan rumah sakit, dan pembangunan bendungan. Bahkan, individu dan negara-negara lemah berlindung kepada yang kuat demi mendapatkan keamanan.
Namun, hanya beberapa saat kekuatan itu runtuh, kelemahannya tersingkap, dan tidak ada cara lain untuk meraih keamanan kecuali kembali kepada Al-Mu`min -Subḥānahu wa Ta'ālā- karena Dialah Yang Maha Memberi keamanan kepada hamba-hamba-Nya. Mereka lari dari murka-Nya, kemudian kembali lagi kepada-Nya sebagai pencipta mereka, pencipta alam seluruhnya, dan penguasa segala sesuatu yang seluruh ubun-ubun hamba ada di tangan-Nya.
Bila siksa Allah ﷻ turun pada suatu kaum, tidak ada yang dapat mengamankan mereka dari siksa itu dan tidak ada kekuatan bagi manusia untuk menolaknya: "Sudah merasa amankah kamu bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang? Atau sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan mengirimkan badai yang berbatu kepadamu? Namun, kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku." [QS. Al-Mulk: 16-17].
Tiga Momen:
Manusia mencari keamanan di tiga momen. Keamanan di momen-momen tersebut hanya ada di tangan Al-Mu`min ﷻ Yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Dia tidak memberikannya kecuali kepada wali-wali-Nya yang bertakwa:
Momen pertama: keamanan di dunia dengan berbagai macamnya: "Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." [QS. Al-A'rāf: 96]
Momen kedua: keamanan menjelang kematian saat malaikat maut turun dan ketika di barzakh saat melihat dua malaikat.
Di sini, keamanan dan berita gembira datang kepada orang-orang beriman: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami adalah Allah', kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.'" [QS. Fuṣṣilat: 30]
Momen ketiga: keamanan di akhirat pada saat hari Kiamat. Pada saat itu, keamanan besar hanya diberikan kepada orang-orang bertakwa. Allah ﷻ berfirman, "Kejutan yang dahsyat tidak membuat mereka merasa sedih dan para malaikat akan menyambut mereka (dengan ucapan), 'Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.'" [QS. Al-Anbiyā`: 103]
Rasa aman tidak diberikan kecuali bagi orang yang bertauhid: "Siapa yang membawa kebaikan, maka dia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka merasakan keamanan dari kejutan (yang dahsyat) pada hari itu." [QS. An-Naml: 89]
Anda akan mendapatkan keamanan sesuai kadar iman Anda, karena Allah ﷻ berfirman, "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (kesyirikan), mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk." [QS. Al-An'ām: 82]
Bagianmu dari Nama Itu ...
Oleh karena itu, di antara buah positif nama yang agung ini bagi orang beriman ialah mereka mengetahui bahwa Allahlah yang memberikan mereka keamanan ketika mendapat ujian, musibah, dan kesulitan. Mereka juga mengetahui bahwa balasan itu sejenis dengan perbuatan. Sebab itu, mereka memberi rasa aman kepada manusia dari keburukan dan kejahatan mereka sendiri karena menginginkan rasa aman dari Allah dan karena takut rasa aman itu dicabut dari mereka pada hari Kiamat kelak.
Diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, "Maukah kalian kukabari siapakah orang mukmin itu? Yaitu orang yang manusia merasa aman darinya pada harta dan diri mereka. Sedangkan orang muslim itu ialah yang manusia selamat dari keburukan lisan dan tangannya." [Hadis sahih; HR. Ahmad dalam Al-Musnad]
Ya Allah! Berikanlah kami keamanan di negeri kami ... Ya Allah! Berikan kami keamanan pada rasa takut kami, berikan catatan amal kami di tangan kanan kami, dan permudahlah hisab kami.
17
AL-MUHAIMIN ﷻ
Pesan ini ditujukan kepada semua orang yang bosan terhadap kehidupan, jemu pada kondisi hidupnya, merasakan hari-hari yang sulit, dan sesak perasaannya. Kami sampaikan kabar gembira kepadamu bahwa pasti ada solusi yang nyata, kebahagiaan yang dekat, serta pertolongan dan kemudahan setelah adanya kesulitan.
Sungguh, ada harapan yang cerah, masa depan yang baik, dan janji yang pasti: (Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. [QS. Ar-Rūm: 6] Bukankah Sang Pelindung dan Penciptamu telah berfirman, "Hanya milik Allahlah Al-Asmā` Al-Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.’" [QS. Al-A'rāf: 180] Kemudian, ketika engkau berdoa dengannya, apa hasilnya? "Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'" [QS. Gāfir: 60]
Kita di sini mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dengan mempelajari salah satu nama-Nya yang indah, yaitu Al-Muhaimin ﷻ.
Mengenal Allah ﷻ dengan nama-nama-Nya yang indah serta sifat-sifat-Nya adalah pokok agama dan pangkal hidayah, serta perkara paling utama dan paling wajib yang dihimpun oleh hati, diwujudkan oleh jiwa, dan dipahami oleh akal.
Nama Allah ﷻ "Al-Muhaimin (Pemelihara Keselamatan)" disebutkan di akhir surah Al-Ḥasyr: "Dialah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maharaja Yang Mahasuci, Mahasejahtera, Maha Menjaga keamanan, Maha Pemelihara keselamatan." [QS. Al-Ḥasyr: 23]
Tuhan kita, Al-Muhaimin ﷻ ialah Tuhan yang mengurus makhluk-Nya di semua urusan dan kepentingan mereka. Dia mengetahui semua perkara yang samar dan isi hati mereka. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dia yang menjadi saksi atas perbuatan mereka serta yang mengawasi ucapan dan perbuatan mereka. Tidak ada satu pun perbuatan mereka yang luput dari-Nya, bahkan sebesar zarah pun yang ada di langit maupun di bumi tak pernah luput dari-Nya: "Tidak ada sedikit pun yang luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarah, baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam kitab yang nyata (Loh Mahfuz)." [QS. Yūnus: 61]
Lihatlah semua keadaan dan perihal hamba di waktu siang dan malamnya, di kala sendiri dan keramaiannya, di negerinya dan saat safarnya; semuanya diketahui oleh Allah Yang Maha Mengetahui perkara gaib dan Dia menghitung semua itu: "Maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi." (QS. Tāhā: 7)
Bagi-Nya, bisik-bisik adalah hal yang jelas, perkara rahasia adalah hal nyata, dan sesuatu yang tersembunyi adalah hal yang tersingkap.
Dialah Yang Maha Memelihara ...
Orang-orang munafik mencoba mengatur konspirasi dan merajut makar di malam hari, tetapi Allah Yang Maha Mengetahui perkara gaib menelanjangi mereka. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Sungguh, Allah Maha Meliputi terhadap apa yang mereka kerjakan." [QS. An-Nisā`: 108]
Setelah perang Badar, 'Umair bin Wahb duduk bersama Ṣafwān bin Umayah di dekat Ka'bah pada malam hari untuk mengatur pembunuhan Rasulullah ﷺ, tetapi Allah mengabarkan makar mereka dan menginformasikan konspirasi itu pada Rasul-Nya.
Dialah Maharaja yang memelihara di atas Arasy langit, pada keagungan-Nya wajah-wajah makhluk tertunduk dan bersujud.
Sungguh, Dialah Al-Muhaimin; Yang Maha Menjaga, Maha Memberi keamanan, Maha Menyaksikan, dan Maha Mengawasi amal perbuatan makhluk-Nya.
Tenanglah!
Wahai engkau yang memenuhi kedua matamu dengan air mata! Hapuslah air matamu, keringkan bola matamu, dan tenanglah! Sungguh, engkau mendapat penjagaan dari Sang Pencipta alam semesta dan kasih sayang-Nya menyertaimu.
Tenanglah, wahai hamba! Ketetapan telah usai, pilihan sudah ditentukan, dan kasih sayang itu ada.
Betapa sering kita khawatir mati, tetapi ternyata kita tidak mati!
Betapa sering jalan hidup kita sempit, semua solusi kita terputus, dan cakrawala terasa gelap di depan muka kita, namun tiba-tiba pertolongan, kebaikan, dan berita gembira hadir! Katakanlah (Muhammad), 'Allah yang menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, namun kemudian kamu (kembali) mempersekutukan-Nya.'” [QS. Al-An'ām: 64]
Betapa sering dunia di depan kita menjadi gelap serta langit dan bumi yang luas menjadi sempit, namun kebaikan yang besar serta kemudahan tiba-tiba muncul! "Jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Sebaliknya, jika Dia menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. Yūnus: 107]
Tuhan kitalah Yang Maha Memelihara ﷻ. Keagungan adalah milik-Nya, kemenangan adalah kepunyaan-Nya, dan pertolongan berasal dari-Nya.
Ibnu Kaṡīr meriwayatkan sebuah riwayat dari Wahb bin Munabbih, ia berkata, "Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman di dalam sebagian Kitab-Nya, 'Demi keagungan dan kemuliaan-Ku! Tidaklah seorang hamba berlindung kepada-Ku, lalu langit dan bumi hampir menimpanya, kecuali aku berikan kepadanya di antara itu semuanya pertolongan dan jalan keluar. Demi keagungan dan kemuliaan-Ku! Tidaklah seorang hamba berlindung kepada selain-Ku, kecuali ia ditenggelamkan ke bumi dari bawah kedua kakinya.'"
Ya Muhaimin! Keagungan-Mu tidak sirna, kerajaan-Mu abadi selalu baru, putusan-Mu terlaksana di semua urusan, dan tidak ada yang terjadi kecuali yang Engkau kehendaki.
Kudatangi semua raja, namun semua pintu dijaga penjaga yang kasar dan bengis. Sedang pintu-Mu adalah sumber kebaikan, wahai Tuhan yang dituju oleh hamba yang terusir.
Sebab Keselamatan ...
Tuhan kita ﷻ telah menyifati Kitab-Nya -yaitu Al-Qur`ān- sebagai penjaga bagi kitab-kitab terdahulu: "Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur`ān) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya." [QS. Al-Mā`idah: 48]
Al-Qur`ān adalah hakim atas kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur`ān datang dengan kandungan yang terbaik di antara isi kitab-kitab itu dan menasakh sebagian isinya. Al-Qur`ān menceritakan kepada Bani Israil perkara yang paling banyak mereka perselisihkan, ia menampakkan penyimpangan mereka dan menampakkan kebenaran yang terkandung dalam kitab-kitab terdahulu.
Tidaklah seorang muslim mengimani ini melainkan akan membuahkan pengagungan kepada kitab Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dalam dadanya disertai adanya cinta, kegembiraan, pujian, dan rasa syukur kepada Allah atas petunjuk yang diberikan kepadanya. Petunjuk inilah yang didambakan oleh setiap orang dan diminta oleh seorang mukmin dalam setiap rakaat salatnya: "Tunjukilah kami jalan yang lurus." [QS. Al-Fātiḥah: 6]
Ya Allah! Ya Muhaimin! Tunjukilah kami di antara orang-orang yang Engkau berikan petunjuk. Tolonglah kami di antara orang-orang yang Engkau berikan pertolongan. Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan semua kaum muslimin.
18
AL-'AZĪZ ﷻ
Dalam Al-Mustadrak, Al-Ḥākim menyebutkan bahwa Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- ketika datang ke Syam harus melewati anak sungai, maka Umar turun dari untanya dan melepas kedua terompahnya, lalu menuntun tali kekang kendaraannya seraya menerobos sungai itu.
Abu 'Ubaidah bin al-Jarrāḥ lalu berkata, "Wahai Amirul Mukminin! Engkau telah melakukan perbuatan besar menurut penduduk negeri ini! Engkau melepas terompahmu, menuntun kendaraanmu, dan menerobos sungai."
Maka Umar memukulkan tangannya ke dada Abu 'Ubaidah dan mengatakan, "Duhai! Seandainya yang mengatakan ini bukan kamu, wahai Abu 'Ubaidah!
Kalian dulu orang yang paling sedikit, lalu Allah muliakan kalian dengan Islam. Bagaimanapun kalian mengejar kemuliaan dengan selain Islam, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- pasti menghinakan kalian."
Allah -Tabāraka wa Ta’ālā- berfirman, "Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah." [QS. Fāṭir: 10]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- pun memuji zat-Nya yang tinggi dalam firman-Nya, "Sungguh, Tuhanmu, Dialah Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang." [QS. Asy-Syu'arā`: 9] "Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Perkasa, Mahabijaksana." [QS. Āli 'Imrān: 6] Dia telah memerintahkan kita semua dari atas langit yang tujuh agar kita mengetahui dan meyakini hal itu: "Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." [QS. Al-Baqarah: 260]
Tuhan kita Al-'Azīz -Tabāraka wa Ta'ālā- ialah yang mengumpulkan hakikat kemuliaan seluruhnya -secara sifat dan kepemilikan-, pada maknanya yang paling luhur dan kesempurnaannya yang paling tinggi; Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah." [QS. Fāṭir: 10]
Hanya milik-Nya keperkasaan dalam kekuasaan, sehingga Dialah yang perkasa atas musuh-musuh-Nya dan yang mengalahkan mereka.
Hanya milik-Nya keperkasaan dalam bertahan, sehingga tidak ada seorang pun di antara makhluk-Nya yang dapat menimpakan bahaya maupun keburukan kepada-Nya.
Hanya milik-Nya keperkasaan dalam kekuatan, sehingga perkara-perkara yang sulit tunduk pada keperkasaan-Nya serta urusan-urusan yang berat melunak pada kekuatan-Nya.
Dialah Mahaperkasa -Tabāraka wa Ta'ālā- yang memberikan kemuliaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.
Dialah Mahaperkasa -Tabāraka wa Ta'ālā- yang tidak menzalimi tetangga-Nya dan tidak menghinakan pembela-Nya.
Dialah Mahaperkasa, tidak akan dikhianati, bagaimana mungkin Sang Penguasa akan dikhianati, padahal Dialah Yang Mahaperkasa, Mahakuasa, dan Mahamenang, tak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan-Nya; inilah dua sifat.
Dialah Mahaperkasa dengan kekuatan yang merupakan sifat-Nya, maka kemuliaan saat itu memiliki tiga makna, yaitu yang sempurna bagi-Nya dari semua sisi tanpa cacat cela.
Penjagaan Allah Yang Mahaperkasa
Ketika orang-orang yang beriman mengetahui dan mengimani bahwa kemuliaan hanya berasal dari Allah, mereka pun merendahkan diri kepada Allah Yang Mahaperkasa, berlindung kepada-Nya, mencari keamanan pada penjagaan-Nya, bernaung di sisi-Nya, dan mencari kemuliaan pada-Nya karena mereka membaca firman Allah ﷻ: "Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah." [QS. Fāṭir: 10]
Al-Madā`iniy menyebutkan dalam bukunya: Seorang laki-laki penduduk Yaman datang kepada Al-Ḥajjāj mengadukan saudaranya, Muhammad bin Yūsuf. Ia lalu mendapati Al-Ḥajjāj sedang di atas mimbar. Maka dia pun berdiri menemuinya lalu mengadukan saudaranya, Muhammad. Al-Ḥajjāj lalu memerintahkan supaya ia ditangkap lalu disekap. Ketika ia telah turun dari mimbar, ia memanggilnya dalam keadaan marah padam. Dia berkata, "Alangkah beraninya kamu mengadukan saudaraku?!" Laki-laki itu menjawab, "Aku lebih mulia dengan Allah daripada kemuliaan saudaramu denganmu." Maka Al-Ḥajjāj berkata, "Bebaskan dia."
Jangan suguhkan padaku gelas air yang manis dengan kehinaan, tetapi suguhkan padaku gelas air yang pahit dengan kemuliaan.
Semakin agung nama ini di hati seorang muslim serta ia berusaha mewujudkannya dalam kehidupannya, maka kemuliaan yang diraihnya akan semakin besar. "Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin." [QS. Al-Munāfiqūn: 8]
Orang yang paling mulia ialah para nabi, kemudian orang-orang beriman di bawah mereka.
Oleh karena itu, tidak ada yang mulia di dunia dan akhirat kecuali orang yang dimuliakan oleh Allah: "Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Allah pemilik kekuasaan! Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." [QS. Āli 'Imrān: 26]
Bagi Para Pencari Kemuliaan ...
Siapa yang merasa mulia dengan selain Allah ﷻ, sungguh dia mengejar kemuliaan dengan kekuasaan yang sirna dan kekuatan yang fana.
Siapakah yang kuasa berdiri di hadapan Allah untuk melawan dan mengalahkan-Nya?! Sekelompok orang telah merasa mulia dengan Firaun: "Lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka seraya berkata, 'Demi kemuliaan Firaun, pasti kamilah yang akan menang.'” [QS. Asy-Syu'arā`: 44] Lalu apa hasilnya? "Kemudian Musa melemparkan tongkatnya, maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu." [QS. Asy-Syu'arā`: 45]
Banyak orang mencari kemuliaan di sisi orang-orang kafir dan musuh-musuh agama. Mereka itu tidak mengagungkan Allah ﷻ dengan pengagungan yang sebenarnya serta belum mengenal-Nya dengan pengetahuan yang benar! Kalaulah itu mereka lakukan, maka hati mereka akan memandang hina orang-orang yang mereka loyalkan itu sekuat apa pun kekuatan mereka dan sebanyak apa pun jumlah pengikut mereka. Mereka itu bukan apa-apa di sisi keagungan, kekuatan, keperkasaan, dan kebesaran Allah ﷻ.
Allah ﷻ telah mengabarkan kepada mereka bahwa kemuliaan dan kebahagiaan yang mereka cari tidak akan mereka temukan di selain Allah. Bahkan, keadaan mereka akan seperti keadaan orang-orang munafik, yaitu lahiriah mereka bertolak belakang dengan batin mereka: "Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (Yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah." [QS. An-Nisā`: 138-139]
Di antara manusia ada juga yang mencari kemuliaan lewat dirinya dan keluarga besarnya. Dalam Musnad Imam Ahmad, diriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab -raḍiyallāhu 'anhu-, ia meriwayatkan: Ada dua orang laki-laki di masa Rasulullah ﷺ saling membanggakan nasab. Salah satunya berkata, "Saya fulan bin fulan bin fulan. Lalu, kamu siapa?!"
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Pernah dua orang laki-laki di masa Musa -'alaihissalām- saling menyebutkan nasab. Salah satu mereka berkata, 'Saya fulan bin fulan... hingga dia menyebutkan sembilan orang ... lalu kamu siapa?!' Yang kedua menjawab, 'Saya fulan bin fulan, putra Islam.'
Maka Allah menurunkan wahyu kepada Musa -'alaihissalām- tentang kedua orang yang saling menyebutkan nasab itu: Adapun kamu, wahai orang yang menyebutkan nasabnya hingga sembilan, maka berada di neraka. Kamu yang kesepuluh mereka.
Adapun kamu, wahai yang menyebutkan nasab hingga dua, maka berada di surga. Kamu yang ketiga di surga setelah mereka berdua.'" [Hadis sahih]
Ada ungkapan: Siapa yang merasa mulia dengan jabatannya hendaklah melihat Firaun. Siapa yang merasa mulia dengan hartanya hendaklah melihat Karun. Siapa yang merasa mulia dengan nasabnya hendaklah melihat Abu Lahab. Kemuliaan sebenarnya hanyalah dengan ketakwaan.
Benar sekali orang yang mengatakan, "Kita adalah orang-orang yang dimuliakan Allah dengan Islam. Maka bagaimanapun kita mencari kemuliaan di selainnya, Allah pasti menghinakan kita."
Sebab terbesar keterpurukan umat Islam di masa ini ialah mereka sama sekali tidak merasa mulia dengan Allah ﷻ.
Dia Akan Memberimu Kemuliaan ...
Tatkala orang-orang kafir mengancam Rasulullah ﷺ, melemparkan kata-kata keji kepada beliau, dan membanggakan kekuatan mereka, Allah menurunkan sebuah ayat untuk menghibur Rasul-Nya ﷺ sekaligus mengabarkan kelemahan manusia semuanya, yaitu dalam firman-Nya: "Janganlah engkau (Muhammad) sedih oleh perkataan mereka. Sungguh, kemuliaan itu seluruhnya milik Allah. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui." [QS. Yūnus: 65]
Semakin tinggi keimanan, maka kemuliaan semakin bertambah dalam hati seorang mukmin dan bertambah pula keyakinannya dengan adanya pertolongan dan kemenangan karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah berfirman, "Allah tidak menjadikannya (pemberian bala-bantuan itu) melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan) kamu dan agar hati kamu tenang karenanya. Sungguh, tidak ada kemenangan itu, selain dari Allah Yang Mahamulia, Mahabijaksana." [QS. Āli 'Imrān: 126] Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman, "Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa." [QS. Al-Ḥajj: 40]
Siapa yang meraih iman akan meraih kemuliaan dan siapa yang meraih kemuliaan telah meraih cinta Allah ﷻ. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah berfirman, "Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap mulia terhadap orang-orang kafir." [QS. Al-Mā`idah: 54]
Ibnu Kaṡīr berkata, "Siapa yang ingin mulia di dunia dan akhirat, hendaklah selalu melakukan ketaatan kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, maka akan terwujudkan baginya apa yang diinginkannya, karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah pemilik dunia dan akhirat dan hanya milik-Nya kemuliaan seluruhnya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sesungguhnya semua kemuliaan itu milik Allah." [QS. An-Nisā`: 139]
Ibrahim al-Khawwāṣ -raḥimahullāh- berkata, "Sesuai kadar pemuliaan seorang mukmin kepada perintah Allah, seperti itulah yang akan diberikan oleh Allah dari kemuliaan-Nya, dan Allah akan menegakkan untuknya kemuliaan di dalam hati orang-orang beriman. Itulah makna firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." [QS. Al-Munāfiqūn: 8]
Kunci-kunci Kemuliaan
Kemuliaan tidak akan terwujud kecuali dengan melakukan sebab-sebabnya, yaitu:
1- Dengan keimanan. Allah ﷻ berfirman, "Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." [QS. Al-Munāfiqūn: 8]
2- Dengan bersikap tawaduk kepada orang-orang beriman. Allah ﷻ berfirman, "Yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap mulia terhadap orang-orang kafir." [.QS. Al-Mā`idah: 54]
3- Dengan memberi maaf. Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah Allah menambahkan pada seorang hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan." [HR. Muslim]
4- Dengan mendekatkan diri kepada Allah lewat nama ini dalam doa. Lihatlah Ibrahim -'alaihissalām- yang di antara doanya: "Ya Tuhan kami! Janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." [QS. Al-Mumtaḥanah: 5]. Demikian juga para malaikat pemikul Arasy mendoakan orang-orang beriman dengan nama ini: "Ya Tuhan kami! Masukkanlah mereka ke dalam surga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang yang saleh di antara nenek moyang mereka, istri-istri, dan keturunan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijakasana." [QS. Gāfir: 8]
Nabi ﷺ bila terbangun dari tidurnya di malam hari biasa membaca doa: "Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa, Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, Yang Mahamulia, Maha Pengampun." [Hadis sahih; HR. Ibnu Ḥibbān]
Lihatlah Nabi ﷺ mengajarkan seorang laki-laki yang datang menemuinya karena mengeluhkan sakit agar beribadah dengan kemuliaan Allah. Sang Kekasih ﷺ bersabda kepadanya, "Letakkanlah tangan kananmu di atas bagian yang sakit, lalu baca sebanyak tujuh kali: 'Bismillāh, a'ūżu bi 'izzatillāhi wa qudratihi min syarri mā ajidu wa uḥāżir (Dengan nama Allah, aku berlindung dengan kemuliaan Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan yang aku dapatkan dan aku takutkan).'" [HR. Muslim]
Renungkanlah!
Nama Allah "Al-'Azīz" bergandengan dengan nama-nama-Nya: Al-Qawiy, Al-Ḥakīm, Al-'Alīm, Al-Ḥamīd, Al-Gafūr, Al-Wahhāb, dan Al-Muqtadir.
Sungguh, hal ini merupakan wujud kesempurnaan kasih sayang-Nya dan pelimpahan kebaikan-Nya kepada kita semua.
Ini menjadi dalil tentang kesempurnaan nama-nama Tuhan kita serta sifat-sifat-Nya yang luhur, bahwa ia saling berkaitan satu sama lain. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- di samping memiliki kesempurnaan kemuliaan, kekuatan, keperkasaan, serta kerasnya siksa-Nya, Dia juga sempurna dalam kebijaksanaan-Nya, pengetahuan-Nya, sangat berkasih sayang dan iba kepada hamba-hamba-Nya, terpuji di dalam perintah-perintah-Nya, serta terpuji di dalam perkataan, perbuatan, dan hukum-hukum-Nya.
Kemuliaan-Nya adalah kebijaksanaan, kasih sayang, dan keadilan: "Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Perkasa, Mahabijaksana." [QS. Āli 'Imrān: 6]
Manakala kemuliaan-Nya adalah kemuliaan yang penuh kesempurnaan dan keagungan, maka Allah berhak dipuji selamanya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji." [QS. Ibrāhīm: 1]
Wahai Maharaja yang memegang ubun-ubun serta keputusannya terlaksana di segala sesuatu!
Aku berlindung kepada-Mu, wahai Yang Mahamulia, tidak pernah rugi hamba yang berlindung mencari jaminan dengan keperkasaan-Mu.
"Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang Mahaperkasa dari sifat yang mereka katakan. Selamat sejahtera bagi para rasul. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan seluruh alam." [QS. Aṣ-Ṣāffāt: 180-182].
Ya Allah! Ya 'Azīz! Muliakan kami dengan ketaatan kepada-Mu dan jangan hinakan kami dengan bermaksiat kepada-Mu.
19
AL-JABBĀR ﷻ
Bila zaman berpaling dan teman-teman tidak bersahabat, pun kegelapan datang dan hari-hari berubah, sedangkan penyakit berlipat berat, urusan semakin sulit, dan kesusahan semakin besar, panggillah: Ya Allah... Wahai yang merajut hati orang-orang yang bersedih! Hilangkanlah kesedihanku dan kasihilah kelemahanku, niscaya Allah pasti mengabulkanmu.
Allah ﷻ berfirman tentang diri-Nya, "Dialah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maharaja Yang Mahasuci, Mahasejahtera, Maha Menjaga keamanan, Maha Pemelihara keselamatan, Mahaperkasa, Mahakuasa, dan Maha Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." [QS. Al-Ḥasyr: 23]
Al-Jabbār -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah yang mengobati hati orang yang terluka, mencukupkan orang yang fakir, dan memudahkan semua yang rumit. Dia memperbaiki hati orang-orang yang tunduk pada keagungan dan kemuliaan-Nya dengan penanganan yang khusus.
Al-Jabbār -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah Maha Menguasai segala sesuatu, yang tunduk kepada-Nya segala sesuatu, dan merendah kepada-Nya segala sesuatu.
Al-Jabbār -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah Mahatinggi di atas segala sesuatu, Dia di atas makhluk-Nya, dan bersemayam di atas Arasy-Nya.
Hanya Tuhan kita yang memiliki sifat ketangguhan yang hakiki. Dia menaklukkan semua pelaku kesewenang-wenangan dengan ketangguhan-Nya dan menundukkan mereka dengan keagungan-Nya.
Allah ﷻ telah memuji diri-Nya dengan nama ini, Dia berfirman, "Yang Mahamulia, Yang Mahakuasa, Yang Maha Memiliki segala keagungan." [QS. Al-Ḥasyr: 23]
Nabi ﷺ biasa berdoa dalam sujud dan rukuknya, "Mahasuci Allah yang memiliki sifat kekuasaan, kerajaan, kebesaran, dan keagungan." [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Jangan Saingi Dia!
Al-Jabbār (Mahakuasa, Mahaperkasa) adalah sifat pujian serta kesempurnaan bagi Allah. Adapun ketika melekat pada manusia, maka umumnya merupakan sifat tercela dan aib. Tidakkah engkau melihat di antara manusia yang mengklaim dirinya sebagai sosok kuasa (baca: sewenang-wenang) ternyata diganggu oleh kutu busuk, dimakan ulat, dihinggapi lalat, serta tertawan oleh lapar dan dibunuh oleh kekenyangan?!
Oleh karena itu, para rasul telah mengingkari sifat sewenang-wenang dan angkuh pada umatnya di muka bumi tanpa alasan yang benar. Allah telah berfirman, "Apabila kamu menyiksa, maka kamu lakukan secara kejam dan bengis." [QS. Asy-Syu'arā`: 130]
Siapa yang bersikap sewenang-wenang maka Allah ﷻ kunci hatinya: "Demikianlah Allah mengunci hati setiap orang yang sombong dan berlaku sewenang-wenang." [QS. Gāfir: 35] Allah ﷻ juga mengancam akan menyiksa orang-orang yang kejam: "Mereka memohon diberi kemenangan, dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala. Di hadapannya ada neraka Jahanam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah." [QS. Ibrāhīm: 15-16]
Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Kelak di hari Kiamat sebuah leher akan keluar dari neraka; ia memiliki dua mata yang melihat, dua telinga yang mendengar, dan satu lisan yang berbicara. Ia berkata, 'Aku ditugaskan menangani tiga jenis orang: semua orang yang sewenang-wenang lagi keras kepala, semua yang berdoa kepada tuhan lain bersama Allah, dan para penggambar.'" [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Juga telah diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Surga dan neraka berdebat. Neraka berkata, 'Aku diserahi orang-orang yang angkuh dan sewenang-wenang' ..." [HR. Muslim] Di manakah orang-orang yang angkuh ... Di manakah orang-orang yang sewenang-wenang?
Di manakah para raja dan putra mereka
serta semua yang dahulu tunduk kepadanya?
Peristiwa masa memanggil mereka, sehingga mereka pun kembali
demi mengganti negeri mereka dengan negeri yang lain.
Ketuklah Pintu Langit!
Di antara doa Nabi kita ﷺ: “Ya Allah! Berilah ampunan kepadaku, rahmati aku, berikan kepadaku pengganti, tunjuki aku, dan berikan aku rezeki.” [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Ujian kehidupan banyak sekali. Setiap hari kita terluka dengan kesedihan kehidupan ini. Sebab itu, kita butuh kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- di setiap waktu supaya Dia menggantikan musibah kita dan menguatkan kelemahan kita.
Muda dan tua, kemiskinan dan kekayaan, demi Allah, bagaimana bisa kehidupan ini terbolak-balik?!
Orang yang sakit terkulai di atas tempat tidurnya sambil melawan sakit, lalu ia memanggil, "Ya Allah!" Seketika Allah menghilangkan ujiannya dan menurunkan kesembuhan dari sisi-Nya.
Orang yang fakir terluka, dia tidak memiliki apa pun, walaupun harta yang sedikit, menghela nafas dengan panjang karena tidak punya apa-apa, dan menangis lantaran sengsara, lalu menatap ke langit seraya memanggil, "Ya Allah!" Seketika Al-Jabbār menggantikan kesedihannya, mengangkat kemiskinannya, dan menyingkirkan kesempitannya.
Orang yang terzalimi pun terluka, ia menyembunyikan rintihannya serta mengusap air matanya, lalu dia bersungkur di depan pintu Allah seraya memanggil, "Ya Allah!" Seketika Al-Jabbār membalaskannya, mengirimkan tentara-Nya, dan menurunkan pertolongan-Nya.
Seorang tahanan terkulai di sel tahanannya, ia dibelenggu dengan besi dan diikat dengan rantai, lantas dia memanggil, "Ya Allah!" Seketika Al-Jabbār mengangkat ujiannya dan membuka pintu-pintu untuknya. Ternyata rantainya dilepas dan pertolongan pun datang.
Seorang yang mandul pun terkulai, ia dibalut sedih dan lemah harapan, lalu dia mengambil sajadahnya dan memanjangkan tangisnya seraya memanggil, "Tuhanku, berikanlah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu!" Ternyata Al-Jabbār mengobati lukanya seraya mengirim perintah, pertolongan, dan bantuan-Nya; tiba-tiba sesuatu yang dianggap mustahil kini hadir, senyum pun tersungging dan kehamilan pun hadir.
Dialah Al-Jabbār ﷻ, Dia melepas belenggu, mengobati hati, tulang, dan jiwa, menghapus air mata, mengangkat ujian, menyingkirkan kesulitan, dan mengirim kemudahan.
Semua makhluk memanggil-Nya seraya berdoa, "Sembuhkanlah luka kami dan kasihilah kelemahan kami!" "Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan." [QS. Ar-Raḥmān: 29]
Bila mata perhatian mengawasimu, tidurlah, karena semua peristiwa pasti akan aman.
Semua ujian yang mengembalikanmu kepada Allah, maka itu adalah obat sekalipun menyakitimu.
Allah ﷻ berfirman, "Tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya. Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu." [QS. Al-Ḥijr: 21] Hanya di tangan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- kunci-kunci pertolongan bersumber. Bila ujian dan kesedihan menghentikanmu, maka datanglah kepada Tuhan Maharaja dan Mahatahu, yang mengobati hati dan luka, panggillah, "Wahai yang mengobati orang-orang yang bersedih! Obatilah lukaku, kasihilah kelemahanku, dan angkatlah kesedihanku: "Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan?" [QS. An-Naml: 62]
Bisa jadi suatu musibah menyebabkan hati pemuda sempit,
namun di sisi Allah terdapat solusinya.
Kala gelang-gelangnya mencengkeram hingga menjadi sempit,
tiba-tiba ia dilonggarkan, padahal ia mengiranya tidak akan dilepas.
Jadilah Laksana Balsam!
Ingatlah, bahwa kesusahan adalah duka dunia. Bila engkau melihat orang dalam kesusahan, jadilah sebagai orang yang dikirim Allah untuk mengobati dukanya karena ada pahala besar bagi siapa yang dapat menghilangkan duka orang yang kesusahan di hari Kiamat kelak.
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Siapa yang menghilangkan satu kesulitan dunia dari seorang muslim, maka Allah akan hilangkan darinya satu kesulitan hari Kiamat." [HR. Muslim] "Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu." [QS. Al-Qaṣaṣ: 77] "Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." [QS. Āli 'Imrān: 134]
Jadilah balsam bila duniamu berbisa dan jadilah gula bila selainmu pahit.
Ya Allah! Wahai Tuhan yang merajut hati orang-orang yang terluka! Gantikan duka kami, kasihi kelemahan kami, dan ampunilah kesalahan kami dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan yang paling pengasih!
20
AL-MUTAKABBIR ﷻ
Segala keagungan (kebesaran_ hanya milik Allah ﷻ. Allah berfirman memuji diri-Nya, "Hanya bagi-Nya segala keagungan di langit dan di bumi dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." [QS. Al-Jāṡiyah: 37]. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- juga berfirman, "Dialah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maharaja Yang Mahasuci, Mahasejahtera, Maha Menjaga keamanan, Maha Pemelihara keselamatan, Mahaperkasa, Mahakuasa, Maha Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." [QS. Al-Ḥasyr: 23]
Tuhan kita ﷻ mengagungkan diri dari semua keburukan dan kejelekan dan dari menzalimi hamba.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Tuhan yang menyombongkan diri-Nya terhadap makhluk-Nya yang zalim bila mereka menandingi-Nya dalam sifat keagungan.
Dialah yang menyombongkan diri dari semua keburukan dan yang mengagungkan diri dari sifat-sifat makhluk dan tercela yang tidak patut bagi-Nya.
Makna asal "al-kibriyā`" ialah menolak. Tuhan kita ﷻ menolak atau menjauhkan diri dari sifat cacat, keburukan, dan aib.
Ibadah yang Penuh Ketundukan
Huruf tā` pada nama-Nya "Al-Mutakabbir" bukan tā` yang menunjukkan upaya dan pemaksaan diri. Seperti dikatakan, "Fulān yata'aẓẓam" (artinya: fulan membesarkan diri), padahal dia tidaklah besar. Melainkan ia adalah tā yang menunjukkan kekhususan dan keistimewaan.
Sikap takabur (bangga diri) tidak patut kecuali bagi Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- karena Dia sendiri Yang Maharaja, sedangkan selain-Nya hanyalah kekuasaan-Nya. Dialah satu-satunya Tuhan Yang Maha Memiliki, sedangkan selain-Nya berada di bawah kepemilikan-Nya. Dialah satu-satunya Maha Pencipta, sedangkan selain-Nya hanyalah ciptaan-Nya. Dialah satu-satunya Tuhan Yang Maha Esa dengan sifat-sifat kesempurnaan, keindahan, keagungan, dan kemuliaan.
Oleh karena itu, Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- mengkhususkan sifat ini untuk diri-Nya dan mengancam orang yang bersifat dengannya dengan siksa yang berat.
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, Allah ﷻ berfirman, "Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Siapa yang menandingi-Ku di salah satunya, sungguh Aku akan melemparkannya di neraka." [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Al-Khaṭṭābiy berkata, "Penyebutan selendang dan sarung sebagai permisalan dalam hal itu. Seakan-akan Dia hendak menyampaikan -wallāhu a'lam-, 'Sebagaimana seseorang tidak disertai dalam selendang dan sarungnya oleh siapa pun, maka demikian juga Aku tidak disertai dalam kesombongan dan keagungan oleh seorang makhluk.' Wallāhu a'lam."
Kedudukan makhluk ialah kedudukan penghambaan, ketundukan, penghinaan diri, dan kerendahan kepada Allah Yang Mahabesar, Mahatinggi, dan Maha Pemilik kemuliaan dan kebaikan. Barangkali inilah salah satu rahasia berzikir kepada Allah dengan kalimat takbir ketika rukuk dan sujud serta menyebutkan kebesaran dan keagungan-Nya di tengah-tengah rukuk dan sujud.
Nabi ﷺ biasa di dalam rukuk dan sujudnya membaca: "Mahasuci Allah yang memiliki sifat kekuasaan, kerajaan, kebesaran, dan keagungan." [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- membersihkan para nabi dan hamba-hamba-Nya yang saleh dari kesombongan. Bahkan, mereka juga berlindung dari sifat sombong dan takabur: "(Musa) berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari perhitungan.'" [QS. Gāfir: 27]
Renungkanlah Akibatnya!
Siapa yang bersifat sombong, maka jiwanya akan rusak, kesalehannya hilang, dan hatinya dikunci dengan noda-noda hitam: "Demikianlah Allah mengunci hati setiap orang yang sombong dan berlaku sewenang-wenang." [QS. Gāfir: 27] Allah -Subhānahu wa Ta’ālā- juga berfirman, "Yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai." [QS. Gāfir: 56]
Imamnya orang-orang yang menyombongkan diri ialah Iblis: "Kecuali Iblis; ia menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir." [QS. Ṣād: 74] Ia merupakan sifat raja-raja yang sewenang-wenang, seperti Firaun dan raja-raja kejam semisalnya: "Dan dia (Firaun) dan bala tentaranya berlaku sombong di bumi tanpa alasan yang benar, dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami." [QS. Al-Qaṣaṣ: 39]
Siapa yang harta dan pengikutnya bertambah lalu menyebabkannya menentang Allah, berarti kesombongan telah masuk ke dalam hatinya dan menghalanginya untuk menerima kebenaran. Dia sama seperti Al-Walīd bin Al-Mugīrah: "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri." [QS. Al-Muddaṡṡir: 23]
Kesombongan adalah sebab kebinasaan umat-umat yang mendustakan kebenaran: "Maka adapun kaum 'Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran." [QS. Fuṣṣilat: 15]
Allah ﷻ berfirman tentang kaum Nabi Saleh -'alaihissalām-, "Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu percayai.'" [QS. Al-A'rāf: 76]
Tempat terakhir orang-orang yang menyombongkan diri ialah neraka Jahanam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali: "Bukankah neraka Jahanam itu tempat tinggal bagi orang yang menyombongkan diri?" [QS. Az-Zumar: 60]
Disebutkan dalam riwayat Tirmizi bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Orang-orang yang sombong kelak hari Kiamat akan dibangkitkan seperti semut merah kecil dalam rupa laki-laki. Mereka diselimuti kehinaan dari semua tempat, digiring ke suatu penjara di dalam Jahanam yang disebut būlas, mereka disekap api neraka, dan diberi minum kotoran penghuni neraka yang telah rusak." [Hadis sahih] Semoga Allah melindungi kita dari siksa neraka.
Obat Penyembuh
Siapa yang dihinggapi kesombongan, hendaklah ia memandang sisi batinnya dengan pandangan orang yang berakal, bukan melihat sisi lahirnya layaknya pandangan binatang!
Hendaklah ia mengingat asal penciptaannya dan dari mana ia keluar? Sementara ia akan berakhir di dunia ini sebagai bangkai yang busuk!
Diceritakan bahwa Muṭarrif bin Abdullah bin Asy-Syikhkhīr menatap Al-Muhallab bin Abu Ṣufrah yang memakai setelan yang diseret dan berjalan dengan sombong. Dia lalu berkata, "Wahai Abu Abdillah! Mengapa engkau berjalan seperti ini yang dimurkai oleh Allah dan Rasul-Nya?" Al-Muhallab menjawab, "Tidakkah engkau mengenalku?" Dia berkata, "Saya sungguh mengenalmu. Permulaanmu adalah mani yang busuk, dan ujungmu adalah bangkai yang kotor. Sedangkan isi perutmu di dalamnya kencing dan tinja."
Kiranya manusia merenungkan isi perut mereka, mereka tidak akan merasa sombong, pemuda maupun tua.
Al-Munāwiy -raḥimahullāh- berkata, "Sepatutnya seseorang tidak merendahkan siapa pun. Boleh jadi, orang yang direndahkan itu hatinya lebih bersih, amalnya lebih mulia, dan niatnya lebih tulus. Sungguh, merendahkan para hamba Allah akan melahirkan kerugian dan mendatangkan kehinaan."
Ibnu Taimiyah berkata, "Pelaku maksiat yang takut (kepada Allah) lebih baik dari pelaku ibadah yang sombong."
Orang yang berakal harusnya bersikap merendah, mau duduk bersama ulama serta orang-orang lemah, menjenguk orang sakit, mendatangi orang sekarat dan orang-orang yang tertimpa musibah, dan memperhatikan riwayat dan berita orang-orang sombong; bagaimana hidup mereka dan ke mana mereka berakhir?
Sepertinya kau belum mendengar berita orang terdahulu
dan belum melihat apa yang diperbuat masa pada orang tersisa.
Bila kau belum tahu, maka itulah rumah-rumah mereka
serta kubur-kubur mereka, telah disapu serangan badai.
Ya Allah! Kami memohon kepada-Mu dengan nama-Mu Al-Mutakabbir agar Engkau mengasihi kelemahan kami, menutup aib kami, dan mengampuni dosa kami, serta jangan jadikan kami orang yang sombong, wahai Tuhan alam semesta!
21-22
AL-KHĀLIQ AL-KHALLĀQ ﷻ
Lihatlah alam semesta! Berdirilah bersama kami, wahai orang yang berjalan, supaya saya perlihatkan indahnya ciptaan Sang Pencipta. Bumi di seputarmu serta langit bergetar, terhadap keindahan ayat dan jejak ciptaan-Nya.
Mahasuci Tuhan yang menciptakan kehidupan sembari membentuk semua makhluk, serta menetapkan berbagai takdir.
Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Siapakah yang menciptakan biji-bijian dan biji buah? Siapakah yang menerbitkan pagi, menjadikan malam tenang, serta matahari dan bulan sebagai hitungan? Siapakah yang memulai penciptaan manusia dari tanah? Siapakah yang menciptakan umat manusia dari satu jiwa? Siapakah yang memberikan segala sesuatu pada ciptaannya lalu mengarahkannya?
"Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh (sembahanmu) selain Allah." [QS. Luqmān: 11]
Mahasuci Allah yang keagungan-Nya membuat kagum akal orang-orang yang mengenal-Nya!
Mahasuci Allah yang keindahan ciptaan-Nya tampak di mata orang-orang yang berpikir!
Mahasuci Allah yang cahaya-Nya menyilaukan penglihatan para ahli ibadah!
"Mahasuci Allah, pencipta yang paling baik." [QS. Al-Mu`minūn: 14]
Kita akan berhenti sejenak bersama dua nama Allah ﷻ ini, yaitu Al-Khāliq dan Al-Khallāq ﷻ.
Allah -Subhānahu wa Ta'āla- berfirman, "Sungguh, Tuhanmu, Dialah Yang Maha Pencipta, Maha Mengetahui." [QS. Al-Ḥijr: 86] Allah juga berfirman, "Dialah Allah Yang Maha Menciptakan, Maha Mengadakan, Maha Membentuk rupa." [QS. Al-Ḥasyr: 24]
Tuhan kitalah yang menciptakan segala sesuatu setelah sebelumnya tidak ada. Dia menciptakannya tanpa ada contoh sebelumnya dan perbuatan-perbuatan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah ditetapkan sesuai ukuran yang ditetapkan-Nya padanya.
Keagungan Sang Pencipta ...
Semua yang ada di alam ini adalah ciptaan-Nya; semuanya bersaksi mengakui uluhiyah (keilahian) dan rububiyah (ketuhanan) diri-Nya. Semua yang engkau lihat di sekelilingmu dan juga yang tidak engkau lihat membuktikan adanya Allah. Dialah yang menciptakan semua yang ada dengan hikmah-Nya, serta membentuknya dengan hikmah-Nya. Dia senantiasa dan akan senantiasa di atas sifat yang agung ini.
Dia membalut tulang dengan daging, melapisi daging dengan kulit, dan menyelimuti hewan dengan wol dan bulu. Dia meniupkan roh pada janin ketika masih dalam kandungan ibunya, lalu mengeluarkannya, memberinya rezeki, menjaganya, dan mengajarinya. Dia menciptakan manusia dalam ciptaan yang paling bagus; memberikannya dua mata, satu lisan, dan dua bibir, lalu menunjukinya jalan kebaikan dan jalan keburukan: "Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun tubuhmu." [QS. Al-Infiṭār: 7-8] "Mahasuci Allah, pencipta yang paling baik." [QS. Al-Mu`minūn: 14].
Demikian juga membuktikan bahwa Dialah -Subhānahu- Yang Maha Pencipta dan yang akan membangkitkan badan ini.
Tuhan kita -Tabāraka wa Ta'ālā- menciptakan makhluk supaya mereka mengenali-Nya serta beribadah kepada-Nya: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." [QS. Aż-Żāriyāt: 56]
Keselarasan Alam Semesta
Seluruh makhluk tidak diciptakan percuma dan sia-sia. Mahasuci Allah dari hal itu! Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan segala apa yang ada di antara keduanya dengan main-main." [QS. Al-Anbiyā`: 16]
Seluruh makhluk menjadi saksi terhadap sifat-sifat Tuhan -Tabāraka wa Ta'ālā-. Seluruhnya menunjukkan nama-nama Allah yang indah dan hakikatnya serta menyuarakan dan menunjukkannya.
Perhatikanlah ukiran tubuh para makhluk, sebab ia adalah pesan dari Maharaja Yang Mahatinggi kepadamu. Sungguh, (pesan itu) telah digoreskan padanya, bila kau perhatikan ukirannya. Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah ialah tuhan yang batil.
Ia mengisyaratkan penetapan sifat untuk Tuhannya. Baik yang diam maupun yang berbicara memberikan petunjuk (kepada-Nya).
Allah -Subhānahu wa Ta'āla- berfirman, "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)" [QS. Al-Qamar: 49]
Para dokter menyatakan bahwa rongga tenggorokan telah diciptakan dengan sangat sempurna. Seandainya lebih lebar sedikit saja dari ukurannya yang ada, suara manusia akan hilang. Sebaliknya, seandainya lebih sempit sedikit saja dari ukurannya yang ada, akan mengakibatkan sulit bernafas. Sebab itu, pilihannya antara bernapas dengan nyaman tetapi suara hilang atau suara terang tetapi sulit bernapas.
"(Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Mahateliti apa yang kamu kerjakan." [QS. An-Naml: 88]
Seandainya penglihatan lebih dari batasnya yang diberikan, kehidupan kita pasti menjadi neraka!
Ketika melihat gelas air yang engkau minum sekarang, engkau melihatnya jernih, bersih, dan menarik. Andai penglihatan sedikit lebih kuat dan lebih tajam dari ukurannya, Anda akan melihat sesuatu yang menakjubkan di gelas tersebut! Anda pasti melihat banyak makhluk hidup serta bakteri-bakteri tidak berbahaya dengan jumlah tidak terhitung, ketika itu engkau tidak akan minum air: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)" [QS. Al-Qamar: 49]
Andai kekuatan pendengaran sedikit lebih naik, tentu kamu tidak akan bisa tidur malam karena semua suara akan kamu dengar. Bahkan, suara kerja alat pencernaanmu saja, kamu akan mendengarnya seperti halnya mesin-mesin pabrik besar: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)" [QS. Al-Qamar: 49]
Andai kekuatan indra peraba ditambah, engkau akan dapat merasakan tenaga listrik yang kuat yang akan mengubah hidupmu menjadi siksaan yang tidak disanggupi: "(Juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikan?" [QS. Aż-Żāriyāt: 21]
"Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh (sembahanmu) selain Allah." [QS. Luqmān: 11]
Kamu akan bingung terhadap sebagian orang yang nalurinya terbalik serta jiwanya sakit! Mereka memperdebatkan Allah, padahal hal itu telah tertanam dalam jiwa mereka: "Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." [QS. An-Naml: 14]
"Sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah.' Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah.' Tetapi, kebanyakan mereka tidak mengetahui." [QS. Luqmān: 25]
Tenanglah!
Orang beriman yakin bahwa ia mulia dengan Sang Khalik, sehingga jiwanya tenteram. Dia juga meyakini bahwa Tuhan yang menciptakannya tidak akan menyia-nyiakannya, bahwa Allah akan menjaganya, dan bahwa ia berada di atas kebaikan ketika susah dan senangnya, ketika kaya dan miskinnya, ketika sulit dan lapangnya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." [QS. Yūnus: 62]
Ya Allah! Kami memohon kepada-Mu dengan nama-Mu al-Khāliq agar Engkau menjadikan kami termasuk wali-wali-Mu.
23
AL-BĀRI` ﷻ
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sulaimān bin Daud -'alaihimassalām- berkata, 'Saya akan keliling malam ini menemui100 perempuan atau 99; semuanya akan melahirkan penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah.' Rekannya berkata, 'Insya Allah'. Namun dia tidak mengucapkannya, sehingga tidak ada yang hamil di antara mereka kecuali satu orang wanita, dia melahirkan setengah laki-laki.
Demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya! Seandainya dia mengucapkan 'insya Allah', pastilah mereka semua menjadi penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah." [Muttafaq ‘alaih]
Seorang hamba tidak akan bisa memenuhi kebutuhannya kecuali melalui pintu Allah ﷻ, karena Allah: "Dialah (Allah) Yang Maha Menciptakan, Maha Mengadakan, dan Maha Membentuk rupa. Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dialah Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana." [QS. Al-Ḥasyr: 24]
Ya Allah! Milik-Mu segala pujian. Engkau menganugerahkan kepada kami nikmat penciptaan setelah sebelumnya kami bukan sesuatu yang disebut: "Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, ketika itu ia belum menjadi sesuatu yang dapat disebut?" [QS. Al-Insān: 1]
Allah ﷻ memuji zat-Nya yang tinggi dengan nama-Nya "Al-Bāri`" dalam firman-Nya: "Dialah Allah Yang Maha Menciptakan, Maha Mengadakan, dan Maha Membentuk rupa." [QS. Al-Ḥasyr: 24]
Al-Bar`u secara bahasa memiliki dua makna: Pertama: menciptakan.
Kedua: jauh dan bebas dari sesuatu.
Dikatakan "bari`a" bila ia bebas dan jauh.
Al-Bāri` artinya yang mengadakan dan yang menciptakan dari tidak ada menjadi ada. Dialah yang melebihkan sebagian makhluk atas sebagian yang lain, yang membedakan setiap jenis dari yang lain, dan yang memberikan rupa kepada setiap makhluk menurut yang sesuai dengan tujuan penciptaannya. Dialah yang menciptakan sesuatu dari awalnya bukan sesuatu dan membedakannya dengan kekhususan yang membuatnya berbeda dari makhluk lainnya.
Dialah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang menciptakan makhluk jauh dari ketidakseimbangan dan ketidakcocokan: "Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?" [QS. Al-Mulk: 3]
Tuhan kita, Al-Bāri`, ialah Tuhan yang tersucikan dari segala kekurangan dan cacat pada zat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.
Pada nama-Nya "Al-Bāri`" terlihat semua ciptaan-Nya,
dan kebaikan-Nya turun terus-menerus tiada henti.
Mahasuci Tuhan yang kepada-Nya bersujud semua makhluk,
tatkala mereka bertasbih, bertakbir, dan bertahlil.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman, "Dialah Allah Yang Maha Menciptakan, Maha Mengadakan, dan Maha Membentuk rupa." [QS. Al-Ḥasyr: 24]
Al-Khalqu artinya: menetapkan.
Al-Bar`u artinya: menciptakan setelah sebelumnya tidak ada.
Sedangkan "At-Taṣwīr" artinya: memberi rupa.
Bila Allah ﷻ hendak menciptakan sesuatu, maka Dia menentukannya berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya, lalu menciptakannya sebagaimana yang telah ditentukan-Nya menurut rupa yang Dia kehendaki dan inginkan.
Bukan Kebetulan ...
Salah seorang ahli hikmah pernah ditanya, "Dengan apa engkau mengenal Allah?" Dia menjawab, "Dengan ukiran pena kekuasaan (Allah) di atas lembaran alam"; "Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan." [QS. As-Sajdah: 7] "Tidaklah Kami ciptakan keduanya melainkan dengan hak (benar)" [QS. Ad-Dukhān: 39]
Perhatikanlah tanaman bumi dan lihatlah jejak ciptaan Tuhan Yang Mahakuasa Mata-mata dari perak memandang dengan pupil emas yang dilelehkan
di atas batu zamrud, sebagai saksi bahwa Allah tidak memiliki sekutu
"Katakanlah, 'Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!'” [QS. Yūnus: 101] Tidak ada sesuatu pun melainkan karya-Nya, ciptaan-Nya yang indah, kuasa-Nya yang menakjubkan, serta jejak hikmah-Nya. Lalu, siapakah yang lebih berhak disembah? Bukankah Tuhan yang menciptakan lebih patut untuk disembah, dipuji, dan diesakan?!
Kebanyakan manusia mengetahui bahwa mereka ciptaan Allah, tetapi mereka malah melakukan kesyirikan: "Sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sesembahan lain)." [QS. Yūsuf: 106] Manusia terbagi menjadi dua:
1- Orang-orang beriman; mereka adalah sebaik-baik makhluk.
2- Orang-orang musyrik; mereka adalah seburuk-buruk makhluk.
Seorang hamba hendaklah melihat perbuatannya; bila perbuatannya baik, hendaklah ia memuji Allah karena telah menjadikannya pantas untuk kebaikan. Andai kata Allah membiarkannya mengikuti hawa nafsunya dan tidak mengendalikannya dengan ketakwaan kepada Allah, tentulah ia termasuk makhluk yang paling buruk.
Dari sini, Musa -'alaihissalām- memerintahkan kaumnya supaya bertobat kepada Allah Yang Maha Menciptakan tatkala mereka menyimpang dari keimanan kepada Allah dan membuat patung dari perhiasan mereka dalam bentuk anak sapi: "(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Wahai kaumku! Kamu benar-benar telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan). Karena itu, bertobatlah kepada Sang Penciptamu dan bunuhlah diri kalian. Itu lebih baik bagimu di sisi Sang Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sungguh, Dialah Yang Maha Penerima tobat dan Maha Penyayang.'" [QS. Al-Baqarah: 54]
Setiap kali seorang mukmin mengetahui dan mempelajari satu nama di antara nama-nama Allah yang indah, maka ia bertambah mulia serta bertambah rindu dan cinta kepada Allah ﷻ, lalu mendekatkan diri kepada Allah dengan nama itu.
Dia pun mengetahui bahwa Allah ﷻ Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah! Ya Bāri`! Kasihilah kami dan turunkanlah rahmat-Mu kepada kami.
24
AL-MUṢAWWIR ﷻ
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Bila engkau cermati apa yang Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- serukan pada hamba-Nya di dalam Kitab-Nya untuk dipikirkan, maka hal itu akan mengantarkan engkau untuk mengenal Allah, keesaan-Nya, serta sifat kesempurnaan dan kemuliaan-Nya."
Betapa banyak pelajaran dalam buku alam bagi orang yang berilmu, meneliti, dan menelaah;
di bumi dan di alam semesta seluruhnya, pada jiwa, pada suara, dan pada rupa.
Di sini, kita berhenti sejenak bersama nama Allah "Al-Muṣawwir:
Allah -Subhānahu wa Ta'āla- berfirman, "Dialah Allah Yang Maha Menciptakan, Maha Mengadakan, dan Maha Membentuk rupa." [QS. Al-Ḥasyr: 24]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah yang memberi rupa makhluk-Nya sebagaimana yang dikehendaki-Nya serta memberi rupa pada semua yang ada. Allah pun mengaturnya lalu memberikan setiap sesuatu rupa yang khusus dan bentuk berbeda yang membedakannya kendati beragam dan banyaknya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memberikan setiap rupa menurut sifat yang diinginkan-Nya dan menurut rupa yang dipilih-Nya, dan Dia menerapkan apa yang diinginkan-Nya menurut cara yang diinginkan-Nya: "Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun tubuhmu." [QS. Al-Infiṭār: 8]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā-, Dialah yang menyiapkan ciptaan-Nya dan menyesuaikan mereka ke dalam bentuk dan model yang selaras dengan ketetapan, pengetahuan, dan kasih sayang-Nya serta yang kompatibel dengan kepentingan dan kemaslahatan makhluk. Sebab itu, hadirlah makhluk-makhluk itu dalam aneka rupa dan beragam bentuk, dari sisi panjang dan pendek, bagus dan jelek, laki-laki dan perempuan, masing-masing dengan rupanya yang khusus.
Allah -Subhānahu wa Ta'āla- berfirman, "Sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)mu." [QS. Al-A'rāf: 11] Allah juga berfirman, "Dia membentuk rupamu, lalu memperbagus rupamu dan kepada-Nya tempat kembali." [QS. At-Tagābun: 3]
Wahai Tuhan yang mengetahui segala yang tersembunyi maupun yang tampak pada kami!
Wahai Tuhan makhluk dalam penyusunan dan pemberian rupa!
Aku bersaksi bahwa Engkau tunggal, satu, dan esa,
dengan kesaksian yang tidak didustakan maupun dipalsukan.
Aku hadapkan wajahku kepada-Mu dalam kesendirian dan di permukaan,
hanya untuk-Mu ucapan tahmid, tahlil, dan takbir.
Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman, "Dialah Allah Yang Maha Menciptakan, Maha Mengadakan, dan Maha Membentuk rupa." [QS. Al-Ḥasyr: 24] Ketiga nama ini (Al-Khāliq, Al-Bāri`, dan Al-Muṣawwir) bila berkumpul, maka masing-masing menunjukkan makna sendiri. Al-Khalq di sini artinya: menentukan, al-bar`u artinya: mengadakan, dan at-taṣwīr artinya: memberi rupa pada segala sesuatu. Sedangkan ketika ketiganya terpisah, maka maknanya satu.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- menginginkan dan menentukan, lalu menciptakan dan mengadakan, kemudian mengkhususkan setiap makhluk rupa dan bentuknya yang sesuai: "Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu." [QS. Al-Mu`minūn: 91]
Nabi ﷺ biasa di dalam sujudnya membaca, "Ya Allah! Kepada-Mu aku bersujud, kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku menyerahkan diri. Wajahku bersujud kepada Tuhan yang menciptakannya dan memberikannya rupa, yang memberikannya pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta." [HR. Muslim]
Petunjuk Paling Sempurna
Penciptaan manusia adalah tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang memperhatikannya, pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran, dan peringatan bagi orang-orang yang mau mengambil peringatan: "Juga pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikan?" [QS. Aż-Żāriyāt: 21]
Pada diri manusia dan penciptaannya terkandung petunjuk paling besar kepada penciptanya.
Yang paling dekat kepada manusia adalah dirinya. Pada dirinya terkandung berbagai keajaiban yang menunjukkan keagungan Allah ﷻ yang dapat menghabiskan umur bila sekadar merenungkan sebagiannya, tetapi manusia berpaling darinya. Seandainya dia sedikit renungkan, pastilah dia akan berhenti dari kekafiran dan pengingkarannya: "Celakalah manusia! Alangkah kufurnya dia! Dari apakah Dia (Allah) menciptakannya? Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian jalannya Dia mudahkan. Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya. Kemudian jika Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali." [QS. 'Abasa: 17-22]
Ada lebih dari 7 milyar jiwa yang hidup di atas bumi ini. Namun, rupa setiap mereka berbeda dari yang lain dalam hal raut, sifat, warna, dan bentuk tubuh, padahal ayah mereka satu dan ibu mereka pun satu; Adam dan Hawa. Tetapi, itulah ciptaan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-: "(Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Mahateliti apa yang kamu kerjakan." [QS. An-Naml: 88] Tidakkah itu melahirkan rasa syukur?! Seorang hamba melihat langsung nikmat-nikmat Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- kepadanya sejak masih berbentuk nutfah dalam kandungan ibunya, lalu Allah memberikannya pendengaran dan penglihatan, meniupkan kepadanya roh, lalu memberikannya makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Bahkan, semua keperluannya dicukupkan serta semua yang dia minta dikabulkan oleh Allah: "Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata, dan lidah dan sepasang bibir? Kami juga telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)." [QS. Al-Balad: 8-10]
Wujud syukur yang paling besar ialah menggunakan nikmat-nikmat Allah ﷻ dalam rangka ketaatan kepada-Nya, menjauhkannya dari ranah kemaksiatan dan semua yang dimurkai-Nya.
Terakhir ...
Orang yang berakal tidak akan mengolok-olok rupa dan bentuk yang Allah berikan kepada manusia karena dia mengetahui Allahlah yang menciptakan mereka: "Dialah yang membentuk kamu dalam rahim menurut yang Dia kehendaki. Tak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." [QS. Āli 'Imrān: 6]
Allahlah Yang Maha Menentukan, Maha Menciptakan, dan Maha Memberi rupa. Tidaklah pemilik rupa yang jelek memiliki dosa sehingga pantas dicela dan dimaki, dan tidak pula pemilik rupa yang bagus memiliki keutamaan ataupun jasa sehingga patut dipuji dan disanjung.
Pernah seorang laki-laki berkata kepada seorang yang bijak, "Wahai orang yang buruk muka!" Dia menjawab, "Penciptaan mukaku bukan atas pilihanku sehingga aku bisa mambaguskannya. Siapa yang mencela suatu ciptaan, sungguh dia telah mencela penciptanya." Diriwayatkan dalam hadis bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Seluruh ciptaan Allah ﷻ itu bagus." [As-Silsilah Aṣ-Ṣaḥīḥah karya Al-Albāniy]
Bila engkau melihat seorang yang diuji, pujilah Allah seraya mendoakannya diberikan keafiatan, sebagaimana dikatakan, "Jangan mengejek saudaramu, jangan sampai Allah memberinya keafiatan dan memberimu ujian."
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Ujian itu diwakilkan lewat ucapan. Sekiranya aku mengejek seekor anjing, sungguh aku khawatir akan menjadi anjing."
Ibrahim an-Nakha'iy -raḥimahullāh- berkata, "Aku sering melihat sesuatu yang pantas dicela, namun tidak ada yang menghalangiku untuk berkomentar padanya melainkan karena takut aku akan diuji dengan semisalnya."
Ya Allah, ya Khāliq, ya Bāri`, ya Muṣawwir! Kami memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan kami di antara ciptaan-Mu yang terbaik dan Engkau merahmati kami pada hari dihadapkan kepada-Mu.
25
AL-'AFUW ﷻ
Manakala orang-orang yang berdosa mendengar, "Mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya, dan Allah adalah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun" [QS. An-Nisā`: 99]; mereka menengadahkan tangan permohonan, mencurahkan keluhan di hadapan-Nya, melabuhkan ibadah di depan pintu-Nya, berlindung di sisi-Nya, banyak memohon ampun, dan mereka memanggil, "Wahai Tuhan Yang Maha Pemaaf, wahai Tuhan Yang Maha Pengampun! Kami tidak memiliki siapa-siapa selain-Mu."
Allah Yang Mahamulia lagi Maha Pemaaf melihat keadaan mereka dan mengetahui kondisi hati mereka, maka Dia pun menghilangkan kesalahan-kesalahan mereka, menghapuskan dosa-dosa mereka, dan mengangkat derajat mereka.
Mahasuci Allah Yang Maha Pemaaf! Mahasuci Allah yang memilih mereka untuk mendapatkan maaf dan ampunan-Nya!
Bila ujian turun menimpamu, kesulitan datang merundungmu, atau dosa memberatkanmu, maka panggillah nama-Nya dan mintalah maaf-Nya.
Tuhanku, jika dosa-dosaku sangat banyak, sungguh aku mengetahui maaf-Mu lebih besar. Bila yang mengharapakan-Mu hanyalah orang yang baik, kepada siapakah orang yang jahat berlindung dan mencari aman?
Aku berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku, sesuai yang Engkau perintahkan. Jika Engkau menolak doaku, lalu siapa yang akan mengasihiku?
Allah -Subhānahu wa Ta'āla- berfirman, "Sungguh, Allah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun." [QS. Al-Ḥajj: 60]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- banyak memaafkan dosa-dosa para hamba-Nya, hingga batas yang tiada ujungnya. Dialah yang mengampuni dosa dan menyingkirkannya dari mereka secara keseluruhan. Dia tidak akan menuntutnya dari hamba kelak di hari Kiamat, melainkan Dia menghapusnya dari catatan para malaikat mulia yang mencatat amalan hamba. Bahkan, Dia menjadikan dosa-dosa itu dilupakan dalam hati mereka, supaya mereka tidak malu ketika mengingatnya, lalu Dia meletakkan penggantinya berupa kebaikan di setiap tempat keburukan.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- selalu dan masih selalu dikenal suka memaafkan dan disifati dengan suka mengampuni dan melapangkan hamba-Nya. Setiap orang sangat butuh kepada maaf-Nya, rahmat-Nya, dan kebaikan-Nya. Sedangkan Dia telah menjanjikan ampunan dan maaf bagi siapa saja yang melakukan sebab-sebabnya.
Dialah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang memberi kemudahan; Dia memudahkan kewajiban atas hamba-hamba-Nya ketika terjadi ketidaksanggupan dan kelemahan pada hamba. Allah mewajibkan wudu bagi orang yang hendak mengerjakan salat bila wudunya batal, namun Dia memaafkan orang yang tidak menemukan air agar ia cukup bertayamum karena memperhatikan kelemahan hamba-hamba-Nya.
Sebagian ulama menyatakan bahwa al-'afwu (memaafkan) lebih tinggi dari kata al-magfirah (mengampuni) karena sifat mengampuni mengindikasikan menutup, sedangkan kata memaafkan mengindikasikan menghapus. Menghapus dosa tentu lebih tinggi dan lebih utama dari sekadar menutupnya.
Maaf Allah terbagi dua:
1- Maaf yang bersifat umum; yaitu berlaku untuk semua pelaku kejahatan dari kalangan orang-orang kafir dan lainnya, dengan menahan hukuman yang telah terpenuhi sebab-sebabnya, yang seharusnya menghentikan nikmat dari mereka. Mereka menyakiti Allah dengan celaan dan kesyirikan, sementara Dia memberikan mereka keafiatan dan rezeki, membentangkan bagi mereka dunia, memberi mereka penangguhan azab, dan tidak mengabaikan mereka dari maaf dan kebaikan-Nya. Kebaikan dari Allah selalu turun kepada hamba-hamba-Nya, sedangkan catatan kejahatan mereka selalu naik kepada-Nya. Allah tidak butuh kepada peribadatan hamba, namun Dia menampakkan rahmat-Nya kepada mereka melalui nikmat-nikmat-Nya. Mereka sebaliknya memancing murka-Nya dengan kemaksiatan, padahal mereka yang sangat butuh kepada-Nya.
2- Maaf yang bersifat khusus; yaitu ampunan-Nya yang diperuntukkan kepada orang-orang yang bertobat, yang memohon ampun, yang berdoa, yang beribadah, yang ditimpa musibah, dan yang mengharapkan pahala dari kalangan orang-orang yang beriman.
Dialah Yang Maha Pemaaf ...
Di antara keindahan maaf-Nya ialah siapa yang diberikan maaf oleh Allah di dunia, maka Allah lebih mulia daripada mengambil lagi maaf-Nya di hari Kiamat. Dialah Mahamulia yang tidak akan menarik kembali kata maaf-Nya. Ini adalah ketetapan Allah ﷻ bersama wali-wali-Nya.
Di antara bentuk kemuliaan-Nya ialah sebagaimana Dia memaafkan para pendosa yang bertobat di dunia, maka di akhirat pun Dia memaafkan orang-orang bertauhid yang tidak bertobat.
Di antara bentuk kemuliaan-Nya ialah Dia memaafkan dosa hamba-Nya sebesar apa pun dosanya, termasuk dosa yang berkaitan dengan hak-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-, lalu menggantikan dosa-dosanya dengan pahala. Lalu, siapakah yang membalas dosa dengan yang seperti ini selain Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-? Sungguh, kalau bukan karena kemuliaan maaf-Nya, bumi pasti ambruk bersama semua penghuninya karena banyak kemaksiatan yang dilakukan di atasnya.
Di antara wujud kemuliaan maaf-Nya ialah Dia menunjukan kepada para hamba-Nya faktor-faktor yang mengantarkan mereka pada ampunan Tuhan Yang Maha Pemurah, berupa ibadah dan akhlak, serta perkataan dan perbuatan. Bila seorang hamba memperbanyak amal saleh, maka amal saleh itu akan mengalahkan banyak dosa-dosa dan kesalahannya.
Kembalilah kepada-Nya!
Allah Yang Maha Pemaaf -Tabāraka wa Ta'ālā- memanggilmu dari atas langit yang tujuh melalui firman-Nya, "Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'" [QS. Gāfir: 60] Lalu apa yang membuatmu lambat dalam memohon kemuliaan-Nya?! Apa pula yang membuatmu mundur dari bergabung ke dalam rombongan orang-orang yang kembali dan tobat pada-Nya?
Bila manusia mengetuk pintu raja-raja dunia dan berdiri hina di hadapan mereka, maka berdirilah Anda menghinakan diri di hadapan Rajadiraja, Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemaaf; di tangan-Nyalah kunci-kunci pertolongan, di tangan-Nya semua kebahagiaan, dan di tangan-Nya pula segala maaf dan ampunan.
"Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah menerima tobat hamba-hamba-Nya." [QS. At-Taubah: 104] Bilāl bin Sa'ad berkata, "Sungguh, kalian memiliki Tuhan yang tidak lekas menghukum kalian, yang memaafkan kesalahan dan menerima tobat, dan yang menyambut hamba yang datang dan iba kepada hamba yang pergi."
Di antara doa Nabi ﷺ ialah: "Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf. Engkau menyukai perbuatan memberi maaf, maka maafkanlah aku." [Hadis sahih; HR. Ibnu Majah]
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Bila Allah memaafkanmu, kebutuhan-kebutuhanmu akan terpenuhi tanpa perlu diminta."
Sufyān Aṡ-Ṡauriy -raḥimahullāh- berkata, "Saya tidak memilih perhitungan amalku diserahkan kepada ayah dan ibuku, karena aku mengetahui Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- lebih sayang kepadaku daripada keduanya."
Kala hatiku keras dan jalanku sempit, kujadikan harapku pada maaf-Mu sebagai tangga. Dosaku tampak besar padaku, namun kala kubandingkan dengan maaf-Mu, wahai Tuhanku, ternyata maaf-Mu lebih besar
Engkau selalu dan akan terus memberi maaf bagi dosa, Engkau juga selalu bersifat dermawan dan memberi maaf sebagai karunia dan kebaikan.
Kunci Maaf
Para ulama berkata, "Makhluk yang paling dicintai oleh Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah orang yang mengaplikasikan makna nama-nama dan sifat-Nya. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- Maha Penyayang, senang kepada orang-orang yang penyayang. Allah Maha Pemaaf, senang kepada orang-orang yang memaafkan orang lain. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- akan memperlakukan hamba-Nya sesuai perilaku hamba itu kepada makhluk-Nya. Allah ﷻ berfirman, "Maka berkat rahmat Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekitarmu." [QS. Āli 'Imrān: 159]
Pemberian maaf yang disertai kemampuan membalas dendam merupakan kedudukan takwa yang paling tinggi. Bahkan, ini merupakan salah satu sifat kemurahan dan kebaikan Allah, yaitu Dia membalas pemberian maaf hamba dengan maaf yang lebih besar. Allah ﷻ berfirman, "Jika kamu menyatakan sesuatu kebajikan, menyembunyikannya, atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sungguh, Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa." [QS. An-Nisā`: 149]
Dalam kisah Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu-, ketika dia bersumpah untuk tidak lagi memberi nafkah kepada Misṭah (salah satu kerabatnya) setelah ia menuduh kehormatan istri Nabi ﷺ, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- pada kisah al-ifk yang terkenal, maka Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. An-Nūr: 22]
Siapa yang memaafkan karena mengharapkan apa yang ada di sisi Allah, maka Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- akan memberinya lebih dari yang ia angankan di dunia dan akhirat.
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tidaklah Allah menambahkan pada seorang hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan." [HR. Muslim]
Imam Nawawiy -raḥimahullāh- berkata, "Siapa yang dikenal suka memaafkan dan lapang dada, pasti disegani dan agung di hati para hamba, serta ia bertambah mulia dan dimuliakan."
Khalifah Dinasti Umayyah, Abdul Malik bin Marwan, pernah berpidato dengan pidato yang sangat menyentuh, lalu dia berhenti dan menangis keras, kemudian dia berkata, "Ya Tuhanku! Dosa-dosaku sungguh besar, tetapi maaf yang sedikit dari-Mu sungguh lebih besar dari dosaku, maka hapuslah dosa-dosaku yang besar dengan sedikit maaf dari-Mu."
Kejadian ini kemudian sampai kepada Al-Ḥasan Al-Baṣriy, sehingga dia menangis dan berkata, "Seandainya ada ucapan yang pantas ditulis dengan emas, ucapan inilah yang benar-benar pantas ditulis!"
Seorang badui pernah berdoa, "Ya Allah! Engkau telah perintahkan kami untuk memaafkan siapa yang menzalimi kami, dan sungguh, kami telah menzalimi diri kami sendiri, maka maafkanlah kami."
Kami pun berdoa kepada-Mu, "Ya Tuhan kami! Kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." [QS. Al-A'rāf: 23]
Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf. Engkau menyukai perbuatan memaafkan, maka maafkanlah kami, wahai Yang Maha Paling Penyayang!
26-27
AL-GAFŪR AL-GAFFĀR ﷻ
Aṭ-Ṭabarāniy meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Abū Ṭawīl, bahwa dia datang menemui Rasulullah ﷺ seraya bertanya, "Bagaimana menurutmu tentang seseorang yang telah mengerjakan dosa semuanya, tidak ada satu pun yang ditinggalkannya, namun meskipun demikian, ia tidak pernah meninggalkan satu kebutuhan maupun yang lebih kecil kecuali ia bantu; apakah ia memiliki kesempatan tobat?"
Rasulullah bertanya, "Apakah engkau telah masuk Islam?" Dia menjawab, "Adapun saya, saya bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa engkau adalah utusan Allah." Beliau bersabda, "Ya. Hendaklah engkau mengerjakan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan keburukan-keburukan, supaya Allah menjadikannya bagimu sebagai kebaikan seluruhnya." Dia bertanya, "Termasuk semua pengkhianatan dan kejahatanku?!" Beliau menjawab, "Ya." Dia berkata, "Allāhu akbar!" Dia terus-menerus bertakbir sampai menghilang.
Sungguh, aku berdoa pada Allah memohon maaf-Nya,
karena aku yakin bahwa Allah memaafkan dan mengampuni.
Kendati manusia menganggap besar dosa, tetapi
walaupun ia besar, pada rahmat Allah ia menjadi kecil.
Bahasan kita ini ialah tentang sebuah nama Allah. Tidaklah seorang yang berdosa maupun yang beriman mendengar nama ini, melainkan hatinya akan terpaut dengannya secara erat, merasa sangat senang karenanya, dan akan membukakannya pintu harapan. Nama Allah ini ialah "Al-Gafūr" dan "Al-Gaffār".
Allah -Subhānahu wa Ta'āla- berfirman, “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [QS. Al-Ḥijr: 49] Allah juga berfirman, "Maka aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun.'" [QS. Nūh: 10] Dia juga berfirman, "Sungguh, Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya." [QS. An-Najm: 32]
Makna asal "al-gafr" secara bahasa ialah menutup.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah yang menutupi dosa hamba-Nya dengan tirai penutup-Nya, sehingga tidak ada seorang pun yang melihat dosa mereka selain diri-Nya yang mengampuni kesalahan dan dosa mereka.
Dialah ﷻ yang mengampuni dosa hamba-Nya berkali-kali hingga tidak terhitung. Setiap kali tobat hamba dari dosa berulang, berulang pula ampunan dari Allah ﷻ.
Pintu-Nya Selalu Terbuka ...
Aṭ-Ṭabarāniy dan selainnya meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ lalu berkata, "Ya Rasulullah! Salah seorang kami berbuat dosa?" Beliau bersabda, "Dosanya ditulis." Kemudian dia bertanya, "Dia memohon ampun darinya dan bertobat?" Beliau bersabda, "Dia diberikan ampunan dan tobatnya diterima. Allah tidak akan bosan sehingga kalian sendiri yang bosan." [Hadis hasan; disebutkan dalam Al-Mu'jam Al-Kabīr dan Al-Ausaṭ]
Dialah (Allah) Maha Pengampun; sekiranya ada yang datang membawa dosa-dosa maksiat selain syirik sepenuh bumi,
pasti Allah datang membawa ampunan sepenuh itu juga, Mahasuci Allah yang luas ampunan-Nya.
Allah ﷻ membuka pintunya untuk semua yang bertobat, berdosa, dan bersalah. Dia berfirman, "Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhanya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." [QS. Az-Zumar: 53] Bahkan, dari atas tujuh langit Allah memanggil orang-orang yang mengatakan: Allah satu dari tiga tuhan; Allah memanggil mereka supaya bertobat, sehingga mereka diampuni. Allah berfirman, "Mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." [QS. Al-Mā`idah: 74]
Semua dosa diampuni kecuali orang yang datang kepada Allah dalam keadaan musyrik: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik) dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” [QS. An-Nisā`: 48]
Ayat-ayat tentang ini banyak.
Adapun dalam hadis, maka disebutkan dalam hadis qudsi: Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Wahai anak Adam! Selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni apa pun dosamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika dosamu setinggi langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku sedikit pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula." [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Ini adalah balasan bagi orang yang selalu beristigfar saja sembari bertekad tidak mengulangi dosa dan jujur dalam tobatnya. Bila Allah mengetahui kejujurannya, Allah akan mengganti kesalahan-kesalahannya menjadi kebaikan. Ini merupakan bagian dari kebaikan dan kemurahan-Nya pada hamba-hamba-Nya.
Jangan Putus Asa!
Amal saleh adalah penghapus dosa. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan." [QS. Hūd: 114] Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Kerjakan kebaikan setelah melakukan keburukan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya." [Hadis hasan; HR. Tirmizi]
Musibah yang menimpa seorang hamba, baik pada dirinya, anaknya, ataupun hartanya, akan menghapus dosa-dosanya jika dia mengharapkan pahalanya, bersabar, dan rida dengan ketetapan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-.
Allah ﷻ lebih senang pada tobat hamba-Nya daripada kesenangan seseorang yang kehilangan hewan kendaraannya di tengah padang sementara makanan dan minumannya ada di hewan itu, lalu ia menemukannya.
Seperti apa pun besarnya dosa atau seringnya dilakukan oleh hamba, Allah lebih luas rahmat-Nya selama hamba itu memohon ampun: "Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." [QS. Al-A'rāf: 156] Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ dalam hadis yang beliau ceritakan dari Tuhannya ﷻ: "Ada seorang hamba melakukan suatu dosa lalu ia berkata, 'Ya Tuhanku! Ampunilah dosaku.' Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- pun berfirman, 'Hamba-Ku melakukan dosa dan ia mengetahui bahwa dia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman karena dosa.' Kemudian hamba tersebut kembali melakukan dosa lalu berkata, 'Ya Tuhanku! Ampunilah dosaku.' Maka Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, 'Hamba-Ku melakukan dosa dan ia mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberi hukuman karena dosa.' Selanjutnya hamba tersebut kembali mengulangi dosa lalu berkata, 'Ya Tuhanku! Ampunilah dosaku.' Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, 'Hamba-Ku berbuat dosa lagi, tetapi dia mengetahui bahwa dia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman karena dosa. Lakukanlah sekehendakmu! Aku telah mengampunimu.'" [HR. Muslim] Yaitu, selama kamu tobat dan kembali pada-Nya.
Memelaslah kepada Tuhanmu!
Pintu Allah ﷻ terbuka bagi semua orang yang bertobat dan kembali pada-Nya. Dia senantiasa dan akan senantiasa Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Dia telah menjanjikan ampunan dan maaf bagi siapa yang melakukan sebab-sebabnya: "Sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman, dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk." [QS. An-Naml: 82] Siapa yang dosa dan kesalahannya sangat banyak hingga tidak terhitung, hendaklah ia memohon ampun kepada Allah dari semua yang Allah ketahui karena Allah benar-benar mengetahui segala sesuatu dan menguasainya.
Ini bukan berarti seorang muslim dibenarkan melampaui batas dalam berbuat kesalahan dan dosa serta meremehkan maksiat kepada Allah dengan alasan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang! Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang yang baik, maka sungguh, Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertobat." [QS. Al-Isrā`: 25] Al-Fuḍail bin 'Iyāḍ -raḥimahullāh- berkata, "Permohonan ampun yang tidak disertai berhenti dari dosa adalah tobatnya para pendusta."
Jalan Keselamatan ...
Allah telah memerintahkan semua makhluk untuk memohon ampun, terutama para nabi: "Maka aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun.'" [QS. Nūh: 10] Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Demi Allah, sungguh aku memohon ampun dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." [HR. Bukhari] Ini di kalangan para nabi, maka orang di bawah mereka lebih patut memohon ampun. Nabi ﷺ berkata kepada Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu-, "Maukah engkau kuajari beberapa kalimat, bila engkau baca maka Allah memberimu ampunan, sekalipun engkau telah diampuni?" Beliau bersabda, "Bacalah: Lā ilāha illallāh Al-'Aliyyul-'Aẓīm. Lā ilāha illallāh Al-Ḥalīmul-Karīm. Lā ilāha illallāh Subḥānallāhi Rabbil-'Arsyil-'Aẓīm (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Mahalembut dan Maha Pemurah. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Mahasuci Allah, Tuhan Arasy yang agung)." [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Ali -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Sungguh mengherankan orang yang binasa padahal tali kesalamatan ada bersamanya!" Dia pun ditanya, "Apa itu?" Ali berkata, "Istigfar." Qatadah -raḥimahullāh- berkata, "Al-Qur`ān menunjukkan kepada kalian penyakit dan penawar kalian. Adapun penyakit kalian ialah dosa, sedangkan penawar kalian ialah istigfar."
Syekh Islam -raḥimahullāh- berkata, "Dosa penyebab bagi kesengsaraan, sedangkan istigfar menghilangkan penyebabnya, sebagaimana Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, 'Tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka sedang mereka (masih) memohon ampunan.' [QS. Al-Anfāl: 33]"
Ibnu Kaṡīr berkata, "Siapa yang membiasakan sifat suka beristigfar ini, Allah lapangkan rezekinya, Allah mudahkan urusannya, dan Allah jaga keadaan dan kekuatannya."
Kuadukan pada-Mu dosa-dosa yang tak kupungkiri, aku mengharap-Mu mengampuninya, wahai pemilik segala karunia! Sebelum Engkau menanyaiku di Mahsyar, wahai yang kuharapkan, sebelum Engkau menyebutnya dalam kondisi huru hara di hari pembalasan
Aku mengharap-Mu akan menutupinya di Mahsyar, wahai yang kuharapkan, ketika Engkau menanyaiku, sebagaimana Engkau menutupinya di dunia.
Rahasia penggabungan antara "Lā ilāha illallāh" dengan istigfar dalam firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "Maka ketahuilah, bahwasanya: lā ilāha illallāh (tidak ada tuhan yang patut disembah selain Allah) dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan" [QS. Muḥammad: 19]; adalah bahwa tauhid itu mengikis pangkal kesyirikan, sedangkan istigfar menghapus cabang-cabangnya.
Pujian yang paling tinggi ialah ucapan "lā ilāha illallāh", sedangkan doa yang paling tinggi ialah ucapan "astagfirullāh". Sebab itu, Allah memerintahkannya agar bertauhid dan memohonkan ampunan untuk dirinya dan saudara-saudaranya dari kalangan orang beriman laki-laki dan perempuan.
Ya Allah! Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan segenap kaum muslimin, wahai Tuhan alam semesta.
28
AL-KABĪR ﷻ
Di Ambang Pintu-Nya ...
Tuhanmu -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah pemilik keperkasaan dan kerajaan, Yang Mahabesar dan Mahatinggi. Letakkan semua kebutuhanmu di pintu-Nya, lepaskan hati-Mu memelas di sisi-Nya, dan memintalah kepada-Nya, maka Allah akan memenuhi kebutuhanmu, mengangkat penyakitmu, menyelesaikan hutangmu, menyingkirkan sedihmu, dan menciptakan senyum di bibirmu.
Dialah Allah Yang Mahabesar -Tabāraka wa Ta'ālā-.
Angan-anganmu bersama Allah Yang Mahabesar akan menjadi kenyataan.
Setinggi apa pun impianmu, namun bila ada Allah Yang Mahabesar ia menjadi kecil.
Cita-citamu bersama Allah Yang Mahabesar akan dihadiahkan kepadamu, pun kerinduanmu akan diberikan kepadamu.
Dialah Yang Mahabesar -Tabāraka wa Ta'ālā-; tempatmu mengamankan diri dari rasa takut dan tempatmu meminta pertolongan atas musibah-musibah dunia. Dialah Allah Yang Mahabesar: "(Allah) yang mengetahui semua yang gaib dan yang nyata; Yang Mahabesar lagi Mahatinggi." [QS. Ar-Ra'd: 9]
Tuhan kita Yang Mahabesar -Tabāraka wa Ta'ālā- ialah Mahabesar dan Mahatinggi pada zat-Nya, tidak ada yang lebih besar maupun lebih agung daripada Dia secara mutlak: "Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya." [QS. Az-Zumar: 67]
Tuhan kita -Tabāraka wa Ta'ālā- Mahabesar di dalam sifat-sifat-Nya; seluruhnya adalah kesempurnaan, keagungan, dan kemuliaan, tiada yang menandingi, menyamai, menyerupai, maupun menyaingi-Nya.
Tuhan kita -Tabāraka wa Ta'ālā- Mahabesar di dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Keagungan ciptaan-Nya sebagai saksi atas keagungan perbuatan-Nya: "Sungguh, penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." [QS. Gāfir: 57]
Tuhan kita -Tabāraka wa Ta'ālā- Mahabesar, Mahaagung, dan Sang Pemilik keperkasaan; segala yang besar menjadi kecil di hadapan kemuliaan dan keagungan-Nya.
Tuhan kita ﷻ Mahabesar dan Mahatinggi dari semua kekurangan, keburukan, dan aib.
Tuhan kita ﷻ ialah yang terhindarkan dari semua sifat keburukan, kejahatan, dan kezaliman: "Yang Mahabesar lagi Mahatinggi." [QS. Ar-Ra'd: 9] "Maka keputusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar." [QS. Gāfir: 12]
Milik-Mu segala pujian, nikmat, dan kerajaan, ya Tuhan kami.
Tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih besar kemuliaannya dari-Mu.
Mahasuci Allah yang makhluk tidak mampu mengagungkan-Nya dengan sepatutnya.
Dia yang ada di atas Arasy Maha Esa dan diesakan.
Akal Tak Akan Mampu!
Allah ﷻ lebih besar dari segala sesuatu dan terlalu besar untuk kita kuasai secara pengetahuan: "Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi-Nya." [QS. Ṭāhā: 110]
Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- terlalu besar untuk kita ketahui kaifiat zat ataupun sifat-Nya. Oleh karena itu, kita dilarang memikirkan Allah karena kita tidak akan mampu memahami itu dengan akal kita yang kecil, pendek, dan terbatas. Diriwayatkan oleh Aṭ-Ṭabarāniy dalam Al-Awsaṭ bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Pikirkanlah karunia-karunia Allah dan jangan memikirkan Allah ﷻ." [Hadis sahih] Batasan kemuliaan-Nya yang agung tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali Dia; tidak diketahui oleh malaikat yang didekatkan pada-Nya maupun nabi utusan-Nya. Allah ﷻ telah mengkhususkannya untuk diri-Nya.
Kalimat yang Paling Agung...
Allah ﷻ paling besar dari segala sesuatu, dalam zat, kekuasaan, makna, keagungan, dan kemuliaan. Oleh sebab itu, dikatakan: kalimat paling tinggi yang dimiliki bangsa Arab untuk mengungkapkan makna pengagungan dan penjunjungan ialah "Allāhu akbar" karena ia lebih sempurna dari sifat keagungan. Ucapan kita "Allāhu akbar" mengandung makna keagungan plus.
Oleh karena itu, lafaz-lafaz yang diperintahkan dalam salat dan azan mengandung kalimat "Allāhu akbar" karena kalimat ini lebih sempurna daripada kata "Allāhu a'ẓam" (Allah Mahaagung), sebagaimana yang ada dalam hadis: Allah ﷻ berfirman, "Kebesaran adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Siapa yang menandingi-Ku di salah satunya, sungguh Aku akan melemparkannya di neraka." [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Imam Ibnu Taimiyah -raḥimahullāh- berkata, "Allah menjadikan al-'aẓamah (keagungan) sebagai sarung, sedangkan al-kibriyā` (kebesaran) sebagai selendang. Diketahui bersama bahwa selendang (pakaian atasan) lebih mulia. Sehingga ketika takbir dengan lafal "Allāhu akbar" lebih tinggi dari takzim dengan lafal "Allāhu a'ẓam", maka digunakanlah lafal itu dan ia juga mengandung makna takzim."
Kunci Masuk Menghadap Maharaja
Oleh karena itu, kata ini yang disyariatkan untuk masuk ke dalam salat karena seorang muslim yang masuk ke dalamnya layaknya seorang budak yang masuk kepada para raja. Ketika ia telah siap untuk masuk, ia disyariatkan melafalkan kalimat paling agung, yaitu: "Allāhu akbar", sedangkan kondisi dirinya seakan mengucapkan, "Dengan kalimat ini, aku masuk untuk menghadap Tuanku, Sang Penciptaku, dan Pemberi rezeki kepadaku, sedangkan Allah lebih besar dari semua kesibukan hidup." Bila ia mengucapkannya dengan tulus sembari merenungkan maknanya, Allah akan agung dalam hatinya, anggota tubuhnya akan khusyuk, ia akan malu kepada Allah; keagungan serta kebesaran-Nya akan menghalangi hatinya dari menyibukkan diri dengan selain-Nya. Lantaran agungnya kalimat ini, ia menyertai seorang muslim dalam banyak ibadah agar ia meraih rida Allah. Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "'Keridaan Allah lebih besar' [QS. At-Taubah: 72], yaitu rida Allah kepada hamba lebih besar daripada surga dan semua isinya karena rida adalah sifat Allah, sedangkan surga adalah ciptaan-Nya."
Orang Mulia adalah yang Berlindung kepada Tuhan Yang Mahabesar ...
Kalimat "Allāhu akbar" bila telah merasuk dalam hati akan menjadikan seorang mukmin merasa mulia serta yakin kepada Allah, bertumpu dan berserah diri kepada-Nya, dan segala sesuatu menjadi kecil di sisi kebesaran dan keagungan-Nya.
Ahli sejarah menyebutkan: Bahwa ketika Al-Ḥajjāj telah menunaikan salat dua rakaat di belakang Makam Ibrahim, seorang laki-laki fakir dari Yaman datang dan melakukan tawaf di Ka'bah. Ketika sedang tawaf, sebuah tombak menembus pakaian si Fakir asal Yaman dan mengenai tubuh Al-Ḥajjāj. Al-Ḥajjāj pun terkejut dan berkata, "Tangkap dia!" Tentara pun menangkapnya. "Dekatkan dia dariku," perintahnya. Lalu mereka pun mendekatkannya.
Al-Ḥajjāj berkata, "Apakah kamu mengenalku?" Dia menjawab, "Aku tidak mengenalmu!" Al-Ḥajjāj bertanya, "Siapa gubernur kalian di Yaman?" Dia menjawab, "Muhammad bin Yūsuf -saudara Al-Ḥajjāj -, seorang yang zalim seperti dia (Al-Ḥajjāj) atau lebih buruk." Al-Ḥajjāj berkata, "Tidakkah kamu tahu bahwa akulah saudaranya itu?!" Dia menjawab, "Kamu Al-Hajjaj?" Al-Ḥajjāj berkata, "Ya." Laki-laki fakir itu berkata, "Betapa buruknya kamu dan betapa buruknya saudaramu!" Al-Ḥajjāj berkata, "Bagaimana keadaan saudaraku di Yaman?" Dia menjawab, "Aku meninggalkannya dalam keadaan besar perut dan gemuk." Al-Ḥajjāj berkata, "Aku tidak menanyakan kesehatannya. Namun, aku menanyakan keadilannya." Dia menjawab, "Aku meninggalkannya dalam keadaan jahat dan zalim." Al-Ḥajjāj berkata, "Tidakkah kamu tahu dia saudaraku? Tidakkah kamu takut kepadaku?" Dia menjawab, "Apakah kamu mengira, wahai Ḥajjāj, bahwa rasa mulia saudaramu denganmu mengalahkan rasa muliaku dengan Allah Yang Maha Esa?!" Ṭāwūs -perawi- berkata, "Demi Allah! Rambut kepalaku benar-benar berdiri! Al-Ḥajjāj kemudian melepaskan laki-laki itu dan dia pun kembali tawaf di Ka'bah tanpa rasa takut kecuali kepada Allah."
Kafan mereka telah dilumuri dengan darah pengorbanan,
Allāhu akbar, mereka telah minum di airnya yang tawar.
Di tanganmu yang dermawan ada tali petunjuk, satu sisi
di atas jalan, dan sisi lainnya di jiwa kami.
Adakah perkara besar, kesusahan berat, dan kesedihan besar yang akan melawan Allah Yang Mahabesar?
Jadi, Tuhan Yang Mahabesar itu ialah Allah ﷻ. Semua yang Anda lihat, dengar, atau tahu bahwa ia besar, Allah adalah Tuhannya dan Dia lebih besar darinya. Lalu bagaimana mungkin berbagai kesusahan akan bertahan di hadapan kehendak Sang Pemilik kemuliaan, kebesaran, dan keagungan?
Allah Yang Mahabesar -Tabāraka wa Ta'ālā- ialah yang mengalihkan semua permasalahanmu kepada solusi, semua sakitmu kepada keafiatan, semua mimpimu menjadi nyata, dan semua air matamu menjadi senyum.
Kuatkan tanganmu berpegang dengan tali Allah,
sungguh Dialah pilar sebenarnya, bila pilar-pilar lainnya mengkhianatimu.
Ya Allah! Kami memohon kepada-Mu dengan nama-Mu "Al-Kabīr" agar Engkau menganugerahi kami masuk surga dan selamat dari neraka.
29-30-31
AL-A'LĀ AL-'ALIY AL-MUTA'ĀL ﷻ
Ketika musibah terjadi, bencana turun, dan petaka menerpa, hati akan tertuju kepada Tuhan Yang Mahatinggi, tangan terangkat kepada Tuhan Yang Mahatinggi, dan mata memandang ke langit menunggu pertolongan dari Allah Yang Mahatinggi.
Tuhan kita ﷻ ialah Al-A'lā, Al-'Aliy, dan Al-Muta'āl. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Dia Mahatinggi lagi Mahabesar." [QS. Al-Baqarah: 255] Allah juga berfirman, "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi." [QS. Al-A'lā: 1] Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman, "(Allah) Yang mengetahui semua yang gaib dan yang nyata; Yang Mahabesar lagi Mahatinggi." [QS. Ar-Ra'd: 9]
Tuhan kita Yang Mahatinggi tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya, bagi-Nya ketinggian yang mutlak dari semua sisi:
1- Ketinggian zat-Nya; yaitu Dia bersemayam di atas Arasy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, tinggi di atas semua makhluk: “(Allah) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas Arasy.” [QS. Ṭāhā: 5]
2- Ketinggian kedudukan; yaitu Dia pemilik kedudukan yang besar, sifat-sifat-Nya adalah sifat-sifat kesempurnaan, keindahan, dan kemuliaan, tidak ada sifat satu makhluk-Nya yang mendekati maupun menyamai sifat-sifat-Nya, bahkan seluruh hamba tidak mampu menguasai ilmu satu sifat saja di antara sifat-sifat-Nya: "Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." [QS. Ṭāhā: 110]
3- Ketinggian kekuasaan; yaitu Dia menguasai segala sesuatu, seluruh makhluk tunduk kepada-Nya, semua berada di bawah kekuasaan, kerajaan, dan keagungan-Nya: "Dialah yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya." [QS. Al-An'ām: 18]
Dia tinggi di atas langit di atas Arasy
jauh dari semua makhluk, yang disifati
dengan semua sifat-sifat-Nya yang tinggi nan sempurna
Ini tidak ada kesamaran padanya, segala puji bagi Allah.
Di Mana Allah?
Diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ Muslim dari sahabat yang mulia, Mu'āwiyah bin Al-Ḥakam As-Sulamiy -raḍiyallāhu 'anhu-, dia mengisahkan: Aku memiliki seorang budak perempuan yang menggembala kambing milikku di area Uhud. Suatu hari saya naik, ternyata serigala mengambil satu ekor kambing gembalaannya, sedangkan saya sama seperti manusia lainnya, dapat marah sebagaimana mereka marah. Saya pun memukulnya dengan keras.
Lantas saya datang menemui Rasulullah ﷺ dan beliau menganggap tindakan saya itu sebagai kejahatan yang besar. Saya berkata, "Wahai Rasulullah! Bolehkah aku memerdekakannya?" Beliau bersabda, "Bawa ia kepadaku." Saya pun menghadirkannya kepada beliau, lalu beliau bertanya, "Di manakah Allah?" Dia menjawab, "Di langit." Beliau bertanya lagi, "Siapa aku?" Dia menjawab, "Engkau utusan Allah." Beliau bersabda, "Merdekakanlah dia. Sungguh dia beriman."
Makna Allah berada di langit yaitu di ketinggian di atas langit. Kata (في) memiliki makna (على), sebagaimana firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "Sungguh, akan aku salib kamu di atas pangkal pohon kurma.” [QS. Ṭāhā: 71] Jangan disangka bahwa langit meliputi Allah karena Allah jauh lebih agung dari diliputi sesuatu di antara makhluk-Nya.
Pembaca budiman! Saya berhenti di sini sejenak. Saya katakan, apakah boleh menyifati Allah ﷻ dengan kebalikan sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, seperti mengatakan Allah ada di semua tempat?
Syekh Islam Ibnu Taimiyyah -raḥimahullāh- berkata dalam Majmū' al-Fatāwā, "Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah menetapkan sifat tinggi bagi diri-Nya. Ini merupakan sifat pujian dan pengagungan bagi-Nya karena merupakan sifat kesempurnaan, sebagaimana Dia telah memuji diri-Nya bahwa Dia Mahaagung, Maha Mengetahui, Mahakuasa, Mahaperkasa, Mahalembut, dan lain sebagainya, dan bahwa Dia Mahahidup yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya, serta makna nama-nama-Nya yang indah lainnya.
Sebab itu, Dia tidak mungkin memiliki sifat-sifat yang merupakan kebalikannya. Tidak boleh Allah disifati dengan kebalikan sifat tinggi, yaitu rendah. Tidak pula kebalikan sifat kuat, yaitu lemah.
Bahkan, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- disucikan dari sifat-sifat kekurangan tersebut yang kontradiksi dengan sifat-sifat kesempurnaan yang telah tetap bagi-Nya."
Demikianlah, di antara tauhid mereka ialah menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Tuhan kita Yang Maha Pengasih Seperti sifat tinggi-Nya Yang Mahasuci di atas langit yang tinggi, bahkan di atas semua tempat.
Dialah Yang Mahatinggi dengan zat-Nya Yang Mahasuci, tidak mungkin menjelaskan kebalikannya. Dialah yang bersemayam di atas Arasy-Nya dengan sebenarnya, Dialah yang mengatur alam semesta.
Allah ﷻ berfirman, "Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy." [QS. Al-A'rāf: 58]
Allah ﷻ juga menyebutkan di dalam Kitab-Nya tentang turunnya Jibril dan malaikat lainnya, "Pada malam itu, turun para malaikat dan Rūh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan." [QS. Al-Qadr: 4] Turun ini tentunya tidak terjadi kecuali dari ketinggian.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- juga menyebutkan bahwa para malaikat naik kepada-Nya, "Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada-Nya, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun." [QS. Al-Ma'ārij: 4]
Sebagaimana Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- juga menyebutkan bahwa amal saleh dan ucapan yang baik naik (terangkat) kepada-Nya, "Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya." [QS. Fāṭir: 10]
Lalu, kepada siapa amal-amal itu diangkat (dinaikkan)?
Bila Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- di semua tempat, bagaimana harus memahami makna kata turun itu? Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan.
Tuhan kita ﷻ Mahasuci dari keserupaan dan tandingan.
Tuhan kita ﷻ Mahasuci dari kepemilikan istri dan anak: "Sesungguhnya Mahatinggi keagungan Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak beranak." [QS. Al-Jinn: 3]
Tuhan kita ﷻ Mahasuci dari sekutu dalam hak peribadatan: "Ketika Allah mengaruniakan kepada mereka seorang anak laki-laki yang sempurna (wujudnya), maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terkait (anak) yang dikaruniakan kepada mereka, Mahasuci Allah dari perbuatan syirik mereka." [QS. Al-A'rāf: 190]
Jalan terbaik...
Siapa yang memahami makna ketiga nama Allah: "Al-'Aliy, Al-A'lā, Al-Muta'āliy", maka akan memahami bahwa Allah ﷻ Mahatinggi dengan sifat-sifat kesempurnaan, Mahatinggi dari sifat-sifat kekurangan, dan Mahatinggi dari makhluk-Nya.
Siapa yang memenuhi hak kesaksiannya ini secara pengetahun dan ibadahnya kepada Allah, maka dia akan merasa cukup dengan Allah dan akan menggapai kemuliaan. "Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi." [QS. Maryam: 57]
Kedudukan tinggi di dunia dan akhirat dapat diraih dengan:
1- Iman. "Barang siapa datang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan telah mengerjakan kebajikan, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia)" [QS. Ṭāhā: 75]
2- Ilmu. "Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." [QS. Al-Mujādilah: 11]
2- Tawaduk. Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tidaklah seseorang tawaduk karena Allah kecuali dia akan diangkat oleh Allah." [HR. Muslim]
Tatkala salah seorang sahabat -raḍiyallāhu 'anhu- meminta untuk membersamai Nabi ﷺ di surga, beliau bersabda kepadanya, "Bantu aku untuk dirimu dengan memperbanyak sujud." [HR. Muslim] Sedangkan zikir dalam sujud ialah: "Subḥāna rabbiyal-a'lā (Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi)". Allah ﷻ juga berfirman, "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi." [QS. Al-A'lā: 1]
Sebagian ulama memberikan alasan kenapa doa ini dibaca di dalam sujud, bahwa sujud adalah puncak perendahan diri seorang hamba kepada Allah ﷻ dengan anggota tubuh paling mulia pada dirinya, yaitu wajahnya, dengan meletakkannya pada tanah, sehingga sangat tepat ketika dia berada di puncak kerendahannya untuk menyifati Tuhannya sebagai "Mahatinggi".
Oleh karena itu, ketika keadaan seorang hamba pada posisi itu, maka keadaan itu adalah yang paling dekat kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Nabi ﷺ bersabda, "Posisi terdekat seorang hamba dari Tuhannya ialah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa di dalamnya." [HR. Muslim]
Cita-cita yang Tersampaikan ...
Setelah engkau mengetahui bahwa bumi diatur oleh Allah Yang Mahatinggi ﷻ, yang di tangan-Nya kerajaan langit dan bumi, maka wahai orang yang sakit! Yang Maha Menyembuhkan ada di langit. Wahai orang yang fakir! Yang Mahakaya ada di langit. Wahai orang yang bersedih! Yang Maha Penghibur ada di langit. Wahai orang yang mandul! Yang Maha Pemberi ada di langit. Wahai orang yang berhutang! Yang Maha Memberi rezeki ada di langit. Wahai orang yang gundah! Yang Maha Penolong ada di langit ...
Tengadahkanlah hati dan wajahmu ke langit. Berdoalah kepada Yang Mahatinggi, lalu tunggulah kabar gembira yang menenangkan hatimu. Sungguh, engkau telah diberi kabar gembira dari atas tujuh langit melalui firman-Nya: "Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Mahadekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran." [QS. Al-Baqarah: 186]
Bagi-Mu segala puji, wahai pemilik kebaikan, kemuliaan, dan ketinggian,
Mahasuci Engkau, Engkau memberi dan menghalangi siapa yang Engkau kehendaki.
Tuhanku, kalaupun kesalahanku besar dan banyak,
sungguh maaf-Mu terhadap dosaku lebih besar dan lebih luas.
Tuhanku, Engkau melihat keadaan, kebutuhan, dan kemiskinanku,
pun Engkau mendengar panggilanku yang samar.
Tuhanku, bila Engkau menghalangi atau mengusirku,
lantas siapa yang dapat kuharap dan siapa pula penolongku?
Ya Allah! Kami memohon kepada-Mu dengan nama-Mu, Al-A'lā (Yang Mahatinggi), agar Engkau mengangkat kedudukan kami di dunia dan akhirat.
32-33
AL-QĀHIR AL-QAHHĀR ﷻ
Abu Ya'lā meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Firaun memasang 4 pasak untuk istrinya; di kedua tangannya dan kedua kakinya. Bila mereka meninggalkannya, dia dinaungi oleh para malaikat. Maka dia berkata, 'Ya Tuhanku! Bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.'" [QS. At-Taḥrīm: 11] [Hadis sahih]
Dari kamar Firaun yang kejam, keluar seorang wanita penduduk bumi yang paling agung! Dari istananya keluar Musa -'alaihissalām-!
Firaun yang mengatakan, “Kita akan bunuh anak-anak laki-laki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh atas mereka.” [QS. Al-A'rāf: 127] Allah Yang Mahaperkasa lalu membinasakan penguasa kejam ini dan menjadikannya pelajaran bagi orang setelahnya: "Maka pada hari ini, Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami." [QS. Yūnus: 92]
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memuji diri-Nya Yang Mahatinggi dalam firman-Nya, "Dialah Yang Mahakuasa di atas hamba-hamba-Nya dan Dia Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-An'ām: 18]
Tuhan kita ﷻ Yang Mahakuasa dengan kerajaan-Nya yang mulia, yang melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya di dalam alam-Nya, tidak ada sesuatu pun yang mengalahkan kehendak-Nya.
Dialah yang membinasakan para diktator dan para kaisar. Semua batang leher makhluk tertunduk kepada-Nya, semua kesulitan menjadi ringan di hadapan kekuasaan-Nya, semua wajah hina di hadapan-Nya, dan semua makhluk tunduk dan rendah di hadapan keagungan dan kebesaran-Nya.
Dialah Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang seluruh makhluk tunduk dan hina di hadapan keperkasaan, kekuatan, dan kekuasaan-Nya yang sempurna.
Dia ﷻ menguasai semua alam langit dan bumi; tidak ada peristiwa yang terjadi dan tidak pula yang diam melainkan dengan seizin-Nya. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi, dan yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Inilah makna kedua nama Allah ﷻ: Al-Qāhir dan Al-Qahhār.
Demikian juga nama Al-Qahhār termasuk sifat-Nya ... semua makhluk tunduk dengan kuasa-Nya.
Seandainya Dia tidak Mahahidup, Mahaperkasa, dan Mahakuasa ... tentulah Dia tidak memiliki kekuataan dan kekuasan.
Dialah Yang Mahakuasa ...
Siapakah yang mengabulkan doa orang yang tertimpa musibah dan menghilangkan keburukan? Siapakah yang menghidupkan kembali tulang belulang setelah hancur, lalu mengembalikan makhluk sebagaimana mereka diciptakan pertama kali, dan itu lebih mudah baginya? Siapakah yang menolong orang yang terzalimi tatkala ia dizalimi? Siapakah yang menolong orang yang lemah tatkala ia disiksa?
Dialah, Tuhan kita Yang Mahakuasa dan Mahabijaksana. Dia tidak menciptakan sesuatu sia-sia dan tidak pula meninggalkan sesuatu percuma. Dia tidak menerima suatu perbuatan atau meletakkan suatu syariat kecuali karena berbagai hikmah yang diketahui oleh sebagian orang dan tidak diketahui oleh selainnya.
Hanya kepada-Mu semua urusan dikembalikan, seluruhnya.
Dan hanya dari-Mu angan-angan dan kebaikan-kebaikan diharapkan.
Lalu, siapakah yang berhak untuk diesakan dan diibadahi? Bukankah Allah Yang Maha Esa dan Mahakuasa yang tidak memiliki tandingan?!
Dengan penjelasan itu, Yusuf -'alaihissalām- menyampaikan argumennya kepada kedua rekannya di penjara. Dia berkata, "Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa, Mahaperkasa?" [QS. Yūsuf: 39]
Pernahkah kalian melihat seorang yang dikuasai (dikalahkan) mampu mendatangkan manfaat atau mengangkat keburukan dari dirinya? Lalu, bagaimana makhluk yang dikuasai dan lemah dimintai pertolongan dan diserahi urusan, padahal hanyalah Allah Yang Maha Esa lagi Mahakuasa?!
Di antara doa Nabi ﷺ ketika terbangun dari tidurnya: "Lā ilāha illallāh al-wāḥidul-qahhār, rabbus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, al-'azīzul-gaffār" Artinya: "Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa, Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, Yang Mahamulia dan Maha Pengampun." [Hadis sahih; HR. Ibnu Hibban]
Serahkan Urusanmu kepada-Nya ...
Manakala orang yang beriman mengetahui bahwa hanya Allahlah Yang Maha Esa dan Mahakuasa, ia mengumumkan ketundukan kepada Allah, menyerahkan urusannya dan berserah diri kepada-Nya, tidak mengagungkan kecuali Allah, tidak takut kecuali kepada Allah, dan rasa takutnya kepada makhluk-makhluk yang lemah seketika hilang sekalipun mereka mengklaim diri kuat dan hebat.
Lihatlah para tukang sihir Firaun, manakala iman masuk ke dalam hati mereka dan mengetahui bahwa Allahlah Yang Maha Esa dan Mahakuasa, maka jawaban mantap mereka kepada si Diktator Firaun tatkala ia mengancam mereka adalah: "Tidak ada yang kami takutkan karena kami akan kembali kepada Tuhan kami." [QS. Asy-Syu'arā`: 50]
Allah ﷻ adalah Yang Mahakuasa terhadap orang-orang yang sewenang-wenang dan durhaka: "Dialah Yang Mahakuasa di atas hamba-hamba-Nya dan Dia Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-An'ām: 18] Dia mengalahkan kaum Nabi Nuh dengan banjir bandang. Dia mengalahkan kaum Nabi Ṣāliḥ dengan suara yang mengguntur. Dia mengalahkan kaum 'Ād dengan angin. Dia mengalahkan kaum Nabi Lūṭ dengan bebatuan. Dia mengalahkan Qārūn dengan dibenamkan ke bumi. Dia mengalahkan kaum Saba` dengan kelaparan, kehausan, dan kesempitan rezeki. Dia mengalahkan Bani Israil dengan rasa takut, penguasaan musuh, dan banyaknya pembunuhan, dan sebagian mereka lagi dikalahkan dengan pengubahan rupa dan penyakit taun.
Kemahakuasaan Allah ﷻ sangat jelas: "Kami tidak menzalimi mereka, justru merekalah yang menzalimi diri sendiri." [QS. An-Naḥl: 118] Allahlah yang kekuasaan-Nya melengserkan kekuasaan makhluk, kekuatan makhluk semuanya sirna di hadapan kekuatan-Nya: "(Allah berfirman), 'Milik siapakah kerajaan pada hari ini?' Milik Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan." [QS. Gāfir: 16]
Ar-Rāziy -raḥimahullāh- berkata, Di manakah orang-orang yang sewenang-wenang dan para raja ketika panggilan ini diumumkan?!
Di manakah para nabi dan rasul serta malaikat-malaikat yang didekatkan ketika teguran ini dikumandangkan?!
Di manakah orang-orang yang sesat dan kafir, dan di manakah orang-orang yang bertauhid dan mengikuti petunjuk?!
Di manakah Adam dan anak keturunannya?
Di manakah Iblis dan para pendukungnya?
Seakan mereka tidak lagi ada dan telah sirna!
Nyawa keluar, roh bertebaran, semua badan dan orang hancur, dan anggota badan tercerai berai. Yang tersisa hanyalah Tuhan Yang Mahaada, yang selalu dan akan selalu ada.
Bukan suatu keharusan agar semua urusan diselesaikan di dunia. Akan ada penuntutan kezaliman yang kembali ditegakkan pada hari Kiamat! Fakta itu lebih menghentak daripada palu neraka di hati orang-orang yang zalim ... "Sesungguhnya tempat kembali kita pasti kepada Allah." [QS. Gāfir: 43]
Imama Syafi'i berkata, "Ada sebuah ayat dalam Al-Qur`ān yang merupakan panah di hati pelaku kezaliman dan obat bagi hati orang yang terzalimi." Beliau ditanya, "Ayat apakah itu?" Beliau menjelaskan, "Yaitu firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: 'Sungguh, Tuhanmu tidaklah lupa.' [QS. Maryam: 64]"
Ya Allah Yang Maha Menguasai lagi Mahaperkasa! Lindungilah kami dari keburukan orang-orang yang buruk dan tipu daya orang-orang yang fajir.
34
AL-WAHHĀB ﷻ
Demikian pula "Al-Wahhāb" bagian dari nama-Nya,
maka lihatlah anugerah-Nya sepanjang waktu.
Penduduk langit yang tinggi dan penduduk bumi,
tidak pernah lepas dari pemberian itu.
Allah memuji diri-Nya Yang Mahatinggi dalam firman-Nya, "Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Mahaperkasa, Maha Pemberi?" [QS. Ṣād: 9]
Karunia Tuhan kita -Tabāraka wa Ta'ālā- sangat luas, mencakup semua makhluk di bumi dan di langit, pemberian-Nya tidak berhenti sekarang dan di waktu yang akan datang. Dia memberi tanpa diminta dan tanpa perantara, dan Dia memberi anugerah tanpa sebab dan tanpa upaya: "Ya Tuhan kami! Janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." [QS. Āli 'Imrān: 8] "Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi?" [QS. Ṣād: 9]
Dialah Yang Maha Pemberi
Mahasuci Allah, Pencipta Yang Mahaagung, Maha Pemurah lagi Maha Pemberi!
Pemurah adalah salah satu sifat-Nya. Kedermawanan adalah sifat-Nya yang paling besar. Memberi adalah anugerah-Nya yang paling tinggi. Adakah yang lebih pemurah dari-Nya?!
Makhluk-makhluk bermaksiat kepada-Nya, sementara Dia mengawasi mereka. Dia memelihara mereka seakan mereka tidak bermaksiat kepada-Nya, serta menjaga mereka seakan mereka tidak melakukan dosa. Dia dermawan dengan kebaikan kepada pelaku maksiat dan memberi karunia kepada pelaku keburukan.
Siapakah yang pernah berdoa kepada-Nya namun tidak dikabulkan?! Atau adakah yang pernah meminta kepada-Nya lalu tidak diberikan?! Ataukah ada yang pernah datang ke dapan pintu-Nya lalu dijauhkan-Nya?
Mahasuci Allah yang memberi harapan karena lintasan ... dalam hati yang tidak dilontarkan lisan.
Mahasuci Allah yang senantiasa memberi jaminan rezeki-Nya untuk segenap makhluk.
Nikmat Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- mengalir terus-menerus kepada hamba semenjak ia berupa mani dalam kandungan ibunya, lalu membentuk pendengaran dan penglihatannya, meniupkannya roh lalu memberinya makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal, menjaganya serta memberikannya semua yang dimintanya.
Allah ﷻ berfirman kepada hamba, "Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata, dan lidah dan sepasang bibir? Kami juga telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)?" [QS. Al-Balad: 8-10] "Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah, Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji." [QS. Fāṭir: 15]
Dia menciptakan dan memberimu rezeki, menghidupkan dan mematikanmu, memberi dan menganugerahimu. Dia mengujimu dengan penyakit dan menyembuhkanmu, mengujimu dengan rasa lapar lalu memberimu makan hingga kenyang, mengujimu dengan rasa haus lalu memberimu minum. Dia membuatmu tertawa dan menangis, Dia mengajarimu apa yang tidak kamu ketahui, mengenalkanmu dengan apa yang kamu tidak mengerti, dan menyiapkan rezekimu.
Dia juga mengabulkan doamu, menjawab panggilanmu, mengutus seorang rasul kepadamu, mengajarimu sebuah kitab, serta menuntunmu ke jalan yang lurus... Lalu apakah setelah ini semua, kamu malah bermaksiat kepada-Nya?! "Celakalah manusia, alangkah kufurnya dia!" [QS. 'Abasa: 17]
Di Pintunya Anda Bersimpuh...
Apakah dunia terasa sempit bagimu?
Apakah kamu tersiksa oleh penyakit?
Apakah kamu dibelenggu oleh hutang?
Apakah kamu diruntuhkan oleh kemiskinan?
Apakah kamu mendambakan istri dan anak?
Apakah pikiranmu bingung dan kacau?
Pada saat itu, kamu harus kembali kepada Allah Yang Maha Pemberi karunia yang tak terhingga. Cukup kamu angkat kedua tanganmu, berdiri di depan pintu-Nya, dan berlindung kepada-Nya, maka kamu akan melihat bagaimana kelaparan dan dahaga berubah menjadi kekenyangan, bergadang berubah menjadi tidur yang tenang, sakit berubah menjadi sehat, orang yang hilang akan datang, yang tersesat mendapat petunjuk, yang kesulitan akan dilepaskan (dari kesulitannya), dan kegelapan menjadi sirna.
Dialah Yang Maha Pemberi -Subḥānahu wa Ta'ālā-, yang mengubah air mata menjadi senyuman, rasa takut menjadi rasa aman, rasa cemas menjadi rasa tenang, memberikan malam kabar gembira dengan fajar sadik, memasukkan kegembiraan pada orang yang dirundung sedih dengan pertolongan tiba-tiba, dan mengirimkan kabar baik pada orang yang tertimpa bencana dengan kebaikan diam-diam.
Perbendaharaan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- tak terhingga dan tidak akan habis. Dialah yang berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu." [QS. Gāfir: 60] Siapa yang berdoa kepada Allah, hendaklah memohon permintaan yang besar karena tidak ada sesuatu pun yang besar bagi-Nya! Lihatlah Nabi Sulaiman -'alaihissalām- ketika meminta kebaikan dunia dan akhirat: "Dia berkata, 'Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.'” [QS. Ṣād: 35]
Lihatlah pula Nabi Zakaria yang telah berusia tua sedangkan istrinya mandul, namun kendati demikian dia tetap berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” [QS. Āli 'Imrān: 38]
Kembalilah kepada Yang Maha Pemberi!
Kerajaan, kekuasaan, harta, keturunan, dan kesehatan seluruhnya berasal dari Allah Yang Maharaja lagi Maha Pemberi: "Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 247] "Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki." [QS. Asy-Syūrā: 49]
Doa paling agung yang dipanjatkan seorang hamba kepada Tuhannya ialah doa orang berilmu yang mengenal kunci munajat kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang indah. Mereka memohon diberikan keteguhan dan rahmat: "Ya Tuhan kami! Janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." [QS. Āli 'Imrān: 8]
Oleh karena itu, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menjadikannya di setiap rakaat sebagai doa yang kita lantunkan dan harapkan agar dikabulkan oleh-Nya, yaitu hidayah yang tersebut dalam ayat: "Tunjukilah kami jalan yang lurus." [QS. Al-Fātiḥah: 6]
Rahasia Kenikmatan Ibadah Doa!
Allah mencintai orang yang meminta kepada-Nya. Bahkan, kalaulah bukan karena doa mereka, maka Allah tidak memedulikan mereka: "Katakalah (Muhammad, kepada orang-orang musyrik), 'Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu kalau tidak karena doamu.'" [QS. Al-Furqān: 77]
Di antara doa yang kita gunakan mendekatkan diri kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah doa yang Dia ajarkan dalam firman-Nya: "Orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami! Anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.'" [QS. Al-Furqān: 74]
Bahkan, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menjanjikan surga setelah doa itu: "Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam." [QS. Al-Furqān: 75]
Siapa yang bergantung kepada Allah dan berlindung kepada-Nya di setiap yang ia inginkan dan harapkan serta terus-menerus mengetuk pintu Allah dengan menampakkan kebutuhan kepada-Nya serta berdoa dan melakukan munajat yang panjang, Allah akan memuliakannya dan melindunginya, memberinya lebih dari yang ia angankan, dan Dia akan menolong dan membantunya sepanjang hidup.
Bisikan ...
Tuhan kita ﷻ memberi karunia di dunia sebagai bentuk ujian dan memberi karunia di akhirat sebagai bentuk pahala dan balasan.
Pemberian-Nya di dunia dikaitkan-Nya dengan kehendak-Nya dan sebagai ujian kepada manusia sesuai dengan hikmah-Nya, supaya hamba bergantung kepada Tuhannya ketika berdoa dan berharap, serta mewujudkan tauhid dan iman kepada-Nya di antara doa dan takdir.
Ini adalah bentuk anugerah dan karunia yang paling besar ketika hamba mengetahui hakikat ujian tersebut.
Bila hamba telah mengetahui hal itu, maka nama ini akan melahirkan kecintaan hamba kepada Tuhannya, melakukan pujian dan syukur kepada-Nya, serta terus-menerus bergantung kepada-Nya.
Bagi-Mu segala pujian, ya Allah, wahai sebaik-baik pemberi.
Wahai sebaik-baik yang diharap untuk meraih cita-cita.
Wahai sebaik-baik yang diharap untuk mengangkat ujian.
Wahai sebaik-baik pemberi karunia dan anugerah.
Ya Allah! Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan semua kaum muslimin, ya Rabbal-'Alamin!
35
AR-RAZZĀQ ﷻ
Setelah lapar kenyang, setelah haus ada kesegaran, setelah miskin ada kaya, setelah bergadang ada tidur, setelah sakit ada sehat ... Hutang akan terbayar, rezeki akan melimpah, yang tertawan akan bebas, yang dirundung musibah akan diberi pertolongan, dan kegelapan akan lenyap. "Mudah-mudahan Allah mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya." [QS. Al-Mā`idah: 52]
Ketika kamu dikepung oleh berbagai kebutuhan, ujian demi ujian datang menyerangmu, berbagai kesusahan mengelilingimu, hutang pun banyak dan rezeki sempit, maka menghadaplah kepada Allah Yang Maha Pemberi rezeki, yang mengangkat kesedihan, membuang kesusahan, dan mengabulkan doa orang yang kesulitan.
Kenalilah Allah Yang Maha Pemberi rezeki dari dekat dan hiduplah bersama nama yang agung ini; yang tidak akan masuk ke telinga seorang yang mendengarnya kecuali hatinya akan tenteram, jiwanya tenang ,dan keadaannya berubah.
"Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." [QS. Aż-Żāriyāt: 58]
Tuhan kita adalah Yang Maha Pemberi rezeki, yang menjamin rezeki, dan yang mengurus setiap jiwa. Rezeki dan rahmat-Nya mencakup seluruh makhluk. Allah ﷻ tidak mengkhususkan hal itu untuk orang beriman tanpa orang kafir, maupun seorang wali tanpa musuhnya. Allah mengirimnya kepada yang lemah sebagaimana Dia kirim kepada yang kuat. Allah mengirimnya kepada janin dalam kandungan ibunya dan kepada burung di sarangnya. Begitu juga, Allah mengirimnya kepada ular di lubangnya dan kepada ikan di laut tempat tinggalnya. "Berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui." [QS. Al-'Ankabūt: 60]
Nama ini hadir dalam bentuk tunggal satu kali dan dalam bentuk jamak sebanyak lima kali dalam Al-Qur`an Al-Karim.
Kata "Ar-Razzāq" hadir dalam bentuk hiperbol, supaya jiwamu tenteram, dan engkau tahu bahwa Dia itu Maha Pemurah, dan supaya hati hanya bergantung kepada-Nya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Ada seorang laki-laki yang membutuhkan suatu hajat lalu keluar rumah. Istrinya lantas berdoa, "Ya Allah! Anugerahkan kepada kami sesuatu yang bisa kami adon dan kami buat roti."
Laki-laki itu kemudian datang sedangkan mangkuknya penuh dan di tungku ada iga yang dipanggang, sedangkan penggilingan sedang menggiling. Dia bertanya, "Itu dari mana?" Istrinya menjawab, "Berasal dari rezeki Allah." Lalu ia menyapu seputar penggilingan.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Seandainya ia membiarkannya, penggilingan itu akan terus berputar -atau beliau mengatakan: menggiling- hingga hari Kiamat." [Hadis sahih; HR. Aṭ-Ṭabarāniy dalam Al-Mu'jam Al-Ausaṭ]
Takdir Telah Ditetapkan ...
Andai di dalam batu yang kokoh di dalam lautan,
yang bulat, keras lagi licin semua sisinya,
ada rezeki bagi hamba menurut Allah, batu itu pasti terbelah
hingga ia memberikan semua isinya kepada hamba tersebut.
Ataupun jika jalurnya ada di antara tujuh lapis langit,
niscaya Allah kan mudahkan tangganya untuk naik
hingga ia menggapai yang dituliskan baginya di Lauhilmahfuz;
Kalau bukan rezeki itu yang datang kepadanya, atau dia yang akan mendatanginya.
Dalam Ṣaḥīḥ Bukhari disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah ﷻ menugaskan satu malaikat untuk mengurus rahim. Ia berkata, 'Wahai Tuhanku! Ini adalah setetes mani. Wahai Tuhanku! Ini adalah segumpal darah. Wahai Tuhanku! Ini adalah segumpal daging.' Ketika Allah hendak menetapkan penciptaannya, malaikat itu berkata, 'Wahai Tuhanku! Laki-laki atau perempuan? Sengsara atau bahagia? Bagaimana rezekinya? Kapan ajalnya?' Lantas semuanya itu ditulis saat di perut ibunya."
Rezekimu dari Maha Pemberi rezeki telah dijamin, tidak akan dapat digerus oleh ketamakan seorang yang rakus, dan tidak pula dapat ditolak oleh kebencian seorang pembenci.
Disebutkan dalam hadis bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh rezeki akan mengejar seorang hamba sebagaimana ia dikejar oleh ajalnya." [Hadis sahih; HR. Ibnu Hibban]
Juga diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sungguh, seorang jiwa tidak akan meninggal hingga ia mendapatkan rezekinya secara penuh." [Hadis sahih; HR. Ibnu Majah]
Allah menurunkan rezeki sesuai porsinya, karena Dialah yang lebih tahu keadaan hamba dan apa yang tepat untuk mereka. "Sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 27] Ibnu Kaṡīr -raḥimahullāh- berkata, "Yaitu Mahateliti lagi Maha Melihat siapa yang patut kaya dan siapa yang patut miskin."
Perbendaharaan-Nya Penuh ...
Rezeki Allah tidak ada habisnya, dan semua itu tanpa berat maupun beban dan sulit, karena Dia Maha Pemberi rezeki tanpa beban.
Dalam hadis qudsi disebutkan: "Wahai hamba-hamba-Ku! Seandainya orang-orang yang terdahulu dan yang belakangan serta semua jin dan manusia berkumpul di atas tanah lapang, lalu semuanya memohon kepada-Ku, dan masing-masing Aku penuhi permohonannya, maka hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada di sisi-Ku melainkan hanya seperti air yang berkurang oleh jarum ketika dimasukkan ke dalam lautan." [HR. Muslim]
Di samping Allah memberi rezeki seluruh makhluk, Dia juga memiliki kelembutan yang luas. Hal ini telah diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tidak ada seorang pun yang lebih bersabar atas keburukan yang didengarnya daripada Allah, yaitu manusia menuduh-Nya memiliki anak, sementara Dia masih juga memberi mereka kesehatan dan rezeki." [HR. Bukhari dan Muslim]
Renungkan Sejenak!
Banyaknya rezeki tidak menunjukkan cinta dari Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-! Itu hanya prasangka orang-orang kafir dan jahil, bahwa pertambahan rezeki menunjukkan cinta dan rida dari Allah. Padahal Allah telah berfirman, "Mereka berkata, 'Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami tidak akan diazab. Katakanlah, 'Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki), tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.'" [QS. Saba`: 35-36]
Sebagaimana sedikitnya rezeki tidak menunjukkan penghinaan: "Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, 'Tuhanku telah memuliakanku.' Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, 'Tuhanku telah menghinakanku.' Sekali-kali tidak!" [QS. Al-Fajr: 16-17]
Kunci-kunci Rezeki ...
Di antara perkara paling besar yang mendatangkan kebahagiaan dan ketenteraman pada hamba ialah sikap bertumpu dan pasrah kepada Tuhan yang memberinya rezeki, serta sikap mencukupkan diri dengan penjagaan dan pengurusan-Nya. "Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur`an). Dia melindungi orang-orang saleh." [QS. Al-A'rāf: 196]
Ketika Allah mencintai hamba, Dia akan menghadirkan takwa dalam hatinya. Ini adalah sebab rezeki yang paling besar, bahkan lebih besar dari semua teori ekonomi. "Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan." [QS. Al-A'rāf: 96] "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Lalu Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." [QS. Aṭ-Ṭalāq: 2-3]
Sudah merupakan sunatullah di alam ini kalau rezeki itu ada kaitannya dengan ketaatan. "Sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil, dan (Al-Qur`an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka." [QS. Al-Mā`idah: 66]
Demikian juga sebaliknya, kemaksiatan menghalangi rezeki dan menghilangkan keberkahan. "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." [QS. Ar-Rūm: 41]
Rezeki-rezeki yang Terlupakan!
Akhlak yang baik, keamanan bernegara, fisik yang sehat, memiliki makanan untuk satu hari, bertemu orang yang mencintai, keberadaan saudara, tawa anak, kesalehan istri, teman yang baik, jiwa yang tenteram, mata yang dapat melihat, lisan yang dapat bicara, telinga yang dapat mendengar, serta tidur yang nyenyak. Yang lebih besar dari itu semuanya ialah orang yang Allah anugerahi keberadaan kedua orang tua atau salah satunya.
Bila engkau dianugerahi akhlak terpuji, sungguh engkau telah dipilih oleh Allah yang membagi-bagi karunia.
Manusia itu, ada yang bagiannya harta, sedangkan yang itu bagiannya ilmu, dan yang itu akhlak mulia.
Terakhir ...
Hendaklah hamba mewaspadai tindakan setan yang menakut-nakutinya dalam masalah rezeki. Allah ﷻ berfirman, "Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Allah Mahaluas lagi Maha Mengatahui." [QS. Al-Baqarah: 268]
Salah seorang salaf berkata, "Manusia mempercayai Iblis dan mendustakan Allah dalam masalah rezeki!"
Jiwa resah bila akan miskin,
padahal kemiskinan lebih baik daripada kekayaan yang menzaliminya.
Kaya jiwa adalah yang memberi kecukupan; jika ia enggan,
semua yang ada di bumi tidak menjadikannya cukup.
Ya Allah! Berikanlah kami petunjuk, ketakwaan, kesucian, dan rasa cukup. Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.
36
AL-FATTĀH ﷻ
Wahai orang yang bosan hidup dan jemu pada kehidupan, yang merasakan hari-hari yang sempit dan sesak! Sungguh di sana terdapat pertolongan besar dan dekat, pertolongan dan kemudahan setelah kesulitan. Di sana terdapat kebaikan yang tersembunyi di depan dan belakangmu. Di sana terdapat harapan yang bersinar, masa depan yang indah, dan janji yang benar. "(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya." [QS. Ar-Rūm: 6]
Sungguh, ada solusi dan pertolongan bersama Allah Yang Maha Pembuka terhadap kesempitanmu; ada ketenangan bersama Allah Yang Maha Pembuka terhadap kesedihanmu.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman tentang diri-Nya, "Dia Yang Maha Pemberi keputusan, Maha Mengetahui." [QS. Saba`: 26]
Tuhan kita -Tabāraka wa Ta'ālā- membuka gembok hati dengan petunjuk, iman dan ketakwaan.
Dialah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang akan membuka kebaikan, memutuskan, dan mengadili di antara hamba-hamba-Nya dengan benar di akhirat; keputusan yang tidak mengandung kezaliman dan kelaliman, tetapi keputusan yang adil dan benar, dan Allah adalah sebaik-baik pemutus: "Katakanlah, 'Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Sungguh DiaYang Maha Pemberi keputusan, Maha Mengetahui.'" [QS. Saba`: 26]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- akan mengangkat kegundahan dari hamba-hamba-Nya, menyegerakan pertolongan, menghilangkan kesusahan, menyingkirkan keburukan, melimpahkan rahmat, membuka pintu-pintu karunia, dan memutuskan bagi hamba-hamba-Nya dalam urusan dunia mereka apa yang akan membuat kehidupan mereka jadi baik dan lurus. "Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya. Sebaliknya, apa saja yang ditahan-Nya, maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." [QS. Fāṭir: 2]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang membuka pintu ilmu, hikmah, pengetahuan, dan keyakinan bagi para nabi-Nya, para wali-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang saleh. "Bertakwalah kepada Allah! Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. Al-Baqarah: 282]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang membuka berbagai kerajaan dan kota bagi hamba-hamba-Nya yang saleh dan beriman. "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." [QS. Al-Fath: 1]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang membuka berbagai macam kenikmatan bagi para pelaku maksiat sebagai bentuk istidraj bagi mereka. "Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa." [QS. Al-An'ām: 44]
Demikian juga "Al-Fattāḥ" bagian dari nama-Nya ... Sedangkan sifat membuka terkait sifat-sifat-Nya terbagi menjadi dua ... Membuka hukum, yaitu syariat Tuhan kita ... dan yang kedua adalah membuka takdir.
Tuhan adalah Yang Maha Membuka dengan kedua maknanya ... sebagai keadilan dan kebaikan dari Allah Yang Maha Penyayang.
Realitas ...
Saya telah sebutkan dalam definisi apa yang disebutkan oleh para ulama tentang makna nama Allah "Al-Fattāḥ". Ia merupakan definisi yang komprehensif, tetapi di pembahasan ini saya akan berhenti sejenak pada firman Allah ﷻ: "Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya. Sebaliknya, apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." [QS. Fāṭir: 2]
Ada satu realitas yang harus selalu diingat oleh seorang mukmin, yaitu tidak ada jalan bagi keinginan apa pun kecuali melalui jalan Allah ﷻ, tidak ada wujud bagi suatu kebutuhan kecuali pada pintu Allah ﷻ, dan tidak ada kemungkinan untuk terjadinya sesuatu kecuali dengan kehendak Allah ﷻ. Sungguh, hanya Dia semata yang kuasa, tidak ada daya maupun kekuatan pada wujud ini kecuali dengan kehendak-Nya ﷻ.
Tidak mungkin suatu sel untuk bergerak, tidak pula suatu atom untuk terbentuk, suatu tetesan untuk menguap, atau sebuah daun untuk jatuh kecuali dengan kekuasaan dan kekuatan Allah ﷻ.
Alam seluruhnya tidak akan kuasa menimpakan kepadamu suatu keburukan yang tidak diinginkan oleh Allah ﷻ. Pun alam seluruhnya tidak kuasa menolak darimu suatu keburukan yang telah ditetapkan oleh Allah ﷻ.
Sebagian salaf pernah menulis surat kepada seorang saudaranya: "Amabakdu; jika Allah bersamamu, siapa yang kamu takuti? Namun jika Allah tidak membantumu, siapa yang dapat kamu harapkan?!"
Semua Kunci Ada di Tangan-Nya ...
Ketika orang sakit membutuhkan kesembuhan setelah tersiksa dan lelah oleh rasa sakit; dunia baginya sempit, dokter-dokter menyerah, pintu obat telah tertutup baginya, ternyata Allah Yang Maha Penyayang, Maha Pembuka, Maha Mengetahui, dan Maha Menyembuhkan, memberikannya kesembuhan melalui suatu sebab atau sebab yang paling lemah, atau sebab yang paling dekat maupun tanpa sebab. Maka ingatlah, Dialah Al-Fattāḥ -Tabāraka wa Ta'ālā-.
Ketika keadaan menghancurkanmu, kesulitan bersatu menyerangmu, krisis berhamburan memusuhimu, rasa sakit berebutan dalam hatimu, sementara pintu solusi tertutup untukmu, sehingga engkau mengira bahwa kesedihan dan kesusahan itu itu tidak lagi memiliki solusi, ternyata Al-Fattāḥ mengirim pertolongan-Nya kepadamu melalui perkara yang paling sederhana dan keinginan-Nya terwujud menurut yang dikehendaki-Nya.
Ketika kemiskinan menimpamu, hutang menyelimutimu, raut mukamu pun berubah, hatimu hancur manakala mengingat anak-anakmu, kamu merasa takut pada pemberi pinjaman hutang, akal jernihmu bingung, dan pikiranmu kacau, sehingga sudah tidak ada lagi pintu solusi untukmu...
Di saat itulah, Al-Fattāḥ ﷻ mengirim pertolongan yang tidak terlihat; hutang pun dilunasi, kemiskinan terangkat, dan hati pun senang. Ingatlah, Dialah Al-Fattāḥ, yang membuka pintu-pintu karunia.
Ketika anak hilang, orang tua musafir, teman dan orang yang dicintai pergi, dan cendekiawan ditawan; sehingga jiwa sesak, pikiran kalut, dan hati berguncang setiap kali mengingat orang yang hilang. Saat itulah, orang beriman akan pasrah di depan pintu Yang Maharaja dan Maha Penolong, seraya meminta agar Dia mengembalikan yang hilang dan menjaganya, baik ia tertawan ataupun musafir. Ternyata kabar gembira datang dari atas langit yang tujuh; orang yang hilang datang, tawanan dilepas, dan orang yang dicintai dikembalikan. "Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan." [QS. An-Naml: 62]
Datanglah kepada-Nya!
Dialah Yang Maha Membuka lagi Maha Mengetahui ﷻ. Sungguh agung urusan-Nya, sungguh tinggi tempat-Nya, sungguh dekat Dia dari makhluk-Nya, sungguh penyayang Dia kepada hamba-hamba-Nya!
Pintu Allah Yang Maha Membuka selalu terbuka. Ketika kamu melihat tali ditarik kencang, ketahuilah ia akan putus. Ketika gelap semakin menggulita, berbahagialah karena pagi semakin dekat. Jangan putus harapan pada Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Membuka. Keadaan stagnan dan tidak berubah itu mustahil, sedangkan ibadah paling afdal ialah menanti pertolongan. Hari terus berputar dan masa terbolak-balik. Malam ibarat wanita yang hamil dan yang gaib itu tertutup. Sedangkan Al-Fattāḥ, maka: "Setiap waktu Dia dalam kesibukan" [QS. Ar-Raḥmān: 29]. Juga: "Barangkali setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru" [QS. Aṭ-Ṭalāq: 1]. Dia pula yang menyatakan: "Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." [QS. Asy-Syarḥ: 5-6].
Katakan kepada dokter saat nyawanya dicabut oleh tangan kematian,
"Siapakah, wahai dokter, yang membunuhmu dengan ilmu kedokterannya?"
Katakan pada yang sakit saat selamat dan sembuh setelah,
berbagai disiplin kedokteran menyerah, "Siapa yang menyembuhkanmu?"
Katakan pada yang sehat saat ia mati tanpa sebab,
"Siapakah yang menimpakan kematian padamu, wahai orang yang sehat?"
Ini adalah keajaiban selama diperhatikan oleh
kedua matamu dan terbuka padanya kedua telingamu.
Wahai manusia, tunggulah! Apakah
yang menyesatkanmu dari Allah ﷻ?
Karunia Khusus ...
Karunia dari Allah Yang Maha Membuka telah dibagi. Sebagian orang dibukakan baginya amalan memanjangkan salat, tetapi tidak dimudahkan untuk banyak puasa. Sebagian dibukakan baginya amalan sedekah, tetapi tidak dibukakan baginya pintu ilmu. Sebagian lagi dibukakan baginya Al-Qur`an, tetapi tidak dibukakan baginya amalan sosial. Yang lain lagi dibukakan baginya pintu berbakti pada kedua orang tuanya, tapi tidak pada selainnya. Sungguh, beruntunglah orang yang dibukakan pintu-pintu tersebut untuknya.
Bila Allah mencintai hati hamba-Nya ... tampak padanya pemberian Yang Maha Membuka.
Bila niat seorang penyeru kebaikan tulus kepada Allah ... jiwa para hamba Allah akan condong padanya.
Ya Allah! Bukalah untuk kami sebagian keberkahan bumi dan langit. Bukalah untuk kami pintu-pintu rahmat-Mu. Jadikan kami kunci pembuka kebaikan dan kunci penutup keburukan. Yā Fattāḥ, yā 'Alīm!
37
AS-SAMĪ' ﷻ
Di saat Allah menginginkanmu mengetahui bahwa Dia bersemayam di atas Arasy, juga menginginkanmu untuk meyakini bahwa Dia mendengar dan melihatmu. Dia mendengar kata-katamu dan melihat perbuatanmu, tidak ada sesuatu pun padamu yang samar bagi-Nya. Dia mendengar panggilanmu dengan suara lirih maupun suara keras. Bisikan hatimu terbuka, doamu didengar, permintaanmu dikabulkan, permintaan ampunmu diijabah, dan tobatmu diterima.
Apakah kamu dihancurleburkan oleh rasa sakit? Apakah jiwamu merintih rindu kepada Tuhannya? Allah mendengar rintihanmu. Dia lebih dekat kepadamu daripada urat nadi; Dia mengabulkan permintaanmu, mengangkat kegundahanmu, menghilangkan kesedihanmu. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman memuji diri-Nya, "Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 137] Nama Allah "As-Samī'" disebutkan dalam Al-Qur`an Al-'Azaiz di 45 tempat.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- Maha Mendengar; pendengaran-Nya meliputi semua suara. Semua suara di alam langit dan alam bumi didengar-Nya; yang lirih dan yang nyaring, bagi-Nya sama seperti satu suara. Bagi-Nya suara-suara itu tidak bercampur aduk dan semua bahasa tidak samar bagi-Nya. Suara yang dekat maupun yang jauh, dan yang lirih maupun nyaring, di sisi-Nya adalah sama. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sama saja (bagi Allah), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya dan siapa yang berterus terang dengannya; dan siapa yang bersembunyi pada malam hari dan yang berjalan pada siang hari." [QS. Ar-Ra'd: 10]
Kesertaan makhluk dengan Khāliq -Subḥānahu wa Ta'ālā- dalam nama As-Samī tidak berarti ada keserupaan antara keduanya. Mahasuci Allah dari hal itu sesuci-sucinya! Karena sifat makhluk sesuai dengan kelemahan, ketidakberdayaan, dan kemakhlukannya, sedangkan sifat-sifat Khaliq sesuai dengan kesempurnaan dan kemuliaan-Nya -Tabāraka wa Ta'ālā-: "Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11]
Mendengar di sini memiliki makna mendengar yang disertai mengetahui secara utuh: "Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat." [QS. Al-Mujādilah: 1] Juga memiliki makna mengabulkan dan menerima: "Sungguh, Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa." [QS. Ibrāhīm: 39]
Dialah As-Samī'; Dia melihat dan mendengar semua yang ada
di alam, baik yang rahasia maupun yang nyata.
Pendengaran-Nya hadir untuk semua suara,
yang dirahasiakan dan yang dinyatakan, keduanya sama bagi-Nya.
Pendengaran-Nya mencakup seluruh suara, tidak ada yang
tersembunyi bagi-Nya, baik yang jauh ataupun yang dekat.
Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat
Diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain bahwa Rasulullah ﷺ mendengar para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- berdoa kepada Tuhan mereka dengan suara tinggi, maka beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia! Tenangkanlah diri kalian karena kalian tidak berdoa kepada Tuhan yang tuli dan tidak ada! Yang kalian mintai doa itu adalah Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat." Begitu hamba itu selesai dari memanjatkan doa dan munajatnya, seketika pengabulan muncul karena Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Dia mendengar panggilan orang-orang yang tertimpa musibah, mengabulkan doa orang-orang yang membutuhkan, dan menolong orang-orang yang teraniaya. Dia mendengar pujian orang-orang yang memuji dan mendengar doa orang-orang yang berdoa. Dia mendengar langkah semut hitam di atas batu besar yang keras di malam yang gelap gulita. Dia mendengar bisikan hati, mendengar lintasan jiwa, dan mendengar panggilan sanubari.
Seorang wanita pernah datang mengadukan suaminya pada Rasulullah ﷺ, yaitu Khaulah -raḍiyallāhu 'anhā-, sedangkan Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ada di sudut rumah. Aisyah menyampaikan bahwa sebagian kalimat didengarnya dan sebagian lainnya tidak. Setelah pengaduan itu, Jibril -'alaihissalām- turun kepada Muhammad ﷺ membawa firman Allah ﷻ: "Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat." [QS. Al-Mujādilah: 1] Sungguh, inilah kedekatan yang menakjubkan, ilmu yang maha luas, dan pendengaran yang meliputi segalanya!
Allah mendengar wali-wali-Nya berupa pendengaran yang bermakna mengabulkan, menjaga, dan memberi mereka taufik; pendengaran yang menenangkan rasa takut mereka sebagaimana yang dirasakan Musa -'alaihissalām- tatkala ia menyatakan rasa takutnya untuk pergi kepada Firaun, lalu Allah ﷻ berfirman kepadanya, "Dia (Allah) berfirman, 'Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.'" [QS. Ṭāhā: 46]
Allah yang menjaga serta yang mencukupkan mereka, dan cukuplah Dia sebagai penjaga!
Kunci-kunci Pertolongan
Ketika engkau ditampar rasa takut dan permasalahan semakin berat, bertawasullah Kepada Tuhanmu dengan nama yang agung ini sebagaimana para nabi telah bertawasul dengannya. Dialah yang mendengar munajat, yang mengabulkan doa pada saat musibah, dan mengangkat keburukan. Jangan perdengarkan kesedihanmu kepada siapa pun, namun berserah dirilah kepada-Nya dengan bersujud, hentikan perjalananmu di depan pintu-Nya, berbicaralah kepada-Nya, dan menangislah di hadapan-Nya, kemudian nantikanlah pertolongan.
Lihatlah Zakaria -'alaihissalām-, beliau dianugerahi Allah dengan apa yang dipendam dalam hatinya setelah ia bermunajat kepada-Nya: "(Yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut." [QS. Maryam: 3]. Allah memberinya keturunan yang saleh setelah ia berdoa dengan nama-Nya: “Ya Tuhanku! Berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” [QS. Āli 'Imrān: 38]
Ibrahim -'alaihissalām- berdoa kepada Allah dengan nama ini agar amalnya diterima tatkala dia dan putranya, Ismail -'alaihimassalām-, menyelesaikan pembangunan Ka'bah: "Ya Tuhan kami! Terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 127]
Dengan nama yang diberkahi ini pula, Ibrahim -'alaihissalām-bersyukur dan memuji Allah atas doanya yang dikabulkan: "Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishak. Sungguh, Tuhanku benar-benar Maha Memperkenankan doa." [QS. Ibrāhīm: 39]
Dengan nama ini pula, istri 'Imrān mendekatkan diri kepada Tuhannya supaya menerima amalnya tatkala ia menazarkan janin yang ada dalam rahimnya: "(Ingatlah), ketika istri 'Imrān berkata, 'Ya Tuhanku! Sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.'" [QS. Āli 'Imrān: 35]
Ketika dunia sempit bagi Yusuf -'alaihissalām- akibat perangkap kerusakan di sekitarnya, dia berdoa kepada Tuhannya: "'Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.' Maka Tuhannya memperkenankan doanya, dan Dia menghindarkan dirinya dari tipu daya mereka. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." [QS. Yūsuf: 33-34]
Ketika Yunus -'alaihissalām- terperangkap di dalam perut ikan, ia memanggil, "Tidak ada tuhan yang hak kecuali Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim." [QS. Al-Anbiyā`: 87] Suara lemah yang bertolak dari tiga lapis kegelapan itu menembus langit, seketika Allah Yang Maha Mendengar Maha Mengetahui ﷻ menyelamatkan dirinya dari rintihan itu: "Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan." [QS. Al-Anbiyā`: 88]
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- senantiasa menguji hamba-Nya untuk mendengar keluhan dan doanya. Dia berfirman, "Dia (Yakub) menjawab, 'Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.'" [QS. Yūsuf: 86]
Allah Yang Maha Mendengar Menjagamu ...
Setan manusia dan jin berkumpul mengepungmu, mereka memasukkan was-was dan rasa kalah supaya engkau ditimpa susah dan sedih, maka Allah memerintahkanmu agar meminta tolong dan berlindung kepada-Nya dengan kedua nama-Nya: As-Samī' dan Al-'Alīm: "Jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui." [QS. Al-A'rāf: 200]
Ada dua orang Quraisy bersama seorang Ṡaqīf, atau dua orang Ṡaqīf bersama seorang Quraisy berkumpul di dekat Ka'bah; mereka berkomentar tentang sahabat, "Mereka itu banyak lemak perut, tapi sedikit pemahaman hatinya." Salah seorang mereka berkata, "Menurut kalian, apakah Allah mendengar apa yang kita ucapkan?"
Ada yang menjawab, "Dia dengar kalau kita mengeraskan suara dan tidak dengar kalau kita pelankan."
Yang lain menjawab, "Jika Dia mendengar ketika kita mengeraskan suara, sungguh Dia pun mendengar ketika kita pelankan!" Maka Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu lakukan. Itulah dugaanmu yang telah kamu sangkakan terhadap Tuhanmu, (dugaan itu) telah membinasakan kamu, sehingga jadilah kamu termasuk orang yang merugi." [QS. Fuṣṣilat: 22-23]
Pengingat ...
Nabi kita ﷺ biasa berlindung dengan kedua nama ini: As-Samī' dan Al-'Alīm ketika beliau bangun untuk salat malam. Beliau membaca, “A'ūżu billāhi as-samī'il-'alīm minasy-syaiṭānir-rajīm min hamzihi wa nafkhihi wa nafṡih." (Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk, dari gangguan kegilaannya, kesombongannya dan syairnya yang jelek). [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Beliau ﷺ juga berlindung dengan kedua nama ini: As-Samī' dan Al-'Alīm dari segala keburukan yang dapat menimpa beliau. "Siapa yang membaca: 'Bismillāhillaẓī lā yaḍurru ma'a-smihi syai`un fil-arḍi walā fis-samā`i wa huwas-samī'ul-'alīm,' (Dengan menyebut nama Allah yang tidak akan berbahaya sesuatu apa pun di bumi dan di langit bersama nama-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)', sebanyak tiga kali, ia tidak akan ditimpa musibah tiba-tiba hingga pagi. Siapa yang membacanya ketika pagi hari tiga kali, ia tidak akan ditimpa musibah tiba-tiba hingga petang." [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Ketika engkau merenungkan nama As-Samī', maka itu akan menjadikanmu selalu dekat dengan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Ya Allah! Ya Samī'! Ya 'Alīm! Jadikan kami termasuk orang-orang yang berdoa kepada-Mu lalu Engkau mengabulkannya, serta yang merendahkan dirinya kepada-Mu lalu Engkau merahmatinya.
38
AL-BAṢĪR ﷻ
Abū Nu'aim meriwayatkan dalam Al-Ḥilyah bahwa Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- pernah berkeliling malam di lorong-lorong Kota Madinah. Lantas dia mendengar seorang perempuan tua berkata kepada anak gadisnya, "Campur susu itu dengan air." Sang gadis berkata, "Tidakkah engkau tahu bahwa Umar telah melarang tindakan mencampur susu dengan air?" Perempuan tua itu berkata, "Di mana Umar sehingga dia bisa melihat kita?!' Gadis yang yakin bahwa Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- melihat mereka menjawab, "Kalaupun Umar tidak melihat kita, tetapi Tuhannya Umar melihat kita!"
Ada orang-orang yang menjalani kehidupan dunia ini dengan kedudukan yang tinggi, keamanan yang terus-menerus, kebahagiaan yang abadi, tegar di atas kebenaran dan menikmati peribadatan, tidaklah yang demikian itu melainkan karena mereka meyakini bahwa Allah melihat apa yang mereka perbuat.
Nama Allah "Al-Baṣīr" disebutkan dalam Al-Qur`an Al-Karim di 42 tempat. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." [QS. Al-Baqarah: 110]
Tuhan kita ialah Tuhan yang melihat segala sesuatu, sekalipun tipis dan kecil. Dia melihat langkah semut hitam di malam yang gelap gulita di atas batu besar nan keras. Dia melihat apa yang ada di bawah tujuh lapis bumi, sebagaiman Dia melihat apa yang ada di atas tujuh lapis langit.
Dialah Yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui seluruh keadaan serta perkara-perkara yang samar, Yang Maha Melihat bagian dalam semua urusan.
Dialah Yang Maha Melihat langkah semut yang hitam di bawah batu batuan besar dan batuan granit. Dia melihat aliran makanan pada organ tubuhnya, juga melihat urat putihnya.
Dia melihat bola mata yang khianat setiap saat, demikian juga melihat kedip kelopak mata.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- menetapkan sifat "melihat" bagi diri-Nya. Allah memiliki dua mata hakiki yang pantas dengan Zat-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-; kita mengimaninya tanpa menyelewengkan maknanya maupun menafikannya, dan tanpa menyamakannya dengan makhluk maupun menakwilkannya: "Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11]
Kesamaan makhluk dengan Khaliq -Subḥānahu wa Ta'ālā- dalam nama ini tidak berarti ada keserupaan di antara keduanya, karena sifat makhluk sesuai dengan kelemahan, ketidakberdayaan, dan kemakhlukannya, sedangkan sifat-sifat Khaliq sesuai dengan kesempurnaan dan kemuliaan-Nya: "Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11]
Di antara bentuk kasih sayang Allah ﷻ kepada hamba-hamba-Nya ialah Dia berbicara kepada mereka dengan bahasa penuh kasih sayang, serta menganjurkan mereka untuk taat dan ikhlas kepada-Nya, padahal Dia tidak butuh pada ibadah mereka. Di dalam Kitabullah yang agung, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berbicara kepada mereka dengan firman-Nya: "Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan" lebih dari 40 kali demi menasihati orang yang beriman dan mengingatkan orang yang lupa bahwa Allah melihat perbuatan mereka.
Nikmatnya Ketaatan ...
Orang yang tahu bahwa Tuhannya melihatnya akan merasa malu bila Dia melihatnya sedang bermaksiat kepada-Nya atau pada sesuatu yang tidak disukai-Nya. Orang yang tahu bahwa Allah melihatnya akan membaguskan amal dan ibadahnya serta ikhlas pada keduanya supaya meraih tingkatan ihsan yang merupakan tingkatan taat paling tinggi, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi tercinta ﷺ, "Yaitu engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Bila tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." [HR. Bukhari dan Muslim]
Bila ia telah mencapai tingkatan itu, ia telah mendapatkan kebersamaan Allah dengan hamba-hamba-Nya yang bersifat khusus, sebagaimana difirmankan oleh Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- dalam hadis qudsi, "Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang digunakan mendengar dan menjadi penglihatannya yang digunakan melihat." [HR. Bukhari]
Orang yang mengetahui bahwa Allah melihatnya terjerat oleh ujian yang dideritanya, hatinya akan tenang, jiwanya tenteram, dan yakin bahwa pertolongan segera datang.
Siapa yang mengetahui bahwa Allah melihatnya, maka ia akan merasa malu kepada Allah bila Dia melihatnya sedang berkhianat dalam perbuatan dan perkataannya maupun sedang menipu hamba-hamba-Nya.
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- pernah keluar menuju Makkah bersama sebagian murid-muridnya, lalu mereka beristirahat di jalan. Kemudian seorang penggembala dari gunung turun menemui mereka. Ibnu Umar berkata, "Wahai penggembala kambing! Juallah kepada kami satu ekor."
Si penggembala menjawab, "Saya seorang hamba sahaya."
Ibnu Umar berkata, "Katakan kepada tuanmu, 'Kambing itu dimakan serigala.'" Si penggembala berkata, "Di manakah Allah?!"
Ibnu Umar menangis dan membeli budak tersebut dari tuannya dan memerdekakannya.
Bila suatu hari engkau menyendiri dengan waktu, jangan katakan,
"Aku sedang sendiri", tapi katakan, "Allah mengawasiku."
Jangan sekali-kali mengira Allah pernah lalai walau sesaat,
tidak juga apa yang samar luput bagi-Nya.
Seseorang pernah merayu seorang wanita badui untuk berzina, dia berkata, "Tidak ada yang melihat kita kecuali bintang-bintang." Ia menjawab, "Lantas di mana Tuhan yang memberinya cahaya?"
Telah dikatakan, "Siapa yang menyertakan Allah dalam lintasan pikirannya, Allah akan menjaganya pada tindakan anggota tubuhnya."
Bila Anda cermati tujuh golongan yang akan diberikan naungan oleh Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, Anda akan dapati bahwa sisi kesamaan di antara mereka adalah mereka beriman dengan sebenar-benarnya bahwa Allah melihat mereka, lalu mereka menyembah-Nya seakan-akan mereka melihat-Nya. Sebab itu, mereka meraih kedudukan tersebut.
Dengan nama inilah, laki-laki saleh dari kaum Nabi Musa itu berlindung kepada Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- dari makar Firaun dan kaumnya: "Aku menyerahkan urusanku kapada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." [QS. Gāfir: 44] Lalu apa hasilnya?
Allah langsung mengabulkan doanya: "Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, sedangkan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk." [QS. Gāfir: 45]
Wahai Tuhan yang melihat nyamuk saat membentangkan sayapnya
di kegelapan malam yang buta gelap gulita,
yang melihat tali urat di lehernya
serta sumsum di tulang yang kurus itu.
Anugerahi aku ampunan, yang dengannya Engkau menghapus
dosa-dosa yang kulakukan di waktu lalu.
Peringatan ...
Orang yang beriman akan waspada terhadap dosa-dosa ketika sendiri dan dari melakukannya terus-menerus tanpa tobat. Dalam hadis sahih dari Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu-, ia meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh aku mengetahui sejumlah orang dari umatku kelak di hari Kiamat akan datang dengan kebaikan-kebaikan semisal pegunungan Tihamah yang putih, namun Allah ﷻ menjadikannya bagai debu yang beterbangan." Ṡaubān berkata, "Wahai Rasulullah! Terangkan kepada kami sifat-sifat mereka, tampakkan mereka kepada kami, agar kami tidak termasuk dari mereka sedangkan kami tidak tahu." Beliau bersabda, "Ketahuilah, mereka itu saudara kalian, dari bangsa kalian; mereka menghidupkan sebagian malam sebagaimana kalian menghidupkannya, tetapi mereka itu orang-orang yang melanggar larangan Allah ketika menyendiri." [HR. Ibnu Majah] Mereka itu adalah orang-orang yang pamer kepada manusia dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit.
Keadaan menyendiri bisa memuliakan dan bisa menghinakan hamba. Siapa yang mengagungkan Allah ketika menyendiri, manusia akan menjunjungnya di kehidupannya yang tampak.
Ibnu Rajab Al-Ḥanbaliy -raḥimahullāh- berkata, "Seluruh nifak kecil bersumber pada perbedaan antara rahasia batin dengan kondisi yang tampak." Beliau juga berkata, "Husnulkhatimah tidak terjadi kecuali pada orang yang kondisi batinnya baik, karena suasana saat kematian tidak dapat direkayasa, sehingga ketika itu yang keluar hanyalah isi hati."
Ya Allah Yang Maha Melihat! Kasihilah kelemahan kami, maafkan kelalaian dan ketergelinciran kami, dan wafatkan kami dalam keadaan muslim. Yā Rabbal-'Ālamīn.
39
AT-TAWWĀB ﷻ
Umar bin al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Duduklah bersama orang-orang yang bertobat! Sungguh mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya."
Aku melakukan keburukan, bukan kebaikan, lalu datang kepada-Mu untuk bertobat. Sungguh tidak mungkin ada tempat lari bagi seorang hamba dari tuannya.
Ia mengharapkan ampunan; jika harapannya tidak terpenuhi, maka tidak seorang pun yang lebih rugi daripadanya di muka bumi.
Kita akan membersamai nama Allah At-Tawwāb ﷻ:
Betapa indah nama Allah at-Tawwāb! Ia memberi harapan kepada orang yang berdosa untuk memulai ulang fase kebahagiaan serta mengeluarkannya dari lingkaran frustasi dan kezaliman. "Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah menerima tobat hamba-hamba-Nya dan menerima zakat, dan bahwa Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang?" [QS. At-Taubah: 104]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah At-Tawwāb (Maha Penerima tobat). Allah menyifati diri-Nya sebagai At-Tawwāb menggunakan bentuk hiperbol karena banyaknya orang yang Dia terima tobatnya. Demikian juga, ketika kemaksiatan terjadi berulang kali dari hamba-hamba-Nya, kata At-Tawwāb datang dalam bentuk hiperbol agar dosa-dosa yang besar itu dihapus oleh pemberian tobat yang luas.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- senantiasa menerima tobat orang-orang yang bertobat dan mengampuni dosa orang-orang yang kembali kepada-Nya. Meskipun seandainya tobat tersebut berulang, maka penerimaannya pun akan diulang hingga tidak ada batasnya.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Barang siapa bertobat setelah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." [QS. Al-Mā`idah: 39]
Diriwayatkan dalam Al-Mustadrak bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ lalu berkata, "Ya Rasulullah! Bagaimana bila salah seorang kami berbuat dosa?" Beliau bersabda, "Dosanya ditulis." Kemudian dia bertanya, "Namun dia memohon ampun darinya dan bertobat." Beliau bersabda, "Dia diberikan ampunan dan tobatnya diterima. Allah tidak akan bosan, hingga akhirnya kalianlah yang bosan." [Hadis hasan]
Semua orang yang bertobat kepada Allah dengan tobat yang tulus, Allah akan menerima tobatnya.
Betapa Allah Maha Pemurah!
Lihatlah kemurahan Allah manakala menganugerahi hamba-Nya dengan menjadikan tobatnya itu diapit oleh pemberian tobat dari Allah sebelum tobat tersebut serta pemberian tobat lagi setelahnya. Sebab itu, tobat seorang hamba berada di antara dua pemberian tobat dari Tuhannya -Subḥānahu wa Ta'ālā-, yaitu sebelum dan sesudahnya.
Pertama, Allah memberinya tobat berupa pemberian izin, taufik, dan ilham dengan menggerakkan hatinya untuk bertobat lalu dia melakukan tobat itu. Ini adalah taufik dari Allah Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Penerima tobat.
Setelah ia benar-benar bertobat, Allah pun memberinya tobat, yaitu menerima tobatnya serta mengampuni kesalahan dan dosa-dosanya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang." [QS. At-Taubah: 118]
Lā ilāha illallāh! Milik-Nyalah karunia tobat yang pertama dan yang terakhir.
Demikian juga "At-Tawwāb" merupakan sifat-Nya ... dan pemberian tobat di dalam sifat-Nya terbagi dua:
yaitu izin agar hamba-Nya bertobat dan penerimaannya setelah ia bertobat dengan karunia dari Yang Maha Pemberi kebaikan.
Seperti ini pulalah suatu amal saleh, yaitu Allah mengilhamkannya kepada hamba, lalu memberikannya pahala atas amalan itu. Allahlah yang memulai kebaikan dan karunia, Dia pula yang menambahkan anugerah dan kemuliaan.
Pengingat ...
Tobat hukumnya wajib bagi semua manusia di semua tahapan usia, baik yang beriman maupun pelaku maksiat, karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Bertobatlah kalian semuanya, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung." [QS. An-Nūr: 31]
Tobat merupakan sifat kesempurnaan yang dicintai oleh Allah, bukan kekurangan. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah berfirman, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." [QS. Al-Baqarah: 222] Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman, "Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Ansar." [QS. At-Taubah: 117]
Allah berfirman mengisahkan Adam -'alaihissalām-, "Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya." [QS. Al-Baqarah: 37]
Allah -Ta'ālā- juga berfirman mengisahkan perkataan Nabi Ibrahim dan Ismail -'alaihimassalām-, "Tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang." [QS. Al-Baqarah: 128]
Allah juga berfirman mengisahkan perkataan Musa -'alaihissalām-, "Setelah Musa sadar, dia berkata, 'Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.'” [QS. Al-A'rāf: 143]
Diketahui bersama bahwa para nabi terpelihara dari dibiarkan melakukan dosa -yang besar maupun yang kecil-, sedangkan tobat mereka akan mengangkat derajat mereka dan membesarkan kebaikan mereka, karena Allah suka kepada orang-orang yang bertobat serta suka kepada orang-orang yang menyucikan diri.
Diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ Bukhari bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Demi Allah! Sungguh aku memohon ampun dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali."
Sekiranya Kalian Tidak Berbuat Dosa ...
Allah Mahatahu bahwa hamba-hamba-Nya tidak lepas dari sifat lalai dan kekurangan, karena seperti itulah Allah menciptakan mereka, dengan tujuan agar Dia menampakkan kasih sayang, ampunan, dan tobat-Nya pada mereka. Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sekiranya kalian tidak memiliki dosa yang akan diampuni Allah bagi kalian, niscaya Allah akan menggantikan kalian dengan suatu kaum yang memiliki dosa yang akan diampuni-Nya bagi mereka." [HR. Muslim]
Nabi ﷺ bersabda, "Setiap anak Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang banyak bertobat." [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- telah memuji diri-Nya dengan sifat penerimaan tobat hamba-hamba-Nya. Dia berfirman, "Yang mengampuni dosa dan menerima tobat lagi keras hukuman-Nya; yang memiliki karunia. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Hanya kepada-Nyalah (semua makhluk) kembali." [QS. Gāfir: 3]
Allah menginginkan hamba-Nya mengetahui bahwa Dia menerima tobatnya, sekalipun dosa-dosanya besar. "Sesungguhanya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." [QS. Az-Zumar: 53]
Tuhan tidak butuh kepada kita dan ibadah kita. Kendati demikian, Dia sangat senang dengan tobat hamba-Nya bila ia bertobat. Betapa pemurahnya Allah! Betapa indahnya Allah! Betapa besarnya kasih sayang Allah!
Diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sungguh Allah lebih senang dengan tobat hamba-Nya yang beriman daripada kesenangan seorang laki-laki yang berada di padang penuh risiko dan mematikan, dia bersama hewan kendaraannya yang membawa makanan dan minumannya. Lalu dia tidur, kemudian ketika bangun ternyata kendaraannya telah pergi, sehingga dia mencarinya sampai kehausan.
Kemudian dia berkata, 'Aku akan kembali ke tempatku semula, lalu tidur hingga aku mati.' Dia pun meletakkan kepalanya di atas lengannya untuk menjemput kematiannya. Namun ketika bangun, ternyata hewan kendaraannya ada di dekatnya lengkap membawa makanan dan minumannya. Allah lebih senang dengan tobat seorang hamba yang beriman daripada kesenangan orang itu dengan kendaraan dan perbekalannya."
Ibnu Taimiyah -raḥimahullāh- berkata, "Setiap orang yang bertobat, dia adalah orang kecintaan Allah"; "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." [QS. Al-Baqarah: 222]
Patut bagi Tuhan yang bersifat seperti ini dalam mengasihi hamba-hamba-Nya untuk dicintai secara total serta disembah tanpa disekutukan dengan selain-Nya. Hendaknya cinta tersebut tampak efeknya dengan mengikhlaskan ibadah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan menaati-Nya, mencintai siapa dan apa saja yang dicintai-Nya, dan membenci siapa dan apa saja yang dibenci-Nya.
Bilāl bin Sa'ad berkata, "Sungguh, kalian memiliki Tuhan yang tidak lekas menghukum kalian, memaafkan kesalahan dan menerima tobat, menyambut hamba yang datang pada-Nya, dan iba kepada hamba yang pergi." "Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan." [QS. Asy-Syūrā: 25]
Di Hadapan Pintu-Nya ...
Tobat ialah meninggalkan kemaksiatan menuju kepada ketaatan, meninggalkan keburukan menuju kepada kebaikan, dan meninggalkan kesengsaraan maksiat menuju kepada kebahagiaan bersama Ar-Raḥmān.
Tobat itu ialah melarikan diri dari Yang Maha Pencipta menuju pintu-Nya, menyelamatkan diri dari Yang Mahaperkasa menuju kelapangan-Nya, berlindung dengan rida-Nya dari murka-Nya, dengan maaf-Nya dari siksa-Nya, dengan diri-Nya dari diri-Nya. Sungguh kita tidak dapat menghitung semua pujian kepada-Nya, tidak ada tempat berlindung dari-Nya kecuali kepada-Nya, dan tidak ada tempat melarikan diri dari-Nya kecuali kepada-Nya: "Maka segeralah kembali kepada Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu." (QS. Aż-Żāriyāt: 50)
Tuhanku! Sekalipun dosa-dosaku sangat banyak ... sungguh aku mengetahui ampunan-Mu lebih besar.
Bila yang mengharapkan-Mu hanyalah orang yang baik, kepada siapakah orang yang jahat berlindung dan mencari aman?
Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Sungguh mengherankan orang yang binasa padahal kunci keselamatan bersamanya!" Dia ditanya, "Apakah kunci keselamatan itu?" Beliau menjawab, "Tobat dan istigfar."
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Perkara paling banyak yang membawa seorang muslim kepada dosa ialah menunda tobat. Andaikan ia mengetahui bahwa ia dapat dihalangi dari tobat, pasti rasa takutnya akan menggelora."
Tobat yang tulus tidak akan terwujud kecuali dengan meninggalkan dosa, menyesal telah melakukannya, bertekad untuk tidak mengulanginya, dan menggantinya dengan amal saleh. Kemudian, jika dosa itu terkait hak manusia, ia memohon pemaafan dari pemiliknya.
Syaqīq Al-Balkhiy -raḥimahullāh- berkata, "Tanda tobat ialah menangisi yang telah lalu, khawatir terjatuh lagi dalam dosa, meninggalkan teman-teman buruk, dan berteman dengan orang-orang baik."
Tobat yang tulus akan diterima kecuali pada dua keadaan: ketika matahari telah terbit dari arah barat dan ketika sekarat.
Getaran yang Menyadarkan ...
Ada kalanya Allah ﷻ menguji hamba-Nya yang beriman dengan ujian yang membuatnya bertobat agar ibadahnya lebih sempurna, lebih khusyuk, dan lebih berusaha untuk kembali kepada-Nya.
Betapa banyak orang yang menjauh dari Allah ﷻ lalu Dia memberinya kesempitan supaya dia kembali kepada-Nya. Lalu ketika dia telah kembali dan merasakan kenikmatan dekat kepada Allah serta merasakan nikmat istikamah dan tobat, maka dia bersyukur dan memuji Allah atas musibah dan kesulitan yang menjadi sebab keselamatan dan keberuntungannya: "Pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." [QS. As-Sajdah: 21]
Sekiranya kamu dibiarkan di atas kemaksiatan dan penyimpanganmu serta kamu tidak bertobat, sedangkan kamu melihat berbagai nikmat di hadapanmu, maka ketahuilah bahwa kamu sedang dibenci-Nya dan bahwa itu semuanya adalah bentuk istidraj (pembiaran-Nya) kepadamu, sebab Allah ﷻ berfirman, "Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa." [QS. Al-An'ām: 44]
Kemudian bila engkau telah menyatakan bertobat, mohonlah kepada Allah keteguhan, sebagaimana di antara doa Nabi ﷺ: "Ya Allah! Wahai Zat yang membolak-balik hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." [Hadis sahih; HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad]
Ya Allah! Berikanlah kepada kami ampunan, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi tobat dan Maha Penyayang. Ampunilah kami dan kedua orang tua kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
40
AL-'ALĪM ﷻ
Berbagai lintasan pikiran, bisikan, keinginan, dan kemauan bersembunyi dalam dada, tidak tertangkap oleh pendengaran dan tidak pula terjangkau penglihatan, tetapi Allah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui pasti mengetahuinya.
Berbagai simpanan pikiran tersimpan oleh sanubari, tidak diketahui oleh malaikat yang didekatkan, tidak juga seorang nabi utusan, wali yang dicintai, cendikiawan yang pintar, maupun setan yang membangkang, tetapi diketahui oleh Yang Maha Mengetahui perkara gaib.
Seorang janin dibalut oleh lapisan demi lapisan dalam rahim ibunya, tidak diketahui apakah dia hidup atau mati, laki-laki atau perempuan, sengsara atau bahagia?
Pun tidak diketahui ajalnya, rezekinya maupun umurnya! Tetapi itu semuanya diketahui oleh Allah yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu: "Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. Al-Baqarah: 282]
Mengetahui adalah kebalikan dari kebodohan.
Ilmu Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- meliputi yang tampak dan yang tersembunyi, yang dirahasiakan maupun dinyatakan, meliputi alam langit dan alam bumi, ilmu-Nya meliputi yang telah lalu, yang sedang berlangsung, dan yang akan datang. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Dia (Allah) mengetahui apa yang ada di hadapan mereka (yang akan terjadi) dan apa yang di belakang mereka (yang telah terjadi), sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." [QS. Ṭāhā: 110]
Allah ﷻ mengetahui semua yang disimpan oleh dada-dada makhluk-Nya berupa keimanan maupun kekafiran, kebenaran maupun kebatilan, serta kebaikan maupun keburukan: "Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala isi hati." [QS. Āli 'Imrān: 119] "Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. Al-Baqarah: 282]
Bagi-Nya, bisik-bisik adalah sesuatu yang jelas, rahasia adalah sesuatu nyata, dan hal tersembunyi adalah sesuatu yang terbuka.
Dialah Yang Maha Mengetahui, ilmu-Nya meliputi semua yang ada di alam, yang rahasia maupun nyata. Ilmu Allah Yang Mahasuci mencakup segala sesuatu, bagi-Nya perkara yang jauh sama halnya dengan yang dekat.
Ilmu-Nya tidak didahului oleh ketidaktahuan, tidak sama sekali, tidak pula seperti manusia yang dihinggapi lupa.
Sungguh Dia Maha Mengetahui
Daun gugur dengan sepengetahuan-Nya, bisikan keluar dengan sepengetahuan-Nya, kata diucapkan dengan sepengetahuan-Nya, niat ditekadkan dengan sepengetahuan-Nya, dan tetesan hujan turun dengan sepengetahuan-Nya ...
Dia mengetahui yang hidup dan yang mati, yang basah dan yang kering, yang hadir dan yang gaib, yang lirih dan yang jahar, yang banyak dan yang sedikit. “Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhilmahfuz).” [QS. Al-An'ām: 59]
Sebagian sahabat ada yang berencana dalam dirinya dan belum diutarakan, masih disembunyikan dan dirahasiakannya, tetapi Allah ﷻ menurunkan ayat, "Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri." [QS. Al-Baqarah: 187]
Nabi ﷺ pernah merahasiakan suatu pembicaraan kepada sebagian istrinya, lalu beliau menceritakan sebagiannya dan sebagian lainnya tidak, maka istrinya itu berkata, "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" "Nabi menjawab, 'Yang memberitahukan kepadaku adalah Allah Yang Maha Mengetahui, Mahateliti.'" [QS. At-Taḥrīm: 3]
Setelah perang Badar, 'Umair bin Wahab duduk bersama Ṣafwān bin Umayah di dekat Ka'bah ketika malam hari untuk mengatur pembunuhan Rasulullah ﷺ. Tetapi, Allah mengabarkan rencana mereka itu kepada Rasul-Nya serta menginformasikan perbuatan mereka itu kepadanya: "Dia (Muhammad) berkata, 'Tuhanku mengetahui (semua) perkataan di langit dan di bumi, dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui!'” [QS. Al-Anbiyā`: 4]
Orang-orang munafikin berbisik-bisik di antara mereka di Tabuk dan mereka menjadikan Rasulullah ﷺ dan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- serta agama sebagai bahan olok-olokan. Maka Allah Yang Maha Mengetahui perkara gaib memberitahukan kepada Rasul-Nya tentang tipu daya, makar, dan olok-olokan mereka. "Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwa Allah mengetahui segala yang gaib?" [QS. At-Taubah: 78]
Ilmu Allah Sempurna dan Komprehensif
"Sungguh, Tuhanmu hanyalah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.” [QS. Ṭāhā: 98]
Tidak ada satu pun di antara makhluk-Nya yang menyerupai kesempurnaan ilmu-Nya. "Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11]
"Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat." [QS. Al-Fatḥ: 27] Kalaupun manusia mengetahui sesuatu, maka itu berasal dari pemberitahuan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- kepada mereka. Semua ilmu yang terkait syariat ataupun duniawi kembalinya kepada Allah Yang Mahamulia dan Mahabijaksana. "Mereka menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.'" [QS. Al-Baqarah: 32]
Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman, "Dia juga mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui." [QS. An-Nisā`: 113]
Andainya manusia mengumpulkan ilmu mereka dan semua pengetahuan yang mereka miliki, tentunya sangat sedikit sekali bila dibandingkan dengan ilmu Allah yang luas. "Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, 'Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.'" [QS. Al-Isrā`: 85]
Khadir berkata kepada Musa -'alaihissalām- tatkala mereka menaiki kapal dan dia melihat seekor burung hinggap di bagian samping kapal lalu mematuk ke laut satu atau dua patukan, "Wahai Musa! Ilmuku dan ilmumu tidak mengurangi ilmu Allah kecuali seperti air laut yang berkurang oleh patukan burung itu ...."
Realitas ...
Hanya Tuhan kita ﷻ yang memiliki kekhususan untuk mengetahui yang gaib: "Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya, tidak ada yang mengetahuinya selain Dia." [QS. Al-An'ām: 59] Allah menyebutkan lima di antaranya: “Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat, Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” [QS. Luqmān: 34]
Inilah 5 kunci perkara gaib yang tidak diketahui kecuali oleh Allah:
1- Ilmu tentang waktu Kiamat yang merupakan kunci pembuka untuk kehidupan akhirat.
2- Penurunan hujan yang merupakan kunci kehidupan bumi.
3- Ilmu tentang janin dalam rahim yang merupakan kunci kehidupan dunia.
4- Ilmu tentang masa depan yang merupakan kunci apa yang akan diperoleh di masa datang.
5- Ilmu tentang tempat kematian yang merupakan kunci kehidupan barzakh dan kiamat masing-masing orang.
Ilmu gaib tidak diragukan jauh lebih besar dan lebih luas daripada lima perkara ini saja. Sedangkan pemberitaannya di sini harus dipahami sebagai penjelasan untuk sebagian yang penting, bukan sebagai klaim pembatasan, karena Allah berfirman, "Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah!" [QS. An-Naml: 65]
Siapa yang mengklaim bahwa ada seseorang yang mengetahui perkara gaib selain Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, maka dia telah kafir pada apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.
Para nabi tidak mengetahui sedikit pun tentang perkara gaib kecuali yang diberitakan Allah kepada mereka. Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Siapa yang mengklaim bahwa Nabi ﷺ memberitahukan apa yang akan terjadi besok, sungguh dia telah membuat kebohongan besar terhadap Allah!" "Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya." [QS. Al-A'rāf: 188] Lalu bagaimana dengan orang yang lebih rendah derajatnya dari mereka?!
Bagianmu dari Nama Itu ...
Siapa yang diberikan ilmu oleh Allah walaupun sedikit, sungguh Allah ﷻ telah mengangkat derajatnya. "Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." [QS. Al-Mujādilah: 11] Lalu bagaimana kalau dia berilmu, bertakwa, mengenal Allah, dan menunaikan hak-Nya?
Mereka itu yakin dengan ilmu Allah, maka mereka semakin takut kepada-Nya dan tambah mengagungkan-Nya. Oleh sebab itu, Allah memuji mereka dari atas tujuh lapis langit dalam firman-Nya: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama." [QS. Fāṭir: 28]
Ilmu adalah pondasi perangai mulia yang akan membawa manusia naik ke kedudukan yang tinggi.
Kedudukan itu tidak akan digapai kecuali dengan ilmu, terus-menerus memintanya kepada Allah, dan dengan meneladan doa Rasul kita ﷺ yang diajarkan Allah kepada beliau: "Katakanlah, 'Ya Tuhanku! Tambahkanlah ilmu kepadaku.'” [QS. Ṭāhā: 144]
Ibnu Ḥazm -raḥimahullāh- berkata, "Ilmu yang paling mulia ialah yang mendekatkanmu kepada Tuhanmu."
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Kalaulah bukan karena ketidaktahuan kebanyakan orang tentang manisnya kenikmatan ilmu ini dan kebesaran kedudukannya, niscaya mereka akan memperebutkannya dengan pedang. Akan tetapi, ia dikelilingi oleh tirai berupa perkara-perkara yang tidak disukai dan mereka dihalangi darinya dengan penutup kejahilan. Tujuannya adalah agar Allah mengkhususkan diri dengan apa yang dikehendaki-Nya dan Allah memiliki karunia yang agung."
Ya Allah! Ya 'Alīm! Ajarilah kami apa yang berguna bagi diri kami, berikan kami manfaat dengan apa yang Engkau ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah ilmu untuk kami.
41
AL-'AẒĪM ﷻ
Mahasuci Engkau, Wahai Yang Mahaagung!
Engkau mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau menjadikan miskin setelah kaya, menurunkan setelah tinggi, menjadikan hina setelah mulia, dan menjadikan lemah setelah kuat. Engkau mengangkat kedudukan siapa yang Engkau kehendaki, menuliskan taufik bagi siapa yang Engkau kehendaki, dan meletakkan pengabulan untuk siapa yang Engkau kehendaki. Engkau memberi siapa yang Engkau kehendaki dan menghalangi siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu segala kebaikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Mahaagung Maha Penyantun.
Sifat-sifat-Mu agung, Wahai Yang Mahaagung, mulialah
orang yang menguasai pujian pada-Mu di dalamnya.
Al-'Aẓīm ﷻ adalah salah satu nama Allah yang indah, sebuah nama yang mulia milik Tuhan kita Yang Mahaagung; susunan lafaz dan maknanya menunjukkan kemuliaan, keagungan, kebesaran, dan kekuasaan.
Nama yang memiliki wibawa tinggi, huruf-huruf yang kuat, dan makna yang menjulang. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Dia Mahatinggi, Mahaagung." [QS. Al-Baqarah: 255]
Al-'Aẓīm ﷻ artinya pemilik keagungan; agung keadaannya dan mulia kedudukannya. Dialah yang melampaui batas akal hingga tidak terbayang hakikat-Nya dapat diketahui secara menyeluruh.
Tuhan kita ialah Yang Mahaagung dalam Zat-Nya, tidak ada yang semisal dengan-Nya dalam keagungan-Nya.
Di antara bentuk keagungan-Nya ialah bahwa seluruh langit dan bumi di dalam telapak-Nya lebih kecil dari biji sawi. "Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan." [QS. Az-Zumar: 67]
Juga telah diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tidaklah langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi kecuali seperti cincin yang dilemparkan di hamparan padang. Sedangkan besarnya Arasy dibandingkan dengan Kursi seperti lebih besarnya padang atas cincin tersebut." [Hadis sahih; HR. Ibnu Abi Syaibah]
Seperti inilah keagungan yang ada pada Kursi dan Arasy, padahal ia termasuk makhluk-Nya. Lalu bagaimana dengan keagungan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- sendiri, yang memiliki permisalan paling tinggi, yang bersemayam di atas Arasy, dan Dia di atas semua makhluk-Nya?!
Tuhan kita ﷻ Mahaagung di dalam sifat-sifat-Nya. Dialah yang disifati dengan semua sifat-sifat kesempurnaan; Dia agung di dalam kasih sayang-Nya, agung di dalam kuasa-Nya, agung di dalam pemberian-Nya, agung di dalam keindahan-Nya.
Diriwayatkan dalam hadis qudsi: "Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Siapa yang menandingi-Ku di salah satunya, sungguh Aku akan melemparkannya di neraka." [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Tuhan kita Mahaagung di dalam perbuatan-Nya karena perbuatan-Nya menginformasikan kebijaksanaan, keadilan, kebaikan, dan kehendak yang luas.
Dialah Yang Mahaagung dengan semua makna yang mengharuskan pengagungan, tiada seorang pun yang dapat menyebutkan seluruh keagungan-Nya.
Allah ﷻ sempurna dalam keagungan-Nya: "Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan." [QS. Az-Zumar: 67]
Tengadahkan Kedua Tanganmu!
Tidak ada perkara yang besar bagi Allah, sebesar dan sebanyak apa pun itu. Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Bila salah seorang kalian berdoa, janganlah ia mengatakan, 'Ya Allah, ampunilah aku bila Engkau menghendaki!' Akan tetapi, hendaklah dia meminta dengan yakin dan dengan harapan besar, karena Allah -Ta'ālā- tidak pernah menganggap besar sesuatu yang diberikan-Nya." [HR. Bukhari dan Muslim dan ini redaksi Muslim]
Tuhan kita Mahaagung di dalam kasih sayang dan ampunan-Nya, Mahaagung di dalam kesantunan-Nya, Mahaagung di dalam kelembutan serta kemurahan-Nya yang banyak, tidak ada sedikit pun yang dianggap-Nya besar untuk diampuni.
Diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain terkait hadis tentang syafaat, dikatakan kepada Nabi ﷺ, "Wahai Muhammad! Angkat kepalamu. Silakan bicara, ucapanmu akan didengar. Silakan minta, permintaanmu pasti diberikan. Silakan berikan syafaat, engkau akan dikabulkan!
Lalu aku katakan, 'Ya Tuhanku! Izinkan aku untuk memberikan syafaat kepada orang yang mengucapkan Lā ilāha illallāh.' Lalu Allah berfirman, 'Demi keperkasaan-Ku, kemuliaan-Ku, kebesaran-Ku, dan keagungan-Ku! Aku akan keluarkan dari neraka semua orang yang mengucapkan Lā ilāha illallāh.'"
Kala hatiku keras dan jalanku sempit, kujadikan harapku pada maaf-Mu sebagai tangga.
Dosaku tampak besar bagiku, namun kala kubandingkan dengan maaf-Mu, Tuhanku, maaf-Mu lebih besar.
Siapa yang Berlindung pada Yang Mahaagung Akan Selamat ...
Diriwayatkan dengan jalur yang sahih dari Rasulullah ﷺ bahwa ketika masuk masjid beliau membaca, "A'ūżu billāhil-'aẓīm wa biwajhihil-karīm wa sulṭānihil-qadīm minasy-syaiṭānir-rajīm." (Aku berlindung kepada Allah Yang Mahaagung, wajah-Nya yang pemurah, dan kekuasaan-Nya yang azali dari setan yang terkutuk). Beliau bersabda, "Siapa yang mengucapkannya, maka setan berkata, 'Dia telah dijaga dariku sepanjang hari ini.'" [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Siapa yang mengagungkan Allah ﷻ dengan lisannya, maka dia akan beruntung dan timbangan amalnya di hari Kiamat akan berat. Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Ada dua kalimat yang ringan di lidah, namun berat dalam timbangan dan dicintai oleh Allah yang Maha Penyayang, yakni Subḥānallāh wa biḥamdih (Mahasuci Allah dan aku memuji-Nya), Subḥānallāhil-'Aẓīm (Mahasuci Allah Yang Mahaagung)." [HR. Bukhari dan Muslim]
Bahkan, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya agar bertasbih dengan nama ini. Allah ﷻ berfirman, "Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahaagung." [QS. Al-Wāqi'ah: 74]
Nabi ﷺ juga memerintahkan umatnya untuk bertasbih kepada Allah dengan nama ini dalam salat mereka: "Adapun rukuk, maka agungkanlah Tuhan ﷻ di dalamnya." [HR. Muslim]
Kunci Pertolongan
Bila musibah menimpamu, dadamu sempit, dan engkau dirundung sedih, bacalah: "Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Mahaagung lagi Mahalembut. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Tuhan Arasy yang agung. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Tuhan langit, Tuhan bumi, dan Tuhan Arasy yang mulia." [HR. Bukhari dan Muslim]
Bila engkau takut pada seorang penguasa, maka ingatlah bahwa kekuasaan Allah lebih besar. Abdullah bin Mas'ud berdoa, "Ya Allah! Wahai Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan Arasy yang agung, jadilah Engkau pelindungku dari Fulan bin Fulan serta para pembelanya di antara makhluk-makhluk-Mu, agar salah seorang dari mereka tidak menzalimiku. Sungguh agung perlindungan-Mu dan sungguh mulia pujian-Mu, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau."
Nabi ﷺ biasa berlindung pada keagungan Allah dari ditenggelamkan bumi pada waktu pagi dan petang, yaitu beliau berdoa, "Ya Allah! Aku berlindung pada keagungan-Mu dari ditenggelamkan bumi dari bawahku." [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Oleh karena itu, siapa yang berlindung kepada Yang Mahaagung, mendekatkan diri kepada Yang Mahaagung, dan termasuk di antara orang-orang yang bertakwa, dia akan memperoleh keamanan di dunia dan pahala di akhirat, karena Allah ﷻ berfirman, "Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya." [QS. Aṭ-Ṭalāq: 5]
Adapun kedudukan paling agung di sisi Allah ﷻ, maka dianugerahkan kepada orang-orang yang disifati Allah dalam firman-Nya: "Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." [QS. At-Taubah: 20]
Siapa yang melakukan kesyirikan kepada Allah dan melalaikan imannya dari keagungan Allah ﷻ, maka balasannya pasti sesuai dengan jenis perbuatannya, yaitu neraka Jahanam. Semoga Allah melindungi kita darinya. “Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia adalah orang yang tidak beriman kepada Allah Yang Mahaagung." [QS. Al-Ḥāqqah: 30-33]
Bagaimana Seorang Muslim Mengagungkan Allah?
Mengagungkan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- ialah dengan mengagungkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Mengagungkan Allah dalam hati adalah dengan cara mencintai-Nya, mengakui keagungan-Nya, dan merendahkan diri kepada-Nya. Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad: "Siapa yang menyombongkan diri atau angkuh di dalam cara berjalannya, dia akan bertemu Allah dengan keadaan Allah murka kepadanya." [Hadis sahih]
Mengagungkan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- dengan lisan adalah dengan banyak menyebut-Nya: "Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahaagung" [QS. Al-Wāqi'ah: 74]
Mengagungkan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- dengan anggota tubuh adalah dengan menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah. Sehingga hakikat pengagungan Allah ialah Dia ditaati, tidak dimaksiati; disebut, tidak dilupakan; serta disyukuri, tidak diingkari.
Termasuk mengagungkan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- ialah menjunjung rasul-rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, dan syariat-syariat-Nya seperti salat, zakat, puasa, haji, umrah, dan syiar serta hukum-hukum agama-Nya yang lain. "Demikianlah perintah Allah. Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati." [QS. Al-Ḥajj: 32]
Termasuk mengagungkan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- ialah menjunjung Kitab-Nya yang mulia, karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah menyifatinya sebagai kitab yang agung di dalam firman-Nya, "Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dan Al-Qur`an yang agung." [QS. Al-Ḥijr: 87]
Termasuk mengagungkan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- ialah menjunjung perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah, juga menjunjung kehormatan orang-orang beriman. "Demikianlah (perintah Allah). Barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah (ḥurumāt), maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya." [QS. Al-Ḥajj: 30]
Termasuk mengagungkan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- ialah tidak mendahulukan ucapan siapa pun di atas ucapan Allah, seperti apa pun kedudukan orang itu. "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." [QS. Al-Ḥujurāt: 1]
Wahai yang menciptakan makhluk indah dan yang menjamin
rezeki untuk semua, hujan kebaikan-Mu tercurah.
Sifat-sifat-Mu agung, Wahai Yang Mahaagung, mulialah
orang yang menguasai pujian pada-Mu di dalamnya.
Inilah aku, datang dengan baik sangkaku sebagai syafaatku,
sedang perantaraku ialah sesal dan air mata yang mengalir.
Ampuni hamba-Mu pada yang telah berlalu, dan anugerahi dia
taufik pada apa yang Engkau ridai, sungguh kebaikan-Mu sangat sempurna.
Lakukan padanya sebagaimana yang Engkau pantas melakukannya,
seluruh dugaanku adalah sungguh Engkau akan melakukannya.
Aku memohon kepada Allah Yang Mahaagung semoga Dia menjadikan kita bagian dari orang-orang yang bertakwa dan yang berhasil mendapatkan surga-surga kenikmatan.
42
AL-QAWIY ﷻ
Ya Tuhanku, aku kembali pada-Mu dengan bertobat
menyerahkan diri dengan berpegangan pada tali-Mu.
Aku dan orang-orang yang kuat tidak memiliki apa-apa, sedang Engkau,
ya Tuhanku, Mahaagung; alangkah kuatnya Engkau!
Aku telah berlindung di semua tempat dalam kehidupan,
tetapi aku tidak menemukan ada yang lebih mulia dari perlindungan-Mu.
Pembahasan kita ialah tentang Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang berfirman, "Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." [QS. Aż-Żāriyāt: 58] Dia juga yang berfirman, "Allah menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, karena mereka (juga) tidak memperoleh keuntungan apa pun. Cukuplah Allah (yang menolong) menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan. Sungguh Allah Mahakuat, Mahaperkasa." [QS. Al-Aḥzāb: 25] Juga yang berfirman, "Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa." [QS. Al-Ḥadīd: 25]
Tuhan kita Yang Mahakuat ﷻ tidak dihinggapi kelemahan ataupun kelalaian, tidak juga dipengaruhi ketidakberdayaan ataupun putus asa.
Tuhan kita ﷻ tidak terkalahkan oleh siapa pun, tidak dihalangi oleh siapa pun, tidak didorong oleh siapa pun, dan tidak ada seorang pun yang kuasa menolak keputusan-Nya. Milik-Nya semua kekuatan yang mutlak serta kehendak yang sempurna.
Dialah ﷻ yang memiliki kekuatan tiada terhingga.
Tuhan kita ﷻ sempurna dalam kekuatan-Nya dan kuasa atas segala sesuatu, tidak ditaklukkan oleh kelemahan maupun kelelahan di semua keadaan. Perintah-Nya pasti terlaksana di waktu kapan pun yang dikehendaki-Nya, baik di bumi-Nya maupun langit-Nya.
Dia ﷻ Mahakuat dalam hukuman dan siksa-Nya.
Dia memonopoli kekuatan: "Bahwa kekuatan itu semuanya hanya milik Allah." [QS. Al-Baqarah: 165]
Dialah Yang Mahakuat dalam sifat-Nya, pun Mahakuasa atasmu, wahai saudara penguasa.
Seluruh Kekuatan Berasal dari-Nya ...
Mengapa hati kita tidak fokus pada-Nya?! Mengapa kita tidak bertumpu pada-Nya dalam tugas dan kebutuhan kita?! Padahal, betapa butuhnya kita pada kekuatan dan kemahakayaan-Nya!!
Tidak ada kekuatan bagi kita kecuali dengan kekuatan dan taufik-Nya -Tabāraka wa Ta'ālā-. Tidak ada upaya bagi kita untuk meninggalkan kemaksiatan dan menolak keburukan diri kecuali dengan pertolongan-Nya.
Kekuatan itu Allah ﷻ berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Persis seperti keumuman rezeki.
Manusia itu lemah; diciptakan dalam keadaan lemah, dilahirkan dalam keadaan lemah, dan meninggal dalam keadaan lemah. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Manusia diciptakan (bersifat) lemah." [QS. An-Nisā`: 28] Allah ﷻ juga berfirman, "Allahlah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa." [QS. Ar-Rūm: 54]
Hari-hari Allah ...
Manakala banyak hamba melupakan hakikat ini, bahwa pada dasarnya manusia itu lemah dan tidak ada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah, setan menggeret mereka untuk tertipu dengan kekuatan yang mereka miliki hingga melupakan kekuatan Allah ﷻ, lalu mereka pun larut dalam kesesatan.
Lihatlah kaum 'Ād; Allah ﷻ berfirman mengisahkan mereka, "Maka adapun kaum 'Ād, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran dan mereka berkata, 'Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?' Tidakkah mereka memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka lebih hebat kekuatan-Nya dari mereka? Mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami." [QS. Fuṣṣilat: 15]
Ketika Hūd -'alaihissalām- menegur mereka, "Takutlah kalian kepada Allah dan sembahlah Dia saja!", mereka menjawab, "Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?" [QS. Fuṣṣilat: 15] "Kami telah menaklukkan umat manusia dan kami mampu untuk menangkis setiap siksaan berkat kekuatan kami!!" Mereka tertipu dengan fisik mereka yang tinggi, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-: "Yang paling tinggi di antara mereka: 100 hasta. Sedangkan yang paling pendek: 60 hasta."
Manakala ancaman Allah ﷻ telah sampai ke puncaknya, pun kemaksiatan mereka telah mencapai puncak dan ambangnya, Allah mengirim salah satu pasukan-Nya, yaitu tiupan angin yang bergemuruh di beberapa hari yang nahas. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Maka Kami tiupkan angin yang sangat bergemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang nahas, karena Kami ingin agar mereka itu merasakan siksaan yang menghinakan dalam kehidupan di dunia. Sedangkan azab akhirat pasti lebih menghinakan dan mereka tidak diberi pertolongan." [QS. Fuṣṣilat: 16]
Inilah salah satu sunatullah di muka bumi sepanjang sejarah, bahwa orang yang tertipu dan angkuh dengan kekuatannya akan mendapatkan kesudahan seperti keadaan kaum 'Ād, ia akan dihancurkan oleh kekuatan Allah Yang Maharaja dan Mahaperkasa.
Oleh karena itu, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Jelajahilah bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.'" [QS. Al-An'ām: 11] Semoga mereka mengambil pelajaran dari kebinasaan umat yang telah berlalu! Ada puluhan kaum yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya serta mereka tertipu dengan kekuatan, urusan, dan karya mereka di bumi, maka Allah siksa mereka dengan siksaan Tuhan Yang Mahaperkasa dan Mahakuasa. "Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena dosa-dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri." [QS. Al-'Ankabūt: 40]
Orang-orang musyrik mengepung Nabi ﷺ dan para sahabatnya -raḍiyallāhu 'anhum- dengan tujuan menggenosida mereka dari muka bumi dalam perang Ahzab, tetapi Allah ﷻ mengirimi mereka salah satu tentara-Nya, yaitu angin, yang membuat mereka kalang kabut meninggalkan kawasan Kota Madinah. "Allah lalu menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, karena mereka (juga) tidak memperoleh keuntungan apa pun. Cukuplah Allah (yang menolong) menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan. Sungguh Allah Mahakuat, Mahaperkasa." [QS. Al-Aḥzāb: 25]
Anak kecil yang membinasakan seorang raja, air yang menenggelamkan satu bangsa, laut yang menghancurkan satu pasukan, seekor lalat yang menghinakan Namrud, bumi yang menelan Qarun, burung-burung yang menumbuk Abrahah ...
Dialah Yang Mahakuat; kekuatan-Nya membuatmu tercengang. Mahasuci dan Mahatinggi Allah!
Kepada Allahlah segala urusan makhluk kembali, sedikit pun urusan itu tidak kembali pada makhluk.
Maukah Kamu Kutunjuki?!
Semakin tinggi pengetahuan hamba tentang makna nama Allah "Al-Qawiy", tawakalnya kepada Allah ﷻ pun akan semakin bertambah dan akan memohon kekuatan kepada-Nya sembari berlepas diri dari kemampuan dan kekuatannya sendiri. Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda kepada salah seorang sahabatnya, "Maukah kamu aku tunjukkan sebuah kalimat yang merupakan salah satu perbendaharaan surga? Yaitu: Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh." [HR. Bukhari -ini redaksi miliknya- dan Muslim] Maknanya ialah tidak ada peralihan dari satu keadaan ke keadaan lainnya dan tidak ada kemampuan untuk itu kecuali dengan pertolongan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- serta bimbingan dan bantuan-Nya.
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Lā ḥaula walā quweata illā billāh, maksudnya: Tidak ada peralihan dari kemaksian terhadap Allah kecuali dengan penjagaan-Nya, dan tidak ada kemampuan untuk melakukan ketaatan kepada-Nya kecuali dengan bantuan-Nya."
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Kalimat ini memiliki pengaruh menakjubkan dalam menanggulangi pekerjaan-pekerjaan yang sulit, memikul beban berat, masuk menemui raja maupun orang yang ditakuti dan menghadapi huru hara. Ia juga memiliki pengaruh dalam mengusir kemiskinan."
Allahu -Subḥānahu wa Ta'ālā- suka melihatmu bersikap rendah hati sembari mengingat kekuatan-Nya. "Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, 'Māsyā Allāh, lā quwwata illā billāh' (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah), sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu." [QS. Al-Kahfi: 39]
Sekalipun Allah suka kepada orang-orang yang rendah hati, tetapi Allah juga suka kepada orang-orang yang kuat dari kalangan orang-orang beriman, sebagaimana diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing terdapat kebaikan." [HR. Muslim]
Kedua sifat ini tergabung dalam firman Allah ﷻ: "Yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap tegas terhadap orang-orang kafir." [QS. Al-Mā`idah: 54] Kekuatan bagi umat tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu dan amal, karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, tetapi Allah mengetahuinya." [QS. Al-Anfāl: 60]
Berbuatlah untuk Allah seperti yang Dia inginkan, maka Allah akan lakukan untukmu lebih dari yang kamu inginkan!
Ya Allah, ya Qawiy, ya Azīz! Menangkanlah kami atas orang-orang yang zalim.
43
AL-MATĪN ﷻ
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Ada seorang laki-laki yang sangat membutuhkan rezeki, sehingga harus keluar mencarinya. Istrinya berdoa, "Ya Allah! Anugerahkan kepada kami sesuatu yang bisa kami adon dan kami buat roti."
Laki-laki itu kemudian pulang sedangkan mangkuk (di rumah) ditemukan penuh dengan adonan, di tungku terdapat iga yang dipanggang, sedangkan penggilingan sedang menggiling. Dia bertanya, "Itu dari mana?" Istrinya menjawab, "Dari karunia Allah." Lalu ia menyapu seputar penggilingan.
Rasulullah ﷺ bersabda, "Seandainya ia membiarkannya, penggilingan itu akan terus berputar -atau beliau mengatakan: menggiling- hingga hari Kiamat."" [Hadis sahih; HR. Aṭ-Ṭabarāniy dalam Al-Mu'jam Al-Ausaṭ]
Ini adalah pesan kepada orang yang ditimpa kesedihan, yang keadaannya lemah, pesimis terhadap kehidupannya, serta merasakan hari-hari yang sempit. Bergembiralah karena di balik itu ada pertolongan yang dekat dan nyata, ada kemudahan setelah kesulitan, dan kekuatan setelah kelemahan. "(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya." [QS. Ar-Rūm: 6]
Kita akan membersamai salah satu nama Allah yang indah, yaitu: Al-Matīn ﷻ.
"Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." [QS. Aż-Żāriyāt: 58]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Al-Matīn, yang bermakna Mahakokoh dan Mahakuat.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memiliki kekuatan dan kekuasaan yang tak terhingga. Dia sangat kuat, kekuatan-Nya tidak putus, perbuatan-Nya tidak mengalami kesukaran, dan Dia tidak ditimpa kelesuan. Milik-Nya seluruh keperkasaan, Dialah yang menguasai urusan-Nya, dan Dialah Yang Mahakuasa yang tidak mengalami kelemahan.
Di Manakah Mereka?!
Allah Yang Mahakokoh telah mengisahkan kepada kita tentang sejumlah umat yang mendurhakai perintah-Nya serta rasul-rasul-Nya, bahkan ada yang mengklaim diri kuat dan perkasa, lalu Allah menghisab mereka dengan hisab yang berat. "Maka adapun kaum 'Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran dan mereka berkata, 'Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?' Tidakkah mereka memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka lebih hebat kekuatan-Nya dari mereka? Mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami." [QS. Fuṣṣilat: 15]
Lalu kesudahannya ialah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-: "Mereka (kaum 'Ād) menjadi tidak tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa." [QS. Al-Aḥqāf: 25]
Di manakah para raja dan yang memakmurkan bumi?!
Mereka telah meninggalkan apa yang mereka bangun dan meriahkan di sana.
Kini mereka tergadai di kubur akibat yang mereka perbuat,
mereka kembali menjadi debu setelah mereka hancur.
Di manakah pasukan yang tidak menolak maupun memberi manfaat?
Mana yang mereka kumpulkan dan yang mereka timbun di dunia?
Perintah Tuhan Arasy telah turun pada mereka dengan cepat,
mereka tidak diselamatkan oleh harta, tidak pula mereka ditolong.
Angan-anganmu Terwujud ...
Seorang hamba yang beriman secara hakiki mengetahui bahwa Allah ﷻ Mahakuat, Mahakokoh, dan Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia mewujudkan harapan serta mengubah yang jauh menjadi dekat dan angan-angan menjadi kenyataan.
Lihatlah Ibrahim -'alaihissalām-, dia membawa keluarganya ke sebuah lembah kering yang tidak memiliki tanaman, lalu menempatkan wanita lemah dan anak kecil itu di lembah tersebut seraya memanggil Allah dengan penuh tawakal dan yakin dengan kekuatan Allah, "Ya Tuhan kami! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati." Ya Tuhanku! Aku dekatkan mereka dari pintu-Mu dan aku tutup harapan mereka dari selain-Mu. "Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar melaksanakan salat". Ya Tuhanku! Agar mereka melaksanakan khidmat kepada-Mu, sesungguhnya Engkau lebih utama dengan mereka daripada diriku dan dari mereka sendiri. "Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka." [QS. Ibrāhīm: 37]. Tundukkan manusia kepada mereka bila mereka membutuhkan sesuatu, sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Bila engkau lemah sedangkan Tuhanmu Mahakuat dan Mahakuasa, maka janganlah takut! Sungguh orang yang berserah diri kepada Allah, maka Allah akan menjaganya. Siapa yang merasa cukup dengan Allah, maka Allah akan mencukupkannya. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- cemburu bila hati seorang mukmin bergantung kepada selain-Nya, bertumpu kepada selain-Nya, ataupun tunduk kepada selain-Nya, atau air mukanya tumpah kepada selain-Nya.
Kisah Nabi Yusuf merupakan kisah paling bagus dan paling jelas karena berisikan berbagai peralihan dari satu keadaan kepada keadaan yang lain, dari satu ujian kepada ujian lainnya serta karunia, dari kehinaan kepada kemuliaan, dari perbudakan kepada kekuasaan, dari tercerai-berai dan perpecahan kepada persatuan dan kekompakan, dari kesedihan kepada kebahagiaan, dari kelapangan kepada kekeringan lalu kelapangan, dan dari pengingkaran kepada pengakuan.
Kemudian, jangan adukan Allah Yang Mahakuat kepada makhluk yang lemah.
Kala engkau mengadu kepada manusia, sebenarnya engkau sedang mengadukan Yang Maha Penyayang kepada yang tidak menyayangi.
Kekuatan yang hakiki ialah berpegang teguh kepada Allah ﷻ, bukan kepada yang lain, baik itu personal ataupun komunitas. Tidakkah Anda melihat keadaan umat Islam manakala mereka tidak bertumpu kepada Allah lalu menggantungkan harapan kepada musuh-musuh mereka?! Mereka jatuh terhina di sisi Allah dan mereka pun jatuh terhina di mata musuh mereka! Mereka berada dalam kehinaan dan kerugian. Kejayaan dan keperkasaan tidak akan kembali kepada mereka hingga mereka bergantung kepada Allah Yang Mahakuat dan Mahakokoh semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Allah telah menetapkan, Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa." [QS. Al-Mujādilah: 22]
Ya Allah! Kami memohon kepada-Mu dengan nama-Mu "Al-Matīn", semoga Engkau mengampuni kami, kedua orang tua kami, dan semua kaum muslimin.
44-45-46
AL-QĀDIR, AL-QADĪR, AL-MUQTADIR ﷻ
Siapa yang menegakkan perintah Allah ﷻ, maka Allah akan menegakkan urusannya. Siapa yang menggunakan segala yang dimilikinya untuk Allah, maka Allah ﷻ akan tundukkan apa yang dimiliki-Nya untuknya. Seluruh alam ini di tangan Allah, Dialah Yang Mahakuasa dan Mahamampu -Tabāraka wa Ta'ālā-.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Ketika seorang laki-laki berada di sebuah tanah lapang, dia mendengar suara dari arah awan, 'Siramlah kebun si polan!' Awan itu bergerak pergi lalu menumpahkan airnya di tanah berbatu hitam dan air itu berakhir di tempat tersebut. Ternyata ia berada di ekor saluran air, dan ternyata salah satu saluran air yang ada telah menampung semua air itu. Maka dia pun mengikuti arah air itu mengalir. Ternyata ada seseorang yang berada di kebunnya, dia sedang memindahkan (saluran) air itu dengan cangkulnya. Laki-laki itu bertanya, 'Wahai hamba Allah! Siapa namamu?' Orang itu menjawab, 'Polan.' Persis nama yang dia dengar di awan.
Orang itu balik bertanya, 'Wahai hamba Allah! Mengapa engkau menanyakan namaku?' Dia menjawab, 'Aku mendengar suara di awan yang mencurahkan air ini mengatakan: 'Siramlah kebun si polan,' persis seperti namamu. Jadi, apa yang engkau lakukan pada kebun ini?'
Orang itu menjawab, 'Karena engkau telah bertanya, maka ketahuilah! Sesungguhnya aku menilai hasil kebun ini, lalu aku sedekahkan sepertiganya, aku dan keluargaku memakan sepertiganya, dan aku mengembalikan sepertiganya yang lain ke kebun ini.'"
"Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah, baik di langit maupun di bumi. Sungguh, Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa." [QS. Fāṭir: 44] "Tidakkah kamu tahu, bahwa Allahlah yang memiliki seluruh kerajaan langit dan bumi, Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki dan mengampuni siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." [QS. Al-Mā`idah: 40]
Tuhan kita ﷻ adalah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang menaklukkan-Nya dan tidak satu pun keinginan yang luput dari-Nya. Ini berbeda dengan makhluk-makhluk-Nya. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- tidak dihampiri kelemahan dan tidak mengalami kelelahan.
Tuhan kita ﷻ adalah yang mampu dan kuasa atas segala sesuatu. Dialah yang memiliki kuasa penuh. Dengan kuasa-Nya, Dia menciptakan semua makhluk. Dengan kuasa-Nya, Dia mengatur seluruh makhluk dan menyempurnakannya. Dengan kuasa-Nya, Dia menghidupkan, mematikan, dan membangkitkan manusia untuk pembalasan, agar membalas orang yang berbuat baik dengan kebaikannya dan yang berbuat buruk dengan keburukannya.
Tuhan kita ﷻ adalah Zat yang "apabila menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah sesuatu itu." [QS. Yāsīn: 82]
Dia Mahakuasa, tak ada seorang penguasa pun yang mengalahkan-Nya kala menghendaki sesuatu.
Kesempurnaan Kuasa-Nya ...
Di antara bentuk kemahakuasaan Allah ﷻ adalah: "Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki dan mengampuni siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." [QS. Al-Mā`idah: 40] Demikian pula Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-: “Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.” [QS. Al-An'ām: 65]
Di antara bukti kemahakuasaan-Nya ialah bahwa Dia kuasa untuk menghadirkan dan mengumpulkan kita di manapun kita berada. "Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." [QS. Al-Baqarah: 148]
Di antara petunjuk yang dengannya Tuhan kita -Tabāraka wa Ta'ālā- mengenalkan keagungan kuasa-Nya adalah bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menggenggam bumi dengan tangan-Nya di hari Kiamat serta menggulung semua langit dengan tangan kanan-Nya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan." [QS. Az-Zumar: 67]
Takdir Telah Ditulis ...
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang menetapkan dan membagikan takdir makhluk. Dia mengetahui takdir segala sesuatu serta waktu-waktunya sebelum Dia menciptakannya. Setelah itu, Dia menciptakan apa yang telah diketahui-Nya. "Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui." [QS. Yāsīn: 38]
Allah telah menulis takdir makhluk sejak ribuan tahun sebelum Dia menciptakan mereka, sebagaimana yang telah diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Allah telah menulis takdir semua makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi, sedangkan Arasy-Nya di atas air." [HR. Muslim]
Oleh karena itu, hal ini merupakan bagian dari keimanan. Tatkala Jibril -'alaihissalām- bertanya kepada Rasul ﷺ tentang iman, beliau bersabda, "Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik dan takdir yang buruk." [HR. Bukhari dan Muslim; redaksi ini milik Muslim]
Jangan Heran!
Tuhan kita -Tabāraka wa Ta'ālā- telah merincikan pembahasan ini kepada kita di dalam Kitab-Nya untuk mengenalkan kemahakuasaan-Nya kepada kita semua. "Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sungguh, Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa." [QS. Fāṭir: 44]
Bila Allah ﷻ hendak menolongmu, Dia dapat memerintahkan sesuatu yang sebenarnya bukan sebab menurut kebiasaan agar menjadi sebab paling besar.
Bila Allah Yang Mahakuasa ﷻ hendak memuliakanmu, Dia dapat menjadikan orang yang tidak engkau harapkan kebaikannya sebagai faktor terbesar berbagai karunia yang engkau peroleh.
Bila Allah Yang Memiliki Kuasa ﷻ hendak memalingkan keburukan darimu, Dia membuat engkau tidak melihat keburukan itu atau menghalangi jalan keburukan agar tidak menimpamu.
Bila Allah ﷻ hendak menjagamu dari suatu kemaksiatan, Dia membuatmu membencinya, atau menjadikannya susah engkau raih, atau engkau dijadikan tidak bersahabat dengannya, atau Dia menjadikanmu maju untuk mendapatkannya namun ada suatu penghalang memalingkanmu darinya.
Alangkah patut bila kita senantiasa mengetuk pintu Allah Yang Mahakuasa ﷻ!
Lihatlah Ibrahim Al-Khalīl -'alaihissalām- yang menyerahkan urusan keluarganya kepada Tuhannya ﷻ, lalu berdoa, "Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka." [QS. Ibrāhīm: 37] Sebab itu, jadilah Makkah sebagai tempat kerinduan hati sepanjang masa.
Lihatlah pula Sulaimān -'alaihissalām- tatkala berdoa, "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku kekuasaan dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh." [QS. Asy-Syu'arā`: 83] Maka Allah ﷻ menjadikannya menguasai bangsa jin.
Juga Yunus -'alaihissalām- berdoa ketika dalam kegelapan malam dan laut serta di dalam perut ikan, "Tidak ada tuhan yang hak kecuali Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim." [QS. Al-Anbiyā`: 87] Sehingga perut ikan itu menjadi penampungnya.
Di antara doa Rasulullah ﷺ: "Ya Allah! Aku memohon yang terbaik kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kemampuan kepadamu dengan kuasa-Mu. Aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu. Sesungguh Engkau Mahakuasa, sedangkan aku tidak memiliki kuasa." [HR. Bukhari]
Kemahakuasaan Allah ﷻ adalah tempat berlindung dari segala keburukan dan gangguan, sebagaimana dalam doa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ untuk orang yang sakit: "Aku berlindung dengan kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan yang aku dapatkan." Dibaca sebanyak tujuh kali. [HR. Muslim]
Firman Allah ﷻ: "Allah Mahakuasa, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" [QS. Al-Mumtahanah: 7], Di dalamnya terkandung petunjuk bahwa ampunan Allah ﷻ serta rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya berasal dari kesempurnaan kuasa-Nya. Tidak ada satu dosa pun yang besar untuk diampuni-Nya dan tidak ada yang besar bagi-Nya suatu cacat untuk ditutupi maupun suatu rahmat untuk disampaikan.
Tidak semua yang memiliki kuasa dan kekuatan mau memaafkan dan mengasihi orang yang ada di bawah kekuasaannya.
Tidak semua yang memaafkan dan mengasihi memiliki kuasa. Sedangkan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- senantiasa bersama kuasa-Nya yang sempurna karena Dia Maha Mengampuni lagi Maha Mengasihi.
Segala Sesuatu Memiliki Ketentuan
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." [QS. Aṭ-Ṭalāq: 3] Siapa yang bertakwa dan berserah diri kepada-Nya, maka ia tidak boleh menganggap lama pertolongan Allah untuknya dan jangan berputus asa dari rahmat-Nya. Pertolongan pasti datang karena Allah ﷻ Mahakuasa atas segala sesuatu.
Tetapi Allah ﷻ telah memberikan ketentuan untuk setiap sesuatu; memiliki masa yang tidak akan dilampauinya dan juga memiliki waktu yang tidak akan dilewatinya. Bila jadwal yang ditentukan telah datang, maka pertolongan-Nya tidak akan terlambat maupun maju walau sesaat.
Seorang hamba mungkin tidur dengan urusan yang ia telah putus asa padanya, lalu ia bangun sementara urusan itu telah terselesaikan. "Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." [QS. Al-Kahf: 45]
Kesusahan itu memiliki waktu, kemudian ia akan berlalu. Ia juga memiliki masa untuk selanjutnya beralih, karena Allah ﷻ telah memberikan ketentuan pada segala sesuatu.
Pohon tidak akan berbuah sampai tiba waktunya. Matahari tidak akan terbit hingga jadwalnya tiba. Demikian juga wanita yang hamil tidak akan melahirkan kecuali pada masanya. "Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." [QS. Aṭ-Ṭalāq: 3]
Ya Allah! Ampuni dan rahmatilah kami. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
47
AL-ḤAFĪẒ ﷻ
Diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain bahwa 'Āmir bin Aṭ-Ṭufail dan Arbad bin Qais melakukan makar terhadap Rasulullah ﷺ dan berusaha membunuh beliau sehingga Rasulullah mendoakan kebinasaan atas keduanya.
Adapun 'Āmir bin Aṭ-Ṭufail, dia mengalami gondok di lehernya ketika dia berada di rumah seorang perempuan dari Banī Salūl. Lantas ia melompat ke atas kudanya dan mengambil tombaknya. Sambil berjalan dengan kudanya, ia meratap, "Gondok seperti gondok unta dan mati di rumah wanita Banī Salūl!" Dia terus seperti itu hingga ia jatuh mati dari kudanya.
Adapun Arbad bin Qais, dia keluar membawa seekor unta untuk dijual, lalu Allah mengirim halilintar kepadanya dan kepada untanya sampai membakar keduanya. Maka, siapakah yang menjaga Rasulullah? Dialah Allah Yang Maha Menjaga.
Dialah yang berfirman dalam kitab-Nya, "Maka Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang." [QS. Yūsuf: 64]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- menjaga langit dan bumi beserta isi keduanya dan melanggengkan keberadaannya dengan kuasa-Nya. Sebab itu, keduanya tidak musnah dan tidak melenceng. Dia tidak lemah dalam memikul keduanya disebabkan kuasa dan kekuatan-Nya yang sempurna. Tidakkah Anda mendengar firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "Sungguh, Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap; dan jika keduanya akan lenyap, tidak ada seorang pun yang mampu menahannya selain Allah." [QS. Fāṭir: 41]
Demikian juga, Tuhan kita mencatat apa yang diperbuat oleh makhluk-Nya, baik kebaikan maupun keburukan, secara rahasia ataupun nyata, yang kecil maupun besar. Dia mengetahui secara pasti ucapan mereka dan mengetahui niat mereka, tidak ada satu pun yang hilang dari-Nya. "Pada Kami ada kitab (catatan) yang terpelihara dengan baik." [QS. Qāf: 4]
Dialah yang menjaga hamba-Nya dari kebinasaan, kehancuran, dan kematian yang buruk. Hamba-Nya diberikan penjaga dari kalangan malaikat, yaitu malaikat-malaikat yang berjaga bergiliran (Al-Mu'aqqibāt) atas perintah-Nya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah." [QS. Ar-Ra'd: 11]
Penjagaan Allah terhadap makhluk-Nya terbagi dua:
Pertama: Penjagaan umum, yaitu penjagaan-Nya untuk semua makhluk dengan memudahkan kepentingan-kepentingan mereka. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sesungguhnya Tuhanku Maha Pemelihara segala sesuatu." [QS. Hūd: 57]
Kedua: Penjagaan khusus yang merupakan penjagaan yang paling mulia, yaitu penjagaan-Nya untuk wali-wali-Nya dalam kepentingan dunia mereka, badan, anak-anak, dan harta benda mereka dengan mengerahkan para malaikat yang menjaga mereka secara bergiliran. Juga membentengi agama mereka dari syubhat, syahwat, dan dari musuh mereka dari kalangan setan manusia dan jin, lalu mewafatkan mereka di atas iman. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah." [QS. Ar-Ra'd: 11]
Tuhan kitalah yang menjamin untuk menjaga Kitab-Nya yang mulia dari distorsi sepanjang masa dan waktu. "Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur`ān dan Kami yang menjaganya." [QS. Al-Ḥijr: 9]
Dia menjaga Ka'bah sehingga tidak musnah, padahal ia hanya sebuah bangunan dari batu di lembah yang tidak memiliki tanaman. Tujuannya adalah agar ia tetap menjadi saksi atas besarnya penjagaan-Nya dan agungnya kekuasaan dan kekuatan-Nya.
Dia Membelamu ...
Orang-orang kafir Quraisy berkumpul di sekitar gua yang berisikan dua orang laki-laki, Muhammad ﷺ dan Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu-, untuk membunuh keduanya. Rasa takut pun merasuk ke dalam sanubari Abu Bakar, lalu rekannya yang agung memandanginya sambil berkata, "Apa yang engkau bayangkan pada dua orang, sedang yang ketiganya adalah Allah?" [HR. Bukhari dan Muslim]
Bila mata perhatian mengawasimu, tidurlah, semua kekhawatiran itu pasti aman.
Sungguh Dia Maha Menjaga!
Para durjana akan terus membuat makar terhadap para wali-Nya, tetapi Allah selalu menjaga mereka. Lihatlah Musa -'alaihissalām- ketika berdoa, “Ya Tuhan kami! Sungguh, kami khawatir dia akan segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas. Dia (Allah) berfirman, 'Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.'" [QS. Ṭāhā: 45-46] Lantas Allah memberinya kabar gembira, menjaganya, dan memenangkannya atas musuhnya.
Lalu, siapakah yang akan memberi kemenangan terhadap para musuh? Dialah Allah yang menjaga wali-wali-Nya sekalipun jumlah mereka sedikit. "Jika di antara kamu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah." [QS. Al-Anfāl: 66] "Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman." [QS. Āli 'Imrān: 139]
Ganjaran dari Allah
Allah Yang Maha Menjaga -Subḥānahu wa Ta'ālā- akan menjaga keturunan para wali-Nya, baik di masa hidup mereka ataupun setelah mereka mati. Lihatlah Ya'qūb -'alaihissalām-, Allah kembalikan kepadanya anak kesayangannya, Yusuf, setelah bertahun-tahun lamanya. Dialah -'alaihissalām- yang mengatakan, "Maka Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang." [QS. Yūsuf: 64]
Juga kisah Musa dan Khadir -'alaihimassalām- tatkala keduanya datang ke penduduk suatu kampung lalu minta dijamu makan, namun mereka enggan untuk menjamu keduanya sebagai tamu, lalu keduanya menemukan tembok yang hampir tumbang sehingga Khadir -'alaihissalām- menegakkannya. "Adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua dan ayah mereka seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.” [QS. Al-Kahf: 82]
Khalifah yang adil, Umar bin Abdul Aziz, wafat meninggalkan tujuh anak laki-laki dan tujuh anak perempuan. Beliau tidak meninggalkan untuk mereka warisan sedikit pun kecuali Allah ﷻ. Allah pun menjaga anak-anak tersebut. Para ulama berkata, "Anak-anaknya menjadi paling kaya di tengah manusia."
Wasiat Berharga
Nabi ﷺ berwasiat kepada Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Nak! Sungguh aku akan mengajarimu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu! Jagalah Allah, niscaya engkau temukan Allah di hadapanmu!" [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Tatkala dikatakan kepada Muḥibbuddīn Aṭ-Ṭabariy -seorang imam besar mazhab Syafi'i-, "Kenapa engkau bisa melompat dari kapal padahal engkau sudah tua?" Maka dia menjawab -dengan sebuah kalimat abadi yang dicatat sejarah!-, "Ini adalah anggota tubuh yang kami jaga di masa kecil, maka Allah menjaganya untuk kami di masa tua." "Maka Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang." [QS. Yūsuf: 64]
Ulama berkata, "Jagalah perintah Allah dengan melaksanakannya, serta larangan-Nya dengan meninggalkannya, dan batasan-Nya dengan tidak melanggarnya, maka Allah akan menjagamu pada diri, agama, harta, dan anakmu serta semua yang Allah berikan kepadamu dari karunia-Nya di dunia. Rasulullah ﷺ bersabda, "Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu! Jagalah Allah, niscaya engkau temukan Allah di hadapanmu!" [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Adapun di akhirat, Allah telah memberi mereka kabar gembira berupa kemenangan yang besar. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Dan mereka yang memelihara hukum-hukum Allah. Maka gembirakanlah orang-orang yang beriman." [QS. At-Taubah: 112]
Sesuai dengan tingkat penjagaanmu terhadap batasan-batasan Allah, seperti itulah tingkat pertolongan dari Allah untukmu, termasuk:
menjaga tauhid dan syiar agama, terutama salat. "Peliharalah semua salat dan salat wusṭā, dan laksanakanlah (salat) karena Allah dengan khusyuk." [QS. Al-Baqarah: 238]
Juga menjaga pendengaran, penglihatan, dan hati dari yang haram: "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." [QS. Al-Isrā`: 36] "Maka perempuan-perempuan yang salihah adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka)." [QS. An-Nisā`: 34]
Menjaga kemaluan: "Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya." [QS. Al-Mu`minūn: 5]
Menjaga sumpah: "Jagalah sumpah-sumpahmu." [QS. Al-Mā`idah: 89]
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau biasa berdoa, "Ya Allah! Jagalah aku dari depanku dan dari belakangku, dari samping kananku dan samping kiriku, dan dari atasku. Aku berlindung dengan keagungan-Mu dari dibenamkan dari arah bawahku." [Hadis sahih; HR. Tirmizi] Bila hendak tidur, beliau ﷺ juga meminta penjagaan kepada Allah.
Berita Gembira ...
Bila seorang hamba yang saleh menitipkan sesuatu kepada Allah, maka Allah akan menjaganya. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada Abu Hurairah, "Aku titipkan engkau kepada Allah yang tidak akan hilang titipan pada-Nya." [Hadis sahih; HR. Ibnu Majah]
Dalam hadis yang lain, diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh Allah itu bila dititipi sesuatu, niscaya Dia menjaganya." [Hadis sahih; HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubrā]
Sungguh indah bila Anda memintakan perlindungan untuk anak-anak Anda sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Nabi ﷺ. Beliau biasa memintakan perlindungan untuk Hasan dan Husein -raḍiyallāhu 'anhumā-. Demikian juga, ketika Anda menitipkan mereka kepada Allah, sungguh Anda telah menitipkan mereka kepada Yang Maha Menjaga -Subḥānahu wa Ta'ālā-. "Maka Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang." [QS. Yūsuf: 64]
Ya Allah! Kami titipkan kepada-Mu diri kami, orang tua kami, anak-anak kami, dan semua nikmat yang Engkau telah anugerahkan kepada kami.
48
AL-GANIY ﷻ
Imam Bukhari meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Ketika Ayub mandi dengan telanjang, tiba-tiba ada belalang-belalang dari emas berjatuhan, lantas ia mengumpulkannya dengan bajunya.
Lalu Tuhannya ﷻ menyerunya, 'Wahai Ayub! Bukankah Aku telah mencukupkanmu dari apa yang engkau lihat?' Ia menjawab, 'Tentu, demi kemuliaan-Mu. Akan tetapi, aku tidak dapat lepas dari berkah-Mu.'"
Seseorang mungkin saja diberikan uang, diberikan tanah, dikaruniai keluarga, dianugerahi kedudukan, atau mendapat jabatan besar dan pangkat tinggi maupun kepemimpinan yang kuat Mungkin saja ia dikelilingi banyak pelayan, dikelilingi tentara, dijaga pasukan, manusia tunduk kepadanya, dan rakyat mematuhinya.
Namun, tetap saja semuanya butuh kepada Allah ﷺ: "Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah, dan Allahlah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji." [QS. Fāṭir: 15]
Tuhan kita adalah Yang Mahakaya ﷻ; tidak ada yang lebih kaya dari-Nya secara mutlak. Sedangkan makhluk semuanya miskin dan butuh kepada-Nya.
Tuhan kita Mahakaya dengan zat, sifat, dan kekuasaan-Nya. Dia sempurna dalam sifat kaya-Nya, sehingga Dia tidak butuh kepada siapa pun.
Di antara kesempurnaan kekayaan-Nya bahwa ketaatan orang-orang yang taat tidak memberikannya manfaat, dan kemaksiatan orang-orang yang bermaksiat tidak memberinya mudarat, sekalipun andainya semua makhluk kafir kepada-Nya. Allah ﷻ berfirman, "Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." [QS. Āli 'Imrān: 97]
Di antara bentuk kesempurnaan kekayaan-Nya bahwa Allah berbuat baik kepada hamba, menginginkan kebaikan untuk mereka, dan mengangkat keburukan dari mereka sebagai bentuk kasih sayang dan kebaikan pada mereka. "Tuhanmu Mahakaya, penuh rahmat." [QS. Al-An'ām: 133]
Di antara kesempurnaan kekayaan-Nya bahwa Dia menyucikan diri-Nya dari segala kekurangan, aib, dan semua yang bertolak belakang dengan kemahakayaan-Nya. Dia tidak memiliki istri dan anak, tidak memiliki sekutu dalam kerajaan, tidak pula penolong karena lemah, dan tidak ada yang setara dengan-Nya seorang pun. Dia berfirman, "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak (pula) mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan. Dan agungkanlah Dia seagung-agungnya." [QS. Al-Isrā`: 111]
Di antara kesempurnaan kekayaan dan kemurahan-Nya yaitu Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan menjanjikan akan mengabulkan doa-doa mereka: "Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'" [QS. Gāfir: 60] Sebagaimana diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia bagi Allah ﷻ daripada doa.” [Hadis hasan; HR. Tirmizi]
Seluruh Makhluk Butuh kepada Allah ...
Seluruh makhluk, baik jin maupun manusia, yang kaya dan yang miskin, yang besar dan yang kecil, pemimpin dan yang rendahan, yang kuat maupun yang lemah, semuanya butuh kepada Allah di setiap saat.
Di antara bentuk kemurahan Allah adalah Dia menggandengkan nama-Nya, Al-Ganiy (Mahakaya), dengan keterangan sifat rahmat (kasih sayang) dalam firman-Nya: "Tuhanmu Mahakaya, penuh rahmat." [QS. Al-An'ām: 133] Hal itu untuk memberitahukan hamba bahwa Dia tidak butuh terhadap ibadah mereka. Kendati demikian, Dia merahmati mereka dalam segala sesuatu, bahkan dalam ibadah dan kewajiban. Bahkan, di antara wujud rahmat-Nya adalah Dia menerima yang sedikit lalu menjadikannya banyak.
Di antara bentuk kemurahan Allah yaitu Dia menggandengkan nama-Nya, Al-Ganiy (Mahakaya), dengan nama-Nya, Al-Ḥamīd (Maha Terpuji). Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Musa berkata, 'Jika kamu dan orang yang ada di bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.'" [QS. Ibrāhīm: 8] Yaitu sangat patut untuk dipuji disebabkan memiliki nikmat-nikmat yang besar.
Semua makhluk butuh kepada-Nya terkait semua yang kecil dan yang besar, di setiap jam dan setiap detik.
Lihatlah makhluk yang paling sempurna peribadatannya, ia berdoa kepada Tuhannya dengan menampakkan kebutuhan kepada-Nya serta tidak bisa lepas dari-Nya walau sekejap mata. Di antara doa beliau ﷺ: "Baguskanlah untukku urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata." [Hadis sahih; HR. Nasai]
Engkau butuh kepada Yang Mahakaya di setiap waktu. Balasan pahala akan diberikan sesuai dengan kadar engkau menampakkan kebutuhanmu kepada-Nya.
Ingatlah, bahwa Allah adalah Yang Mahakaya, dan bahwa kemahakayaan-Nya adalah kaya secara zat. Bahkan, seandainya seluruh penduduk langit dan bumi meminta kepada-Nya lalu masing-masing orang diberikan permintaannya, maka tidak akan berkurang sedikit pun dari milik-Nya. Diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ Muslim: "Seandainya orang-orang yang terdahulu dan yang belakangan serta semua jin dan manusia berkumpul di satu tanah lapang lalu semuanya memohon kepada-Ku dan masing-masing Aku penuhi permohonannya, hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada di sisi-Ku melainkan hanya seperti air yang berkurang oleh jarum ketika dimasukkan ke dalam lautan."
Kunci Kekayaan
Bagaimana saya dapat menggapai kekayaan?
Jawabannya adalah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis qudsi: "Wahai sekalian manusia! Fokuslah beribadah kepada-Ku, Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rezeki.
Wahai sekalian manusia! Jangan menjauh dari-Ku sehingga Aku penuhi hatimu dengan kemiskinan serta Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan." [Hadis sahih; HR Al-Ḥākim dalam Al-Mustadrak]
Ketika hati hamba merasa kaya dengan Allah ﷻ, merasa cukup dengan-Nya, dan merasa senang dengan pemberian-Nya, maka ia akan menjadi hamba-Nya yang paling kaya dengan Tuhan yang menciptakannya, makhluk yang paling mulia dengan Tuhan yang memberinya rezeki, dan orang lemah yang paling kuat dengan Tuhan yang menolongnya. Kekayaan tersebut tanpa harta, kekuatan itu tanpa kekuasaan, dan kemuliaan itu tanpa dukungan kabilah. Aduhai kekayaan yang sungguh indah, kekayaan yang sungguh mulia!
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, dianugerahi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya kanaah dengan anugerah yang Dia berikan." [HR. Muslim]
Manusia tidak akan pernah puas sekalipun menguasai dunia selama tidak ada rasa cukup dalam hatinya, sebagaimana yang diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ Ibnu Ḥibbān, Nabi ﷺ bersabda, "Wahai Abu Zar! Apakah kamu mengira banyak harta itu kekayaan? Kekayaan itu ialah kekayaan hati, sedangkan kemiskinan itu ialah kemiskinan hati." [Hadis sahih]
Siapa yang memiliki rasa kaya dalam hatinya, apa pun yang ditemukannya dari dunia maka tidak akan mencelakakannya. Sebaliknya, siapa yang kemiskinannya ada dalam hatinya, maka kebanyakan harta dunia tidak akan menjadikannya merasa kaya. Diriwayatkan secara sahih bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Ridailah apa yang Allah bagikan kepadamu, maka engkau akan menjadi manusia yang paling kaya." [Hadis hasan; HR. Tirmizi]
Dalam hadis yang lain: "Siapa yang menjaga kehormatannya, Allah akan jaga kehormatannya. Siapa yang merasa cukup, Allah akan memberinya kecukupan." [HR. Bukhari dan Muslim]
Jiwa resah bila harus miskin,
padahal kemiskinan lebih baik daripada kekayaan yang menjadikannya zalim.
Kaya jiwa adalah yang memberi kecukupan, jika ia enggan,
maka semua yang ada di bumi tidak menjadikannya cukup.
Orang kaya dalam Islam ialah orang yang berlepas dalam hatinya dari manusia dan hanya menampakkan rasa butuh kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Nabi ﷺ bersabda, "Kemuliaan seorang mukmin ialah dengan salatnya di malam hari, sedangkan kebesarannya ialah dengan tidak mengharapkan apa yang ada di tangan manusia." [Hadis hasan; HR. Al-Hakim]
Ketika dikatakan kepada seorang Badui, "Sungguh satu potong roti telah naik seharga 1 Dinar!"
Dia menjawab, "Demi Allah! Itu tidak kupikirkan. Bahkan andainya satu butir gandum seharga 1 Dinar sekalipun! Aku beribadah kepada Allah sebagaimana yang Dia perintahkan kepadaku, dan Dia akan memberiku rezeki sebagaimana yang Dia janjikan kepadaku."
An-Nasafiy -raḥimahullāh- menukilkan: Al-Wāsiṭiy berkata, "Siapa yang mencukupkan diri dengan Allah, ia tidak akan kekurangan. Siapa yang memuliakan diri dengan Allah, ia tidak akan hina." Al-Ḥusain berkata, "Sesuai tingkat ketergantungan hamba kepada Allah, setara dengan itu ia akan merasa cukup dengan Allah."
Seorang bijak mengatakan, "Sungguh ada seseorang menjauhiku, maka ketika aku ingat bahwa aku tidak membutuhkannya saat aku mencukupkan diriku dengan Allah, aku mendapatkan ketenangan dalam jiwaku."
Ibnu As-Sa'diy -raḥimahullāh- berkata, "Kekayaan sesungguhnya ialah rasa kaya dalam hati. Betapa banyak orang yang memiliki harta benda tetapi hatinya miskin merana."
Aku berlepas diri dari kemampuan, kekayaan, dan kekuatanku,
sesungguhnya aku sangat butuh kepada Tuhanku.
Rasa cukup seseorang dengan Ar-Raḥmān lebih kaya daripada kekayaan
dengannya ia memakai pakaian kebesaran dan kemuliaan.
Ya Allah! Engkau memberikan kepada kami sebelum kami memohon kepada-Mu, lalu bagaimana jika kami telah memohon kepada-Mu?!
Ya Allah! Berikan kami kecukupan dengan menampakkan butuh kepada-Mu dan jangan engkau jatuhkan kami dalam kemiskinan dengan merasa cukup tanpa-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahakaya, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.
Ya Allah! Berikan kami kecukupan dengan rezeki-Mu yang halal dari rezeki-Mu yang haram dan dengan karunia-Mu dari selain-Mu.
49-50
AL-ḤAKAM AL-ḤAKĪM ﷻ
Diriwayatkan dalam Sunan Nasai dari Hāni', bahwa ketika ia datang menemui Rasulullah ﷺ sebagai utusan, beliau mendengar mereka memanggil Hāni' dengan kuniah: Abul-Ḥakam. Maka Rasul ﷺ memanggilnya dan berkata, "Sesungguhnya Allah itulah Al-Ḥakam. Di tangan-Nyalah keputusan hukum berada. Kenapa dirimu diberikan kuniah Abul-Ḥakam?" Dia menjawab, "Sungguh kaumku bila mereka berselisih dalam sesuatu, mereka datang menemuiku, lalu aku memutuskan di antara mereka, dan kedua belah pihak pun menerimanya." Rasulullah ﷺ bersabda, "Ini sungguh bagus! Siapa saja anakmu?" Dia menjawab, "Aku memiliki Syuraiḥ, Muslim, dan Abdullah." Beliau bertanya, "Siapakah yang paling besar?" Aku menjawab, "Syuraiḥ." Beliau bersabda, "Berarti engkau Abu Syuraiḥ." [Hadis sahih]
Di antara nama Allah ﷻ ialah Al-Ḥakam dan Al-Ḥakīm. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." [QS. Āli 'Imrān: 6] Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman, "Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) ada pada-Nya dan Dialah pembuat perhitungan yang paling cepat." [QS. Al-An'ām: 62]
Al-Ḥakīm memiliki dua makna:
Pertama: Yang melakukan sesuatu dengan sempurna dan profesional. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- itu Mahaḥakīm sebab semua ucapan dan perbuatan-Nya dilakukan-Nya dengan sempurna; ucapan dan perbuatan-Nya benar seluruhnya dan berada di puncak kesempurnaan.
Di antara kesempurnaan perbuatan-Nya yang merupakan puncak kebijaksanaan ialah Dia meletakkan segala sesuatu pada tempatnya; Dia mengatur ciptaan-Nya dengan sebaik-baik pengaturan dan menciptakan makhluk-makhluk-Nya dengan sebaik-baik penciptaan. Pengaturan dan penetapan-Nya tidak dimasuki oleh cacat, ciptaan-Nya tidak dihampiri oleh kekurangan ataupun kelalaian, dan perbuatan-perbuatan-Nya tidak dihinggapi kekeliruan dan kesalahan. Mahabenar Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- yang telah berfirman, "(Itulah) ciptaan Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan sempurna." [QS. An-Naml: 88]
Sebagaimana Allah menyempurnakan ciptaan-Nya, Dia juga menyempurnakan ayat-ayat Kitab-Nya, yaitu Al-Qur`an Al-Karim. Allah ﷻ berfirman, "Tetapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu, lalu Allah akan menguatkan ayat-ayat-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," [QS. Al-Ḥajj: 52] Allah juga menyifati Kitab-Nya sebagai kitab yang penuh hikmah: "Inilah ayat-ayat Al-Qur`an yang mengandung hikmah." [QS. Luqmān: 2]
Makna Al-Ḥakīm yang kedua: Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- adalah yang menetapkan hukum dan yang memberi keputusan di antara hamba-hamba-Nya. Allah ﷻ Al-Ḥakam dan Al-Ḥākim di antara hamba-hamba-Nya, yaitu memberikan ketetapan dan keputusan di antara mereka dengan syariat-Nya.
Allah telah mengkhususkan nama Al-Ḥakam untuk diri-Nya sendiri sehingga tidak ada orang yang boleh untuk melampaui apa yang Allah khususkan bagi diri-Nya. Allah ﷻ berfirman, "Menetapkan (hukum itu) hanyalah hak Allah. Dia menerangkan kebenaran dan Dia pemberi keputusan yang terbaik." [QS. Al-An'ām: 57] Allah ﷻ juga berfirman, "Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) ada pada-Nya dan Dialah pembuat perhitungan yang paling cepat." [QS. Al-An'ām: 62]
Menjadikan Allah sebagai penetap dan pemberi keputusan ialah dengan menjadikan Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ sebagai penengah pada saat terjadi perselisihan. Allah berfirman, "Apa pun yang kamu perselisihkan padanya tentang sesuatu, keputusannya (terserah) kepada Allah." [QS. Asy-Syūrā: 10]
Allah ﷻ saja yang berhak sebagai pemutus permasalahan di antara hamba-hamba-Nya, sebab Dia adalah Tuhan, pencipta, dan sembahan mereka. "Pantaskah aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu secara rinci?" [QS. Al-An'ām: 114]
Tuhan kita adalah sebijak-bijak pemberi keputusan karena Dia yang mengetahui segala sesuatu dan yang memberikan setiap permasalahan keputusan yang tepat. Allah ﷻ telah berfirman, "Ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dialah hakim yang terbaik." [QS. Yūnus: 109]
Seorang yang beriman tidaklah beriman hingga ia tunduk kepada syariat Allah, berhukum kepadanya, dan menerima semua yang dibawakan di dalamnya. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- telah berfirman, "Maka demi Tuhanmu! Mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." [QS. An-Nisā`: 65]
Tidak ada kemenangan bagi suatu umat yang mengaku Islam kecuali dengan menjalankan syariat Allah.
Balasan dari Yang Mahabijaksana
Siapa yang dikaruniai hikmah, sungguh ia telah dikaruniai kebaikan yang banyak, dan Allah memberikannya kepada siapa yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya. "Sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman." [QS. Luqmān: 12] Seluruh nabi telah diberikan hikmah, dan sebagian mereka melebihi yang lainnya di dalamnya.
Diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Ada dua orang wanita bersama dua orang anaknya, kemudian seekor serigala datang mengambil salah satu dari anak keduanya. Kemudian salah satu dari mereka berkata kepada yang lainnya, 'Serigala itu membawa anakmu.' Yang lainnya berkata, 'Sebenarnya serigala itu membawa anakmu.'
Lalu keduanya menemui Nabi Daud -'alaihissalām- untuk mengadukan hal tersebut, ternyata beliau memutuskan bahwa anak tersebut milik wanita yang lebih tua. Lalu keduanya menemui Sulaiman bin Daud -'alaihimassalām- dan menyampaikan kejadian tersebut kepadanya. Maka Sulaiman berkata, 'Berikanlah kepadaku sebilah pisau untuk membagi dua anak itu di antara mereka berdua.'
Wanita yang muda berkata, 'Jangan engkau lakukan! Semoga Allah merahmatimu, ia adalah anaknya (wanita tua).' Kemudian beliau pun memutuskan bahwa anak tersebut adalah anak wanita yang muda tersebut."
Tenanglah!
Ingatlah bahwa Allah memiliki hikmah yang tinggi. Allah tidak memberi kecuali karena suatu hikmah dan tidak pula menahan kecuali karena suatu hikmah. Pilihan Allah untukmu lebih baik daripada pilihanmu untuk dirimu sendiri, (karena): "Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." [QS. Al-Aḥzāb: 43]
Sufyān Aṡ-Ṡauriy berkata, "Penahanannya terhadap karunia adalah bentuk pemberian, karena Allah tidak menahan lantaran pelit dan tidak pula karena tidak punya, melainkan Dia memperhatikan kebaikan hamba. Jadi, penahahannya itu adalah karena pilihan dan perhatian-Nya yang baik." Ada kalanya engkau meminta sesuatu yang tidak baik kesudahannya, bahkan bisa jadi menyebabkan kematianmu!
Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Sesungguhnya seorang hamba menginginkan suatu perdagangan atau kekuasaan hingga hal itu dimudahkan baginya, lalu Allah melihatnya dan berfirman kepada para malaikat, 'Palingkan ia dari hal itu, sebab ketika engkau memudahkannya untuknya, engkau akan memasukkannya di neraka.' Lalu Allah memalingkan hal itu darinya, sehingga jadilah ia mencari-cari sumber kesalahan, 'Aku didahului oleh si polan, aku diperdaya si polan.' Padahal itu tidak lain adalah karunia dari Allah ﷻ."
Diriwayatkan dari sebagian salaf bahwa ada seorang laki-laki meminta kepada Allah untuk berperang, lalu ia mendengar seorang yang memanggil dalam mimpi, "Sungguh, bila engkau berperang kamu akan ditawan dan ketika kamu ditawan maka kamu akan murtad ke dalam agama Nasrani." "Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 216]
Mahasuci Dia, Dialah Allah Yang Mahamulia; Mahabaik, Maha Pemurah yang sempurna, tidak ada yang menyamai-Nya.
Dia Mahabijaksana, Dia memutuskan dengan hukum-Nya menurut yang dikehendaki; Maha Penyantun, Dia tidak khawatir kehilangan sehingga harus terburu-buru.
Jangan Sama Sekali!
Kemudian, jangan sekali-kali engkau berburuk sangka kepada Allah bila hikmahnya samar bagimu. Sematkanlah kejahilan pada dirimu sendiri! Karena akal terbatas untuk melihat hikmah Allah. Malaikat saja, padahal mereka dekat dari Allah dan mengetahui kemuliaan dan kuasa-Nya, mereka tidak mengetahui hikmah Allah terkait penempatan Adam ke bumi. Mereka berkata, "'Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana (sebagai khalifah), sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?' Allah berfirman, 'Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'" [QS. Al-Baqarah: 30]
Diamlah bersama Allah ketika ketetapan dan perbuatan-Nya datang sampai Dia memperlihatkan kepadamu kebaikan-kebaikan yang banyak.
Umar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Andainya tirai gaib dibuka pada kita, salah seorang kita tidak akan memilih untuk dirinya kecuali apa yang dipilihkan oleh Allah untuknya."
Dalam peristiwa Hudaibiyah, Umar -raḍiyallāhu 'anhu- datang menemui Rasulullah ﷺ seraya berkata, "Wahai Rasulullah! Bukankah kita berada di atas kebenaran, sedang mereka di atas kebatilan?!"
Beliau menjawab, "Tentu."
Umar berkata-kata, "Bukankah orang-orang yang mati di antara kita masuk di surga, sedangkan orang-orang yang mati di antara mereka di neraka?!"
Beliau menjawab, "Tentu."
Umar berkata, "Lalu mengapa kita berikan yang rendah dalam agama kita dan kita pulang, padahal Allah belum memberikan keputusan antara kita dan mereka?!"
Beliau bersabda, "Wahai Ibnul-Khaṭṭāb! Aku adalah utusan Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakanku selamanya." Maka Allah menurunkan Surah Al-Fātḥ, sehingga orang-orang pun tahu bahwa perdamaian itu adalah kemenangan. [HR. Bukhari dan Muslim]
Pena takdir telah diangkat, lembarannya telah kering, segala urusan telah ditetapkan, dan seluruh ketetapan telah ditulis: "Katakanlah (Muhammad), 'Tidak akan ada yang menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman bertawakal.'" [QS. At-Taubah: 51]
Allah adalah yang paling penyayang di antara semua yang penyayang dan sebaik-baik yang memberikan keputusan. Bergembiralah dengan pertolongan yang akan segera datang. Setelah air mata ada senyum, setelah takut ada rasa aman, setelah cemas ada ketenangan; tetapi engkau harus bertakwa kepada Allah.
Al-Alūsiy berkata, "Siapa yang bertakwa kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, mata-mata air hikmah akan memancar dari hatinya, dan rincian rahasia terbuka untuknya sesuai dengan ketakwaannya." "Bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." [QS. Āli 'Imrān: 130, 200]
Ya Allah! Wahai Yang Mahabijaksana! Bukalah untuk kami pintu-pintu hikmah-Mu dan jadikan kami rida pada pembagian-Mu karena Engkau Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
51
AL-LAṬĪF ﷻ
Kita akan membersamai nama Allah Al-Laṭīf ﷻ untuk mendulang sebagian cahayanya dan bernaung di bawah naungannya.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." [QS. Yūsuf: 100]
Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman, "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Mahalembut lagi Mahateliti." [QS. Al-An'ām: 103]
Al-Luṭfu secara bahasa artinya: kebaikan, keramahan, pemuliaan, kelembutan, dan mengetahui perkara-perkara yang halus.
Bila terkumpul kelembutan dalam perbuatan dengan kehalusan dalam pengetahuan, maka sempurnalah makna Al-Laṭīf.
Tuhan kita ﷻ Mahalembut, tidak ada yang lebih lembut dari-Nya; Maha lembut kepada hamba-hamba-Nya, yaitu tidak menyegerakan siksa terhadap mereka, tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya, sekalipun ia lembut, halus, dan kecil.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā-, Dialah yang berbuat baik dan memberikan karunia kepada hamba-hamba-Nya serta bersikap lembut kepada mereka tanpa mereka sadari. "Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya, Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki." [QS. Asy-Syūrā: 19] Dialah yang memberikan mereka rezeki tanpa mereka sangka.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- tidak dijangkau oleh indra dan tidak dilihat oleh mata. "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Mahalembut lagi Mahateliti." [QS. Al-An'ām: 103]
Allah memberi mereka lebih dari batas kecukupan, membebani mereka kurang dari batas kemampuan, dan memudahkan bagi mereka untuk mencapai kebahagiaan pada waktu yang singkat. "Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki." [QS. Yūsuf: 100]
Dialah Yang Mahalembut kepada hamba-Nya serta untuk hamba-Nya, sedangkan kelembutan di dalam sifat-Nya terbagi dua: Mengetahui urusan sesuatu dengan jeli dan kelembutan pada situs-situs kebaikan.
Maka Allah memperlihatkan kepadamu kemuliaan-Nya serta menampakkan kelembutan-Nya, sedangkan hamba lalai dari perkara ini.
Sungguh Dia Yang Mahalembut!
Tuhanmu Yang Maha Pemurah lagi Mahalembut -Tabāraka wa Ta'ālā- menyampaikan kepadamu kebaikan-Nya dengan halus dan lembut. Dia lebih tahu tentang keadaanmu daripada dirimu sendiri dan lebih lembut kepadamu daripada dirimu sendiri.
Bila Allah Yang Mahalembut ﷻ hendak merahmatimu, Dia mengirim ke dalam dirimu cahaya iman sehingga dadamu tetap bercahaya dengan sinarnya, benci kepada kekejian dan fitnah, serta menghindari kemaksiatan. "Dialah Yang Mahalembut lagi Mahateliti." [QS. Al-An'ām: 103]
Bila Allah Yang Mahalembut ﷻ hendak menolongmu, Dia memerintahkan sesuatu yang sebenarnya bukan sebab menurut kebiasaan sehingga menjadi sebab paling besar untuk memenangkanmu, (karena) "Dialah Yang Mahalembut lagi Mahateliti." [QS. Al-An'ām: 103]
Bila Yang Mahalembut ﷻ hendak menyembuhkanmu, Dia mengirimkanmu sebab yang paling aneh, atau mungkin sebab yang paling lemah; sungguh "Dialah Yang Mahalembut lagi Mahateliti." [QS. Al-An'ām: 103]
Bila Yang Mahalembut -Tabāraka wa Ta'ālā- hendak memberimu rezeki, Dia memudahkan urusan-urusan yang mungkin samar bagimu, namun Allah mengetahuinya. Bisa jadi Allah mengirimkan seorang fakir kepadamu lalu engkau membantunya kemudian dia berdoa, maka berkat doanya pintu-pintu langit dibuka lalu rezeki digiring kepadamu dan kehendak-Nya terlaksana menurut yang Dia kehendaki sedangkan engkau tidak memahaminya. Sungguh Dialah: "Yang Mahalembut lagi Mahateliti." [QS. Al-An'ām: 103]
Tidakkah Engkau Rindu kepada-Nya?!
Andaikan hamba mengetahui apa yang direncanakan oleh Yang Mahalembut untuknya, hatinya pasti luluh karena rindu untuk bertemu dengan-Nya.
Betapa banyak penyakit yang menimpamu lalu Dia menyingkirkannya!
Betapa banyak musibah yang menimpa lalu Dia mengalihkannya!
Betapa banyak hutang yang ditunaikan-Nya!
Betapa banyak kesedihan yang dihilangkan-Nya!
Semua itu bukan karena kemampuan dan kekuatanmu, melainkan murni dengan sebab kelembutan dan kemurahan-Nya!
Bila manusia mengetuk pintu para raja, maka engkau ketuklah pintu Raja yang paling agung.
Bila mereka berdiri di halaman penguasa, maka berdirilah engkau di halaman Tuhan yang paling pemurah.
Bila penyakit menyiksamu, hutang membebanimu, engkau bersedih atas kehilangan sesuatu, engkau mengkhawatirkan anak, dan engkau dibuat lelah oleh kemiskinan, maka ingatlah bahwa Dia: "Mahalembut lagi Mahateliti." [QS. Al-An'ām: 103]
Dialah yang di tangan-Nya terdapat kunci pertolongan, perbendaharaan-Nya melimpah, dan tangan-Nya pemurah siang dan malam: "Tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya." [QS. Al-Ḥijr: 21]
Kebahagiaan ada di sisi-Nya, keamanan ada di sisi-Nya, ketenangan ada di sisi-Nya, keridaan ada di sisi-Nya, kesembuhan ada di sisi-Nya, di tangan-Nyalah kepemilikan segala sesuatu dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Jangan pikul kesedihan sementara engkau berada dalam kebersamaan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-, hingga sekalipun ujian dunia menimpamu bertubi-tubi. Ketahuilah, ujian-ujian itu akan membawamu sebagai hamba pilihan sebagaimana ia telah memuliakan Yusuf -'alaihissalām-.
Sekalipun perkara-perkara yang engkau yakini sebagai sebab kebahagiaanmu tidak ada dalam kehidupanmu, yakinlah bahwa Allah telah memalingkannya darimu sebelum ia menjadi sebab kesengsaraanmu.
Kunci Kebahagiaan
Bila engkau ingin berada dalam kebersamaan Allah Yang Mahalembut ﷻ, maka berbahagialah dengan syariat-Nya, syukuri nikmat-Nya, renungkan kerajaan-Nya, gembiralah dalam mengingat-Nya, nikmatilah dalam mendengarkan kalam-Nya, serta ridai Dia sebagai Tuhan, Kitab-Nya sebagai pedoman, dan Nabi-Nya sebagai rasul.
Kebersamaan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- tidak datang kecuali dengan sebab dan tidak digapai kecuali dengan rasa lelah. Ketika itu, hatimu akan diisi kebahagiaan, kesedihanmu akan lenyap, dan engkau akan lupa lelahnya kehidupan serta keletihan dunia.
Merendahlah kepada Allah!
Tuhan kita Al-Laṭīf mencintai kelembutan dan suka bila engkau memperlakukan manusia dengan kelembutan dan kasih sayang.
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Maukah kalian aku kabari tentang orang yang diharamkan dari neraka? Neraka itu diharamkan bagi setiap orang yang bersahabat, rendah hati, lembut, dan mudah." [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Ketika engkau membutuhkan kelembutan Allah kepadamu supaya Dia menyelamatkanmu dari apa yang dapat mencelakakanmu, perlihatkanlah kepada Allah kelemahan dan ketidakberdayaanmu serta bersikap lembutlah kepada orang-orang Islam, khususnya mereka yang lemah.
Tuhanku, Engkaulah pemilik kebaikan dan dari-Mulah semua pemberian dan anugerah yang melimpah. Tuhanku, hatiku diliputi sedih dan keadaanku tidak menyenangkan teman.
Tuhanku, berikan kepadaku maaf-Mu, sungguh aku merendah hina di depan pintu-Mu.
Ya Allah! Berikanlah kami kelembutan-Mu. Anugerahilah kami kenyamanan dekat dengan-Mu. Bantulah kami untuk taat kepada-Mu. Berikanlah kami husnulkhatimah.
52
AL-KHABĪR ﷻ
An-Nasai meriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa seorang laki-laki badui datang menemui Nabi ﷺ lalu beriman dan mengikuti beliau, kemudian ia berkata, "Saya ikut berhijrah bersamamu." Lalu Nabi ﷺ menitipkannya kepada sebagian sahabat-sahabatnya.
Ketika perang Khaibar telah selesai, Nabi ﷺ mendapatkan tawanan lalu melakukan pembagian dan memberikannya bagian; beliau menitipkan kepada sahabat-sahabatnya apa yang diperuntukkan baginya. Saat itu, ia bekerja menggembalakan ternak mereka. Ketika ia datang, mereka segera menyerahkannya kepadanya. Ia bertanya, "Apa ini?" Mereka menjawab, "Bagian yang dibagikan oleh Nabi ﷺ untukmu." Ia pun mengambilnya lalu membawanya menghadap Nabi ﷺ seraya bertanya, "Apa ini?" Beliau menjawab, "Aku yang membagikannya untukmu." Ia berkata, "Bukan untuk ini aku mengikutimu. Aku mengikutimu supaya aku terpanah di sini -ia menunjuk lehernya dengan anak panah- lalu aku mati dan masuk surga."
Maka Nabi ﷺ bersabda, "Bila engkau jujur kepada Allah, maka Allah akan mewujudkannya untukmu." Mereka pun melewatkan sekian waktu yang tidak lama, hingga mereka bangkit berperang melawan musuh, dan Nabi ﷺ dibawakan jenazahnya dalam keadaan terpanah di bagian yang ia tunjuk.
Nabi ﷺ bertanya, "Apakah dia ini adalah orang tersebut?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Ia jujur kepada Allah, maka Allah mewujudkan untuknya." Kemudian Nabi ﷺ mengafaninya dengan jubah beliau lalu mengedepankannya dan menyalatinya. Di antara doa beliau untuknya yang terdengar: "Ya Allah! Ini hamba-Mu, ia keluar berhijrah di jalan-Mu lalu terbunuh syahid. Aku bersaksi atas hal itu."
Amalan anggota tubuh mengikuti amalan hati dan keselamatan di hari Kiamat ada pada keselamatan hati. "Pada hari tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih." [QS. Asy-Syu'arā`: 88-89]
Tidak ada yang mengetahui apa yang ada dalam hati kecuali Allah Yang Maha Mengetahui lagi Mahateliti! Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman tentang diri-Nya, "Allah Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat." [QS. Al-Baqarah: 234]
Tuhan kita mengetahui rahasia dan isi hati para hamba-Nya. Tidak ada berita rahasia yang luput dari-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi pada kerajaan dan alam semesta-Nya, tidak ada seekor semut yang bergerak maupun berhenti, dan tidak pula ada sebuah hati yang bergemuruh maupun tenteram, kecuali ada beritanya di sisi-Nya.
Pengetahuan-Nya meliputi yang lahir dan yang batin, yang rahasia maupun yang nyata, yang pasti, yang mustahil, serta yang mungkin, alam atas (langit) dan alam bawah (bumi), yang telah lalu dan yang sedang maupun yang akan datang. Tidak ada satu pun yang samar bagi-Nya.
Dia mengabarkan kesudahan dan ujung perkara: "Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. (Dialah) Yang Maha Pengasih, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada orang yang lebih mengetahui (Muhammad)." [QS. Al-Furqān: 59]
Allah Maha Mengetahui perkara yang tampak dan yang tersembunyi.
Mahatahu yang hakiki dan maknawi ... Maha Mengetahui, tanpa perdebatan.
Maha Meliputi, tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya ... dan tidak tersembunyi bagi-Nya apa yang tertutup.
Kedudukan Ihsan
Siapa yang meyakini bahwa Allah mengetahui dan melihat rahasia urusannya, ia akan malu dilihat oleh Allah melakukan sesuatu yang tidak disukai-Nya. Sebab itu, ia akan memperbagus amalnya dan mengikhlaskan ibadahnya, hingga ia mencapai kedudukan ihsan yang disebutkan dalam hadis yang sahih: "Yaitu engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Bila tidak mampu, maka sesungguhnya Dia melihatmu." [HR. Bukhari dan Muslim]
Abu Ḥātim berkata, "Pilar ketaatan bagi seseorang di dunia ialah memperbaiki amalan batin dan tidak merusak hati."
Kuncinya di Hati!
Sungguh, engkau melihat suatu amal saleh dikerjakan oleh dua orang, lalu salah satunya diterima sedangkan yang lain tidak diterima! Yang ini mengerjakan salat dan salatnya diterima, sedangkan di sampingnya ada orang lain yang mengerjakan salat namun ia tidak mendapatkan pahala dari salatnya kecuali seukuran khusyuknya. Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh seseorang mengerjakan salat, tetapi barangkali ia hanya mendapatkan sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, atau seperenamnya"; hingga beliau menyebutkan beberapa bilangan. [Hadis sahih; HR. Ibnu Hibban]
Ada orang bersedekah lalu Allah menerimanya dan mengembangkannya sebagaimana salah seorang kita mengembangkan anak untanya. Sebaliknya, yang lain bersedekah tetapi Allah menolaknya, bahkan menyiksanya lantaran sedekah itu! "Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu, dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Allah Mahateliti atas apa yang kamu kerjakan." [QS. Al-Baqarah: 271]
Seseorang yang menundukkan pandangannya dan berpura-pura di depan manusia, kemudian ketika sendiri, ia memelototkan matanya kepada yang haram serta melabrak yang terlarang, adakah yang mampu melihat hatinya selain Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Melihat?! "Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam hati." [QS. Gāfir: 19]
Di antara bahaya hidup antara ketaatan dan kemaksiatan ialah engkau tidak tahu di bagian waktu manakah di antara keduanya yang akan menjadi akhir kehidupan Anda?
Keadaan sendiri itu bisa saja memuliakan dan bisa saja membuat hina. Siapa yang mengagungkan Allah saat ia sendiri, manusia akan menjunjungnya saat ia di keramaian.
Imam Mālik -raḥimahullāh- berkata, "Siapa yang ingin dibukakan celah dalam hatinya serta selamat dari dahsyatnya kematian dan huru hara Kiamat, hendaklah amalnya ketika sendiri lebih banyak daripada amalnya di tengah keramaian."
Ibnu Rajab -raḥimahullāh- berkata, "Husnulkhatimah tidak akan terwujud kecuali bagi orang yang kondisi batinnya baikو karena suasana saat kematian tidak dapat direkayasa, sehingga ketika itu yang keluar hanyalah simpanan hati."
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah menceritakan bahwa Dia Maha Mengetahui. Bahkan, Allah ﷻ mengikat nama-Nya "Al-Khabīr" (Maha Mengetahui) dengan semua yang dikerjakan, diketahui, dan diperbuat oleh manusia lebih dari 20 kali untuk mendorongnya pada ketakwaan. "Berlaku adillah karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. [QS. Al-Mā`idah: 8]
Juga guna mendorongnya untuk melihat seluruh perbuatannya, baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Siapa yang imannya bertambah berkat nama ini "Al-Khabīr", maka ia akan mengetahui semua yang terjadi di alamnya, yaitu hati dan badannya serta rahasia-rahasia yang menjadi sifat hati seperti menipu, khianat, dan merahasiakan keburukan.
Allah ﷻ tidak melihat rupa makhluk, melainkan melihat hati dan perbuatannya: ”Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan, dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan? Sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Mahateliti terhadap keadaan mereka.” [QS. Al-'Ādiyāt: 9-11]
Kebersamaan
Ketika hamba yang beriman mengambil bagiannya dari nama Allah "Al-Khabīr ﷻ, ia akan berada dalam kebersamaan Allah. Ketika ia berada dalam kebersamaan Allah, Allah akan mengangkat dan menyucikannya, menjadikannya sibuk dengan kebersamaan itu dari yang lainnya, menjadikannya selalu dalam kewaspadaan dan takut yang terus-menerus, serta Allah mencukupkan dunianya dan menjadikan dunia itu datang kepadanya dengan hina, menyatukan urusannya, dan memberkahinya di semua rezekinya. Demikian juga kesempitan, kesedihan, dan setan tidak akan menghinggapinya sebab Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” [QS. Aṭ-Ṭalāq: 3]
Wahai Tuhan yang melihat apa yang ada di dalam jiwa dan yang mendengar! Engkaulah yang menyiapkan semua yang diharapkan. Wahai Tuhan yang diharapkan dalam seluruh kesulitan, wahai Tuhan tempat mengeluh dan berlindung dari rasa takut! Aku tidak memiliki apa-apa selain kebutuhanku kepada-Mu; dengan mengutarakan kebutuhanku kepada-Mu aku menyerahkan ketidakberdayaanku.
Aku tidak memiliki siasat kecuali mengetuk pintu-Mu; pintu manakah kan kuketuk bila aku ditolak?! Kemuliaan-Mu tidak membuat putus asa seorang pelaku maksiat, karena karunia-Mu melimpah dan anugerah-Mu lebih luas.
Ya Allah! Berikanlah kelembutan-Mu kepada kami. Wahai Yang Mahateliti .. Wahai yang mengetahui rahasia dan isi hati!
53
AL-ḤALĪM ﷻ
Al-'Izz bin 'Abdis-Salām berkata, "Mengenal Allah ﷻ dan mengenal nama-nama-Nya yang indah serta sifat-sifat-Nya yang luhur merupakan amal yang paling utama kemuliaannya, buahnya, dan efeknya."
Di sini, kita akan membahas bersama tentang salah satu nama Allah ﷻ, yaitu Al-Ḥalīm ﷻ.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Allah Mahakaya lagi Maha Penyantun." [QS. Al-Baqarah: 263]. Dia juga berfirman, "Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." [Al-Isrā`: 44]
Tuhan kita ﷻ pemilik kelapangan dan kesantunan, yang tidak terprovokasi oleh amarah dan tidak pula kejahilan orang yang jahil maupun kedurhakaan orang yang bermaksiat. Dia juga tidak terburu-buru menyiksa hamba-Nya karena kesyirikan dan kekafiran mereka serta banyaknya dosa mereka.
Siapakah yang lebih penyantun dari Allah?! Makhluk-makhluk bermaksiat kepada-Nya padahal Dia mengawasi mereka. Dia memelihara mereka seakan mereka tidak bermaksiat kepada-Nya, dan menjaga mereka seakan mereka tidak melakukan dosa. Dia mengalirkan kebaikan kepada pelaku maksiat dan memberi karunia kepada pelaku keburukan.
Sungguh Dia Maha Penyantun!
Seorang yang sedang kesulitan berdiri di hadapan-Nya sedangkan ia orang yang bermaksiat dan berdosa, namun Dia mengabulkannya. Demikian juga ia meminta kepada-Nya, lalu Dia memberikannya: "Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)." [QS. Al-'Ankabūt: 65]
Lā ilāha illallāh! Betapa Allah penyantun. Dialah pemilik kebaikan dan hanya dari-Nya semua kebaikan bersumber. Dialah Maha Pemberi dan hanya dari-Nya semua pemberian berasal. Dialah Maha Penyantun dan hanya dari-Nya semua kesantunan bersumber.
Dia Maha Penyantun, tidak terburu-buru memberikan hamba-Nya hukuman supaya ia bertobat dari kemaksiatan.
Disebutkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain bahwa Abū Mūsā al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tidak ada seorang pun yang lebih sabar terhadap gangguan yang didengarnya daripada Allah -Ta'ālā-; yaitu mereka membuat tandingan bagi-Nya dan memberikan-Nya anak, tetapi -bersama itu- Allah tetap memberi mereka rezeki, keafiatan, dan karunia."
Betapa Penyantunnya Allah!
Betapa banyak kekeliruan kita yang Allah tutupi! Betapa banyak dosa kita yang tidak membuat kita disiksa! Betapa banyak kemaksiatan yang kita langgar! Namun, Dia memanggil kita padahal Dia tidak butuh kepada kita, “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Ḥijr: 49]
Mahasuci Allah Yang Maha Penyantun! Dia menciptakan, tetapi yang diibadahi malah selain-Nya; dan Dia memberi rezeki, tetapi yang dipuji malah selain-Nya. Kebaikan-Nya turun kepada para hamba, tetapi yang naik kepada-Nya malah keburukan mereka. Dia menginginkan mereka mencintai-Nya dengan memberikan berbagai nikmat, padahal Dia tidak butuh kepada mereka, namun mereka memancing murka-Nya dengan berbagai kemaksiatan sedangkan mereka sangat butuh kepada-Nya. “Kalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ada yang ditinggalkan-Nya (di bumi) dari makhluk yang melata sekali pun, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan. Maka apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” [QS. An-Naḥl :61]
Bisikan ...
Hendaklah kita waspada terhadap murka Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- karena bila Allah Yang Maha Penyantun telah murka, maka tidak ada sesuatu pun yang dapat menghentikan murka-Nya. Sifat santun Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- lahir dari kekuatan dan kemampuan. Allah Yang Maha Penyantun tidak murka kecuali kepada orang yang tidak berhak mendapat rahmat dan yang tidak pantas disantuni. Hal itu berlaku setelah Allah memberinya penangguhan.
Allah -Tabāraka wa Ta’ālā- berfirman, “Maka ketika mereka membuat Kami murka, Kami hukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut).” [QS. Az-Zukhruf: 55]
Kadang Allah menyantuni orang-orang kafir, memberi mereka rezeki, dan tidak menghukum mereka di dunia, tetapi Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- tidak akan menangguhkan dan memaafkan mereka di akhirat. Bahkan, para malaikat akan menggiring mereka ke neraka. Allah tidak menerima harapan mereka dan tidak pula meringankan siksa dari mereka. “Maka demi Tuhanmu! Sungguh, pasti akan Kami kumpulkan mereka bersama setan, kemudian pasti akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahanam dengan berlutut. Kemudian pasti akan Kami tarik dari setiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.” [QS. Maryam: 68-69] “Mereka meminta kepadamu agar segera diturunkan azab. Sesungguhnya neraka Jahanam itu pasti meliputi orang-orang kafir.” [QS. Al-'Ankabūt: 54]
Nikmatnya Melaksanakan Ketaatan!
Seorang hamba harus berupaya menerapkan akhlak santun ini karena Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- Maha Penyantun, suka kepada hamba-hamba-Nya yang penyantun dan Mahamulia, cinta kepada orang-orang yang baik.
Kasih sayang seseorang adalah bagian paling besar ... yang dengannya seorang yang mulia bersaing pada kebanggaan.
Wahai Tuhanku! Berikan sifat penyayang untukku ... aku melihat sifat menyayangi itu tidak pernah disesali oleh pelakunya.
Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- telah memuji Nabi-Nya, Ibrahim al-Khalīl -'alaihissalām- dalam firman-Nya, “Ibrahim sungguh penyantun, lembut hati, dan suka kembali (kepada Allah).” [QS. Hūd: 75] Juga merupakan bagian dari karakter Ismail -'alaihissalām-: "Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat penyantun (Ismail)." [QS. Aṣ-Ṣāffāt: 101]
Nabi kita ﷺ mendapatkan bagian yang besar dari akhlak ini.
Diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain bahwa Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ dan beliau mengenakan pakaian atasan dari Najran yang kasar bagian pinggirnya. Kemudian beliau disusul oleh seorang badui dan menarik pakaian atasan beliau dengan keras. Aku melihat bagian samping leher beliau berbekas akibat tekanan pakaian itu. Lantas laki-laki badui itu berkata, 'Hai Muhammad! Berikanlah kepadaku sebagian harta Allah yang ada padamu!' Rasulullah ﷺ menoleh kepadanya lalu tertawa. Kemudian beliau memberi perintah supaya dia diberikan (apa yang dimintanya)."
Nabi ﷺ memuji Al-Asyajj bin Abdul Qais dalam sabda beliau, "Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah, yakni santun (menahan amarah) dan tenang (tidak tergesa-gesa)." [HR. Muslim]
Diriwayatkan dari Maimūn bin Mihrān bahwa seorang budak perempuan miliknya suatu hari masuk membawa kuah panas sedangkan dia memiliki tamu. Tiba-tiba ia tersandung dan menumpahkan kuah itu kepadanya sehingga Maimūn ingin memukulnya. Akan tetapi budak itu berkata, "Wahai tuanku! Gunakanlah firman Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-: ... 'dan orang-orang yang menahan marah.'" Dia menjawab, "Aku telah lakukan." Selanjutnya ia berkata, "Amalkan yang setelahnya: '... dan orang-orang yang memaafkan manusia.'" Maimūn menjawab, "Aku telah memaafkanmu." Budak wanita itu berkata, "... dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik." [QS. Āli 'Imrān: 134]. Dia menjawab, "Aku telah berbuat baik kepadamu. Kini kamu merdeka karena wajah Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-."
Abu Ḥātim -raḥimahullāh- berkata, "Kewajiban orang yang berakal ketika marah ialah mengingat tingginya sifat santun dan kesabaran Allah kepadanya, padahal ia melanggar larangan-larangan Allah serta melampaui batasan-batasan-Nya secara bertubi-tubi. Kemudian hendaknya ia bersabar dan janganlah amarahnya itu mengantarkannya masuk ke sebab-sebab kemaksiatan."
Sebagai Penutup ...
Bila engkau ditimpa ujian atau musibah, berdoalah kepada Allah dan selipkan nama "Al-Ḥalīm" di dalam doamu, karena Nabi ﷺ ketika kesulitan biasa berdoa dengan doa berikut: "Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Mahaagung lagi Maha Penyantun. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Tuhan Arasy yang agung. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Tuhan langit, Tuhan bumi, dan Tuhan Arasy yang mulia." [HR. Bukhari dan Muslim]
Ya Allah! Sebagaimana Engkau menyantuni hamba-hamba-Mu, maka jadikanlah kesantunan-Mu terhadap kami sebagai sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat.
54
AR-RA`ŪF ﷻ
Diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Ada seorang laki-laki yang melampaui batas terhadap dirinya. Ketika kematian datang padanya, ia berwasiat kepada anak-anaknya. Dia berkata, 'Bila aku mati, maka bakarlah aku kemudian tumbuk, lalu sebarkan abuku di angin laut. Demi Allah! Jika Tuhanku mampu mendapatkan (mengumpulkanku), Dia pasti menyiksaku dengan siksaan yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun.'
Mereka pun melaksanakan wasiatnya itu. Maka Allah berfirman kepada bumi, 'Keluarkan semua yang engkau ambil.' Sehingga laki-laki itu hadir berdiri. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang membuatmu melakukan hal itu?' Dia menjawab, 'Karena takut kepada-Mu, wahai Tuhanku.' Maka Allah mengampuninya dengan sebab itu."
Tuhan kita ﷻ memuji diri-Nya dan memberi kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya dalam firman-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-: ”Sungguh, Tuhanmu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” [QS. An-Naḥl: 7]
Ra`fah ialah tingkat kasih sayang yang paling tinggi.
Ia merupakan kebaikan dari segala sisi. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." [QS. Al-Baqarah: 143]
Tuhan kita ﷻ yang menciptakan manusia, menjaganya, menyayanginya, memberinya kebaikan, menundukkan seluruh alam untuknya, menolak keburukan yang akan menimpanya, dan mendatangkan kebaikan untuknya. Semua ini berasal dari kebaikan dan kemurahan-Nya.
Bahkan, termasuk bentuk kasih sayang Allah ﷻ ialah menerima ketaatan orang-orang yang berbuat ketaatan walaupun kecil serta menjaga keimanan orang-orang yang beriman dan tidak menyia-nyiakannya. Ini bagian dari kasih sayang Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- kepada wali-wali-Nya: ”Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” [QS. Al-Baqarah: 143]
Petunjuk Paling Sempurna!
Di antara keagungan kasih sayang Allah adalah Dia memperingatkan hamba-hamba-Nya, memotivasi dan mewanti-wanti mereka, serta memberikan mereka janji dan ancaman, sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka dan perhatian terhadap kebaikan dan kemaslahatan mereka. ”Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.” [QS. Āli 'Imrān: 30]
Di antara bukti kasih sayang-Nya adalah Dia menurunkan Al-Qur`an kepada Rasul-Nya untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan seizin-Nya. Allah ﷻ berfirman, ”Dialah yang menurunkan ayat-ayat yang terang (Al-Qur`an) kepada hamba-Nya (Muhammad) untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Sungguh, terhadap kamu Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Ḥadīd: 9]
Di antara bukti kasih sayang-Nya adalah Dia menundukkan sarana-sarana angkutan bagi kita; seperti kuda, bigal dan keledai di masa dulu, serta mobil, pesawat, kereta api dan lain sebagainya di masa sekarang. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, ”Ia mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya kecuali dengan susah payah. Sungguh, Tuhanmu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” [QS. An-Naḥl : 7]
Termasuk bukti besarnya kasih sayang Allah bahwa apa yang Allah beli dari hamba berupa jiwa dan harta mereka, sebenarnya adalah murni milik-Nya, kemudian Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- membeli dari mereka apa yang merupakan milik-Nya itu dengan sesuatu yang tidak terhitung dan tidak ternilai. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, ”Di antara manusia ada orang yang menjual jiwanya karena mencari keridaan Allah. Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 207]
Di antara bukti besarnya kasih sayang Allah adalah Dia mengabulkan doa wali-wali-Nya. Allah ﷻ berfirman, "Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami! Sungguh, Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.'" [QS. Al-Ḥasyr: 10]
Di antara bukti besarnya kasih sayang Allah adalah Dia meletakkan hukuman-hukuman yang dapat mencegah mereka melakukan larangan dan yang akan membawa mereka kepada ketakwaan, karena kasih sayang itu akan meluruskan yang disayangi karena hal itu merupakan kasih sayang yang paling lembut dan paling tinggi. Allah ﷻ berfirman, "Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Sungguh, Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." [QS. An-Nūr: 20]
Di antara bukti kasih sayang Allah adalah Dia menangguhkan siksa terhadap orang-orang kafir dan pelaku maksiat sebagai hukuman tanpa mereka sadari, bahkan Allah menangguhkan, memberikan keafiatan, dan memberikan mereka rezeki. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Atau Allah mengazab mereka berangsur-angsur (sampai binasa). Maka sungguh, Tuhan kamu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." [QS. An-Naḥl: 47]
Di antara bukti kasih sayang Allah adalah Dia menahan "(Benda-benda) langit agar tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya? Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." [QS. Al-Ḥajj: 65]
Sebuah Pesan ...
Kepada orang yang ditimpa kemiskinan dan diliputi kesusahan sehingga roman wajahnya berubah dan hatinya hancur ...
Kepada orang yang terbebani oleh hutang, pikirannya bingung, akalnya tercerai-berai, dan mengira dunia telah sempit baginya ...
Kepada orang yang dihancurkan oleh rasa sakit dan telah lelah menghadapi sakit sementara dokter telah menyerah dan semua pintu tertutup di depannya ...
Kepada orang yang memikul sedih dan diliputi susah sementara dunia berbalik punggung kepadanya sehingga dunia yang lapang menjadi sempit baginya ...
Kepada orang yang anaknya tiada, orang kesayangannya pergi, dan teman meninggalkannya hingga jiwanya merasa sempit dan hatinya bergetar, sehingga mawar menjadi duri dan dunia yang indah pun berubah jadi duka ...
Dalam kondisi ini, ingatlah firman Allah ﷻ: "Maka, sungguh, Tuhan kamu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." [QS. An-Naḥl: 7] Lalu lantunkanlah: "Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." [QS. Al-Baqarah: 207] Juga berdoalah: Wahai Yang Maha Penyantun! Santunilah keadaanku, kasihilah kelemahanku, angkatlah kesedihanku, dan jauhkanlah keburukan dariku.
Ibnul-Qayyim berkata, "Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menguji hamba-Nya untuk mendengar keluhan dan doanya." "Dia (Yakub) menjawab, 'Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.'" [QS. Yūsuf: 86]
Di sini, tunggulah pertolongan karena Allah ﷻ berfirman, "Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang mengalami kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya dan yang menghilangkan kesusahan, dan Dia menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat." [QS. An-Naml: 62]
Dialah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Betapa agungnya dan betapa tingginya tempat-Nya! Betapa dekatnya Dia dengan makhluk-Nya! Betapa santunnya Dia kepada hamba-hamba-Nya!
Ketika engkau melihat tali mengencang, yakinlah bahwa ia akan segera putus. Ketika malam semakin gelap, bergembiralah karena subuh telah dekat.
Jangan merasa sempit sementara Anda bersama Tuhan Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang ﷻ. Adalah mustahil keadaan terus-menerus tidak berubah. Sebaik-baik ibadah ialah menanti pertolongan. Hari-hari terus berganti, masa berbolak balik, malam-malam ibarat wanita hamil, sedangkan perkara gaib tertutup, dan Allah Yang Maha Penyayang telah berfirman, "Setiap waktu Dia dalam kesibukan." [QS. Ar-Raḥmān: 29] Allah ﷻ juga berfirman, "Barangkali setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru." [QS. Aṭ-Ṭalāq: 1] Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- juga berfirman, "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." [QS. Asy-Syarḥ: 5-6]
Hati-hati yang Bersujud ...
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah menyifati Rasulullah ﷺ dengan sifat ini di dalam firman-Nya, "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman." [QS. At-Taubah: 128] Yaitu sangat penyantun dan penyayang kepada orang-orang beriman, beliau lebih menyayangi mereka daripada kasih sayang orang tua mereka sendiri.
Oleh karena itu, hak beliau mesti diposisikan di atas semua hak makhluk, dan merupakan kewajiban umat untuk mengimani, mengagungkan, dan memuliakan diri beliau.
Nabi ﷺ menghidupkan seluruh malam dengan membaca satu ayat: "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” [QS. Al-Mā`idah: 118] Lalu Tuhannya ﷻ Yang Maha Penyayang mengabarinya bahwa Kami akan menjadikanmu diridai di tengah umatmu.
Orang yang beriman akan menyayangi dirinya lalu membawanya pada jalan keselamatan serta melindunginya dari jalan kebinasaan. Demikian juga perlakuannya kepada selain dirinya.
Ibnu Rajab -raḥimahullāh- berkata, "Siapa yang pemurah kepada hamba-hamba Allah, maka Allah akan mencurahkan padanya dengan pemberian dan karunia-Nya karena suatu balasan sesuai dengan jenis perbuatan."
Tuhanku! Engkau melihat keadaan, kebutuhan, dan kemiskinanku,
pun Engkau mendengar panggilanku yang samar.
Tuhanku! Berikan aku keindahan maaf-Mu, pada hari
yang tidak berguna anak-anak maupun harta.
YaAllah! Kami memohon kepada-Mu, wahai Yang Maha Penyantun! Agar Engkau memasukkan kami ke dalam surga-Mu serta Engkau melindungi kami dari api neraka-Mu.
55
AL-WADŪD ﷻ
Kala kita duduk di suatu majelis yang dibasahi hujan
suatu perkumpulan yang indah laksana taman.
Keindahan dan kecantikan tempat telah membangkitkan harapan pada kita,
sehingga kita melayang berandai-andai, maka Engkaulah harapan itu.
Tuhan kita Yang Maha mencintai -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Zat yang dicintai oleh orang-orang yang taat, tempat berlindung orang-orang yang lari, tempat bersandar bagi orang-orang yang terdampar, dan tempat aman bagi orang-orang yang takut.
Dialah yang mencintai orang-orang yang bertobat dan yang menyucikan diri, yang paling dermawan di antara para pemberi, dan yang paling pemurah di antara para pemurah.
Dialah yang paling lapang di antara yang memberi, paling penyayang di antara yang dimintai kasih sayang, dan paling pemurah di antara yang diminta, tempat berlindung ketika sulit, tempat bersahabat ketika terasing, dan penolong ketika penolong sedikit. Mahasuci Dia dan Mahatinggi.
Pembahasan kita ialah tentang nama Allah: Al-Wadūd -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Mencintai." [QS. Hūd: 90] Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman, "Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mencintai. Yang memiliki Arasy lagi Mahamulia." [QS. Al-Burūj: 14-15]
Al-Wudd ialah cinta.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- menampakkan cinta-Nya pada wali-wali-Nya dengan mengenalkan diri-Nya serta sifat-sifat-Nya yang indah ...
Cinta ini khusus bagi para wali dan orang-orang bertakwa. Allah menghadirkan kepada mereka sebab-sebab untuk mendapatkan cinta-Nya serta menarik hati mereka untuk mencintai-Nya. Allah menyebutkan kepada mereka nama-nama indah dan sifat-sifat yang luas nan agung serta indah yang dimiliki-Nya, sehingga hal itu menarik hati-hati yang bersih dan jiwa-jiwa yang lurus kepada-Nya.
Sungguh hatiku kosong sebelum mencintai-Mu,
sebelum itu ia senang dan bahagia dengan menyebut makhluk.
Ketika hatiku diajak mencintai-Mu, ia pun menyambutnya,
dan aku tidak mengira ia akan meninggalkan pintu-Mu.
Tuhan kita -Tabāraka wa Ta'ālā- Maha Mencintai, Dia menampakkan cinta-Nya kepada para pelaku maksiat di antara hamba-Nya sebagaimana Dia memperlihatkan cinta-Nya kepada orang-orang yang bertobat di antara mereka. Allah menerangkan kepada mereka sebab-sebab untuk mendapatkan ampunan-Nya, jalan untuk meraih maaf-Nya, dan petunjuk-petunjuk atas keluasan rahmat-Nya.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" [QS. Az-Zumar: 53] Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman, "Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." [QS. Al-A'rāf: 156]
Tuhan kita -Tabāraka wa Ta'ālā- memperlihatkan cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya melalui karunia dan nikmat-nikmat-Nya yang besar, yang bersifat lahir maupun batin. Dialah yang menciptakan dan melangsungkan kehidupan mereka, menghidupkan mereka dan menjadikan kehidupan mereka baik, menyempurnakan urusan mereka dan menunjuki mereka kepada iman dan Islam yang merupakan nikmat terbesar.
Dialah Yang Maha Mencintai; Dia mencintai mereka dan dicintai oleh para pencinta-Nya, dan karunia itu milik Yang Maha Pemberi. Dialah yang menganugerahkan cinta itu di dalam hati mereka, lalu menganugerahi mereka imbalan berupa cinta yang kedua.
Itulah kebaikan yang sebenarnya, bukan tukar menukar maupun mengharap pujian.
Kebaikan yang Murni
Bila nama Al-Wadūd diketahui maknanya oleh hamba, hatinya akan bergantung kepada Tuhannya sehingga ia akan sibuk mencintai, merindukan, dan menikmatinya, sampai-sampai tidak akan ada yang lebih manis dan lebih nikmat darinya!
Hal ini merupakan ibadah paling agung yang dengannya hamba beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya: "Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya." [QS. Al-Mā`idah: 54]
Jernihnya keadaan itu selaras dengan kejernihan pengetahuan terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Orang yang beriman mengetahui bahwa keadaan itu bukan di bawah upaya dan kuasa hamba. Tetapi Dia Yang Maha Penyayang mencintai hamba-Nya lalu menjadikan cinta itu di dalam hatinya, kemudian ketika hamba itu mencintai-Nya dengan taufik-Nya maka Allah mengganjarnya dengan cinta yang lain. Inilah kebaikan yang murni karena dari Allahlah sebab itu dan dari Allah pula hasilnya.
Ketika seorang hamba mencintai Tuhannya dengan cinta yang sebenarnya, hal itu akan melahirkan pemurnian ibadah hanya kepada-Nya serta berlanjut pada mencintai siapa yang dicintai oleh Allah dan apa yang dicintai-Nya, demikian juga membenci siapa yang dibenci oleh Allah dan apa yang dibenci-Nya. Inilah hakikat walā` dan barā`. "Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu adalah bapak-bapak mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, ataupun kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah tanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dia memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida terhadap-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung." [QS. Al-Mujādilah: 22]
Hanya bagi Para Pencinta!
Orang yang beriman dengan jujur akan berusaha meraih cinta Allah melalui amalan-amalan yang akan mendatangkan cinta Allah ﷻ, berupa perkataan maupun perbuatan. Yang paling utama ialah taat kepada Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Katakanlah, 'Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah mencintai kalian.'" [QS. Āli 'Imrān: 29]
Seorang hamba akan senantiasa berjalan di atas apa yang dicintai oleh Allah ﷻ serta bergegas kepada apa yang diinginkan oleh Tuhannya hingga ia meraih cinta dan mendapatkan kedekatan-Nya. "Bila Allah mencintai hamba, Allah memanggil Jibril, 'Sungguh Allah mencintai polan, maka cintailah dia!' Maka Jibril mencintainya. Lalu Jibril memanggil penduduk langit, 'Sungguh Allah mencintai polan, maka cintailah dia!' Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian ia dijadikan diterima di bumi." [HR. Bukhari]
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka)." [QS. Maryam: 96]
Bila Allah ﷻ telah mencintai seorang hamba, maka: "Allah adalah pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia mengambil, dan kakinya yang dengannya dia berjalan." [HR. Bukhari]
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Sebab-sebab yang dapat mendatangkan cinta Allah ﷻ ada sepuluh:
Pertama: Membaca Al-Qur`ān disertai tadabur dan berupaya memahami makna dan maksudnya.
Kedua: Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunah setelah amalan fardu.
Ketiga: Terus-menerus berzikir kepada Allah pada semua keadaan; dengan lisan, hati, perbuatan, dan keadaan.
Keempat: Mendahulukan apa yang dicintai oleh Allah di atas kecintaan Anda pada saat hawa nafsu berkuasa.
Kelima: Perhatian dan pengenalan hati terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Keenam: Menyaksikan kebaikan dan nikmat-nikmat Allah yang bersifat batin dan lahir.
Ketujuh -dan ini yang paling ajib-: Kerendahan hati secara total di hadapan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Kedelapan: Berkhalwat dengan Allah di waktu Allah turun untuk bermunajat kepada-Nya.
Kesembilan: Berkumpul bersama para pencinta yang jujur serta memetik buah ucapan mereka yang baik.
Kesepuluh: Menyingkirkan setiap sebab yang dapat menghalangi antara hati dengan Allah ﷻ.
Bukti Cinta
Tidak semua mata menjadi senang dengan orang yang dicinta, tidak pula semua yang dipanggil mengabulkan orang yang memanggil.
Ketika para pencinta mendengar panggilan Tuhan yang tercinta, "Ḥayya 'alal-falāḥ!", mereka segera meninggalkan tempat tidur, mengusir kantuk, dan mengayunkan kaki di bawah sengatan matahari ataupun himpitan dingin, seolah-olah mereka berjalan di atas sutra sedangkan telinga mereka diketuk panggilan: "Bersegeralah menuju perjuangan!" Mereka lantas mengorbankan diri, mempersembahkan jiwa, menghilangkan nyawa, dan menumpahkan darah.
Ketika dibacakan kepada mereka: "Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu" [QS. Al-Baqarah: 254], mereka langsung berlomba dengan mengorbankan yang mahal dan bernilai, mengucurkan harta paling berharga yang mereka miliki dan sesuatu paling bagus yang mereka cintai, dan mengeluarkan pemberian layaknya orang yang tidak khawatir miskin. Ketika dibacakan kepada mereka: "(Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah" [QS. Āli 'Imrān: 97], mereka segera datang dari segenap penjuru yang jauh dengan penampilan lusuh, berdebu, perut kosong, dan jiwa dahaga sembari mengucapkan: Labbaikallāhumma labbaik! Labbaika lā syarīka laka labbaik!
Keadaan mereka dan keadaan selain mereka seperti ungkapan penyair:
Siapa yang tidak pernah melewatkan malam dengan cinta yang mengisi hati ... ia tidak pernah tahu bagaimana hati hancur.
Jalāluddīn Ar-Rūmiy berkata, "Sesungguhnya cinta mengubah pahit menjadi manis, tanah menjadi emas, keruh menjadi jernih, rasa sakit menjadi obat, penjara menjadi taman, penyakit menjadi nikmat, tekanan menjadi kasih sayang; ia juga yang melenturkan besi, melelehkan batu, membangkitkan yang mati, dan menuangkan padanya kehidupan."
Andai Engkau manis sekalipun kehidupan pahit, andai Engkau rida sekalipun manusia marah. Andai antaraku dengan-Mu bagus, sekalipun antaraku dengan alam semesta hancur.
Bila aku telah meraih cinta dari-Mu, semuanya jadi ringan karena semua yang di atas tanah tetaplah tanah.
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- bertutur tentang cinta, "Cinta adalah rahasia ibadah, sedangkan tauhid adalah kesaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah."
Seorang laki-laki badui berdiri ketika Nabi ﷺ sedang menyampaikan hadis kepada para sahabat. Ia berkata, "Kapan kiamat terjadi, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?" Ia berkata, "Aku tidak menyiapkan untuk itu dengan banyak salat, puasa, maupun sedekah. Akan tetapi, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya." Beliau bersabda, "Engkau akan bersama siapa yang engkau cintai." [HR. Bukhari dan Muslim]
Aku mencintai orang-orang saleh sekalipun aku bukan bagian dari mereka ... namun semoga aku mendapatkan syafaat lewat mereka.
Aku membenci siapa yang jualannya kemaksiatan ... sekalipun kami sama dalam barang dagangan.
Tanda ...
Haram bin Ḥayyān berkata, "Tidaklah seorang hamba menghadap kepada Allah ﷻ dengan hatinya, kecuali Allah bawa hati orang-orang beriman kepadanya hingga Allah memberinya cinta mereka."
Orang beriman itu penuh cinta; ia mencintai dan dicintai, bersahabat dan mudah disahabati. Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Orang beriman itu bersahabat dan mudah disahabati." [Hadis sahih; HR. Aṭ-Ṭabarāniy dalam Al-Mu'jam Al-Ausaṭ] Alasannya adalah karena ia mencintai kebaikan untuk saudara-saudaranya seislam serta menahan keburukannya dari mereka. Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau biasa berdoa, "Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu agar dapat mencintai-Mu, mencintai siapa yang mencintai-Mu, serta mencintai amalan yang dapat mendekatkanku kepada cinta-Mu." [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Ya Allah, wahai Yang Maha Mencintai! Kami memohon agar dapat mencintai-Mu dan mencintai siapa yang mencintai-Mu, serta mencintai amalan yang dapat mendekatkanku kepada cinta-Mu.
56
AL-BARR ﷻ
Wahai hamba yang fakir! Berdirilah selalu di pintu Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Gapailah kemuliaan dengan Tuhan Yang Mahamulia lagi Maha Mengetahui. Mendekatlah pada-Nya dengan melakukan ketaatan kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.
Pada saat itu, Allah akan melimpahkan kepadamu nikmat-nikmat-Nya. Bila engkau menaati-Nya, maka Dia akan memuliakan dan mengutamakanmu. Bila engkau pernah menelantarkan apa yang sudah berlalu, Dia akan mengasihi dan memberimu waktu. Bila engkau bertobat dan kembali, Dia akan memujimu; bila engkau bermaksiat, maka Dia akan menutupinya.
Bagaimana bisa orang yang merasakan manisnya ibadah dan cinta pada-Nya bertahan untuk tidak dekat dengan-Nya?! Bagaimana bisa orang yang merasakan nikmatnya menghinakan diri di hadapan-Nya mampu memutuskan hubungan dengan-Nya?!
Bila cinta orang-orang yang mabuk cinta
pada Laila dan Salma dapat merenggut jiwa dan akal,
Lantas apa yang akan diperbuat oleh orang yang cintanya meluap
ketika hatinya berjalan karena rindu pada para pemuka malaikat tertinggi.
Benarlah perkataan orang yang mengatakan, "Demi Allah! Betapa asingnya jalan bagi orang yang penjaminnya bukan Allah. Betapa tersesatnya jalan bagi orang yang penuntunnya bukan Allah."
Mahasuci Allah Yang Maha Memberi kebaikan lagi Maha Penyayang! Kebaikan-Nya berlaku umum untuk semua penghuni bumi dan langit di setiap keadaan, berupa kebaikan-kebaikan yang nyata dan yang tersembunyi.
Allah berfirman, "Dia juga menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin." [QS. Luqmān: 20] Allah juga memuji zat-Nya yang tinggi dalam firman-Nya, "Dialah Yang Maha Melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang." [QS. Aṭ-Ṭūr: 28]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- sangat mengasihi hamba-hamba-Nya, menyayangi mereka, dan memperbaiki keadaan mereka serta urusan dunia dan syariat mereka.
Di antara bukti kesempurnaan kebaikan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- yaitu Dia memberi kebaikan kepada orang yang berbuat baik dengan pelipatgandaan pahala, dan memberi kebaikan kepada orang yang berbuat buruk dengan memaafkan dan mengampuninya.
Tuhan kita Yang Maha Memberi kebaikan dan Mahalembut kepada hamba-hamba-Nya menginginkan kemudahan bagi mereka, bukan menginginkan kesulitan.
Dialah Yang Maha Memberi kebaikan kepada wali-wali-Nya. Dia mengkhususkan mereka dengan pertolongan-Nya, memilih mereka untuk beribadah kepada-Nya, serta menolak berbagai macam keburukan, kejelekan, dan musibah dari mereka.
Kebaikan-Nya yang luas tampak pada apa yang Dia siapkan bagi wali-wali-Nya di negeri abadi (surga). "Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Dialah Yang Maha Melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang." [QS. Aṭ-Ṭūr: 28]
Kebaikan yang ada dalam sifat Allah Yang Mahasuci
ialah banyaknya kebaikan dan melimpahnya karunia
yang lahir dari kebaikan yang merupakan sifat-Nya.
Maka, kebaikan bagi-Nya ada dua:
sifat dan perbuatan. Dialah Yang Mahabaik lagi Maha Melimpahkan kebaikan,
Dia pula yang melimpahkan kebaikan dan terus-menerus melimpahkan kebaikan.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- melimpahkan kebaikan kepada hamba-hamba-Nya, Mahalembut kepada mereka, memberikan mereka kebaikan, serta melapangkan kebaikan, karunia, pujian, dan mengabulkan (permintaan mereka). "Dia juga menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin." [QS. Luqmān: 20]
Semua Disiapkan untuk Membantumu ...
Para malaikat pemikul Arasy Ar-Raḥmān dan malaikat-malaikat sekitarnya memohonkan ampunan untukmu!
Para malaikat yang ditugaskan kepadamu menjagamu. Sedangkan malaikat yang ditugaskan mengurus hujan dan tumbuhan, mereka mengusahakan rezekimu dan bekerja untuk itu.
Planet-planet tunduk, patuh, dan berputar demi membawa kemaslahatan untukmu. Matahari, bulan, dan bintang-bintang pun tunduk dan berjalan dengan hitungan waktumu dan memperbaiki rutinitas hari-harimu.
Alam bumi seluruhnya ditundukkan untukmu; bumi, gunung, laut, pohon, buah, tumbuhan, dan hewan-hewan ... Semua yang ada padanya adalah untukmu. "Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir." [QS. Al-Jāṡiyah: 13]
Hembusan Kebaikan ...
Di antara bentuk kebaikan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah Dia memudahkan bagi kita jalan kepada-Nya, memudahkan syariat-Nya pada kita, dijadikan-Nya ramah, ditiadakan padanya kesulitan, dan kita tidak dibebani-Nya sesuatu yang kita tidak sanggupi: "Allah tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama." [QS. Al-Ḥajj: 78] "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." [QS. Al-Baqarah: 286] "Sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur`an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" [QS. Al-Qamar: 17]
Di antara bentuk kebaikan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- pada kita adalah Dia menerima yang sedikit dari kita lalu memberikannya pahala yang banyak sekaligus memaafkan banyak kesalahan. Cukuplah bagi kita hadis mulia yang disabdakan Nabi ﷺ: "Sesungguhnya Allah telah mencatat kebaikan dan keburukan, kemudian telah menjelaskan yang demikian itu.
Siapa yang meniatkan satu kebaikan lalu tidak bisa melakukannya, Allah menulisnya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Bila ia meniatkannya lalu melakukannya, Allah menulisnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan-kelipatan yang banyak.
Tetapi, bila ia meniatkan satu keburukan lalu tidak jadi melakukannya, Allah menulisnya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Bila ia meniatkannya lalu melakukannya, Allah menulisnya sebagai satu keburukan." [HR. Bukhari dan Muslim]
Di antara bentuk kebaikan Allah pada kita yaitu Allah senang pada tobat hamba-Nya dan tidak mempermalukan kita ketika berbuat dosa, bahkan Dia membukakan untuk kita pintu-pintu tobat: "Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhanya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." [QS. Az-Zumar: 53]
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Wahai anak Adam! Selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni semua dosamu yang telah kamu lakukan dan Aku tidak peduli.
Wahai anak Adam! Jika dosamu setinggi langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dan Aku tidak peduli.
Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku sedikit pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula." [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Hanya milik-Mu segala pujian; kami memuji-Mu dengan pujian yang dengannya kami menikmati zikir ... sekalipun aku tidak dapat menyebut seluruh pujian dan syukur. Hanya milik-Mu segala pujian; kami memuji-Mu dengan pujian yang baik sepenuh langit ... beserta seluruh penjurunya, demikian juga bumi, daratan, dan laut.
Tuhanku! Anugerahilah aku rahmat-Mu yang ... mencakup semua makhluk dan yang Engkau jadikan sebagai kebaikan semuanya.
Bagianmu dari Nama Itu ...
Tuhan kita Maha Melimpahkan kebaikan, Dia mencintai kebajikan sekaligus memerintahkannya, dan suka agar hamba-hamba-Nya berperangai dengannya.
Ayat yang paling lengkap dalam hal itu ialah firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." [QS. Al-Baqarah: 177]
Seorang hamba tidak akan meraih limpahan kebaikan dari Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- di akhirat kecuali dengan melaksanakan hal-hal yang dapat membawa pada kebaikan Allah dan rida-Nya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sampai kamu menginfakkan sebagian harta yang Kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan dari segala sesuatu, sungguh Allah Maha Mengetahuinya." [QS. Āli 'Imrān: 29]
Ar-Rāziy -raḥimahullāh- berkata, "Setiap orang yang melapangkan pintu-pintu kebaikan dan kenyamanan pada hamba Allah, maka Allah akan melapangkan untuknya kebaikan dunia dan akhirat."
Ya Allah! Berikanlah karunia-Mu pada kami dan lindungi kami dari siksa neraka, sesungguhnya Engkau Maha Melimpahkan kebaikan dan Maha Penyayang!
57
AL-QARĪB ﷻ
Allah ﷻ berfirman, "Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Mahadekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran." [QS. Al-Baqarah: 186]
Sebuah pertanyaan yang dijawab sendiri oleh Allah ﷻ dalam sebuah ayat yang menuangkan keakraban yang manis, cinta yang merekatkan, rida yang menenangkan, kepercayaan yang cukup, dan keyakinan yang memadai.
Di bawah bayang keakraban dan kedekatan yang dinanti, kita mencoba mengenal nama Allah "Al-Qarīb."
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat" [QS. Saba`: 50]
Ia sebuah nama yang disukai jiwa serta sarat dengan makna yang indah dan petunjuk yang banyak ...
Lafalnya menggambarkan maknanya sebagaimana gelas yang bersih memperlihatkan air segar yang menjadi isinya.
Tuhan kita ﷻ dekat dari hamba-hamba-Nya, bersemayam di atas Arasy-Nya di atas semua makhluk-Nya, yang mengetahui rahasia dan apa yang disembunyikan oleh hati. Adapun kebersamaan Allah, maka berlaku untuk semua orang.
Kedekatan Allah dengan makhluk-Nya terbagi dua:
Pertama: Kedekatan yang bersifat umum; yaitu kedekatan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dengan setiap orang dengan ilmu dan pengawasan-Nya serta kesaksian dan pengetahuan-Nya terhadap segala sesuatu, sedangkan Allah di atas seluruh makhluk, dan Allah lebih dekat kepada manusia dari urat leher.
Inilah kebersamaan Allah yang bersifat umum: "Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." [QS. Qāf: 16]
Kedua: Kedekatan yang bersifat khusus; yaitu kedekatan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dengan orang-orang yang beribadah pada-Nya, yang berdoa kepada-Nya, dan para pencinta-Nya. Kedekatan ini berkonsekuensi cinta, pembelaan, dan dukungan dalam gerak dan diam, mengabulkan yang berdoa, serta menerima dan memberi pahala untuk orang-orang yang beribadah.
Ia merupakan kedekatan yang tidak diketahui hakikatnya, tetapi diketahui jejaknya, berupa kelembutan dan perhatian Allah kepada hamba-Nya serta taufik dan bimbingan-Nya: "Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku." [QS. Al-Baqarah: 186]
Dialah Yang Mahadekat dan kedekatan-Nya yang bersifat khusus bagi orang yang berdoa serta hamba-Nya yang beriman.
Telah diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tuhan yang kalian berdoa kepada-Nya itu lebih dekat kepada salah seorang kalian daripada leher hewan kendaraannya." [HR. Muslim]
Dia mendengar langkah semut hitam di atas batu besar yang keras di kegelapan malam.
Dalam Penjagaan Allah ...
Allah ﷻ dekat dari wali-wali-Nya. Dia menjaga hamba-hamba-Nya. Dia mengurus dan memperhatikan mereka seluruhnya serta menurunkan kepada mereka guyuran rahmat. Dia tidak meninggalkan mereka walaupun sekejap mata dan tidak menyerahkan urusan mereka kepada diri mereka sendiri. Dia tidak menjadikan musuh-musuh mereka menguasai mereka dan tidak memberikan jalan bagi setan untuk memperdaya mereka.
Mereka datang dengan membawa tebusan kebersamaan yang khusus, sehingga mereka memperoleh kedekatan, pertolongan, pembelaan, dan penjagaan: "Allah berfirman, 'Aku bersamamu jika kamu melaksanakan salat, menunaikan zakat, beriman kepada rasul-rasul-Ku dan membantu mereka, dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik.'" [QS. Al-Mā`idah: 12]
Mereka merasa tenang dan berbaik sangka kepada-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-, maka Dia pun selalu ada untuk mereka di semua waktu ...
Lihatlah Nuh -'alaihissalām-, setelah berdakwah selama sembilan ratus lima puluh ribu tahun yang dipenuhi ujian dan rintangan, ia berdoa kepada Tuhannya, maka Dia pun mengabulkan doanya, menyelamatkannya, dan membinasakan lawan-lawannya.
Lihatlah Ibrahim -'alaihissalām-, ia meminta perlindungan kepada Tuhannya, maka Dia pun menyelamatkannya dari api.
Demikian juga Allah menyelamatkan Yunus bin Matta -'alaihissalām- dari kesusahan yang besar dan mengembalikan Yusuf kepada Ya'qūb; mengumpulkan urusan mereka, menyatukannya dengan saudara-saudaranya, dan mengembalikan penglihatan Ya'qūb.
Rasul kita ﷺ diterpa banyak peristiwa yang membuat kepala beruban, hati sesak hingga ke tenggorokan, dan sebagian sahabatnya berprasangka dengan prasangka yang bukan-bukan kepada Allah, lantas beliau berdoa kepada Tuhannya, maka Allah ﷻ menunaikan janji dan mewujudkan apa yang diinginkan serta meninggikan kalimat yang hak.
Allah ﷻ dekat dengan seluruh hamba-Nya yang beriman; Dia melihat dan melindungi mereka.
Seorang wanita datang mengadukan suaminya pada Rasulullah ﷺ, sedangkan Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ada di sudut rumah. Aisyah menyampaikan bahwa sebagian kalimat didengarnya dan sebagian lainnya tidak ia dengar. Setelah pengaduan itu, Jibril turun kepada Muhammad ﷺ membawa firman Allah: "Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [QS. Al-Mujādilah: 1] Mahasuci Allah yang pendengaran-Nya meliputi segala suara!
Sungguh Dia Mahadekat!
Engkau tidak perlu meninggikan suara dalam doa karena Dia Mahadekat dan mendengarmu ...
Nabi ﷺ mendengar para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- berdoa kepada Tuhan mereka dengan suara tinggi, maka beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia! Tenangkanlah diri kalian karena kalian tidak berdoa kepada Tuhan yang tuli dan tidak ada! Yang kalian mintai doa itu adalah Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat." [HR. Bukhari dan Muslim]
Allah mengetahui apa yang ada dalam hati dan pikiranmu. Engkau berdoa kepada-Nya dalam hati lalu Dia mengabulkan ... Sungguh Dialah Yang Mahadekat -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "(Yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut." [QS. Maryam: 3]
Engkau menyebut-Nya dalam hati, maka Dia mendengarmu dan menyebutmu, karena Dialah Yang Mahadekat -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Dalam hadis qudsi muttafaq 'alaih disebutkan: "Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di tengah-tengah kumpulan manusia, Aku pun mengingatnya di tengah-tengah kumpulan makhluk yang lebih baik daripada mereka."
Tidak ada seorang pun kecuali dia mendapatkan karunia dari Allah Yang Mahadekat ﷻ berupa dihilangkan kesedihannya, diangkat kesulitannya, disingkirkan keburukan darinya, dirinya dilindungi dari bahaya, atau hasratnya terpenuhi dan keinginannya terkabulkan.
Pintu Allah Yang Mahadekat terbuka, pemberian-Nya terulur, kebaikan-Nya besar, dan kedermawanan-Nya agung. Betapa banyak kebutuhan yang ditunaikan, betapa banyak doa yang dikabulkan, betapa banyak keberkahan yang turun, dan betapa banyak rahmat yang meliputi!
Pakaian Kebutuhan ...
Bila engkau telah tahu kedekatan Allah ﷻ kepadamu dan bahwa Dia mengetahui rahasiamu, mendengar doamu, melihat tempatmu, dan mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka hendaklah kamu menjadi bagian dari orang-orang yang berbuat kebaikan. "Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan." [QS. Al-A'rāf: 56]
Mendekatlah kepada-Nya, sungguh ketika engkau mendekat pada-Nya satu jengkal, Dia akan mendekat kepadamu satu hasta. Disebutkan dalam hadis qudsi: "Jika seorang hamba mendekati-Ku sejengkal, niscaya Aku mendekatinya satu hasta. Jika dia mendekati-Ku satu hasta, niscaya Aku mendekatinya satu depa. Jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan biasa, niscaya Aku mendatanginya dengan berjalan cepat." [HR. Bukhari dan Muslim; redaksi ini milik Muslim]
Mendekatkan diri kepada Allah dengan cara melalui amalan-amalan fardu sebelum yang sunah. "Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku sukai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunah hingga Aku mencintainya." [HR. Bukhari]
Semakin sempurna tingkatan ibadah seorang hamba, maka ia akan semakin dekat kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Semakin ia merendahkan diri kepada Allah, menghinakan diri di hadapan-Nya, serta merendahkan hidung dan mukanya untuk Tuhan kecintaannya, maka ia akan semakin bertambah dekat kepada Tuhannya serta kedudukannya semakin tinggi. Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Keadaan terdekat hamba kepada Tuhannya adalah ketika dia bersujud, maka perbanyaklah doa (di dalamnya).” [HR. Muslim]
Sujud mengandung bukti pengagungan yang paling besar, derajat ibadah yang paling tinggi, potret perendahan diri yang paling nyata, pesan cinta yang paling indah, pemandangan khusyuk yang paling jernih, dan bukti kebutuhan yang paling utama.
Sesuai dengan tingkat sujudmu kepada Allah ﷻ, seperti itu tingkat ketinggianmu di sisi-Nya. Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Hendaknya engkau memperbanyak sujud. Sungguh, tidaklah engkau melakukan sujud satu kali melainkan dengannya Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menggugurkan satu kesalahan darimu." [HR. Muslim]
Di sinilah engkau akan mendapat kenikmatan yang kekal. "Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah)." [QS. Al-Wāqi'ah: 11] "(Yaitu) mata air yang darinya minum orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)." [QS. Al-Muṭaffifīn: 28]
Selamat untukmu dengan anugerah Tuhanmu dan dengan kedatanganmu kepada-Nya!
Hingga sekalipun langit tampak jauh ... tetapi Tuhan yang di atas langit Mahadekat.
Angkatlah kedua tanganmu tuk bermunajat kepada Tuhan ... sungguh luka akan sembuh bersama doa.
Langit yang jauh lagi tinggi tidak merugikan kami .. selama Engkau dekat, wahai Tuhan langit.
Ya Allah! Engkau telah berfirman dan firman-Mu benar: "Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Mahadekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran." [QS. Al-Baqarah: 186]
Ya Allah! Wahai Yang Mahadekat, wahai Yang Maha Mengabulkan! Kabulkanlah doa kami, kasihilah kelemahan kami, angkatlah kesedihan kami, baguskanlah kesudahan kami dalam urusan seluruhnya, lindungilah kami dari kesengsaraan dunia dan azab akhirat, dan ampunilah kami, orang tua kami, dan semua kaum muslimin, wahai Yang Maha Mengabulkan doa!
58
AL-MUJĪB ﷻ
Kami mendengar sebuah ucapan seperti butiran embun ... yang membuat harapan kami menjadi segar.
Ia memperbaharui angan dalam jiwa ... dan sebaliknya membius luka.
'Aṭā` mengisahkan: Ṭāwūs -raḥimahullāh- datang kepadaku dan berkata, "Wahai 'Aṭā`! Janganlah engkau sodorkan kebutuhanmu kepada orang yang menutupi pintunya untukmu, tetapi mintalah kebutuhanmu kepada Tuhan yang pintu-Nya terbuka untukmu hingga hari Kiamat. Dia telah memerintahkanmu untuk berdoa kepada-Nya dan menjanjikanmu pengabulan."
"Mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat dan memperkenankan (doa hamba-Nya).” [QS. Hūd: 61]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Yang Maha Mengabulkan doa; memberikan orang yang meminta kepada-Nya apa yang ia inginkan, mengabulkan doa orang-orang yang meminta, menolong orang-orang yang kesulitan, dan menggantikan ketakutan orang-orang yang takut dengan rasa aman. Bahkan, Dia mengabulkan permintaan orang-orang yang kafir kepada-Nya dan yang tidak pernah mengenal-Nya walaupun sejenak! Dia mengabulkan panggilan mereka serta mengangkat keburukan yang menimpa mereka sebagai bentuk karunia dari-Nya dan agar mereka beriman.
Akan tetapi, kebanyakan manusia melupakan nikmat, tidak mengakui kebaikan, dan tidak mensyukurinya. Allah ﷻ berfirman, "Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)." [QS. Al-'Ankabūt: 65]
Di Pintu-Nya ...
Ketika tak ada lagi pintu yang terbuka bagi insan, bumi sempit, kesulitan memuncak, keadaan berat, dan mereka tidak menemukan tempat berlindung dan menyelamatkan diri di tengah-tengah makhluk, maka dengan dorongan fitrah yang ada dalam diri mereka niscaya mereka akan lari kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, berlindung ke sisi-Nya, serta menampakkan kerendahan di hadapan pintu-Nya: "Kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan." [QS. An-Naḥl: 53]
Di antara kemurahan dan kebaikan Allah adalah Dia senang untuk dimintai ketika lapang dan sulit. Siapa yang mengenal Allah ketika lapang, maka Allah akan mengenalnya ketika sulit. Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Siapa yang ingin dikabulkan doanya ketika sulit dan susah, hendaklah memperbanyak doa ketika lapang." [Hadis hasan; HR. Tirmizi]
Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya, "Berapa jarak antara kita dengan Arasy Ar-Raḥmān?" Beliau menjawab, "Doa yang jujur dari hati yang tulus."
Pengingat ...
Hamba yang beriman akan menghindari penghalang-penghalang dikabulkannya doa, di antaranya:
1- Tidak menghadap kepada Allah dengan tulus.
2- Tidak yakin dalam meminta dan tidak kuat dalam berdoa.
3- Tidak berselawat kepada Nabi ﷺ.
4- Terburu-buru ingin mendapatkan pengabulan.
5- Makanan, minuman, atau pakaian yang haram.
6- Meninggalkan amar makruf dan nahi mungkar.
Disebutkan dalam banyak hadis bahwa ada beberapa waktu dan kondisi yang doa mustajab di dalamnya, di antaranya:
1) Doa antara azan dan ikamah.
2) Di akhir malam.
3) Ketika sujud.
4) Suatu waktu di hari Jumat.
5) Ketika safar (perjalanan jauh).
6) Doa orang yang terzalimi.
7) Doa orang tua terhadap anaknya.
Pembahasan dalam perkara ini sangat luas. Tetapi ingatlah ketika engkau mengangkat kedua tanganmu, bahwa itu karunia dari Tuhanmu untukmu, yaitu Allah ingin memberimu anugerah. Oleh karena itu, berbaik sangkalah dan tegaskanlah permintaan karena Allah ﷻ berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu." [QS. Gāfir: 60]
Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Singkirkan gelombang ujian dengan doa."
Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Jangan lemah untuk berdoa, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang celaka bersama doa."
Ibnu Ḥajar -raḥimahullāh- berkata, "Semua yang berdoa akan dikabulkan doanya dikabulkan, akan tetapi, pengabulannya beragam. Terkadang dikabulkan langsung dengan apa yang dimintanya, dan terkadang dengan penggantinya."
Hanya kepada-Mu aku berlindung, tidak ada tempat berlindung selain-Mu ... maka lindungilah hamba lemah yang berlindung pada lindungan-Mu. Sungguh aku hamba lembah yang bertumpu untuk menaklukkan kekuatan ... dosa dan maksiatku dengan sebagian kekuatan-Mu. Aku telah berbuat dosa, wahai Tuhanku, aku telah disakiti oleh dosa-dosa ... yang tidak memiliki pengampun selain dari-Mu.
Ku berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku, agar Engkau mengampuni dosaku, menolongku serta membekaliku dengan petunjuk-Mu. Maka terimalah doaku dan kabulkan harapanku, tak kan pernah rugi suatu hari pun orang yang berdoa dan berharap pada-Mu.
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Sungguh buruk bagi seseorang bila ia tiba-tiba meminta kepada hamba padahal di sisi Tuhannya Yang Mahasuci ia akan menemukan semua yang diinginkannya!"
Ya Allah! Wahai Yang Maha Mengabulkan doa! Kabulkanlah doa kami, kasihilah kelemahan kami, dan lindungilah kami dan orang tua kami dari api neraka.
59
AL-MAJĪD ﷻ
Tuhanmu Menyukai Pujian ...
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tidak ada seorang pun yang lebih mencintai pujian daripada Allah. Untuk itu Allah menjanjikan surga." [HR. Muslim] Dalam sebuah riwayat: "Tidak seorang pun yang lebih mencintai pujian daripada Allah. Oleh karena itu, Dia memuji diri-Nya." [HR. Bukhari]
Diriwayatkan dalam Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari bahwa Al-Aswad bin Surai' berkata, "Dahulu aku seorang penyair. Aku datang menemui Nabi ﷺ lalu berkata, 'Tidakkah aku membacakan kepadamu syair-syair pujian yang dengannya aku memuji Tuhanku?'
Beliau bersabda, 'Sungguh Tuhanmu menyukai pujian.' Beliau tidak mengatakan kepadaku lebih dari itu." [Hadis hasan]
Orang-orang yang memuji-Mu tidak akan mampu memuji-Mu secara sempurna, sekalipun mereka berpanjang kata, sebab yang ada pada-Mu jauh lebih agung.
Buah pujian kita tidak akan kembali kepada Allah, pun dampak kelalaian kita tidak akan kembali kepada-Nya. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- Mahakaya pada zat-Nya dan Maha terpuji dengan sifat-sifat-Nya, bukan dengan pujian manusia dan sanjungan mereka kepada-Nya, dan tidak pula dengan syukur mereka atas pemberian-Nya.
Akan tetapi, sebagai bentuk kemurahan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- pada kita, Dia menjadikan baiknya kehidupan kita dengan sebab syukur dan pujian kepada-Nya, agar jiwa kita suci serta lurus dan tenteram kepada Tuhannya.
Tulisan yang aku suguhkan ke hadapan Anda ini ialah bagian dari wujud pujian kepada Allah ﷻ yang telah menganugerahkannya pada kami. Aku memohon kepada-Nya agar menerima seluruhnya dan menjadikannya sebagai tabungan di sisi-Nya pada hari kita bertemu dengannya.
Hanya milik-Mu segala pujian, karunia, dan kerajaan, ya Tuhan kami; tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih besar kemuliaannya dari-Mu.
Allah -Tabāraka wa Ta’ālā- berfirman, "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Mahamulia.” [QS. Hūd: 73]
Al-Majīd berasal dari kata "al-majd", artinya: kemuliaan yang sempurna, lapang, dan banyak.
Tuhan kita ﷻ adalah pemilik kemuliaan dan kebaikan yang luas. Adakah kemuliaan yang lebih tinggi dan lebih sempurna dari kemuliaan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-?
Dialah yang disifati dengan sifat-sifat kemuliaan, kebesaran, keagungan, dan ketinggian. Dia paling besar dari segala sesuatu, paling agung dari segala sesuatu, paling mulia dan paling tinggi dari segala sesuatu.
Seluruh sifat Tuhan kita -Tabāraka wa Ta'ālā- agung. Dia Maha Mengetahui yang sempurna dalam pengetahuan-Nya, Maha Penyayang yang kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu, Mahakuasa yang tidak dikalahkan oleh apa pun, Maha Penyantun yang sempurna dalam kesantunan-Nya, Mahabijaksana yang sempurna dalam kebijaksanaan-Nya...
Semua nama dan sifat-sifat-Nya ialah kesempurnaan; kita tidak kuasa menyebutkan seluruh pujian untuk-Nya, tetapi Dia sebagaimana Dia memuji diri-Nya.
Seluruh Pujian Hanya untuk-Mu...
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah memuji diri-Nya dengan kesempurnaan, keagungan, dan kemuliaan-Nya. Diriwayatkan secara sahih dalam hadis qudsi: "Akulah Yang Mahaperkasa, Akulah Yang Mahabesar, Akulah Yang Maharaja, Akulah Yang Mahatinggi; Dia memuji diri-Nya." [Hadis sahih; HR. Ahmad dalam Al-Musnad]
Tuhan kita terpuji atas keagungan dan kemuliaan-Nya: "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Mahamulia.” [QS. Hūd: 73]
Dialah -Tabāraka wa Ta'ālā- memiliki banyak karunia kepada hamba-hamba-Nya dengan ragam kebaikan yang Dia limpahkan dan anugerahkan kepada para wali-Nya berupa pengagungan kepada-Nya dalam ibadah mereka.
Disebutkan dalam hadis qudsi: "Bila ia membaca: Māliki yaumiddīn [QS. Al-Fātiḥah: 4], Allah berfirman, 'Hamba-Ku mengagungkan-Ku.'" [HR. Muslim] Juga diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa ketika mengangkat kepala dari rukuk beliau membaca, "Rabbanā wa lakal-ḥamdu, mil`as-samāwāti wal-arḍi wa mil`a mā syi`ta min syai`in ba'du, ahlaṡṡanā` wal-majdi" Artinya: "Ya Tuhan kami! Segala puji milik-Mu sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh apa pun yang Engkau kehendaki setelahnya, yang berhak terhadap pujian dan pengagungan." [HR. Muslim]
Tetaplah bersama-Nya!
Di antara kemuliaan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, para rasul dan nabi mendapatkan sifat kemuliaan itu. Oleh karena itu, para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Kami telah mengetahui bagaimana mengucapkan salam kepadamu, tapi bagaimana mengucapkan selawat kepadamu?"
Beliau bersabda, "Allāhumma ṣalli 'alā Muḥammad wa 'alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita 'alā Ibrāhīm wa 'alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. (Artinya: Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau limpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia)." [HR. Bukhari dan Muslim dengan redaksi yang mirip]
Lembah Keberuntungan
Al-Qur`an adalah kalam Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Ialah "Al-Qur`an yang mulia" [QS. Al-Burūj: 21], yang tinggi dan agung, dan yang memiliki kebaikan dan kemuliaan yang luas.
Allah ﷻ telah memuji dan memuliakan diri-Nya dalam Al-Qur`an yang mulia. Ayat Al-Qur`an yang paling agung ialah ayat yang mengandung pujian kepada Allah serta menyebutkan sifat-sifat-Nya; seperti ayat Kursi dalam surah Al-Baqarah yang merupakan ayat paling agung dalam Kitab Allah ﷻ. Demikian juga surah Al-Ikhlāṣ yang merupakan surah paling agung, hingga diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya surah Al-Ikhlāṣ itu setara sepertiga Al-Qur`an." [HR. Muslim]
Di antara amalan paling besar yang dengannya hamba mengagungkan dan memuliakan Tuhannya ialah membaca Kitab-Nya di malam hari, pagi, dan petang, berpegang teguh dengan ajarannya, menadaburinya, dan mengamalkannya secara pengetahuan, kekhusyukan, dan pemahaman.
Siapa yang menjadi Ahli Qur`an, maka ia termasuk ahlullāh dan orang-orang pilihan-Nya; sebagaimana diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya dengan kitab ini (Al-Qur`an), Allah mengangkat derajat sebagian kaum dan merendahkan derajat sebagian kaum yang lain." [HR. Muslim]
Umar bin Al-Khattab bertemu Nāfi' bin Al-Ḥāris di 'Usfān, saat itu Umar menugaskannya sebagai gubernur Makkah. Umar bertanya, "Siapa yang engkau tunjuk (untuk mewakilimu) mengurus penduduk Makkah?" Nāfi' menjawab, "Ibnu Abzā." Umar bertanya, "Siapa Ibnu Abzā?" Nāfi' menjawab, "Salah seorang mantan budak kami." Umar bertanya, "Engkau menunjuk pemimpin mereka dari seorang mantan budak?" Ia menjawab, "Sungguh dia hafal Kitabullah dan alim ilmu faraid."
Umar lantas berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya Nabi kalian ﷺ telah bersabda, 'Sesungguhnya dengan kitab ini (Al-Qur`an), Allah mengangkat sebagian kaum dan merendahkan sebagian kaum yang lain.'" [HR. Muslim]
Kemuliaan itu diberikan kepada orang yang memperhatikan dan mengamalkannya. Sebaliknya, kehinaan diberikan kepada orang yang berpaling darinya.
Di antara cara memuliakan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- ialah dengan pujian yang baik kepada-Nya; yaitu tahmid, takbir, tasbih, dan tahlil. Siapa yang merutinkan hal tersebut, ia telah meraih kebaikan dunia dan akhirat.
Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Ṣaḥīḥ-nya dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari ahli zikir. Jika mereka menemukan satu kaum yang sedang berzikir kepada Allah ﷻ, mereka berseru, 'Marilah kalian menuju kebutuhan kalian.' Lantas para malaikat meliputi mereka dengan sayap-sayapnya sampai ke langit terendah.
Kemudian Tuhan mereka bertanya kepada mereka -padahal Dia lebih tahu dari mereka-, 'Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?' Mereka menjawab, 'Mereka bertasbih (mensucikan-Mu), bertakbir (mengagungkan-Mu), bertahmid (memuji-Mu), dan memuliakan-Mu.'
Allah bertanya, 'Apakah mereka pernah melihat-Ku?' Para malaikat menjawab, 'Tidak, demi Allah, mereka tidak pernah melihat-Mu.'
Allah bertanya lagi, 'Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?' Para malaikat menjawab, 'Seandainya mereka melihat-Mu, pasti mereka lebih sungguh-sungguh lagi untuk beribadah kepada-Mu, lebih sungguh-sungguh memuliakan-Mu, dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu.'
Allah bertanya, 'Apa yang mereka minta dari-Ku?' Para malaikat menjawab, 'Mereka meminta dari-Mu surga.'
Allah bertanya, 'Apakah mereka pernah melihat surga?' Para malaikat menjawab, 'Tidak, demi Allah, wahai Tuhan, mereka tidak pernah melihatnya.'
Allah bertanya, 'Bagaimana seandainya mereka melihatnya?' Para malaikat menjawab, 'Seandainya mereka melihatnya, mereka pasti lebih bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya, lebih bersungguh-sungguh untuk memintanya, dan lebih besar keinginan padanya.'
Allah bertanya, 'Lalu dari apa mereka meminta perlindungan?' Para malaikat menjawab, 'Mereka meminta perlindungan dari neraka.'
Allah bertanya, 'Apakah mereka pernah melihatnya?' Para malaikat menjawab, 'Tidak, demi Allah, mereka tidak pernah melihatnya.'
Allah bertanya, 'Bagaimana seandainya mereka melihatnya?' Para malaikat menjawab, 'Seandainya mereka melihatnya, pasti mereka lebih bersungguh-sungguh untuk lari darinya dan lebih takut lagi kepadanya.'
Allah berfirman, 'Aku persaksikan kepada kalian sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka!'
Salah satu malaikat pun berkata, 'Namun di antara mereka ada si fulan, dan ia bukan bagian dari mereka. Ia datang hanya karena suatu keperluan!'
Allah menjawab, 'Mereka semua adalah teman duduk; mereka tidak menyengsarakan teman duduknya.'"
Jika teman duduk mereka tidak sengsara, lalu bagaimana halnya dengan mereka sendiri?!
Arasy
Tuhan kita telah menyifati Arasy yang Dia bersemayam di atasnya, bahwa arasy itu mulia. Allah ﷻ tidak akan memilihkan untuk diri-Nya kecuali yang paling utama, paling lengkap, dan paling sempurna. Oleh karena itu, pantas bila Arasy itu mulia.
Hanya milik-Mu segala pujian, karunia, dan kerajaan, ya Tuhan kami;
tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih besar kemuliaannya dari-Mu.
Dia Maha Memiliki dan Maha Memelihara di atas Arasy langit,
kepada keagungan-Nya seluruh kepala tunduk dan bersujud.
Mahasuci Allah yang makhluk tidak mampu mengagungkan-Nya dengan sepatutnya,
Dialah yang ada di atas Arasy, Maha Esa dan diesakan.
Ya Allah! Kami memohon kepada-Mu dengan nama-Mu "Al-Majīd", semoga Engkau mengampuni kami, kedua orang tua kami, dan semua kaum muslimin.
60
AL-ḤAMĪD ﷻ
Diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ Bukhari bahwa suatu kali Nabi ﷺ melakukan salat dengan para sahabatnya. Lalu beliau mengangkat kepala dari rukuk seraya membaca, "Sami'allāhu liman ḥamidah". Namun, seorang laki-laki di belakang beliau membaca, "Rabbanā walakal-ḥamdu ḥamdan kaṣīran ṭayyiban mubārakan fīh (Tuhan kami, hanya milik-Mu segala puji, pujian yang banyak, baik, dan penuh dengan keberkahan)". Setelah bersalam, beliau bertanya, "Siapa yang membaca itu?" Dia menjawab, "Aku." Beliau bersabda, "Aku melihat tiga puluh sekian malaikat saling berlomba siapa di antara mereka yang pertama kali menulisnya." Bagaimana mereka tidak berlomba melakukannya sedangkan Allah menyukai pujian?!
Hanya milik-Mu segala puji, pujian yang dengannya kami menikmati zikir,
walau sebenarnya aku tak mampu menghitung semua pujian maupun syukur.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memuji diri-Nya Yang Mahatinggi dalam firman-Nya, "Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji." [QS. Asy-Syūrā: 28]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah yang terpuji dalam zat serta nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Dia memiliki nama-nama yang paling bagus, sifat-sifat yang paling sempurna, dan perbuatan-perbuatan yang paling paripurna dan indah.
Dialah yang terpuji dalam syariat-Nya karena syariat-Nya adalah syariat yang paling sempurna dan paling berguna untuk semua makhluk.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah yang terpuji atas keesaan-Nya serta kesucian-Nya dari kesyirikan, tandingan, dan penolong dari kehinaan. Dia berfirman, "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, tidak (pula) mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan', dan agungkanlah Dia seagung-agungnya." [QS. Al-Isrā`: 111]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- terpuji dengan semua lisan dan pada setiap keadaan. Semua makhluk mengucapkan pujian kepada-Nya, baik benda mati maupun yang hidup, dan di semua waktu atas karunia dan nikmat-nikmat-Nya serta atas kesempurnaan dan kemuliaan-Nya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." [QS. Al-Isrā`: 44]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah yang berhak mendapatkan pujian dengan segala redaksi dan bentuknya. Sekalipun para makhluk tidak memuji-Nya, tetap Dialah yang berhak dipuji dengan karunia dan kebaikan-Nya serta pemberian dan kasih sayang-Nya.
Tidak ada yang pantas dipuji di semua keadaan kecuali Dia.
Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhanmu!
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengkhususkan pujian untuk diri-Nya, tanpa yang lain, dan melarang seseorang memuji dirinya sendiri. Dia berfirman, "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci." [QS. An-Najm: 32]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- memuji diri-Nya untuk mengenalkan kita tentang diri-Nya supaya dengan pujian itu kita bisa mendekat dan menghadap kepada-Nya, mengharapkan ampunan-Nya, merindukan karunia-Nya, dan mengejar surga-Nya.
Maka, kemurahan apakah ini? Dia membimbingmu untuk melakukan kebaikan lalu memujimu atas hal itu?! "Diserukan kepada mereka, 'Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu karena apa yang telah kamu kerjakan.'” [QS. Al-A'rāf: 43] Bila Tuhanmu hendak menampakkan karunia-Nya padamu, Dia menciptakan karunia itu dan menisbahkannya kepadamu. Dia memberikanmu suatu harta, maupun kamu diberikan sebagian harta itu, dan setelahnya ... Allah ﷻ memujimu atas infakmu, padahal harta itu pemberian-Nya!
Di antara bentuk kebaikan Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Dia menjadikan pujian kepada diri-Nya bervariasi agar hamba mengetahui bagaimana ia memuji Allah dan mengulang-ulang pujian kepada-Nya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, “Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan seluruh alam." [QS. Al-Fātiḥah: 2] Allah juga berfirman, "Segala puji hanya bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang." [QS. Al-An'ām: 1]
Hanya Milik-Mu Segala Pujian ...
Sifat paling agung pada orang-orang beriman ialah mereka memuji Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- di setiap keadaan, baik ketika senang maupun menderita, karena mereka mengetahui bahwa seluruh perbuatan Allah ﷻ mengandung hikmah dan kebaikan untuk mereka.
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Bila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah berfirman kepada malaikat-malaikat-Nya, 'Kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?' Mereka menjawab, 'Ya.'
Allah bertanya lagi, 'Kalian mencabut nyawa buah hatinya?' Mereka menjawab, 'Ya.'
Lalu Allah bertanya, 'Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku itu?' Mereka menjawab, 'Dia memuji-Mu serta mengucapkan istirjā'.
Allah berfirman, 'Bangunkanlah bagi hamba-Ku itu sebuah rumah dalam surga dan namailah dengan "Baitulhamdi." [HR. Tirmizi]
Oleh karena itu, termasuk zikir yang paling afdal ialah ucapan: "Alhamdulillah." Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Bertasbihlah dengan memuji Tuhan-mu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam." (QS. Qāf: 18)
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Siapa yang mengucapkan, 'Subḥānallāh wa biḥamdihi' seratus kali sehari, maka dosa-dosanya dihapuskan walaupun sebanyak buih di lautan." [HR. Bukhari dan Muslim]
Ketika Rasulullah ﷺ ditanya, "Ucapan apakah yang paling afdal?"
Beliau menjawab, "Yaitu yang dipilih oleh Allah untuk para malaikat dan hamba-hamba-Nya: subḥānallāh wa biḥamdih (Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya)." [HR. Muslim] Pujian dilakukan dengan lisan, hati, dan anggota tubuh.
Diriwayatkan oleh Aṭ-Ṭabarāniy dalam Al-Mu'jam Al-Kabīr dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya hamba Allah yang paling utama di hari Kiamat ialah yang banyak bertahmid (mengucapkan alhamdulilah)." [Hadis sahih]
Bagi-Mu segala puji; pujian baik yang memenuhi langit
dengan seluruh penjurunya serta bumi, darat, dan lautan.
Bagi-Mu segala puji; pujian yang kekal penuh berkah,
pujian yang dengannya tinta dari air laut terlalu sedikit untuk merangkum hakikatnya.
Bagi-Mu segala puji, wahai Maha Pemiliki kebesaran; siapa yang
bersyukur dengan memuji-Mu, sungguh ia telah meraih syukur itu.
Ya Allah! Hanya milik-Mu segala pujian, sebagaimana yang patut dengan kemuliaan wajah-Mu dan keagungan kuasa-Mu.
61-62
ASY-SYĀKIR, ASY-SYAKŪR ﷻ
Imam Bukhari meriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ-nya bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Seorang laki-laki melihat seekor anjing memakan tanah karena kehausan. Laki-laki tersebut segera membuka sepatu botnya lalu mengambil air dengan sepatu tersebut dan meminumkannya ke anjing itu hingga hilang hausnya. Sebab itu, Allah mensyukurinya lalu memasukkannya ke surga."
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman memuji diri-Nya, "Sungguh, Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui." [QS. An-Nisā`: 147] Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman, "Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Penyantun." [QS. At-Tagābun: 17]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- mensyukuri ketaatan yang sedikit lalu memberinya balasan yang banyak, bahkan melipatgandakan pahalanya sekian lipat tanpa hitungan. "Siapa yang berbuat kebaikan, maka mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Sebaliknya, siapa yang berbuat kejahatan, maka tidak dibalas melainkan dengan yang seimbang kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dizalimi." [QS. Al-An'ām: 160]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- mensyukuri hamba atas syukur mereka kepada-Nya, lalu menambahkan kebaikan dan karunia-Nya pada mereka, padahal Dialah yang memberikan dan mengadakan karunia untuk mereka. "Segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah." [QS. An-Naḥl: 53]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- mensyukuri hamba-Nya dengan cara memujinya di kalangan malaikat-Nya di majelis-Nya yang tertinggi, melontarkan pujian untuknya di tengah-tengah hamba-Nya, dan mensyukuri perbuatannya. "(Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh, sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba Allah yang banyak bersyukur." [QS. Al-Isrā`: 3]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengampuni kekeliruan yang banyak dan menerima amal saleh yang sedikit sekaligus memberinya pahala. "Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." [QS. Fāṭir: 34]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- memberikan nikmat yang melimpah, lalu rida dengan syukur hamba yang sedikit.
Dalam Ṣaḥīḥ Muslim diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah rida kepada seorang hamba ketika dia menyantap makanan lalu dia memuji Allah atas makanan itu, atau minum lalu dia memuji Allah atas minuman itu."
Juga diriwayatkan dalam Sunan Abi Daud bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang ketika memasuki waktu pagi membaca, 'Allāhumma mā aṣbaḥa bī min ni'matin faminka waḥdaka, lā syarīka laka, falakal-ḥamdu wa lakasy-syukru,' (Yā Allāh, tidaklah ada padaku suatu nikmat melainkan berasal dari-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Hanya milik-Mu segala pujian dan hanya untuk-Mu kata syukur), maka sungguh dia telah menunaikan syukurnya hari itu. Siapa yang membaca seperti itu ketika memasuki sore, sungguh ia telah menunaikan syukurnya malam itu." [Hadis hasan]
Dia Memberi Lalu Memuji!
Di antara wujud kesempurnaan sifat syukur Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Dia memberi hamba karunia dan membimbingnya untuk melakukan amalan yang mendatangkan syukur Allah padanya. Dialah yang memberinya lalu memujinya; dari-Nya sebab itu dan dari-Nya juga apa yang dilahirkan oleh sebab tersebut. "Inilah balasan untukmu, dan segala usahamu diterima dan diakui (Allah)." [QS. Al-Insān: 22]
Mahasuci Allah yang menunjuki kita untuk berusaha lalu kita dimudahkan melakukannya, selanjutnya kita disyukuri-Nya atas itu. Bukankah ini adalah puncak karunia dan kebaikan?! Hanya bagi-Nya segala puji dan syukur.
Dialah Yang Maha Mensyukuri; Dia tidak akan menelantarkan usaha mereka, melainkan Dia melipatgandakannya tanpa hitungan.
Balasan Terbesar ...
Tatkala Nabi Sulaiman -'alaihissalām- menyembelih kudanya karena marah kepadanya sebab telah menyibukkannya dari berzikir kepada-Nya, dan dia ingin agar kuda itu tidak lagi menyibukkannya, maka Allah memberinya ganti sebagai kendaraannya berupa angin.
Tatkala Yusuf -'alaihissalām- bersabar dalam menjalani sempitnya penjara, maka Allah mensyukurinya dengan memberinya pangkat dan kedudukan. "Demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri ini (Mesir) untuk tinggal di mana saja yang dia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." [QS. Yūsuf: 56]
Manakala para rasul-Nya -'alaihimussalām- mengorbankan kehormatan mereka untuk-Nya demi mendakwahi musuh-musuh mereka, lalu mereka menyakiti dan mengumpatnya, Allah menggantikannya untuk mereka berupa selawat Allah dan para malaikat-Nya kepada mereka serta Allah memberi mereka pujian yang paling baik di langit-Nya dan di tengah-tengah makhluk-Nya, yaitu Allah menyucikan mereka "dengan menganugerahkan akhlak yang tinggi (yaitu selalu mengingat negeri akhirat)." [QS. Ṣād: 46]
Tatkala para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- rela keluar meninggalkan negeri mereka dalam rangka meraih keridaan-Nya, maka Allah menggantikannya untuk mereka dengan rida-Nya, menguasakan dunia kepada mereka, dan menaklukkannya untuk mereka.
Dialah Yang Maha Mensyukuri -Subḥānahu wa Ta'ālā-; Dia mengeluarkan hamba dari api neraka dengan sebab kebaikan yang paling ringan dan tidak menihilkan kebaikan sekecil itu. Diriwayatkan dalam hadis muttafaq 'alaih, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Ketika seorang laki-laki berjalan di sebuah jalan, dia menemukan ranting duri di tengah jalan, lalu dia menyingkirkannya. Maka Allah pun mensyukuri amalnya dan mengampuninya."
Lalu bagaimana dengan orang yang menyingkirkan penghalang-penghalang yang bersifat maknawi dari jalan orang lain? Bagaimana dengan orang yang memudahkan urusan orang lain dan mengangkat kesedihan mereka, menyingkirkan kesusahan mereka, membantu mereka untuk menuntaskan kebutuhan mereka, dan memasukkan kebahagiaan ke dalam hati mereka?! Ini semuanya berasal dari Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, yaitu Allah yang membimbingmu dari awal hingga akhir.
Karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- Maha Mensyukuri secara hakiki, maka hamba-Nya yang paling Dia cintai adalah yang memiliki sifat syukur. Sebaliknya, hamba yang paling dibenci-Nya ialah yang meninggalkan sifat syukur lalu bersikap sebaliknya.
Imam Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Nikmat adalah ujian dari Allah; dengannya akan tampak kesyukuran orang yang bersyukur maupun kekufuran orang yang kufur nikmat."
Syukur Terbagi Dua:
Pertama: Syukur dengan lisan, yaitu pujian kepada Allah yang memberi nikmat.
Kedua: Syukur dengan semua anggota tubuh dengan menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah ﷻ.
Syukur merupakan kebiasaan para nabi dan orang-orang saleh.
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ biasa melakukan salat malam sampai kedua kakinya bengkak, sehingga Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bertanya, "Wahai Rasulullah! Kenapa engkau lakukan sampai seperti ini, padahal telah diampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?" Beliau menjawab, "Tidak bolehkah aku senang bila menjadi hamba yang bersyukur?!"
Allah ﷻ pun memuji keluarga Daud -'alaihissalām- karena sifat syukur mereka. "Bekerjalah, wahai keluarga Daud, untuk bersyukur (kepada Allah)." [QS. Saba`: 13]
Manakala sedikit di antara hamba-hamba Allah ﷻ yang mewujudkan ibadah syukur, Allah mewajibkan hamba untuk memohon pertolongan kepada-Nya untuk senantiasa bersyukur dan agar menerimanya.
Nabi ﷺ berwasiat kepada Mu'āż supaya di setiap penghujung salat membaca doa: "Ya Allah! Bantulah aku untuk berzikir dan bersyukur kepada-Mu serta beribadah dengan baik kepada-Mu." [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Dalam hadis yang lain Nabi ﷺ berdoa, "Ya Tuhanku! Jadikanlah aku banyak bersyukur dan banyak berzikir kepada-Mu." [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Kemudian renungkanlah jaminan Tuhan alam semesta untukmu jika engkau bersyukur. Allah ﷻ telah berfirman, "Allah tidak akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. Sungguh, Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui." [QS. An-Nisā`: 147]
Bahkan, syukur itu kembali untukmu. Allah ﷻ berfirman, "Siapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, siapa yang tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji." [QS. Luqmān: 12] Siapa yang menginginkan tambahan karunia, hendaklah ia bersyukur: "(Ingatlah) pula ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.'" [QS. Ibrāhīm: 7] Betapa penyayangnya Allah!
Waspadalah! Jangan sampai membandingkan dirimu dengan orang lain dalam perihal nikmat dan rezeki karena hal itu akan mengantarkanmu pada kesedihan dan kekalutan. Tetapi, amalkanlah firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "Sebab itu, ambillah apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur." [QS. Al-A'rāf: 144]
Kunci Pembuka Hati
Di antara wujud syukur kepada Allah ﷻ ialah berterima kasih kepada orang yang melalui tangannya Allah memberikan karunia padamu. Orang yang paling utama di antara mereka ialah kedua orang tua. "Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Akulah kembalimu." [QS. Luqmān: 14]
Diriwayatkan dalam Musnad Imam Aḥmad: "Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia sebenarnya tidak bersyukur kepada Allah." [Hadis sahih]
Mahasuci Tuhan yang syukur manusia kepada-Nya terbatas,
lantaran uluran kebaikan-Nya tidak terbatas.
Bahkan, yang mensyukurinya patut bersyukur karena mensyukurinya,
demikian juga mensyukuri syukur patut disyukuri.
Pada setiap syukur terdapat nikmat di atas nikmat
tanpa jarak yang jauh, tanpanya syukur menjadi kecil.
Siapa yang hendak menunaikan hak yang wajib disyukuri
akan tahan memikul yang lebih besar dalam syukur itu.
Ya Allah! Jadikanlah kami orang yang bersyukur, wahai Tuhan alam semesta!
63-64
AL-AKRAM AL-KARĪM ﷻ
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sungguh aku mengetahui penghuni surga yang paling terakhir masuk surga dan penghuni neraka yang paling terakhir keluar dari neraka, yaitu seorang laki-laki yang didatangkan di hari Kiamat, lalu dikatakan, 'Perlihatkan kepadanya dosa-dosa kecilnya dan angkat darinya dosa-dosa besarnya.' Maka dosa-dosa kecilnya diperlihatkan kepadanya, lalu dikatakan kepadanya, 'Engkau telah mengerjakan di hari ini dan ini begini dan begini. Engkau telah mengerjakan pada hari ini dan ini begini dan begini.'
Dia menjawab, 'Ya.' Dia tidak dapat mengingkarinya sekaligus sangat takut bila dosa-dosanya yang besar akan diperlihatkan padanya.
Lalu dikatakan kepadanya, 'Bagimu setiap keburukan digantikan dengan satu kebaikan.' Dia berkata, 'Tuhanku! Aku telah mengerjakan banyak hal yang tidak kulihat di sini.'"
Abu Zarr -perawi hadis ini- berkata, "Sungguh, aku melihat Rasulullah ﷺ tertawa hingga gigi gerahamnya terlihat." [HR. Muslim]
Betapa pemurahnya Allah! Betapa penyantunnya Allah! Betapa agungnya Allah!
"Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah." [QS. Al-Infiṭār: 6] "Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Sebaliknya barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.” [QS. An-Naml: 40]
Al-Karam ialah lafaz yang mencakup semua perbuatan baik dan perbuatan terpuji. Ia tidak bermakna sebatas pemberian, akan tetapi, memberi adalah bagian dari kesempurnaan maknanya. Oleh karena itu, terdapat banyak pendapat yang disampaikan oleh para ulama dalam menjelaskan arti dari nama ini, dan semua yang mereka sebutkan itu benar.
Tuhan kita Al-Karīm ﷻ memiliki banyak kebaikan dan karunia, kebaikan-Nya berkelanjutan, memiliki keagungan dan kebesaran, disucikan dari kekurangan dan keburukan, yang memuliakan dan yang memberi nikmat dan karunia; yang memberi bukan karena ingin diganti ataupun suatu sebab, yang memberi orang yang butuh dan yang tidak butuh, bila Dia berjanji maka akan ditepati-Nya, kepada-Nya diangkat semua kebutuhan yang kecil dan yang besar, Dia tidak menyia-nyiakan orang yang datang kepada-Nya, Dia mengampuni dosa dan memaafkan kesalahan, bahkan Dia mengganti keburukan dengan kebaikan serta memberi sebelum kita memintanya.
Dia menganugerahi kita pendengaran, penglihatan, hati, anggota tubuh, kekuatan, serta berbagai hak milik yang tampak dan yang tidak tampak, yang tidak mungkin kita hitung. "Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." [QS. Ibrāhīm: 34] Dia mengalirkan nikmat-nikmat itu kepada kita tanpa kita minta dan sebelum kita minta, sebagai bentuk kemurahan dan kebaikan dari-Nya. Dia memberi dan memuji.
Tuhan kita Al-Karīm ﷻ ialah yang menetapkan lalu memaafkan, bila memberi janji maka Dia menepatinya. Dia telah menjanjikan orang-orang beriman dengan berbagai aneka karunia, kebaikan, nikmat, dan pemberian.
Bahkan, termasuk sifat pemurah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Dia menggantungkan siksaan kepada hamba-hamba-Nya yang berbuat maksiat pada kehendak-Nya; bila berkenan maka Dia akan menyiksa mereka, dan bila berkenan maka Dia memaafkan mereka.
Tuhan kita adalah yang tidak menolak orang yang meminta ... "Maha Pemalu lagi Maha Pemurah".
Dia Memberi dan Memuji
Dialah yang menganugerahkan keimanan lalu memujinya: "Akan tetapi, Allahlah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Apa pun harta yang kamu infakkan, maka (kebaikannya) untuk dirimu sendiri. Janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari wajah Allah. Apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan)." [QS. Al-Baqarah: 272]
Al-Junaid pernah mendengar seorang laki-laki membaca, "Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah)" [QS. Ṣād: 44] Maka dia berkata, "Mahasuci Allah! Dia memberi dan memuji." Maksudnya: Dia memberikannya kesabaran kemudian memuji dan menyanjungnya atas hal itu.
Hanya kepada Allah aku haturkan pujian, syukur, dan sanjungan
Hanya milik-Nya seluruh pujian, Tuhan kita, hanya kepada-Nya tempat bertumpu.
Aku bersaksi bahwa Allah tiada tuhan selain-Nya,
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, tempat menaruh harapan dan angan.
Mahasuci Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Memberi!!
Pemurah adalah bagian dari sifat-Nya, dermawan adalah ciri terbesar-Nya, memberi adalah pemberian-Nya yang paling mulia; maka siapakah yang lebih dermawan dan lebih pemurah dari-Nya?!
Sungguh Dia Maha Pemurah
Makhluk-makhluk bermaksiat kepada-Nya, padahal Dia mengawasi mereka. Dia memelihara mereka di tempat tidur mereka seakan mereka tidak bermaksiat kepada-Nya. Dia juga mengurus penjagaan mereka seakan mereka tidak melakukan dosa. Dia dermawan dengan kebaikan kepada pelaku maksiat dan memberi karunia kepada pelaku keburukan. Siapakah yang pernah berdoa kepada-Nya lalu Dia tidak pernah mengabulkan untuknya? Atau, siapakah yang meminta kepada-Nya lalu Dia tidak memberikannya? Atau, siapakah yang datang ke depan pintu-Nya lalu Dia menjauhkannya?! Dialah pemilik kebaikan dan dari-Nya karunia berasal. Dialah Yang Maha Pemberi dan dari-Nya pemberian berasal. Dialah Yang Maha Pemurah dan dari-Nya kebaikan berasal.
Dia Tidak Butuh terhadap Syukur ...
Tuhan kita -Tabāraka wa Ta'ālā- tidak membutuhkan ucapan syukur kita. Manfaat syukur tidak kembali kepada-Nya. Juga kufurnya orang-orang yang kufur kepada-Nya tidak merugikan-Nya. Meskipun demikian, Dia tetap Maha Pemurah dengan tidak menyegerakan hukuman. "Barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.” [QS. An-Naml: 40]
Di antara wujud kemahakayaan dan kemahapemurahan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Dia menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya serta menjamin rezeki mereka semua, baik yang beriman maupun yang kafir, dari kalangan manusia dan jin: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menginginkan sedikit pun rezeki dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." [QS. Aż-Żāriyāt: 56-58]
Melebihi Angan-angan ...
Di antara potret keagungan Allah adalah tidak adanya permohonan maupun doa yang besar bagi Allah, seperti apa pun besar dan banyaknya. Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Bila salah seorang kalian berdoa, janganlah ia mengatakan, 'Ya Allah, ampunilah aku bila Engkau menghendaki!' Akan tetapi, hendaklah dia meminta dengan yakin dan dengan harapan besar, karena Allah ﷻ tidak pernah menganggap besar sesuatu yang diberikan-Nya." [HR. Muslim]
Bahkan, di antara wujud kemurahan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah Dia menjadikan doa kepada-Nya sebagai ibadah yang paling mulia di sisi-Nya, sebagaimana riwayat yang sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia bagi Allah ﷻ daripada doa.” [Hadis hasan; HR. Ibnu Majah]
Bahkan, lihatlah keagungan sifat pemurah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh Tuhan kalian Mahamalu dan Mahadermawan. Dia malu kepada hamba-Nya jika dia mengangkat tangan kepada-Nya untuk mengembalikannya dalam keadaan kosong.” [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Kemurahan-Nya tak pernah terputus, tidak akan terhenti hingga engkau berjumpa dengan-Nya. Lihatlah hadiah paling besar dan paling agung yang diberikan untukmu di hari Kiamat bila engkau beriman: "Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia." [QS. Al-Anfāl: 4]
Bahkan, kemurahan-Nya melebihi semua yang diangankan, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadis qudsi muttafaq 'alaih: Allah ﷻ berfirman, "Aku telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak terbersit dalam hati seorang manusia." Karunia yang lebih besar dari itu semuanya ialah melihat wajah Allah yang mulia: "Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan, mereka memandang." [QS. Al-Qiyāmah: 22-23]
Ya Allah! Jadikanlah kami bagian dari mereka, wahai Yang Paling Pemurah!
Tolok ukur
Tolok ukur kemuliaan dan kehinaan di hari Kiamat ialah ketakwaan. "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." [QS. Al-Ḥujurāt: 13] Tidak ada kemuliaan bagi ahli kufur, yang ada hanyalah kehinaan: "Tetapi, banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki." [QS. Al-Ḥajj: 18] Semua parameter yang dipakai manusia di dunia tidaklah berguna, yaitu yang disebutkan oleh Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- dalam firman-Nya, "Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, 'Tuhanku telah memuliakanku.' Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, 'Tuhanku telah menghinakanku.'" [QS. Al-Fajr: 15-16]
Ibnul-Jauziy -raḥimahullāh- berkata, "Di antara tipu daya Iblis kepada orang-orang awam adalah mereka mengerjakan kemaksiatan lalu ketika engkau mengingkarinya mereka menjawab, 'Allah Maha Pemurah, maaf-Nya sangat luas!'"
Pengingat ...
Siapa yang kembali kepada Al-Qur`an, maka Al-Qur`an akan memberinya kabar kemuliaan di dunia dan akhirat. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sesungguhnya ia adalah Al-Qur`an yang sangat mulia." [QS. Al-Wāqi'ah: 77] Yaitu yang memiliki banyak kebaikan dan pengetahuan yang melimpah; memuliakan penghafalnya dan menjunjung pembacanya.
Allah Yang Maha Pemurah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menyelamatkan orang yang tenggelam, mengembalikan orang yang hilang, memberikan keafiatan bagi orang yang ditimpa musibah, menolong orang yang terzalimi, menunjuki orang yang tersesat, memenuhi kebutuhan orang yang miskin, menyembuhkan orang yang sakit, menolong orang yang tertimpa kesulitan, dan suka bila kalian berdoa kepada-Nya dengan nama-nama-Nya. Nabi ﷺ biasa ketika ditimpa kesulitan membaca, "Lā ilāha illallāhul-'aẓīmul-ḥalīm, lā ilāha illallāhu rabbul-arsyil-'aẓīm, lā ilāha illallāhu rabbus-samāwāti wa rabbul-arḍi wa rabbul-'arsyil-karīm." Artinya: "Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Mahaagung lagi Mahalembut. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Tuhan Arasy Yang Mahaagung. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Tuhan langit, Tuhan bumi, dan Tuhan Arasy yang mulia." [HR. Bukhari dan Muslim]
Allah mencintai orang-orang yang pemurah. Ibnu Rajab -raḥimahullāh- berkata, "Siapa yang pemurah kepada hamba-hamba Allah, Allah akan murah memberinya anugerah dan karunia karena balasan itu sesuai dengan perbuatan."
Aku menghilang, sedangkan Tuhan, pemilik kebaikan, tidak pernah hilang ... aku mengharapkan-Nya dengan harapan yang tidak pernah rugi. Aku meminta keselamatan pada-Nya semenjak ... aku ditimpa ujian, yang dampaknya sampai menumbuhkan uban. Aku menghadirkan kebutuhanku di setiap keadaan ... kepada Tuhan tempat hati merasakan tenang. Tidak ada pintu bagiku selain pintu Allah ... tidak juga seorang penolong maupun yang dicintai selain-Nya.
Dia Maha Pemurah, pemberi nikmat, pemberi kebaikan, pemberi pertolongan ... yang menutupi dosa dengan baik dan yang mengabulkan orang yang berdoa. Wahai Rajanya para raja, maafkan kesalahanku ... sungguh dosa telah menjauhkanku dari-Mu. Aku sakit oleh hawa nafsu sebab lemahnya bagianku ... tetapi aku tidak memiliki penyembuh selain-Mu.
Ya Allah, wahai Yang Maha Pemurah! Muliakanlah kami dengan surga, ampunan, dan rida-Mu.
65
AL-MUQĪT ﷻ
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Wahai anak Adam! Konsentrasilah beribadah kepada-Ku, maka Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku tutup kebutuhanmu. Tetapi jika tidak engkau lakukan, Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu.'" [Hadis sahih; HR. Tirmizi] Juga dalam hadis yang sahih disebutkan, "Tangan Allah penuh, tidak akan dikurangi oleh suatu nafkah, senantiasa memberi sepanjang siang dan malam. Terangkanlah kepadaku, apa yang telah Allah infakkan semenjak menciptakan langit dan bumi? Sungguh tidak berkurang apa yang ada di tangan-Nya." [HR. Bukhari -redaksi ini miliknya- dan Muslim]
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang menegakkan langit dan bumi, yang menegakkan urusan dunia dan akhirat, dan yang tunduk kepada-Nya semua yang basah dan yang kering.
Simpul-simpul kerajaan ada di tangan-Nya dan ketetapan segala sesuatu ada di sisi-Nya. Kunci-kunci urusan ada bersama-Nya dan tempat kembali seluruh hamba ialah kepada-Nya. Kebesaran milik-Nya seluruhnya dan kerajaan untuk-Nya semuanya. Tidak ada yang dapat menghalangi pemberian-Nya dan tidak ada yang dapat memberi apa yang ditahan-Nya.
Apakah Yang Maha Pemurah, Mahakuat, Maha Penyayang lagi Maha Memberi tak mampu untuk memberimu sepotong roti atau makanan maupun minuman agar dengannya engkau bisa mempertahankan hidupmu?
Betapa bahagianya kita ketika membersamai salah satu nama Allah yang indah, yaitu Al-Muqīt -Tabāraka wa Ta'ālā-!
Allah ﷻ berfirman, "Barang siapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang baik, niscaya dia akan memperoleh bagian (pahala)nya. Sebaliknya, barang siapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang buruk, niscaya dia akan memikul bagian dari (dosa)nya. Sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." [QS. An-Nisā`: 85]
Al-Muqīt artinya: Mahakuasa yang menciptakan bahan makanan.
Al-Muqīt juga bermakna: Maha Menjaga yang memberikan penjagaan kepada sesuatu sesuai kebutuhan.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah yang mengalirkan kepada semua makhluk bahan makanannya sekaligus rezekinya dan membaginya sesuai yang Dia kehendaki-Nya menurut kebijaksanaan dan keterpujian-Nya.
Setiap makhluk memiliki sumber makanan. Sumber gizi untuk badan ialah makanan dan minuman, sedangkan jiwa sumber makanannya ialah ilmu pengetahuan. Adapun sumber makanan malaikat ialah tasbih.
Allah ﷻ adalah yang memberikan makanan bagi hamba-hamba-Nya, yang menjaga mereka, menyaksikan keadaan mereka, serta melihat mereka.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang mengurus kemaslahatan hamba; memberikan mereka makanan dan rezeki.
Rezeki yang paling utama ialah akal; siapa yang diberikan akal, sungguh Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- telah memuliakannya!
Tuhanku, hanya milik-Mu karunia yang meliputi manusia,
serta kebaikan yang tertuang pada semua makhluk.
Andai selain-Mu memiliki perbendaharaan-Mu yang
bertambah dengan infak, pasti ia akan pelit.
Aku berlindung kepada-Mu, ya Allah, dari keburukan perbuatan kami,
dan dari hilangnya karunia-Mu dari diri kami.
Tenanglah!
Jangan sibukkan diri dengan sesuatu yang telah dijamin untukmu karena Allah telah menyebut diri-Nya sebagai Al-Muqīt (Maha Pemberi makanan). Dia juga menyebut diri-Nya sebagai Ar-Razzāq (Maha Pemberi rezeki).
Al-Muqīt lebih khusus daripada Ar-Razzāq. Qūt (bahan makanan) ialah bahan energi yang menjadi sebab tegaknya fisik. Sedangkan rizq (rezeki) ialah semua yang masuk di bawah kepemilikan hamba, baik yang dimakan maupun yang tidak dimakan.
Selama umur masih tersisa, maka sumber makanan dan rezeki pasti datang. Kalaupun Allah menutup darimu satu jalan atas dasar hikmah-Nya, Dia akan membukakan untukmu jalan yang lain dengan rahmat-Nya.
Perhatikanlah keadaan janin! Makanannya datang kepadanya, yaitu darah, dari satu jalan, yaitu pusar. Ketika telah keluar dari kandungan ibunya, jalan tersebut terputus, tetapi dibukakan untuknya dua jalan tempat mengalir rezekinya yang lebih baik dan lebih nikmat daripada yang pertama: susu yang murni dan nikmat. Kemudian ketika masa menyusui telah sempurna, Allah membukakan untuknya empat jalan untuk mendapatkan dua makanan dan dua minuman. Dua makanan itu ialah hewan dan tumbuhan, sedangkan dua minuman itu ialah air dan susu.
Ketika ia telah meninggal dunia, keempat jalan itu terputus. Namun bagi orang-orang beriman, dibukakan delapan pintu surga, mereka dapat masuk dari pintu mana pun yang mereka kehendaki!
Jadilah Orang yang Bersyukur!
Nikmat Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- tidak terbatas dan tidak terikat oleh hitungan. "Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." [QS. Ibrāhīm: 34]
Nikmat-nikmat yang diberikan oleh Tuhan Maha Pemberi lagi Mahaagung tanpa ada kebutuhan-Nya dari makhluk itu, tanpa takut maupun harap kepadanya, melainkan murni sebagai sebuah kebaikan dan kemuliaan. "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menginginkan sedikit pun rezeki dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." [QS. Aż-Żāriyāt: 56-58] Akan tetapi, banyak orang yang tidak bersyukur: "Mereka mengetahui nikmat Allah, (tetapi) kemudian mereka mengingkarinya, dan sungguh kebanyakan mereka adalah kufur (terhadap nikmat tersebut)." [QS. An-Naḥl: 83]
Dia memberimu karunia bukan karena engkau memiliki hak di sisi-Nya, namun engkau malah mengingkari hak-hak-Nya! Dia memberimu anugerah bukan karena engkau berbuat baik pada-Nya, namun engkau malah tidak mengakui kebaikan-Nya. "Celakalah manusia! Alangkah kufurnya dia!" [QS. 'Abasa: 17]
Nikmat-nikmat Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- kepadamu terus mengalir. Ketika engkau minta, Dia memberimu. Ketika engkau berdoa, Dia mengabulkanmu. Ketika engkau meminta tolong, Dia menolongmu. Engkau tidak akan mendapatkan kecukupan kecuali dengan-Nya. Oleh karena itu, jika engkau bersyukur, maka syukurilah nikmat lainnya, yaitu nikmat engkau dibimbing untuk bersyukur. "(Ingatlah) pula ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.'" [QS. Ibrāhīm: 7]
Pilar-pilar Kekayaan Hakiki
Seandainya manusia memiliki satu lembah emas, mereka pasti ingin ditambahi menjadi dua lembah.
Kebahagian bukan dengan engkau merengkuh dunia. Tetapi, kebahagiaan seseorang ada pada terpenuhinya bahan makannya hari itu, sehat badan, dan merasakan keamanan. Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Siapa di antara kalian ketika pagi merasakan aman pada dirinya, sehat jasmaninya, dan memiliki makanan pokok hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia ini telah diberikan kepadanya.” [Hadis hasan; HR. Tirmizi]
Kebiasaan Orang-orang Saleh
Orang yang beriman berjiwa tenang karena dia mengetahui bahwa Allah Maha Memberi makan lagi Maha Pemberi rezeki, dan bahwa rezekinya telah tercatat sehingga dia tidak akan mati hingga semua rezekinya terpenuhi. Dia berusaha, namun tetap bertawakal kepada Allah, berlepas diri dari upaya dan kekuatannya sendiri, dan hatinya bergantung kepada Allah Al-Muqīt Ar-Razzāq ﷻ. Dia mengetahui bahwa ia tidak memiliki kemampuan, kekuatan, dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya.
Sebagaimana yang diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ Muslim, Nabi ﷺ meriwayatkan dari Tuhannya ﷻ bahwa Dia berfirman, "Wahai hamba-hambaKu! Kamu sekalian lapar kecuali yang Aku beri makan. Maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian makan."
Ibnu Rajab -raḥimahullāh- berkata, "Sebagian salaf meminta semua kebutuhannya kepada Allah di dalam salatnya, hingga garam untuk adonannya dan pakan untuk kambingnya."
Siapa yang menghadirkan nama Allah "Al-Muqīt", merasakan adanya kebersamaan Allah Yang Mahakuasa lagi Maha Menjaga, dan yakin dengan apa yang ada di sisi-Nya, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang kekal berupa keridaan di dunia dan akhirat.
Di samping itu, Rasulullah ﷺ mewanti-wanti orang yang bersedekah dengan bahan makanan keluarga karena mengharapkan pahala, sehingga perkara itu berubah menjadi dosa ketika ia menelantarkan orang-orang yang ia tanggung serta wajib nafkahi berupa keluarga, tanggungan, dan budak-budaknya. Karena nafkah itu terkait dengan hak manusia, sedangkan mereka lebih butuh dan hak mereka lebih kuat. Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Cukuplah seseorang berdosa dengan menyia-nyiakan orang yang wajib dia nafkahi." (Hadis hasan; HR. Abu Daud)
Rasulullah ﷺ karena antusiasme beliau terhadap keluarganya, beliau sampai menyimpankan untuk mereka kebutuhan makanan satu tahun, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa: "Nabi ﷺ menjual kebun kurma Bani Naḍīr dan menyimpankan untuk keluarganya bekal makan mereka satu tahun."
Di antara doa Nabi ﷺ ialah: "Ya Allah! Jadikanlah rezeki keluarga Muhammad secukupnya." [HR. Muslim] Yaitu rezeki yang dapat memenuhi dan mencukupi kebutuhan mereka sehingga mereka tidak disusahkan oleh kemiskinan serta tidak terhina dengan terpaksa mengemis. Demikian juga agar dunia tidak dibukakan bagi mereka sehingga akan menyebabkan mereka larut di dalamnya, sebab dunia itu akan sirna, sedangkan akhirat itu yang kekal. Beliau mengedepankan kehidupan yang kekal daripada kehidupan yang sirna. Semoga Tuhanku melimpahkan selawat kepada beliau, keluarganya, dan orang-orang yang meniti petunjuknya hingga hari Kiamat.
Ya Allah! Kami memohon kepada-Mu dengan nama-Mu "Al-Muqīt", semoga Engkau menganugerahkan kepada kami karunia-Mu yang luas dan membantu kami untuk melakukan ketaatan, berzikir, dan bersyukur kepada-Mu.
66
AL-WĀSI' ﷻ
Manakala orang-orang beriman mendengar nama Allah Al-Wāsi' (Mahaluas), hati mereka bergantung untuk menyebut-Nya dan jiwa mereka rindu untuk melihat-Nya. Hati mereka tidak akan pernah puas kecuali dengan membungkuk kepada-Nya, tawaf di Ka'bah-Nya, berdiri salat di hadapan-Nya serta bangun dari tidur untuk itu, dan mengorbankan nyawa di jalan-Nya. Allah ﷻ berfirman, "Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." [QS. Al-A'rāf: 156] Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman, "Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 247]
Tuhan kita ﷻ ialah Mahaluas dan Mahakaya. Kekayaan-Nya meliputi semua hamba-Nya dengan memberikan kecukupan, karunia, kebaikan, dan pengaturan-Nya kepada makhluk-Nya semuanya.
Dialah ﷻ Yang Mahaluas secara mutlak pada zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya, kerajaan-Nya, dan kekuasaan-Nya. Tidak seorang pun yang dapat menghitung semua pujian pada-Nya. Dia sebagaimana Dia memuji diri-Nya. Bagaimanapun orang-orang di antara makhluk-Nya menyifati-Nya, mereka tidak akan mencapai hakikat-Nya, dan ilmu mereka tidak akan mampu meliputi-Nya.
Ilmu Tuhan kita meliputi segala sesuatu: "Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu" [QS. Al-A'rāf: 89] Tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya. Dia mendengar langkah semut hitam di atas batu besar yang keras di malam yang gelap gulita. Tidak ada sesuatu yang samar bagi-Nya di bumi maupun di langit.
Pengetahuan-Nya mencakup rahasia hati serta apa yang disembunyikan oleh dada berupa kebaikan maupun keburukan. "Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam hati." [QS. Gāfir: 19] "Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya. Ketahuilah pula bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun." [QS. Al-Baqarah: 235]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- memiliki ampunan yang luas; Dia memberikan ampunan kepada setiap orang yang bertobat dan kembali pada-Nya meski seperti apa pun tingginya dosa dan kesalahannya. "Sungguh, Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya." [QS. An-Najm: 32]
Tuhan kita Yang Mahaluas -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah yang memberikan keluasan atas hamba-Nya dalam agama mereka dan tidak membebani mereka di luar dari kemampuan mereka. "Hanya milik Allah timur dan barat. Kemana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 155]
Aku bersaksi bahwa Allah tiada tuhan yang hak selain-Nya,
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, tempat menaruh harapan dan cita-cita.
Bila dimintai kebaikan, Dia memberi kebaikan yang melimpah,
dan mengangkat sekaligus menghilangkan setiap bala.
Dia mengalirkan kebaikan kepada makhluk.
Dia selalu memberikan kecukupan dan kepuasan sekaligus perubahan.
Kalaupun orang yang memuji-Nya banyak memuji,
Tuhan pemilik Arasy lebih tinggi dan lebih indah dalam kemuliaan.
Yang Mahaluas Mencukupkanmu dari Kesedihan
Siapa yang memahami nama Allah "Al-Wāsi''', maka rasa takutnya akan sirna, ketenangan akan menghiasi hatinya, dan dibukakan untuknya pintu harapan.
Lihatlah petani yang mengalami keterlambatan panen lantaran kelangkaan air, sedangkan ia sangat membutuhkan kepada hasilnya! Tatkala ia mengetahui bahwa Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui, ia memandang ke langit dan menggantungkan hati kepada Tuhannya. Ia memanggil, "Wahai Yang Mahaluas pemberian-Nya ... Ya Allah ... Wahai Yang Mahaluas rahmat-Nya ... Wahai Yang Mahaluas kebaikan-Nya! Berikanlah aku keberkahan dan kebaikan-Mu."
Lihatlah orang yang mandul! Ia dihantam oleh waktu dan tersiksa oleh sakit, ia merindukan seorang anak yang akan mencandainya dan mengisi kehidupannya, sedangkan kehamilan terlambat atau ia tersiksa dengan ucapan orang-orang: mandul! Ketika hal itu terjadi sementara kesedihan menyelimuti, dalam dirinya muncul harapan baru begitu mengingat bahwa Allah Mahaluas, Maha Pemurah, Mahadermawan, yang tidak menolak permintaan orang yang meminta dengan yakin, lalu ia memanggil, “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu.” [QS. Āli 'Imrān: 38] "Ya Tuhanku! Janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik. Maka Kami kabulkan (doa)nya, Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Sungguh, mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami." [QS. Al-Anbiyā`: 89-90]
Demikian halnya orang yang sakit, rintihannya didengar oleh Allah dan rasa sakitnya diketahui oleh Allah. Ketika ia ingat kepada Allah Yang Mahaluas pemberian-Nya, Yang Maha Menyembuhkan, dan Maha Mencukupi hamba-hamba-Nya, ia memanggil, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” [QS. Al-Anbiyā`: 83]
Maka Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengangkat kesedihannya, menghilangkan kesusahannya, dan kesembuhan pun datang merangkak ... Sungguh, Dialah Allah Al-Wāsi' ﷻ.
Kesedihan menumpuk di hati orang yang berhutang hingga ia tidak mengira bahwa ada yang dapat mengangkatnya. Kemudian Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- membuka hatinya dan mengembalikannya kepada diri-Nya, maka ia segera berlindung kepada Tuhan Yang Mahaluas pemberian dan kebaikan-Nya, lalu ia memanggil, "Wahai Tuhan yang menunaikan kebutuhan ... Wahai Tuhan yang memiliki pemberian luas!" "Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan." [QS. An-Naml: 62]
Maka Allah menunaikan hutangnya dan memberikannya rezeki dari arah yang tidak dia duga; senyum pun tampak, hati menjadi tenang, dan jiwa menjadi tenteram: "Katakanlah (Muhammad), 'Allah yang menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan.'" [QS. Al-An'ām: 64]
Perkara rumit dan permasalahan membingungkan menimpa orang berilmu; ia tidak menemukan jawaban yang benar sehingga sulit untuk menjawab. Lantas dia merendahkan dirinya untuk memanggil dan memohon pertolongan, "Wahai Tuhan Yang Mahaluas pemberian-Nya ... Wahai Yang Mahaluas ilmu-Nya ... Wahai Tuhan yang mengajari Ibrahim, ajarilah aku ... Wahai Tuhan yang memahamkan Sulaiman, pahamkanlah aku!"
Petunjuk pun datang dan gembok-gembok problem menjadi terbuka dari Allah Yang Mahaluas -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Sepasang suami istri berselisih, tali pernikahan putus, ikatan cinta terurai, dan keadaan mereka sempit setelah perceraian, lantas keduanya menghadap kepada Allah Yang Mahaluas.
Maka Allah memberikan masing-masing mereka pengganti yang lebih baik: "Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahabijaksana." [QS. An-Nisā`: 130]
Laba Perdagangan ...
Tidaklah seseorang takut berinfak dan khawatir miskin kecuali karena setan membisikkan keburukan dan kemiskinan ke dalam dadanya dan mengajaknya untuk pelit dan tidak berinfak. "Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 268]
Orang yang beriman selalu mengingat bahwa Allah Yang Mahaluas lagi Maha Pemurah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah berjanji dalam firman-Nya, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan.” [QS. Al-Baqarah: 245] Ia juga mengingat firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.'" [QS. Āli 'Imrān: 73] Maka ia infakkan sebagian hartanya sebagai pinjaman kepada Tuhannya dengan penuh yakin terhadap pelunasan dari Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- di dunia dan akhirat. Ternyata, berbagai keberkahan dan rahmat turun berdatangan dan karunia pun melimpah dari Allah Yang Mahaluas, pemilik kemuliaan dan kebaikan.
Air Mata Orang-orang yang Takut kepada-Nya...
Orang yang beriman akan ingat besarnya dosa dan banyaknya kesalahan yang ia lakukan, sehingga kesedihannya menggelora, hatinya menyala, dan kedua matanya mengalirkan air mata karena takut kepada Yang Mahaperkasa, lantas ia mengingat firman Allah ﷻ: "Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu" [QS. Al-A'rāf: 156]; Ia juga mengingat firman Allah -Subḥānahu wa Ta’ālā-: "Sungguh, Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya" [QS. An-Najm: 32]
Sebab itu, ia segera bertobat dan kembali kepada Allah ﷻ karena berharap masuk dalam firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. Al-Furqān: 70] Mereka juga meresapi doa para malaikat: “Ya Tuhan kami! Rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka." [QS. Gāfir: 7] Tobat menyiram hatinya yang terbakar dan jiwanya yang tersiksa. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menjadikannya bagian dari orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri. Kemudian Allah menganugerahinya keistikamahan hingga waktu kematiannya, lalu tempat terakhirnya ialah surga-surga kenikmatan. Di dalamnya, ia mendengar seruan: "Sungguh, inilah rezeki dari Kami yang tidak ada habis-habisnya." [QS. Ṣād: 54]
Pesan ...
Tuhan kita Yang Mahaluas -Tabāraka wa Ta'ālā- ialah pemilik rahmat yang meliputi semua makhluk: “Tuhanmu mempunyai rahmat yang luas." [QS. Al-An'ām: 147]
Allah telah memberikan kelapangan pada hamba-Nya dalam urusan agama mereka serta telah mengangkat yang sulit dan sukar dari diri mereka. Dia memberikan keringanan pada orang yang sakit, musafir, jompo, dan pemilik-pemilik uzur lainnya dan tidak membebani mereka dengan sesuatu yang tidak mereka sanggupi. "Seseorang tidak dibebani lebih dari kadar kesanggupannya." [QS. Al-Baqarah: 233] Siapa yang merasakan bumi ini sempit, sebenarnya Allah ﷻ telah memberikan kelapangan pada hamba-hamba-Nya di bumi: "Bumi Allah itu luas." [QS. Az-Zumar: 10]
Karunia paling luas yang Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berikan kepada makhluk-Nya ialah kesabaran, sebagaimana yang diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Siapa yang berusaha sabar, maka Allah akan menjadikannya bersabar. Tidaklah seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." [HR. Bukhari -redaksi ini miliknya- dan Muslim]
Sabar masuk ke dalam semua perkara ibadah; sabar pada ketaatan, sabar dari kemaksiatan, dan sabar pada takdir Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Kehidupan ini seluruhnya adalah kesabaran hingga kita bertemu Allah ﷻ.
Ḥasan Al-Baṣriy -raḥimahullāh- berkata, "Sabar adalah satu di antara perbendaharaan kebaikan, yang tidak akan diberikan oleh Allah kecuali untuk hamba yang mulia di sisi-Nya."
Wahai Tuhan yang menyelamatkan makhluk setelah mereka berputus asa,
rahmatilah hamba-hamba yang menengadahkan tangan-tangan kemiskinan.
Engkau membiasakan mereka dengan pelimpahan rezeki tanpa sebab,
kecuali harapan baik yang mereka terbentang kepadanya.
Ya Allah! Wahai Yang Mahaluas pemberian-Nya! Berikanlah masing-masing kami lebih dari sekadar permintaannya karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
67
AR-RAQĪB ﷻ
Ibnul-Jauziy -raḥimahullāh- berkata, "Siapa yang memperbaiki sisi batinnya, aroma keutamaannya akan semerbak dan hati akan wangi menyebarkan kebaikannya. Oleh karena itu, takutlah kepada Allah dalam urusan batinmu karena kebaikan lahir tidak berguna bersama kerusakan batin."
Abu Ḥafṣ an-Naisābūriy -raḥimahullāh- berkata, "Ketika engkau duduk bersama orang lain, maka jadilah penasihat untuk hatimu dan dirimu. Janganlah engkau terpedaya oleh kehadiran mereka di sisimu karena mereka hanya mengamati sisi lahirmu, sedangkan Allah mengawasi sisi batinmu."
Di antara kedudukan tertinggi di sisi Allah ialah ketika orang beriman merasakan pengawasan Tuhannya ﷻ; bahwa Allah selalu mengawasinya. Allah berfirman memuji diri-Nya Yang Mahatinggi, "Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." [QS. An-Nisā`: 1]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah Yang Maha Mengawasi lagi Maha Melihat apa yang disembunyikan dada. Dialah Al-Ḥāfiẓ (Maha Menjaga), tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya.
Tuhan kita ialah Yang Maha Mengetahui semua isi sanubari, Maha Menyaksikan segala rahasia dan pandangan mata, dan Maha Mengawasi setiap jiwa dengan apa yang mereka kerjakan.
Tuhan kita mengawasi dan menghitung seluruh amalan perbuatan hamba dan usaha mereka.
Dialah Yang Maha Mengawasi lagi Maha Menjaga. Dia tidak pernah absen dari apa yang dijaga-Nya. Dia menjaga makhluk dan mengaturnya dengan sistem yang paling bagus dan pengaturan yang paling sempurna.
Dialah Yang Maha Mengawasi bisikan hati dan pandangan, lalu bagaimana dengan perbuatan dan anggota badan?!
"Tidak ada sedikit pun yang luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarah, baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Loh mahfuz)." [QS. Yūnus: 61] Dialah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang mengetahui keadaan dan seluk-beluk hamba di malam hari dan siangnya, sisi batin dan lahirnya, dan pada keadaan menetap dan safarnya.
Ar-Raqīb -Subḥānahu wa Ta'ālā- mendengar dan melihat, bahkan mengetahui segala yang tersimpan dalam dada sebelum kedua bibir mengucapkannya dan sebelum ditulis oleh pena di atas lembaran kertas.
Ilmu-Nya yang sempurna meliputi semua makhluk, demikian juga pengetahuan-Nya yang sempurna meliputi seluruh makhluk. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu-Nya dan tidak ada sesuatu pun yang tertinggal dari pengetahuan-Nya. Tidaklah sesuatu yang gaib, lalu kegaibannya menutupinya dari Ar-Raqīb -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan tidaklah sesuatu yang samar lalu kesamarannya menghalanginya dari Al-'Aẓīm. Bagi-Nya, bisikan sama dengan suara keras, rahasia sama dengan hal nyata, dan kesamaran sama dengan yang tersingkap.
Dia Telah Beruntung ...
Diriwayatkan dalam Al-Mustadrak bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Bacakan kepadaku sebuah surah yang komprehensif." Maka Rasulullah ﷺ membacakannya surah "Iżā Zulzilat" (yakni: surah Az-Zalzalah) hingga selesai. Lantas laki-laki itu berkata, "Demi Tuhan yang telah mengutusmu membawa kebenaran! Aku tidak akan pernah menambah lebih dari itu."
Kemudian laki-laki itu beranjak pergi. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Laki-laki itu telah beruntung." [Dinyatakan sahih oleh Al-Ḥākim dan Al-Baihaqi]
Juga dalam Musnad Imam Aḥmad, diriwayatkan oleh Ṣa'ṣa'ah bin Mu'āwiyah bahwa dia pernah datang menemui Nabi ﷺ lalu beliau membacakannya, "Maka barang siapa mengerjakan kebajikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Sebaliknya, barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." [QS. Az-Zalzalah: 7-8] Maka dia berkata, "Cukup bagiku! Aku tidak peduli walaupun aku tidak mendengar selainnya." [Dinyatakan hasan oleh Al-Arnā`ūṭ]
Satu ayat dapat membuat seseorang menjadi paham dan dekat kepada Tuhannya setiap kali ia membaca ayat itu dan menerapkannya: "Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." [QS. An-Nisā`: 1]
Seorang mukmin mengetahui bahwa Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- mengawasi dan menyaksikannya dalam segala hal. Sebab itu, kita dapati dirinya selalu menghadirkan pengawasan Allah hingga dalam hembusan napasnya, menjadikan amalnya murni untuk Tuhannya, dan menghadirkan pengawasan Allah dalam segala gerak-geriknya. Dengan itu, ia menggapai tingkatan ihsan: "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.'" [QS. Al-An'ām: 162]
Para ulama berkata, "Termasuk ketaatan paling utama ialah menghadirkan pengawasan Allah secara terus-menerus dan di semua waktu."
Kebersamaan Allah
Sesuai tingkat muraqabah kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dalam hidupmu, seperti itu pula tingkat kebersamaan Allah untukmu.
Hadirkan pengawasan Tuhanmu (muraqabatullah) sebelum melakukan ketaatan dan ketika sedang melakukan ketaatan. Demikian juga dalam melakukan perkara-perkara mubah dan maksiat.
Adapun sebelum mengamalkan ketaatan, maka muraqabatullah dengan memperhatikan niat dan meluruskannya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya bagi setiap orang apa yang diniatkannya." [HR. Bukhari]
Adapun ketika sedang melakukan ketaatan, maka dengan melanjutkan muraqabah kepada Allah dan memurnikannya untuk wajah Allah.
Adapun dalam perkara mubah, maka harus dengan memperhatikan adab dan mensyukuri nikmat.
Sedangkan dalam perkara kemaksiatan ialah dengan tidak melawan Allah dan melampaui batasan-batasan-Nya. Orang beriman itu cepat kembali kepada Tuhannya dengan bertobat serta menghentikan kemaksiatan: "Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu." [QS. Āli 'Imrān: 133]
Bila engkau menghadirkan pengawasan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- pada keadaan-keadaan ini, maka hal itu akan membuahkan kelapangan dada dan kesejukan mata.
Bisikan ...
Manakala Allah ﷻ berfirman, "Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." [QS. An-Nisā`: 1] Allah juga berfirman, "Sungguh, Allah Maha Mengawasi segala sesuatu." [QS. Al-Aḥzāb: 52] Sungguh, Dia berbicara kepada kita dengan panggilan khusus. Dia memanggil kita: wahai hamba-Ku! Apakah engkau mengira jika berhasil menutupi kemaksiatan-kemaksiatanmu dari manusia bahwa kamu juga akan berhasil menutupinya dari-Ku?!
Panggilan ini semakin agung, khususnya di zaman ini, ketika fitnah semakin banyak dan semakin mudah untuk diraih.
Dikatakan, faktor paling kuat untuk membangun kepribadian kuat ialah muraqabatullah (merasakan pengawasan Allah). Sebaliknya, faktor paling kuat untuk menghancurkan diri sendiri ialah muraqabatunnas (merasakan pengawasan manusia).
Bila suatu hari engkau menyendiri dengan waktu, jangan katakan ... "Aku sedang sendiri", tetapi katakan, "Allah mengawasiku."
Jangan sekali-kali mengira Allah pernah lalai walau sesaat ... tidak juga segala yang samar luput bagi-Nya.
Ya Allah! Kami memohon kepada-Mu dengan nama-Mu "Ar-Raqīb", semoga Engkau menjadikan kami sebagai wali-wali-Mu. Kami memohon kepada-Mu sifat takut kepada-Mu ketika sendiri ataupun di depan manusia, sikap sederhana ketika miskin dan kaya, dan sikap adil ketika marah dan rida.
68
AL-ḤASĪB ﷻ
Ja'far Aṣ-Ṣādiq -raḥimahullāh- berkata, "Aku heran terhadap orang yang takut lalu tidak bergegas kepada firman Allah: 'Cukuplah Allah bagi kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.' [QS. Āli 'Imrān: 173] Sungguh aku mendengar Allah berfirman setelah itu, 'Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana.' [QS. Āli 'Imrān: 174]
Aku heran terhadap orang yang mengalami kesusahan, bagaimana ia tidak bergegas kepada firman Allah ﷻ: 'Tidak ada tuhan yang hak kecuali Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.' [QS. Al-Anbiyā`: 87] Sungguh aku mendengar Allah berfirman setelah itu, 'Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.' [QS. Al-Anbiyā`: 88]
Aku heran terhadap orang yang diperdaya, bagaimana ia tidak bergegas kepada firman Allah ﷻ: 'Aku menyerahkan urusanku kapada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.' [QS. Gāfir: 44] Sungguh aku mendengar Allah berfirman, 'Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka.' [QS. Gāfir: 45]"
Jika berbagai cara tidak lagi berguna, jalan sempit, harapan putus, dan tali terurai, maka ucapkanlah: Ḥasbiyallāhu wani'mal-wakīl!
Jika bumi yang luas berubah sempit bagimu, jiwamu sesak dengan semua beban yang dipikul, maka panggillah: Ḥasbiyallāhu wani'mal-wakīl! Ketika itu, pertolongan-Nya akan datang, inayah-Nya akan sampai, dan kemudahan-Nya akan tiba. "Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana." [QS. Āli 'Imrān: 174]
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dialah yang mencukupi mereka. Dia berfirman, "Cukuplah Allah sebagai pengawas." [QS. An-Nisā`: 6] Allah juga berfirman, "Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu." [QS. An-Nisā`: 86]
Allah ﷻ adalah Al-Ḥasīb (Maha Mencukupi).
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Tuhan yang mencukupi semua makhluk-Nya dalam segala yang mereka butuhkan; baik dalam memberikan kebaikan maupun menolak keburukan.
Kecukupan yang diberikan oleh Allah:
1- Kecukupan yang bersifat umum bagi seluruh makhluk; yaitu dengan menciptakan mereka, memberikan mereka rezeki, dan membekali mereka dengan semua tujuan penciptaannya. "Yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk." [QS. Ṭāhā: 50]
2- Kecukupan yang bersifat khusus bagi hamba-hamba-Nya yang bertauhid; yaitu berupa pertolongan, dukungan, serta menghilangkan segala hal yang mereka tidak sukai. "Wahai Nabi! Cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu." [QS. Al-Anfāl: 64]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah yang akan menghitung amal semua makhluk pada hari mereka dikembalikan kepada-Nya sekaligus akan memberikan mereka balasan atas amal mereka itu. Tidak ada yang samar bagi-Nya dan tidak ada yang luput dari-Nya segala yang ada di langit maupun di bumi walaupun seberat zarah. "Sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami akan mendatangkannya. Cukuplah Kami yang membuat perhitungan." [QS. Al-Anbiyā`: 47]
Dia Menjagamu Ketika Ada Bencana ...
Siapa yang ditakut-takuti dengan selain Allah lalu mengucapkan, "Ḥasbiyallāhu wani'mal-wakīl", maka Allah akan menyelamatkan dan menolongnya.
Ibrahim -'alaihissalām- dilemparkan ke dalam api, lalu dia membaca, "Ḥasbunallāhu wani'mal-wakīl", maka Allah menjadikan api itu dingin dan aman.
Ketika Rasul kita ﷺ dan sahabat-sahabatnya diancam dengan pasukan kafir dan para penyembah berhala, mereka mengucapkan, "Cukuplah Allah bagi kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana, dan mereka mengikuti keridaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar." [QS. Āli 'Imrān: 173-174]
Allah Al-Ḥasīb, kepada-Nya tangan ditengadahkan di akhir malam untuk memohon berbagai kebutuhan, kepada-Nya mata tertuju dalam bencana, dan kepada-Nya pula permintaan ditujukan dalam berbagai kesulitan.
Orang-orang yang kuat sekaligus yang lemah ada di tangan-Nya. Kesehatanmu di tangan-Nya, istrimu di tangan-Nya, orang-orang tanggunganmu di tangan-Nya, rezekimu ada di tangan-Nya, para raja di tangan-Nya, orang yang zalim ada di tangan-Nya, dan musuhmu ada di tangan-Nya.
Kewajibanmu hanya berdoa dan memanggil: Ḥasbunallāhu wani'mal-wakīl!
Semboyanmu ...
"Ḥasbunallāhu wani'mal-wakīl" adalah kunci pertolongan dan pintu menuju kebahagiaan: "Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mereka mengikuti keridaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar." [QS. Āli 'Imrān: 174] Bila engkau takut sakit, takut rugi dalam bisnis, takut miskin, mengkhawatirkan anakmu, takut terhadap seorang yang zalim atau takut kepada musuh, maka katakanlah, "Ḥasbiyallāhu wani'mal-wakīl."
Ketika seorang wanita merasa menderita saat melahirkan, atau khawatir terhadap anaknya maupun dirinya, hendaklah ia mengucapkan, "Ḥasbiyallāhu wani'mal-wakīl." Disebutkan dalam riwayat Ibnus-Sunniy secara marfū' dan riwayat Abu Daud secara mauqūf dengan sanad yang dinyatakan sahih oleh Syu'aib Al-Arna`ūṭ: "Siapa yang mengucapkan, 'Ḥasbiyallāhu, lā ilāha illā huwa, 'alaihi tawakkaltu, wahuwa Rabbul-'Arsyil-'Aẓīm', ketika memasuki pagi dan petang, sebanyak tujuh kali, maka Allah menjaganya dari urusan dunia dan akhirat yang menyusahkannya."
Semboyanmu itu maknanya:
Ya Tuhanku! Aku berlindung kepada-Mu, aku meminta bantuan kepada-Mu untuk menghadapi apa yang aku takutkan, dan aku berserah diri kepada-Mu. Engkaulah yang mencukupkanku, harapanku, dan tempat berlindungku! "Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan?" [QS. An-Naml: 62]
Jika engkau mengetahui bahwa Allah ialah Yang Maha Mencukupi, maka janganlah angkat kebutuhanmu kecuali kepada-Nya.
Dialah Al-Ḥasīb yang mencukupi dan melindungi, sedangkan Al-Ḥasb ialah yang mencukupi hamba di setiap waktu.
Agar Jalan Tetap Lurus
Jika seorang mukmin mengetahui bahwa Allah akan menghisabnya besok terkait perkara yang besar dan yang kecil, sekaligus akan menanyainya sampai pada hal yang paling kecil, tidak ada yang samar bagi-Nya, dan bahwa hisab makhluk tidak sulit bagi Sang Pencipta Yang Maha Menghitung, maka ia akan terus-menerus mempersiapkan diri dan senantiasa menghadirkan pengawasan Allah ﷻ di semua keadaannya. "Kemudian mereka (hamba-hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) ada pada-Nya, dan Dialah pembuat perhitungan yang paling cepat." [QS. Al-An'ām: 62]
Disebutkan dalam Musnad Imam Aḥmad bahwa Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan: Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ berdoa di sebagian salatnya, "Ya Allah! Hisablah aku dengan hisab yang mudah", maka aku bertanya, "Wahai Nabi Allah! Seperti apakah hisab yang mudah itu?"
Beliau bersabda "Yaitu Allah melihat buku catatan amalnya lalu Dia melewatkannya. Sungguh, orang yang diperinci hisabnya hari itu -wahai Aisyah!- pasti binasa." [Hadis sahih]
Juga diriwayatkan dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ia berkata, "Hisablah diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab. Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang. Berhiaslah untuk hari penampilan akbar; karena pada hari itu kalian akan dihadapkan kepada Allah dan tidak ada yang tersembunyi dari kalian."
Al-Qurṭubiy berkata, "Sebagian orang saleh mengatakan: Ini adalah buku, lisanmu sebagai penanya, liurmu sebagai tintanya, dan anggota badanmu sebagai kertasnya. Engkaulah yang mendiktekan kepada malaikat-malaikat penjagamu. Tidak ada yang ditambahkan maupun dikurangi. Ketika engkau mengingkari sebagiannya, saksinya ialah dirimu yang bersaksi atas dirimu sendiri. 'Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.'" [QS. Al-Isrā`: 14]
Pengingat ...
Di akhirat terdapat pengadilan tempat mengembalikan hak-hak; sedangkan ketika itu tidak ada lagi dirham maupun dinar, karena perhitungan hari itu menggunakan kebaikan dan amal. Padahal di waktu itu engkau sedang dalam keadaan paling butuh kepada kebaikan.
Sesuai nilai barang, seperti itu hitungan takarannya! Besi dengan hitungan ton, buah-buahan dengan kilo, emas dengan gram, intan dengan kirat, sedangkan amal akhirat dengan hitungan zarah. "Maka barang siapa mengerjakan kebajikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Sebaliknya, barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." [QS. Az-Zalzalah: 7-8]
Waspadalah terhadap hak orang lain! Sungguh ia tidak halal sekalipun diputuskan oleh Nabi ﷺ untuk orang yang piawai berargumen, sebagaimana hadis yang sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya aku ini seorang manusia, sedangkan kalian mengadukan persengketaan kalian kepadaku. Mungkin sebagian kalian lebih cerdas dalam berargumentasi daripada yang lain, lalu aku memutuskan perkara berdasarkan apa yang aku dengar.
Maka siapa yang aku menangkan perkaranya terkait hak saudaranya, sesungguhnya aku telah mengambilkan potongan dari api neraka untuknya." [HR. Bukhari dan Muslim]
Ya Allah! Engkau yang mencukupkan kami. Tolonglah kami dan jangan binasakan kami. Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan semua kaum muslimin.
69
ASY-SYAHĪD ﷻ
Allah telah memuji zat-Nya yang tinggi dengan nama-Nya "Asy-Syahīd" dalam firman-Nya, "Sungguh, Allah menjadi saksi (Syahīd) atas segala sesuatu." [QS. Al-Ḥajj: 17]
Nama Allah "Asy-Syahīd" disebutkan dalam Kitab-Nya yang mulia sebanyak delapan belas kali.
Tidak ada sesuatupun yang luput dari Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Dialah Yang Maha Menjaga segala sesuatu, ilmu-Nya meliputi semua sesuatu.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- memberi kesaksian dengan kebenaran, mengambilkan hak orang yang terzalimi, dan mengambil balasan dari orang yang zalim. Dia mendengar semua suara, yang samar dan yang terang. Dia melihat semua yang ada, yang kecil dan yang besar. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah yang menjadi saksi bagi hamba-hamba-Nya pada semua amalan mereka, yang baik dan yang buruk. Kesaksian-Nya adalah pangkal kesaksian dan pondasinya, serta merupakan kesaksian yang paling agung, karena ketika tidak ada yang samar bagi Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, maka Dia menjadi saksinya. Maksudnya, Dia mengetahui hakikatnya dan yang mengetahui kesaksian untuknya, karena tidak ada sesuatu yang samar atas-Nya.
Di antara wujud kemuliaan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Dia bersaksi atas keesaan dan keadilan-Nya: "Allah menyatakan (menjadi saksi) bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. (Juga menyatakan yang demikian itu) para malaikat dan orang-orang yang berilmu." [QS. Āli 'Imrān: 18]
Juga kesaksian Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- atas kejujuran orang-orang yang beriman ketika mereka menauhidkan-Nya serta kesaksian-Nya bagi para rasul dan malaikat-malaikat-Nya: "Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi rasul kepada (seluruh) manusia. Cukuplah Allah yang menjadi saksi." [QS. An-Nisā`: 79]
Juga kesaksian Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- bagi orang terzalimi yang tidak memiliki saksi maupun penolong atas orang yang zalim dan melampaui batas. Kesaksian ini berkonsekuensi bantuan dan pertolongan. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, Allah menjadi saksi atas segala sesuatu." [QS. Al-Ḥajj: 19]
Sedangkan para hamba bersaksi atas keesaan-Nya serta mengakui hak-Nya untuk diibadahi, "(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.'" [QS. Al-A'rāf: 172]
Fakta ...
Kesaksian dan pemantauan manusia terbatas oleh waktu, dan pasti akan terhenti karena manusia mengalami tidur, lalai, lemah kemudian mati. Adapun Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-, pengawasan-Nya berlaku terus-menerus dan sempurna. Dialah Yang Mahahidup yang tidak mati. “Aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau mewafatkanku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Engkau adalah Maha Menyaksikan segala sesuatu." [QS. Al-Mā`idah: 117]
Kesaksian Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah kesaksian yang paling besar. Kesaksian-Nya adalah kesaksian yang bersifat hadir dan melihat langsung. Tidak ada sedikit pun dari semua sisi alam ini yang samar bagi-Nya, sebagaimana yang terjadi pada manusia. Siapa yang diberikan kesaksian oleh Allah, Dialah yang akan mencukupkannya dan ia tidak membutuhkan kesaksian selain-Nya. "Katakanlah (Muhammad), 'Siapakah yang lebih kuat kesaksiannya?' Katakanlah, 'Allah, Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Al-Qur`an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (Al-Qur`an kepadanya). Dapatkah kamu benar-benar bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah?' Katakanlah, 'Aku tidak dapat bersaksi.' Katakanlah, 'Sesungguhnya hanya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, dan aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).'" [QS. Al-An'ām: 19]
Kesaksian ini termasuk senjata paling besar untuk menghadapi kebatilan musuh. "Orang-orang kafir berkata, 'Engkau (Muhammad) bukanlah seorang Rasul.' Katakanlah, 'Cukuplah Allah dan orang yang menguasai ilmu Alkitab menjadi saksi antara aku dan kamu.'" [QS. Ar-Ra'd: 43]
Hari Penampilan ...
Ketika para hamba dihadapkan kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- di hari Kiamat, Allah akan menghisab mereka sebagai Tuhan Yang Mahatahu tentang mereka, Maha Melihat rahasia mereka, serta Maha Menghitung ucapan dan perbuatan mereka. "Sungguh, Allah menjadi saksi atas segala sesuatu." [QS. Al-Ḥajj: 17]
Orang beriman yakin bahwa amalnya tidak akan hilang di sisi Allah. "Katakanlah (Muhammad), 'Imbalan apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Imbalanku hanyalah dari Allah dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.'" [QS. Saba`: 47]
Pun orang kafir, tidak ada sedikit pun di antara amalnya yang hilang. Andaipun ia lupa, maka Allah telah menghitungnya. "Allah menghitungnya (semua amal perbuatan itu), meskipun mereka telah melupakannya. Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu." [QS. Al-Mujādilah: 6]
Tugasmu ...
Siapa yang mengetahui bahwa Tuhannya -Subḥānahu wa Ta'ālā- menyaksikannya secara lahir dan batin, maka ia akan malu bila dilihat oleh Allah sedang bermaksiat kepada-Nya ataupun melakukan sesuatu yang tidak disukai-Nya. Siapa yang meyakini bahwa Allah melihatnya, maka ia akan membaguskan amal ibadahnya serta ikhlas di dalamnya hingga ia mencapai tingkatan ihsan, yaitu tingkat ketaatan paling tinggi yang telah dijelaskan oleh Sang Kekasih ﷺ: "Yaitu engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Bila tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." [HR. Bukhari dan Muslim]
Bila suatu hari engkau menyendiri dengan waktu, jangan katakan,
"Aku sedang sendiri"; tapi katakan, "Allah mengawasiku."
Jangan sekali-kali mengira Allah pernah lalai walau sesaat,
tidak juga apa yang samar luput bagi-Nya.
Kewajiban orang-orang beriman ialah menghadirkan kesaksian Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- terhadap mereka di setiap perbuatan yang mereka lakukan, baik kecil ataupun besar, karena Allah ﷻ berfirman, "Tidak ada sedikit pun yang luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarah, baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauḥ Maḥfuẓ)." [QS. Yūnus: 61]
Nabi ﷺ mengutus Mu'āż ke Yaman, lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah! Berikanlah aku wasiat." Maka beliau bersabda, "Bertakwalah kepada Allah semaksimal kemampuanmu dan berzikirlah kepada Allah ﷻ pada setiap batu dan pohon ...." [Hadis sahih; HR. Ahmad]
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Selalu berzikir ketika di jalan dan di rumah, ketika mukim dan safar, dan di semua tempat akan memperbanyak saksi bagi hamba di hari Kiamat." "Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya." [QS. Az-Zalzalah: 4] "Cukuplah Allah yang menjadi saksi." [QS. An-Nisā`: 79]
Telah dikatakan, "Siapa yang menyertakan Allah dalam lintasan pikirannya, Allah akan menjaganya pada tindakan anggota tubuhnya."
Bila engkau cermati tujuh golongan orang yang akan diberikan naungan oleh Allah pada hari Kiamat, engkau akan dapati bahwa sisi kesamaan di antara mereka adalah mereka beriman bahwa Allah menyaksikan mereka, lalu mereka menyembah-Nya dengan keyakinan bahwa Allah melihat mereka sehingga mereka meraih kedudukan tersebut.
Ya Allah, wahai Yang Maha Menyaksikan! Kami memohon kepada-Mu agar Engkau mengampuni, merahmati, dan memaafkan kami. Wahai Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang!
70
AL-ḤAQQ ﷻ
Allah terangkan dalil-dalil-Nya bagi orang yang berpikir. Dia tampakkan bukti-bukti-Nya bagi orang yang mau melihat. Dia jelaskan ayat-ayat-Nya kepada penghuni alam semesta. Dia pangkas alasan-alasan orang yang membangkang. Dia gelincirkan hujah orang-orang yang menolak. Maka, ayat-ayat rububiyah bersinar terang, dalil-dalil uluhiyah terpancar bercahaya, serta lenyaplah gelapnya keraguan dan kebimbangan: "Maka itulah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya (hak)." [QS. Yūnus: 32] "Maka Mahatinggi Allah, Maharaja lagi Mahabenar." [QS. Ṭāhā: 114] "Kemudian mereka (hamba-hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, penguasa mereka yang sebenarnya." [QS. Al-An'ām: 62]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Yang Mahabenar; pada zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Tidak ada keraguan dan kebimbangan pada-Nya. Dialah sembahan sebenarnya, tidak ada sembahan yang benar selain-Nya.
Dialah Yang Mahabenar ﷻ. Tidak ada selain yang benar kecuali kebatilan dan kesesatan. Siapa yang mengklaim adanya sembahan selain Allah, ia telah mengklaim kebatilan, kedustaan, dan kepalsuan. "Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Mahabenar. Apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil. Dan sungguh Allah, Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar." [QS. Al-Ḥajj: 62]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Yang Mahabenar. Ucapan-Nya benar, perbuatan-Nya benar, pertemuan dengan-Nya benar, rasul-rasul-Nya benar, kitab-kitab-Nya benar, agama-Nya benar, peribadatan kepada-Nya semata tanpa sekutu bagi-Nya itulah kebenaran, dan semua perkara yang dinisbahkan kepada-Nya dengan hak itulah kebenaran. "Maka Mahatinggi Allah, Maharaja lagi Mahabenar." [QS. Ṭāhā: 114]
Diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain dari Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- tentang doa Nabi ﷺ, bahwa beliau berdoa ketika berdiri untuk salat di tengah malam, "Ya Allah! Engkaulah Yang Mahahak. Janji-Mu pasti benar, pertemuan dengan-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, Muhammad itu benar, dan hari Kiamat itu benar adanya."
Pertarungan ...
Ini adalah pertarungan abadi antara kebenaran dengan kebatilan. Siapa yang bersama Allah, maka ia berada di atas kebenaran yang nyata dan baginya kemenangan di dunia dan akhirat. "Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik tidak suka!" [QS. At-Taubah: 33]
Orang-orang beriman itu mengikuti kebenaran: "Yang demikian itu karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil (sesat), dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia." [QS. Muḥammad: 3] Mereka saling mengingatkan di antara mereka untuk berpegang dengan kebenaran: "Demi masa! Sesungguhya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran." [QS. Al-'Aṣr: 1-3]
Siapa yang menolak kebenaran setelah dijelaskan, maka ia adalah orang yang sombong dan menzalimi dirinya; sebagaimana dalam hadis sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia." [HR. Muslim]
Di Manakah Jalan Itu?
Masih banyak orang yang mencari hakikat untuk dijadikan sebagai petunjuk kepada kebenaran.
Sebagian mereka ada yang bersandar pada "suara fitrah" dalam relung hati mereka: "Fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu." [QS. Ar-Rūm: 30]
Sebagian lagi bertumpu pada prinsip "sebab akibat" yang menetapkan bahwa setiap karya mengharuskan ada yang membuatnya, setiap sesuatu yang baru pasti memiliki pencipta, dan setiap sistem mengharuskan adanya pengatur di belakangnya.
Sebagian yang lain menjadikannya sebagai perkara "hitungan", yaitu para pengusung keragu-raguan dan kebimbangan. Hal itu membawa mereka pada kesimpulan bahwa yang paling menjamin kehidupan mereka dan fase setelah kehidupan adalah beriman kepada Allah, akhirat, kebangkitan, dan pembalasan; sebagaimana ungkapan seorang penyair:
Peramal dan tabib berkata ... "Orang mati tidak akan dibangkitkan", kukatakan, "Pergilah kalian."
Jika ucapan kalian berdua yang terbukti, aku takkan rugi ... ataupun yang terbukti ucapanku, maka kerugian pada kalian berdua.
Tidak ada keselamatan bersama keraguan. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, “Apakah ada keraguan terhadap Allah, Maha Pencipta langit dan bumi?" [QS. Ibrāhīm: 10]
Sebagian lainnya ialah orang-orang yang senantiasa bingung dan melakukan kesyirikan. Kita berlindung kepada Allah dari kebimbangan setelah adanya keyakinan dan dari kesesatan setelah adanya petunjuk. "Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran." [QS. Ar-Ra'd: 19]
Sebenarnya, segala sesuatu yang ditunjukkan oleh dalil yang akan mendekatkanmu kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah kebenaran. Sebaliknya, segala sesuatu yang menjauhkanmu dari Allah adalah kebatilan. "Katakanlah, 'Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.'" [QS. Āli 'Imrān: 31]
Ibnu Taimiyah berkata, "Kebaikan seseorang bukan sekadar pada pengetahuannya terhadap kebenaran semata tanpa mencintai, menginginkan, dan mengikutinya."
Musibah hakiki itu bukanlah ketika seseorang tertimpa musibah pada diri, harta, ataupun anaknya; tetapi musibah terbesar yang tidak terobati ialah ketika seseorang mendapatkan musibah pada agamanya! Ketika itu, keraguan menggantikan posisi yakin, sehingga ia memandang kebatilan sebagai kebenaran dan kebenaran sebagai kebatilan, atau memandang kebaikan sebagai kemungkaran dan kemungkaran sebagai kebaikan.
Turunlah ke Lembah Keselamatan!
Adakah perkara yang besar, kesusahan yang dahsyat, dan kesedihan yang mendalam lagi sukar bagi Allah, Rabbul-'Izzah?! Dialah Yang Mahabenar, ucapan-Nya benar, dan janji-Nya benar.
Sepatutnya seorang hamba berprasangka baik pada Tuhannya, berserah diri kepada-Nya, menunggu karunia dari-Nya, mengharapkan kebaikan dari-Nya, dan bergantung pada janji-Nya. Tidak ada yang dapat mendatangkan manfaat kecuali Dia dan tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Dia. Dia memiliki kebaikan pada setiap jiwa, memiliki hikmah di setiap gerakan, dan memiliki pertolongan di setiap saat. Dia menjadikan pagi setelah malam dan hujan setelah kering.
Allah tidak menolak doa seorang mukmin yang tulus karena Allah ﷻ Mahabenar dan janji-Nya pasti benar. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.'" [QS. Gāfir: 60]
Jadi, seluruh permasalahanmu berujung pada solusi, semua rasa sakitmu berujung pada keafiatan, semua mimpimu berujung pada realitas, dan semua air matamu berujung pada senyuman. Maka tenanglah!
Sungguh, setelah kemiskinan akan ada kekayaan, setelah dahaga akan ada kekenyangan, setelah perpisahan akan ada pertemuan, dan setelah putus akan ada penyambungan. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Maka bertawakallah kepada Allah, sungguh engkau (Muhammad) berada di atas kebenaran yang nyata." [QS. An-Naml: 79]
Ya Allah! Perlihatkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan anugerahilah kami untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kepada kami kebatilan itu sebagai kebatilan dan anugerahilah kami untuk menjauhinya.
71
AL-MUBĪN ﷻ
Tetaplah selalu berada di pintu Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Gapailah kemuliaan dengan Tuhan Yang Mahamulia lagi Maha Mengetahui. Mendekatlah kepada-Nya dengan melakukan ketaatan kepada-Nya, niscaya ia akan menganugerahkan nikmat-nikmat-Nya kepadamu.
Bila engkau menaati-Nya, Dia akan memuliakan dan mengutamakanmu. Bila engkau pernah lalai sebelumnya, Dia akan mengasihi dan menangguhkanmu. Bila engkau bertobat dan kembali, Dia akan memujimu. Bila engkau bermaksiat, Dia akan menutupi dosamu.
Hati tidak akan hidup kecuali dengan keindahan menghadap kepada-Nya, dan air mata tidak akan tumpah kecuali karena takut ditinggalkan oleh-Nya atau berharap pertemuan dengan-Nya.
Benarlah orang yang mengatakan, "Demi Allah! Betapa asingnya jalan bagi orang yang penjaminnya bukan Allah. Betapa tersesatnya jalan bagi orang yang penuntunnya bukan Allah."
Betapa butuhnya kita pada jalan menuju pintu Allah Yang Maha Menjelaskan supaya perjalanan ke sana terang bagi kita.
Di sini kita akan berjalan pelan menuju cahaya sebuah nama di antara nama-nama Allah ﷻ, yaitu Al-Mubīn.
Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- telah berfirman memuji diri-Nya, "Pada hari itu, Allah menyempurnakan balasan yang sebenarnya bagi mereka dan mereka tahu bahwa Allah Mahabenar lagi Maha Menjelaskan." [QS. An-Nūr: 25]
Jelasnya sesuatu itu maksudnya ialah tampak dan terangnya.
Tuhan kita ﷻ adalah Yang Maha Menjelaskan bagi seluruh makhluk, keberadaan dan keesaan-Nya jelas, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, serta nama dan sifat-sifat-Nya.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah yang menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya jalan petunjuk dan menerangkan kepada mereka amalan-amalan yang akan memberikan mereka pahala ketika mengerjakannya serta perbuatan-perbuatan yang akan memberikan mereka siksa ketika melakukannya. Pada hari Kiamat kelak, akan sirna keraguan orang-orang munafik yang meragukan janji Allah kepada mereka di dunia.
Sifat menjelaskan termasuk sifat Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- yang paling agung.
Penjelasan itu telah datang dari dua jalur:
Pertama: Penjelasan yang Allah ﷻ tuangkan dalam kitab-kitab yang Dia turunkan kepada para-rasul-Nya serta wahyu yang diwahyukan kepada para rasul dan nabi-Nya: "Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menjelaskan." [QS. Al-Mā`idah: 15]
Kedua: Penjelasan dengan tanda-tanda kebesaran-Nya yang telah diciptakan-Nya: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal." [QS. Āli 'Imrān: 190]
Pada setiap sesuatu terdapat tanda untuk-Nya yang menunjukkan bahwa Dia itu Maha Esa.
Sebagaimana Al-Qur'an memberikan penjelasan, maka para rasul utusan Allah juga memberikan penjelasan. Allah ﷻ berfirman mengisahkan perkataan Nuh, "Aku (ini) hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan." [QS. Asy-Syu'arā`: 115] Allah ﷻ juga memerintahkan nabi-Nya untuk mengucapkan, "Tidak diwahyukan kepadaku melainkan bahwa aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata.” [QS. Ṣād: 70]
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah mengabarkan kepada para hamba di dalam kitab-kitab-Nya melalui lisan rasul-rasul-Nya di dunia bahwa perkara yang mereka perselisihkan di dunia akan dijelaskan-Nya kepada mereka kelak hari Kiamat. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Pasti pada hari Kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu." [QS. An-Naḥl: 92]
Siapa yang telah jelas baginya kebenaran lalu ia menghalanginya, balasannya ialah siksa yang pedih. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Tetapi jika kamu tergelincir setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepadamu, ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." [QS. Al-Baqarah: 209]
Demikian juga orang yang menyembunyikan kebenaran, ia telah menjerumuskan dirinya pada laknat. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah berfirman, "Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur`an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat." [QS. Al-Baqarah: 159]
Orang-orang yang Berakal
Allah Yang Maha Menjelaskan -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah menerangkan petunjuk-Nya kepada orang-orang yang mau berpikir[1] dan menampakkan bukti-bukti-Nya untuk orang-orang yang mau melihat. [1] Penulis buku Allāh Ahluṡ-Ṡanā`i wal-Majdi berkata, "Orang beriman tidak butuh kepada orang yang meyakinkannya tentang keberadaan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, ataupun menjelaskannya tentang keharusan beriman. Namun, di sini saya akan sampaikan beberapa kutipan kalimat, kesaksian, dan pengakuan sebagian ilmuwan, pemikir, dan tokoh filsafat. Lihatlah dokter jiwa terkenal asal Amerika, Dr. Henry Link, yang mengingkari agama, memerangi keimanan, dan menolak adanya Tuhan. Ia bertobat setelah perjalanan panjang dan tiada duanya! Ia berkata, 'Agama adalah meyakini adanya kekuatan tertentu sebagai sumber kehidupan. Kekuatan itu adalah kekuatan Allah sebagai pengatur alam dan pencipta langit.' Prof. Hoss mengatakan, 'Semakin luas cakupan ilmu pengetahuan, semakin kuat bukti keberadaan pencipta yang lebih cerdas dan memiliki kemampuan tidak terbatas. Para geolog, matematikawan, astronom, dan naturalis telah bekerja sama membangun menara ilmu pengetahuan, yaitu menara keagungan Allah semata.' Herbert Spencer memberikan pemaparan luas dalam buku Pendidikan, ia berkata, 'Ilmu pengetahuan membatalkan khurafat, tetapi tidak membatalkan agama itu sendiri.' Kemudian ia membuat permisalan dengan mengatakan, 'Seorang ilmuwan yang melihat bulir air dan mengetahui bahwa air tersebut terdiri dari susunan oksigen dan hidrogen dengan presentase tertentu, yang jika setengahnya diambil maka akan berubah ke bentuk lain selain air. Ia akan meyakini keagungan dan kemahakuasaan Sang Pencipta lebih dari selain ilmuwan yang tidak melihatnya kecuali sebagai bulir air semata.' Seorang ilmuwan naturalis bernama Sir Arthur Thomson, penulis terkenal asal Skotlandia mengatakan dalam koleksi "Sains dan Agama", 'Kami menyatakan perlahan bahwa layanan terbesar yang diberikan sains adalah bahwa ia membawa manusia pada gagasan tentang Tuhan yang paling mulia dan tertinggi.' Adapun William James -psikolog terkenal-, ia mengatakan, 'Ada ikatan yang tidak terpisahkan antara kita dan Tuhan. Jadi, jika kita menyerahkan diri pada pengawasan-Nya, semua keinginan dan harapan kita akan terpenuhi.'"
Di antara tanda kebesaran-Nya bagi alam semesta serta untuk memangkas alasan orang-orang yang membangkang terhadap-Nya adalah yang Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- firmankan: "Bukankah Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua lautan? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui. Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, menghilangkan kesusahan, dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat. Bukankah Dia (Allah) yang memberi petunjuk kepada kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan, dan yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan (makhluk) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (lagi) dan yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah, 'Kemukakanlah bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.'” [QS. An-Naml: 61-64] Mahasuci Tuhan yang keagungan-Nya menyilaukan akal orang-orang yang berpengetahuan! Mahasuci Tuhan yang cahaya-Nya memesona pandangan orang-orang yang berjalan kepada-Nya!
Perhatikanlah tanaman bumi dan lihatlah ... jejak perbuatan Yang Mahakuasa Mata-mata dari perak, memandang ... dengan pupil yang merupakan emas dilelehkan
di atas batu zamrud, sebagai saksi ... bahwa Allah tidak memiliki sekutu.
Di penghujung surah Āli 'Imrān, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memuji orang-orang yang berakal manakala mereka membuka mata untuk menyambut ayat-ayat Allah di alam semesta, lalu mereka menuju kepada Allah bersama jiwa mereka dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring. Jiwa mereka penuh dengan keimanan sembari mengangkat tangan kepada Allah dengan doa yang tulus dan meminta petunjuk. Maka datanglah jawaban kepada mereka: “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Maka orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah. Hanya di sisi Allahlah pahala yang baik.” [QS. Āli 'Imrān: 195]
Ya Allah! Dengan nama-Mu "Al-Mubīn", kami memohon kepada-Mu agar Engkau memasukkan kami ke dalam surga kenikmatan dan melindungi kami dari neraka, wahai Rabbul-'Ālamīn!
72
AL-MUḤĪṬ ﷻ
Ibnu Ḥajar -raḥimahullāh- berkata, "Siapa yang lebih berilmu tentang Allah serta nama-nama, sifat-sifat, perbuatan, dan hukum-hukum-Nya, ia akan lebih takut dan lebih bertakwa kepada-Nya. Sesungguhnya rasa takut akan berkurang sesuai kurangnya kadar pengenalan terhadap Allah.
Jika seorang hamba mengetahui bahwa Allah Maha Meliputi, jiwanya akan menjadi tenang, sedihnya hilang, dan hatinya akan bergantung pada Tuhannya Yang Maha Meliputi."
Allah mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia Maha Meliputi. Dia berfirman, "Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Sungguh, (pengetahuan) Allah meliputi segala sesuatu." [QS. An-Nisā`: 126]
Tuhan kita ﷻ tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu-Nya, baik kecil ataupun besar, yang lahir ataupun batin. Sesungguhnya Dia sebagaimana menyifati diri-Nya, "Ingatlah, sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu." [QS. Fuṣṣilat: 54]
Sifat meliputi-Nya mencakup secara pengetahuan dan penglihatan terhadap seluruh keadaan. Demikian juga secara kemampuan dan kekuasaan.
Disebutkan dalam Syarḥ Aṭ-Ṭaḥāwiyah disebutkan: "Adapun terkait dengan Allah yang Maha Meliputi segala sesuatu, maka Dia telah berfirman, 'Padahal Allah mengepung dari belakang mereka (sehingga tidak dapat lolos).' [QS. Al-Burūj: 20] 'Ingatlah, sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.' [QS. Fuṣṣilat: 54] Bukan maksud dari Allah meliputi makhluk-Nya bahwa Dia seperti planet dan makhluk berada di dalam zat-Nya yang suci. Mahasuci Allah dari hal itu setinggi-tingginya kesucian.
Maksudnya ialah cakupan keagungan-Nya serta luas ilmu dan kuasa-Nya; bahwa makhluk-makhluk tersebut bila dibandingkan dengan keagungan Allah, seperti biji sawi; sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa dia berkata, 'Tidaklah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh berikut semua yang ada padanya dan yang ada di antaranya di tangan Ar-Raḥmān kecuali seperti satu biji sawi di tangan salah seorang kalian.'"
Sungguh Dia Maha Meliputi!
Peliputan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- terhadap makhluk-Nya adalah peliputan sempurna. Tidak ada seorang pun dari mereka yang lolos maupun lepas. Kuasa dan ilmu-Nya meliputi mereka. Allah meliputi fisik mereka serta ucapan dan perbuatan mereka; sebagaimana Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu." [QS. Aṭ-Ṭalāq: 12]
Peliputan yang bersifat umum ini mencakup penduduk langit dan bumi. Ia merupakan peliputan rahmat.
Adapun liputan yang bersifat khusus adalah liputan keperkasaan; termasuk di dalamnya ancaman terhadap para pelaku maksiat dan orang-orang yang membangkang.
Nama ini paling banyak disebutkan dalam konteks ancaman bagi orang-orang kafir dan munafik. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengetahui tipu daya dan kebohongan mereka sembari meliputi dan mengintai mereka. Mereka akan kembali kepada-Nya dan ujung jalan mereka adalah kepada-Nya. Mereka tidak akan lepas dari Allah ﷻ. Lalu, kemana mereka akan lari ataupun kembali?
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman tentang orang-orang kafir, "Allah meliputi orang-orang yang kafir." [QS. Al-Baqarah: 20]
Seperti itu juga Allah ﷻ berfirman tentang orang-orang yang bersikap ria dan angkuh, "Janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (ria) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Allah meliputi segala yang mereka kerjakan." [QS. Al-Anfāl: 47]
Pun Allah berfirman tentang orang-orang kafir dan munafik yang melakukan tipu daya serta bergembira atas bencana yang menimpa orang beriman, "Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati. Tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan." [QS. Āli 'Imrān: 120]
Bila siksa Allah ﷻ turun pada suatu kaum, siksa tersebut meliputi mereka, "Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan (Kiamat)." [QS. Hūd: 84]
Neraka pada hari Kiamat akan mengepung orang-orang kafir: "Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka." [QS. Al-Kahfi: 29]
Tenanglah!
Ketika orang yang beriman mengetahui bahwa Allah Maha Meliputi ﷻ, jiwanya akan tenang serta ia berserah diri dan bertakwa kepada-Nya. Dia tidak menganggap lambat pertolongan Allah, tidak putus asa dari rahmat-Nya, dan tidak pupus harapan dari pertolongan-Nya. Ia yakin bahwa pertolongan itu pasti datang, tidak mungkin tidak.
Ia mengetahui bahwa melubangi kapal itu adalah puncak kebaikan, membunuh anak kecil itu adalah pucuk kasih sayang, dan menutupi simpanan kedua anak yatim itu adalah wujud kesetiaan: "Bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” [QS. Al-Kahfi: 68]
Akan tetapi, segala urusan memiliki waktu dan seluruh ketetapan memiliki usia, ia harus terlaksana agar terwujud, dan segala sesuatu di sisi Allah memiliki waktu yang telah ditentukan. "Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan." [QS. Āli 'Imrān: 120]
Allah ﷻ telah memberikan ketentuan bagi segala sesuatu; ia memiliki masa yang tidak akan dilampaui dan tidak akan dilangkahi. Bila waktu ketentuan itu telah tiba, sedikit pun ia tidak akan tertunda dari waktunya maupun mendahuluinya.
Penderitaan memiliki waktu kemudian ia akan berlalu. Ia memiliki masa kemudian akan beralih. Sebab itu, janganlah terburu-buru untuk meraih keinginan maupun menyingkirkan kekhawatiran. Perkara itu bukan di tangan hamba. Kewajiban hamba ialah melakukan sebab dan bersabar. Adapun pertolongan dan bantuan Allah ﷻ, maka tidak sulit bagi hamba di tempat mana pun.
Ibrahim -'alaihissalām- dikepung dan dilemparkan ke dalam api, namun ternyata api itu malah dingin dan mendatangkan rasa aman.
Yusuf -'alaihissalām- dikepung oleh saudara-saudaranya dan dilemparkan ke dalam sumur. Kemudian sekali lagi dikepung oleh istri raja dan orang-orang yang bersamanya lalu dipenjara. Tetapi, Allah Yang Maha Meliputi -Subḥānahu wa Ta'ālā- membatalkan tipu daya mereka, sehingga kepungan mereka justru sebagai kemenangan dan jalan bagi Yusuf -'alaihissalām- untuk menjadi pemegang perbendaharaan negeri.
Rumah ibu Nabi Musa -'alaihissalām- dikepung, lalu Musa dibuang dalam peti. Namun, ternyata kepungan mereka sebagai pertolongan untuk Nabi Musa dan untuk ibunya, lalu ia dikembalikan kepada ibunya sedangkan ibunya sangat merasa tenang.
Firaun mengepung Musa -'alaihissalām- dan orang-orang yang bersamanya, namun ternyata pengepungan mereka adalah awal kebinasaan Firaun dan kemenangan Musa -'alaihissalām-.
Pun orang-orang kafir mengepung rumah Rasulullah ﷺ, lalu beliau keluar dari Makkah dalam keadaan terusir dan sedih. Kemudian Allah mengepung musuh-musuhnya dan beliau kembali ke Makkah sebagai penakluk dan pemenang.
Ketika orang yang beriman menghadirkan peliputan Allah ﷻ, imannya bertambah, ia bahagia dengan Tuhannya, dan lari kepada-Nya sebagai wujud tunduk pada keagungan-Nya, manut pada perintah-Nya, dan implementasi terhadap firman-Nya: "Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu." [QS. Aż-Żāriyāt: 50]
Hanya pada-Mu kuberlindung, tidak ada yang melindungi selain-Mu,
maka lindungilah orang lemah ini yang berlindung pada lindungan-Mu.
Aku telah berlindung di semua tempat dalam kehidupan,
tetapi aku tidak menemukan ada yang lebih mulia dari lindungan-Mu.
Terimalah doaku dan kabulkanlah harapanku,
tidak pernah rugi sesaat pun orang yang berdoa dan berharap pada-Mu.
Ya Allah! Dengan nama-Mu "Al-Muḥīṭ", kami memohon kepada-Mu agar Engkau mengepung musuh-musuh kami dengan siksa dari sisi-Mu, dan memberikan kami pertolongan dari setiap kesusahan serta solusi dari semua kesempitan.
73 - 74 - 75 -76
AL-AWWAL AL-ĀKHIR AẒ-ẒĀHIR AL-BĀṬIN ﷻ
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah memuji zat-Nya yang tinggi dalam firman-Nya, "Dialah Yang Mahaawal, Yang Mahaakhir, Yang Mahazahir, dan Mahabatin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. Al-Ḥadīd: 3]
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Ya Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan Arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, yang menumbuhkan biji-bijian dan yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan segala sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya.
Ya Allah, Engkau Yang Mahaawal, tidak ada sesuatu sebelum-Mu; dan Engkau Yang Mahaakhir, tidak ada sesuatu setelah-Mu; Engkau Yang Mahalahir, tidak ada sesuatu di atas-Mu; dan Engkau Yang Mahabatin, tidak ada sesuatu di bawah-Mu. Lunaskanlah hutang dari kami dan bebaskan kami dari kefakiran." [HR. Muslim]
Dialah Al-Awwal, yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya.
Dialah Al-Ākhir, yang tidak ada sesuatu pun setelah-Nya.
Dialah Aẓ-Ẓāhir, yang tidak ada sesuatu pun di atas-Nya.
Dialah Al-Bāṭin, yang tidak ada sesuatu pun di bawah-Nya.
Muara dari nama-nama ini ialah menjelaskan liputan Tuhan -Subḥānahu wa Ta'ālā- terhadap makhluk-Nya; dari sisi waktu dan tempat.
Liputan waktu ada pada nama "Al-Awwal" dan "Al-Ākhir"; yaitu tidak ada sesuatu pun yang pertama kecuali Allah, Dia telah mendahului mereka semua.
Tidak ada sesuatu pun yang terakhir melainkan ada Allah setelahnya. Dialah ﷻ yang kekal setelah seluruh makhluk-Nya sirna, baik makhluk yang berbicara maupun yang tidak.
Sedangkan liputan tempat ada pada nama "Aẓ-Ẓāhir" dan "Al-Bāṭin"; yaitu Allah di atas segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi dari-Nya; tidak ada sesuatu yang tinggi kecuali Allah di atas-Nya, Dia tinggi di atas Arasy, sedangkan Arasy adalah makhluk yang paling tinggi. Dia memiliki ketinggian zat, ketinggian kedudukan dan sifat, dan ketinggian kuasa.
Tidak ada sesuatu pun yang rendah kecuali Allah pasti di bawahnya. Maksudnya ialah Dia meliputi segala sesuatu, sehingga Dia lebih dekat kepadanya daripada dirinya sendiri. Dia mengetahui yang tersembunyi dan segala yang tidak tampak.
Bersama ketinggian dan keberadaan-Nya di atas Arasy di atas langit, sungguh Allah dekat dari hamba-hamba-Nya, Dia melihat batin mereka serta mengetahui lahir mereka: "Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." [QS. Qāf: 16] "Katakanlah, 'Jika kamu sembunyikan apa yang ada dalam hati kamu atau kamu nyatakan, Allah pasti mengetahuinya.'" [QS. Āli 'Imrān: 29]
Dia Dekat darimu ...
Dia mendengar kata-katamu dan melihat perbuatanmu; tidak ada satu pun urusanmu yang tersembunyi dari-Nya.
Nabi ﷺ pernah mendengar para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- berdoa kepada Allah dengan suara tinggi, maka beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia! Tenangkanlah diri kalian karena kalian tidak berdoa kepada Tuhan yang tuli dan tidak ada! Yang kalian mintai doa itu adalah Tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [HR. Bukhari dan Muslim]
Bisikkanlah dalam sujudmu: "Subḥāna rabbiyal-a'lā (Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi)"; langit demi langit akan terbuka untuk doamu dan Allah pasti mendengarmu. Jangan sangka Dia jauh atau ada satu urusanmu yang tersembunyi dari-Nya.
Dia mendengar langkah semut hitam di atas batu besar yang keras di kegelapan malam: "Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya." [QS. Al-An'ām: 59]
Di antara hikmah dan karunia-Nya adalah Dia mengingatkanmu bahwa semua makhluk berawal dari Allah dan hanya kepada-Nya peribadatan mereka berakhir. Sebagaimana Dia tunggal di dalam menciptakanmu, maka esakanlah Dia dalam ibadahmu kepada-Nya. Sebagaimana dari Allah keberadaan dan penciptaanmu berawal, maka jadikanlah cinta, kemauan, dan ibadahmu berujung pada-Nya.
Jangan Bosan Berdiri di Hadapan-Nya!
Bila berbagai upaya telah terasa sempit olehmu dan engkau terdesak oleh berbagai rasa takut, maka ingatlah bahwa Dia Mahaawal dan Mahaakhir, bahwa Dia dekat kepadamu dan kuasa atas segala sesuatu, bahwa Dia menundukkan hamba-hamba-Nya, Dia mengatur urusan dari langit ke bumi lalu naik lagi kepada-Nya, dan bahwa Dia mengetahui rahasiamu serta yang disembunyikan oleh dadamu.
Pada saat itu, hatimu memiliki Tuhan yang dituju, Tuhan yang diibadahi, serta Tuhan tempat menggantungkan kebutuhannya dan tempatnya berlindung. Bila itu terwujud, hatimu akan bahagia, jiwamu tenteram, batinmu tenang, dan pertolongan telah dekat, sementara engkau telah mengetahui bahwa Allah Yang Mahaawal, Mahaakhir, Mahalahir dan Mahabatin, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Api tidak membakar Ibrahim Al-Khalīl karena penjagaan Allah terhadap dirinya: "Kami (Allah) berfirman, 'Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim!'” [QS. Al-Anbiyā`: 69]
Laut tidak menenggelamkan Nabi Musa karena suara kuat yang mengandung iman dengan keagungan Allah telah berucap: "Dia (Musa) menjawab, 'Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'” [QS. Asy-Syu'arā`: 62]
Yunus -'alaihissalām- di dalam perut ikan dalam laut memanggil: "Tidak ada tuhan yang hak kecuali Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim." [QS. Al-Anbiyā`: 87] Suara lemah ini bersumber dari dalam tiga kegelapan: kegelapan malam, kegelapan laut, dan kegelapan perut ikan; ia menerobos tiga kegelapan itu hingga ke langit, lalu pertolongan pun datang.
Pada kegaiban terdapat kebaikan bagi hamba yang lemah,
dengannya pena kering dan kitab ditutup.
Titik Peralihan ...
Manusia seorang diri tidak mampu menghadapi suatu peristiwa maupun menghadang musibah, sebab ia diciptakan lemah dan tidak mampu, kecuali tatkala ia berserah diri kepada Tuhannya karena ia mengetahui kemahaawalan-Nya yang mendahului segala sesuatu, serta tetap ada setelah segala sesuatu sirna dengan kemahaakhiran-Nya, juga di atas segala sesuatu dengan kemahalahiran-Nya dan di bawah segala sesuatu dengan kemahabatinan-Nya.
Bagi-Nya, satu langit tidak menutupi langit yang lain, tidak juga satu lapis bumi menutupi lapis bumi lainnya. Demikian juga yang lahir tidak menghalangi-Nya dari yang batin. Bahkan yang batin bagi-Nya adalah lahir, yang gaib di sisi-Nya nyata, yang jauh bagi-Nya dekat, dan yang rahasia di sisi-Nya adalah tampak.
Betapa bahagianya orang yang bergantung kepada Allah, mempelajari nama-nama Allah, memperbaiki sisi privasinya, mengikhlaskan amalnya, memperbaiki niatnya, serta bertameng dengan kesabaran dan berpakaian dengan keyakinaan pada Tuhannya! Inilah ibadah dengan cinta yang murni dan jernih.
Aku ditarik rindu kepada-Mu dan menggerakkanku dari gaib kepada sesuatu di mana harapanku melayang ke sana.
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Mengenal empat nama ini, yaitu Al-Awwal, Al-Ākhir, Aẓ-Ẓāhir, dan Al-Bāṭin, merupakan pilar pengetahuan, sehingga patut bagi hamba untuk mempelajarinya sampai pengetahuannya mencapai puncak kekuatan dan pemahaman."
Dia yang awal, Dia yang akhir, Dia yang lahir ... Dia yang batin, yaitu empat nama yang seimbang.
Tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, demikian juga tidak ada sesuatu pun setelah-Nya ... Mahatinggi Allah pemilik kekuasaan.
Mengetahui empat nama ini berikut maknanya memiliki dampak yang besar dalam mengusir rasa waswas.
Seorang laki-laki -biasa dipanggil: Abu Zamīl- datang menemui Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- lalu bertanya, "Wahai Ibnu 'Abbās! Apakah itu yang aku rasakan dalam hatiku?" Ibnu 'Abbās bertanya, "Apa itu?" Aku menjawab, "Demi Allah, aku tidak dapat mengucapkannya!" Maka dia bertanya kepadaku, "Apakah berupa keraguan?" Kemudian dia tertawa dan berkata, "Tidak seorang pun yang selamat dari hal itu." Hingga Allah menurunkan firman-Nya: "Maka jika engkau (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang yang membaca kitab sebelummu. Sungguh, telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang yang ragu." [QS. Yūnus: 94]
Kemudian Ibnu 'Abbās berkata kepadaku, "Jika engkau mendapatkannya dalam dirimu, maka ucapkanlah, 'Dialah Yang Mahaawal, Mahaakhir, Mahalahir, dan Mahabatin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.' [QS. Al-Ḥadīd: 3]"
Ya Allah, wahai Yang Mahaawal, Mahaakhir, Mahalahir, dan Mahabatin! Perbaikilah rahasia kami, baguskanlah penghujung urusan kami seluruhnya, dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan akhirat.
77
AL-WAKĪL ﷻ
Pernahkah kita renungi dan amati firman Allah ﷻ: "Bertawakallah kepada Allah Yang Mahahidup, yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya" [QS. Al-Furqān: 58]?
Ini adalah sebuah panggilan dari Maharaja lagi Mahaperkasa ... Panggilan kepada setiap orang beriman, laki-laki dan perempuan ... Panggilan kepada semua orang sakit , semua orang yang sedih, dan berhutang ... Panggilan kepada setiap orang yang takut ataupun ragu-ragu ...
Allah mengabarkan kepada kita bahwa Dialah Al-Wakīl ﷻ dan bahwa Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia akan mengalihkan semua permasalahanmu menuju penyelesaian, mengubah rasa sakitmu menjadi keafiatan, angan-anganmu menjadi kenyataan, rasa takutmu menjadi rasa aman, dan air matamu menjadi senyuman.
Aku berlepas diri dari kemampuan, kekayaan, dan kekuatanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan Tuhanku.
Tenangkan dirimu dari kelemahan, kegundahan, dan ketidakbersahabatannya! Jadikan ia menikmati naungan Al-Wakīl dalam tulisan berikut dan berjalanlah bersama kami menuju cahaya nama Allah "Al-Wakīl" ﷻ.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu." [QS. Al-An'ām: 102]
Para ulama mengatakan bahwa Al-Wakīl artinya yang menangani pengaturan makhluk-Nya dengan ilmu-Nya, kesempurnaan kuasa-Nya, dan hikmah-Nya yang komprehensif.
Dialah yang menjamin rezeki dan kemaslahatan, mengatur urusan mereka, dan menunjukkan pada mereka apa yang bermanfaat dan apa yang memberi mudarat untuk diri mereka di dunia dan akhirat.
Inilah pengurusan yang bersifat umum bagi semua makhluk: "Alllah Maha Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu." [QS. Az-Zumar: 62]
Sebaliknya, ada pengurusan bersifat khusus yang dikhususkan oleh Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- bagi wali-wali-Nya serta orang-orang yang taat dan mencintai-Nya, yaitu Allah memberikan kemudahan pada mereka, menjauhkan mereka dari kesulitan, dan menjamin urusan mereka.
Oleh karena itu, Allah memerintahkan Nabi-Nya ﷺ dan seluruh umat agar bertawakal kepada-Nya dalam firman-Nya: "Bertawakallah kepada Allah Yang Mahahidup, yang tidak mati." [QS. Al-Furqān: 58] Allah ﷻ juga mengkhususkan mereka dengan cinta-Nya dalam firman-Nya: "Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal." [QS. Āli 'Imrān: 159]
Tawakal adalah tanda orang beriman, ciri orang bertauhid, dan simbol ketakwaan. Ia merupakan kedudukan yang memiliki kaitan paling besar dengan Al-Asmā` Al-Ḥusnā.
Bagi Orang-orang yang Jujur ...
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Tawakal itu setengah agama, sedangkan setengah berikutnya ialah inābah (kembali kepada Allah). Sehingga agama itu terdiri dari memohon pertolongan dan ibadah.
Tawakal adalah permintaan tolong, sedangkan inābah ialah ibadah."
Tawakal akan bertambah ketika iman bertambah, sebaliknya akan berkurang ketik ia berkurang. Sedangkan orang yang tidak memiliki tawakal, ia tidak memiliki iman. "Hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman." [QS. Al-Mā`idah: 23]
Pencukupan Allah ﷻ untukmu selalu bersanding bersama tawakalmu kepada-Nya: "Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya." [QS. Aṭ-Ṭalāq: 3]
Hendaklah engkau jujur dalam tawakalmu, niscaya semua yang engkau inginkan pasti akan engkau raih walaupun besar; sebagaimana disebtukan dalam riwayat Tirmizi dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenarnya, niscaya kalian akan diberikan rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, yaitu ia pergi pagi hari dalam keadaan perutnya kosong dan pulang sore hari dalam keadaan buncit (kenyang)." [Hadis sahih]
Setiap orang berharap agar mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- di dunia dan akhirat, tetapi tak ada yang meraihnya kecuali orang-orang yang jujur dalam tawakal mereka. Orang-orang itu, hati mereka bertawakal kepada Allah ﷻ dan lisan mereka basah dengan ucapan: "Cukuplah Allah bagi kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung." [QS. Āli 'Imrān: 173] Maka, tampaklah kebesaran, mukjizat, dan penjagaan dari Allah ﷻ bagi wali-wali-Nya.
"Cukuplah Allah bagi kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung." [QS. Āli 'Imrān: 173] Ucapan ini dibaca oleh Ibrahim -'alaihissalām- pada saat dilemparkan ke dalam api. Lalu apa hasilnya? "Kami (Allah) berfirman, 'Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim!'” [QS. Al-Anbiyā`: 69]
Juga diucapkan oleh Nabi kita ﷺ dan sahabat-sahabatnya -raḍiyallāhu 'anhum- tatkala dikatakan kepada mereka, "Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka. Tetapi, perkataan itu malah menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.'" [QS. Āli 'Imrān: 173] Lalu apa hasilnya? "Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana." [QS. Āli 'Imrān: 174]
Bila engkau telah mencapai tingkatan itu, engkau telah menggapai cinta Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal." [QS. Āli 'Imrān: 159]
Selain cinta tersebut, Allah juga akan memberi kamu tambahan pahala yang besar: "Apa pun (kenikmatan) yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup di dunia. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal." [QS. Asy-Syūrā: 36]
Bagi Orang-orang yang Bertawakal ...
Jujurlah dalam tawakalmu, niscaya Allah akan melindungimu dari setan: "Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan mereka." [QS. An-Naḥl: 99]
Bila musuh memasang tali makar, tancapkan untuk mereka tembok tawakal: "Bacakanlah kepada mereka berita penting (tentang) Nuh ketika (dia) berkata kepada kaumnya, 'Wahai kaumku! Jika terasa berat bagimu aku tinggal (bersamamu) dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah aku bertawakal. Karena itu, bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku), dan janganlah keputusanmu itu dirahasiakan. Kemudian bertindaklah terhadap diriku, dan janganlah kamu tunda lagi.'" [QS. Yūnus: 71]
Siapa yang menginginkan kemenangan atas musuh dan pertolongan dari musibah, hendaklah ia tawakal kepada Allah: "Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu. Tetapi, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolong kamu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal." [QS. Āli 'Imrān: 160]
Bila makhluk berpaling darimu, maka bertumpulah pada Allah Yang Maha Memelihara: "Maka jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), 'Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung.'” [QS. At-Taubah: 129]
Bila engkau menginginkan perdamaian serta mendamaikan, maka masuklah melalui pintu tawakal: "Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-Anfāl: 61]
Bila iman telah bersemayam dalam hati dan engkau mengetahui bahwa urusanmu ada di tangan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, maka janganlah engkau bertumpu kecuali kepada-Nya ﷻ: "Katakanlah, 'Dia Tuhanku, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat.'” [QS. Ar-Ra'd: 30] Siapa yang berpegang pada tawakal di semua keadaannya, Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- akan mencukupkannya: "Bertawakallah kepada Allah dan cukuplah Allah sebagai pemelihara." [QS. Al-Aḥzāb: 3]
Sebelum Keluar
Lihatlah laki-laki yang keluar dari rumahnya dengan bertawakal kepada Allah, maka Allah ﷻ menjadi penjaganya. Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Bila seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca, 'Bismillāh, tawakkaltu 'alallāhi, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh (Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, dan tidak ada daya serta kekuatan selain dengan pertolongan Allah),' maka dikatakan kepadanya, 'Engkau telah diberi petunjuk, telah dicukupi, dan telah dijaga.'
Lalu setan-setan menyingkir darinya, maka setan yang lain berkata padanya, 'Bagaimana mungkin engkau mengganggunya sedang dia telah diberi petunjuk, telah dicukupi, dan telah dijaga?!'" [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ merasa sedih dan berat tatkala mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Bagaimana aku bisa bersenang-senang padahal malaikat peniup sangkakala telah memasukkan (sangkakala) ke dalam mulutnya (siap siaga) dan hanya menunggu izin. Kapan diperintahkan untuk meniup sangkakala, maka dia segera meniupnya." Ketika Rasulullah ﷺ melihat hal itu memberatkan mereka, beliau bersabda, "Ucapkanlah, 'Ḥasbunallāhu wa ni'mal-wakīl, 'alallāhi tawakkalnā (Cukuplah Allah bagi kami, Allah sebaik-baik penolong; hanya kepada Allah kami berserah diri).'" [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Pengingat ...
Sungguh, makna tawakal telah hilang dari hati banyak orang! Mereka melupakan Allah ﷻ, sehingga Dia melupakan mereka. Mereka meninggalkan tawakal kepada Allah, sehingga Dia menyerahkan urusan mereka kepada diri mereka sendiri.
Seseorang mengalami sakit lalu ia menggantungkan hatinya pada dokter. Ia bergantung pada obat dan dokter yang keduanya merupakan sebab, namun ia malah lupa pada Tuhan bumi dan langit serta Tuhan yang kesembuhan ada di tangan-Nya!!
Sebagian mereka ditimpa musibah, ujian mereka semakin berat, urusan mereka sempit, dan memikul susah dan sedih. Tetapi, mereka malah mengiba di pintu kawan-kawannya dan melupakan Al-'Azīz Al-Wahhāb ﷻ.
Musuh mengepungnya dan lawan membuat tipu daya untuknya sehingga ia terus-menerus dalam kesedihan yang besar dan kesulitan yang berat, namun ia malah lupa kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang lebih dekat dari urat lehernya.
Ibnul-Jauziy berkata, "Orang yang bertakwa hendaknya mengetahui bahwa Allah ﷻ yang akan mencukupinya, sehingga ia tidak menggantungkan hatinya pada sebab. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, 'Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.' [QS. Aṭ-Ṭalāq: 3]"
Sebagian orang memahami tawakal sebagai sikap tawākul (berpangku tangan), seperti sekelompok orang dari Yaman yang hendak keluar menunaikan haji, mereka tidak membawa bekal sembari mengatakan, "Kita orang-orang yang bertawakal". Lalu mereka mengemis makanan pada orang lain! Sebab itu, Allah ﷻ menurunkan ayat: "Bawalah bekal karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." [QS. Al-Baqarah: 197] Maksudnya: Bawalah bekal yang akan menjaga muka kalian serta menjaga kalian dari kehinaan mengemis.
Sebagian lagi ada yang berkata: Rezekiku telah ditulis, lalu untuk apa aku bekerja?!
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa ada seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah! Aku ikat untaku dan bertawakal, ataukah aku lepas dan bertawakal?" Beliau ﷺ bersabda, "Ikatlah dan bertawakallah." [Hadis hasan; HR. Tirmizi]
Allah ﷻ berfirman, "Maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." [QS. Al-Mulk: 15] Melakukan sebab tidak menafikan tawakal. Bahkan, tawakal itu tidak benar kecuali disertai mengerjakan sebab. Jika tidak, maka itu adalah kemalasan dan tawakal yang rusak! "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal, hanya kepada Engkau kami bertobat, dan hanya kepada Engkau kami kembali." [QS. Al-Mumtahanah: 4]
Di Sinilah Jalan Itu ...
Bagaimana aku bertawakal pada Allah dalam hidupku?
Pertama: Mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah yang indah. Semakin besar keagungan Allah ﷻ dalam hatimu, engkau semakin dekat kepada-Nya.
Kedua: Berbaik sangka kepada Allah ﷻ: "Aku tergantung prasangka hamba-Ku pada-Ku ..." [Hadis sahih; HR. Ibnu Majah] Lihatlah orang yang berinfak, tidaklah ia berinfak kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah dan bahwa Allah akan memberikannya ganti dengan yang lebih baik. Lihatlah pula orang yang bangun dari tempat tidurnya lalu berdiri salat di hadapan Tuhannya, tidaklah ia bangun kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Tuhannya. Demikian juga orang yang mengerjakan umrah, haji, salat, dan ibadah lainnya.
Ketiga: Berlepas dari kekuatanmu, mengakui kelemahanmu di hadapan Allah ﷻ, menampakkan perasaan butuh serta berdoa kepada-Nya agar Dia tidak menyerahkan seluruh urusanmu kepada dirimu sendiri atau kepada siapa pun di antara makhluk-Nya. Dalam hadis sahih disebutkan: "Ya Allah! Hanya rahmat-Mu yang aku harapkan. Maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sekejap mata pun." [Hadis sahih; HR. Ahmad dalam Al-Musnad]
Keempat: Melakukan sebab, seperti doa yang dijadikan oleh Allah sebagai sebab dalam meraih apa yang diminta.
Kelima: Ingatlah kekuatan Allah dalam mengubah berbagai keadaan, bahwa di tangan-Nyalah simpul-simpul langit dan bumi, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Demikian juga selalu mengingat bahwa di tangan-Nya perbendaharaan segala sesuatu, sehingga engkau tidak memiliki pilihan kecuali pasrah seperti pasrahnya anak lemah yang tidak berdaya kepada ayahnya, dan bagi Allah permisalan yang lebih tinggi: "Aku menyerahkan urusanku kapada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." [QS. Gāfir: 44]
Keenam: Rida dengan apa yang Allah bagikan untukmu. Hendaklah engkau mengetahui bahwa yang terbaik ada pada apa yang Allah bagikan untukmu. Namun jika engkau tidak rida, maka sebagaimana yang dikatakan oleh Bisyr Al-Ḥāfiy, "Salah seorang mereka berkata, 'Aku bertawakal pada Allah'; ia dusta pada Allah! Kalau ia benar bertawakal pada Allah, ia pasti rida dengan apa yang Allah lakukan padanya."
Ibnu Ḥamdūn berkata, "Hawa panas pernah menimpa tanaman seorang wanita tua di pedalaman, lalu ia mengeluarkan kepalanya dari tenda dan melihat tanaman terbakar, maka ia mengangkat kepala ke langit dan berkata, 'Lakukanlah apa yang Engkau kehendaki, karena rezekiku ada pada-Mu!'"
Bila hamba mewujudkan tawakal pada Yang Mahahidup, yang tidak akan mati, Allah akan menghidupkan semua urusannya sekaligus menyempurnakannya: "Bertawakallah kepada Allah Yang Mahahidup, yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya." [QS. Al-Furqān: 58]
Ya Allah, wahai Yang Maha Memelihara! Janganlah Engkau serahkan kami kepada diri kami walau sekejap mata. Kasihanilah kelemahan kami dan obatlah kesedihan kami. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
78
AN-NŪR ﷻ
Allah ﷻ berfirman memuji diri-Nya,
"Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus, di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya itu di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. An-Nūr: 35]
Diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain bahwa Nabi ﷺ biasa berdoa, "Ya Allah, jadikanlah dalam hatiku cahaya, dalam penglihatanku cahaya, dalam pendengaranku cahaya, di sebelah kananku cahaya, di sebelah kiriku cahaya, di atasku cahaya, di bawahku cahaya, di depanku cahaya, di belakangku cahaya, dan jadikanlah untukku cahaya."
Demi Allah! Ini adalah pemberian Allah yang paling berharga bagi hamba, yaitu Allah menganugerahinya cahaya dan petunjuk-Nya.
Pembahasan kita ini ialah tentang asupan hati, kesenangan roh, dan kegembiraan jiwa. Ia merupakan asupan paling besar, paling bermanfaat, dan paling bagus, sebagaimana dikatakan,
Baginya ada kisah-kisah tentang mengingatmu yang akan memalingkannya
dari minuman dan melupakannya dari bekal.
Baginya pada wajahmu terdapat cahaya sebagai penerangnya,
dan ucapanmu sebagai pemacu di belakangnya.
Bila ia mengeluhkan letihnya perjalanan, ia menjanjikannya
kenikmatan bertemu sehingga ia menjadi kuat dengan janji itu.
Di Bawah Naungan Cahaya-Nya
Allah -Tabāraka wa Ta’ālā- berfirman, "Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi." [QS. An-Nūr: 35]
Nas-nas Al-Qur'an dan Sunnah yang berisikan penamaan Allah bagi diri-Nya sebagai An-Nūr (cahaya) -sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyah raḥimahullāh-, datang dengan tiga model:
Pertama: Allah menyifati diri-Nya dengan sifat cahaya dalam firman-Nya: "Bumi (padang Mahsyar) menjadi terang-benderang dengan cahaya Tuhannya." [QS. Az-Zumar: 69] Sedangkan dalam hadis: "Allah melemparkan pada mereka sebagian cahaya-Nya." [Hadis sahih; HR. Ibnu Ḥibbān]
Kedua: Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- adalah cahaya: "Allah ialah cahaya langit dan bumi." [QS. An-Nūr: 35] Sedangkan dalam hadis: "Engkau adalah cahaya langit dan bumi." [HR. Bukhari dan Muslim]
Ketiga: Tabir-Nya adalah cahaya; sebagaimana dalam hadis yang sahih: "Tabir-Nya adalah cahaya; sekiranya Dia membukanya, niscaya cahaya wajah-Nya akan membakar semua makhluk yang dicapai penglihatan-Nya." [HR. Muslim] Makna cahaya wajahnya (subuḥātu wajhihi) adalah keindahan dan sinar wajah-Nya.
Cahaya Allah ﷻ yang dengannya Dia menyifati diri-Nya tidak menyerupai cahaya yang merupakan makhluk: "Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11]
An-Nūr bagian dari nama-Nya, demikian juga bagian
dari sifat-Nya, Mahasuci Allah pemilik bukti kebenaran.
Kuhadiahkan untukmu Beberapa Kata ...
Syekh Abdurraḥmān As-Sa'diy -raḥimahullāh- berkata, "Di antara nama Allah ﷻ serta sifat-Nya ialah An-Nūr (cahaya), yang merupakan sifat-Nya yang agung. Sungguh Allah adalah pemilik kemuliaan dan keagungan sekaligus pemilik keindahan dan cahaya. Seandainya tabir disingkap dari wajah-Nya yang mulia, niscaya cahaya-Nya akan membakar semua makhluk yang dijangkau oleh penglihatan-Nya.
Dengannya, alam seluruhnya bercahaya. Dengan cahaya wajah-Nya, gelap menjadi terang. Demikian juga Arasy, Kursiy, tujuh lapis langit dan semua alam terang dengannya. Ini adalah cahaya hakiki.
Adapun cahaya maknawi yang menerangi hati nabi-nabi-Nya, orang-orang pilihan-Nya, para wali-Nya, dan malaikat-malaikat-Nya, maka berasal dari cahaya pengetahuan dan cinta kepada-Nya. Sungguh, mengenal Allah akan mendatangkan cahaya dalam hati wali-wali-Nya sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka tentang sifat-sifat kemuliaan-Nya serta tingkat keyakinan mereka terhadap sifat-sifat keindahan-Nya.
Betapa Manis Hidayah-Nya!
Jika engkau mengenal Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, engkau telah mendapatkan pengetahuan yang paling besar di antara pengetahuan seluruhnya. Ilmu tentang Allah adalah ilmu yang paling mulia. Seluruh ilmu yang bermanfaat adalah cahaya dalam hati. Lalu bagaimana dengan ilmu ini yang merupakan ilmu paling utama dan paling mulia serta merupakan pondasi dan pilar seluruh ilmu?!
Pada saat itu, tepatlah pada hatimu firman Allah: "Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya itu di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. An-Nūr: 35]
Cahaya yang disebutkan ini ialah cahaya iman kepada Allah ﷻ dan kepada sifat-sifat dan ayat-ayat-Nya. Perumpamaannya dalam hati orang-orang beriman seperti cahaya yang mengumpulkan semua sifat-sifat itu.
Oleh karena itu, di antara doa Nabi ﷺ ialah: "Allāhumma ij'al fī qalbī nūran, wa fī lisānī nūran, wa-j'al fī baṣarī nūran, wa fī sam'ī nūran, wa amāmī nūran, wa khalfī nūran, wa 'an yamīnī nūran, wa 'an syimālī nūran, wa fauqī nūran, allāhumma a'ṭinī nūran" Artinya: "Ya Allah! Berikanlah cahaya di hati dan lisanku. Berikanlah cahaya di penglihatan dan pendengaranku, cahaya di depan dan belakangku, cahaya di kanan dan kiriku, cahaya di atas dan di bawahku. Ya Allah! Berikanlah aku cahaya)" [HR. Bukhari dan Muslim]
Ketika hati terisi oleh cahaya ini, ia akan menyebar ke wajah, sehingga wajah menjadi bersinar dan anggota tubuh tunduk untuk melakukan ketaatan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an dan Sunnah. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki." [QS. An-Nūr: 35]
Ibnu Sa'diy -raḥimahullāh- berkata, "Ketika batin mereka bercahaya dengan sebab salat, anggota tubuh mereka pun bercahaya dengan keagungan: 'Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud.'"
Cahaya tersebut mencegah hamba dari mengerjakan kekejian, sebagaimana dalam hadis sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tidaklah pelaku zina mengerjakan zina sementara dia beriman ketika mengerjakan zina itu. Tidaklah ia minum khamar sementara dia beriman ketika minum khamar. Tidaklah ia mencuri sementara ia beriman ketika mencuri ..." [HR. Bukhari dan Muslim]
Kitab-Nya Adalah Cahaya
Allah ﷻ mengabarkan kepada kita bahwa kitab-kitab yang diturunkan dari sisi-Nya adalah cahaya. Dengannya Allah menyinari hati para hamba. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, Kami yang menurunkan Kitab Taurat; di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya." [QS. Al-Mā`idah: 44] Allah juga berfirman, "Kami menurunkan Injil kepadanya, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya." [QS. Al-Mā`idah: 46]
Cahaya paling agung yang diturunkan ialah kitab yang diturunkan pada Muhammad ﷺ. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menjelaskan." [QS. Al-Mā`idah: 15]
Dengannya, Allah ﷻ mengeluarkan orang-orang yang beriman dari berbagai kegelapan menuju cahaya: "Alif Lām Rā. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji." [QS. Ibrāhīm: 1] Oleh karena itu, manakala orang-orang kafir mengetahui sejauh mana pengaruh kuat cahaya ini pada umat, mereka berjuang untuk memadamkannya, akan tetapi Allah ﷻ menjaga Kitab-Nya: "Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang musyrik membencinya." [QS. Aṣ-Ṣaff: 8] Allah yang akan menjaga umat ini selama mereka berpegang kuat pada Kitab-Nya.
Kesimpulan ...
Manakala "An-Nūr" merupakan nama dan sifat Allah, maka agama-Nya adalah cahaya, Rasul-Nya adalah cahaya, firman-Nya adalah cahaya, negeri kemuliaan bagi hamba-hamba-Nya adalah cahaya yang kemilau. Cahaya itu menyala di dalam hati hamba-hamba-Nya yang beriman, mengalir pada lisan mereka, tampak pada anggota tubuh mereka, dan cahaya mereka itu akan disempurnakan oleh Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- kelak pada hari Kiamat. Allah telah berfirman, "Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.'" [QS. At-Taḥrīm: 8]
Ya Allah, wahai Cahaya langit dan bumi! Sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sungguh Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
79
AL-KĀFĪ ﷻ
Diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia mengisahkan: Kami berperang bersama Rasulullah ﷺ dalam perang Nejd. Ketika tiba tengah hari sementara beliau berada di sebuah lembah yang banyak pohon berdurinya, beliau singgah di bawah pohon, berteduh di bawahnya, dan menggantung pedangnya. Sementara para sahabat berpencar ke pohon-pohon untuk berteduh. Ketika kami seperti itu, tiba-tiba Rasulullah ﷺ memanggil kami. Kami segera datang dan ternyata di depannya ada seorang arab badui sedang duduk. Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang ini datang ketika aku sedang tidur, lalu menghunus pedangku. Maka aku bangun sedang ia berdiri di atas kepalaku sambil menghunus pedang. Ia berkata, 'Siapa yang bisa melindungimu dariku?' Aku menjawab, 'Allah'. Maka ia memasukkannya kembali lalu duduk. Inilah dia." Jābir berkata, "Rasulullah ﷺ tidak menghukum orang tersebut."
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya?" [QS. Az-Zumar: 36]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang mencukupkan hamba-hamba-Nya karena Dialah yang memberikan mereka rezeki, menjaga mereka, dan memperbaiki urusan mereka. Allah ﷻ telah menjamin mereka. Ini adalah jaminan yang bersifat umum untuk semua makhluk.
Adapun jaminan yang bersifat khusus, maka berupa jaminan Allah bagi orang-orang yang bertawakal serta kembali kepada-Nya.
Jaminan tersebut adalah jaminan yang luas karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah berfirman, "Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya? Mereka menakut-nakutimu dengan sembahan-sembahan yang selain Dia? Barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya." [QS. Az-Zumar: 36] Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman, "Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya." [QS. Aṭ-Ṭalāq: 3] Yaitu Allah menjamin semua urusannya, agama dan dunia.
Di antara jaminan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman adalah Dia menurunkan pada mereka pertolongan-Nya serta mengirimkan kepada mereka bantuan berupa malaikat-malaikat-Nya: "Milik Allahlah tentara langit dan bumi." [QS. Al-Fatḥ: 4]
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- juga berfirman, “Tentu (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda." [QS. Āli 'Imrān: 125]
Sungguh Dia Maha Mencukupi
Seorang hamba tidak dapat lepas dari Tuhannya walau sekejap mata dalam semua urusan hidupnya. Dia membutuhkan penjagaan Allah, jaminan-Nya, dan petunjuk-Nya. Nabi ﷺ mengajari kita sebuah hadis yang merupakan hadis paling agung tentang jaminan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- bagi hamba. Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Bila seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca, 'Bismillāh, tawakkaltu 'alallāhi, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh (Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah dan tidak ada daya serta kekuatan selain dengan pertolongan Allah),' maka dikatakan kepadanya, 'Engkau telah diberi petunjuk, telah dicukupi, dan telah dijaga.'
Lalu setan-setan menjauh darinya, maka setan yang lain berkata padanya, 'Bagaimana mungkin engkau mengganggunya sedang dia telah diberi petunjuk, telah dicukupi, dan telah dijaga?!'" [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Seorang hamba yang beriman akan memperbanyak doa dan tawasul dengan nama-nama-Nya yang indah dalam meminta penjagaan dan keteguhan, karena tidak ada yang mencukupi kecuali Dia dan tidak ada yang menjaga kecuali Dia. Diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ Muslim bahwa Rasulullah ﷺ berdoa ketika datang ke tempat tidurnya, "Alḥamdulillāhil-lażī aṭ'amanā wa saqānā, wa kafānā wa āwānā, fakam min man lā kāfiya lahu wa lā mu`wī" Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, minum, kecukupan, dan perlindungan. Betapa banyak orang yang tidak memiliki pemberi kecukupan dan pelindung)."
Jangan Tinggalkan Pintu-Nya!
Jika seorang hamba yang beriman berbaik sangka kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- serta jujur dalam tawakalnya dan harapannya besar, Allah tidak akan menelantarkan sangkaannya karena Dia berfirman, "Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya." [QS. Aṭ-Ṭalāq: 3]
Hal itu bagian dari mengikat sebab dengan musababnya, sebagaimana dalam hadis yang sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, Allah berfirman, "Aku tergantung prasangka hamba-Ku pada-Ku. Jika ia berprasangka baik pada-Ku, maka itu untuknya. Jika ia berprasangka buruk, maka itu pula untuknya." [Hadis sahih; HR. Ahmad dalam Al-Musnad]
Allah menjamin urusan Yusuf -'alaihissalām-. Maka Allah jadikan kafilah di sahara membutuhkan air untuk mengeluarkannya dari sumur, lalu Allah jadikan penguasa Mesir membutuhkan anak supaya ia mengangkatnya sebagai anak, kemudian Allah jadikan Raja Mesir membutuhkan tafsir mimpi untuk mengeluarkannya dari penjara, kemudian Allah jadikan Mesir seluruhnya membutuhkan makanan supaya ia diangkat sebagai penguasa Mesir. Ketika Allah menjamin urusanmu, Dia mengaturkan untukmu semua sebab kebahagiaan tanpa engkau sadari. Cukup engkau bertawakal kepada Allah, maka Dia yang akan mencukupkanmu. Katakan dengan jujur, "Aku serahkan urusanku kepada Allah."
Ujian ...
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Ketika Allah menyebutkan jaminan-Nya untuk orang yang bertawakal kepada-Nya, mungkin hal itu memberikan kesan pemberian jaminan dengan segera saat tawakal, sebab itu Allah menutupnya dengan firman-Nya, 'Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.' [QS. Aṭ-Ṭalāq: 3] Yaitu ketentuan waktu yang tidak akan dilampauinya. Allah akan menggiringnya menuju waktunya sebagaimana yang telah ditentukan-Nya.
Sebab itu, orang yang bertawakal tidak boleh terburu-buru dan mengatakan: Aku sudah bertawakal dan aku sudah berdoa, tetapi aku belum mendapatkan apa-apa; mengapa jaminan itu belum aku dapatkan?! Allah pasti mewujudkan urusan-Nya pada waktunya sebagaimana yang telah ditentukan-Nya."
Oleh karena itu, Allah ﷻ menguji sebagian hamba-Nya dalam ketulusan tawakal mereka dengan cara menunda pengabulannya. Ketika sebagian mereka merasa lama tidak mendapatkannya, ia meninggalkan tawakal kepada Allah dan pergi merendahkan dan menghinakan diri kepada makhluk walaupun harus dengan mengorbankan agama dan keridaan Tuhannya.
Dalam hadis yang sahih, Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang mencari rida Allah sekalipun berakibat mendapatkan kemarahan manusia, maka Allah akan mencukupkannya dari beban manusia. Namun, siapa yang mencari rida manusia dengan melakukan apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia." [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Jawaban yang Tepat ...
Tujuan hamba tak akan terwujud kecuali dengan menjadikan akhirat sebagai pikiran utamanya; sebagaimana hadis Nabi ﷺ yang sahih bahwa beliau bersabda, "Siapa yang menjadikan kesusahan yang banyak menjadi satu kesusahan saja, yaitu kesusahan akhiratnya, Allah akan mencukupkannya pada kesusahan dunianya. Sebaliknya, siapa yang kesusahannya bercabang pada keadaan dunia, Allah tidak peduli di lembah kesusahan yang mana ia akan binasa!" [Hadis sahih; HR. Ibnu Majah]
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Siapa yang menyibukkan diri dengan Allah dari dirinya sendiri, Allah akan cukupkan kebutuhan dirinya. Siapa yang menyibukkan diri dengan Allah dari manusia, Allah cukupkan kebutuhannya terhadap manusia. Namun siapa yang sibuk dengan dirinya dan melupakan Allah, Allah serahkan ia kepada dirinya sendiri. Siapa yang sibuk dengan manusia dan melupakan Allah, Allah akan serahkan ia kepada manusia."
Cukup bagimu Tuhan yang rahmat dan jaminan-Nya meliputi semua makhluk, pemilik karunia dan kebaikan. Cukup bagimu Tuhan yang kebaikan-Nya senantiasa datang kepadamu dengan kasih sayang. Cukup bagimu Tuhan yang engkau senantiasa dalam pengampunan-Nya, padahal Dia melihatmu ketika melakukan kemaksiatan.
Cukup bagimu Tuhan yang engkau senantiasa dalam penjagaan dan lindungan-Nya sepanjang waktu. Cukup bagimu Tuhan yang engkau senantiasa dalam karunia-Nya, bolak balik dalam rahasia dan terang.
Ya Allah, wahai Yang Maha Mencukupi! Cukupkan kami dengan rezeki-Mu yang halal dari rezeki-Mu yang haram dan dengan karunia-Mu dari selain-Mu.
80-81
AL-MAULĀ AL-WALIY ﷻ
Engkau butuh pada sandaran, butuh pada pembimbing, butuh tempat kembali, butuh tempat berserah diri, butuh penolong, butuh orang yang dapat menenangkanmu bahwa kehidupan ini ditakdirkan keruh. Engkau butuh kepada sosok kuat yang akan melindungimu dari keburukan musuh. Engkau butuh kepada Tuhanmu.
Aku datang kepada-Mu dengan membawa harapan, wahai pemilik kemuliaan ... maka angkatlah keadaanku yang buruk yang Engkau lihat.
Kepada siapakah seorang hamba mengadu, kecuali ... pada pelindungnya, wahai pelindung para pelindung.
Allah -Subhānahu wa Ta'āla- berfirman dalam Kitab-Nya, "Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji." [QS. Asy-Syūrā: 28] Allah juga berfirman, "Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya (iman)." [QS. Al-Baqarah: 257]
Tuhan kita ﷻ adalah pemimpin dan pelindung bagi semua makhluk terkait menciptakan dan pengaturan, serta menentukan urusan dan ketentuan di langit dan di bumi, di setiap waktu dan keadaan. Kita tidak memiliki penolong selain-Nya untuk mendatangkan manfaat bagi kita maupun untuk menolak keburukan dan kejelekan dari kita. Ubun-ubun kita seluruhnya di tangan Allah ﷻ.
Ini adalah perwalian yang bersifat umum, yaitu perwalian berupa penciptaan dan pengaturan yang meliputi seluruh makhluk, yang baik maupun yang jahat, yang beriman maupun yang kafir.
Adapun perwalian yang bersifat khusus adalah untuk wali-wali-Nya yang bertakwa. Dia mengeluarkan mereka dari gelapnya kejahilan, kekufuran dan kemaksiatan kepada cahaya ilmu, iman, dan ketaatan, menolong mereka atas musuh-musuh mereka, dan memperbaiki urusan dunia dan agama mereka.
Ini merupakan perwalian yang berkonsekuensi memunculkan kasih sayang, rahmat, perbaikan, penjagaan, dan cinta. Allah ﷻ berfirman, "Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya (iman)." [QS. Al-Baqarah: 257]
Perwalian Sesuai Tingkat Ketaatan
Perwalian Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- pada hamba yang beriman sesuai dengan tingkat kecintaannya pada-Nya. Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Perwalian didasari oleh cinta. Sebab itu, tidak ada pertolongan kecuali dengan cinta. Sebagaimana permusuhan dasarnya adalah kebencian.
Allah adalah penolong orang-orang yang beriman, sedangkan mereka adalah orang-orang yang taat kepada-Nya. Mereka taat kepada-Nya atas dasar cinta mereka kepada-Nya. Begitu pula Allah menolong mereka atas dasar kecintaan-Nya pada mereka. Jadi, Allah menolong hamba-Nya yang beriman sesuai dengan tingkat cinta-Nya padanya."
Perwalian Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- tidak sama dengan yang lainnya: "Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11]
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- melindungi hamba-Nya sebagai bentuk kebaikan dan kasih sayang kepadanya: "Allah pelindung orang yang beriman." [QS. Al-Baqarah: 257] Berbeda dengan makhluk, di mana ia melindungi makhluk lain demi mendapatkan kemuliaan dan tambahan karunia disebabkan kehinaan dan kebutuhan hamba tersebut.
Adapun Allah Yang Mahamulia lagi Mahakaya -Subḥānahu wa Ta'ālā-, Dia tidak melindungi seseorang dengan sebab kehinaan maupun kebutuhan. Allah ﷻ telah berfirman, "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak (pula) mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan.' Agungkanlah Dia seagung-agungnya." [QS. Al-Isrā`: 111]
Merekalah Kaum Itu ...
Sifat wali di antara hamba-hamba Allah ialah mencintai Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ, mencintai siapa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, membenci siapa yang membenci Allah dan Rasul-Nya, membela siapa yang membela Allah dan Rasul-Nya, memusuhi siapa yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, mengerjakan ketaatan kepada Allah, dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya: "Barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allah itulah yang menang." [QS. Al-Mā`idah: 56] "Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya." [QS. Al-Mujādilah: 22]
Jalan
Kewalian tidak akan didapat kecuali dengan dua syarat, yaitu takwa dan iman. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung." [QS. Yūnus: 62-64]
Tingkat kewalian di sisi Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- adalah sesuatu yang dapat diusahakan, memiliki sebab-sebab dan amalan-amalan, baik yang terkait dengan hati maupun anggota badan. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Orang-orang yang berjuang untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." [QS. Al-'Ankabūt: 69] "Dialah pelindung mereka karena amal kebajikan yang dahulu mereka kerjakan." [QS. Al-An'ām: 127]
Manusia memiliki tingkat kewalian yang berbeda di sisi Allah sesuai dengan perbedaan tingkat keimanan dan ketakwaan mereka.
Kunci Pengabulan
Semakin tinggi tingkat kedekatan seorang hamba kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dengan mengerjakan amalan-amalan fardu maupun sunah, maka semakin tinggi tingkat kecintaan dan kedekatannya dari Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, Allah ﷻ berfirman, "Siapa yang memusuhi wali-Ku, Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku akan terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia pergunakan untuk mendengar, sebagai penglihatannya yang ia pergunakan untuk melihat, sebagai tangannya yang ia pergunakan untuk memegang, dan sebagai kakinya yang ia pergunakan untuk berjalan. Jika dia meminta pada-Ku, Aku pasti memberinya. Jika dia memohon perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya.
Tidaklah pernah Aku ragu pada sesuatu yang Aku lakukan seperti keraguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang membenci kematian, padahal Aku tidak suka menyakitinya." [HR. Bukhari]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -raḥimahullāh- berkata, "Seorang wali tidak menjadi wali Allah kecuali dengan mengikuti Rasul ﷺ, baik secara batin maupun lahir. Sesuai tingkat mengikuti Rasul, seperti itu tingkat kewaliannya pada Allah."
Engkau Akan Tercengang Ketika Allah Menolongmu!!
Perwalian yang khusus ini berkonsekuensi adanya kebaikan dan bimbingan Allah pada hamba-hamba-Nya: "Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya (iman)." [QS. Al-Baqarah: 257]
Perwalian itu juga berkonsekuensi adanya pengampunan dosa dan pemberian rahmat: "Engkaulah pelindung kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah pemberi ampun yang terbaik." [QS. Al-A'rāf: 155]
Juga berkonsekuensi adanya pertolongan dan pembelaan menghadapi musuh: "Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir." [QS. Al-Baqarah: 286] Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- juga telah berfirman, "Tetapi hanya Allahlah pelindungmu dan Dia penolong yang terbaik." [QS. Āli 'Imrān: 150]
Perwalian itu juga berkonsekuensi masuk surga dan selamat dari neraka. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Bagi mereka (disediakan) tempat yang damai (surga) di sisi Tuhannya. Dialah pelindung mereka karena amal kebajikan yang dahulu mereka kerjakan." [QS. Al-An'ām: 127]
Di antara karunia Allah terbesar ialah ketika Allah menjadi penolongmu. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong." [QS. Al-Anfāl: 40] Apabila Allah ﷻ menjadi penolongmu, maka engkau telah meraih keamanan di dunia dan akhirat: "Mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk." [QS. Al-An'ām: 82]
Engkau bisa tenang karena Allah ﷻ bersamamu. Lisanmu selalu mengucapkan, "Katakanlah (Muhammad), 'Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman bertawakal.'" [QS. At-Taubah: 51] Allah menimpakan kesulitan dan kesempitan padamu untuk memilihmu. "Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)." [QS. Al-Qaṣaṣ: 5]
Ketika engkau dilindungi oleh Sang Maha Pelindung, maka engkau berada dalam penjagaan tinggi dan nikmat yang besar. Engkau salah, maka engkau dihukum-Nya. Engkau boros, maka rezekimu dikurangi-Nya. Engkau mengangkat diri, maka engkau diberi-Nya pelajaran. Tidaklah yang demikian itu kecuali karena Allah ﷻ adalah pelindungmu. Allah adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Engkau mengetahui dengan keyakinan penuh bahwa itu adalah hukuman cinta, bukan hukuman siksa, karena Allah tidak menyiksa orang-orang yang dicintai-Nya. "Orang Yahudi dan Nasrani berkata, 'Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.' Katakanlah, 'Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosa kamu? Tidak, kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang Dia ciptakan.'" [QS. Al-Mā`idah: 18]
Tuhanku, Engkaulah pemilik kebaikan ... dan dari-Mu seluruh karunia dan anugerah yang melimpah.
Tuhanku, berikan kepadaku maaf-Mu, sungguh aku... merendah hina di depan pintu.
Ya Allah! Kami memohon kepada-Mu dengan nama-Mu "Al-Maulā", semoga Engkau menganugerahi kami masuk surga dan menjadikan kami termasuk wali-wali-Mu ketika sendiri maupun bersama khalayak.
82
AL-HĀDĪ ﷻ
Sekian lama aku tersesat, tidak mengenal petunjuk,
Itu adalah masa kegelapan di dadaku.
Kala Allah ingin membawaku pada petunjuk,
Dia tampakkan padaku jalan kebenaran dan aku ditunjuki-Nya.
Segera kubuang gelap kesesatan dan kebinasaan
dan kumenuju cahaya petunjuk yang terang.
Jadilah aku menuju agama Nabi Muhammad
terbimbing dan menjadi dai setelah tersesat.
Di antara rahmat Allah ﷻ kepada hamba-Nya adalah Dia menjadikan petunjuk di tangan-Nya dan menamakan diri-Nya "Al-Hādiy".
Kita berhenti sejenak bersama nama ini sembari berdoa agar Dia menunjuki kita pada kebenaran dan jalan yang lurus.
Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus." [QS. Al-Ḥajj: 54] Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- juga berfirman, "Tetapi cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong." [QS. Al-Furqān: 31]
Tuhan kita ﷻ menunjuki dan membimbing hamba-Nya untuk meraih manfaat dan menolak mudarat, mengajari mereka apa yang tidak mereka ketahui, membimbing mereka pada hidayah taufik, mengilhami mereka ketakwaan, serta menjadikan hati mereka kembali kepada Allah dan tunduk pada perintah-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Hidayah Allah untuk Manusia ...
Hidayah (petunjuk) tersebut terbagi empat macam:
Pertama: Hidayah Umum Ini merupakan petunjuk pada setiap jiwa kepada maslahat kehidupannya beserta yang menegakkannya. Hidayah ini mencakup semua makhluk; yang berbicara dan yang tidak berbicara, yang terbang dan yang melata, yang berbangsa Arab dan yang nonarab.
Kedua: Hidayah bimbingan dan penjelasan pada hamba mukalaf Hidayah ini merupakan hujah Allah ﷻ atas makhluk-Nya, Allah tidak akan menyiksa seorang kecuali setelah menegakkan hujah itu padanya.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Adapun kaum Ṡamūd, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu." [QS. Fuṣṣilat: 17]
Ketiga: Hidayah taufik, ilham, dan pelapangan dada untuk menerima kebenaran serta rida padanya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk." [QS. Al-Isrā`: 97] "Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." [QS. At-Tagābun: 11]
Oleh karena itu, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memerintahkan hamba-hamba-Nya agar meminta hidayah kepada-Nya, bahkan Allah mengarahkan mereka untuk meminta hidayah itu kepada-Nya di setiap rakaat salat: "Tunjukilah kami jalan yang lurus." [QS. Al-Fātiḥah: 6]
Keempat: Hidayah kepada surga dan neraka pada hari Kiamat. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Allah akan memberi petunjuk kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka." [QS. Muḥammad: 5] "Mereka berkata, 'Segala puji hanya bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami.'” [QS. Al-A'rāf: 43]
Adapun petunjuk kepada neraka, yaitu Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "(Diperintahkan kepada malaikat), 'Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah selain Allah, lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.'" [QS. Aṣ-Ṣāffāt: 22-23]
Semakin Bertambah Hidayahmu, Maka Derajatmu Semakin Tinggi
Hidayah adalah nikmat paling besar yang diberikan oleh Allah Yang Maha Memberi petunjuk kepada hamba-Nya. Semua nikmat selainnya tidak berarti.
Orang-orang yang mapan ilmunya adalah orang yang paling antusias terhadap karunia ini, mereka berdoa kepada Allah supaya ia tidak hilang: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami." [QS. Āli 'Imrān: 8]
Petunjuk tidak memiliki ujung walaupun hamba mencapai petunjuk setinggi apa pun! Di atas petunjuk yang dicapainya masih ada petunjuk lain dan di atas petunjuk lain itu masih ada petunjuk lainnya lagi, hingga tidak terbatas. Setiap kali ketakwaan seorang hamba kepada Tuhannya bertambah, bersama itu ia naik ke petunjuk lainnya. Ia akan terus mendapatkan tambahan petunjuk selama ia bertambah takwa. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk." [QS. Maryam: 76]
Sebaliknya, setiap kali ia menyia-nyiakan satu bagian dari ketakwaan, maka ia telah kehilangan sebagian dari petunjuk, sesuai dengan kadar itu. Siapa yang mendapatkan petunjuk, ia telah mendapatkan nikmat yang abadi. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah berfirman, "Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya." [QS. Al-Fātiḥah: 6-7]
Tanda hidayah ialah kelapangan dada. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan menenteramkan dadanya untuk (menerima) Islam." [QS. Al-An'ām: 125] Siapa yang diberikan hidayah oleh Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-, maka tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkannya. Demikian juga sebaliknya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Sebaliknya, barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya." [QS. Az-Zumar: 36-37]
Oleh karena itu, di antara doa Nabi ﷺ yang paling banyak dibaca ialah: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan." [HR. Muslim] Beliau juga mengajarkan Ali -raḍiyallāhu 'anhu- dalam sabda beliau, "Ucapkanlah, 'Allāhummahdinī wa saddidnī (Ya Allah! Berilah aku petunjuk dan bimbinglah aku kepada kebenaran).'" [HR. Muslim]
Beliau ﷺ juga mengajarkan Al-Ḥasan bin Ali -raḍiyallāhu 'anhu- agar membaca dalam qunut witir: "Ya Allah! Berilah aku petunjuk bersama orang-orang yang Engkau beri petunjuk." [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Di antara bahaya hidup antara ketaatan dan kemaksiatan ialah engkau tidak tahu di bagian waktu manakah di antara keduanya yang akan menjadi akhir hayatmu.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -raḥimahullāh- berkata, "Dosa merupakan bagian dari konsekuensi jiwa manusia, sehingga dia membutuhkan petunjuk di setiap saat, dan dia lebih butuh kepada petunjuk daripada kebutuhannya pada makan dan minum."
Ketuklah Pintu Langit!
Allah ﷻ berfirman melalui lisan Ibrahim -'alaihissalām-, "Dia (Ibrahim) berkata, 'Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'" [QS. Aṣ-Ṣāffāt: 99]
Pergilah kepada Allah dengan kelemahanmu, niscaya Dia akan memberimu kekuatan-Nya ... Pergilah kepada Allah dengan kehinaanmu, niscaya Dia akan memberimu kemuliaan-Nya ...
Pergilah kepada Allah dengan keterasinganmu, Dia akan memberimu kebersahabatan-Nya ...
Pergilah kepada Allah dengan kemiskinanmu, Dia akan memberimu kekayaan-Nya ...
Pergilah kepada Allah dengan kesedihanmu, Dia akan memberimu pertolongan-Nya ...
Pergilah kepada Allah membawa kesedihanmu, Dia akan memberimu kebahagian-Nya.
Tuhanku, lindungilah aku dari siksa-Mu, sungguh aku ... tertawan, hina, lagi takut dan tunduk kepada-Mu.
Tuhanku, berikan aku keindahan maaf-Mu, pada hari yang tidak berguna padanya anak-anak maupun harta.
Terakhir ...
Asy-Syīrāziy -raḥimahullāh- berkata, "Aku pernah begadang bersama ayahku sementara di sekitar kami orang-orang sedang tidur. Aku berkata, 'Tidak ada di antara mereka yang bangun mengerjakan salat walaupun dua rakaat!' Ayahku menjawab, 'Wahai anakku! Sekiranya kamu tidur, tentu itu lebih baik untukmu daripada celaanmu terhadap orang lain.'"
Kebaikanmu tidak memberikanmu hak untuk mengolok kesesatan orang lain. Apalagi hati ada di antara dua jari di antara jari-jari Ar-Raḥmān, Dia membolak-balikkannya sesuai yang Dia kehendaki. Jangan teperdaya dengan amalmu maupun ibadahmu, karena itu merupakan karunia Allah untukmu. Tetapi, mohonlah kepada Allah keteguhan untuk dirimu dan petunjuk untuk orang lain. Allah telah berfirman kepada Nabi-Nya -sebaik-baik manusia-, "Sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka." [QS. Al-Isrā`: 74] Lalu bagaimana denganmu?!!"
Ya Allah, wahai Sang Maha Pemberi petunjuk! Tunjukilah kami pada kebenaran yang diperselisihkan dengan seizin-Mu. Sungguh Engkau memberi petunjuk pada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.
83
AN-NAṢĪR ﷻ
Disebutkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain bahwa syarat-syarat dalam perjanjian Hudaibiyah berat untuk diterima oleh sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ ...
Umar bin Al-Khaṭṭāb mengisahkan: Aku datang menemui Nabi ﷺ, aku berkata, "Bukankah engkau nabi utusan Allah?" Beliau menjawab, "Tentu." Aku berkata, "Bukankah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan?" Beliau menjawab, "Tentu." Aku berkata, "Jika demikian, kenapa kita berikan kehinaan pada agama kita?!"
Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh aku utusan Allah dan aku tidak bermaksiat kepada-Nya. Dia yang akan menolongku." [Ini redaksi Bukhari]
Mahatinggi Engkau, wahai Tuhan yang memenangkan kebenaran ... dan mengalahkan keburukan yang telah lama merusak.
Engkaulah yang memberikan hak kepada pemiliknya ... pertolongan-Mu sangatlah kuat dan dekat.
Allah berfirman tentang diri-Nya yang agung, "Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah adalah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong." [QS. Al-Anfāl: 40]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah yang memenangkan rasul-rasul-Nya, nabi-nabi-Nya, dan wali-wali-Nya atas musuh mereka di dunia dan pada hari tampilnya para saksi. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat)." [QS. Gāfir: 51]
Tuhan kita ﷻ menolong orang-orang yang lemah dan mengangkat kezaliman dari orang-orang yang terzalimi sekalipun mereka orang kafir; karena tidak ada yang menolong mereka kecuali Allah.
Tuhan kita ﷻ menolong orang-orang beriman atas musuh mereka; baik musuh dari luar seperti orang-orang kafir dan zalim, ataupun musuh dari dalam seperti hawa nafsu dan setan. Kedua musuh internal ini lebih membahayakan seorang mukmin daripada musuh mereka yang dari luar: "Orang-orang yang berjuang untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." [QS. Al-'Ankabūt: 69]
Bila pertolongan Allah turun, maka tidak ada yang dapat menaklukkan orang yang ditolong-Nya dan tidak ada penolong bagi orang yang dihinakan-Nya: "Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu." [QS. Āli 'Imrān: 160]
Potret Pertolongan
Macam-macam pertolongan Allah untuk hamba-Nya yang beriman akan dihadirkan oleh Allah ﷻ di luar sangkaan hamba, sehingga tidak dapat dihitung, tidak pula dibatasi maupun ditolak.
Kadang melalui bantuan malaikat, sebagaimana ketika Allah membela Nabi dan sahabat-sahabatnya pada Perang Badr. Kadang melalui angin, sebagaimana pada kaum 'Ād dan Perang Ahzab. Kadang dengan mengirim burung yang berbondong-bondong, sebagaimana dalam kisah pasukan gajah. Kadang dengan suara keras, sebagaimana pada kaum Ṡamūd. Kadang dengan gempa yang menenggelamkan, sebagaimana yang ditimpakan pada Karun. Kadang dengan lemparan batu, sebagaimana pada kaum Lūṭ. Kadang dengan banjir bandang, sebagaimana pada kaum Nuh.
Tentara Allah ﷻ tidak terbatas. Allah memenangkan urusan-Nya dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Bentuk kemenangan kadang berupa mengalahkan dan menaklukkan musuh, seperti kemenangan Daud dan Sulaiman -'alaihimassalām- serta Nabi Muhammad ﷺ.
Dapat juga berupa siksaan terhadap orang-orang yang mendustakan di masa hidup para rasul, seperti kaum Nuh, kaum Lūṭ, kebinasaan Firaun, dan lainnya. Bisa juga setelah kematian mereka, seperti kemenangan Bukhtunasar atas para pembunuh Yahya -'alaihissalām- serta kemenangan Romawi atas orang-orang yang merencanakan pembunuhan Isa -'alaihissalām-.
Allah ﷻ berfirman, "Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat)." [QS. Gāfir: 51]
Jawaban yang Memuaskan ...
As-Suddiy berkata, "Dahulu, ada nabi-nabi dan orang-orang beriman dibunuh di dunia, tetapi mereka sebenarnya ditolong. Sebabnya adalah bahwa pihak yang melakukan hal itu pada nabi-nabi dan orang-orang beriman, ia tidak mati kecuali setelah Allah mengutus suatu kaum untuk membela mereka atas pihak pembunuh. Dengan ini, problem pada ayat ini telah hilang."
Adapun problem lain yang disebutkan oleh sebagian orang pada firman Allah ﷻ, "Allah tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan orang-orang beriman." [QS. An-Nisā`: 141]
Bila ini di akhirat, maka ayat ini tidak menyisakan problem.
Adapun bila di dunia, maka jawabannya ialah -sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh-, "Bila iman lemah, musuh mereka akan mendapatkan jalan untuk mengalahkan mereka sesuai tingkat iman mereka yang berkurang."
Orang beriman itu mulia dan menang, dibela dan dimenangkan: "Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat)." [QS. Gāfir: 51]
Apa yang dilihat oleh seorang muslim di zaman ini berupa penguasaan orang-orang kafir adalah disebabkan oleh perbuatan yang diada-adakan oleh umat Islam dalam agama mereka, berupa pengurangan ataupun penambahan. Jika mereka bertobat, iman mereka akan sempurna dan pertolongan untuk mereka akan datang dari Allah ﷻ: "(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya." [QS. Ar-Rūm: 6]
Tebusan pertolongan itu adalah iman, persiapan, dan sabar, karena Allah ﷻ berfirman, "Sungguh, merupakan hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman." [QS. Ar-Rūm: 47] Allah juga berfirman, "Persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki." [QS. Al-Anfāl: 60] Allah juga berfirman, "Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun." [QS. Āli 'Imrān: 120] Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "... sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran." [Hadis sahih; HR. Ahmad dalam Al-Musnad]
Pada saat itu, kemenangan akan turun dari Allah Yang Maha Pelindung lagi Maha Penolong; karena Allah ﷻ berfirman, "Tidak ada kemenangan itu selain dari Allah." [QS. Āli 'Imrān: 126] Allah juga berfirman, "Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu." [QS. Āli 'Imrān: 160]
Jika Allah ﷻ bersamamu, lantas siapa yang dapat mengalahkanmu?!
Tetapi jika Allah yang memusuhimu, siapa yang akan bersamamu?!
Siapa yang berlindung kepada Allah, Allah akan cukupkan kebutuhannya dan ia akan dimuliakan: "Berpegangteguhlah kepada Allah. Dialah pelindungmu. Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong." [QS. Al-Ḥajj: 78]
Orang beriman itu mencintai orang yang beriman serta menolongnya dari kejauhan dengan doa walaupun negeri mereka berjauhan dan dipisahkan oleh waktu yang panjang.
Ya Allah, wahai Yang Maha Penolong! Menangkanlah kami atas orang-orang yang kafir.
84
AL-WĀRIṠ ﷻ
Pernah dikatakan kepada seorang bijak, "Kenapa engkau selalu memakai tongkat, padahal engkau tidak tua ataupun sakit?" Ia menjawab, "Supaya aku selalu ingat bahwa aku ini seorang musafir."
Aku membawa tongkat, bukan karena kelemahan mengharuskanku membawanya,
bukan pula karena aku telah membungkuk sebab tua.
Akan tetapi, aku mengharuskan diri membawanya
untuk memberitahukannya, bahwa orang yang tinggal di dunia sedang safar.
Allah umumkan pada musafir, bahwa engkau tidak memiliki izin tinggal menetap di dunia ini, maka jangan terbuai padanya. Pengumuman itu ada dalam firman Allah ﷻ: "Sesungguhnya Kamilah yang mewarisi bumi dan semua yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami mereka dikembalikan." [QS. Maryam: 40]
Allah, Dialah Al-Wāriṡ -Tabāraka wa Ta'ālā-.
Kita berhenti sejenak bersama nama Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- "Al-Wāriṡ" -Tabāraka wa Ta'ālā-, untuk mengingatkan diri kita, semoga Allah merahmati kita.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, Kamilah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi." [QS. Al-Ḥijr: 23]
Tuhan kita ﷻ yang kekal setelah sirnanya semua makhluk, Yang Maha Mewarisi segala sesuatu setelah sirnanya semua yang ada di bumi dan langit yang berlapis-lapis.
Tuhan kita ﷻ Maha Mewarisi, tanpa seorang pun yang memberi-Nya warisan. Dia Mahakekal, tidak ada jasa siapa pun dalam kerajaan-Nya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sesungguhnya Kamilah yang mewarisi bumi dan semua yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami mereka dikembalikan." [QS. Maryam: 40]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- senantiasa sebagai pemilik pangkal segala sesuatu. Dia mewariskannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mendatangkan pengganti padanya siapa yang dikehendaki-Nya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah; diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” [QS. Al-A'rāf: 128]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang mewariskan negeri orang-orang kafir kepada orang-orang beriman di dunia ini serta tempat tinggal mereka kelak di akhirat.
Adapun di dunia, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Dia mewariskan kepadamu tanah-tanah, rumah-rumah, dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak." [QS. Al-Aḥzāb: 27] Adapun di akhirat, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa." [QS. Maryam: 63] Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman, "Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka, mengalir di bawah mereka sungai-sungai. Mereka berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami. Sesungguhnya rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran.' Diserukan kepada mereka, 'Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu karena apa yang telah kamu kerjakan.'” [QS. Al-A'rāf: 43]
Kitab Allah ﷻ adalah kitab petunjuk, kemuliaan dan kemenangan; Allah wariskan kepada orang-orang yang dipilih-Nya untuk kemuliaan-Nya. Dia berfirman, "Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar." [QS. Fāṭir: 32]
Kepemilikan Sejati ...
Status orang beriman sebagai khalifah di muka bumi dan sedang menuju kepada Tuhannya. Di antara bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepadanya adalah bahwasanya Allah memerintahkannya untuk menginfakkan sebagian yang Dia karuniakan kepadanya, padahal itu murni milik Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, lalu Allah menjanjikan untuknya pahala yang besar. Dia berfirman, "Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) maka bagi mereka pahala yang besar." [QS. Al-Ḥadīd: 7] Dia juga berfirman, "Mengapa kamu tidak menginfakkan hartamu di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi?" [QS. Al-Ḥadīd: 10] Kepemilikan yang sebenarnya ialah yang ditabung oleh hamba untuk hari akhirat.
Dalam Ṣaḥīḥ Muslim, Muṭarrif meriwayatkan dari ayahnya, Abdullah bin Asy-Syikhkhīr -raḍiyallāhu 'anhu-, ia meriwayatkan: Aku pernah datang menemui Nabi ﷺ ketika beliau membaca Surah "Alhākumut-Takāṡur", beliau bersabda, "Manusia berkata: Hartaku ... hartaku! Wahai anak Adam, hartamu hanyalah yang engkau makan lalu habis, atau yang engkau pakai lalu usang, atau engkau sedekahkan lalu berlalu."
Seorang mukmin tahu bahwa tangannya adalah tangan amanah; semua yang di bawah tangannya adalah titipan, dan Allah akan melihat bagaimana ia berbuat!
Harta dan keluarga tidak lain kecuali titipan,
dan titipan itu suatu hari harus dikembalikan.
Di Antara Pesan Doa ...
Kemudian ketahuilah bahwa bertawasul kepada Allah dengan nama ini termasuk dalam keumuman firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "Hanya milik Allahlah Al-Asmā` Al-Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.’" [QS. Al-A'rāf: 180] Apalagi dengan memperhatikan korelasi antara permintaan dan nama yang disebutkan, sebagaimana dalam doa Nabi Zakaria -'alaihissalām-: "Lalu (Ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, 'Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.'” [QS. Al-Anbiyā`: 89] Dia juga berkata sebagaimana dalam ayat: "Sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisiku dan mewarisi keluarga Yakub, dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridai.” [QS. Maryam: 5-6]
Warisan yang disebutkan di sini ialah warisan ilmu, kenabian, dan dakwah kepada Allah ﷻ, bukan warisan harta. Hal yang senada dengan warisan yang diberkahi ini adalah yang disebutkan dalam firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "Sulaiman telah mewarisi Daud." [QS. An-Naml: 16]
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ dalam hadis yang sahih bahwa beliau berdoa, "Ya Allah! Berikan kesehatan pada pendengaran dan penglihatanku hingga tua dan jadikanlah keduanya sebagai ahli warisku." [Hadis sahih; HR. Al-Ḥākim dalam Al-Mustadrak]
Para ulama memberikan faedah pada nama ini bahwa sepatutnya seorang hamba bertakwa kepada Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- terkait hak-hak warisan, dengan tidak menzalimi seorang pun di antara ahli waris.
Ya Allah! Kami memohon kepada-Mu dengan nama-Mu "Al-Wāriṡ", agar Engkau memberikan kesehatan pada pendengaran dan penglihatan kami, dan agar Engkau menjadikannya sebagai ahli waris kami.
85
ASY-SYĀFĪ ﷻ
Diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain bahwa Nabi ﷺ menjenguk seorang badui yang sakit sedang meringkuk karena demam tinggi. Lalu beliau mendoakannya -untuk menghibur dan memotivasinya-, "Semoga sakitmu menjadi penyuci (bagi dosa-dosa)."
Laki-laki badui itu lantas berkata, "Namun, ini adalah demam yang mendidih pada laki-laki yang sudah tua yang akan membawanya ke kubur!"
Beliau bersabda, "Ya, kalau begitu!"
Kesembuhan seseorang atau keberlanjutan sakitnya biasanya lahir dari dirinya sendiri. Kalau kita dikuasai pikiran-pikiran bahagia, kita menjadi bahagia. Kalau kita dikuasai oleh pikiran sembuh, optimis dan prasangka baik kepada Allah, kita menjadi sembuh dengan izin Allah. Namun, kalau kita dikalahkan oleh was-was sakit, maka biasanya kita hidup sakit-sakitan.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- membuka pintu harapan bagi setiap orang yang sakit. Dia berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu." [QS. Gāfir: 60] Dia juga berfirman, "Hanya milik Allahlah Al-Asmā` Al-Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.’" [QS. Al-A'rāf: 180]
Di antara nama Allah yang indah ialah Asy-Syāfī. Beribadahlah kepada Allah dengan nama ini, hingga engkau lebih dekat pada keinginanmu dan meraih kebutuhanmu.
Bila Nabi ﷺ menjenguk orang sakit atau dibawakan kepada beliau, beliau membaca, "Ażhibil-ba`sa, rabban-nās, isyfi wa anta asy-syāfī, lā syifā`a illā syifā`uka, syifā`an lā yugādiru saqaman" Artinya: "Hilangkanlah penyakit ini, wahai Tuhan manusia! Sembuhkanlah ia, karena Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tiada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit." [HR. Bukhari dan Muslim]
Asy-Syifā` secara bahasa artinya: sembuh dari sakit.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah yang mengangkat penyakit dan menyembuhkan orang yang sakit dengan sebab dan harapan. Orang yang sakit dapat sembuh sekalipun tanpa obat. Kadang penyakit hilang dengan merutinkan obat yang mendatangkan sebab kesembuhan. Keduanya sama jika ditinjau pada kuasa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Sebagaimana Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- menyembuhkan badan dari penyakit-penyakitnya, Dia juga menyembuhkan hati dari penyakit-penyakitnya, menyembuhkan dada dari kesempitannya, dan jiwa dari penyakitnya. Allah ﷻ berfirman, "Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur`an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman." [QS. Yūnus: 57]
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menyembuhkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menyembunyikan ilmu kesembuhan dari para dokter ketika tidak menakdirkan kesembuhan.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- saja yang dapat menyembuhkan, tidak ada sekutu bagi-Nya di hal ini. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan yang datang dari Allah, sebagaimana dikatakan oleh Ibrahim -'alaihissalām-, "Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku." [QS. Asy-Syu'arā`: 80] Juga sebagaimana doa Nabi ﷺ: "... tidak ada yang menyembuhkan kecuali Engkau." [HR. Bukhari]
Di antara bentuk kemurahan Allah Yang Maha Menyembuhkan adalah Dia tidak menurunkan penyakit kecuali juga menurunkan obatnya. Dalam hadis yang sahih, Nabi ﷺ bersabda, "Wahai hamba-hamba Allah, berobatlah! Sesungguhnya Allah ﷻ tidak menciptakan penyakit melainkan Dia juga menciptakan obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu pikun." [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Tempat Berlindungmu ...
Penyakit turun menimpa orang yang sakit, lalu pintu-pintu kesembuhan tertutup di hadapannya, bumi yang luas menjadi sempit, kesulitan semakin berat, dan ia tidak menemukan tempat meminta dan berlindung di kalangan makhluk, sedangkan lisan halnya berkata,
Aku telah dilumpuhkannya sementara ia rahasia, perubahan zaman tidak pernah
melumpuhkanku ketika ia menyerang.
Ketika aku menyandarkan kepala ke tanganku,
aku dilemparkannya dengan apa yang melemahkan tangan itu.
Ketika malam kalah bersaing dengan pagi,
ia berharap, andai pagi berubah gelap.
Pada saat itu, panggilan fitrah dalam jiwa membawa orang yang sakit berlindung kepada Allah dan mengadu iba di hadapan-Nya: "Kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan." [QS. An-Naḥl: 53] Orang yang beriman akan menyeru dengan nama "Asy-Syāfī": Ya Syāfī, sembuhkanlah aku ... Ya Allah, sembuhkanlah aku!
Demikian juga selain orang beriman, ia akan mengadu iba di pintu-Nya karena mengharapkan kesembuhan dari-Nya: "Apabila manusia ditimpa bencana maka dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami memberikan nikmat Kami kepadanya dia berkata, 'Sesungguhnya aku diberi nikmat ini karena hanyalah kepintaranku.' Sebenarnya, itu adalah ujian, tetapi kabanyakan mereka tidak mengetahui." [QS. Az-Zumar: 49]
Setelah meminta tiada henti dan penuh sabar, pertolongan pun datang dan Asy-Syāfī ﷻ memperkenankan kesembuhannya: "Bukankah Dia yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan?!" [QS. An-Naml: 62]
Pemberian-Nya mengalir, karunia-Nya besar, kedermawanan-Nya agung; tiba-tiba kebutuhan telah ditunaikan, doa dikabulkan, rahmat turun, ujian disingkirkan, dan kesembuhan datang merayap.
Betapa banyak orang sakit yang divonis oleh dokter ... dan bersedih meratapi dirinya.
Lalu sang dokter mati sementara yang sakit masih hidup, lantas ia keluar menemui manusia mengumumkan kematian sang dokter.
Ibnul-Qayyim berkata, "Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- tidak menguji hamba-Nya untuk membinasakannya. Akan tetapi, Dia mengujinya untuk menguji kesabaran dan ibadahnya, karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memiliki hak atas hamba agar ia tetap beribadah pada-Nya ketika mendapat ujian."
Kebiasaan Orang-orang Saleh ...
Perbedaan antara orang yang beriman dan selainnya ialah orang beriman tahu bahwa kendali alam ada di tangan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-; bahwa Allah Yang Maha Menyembuhkan lagi Maha Penyayang di antara yang penyayang, dan bahwa penyakit itu tidak dikirim kecuali untuk kebaikan yang diketahui oleh Allah Yang Maha Penyayang: "Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagi kamu." [QS. Al-Baqarah: 216] Berbagai peristiwa kekacauan dan kondisi yang tak menentu, tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak dari Allah Yang Mahatinggi: "Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti." [QS. Yūsuf: 21] Engkau akan temukan orang beriman yang sakit bersikap rida, ikhlas, dan mengharapkan pahala pada penyakit yang menimpanya.
Orang beriman mengetahui bahwa apa yang ditetapkan menimpanya tidak mungkin meleset, dan sebaliknya ditetapkan tidak akan menimpanya maka itu tidak akan menimpanya. Ini berdasarkan firman Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-: "Katakanlah (Muhammad), 'Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami.'" [QS. At-Taubah: 51] Juga berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "... Seandainya kamu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, Allah tidak akan menerimanya darimu sampai kamu beriman kepada takdir dan meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan mengenai dirimu pasti tidak akan meleset, dan apa yang telah ditakdirkan tidak mengenai dirimu pasti tidak akan menimpamu. Jika kamu mati tidak dalam keyakinan seperti ini, pasti kamu masuk neraka." [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Ali bin Abi Ṭālib pernah melewati 'Adiy bin Ḥātim -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia mendapatinya sedang sedih, sehingga ia bertanya kepadanya, "Wahai 'Adiy! Mengapa aku melihatmu bersedih?"
'Adiy menjawab, "Bagaimana tidak membuatku bersedih, anak-anakku terbunuh dan mataku buta?"
Ali -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Wahai 'Adiy! Siapa yang rida dengan ketetapan Allah, ketetapan itu berlaku padanya dan baginya pahala. Siapa yang tidak rida dengan ketetapan Allah, ketetapan itu tetap berlaku padanya dan amalnya gugur."
Ulama mengatakan bahwa sesuai tingkat bergantung seseorang pada Allah, perendahan diri di hadapan-Nya dan kembali kepada-Nya, seperti itulah pengabulan akan ada, pertolongan datang dan doa dikabulkan.
Semua kita pasti pernah ditimpa penyakit. Penyakit itu menyingkap kelemahan kita sekaligus menegaskan bahwa kita tidak memiliki upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-. Namun setelah penyakit itu hilang dan sembuh, keadaan kita berubah sebagaimana yang dikatakan oleh penyair,
Kita berdoa kepada Allah di setiap kesulitan ... kemudian kita melupakan-Nya setelah kesulitan itu diangkat.
Bagaimana kita mengharapkan pengabulan doa yang telah kita tutup aksesnya dengan dosa.
Keadaan kita bersama Allah ﷻ sungguh menakjubkan!!
Jangan Bersedih!
Jika engkau diuji dengan penyakti, ketahuilah bahwa Allahlah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada sesuatu pun yang membuat-Nya lemah. Jika engkau menyangka sakitmu tidak memiliki obat, engkau telah berburuk sangka pada Allah! Cukup engkau datang kepada-Nya dengan prasangka baik dan doa yang tulus, serta bersabarlah karena mengharapkan pahala, serta ulang-ulangilah doa: Ya Syāfi, sembuhkanlah aku! Dialah Yang Mahabenar, firman-Nya benar, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu: "Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'" [QS. Gāfir: 60]
Diriwayatkan dalam hadis dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Sungguh Allah Mahamalu dan Mahadermawan. Dia malu kepada hamba-Nya jika dia mengangkat tangan kepada-Nya untuk mengembalikannya dalam keadaan kosong.” [Hadis sahih; HR. Tirmizi] Allah ﷻ berfirman, "Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan?!" [QS. An-Naml: 62]
Ketika engkau dalam keadaan seperti itu, sungguh Tuhanmu hendak menganugerahimu pahala yang besar. Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim, kecuali dengan sebab itu Allah menghapuskan dosa-dosanya walaupun hanya berupa duri yang menusuknya." [HR. Bukhari -redaksi ini miliknya- dan Muslim]
Ibnu Taimiyah -raḥimahullāh- berkata, "Allah menyiapkan berbagai kedudukan tinggi di dalam surga yang tidak akan diraih kecuali oleh orang yang diuji."
Terhiburlah orang yang diuji; di setiap rumah ada yang meratap, di setiap pipi ada air mata, dan di setiap lembah ada Bani Sa'ad.
Berapa banyak ujian dan berapa orang yang bersabar?!
Bukan engkau sendiri yang diuji, bahkan ujianmu dibandingkan yang lain masih sedikit.
Betapa banyak orang sakit terbaring di atas pembaringannya sejak bertahun-tahun! Ia berbolak balik ke kanan dan ke kiri, merintih karena rasa sakit dan berteriak akibat sakit.
Ingatlah bahwa kehidupan ini penjara bagi orang beriman dan rumah yang penuh kesedihan dan ujian. Di pagi hari istana-istana masih penuh dengan penghuninya, namun di sore hari telah runtuh seketika: "Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." [QS. Al-Balad: 4]
Terimalah duniamu apa adanya dan doronglah jiwamu untuk beradaptasi dengannya; karena dunia ini diciptakan di atas kesusahan, dan kesempurnaan itu bukan karakternya.
Kalaulah bukan karena pahitnya sakit, engkau tidak akan pernah mengerti nikmatnya sehat.
Bagimu pada kisah Ayub -'alaihissalām- terdapat teladan yang bagus.
Seorang mukmin akan meminta keafiatan kepada Allah secara kontinu. Abdullah At-Taimiy -raḥimahullāh- berkata, "Perbanyaklah meminta keafiatan kepada Allah karena orang yang tertimpa ujian, seberat apa pun ujiannya, tidaklah lebih patut berdoa dari orang sehat yang tidak aman dari ujian.
Tidaklah orang-orang yang diuji hari ini melainkan kemarin termasuk orang yang berada dalam keafiatan. Tidaklah orang-orang yang diuji setelah hari ini melainkan orang yang hari ini termasuk dalam keafiatan."
Imam Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Di antara pengobatan sakit yang paling besar ialah mengerjakan kebaikan, berbuat baik, zikir, berdoa kepada Allah dan bertobat."
Katakan kepada dokter saat dicabut nyawanya oleh tangan kematian ... Siapakah, wahai dokter, yang membunuhmu dengan ilmu dokternya?
Katakan pada orang sakit yang sembuh dan sehat setelah berbagai disiplin kedokteran menyerah: Siapa yang menyembuhkanmu?
Sungguh, Dialah Yang Maha Penyayang lagi Maha Menyembuhkan. "Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku." [QS. Asy-Syu'arā`: 80]
Ya Allah, wahai Yang Maha Menyembuhkan! Sembuhkanlah kami dan sembuhkanlah semua kaum muslimin yang sakit, wahai Tuhan alam semesta!
86
AL-JAMĪL ﷻ
Diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ Muslim dari Ṣuhaib -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, 'Apakah kalian menginginkan sesuatu untuk Aku tambahkan bagi kalian?' Lantas mereka menjawab, 'Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?' Kemudian Allah membuka hijab, maka tidaklah mereka diberi sesuatu yang lebih mereka sukai daripada kenikmatan melihat Tuhan mereka ﷻ."
Mahasuci Tuhan yang membuat seluruh akal takjub pada keindahan-Nya.
Mahasuci Tuhan yang membuat pemahaman tak sanggup menggapai ketinggian keagungan-Nya.
Mahasuci Tuhan yang membuat pikiran kagum karena cahaya-Nya.
Allah Mahaindah, cinta pada keindahan. Bahkan, Dialah keindahan itu seluruhnya, dan keindahan seluruhnya berasal dari-Nya; Dia mengerjakan perbuatan baik dan memberikan balasan untuk perbuatan baik.
Dialah Yang Mahaindah yang sejati; bagaimana tidak?!
Keindahan semua alam ini
sebagian dari jejak Yang Mahaindah. Maka, Tuhannya
lebih utama dan lebih patut, menurut orang yang memiliki pengetahuan.
Lisan Tak Mampu Menjelaskan!!
Dalam Ṣaḥīḥ Muslim, disebutkan sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan."
Syekh As-Sa'diy -raḥimahullāh-berkata dalam menjelaskan bait-bait Nūniyah Ibnil-Qayyim, "Al-Jamīl artinya yang memiliki sifat-sifat keindahan dan kebaikan. Sungguh Allah itu indah pada zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Makhluk tidak mampu untuk mengungkapkan sebagian keindahan zat Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Sampai pun penduduk surga, bersama kenikmatan abadi, kebahagiaan dan kesenangan tidak terukur yang mereka dapatkan, manakala mereka melihat Tuhan mereka dan menikmati keindahan-Nya, mereka langsung lupa dengan kenikmatan yang sedang mereka nikmati, kesenangan mereka lenyap, dan mereka berharap bila keadaan itu berlanjut selamanya untuk mendapatkan keindahan dan cahaya-Nya sebagai tambahan keindahan pada keindahan mereka; karena hati mereka ada pada kerinduan terus-menerus untuk melihat Tuhan mereka, dan mereka bergembira dengan hari tambahan dengan kegembiraan yang hampir menerbangkan hati!
Demikian juga Dia Mahaindah pada nama-nama-Nya. Seluruh nama-nama-Nya indah, bahkan nama paling indah secara mutlak: "Hanya milik Allahlah Al-Asmā` Al-Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.’" [QS. Al-A'rāf: 180]
Seluruhnya menunjukkan puncak pujian dan kesempurnaan; tidak dinamakan dengan nama yang terbagi menjadi kesempurnaan dan bukan kesempurnaan.
Dia Mahaindah dalam sifat-sifat-Nya. Seluruh sifat-Nya adalah sifat-sifat kesempurnaan dan pujian.
Seluruh perbuatan-Nya indah; berputar antara perbuatan kebajikan dan kebaikan yang patut dipuji dan disanjung."
Seandainya pohon-pohon sebagai pena, lautan sebagai tinta, langit-langit sebagai lembaran, lalu makhluk membacakan dan menuliskan pujian tentang keindahan Allah, niscaya mereka tak akan optimal dalam memenuhi hak pujian terhadap-Nya, tetap memiliki kekurangan dalam menjalankan kewajiban memuji-Nya, dan akan mengakui ketidakmampuan dalam menghaturkan syukur terhadap-Nya.
Keindahan-Nya tidak mampu dikuasai akal dan tidak dijangkau penglihatan; sebagaimana disabdakan oleh Nabi ﷺ: "Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu. Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada diri-Mu sendiri." [HR. Muslim]
Keindahan Alam ...
Semua yang ada di alam berupa daratan, lautan, matahari, bulan, bintang, dan makhluk adalah bukti keindahan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Dialah yang memberikan keindahan, dan pemberi keindahan lebih patut menyandang keindahan itu: "Mahasuci Allah, pencipta yang paling baik." [QS. Al-Mu`minūn: 14]
Keindahan tersebut tidak akan terlihat kecuali orang yang Allah terangi hatinya dengan iman. Dialah yang dapat melihat di balik keindahan tersebut ada keindahan, kemuliaan dan kesempurnaan Allah ﷻ.
Sedangkan orang yang berpaling dari kitab Allah, menolak cahaya-Nya dan membangkang terhadap petunjuk-Nya, ia akan terhalangi dari melihat keindahan-Nya karena matanya telah buta dan penglihatannya dicabut!
Wahai orang yang mengadu, padahal tidak ada penyakit pada dirimu ... bagaimana engkau berlari dalam kondisi sakit. Bagaimana engkau dapat melihat duri di mawar ... sedang engkau tidak melihat mahkota bunga yang di atasnya ada embun.
Orang yang jiwanya tidak indah ... tidak akan melihat sesuatu yang indah pada wujud.
Rindu ...
Iman kepada nama ini akan menambah keimanan dan kerinduan orang beriman untuk melihat Allah Yang Mahaindah. Di antara doa Nabi ﷺ: "Aku memohon kenikmatan melihat wajah-Mu dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu ..." [Hadis sahih; HR. Tirmizi] Kemudian, engkau mendapatinya tenang penuh rida dengan apa yang Allah ﷻ takdirkan padanya, karena Allah tidak melakukan kecuali sesuatu yang mengandung hikmah dan kebaikan bagi hamba-Nya yang beriman, sebab semua perbuatan-Nya indah dan tidak akan lahir dari perbuatan yang indah kecuali sesuatu yang indah. Inilah husnuzan pada Allah. Nabi ﷺ meriwayatkan dalam hadis qudsi di dalam Musnad Imam Aḥmad bahwa Rabbul-'Izzah berfirman, "Aku tergantung prasangka hamba-Ku pada-Ku. Jika ia berprasangka baik pada-Ku, maka itu untuknya. Jika ia berprasangka buruk, maka itu pula untuknya." [Hadis sahih]
Sungguh, kuberdoa pada Allah hingga seakan
aku melihat dengan prasangka baik apa yang Allah akan perbuat.
Jangan ingkari sesuatu yang indah!
Engkau melihat seorang mukmin begitu indah secara lahir dan batin karena dengan keindahan itu ia mendekatkan diri kepada Allah. Juga, karena Allah menganjurkan ucapan, akhlak dan perbuatan yang indah. Allah suka pada hamba-Nya yang menghiasi lisannya dengan kejujuran, hatinya dengan ikhlas, tobat dan tawakal, anggota tubuhnya dengan ketaatan, serta badannya dengan menampakkan nikmat-nikmat-Nya pada pakaian dan bersucinya.
Seorang mukmin mengenal Tuhannya dengan keindahan yang merupakan sifat-Nya dan beribadah kepada-Nya dengan kemuliaan yang merupakan syariat dan agama-Nya.
Tatkala Nabi ﷺ bersabda kepada sahabat-sahabatnya, "Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong walaupun sebesar biji sawi", seorang laki-laki bertanya, "Sesungguhnya ada orang yang senang jika pakaiannya bagus dan sandalnya pun bagus."
Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia." [HR. Muslim]
Ya Allah! Anugerahilah kami keindahan di dunia dan akhirat. Anugerahilah kami keindahan ketika sendiri dan di depan umum. Anugerahilah kami keindahan dalam ucapan dan perbuatan. Ya Rabbal-'Ālamīn!
87-88
AL-QĀBIḌ AL-BĀSIṬﷻ
Pesan Pembuka
Kepada orang yang menempuh semua jalan, namun ia mendapati semuanya benar-benar ditutup, ia pun mengetuk semua pintu, tetapi ia mendapatinya benar-benar dikunci ...
Kepada orang yang mengorek sisi pribadi dan rahasianya, ternyata bumi yang luas menjadi sempit baginya ...
Kepada orang yang merasakan pahitnya kehinaan serta rantai ketidakmampuan melindasnya dan menghancurkan wujudnya ...
Kepada orang yang dijauhi saudara dan ditinggalkan teman sehingga musuh senang dan kepercayaan diri runtuh ...
Kepada orang yang dilabrak oleh berbagai musibah, diserang berbagai kesulitan, dan dirundung berbagai hal tidak menyenangkan, sementara pertolongan lambat datang kepadanya ...
Kepada orang yang hatinya keras, jiwanya putus asa, dan ia bosan terhadap kehidupan ...
Kepada orang yang tersiksa oleh penyakit, terbebani hutang, terjatuh miskin, atau tersandung kebutuhan ...
Saya katakan untuknya: Jangan bersedih! Ada Allah Al-Qābiḍ (Maha Menggenggam dan Menyempitkan) dan Al-Bāsiṭ (Maha Membentangkan dan Melapangkan). Dia yang mencukupkanmu dalam semua kesusahanmu, menjagamu dalam berbagai krisis, memeliharamu dalam bencana, memberimu kemuliaan tanpa keluarga serta kekayaan tanpa harta, memberimu tambahan bila engkau mensyukuri-Nya, menyebutmu ketika engkau menyebut-Nya, dan memberimu ketika engkau meminta kepada-Nya.
Datanglah dan mendekatlah kepada-Nya dengan mempelajari kedua nama-Nya, Al-Qābiḍ Al-Bāsiṭ, yang merupakan dua nama yang selalu bergandengan. Keduanya termasuk nama yang saling berhadapan yang tidak patut Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dipuji dengan salah satunya tanpa disertai yang lain.
Supaya jiwamu tenang dan dadamu lapang, ucapkanlah sebagaimana Sang Kekasih ﷺ berucap: "Ya Allah! Hanya milik-Mu segala pujian.
Ya Allah! Tidak ada yang dapat menyempitkan apa yang Engkau lapangkan, tidak pula melapangkan apa yang Engkau sempitkan. Tidak ada yang dapat mendekatkan apa yang Engkau jauhkan, tidak pula menjauhkan apa yang Engkau dekatkan. Tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan, tidak juga menahan apa yang Engkau berikan.
Ya Allah! Bukakankan untuk kami sebagian dari keberkahan-Mu, rahmat-Mu, karunia-Mu dan rezeki-Mu." [Hadis sahih; HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad]
Di Bawah Naungan Nama Al-Qābiḍ dan Al-Bāsiṭ
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-Nya hingga tidak tersisa satu kebutuhan pun. Dia juga menahannya dari siapa yang dikehendaki-Nya hingga tidak tersisa satu kekuatan pun. Semua itu dengan kuasa dan keadilan yang sempurna, sesuai dengan yang diinginkan oleh hikmah-Nya dan yang sejalan dengan keadaan hamba-hamba-Nya. Ketika Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memberikannya tambahan, Dia menambahnya bukan sebagai keborosan maupun kebodohan. Pun ketika Allah mengurangi, Dia tidak menguranginya karena kekurangan maupun pelit. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah berfirman, "Sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 27]
Di dalam suatu hadis disebutkan bahwa tatkala harga-harga naik di zaman Rasulullah ﷺ, para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- meminta agar Rasulullah ﷺ mematok harga. Mereka berkata, "Wahai Rasulullah! Harga naik. Buatkanlah kami patokan harga." Beliau bersabda, "Sungguh Allahlah yang menentukan harga, yang menahan, yang melapangkan, dan yang memberi rezeki." [Hadis sahih; HR. Ibnu Majah]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengambil sedekah dari orang-orang kaya dan menghamparkan rezeki bagi orang-orang lemah. Allah mengambil sedekah lalu mengembangkannya, serta menghamparkan nikmat dan menyiapkannya.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- mencabut roh dari jasad ketika kematian dan menghamparkan roh pada jasad itu ketika hidup.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- menggenggam hati lalu menyempitkannya hingga ia susah bernapas seolah-olah sedang naik ke langit. Allah juga melepaskannya bersama kebajikan, kebaikan dan keindahan-Nya sehingga hati tetap lapang. Allah ﷻ berfirman, "Barang siapa yang dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Sebaliknya, barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." [QS. Al-An'ām: 125]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- menggenggam dan melepas dengan kedua tangan-Nya yang mulia -menurut hakikatnya dan menurut kaifiat yang pantas dengan kemuliaan dan kesempurnaan-Nya- bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara makhluk, di antaranya bumi dan langit-langit yang tinggi.
Allah ﷻ berfirman, "Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya." [QS. Az-Zumar: 67] Dalam hadis yang sahih, Nabi ﷺ bersabda, "Allah ﷻ mengambil langit dan bumi-Nya dengan kedua tangan-Nya lalu berfirman, 'Akulah Allah -seraya menggenggam jari-jari-Nya dan membukanya-, Akulah Yang Maharaja.'" [HR. Muslim]
Allah ﷻ membentangkan tangan-Nya untuk menerima tobat orang yang berbuat dosa, sebagaimana dalam hadis sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada waktu malam agar bertobat orang yang berbuat dosa di waktu siang, dan Allah membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar bertobat orang yang berbuat dosa di waktu malam, hingga matahari terbit dari arah terbenamnya." [HR. Muslim]
Dialah -Tabāraka wa Ta'ālā- yang memberikan uluran waktu bagi pelaku maksiat lalu menjadikan hati mereka antara rasa takut dan harap.
Tuhan kita membuka kedua tangan-Nya bagi siapa yang meminta dan berdoa kepada-Nya di setiap malam; sebagaimana dalam hadis sahih, Nabi ﷺ bersabda, "Kemudian Allah membuka tangan-Nya -Tabāraka wa Ta'ālā- seraya berfirman, 'Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Tuhan yang tidak fakir dan tidak pula zalim?'" [HR. Muslim]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- melebihkan siapa yang dikehendaki-Nya dalam ilmu dan ciptaan; Dia berfirman, "Dia memberinya kelebihan ilmu dan fisik." [QS. Al-Baqarah: 247]
Allah menggenggam dengan tangan-Nya yang mulia lalu membebaskan sekelompok orang yang tidak pernah sama sekali berbuat kebaikan dari api neraka; sebagaimana disebutkan dalam hadis yang panjang: "Lalu Allah mengambil satu genggaman dari neraka lalu mengeluarkan sekelompok orang yang tidak pernah berbuat kebaikan sama sekali." [HR. Muslim]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengambil dan melepas bayangan dan cahaya serta yang lahir dari itu berupa pergantian malam dan siang.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menahan melalui pengharaman dan melapangankan melalui pemberian izin (pembolehan).
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- menggenggam hati hamba dan melepasnya, sehingga orang beriman hidup di antara rasa harap dan takut.
Dia yang menggenggam, Dia yang melapangkan, Dia yang menurunkan,
Dia pula yang mengangkat dengan keadilan dan timbangan.
Timbangan
Ketika seorang hamba berjalan menuju Tuhannya dengan ketaatan, berpindah-pindah antara amalan fardu dan sunah, terus menambah keduanya, sedang hatinya bergantung pada Tuhannya, maka engkau akan melihat dadanya lapang dan bahagia. Allah telah melapangkan keadaan tersebut untuknya. Sementara ketika seorang hamba yang beriman melakukan suatu kemaksiatan, engkau melihatnya gundah dan sedih.
Rasa gundah tersebut adalah bentuk penggenggaman dari Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- dan merupakan ujian cepat yang akan mengantarkan pada kebaikan-Nya: "Dan juga terhadap tiga orang yang ditinggalkan, hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." [QS. At-Taubah: 118]
Perasaan lapang dan semangat untuk datang kepada Allah, itulah pelapangan. Ini berasal dari Al-Bāsiṭ -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Sedangkan perasaan sempit dan malas melakukan ketaatan atau tidak menikmati ketaatan, itulah penggenggaman. Ini berasal dari Al-Qābiḍ -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Terkadang ia dicengkeram oleh dosa, baik yang tampak ataupun tersembunyi, seperti penyakit-penyakit hati.
Nabi ﷺ bersabda, "Ketika seorang hamba berbuat dosa maka itu akan menyisakan noktah hitam di hatinya. Jika ia bertobat, hatinya dibersihkan dari noktah hitam itu. Namun jika ia kembali, maka noktah hitam itu kembali lagi hingga semakin besar di hatinya. Itulah rānn (penutup hati) yang Allah sebutkan: "Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka." [QS. Al-Muṭaffifīn: 14] [HR. Ibnu Ḥibbān dan dinyatakan sahih oleh Syu'aib Al-Arnā`ūṭ]
Keadaan orang beriman antara "digenggam" dan "dilepas". Oleh karena itu, ia akan selalu memohon keteguhan dan husnulkhatimah kepada Allah. Di antara doa Nabi ﷺ: "Wahai Tuhan yang membolak-balik hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." [Hadis sahih; HR. Tirmizi] Inilah keadaan orang beriman bersama Tuhannya. Lalu bagaimana keadaan orang yang terus-menerus di atas kemaksiatan?!
Pelapangan yang Paling Besar
Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa bentuk pelapangan yang paling besar ialah pelapangan rahmat pada hati, sehingga ia mendapatkan cahaya dan keluar dari kotoran dosa. "Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)?" [QS. Az-Zumar: 22] "Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam." [QS. Al-An'ām: 125]
Kebalikannya ialah yang disebutkan dalam firman-Nya: "Sebaliknya, barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit." [QS. Al-An'ām: 125]
Manakala Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Katakanlah, 'Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki), tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui'" [QS. Saba`: 36]; Juga berfirman, "Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Sungguh, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya" [QS. Al-Isrā`: 30]; Allah mengabarkan bahwa menyempitkan dan melapangkan ada di tangan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- dengan pengaturan-Nya. Allah melapangkan dan menyempitkan harta, keafiatan, umur ataupun ilmu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Apa yang engkau lihat berupa dibukakannya bagi musuh-musuh Allah, itu bukan pelapangan, melainkan makar dan istidrāj bagi mereka.
Orang beriman kadang dihalangi dari sesuatu, tetapi baginya itu adalah suatu karunia. Kadang ia diberikan karunia, tetapi baginya itu adalah ujian: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kamu. Sebaliknya, boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagi kamu." [QS. Al-Baqarah: 216]
Pengingat ...
Sekalipun Allah ﷻ yang membatasi dan yang melapangkan, yang menurunkan dan yang mengangkat -secara takdir-, hal ini tidak menafikan bahwa perkara-perkara tersebut terjadi dengan sebab dari para hamba. Ketika mereka melakukan sebabnya, maka perkara tersebut mereka dapatkan. Kedua perkara ini telah digabungkan dalam sabda Nabi ﷺ: "Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." [HR. Bukhari dan Muslim]
Pelapangan rezeki ada di tangan Allah, sedangkan silaturahmi adalah sebab yang dapat diusahakan oleh hamba.
Bisikan ...
Siapa yang Allah anugerahi kelebihan harta, ilmu, fisik, ataupun kedudukan, hendaklah ia mendekatkan diri kepada Allah dengan berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya, sebagaimana Dia telah berbuat kebaikan kepadanya. Ini termasuk bentuk syukur kepada Tuhan yang memberi karunia dan dengannya karunia akan berkelanjutan. Bagi siapa yang tidak memiliki kelebihan itu, hendaklah ia memperlakukan manusia dengan akhlak yang baik: "Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." [QS. Āli 'Imrān: 134]
Ya Allah, wahai Yang Maha Membatasi, wahai Yang Maha Melapangkan! Lapangkanlah untuk kami sebagian rahmat-Mu dan palingkanlah dari kami keburukan makhluk-Mu.
Ya Allah! Bukakankan bagi kami sebagian dari keberkahan-Mu, rahmat-Mu, karunia-Mu dan rezeki-Mu."
89-90
AL-MUQADDIM AL-MU`AKHKHIR ﷻ
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Seorang hamba terus bergerak, tidak diam; entah ke atas atau ke bawah, atau ke depan atau ke belakang.
Di alam ini ataupun di dalam syariat, tidak ada yang namanya berdiam secara stagnan. Yang ada hanyalah tahapan-tahapan kehidupan yang dilipat sangat cepat menuju surga atau neraka. Sehingga ada yang cepat dan ada yang lambat, ada yang maju dan ada yang mundur.
Tidak ada orang yang diam, selamanya. Mereka hanya berbeda arah gerak, juga kecepatan dan kelambanan: "Sesungguhnya (Saqar itu) adalah salah satu (bencana) yang sangat besar, sebagai peringatan bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang ingin maju atau mundur." [QS. Al-Muddaṡṡir: 35-37] Di sini tidak ada penyebutan "yang diam", karena tidak ada tempat antara surga dan neraka, dan tidak ada jalan untuk orang yang berjalan ke selain dua tempat itu.
Siapa yang tidak maju menuju amal saleh, berarti ia mundur menuju amal buruk."
Maju dan mundur di tangan Allah ﷻ sehingga di antara nama Allah yang indah ialah: Al-Muqaddim (Yang Maha Mendahulukan) dan Al-Mu`akhkhir (Yang Maha Mengakhirkan).
Diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwa di antara doa Rasul ﷺ ketika bangun di malam hari adalah: "Ampunilah aku pada dosa yang telah aku lakukan dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan. Engkaulah Yang Maha Mendahulukan dan Engkau pulalah Yang Maha Mengakhirkan. Tidak ada tuhan yang hak kecuali Engkau."
Tuhan kita adalah Yang Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan ﷻ. Dialah yang menempatkan sesuatu pada tempatnya; mendahulukan apa yang dikehendaki-Nya dan mengakhirkan apa yang dikehendaki-Nya.
Dia mendahulukan ketetapan takdir sebelum menciptakan makhluk.
Dia mendahulukan siapa yang disukai-Nya di antara wali-wali-Nya di atas selain mereka di antara hamba-hamba-Nya, dan mengangkat sebagian makhluk di atas sebagian makhluk lainnya beberapa derajat.
Dia mengedepankan siapa yang dikehendaki-Nya pada kedudukan orang-orang yang utama. Dia juga membelakangkan siapa yang dikehendaki-Nya dari kedudukan mereka. Dia mengakhirkan sesuatu dari waktu yang diperkirakan karena Dia mengetahui hikmah di belakangnya. Tidak ada yang dapat memajukan apa yang diakhirkan-Nya dan tidak ada yang dapat mengakhirkan apa yang dimajukan-Nya.
Tuhan kita ﷻ mendahulukan siapa yang dikehendaki-Nya di antara makhluk kepada rahmat-Nya dengan taufik-Nya, dan mengakhirkan siapa yang dikehendaki dari rahmat-Nya untuk menghinakannya.
Menggabungkan antara kedua nama itu mengandung adab dan tambahan yang bagus, karena kesempurnaan ada pada kebersamaannya.
Dialah Al-Muqaddim dan Al-Mu`akhkhir ... keduanya termasuk sifat fi'liyah.
Keduanya juga sifat zatiyah, karena keduanya melekat dengan zat-Nya, bukan yang lain.
Mendahulukan dan Mengakhirkan ...
Ia terbagi menjadi dua: secara kauni dan secara syariat.
Contoh yang bersifat kauni (takdir): Allah ﷻ mendahulukan sebagian makhluk-Nya atas sebagian yang lain dalam penciptaan; sebagaimana di dalam hadis: "Sesungguhnya makhluk pertama kali yang diciptakan Allah adalah Qalam (pena)." [Hadis sahih; HR. Abu Daud] Allah juga menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, Allah mendahulukan penciptaan malaikat atas penciptaan jin dan manusia, dan mendahulukan penciptaan jin atas penciptaan manusia: "Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." [QS. Al-Ḥijr: 27] Manusia yang paling pertama diciptakan ialah Adam -'alaihissalām-, kemudian anak-anaknya diciptakan susul menyusul, sebagian mereka didahulukan dan sebagian lainnya diakhirkan.
Ini tidak mengharuskan bahwa yang lebih dahulu lebih utama dari yang belakangan. Adam diciptakan pada hari terakhir di antara keenam hari masa penciptaan, namun dia dan anak keturunannya memiliki kelebihan atas banyak makhluk yang diciptakan lebih awal: "Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak keturunan Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." [QS. Al-Isrā`: 70]
Muhammad ﷺ adalah rasul terakhir, tetapi beliau rasul yang paling utama. Demikian juga umat beliau umat yang paling terakhir, tetapi mereka umat yang paling utama.
Bisa saja yang lebih dahulu lebih utama dari yang lebih belakang; seperti Ibrahim -'alaihissalām-, bapak para nabi. Ia lebih utama dari semua nabi dan rasul setelahnya dengan pengecualian nabi kita Muhammad ﷺ.
Adapun mendahulukan dan mengakhirkan hal yang bersifat syariat dan agama, misalnya Allah mendahulukan azan atas salat dan mendahulukan khotbah atas salat Jum'at. Ibadah-ibadah juga memiliki urutan yang khusus di dalam syarat-syarat dan wajib-wajib, terkadang ibadah tersebut tidak sah tanpa urutan tersebut.
Termasuk mendahulukan (mengedepankan) yang bersifat syariat dan agama ialah mengedepankan sebagian ibadah atas ibadah lainnya serta sebagian hamba atas hamba lainnya. Ibadah fardu lebih dicintai oleh Allah daripada ibadah sunah. Sedangkan manusia yang paling utama ialah para nabi dan rasul, dan mereka pun bertingkat-tingkat di antara mereka. Selain nabi dan rasul pun demikian; sebagiannya dikedepankan dan sebagian lainnya dikebelakangkan.
Ketika seorang yang beriman mengetahui bahwa Allahlah Yang Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan ﷻ, hatinya akan bergantung hanya kepada Allah saja, ia meminta keimanan dan keteguhan pada-Nya serta bertawakal kepada-Nya, karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- itu tidak ada yang dapat mendahulukan apa yang diakhirkan-Nya, dan tidak ada yang dapat mengakhirkan apa yang didahulukan-Nya.
Kemajuan Sejati
Kemajuan yang sebenarnya dan yang berguna ialah kemajuan dalam ketaatan kepada Allah ﷻ, surga dan keridaan-Nya. Sedangkan mundur dari itu adalah kemunduran yang tercela karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa." [QS. Āli 'Imrān: 133] Dia juga berfirman, "Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi." [QS. Al-Ḥadīd: 21]
Telah sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Majulah dan ikutilah aku, kemudian hendaklah yang di belakang mengikuti kalian. Suatu kaum akan senantiasa mundur ke belakang hingga Allah menjadkan mereka di belakang." [HR. Muslim]
Adapun maju dan mundur dalam urusan dunia, bukan menjadi ukuran di sisi Allah ﷻ dan tidak berguna.
Di samping itu, salah satu bukti iman ialah mengedepankan siapa yang dikedepankan oleh Allah ﷻ dan mengakhirkan siapa yang diakhirkan oleh-Nya. Itulah yang menjadi neraca dalam mengedepankan dan mengakhirkan, cinta dan benci, loyal dan antipati. Itulah neraca Allah ﷻ. Dia berfirman, "Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu." [QS. Al-Jāṡiyah: 21]
Ya Allah! Wahai Yang Maha Mengedepankan dan Yang Maha Mengakhirkan! Kami memohon kepada-Mu agar Engkau mengampuni kami, memasukkan kami ke dalam surga-Mu, dan melindungi kami dari api neraka-Mu.
91
AL-ḤAYIYYU ﷻ
Rasulullah ﷺ melihat seorang laki-laki mandi di barāz -yaitu tanah lapang yang luas- tanpa pakaian, maka Nabi ﷺ tidak menyukai perbuatannya itu. Beliau lalu naik mimbar seraya memuji Allah kemudian bersabda, "Sungguh Allah itu Maha Pemalu lagi Maha Menutupi; menyukai sifat malu dan menutupi. Bila salah seorang kalian mandi, hendaklah dia menutupi dirinya." [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Al-Ḥayiyyu; yaitu yang disifati dengan sifat malu yang sempurna, yang sesuai dengan kesempurnaan, kemuliaan dan ketinggian-Nya; tidak seperti sifat malu makhluk yang merupakan perubahan dan kehinaan.
Sifat malu Allah ﷻ ialah jenis lain. Ia tidak terjangkau oleh pemahaman dan tidak dapat diidentifikasi kaifiatnya oleh akal; karena ia merupakan malu yang mengandung kemurahan, kebajikan, kedermawan, dan kemuliaan.
Di antara potret kemuliaan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah bahwa sifat malu-Nya berkonsekuensi meninggalkan semua yang tidak seirama dengan keluasan rahmat-Nya, kesempurnaan dermawan-Nya, serta keagungan ampunan dan kelembutan-Nya. Di antaranya: Dia malu untuk menolak hamba-Nya ketika ia mengangkat tangan ketika berdoa.
Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh Tuhan kalian Maha Pemalu dan Mahadermawan. Dia malu kepada hamba-Nya jika dia mengangkat tangan kepada-Nya untuk mengembalikannya dalam keadaan kosong.” [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Di antara wujud kemuliaan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah bahwa bersama kemahakayaan dan kemahakuasaan-Nya yang sempurna, Dia malu untuk mempermalukan hamba.
Dia Maha Pemalu, tidak mempermalukan hamba-Nya ... ketika ia terang-terangan berbuat maksiat.
Melainkan Dia melontarkan tirai-Nya pada hamba tersebut; Dia Maha Menutupi dan yang memiliki ampunan.
Di antara wujud keadilan Allah yang lain adalah Dia tidak malu menerangkan yang hak. Dia berfirman, "Allah tidak malu (menerangkan) tentang yang benar." [QS. Al-Aḥzāb: 53] Sejauh mana seorang mukmin menghadirkan kesaksian Allah, seperti itu pula kekuatan rasa malu dalam hatinya.
Fakta
Siapa yang bertambah imannya akan bertambah rasa malunya. Oleh karena itu, para nabi adalah orang yang paling pemalu. Bahkan, Nabi ﷺ disifati bahwa beliau lebih pemalu daripada gadis dalam pingitannya.
Sifat malu adalah salah satu cabang iman, sebagaimana dalam hadis Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Iman ada tujuh puluh sekian cabang dan malu satu di antara cabang iman." [HR. Bukhari dan Muslim]
Sifat malu yang paling agung dan paling dicintai ialah malu kepada Allah ﷻ.
Tatkala Nabi ﷺ bersabda kepada sahabat-sahabatnya, "Malulah kepada Allah dengan malu yang sebenarnya"; para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah! Sungguh kami malu, alḥamdulillāh."
Beliau bersabda, "Bukan itu. Tetapi orang yang malu kepada Allah dengan malu yang sebenarnya; hendaklah ia menjaga kepala dan yang dikandungnya, menjaga perut dan yang ada padanya, dan mengingat kematian dan kehancuran. Siapa yang menginginkan akhirat, ia akan meninggalkan perhiasaan kehidupan dunia. Siapa yang melakukan itu, sungguh ia telah malu kepada Allah dengan yang sebenarnya." [Hadis hasan; HR. Tirmizi]
Ibnul-Qayyim berkata, "Siapa yang malu kepada Allah ketika bermaksiat, maka Allah malu untuk menyiksa-Nya di hari pertemuan dengan-Nya. Sebaliknya, siapa yang tidak malu ketika bermaksiat, maka Allah tidak akan malu untuk menyiksanya."
Indahnya Sifat Malu!
Malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan. Rasulullah ﷺ melewati seorang laki-laki yang sedang mencela temannya karena sifat malunya, "Sungguh kamu itu pemalu! Sampai dia seakan mengatakan: Sifat malumu merugikanmu!" Maka Nabi ﷺ berkata padanya, "Biarkan dia, karena sifat malu bagian dari iman." [HR. Bukhari dan Muslim]
Malu adalah simbol muruah, tanda kehormatan diri, dan bukti akhlak baik.
Malu ialah menghadirkan keagungan Allah dan rasa takut kepada-Nya serta menghadirkan pengawasan Allah ﷻ.
Sebagian kalangan salaf berkata, "Aku mengetahui Allah melihatku, sehingga aku malu bila Dia melihatku berada pada sebuah maksiat."
Bila engkau menyendiri dengan suatu dosa dalam kegelapan ... sedangkan jiwa mengajak pada kemaksiatan,
Maka malulah dari penglihatan Allah dan katakan kepadanya: Sungguh Tuhan Yang menciptakan gelap melihatku.
Umar bin al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Siapa yang kurang malunya, akan kurang jiwa waraknya. Siapa yang kurang waraknya, hatinya akan mati."
Ibnu Daqīq Al-'Īd -raḥimahullāh- berkata, "Sifat malu senantiasa terpuji, dipandang bagus dan diperintahkan; tidak pernah dimansukh dalam syariat nabi-nabi terdahulu."
Terakhir ...
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman ketika menyebutkan sifat-sifat wanita surga, "Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan." [QS. Ar-Raḥmān: 56] Yaitu mereka tidak memandang kecuali suami mereka. Selanjutnya Allah menyebutkan keindahan dan kecantikan mereka, "Seakan-akan mereka itu permata yakut dan marjan." [QS. Ar-Raḥmān: 58] Allah mendahulukan penyebutan sifat malu dan menjaga diri sebelum sifat indah dan cantik, karena tidak ada nilai bagi kecantikan perempuan tanpa sifat malu dan menjaga diri.
Dikatakan: Di antara hukuman terhadap maksiat ialah hilangnya rasa malu dan kejernihan wajah. Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya di antara ungkapan yang telah dikenal manusia dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah: Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!" [HR. Bukhari]
Bila kau tak lagi takut kesudahan malam ... pun tak lagi malu, maka berbuatlah sesukamu.
Seseorang akan hidup dalam kebaikan selama ia memiliki sifat malu, seperti halnya ranting akan bertahan selama kulitnya masih melekat.
Ingatlah bahwa orang yang paling dibenci oleh Allah ialah yang mengerjakan kemaksiatan di malam hari dan Allah menutupi dengan tabir, lalu di pagi hari ia menyingkap sendiri tabir Allah tersebut.
Ya Allah! Anugerahilah kami sifat malu kepada-Mu. Berikanlah kami taufik untuk mewujudkan rasa takut kepada-Mu ketika sendiri dan di hadapan orang lain.
92
AD-DAYYĀN ﷻ
Seorang laki-laki datang dan duduk di hadapan Nabi ﷺ seraya berkata, "Wahai Rasulullah! Aku memiliki budak-budak yang membohongiku, mengkhianatiku dan mendurhakaiku, sehingga aku mencela dan memukul mereka. Bagaimanakah posisiku dari mereka?"
Beliau bersabda, "Akan dihitung pengkhianatan, kedurhakaan, dan kebohongan mereka kepadamu dengan hukumanmu kepada mereka. Jika hukumanmu kepada mereka seukuran kesalahan mereka, maka sepadan; tidak untukmu dan tidak atasmu. Jika hukumanmu di bawah kesalahan mereka, maka itu kelebihan untukmu. Tetapi jika hukumanmu di atas kesalahan mereka, kelebihan itu akan diambil darimu untuk mereka." Lantas laki-laki itu menjauh lalu menangis dan berteriak.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidakkah engkau membaca Kitābullāh: 'Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami akan mendatangkannya (pahala). Cukuplah Kami yang membuat perhitungan.' [QS. Al-Anbiyā`: 47]?"
Laki-laki itu berkata, "Demi Allah, wahai Rasulullah! Aku tidak menemukan sebuah solusi yang lebih baik untukku dan untuk mereka melainkan berpisah dengan mereka! Aku jadikan engkau sebagai saksi bahwa mereka semuanya telah merdeka." [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
Ketahuilah, andaikan manusia tahu ... untuk apa mereka diciptakan, tentu mereka tidak lalai bahkan tidak tidur.
Mereka telah diciptakan untuk suatu tujuan, andaikan dilihat oleh mata hati mereka, mereka akan mengembara dan berkelana.
Diriwayatkan dalam Musnad Imam Aḥmad dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seluruh hamba akan dikumpulkan, kemudian Allah menyeru mereka dengan suara yang didengar oleh orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang yang dekat, 'Aku adalah Al-Malik (Maharaja), Aku adalah Ad-Dayyān (Maha Membalas amalan hamba). Tidak pantas bagi siapa pun dari kalangan penghuni neraka untuk masuk ke dalam neraka sementara ia masih memiliki hak pada seorang penghuni surga hingga Aku mengisasnya. Tidak pantas juga bagi siapa pun dari kalangan penghuni surga untuk masuk ke dalam surga sementara masih ada hak seorang penghuni neraka padanya hingga Aku mengisasnya. Meskipun hak itu sebuah tamparan.” [Hadis sahih]
Tuhan kita ﷻ bersemayam di atas Arasy-Nya di atas kerajaan-Nya, semua makhluk tunduk kepada-Nya, semua wajah merasa hina di hadapan-Nya, orang-orang kejam dan semua makhluk merendah pada keagungan-Nya. Dialah -Tabāraka wa Ta'ālā- yang menundukkan semua makhluk dan tunduk kepada-Nya semua alam semesta. Semua ubun-ubun hamba di tangan-Nya, pengaturan kerajaan ada di tangan-Nya, dan kerajaan ada di tangan-Nya. Tidak ada penguasa hakiki kecuali Dia. Tidak ada tuhan selain-Nya. Tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Ad-Dayyān, yaitu yang menghitung dan membalas perbuatan hamba, serta memberi keputusan di antara mereka kelak di hari Kiamat. Dia berfirman, "Pemilik hari pembalasan." [QS. Al-Fātiḥah: 4] "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami akan mendatangkannya (pahala). Cukuplah Kami yang membuat perhitungan." [QS. Al-Anbiyā`: 47]
Siapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah dia memuji Allah. Sebaliknya, siapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri. "(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (hari) itu. Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya." [QS. Āli 'Imrān: 30]
Renungkanlah Akibat Amalan!
Allah adalah Yang Mahaadil. Allah akan mengambilkan balasan untuk orang yang dizalimi dari orang yang menzaliminya dan untuk seorang hamba sahaya dari majikannya. Demikian juga pada binatang. Nabi ﷺ bersabda, "Seluruh makhluk akan dibangkitkan kelak hari Kiamat; binatang ternak, hewan melata, burung, dan segala sesuatu. Keadilan Allah sampai ke tingkat mengambilkan hak bagi hewan yang tidak bertanduk dari hewan yang bertanduk." [Hadis sahih; HR. Al-Ḥākim dalam Al-Mustadrak] Dalam redaksi lain: "Hingga semut dari semut lain." [Hadis sahih; HR. Ahmad dalam Al-Musnad]
Jika engkau tahu akan bertemu Ad-Dayyān pada hari Kiamat, yaitu hari Pembalasan dan Perhitungan, bahwa Allah tidak menzalimi walau seukuran zarah, bahwa hubungan antar manusia dibangun di atas prinsip saling tagih, dan hubungan antara hamba dan Tuhannya dibangun di atas ampunan, sedangkan perhitungan menggunakan kebaikan dan kesalahan, lalu bagaimana engkau bagi-bagikan kebaikanmu dan mengambil kesalahan orang lain, padahal engkau tahu pasti akan dihisab?!
Jadilah orang yang cerdas. Hisab dirimu sendiri sebelum engkau dihisab. Sebagaimana dikatakan, "Orang yang cerdas adalah yang mampu menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang memperturutkan hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah."
Tatkala Rasulullah ﷺ bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut menurut kami adalah yang tidak punya dirham dan harta benda.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa (pahala) salat, puasa dan zakat. Namun ia datang telah mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul si ini. Maka yang ini diberi sebagian kebaikannya dan yang ini juga sebagian kebaikannya. Hingga jika semua kebaikannya habis padahal semua dosanya belum habis, diambillah kesalahan orang-orang yang dizaliminya, lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia pun dilemparkan ke dalam neraka.” [HR. Muslim]
Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah amalan kalian sebelum kalian ditimbang. Akan lebih ringan bagi kalian pada hisab besok apabila kalian menghisab diri hari ini dan berhiaslah untuk penampilan akbar." "Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhan-mu), tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah)." [QS. Al-Ḥāqqah: 18]
Ingatlah hari kedatanganmu kepada Allah seorang diri ... sementara timbangan peradilan telah ditegakkan.
Tirai-tirai kemaksiatan dirobek dan dosa datang tanpa penutup.
Ingatlah perkataan Abu Ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu-, "Kebaikan tak akan sirna, dosa tak akan dilupakan, sementara Ad-Dayān tidak pernah tidur. Maka berbuatlah sesukamu karena kamu akan diperlakukan sesuai dengan kelakuanmu sendiri."
Jika engkau terzalimi, maka bergembiralah dengan Ad-Dayyān. Nama ini penghibur bagi setiap orang yang dizalimi dan ditindas.
Ketahuilah, demi Allah, kezaliman itu pembawa kesialan ... dan orang yang berbuat salah itu yang banyak berlaku zalim.
Kepada Yang Maha Membalas di hari Pembalasan kita pergi ... dan di sisi Allah orang-orang yang berseteru akan bertemu.
Ya Allah! Kami memohon kepada-Mu, wahai Yang Maha Membalas amal hamba, semoga Engkau menganugerahi kami ampunan dari sisi-Mu, dan semoga Engkau merahmati kami pada hari ditampilkan kepada-Mu.
93
AL-MANNĀN ﷻ
Karunia Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- tidak terhitung dan tidak terbatas! Betapa banyak musibah yang diangkat-Nya! Betapa banyak penyakit kita disembuhkan-Nya darinya! Betapa banyak kesedihan yang diobati-Nya. Betapa banyak kesusahan yang dihilangkan-Nya!
Karunia terbesar yang diharapkan oleh hamba di akhiratnya ialah pengampunan dosa-dosanya. Ampunan tersebut dapat diraih dengan iman dan amal saleh walaupun sedikit.
Lihatlah 'Amr bin Ṡābit! Ia masuk Islam pada waktu Perang Uhud dan terbunuh hari itu juga. Ia belum pernah salat walau satu salat saja. Lalu para sahabat menceritakannya pada Nabi ﷺ, maka beliau bersabda, "Sungguh, ia termasuk penghuni surga." [Hadis sahih; HR. Ahmad dalam Al-Musnad. Al-Haiṡamiy berkata dalam Al-Majma', "Para perawinya siqah."]
Juga lihatlah seorang laki-laki yang membunuh 100 nyawa; Allah ﷻ mengetahui ketulusan tobatnya, maka Dia pun mengampuninya.
Karunia paling besar bagi hamba dalam kehidupan ini adalah petunjuk: "Sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan jika kamu orang yang benar." [QS. Al-Ḥujurāt: 17]
Di antara nama Allah yang dengannya Dia memuji diri-Nya ialah: Al-Mannān.
Dalam kitab As-Sunan diriwayatkan dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ia sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ sementara ada seorang laki-laki sedang salat kemudian berdoa: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, hanya milik-Mu segala pujian, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha Memberi banyak nikmat, yang menciptakan langit dan bumi. Wahai pemiliki kebesaran dan kemuliaan, wahai Yang Mahahidup yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)!"
Maka Nabi ﷺ bersabda, "Dia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung; yang bila dimintai dengannya Allah akan mengabulkan dan bila dimohon dengannya Allah akan memberi." [Hadis sahih]
Tuhan kita -Tabāraka wa Ta'ālā- memiliki pemberian dan kebaikan yang besar. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memulai dengan pemberian sebelum diminta. Dialah yang memberi pertama kali dan terakhir. Dia memberi melebihi keinginan dan harapan.
Tatkala nikmat berasal dari Allah dengan kebaikan dan pemberian pada semua hamba-Nya, maka Dia yang memiliki karunia atas mereka. Tidak ada karunia siapa pun yang melebihi karunia-Nya. Di antara pemberian-Nya yang paling besar ialah Dia memberi kehidupan, akal, dan bicara. Dia juga menciptakan rupa yang sangat baik serta memberikan nikmat yang sangat banyak.
Di antara nikmat Allah yang paling besar atas hamba-hamba-Nya adalah Dia mengutus para rasul dengan membawa kabar gembira dan memberi peringatan. Dengan karunia-Nya, Allah selamatkan wali-wali-Nya yang beriman, serta menunjuki mereka ke jalan yang lurus dan melindungi mereka dari neraka.
"Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur`an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." [QS. Āli 'Imrān: 164] "Sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan jika kamu orang yang benar." [QS. Al-Ḥujurāt: 17]
Di antara karunia-Nya yang lain adalah menyelamatkan orang-orang yang tertindas di semua masa dari orang-orang yang zalim dan berbuat kerusakan dengan menganugerahi mereka keamanan dan kekuasaan: "Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)." [QS. Al-Qaṣaṣ: 5]
Orang-orang yang Bahagia
Allah ﷻ paling berhak disyukuri dan diibadahi. Nikmat-Nya terus-menerus tercurahkan untuk orang-orang beriman dan berkelanjutan hingga masuk surga. Nikmat Allah bagi wali-wali-Nya di dunia berupa petunjuk dan penjagaan, sedangkan di akhirat berupa keselamatan dari neraka, masuk surga, dan melihat wajah Allah yang mulia. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Dialah Yang Maha Melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.'" [QS. Aṭ-Ṭūr: 26-28]
Kebiasaan Orang-orang Beriman
Orang yang beriman ketika melihat karunia Allah ﷻ, hatinya kagum dan jiwanya rida, ia menjadi hamba yang butuh kepada pelindungnya, seraya memuji-Nya semata. Ini adalah pintu paling besar bagi hamba untuk masuk menuju Tuhannya, yaitu pintu menghinakan dan merendahkan diri di hadapan-Nya dengan berdoa, berharap, dan memanggil-Nya: Ya Mannān!
Pada saat itu, harapan terwujud, orang yang meminta diberi, yang berdosa diampuni, kesusahan diangkat, tawanan dilepas, yang sakit disembuhkan, yang hilang kembali, dan yang kesulitan dikabulkan: "Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya dan yang menghilangkan kesusahan, dan Dia menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah bersama Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat." [QS. An-Naml: 62]
Sekalipun perkara-perkara yang engkau yakini sebagai sebab kebahagiaanmu absen dari kehidupanmu, yakinlah bahwa Allah memalingkannya darimu sebelum ia menjadi sebab kesengsaraanmu.
Jangan Ungkit-ungkit Pemberian!
Bila Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah memuji diri-Nya atas karunia-Nya pada hamba-hamba-Nya, maka Allah telah mencela orang-orang yang mengungkit-ungkit kebaikan kepada Allah ataupun kepada hamba-hamba-Nya terkait harta yang mereka infakkan serta perbuatan yang telah mereka lakukan. Allah berfirman, "Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan jika kamu orang yang benar.'" [QS. Al-Ḥujurāt: 17]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengingatkan kita agar tidak mengungkit-ungkit kebaikan yang kita lakukan karena hal tersebut menjadi pembatal sedekah dan pahala: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekah kamu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima)." [QS. Al-Baqarah: 265]
Rasulullah ﷺ juga telah mengingatkan kita untuk menghindari tindakan mengungkit-ungkit kebaikan. Beliau bersabda, "Ada tiga kelompok orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat: orang yang mengungkit-ungkit kebaikan, yaitu yang tidak memberi sesuatu kecuali mengharap balasan, orang yang melariskan dagangan dengan sumpah palsu, dan laki-laki yang menjulurkan sarungnya (isbal)." [HR. Muslim]
Juga dalam hadis sahih lain, Nabi ﷺ bersabda, "Tidak masuk surga orang yang suka mengungkit kebaikan, durhaka kepada orang tua, dan pecandu khamar." [Hadis sahih; HR. Nasai]
Kebaikan yang engkau berikan kau rusak dengan mengungkitnya, bukanlah orang mulia yang suka mengungkit ketika memberi.
Oleh karena itu, orang-orang saleh biasa saling berpesan di antara mereka: Bila engkau memberikan sesuatu kepada seseorang dan engkau melihat salammu memberatkannya, maka tahan salammu darinya.
Pelaku kebaikan itu bila telah melakukan sesuatu untuk seseorang, mereka melupakannya. Tetapi, bila seseorang memberinya suatu kebaikan, mereka tidak melupakannya.
Kebaikan tidak tersembunyi di mana pun dan kapan pun,
demikian juga pelaku kebaikan, di mana pun dan kapan pun.
Ya Allah, wahai Yang Maha Pemberi! Anugerahilah kami keadaan yang baik dan keturunan yang baik, dan angerahilah kami husnulkhatimah.
94
AL-JAWĀD ﷻ
Ketika kamu dikepung berbagai kebutuhan, ujian demi ujian datang menimpamu, berbagai kesusahan mengelilingimu, hutang pun banyak dan rezeki sempit, maka menghadaplah kepada Allah Yang Maha Memberi rezeki, yang mengangkat kesedihan, membuang kesusahan dan mengabulkan doa orang yang kesulitan.
Disebutkan dalam riwayat Tirmizi bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah Mahadermawan, suka kedermawanan." [Hadis sahih]
Syekh As-Sa'diy -raḥimahullāh- berkata, "Maksud Al-Jawād adalah bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- Yang Mahadermawan secara mutlak; yang memberikan kedermawanan-Nya ke semua wujud dan memenuhinya dengan karunia, kebaikan, dan nikmat-Nya yang beraneka macam.
Pun Allah mengkhususkan kedermawanan-Nya kepada orang-orang yang meminta, baik dengan bahasa ucapan ataupun bahasa keadaan, dari kalangan orang yang baik dan yang jahat, muslim dan kafir. Siapa yang meminta kepada Allah, permintaannya pasti Dia kabulkan. Sesungguhnya Allah Maha Melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang: 'Segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.' [QS. An-Naḥl: 53]"
Siapakah yang Lebih Dermawan dan Lebih Baik Daripada Tuhan Kita?!
Makhluk-makhluk bermaksiat kepada-Nya ... Dia memelihara mereka di tempat tidur seakan mereka tidak pernah bermaksiat kepada-Nya ... Dia menjaga mereka seakan tidak pernah berbuat dosa ... Dia memberi karunia kepada orang yang berbuat salah dan menangguhkan pelaku dosa serta mengasihi orang yang bertobat.
Dialah yang tidak butuh pada semua hamba. Kendati demikian, Dia memperlihatkan cinta kepada mereka dengan nikmat, kebaikan, kemuliaan dan penangguhan.
Perbendaharaan Allah ﷻ melimpah, tidak berkurang oleh suatu nafkah, sebagaimana dalam hadis sahih dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Tangan Allah penuh, tidak akan dikurangi oleh suatu nafkah, senantiasa memberi sepanjang siang dan malam. Terangkanlah kepadaku, apa yang telah Allah infakkan semenjak menciptakan langit dan bumi? Sungguh tidak berkurang apa yang ada di tangan-Nya." [HR. Bukhari -redaksi ini miliknya- dan Muslim]
Saḥḥā`: terus-menerus memberi.
Al-Gīḍ: berkurang.
Dia menyukai hamba yang mengharapkan-Nya dan yang meminta kepada-Nya agar Dia tambahkan pada mereka karunia dan nikmat-Nya. Sampai-sampai lantaran kemurahan-Nya, Dia murka terhadap orang yang tidak meminta kepada-Nya. Dalam riwayat Tirmizi, Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang tidak minta kepada Allah, maka Allah murka kepadanya." [Hadis hasan] Dalam hadis yang lain, Nabi ﷺ bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia bagi Allah daripada doa.” [Hadis hasan; HR. Tirmizi]
Dialah Yang Mahadermawan, kedermawanan-Nya meliputi wujud ... seluruhnya dengan karunia dan kebaikan.
Dialah Yang Mahadermawan, tidak menolak siapa pun yang meminta walaupun dari kalangan umat kafir.
Seorang hamba yang beriman dan yakin ialah yang memiliki sifat dermawan dan mengharapkan karunia dan kebaikan Allah. Dia tahu bahwa Allah Yang Mahadermawan akan memberikannya banyak karunia, keberkahan, dan kebaikan-Nya dengan berlipat-lipat: "Barang siapa meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipat ganda untuknya dan baginya pahala yang mulia." [QS. Al-Ḥadīd: 11] "(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya." [QS. Ar-Rūm: 6] Ia berinfak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
Nabi kita ﷺ adalah orang yang paling dermawan di antara seluruh manusia. Beliau adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan. Kedermawanan beliau lebih cepat daripada larinya kuda yang sengaja dilepas dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan.
Dalam Ṣaḥīḥ Muslim disebutkan: “Tidaklah Rasulullah ﷺ dimintai sesuatu atas (nama) Islam, melainkan beliau akan memberikannya. Seorang laki-laki pernah datang kepada beliau, lalu beliau memberinya satu lembah kambing. Maka laki-laki itu kembali kepada kaumnya, lalu berkata, ‘Wahai kaumku! Masuk Islamlah kalian! Karena sesungguhnya Muhammad memberikan pemberian seperti orang yang tidak takut kefakiran.’ Beliau tidak pernah sama sekali dimintai sesuatu lalu menjawab: tidak."
Kau melihatnya ketika menemuinya dengan riang, seakan kau memberinya sesuatu yang kau minta darinya.
Dikatakan:
Dermawan menutup semua cacat.
Tutupilah diri dengan kedermawanan, karena semua cacat akan ditutupi oleh kedermawan, sebagaimana dikatakan.
Orang yang dermawan akan memimpin manusia dengan kedermawanannya.
Kalaulah bukan karena kesulitan, ia akan memimpin manusia seluruhnya; kedermawanan menjadikan fakir sedangkan maju sangat membunuh.
Ya Allah, wahai Yang Mahadermawan! Berikanlah kami sebagian dari keberkahan-Mu.
95
AR-RAFĪQ ﷻ
Disebutkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain: Sejumlah orang Yahudi masuk menemui Rasulullah ﷺ lalu berkata, "Assāmu 'alaikum!" Aisyah berkata: Aku pun memahaminya, sehingga aku menjawab, "Wa'alaikumus-sāmu wal-la'nah!"
Rasulullah ﷺ bersabda, "Sabar, wahai Aisyah! Sungguh Allah mencintai kelembutan dalam urusan seluruhnya." Aku berkata, "Wahai Rasulullah! Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka katakan?"
Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku telah jawab: wa'alaikum." [Ini redaksi Bukhari]
Sangat memaafkan kejahatan, hingga ia seakan,
saking memaafkan, tidak mengenal seorang penjahat di antara manusia.
Yang memberi nabi kita akhlak agung ini ialah Allah Yang Mahalembut -Subḥānahu wa Ta'ālā-, yang mengangkat kesedihan, menyembuhkan orang yang sakit, menghilangkan musibah, mengembalikan orang yang hilang, melepas tawanan, dan mengobati orang yang terluka.
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah Mahalembut dan menyukai kelembutan." [HR. Bukhari dan Muslim]
Tuhan kita ﷻ Mahalembut dalam ketetapan dan perbuatan-perbuatan-Nya.
Tuhan kita ﷻ Mahalembut dalam perintah dan hukum-hukum-Nya, serta dalam agama dan syariat-Nya.
Di antara wujud kelembutan dalam perbuatan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- adalah Dia menciptakan seluruh makhluk secara bertahap sedikit demi sedikit, sesuai dengan kebijaksanaan dan kelembutan-Nya, padahal Dia kuasa untuk menciptakannya sekaligus dan dalam sesaat.
Tuhan kita ﷻ Mahalembut dalam syariat, perintah, dan larangan-Nya. Allah tidak membebani para hamba dengan apa yang mereka tidak mampu melakukannya dan tidak membebani mereka dengan beban-beban yang berat. Bahkan, Allah memberikan mereka rukhsah (dispensasi) padanya sebagai bentuk kelembutan dan kasih sayang-Nya pada mereka. Pun Allah tidak membebani mereka dengan banyak beban sekaligus, melainkan bertahap dari satu keadaan ke keadaan lainnya supaya jiwa mereka terbiasa dengannya dan tabiat mereka lebih mudah menerimanya.
Di antara wujud kelembutan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- adalah menangguhkan pelaku dosa dan tidak terburu-buru menghukumnya supaya ia bertobat dan kembali kepada Allah.
Di antara wujud kelembutan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah memudahkan sebab-sebab seluruh kebaikan. Dialah yang menganugerahkannya. Bentuk kemudahan yang paling besar ialah kemudahan menghafal dan memahami Kitab-Nya: "Sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur`an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" [QS. Al-Qamar: 17]
Dialah Yang Mahalembut, mencintai orang-orang yang lembut, bahkan
Dia memberi mereka dengan kelembutan yang lebih dari sekadar angan.
Orang-orang Lembut
Siapa yang mengetahui bahwa Allah Mahalembut, ia akan semakin cinta kepada Allah dan semakin mengagungkan, memuji, dan mensyukuri-Nya. Allah mencintai nama-nama-Nya dan mencintai orang-orang yang mengaplikasikannya -kecuali sebagian di antaranya yang dibenci-Nya bagi hamba-hamba-Nya-. Allah Maha Penyayang, mencintai orang-orang yang penyayang. Allah Maha Pemurah, mencintai orang-orang yang pemurah. Allah Mahalembut, mencintai orang-orang yang lembut.
Orang yang paling utama dengan akhlak ini adalah para nabi, terutama Muhammad ﷺ. Kehidupan beliau ﷺ dipenuhi oleh kelembutan. Dia tidak pernah sama sekali marah untuk dirinya, tidak pernah sempit dada dengan sebab kelemahan mereka yang manusiawi, tidak pula dia pernah menyimpan sebagian harta dunia untuk dirinya. Bahkan, dia memberi mereka semua yang dimilikinya; sangat dermawan, lembut, baik, empati dan kasih sayang. Tidak seorang pun duduk dengannya kecuali hatinya akan dipenuhi cinta kepadanya, yang demikian itu karena kelembutan dan kemuliaannya ﷺ.
Seorang badui datang dan kencing di sudut masjid, lalu sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ berdiri sambil mengatakan, "Berhentilah! Berhentilah!" Maka Rasulullah ﷺ berkata kepada mereka, "Jangan kalian hentikan kencingnya. Biarkanlah dia!"
Setelah ia selesai, Rasulullah ﷺ memanggilnya dan berkata kepadanya, "Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak layak untuk kencing maupun kotoran sedikit pun. Masjid-masjid itu hanya untuk zikir (mengingat) Allah ﷻ, salat dan membaca Al-Qur`ān." [HR. Muslim]
Sungguh, Allah Mahalembut, cinta pada orang-orang yang lembut. Dalam hadis sahih, Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah Mahalembut dan menyukai kelembutan. Allah memberi pada sikap lembut apa yang tidak diberikan pada sikap keras." [HR. Muslim]
Orang yang paling utama untuk mengaplikasikan sifat ini setelah para nabi ialah para pemimpin, pejabat, juru dakwah, orang berilmu, dan para orang tua. Manusia memiliki kesusahan yang sudah sampai pada batasan kemampuan mereka, sehingga mereka butuh orang yang menghibur mereka, bukan yang mencela. Mereka butuh pihak yang penyayang, perhatian tinggi, rona yang bersahabat, dan kasih sayang.
Manusia lebih butuh kepada kelembutan daripada kebutuhan mereka pada pemberian yang disertai perlakuan kasar. Orang yang paling pantas mendapatkan kelembutan adalah dirimu sendiri, kemudian kedua orang tuamu, istri, anak, rakyat, rekan kerja, dan temanmu.
Bagianmu dari Nama Itu ...
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sungguh, siapa yang diberikan bagiannya dari kelembutan, maka ia telah diberikan bagiannya dari kebaikan dunia dan akhirat. Silaturahmi dan akhlak baik, keduanya memakmurkan bumi dan menambah umur." [Hadis sahih; HR. Ahmad dalam Al-Musnad]
Juga dalam hadis yang sahih dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Bila Allah ﷻ menghendaki kebaikan pada sebuah keluarga, Dia akan memasukkan kelembutan pada mereka." [Hadis sahih; HR. Ahmad dalam Al-Musnad]
Nabi ﷺ juga bersabda, "Sungguh, tidaklah kelembutan ada pada suatu perkara melainkan akan menjadikannya indah. Sebaliknya, tidaklah kelembutan dicabut dari suatu perkara melainkan akan menjadikannya buruk." [HR. Muslim]
Oleh karena itu, makhluk yang paling dibenci di kalangan makhluk ialah orang yang keras dan kasar. Allah ﷻ berfirman, "Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekitarmu." [QS. Āli 'Imrān: 159] Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang dihalangi dari kelembutan, maka dia terhalang dari seluruh kebaikan." [HR. Muslim]
Ya Allah! Kami memohon kepada-Mu dengan nama-Mu "Ar-Rafīq", semoga Engkau lembut kepada kami dan memudahkan untuk kami kebaikan seluruhnya.
96
AS-SAYYID ﷻ
Diriwayatkan dalam Sunan Abu Daud dari Abdullah bin Asy-Syikhkhīr -raḍiyallāhu 'anhu-, ia mengisahkan: Aku ikut pergi bersama delegasi Bani 'Āmir menemui Rasulullah ﷺ, kami berkata, "Engkau adalah sayyidunā (tuan kami)." Beliau bersabda, "As-Sayyid adalah Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-."
Kami berkata, "Engkau adalah yang paling utama dan paling agung kebaikannya di antara kita." Maka beliau bersabda, "Ucapkanlah kata-kata atau sebagian kata-kata yang wajar bagi kalian, dan janganlah kalian terseret (yastajriyannakum) oleh setan." [Hadis sahih]
"Yastajriyannakum", maksudnya: jangan sampai kalian diseret oleh setan.
Secara bahasa, "As-Sayyid" artinya: yang mengungguli selainnya dengan kesantunan, harta, kedudukan dan manfaat serta yang memberikan hartanya pada posnya.
Kata "As-Sayyid" disematkan untuk orang yang tidak dikuasai oleh amarahnya. Juga disematkan pada orang yang pemurah, raja dan pimpinan.
"Sayyidul-'abdi" artinya majikan hamba sahaya. Sedangkan "Sayyidul-mar`ah" ialah suami seorang wanita. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu." [QS. Yūsuf: 25]
As-Su`dad: kemuliaan. Sayyidu kulli syai`: sesuatu yang paling mulia dan paling tinggi.
Lalu, siapakah yang sempurna dalam kemuliaan dan ketinggian-Nya selain Allah?!
Di Bawah Naungan Nama As-Sayyid
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah As-Sayyid yang sempurna kemuliaan-Nya, Mahatinggi yang sempurna dalam ketinggian-Nya, Mahaagung yang sempurna keagungan-Nya, Maha lembut yang sempurna kelembutan-Nya, Mahakaya yang sempurna dalam kekayaan-Nya, Mahaperkasa yang sempurna dalam keperkasaan-Nya, Maha Mengetahui yang sempurna dalam pengetahuan-Nya, dan Mahabijaksana yang sempurna dalam kebijaksanaan-Nya.
Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- adalah As-Sayyid yang sempurna dalam berbagai kemuliaan dan ketinggian.
Ini adalah sifat-sifat-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-, tidak seorang pun yang menyertai-Nya di dalamnya, dan tidak seorang makhluk pun yang menandingi-Nya.
Dialah Al-Ilāh As-Sayyid Aṣ-Ṣamad, yang
kepada-Nya seluruh makhluk bergantung dengan penuh ketundukan.
Yang memiliki sifat-sifat yang sempurna dari seluruh sisi,
kesempurnaannya tidak memiliki sisi kekurangan.
Seluruh makhluk adalah hamba bagi-Nya -Tabāraka wa Ta'ālā-. Mereka seluruhnya butuh kepada-Nya. Malaikat, manusia dan jin tidak dapat lepas dari-Nya; mereka sangat butuh pada kemuliaan, kelembutan, dan penjagaan-Nya. Maka patut bagi-Nya sebagai Sayyid dan patut atas mereka berdoa kepada-Nya dengan nama ini.
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Mahamulia yang Berkuasa di alam semesta, tidak ada tandingan bagi-Nya.
Dialah -Tabāraka wa Ta'ālā- As-Sayyid, yang patut untuk diarahkan kepada-Nya semata seluruh ketaatan, kerendahan dan ketundukan; tidak ada sekutu bagi-Nya.
Dialah As-Sayyid yang disembah, tidak ada sekutu untuk-Nya: "Katakanlah (Muhammad), 'Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu.'" [QS. Al-An'ām: 164]
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- menafsirkannya sebagai sembahan yang dipertuan.
Pikiran Salah!
Mungkin seseorang diberikan berbagai harta, dikaruniai keturunan, dianugerahi kemuliaan, diberikan kedudukan dan jabatan mulia, kekuasaan luas, ataupun kekuasaan yang kokoh; mungkin saja ia dikelilingi pelayan, dikitari pasukan, dijaga tentara, orang-orang tunduk padanya, rakyat taat kepadanya; ia berhasil mencapai kepemimpinan tingkat besar dunia ini, tetapi ia adalah kepemimpinan yang kurang dan akan sirna.
Mereka tertipu lamunan mimpi saat kantuk;
betapa dustanya mimpi dan tafsir mimpi!
Siapa yang beriman bahwa Allah adalah sayyid sejati, hatinya akan bergantung kepada-Nya semata -Tabāraka wa Ta'ālā- dalam rasa takut, harap, memohon bantuan, dan tawakal. Karena Dialah yang berkuasa dalam semua urusan hamba. Tidak ada satu makhluk pun kecuali Dia yang memegang ubun-ubunnya dan hamba seluruhnya sangat butuh kepada-Nya: "Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allahlah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji." [QS. Fāṭir: 15] Sehingga tidak boleh menghinakan dan merendahkan diri kecuali kepada Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa, dan Mahasempurna dalam keagungan-Nya, yang bergantung kepada-Nya seluruh makhluk.
Wahai Para Pemimpin!
Pilar kepemimpinan pada makhluk: kehormatan, kemuliaan, kedudukan dan sebutan tinggi. Ini semuanya tidak terpenuhi kecuali dalam ketaatan kepada Allah ﷻ. Oleh karena itu, para nabi dan wali memiliki kedudukan tinggi dan menjadi bintang di tengah-tengah manusia.
Adapun orang yang menjauh dari Allah serta kafir, ia tidak memiliki kehormatan dan kepemimpinan. Kalaupun mereka mendapatkan kepemimpinan duniawi, ia adalah semu dan sementara.
Oleh sebab itu, ada larangan memanggil orang munafik dengan panggilan sayyid/tuan; sebagaimana riwayat Abu Daud bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian mengatakan sayyid/tuan kepada orang munafik. Sungguh bila dia seorang tuan (tokoh), kalian telah membuat murka Tuhan kalian ﷻ." [Hadis sahih]
Kehormatan As-Sayyid
Penyematan kata "sayyid" kepada makhluk, hukumnya boleh. Ini berdasarkan firman Allah ﷻ tentang Yahya -'alaihissalām-: "wa sayyidan" (artinya: panutan) [QS. Āli 'Imrān: 39] Juga disebutkan dalam hadis syafaat: "Aku adalah pemimpin (sayyid) anak Adam kelak hari Kiamat, dan tidak ada kesombongan." [HR. Muslim] Juga perkataan Nabi ﷺ terkait Sa'ad bin Mu'āż, "Bangkitlah menuju pemimpin (sayyid) kalian." [HR. Bukhari]
Tidak ada kontradiktif antara dua riwayat di atas dengan riwayat: "As-Sayyid adalah Allah". [Hadis sahih; HR. Abu Daud] Karena kata "sayyidul-khalqi" di kalangan orang beriman memiliki makna: pemimpin dan panutan.
Orang Arab mengatakan: Fulān sayyidunā, artinya: si polan pemimpin yang kami junjung.
Adapun penyematan sifat sayyid kepada Allah ﷻ, maksudnya: penguasa makhluk, makhluk seluruhnya adalah hamba-Nya.
Sedangkan larangan Nabi ﷺ tatkala dikatakan kepada beliau: engkau sayyidunā sembari bersabda, "As-Sayyid adalah Allah. Ucapkanlah kata-kata atau sebagian kata-kata yang wajar bagi kalian dan janganlah kalian terseret oleh setan" [Hadis sahih; HR. Abu Daud], di dalamnya terkandung petunjuk tentang penjagaan Nabi ﷺ terhadap tauhid dan penutupan jalur-jalur kesyirikan.
Beliau ﷺ tidak suka dipuji di depannya, padahal yang mereka ucapkan benar, sebab beliau sendiri yang mengucapkan: "Aku adalah pemimpin (sayyid) anak Adam kelak hari Kiamat" [HR. Muslim] Juga karena beliau mengkhawatirkan mereka supaya hati mereka tidak beralih pada ketergantungan dan kehinaan kepada makhluk, yang tidak boleh dan tidak sah diberikan kecuali kepada Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.
Ya Allah! Kami memohon kepada-Mu dengan nama-Mu "As-Sayyid", semoga Engkau mengangkat nama kami dan menggugurkan dosa-dosa kami. Sungguh Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
97
BADĪ'US-SAMĀWĀTI WAL-ARḌI ﷻ
"Saya sangat terkesan sekali dengan pengungkapan fakta dalam Al-Qur`an Al-Karim!
Al-Qur'an Al-Karim menggambarkan alam dari titik tertinggi dalam wujud.
Sebagaimana kita lihat, itu tidak mungkin bersumber dari referensi manusiawi. Saya mengetahui masa depanku setelah membaca Al-Qur`an Al-Karim. Saya akan menyusun kerangka penelitian-penelitian saya di atas teori komprehensif ini." [Prof. Yoshida Kuzan]
Lihatlah alam semesta! Berdirilah bersama kami, wahai orang yang berjalan ... supaya saya perlihatkan keindahan ciptaan Sang Pencipta. Bumi di sekelilingmu dan juga langit bergetar ... terhadap keindahan ayat dan jejak ciptaan-Nya,
yang menunjukan pada Yang Mahadiraja, tidak menyisakan keraguan pada dalil ahli fikih dan pengetahuan. Merenungkan ciptaan-Nya menghapus dosa ragu dan ingkar.
Seandainya manusia merenungkan penciptaan langit dan bumi, pasti ia akan tertuntun kepada Allah Yang Maha Menciptakan -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang berfirman tentang diri-Nya, "(Allah) pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah sesuatu itu." [QS. Al-Baqarah: 117]
Ibnu Kaṡīr -raḥimahullāh- menafsirkan, "Yaitu: yang mengadakan dan menciptakan langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya."
Syekh As-Sa'diy -raḥimahullāh- berkata, "Badī'us-Samāwāti wal-Arḍi, yaitu: yang menciptakan dan mengadakan langit dan bumi pada puncak keindahan, penciptaan, pengaturan dan ketelitian."
Panggilan Untuk Orang-orang Berakal!
Jika demikian, lalu bagaimana dapat dibenarkan penisbahan sebagian yang ada pada keduanya sebagai anak Allah?! Mahasuci Allah dari hal itu sesuci-sucinya! Bahkan, semua yang ada pada keduanya adalah bagian dari ciptaan-Nya, yang tunduk dan menghamba kepada-Nya. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Mereka berkata, 'Allah mempunyai anak.' Mahasuci Allah, bahkan milik-Nyalah apa yang di langit dan di bumi. Semua tunduk kepada-Nya. (Allah) pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah sesuatu itu." [QS. Al-Baqarah: 116-117]
Bila telah final bahwa semua yang ada di langit dan bumi bagian dari ciptaan-Nya, maka final pula bahwa semua itu termasuk hamba dan kerajaan-Nya, sehingga tidak logis untuk dikatakan sebagai anak-Nya.
Jika kondisinya seperti itu, maka kewajiban manusia ialah melaksanakan perintah-Nya dan berpaling dari larangan-Nya, bukan untuk menisbahkan anak dan istri kepada-Nya!
Kemudian, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memerintahkan kita untuk menadaburi alam dan menghayati keindahan ciptaannya. Dia berfirman, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal." [QS. Āli 'Imrān: 190] Alam seluruhnya mengandung petunjuk iman dan merujuk kepada Penciptanya Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Perhatikanlah goresan alam, itulah pesan ... dari Maharaja lagi Mahatinggi kepadamu. Telah digoreskan padanya, bila kau perhatikan goresannya ... ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah tuhan yang batil.
Itulah saksi atas kebaikan dan karunia Allah ... sebagai lisan yang fasih, ia diam namun hakikatnya berbicara.
Tadaburilah Alam!
Bilal -raḍiyallāhu 'anhu- datang menemui Nabi ﷺ untuk memberitahukannya salat Subuh, ternyata Nabi ﷺ sedang berbaring sambil menangis, sehingga Bilāl berkata, "Wahai Rasulullah! Apa yang membuatmu menangis, padahal dosamu yang telah lalu dan akan datang telah diampuni oleh Allah?"
Beliau bersabda, "Celaka engkau, wahai Bilal! Apa yang dapat menghalangiku menangis, sedangkan Allah telah menurunkan padaku malam ini: 'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.' [QS. Āli 'Imrān: 190]" Beliau membacanya hingga akhir surah.
Kemudian beliau bersabda, "Celaka bagi orang yang membacanya dan tidak merenungkannya!" [Hadis sahih; HR. Ibnu Ḥibbān]
Pemandangan langit berikut semua yang ada padanya berupa bintang dan planet serta matahari dan bulan, juga bumi berikut semua yang ada padanya berupa pegunungan, sungai, laut, hewan, tumbuhan, benda mati, orang-orang yang masih hidup dan yang telah mati, semua itu menunjukkan adanya pencipta langit dan bumi: "Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar. Dia pula yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur." [QS. Al-Furqān: 61-62]
Di Muktamar Pemuda Islam yang diadakan di Riyadh tahun 1979 M, seorang profesor asal Amerika bernama Palmer berdiri ketika mendengar firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-: "Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya." [QS. Al-Anbiyā`: 30] Dia berkata, "Benar. Alam pertama kalinya berupa awan gas raksasa yang menyatu, kemudian berubah secara bertahap menjadi jutaan milyun bintang yang memenuhi langit. Tidak mungkin sama sekali hal ini dinisbahkan kepada seseorang yang meninggal sebelum 1400 tahun lalu! Karena ia tidak memiliki teleskop maupun kapal angkasa yang dapat membantunya mengungkap fakta-fakta itu. Pasti yang mengabari Muhammad adalah Allah." Prof. Palmer menyatakan keislamannya di penghujung Muktamar.
Di Konferensi Medis Arab Saudi Kedelapan di Riyadh tahun 1404 H, Prof. Tejatat Tejasen, Ketua Prodi Anatomi dan Embriologi Universitas Chiang Mai Thailand berdiri dan berkata, "Ketika Nabi ﷺ tidak mampu baca tulis, Muhammad pastilah seorang rasul yang menyampaikan fakta itu, yang disampaikan kepada beliau melalui wahyu dari Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui segala sesuatu. Pencipta itu pastilah Allah.
Oleh karena itu, saya meyakini sudah tiba waktunya untuk saya bersyahadat: Lā Ilāha Illallāh Muḥammad rasūlullāh."
Obat Penyembuh ...
Nama Allah "Al-Badī" -Subḥānahu wa Ta'ālā- memiliki kedudukan besar! Siapa yang berdoa dengannya, doanya dikabulkan.
Tirmizi meriwayatkan dari Anas, ia mengisahkan: Nabi ﷻ masuk ke masjid sementara seorang laki-laki sedang salat dan berdoa: "Ya Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Pemberi banyak nikmat, yang menciptakan langit dan bumi. Wahai Tuhan yang memiliki kebesaran dan kemuliaan."
Maka Nabi ﷺ bersabda, "Tahukah kalian apa doanya kepada Allah? Dia berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung; yang bila dimintai dengannya Allah akan mengabulkan dan bila dimohon dengannya Allah akan memberi." [Hadis sahih]
Ya Allah! Ampunilah dan rahmatilah kami, wahai yang paling penyayang di antara yang penyayang!
Ya Badī'us-Samāwāti wal-Arḍi! Ampunilah dan rahmatilah kami, maafkanlah kesalahan kami, sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
98
AL-MU'ṬĪ ﷻ
Memberi adalah pemberian-Nya yang paling mulia ...
Pemurah adalah satu di antara sifat-sifat-Nya ...
Dermawan adalah sifat-Nya yang paling besar; lalu siapakah yang lebih dermawan, pemurah, dan paling mudah memberi daripada Allah?!
Di antara nama Allah yang indah ialah: Al-Mu'ṭī (Maha Pemberi) -Tabāraka wa Ta'ālā-.
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, niscaya Allah menjadikannya paham tentang agama. Sesungguhnya aku hanyalah pembagi dan Allahlah yang memberi." [HR. Bukhari dan Muslim]
Tuhan kita -Tabāraka wa Ta'ālā- adalah pemberi yang sebenarnya kepada semua makhluk, tidak ada yang bisa menghalangi apa yang Dia beri dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Dia tahan.
Pemberian Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berlaku untuk semua makhluk dalam wujud, tidak memiliki batasan dan tidak terikat pada syarat, murni berasal dari kemuliaan dan kebaikan-Nya yang sempurna.
Ketika Tuhan kita memberi, maka itu adalah bentuk kedermawanan dan perbaikan kehidupan. Namun, ketika menahan, maka ia adalah bentuk hikmah dan kebaikan.
Dialah yang menahan dan yang memberi; itu adalah karunia-Nya. Adapun tidak memberi adalah wujud keadilan Yang Maha Pemberi.
Dia memberi dengan rahmat-Nya dan Dia menghalangi siapa yang dikehendaki-Nya ... sesuai dengan hikmah, dan hanya Allah yang memiliki kuasa.
Pemberian Allah terbagi dua macam:
1- Pemberian yang bersifat umum di dunia.
Pemberian ini untuk semua makhluk; yang beriman dan yang kafir, yaitu dengan cara membaguskan urusan mereka di dunia. Allah ﷻ berfirman, "Kepada masing-masing (golongan), baik (golongan) ini (yang menginginkan dunia) maupun (golongan) itu (yang menginginkan akhirat), Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Sungguh, kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi." [QS. Al-Isrā`: 20]
2- Pemberian yang khusus di dunia dan akhirat.
Pemberian ini untuk para nabi-Nya, rasul-Nya dan hamba-Nya yang saleh. Allah memberi mereka di dunia rezeki yang halal, keturunan yang saleh, keimanan, ketakwaan, keyakinan, dan petunjuk yang terang. Pemberian ini merupakan pemberian paling agung di dunia. Al-Ḥakīm meriwayatkan dalam al-Mustadrak dan dinyatakan sahih oleh Aż-Żahabiy, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh Allah akan memberi dunia kepada orang yang dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya, namun tidak akan memberi agama kecuali kepada orang yang dicintai-Nya."
Adapun di akhirat, maka pemberian paling besar ada di surga-Nya yang tertinggi, tidak ada yang lebih sempurna dan lebih mulia darinya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sebagai balasan dan pemberian yang cukup banyak dari Tuhanmu." [QS. An-Naba`: 36]
Pemberian paling besar di negeri keindahan ialah rida Allah, Tuhan alam semesta dan memandang wajah-Nya yang mulia.
Kunci-kunci Pemberian
Tuhan kita Maha Pemurah, suka kepada orang-orang yang pemurah. Dia Maha Pemberi dan cinta kepada orang-orang yang suka memberi. Oleh karena itu, orang yang suka memberi akan menjadi pemimpin manusia. Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tangan ada tiga: tangan Allah yang tertinggi, tangan orang yang memberi adalah di bawahnya, dan tangan orang yang meminta paling bawah. Maka berikanlah kelebihan dari kebutuhanmu dan jangan memberi hingga tidak ada untuk dirimu." [Hadis sahih]
Orang-orang yang pemurah memiliki pahala yang besar dari sisi Tuhan Yang Maharaja: "Infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar." [QS. Al-Ḥadīd: 7]
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah menjanjikan Rasul-Nya ﷺ untuk memberinya hingga ia rida: "Sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas." [QS. Aḍ-Ḍuḥā: 5]
Di antara yang Allah berikan kepada Rasulullah di akhirat ialah Sungai Al-Kauṡar: “Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) Al-Kauṡar." [QS. Al-Kauṡar: 1] Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda tentang Al-Kauṡar, "Ada sebuah sungai yang dijanjikan padaku oleh Tuhanku ﷻ; padanya terdapat kebaikan yang banyak, yaitu telaga yang akan didatangi oleh umatku kelak hari Kiamat. Bejananya sebanyak bintang." [HR. Muslim]
Jika Allah memandangmu dan diketahui-Nya engkau menjadikan-Nya sebagai sandaranmu dan tempat kembalimu, serta engkau mengeesakan-Nya dalam kebutuhan-kebutuhanmu, tanpa makhluk-Nya, Allah akan memberimu lebih dari yang engkau minta dan akan memuliakanmu lebih banyak dari yang engkau inginkan.
Mahasuci Tuhan yang memberi harapan dengan sekadar lintasan dalam jiwa yang tidak diucapkan lisan. Mahasuci Tuhan yang ilmu-Nya tidak tertutupi sesuatu pun, bagi-Nya seluruh rahasia tampaklah nyata.
Mahasuci Allah yang senantiasa menjamin rezeki-Nya bagi segenap alam.
Ya Allah! Berikanlah kami anugerah-Mu dan janganlah halangi kami. Dermawanlah kepada kami dan jangan engkau kembalikan kami dalam keadaan hampa. Ya Rabbal-'Ālamīn!
99
AL-MUḤSIN ﷻ
Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Bila kalian membuat keputusan, maka adillah. Bila kalian membunuh, maka berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah ﷻ Mahabaik, suka kepada perbuatan baik." [Hadis sahih; HR. Aṭ-Ṭabarāniy dalam Al-Mu'jam Al-Ausaṭ]
Juga diriwayatkan dalam hadis yang lain dari Syaddād bin Aus bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah ﷻ Maha Berbuat Baik, suka kepada perbuatan baik." (Hadis sahih; Al-Jāmi'uṣ-Ṣagīr]
Tuhan kita ﷻ maha sempurna dalam zat, sifat dan perbuatan-Nya: "Hanya milik Allahlah Al-Asmā` Al-Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.’" [QS. Al-A'rāf: 180] Tidak ada yang lebih baik dan lebih sempurna darinya!
Tuhan kita ﷻ adalah: "Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan." [QS. As-Sajdah: 7]
Berbuat baik adalah sifat yang selalu melekat pada-Nya. Tidak ada satu pun makhluk yang lepas dari kebaikan-Nya walau sekejap mata. Allah meliputi makhluk seluruhnya dengan kebaikan dan karunia-Nya; yang baik dan yang jahat maupun yang beriman dan yang kafir. Mereka tidak eksis dan tidak bertahan kecuali dengan Allah melalui kebaikan dan karunia-Nya.
Kebaikan Allah ﷻ kepada hamba tampak ketika Allah mengeluarkannya dari ketiadaan menjadi ada: "Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?" [QS. Al-Insān: 1] "Dia memulai penciptaan manusia dari tanah." [QS. As-Sajdah: 7]
Lalu Allah membentuk rupanya dalam sebaik-baik rupa: "Dia membentuk rupamu dan memperbagus rupamu." [QS. Gāfir: 64] Kemudian Allah memberinya akal untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan: "Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)." [QS. Al-Balad: 10]
Allah tundukkan untuknya langit dan bumi beserta semua yang ada padanya: "Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin." [QS. Luqmān: 20]
Allah limpahkan padanya nikmat-nikmat yang tidak terhitung dan tidak terhingga: "Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." [QS. Ibrāhīm: 34]
Kebaikan Sempurna
Kebaikan yang paling besar bagi hamba ialah ketika ia diberikan taufik untuk menganut agama ini, dadanya dilapangkan kepada Islam, dan teguh di atas kebenaran hingga waktu kematian: "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebajikan." [QS. An-Naḥl: 128]
Juga taufik Allah pada wali-wali-Nya untuk menjalani kehidupan yang baik dan aman: "Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." [QS. An-Naḥl: 97]
Termasuk mengangkat kesulitan wali-wali-Nya, yaitu menyelamatkan mereka dari kesulitan dan kesusahan. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman mengisahkan perkataan Yusuf -'alaihissalām-, "Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki." [QS. Yūsuf: 100]
Kesempurnaan kebaikan Allah bagi wali-wali-Nya semakin tampak di akhirat yang merupakan kebaikan tertinggi serta tambahan dari-Nya. Allah ﷻ berfirman, "Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah)." [QS. Yūnus: 26]
Pahala yang terbaik untuk mereka ialah surga.
Sedang tambahannya ialah memandang wajah Tuhan mereka Yang Mahatinggi; tidak ada yang lebih bagus, lebih indah, lebih sempurna dan lebih tinggi darinya!
Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- menggabungkan untuk mereka dua pahala: pahala yang disegerakan dan yang diakhirkan. Ini disebutkan dalam firman-Nya: "Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." [QS. Āli 'Imrān: 148]
Kebaikan Tuhan kita ﷻ sangat besar. Dia memperindah syariat-Nya serta menjadikannya berisikan kesudahan yang terpuji dan tujuan-tujuan yang agung, yang mengandung kebaikan untuk seluruh makhluk: "Tidak ada yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin." [QS. Al-Mā`idah: 50]
Ihsan (berbuat baik) terbagi dua:
1) Ihsan dalam ibadah kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Ini merupakan tingkatan agama yang paling tinggi, sebagaimana disebutkan dalam hadis Jibril yang masyhur. Di dalamnya, ihsan didefinisikan sebagai: "Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Bila engkau tidak melihatnya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." [HR. Bukhari dan Muslim]
2) Ihsan kepada hamba-hamba Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Yaitu dengan menyampaikan semua bentuk kebaikan untuk mereka serta menahan diri dari menyakiti mereka. Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." [QS. At-Taubah: 120]
Tuhan kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- mencintai nama-nama-Nya dan mencintai hamba-hamba-Nya yang mendekatkan diri dengan kandungan makna nama-Nya. Allah Maha Penyayang, cinta kepada orang-orang yang penyayang. Allah Maha Pemurah, senang kepada orang-orang yang pemurah. Allah Maha Berbuat Baik, suka kepada orang-orang yang berbuat baik. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." [QS. Al-Baqarah: 195]
Orang yang paling pantas mendapatkannya ialah kedua orang tua; berdasarkan firman Allah ﷻ: "Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya." [QS. Al-Aḥqāf: 15] Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman, "Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu." [QS. Al-Qaṣaṣ: 77]
Hanya kepada-Mu, Tuhan Arasy, aku mengadu dalam doa
Kuberdoa kepada-Mu dalam masa sulit, Tuhanku, semoga Engkau mendengarnya.
Tuhanku, wujudkan harapan ini; santunilah
dan rahmatilah kami serta kabulkanlah doa kami.
Wahai Yang Maha Berbuat baik, sungguh Engkau selalu berbuat baik
Wahai Yang Mahaluas, sungguh maaf-Mu paling luas.
Kami berlindung pada-Mu, ya Allah, dari keburukan perbuatan kami
Sungguh kami, sangat mengharap maaf dari-Mu
Tolonglah kami, tolonglah kami, dan angkatlah kesulitan
yang menimpa; angkat dan hilangkankan keburukan ini.
Berikanlah dan anugerahilah kami dengan yang Engkau miliki,
berupa maaf dan ampunan, wahai Tuhan, tempat terbaik untuk meminta.
Ya Allah! Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berbuat baik, dan berbuat baiklah kepada kami. Terimalah amal baik dari kami, kedua orang tua kami, serta seluruh kaum muslimin.
AS-SITTĪR ﷻ
Bagaimanakah jika maksiat yang kita kerjakan ditulis di dahi kita?! Bagaimanakah jika dosa memiliki aroma yang keluar dari diri kita sesuai kadar kemaksiatan kita?! Bagaimanakah jika seluruh manusia mengetahui aib yang Allah ﷻ tutup pada diri kita?!
Dialah Maha Pemalu, tidak mempermalukan hamba-Nya
ketika ia terang-terangan berbuat maksiat.
melainkan Dia menguraikan pada hamba tirai-Nya
Dia Maha Menutupi dan pemilik ampunan.
Pada bahasan ini, kita akan membersamai salah satu nama Allah yang indah, yaitu: As-Sittīr ﷻ.
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ dengan sanad yang sahih, dari Ya'lā -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah ﷺ melihat seorang laki-laki mandi di tempat terbuka tanpa memakai penutup badan. Lantas beliau naik ke atas mimbar, lalu memuji Allah dan bersabda, "Sungguh Allah itu Maha Pemalu lagi Maha Menutupi; menyukai sifat malu dan menutupi. Bila salah seorang kalian mandi, hendaklah dia menutupi dirinya." [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
As-Sittīr ialah Tuhan yang menutupi hamba-Nya, tidak mempermalukan mereka di tempat terbuka, dan menginginkan para hamba-Nya agar menutupi diri mereka dan menjauhi semua yang menjelekkan diri mereka.
Selain menutupi kesalahan dan aib, Tuhan kita ﷻ juga mencintai orang yang meninggalkan perbuatan buruk.
Betapa Allah Maha Penyantun!
Berbagai lintasan pikiran, bisikan, keinginan, dan kemauan bersembunyi dalam dada, tidak terdengar oleh pendengaran dan tidak pula terjangkau penglihatan, tetapi Allah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui mengetahuinya, kemudian Dia menutupinya.
Dia mengurung malam dengan gelapnya, serta dengan kegelapan itu Dia menyelimuti langit. Meskipun di kegelapan itu mereka saling berbisik pelan dan rahasia, tidak didengar oleh tetangga, tidak diketahui oleh penghuni rumah, pun tidak ada berita mereka yang disiarkan, tetapi Allah Yang Mahalembut lagi Mahateliti mengetahui, mendengar, dan melihat semua itu, kemudian Dia menutupinya.
Tuhan kita ﷻ dengan sifat-Nya yang tidak butuh sama sekali kepada seluruh makhluk, juga kepada ketaatan dan ibadah mereka, Dia tetap memuliakan dan menutupi mereka, bahkan Dia malu untuk mempermalukan dan membuka aib hamba maupun menyegerakan hukuman padanya, kemudian Dia memberinya taufik agar menyesal dan bertobat serta memaafkan dan mengampuninya: "Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah menerima tobat hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwa Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang?!" (QS. At-Taubah: 104)
Tidak ada sembahan yang hak kecuali Allah Yang Maha Menutupi! Larangan-larangan-Nya dilanggar, perintah-perintah-Nya diselisihi, kesalahan banyak dilakukan, dan perbuatan dosa semakin menjadi-jadi, namun Dia tetap memberikan kesempatan bertobat dan ampunan, memberi maaf dan kelapangan, serta menutupi dan menghapus dosa hamba.
Dia mengetahui kelemahan kita, melihat setiap tempat kita, dan mengetahui mata-mata kita yang berkhianat serta apa yang disembunyikan oleh hati kita, namun Dia menutupinya bagi kita sembari memberi karunia-Nya kepada kita. Dia berfirman, "Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan, dan mengetahui apa yang kamu kerjakan." [QS. Asy-Syūrā: 25]
Ketika Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- ditanya tentang an-najwā (berbisik-bisik), ia menjawab: Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Salah seorang kalian akan mendekat kepada Tuhannya hingga Dia meletakkan tabir-Nya kepadanya. Lalu Allah berfirman, 'Engkau telah melakukan ini dan itu?' Maka ia menjawab, 'Iya.' Kemudian Allah berfirman, 'Engkau telah melakukan ini dan itu?' Maka ia menjawab, 'Iya.' Allah pun membuatnya mengakui dosa-dosanya. Kemudian Allah berfirman, 'Sungguh, aku telah menutupinya bagimu di dunia. Maka hari ini Aku mengampuninya untukmu.'" [HR. Bukhari]
Orang yang paling dibenci ...
Ingatlah, bahwa orang yang paling dibenci Allah ialah orang yang berbuat dosa di malam hari dalam kondisi Allah menutupinya, namun keesokan harinya ia membuka penutupan Allah kepadanya.
Diriwayatkan dalam hadis sahih dari Abu Hurairah -raḍiallāhu 'anhu- bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Semua umatku dimaafkan kecuali yang berbuat dosa terang-terangan. Sungguh termasuk berbuat dosa terang-terangan ialah seseorang berbuat dosa di malam hari sementara Allah telah menutupinya, namun keesokan harinya ia malah berkata, 'Wahai fulan! Tadi malam aku melakukan ini dan itu.' Padahal, Tuhannya telah menutupinya di malam harinya, tetapi di pagi harinya ia malah membuka penutupan Allah kepadanya." [HR. Bukhari -redaksi ini miliknya- dan Muslim]
Uṡmān bin Abi Saudah berkata, "Tidak sepatutnya seseorang merusak tutup dari Allah ﷻ." Dia kemudian ditanya, "Bagaimana ia merusak tutup dari Allah?" Beliau menjelaskan, "Yaitu seseorang berbuat dosa sementara Allah menutupinya, namun ia malah mengumumkannya ke tengah orang banyak."
Tidakkah Engkau Menutupi?
Demi Allah! Kita wajib mengamalkan apa yang menjadi turunan nama-nama Allah. Allah Mahamulia, Dia suka kepada orang-orang yang berbuat mulia. Allah Maha Menutupi, Dia suka kepada tindakan menutupi aib. Kita diperintahkan agar menutupi aib hamba-hamba Allah -Ta'ālā- serta menjauhi perbuatan merobek tirai dan mencari-cari kesalahan mereka. Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Wahai sekalian orang-orang yang beriman dengan lisannya tetapi iman belum masuk ke dalam hatinya! Janganlah menggibahi orang-orang muslim dan janganlah mencari-cari kesalahan mereka. Siapa yang mencari-cari kekurangan mereka, maka Allah akan mencari-cari kekurangannya, dan siapa yang dicari kekurangannya, maka pasti Allah akan mempermalukannya sekalipun ia di dalam rumahnya." [Hadis sahih]
Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain, diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya kelak di hari Kiamat." Di antara contoh hal ini adalah kemungkaran, keburukan, atau kesalahan yang ada dalam media sosial. Siapa yang berniat menutupinya dan tidak menyebarkannya, maka Allah -Ta'ālā- akan menutupi aib-aibnya.
Faedah ...
- Penutupan ini berlaku hingga dari pandangan jin. Ali bin Abi Ṭālib -raḍiallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Penghalang antara pandangan jin dengan aurat manusia ialah ketika salah seorang masuk kamar kecil ia membaca: Bismillāh." [Hadis sahih; HR. Tirmizi]
- Perbedaan antara As-Sittīr dan As-Sattār: Keduanya bentuk hiperbola yang menunjukkan makna sangat menutupi. Allah Yang Mahamulia banyak menutupi hamba-hamba-Nya, tetapi nama-nama Allah bersifat taufiqiah, tidak ada ruang bagi akal di dalamnya. Sebab itu, kita tidak menamakan Allah -Ta'ālā- kecuali dengan nama yang Allah namai diri-Nya dengannya atau dinamai oleh Rasul-Nya ﷺ.
Redaksi yang ada di dalam Sunnah: "Innallāha ḥayiyyun sittīr (Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Menutupi)." [Hadis sahih; HR. Abu Daud]
Wahai Tuhan yang memiliki penutupan yang indah padaku,
apakah aku dapat diterima bila menyampaikan uzur kepada-Mu?
Engkau menolongku, mengasihiku dan menutupiku
sebagai kebaikanmu; sungguh, Engkau Maha Penjamin bagi siapa yang mengharapkan-Mu.
Aku bermaksiat, kemudian aku melihat maaf-Mu terbentang luas,
pun penutupan-Mu selalu tercurah kepada-Ku.
Bagi-Mu seluruh pujian dan sanjungan,
wahai Tuhan satu-satunya yang dituju dan dimintai.
Di antara doa Nabi ﷺ ketika pagi dan petang: "Allāhumma-stur 'aurātī wa āmin rau'ātī (Ya Allah! Tutuplah kekuranganku dan berilah rasa aman terhadap ketakutan ku)." [Hadis sahih; HR. Majah] Maknanya: Tutuplah kekuranganku, kelalaianku, dan semua yang buruk bagiku bila ia terbuka.
Ya Allah! Tutuplah kekurangan kami, berilah rasa aman pada ketakutan kami, ampunilah dosa kami, tutuplah amal dan umur kami dengan amal saleh, dan ampunilah kami, kedua orang tua kami dan semua orang beriman.
AṬ-ṬAYYIB ﷻ
Diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ Muslim dari Abu Hurairah -raḍiallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah itu Mahabaik, tidak menerima kecuali perkara yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul. Allah berfirman, 'Wahai para rasul! Makanlah yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.' [QS. Al-Mu`minūn: 51] Allah juga berfirman, 'Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu beribadah hanya kepada-Nya.' [QS. Al-Baqarah: 172]."
Kemudian beliau menyebutkan, "Ada seorang laki-laki melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit sembari berkata, 'Ya Tuhanku! Ya Tuhanku!' Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia dikenyangkan dengan yang haram, lantas bagaimana doanya itu bisa dikabulkan?"
Sebaik-baik makna ...
Tuhan kita ﷻ disucikan dari segala kekurangan dan aib, dijauhkan dari seluruh cacat dan keburukan, karena kesempurnaan dan keagungan-Nya dari segala sisi.
Tuhan kita ﷻ disucikan dari semua sifat yang tidak mengandung kesempurnaan, atau tidak mengandung pujian baik di semua keadaan.
Tuhan kita ﷻ Mahabaik pada zat-Nya, yaitu Zat yang paling sempurna, yang memiliki sifat-sifat paling tinggi dan paling sempurna.
Dia juga Mahabaik di dalam nama-nama-Nya, karena mengabarkan makna yang paling baik dan petunjuk yang paling agung.
Allah ﷻ Mahabaik di dalam perbuatan-perbuatan-Nya karena merupakan kebenaran yang paling tinggi, Dia tidak melakukan kecuali yang paling sempurna, paling indah, dan paling baik.
Allah ﷻ Mahabaik di dalam firman-Nya, dari-Nya bersumber kejujuran dalam berita dan keadilan terkait perintah dan larangan.
Allah ﷻ Mahabaik dalam ketetapan-ketetapan takdir-Nya, Dia disucikan dari keburukan: "Keburukan itu tidak dinisbahkan kepada-Mu." [HR. Muslim]
Dia Mahabaik di dalam hukum-hukum syariat-Nya karena berisi kemaslahatan para hamba.
Dia juga Mahabaik dalam hukuman-hukuman-Nya, karena Dia menetapkan hukum berdasarkan keadilan dan kemurahan-Nya di dunia dan akhirat.
Allah ﷻ menghiasi surga dengan berbagai kebaikan bagi orang-orang beriman serta memberinya aroma yang baik: "Dia memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka." [QS. Muḥammad: 6]
Ketika Allah ﷻ adalah Yang Mahabaik secara mutlak, maka Dia tidak menerima perbuatan dan perkataan kecuali yang memiliki sifat baik: "Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya." [QS. Fāṭir: 10] "Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik." [QS. Al-Baqarah: 267]
Diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang bersedekah senilai satu butir kurma dari penghasilan yang baik, dan memang Allah tidak akan menerima kecuali yang baik, maka sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Allah memeliharanya untuk pemiliknya sebagaimana salah seorang kalian memelihara anak kudanya, hingga sedekah itu menjadi seperti gunung."
Orang-orang Baik
Orang beriman baik seluruhnya; hatinya, lisannya dan badannya, disebabkan adanya keimanan yang bersemayam dalam hatinya, zikir yang diaktualisasikan pada lisannya, dan amal saleh pada anggota tubuhnya yang merupakan buah dari iman itu. Oleh karena itu, Allah ﷻ memberikan kepada orang-orang beriman nama dan sifat yang diturunkan-Nya dari nama dan sifat-sifat-Nya. Allah ﷻ berfirman, "Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)." [QS. An-Nūr: 26]
Dia pun memberikan petunjuk kepada wali-wali-Nya yang baik itu: "Mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan diberi petunjuk (pula) kepada jalan (Allah) Yang Maha Terpuji."
[QS. Al-Ḥajj: 24]
Sebab itu, orang beriman itu adalah orang yang baik dan berakhlak bagus. Dia tidak ikut terpengaruh oleh kejahilan orang-orang yang jahil dan tidak meninggalkan kedermawanannya lantaran pelitnya orang-orang yang bakhil. Dia membalas pengkhianatan teman dengan tindakan menepati janji, mengenakan pakaian malu ketika berhadapan dengan maksiat, mengulurkan kedua tangan untuk memberi di saat orang-orang enggan memberi. Dia adalah orang yang tenang, tidak terpancing oleh tindakan gegabah orang-orang jahil; seorang yang amanah di saat banyak orang yang berkhianat. Saat sedikit orang yang memberi nasihat, dia tetap memberi nasihat. Saat banyak orang yang berdusta, dia tetap tampil jujur. Sifat dasarnya ialah berakhlak baik, sedangkan semua kondisinya adalah kebaikan sama seperti pohon kurma.
Jadilah seperti pohon kurma yang tinggi di atas para pendengki, ia dilempar dengan batu, tetapi ia malah menjatuhkan buahnya yang terbaik.
Oleh karena itu, ketika orang beriman bersikap baik di dunia ini, Allah memuliakannya dengan memasukkannya ke tempat orang-orang yang baik: "Selamat untuk kamu, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan." [QS. An-Naḥl: 32]
"Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga 'Adn. Namun, keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung." [QS. At-Taubah: 72]
Ya Allah! Jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang baik, yang dikatakan kepada mereka: "Masuklah kamu ke dalam surga! Tidak ada rasa takut padamu dan kamu tidak pula akan bersedih hati." [QS. Al-A'rāf: 49] Kami juga memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang saleh.
AL-WITR ﷻ
Ibnul Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Apabila manusia merasa cukup dengan dunia, maka engkau cukupkan diri dengan Allah. Jika mereka gembira dengan dunia, maka gembiralah dengan Allah. Jika mereka merasa nyaman dengan teman-temannya, maka jadikanlah kenyamananmu bersama Allah. Jika mereka berusaha mengenalkan diri kepada raja-raja dan para pembesar mereka serta mendekatkan diri kepadanya untuk mendapatkan kemuliaan dan kehormatan, maka mendekatlah kepada Allah dan tampakkan kecintaan kepada-Nya niscaya dengan itu engkau akan mendapatkan puncak kemuliaan dan kehormatan."
Abu Sulaiman berkata, "Beruntunglah orang yang memiliki satu langkah yang tidak dia niatkan kecuali untuk Allah."
Mari sambut surga 'Adn, karena sungguh
dia merupakan tempat tinggal kita yang utama, di dalamnya terdapat tenda-tendanya,
Mari kita menuju taman-taman dan tenda-tendanya.
mari sambut kehidupan di sana yang tidak akan membosankan.
Disebutkan dari Nabi ﷺ di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah -raḍiallāhu 'anhu- bahwa beliau bersabda, "Allah memiliki 99 nama, siapa yang menghafalnya pasti akan masuk surga. Sesungguhnya Allah itu witr (ganjil), serta suka kepada bilangan ganjil." [HR. Bukhari dan Muslim dan ini redaksi Muslim]
Tuhan kita ﷻ Maha Esa, tidak ada sekutu dan tandingan bagi-Nya. Dialah Allah Yang Maha Esa, tempat meminta segala sesuatu, yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.
Tuhan kita ﷻ Mahatunggal dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan.
Dia ﷻ Maha Esa dalam rububiah dan uluhiah-Nya, dan di dalam sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, tidak ada yang semisal maupun yang serupa dengan-Nya, dan tidak ada tandingan bagi-Nya, karena kesempurnaan-Nya ﷻ dari segala sisi. "Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11] "Tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” [QS. Al-Ikhlās: 4] "Apakah engkau mengetahui ada yang sama dengan-Nya?" [QS. Maryam: 65] "Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 22]
Pengakuan ..
Siapa yang mengakui hal itu, maka ia akan menghinakan diri dan tunduk kepada Allah ﷻ, ia akan mencintai dan berharap hanya kepada-Nya, ia akan berserah diri dan kembali kepada-Nya, dan ia akan memurnikan ibadahnya untuk-Nya. Allah ﷻ tidak menciptakan kita kecuali untuk itu: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." [QS. Aż-Żāriyāt: 56] Maksdunya: memurnikan ibadah kepada-Nya.
Sungguh Dia ganjil
Semua selain-Nya genap, yang demikian itu adalah sifat ciptaan, yaitu ia tidak akan seimbang dan normal kecuali dengan berpasangan: "Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah)." [QS. Aż-Żāriyāt: 49] Juga karena manusia saling membutuhkan satu sama lain: "Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat." [QS. Az-Zukhruf: 32]
Hatimu ..
Seringkali keadaan mereka sampai ke tingkat bergantung kepada makhluk dan melupakan Sang Khaliq, pun kecintaan mereka sampai ke tingkat seperti mencintai Allah atau bahkan lebih, sehingga hati tersebut berpaling dari Khaliq kepada makhluk! "Di antara manusia ada yang menjadikan (tuhan-tuhan) tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah." [QS. Al-Baqarah: 165]
Sedangkan hati telah difitrahkan mencintai siapa yang berbuat baik kepadanya. Dari pintu inilah, setan masuk pada dirinya.
Di sini, Allah ﷻ mengingatkan makhluk jangan sampai terjerumus ke dalam kesyirikan, baik mereka mengetahuinya ataupun tidak, seperti halnya orang yang menjadikan orang yang dicintai sebagai tuhan atau pemberi syafaat. Allah ﷻ berfirman, "Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 22] Allah ﷻ juga berfirman," "Ataukah mereka mengambil penolong selain Allah? Katakanlah, 'Apakah (kamu mengambil juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatu apa pun dan tidak mengerti?'" [QS. Az-Zumar: 43]
Dari firman Allah -Ta'ālā-: "Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah, Yang Maha Esa'" [QS. Al-Ikhlās: 1], lahir kaidah "Beriman secara lahir dan batin". Nabi juga telah mengingatkan umatnya tentang kaidah ini: "Dia ganjil, suka kepada bilangan ganjil." Maksudnya: Allah -Ta'ālā- itu tunggal, tidak memiliki sekutu maupun tandingan.
Sekumpulan Bukti
Kecintaan Allah -Ta'ālā- kepada jumlah ganjil -yaitu tauhid- tampak dalam banyak ibadah perkataan dan perbuatan. Salat fardu ada lima, salat malam ditutup dengan bilangan ganjil, mandi disyariatkan dengan bilangan ganjil, jumlah pengulangan bersuci ganjil, kafan mayit berjumlah ganjil, istigfar setelah salat fardu berjumlah ganjil, demikian juga dalam banyak zikir.
Nabi ﷺ memperhatikan bilangan ganjil dalam semua urusannya. Beliau memasuki pagi hari dengan konsumsi tujuh kurma dan meminum air dalam tiga kali tegukan.
Di antara tanda kecintaan Allah -Ta'ālā- pada bilangan ganjil adalah Dia mengkhususkan 99 nama di antara nama-nama-Nya yang indah, bahwa siapa yang menguasainya akan masuk surga.
Hanya kepada-Mu kuhadapkan angan-anganku, ya Tuhanku!
Dengarlah doaku dan kasihanilah keadaan lemahku.
Jangan serahkan aku kepada orang yang tidak menjagaku,
Jadilah sebagai penjaminku karena Engkau penjamin yang mencukupi.
Ya Allah! Kami memohon kepada-Mu dengan nama-Mu Al-Witr, semoga Engkau memasukkan kami ke dalam surga dan melindungi kami dari api neraka.
AL-KAFĪL ﷻ
Dalam Ṣaḥīḥ Bukhari, Abu Hurairah -raḍiallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ mengisahkan, Ada seorang laki-laki dari Bani Israil memintai sebagian Bani Israil agar memberinya pinjaman seribu dinar. Orang tersebut berkata, "Hadirkan kepadaku saksi-saksi untuk kujadikan sebagai saksi." Dia berkata, "Cukuplah Allah sebagai saksi." Orang tersebut berkata, "Kalau begitu, hadirkan kepadaku orang yang menjadi penjamin." Dia berkata, "Cukuplah Allah sebagai penjamin." Orang tersebut berkata, "Engkau benar." Lalu dia menyerahkan seribu dinar kepadanya sampai tenggat waktu yang ditentukan. Lantas laki-laki itu pergi menyeberang laut dan menyelesaikan kebutuhannya. Kemudian dia mencari kapal untuk ditumpangi guna menepati tenggat waktu yang telah ditentukannya. Akan tetapi, dia tidak menemukan tumpangan kapal. Lantas dia mengambil sepotong kayu, lalu dilubanginya dan dia memasukkan seribu dinar beserta selembar surat untuk rekannya itu, kemudian dirapikannya kembali. Kemudian dia membawanya ke laut seraya berkata, "Ya Allah! Sungguh Engkau mengetahui bahwa aku telah meminjam seribu dinar pada Polan, lalu dia meminta dariku penjamin, maka aku mengatakan, 'Cukuplah Allah sebagai penjamin.' Maka dia rida kepada-Mu. Lalu dia meminta dariku saksi, tetapi aku mengatakan 'Cukuplah Allah sebagai saksi', maka dia rida kepada-Mu. Sesungguhnya aku telah berupaya untuk mendapatkan sebuah kapal guna membawa haknya tetapi aku tidak mendapatkannya. Sungguh, aku menitipkannya kepada-Mu." Lalu dia melemparkannya ke laut hingga kayu itu berlayar. Kemudian dia pergi seraya mencari kapal untuk menyeberang ke negerinya. Sementara itu, orang yang memberinya pinjaman keluar untuk menunggunya, barangkali ada kapal yang datang mengantar uangnya. Ternyata, dia hanya menemukan kayu yang berisikan uang itu, maka dia mengambilnya untuk dibawa ke keluarganya sebagai kayu bakar. Tatkala dia membelahnya ternyata dia menemukan uang dan lembaran itu. Kemudian laki-laki yang dulu memintainya pinjaman datang dan membawakan seribu dinar. Dia berkata, "Demi Allah! Aku terus-menerus berusaha mencari kapal untuk membawakan uangmu, tetapi aku tidak menemukan kapal sebelum waktu aku datang ini." Orang tersebut berkata, "Apakah engkau pernah mengirimiku sesuatu?" Dia berkata, "Aku kabari bahwa aku tidak menemukan kapal sebelum waktu aku datang ini." Orang tersebut berkata, "Sungguh Allah telah menunaikan apa yang engkau kirim di dalam kayu. Silakan bawa seribu dinar itu dengan penuh lapang dada." "... sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai penjamin (terhadap sumpahmu itu)." [QS. An-Naḥl: 91]
Al-Kafīl secara bahasa bermakna: penjamin dan penanggung.
Tuhan kita ﷻ adalah pengurus seluruh urusan makhluk dan penjamin makanan dan rezeki mereka. Dialah yang mendatangkan manfaat untuk mereka serta menolak kemudaratan dari mereka.
Bentuk jaminan (kafālah) terbagi dua:
Pertama: Jaminan yang bersifat umum.
Hal ini berlaku untuk semua makhluk di langit dan di bumi dalam bentuk penjagaan, perlindungan, dan pertolongan serta berbagai rezeki dan makanan di semua waktu.
Seorang pencari rezeki tidak kuasa untuk mendatangkan rezeki dirinya. Akan tetapi, Allahlah yang memberikan rezeki kepada kumpulan manusia, hewan, bahkan janin ketika masih dalam perut ibunya, juga burung-burung yang keluar dalam keadaan lapar lalu kembali dalam keadaan kenyang. Demikian juga binatang-binatang kecil, serangga dan binatang buas di hutan belantara.
Aku mengurus urusanmu ketika
engkau masih janin dalam perut ibumu.
Aku jadikan ia mengasihimu
hingga ia sangat baik memelukmu.
Sungguh Kami menjaminmu dari semua
yang datang menyesakkan dan menyusahkanmu.
Maka bangkitlah memohon kepada Kami,
sungguh akan Kami gandeng tanganmu untuk urusanmu.
Kedua: Jaminan yang bersifat khusus.
Hak ini berlaku bagi wali-wali Allah yang meridai-Nya sebagai penjamin dalam semua urusan dunia dan agama mereka, yang lahir maupun batin.
Allah ﷻ ada pada posisi baik sangka mereka kepada-Nya. Dia menjamin mereka dengan penjagaan-Nya serta jaminan-Nya yang tidak berhenti dan tidak berkurang.
Dia Mencukupimu dari Semua yang Menyusahkanmu ...
Tuhan kita ﷻ adalah Yang Maha Menjamin. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu; menjagamu, memeliharamu, mengubah problemmu menjadi solusi, semua rasa sakitmu menjadi keafiatan, semua impianmu menjadi realitas, semua rasa takutmu menjadi rasa aman, dan semua air matamu menjadi senyuman. Sebab itu, istirahatkan jiwamu dari kelemahan, kegundahan, dan keletihannya, dan jadikan dia bersama Tuhan Yang Maha Menjamin lagi Maha Mencukupi.
Aku berlepas diri dari kemampuan, kekayaan dan kekuatanku, sesungguhnya aku sangatlah butuh kepada Tuhanku.
Bila musibah menimpa seseorang, berbagai urusan mengurungnya, pintu-pintu ditutup di hadapannya, bumi menjadi sempit baginya serta kesusahannya meningkat, sementara ia tidak menemukan tempat berlindung dan tempat aman di tengah-tengah makhluk ..
Saat itulah, orang yang ditimpa kesusahan dan bencana segera berdoa kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya, semua makhluk meminta dan menuju kepada-Nya, lisan-lisan basah berzikir kepada-Nya dan hati-hati menuhankan-Nya, orang-orang yang tawakal bersandar kepada-Nya dan para pejuang bertumpu kepada-Nya; mereka semua menjadikan Allah sebagai penjamin. Diriwayatkan secara sahih bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Allah memberi jaminan bagi siapa yang berjuang di jalan-Nya, tidak ada yang mengeluarkannya kecuali niat jihad di jalan-Nya serta membenarkan kalimat-kalimat-Nya, bahwa Dia akan memasukannya ke surga atau mengembalikannya ke tempat tinggal yang dia berangkat darinya bersama pahala dan ganimah yang didapatkannya." [HR. Bukhari dan Muslim]
Semua berharap berada dalam jaminan Allah yang khusus karena merupakan kedudukan para nabi dan orang-orang saleh yang tulus dalam tawakalnya dan yang berbaik sangka kepada Allah. Mereka menyadari bahwa kebahagiaan di dunia dan akhirat akan diraih ketika Allah menjamin mereka dengan jaminan yang Dia berikan kepada orang-orang yang dicintai-Nya.
Di sini, rasa lapar mereka berubah menjadi kenyang, kehausan mereka hilang, bergadang mereka berganti tidur, dan penyakit mereka berganti keafiatan, yang menderita di antara mereka dilepaskan dan yang hilang di antara mereka dikembalikan, dan kesusahan-kesusahan mereka diangkat lantaran mereka berbaik sangka kepada Tuhan mereka, yaitu mereka menjadikan-Nya sebagai penjamin dan pemelihara. Sungguh, Dia adalah sebaik-baik pemelihara dan sebaik-baik penolong.
Lalu mengapa hati kita tidak berserah kepada-Nya?! Mengapa kita tidak bersandar kepada-Nya di dalam kepentingan dan kebutuhan kita?! Betapa kita butuh kepada kekuatan dan kekayaan-Nya. Tidak ada kekuatan bagi kita kecuali dengan kekuatan dan taufik-Nya. Tidak ada upaya bagi kita untuk menghindari kemaksiatan dan menolak keburukan jiwa kecuali dengan pertolongan-Nya. Kita diciptakan dalam keadaan lemah, dilahirkan dalam keadaan lemah, dan meninggal dalam keadaan lemah: "Manusia itu diciptakan (bersifat) lemah." [QS. An-Nisā`: 28]
Akad Bersama Allah ...
Tuhan kita Yang Maha Menjamin ﷻ adalah Maha Berterima kasih lagi Mahaindah, Maha Penyayang, Mahakaya dan Maha Terpuji, pemilik balasan yang melimpah. Dia mencintai orang-orang yang penyayang di antara hamba-Nya. Dia ingin melihatmu merendah dan penyayang kepada hamba-Nya, mengangkat kesusahan saudaramu dan menghilangkan kesedihan mereka. Dengarkanlah hadis yang diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ Bukhāri bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Aku bersama penjamin anak yatim di dalam surga seperti ini." Beliau sambil berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Lihatlah Abu Qatādah! Dia mencari orang yang pernah berhutang kepadanya, tetapi orang tersebut bersembunyi. Setelah menemukannya, orang itu berkata, "Saya sedang kesulitan." Abu Qatādah berkata, "Demi Allah?" Dia menjawab, "Demi Allah!"
Abu Qatādah berkata, "Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Siapa yang ingin diselamatkan oleh Allah dari kesulitan hari Kiamat, hendaklah dia memberi kelonggaran pada orang yang kesulitan (dalam membayar utang) atau membebaskan utangnya.'" [HR. Muslim]
Juga dalam hadis sahih lain, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mengangkat satu di antara kesusahan dunia dari seorang mukmin, niscaya Allah angkat darinya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari Kiamat. Siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang dilanda kesulitan, niscaya Allah memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat." [HR. Muslim]
Kelembutan berasal dari orang yang akan menemukan keberkahan, sedangkan orang jahil adalah sumber kekerasan dan ketergelinciran. Kebaikan karena Allah adalah perkara yag paling baik kesudahannya,
sedangkan Allah bagi orang yang berbuat baik adalah penolong yang tidak ada tandingannya. Orang yang paling baik ucapannya adalah yang paling baik amalnya, karena ucapan tidak akan baik hingga perbuatan baik.
Ya Allah! Jaminlah kami dengan penjagaan-Mu dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu.
RENUNGAN BERSAMA NAMA-NAMA ALLAH YANG INDAH
Pengenalan itu harus bersumber pada Al-Qur`an, Sunnah, serta riwayat-riwayat yang sahih dan valid dari para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
1- Seorang mukmin harus mengerahkan kemampuan dan potensinya untuk mengenal Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- terkait nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya; tanpa membatalkannya, menyerupakannya dengan makhluk, menyelewengkan maknanya, dan menentukan kaifiatnya.
2- Nama-nama Allah ﷻ bersifat tauqīfiy (paten) dan tidak ada ruang bagi akal di dalamnya. Oleh karena itu, terkait hal nama-nama Allah kita harus berhenti pada apa yang disampaikan oleh Al-Qur`an dan Sunnah, tidak ditambah maupun dikurangi.
3- Al-Asmā` Al-ḥusnā tidak dibatasi dengan jumlah tertentu, karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang disembunyikan-Nya dalam ilmu gaib di sisi-Nya; tidak diketahui oleh satu malaikat yang didekatkan maupun seorang nabi utusan, sebagaimana disebutkan dalam hadis: " ... Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama milik-Mu, yang Engkau namakan dengannya diri-Mu, atau yang Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu, atau yang Engkau sembunyikan dalam ilmu gaib di sisi-Mu ..." [Hadis sahih; HR. Aṭ-Ṭabarāniy dalam Al-Mu'jam Al-Kabīr]
Adapun sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, yaitu seratus kurang satu; siapa yang menghafal dan menguasainya pasti akan masuk surga" [HR. Bukhari dan Muslim], adalah rangkaian satu kalimat.
Sabda Nabi ﷺ: "Siapa yang menguasainya pasti akan masuk surga", adalah sebagai sifat (na'at), bukan sebagai khabar. Sehingga maknanya: Allah memiliki nama-nama dengan jumlah tertentu, siapa yang menguasainya akan masuk surga.
Hal ini tidak menafikan bahwa Allah memiliki nama-nama yang lain. Persis seperti engkau mengatakan: Polan memiliki 100 budak yang disiapkannya untuk berjihad. Hal ini tidak menafikan ia mungkin memiliki budak-budak selain itu yang disiapkan untuk selain jihad. Tidak ada ikhtilaf para ulama di dalam memahami hal ini.
Sabda Nabi ﷺ: "Siapa yang menguasainya akan masuk surga", yaitu siapa yang menghafalnya, memahaminya, dan memuji Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dengannya. Di sini, ada tiga tingkatan, siapa yang mewujudkan salah satu dari ketiga tingkatan ini disertai niat yang benar dan mengamalkan kandungannya, maka ia telah menguasainya, sebagaimana dikatakan oleh Al-Qurṭubiy, Al-Khaṭṭābiy dan Ibnul-Qayyim -raḥimahumullāh-.
4- Semua nama Allah ﷻ sangat bagus; dan ia terbagi menjadi empat:
Pertama: Nama-nama Keindahan
Yaitu nama-nama yang memasukkan ke dalam jiwa hamba rasa cinta kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan pertemuan dengan-Nya, memberikan rasa tenang dan tenteram, membuka pintu harap di sisi makhluk, sehingga ia tidak putus asa dari rahmat Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-; seperti: Ar-Raḥmān, Ar-Raḥīm, Al-Karīm, Al-'Afuww, Al-Ḥalīm, Al-Gafūr, At-Tawwāb, dan lain sebagainya.
Kedua: Nama-nama Kemuliaan
Yaitu nama-nama yang melahirkan rasa takut kepada Allah ﷻ serta sikap mengagungkan dan memuliakan-Nya.
Ia adalah nama-nama yang mengandung makna kekuasaan, kekuatan, keperkasaan, dan keagungan; seperti nama: Al-'Azīz, Al-Jabbār, Al-Qahhār, Al-Qawiy, Al-Kabīr, dan Al-Mutakabbir.
Ketiga: Nama-nama Rububiyah
Yaitu nama-nama yang bersamanya seorang mukmin merasa hina dan merasa bahwa ia makhluk yang diatur oleh Allah ﷻ.
Ia adalah nama-nama yang menunjukkan rububiyah Allah ﷻ; seperti: Ar-Rabb, As-Sayyid, Al-Malik, Al-Mālik, Al-Khāliq, Al-Bāri`, dan Ar-Rāziq.
Keempat: Nama-nama Uluhiyah
Yaitu nama-nama yang bersamanya seorang mukmin merasa bahwa ia hamba Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan bahwa Allah semata yang berhak terhadap ibadah.
Ia adalah nama-nama yang mengandung makna uluhiyah; seperti nama: Al-Ilāh dan Aṣ-Ṣamad.
Ini adalah pembagian berdasarkan makna. Adapun bila tanpa melihat hal itu, maka nama-nama Allah ﷻ seluruhnya mengumpulkan keindahan, kemuliaan, kesempurnaan dan keagungan. Seluruhnya menunjukan pemilik nama yang paling bagus dan pemilik sifat yang paling mulia.
5- Setiap nama di antara nama-nama tersebut menunjukkan sifat kesempurnaan bagi Allah ﷻ; oleh karena itu, nama-nama itu menjadi indah, sifat-sifat-Nya seluruhnya berupa sifat kesempurnaan dan kemuliaan, dan perbuatan-perbuatan-Nya seluruhnya mengandung hikmah, rahmat, maslahat dan keadilan.
6- Nama-nama Allah ﷻ tidak ada yang mengandung keburukan ataupun kekurangan.
Keburukan tidak dinisbahkan kepada-Nya; tidak masuk pada sifat-sifat-Nya, tidak hinggap pada zat-Nya, dan tidak ada di perbuatan-Nya, sehingga tidak disematkan kepada-Nya, baik pada perbuatan maupun sifat.
7- Allah ﷻ memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dengan nama-nama itu dalam firman-Nya: "Hanya milik Allahlah Al-Asmā` Al-Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.’" [QS. Al-A'rāf: 180] Hal ini mencakup doa ibadah dan doa permintaan.
Ini termasuk ketaatan paling mulia dan ibadah paling besar.
8- Tidak ada hadis yang sahih dari Nabi ﷺ tentang penyebutan seluruh Al-Asmā` Al-Ḥusnā sekaligus.
Kaidah dalam hal ini adalah bahwa nama-nama Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- hanya diambil dari Al-Qur`an dan Sunnah.
9- Saya mencukupkan pada cetakan kedua untuk menjelaskan 99 nama di antara nama-nama Allah yang indah yang disepakati oleh Syekh Muhammad bin Saleh bin Uṡaimīn, Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar, dan Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz -raḥimahumullāh jamī'an-, atau yang disepakati oleh dua orang di antara mereka bertiga.
Terakhir ...
Alhamdulillah, tulisan yang saya himpun dalam buku ini telah rampung di sini. Saya memohon kepada Allah ﷻ semoga Dia menerimanya dari saya dan menjadikannya berguna bagi semua hamba-Nya.
Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi kita, Muhammad, serta keluarga dan seluruh sahabat beliau.
Alḥamdulillāhi rabbil-'ālamīn; segala puji hanya bagi Allah, Tuhan seluruh alam.
Editor: Ustaz Muhammad 'Abdul 'Aẓīm dan Ustaz Muhammad 'Abdul Laṭīf. Penyalin buku: Ustaz Mu'awwaḍ Rizq Layout buku: Ustaz Ahmad Kasyūqah Semoga Allah memberi taufik kepada mereka semua.
SEKILAS TENTANG PENULIS
Abdullah bin Musyabbib bin Musfir Al-Qaḥṭāniy kelahiran tahun 1378 H (1967 M). Meraih gelar doktor di bidang Fikih Islam, mantan pengawas pendidikan, imam dan khatib Masjid Jāmi' Abū Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu- di Kota Dammam - Kerajaan Saudi Arabia.