عقيدة أهل السنة والجماعة

عقيدة أهل السنة والجماعة

مطوية مختصرة توضح مبادئ العقيدة الإسلامية على منهج أهل السنة والجماعة. يشرح الشيخ العثيمين فيها أسس الإيمان بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، والقدر خيره وشره، مع تقديم الأدلة من القرآن الكريم والسنة النبوية. يركز الشيخ على توضيح توحيد الربوبية، والألوهية، والأسماء والصفات، وبيان الفرق بين أهل السنة والجماعة وغيرهم من الفرق. تتميز المطوية بالأسلوب الواضح والمبسط، مما يجعلها مرجعًا قيمًا للطلاب والعلماء وجميع المسلمين الراغبين في فهم عقيدتهم بشكل صحيح ومتعمق.

Language: lang_id
Prepared by:
Version: 1.0
Translations 7
English Spanish Persian Hindi +3
Attachments 7
PDF
Audio
Video
+3

AKIDAH AHLI SUNAH WALJAMAAH

Karya Syekh al-'Allāmah

Muḥammad bin Ṣāliḥ al-'Uṡaimīn

Semoga Allah mengampuni beliau, kedua orang tuanya, dan seluruh kaum muslimin.

*

KATA PENGANTAR

SYEKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BĀZ

Segala puji bagi Allah semata. Semoga selawat serta salam terlimpahkan kepada sosok yang tidak ada nabi setelahnya, yakni nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amabakdu:

Setelah menelaah dan menyimak pembacaan seluruh isi buku akidah yang bagus dan ringkas yang disusun oleh saudara kami, Syekh al-'Allāmah Muhammad bin Ṣāliḥ al-'Uṡaimīn, saya mendapatinya mencakup penjelasan akidah Ahli Sunah Waljamaah dalam bab ketauhidan kepada Allah serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya, bab iman kepada malaikat, kitab, rasul, dan hari Akhir serta iman kepada takdir yang baik dan yang buruk.

Beliau menyusunnya dengan sangat baik dan dengan penuh faedah. Di dalamnya, beliau membahas hal-hal yang dibutuhkan oleh setiap penuntut ilmu dan setiap muslim dalam keimanannya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan takdir yang baik dan yang buruk. Di samping itu, beliau juga menambahkan berbagai bahasan urgen yang terkait dengan akidah, yang bisa jadi tidak akan ditemukan dalam banyak buku yang disusun dalam pembahasan akidah.

Semoga Allah memberi beliau ganjaran terbaik, menambahkan beliau ilmu dan petunjuk, dan menjadikan karya tulisnya ini serta karya-karya tulisnya yang lain berguna bagi umat. Semoga Allah menjadikan kami, beliau, dan semua saudara kami sebagai juru dakwah yang diberi petunjuk dan berdakwah kepada Allah di atas ilmu. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.

Didiktekan oleh seorang hamba yang butuh kepada Allah -Ta'ālā-, Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz -semoga Allah memaafkannya-. Semoga Allah senantiasa melimpahkan selawat dan salam kepada nabi kita, Muhammad, serta keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Ketua Umum

Lembaga Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah, dan Bimbingan Agama

*

Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam, kesudahan yang baik hanya bagi orang-orang yang bertakwa, dan tidak ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang yang zalim. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; Maharaja, Mahabenar, Maha Menjelaskan. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya, penutup para nabi, dan imam orang-orang bertakwa. Semoga Allah melimpahkan selawat kepada beliau, keluarganya, dan sahabat-sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat.

Amabakdu: Allah -Ta'ālā- telah mengutus Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, sebagai rahmat bagi alam semesta, teladan bagi orang-orang yang beramal, serta sebagai hujah atas seluruh makhluk. Melalui perantaraan beliau serta Al-Qur`ān dan Sunnah yang diturunkan kepadanya, Allah menerangkan semua yang mendatangkan kemaslahatan bagi para hamba serta kebaikan urusan agama dan dunia mereka berupa akidah yang benar, amal yang lurus, akhlak yang mulia, dan adab yang luhur.

Rasulullah ﷺ meninggalkan umatnya di atas petunjuk yang terang benderang, malamnya seperti siang, tidaklah menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.

Lalu umat beliau yang menyambut ajakan Allah dan Rasul-Nya ﷺ berjalan di atas petunjuk itu. Merekalah manusia terbaik dari kalangan sahabat, tabiin, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik; mereka menjalankan syariatnya, berpegang dengan Sunnahnya, dan menggigitnya dengan geraham, baik dalam perkara akidah, ibadah, akhlak maupun adab. Mereka itulah kelompok yang senantiasa eksis di atas kebenaran; mereka tidak dicelakankan oleh orang yang meninggalkan mereka ataupun yang menyelisihi mereka hingga datang perintah Allah -Ta'ālā- sementara mereka tetap di atas petunjuk tersebut.

Alhamdulillah, kita berusaha berjalan mengikuti jejak mereka dan memedomani jalan hidup mereka yang ditopang dengan Al-Qur`ān dan Sunnah. Hal ini kita ucapkan dalam rangka mengungkapkan karunia Allah -Ta'ālā- pada kita serta menjelaskan apa yang seharusnya dipegang oleh setiap mukmin.

Kita memohon kepada Allah -Ta'ālā- semoga kita dan saudara-saudara kita kaum muslimin diteguhkan dengan ucapan yang kokoh di kehidupan dunia dan akhirat, dan semoga Allah menganugerahi kita rahmat-Nya; sesungguhnya Dia Maha Pemberi anugerah.

Lantaran pentingnya pembahasan ini, ditambah lagi terpecahbelahnya pandangan manusia di dalamnya, maka saya berkeinginan untuk menulis akidah kita secara ringkas, yaitu akidah Ahli Sunah Waljamaah, yang mencakup iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, serta takdir yang baik dan yang buruk. Saya memohon kepada Allah -Ta'ālā- semoga menjadikan tulisan ini murni untuk wajah-Nya, sejalan dengan yang diridai-Nya, dan berguna bagi hamba-hamba-Nya.

Penyusun

*

AKIDAH KITA

Akidah kita ialah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, serta takdir yang baik dan yang buruk.

Kita beriman pada rububiyah (ketuhanan) Allah -Ta'ālā-, yaitu bahwa Dialah Rabb, Tuhan yang menciptakan, yang memiliki, dan yang mengatur seluruh urusan.

Kita beriman pada uluhiyah (keilahian) Allah -Ta'ālā-, yaitu bahwa Dialah sembahan yang hak, adapun semua sembahan selain-Nya adalah batil.

Kita beriman pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, yaitu bahwa Dia memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang sempurna dan luhur.

Kita beriman dengan keesaan-Nya dalam semua hal itu, yaitu bahwa Dia tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, maupun nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Allah -Ta'ālā- berfirman: "(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?" (QS. Maryam: 65)

Kita beriman bahwa Dialah: "Allah yang tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dia Mahatinggi, Mahabesar." (QS. Al-Baqarah: 255)

Kita beriman bahwa: "Dialah Allah yang tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dialah Allah yang tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Maharaja, Mahasuci, Mahasejahtera, Maha Menjaga keamanan, Maha Pemelihara keselamatan, Mahaperkasa, Mahakuasa, Maha Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Maha Menciptakan, Maha Mengadakan, Maha Membentuk rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Al-Ḥasyr: 22-24)

Kita mengimani bahwa milik-Nya kerajaan langit dan bumi: "Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa." (QS. Asy-Syūrā: 49-50)

Kita mengimani bahwa: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. Milik-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi, Dia melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Asy-Syūrā: 11-12)

Kita mengimani bahwa: "Tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Loh Mahfuz)." (QS. Hūd: 6)

Kita mengimani bahwa: "Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur kecuali Dia mengetahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering kecuali itu (tertulis) dalam kitab yang nyata (Loh Mahfuz)." (QS. Al-An’ām: 59)

Kita mengimani bahwa: “Hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat, Dia yang menurunkan hujan, mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok, serta tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqmān: 34)

Kita mengimani bahwa Allah memfirmankan apa yang Dia kehendaki, kapan saja yang Dia kehendaki, dan dengan cara yang Dia kehendaki: "Allah berbicara langsung kepada Musa."(QS. An-Nisā': 164) "Ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya." (QS. Al-A'rāf: 143) "Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung (Sinai) dan Kami dekatkan dia untuk bercakap-cakap." (QS. Maryam: 52)

Kita mengimani: “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku." (QS. Al-Kahf: 109) Juga mengimani: "Seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), dan ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Luqmān: 27)

Kita mengimani bahwa kalimat-kalimat Allah adalah kalimat yang paling sempurna kebenaran beritanya, keadilan hukumnya, dan keindahan ucapannya. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur`ān) dengan benar dan adil." (QS. Al-An'ām: 115) Dia juga berfirman, "Siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah?” (QS. An-Nisā`: 87)

Kita mengimani bahwa Al-Qur`ān al-Karīm adalah firman Allah -Ta'ālā-; Allah berbicara dengannya secara hakiki, disampaikannya kepada Jibril, lalu Jibril membawanya turun ke hati Nabi ﷺ: "Katakanlah, 'Rūḥul-Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur`ān itu dari Tuhanmu dengan kebenaran.'”(QS. An-Naḥl: 102) ”Sungguh, (Al-Qur`ān) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, yang dibawa turun oleh ar-Rūḥ al-Amīn (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan; dengan bahasa Arab yang jelas." (QS. Asy-Syu'arā`: 192-195)

Kita mengimani bahwa Allah ﷻ tinggi di atas makhluk-Nya, dengan zat dan sifat-sifat-Nya. Hal ini berdasarkan firman-Nya: "Dia Mahatinggi, Mahabesar." Juga firman-Nya: "Dialah yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya dan Dia Mahabijaksana, Maha Mengetahui." (QS. Al-An'ām: 18)

Kita beriman bahwa: "Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, Dia mengatur segala urusan." (QS. Yūnus: 3) Makna "Allah bersemayam di atas Arasy " ialah Dia meninggi di atasnya dengan zat-Nya, dengan ketinggian yang khusus menurut yang patut dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, tidak ada yang mengetahui kaifiatnya kecuali Dia.

Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- selalu bersama makhluk-Nya sementara Dia di atas Arasy-Nya. Dia mengetahui keadaan mereka, mendengar ucapan mereka, melihat perbuatan mereka, mengatur urusan mereka, memberi rezeki kepada yang fakir, mengobati yang terluka hati, memberi kerajaan kepada siapa yang Dia kehendaki, mencabut kerajaan dari siapa yang Dia kehendaki, memuliakan siapa yang Dia kehendaki, dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki. Di tangan-Nya seluruh kebaikan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Tuhan yang seperti ini kemuliaan-Nya, maka Dia tentu bersama makhluk-Nya secara hakiki, walaupun Dia berada di atas mereka di atas Arasy-Nya: "Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat." (QS. Asy-Syūrā: 11)

Kita tidak meyakini pandangan aliran Ḥulūliyah -dari kalangan Jahmiyah dan lainnya- bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya di bumi. Bahkan, kita meyakini orang yang mengatakan demikian adalah orang yang kafir atau tersesat karena ia telah menyifati Allah dengan kekurangan yang tidak patut bagi-Nya.

Kita mengimani apa yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ bahwa Allah turun setiap malam ke langit paling rendah ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir, lantas berfirman, "Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan? Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku berikan? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni?"

Kita mengimani bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- akan datang pada hari Kiamat untuk memberi keputusan di antara para hamba. Hal ini sesuai firman-Nya: "Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan), lalu datanglah Tuhanmu dan para malaikat berbaris-baris. Pada hari itu neraka Jahanam didatangkan. Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu." (QS. Al-Fajr: 21-23)

Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā-: "Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki" (QS. Hūd: 107)

Kita mengimani bahwa irādah (keinginan) Allah -Ta'ālā- terbagi dua:

1- Irādah kauniyah: apa yang diinginkan-Nya pasti terjadi, tetapi tidak harus dicintai-Nya. Irādah inilah yang dimaksud dengan masyī`ah (kehendak). Seperti firman Allah -Ta'ālā-: "Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Tetapi, Allah berbuat menurut kehendak-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 253) "Kalau Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Tuhanmu." (QS. Hūd: 34)

2- Irādah syar'iyah: apa yang diinginkan-Nya tidak pasti terjadi, tetapi pasti dicintai-Nya. Seperti firman Allah-Ta'ālā-: "Allah hendak menerima tobat kamu." (QS. An-Nisā': 27)

Kita mengimani bahwa semua yang diinginkan oleh Allah, yang kauniyah maupun syar'iyah, tunduk pada kebijaksanaan-Nya. Semua yang ditetapkan-Nya secara takdir, ataupun ibadah yang diperintahkan-Nya terhadap hamba-Nya dalam syariat, sungguh itu berdasarkan suatu hikmah dan sejalan dengan hikmah, baik yang kita ketahui ataupun yang tidak dapat dipahami oleh akal kita. "Bukankah Allah hakim yang paling adil?" (QS. At-Tīn: 8) "Dan tidak ada yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin." (QS. Al-Mā`idah: 50)

Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- mencintai wali-wali-Nya dan mereka pun mencintai-Nya: "Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu.'" (QS. Āli 'Imrān: 31) "Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya." (QS. Al-Mā`idah: 54) "Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." (QS. Āli 'Imrān: 146) "Dan berlaku adillah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Ḥujurāt: 9) "Dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah: 195)

Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- meridai perbuatan dan perkataan yang disyariatkan-Nya serta membenci perbuatan dan perkataan yang dilarang-Nya: "Jika kamu kafir, maka (ketahuilah) sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak meridai kekafiran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia meridai syukurmu itu." (QS. Az-Zumar: 7) "Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan (kepada mereka), 'Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.'” (QS. At-Taubah: 46)

Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- rida kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh: "Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (QS. Al-Bayyinah: 8)

Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- murka terhadap orang yang patut dimurkai dari kalangan orang-orang yang kafir dan lainnya: "Yang berprasangka buruk terhadap Allah, mereka akan mendapat giliran (azab) yang buruk dan Allah murka kepada mereka." (QS. Al-Fatḥ: 6) "Tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar." (QS. An-Naḥl: 106)

Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- memiliki wajah yang disifati dengan keagungan dan kemuliaan: "Tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan tetap kekal." (QS. Ar-Raḥmān: 27)

Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- memiliki dua tangan yang pemurah dan agung: "Padahal kedua tangan Allah terbuka; Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki." (QS. Al-Mā`idah: 64) "Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan." (QS. Az-Zumar: 67)

Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- memiliki dua mata yang hakiki. Ini berdasarkan firman Allah -Ta'ālā-: "Buatlah kapal itu dengan penglihatan mata Kami dan petunjuk wahyu Kami." (QS. Hūd: 37) Nabi ﷺ bersabda, "Tabir-Nya adalah cahaya; seandainya Dia membukanya, niscaya cahaya wajah-Nya akan membakar semua makhluk yang dijangkau oleh penglihatan-Nya."

Ahli Sunnah telah berijmak bahwa mata Allah ada dua. Ijmak tersebut dikuatkan oleh sabda Nabi ﷺ tentang Dajal: "Sesungguhnya Dajal itu buta sebelah, sedangkan Tuhan kalian tidak buta sebelah."

Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā-: "Tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Mahalembut, Mahateliti." (QS. Al-An'ām: 103)

Kita mengimani bahwa orang-orang mukmin akan melihat Tuhan mereka pada hari Kiamat: "Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri; memandang Tuhannya." (QS. Al-Qiyāmah: 22-23)

Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- tidak memiliki kesamaan dengan makhluk karena kesempurnaan sifat-sifat-Nya: "Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat." (QS. Asy-Syūrā: 11)

Kita mengimani bahwa: "Dia tidak mengantuk dan tidak tidur." (QS. Al-Baqarah: 255). Hal itu karena kesempurnaan sifat hidup dan sifat kepengurusan-Nya.

Kita mengimani bahwa Allah tidak menzalimi siapa pun karena kesempurnaan sifat adil-Nya dan bahwa Dia tidak lalai dari amal perbuatan hamba-Nya karena kesempurnaan sifat pengawasan dan ilmu-Nya.

Kita mengimani bahwa Allah tidak mungkin ditaklukkan oleh sesuatu apa pun di langit dan di bumi karena kesempurnaan sifat ilmu dan kuasa-Nya: "Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah sesuatu itu." (QS. Yāsīn: 82)

Juga mengimani bahwa Allah tidak dihinggapi sifat letih dan lelah karena kesempurnaan sifat kekuatan-Nya: "Sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami tidak merasa letih (lugūb) sedikit pun." (QS. Qāf: 38) Makna "lugūb" ialah lelah dan letih.

Kita mengimani dan menetapkan semua nama-nama dan sifat-sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, ataupun yang ditetapkan bagi-Nya oleh Rasul-Nya ﷺ. Namun, kita berlepas diri dari dua buah kesalahan besar, yaitu: tamṡīl (menyerupakannya dengan makhluk) dan takyīf (menentukan kaifiatnya).

Tamṡīl ialah keyakinan hati atau ucapan lisan yang mengikrarkan bahwa sifat-sifat Allah -Ta'ālā- seperti sifat makhluk.

Sedangkan takyīf ialah keyakinan hati atau ucapan lisan yang menentukan kaifiat sifat-sifat Allah -Ta'ālā- bahwa bentuknya begini dan begini.

Kita mengimani ketiadaan sifat yang Allah -Ta'ālā- nafikan dari diri-Nya, ataupun yang dinafikan oleh Rasulullah ﷺ, dan bahwa penafian itu mengandung penetapan sifat kebalikannya yang sempurna. Kita juga tidak beropini pada sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya tidak tetapkan dan tidak nafikan.

Kita meyakini bahwa meniti jalan ini hukumnya wajib karena apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya atau yang Dia nafikan dari diri-Nya adalah informasi yang Allah kabarkan tentang diri-Nya, dan Dia tentu paling tahu tentang diri-Nya, paling benar ucapan-Nya, dan paling indah perkataan-Nya, sedangkan ilmu para hamba tidak mampu meliputi-Nya.

Demikian juga yang Rasulullah tetapkan atau yang beliau nafikan adalah informasi yang beliau beritakan tentang Allah, dan beliau adalah manusia yang paling tahu tentang Tuhannya, paling tulus memberikan nasihat, paling jujur, dan paling fasih.

Selain itu, di dalam firman Allah -Ta'ālā- dan hadis Rasul-Nya ﷺ terkandung kesempurnaan ilmu, kejujuran, dan penjelasan gamblang, sehingga tidak ada alasan untuk menolaknya ataupun ragu menerimanya.

*

PASAL

Semua sifat Allah -Ta'ālā- yang kita sebutkan, secara rinci maupun global, berupa penetapan maupun penafian, dalam hal itu kita bertumpu pada Kitab Tuhan kita dan Sunnah Nabi kita, serta berjalan meniti Sunnah generasi salaf umat ini dan imam-imam setelah mereka.

Kita meyakini wajibnya memberlakukan dalil-dalil Kitab dan Sunnah dalam permasalahan itu sesuai makna zahirnya dan membawanya pada makna hakiki yang patut bagi Allah ﷻ.

Kita berlepas diri dari jalan orang-orang yang menyelewengkannya, yaitu orang-orang yang memalingkannya ke selain makna yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Juga berlepas diri dari jalan orang-orang yang menafikannya, yaitu orang-orang yang menafikannya dari makna yang ditunjukkannya sebagaimana yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Demikian juga jalan orang-orang yang guluw (berlebihan) di dalamnya, yaitu orang-orang yang membawanya kepada tamṡīl (penyerupaan Allah dengan makhluk) atau memaksakan takyīf (penentuan kaifiat) pada makna yang ditunjukkannya.

Kita mengetahui secara hakulyakin bahwa semua kandungan Kitab Allah -Ta'ālā- ataupun Sunnah Nabi-Nya ﷺ adalah benar dan tidak saling bertentangan satu sama lain. Hal ini berdasarkan firman Allah -Ta'ālā-: "Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur`ān? Sekiranya (Al-Qur`ān) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya." (QS. An-Nisā`: 82)

Juga, karena adanya pertentangan di dalam berbagai informasi memiliki konsekuensi saling mendustakan satu sama lain, dan ini mustahil terjadi pada informasi yang datang dari Allah -Ta'ālā- dan Rasulullah ﷺ.

Siapa yang mengklaim adanya kontradiksi di dalam Kitab Allah -Ta'ālā- atau di dalam Sunnah Rasul-Nya ﷺ ataupun di antara keduanya, maka hal itu disebabkan oleh niat buruk dan penyimpangan hatinya, sehingga ia harus segera bertobat kepada Allah -Ta'ālā- dan meninggalkan ketersesatannya itu.

Siapa yang menduga adanya pertentangan di dalam Kitab Allah -Ta'ālā-, atau di dalam Sunnah Rasul-Nya ﷺ, ataupun antara keduanya, maka hal itu disebabkan oleh ilmunya yang minim, atau pemahamannya yang dangkal, atau kelalaiannya dalam berpikir. Sebab itu, hendaklah ia segera menuntut ilmu dan bersungguh-sungguh dalam menggunakan pikiran hingga kebenaran jelas baginya. Jika ternyata hal itu tetap tidak jelas baginya, hendaklah ia mengembalikan perkara itu kepada yang mengetahuinya, menahan diri dari dugaannya, dan mengucapkan perkataan orang-orang yang kokoh keilmuannya, "Kami beriman kepadanya (Al-Qur`ān), semuanya dari sisi Tuhan kami." (QS. Āli 'Imrān: 7) Ketahuilah, tidak ada kontradiksi dan pertentangan di dalam Al-Qur`ān dan Sunnah maupun antara keduanya.

*

PASAL

Kita beriman kepada malaikat-malaikat Allah -Ta'ālā-, yaitu bahwa mereka adalah: "Hamba-hamba yang dimuliakan, mereka tidak berbicara mendahului-Nya, dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya." (QS. Al-Anbiyā`: 26-27)

Allah -Ta'ālā- menciptakan mereka dari cahaya, lalu mereka melaksanakan ibadah kepada-Nya dan tunduk pada ketaatan kepada-Nya: "Mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang." (QS. Al-Anbiyā`: 19-20) Allah menghijab mereka dari kita sehingga kita tidak melihat mereka. Namun, terkadang Allah memperlihatkan mereka pada sebagian hamba-Nya. Nabi ﷺ pernah melihat Jibril sesuai rupa aslinya; ia memiliki 600 sayap yang menutupi cakrawala. Jibril pernah menampakkan diri pada Maryam dalam rupa manusia sempurna, lalu Maryam berbicara kepadanya dan ia pun berbicara kepada Maryam. Ia juga pernah datang menemui Nabi ﷺ ketika sedang bersama para sahabatnya dalam rupa laki-laki yang asing, tetapi tidak ada padanya jejak perjalanan jauh (sebagai orang asing), dan berpakaian sangat putih dengan rambut sangat hitam, lalu ia duduk kepada Nabi ﷺ dengan menautkan kedua lututnya pada lutut Nabi ﷺ dan meletakkan kedua tangannya di atas pahanya, lalu berbicara kepada Nabi ﷺ dan Nabi ﷺ pun berbicara kepadanya, kemudian Nabi ﷺ mengabarkan sahabat-sahabatnya bahwa orang itu adalah Jibril.

Kita mengimani bahwa para malaikat memiliki tugas-tugas khusus yang dibebankan Allah kepada mereka.

Di antara mereka ialah: - Jibril. Dia ditugaskan untuk wahyu, yaitu ia membawanya turun dari sisi Allah kepada siapa yang Allah kehendaki di antara para nabi dan rasul-Nya.

- Mikail. Dia ditugaskan mengurus hujan dan tumbuhan.

- Israfil. Dia ditugaskan meniup sangkakala pada saat kematian seluruh makhluk dan kebangkitan.

- Malakul-Maut. Dia ditugaskan mencabut roh pada saat kematian.

- Malaikat Gunung. Dia ditugaskan mengurus gunung.

- Malaikat Mālik. Dia ditugaskan sebagai penjaga neraka.

- Malaikat-malaikat yang ditugaskan pada janin dalam kandungan. - Malaikat-malaikat yang ditugaskan menjaga manusia. - Malaikat-malaikat yang ditugaskan mencatat amal manusia. Di masing-masing orang terdapat dua malaikat: "Satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata pun yang diucapkan melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. Qāf: 17-18)

- Malaikat-malaikat yang ditugaskan menanyai mayat setelah dimasukkan ke dalam kuburnya, ia didatangi dua malaikat yang bertanya tentang tuhannya, agamanya, dan nabinya, lalu: "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim. Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (QS. Ibrāhīm: 27)

- Malaikat-malaikat yang ditugaskan pada penduduk surga: "Para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), 'Selamat sejahtera atas kamu karena kesabaranmu.' Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu." (QS. Ar-Ra'd: 23-24)

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Baitul Makmur yang ada di langit, setiap hari dimasuki 70 ribu malaikat -dalam riwayat lain: salat di dalamnya 70 ribu malaikat-, kemudian mereka tidak kembali lagi padanya selamanya.

*

PASAL

Kita beriman bahwa Allah -Ta'ālā- telah menurunkan kitab-kitab kepada para rasul-Nya sebagai hujah atas alam semesta serta sebagai jalan penerang bagi orang-orang yang mau beramal. Dengan kitab tersebut mereka diajari hikmah dan disucikan.

Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- telah menurunkan sebuah kitab bersama setiap rasul, berdasarkan firman Allah -Ta'ālā-: "Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil." (QS. Al-Ḥadīd: 25) Di antara kita-kitab yang kita ketahui ialah:

A. Taurat, kitab yang diturunkan oleh Allah -Ta'ālā- kepada Musa ﷺ. Ia adalah kitab Bani Israel yang paling agung: "Di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya. Dengan kitab itu, para nabi yang berserah diri kepada Allah memberi putusan atas perkara orang Yahudi, demikian juga para ulama dan pendeta-pendeta mereka, sebab mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya." (QS. Al-Mā`idah: 44)

B. Injil, kitab yang diturunkan oleh Allah -Ta'ālā- kepada Isa ﷺ. Ia sebagai pembenar dan penyempurna bagi Taurat: "Kami menurunkan Injil kepadanya. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, ia membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat, dan sebagai petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Mā`idah: 46)

"... dan agar aku menghalalkan bagi kamu sebagian yang telah diharamkan untukmu." (QS. Āli 'Imrān: 50)

C. Zabur, kitab yang diturunkan oleh Allah -Ta'ālā- kepada Daud ﷺ.

D. Suhuf Ibrahim dan Musa -'alaihimaṣṣalātu wassalām-.

E. Al-Qur`ānul-'Aẓīm, kitab yang diturun oleh Allah kepada Nabi-Nya, Muhammad, penutup para nabi: "Sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)." (QS. Al-Baqarah: 185) Al-Qur'an itu, ”Membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya." (QS. Al-Mā'idah: 48)

Dengan Al-Qur'an, Allah menasakh seluruh kitab-kitab sebelumnya. Dia juga menjamin untuk menjaganya dari perbuatan orang-orang yang jahil dan kesesatan orang-orang yang menyimpang: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur`ān dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Ḥijr: 9) Hal itu karena ia akan tetap berfungsi sebagai hujah atas seluruh manusia hingga hari Kiamat.

Adapun kitab-kitab sebelumnya, maka ia berlaku temporer hingga batas waktu tertentu yang berakhir dengan turunnya kitab yang menasakhnya dan menjelaskan penyelewengan dan pengubahan yang terjadi padanya. Oleh karena itu, kitab-kitab itu tidak terjaga dari hal itu; yaitu telah terjadi padanya penyelewengan, penambahan, dan pengurangan:

"Di antara orang Yahudi, ada yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya." (QS. An-Nisā`: 46)

"Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, 'Ini dari Allah,' (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka celakalah mereka karena tulisan tangan mereka dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat." (QS. Al-Baqarah: 79)

”Katakanlah (Muhammad), 'Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu memperlihatkan (sebagiannya) dan banyak yang kamu sembunyikan.'" (QS. Al-An'ām: 91)

"Sesungguhnya di antara mereka niscaya ada segolongan yang memutar-balikkan lidahnya membaca kitab, agar kamu menyangka (yang mereka baca) itu sebagian dari kitab, padahal itu bukan dari kitab. Mereka juga berkata, 'Itu dari Allah.' Padahal itu bukan dari Allah. Mereka mengatakan hal yang dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, 'Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,'" (QS. Āli 'Imrān: 78-79)

"Wahai Ahli Kitab! Sungguh, rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari (isi) kitab yang kamu sembunyikan." (QS. Al-Mā'idah: 15) "Sungguh, telah kafir orang yang berkata, 'Sesungguhnya Allah itu dialah Almasih putra Maryam.'" (QS. Al-Mā'idah: 17)

*

PASAL

Kita beriman bahwa Allah -Ta'ālā- telah mengutus para rasul kepada umat manusia: "Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. An-Nisā`: 165)

Kita mengimani bahwa rasul yang paling pertama ialah Nuh ﷺ dan yang paling terakhir ialah Muhammad ﷺ: "Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang setelahnya." (QS. An-Nisā`: 163) “Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi.” (QS. Al-Aḥzāb: 40)

Kita juga mengimani bahwa rasul yang paling utama ialah Muhammad, kemudian Ibrahim, kemudian Musa, kemudian Nuh dan Isa bin Maryam. Merekalah yang disebutkan secara khusus dalam firman Allah -Ta'ālā-: "(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh." (QS. Al-Aḥzāb: 7)

Kita meyakini bahwa syariat Nabi Muhammad ﷺ mencakup keutamaan syariat-syariat para rasul yang dikhususkan itu; berdasarkan firman Allah -Ta'ālā-: "Dia (Allah) telah mensyariatkan padamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya." (QS. Asy-Syūrā: 13)

Kita mengimani bahwa semua rasul itu manusia dan makhluk, tidak memiliki sifat-sifat rububiyah (ketuhanan) sedikit pun. Allah -Ta'ālā- berfirman mengisahkan perkataan Nuh yang merupakan rasul paling pertama, "Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah dan aku tidak mengetahui yang gaib, dan tidak (pula) mengatakan bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat." (QS. Hūd: 31) Allah-Ta'ālā- juga memerintahkan Nabi Muhammad yang merupakan rasul paling akhir untuk mengatakan, "Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat." (QS. Al-An'ām: 50)

Demikian juga untuk mengatakan, "Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah." (QS. Al-A'rāf: 188) Juga untuk mengatakan, "Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu.' Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya." (QS. Al-Jinn: 21-22)

Kita mengimani bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah; Allah -Ta'ālā- memuliakan mereka dengan kerasulan dan menyifati mereka sebagai hamba pada kedudukan mereka yang paling tinggi dan dalam konteks memuji mereka. Allah -Ta'ālā- berfirman tentang rasul paling pertama, Nuh, "(Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh! Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isrā`: 3) Allah -Ta'ālā- berfirman tentang rasul yang paling terakhir di antara mereka, Muhammad ﷺ, "Allah yang telah menurunkan al-Furqān (Al-Qur`ān) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia)." (QS. Al-Furqān: 1)

Allah -Ta'ālā- berfirman tentang rasul-rasul yang lain, "Ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak, dan Yakub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi)." (QS. Ṣād: 45) "Ingatlah akan hamba Kami, Daud, yang mempunyai kekuatan; sungguh dia sangat taat (kepada Allah)." (QS. Ṣād: 17) "Kepada Daud Kami karuniakan (anak bernama) Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah)." (QS. Ṣād: 30) Allah berfirman tentang Isa bin Maryam, "Dia (Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat (kenabian) kepadanya dan Kami jadikan dia sebagai contoh bagi Bani Israel." (QS. Az-Zukhruf: 59)

Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- telah menutup kerasulan dengan kerasulan Muhammad ﷺ dan bahwa Dia mengutusnya kepada semua manusia. Hal ini berdasarkan firman Allah-Ta'ālā-: "Katakanlah (Muhammad), 'Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, (Dia) yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Al-A'rāf: 158)

Kita mengimani bahwa syariat beliau ﷺ adalah agama Islam yang telah Allah -Ta'ālā- ridai bagi hamba-hamba-Nya dan bahwa Dia tidak menerima dari siapa pun agama selainnya. Hal ini berdasarkan firman Allah-Ta'ālā-: "Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam." (QS. Āli 'Imrān: 19) "Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu." (QS. Al-Mā`idah: 3)

"Siapa yang mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi." (QS. Āli 'Imrān: 85)

Kita meyakini bahwa siapa yang menyangka saat ini ada agama lain yang diterima di sisi Allah selain agama Islam, baik agama Yahudi, agama Nasrani atau lainnya, maka ia kafir. Jika ia aslinya seorang muslim, maka ia diminta bertobat. Jika ia enggan bertobat, maka ia dihukum mati sebagai orang yang murtad karena ia telah mendustakan Al-Qur`ān.

Kita meyakini siapa yang mengingkari kerasulan Muhammad ﷺ kepada seluruh manusia, maka ia telah kafir kepada semua rasul, termasuk kepada rasulnya sendiri yang ia klaim beriman kepadanya serta mengikutinya. Hal ini sesuai firman Allah -Ta'ālā-: "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul." (QS. Asy-Syu'arā`: 105)

Allah menyatakan mereka mendustakan semua rasul padahal tidak ada rasul sebelum Nuh. Allah -Ta'ālā- juga berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya dengan mengatakan, 'Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain),' serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir), merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Kami sediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan." (QS. An-Nisā`: 150-151)

Kita mengimani bahwa tidak ada nabi setelah Rasulullah Muhammad ﷺ. Siapa yang mengklaim kenabian setelah beliau atau membenarkan orang yang mengklaim hal itu, maka ia kafir karena telah mendustakan Al-Qur`ān, Sunnah, dan ijmak kaum muslimin.

Kita mengimani bahwa Nabi ﷺ memiliki khalifah-khalifah yang menggantikan beliau dalam mengurus umatnya dalam hal ilmu, dakwah, dan kepemimpinan. Dan yang paling utama dan paling berhak terhadap kekhalifahan ialah Abu Bakar aṣ-Ṣiddīq, kemudian Umar bin al-Khaṭṭāb, kemudian 'Uṡmān bin 'Affān, kemudian 'Aliy bin Abī Ṭālib -semoga Allah meridai mereka-.

Urutan mereka dalam kekhalifahan secara takdir sama dengan urutan mereka dalam keutamaan secara syariat. Allah -Ta'ālā- yang memiliki hikmah yang sangat agung tentu tidak akan menjadikan seseorang sebagai pemimpin atas sebaik-baik generasi sementara di tengah-tengah mereka terdapat orang yang lebih baik dan lebih pantas sebagai khalifah.

Kita mengimani bahwa yang kalah utama di antara mereka kadang memiliki suatu keistimewaan, di dalamnya ia mengalahkan yang lebih utama, akan tetapi dengan keistimewaan itu ia tidak berhak untuk menyandang keutamaan mutlak atas orang yang ia kalahkan itu dikarenakan sebab-sebab keutamaan itu banyak dan beragam.

Kita meyakini bahwa umat ini adalah umat terbaik dan paling mulia di sisi Allah ﷻ. Hal ini berdasarkan firman Allah -Ta'ālā-: "Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Āli 'Imrān: 110)

Kita meyakini bahwa yang terbaik di antara umat ini ialah generasi sahabat, kemudian tabiin, kemudian tābi' tabiin dan bahwa akan selalu ada sekelompok orang dari umat ini yang eksis di atas kebenaran, tidak akan mencelakakan mereka orang yang meninggalkan mereka ataupun yang menyelisihi mereka hingga datang perintah Allah ﷻ.

Kita meyakini bahwa fitnah yang terjadi di antara para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- muncul atas dasar takwil yang mereka berijtihad di dalamnya, siapa di antara mereka yang benar maka baginya dua pahala dan siapa di antara mereka yang keliru maka baginya satu pahala sedangkan kesalahannya dimaafkan.

Kita meyakini wajib menahan diri dari mengungkit kesalahan mereka, sehingga kita tidak membicarakan mereka kecuali dengan pujian baik yang berhak mereka sandang serta kita membersihkan hati dari hasad dan dengki terhadap salah seorang mereka. Hal ini berdasarkan firman Allah -Ta'ālā- tentang mereka: "Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik." (QS. Al-Ḥadīd: 10)

Juga firman Allah -Ta'ālā- tentang kita: "Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.'" (QS. Al-Ḥasyr: 10)

*

PASAL

Kita beriman pada hari Akhir, yaitu hari Kiamat yang tidak ada lagi hari lain setelahnya, ketika manusia dibangkitkan kembali dalam keadaan hidup untuk keabadian, antara di negeri kenikmatan atau di negeri siksa yang pedih.

Kita mengimani adanya hari kebangkitan, yaitu Allah -Ta'ālā- akan menghidupkan kembali orang-orang yang mati ketika Israfil meniup sangkakala yang kedua: "Lalu sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu), maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah)." (QS. Az-Zumar: 68)

Maka manusia pun bangkit dari kuburnya untuk menghadap kepada Tuhan alam semesta dalam keadaan tidak bersandal, tidak berpakaian, dan tidak disunat: "Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati; sungguh, Kami akan melaksanakannya." (QS. Al-Anbiyā`: 104)

Kita mengimani adanya buku catatan amal, yang akan diberikan pada tangan kanan atau dari arah belakang punggung pada tangan kiri: "Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Sebaliknya, adapun orang yang catatannya diberikan dari arah belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku!' dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (QS. Al-Insyiqāq: 7-12)

"Setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Lalu pada hari Kiamat, Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka. 'Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.'" (QS. Al-Isrā`: 13-14)

Kita mengimani adanya mizan (timbangan amal perbuatan). Timbangan itu akan diletakkan pada hari Kiamat, sehingga tidak ada seorang pun yang akan terzalimi: "Maka siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Sebaliknya, siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Az-Zalzalah: 7-8) "Siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Sebaliknya, siapa yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam. Wajah mereka dibakar api neraka dan mereka di neraka dalam keadaan muram dengan bibir yang cacat." (QS. Al-Mu`minūn: 102-104) "Siapa yang berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Sebaliknya, siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dizalimi." (QS. Al-An'ām: 160)

Kita mengimani adanya syafaat kubra yang secara khusus menjadi milik Rasulullah ﷺ, yaitu beliau memberi syafaat di sisi Allah -Ta'ālā- dengan seizin-Nya agar Allah memberi keputusan di antara hamba-hamba-Nya tatkala mereka ditimpa kesusahan dan kesulitan yang tidak mampu mereka hadapi, sehingga mereka pergi menemui Adam, kemudian Nuh, kemudian Ibrahim, kemudian Musa, kemudian Isa hingga berujung pada Rasulullah ﷺ.

Kita juga mengimani adanya syafaat bagi orang yang telah masuk neraka dari kalangan orang beriman supaya mereka keluar darinya. Syafaat jenis ini adalah milik Nabi ﷺ dan nabi-nabi lainnya, orang-orang mukmin, dan para malaikat. Kita mengimani pula bahwa Allah -Ta'ālā- akan mengeluarkan dari neraka sekelompok orang mukmin tanpa syafaat, melainkan murni karena karunia dan rahmat-Nya.

Kita mengimani adanya telaga Rasulullah ﷺ. Airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, lebih wangi dari aroma minyak kesturi, panjang dan lebarnya masing-masing sejauh perjalanan satu bulan, dan gelas-gelasnya seperti bintang di langit dalam hal keindahan dan banyaknya. Orang-orang mukmin dari umat beliau akan mendatanginya, siapa yang minum darinya maka tidak akan kehausan setelah itu.

Kita mengimani adanya sirat yang dibentangkan di atas Jahanam. Manusia akan lewat di atasnya sesuai kadar amal mereka. Orang pertama di antara mereka akan lewat seperti kilat, kemudian seperti angin, kemudian seperti burung dan laki-laki yang paling kuat, sementara Nabi ﷺ berdiri di ujung sirat seraya berdoa, "Ya Tuhanku! Selamatkanlah, selamatkanlah!"

Hingga ada amalan manusia tidak mampu membuatnya lewat, lalu ia datang merangkak. Di kedua sisi jembatan terdapat pengait-pengait yang digantung dan diperintahkan, ia mengambil siapa yang diperintahkan padanya, sehingga ada yang terluka namun selamat dan ada yang terjerembab di dalam neraka.

Kita mengimani semua yang disebutkan dalam Al-Qur`ān dan Sunnah tentang berita hari itu dan kedahsyatannya. Semoga Allah menolong kita padanya serta memudahkannya bagi kita dengan karunia dan kemurahan-Nya.

Kita mengimani adanya syafaat Nabi ﷺ bagi penghuni surga agar mereka segera memasukinya. Syafaat ini khusus milik Nabi ﷺ.

Kita mengimani adanya surga dan neraka.

Surga adalah negeri kenikmatan yang disiapkan oleh Allah -Ta'ālā- bagi orang-orang mukmin yang bertakwa. Di dalamnya terdapat nikmat-nikmat yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pula terbesit dalam hati seorang manusia: "Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah: 17)

Sedangkan neraka adalah negeri siksaan yang telah disiapkan oleh Allah -Ta'ālā- bagi orang-orang kafir nan zalim. Di dalamnya terdapat siksa dan azab yang tidak pernah terbesit pada hati: "Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang zalim neraka yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (QS. Al-Kahf: 29)

Surga dan neraka sudah ada sekarang dan keduanya tidak akan fana selama-lamanya: "Siapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya." (QS. Aṭ-Ṭalāq: 11) "Sungguh, Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong. Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, 'Duhai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada rasul.'" (QS. Al-Aḥzāb: 64-66)

Kita memberi kesaksian masuk surga bagi setiap orang yang disebutkan oleh Al-Qur`ān dan Sunnah sebagai penghuni surga, baik terhadap personal ataupun terkait kriterianya.

Di antara kesaksian terhadap personal ialah kesaksian untuk Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dan para sahabat lainnya yang telah disebut langsung oleh Nabi ﷺ sebagai penghuni surga.

Di antara kesaksian terkait kriteria ialah kesaksian untuk setiap orang beriman atau bertakwa.

Sebaliknya, kita juga memberi kesaksian masuk neraka bagi setiap orang yang disebutkan oleh Al-Qur`ān dan Sunnah sebagai penghuni neraka, baik terhadap personal ataupun terkait kriterianya.

Di antara kesaksian terhadap personal ialah kesaksian pada Abu Lahab, 'Amr bin Luḥay al-Khuzā'iy, dan semisal mereka.

Di antara kesaksian terkait kriteria ialah kesaksian pada setiap orang yang kafir atau pelaku syirik besar atau munafik.

Kita mengimani adanya fitnah kubur, yaitu pertanyaan kepada orang yang mati di dalam kuburnya tentang tuhannya, agamanya, dan nabinya; lalu "Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat." (QS. Ibrāhīm: 27) Orang yang beriman akan menjawab, "Tuhanku adalah Allah, agamaku Islam, dan nabiku Muhammad." Adapun orang yang kafir dan munafik akan menjawab, "Aku tidak tahu! Aku pernah mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu aku turut mengatakannya."

Kita mengimani adanya nikmat kubur bagi orang-orang mukmin: "Orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), 'Salāmun 'alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.'" (QS. An-Naḥl: 32)

Kita pun mengimani adanya siksa kubur bagi orang-orang yang zalim nan kafir: "Sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakratulmaut sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), 'Keluarkanlah nyawamu.' Pada hari itu, kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya." (QS. Al-An'ām: 93)

Hadis-hadis dalam masalah ini banyak dan masyhur.

Orang beriman wajib mengimani semua perkara gaib yang diberitakan oleh Al-Qur`ān dan Sunnah dan tidak menolaknya berdasarkan apa yang disaksikannya di dunia, karena perkara akhirat tidak dapat dianalogikan dengan perkara dunia lantaran adanya perbedaan besar antara keduanya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

*

PASAL

Kita beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk, yaitu ketetapan Allah -Ta'ālā- pada makhluk sesuai dengan yang telah Allah ketahui sebelumnya serta dituntut oleh hikmah-Nya.

Takdir memiliki empat tingkatan:

Tingkatan pertama: ilmu. Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- mengetahui segala sesuatu. Allah mengetahui segala yang telah ada, segala yang akan ada, dan akan bagaimana bila ada, dengan ilmu-Nya yang azali dan abadi. Tidak ada bagi-Nya suatu pengetahuan baru yang tidak diketahui sebelumnya dan tidak pula Dia dihinggapi lupa setelah sebelumnya tahu.

Tingkatan kedua: penulisan takdir. Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- telah menulis di Loh Mahfuz segala yang ada dan terjadi hingga hari Kiamat: "Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah kitab (Loh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah." (QS. Al-Ḥajj: 70)

Tingkatan ketiga: kehendak. Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- telah menghendaki semua yang ada di langit dan bumi, tidaklah terjadi sesuatu kecuali dengan kehendak-Nya. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi.

Tingkatan keempat: penciptaan. Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- ialah: "Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. Milik-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi." (QS. Az-Zumar: 62-63)

Keempat tingkatan ini mencakup semua yang berasal dari Allah -Ta'ālā- sendiri dan yang berasal dari hamba. Semua yang dilakukan oleh hamba, berupa perkataan, perbuatan, ataupun sikap meninggalkan, seluruhnya diketahui oleh Allah -Ta'ālā-, tercatat di sisi-Nya, dan Allah -Ta'ālā- telah menghendakinya dan menciptakannya: "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. At-Takwīr: 28-29) "Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Tetapi, Allah berbuat menurut kehendak-Nya." (QS. Al-Baqarah: 253) "Kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak akan mengerjakannya. Biarkanlah mereka bersama (hal) kebohongan yang mereka ada-adakan." (QS. Al-An'ām: 137) "Padahal, Allahlah yang menciptakan kamu dan yang kamu perbuat.” (QS. Aṣ-Ṣāffāt: 96)

Namun meskipun demikian, kita tetap mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- telah memberikan kemauan dan kemampuan yang dengan keduanya perbuatan manusia jadi terwujud. Dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan manusia adalah dengan pilihan dan kemampuannya sendiri ialah beberapa perkara:

Pertama: firman Allah -Ta'ālā-: "Maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 223)

Juga firman Allah -Ta'ālā-, "Jika mereka hendak berangkat, niscaya mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu." (QS. At-Taubah: 46). Di sini, Allah menetapkan bagi hamba aktivitas kedatangan dengan kemauannya, demikian juga aktivitas persiapan dengan kemauannya.

Kedua: pemberian perintah dan larangan kepada hamba. Sekiranya hamba tidak memiliki pilihan dan kemampuan, tentunya pemberian perintah dan larangan itu kepadanya merupakan pembebanan sesuatu yang tidak disanggupinya, dan hal itu adalah perkara yang tidak sejalan dengan sifat hikmah, rahmat, dan kebenaran wahyu Allah -Ta'ālā- dalam firman-Nya: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286)

Ketiga: pujian kepada orang yang berbuat baik atas kebaikannya dan celaan terhadap orang yang berbuat buruk atas keburukannya serta pemberian balasan kepada masing-masing mereka menurut yang berhak ia dapatkan. Sekiranya perbuatan itu tidak terjadi dengan kemauan dan pilihan hamba, niscaya pujian kepada orang yang berbuat baik adalah bentuk kesia-siaan dan hukuman terhadap yang berbuat buruk adalah bentuk kezaliman, sedangkan Allah -Ta'ālā- disucikan dari tindakan sia-sia dan zalim.

Keempat: Allah -Ta'ālā- telah mengutus para rasul: “... sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah (diutusnya) rasul-rasul itu." (QS. An-Nisā`: 165) Sekiranya perbuatan hamba tidak terjadi atas kemauan dan pilihannya, niscaya alasannya tidak akan batal dengan diutusnya para rasul.

Kelima: setiap pelaku merasakan bahwa ia mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya tanpa ada perasaan dipaksa sedikit pun. Dia berdiri dan duduk, masuk dan keluar, melakukan perjalanan dan menetap, murni dengan kemauannya sendiri dan ia tidak merasa ada seseorang yang memaksanya untuk hal itu. Bahkan, ia dapat membedakan secara nyata antara mengerjakan sesuatu dengan pilihannya dengan ketika ada orang yang memaksanya untuk hal itu. Demikian pula syariat membedakan hukum antara keduanya; yaitu syariat tidak menghukum seorang pelaku pada sesuatu yang dilakukannya dalam keadaan terpaksa dalam perkara yang berkaitan dengan hak Allah -Ta'ālā-.

Kita meyakini bahwa tidak ada hujah bagi pelaku maksiat atas kemaksiatannya dengan takdir Allah -Ta'ālā- karena pelaku maksiat melakukan kemaksiatan dengan pilihannya tanpa mengetahui bahwa Allah -Ta'ālā- telah menakdirkannya padanya, sebab tidak ada seorang pun yang mengetahui takdir Allah -Ta'ālā- kecuali setelah takdir itu terjadi. "Tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannnya besok. (QS. Luqmān: 34)

Maka, bagaimana seseorang dapat dibenarkan berdalih dengan suatu alasan yang tidak diketahuinya pada saat melakukan sesuatu yang ingin dia berikan dalih itu?! Allah -Ta'ālā- telah membatalkan dalih ini dalam firman-Nya, "Orang-orang musyrik akan berkata, 'Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.' Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan azab Kami. Katakanlah (Muhammad), 'Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami? Yang kamu ikuti hanya persangkaan belaka dan kamu hanya mengira-ngira.'" (QS. Al-An'ām: 148)

Kita katakan kepada pelaku maksiat yang beralasan dengan takdir: Mengapa Anda tidak justru melakukan ketaatan dengan mengasumsikan bahwa Allah -Ta'ālā- telah menuliskan itu untuk Anda? Sungguh, tidak ada perbedaan antara ketaatan dengan kemaksiatan dalam hal ketidaktahuan pada takdir sebelum perbuatan itu lahir dari Anda.

Oleh sebab itu, ketika Nabi ﷺ mengabarkan kepada para sahabat bahwa setiap orang telah ditulis tempatnya di surga dan di neraka, mereka bertanya, "Tidakkah kita pasrah dan meninggalkan beramal?" Nabi ﷺ bersabda, "Tidak. Tetapi, beramallah karena setiap orang akan dimudahkan pada apa yang diciptakan untuknya."

Kita juga dapat mengatakan kepada pelaku maksiat yang beralasan dengan takdir: Andaikata Anda hendak melakukan perjalanan ke Makkah, sedangkan Makkah memiliki dua jalur. Kemudian seorang yang jujur mengabarkan kepada Anda bahwa salah satu jalur itu berbahaya dan sulit, sedangkan jalur kedua aman dan mudah, niscaya Anda akan menempuh jalur yang kedua dan tidak mungkin menempuh jalur pertama dengan mengatakan: itu yang ditakdirkan pada saya. Seandainya Anda lakukan itu, maka orang-orang akan menganggap Anda sebagai orang gila.

Kita juga katakan kepadanya: Seandainya Anda ditawari dua profesi, salah satunya memiliki gaji lebih banyak, niscaya Anda akan memilih bekerja di sana, bukan di profesi yang bergaji kurang. Lantas bagaimana Anda lebih memilih sesuatu yang lebih rendah dalam urusan akhirat Anda, kemudian beralasan dengan takdir?!

Kita juga katakan kepadanya: Ketika Anda ditimpa penyakit fisik, Anda akan datang ke setiap dokter untuk mengobati Anda, dan Anda bersabar terhadap rasa sakit akibat tindakan operasi yang dilakukan pada Anda dan terhadap pahitnya obat.

Lantas mengapa hal yang sama tidak Anda lakukan pada penyakit hati Anda yang diakibatkan oleh maksiat?

Kita mengimani bahwa keburukan tidak dinisbahkan kepada Allah -Ta'ālā- karena kesempurnaan rahmat dan hikmah-Nya. Nabi ﷺ bersabda, "... dan keburukan tidak dinisbahkan kepada-Mu." (HR. Muslim)

Ketetapan Allah -Ta'ālā- itu sendiri sama sekali tidak mengandung keburukan karena ia bersumber dari sifat rahmat dan hikmah. Akan tetapi, keburukan itu ada pada sesuatu yang ditetapkan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ dalam doa kunut yang beliau ajarkan kepada al-Ḥasan -raḍiyallāhu 'anhu-, "... dan lindungilah aku dari keburukan yang Engkau tetapkan." Di sini, beliau menisbahkan keburukan kepada apa yang ditetapkan-Nya. Kendati demikian, keburukan pada apa yang ditetapkan tidak murni berupa keburukan saja. Bahkan, ia adalah keburukan dari satu sisi dan merupakan kebaikan dari sisi yang lain atau merupakan keburukan pada tempatnya dan merupakan kebaikan pada tempat yang lain.

Contohnya: kerusakan yang terjadi di bumi seperti kekeringan, penyakit, kemiskinan, dan ketakutan adalah suatu keburukan, akan tetapi ia merupakan suatu kebaikan pada tempat yang lain. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut yang disebabkan perbuatan tangan manusia. Dia menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rūm: 41)

Contoh lain: memotong tangan pencuri dan merajam pelaku zina merupakan keburukan bagi pelaku pencurian dan zina dalam hal potong tangan dan menghilangkan nyawa. Namun, ia merupakan kebaikan bagi mereka berdua dilihat dari sisi yang lain, yaitu sebagai tebusan dosa bagi mereka karena tidak akan digabungkan untuk mereka antara hukuman dunia dengan hukuman akhirat. Sebagaimana hal itu juga merupakan kebaikan pada tempat yang lain karena di dalamnya terkandung perlindungan bagi harta, kehormatan, dan nasab bagi manusia lainnya.

*

PASAL

Akidah luhur ini yang berisikan landasan-landasan yang agung membuahkan berbagai faedah besar nan banyak bagi orang yang meyakininya.

Iman kepada Allah -Ta'ālā- serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya akan membuahkan rasa cinta dan pengagungan manusia kepada Allah, keduanya menjadi pendorong untuk melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, sementara melaksanakan perintah Allah -Ta'ālā- dan meninggalkan larangan-Nya akan melahirkan kebahagiaan sempurna di dunia dan akhirat bagi individu dan masyarakat: "Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Naḥl: 97)

Di antara buah iman kepada para malaikat:

Pertama: mengetahui keagungan, kekuatan, dan kekuasaan pencipta mereka, yaitu Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-.

Kedua: mensyukuri Allah -Ta'ālā- atas perhatian-Nya terhadap hamba-hamba-Nya dengan menugaskan pada mereka sebagian malaikat itu untuk menjaga mereka, mencatat amal mereka, dan mengurus berbagai kepentingan mereka yang lainnya.

Ketiga: mencintai para malaikat karena mereka beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya dan memohon ampunan untuk orang-orang beriman.

Di antara buah iman kepada kitab-kitab:

Pertama: mengetahui kasih sayang dan perhatian Allah -Ta'ālā- kepada hamba-hamba-Nya; yaitu Allah menurunkan sebuah kitab kepada masing-masing umat untuk membimbing mereka.

Kedua: tampaknya kebijaksanaan Allah -Ta'ālā-; karena di dalam kitab-kitab tersebut Allah menetapkan bagi setiap umat syariat yang sesuai dengan mereka, dan penutup kitab-kitab itu, yaitu Al-Qur`ānul-'Aẓīm, relevan untuk semua manusia di setiap masa dan tempat hingga hari Kiamat.

Ketiga: mensyukuri nikmat Allah -Ta'ālā- atas hal itu.

Di antara buah iman kepada para rasul:

Pertama: mengetahui kasih sayang dan perhatian Allah -Ta'ālā- kepada hamba-hamba-Nya; yaitu Allah mengutus kepada mereka rasul-rasul tersebut untuk memberi petunjuk dan bimbingan.

Kedua: mensyukuri Allah -Ta'ālā- atas nikmat besar ini.

Ketiga: mencintai, menjunjung, dan memuji para rasul menurut yang patut bagi mereka karena mereka adalah para utusan dan hamba-hamba pilihan Allah; mereka beribadah kepada-Nya, menyampaikan agama-Nya, menasihati hamba-hamba-Nya, dan bersabar atas gangguan mereka.

Di antara buah iman kepada hari Akhir:

Pertama: bersemangat melakukan ketaatan kepada Allah -Ta'ālā- karena mengharapkan balasan pada hari itu serta menjauhi kemaksiatan kepada-Nya karena takut terhadap siksa pada hari itu.

Kedua: menghibur orang beriman dengan kenikmatan dan balasan akhirat yang mereka harapkan, sehingga mereka tidak bersedih atas kenikmatan dan perhiasan dunia yang tidak mereka dapatkan.

Di antara buah iman kepada takdir:

Pertama: bersandar kepada Allah -Ta'ālā- ketika melakukan sebab; karena sebab dan musababnya terlaksana dengan ketetapan dan takdir Allah.

Kedua: adanya ketenangan jiwa dan ketenteraman hati, karena ketika ia mengetahui bahwa hal itu terjadi dengan ketetapan Allah -Ta'ālā- dan bahwa takdir yang tidak disukainya pasti terjadi, maka jiwa menjadi tenang, hati menjadi tenteram, dan ia rida dengan ketetapan Tuhan, sehingga tidak ada yang lebih baik hidupnya, lebih tenang jiwanya, dan lebih tinggi tenteramnya daripada orang yang beriman kepada takdir.

Ketiga: menghilangkan sikap ujub terhadap diri sendiri ketika mendapat apa yang diinginkan karena terwujudnya hal itu adalah nikmat dari Allah dengan sebab-sebab kebaikan dan kesuksesan yang ditakdirkan-Nya, sehingga ia bersyukur kepada Allah -Ta'ālā- atas hal itu dan meninggalkan sikap bangga diri.

Keempat: mengusir sikap gundah dan kesal ketika tidak mendapatkan apa yang diharapkan atau justru mendapatkan sesuatu yang tidak disukai karena semua itu terjadi dengan ketetapan Allah -Ta'ālā- yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan hal itu pasti terjadi, sehingga ia bersabar atas hal itu dan mengharapkan pahala. Inilah yang diisyaratkan oleh Allah -Ta'ālā- dalam firman-Nya, "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Loh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. Al-Ḥadīd: 22-23)

Kita memohon kepada Allah -Ta'ālā- agar meneguhkan diri kita di atas akidah ini, mewujudkan buahnya untuk kita, memberikan kita tambahan karunia-Nya, tidak menyesatkan hati kita setelah Dia memberi kita petunjuk, dan mengaruniakan kita rahmat-Nya; sesungguhnya Dia Maha Memberi. Akhir kata saya ucapkan: Alhamdulillah, Tuhan semesta alam.

Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada nabi kita, Muhammad, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan semua yang mengikuti mereka dengan kebaikan.

Dirampungkan oleh penyusun,

Muḥammad Ṣāliḥ al-'Uṡaimīn,

30 Syawal 1404 H

*