المناهج التعليمية - الصف الرابع
Judul: KURIKULUM PENDIDIKAN ILMU FIKIH Level Keempat
Judul: KURIKULUM PENDIDIKAN ILMU FIKIH Level Keempat
Ringkasan Materi ilmiah ini merupakan hasil penyelarasan dan peringkasan dari kurikulum pendidikan di Kerajaan Arab Saudi yang ditujukan bagi para murid sekolah. Materi ini disusun secara sistematis ke dalam beberapa level, di mana salah satu komponen utamanya berfokus pada studi Ilmu Fikih yang terbagi ke dalam dua belas (12) level pembelajaran. Adapun topik serta persoalan terpenting yang dibahas pada level keempat meliputi hal-hal berikut ini:
Pembahasan tentang bersuci dan keutamaannya, penjelasan syarat-syarat wudu, fardu-fardunya, sunnah-sunnahnya, dan pembatal-pembatalnya.
Penjelasan tata cara azan dan ikamah.
Penjelasan syarat-syarat sah salat.
Penjelasan waktu-waktu salat fardu, rukun-rukunnya, dan wajib-wajibnya.
Tafsir Surah Al-Fātiḥah dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami.
LEVEL KEEMPAT
MUKADIMAH
Segala puji hanya milik Allah yang telah mengajar dengan pena, mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasul yang mulia, yang telah menyampaikan apa yang diturunkan kepadanya dan menjelaskan kepada umatnya hukum-hukum agama serta segala sesuatu yang mereka butuhkan dalam urusan dunia dan akhirat.
Nabi ﷺ pernah bersabda, "Siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, niscaya Allah akan menjadikannya paham tentang urusan agamanya."
Berangkat dari hal tersebut, sejak awal berdirinya, Kementerian Pendidikan dan Pengajaran telah menetapkan pengajaran fikih di seluruh jenjang pendidikan. Kebijakan ini diambil atas dasar tanggung jawab moral serta kesadaran akan besarnya urgensi pemahaman hukum syariat. Hal ini dikarenakan pendalaman agama Islam berkaitan erat dengan pengetahuan dan konseptualisasi hukum-hukumnya. Selain itu, pemahaman tersebut sangat dibutuhkan agar seorang muslim dapat beribadah kepada Tuhannya dengan landasan ilmu yang kuat.
Kami ingin mengingatkan para guru mengenai beberapa hal yang dapat mendukung pelaksanaan tugas mereka dalam menyampaikan ilmu syariat, sekaligus mempermudah murid dalam memahami penjelasan yang diberikan. Di antaranya adalah:
1- Menyadari bahwa ilmu syariat adalah bagian agama, dan mengajarkannya kepada para penuntut ilmu merupakan bagian dari makna tablig (menyampaikan) yang diserukan oleh Nabi ﷺ melalui sabda beliau, "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat."[1] Selain itu, aktivitas mengajar ini merupakan ibadah yang tidak akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla selama tidak didasari rasa ikhlas semata-mata demi mengharap wajah-Nya. [1] HR. Bukhari, Kitāb Aḥādīṡ Al-Anbiyā`, Bāb: Mā Żukira 'an Banī Isrā`īl (No. 3461).
2- Memohon pertolongan kepada Allah 'Azza wa Jalla, memperbanyak zikir, doa, dan istigfar, serta hendaknya seorang guru merefleksikan nilai-nilai kewibawaan ilmu dan karakternya dalam tutur kata, penampilan, dan tingkah lakunya.
3 - Memahami tujuan umum pendidikan, tujuan pada setiap jenjang, serta tujuan dari mata pelajaran yang diampu. Hal ini dikarenakan pemahaman tersebut dapat membantu pengajar dalam mengorelasikan materi pembelajaran dengan tujuan-tujuan tersebut, menentukan topik dan metode pembelajaran yang relevan, serta memiliki kemampuan untuk mengevaluasi perkembangan murid berdasarkan parameter tujuan yang telah ditetapkan.
4 - Melakukan variasi dalam penggunaan berbagai metode pembelajaran, serta memilih metode yang paling relevan dan sesuai untuk setiap materi pelajaran.
5 - Mempelajari sumber-sumber ilmiah yang berkaitan dengan tema pelajaran sebelum menerangkannya.
Kepada Allah kami memohon, semoga amalan ini dijadikan tulus ikhlas semata-mata demi mengharap wajah-Nya, serta memberikan manfaat yang luas. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada nabi kita, Muhammad, kepada keluarga dan sahabat beliau.
MATERI PERTAMA [2]
[2] Panduan Instruksional bagi Guru - Guru menjelaskan kedua nas yang tertera mengenai pentingnya wudu dan keutamaannya. - Dilarang bersikap boros dalam wudu maupun selainnya, dan Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya akan ada pada umat ini suatu kaum yang melampaui batas dalam bersuci dan berdoa.” (HR. Abu Daud, No. 96). Oleh karena itu, di antara petunjuk beliauﷺ berwudu adalah dengan satu mud. - Syariat bersuci merupakan dalil yang jelas mengenai perhatian Islam terhadap kebersihan. - Perhatian Islam terhadap kesucian lahiriah mengisyaratkan akan pentingnya memperhatikan kesucian batin dari dosa-dosa, sifat dengki, hasad, dan penyakit-penyakit hati lainnya.
WUDU
Bersuci dan Keutamaannya
Allah Ta'ala berfirman, "...Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri." [QS. Al-Baqarah: 222] Nabi ﷺ bersabda, "Apakah kalian mau aku tunjukkan amalan yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat?" Mereka menjawab, "Tentu wahai Rasulullah." Rasulullah bersabda, "Menyempurnakan wudu pada saat-saat makārih,[3] memperbanyak langkah kaki menuju masjid, dan menunggu salat setelah salat. Yang demikian itu termasuk ar-ribāṭ (berjaga-jaga di jalan Allah)."[4] [3] Kata makārih: bentuk jamak dari makrūh, yaitu sesuatu yang tidak disukai manusia dan memberatkannya, seperti wudu pada saat cuaca yang sangat dingin. [4] HR. Muslim, Kitāb Aṭ-Ṭahārah, Bāb Faḍl Isbāgil-Wuḍū` 'alāl-Makārih (1/219), No. 251.
Bersuci bagi seorang muslim dapat dicapai melalui dua cara:
1- Wudu. 2- Menghilangkan najis.
Amalan-amalan yang disyaratkan berwudu sebelum mengerjakannya
Seorang muslim wajib berwudu saat hendak melakukan satu dari amal-amal berikut:
(Salat - Menyentuh mushaf - Tawaf).
Wajib-Wajib Wudu
- Wudu memiliki satu kewajiban, yaitu menyebut nama Allah, yakni mengucapkan: "bismillāh".
- Membaca "bismillāh" dilakukan di awal wudu.
- Siapa yang lupa membaca bismillāh atau mengingatnya di saat sedang berwudu, maka dia menyebut bismillāh dan melanjutkan wudunya.
- Siapa yang lupa membaca bismillāh hingga selesai wudu, maka wudunya sah dan tidak ada konsekuensi apa pun baginya.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Sebutkan tata cara wudu!
Soal 2: Jawablah dengan (Benar), atau (Salah) disertai perbaikan kesalahan!
A- Seorang muslim wajib berwudu jika ingin melaksanakan salat.
B. Seorang muslim wajib berwudu terlebih dahulu jika ingin membaca Al-Qur`an dari hafalannya.
C- Seorang muslim wajib berwudu apabila hendak melakukan tawaf di Ka'bah.
D- Siapa yang lupa membaca bismillāh hingga selesai berwudu maka dia wajib mengulangi wudunya.
E- Waktu untuk mengucapkan bismillāh ialah pada permulaan wudu.
Soal 3: Lingkarilah nomor jawaban yang benar!
A- Menyempurnakan wudu memiliki keutamaan yang agung, yaitu:
1- Allah hanya menghapus kesalahan-kesalahannya. 2- Allah hanya mengangkat derajatnya.
3- Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan mengangkat derajatnya.
B- Wudu diwajibkan ketika:
1- Menyentuh mushaf. 2- Makan. 3- Tidur.
C- Siapa yang lupa membaca bismillāh kemudian dia ingat saat sedang berwudu, maka dia wajib untuk:
1. Memulai wudu dari awal. 2. Mengucapkan bismillāh dan melanjutkan wudunya.
3- Ia melanjutkan wudunya dan tidak perlu membaca bismillāh.
MATERI KEDUA [5]
[5] Panduan Instruksional bagi Guru - Hadas adalah sesuatu yang bersifat maknawi pada tubuh yang menghalangi orang dari menunaikan salat dan ibadah lain semacamnya. Sebabnya akan disebutkan nanti dalam tema pembatal-pembatal wudu. - Makna niat secara etimologi adalah tujuan. Mayoritas penggunaannya dikhususkan dengan tekad di dalam hati untuk melakukan suatu urusan. Secara Terminologi (Istilah Fikih): Meniatkan diri untuk menghilangkan hadas, atau bermaksud bersuci demi ibadah yang hukum bersucinya wajib maupun sunnah. Sebagai contoh, apabila seseorang berwudu dengan niat bersuci untuk membaca Al-Qur`an dari hafalannya (yang hukum wudunya adalah sunah), maka wudu tersebut sah digunakan untuk mendirikan salat wajib. Hal ini dikarenakan hadasnya telah terangkat melalui niat tersebut. Tempat niat berada di dalam hati, sedangkan melafazkannya merupakan perkara bidah. - Menyucikan dua jalan (kubul dan dubur) bukan merupakan bagian dari tata cara wudu, melainkan kewajiban yang dikhususkan bagi seseorang yang mengeluarkan urine (air kencing) atau feses (tinja). Oleh karena itu, tindakan ini tidak bersifat wajib (lazim) dilakukan pada setiap kali hendak berwudu. - Mengingatkan para murid bahwa orang yang telah buang air tidak boleh mengenakan pakaiannya sebelum beristinja. Siapa yang melakukan hal tersebut kemudian berwudu tanpa beristinja, maka wudunya tidak sah.
SYARAT-SYARAT WUDU
Wudu memiliki beberapa syarat, yaitu:
1- Niat. Yaitu bermaksud melalui wudu tersebut untuk menghilangkan hadas, atau bermaksud bersuci demi mendirikan salat, membaca Al-Qur`an, maupun ibadah sejenisnya.
2. Menggunakan air yang suci lagi menyucikan. Wudu tidak sah menggunakan selain air, dan tidak pula menggunakan air yang bernajis.
3- Air yang digunakan mubah. Tidak sah wudu dengan air yang haram, seperti air yang dirampas atau yang sejenisnya.
4- Menghilangkan semua yang dapat menghalangi air sampai ke anggota tubuh, seperti: adonan, tanah liat, cat, dan lain sebagainya.
5- Menyucikan kedua jalan (kubul dan dubur) setelah buang air kecil atau besar.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 01: Sebutkan syarat sah wudu!
Soal 2: Jawablah dengan (Benar) atau (Salah) disertai memperbaiki kesalahan!
A. Wudu tidak sah dengan air najis.
B- Sah berwudu dengan air curian.
C- Wudu tidak sah menggunakan air yang dirampas.
D- Sah berwudu dengan air teh.
Soal 3: Isilah bagian yang kosong dengan jawaban yang sesuai!
1- Niat yaitu bermaksud ..................... , atau bermaksud .....................
2. Berwudu disyaratkan menggunakan air. Air tersebut harus ..................... dan harus .....................
3- Di antara syarat sah wudu ialah menghilangkan ..................... sampainya air ke ..................... seperti: ....................., ....................., dan .....................
MATERI KETIGA [6]
[6] Panduan Instruksional bagi Guru - Rukun-rukun (Al-Furūḍ): bentuk jamak dari farḍ. Kedudukannya lebih tinggi dari wajib, karena ia tidak gugur ketika ditinggalkan secara sengaja maupun lupa, berbeda halnya dengan wajib karena ia bisa gugur dalam keadaan lupa. - Guru mengingatkan para murid tentang kewajiban meratakan basuhan muka, secara vertikal dari lengkungan dahi sampai bagian bawah kedua rahang, dan ke samping dari telinga ke telinga, sehingga tidak cukup hanya membasuh bagian depan muka saja. - Membasuh kedua tangan sampai ke siku dimulai dari ujung-ujung jari, bukan dari pergelangan tangan. - Mengusap kepala bersamaan dengan kedua telinga. Caranya dengan membasahi kedua tangan pakai air lalu mengusap kepala dengan keduanya, dimulai dari bagian depan kepala hingga tengkuk, kemudian dua tangan dikembalikan lagi ke depan satu kali, lalu mengusap kedua telinganya dengan air dari sisa mengusap kepala, dengan cara mengusap lubang kedua telinganya menggunakan kedua jari telunjuknya, dan mengusap bagian luar keduanya menggunakan ibu jarinya sebanyak satu kali.
RUKUN-RUKUN WUDU
Rukun-rukun wudu ada enam, yaitu:
1- Membasuh muka. Termasuk di dalamnya berkumur-kumur, yaitu: menggerakkan air di dalam mulut, dan istinsyāq, yaitu: menarik air dengan napas ke dalam hidung.
2- Membasuh kedua tangan sampai ke kedua siku.
3- Mengusap kepala, termasuk kedua telinga.
4- Membasuh kedua kaki bersama kedua mata kaki.
5- Berurutan.
6- Al-Muwālāh (berkesinambungan), yaitu tidak mengakhirkan basuhan satu anggota wudu sehingga membuat anggota wudu yang sebelumnya mengering.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Sebutkan rukun wudu satu persatu!
Soal 2: Jawablah dengan (Benar) atau (Salah) disertai perbaikan kesalahan!
A- Di antara rukun wudu ialah berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung setelah mengusap kepala.
B. Kening bukan termasuk bagian dari wajah, maka tidak wajib membasuhnya ketika berwudu.
C- Di antara rukun wudu ialah mengusap kedua telinga bersama kepala.
D. Tidak diwajibkan membasuh kedua mata kaki saat berwudu.
E- Di antara rukun wudu ialah membasuh kepala.
Soal 3: Lingkarilah nomor jawaban yang benar!
A- Al-muwālāh ialah...
1- Boros menggunakan air ketika berwudu.
2- Tidak tergesa-gesa dalam berwudu.
3- Membasuh anggota wudu sebelum anggota wudu sebelumnya mengering.
B. Tertib dalam wudu adalah....
1- Mencuci kedua kaki, lalu kedua tangan, kemudian wajah.
2- Membasuh wajah, lalu kedua tangan sampai siku, lalu mengusap kepala, kemudian mencuci kedua kaki.
3- Memulai dengan membasuh kedua tangan hingga siku sebelum membasuh wajah.
MATERI KEEMPAT [7]
[7] Panduan Instruksional bagi Guru - Yang dimaksud dengan bersungguh-sungguh dalam berkumur adalah menggerakkan air di dalam mulut. - Yang dimaksud dengan bersungguh-sungguh dalam istinsyāq adalah menghirup air dengan napas hingga ke pangkal hidung. - Yang dimaksud dengan menyela-nyela jari adalah memasukkan jari-jari kedua tangannya di antara jari-jari kedua kakinya, serta menyela-nyela jari-jari kedua tangannya dengan cara memasukkan sebagiannya ke sela-sela sebagian yang lain. - Basuhan kedua dan ketiga disunahkan saat membasuh muka, kedua tangan, dan kedua kaki, sedangkan yang diwajibkan ialah membasuhnya satu kali. Adapun kepala, tidak boleh diusap lebih dari satu kali.
SUNNAH-SUNNAH WUDU
Di antara sunnah-sunnah wudu adalah:
1- Membasuh kedua telapak tangan tiga kali di awal wudu.
2- Menggunakan miswak (sikat gigi) dan waktunya adalah ketika berkumur.
3- Bersungguh-sungguh saat berkumur dan istinsyāq bagi orang yang tidak berpuasa.
4- Menyela-nyela jemari kedua tangan dan kedua kaki.
5- Tayāmun (mendahulukan bagian kanan), yaitu membasuh tangan kanan sebelum tangan kiri dan membasuh kaki kanan sebelum kaki kiri.
6- Basuhan kedua dan ketiga pada muka, kedua tangan, dan kedua kaki.
7- Membaca doa setelah selesai wudu, yaitu: "Asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lahu, wa asyhadu anna muḥammadan 'abduhu wa rasūluh." Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.[8] Ditambah dengan doa: "Allāhummaj-'alnī minat-tawwābīna waj-'alnī minal-mutaṭahhirīn." Artinya: Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menyucikan diri.[9] [8] Lihat: Ṣaḥīḥ Muslim (1/209), No. 234, dan Sunan Abī Dāwud (1/43), No. 169. [9] HR. Tirmizi dalam Jāmi'-nya (1/78), No. 55.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Sebutkan sunnah-sunnah wudu!
Soal 2: Letakkan nomor kata di kolom (A) di depan kata yang tepat di kolom (B)!
Kolom (A)
Bersungguh-sungguh dalam...
Menyela-nyela...
Menggunakan miswak ketika...
Basuhan...
Kolom (B)
( ) Berkumur-kumur.
( ) Berkumur-kumur dan istinsyāq.
( ) Kedua dan ketiga
( ) Jari-jari.
( ) Sebanyak tiga kali.
Soal 3: Lengkapilah bagian yang kosong!
1- Disunnahkan membasuh kedua telapak tangan ..................... pada ..................... wudu.
2- Tayāmun adalah .....................
3- Doa yang dibaca setelah berwudu adalah: .....................
MATERI KELIMA [10]
[10] Panduan Instruksional bagi Guru - Jika air kencing atau tinja keluar dari selain dua jalan, maka hal itu membatalkan wudu, seperti seseorang yang dibuatkan lubang yang darinya keluar air kencing. - Tidur yang membatalkan wudu adalah tidur lelap, sehingga seandainya wudunya batal ia tidak menyadarinya. Adapun tidur yang tidak lelap, maka tidak membatalkan. - Wudu tidak batal karena ragu-ragu. Siapa pun yang berwudu kemudian ragu-ragu, apakah ia telah berhadas setelahnya atau tidak? Maka ia tetap dalan kondisi suci, sebagaimana seseorang yang berhadas kemudian ragu-ragu, apakah ia telah berwudu setelahnya atau tidak? Maka ia tetap dalan kondisi berhadas dan harus berwudu, karena keyakinan itu tidak bisa hilang oleh keraguan.
PEMBATAL-PEMBATAL WUDU
Di antara pembatal-pembatal wudu adalah:
1- Sesuatu yang keluar dari kubul dan dubur, seperti: urine, tinja, kentut, atau lainnya.
2- Pingsan.
3- Tidur yang pulas.
4- Menyentuh satu dari dua kemaluan dengan tangan secara langsung tanpa penghalang.
5- Makan daging unta.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Sebutkan tiga hal yang membatalkan wudu!
Soal 2: Lingkarilah nomor jawaban yang benar!
A- Di antara pembatal-pembatal wudu:
1- Makan daging unta 2- Makan daging kambing. 3- Makan daging sapi.
B- Di antara pembatal-pembatal wudu:
1- Kantuk. 2- Tidur. 3- Minum.
C- Apabila wudumu batal saat sedang salat, maka kamu wajib untuk...?
1- Membatalkan salat, kemudian berwudu dan mengulangi salat.
2- Melanjutkan salat, kemudian berwudu dan mengulangi salat.
3- Melanjutkan salat dan tidak mengulanginya.
MATERI KEENAM [11]
[11] Panduan Instruksional bagi Guru - Guru memberikan pengantar pelajaran dengan menjelaskan sebab disyariatkannya azan, sebagaimana disebutkan dalam hadis Abdullah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhu-. [HR. Abu Daud dan Sunannya (1/337), No. 449, dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (4/43), No.16524] - Guru menjelaskan kepada para murid keutamaan azan sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ, "Tidaklah ada jin, manusia, dan apa pun yang mendengar sejauh jangkauan suara muazin melainkan akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat." [HR. Bukhari dalam Sahihnya, No. 609. Juga sabda beliau ﷺ, "Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat." [HR. Muslim dalam Sahihnya (1/29), No. 387]
AZAN DAN IKAMAH
Pengertian Azan dan Ikamah
Azan adalah pemberitahuan masuknya waktu salat.
Ikamah adalah pemberitahuan untuk melaksanakan salat.
Jumlah kalimat azan ada 15 kalimat, yaitu:
Allāhu akbar, Allāhu akbar. (Artinya: Allah Maha Besar).
Allāhu akbar, Allāhu akbar. (Artinya: Allah Maha Besar).
Asyhadu allā ilāha illallāh, Asyhadu allā ilāha illallāh. (Artinya: Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah).
Asyhadu anna muḥammadar-rasūlullāh, Asyhadu anna muḥammadar-rasūlullāh. (Artinya: Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).
Ḥayya 'alaṣ-ṣalāh, ḥayya 'alaṣ-ṣalāh. (Artinya: Mari kita mendirikan salat).
Ḥayya 'alal-falāḥ, Ḥayya 'alal-falāḥ. (Artinya: Mari kita meraih keberuntungan).
Allāhu akbar, Allāhu akbar
Lā ilāha illallāh. (Artinya: Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah).
Saat azan Fajar (Subuh) ditambahkan kalimat berikut setelah mengucapkan kalimat Ḥayya 'alaṣ-ṣalāh:
Aṣ-ṣalātu khairun minan-naum, Aṣ-ṣalātu khairun minan-naum. (Artinya: Salat lebih baik daripada tidur).
Kalimat ikamah ada 11 kalimat, yaitu:
Allāhu akbar, Allāhu akbar
Asyhadu allā ilāha illallāh, Asyhadu anna muḥammadar-rasūlullāh. (Artinya: Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).
Ḥayya 'alaṣ-ṣalāh, Ḥayya 'alal-falāḥ. (Artinya: Mari kita mendirikan salat.Mari kita meraih keberuntungan).
Qad qāmatiṣ-ṣalāh, Qad qāmatiṣ-ṣalāh. (Artinya: Salat akan segera didirikan).
Allāhu akbar, Allāhu akbar. (Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar).
Lā ilāha illallāh. (Artinya: Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah).
* Azan tidak sah kecuali dilakukan oleh seorang muslim laki-laki yang berakal. Adapun bagi wanita, tidak diwajibkan baginya azan maupun ikamah.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Isilah titik-titik di bawah ini!
1- Azan adalah ..................... .....................
2. Ikamah adalah ..................... .....................
Soal 2: Sebutkan kalimat-kalimat Azan dan Ikamah!
Soal 3: Jawablah dengan benar (Benar) atau salah (Salah) disertai perbaikan kesalahan jika ada!
1- Kalimat-kalimat azan ada 15 kalimat.
2- Kalimat ikamah ada 10 kalimat.
3- Muazin mengucapkan "Aṣ-ṣalātu khairun minan naum" setelah mengucapkan "Ḥayya 'alaṣ-ṣalāh".
4- Muazin mengucapkan "Aṣ-ṣalātu khairun minan naum" pada salat Subuh saja.
MATERI KETUJUH [12]
[12] Panduan Instruksional bagi Guru - Guru mempraktikkan azan dan ikamah untuk salat Subuh dan salat lainnya di hadapan para muridnya. - Guru meminta para murid mempraktikkan azan dan ikamah beserta sunnah-sunnahnya. - Guru mengingatkan para murid bahwa wanita boleh mengerjakan salat di masjid dengan tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan keluar rumah, seperti memakai hijab yang menutup aurat dan tidak memakai parfum, tetapi mengerjakan salat di rumahnya lebih utama.
SUNNAH-SUNNAH AZAN
Seorang muazin disunnahkan untuk:
1- Menghadap kiblat.
2- Meletakkan kedua jari telunjuk di dua telinga.
3- Mengeraskan suaranya ketika azan.
4- Dilakukan secara perlahan dengan diam sejenak setelah setiap kalimat.
5- Menoleh ke kanan ketika mengucapkan "Ḥayya 'alaṣ-ṣalāh", dan ke kiri ketika mengucapkan "Ḥayya 'alal-falāḥ".
Orang yang mendengar muazin disunnahkan untuk:
1- Mengucapkan apa yang diucapkan oleh muazin kecuali pada lafaz "Ḥayya 'alaṣ-ṣalāh" dan "Ḥayya 'alal-falāḥ", maka dia mengucapkan "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh".
2- Setelah selesai azan, muazin dan orang yang mendengarnya disunnahkan untuk:
1. Membaca selawat kepada Nabi ﷺ.
2- Mengucapkan apa yang terdapat dalam hadis Jābir bin 'Abdullāh -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang ketika (selesai) mendengar azan membaca doa, 'Allāhumma rabba hāżihid-da'watit-tāmmah, waṣ-ṣalātil-qā`imah, āti muḥammadan al-wasīlata wal-faḍīlah, wab'aṡhu maqāman maḥmūdan al-lażī wa'adtah. (Artinya: Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna dan salat yang akan ditegakkan ini. Limpahkanlah kepada Muhammad al-waṣīlah dan keutamaan. Bangkitkanlah dia pada tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya),' maka ia berhak mendapatkan syafaatku kelak di hari kiamat."[13] [13] HR. Bukhari dalam Kitāb Al-Ażān, Bāb Ad-Du'ā' 'Indan-Nidā', No. 614.
- Seorang muslim hendaknya segera menuju masjid begitu mendengar suara azan, serta menghentikan segala bentuk aktivitas atau pekerjaan lainnya.
Sementara itu, seorang muslimah hendaknya segera menunaikan salat di rumahnya, karena hal tersebut lebih utama baginya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ, "Rumah mereka (kaum wanita) lebih baik bagi mereka."[14] [14] HR. Ahmad (No. 5471), dan para ulama pentahkiknya berkata, "Hadis sahih."
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Sebutkan sunah-sunah dalam azan!
Soal 2: Isilah titik-titik di bawah ini!
1- Setelah selesai azan, muazin dan orang yang mendengar muazin disunnahkan untuk membaca: .....................
2- Doa yang diucapkan setelah selesai azan adalah: ..........................................
3- Seorang muslim, jika mendengar azan hendaknya ..........................................
MATERI KEDELAPAN [15]
[15] Panduan Instruksional bagi Guru - Mumayyiz adalah orang yang memahami pembicaraan dan dapat memberikan jawaban ketika ditanya. Pendapat yang masyhur menetapkan batasan usia tamyiz ialah tujuh tahun. - Suatu tempat dikatakan bernajis jika najis tersebut berada di bawah orang yang salat sehingga bagian tubuh atau pakaiannya bisa bersentuhan dengan najis tersebut. Adapun jika najis tersebut berada di ujung sajadah misalnya dan ia tidak menyentuhnya, maka tidak masalah. - Allah telah memerintahkan untuk memakai pakaian yang indah ketika salat. Dia berfirman, "Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian yang bagus setiap (memasuki) masjid." [QS. Al-A'rāf: 31] Yakni: setiap kali hendak mendirikan salat. Oleh karena itu, sepantasnya seorang muslim memakai pakaian terbaik dan paling indah saat salat, dan jangan sampai mengerjakannya dengan mengenakan pakaian yang tidak pantas.
SYARAT-SYARAT SAH SALAT
Syarat sah salat ada sembilan, yaitu:
1- Islam. Salat tidak sah jika dilakukan oleh orang kafir, karena di antara syarat diterimanya amal ialah iman kepada Allah, sedangkan orang kafir tidak beriman, sehingga amalnya tidak diterima.
2- Berakal. Salat tidak sah dilakukan oleh orang yang hilang akal, seperti orang gila.
3. Tamyiz. Tidak sah salat seorang anak hingga ia mencapai usia tamyiz, yaitu tujuh tahun.
4- Suci dari hadas. Salat orang yang berhadas tidak sah sehingga dia berwudu. Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ, "Allah tidak akan menerima salat seseorang di antara kalian jika berhadas sehingga ia berwudu." [16] Orang yang berhadas adalah orang yang wudunya telah batal karena buang ari kecil, buang air besar, atau selain keduanya dari pembatal-pembatal wudu. [16] HR. Bukhari dalam Kitāb al-Ḥiyal fī Ṣalāh, No. 6954.
5- Suci dari najis. Yaitu dengan menghilangkan najis yang ada di badan, pakaian, dan tempat salat dengan menggunakan air.
6- Masuknya waktu. Salat tidak sah bila dikerjakan sebelum masuk waktunya, dan haram mengakhirkannya dari waktunya tanpa uzur. Allah Ta'ala berfirman, "Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." [QS. An-Nisā`: 103], Yakni: diwajibkan pada waktu-waktu tertentu.
7- Menutup aurat. Tidak sah salat orang yang menyingkap auratnya. Aurat laki-laki ialah bagian tubuh antara pusar dan lutut. Sementara untuk perempuan, seluruh tubuhnya merupakan aurat kecuali muka dan telapak tangan ketika salat selama tidak berada di hadapan lelaki yang bukan mahram. Jadi, wanita wajib menutup muka dan telapak tangannya dari pandangan lelaki.
8- Menghadap kiblat. Yaitu Ka'bah. Ini berdasarkan firman Allah Ta'ala, "...Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam." [QS. Al-Baqarah: 144]
- Apabila orang yang salat berada di Masjidilharam, maka ia harus menghadap ke Ka'bah itu sendiri.
- Namun, apabila ia jauh dari Ka'bah, maka ia menghadap ke arah di mana Ka'bah berada.
9- Niat. Yaitu berniat salat yang ingin dikerjakannya, seperti salat Zuhur atau Asar, dan seterusnya.
Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ, "Sesungguhnya segala amalan itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang (balasan dari) apa yang diniatkannya."[17] [17] HR. Bukhari, Kitāb Bad`il-Waḥyi, Bāb Kaifa Kāna Bad`ul-Waḥyi ilā Rasūlillāh ﷺ, No. 1; Muslim, Kitāb Al-Imārah, Bāb Qaulin-Nabiyyi ﷺ: "Innamal-A'mālu bin-Niyyāt", No. 1907.
Tempat niat ialah di hati, sedangkan melafazkannya adalah bidah.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Sebutkanlah syarat-syarat sah salat!
Soal 2: Sebutkan dalil tentang disyaratkannya hal-hal berikut!
A- Suci dari hadas.
B- Menghadap kiblat.
C- Niat.
Soal 3: Jelaskan hal-hal berikut ini!
A. Benda-benda yang harus terbebas dari najis.
B. Hukum mengakhirkan salat dari waktunya.
C- Batas aurat laki-laki.
D- Arah orang yang salat apabila berada di Masjidilharam.
E- Batas aurat perempuan ketika salat.
MATERI KESEMBILAN [18]
[18] Panduan Instruksional bagi Guru - Sejak matahari terbit dari arah timur, segala sesuatu yang berdiri tegak akan memiliki bayangan panjang. Setiap kali matahari meninggi, bayangan tersebut akan berkurang. Bayangan ini akan terus-menerus berkurang seiring naiknya matahari hingga ketika matahari tepat di tengah langit, berkurangnya bayangan pun berakhir. Lalu apabila bayangan mulai panjang kembali, maka matahari telah tergelincir, dan saat itulah masuk waktu salat Zuhur. Waktu ini memanjang hingga bayangan semua benda sama dengan ukuran panjangnya setelah bayangan waktu tergelincir. Hal itu karena bayangan yang ada saat matahari tergelincir tidaklah dihitung. Maka, apabila berkurangnya bayangan telah berakhir dan mulai memanjang kembali, berilah tanda pada awal mula memanjangnya bayangan tersebut. Kemudian jika tambahan bayangan memanjang dari tanda ini sudah seukuran panjang benda yang tegak itu, maka waktu salat Zuhur sudah berakhir dan masuk waktu salat Asar. Demikian pula halnya sebagai patokan untuk berakhirnya waktu salat Asar. - Fajar itu ada dua. Fajar pertama: yaitu cahaya putih memanjang yang membentang vertikal di langit dari arah timur ke arah barat, dan tidak ada satu pun ketentuan hukum yang diakibatkannya. Sedangkan fajar kedua: yaitu cahaya putih yang melintang horizontal di ufuk dari utara ke selatan, dan inilah yang menjadi patokan berlakunya ketentuan hukum, seperti masuknya waktu salat Subuh, menahannya (imsak) orang yang berpuasa, dan semacamnya. - Asy-Syafaq: warna kemerahan yang tampak di ufuk sesaat setelah matahari terbenam hingga masuknya waktu salat Isya.
WAKTU-WAKTU SALAT FARDU[19]
[19] Guru mengingatkan para murid tentang: - Kesungguhan dalam melaksanakan salat pada waktunya secara berjemaah di masjid, sedangkan wanita salat di rumahnya. - Tidur lebih awal agar mendapatkan istirahat yang cukup dan sanggup bangun untuk melaksanakan salat Subuh dengan penuh semangat. - Bahaya begadang tanpa keperluan.
Waktu-waktu salat fardu ialah:
1. Subuh, waktunya dari terbitnya fajar kedua hingga terbitnya matahari.
2. Zuhur, sejak matahari tergelincir hingga bayangan segala sesuatu sama panjang dengannya.
3. Asar, waktunya dari akhir waktu Zuhur hingga bayangan segala sesuatu menjadi dua kali panjangnya.
4. Magrib, waktunya dari matahari terbenam hingga mega merah lenyap.
5. Isya dari hilangnya mega merah hingga pertengahan malam.
Hukum Mengakhirkan Salat dari Waktunya
Tidak boleh mengakhirkan salat dari waktunya. Siapa yang melakukan hal itu, maka ia telah melakukan dosa besar. Allah Ta'ala berfirman, "Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya." [QS. Al-Mā'ūn: 4-5]
Yakni: mereka mengakhirkan salat dari waktunya.
Mengqada Salat yang Tertinggal
Siapa yang tertidur sehingga tidak mengerjakan salat atau lupa mengerjakannya sehingga waktunya habis, maka dia wajib mengerjakannya ketika ia terbangun atau telah ingat kembali. Dia tidak boleh menundanya dari waktu tersebut. Dalilnya adalah hadis Anas bin Malik raḍiyallāhu 'anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang lupa suatu salat atau tertidur, maka kafaratnya adalah menunaikannya di saat ingat." Dalam redaksi lain disebutkan: "Tidak ada kafarat baginya kecuali hal itu."[20] [20] HR. Muslim dalam Kitāb Al-Masājid wa Mawāḍi'uṣ-Ṣalāh, Bāb Qaḍā`il-Fā`itah wa Istiḥbāb Ta'jīl Qaḍā`ihā (1/477), No. 684.
Hukum Tidur Sebelum Salat Isya dan Berbicara Setelahnya
Makruh hukum tidur sebelum salat Isya dan berbincang-bincang setelahnya, kecuali karena suatu kebutuhan, agar tidak malas melaksanakan salat tahajud atau terlewatkan salat Subuh. Dalilnya sebagaimana diriwayatkan Abu Barzah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah ﷺ membenci tidur sebelum Isya dan berbincang-bincang setelahnya."[21] [21] HR. Bukhari dalam Kitāb Mawāqītuṣ-Ṣalāh, Bāb Mā Yukrahu minan-Naum Qablal-'Isyā`, No. 568.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Isilah titik-titik di bawah ini!
1- Waktu salat Subuh ..................... 2- Waktu salat Zuhur .....................
3- Waktu salat Asar ..................... 4- Waktu salat Magrib .....................
5- Waktu salat Isya ..................... .....................
Soal 2: Isilah titik-titik di bawah ini!
1-..................... mengakhirkan salat dari waktunya. Siapa yang melakukan hal itu maka sungguh ia telah ...................... Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: (.................... yang lalai terhadap salatnya.") Maksudnya: .....................
2- Siapa yang tertidur sehingga tidak mengerjakan salat atau lupa mengerjakannya sehingga waktunya habis, maka dia wajib ..................... ketika ..................... . Dia tidak boleh .....................
Soal 3: Jelaskan alasan untuk pernyataan berikut ini!
1- Makruh tidur sebelum salat Isya ..................... .....................
2- Makruh bincang-bincang setelah Isya ..................... .....................
MATERI KESEPULUH [22]
[22] Panduan Instruksional bagi Guru - Tumakninah adalah ketenangan dan kemantapan seukuran zikir yang wajib. Ia berbeda dengan khusyuk yang merupakan kehadiran hati. Khusyuk termasuk hal yang disyariatkan dalam salat, bahkan ia merupakan inti dan roh salat, maka tidaklah seseorang mendapatkan dari salatnya kecuali apa yang ia sadari darinya. Oleh karena itu, guru mengingatkan para murid tentang pentingnya khusyuk dalam salat, dan menjelaskan kepada mereka sebab-sebabnya. - Mengingat bahwa hadis tentang orang yang keliru dalam salatnya telah merangkum sekumpulan rukun shalat, maka guru hendaknya menyampaikan hadis tersebut pada pembahasan pertama yang memuat materi 'Takbiratul Ihram'. Selanjutnya, guru menjelaskan dalil-dalil rukun shalat yang terkandung di dalam hadis tersebut serta mengorelasikan antara rukun satu dengan yang lainnya.
RUKUN-RUKUN SALAT
Rukun salat ada empat belas, yaitu:
1- Berdiri untuk salat fardu bagi yang mampu. Dalilnya adalah hadis 'Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku menderita penyakit wasir, lalu aku bertanya kepada Nabi ﷺ mengenai salat, maka beliau bersabda, 'Salatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu maka dengan duduk. Jika tidak mampu juga maka dengan berbaring.'"[23] [23] HR. Bukhari dalam Kitāb At-Tahajjud, Bāb Iżā Lam Yutiq Qā'idan Ṣallā 'alā Janbin, No. 1117.
2- Takbiratulihram di awal salat, yaitu ucapan: Allāhu Akbar. Ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Apabila kamu mendirikan salat, maka bertakbirlah.”[24] [24] HR. Bukhari dalam Kitāb Al-Ażān, Bāb Wujūb Al-Qirā`ah Lil-Imām wal-Ma`mūm fī aṣ-ṣalawāt kullihā, No. 757; Muslim dalam Kitāb aṣ-ṣalāh, Bāb Wujūb Qirā`ah Al-Fātiḥah fī kulli Rak'ah, No. 397.
3- Membaca Al-Fātiḥah di setiap rakaat. Ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ, "Tidak sah salat orang yang tidak membaca Al-Fātiḥah."[25] [25] HR. Bukhari dalam Kitāb Al-Ażan, Bāb Wujūb Al-Qirā`ah Lil-Imām wal-ma`mūm fī aṣ-ṣalawāt kullihā, No. 756.
4- Rukuk. Ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ, “Engkau rukuk dengan tumakninah.”
5- Bangkit dari Rukuk dan berdiri tegak (iktidal) setelah bangkit darinya. Ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ, "Kemudian bangkitlah (dari rukuk) sampai benar-benar berdiri tegak (iktidal).”
6. Sujud di atas tujuh anggota tubuh. Dalilnya adalah hadis Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda, "Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh tulang, yaitu dahi -seraya beliau menunjuk ke hidung dengan tangannya-, kedua tangan, kedua lutut, dan jari-jari kedua telapak kaki."[26] [26] HR. Bukhari, Kitāb Al-Ażān, Bāb As-Sujūd 'alal-Anf, No. 812; Muslim, Kitāb Aṣ-Ṣalāh, Bāb A'ḍā`us-Sujūd wan-Nahyu 'an Kaffisy-Sya'ri waṡ-Ṡaubi wa 'Aqṣir-Ra`si fī Aṣ-Ṣalāh, No. 490.
Ketujuh anggota tubuh tersebut ialah:
1. Dahi sekaligus hidung
2-3 Dua telapak tangan
4-5 Dua lutut
6-7 Jemari kedua kaki
7- Bangkit dari sujud.
8- Duduk antara dua sujud. Dalil bangkit dari sujud serta duduk antara dua sujud adalah sabda Nabi ﷺ, "Kemudian bangkitlah hingga kamu duduk dengan tumakninah."[27] [27] HR. Bukhari dalam Kitāb Al-Ażān, Bāb Wujūb Al-Qirā`ah Lil-Imām wal-ma`mūm fī aṣ-ṣalawāt kullihā, No. 757, dan lafaz ini milik beliau; Muslim dalam Kitāb aṣ-ṣalāh, Bāb Wujūb Qirā`ah Al-Fātiḥah fī kulli Rak'ah, No. 397.
9- Tasyahud akhir, yaitu membaca tasyahud.
10- Duduk untuk tasyahud akhir dan duduk untuknya. Ini berdasarkan hadis Ibnu Mas’ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Sebelum diwajibkan bacaan tasyahud, kami mengucapkan dalam salat, 'As-salāmu 'alallāh, as-salāmu 'alā Jibrīl wa Mīkā`īl' (Artinya: keselamatan bagi Allah, keselamatan bagi Jibril dan Mika`il)." Kemudian beliau ﷺ bersabda, "Janganlah kalian mengucapkan demikian, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla adalah As-Salām (Yang Maha Pemberi keselamatan). Tetapi ucapkanlah, "At-taḥiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu 'alaikum ayyuhan-Nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāh wa asyhadu anna Muḥammadan 'abduhu wa rasūluh." (Artinya: Segala pengagungan, selawat, dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan terlimpah kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta berkah-Nya. Semoga keselamatan terlimpah pada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya)."[28] [28] HR. Nasa`i, Kitāb As-Sahw, Bāb: Ījāb At-Tasyahhud, (No. 1277), dan lafal ini miliknya, serta Al-Baihaqiy dalam Kitāb Aṣ-Ṣalāh, Bāb: Wujūb At-Tasyahhud Al-Akhīr (2/378). Hadis ini memiliki syawāhid (riwayat lain penguat) dalam Sahih Bukhari dan Muslim tanpa menyebutkan ucapannya, 'Sebelum diwajibkan'."
11- Selawat kepada Nabi ﷺ setelah membaca tasyahud akhir.
Selawat untuk Nabi ﷺ
berdasarkan sabda beliau ﷺ, "Ucapkan, 'Allāhumma ṣalli 'alā Muḥammad, wa 'alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita 'alā Ibrāhīm, wa 'alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Allāhumma bārik 'alā Muḥammad, wa 'alā āli Muḥammad, kamā bārakta 'alā Ibrāhīm, wa 'alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd'." Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, curahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau mencurahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."[29] [29] HR. Bukhari dalam Kitāb Aḥādīṡ Al-Anbiyā`. Redaksi ini milik Bukhari, No. 3370; dan Muslim dalam Kitāb Aṣ-Ṣalāh, Bāb Aṣ-Ṣalāh 'alā An-Nabiy ﷺ.
12- Dua kali salam. Ini berdasarkan sabda beliau ﷺ, "Dan diakhiri dengan salam."[30] [30] HR. Abu Daud dalam Sunannya (1/16), No. 61; dan Tirmizi dalam Jāmi'-nya (1/8), No. 3.
13- Tumakninah di seluruh rukun. Dalilnya adalah hadis orang yang keliru mengerjakan salat, dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah ﷺ memasuki masjid, lalu seorang laki-laki masuk dan mengerjakan salat, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ. Maka beliau menjawab salamnya, lalu beliau bersabda, "Kembali ulangi salatmu, karena sesungguhnya engkau belum salat!" Orang itu kembali, lalu salat seperti salat yang ia kerjakan sebelumnya. Kemudian ia datang dan mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ. Beliau bersabda, "Kembali, lalu salatlah, karena sesungguhnya engkau belum salat!"... Hingga tiga kali. Lalu orang itu berkata, "Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa mengerjakan selain itu, mohon ajarilah aku!" Beliau bersabda, "Apabila engkau telah berdiri untuk mengerjakan salat, maka bertakbirlah, lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur`an. Kemudian lakukanlah rukuk sampai engkau rukuk dengan tumakninah. Selanjutnya bangkitlah sampai engkau tegak berdiri, lalu sujudlah sampai engkau sujud dengan tumakniah. Kemudian bangkitlah sampai engkau duduk dengan tumakniah. Lakukanlah hal itu pada semua salatmu!" [31] [31] HR. Bukhari dalam Kitāb Al-Ażān, Bāb Wujūb Al-Qirā`ah Lil-Imām wal-ma`mūm fī aṣ-ṣalawāt kullihā, No. 757. Lafaz ini miliknya. Muslim dalam Kitāb aṣ-ṣalāh, Bāb Wujūb Qirā`ah Al-Fātiḥah fī kulli Rak'ah, No. 397.
14. Tertib di antara rukun-rukun tersebut, karena Nabi ﷺ salat secara tertib. Beliau bersabda, "Salatlah kalian sebagaimana kalian melihatku salat."[32] [32] HR. Bukhari dalam Kitāb al-Ażān, Bāb al-Ażān lil-Musāfirīn Iżā Kānū Jamā'atan wal-Iqāmah, No. 631.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Sebutkan rukun-rukun salat!
Soal 2: Sebutkan dalil bahwa masing-masing hal berikut ini termasuk rukun-rukun salat!
1. Berdiri. 2. Membaca Al-Fātiḥah. 3. Sujud. 4. Dua salam.
Soal 3: Urutkan rukun-rukun berikut berdasarkan letaknya dalam salat!
- Tasyahud akhir - Membaca Al-Fātiḥah - Duduk di antara dua sujud - Rukuk
Soal 4: Apa saja ketujuh anggota badan saat sujud?
..................... ..................... ..................... ..................... .....................
Soal 5: Tuliskan lafaz tasyahud akhir!
..................... ..................... ..................... ..................... .....................
Soal 6: Tuliskan zikir selawat kepada Nabi ﷺ!
..................... ..................... ..................... ..................... .....................
MATERI KESEBELAS [33]
[33] Panduan Instruksional bagi Guru - Guru menjelaskan kepada murid perbedaan antara imam, makmum, dan munfarid. Imam adalah orang yang memimpin para jemaah dalam salat, yakni menjadi imam salat. Makmum adalah orang yang mengikuti imam, yakni salat bersamanya. Munfarid adalah orang yang salat sendirian. - Takbir rukuk hukumnya wajib, kecuali bagi orang yang mendapati imam sedang rukuk, maka ia mengucapkan takbiratul ihram dalam keadaan berdiri tegak, kemudian ia rukuk seraya bertakbir untuk rukuk yang hukumnya sunah -jika hal itu memungkinkan baginya- namun jika tidak, maka takbiratulihram sudah mencukupinya.
WAJIB-WAJIB SALAT
Wajib-wajib salat ada delapan, yaitu:
1- Semua takbir selain takbiratulihram, karena ia adalah rukun.
2- Bacaan “Sami'allāhu liman ḥamidah,” bagi imam dan munfarid, bukan bagi makmum.
3- Bacaan “Rabbanā walakal-ḥamdu,” bagi imam, makmum, dan munfarid.
4 - Membaca "Subḥāna rabbiyal-'aẓīm" saat rukuk.
5- Membaca "Subḥāna rabbiyal-a'lā" ketika sujud.
6- Bacaan “Rabbi-gfir lī,” ketika duduk di antara dua sujud.
7- Bacaan tasyahud awal.
8- Duduk tasyahud awal.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Sebutkan wajib-wajib salat!
Soal 2: Lingkarilah nomor jawaban yang benar!
A- Kalimat "Sami'allāhu liman ḥamidah" (Artinya: Allah mendengar orang yang memuji-Nya) diucapkan oleh?
1- Imam, makmum, dan munfarid. 2- Imam dan munfarid saja. 3- Imam dan makmum saja.
B- Kalimat "Rabbanā walakal-ḥamdu", diucapkan oleh?
1- Imam, makmum, dan munfarid. 2- Imam dan munfarid saja. 3- Imam dan makmum saja.
C- Kalimat "Subḥāna rabbiyal 'aẓīm" (Artinya: Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung), dibaca ketika?
1- Sujud 2- Duduk di antara dua sujud. 3- Rukuk.
Soal 3: Tulislah "rukun" atau "wajib" di tempat yang tepat!
Bangkit dari Rukuk
Takbiratulihram
Ucapan "Rabbi-gfir lī" (Artinya: Ya Tuhanku, ampunilah aku).
Ucapan "Subḥāna rabbī al-a'lā" (Artinya: Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi).
Membaca Surah Al-Fātiḥah
Tasyahud Awal
Selawat kepada Nabi ﷺ
MATERI KEDUA BELAS [34]
[34] Panduan Instruksional bagi Guru Jika seseorang meninggalkan salah satu rukun salat seperti rukuk atau sujud karena lupa atau ketidaktahuan, maka terdapat beberapa keadaan: 1- Dia mengingatnya sebelum mulai membaca (Al-Fātiḥah) pada rakaat berikutnya, maka dalam keadaan ini dia wajib kembali untuk mengerjakannya beserta semua amalan salat yang ada setelahnya, lalu menyempurnakan salatnya dan melakukan sujud sahwi. 2- Dia tidak mengingatnya kecuali setelah mulai membaca (Al-Fātiḥah) pada rakaat berikutnya, maka dalam keadaan ini batallah rakaat tempat dia meninggalkan rukun itu, dan posisinya digantikan oleh rakaat berikutnya, lalu dia melakukan sujud sahwi. 3- Dia tidak mengingat rukun tersebut kecuali setelah selesai salat, sehingga posisinya seperti meninggalkan satu rakaat penuh. Maka dalam keadaan ini, jika jeda waktunya belum lama, dia mengerjakan satu rakaat penuh, lalu bertasyahud, melakukan sujud sahwi, dan salam. Namun jika jeda waktunya sudah lama, maka dia mengulang salat dari awal dan tidak ada kewajiban melakukan sujud sahwi baginya. 4- Jika rukun yang ditinggalkan itu berupa tasyahud akhir atau salam, maka dalam keadaan ini dia wajib mengerjakan apa yang ditinggalkannya, lalu melakukan sujud sahwi dan salam. Hal ini tidak dianggap seperti meninggalkan satu rakaat penuh.
Perbedaan Antara Rukun dan Wajib
Rukun dan wajib mempunyai kesamaan dalam suatu hal dan berbeda dalam hal lain:
A- Persamaan antara Rukun dan Wajib
Rukun dan wajib memiliki kesamaan dalam hal bahwa jika orang yang salat meninggalkan salah satu dari keduanya dengan sengaja, maka salatnya batal.
B- Perbedaan antara rukun dan wajib:
- Apabila orang yang salat meninggalkan rukun karena lupa atau tidak tahu, maka rukun itu tidak gugur, melainkan dia wajib mengerjakannya dan melakukan sujud sahwi.
- Perkara wajib, apabila orang yang salat meninggalkannya karena lupa atau tidak tahu, maka hal itu jadi gugur, dan dia melakukan sujud sahwi sebagai gantinya.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Jawablah dengan (Benar) atau (Salah) disertai perbaikan kesalahan!
1- Rukun, jika orang yang salat meninggalkannya dengan sengaja, maka salatnya batal.
2- Wajib, jika orang yang salat meninggalkannya dengan sengaja, maka salatnya batal.
3- Rukun, jika orang yang salat meninggalkannya karena lupa, maka salatnya batal.
Soal 2: Lingkarilah nomor jawaban yang benar!
A- Wajib akan gugur jika orang yang salat meninggalkannya karena?
1- Lupa 2- Sengaja 3- Tidak gugur selamanya.
B- Rukun akan gugur jika seseorang meninggalkannya karena?
1- Tidak tahu 2- Lupa 3- Tidak gugur selamanya.
C- Perkara wajib apabila ditinggalkan oleh orang yang salat karena lupa, maka?
1- Ia harus mengerjakannya 2- Ia melakukan sujud sahwi sebagai gantinya 3- Tidak ada kewajiban apa pun atasnya.
MATERI KETIGA BELAS
TAFSIR SURAH AL-FĀTIḤAH
Bismillāh bermaknanya: Aku memulai seraya memohon pertolongan Allah.
Ar-Raḥmān bermakna pemilik rahmat yang luas bagi semua makhluk.
Ar-Raḥīm bermakna pemilik rahmat yang diberikan khusus bagi para hamba-Nya yang beriman.
"Alḥamdulillāh". Al-ḥamd artinya pujian kepada Allah atas kesempurnaan sifat-sifat-Nya dan karunia-Nya yang melimpah.
"Rabbil-'ālamīn". Ar-Rabb ialah penguasa, pengatur. "Al-'Ālamīn" bentuk jamak dari kata 'ālam. Semua yang ada selain Allah adalah alam. Makna Rabbil-'ālamīn adalah penguasa mereka, pemelihara mereka, dan pengatur urusan mereka.
Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm (Artinya: Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang) adalah dua nama Allah 'Azza wa Jalla yang mengandung sifat rahmat.
"Māliki yaumiddīn" (Artinya: Pemilik hari pembalasan), yaitu hari perhitungan dan pembalasan atas amalan, yaitu hari kiamat.
"Iyyāka na'budu" (Artinya: hanya kepada Engkau kami menyembah) maknanya kami tidak beribadah kepada selain-Mu. Ibadah adalah ketaatan yang disertai dengan kesempurnaan cinta dan ketundukan secara total kepada Allah Ta'ala.
"Wa iyyāka nasta'īn" (Artinya: dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan), maknanya: maka kami tidak memohon pertolongan kepada selain Engkau. Kata al-isti'ānah maknanya memohon pertolongan kepada Allah 'Azza wa Jalla.
"Ihdinā" (Artinya: berilah kami petunjuk), yaitu tunjukilah dan bimbinglah kami serta berilah taufik kepada kami.
"aṣ-ṣirāṭal-mustaqīm" (Artinya: jalan yang lurus), yaitu jalan yang jelas, tidak ada bengkoknya, yaitu agama yang diturunkan Allah kepada Rasulul-Nya ﷺ.
"Ṣirāṭal-lażīna an'amta 'alaihim" (Artinya: (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka), yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat hidayah kepada mereka dari kalangan para nabi, para ṣiddīq, para syuhada, dan orang-orang saleh.
"Gairil-magḍūbi 'alaihim" (Artinya: bukan (jalan) mereka yang dimurkai), yaitu orang-orang yang tidak mengamalkan ilmu mereka, seperti kaum Yahudi dan yang serupa dengan mereka.
"Walaḍ-ḍāllīn" (Artinya: dan bukan (jalan pula) mereka yang sesat), yaitu orang-orang yang beramal tanpa ilmu, seperti kaum Nasrani dan yang serupa dengan mereka.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Apa makna "Bismillāh"?
Soal 2: Jelaskan makna dari kalimat berikut ini: (alḥamdulillāh), (rabbil 'ālamīn), (aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm)!
Soal 3: Definisikanlah (ibadah) dan (isti`ānah)!
Soal 4: Siapakah kaum yang Allah karuniakan nikmat kepada mereka? Nikmat apa yang Dia karuniakan kepada mereka?
Soal 5: Siapakah kaum yang dimurkai Allah?
Soal 6: Siapakah kaum yang disifati Allah dengan kesesatan?
MATERI KEEMPAT BELAS
PENJELASAN MAKNA TASYAHUD
"At-taḥiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu 'alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan 'abduhu wa rasūluh." (Artinya: Segala ucapan penghormatan, selawat, dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan terlimpah kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta berkah-Nya. Semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya).
"At-taḥiyyātu lillāh." (Artinya: Segala ucapan penghormatan hanya milik Allah).
"At-Taḥiyyāt" adalah bentuk jamak dari "taḥiyyah". "At-Taḥiyyah" adalah pengagungan. Maknanya yaitu: semua bentuk pengagungan adalah hak Allah.
"Aṣ-Ṣalawāt" artinya salat-salat yang dikenal. Pendapat lain mengatakan, artinya doa-doa.
"Aṭ-ṭayyibāt" (kebaikan), yaitu amal saleh yang diterima oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Maknanya: bahwa Allah tidak menerima selain yang baik, karena Allah Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik.
"Assalāmu 'alaikum ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh." (Artinya: Semoga keselamatan terlimpah kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya). Ini merupakan doa keselamatan bagi Nabi ﷺ yang di dalamnya terkandung makna keselamatan dari segala hal yang dibenci (keburukan), doa limpahan rahmat yang mendatangkan segala apa yang diharapkan, serta doa keberkahan yang bermakna pertambahan dalam setiap kebaikan.
"As-salāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn." (Artinya: Semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh). Mereka adalah orang-orang yang menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya dari kalangan para nabi, malaikat, dan orang-orang mukmin. Ini merupakan doa keselamatan bagi orang yang salat dan semua hamba yang saleh dari segala keburukan.
"Asyhadu allā ilāha illallāh." (Artinya: Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah).
"Asyhadu" (Aku bersaksi) yakni: aku berikrar dengan hatiku, berucap dengan lisanku, dan beramal dengan anggota badanku.
"Lā ilāha illallāh", maknanya tidak ada sembahan yang hak kecuali Allah.
"Wa asyhadu anna muḥammadan 'abduhu wa rasūluh" (Artinya: aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya), maksudnya mengakui bahwa Muhammad ﷺ adalah seorang hamba Allah yang tidak boleh disembah, dan seorang rasul dari sisi Allah yang tidak boleh didustakan, tetapi beliau harus dipatuhi dan diikuti.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Jelaskan makna dari lafaz-lafaz berikut: (At-taḥiyyāt), (aṣ-ṣalawāt), (aṭ-ṭayyibāt)!
Soal 2: Apa yang dimaksud dengan kata "an-nabiy" dalam ucapan kita (As-salāmu 'alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh)?
Soal 3: Apa makna "Lā ilāha illallāh"?
Soal 4: Apa arti "asyhadu anna muḥammadan rasūluh"?
MATERI KELIMA BELAS [35]
[35] Panduan Instruksional bagi Guru Melalui materi pelajaran ini, guru dapat memanfaatkannya untuk menyampaikan petikan sirah (sejarah kehidupan) Nabi ﷺ, menanamkan rasa cinta kepada beliau di dalam hati para murid, serta mendorong mereka untuk senantiasa taat dan mengikuti tuntunan beliau tanpa menyelisihi perintahnya. Hal ini dikarenakan ketaatan dan ketundukan kepada beliau merupakan sumber kemenangan yang besar, sementara kemaksiatan dan penentangan terhadap beliau hanya akan mendatangkan kebinasaan serta kesesatan yang nyata. Selain itu, guru juga hendaknya memotivasi murid untuk memperbanyak selawat dan salam kepada beliau sembari menjelaskan keutamaan-keutamaan amalan tersebut. Lihat: Kitab Jalā` al-Afhām fī Faḍl aṣ-Ṣalāh wa as-Salām 'alā Muḥammad Khair al-Anām karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah -raḥimahullāh-.
MAKNA SELAWAT KEPADA NABI ﷺ
"Allāhumma ṣalli 'alā Muḥammad wa 'alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita 'alā Ibrāhīm wa 'alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Wa bārik 'alā Muḥammad wa 'alā āli Muḥammad, kamā bārakta 'alā Ibrāhīm wa 'alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Curahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau mencurahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."
"Allāhumma", artinya ya Allah.
"Ṣalli 'alā Muḥammad" (Limpahkanlah selawat kepada Muhammad), yakni pujilah ia di hadapan para malaikat tertinggi.
"ālu muḥammad", keluarga Muhammad, mereka adalah kerabat beliau dan pengikut beliau dalam agama.
"Wa bārik 'alā Muḥammad", (dan berkahilah Muhammad), maksudnya turunkanlah keberkahan kepadanya. Keberkahan adalah kebaikan yang banyak.
"Ḥamīd", yaitu: Yang terpuji, karena Dia memiliki sifat-sifat yang sempurna dan berlimpah karunia-Nya.
"Majīd", artinya pemilik kemuliaan, yaitu keagungan dan kekuasaan.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Jelaskan makna dari kata-kata berikut ini: (Allāhumma), (Ḥamīd), (Majīd)!
Soal 2: Isilah titik-titik di bawah ini!
1- Selawat dari Allah kepada Nabi ﷺ maknanya: ..................... .....................
2- Keluarga Muhammad adalah: ..................... ..................... .....................
3. Keberkahan adalah: ..................... .....................
4- (Ḥamīd) dan (Majīd) adalah dua nama dari nama-nama: ..................... .....................
Judul: KURIKULUM PENDIDIKAN BUKU TAUHID Level Keempat
Ringkasan Materi ilmiah ini merupakan hasil penyelarasan dan peringkasan dari kurikulum pendidikan di Kerajaan Arab Saudi yang ditujukan bagi para murid sekolah. Materi ini disusun secara sistematis ke dalam beberapa level, di mana salah satu komponen utamanya berfokus pada studi ilmu tauhid yang terbagi ke dalam dua belas (12) level pembelajaran. Topik terpenting yang dibahas pada level keempat adalah: penjelasan tentang hikmah penciptaan makhluk, definisi ibadah dan penyebutan beberapa jenisnya. Selain itu, dibahas pula penjelasan tentang pembagian tauhid beserta dalil dari setiap macamnya, disertai dengan penjelasan makna tagut, serta bentuk-bentuk dan macam-macamnya.
LEVEL KEEMPAT
MUKADIMAH
Segala puji bagi Allah yang telah mengajarkan dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang belum dia ketahui. Selawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi yang ummi lagi mulia, yang diutus oleh Allah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Tauhid (mengesakan) Allah -'Azza wa Jalla- adalah kewajiban yang paling fundamental, dan mempelajarinya menjadi disiplin ilmu yang paling mulia dan paling utama. Hal ini dikarenakan tauhid merupakan fondasi yang menjadi dasar keabsahan dan diterimanya semua amalan. Kebutuhan manusia kepadanya melebihi segala kebutuhan lainnya; karena hati tidak akan menemukan esensi kehidupan, kenikmatan, dan ketenangan kecuali dengan mengenal Rabb-nya, sembahannya, dan Penciptanya melalui pengenalan nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Di samping itu, pendalaman pemahaman agama serta penguasaan tata cara ibadah—seperti bersuci, salat, dan ibadah lainnya—merupakan indikator kebahagiaan seseorang sekaligus tanda bahwa Allah menginginkan kebaikan bagi hamba tersebut. Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, niscaya Allah akan menjadikannya paham urusan agamanya."[1] [1] HR. Bukhari, Kitāb Al-'Ilm, Bāb Man yuridillāhu bihi khairan yufaqqih-hu fīd-dīn, (No. 7)
Berdasarkan hal ini, Kantor Dakwah dan Bimbingan Jaliyat bersungguh-sungguh mengajarkan materi tauhid untuk menanamkan akidah yang benar di dalam jiwa para pelajar, sehingga mereka bisa berada di atas cahaya dan ilmu dalam urusan agama mereka.
Pada level keempat dari pelajaran Tauhid ini, para siswa akan mempelajari hikmah penciptaan makhluk, tauhid dan jenis-jenisnya, perkara pertama yang Allah wajibkan atas manusia, serta para pembesar tagut.
Setiap materi pembelajaran telah disertai dengan target capaian tertentu yang relevan dengan karakteristik subjek bahasannya. Penyajian materi dilakukan secara ringkas, menggunakan diksi yang jelas, serta disusun secara sistematis-prosedural (bertahap), serta korelasinya dengan materi yang telah dipelajari sebelumnya. Selain itu, setiap bab dilengkapi dengan instrumen evaluasi berupa pertanyaan dan panduan instruksional bagi pengajar sebagai referensi dalam mengoptimalisasi pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Berikut ini adalah beberapa pesan bagi guru:
1- Ikhlas kepada Allah Ta'ala adalah syarat diterimanya amal, maka jadikanlah amalmu murni semata-mata karena wajah Allah ﷻ, niscaya engkau akan beruntung di dunia dan akhiratmu.
2- Integritas dalam menjaga amanah merupakan kunci keselamatan. Anda, sebagai tenaga pendidik, berada di garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai keislaman serta mengemban tanggung jawab besar atas pengembangan intelektual dan fitrah para generasi muda Muslim. Oleh karena itu, jagalah amanah profesional ini demi meraih kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat.
3. Mengajarkan materi tauhid adalah salah satu amalan yang paling mulia. Tidak ada kebaikan bagi para hamba dan tidak pula ada keselamatan dari kehinaan dunia dan azab akhirat kecuali dengan mengenal dan mengamalkan tauhid. Maka, berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menanamkan akidah yang benar di dalam jiwa para murid, dan jadilah juru bicara yang jujur serta teladan yang hidup bagi idealisme dan nilai-nilai luhur yang engkau dakwahkan.
4- Optimalisasi momentum situasional untuk mengulas keesaan dan kekuasaan Allah, seperti saat awan mendung menyelimuti langit, kilatan petir, suara guntur, turunnya hujan, maupun fenomena alam lainnya yang mampu menstimulasi respons spiritual serta memperkuat dorongan keimanan dalam diri seorang Muslim.
5- Penyederhanaan materi melalui metode perumpamaan (analogi) serta pengaitan substansi pembelajaran dengan realitas kehidupan (kontekstualisasi) memiliki signifikansi besar dalam meningkatkan antusiasme murid terhadap mata pelajaran. Hal ini, pada gilirannya, akan memotivasi mereka untuk mendalami materi serta mengimplementasikannya dalam perilaku sehari-hari. Sebagai penutup, kami sampaikan kabar gembira berupa sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya di antara amal dan kebaikan seorang mukmin yang akan menyusulnya setelah kematiannya adalah ilmu yang ia ajarkan dan ia sebarkan."[2] [2] HR. Ibnu Majah, (No. 242)
Semoga selawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi kita, Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.
DAFTAR ISI
Materi Pertama: Hikmah Penciptaan Makhluk
Materi Kedua: Ibadah
Materi Ketiga: Tauhid dan Jenis-Jenisnya
Materi Keempat: Tauhid Rububiyah
Materi Kelima: Tauhid Uluhiyah
Materi Keenam: Tauhid Asmā` wa Ṣifāt
Materi Ketujuh: Para Rasul Allah Diutus Kepada Makhluk
Materi Kedelapan: Perkara Pertama yang Allah Wajibkan Kepada Manusia
Materi Kesembilan: Iman yang Benar
Materi Kesepuluh: Setan Merupakan Tagut Terbesar
Materi Kesebelas: Berhukum dengan Selain yang Diturunkan Oleh Allah
Materi Kedua Belas: Siapa yang Mengklaim Mengetahui Perkara Gaib atau Rida Disembah Oleh Manusia, Maka Dia Adalah Tagut
Materi Ketiga Belas: Seorang Mukmin Harus Mengingkari Tagut
MATERI PERTAMA
HIKMAH PENCIPTAAN MAKHLUK
Segala puji hanya milik Allah, dan semoga salam terlimpahkan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih.
Ketahuilah -semoga Allah Ta'ala merahmati Anda- bahwa Allah Ta'ala menciptakan seluruh makhluk agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya sedikit pun.
Dalilnya firman Allah Ta'ala, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." [QS. Aż-Żāriyāt: 56]
Panduan Materi Pelajaran
- Tujuan utama penciptaan jin dan manusia ialah untuk beribadah kepada Allah semata.
- Manusia tidak diciptakan dalam kehidupan ini tanpa tujuan atau sasaran yang berusaha untuk dicapainya.
- Siapa yang memalingkan suatu ibadah kepada selain Allah, seperti berdoa atau menyembelih hewan, maka sungguh ia telah menyekutukan Allah. Jika ia mati dalam keadaan demikian, maka balasannya neraka Jahanam, sementara surga haram baginya.
Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim itu." [QS. Al-Mā`idah: 72]
Soal-Soal Evaluasi
1- Apa hikmah penciptaan makhluk? Apa dalil yang menunjukkan hal tersebut?
2- Makan dan minum merupakan suatu keharusan dalam kehidupan ini, maka apakah kita diciptakan untuk keduanya?
3- Isilah titik-titik di bawah ini!
Seseorang yang menyembah selain Allah disebut ..............., dan hukumannya ...............
4- Apa hukum perbuatan-perbuatan berikut jika dialihkan kepada selain Allah?
Salat - Doa - Rasa takut - Menyembelih hewan - Tawaf
MATERI KEDUA
IBADAH
Ibadah adalah nama yang mencakup semua yang Allah cintai dan ridai dalam bentuk ucapan dan perbuatan, yang zahir dan yang batin.
Cara mewujudkan ibadah ialah dengan taat kepada Allah Ta'ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Panduan Materi Pelajaran
Ibadah banyak jenisnya, di antaranya: ibadah lahiriah, seperti: salat, doa, żabḥ (penyembelihan hewan), berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, jihad di jalan Allah, dan amar makruf nahi mungkar. Ada pula ibadah batiniah, seperti: cinta (kepada Allah), khauf (rasa takut kepada Allah dan azab-Nya), khasy-yah (rasa takut kepada Allah karena mengenal-Nya dan mengagungkan-Nya), dan rajā` (berharap kepada Allah).
Seluruh ibadah wajib dipersembahkan hanya kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman, "Padahal mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus (benar)." [QS. Al-Bayyinah: 5] Makna ḥunafā` ialah orang-orang yang hanya meyakini agama Islam dan berpaling dari seluruh agama lain selainnya.
Orang yang beribadah ialah orang yang melaksanakan perintah Allah Ta'ala dan menjauhi larangan-Nya.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Bedakan antara ibadah lahiriah dan ibadah batin dengan memberi garis bawah pada ibadah zahir!
Haji - Tawakal - Doa - Salat - Khauf - Jihad di jalan Allah.
Soal 2: Isilah titik-titik berikut ini!
A. Ibadah adalah sebuah nama . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . .
B. Merealisasikan ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan . . . . . . . . . . .., dan menjauhi . . . . . . . . .. . .
MATERI KETIGA
TAUHID DAN JENIS-JENISNYA
Tauhid adalah mengesakan Allah dalam peribadatan. Dia merupakan agama para rasul yang dengannya Allah mengutus mereka kepada hamba-hamba-Nya. Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut,'...." [QS. An-Naḥl: 36] Tagut adalah setiap orang yang disembah selain Allah, dan dia meridainya.
Tauhid ada tiga jenis: tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asmā` wa ṣifāt.
Panduan Materi Pelajaran
- Seseorang tidak menjadi orang yang bertauhid hingga ia mengesakan Allah semata dalam berbagai macam ibadah.
- Di antara rahmat Allah kepada hamba-Nya ialah Dia mengutus para rasul sebagai pemberi petunjuk bagi manusia dan menjelaskan jalan yang lurus.
- Para rasul seluruhnya mengajak kepada tauhid dan melarang perbuatan syirik.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Apakah yang dimaksud dengan tauhid?
Soal 2: Sebutkan jenis-jenis tauhid!
Soal 3: Kapan manusia menjadi orang yang bertauhid kepada Allah Ta'ala?
MATERI KEEMPAT
TAUHID RUBUBIYAH
Tauhid Jenis Pertama: Tauhid Rububiyah
Yaitu mengesakan Allah Ta'ala terkait perbuatan-perbuatan-Nya.
Kaum kafir pada zaman Rasulullah ﷺ telah mengakui tauhid jenis ini, namun hal itu tidak memasukkan mereka ke dalam Islam, Rasulullah ﷺ tetap memerangi mereka serta menghalalkan darah dan harta mereka.
Dalilnya firman Allah Ta'ala, "Katakanlah (Muhammad), 'Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka menjawab, 'Allah.' Maka katakanlah, 'Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?'” [QS. Yūnus: 31]
Firman Allah Ta'ala, "Katakanlah, 'Siapakah Tuhan yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki 'Arasy yang agung?' Mereka akan menjawab, 'Milik Allah.' Katakanlah, 'Maka mengapa kalian tidak bertakwa?' Katakanlah, 'Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan segala sesuatu. Dia melindungi, dan tidak ada yang dapat dilindungi (dari azab-Nya), jika kalian mengetahui?' Mereka akan mengatakan, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Lalu bagaimana kalian bisa teperdaya?'” [QS. Al-Mu`minūn: 86-89].[3] [3]- "Malakūt" maknanya kekuasaan. - "wa huwa yujīru" (Dia melindungi) hamba-hamba-Nya dari keburukan dan menolak mara bahaya dari mereka. - "Walā yujāru 'alaih" (Dan tidak ada yang dapat dilindungi (dari azab-Nya)), yakni tidak seorang pun dapat melindungi orang lain dari (azab) Allah, serta tidak ada yang dapat menolak keburukan yang telah Allah tetapkan. - "annā tusḥarūn" (Bagaimana kalian bisa teperdaya?), ke mana perginya akal pikiran kalian?
Panduan Materi Pelajaran
- Mengesakan Allah terkait perbuatan-Nya yakni meyakini bahwa Allah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan lain sebagainya terkait perbuatan-perbuatan Allah Subḥānahu wa Ta'ala.
- Ketika Rasul ﷺ diutus, orang-orang kafir dahulu mengimani tauhid rububiyah, namun keimanan mereka ini tidak bermanfaat bagi mereka, karena mereka tidak mengesakan Allah dalam ibadah.
- Siapa yang beriman bahwa Allah yang menciptakannya dan memberinya rezeki, namun dia tidak menyembah Allah semata, maka dia tergolong musyrik. Oleh karena itu, Allah mencela orang-orang musyrik dalam ayat-ayat di atas.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Apa makna menauhidkan Allah terkait perbuatan-perbuatan-Nya?
Soal 2: Tauhid seperti apa yang yakini oleh orang-orang kafir pada zaman Nabi ﷺ? Dan apakah keyakinan mereka tersebut bermanfaat bagi mereka?
Soal 3: Apa dalil Tauhid Rububiyah?
Soal 4: Apakah orang yang mengakui bahwa Allah adalah Pemberi rezeki, Yang Maha Menghidupkan, dan Yang Maha Mematikan, namun dia tidak menyembah-Nya dianggap sebagai seorang muslim? Mengapa demikian?
MATERI KELIMA
TAUHID ULUHIYAH
Tauhid Jenis Kedua: Tauhid Uluhiyah
Yaitu: menauhidkan Allah Ta'ala melalui perbuatan-perbuatan hamba, seperti: berdoa, nazar, menyembelih hewan, berharap, rasa takut, penuh harap, rasa cemas, bertobat, memohon pertolongan, memohon perlindungan, dan pengagungan.
Jenis tauhid inilah yang di dalamnya terjadi perselisihan pada zaman dahulu maupun masa kini antara para rasul dan umat mereka.
Dalil doa di antaranya firman Allah Ta'ala, "Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahanam dalam keadaan hina dina."[4] [QS. Gāfir: 60] [4] dākhirīn: Yaitu orang-orang yang hina dan rendah.
Panduan Materi Pelajaran
- Tauhid uluhiyah, yang dinamakan juga (tauhid ibadah), ialah tauhid yang karenanya para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan. Setiap rasul memulai dakwahnya kepada kaumnya dengan memerintahkan hal tersebut, sebagaimana yang dikatakan oleh Nuh, Hud, Saleh, dan Syuaib ‘alaihimuṣṣalātu wassalām, “...Wahai kaumku, sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) bagi kalian selain Dia....” [QS. Al-A'rāf: 59, 65, 73, dan 85]
- Doa merupakan bentuk tauhid dan ibadah paling agung. Oleh sebab itu, Allah -Subḥānahū- berfirman di dalam ayat: "...Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku....", maksudnya dari berdoa kepada-Ku. Ini berdasarkan firman-Nya di awal ayat, "Berdoalah kepada-Ku".
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Apa definisi Tauhid Uluhiyah?
Soal 2: Apa hal pertama yang diserukan oleh para rasul kepada kaumnya?
Soal 3: Allah Ta'ala berfirman, "Tuhan kalian berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.' Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”
Di dalam ayat tersebut terdapat dalil bahwa doa termasuk ibadah, jelaskan!
Soal 4: Sebutkan lima ibadah dari perbuatan hamba yang wajib ditujukan hanya kepada Allah saja!
Soal 5: Apa perbedaan antara Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah beserta contohnya?
MATERI KEENAM
TAUHID ASMĀ` WA ṢIFĀT
Tauhid Jenis Ketiga: Tauhid Asmā` wa Ṣifāt
Yaitu: Beriman kepada segala yang terdapat dalam Al-Qur`an yang mulia dan hadis-hadis yang sahih terkait nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang Dia sifatkan untuk diri-Nya, atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya ﷺ secara hakiki, dan meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.'” [QS. Al-Ikhlāṣ: 1-4] Allah Ta'ala juga berfirman, "Dan Allah memiliki Asmaulhusna (nama-nama yang terbaik), maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terkait apa yang telah mereka kerjakan." [QS. Al-A'rāf: 180] [5] Aṣ-Ṣamad: Tuhan, yang para makhluk bergantung pada-Nya, dan hanya kepada-Nya mereka mengadukan segala kebutuhan mereka.
Allah Ta'ala berfirman, "...Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11]
Panduan Materi Pelajaran
- Kewajiban beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya.
- Nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya diketahui dari Al-Qur`an Al-Karim dan hadis-hadis yang sahih berdasarkan pemahaman Salafussalih.
- Nama-nama Allah semuanya indah dan jumlahnya banyak, di antaranya: Aṣ-Ṣamad (Tempat bergantung), Al-Bāri’ (Maha Mengadakan), As-Samī’ (Maha Mendengar), Al-Baṣīr (Maha Melihat), Ar-Raḥmān (Maha Pengasih), dan Ar-Raḥīm (Maha Penyayang). Dia juga memiliki sifat-sifat yang banyak, di antaranya: rahmat, kekuatan, kebijaksanaan, kehidupan, keperkasaan, dan ilmu.
- Seorang Muslim tidak boleh menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk, karena Allah Maha Tinggi dan Maha Agung. "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
- Seorang Muslim hendaknya berdoa kepada Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang terbaik (Asmaulhusna), misalnya dia mengatakan: "Yā gafūr igfir żanbī" (Wahai Zat Yang Maha Pengampun! Ampunilah dosaku)... "Yā raḥmān irḥamnī" (Wahai Zat Yang Maha Pengasih! Berilah aku rahmat-Mu)... "Yā 'alīm 'allimnī" (Wahai Zat Yang Maha Mengetahui! Ajarkanlah ilmu kepadaku)... dan seterusnya.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Dari mana kamu mengetahui nama dan sifat Allah?
Soal 2: Sebutkan nama-nama Allah Ta'ala yang kamu ketahui!
Soal 4: Sebutkan apa yang kamu ketahui tentang sifat-sifat Allah Ta'ala!
Soal 4: Apakah boleh menyerupakan makhluk dengan Sang Pencipta? Apa dalil yang menunjukkan hal tersebut?
Soal 5: Dengan apakah kita berdoa kepada Allah Ta’ala?
MATERI KETUJUH
PARA RASUL ALLAH KEPADA MAKHLUK
Para rasul adalah orang-orang yang diutus oleh Allah kepada manusia untuk menyampaikan syariat-Nya, mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, serta menjauhi peribadatan kepada selain-Nya.
Hikmah Pengutusan Para Rasul
Allah Ta'ala mengutus mereka sebagai hujah atas para hamba, untuk menyampaikan agama kepada manusia, menyampaikan berita gembira kepada orang yang taat tentang surga dan pahala yang besar, serta memberi peringatan kepada orang yang durhaka mengenai neraka dan azab yang keras.
Allah Ta'ala berfirman, "Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus..." [QS. An-Nisā`: 165]
Rasul yang Pertama dan Rasul yang Terakhir
Rasul yang pertama ialah Nuh, sementara rasul yang terakhir ialah Muhammad -'alaihimuṣ-ṣalātu was-salām-.
Panduan Materi Pelajaran
- Allah mengutus seorang rasul kepada setiap umat hingga Allah menutup semua risalah dengan risalah Nabi kita Muhammad ﷺ, maka beliau merupakan rasul Allah kepada seluruh manusia dan jin hingga hari kiamat.
- Risalah Rasulullah ﷺ mengandung tiga perkara penting:
1- Mengenalkan manusia kepada Tuhan mereka, serta nama-nama, dan sifat-sifat-Nya.
2- Menjelaskan cara yang benar dalam beribadah kepada Allah.
3- Menjelaskan balasan bagi manusia atas amalan mereka pada hari kiamat nanti.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Apakah yang didakwahkan oleh para rasul 'alaihimuṣ-ṣalātu was-salām kepada kaum mereka?
Soal 2: Isilah titik-titik di bawah ini!
A. Rasul yang pertama ialah . . . . . . . . . . . . . . ., sementara Rasul paling terakhir ialah . . . . . . . . . . . . . . .
B- Risalah Rasulullah ﷺ mengandung perkara-perkara penting, yaitu:
1- . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . .
2-. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . .
MATERI KEDELAPAN
PERKARA PERTAMA YANG ALLAH WAJIBKAN KEPADA MANUSIA
Ketahuilah[6] -semoga Allah Ta'ala merahmatimu- bahwa perkara pertama yang Allah wajibkan kepada anak Adam adalah: beriman kepada Allah dan mengingkari tagut. Dalilnya adalah firman-Nya Ta'ala, "Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah dan jauhilah tagut'...." [QS. An-Naḥl: 36] [6] Risalah ini berjudul: Makna Tagut dan Tokoh-Tokoh Utamanya.
Bentuk Pengingkaran Terhadap Tagut
Adapun bentuk pengingkaran terhadap tagut ialah Anda meyakini batilnya beribadah kepada selain Allah, meninggalkannya, dan membencinya.
Panduan Materi Pelajaran
- Iman seorang hamba tidak akan terwujud dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap tagut, maka Allah mengaitkan perintah beribadah kepada-Nya dengan perintah menjauhi tagut. Dia berfirman, "Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut ..." [QS. An-Naḥl: 36]
Kufur terhadap tagut akan terwujud melalui banyak cara, di antaranya:
1- Meyakini bahwa peribadatan kepada selain Allah hukumnya batil, sekalipun yang (diibadahi) malaikat atau nabi.
2. Menghindari peribadatan kepada selain Allah, sehingga seseorang tidak boleh berdoa kecuali hanya kepada Allah, tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah, tidak menyembelih kecuali hanya untuk Allah, dan tidak bernazar kecuali hanya untuk Allah.
3- Membenci kesyirikan dan orang yang memusuhi kaum muslimin dari kalangan pelakunya.
4- Meyakini bahwa orang-orang yang menyekutukan Allah dengan tuhan-tuhan lain adalah orang-orang kafir.
- Cinta dan benci termasuk bagian dari agama, maka seorang muslim wajib mencintai tauhid dan ketaatan, serta membenci kesyirikan dan kemaksiatan.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Apa yang Allah wajibkan pertama kali kepada anak Adam? Sebutkan pula dalilnya!
Soal 2: Bagaimana cara mewujudkan pengingkaran kepada tagut?
Soal 3: Bagaimana bentuk pengingkaran terhadap tagut?
Soal 4: Apa hukum orang yang menyembah selain Allah?
MATERI KESEMBILAN
IMAN YANG BENAR
Makna Iman kepada Allah
Yaitu meyakini bahwa Allah satu-satunya sembahan, tanpa selain-Nya, memurnikan seluruh bentuk ibadah hanya kepada Allah dan menafikannya dari setiap sembahan selain-Nya, serta mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.
Inilah agama[7] Ibrahim 'alaihissalām, yang jika seseorang membencinya, ia memperbodoh dirinya sendiri, dan inilah suri teladan yang dikabarkan oleh Allah dalam firman-Nya, "Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman hanya kepada Allah saja..." [QS. Al-Mumtaḥanah: 4] [7] Al-Millah maknanya agama, dan agama Ibrahim adalah agama tauhid.
Panduan Materi Pelajaran
1- Iman bukanlah sekadar kata-kata yang diucapkan manusia dengan lisannya saja, tetapi ia terdiri dari perkataan, keyakinan, dan perbuatan.
2- Iman yang benar adalah:
- Engkau meyakini bahwa Allah itu tunggal, tidak ada sekutu baginya, dan bahwa Dialah yang berhak disembah, bukan selain-Nya.
- Engkau mengikhlaskan ibadah kepada Allah Ta'ala.
- Engkau mencintai orang-orang mukmin dan menolong mereka.
- Engkau membenci orang-orang kafir yang memusuhi kaum muslimin, dan tidak menzalimi mereka.
3- Siapa saja yang meninggalkan agama ini dan membenci agama Ibrahim -'alaihis-salām-, sungguh ia telah menghinakan dirinya sendiri dan berusaha untuk merusak dan membinasakannya. Allah Ta'ala berfirman, "Tidak ada yang membenci agama Ibrahim kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri..." [QS. Al-Baqarah: 130]
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Ibrahim -'alaihiṣṣalātu wassalām- adalah bapak para nabi. Allah mengutusnya kepada kaumnya untuk menyeru mereka menyembah Allah semata. Sedangkan ketika itu mereka menyembah berhala-berhala selain Allah. Lalu Ibrahim -'alaihissalām- menyeru mereka untuk menyembah Allah semata, tetapi mereka menentang, menyombongkan diri, dan bersikeras menyembah berhala-berhala. Maka tatkala mereka keluar untuk merayakan hari raya mereka, Ibrahim -'alaihissalām- menghancurkan berhala-berhala tersebut. Ketika mereka mengetahui hal tersebut, mereka menyalakan api yang besar dan melemparkan Ibrahim ke dalam api tersebut. Tahukah kalian apa yang terjadi pada Ibrahim -'alaihissalām-? Api itu tidak membakarnya, bahkan Allah menjadikan apinya dingin dan aman baginya.
Kisah Ibrahim -'alaihissalām- mengandung beberapa makna iman, sebutkanlah!
Soal 2: Dengan apakah keimanan yang benar itu bisa terwujud?
Soal 3: Apa istilah untuk orang yang meninggalkan agama Ibrahim -'alaihiṣ-ṣalātu was-salām-?
Soal 4: Bahaya apakah yang didapat oleh orang yang meninggalkan agama Ibrahim -'alaihis-salām-?
Soal 5: Apakah iman telah terwujud dalam keadaan-keadaan berikut!
A. Seseorang yang salat, namun ia membenci orang-orang saleh.
B. Seseorang yang mengucapkan "lā ilāha illallāh", tetapi ia mencintai orang-orang kafir.
C- Seorang yang beribadah kepada Allah semata dan mencintai orang-orang mukmin.
MATERI KESEPULUH
SETAN DAN TAGUT
Tagut
Tagut adalah istilah yang sangat luas. Ia mencakup segala sesuatu selain Allah yang disembah dan dia rida dengan penyembahan tersebut—baik itu berupa sosok yang dipuja, diikuti, atau ditaati dalam hal yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, semua itu disebut sebagai tagut.
Tagut itu sangat banyak, di antaranya:
Pertama: Setan yang mengajak untuk menyembah kepada selain Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala, "Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian, wahai anak cucu Adam, agar kalian tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian. Dan hendaklah kalian menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” [QS. Yāsīn: 60-61]
Panduan Materi Pelajaran
1. Kalimat ṭugyān berarti melampaui batas. Sementara tagut ialah orang yang melampaui batasnya lalu mengaku bahwa dirinya adalah tuhan bagi manusia, atau dia mengaku mengetahui perkara gaib, atau mampu mengatur alam semesta, atau mengajak manusia kepada selain syariat Tuhan mereka.
2- Siapa yang disembah oleh manusia, sedangkan dia tidak rida dengan penyembahan mereka kepadanya, tidak dinamakan tagut, seperti para malaikat dan Isa putra Maryam 'alaihissalām.
3- Setan merupakan pimpinan para tagut, karena ia memalingkan manusia dari beribadah kepada Tuhan mereka, serta menghiasi kesyirikan dan kekufuran bagi mereka.
4- Setan merupakan musuh yang sangat keras bagi anak keturunan Adam, karena dia telah mengeluarkan bapak mereka dari surga, serta mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.
5- Aṣṣirāṭ al-mustaqīm (jalan yang lurus) adalah penyembahan kepada Allah dan meninggalkan penyembahan kepada setan.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Apakah yang dimaksud dengan tagut?
Soal 2: Mengapa Iblis merupakan tagut terbesar?
Soal 3: Apa yang dimaksud dengan Aṣṣirāṭ al-mustaqīm (jalan yang lurus)?
Soal 4: Apa larangan Allah terhadap kita dalam ayat yang mulia di atas, dan apa yang Dia perintahkan kepada kita?
MATERI KESEBELAS
BERHUKUM DENGAN SELAIN HUKUM ALLAH
Kedua: Hakim yang mengubah hukum-hukum Allah Ta'ala. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala, "Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan berhukum kepada tagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari tagut itu. Setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya." [QS. An-Nisā`: 60]
Panduan Materi Pelajaran
1- Orang yang menyelewengkan syariat Allah dan mengubah hukum-hukum-Nya, sehingga dia menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, maka ia disebut tagut, baik dia seorang penguasa maupun selainnya.
2- Siapa yang menghukum dengan selain syariat Allah seraya meyakini bahwa hukum yang ia terapkan lebih baik daripada syariat Allah, maka ia merupakan tagut yang keluar dari agama.
3- Sikap seorang muslim ialah berhenti pada batasan-batasan Tuhannya, berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, dan tidak melakukan perubahan atau penyimpangan apa pun terhadap syariat Allah.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Disebut apakah orang yang mengganti hukum Allah Ta'ala?
Soal 2: Apa sebutan bagi orang yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah, sambil meyakini bahwa hukum yang digunakannya itu lebih baik daripada syariat Allah?
MATERI KEDUA BELAS
SIAPA YANG MENGKLAIM MENGETAHUI PERKARA GAIB ATAU RIDA DISEMBAH OLEH MANUSIA MAKA DIA ADALAH TAGUT
Ketiga: Orang yang mengklaim mengetahui perkara gaib selain Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala, "Dia mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya." [QS. Al-Jinn: 26-27]
Allah Ta'ala juga berfirman, "Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya, tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhulmahfuz)." [QS. Al-An'ām: 59]
Keempat: Sesuatu yang disembah selain Allah dan dia rida dengan penyembahan tersebut. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala, "Siapa saja di antara mereka berkata, 'Sesungguhnya aku adalah tuhan selain Allah,' maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang zalim." [QS. Al-Anbiyā`: 29]
Panduan Materi Pelajaran
1- Orang yang mengaku mengetahui yang gaib seperti dukun, peramal, dan ahli nujum[8] dan yang semisalnya, mereka semua termasuk ke dalam sebutan tagut, karena kelancangan mereka terhadap hak Allah dengan mengklaim mengetahui perkara gaib yang sejatinya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. [8] Al-Kāhin artinya orang yang mengaku mengetahui perkara gaib di masa lalu. Al-'Arrāf artinya orang yang mengaku mengetahui perkara masa depan. Al-Munajjim artinya orang yang mengaku mengetahui keadaan alam semesta dengan melihat bintang-bintang.
2- Seorang Muslim wajib waspada agar tidak mendatangi dukun, peramal, dan ahli nujum, serta tidak membenarkan
prasangka-prasangka (ramalan) dan kebohongan mereka.
3- Bentuk tagut yang lain adalah orang yang dijadikan objek berdoa oleh orang lain dan meminta pertolongan kepadanya dalam menghilangkan kesusahan yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, dan dia rida dengan penyembahan mereka kepadanya.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Siapa yang memiliki ilmu tentang perkara gaib? Sebutkan dalilnya!
Soal 2: Apakah bentuk tagut yang ketiga dan keempat?
Soal 3: Apa balasan bagi orang yang mengucapkan, 'Sesungguhnya aku adalah tuhan selain Allah'?
Soal 4: Apakah ada yang mengetahui perkara gaib selain Allah?
Soal 5: Siapakah orang-orang zalim yang disebutkan dalam ayat yang mulia di atas?
MATERI KETIGA BELAS
SEORANG MUKMIN HARUS MENGINGKARI TAGUT
Ketahuilah bahwa seseorang tidak akan menjadi orang yang beriman kepada Allah kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap tagut. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala, "Tidak ada paksaan untuk (menganut) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 256]
Ar-Rusydu (jalan yang benar) adalah agama Muhammad ﷺ, sedangkan al-gayyu jalan yang sesat adalah agama Abu Jahal.
"Al-urwah al-wuṡqā" (Tali yang kuat) adalah
Syahadat lā ilāha illallāh, yang mengandung penafian dan penetapan. Dia menafikan semua bentuk ibadah kepada selain Allah Ta'ala, serta menetapkan seluruh bentuk ibadah tersebut hanya bagi Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya.[9] [9] Sampai di sini risalah: Makna Tagut dan Tokoh-Tokoh Utamanya.
Panduan Materi Pelajaran
1. Hal terpenting dalam mewujudkan tauhid adalah memurnikan ibadah kepada Allah saja.
2. Iman kepada Allah tidak akan terwujud kecuali dengan mengingkari tagut dan melepaskan diri dari setiap orang yang menyembahnyal. Jadi, terlebih dahulu harus ada pengingkaran kepada tagut. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta'ala "...Siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah..."
3- Al-'urwah al-wuṡqā (tali yang sangat kuat) adalah syahadat lā ilāha illallāh. Siapa yang berpegang teguh dengannya niscaya beruntung dan selamat dari kegagalan, kesesatan, dan kerugian.
Soal-Soal Evaluasi
Soal 1: Isilah titik-titik dengan kalimat-kalimat yang sesuai!
A. Orang yang berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat wajib mengingkari .............., dan beriman kepada .................... .
B. Syahadat "Lā ilāha illallāh" mencakup ......................... dan ..........................
Soal 2: Apa balasan bagi orang yang berpegang teguh kepada tali yang sangat kuat?
Soal 3: Apakah mengingkari para tagut itu wajib? Apa alasannya?