مجالس تدارس القرآن للمبتدئين (سورة الفاتحة وقصار المفصّل)
الكتاب يهدف لتعليم القراءة والتدبر في القرآن الكريم، خاصة للمبتدئين والأطفال، من خلال تدارس سورة الفاتحة وقصار المفصل، يتضمن تعليمات لإدارة جلسات التدارس بطرق مختلفة مثل استخدام المواقف الواقعية وطرح الأسئلة التحفيزية لتعميق فهم المتعلمين وتحفيزهم على التفاعل. الكتاب يعرض كيفية التفسير والتدبر للآيات بطريقة مبسطة، مع التركيز على استخلاص الدروس والعبر بطريقة تتناسب مع المستوى الفكري للمبتدئين.
MAJELIS BELAJAR AL-QUR`ĀN BAGI PEMULA (SURAH AL-FĀTIḤAH DAN SURAH-SURAH PENDEK)
Mukadimah
Berangkat dari tanggung jawab melayani Kitab Allah -'Azza wa Jalla- dalam menyebarluaskan petunjuknya serta memenuhi kebutuhan mayoritas masyarakat, khususnya anak-anak dan para pemula di halakah-halakah tahfiz, sekolah, dan lainnya,
maka Yayasan Wakaf an-Naba` al-'Aẓīm menghadirkan materi sederhana dan mudah ini untuk pelajaran Surah Al-Fātiḥah dan surah-surah pendek sebagai panduan dan titik awal menghidupkan sunah yang diberkahi ini dalam kehidupan umat seluas mungkin. Materi bahasan ini merupakan media paling ideal untuk diaplikasikan dalam majelis-majelis Al-Qur`ān yang akan mewujudkan berbagai faedah yang tak terhingga. Dengannya juga, para pelajar akan meraih pahala besar, di samping akan jelas bagi mereka berbagai paham dan petunjuk yang akan menuntun mereka pada tujuan paling besar, yaitu menyucikan diri dengan ayat-ayat Al-Qur`ān yang agung ini.
Semoga Allah membimbing kita semua untuk melayani Kitābullāh serta menjadikan kita termasuk golongan yang menyeru kepada petunjuknya dan mengamalkan tuntutannya.
Tim Ilmiah Yayasan Waqaf an-Naba` al-'Aẓīm
PEDOMAN PELAKSANAAN MAJELIS BELAJAR AL-QUR`ĀN BAGI PEMULA
Pendahuluan Maksud pendahuluan ini ialah sebagai prakata motivasi dalam pengadaan majelis Al-Qur`ān ini. Hal ini bisa ditempuh dengan salah satu metode berikut:
1- Memaparkan suatu kejadian nyata kemudian dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur`ān, atau memaparkan suatu problem atau persoalan yang baru terjadi, yang dapat diberikan solusi oleh ayat-ayat tersebut.
2- Melontarkan pertanyaan-pertanyaan penyemangat atau mendiskusikan suatu permasalahan yang dibahas oleh surah.
3- Mengenalkan surah; yaitu dengan mengenal nama-namanya, tempat turunnya, tema pembahasannya, keutamaannya, sebab turunnya, dan semua yang berkaitan dengannya.
Catatan: Majelis pelajaran Al-Qur`ān ini diupayakan agar menggunakan metode diskusi dan dialog, bukan monolog.
Majelis Pertama: Judul pembahasan untuk majelis Al-Qur`ān
Tilawah Al-Qur`ān. Pembina majelis membaca ayat-ayat dengan benar dan tartil, kemudian meminta salah satu peserta yang tilawahnya bagus untuk membacanya, dilanjutkan dengan menggilir tilawah pada peserta lain.
Tafsir. Menafsirkan ayat-ayat secara ringkas melalui materi yang dimuat dalam buku.
Tadabur dan Tazkiah. Ini berupa tabel yang menerangkan alur belajar melalui "tadabur" dan merangkum misi "tazkiah" serta ajakan untuk mengaplikasikannya dengan cara memvariasikan pertanyaan-pertanyaan, yaitu menyebutkan pelajaran ayat dan cara pengaplikasiannya, lalu menanyakan dalil. Di samping itu, juga menyebutkan dalil dan cara pengaplikasiannya, lalu menanyakan pelajaran, ataupun menyebutkan dalil dan pelajaran lalu menanyakan cara pengaplikasiannya. Demi membekali para pembelajar dengan berbagai skill dalam menarik kesimpulan dan berdalil, maka pembina hendaknya membuat pertanyaan-pertanyaan yang variatif.
Di penghujung setiap surah yang dipelajari, pembina meminta para peserta untuk menyimpulkan pelajaran-pelajaran baru selain yang telah mereka pelajari, serta menjelaskan ayat yang menjadi dalilnya dan menyebutkan sisi pengaplikasiannya.
Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah setelah mempelajarinya? Pembina atau pembimbing meminta para pembelajar untuk memetik dan menyimpulkan pengaplikasian-pengaplikasian ayat yang terkait dengan pribadi dan masyarakat.
Demikian poin-poin pedoman majelis Al-Qur`ān ini.
SURAH AL-FĀTIḤAH
Pendahuluan
Prakata Motivasi Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pembelajar tentang sebab penamaannya dengan Al-Fātiḥah.
2- Keutamaan surah ini.
Mengenalkan Surah
1- Apa saja nama surah Al-Fātiḥah?
Fātiḥatul-Kitāb, Ummul-Kitāb, Ummul-Qur`ān, As-Sab'ul-Maṡānī, Al-Qur`ānul-'Aẓīm, surah Al-Ḥamdu, dan Surah Aṣ-Ṣalāh. Ada juga nama-nama lain baginya yang disebutkan dalam kitab-kitab tafsir, seperti: Surah Asy-Syifā`, Asy-Syāfiyah, Ar-Ruqyah, Al-Asās, dan lain sebagainya [1]. [1] Al-Kasyf wal-Bayān (1/126-129), Al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (1/111-114), Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 98-128).
2- Di mana surah Al-Fātiḥah diturunkan?
Menurut pendapat jumhur ulama, surah Al-Fātiḥah diturunkan di Makkah[2]. Sebagian yang lain berpendapat bahwa ia diturunkan dua kali: sekali di Makkah dan sekali lagi di Madinah[3]. [2] Asbāb an-Nuzūl karya al-Wāḥidiy (hal. 20], Al-Kasyf wal-Bayān (1/89-90), Al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (1/115). [3] Al-Kasyf wal-Bayān (1/90), Tafsīr as-Sam'āniy (1/31), Al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (1/115).
3- Apa tema pembahasan surah Al-Fātiḥah?
Surah Al-Fātiḥah adalah surah paling agung dalam Al-Qur`ān karena berisikan seluruh jenis tauhid, penyematan kesempurnaan bagi Allah, dan doa yang paling bermanfaat[4]. [4] Lihat: Maṣā`id an-Naẓar lil-Isyrāf bi Maqāṣidis-Suwar (1/210) dan Maqāṣid Suwaril-Mufaṣṣal (hal. 1).
4- Apa keutamaan surah Al-Fātiḥah?
a- Ia merupakan surah paling agung dalam Al-Qur`ān. Ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ kepada Sa'īd bin al-Mu'allā -raḍiyallāhu 'anhu-: "Maukah engkau aku beritahukan surah yang paling agung dalam Al-Qur`ān sebelum aku keluar dari masjid?" Beliau menyebutkan, "Yaitu surah Al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn yang merupakan as-sab'ul-maṡānī dan Al-Qur`ān al-'Aẓīm yang diberikan kepadaku."[5] [5] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (6/17 no. 4474).
b- Ia merupakan cahaya yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelum Muhammad ﷺ. Hal ini sebagaimana dalam hadis: "Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu: Fātiḥatul-Kitāb dan penutup surah Al-Baqarah."[6] [6] HR. Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya (1/554 no. 806).
c- Ia merupakan doa ruqyah yang menyembuhkan dengan izin Allah -Ta'ālā-. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadis: "Dari mana ia mengetahui bahwa Al-Fātiḥah adalah ruqyah?"[7] [7] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (6/187 no. 5007).
Majelis Pertama: Merealisasikan Peribadatan kepada Allah -Ta'ālā-
Tilawah
Allah-Ta'ālā- berfirman, (1) Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (2) Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (3) Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (4) Yang menguasai hari pembalasan. (5) Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan. (6) Tunjukilah kami jalan yang lurus. (7) (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fātiḥah: 1-7)
Tafsir
(1) Bismillāh (Dengan nama Allah); Aku memulai bacaanku seraya memohon pertolongan dengan nama Allah.
(1) Ar-Raḥmān (Maha Pengasih); Tuhan yang rahmat-Nya luas meliputi seluruh makhluk.
(1) Ar-Raḥīm (Maha Penyayang); Tuhan yang merahmati orang-orang yang beriman.
(2) Alḥamdulillāh (Segala puji hanya bagi Allah); Semua macam pujian berupa sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan adalah milik-Nya semata, tanpa selain-Nya.
(2) Rabbi (Tuhan); Dia adalah Tuhan segala sesuatu, yang menciptakan dan mengaturnya. Ar-Rabb (Tuhan) artinya yang mengurus makhluk-makhluk-Nya dengan berbagai anugerah-Nya.
(2) al-'ālamīn (alam semesta); Yaitu semua selain Allah -Ta'ālā-.
(4) Māliki (yang menguasai); Ini merupakan pujian kepada Allah, bahwa Dialah yang menguasai seluruh yang ada pada hari Kiamat yang pada saat itu tidak seorang pun yang bisa diselamatkan orang lain.
(4) yaumiddīn (hari pembalasan); Hari pembalasan dan perhitungan amalan.
(5) Iyyāka na'budu (Hanya kepada-Mu kami menyembah); Kami tidak menyembah kecuali Engkau.
(5) waiyyāka nasta'īn (dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan); Kami tidak memohon pertolongan dalam menuntaskan kebutuhan-kebutuhan kami kecuali kepada-Mu.
(6) Ihdinā (Tunjukilah kami); Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus, letakkan kami di sana, teguhkan kami di atasnya, dan tambahkanlah petunjuk kepada kami.
(6) aṣ-ṣirāṭal-mustaqīm (jalan yang lurus); Jalan yang lurus ialah jalan terang yang tidak ada bengkoknya, yaitu agama Islam yang dengannya Allah mengutus Muhammad ﷺ.
(7) ṣirāṭallażīna an'amta 'alaihim (yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya)
(7) gairil-magḍūbi 'alaihim (bukan (jalan) mereka yang dimurkai); Yaitu orang-orang Yahudi dan yang serupa dengan mereka dalam hal tidak mengamalkan ilmu.
(7) aḍ-ḍāllīn (orang-orang yang tersesat); Yaitu orang-orang Nasrani dan yang serupa dengan mereka dalam hal beramal tanpa ilmu.[8] [8] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān al-Karīm (hal. 1).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Al-Qur`ān adalah kitab paling agung dan paling berkah yang dimulai dengan nama Allah, sehingga buku lainnya lebih butuh padanya.
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
Kita memulai semua urusan kita dengan mengingat Allah.
2- Seluruh pujian dengan segala macam dan jenisnya adalah hak Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- semata yang tidak ada tuhan dan sembahan selain-Nya.
“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam."
Kita menghadirkan dalam jiwa tentang kesempurnaan Allah -Ta'ālā- melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta kita memuji-Nya atas berbagai nikmat-Nya yang besar yang di antaranya ialah Al-Qur`ān.
3- Rububiyah (ketuhanan) dan kekuasaan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, keduanya digandengkan dengan sifat kasih sayang-Nya. Sebab itu, di samping kesempurnaan rububiyah-Nya, Dia juga lebih penyayang kepada para hamba-Nya daripada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
"Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang."
- Kita hendaknya memohon pertolongan pada-Nya dengan bertawasul melalui sifat rahmat-Nya, khususnya pada krisis-krisis yang kita hadapi hari ini.
- Kita berharap pada kebaikan dan karunia Allah kepada orang-orang beriman di negeri akhirat.
4- Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Maharaja yang sebenarnya, tidak ada raja selain-Nya. Hal tersebut akan tampak jelas bagi seluruh makhluk pada hari Kiamat kelak tatkala kepemilikan mereka seluruhnya terhenti.
"Pemilik hari pembalasan."
Kita mesti mempersiapkan diri untuk menghadapi hari pembalasan dan perhitungan amalan, yaitu dengan mengerjakan amal saleh dan menjauhi perbuatan dosa.
5- Realisasi ibadah kepada Allah tidak akan terwujud kecuali dengan memohon pertolongan serta berserah diri kepada-Nya.
"Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan."
Dalam hidup ini, kita mesti merealisasikan ibadah kepada Allah saja sembari memohon pertolongan kepada-Nya untuk dimudahkan hal tersebut.
6- Hidayah itu berasal dari Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Seluruh petunjuk dan bimbingan berasal dari-Nya, termasuk petunjuk yang menerangi hati dengan iman.
"Tunjukilah kami jalan yang lurus,"
Kita mesti memohon hidayah kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- supaya kita ditunjuki kepada jalan kebenaran, kebaikan, dan kemenangan yang akan membawa kita kepada rida-Nya serta mendapatkan surga-Nya, dan supaya kita diteguhkan di atasnya.
7- Jalan kebenaran itu pertengahan antara dua sisi dan petunjuk antara dua kesesatan; porosnya ada pada merealisasikan ilmu dan amal.
"(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
- Kita harus mengikuti jalan para dai yang diberi petunjuk, yaitu orang-orang berilmu yang mengamalkan ilmunya.
- Kita mesti mewaspadai dua jalan kesesatan; yaitu jalan berilmu tanpa amal dan jalan beramal tanpa ilmu.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya disertai menjelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan bersungguh-sungguh mempelajari nama-nama Allah -Ta'ālā- untuk mendidik diri dengannya dan supaya saya memperoleh janji Rasulullah ﷺ berupa masuk surga. Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, yaitu seratus kurang satu; siapa yang menghafal dan menguasainya pasti akan masuk surga."[9] [9] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (3/198 no. 2736) dan Muslim (4/2063 no. 2677).
- .....................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan mengajak keluarga dan saudara-saudara saya untuk menempuh jalan yang lurus, yaitu dengan berpegang teguh pada Al-Qur`ān dan Sunnah Nabi ﷺ serta mengamalkan tuntutan keduanya. Kesemuanya itu sebagai persiapan menghadapi hari pembalasan amalan, yaitu hari yang padanya tidak berguna harta maupun anak-anak kecuali orang yang menghadap kepada Allah dengan hati yang bersih. Juga supaya kita tidak seperti orang-orang Yahudi yang meninggalkan amalan setelah berilmu, tidak juga seperti orang-orang Nasrani yang beramal tanpa ilmu, namun agar kita termasuk golongan orang-orang yang Allah berikan nikmat yang Dia sebutkan dalam firman-Nya: "Dan siapa yang menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. An-Nisā`: 69)
- .....….............................................
SURAH AḌ-ḌUḤĀ
Pendahuluan
Prakata Motivasi Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pembelajar tentang peristiwa-peristiwa yang memperlihatkan perhatian Allah kepada Nabi ﷺ.
2- Kisah turunnya surah Aḍ-Ḍuḥā.
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Aḍ-Ḍuḥā turun?
Surah Aḍ-Ḍuḥā turun di Makkah berdasarkan kesepakatan ulama[10]. [10] Lihat: Al-Muḥarrar al-Wajīz (5/493), Zādul-Masīr (4/456), dan Al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/91).
2- Apa sebab turunnya surah Aḍ-Ḍuḥā?
Terdapat hadis dalam Ṣaḥīḥ Imam Bukhari bahwa Rasulullah ﷺ mengeluh sakit sehingga beliau tidak bangun selama dua atau tiga malam. Lantas seorang perempuan datang dan berkata, "Wahai Muhammad! Aku sungguh berharap setanmu telah meninggalkanmu karena aku tidak melihatnya di dekatmu sejak dua atau tiga malam." Maka Allah -'Azza wa Jalla- menurunkan, (1) Demi waktu duha, (2) dan demi waktu malam apabila telah sunyi, (3) Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak pula membencimu. (QS. Aḍ-Ḍuḥā) [11] [11] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (6/172 no. 4959) dan Muslim (3/1422 no. 1797).
3- Apa tema pembahasan surah Aḍ-Ḍuḥā?
Dalam surah mulia ini, Allah -Ta'ālā- bersumpah dengan waktu duha dan malam untuk memperlihatkan kepada kita kesempurnaan perhatian-Nya kepada Nabi ﷺ di Makkah semenjak kelahirannya. Sejak awal, Allah menjamin hidupnya, memberikannya tempat tinggal, memberinya petunjuk, serta memberikannya semua nikmat ini, supaya setiap perhatian ini terpancar di setiap ayat ini sebagaimana cahaya matahari terpancar di waktu duha yang merupakan waktu paling cemerlang. Lalu di bagian penutup Allah -Ta'ālā- memintanya untuk mensyukuri nikmat ini.[12] [12] Lihat: Maṣā`id an-Naẓār lil-Isyrāf bi Maqāṣid as-Suwar (3/207) dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 558).
Majelis Ke-2: Perhatian Allah Kepada Nabi ﷺ
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Demi waktu duha, (2) dan demi waktu malam apabila telah sunyi, (3) Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak pula membencimu. (4) Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan. (5) Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas. (6) Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? (7) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk? (8) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan? (9) Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. (10) Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik(nya). (11) Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan dengan syukur. (QS. Aḍ-Ḍuḥā)
Tafsir
(1) Waḍ-ḍuḥā (Demi waktu duha). Allah bersumpah dengan awal siang.
(2) Wal-laili iżā sajā (dan demi waktu malam jika telah sunyi). Allah juga bersumpah dengan waktu malam jika telah gelap serta di dalamnya manusia telah berhenti bergerak.
(3) Mā wadda'aka rabbuka wamā qalā (Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak pula membencimu). Wahai Rasul, tidaklah engkau ditinggalkan oleh Tuhanmu dan tidak pula Dia membencimu, sebagaimana yang dikatakan orang-orang musyrik ketika wahyu terputus.
(4) Walal-ākhiratu khairul-laka minal-ūlā (Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan). Sungguh, negeri akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia ini karena di dalamnya terdapat kenikmatan abadi yang tidak terputus.
(5) Walasaufa yu'ṭīka rabbuka fatarḍā (Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas). Sungguh, Tuhanmu akan menganugerahkan padamu dan pada umatmu pahala yang banyak sehingga engkau menjadi rida dengan anugerah-anugerah tersebut.
(6) Alam yajidka yatīman fa āwā (Bukankan Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu?). Dia mendapatkanmu ketika kecil telah ditinggal mati oleh ayahmu, lalu Dia memberikanmu tempat berlindung, yaitu engkau dipelihara dan disayangi oleh kakekmu, Abdul Muṭṭalib, selanjutnya oleh pamanmu, Abu Ṭālib.
(7) Wa wajadaka ḍāllan fahadā (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikanmu petunjuk). Dia mendapatimu tidak mengenal apa itu kitab maupun iman, lalu Dia mengajarimu sesuatu yang belum pernah engkau ketahui.
(8) Wa wajadaka 'ā`ilan fa agnā (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan). Dia mendapatimu fakir lalu menjadikanmu sebagai orang yang berkecukupan.
(9) Fa ammal-yatīma falā taqhar (Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau bertindak sewenang-wenang). Janganlah engkau bersikap buruk terhadap orang yang ditinggal mati oleh ayahnya ketika kecil serta janganlah engkau menghinakannya.
(10) Wa ammas-sā`ila falā tanhar (Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya). Janganlah engkau membentak pengemis yang membutuhkan harta.
(11) Wa ammā bini'mati rabbika faḥaddiṡ (Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan dengan syukur). Syukurilah nikmat Allah kepadamu dan nyatakanlah.[13] [23] Mukhtaṣar Tafsīr Al-Qur`ānil-Karīm (hal. 596).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Kecintaan Allah kepada nabi-Nya, Muhammad ﷺ, yaitu bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya dan tidak akan meninggalkannya, tetapi Dia akan membelanya dan memenangkan agamanya.
"Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak pula membencimu."
2- Kita mesti meyakini janji Allah bahwa Dia tidak akan meninggalkan hamba dan wali-wali-Nya. Sebaliknya, Dia bersama mereka; membela dan menolong mereka, walaupun terkadang hal itu tertunda.
2- Kesudahan yang baik di dunia dan akhirat adalah bagi para rasul Allah serta hamba-hamba-Nya yang beriman.
"Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan."
- Kita harus percaya dengan janji Allah bahwa akhir yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa, berupa kemenangan, kejayaan, dan kekuasaan.
- Hati kita hendaknya terikat dengan akhirat karena akhirat itu lebih baik bagi kita daripada dunia dan semua gemerlapnya.
3- Pemberian Allah -Ta'ālā- kepada Nabi-Nya ﷺ terbentang untuknya di dunia dan di akhirat sampai ia benar-benar rida, di antaranya ialah Allah memuliakan umatnya.
"Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas."
- Kita memohon kepada Allah -Ta'ālā- agar Dia memberikan kita sebagian dari karunia-Nya serta menjadikan kita rida dengan rezeki yang diberikan kepada kita.
- Kita berusaha kuat pada perkara-perkara yang diridai Allah supaya kita bahagia di hari kita menghadap kepada-Nya.
4- Keutamaan mengurus anak yatim dan bahwa Nabi ﷺ adalah panutan serta pelipur bagi setiap anak yatim.
"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu."
Kita mesti yakin dengan perhatian Allah -Ta'ālā- kepada anak-anak yatim, bahwa Dia akan menyiapkan bagi mereka sebab-sebab pengayoman.
5- Keharaman memaksa dan merendahkan anak yatim serta bersikap buruk kepadanya.
"Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang."
Kita memuliakan dan mengasihi anak yatim, berbuat baik kepadanya serta saling mengingatkan untuk bersikap baik kepadanya.
6- Orang yang meminta memiliki hak dalam permintaannya, baik meminta ilmu ataupun meminta harta, sehingga ia tidak boleh dibentak dan dikasari.
"Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya."
Kita tidak boleh menghardik orang yang meminta-minta atau bertanya dengan kata yang buruk: "Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti." (QS. Al-Baqarah: 263)
7- Yang memberikan kecukupan adalah Allah -Ta'ālā-. Allah telah mencukupi Nabi-Nya dengan mengirim kepadanya orang yang mencukupinya, seperti Khadijah -raḍiyallāhu 'anhā- dan juga telah mencukupinya dengan Al-Qur`ān yang telah menuntunnya ke derajat kecukupan yang hakiki.
"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan."
Kita percaya bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Tuhan yang memberi kecukupan kepada kita, dan kecukupan yang diberikan kepada kita tidak hanya dengan banyak harta, tetapi juga dengan ilmu, bahkan ia adalah kecukupan yang paling besar.
8- Seluruh karunia berasal dari Allah dan wajib disyukuri. Di antara bentuk mensyukuri nikmat Al-Qur`ān ialah menyebarluaskannya serta mendakwahkannya.
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan dengan syukur."
Kita menyebut-nyebut nikmat Allah pada diri kita sebagai bentuk syukur kepada Allah, khususnya nikmat Al-Qur`ān, dengan mengajarkannya kepada orang lain serta menyebarluaskan petunjuknya.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan bersegera untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah padaku. Bila saya punya harta, saya akan sedekahkan kepada anak-anak yatim dan orang-orang fakir. Bila saya berilmu, saya akan menyebarkannya di tengah manusia. Hal ini sesuai sabda Nabi ﷺ: "Tidak boleh merasa hasad kecuali pada dua orang, yaitu: orang yang Allah anugerahi harta lalu dia menginfakkannya pada jalan kebaikan, dan orang yang Allah karuniai hikmah (ilmu Al-Qur`ān dan Sunnah) lalu dia menetapkan keputusan dengannya dan mengajarkannya."[14] [14] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (1/25 no. 73) dan Muslim (1/559 no. 816).
- .....................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan ikut serta bersama teman-temanku untuk membaca dan menadaburi surah Aḍ-Ḍuḥā di salah satu rumah Allah -Ta'ālā-. Saya akan memotivasi mereka untuk mensyukuri nikmat Allah -Ta'ālā- dengan memuliakan anak yatim serta memberi orang yang meminta-minta dan tidak menghardik keduanya, karena Allah telah mencela orang yang tidak memuliakan anak yatim dan tidak memberi orang miskin dalam firman-Nya, "Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin." (QS. Al-Fajr)
- .....................................................
SURAH ASY-SYARḤ
Pendahuluan
Prakata Motivasi:
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pelajar tentang berbagai anugerah yang Allah berikan kepada Nabi-Nya ﷺ.
2- Kisah turunnya surah ini.
Mengenalkan Surah
1- Di mana surah Asy-Syarḥ turun?
Surah Asy-Syarḥ turun di Makkah. Ini disepakati oleh para ulama [15]. [15] An-Nukat wal-'Uyūn (6/296), al-Muḥarrar al-Wajīz (5/596), dan Zādul-Masīr (4/460).
2- Apa sebab turunnya surah Asy-Syarḥ?
Surah Asy-Syarḥ turun tatkala kaum musyrikin mencela umat Islam bahwa mereka hanyalah orang-orang fakir [16]. [16] Al-Kasyf wal-Bayān (10/232) dan Lubābun-Nuqūl fī Asbāb an-Nuzūl, (hal. 213).
3- Apa saja nama surah Asy-Syarḥ?
Namanya: surah Asy-Syarḥ[17]. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa namanya surah Alam Nasyraḥ[18] dan surah Al-Insyirāḥ[19]. [17] Al-Kasyf wal-Bayān (10/232) dan an-Nukat wal-'Uyūn (6/296). [19] Ṣaḥīḥ Bukhari (6/172), Kitāb Tafsīr Al-Qur'ān, Bāb Mā Wadda'aka Rabbuka Wamā Qalā, Jāmi'ul-Bayān (24/491), dan Mafātīḥ al-Gaib (32/205). [19] Mafātīḥ al-Gaib (31/201) dan Tafsīr al-Ījiy (4/506); serta lihat: Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 562).
4- Apa tema pembahasan surah Asy-Syarḥ?
Surah ini menjelaskan berbagai anugerah yang Allah sempurnakan kepada Nabi-Nya ﷺ. Tuhan yang memulai pemberian karunia kepadanya tentu tidak akan menghentikan karunia-Nya darinya. Allah telah melapangkan dadanya yang mulia setelah memerintahkannya untuk mensyukuri nikmat dalam surah Aḍ-Ḍuḥā.
Majelis Ke-3: Anugerah yang Sempurna kepada Nabi ﷺ
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)? (2) Dan Kami pun telah menurunkan beban darimu, (3) yang memberatkan punggungmu, (4) dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu. (5) Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (6) Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (7) Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), (8) dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap. (QS. Asy-Syarḥ: 1-8)
Tafsir
(1) Alam nasyraḥ laka ṣadrak (Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)). Allah telah melapangkan dadamu, sehingga Dia menjadikanmu senang menerima wahyu.
(2) Wawaḍa'nā 'anka wizrak (dan Kami pun telah menurunkan beban darimu). Kami juga gugurkan dosa darimu.
(3) Allażī anqaḍa ẓahrak (yang memberatkan punggungmu). Yang melelahkanmu hingga hampir merobohkan punggungmu.
(4) Warafa'nā laka żikrak (Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu). Kami tinggikan bagimu penyebutan namamu, sehingga namamu disebut dalam azan, ikamah, dan berbagai momen lainnya.
(5) Fa inna ma'al-'usri yusrā (Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan). Sesungguhnya bersama kesulitan dan kesempitan ada kemudahan dan kelapangan.
(6) Inna ma'al-'usri yusrā (Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan). Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan dan kelapangan, sehingga bila itu telah engkau ketahui, maka janganlah sekali-kali gangguan kaummu menjadikanmu takut dan menghalangimu dari berdakwah kepada Allah.
(7) Fa iżā faragta fa-nṣabb (Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)). Bila engkau telah selesai dari pekerjaanmu, maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah kepada Tuhanmu.
(8) Wa ilā rabbika fa-rgab (Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap). Jadikanlah harapan dan tujuanmu kepada Allah saja.[20] [20] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān al-Karīm (hal. 596-597).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Anugerah besar Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- kepada Nabi-Nya ﷺ berupa penenteraman dadanya.
"Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?"
Kita senantiasa berdoa kepada Allah agar melapangkan dada kita untuk beriman kepada-Nya, mengerjakan ketaatan, dan menyambut semua yang mendatangkan rida-Nya.
2- Karunia besar Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- kepada Nabi-Nya ﷺ berupa melepaskan semua yang memberatkan pundaknya.
"Dan Kami pun telah menurunkan beban darimu, yang memberatkan punggungmu."
Kita mesti menjauhi dosa dan maksiat karena merupakan sebab sempitnya dada dan keruhnya kehidupan.
3- Karunia besar Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- kepada Nabi-Nya ﷺ berupa meninggikan penyebutan namanya.
"Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu."
Kita hendaknya terus-menerus berzikir kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- secara pengetahuan dan pengamalan supaya kita mendapatkan kedudukan tinggi dari Allah serta kita dapat menjadi pendamping Nabi ﷺ.
4- Allah itu Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, yaitu Dia memberikan kelapangan setelah kesempitan serta kemudahan setelah kesulitan.
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
- Kita percaya kepada Allah -Ta'ālā-, berserah diri kepada-Nya, dan kita tidak boleh berputus asa dari curahan rahmat dan pertolongan-Nya.
- Kita meyakini bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memberikan penyelesaian bagi setiap kesusahan dan solusi bagi setiap kesempitan. Sebab itu, janganlah bersedih hati lantaran musibah yang menimpa diri kita atau umat kita karena kemenangan dan kebahagiaan itu amat dekat.
5- Memanfaatkan waktu kosong adalah nikmat yang besar. Sebab itu, hendaknya diisi dengan ketaatan kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
"Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)."
Kita tidak boleh berangan-angan kosong dan meninggalkan urusan kehidupan dunia. Sebaliknya, kita wajib memanfaatkan waktu luang, mengupayakan kehidupan yang baik, dan memakmurkan bumi dengan sesuatu yang diridai oleh Allah -'Azza wa Jalla-.
6- Berharap kepada Allah termasuk di antara ibadah paling besar dan ketaatan paling mulia. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah satu-satunya yang berhak diibadahi.
"Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap."
Kita mesti ikhlas kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- di seluruh ibadah kita, meniatkan agar meraih keridaan-Nya saja, dan mengharapkan pahala yang ada di sisi-Nya.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan memanfaatkan waktu-waktu kosong saya untuk beribadah kepada Allah dengan lebih mengutamakan melakukan ketaatan kepada-Nya daripada bersenang-senang dan bersantai, karena kehilangan waktu adalah bentuk ketertipuan bagi seorang hamba, sebagaimana Nabi ﷺ bersabda, "Ada dua nikmat yang banyak manusia terlena di dalamnya, yakni kesehatan dan waktu luang."[21] [21] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (8/88 no. 6412).
- .....................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan memberi kabar gembira kepada masyarakat saya tentang luasnya rahmat Allah -Ta'ālā- serta memotivasi mereka untuk bersabar. Saya akan memberitahu mereka bahwa semua urusan ada di tangan Allah; Dia mengganti rasa takut dengan rasa aman serta kefakiran dengan kecukupan. Juga menyampaikan bahwa ujian itu, betapapun lamanya dan kesulitan itu betapapun besarnya, tetaplah pertolongan Allah terhadapnya sangat dekat. Hal ini mesti diyakini supaya kita tidak berputus asa dari rahmat Allah, sebab berputus asa dari rahmat Allah termasuk karakter orang-orang kafir, sebagaimana Allah -Ta'ālā- berfirman, "Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir." (QS. Yusuf)
- …..................................................
SURAH AT-TĪN
Pendahuluan
Prakata Motivasi Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pelajar tentang keistimewaan-keistimewaan yang Allah berikan kepada manusia.
2- Bertanya tentang sebagian tempat yang Allah muliakan dengan adanya kerasulan dan para rasul.
3- Apa saja nama kitab samawi yang Allah sebutkan dalam Al-Qur`ān?
Pengenalan Surah
1- Apa saja nama surah At-Tīn?
Surah ini dikenal dengan nama surah At-Tīn. Ia juga dikenal dengan nama surah Wat-Tīn; hal ini telah diriwayatkan dari Ibnu 'Abbās [22]. [22] Lihat: Al-Hidāyah ilā Bulūgin-Nihāyah (12/8339), al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/110), dan ad-Durr al-Manṡūr (8/553).
4- Di manakah surah At-Tīn turun? Surah At-Tīn turun di Makkah, menurut pendapat mayoritas ulama [23]. [23] An-Nukat wal-'Uyūn (6/300), Zādul-Masīr (4/463), dan Al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/110).
4- Apa tema pembahasan surah At-Tīn?
Di dalam surah ini Allah -Ta'ālā- menyebutkan bahwa Dia menciptakan manusia dalam ciptaan dan rupa yang paling bagus, dan bahwa kedudukan tinggi seseorang hanya berdasarkan iman dan amal salehnya, sebaliknya kehinaannya ada pada meninggalkan keduanya.
Majelis Ke-4: Kemuliaan Manusia Bersumber dari Agama Allah
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Demi (buah) Tin dan (buah) zaitun, (2) Demi gunung Sinai. (3) Dan demi negeri (Makkah) yang aman ini. (4) Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (5) Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. (6) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya. (7) Maka apa yang menyebabkanmu mendustakan hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu? (8) Bukankah Allah adalah hakim yang paling adil? (QS. At-Tīn: 1-8)
Tafsir
(1) Wat-tīni waz-zaitūn (demi (buah) Tīn dan (buah) Zaitun). Allah bersumpah dengan buah tin dan tempat tumbuhnya serta zaitun dan tempat tumbuhnya di bumi Palestina, tempat diutusnya Nasi Isa -'alaihissalām-.
(2) Waṭūri sīnīn (Demi gunung Sinai). Allah juga bersumpah dengan gunung Ṭūr, tempat Allah berbicara dengan Nabi Musa -'alaihissalām-.
(3) Wahāżal-baladil-amīn (Dan demi negeri (Makkah) yang aman ini). Allah bersumpah dengan Makkah, negeri suci yang memberi keamanan bagi siapa pun yang memasukinya.
(4) Laqad khalaqnal-insān fī aḥsani taqwīm (Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya). Kami ciptakan manusia dalam ciptaan paling sempurna dan bentuk paling baik.
(5) Ṡumma radadnāhu asfala sāfilīn (Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya). Kemudian Kami kembalikan dia ke usia renta dan pikun di dunia sehingga dia tidak dapat memanfaatkan fisiknya sebagaimana dia tidak mendapatkan manfaatnya ketika dia telah merusak fitrahnya dan tempat kembalinya ke neraka.
(6) Illallaẓīna āmanū wa'amiluṣ-ṣāliḥāti falahum ajrun gairu mamnūn (Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya). Kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, mereka itu walaupun telah berusia renta, pahala mereka tetap mengalir tanpa terhenti, yaitu surga, disebabkan mereka telah mentazkiah (menyucikan) fitrah mereka.
(7) Famā yukażżibuka ba'du biddīn (Maka apa yang menyebabkanmu mendustakan hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu?). Maka -wahai manusia- apa yang membuatmu mendustakan hari pembalasan setelah engkau melihat langsung sebagian di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya yang banyak?!
(8) Alaisallāhu bi aḥkamil-ḥākimīn (Bukankah Allah adalah hakim yang paling adil?!). Bukankah Allah -dengan menjadikan hari Kiamat sebagai hari pembalasan- adalah hakim yang paling bijaksana dan paling adil? Apakah logis bila Allah membiarkan hamba-Nya sia-sia tanpa memberikan keputusan di antara mereka lalu orang yang berbuat baik dibalas dengan kebaikannya dan orang yang berbuat buruk dibalas dengan keburukannya?![24] [8] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān al-Karīm (hal. 597).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Allah memuliakan sebagian tempat lalu menurunkan wahyu-Nya di sana; Taurat, Injil, dan Al-Qur'ān. Sungguh, ini merupakan sebuah pemuliaan yang sangat luar biasa!
"Demi (buah) tin dan (buah) zaitun. Demi gunung Sinai. Dan demi negeri (Makkah) yang aman ini."
- Kita mengingat besarnya karunia Allah -Ta'ālā- berupa mengutus para rasul dan syariat untuk menunjuki manusia serta menyelamatkan mereka dari kesesatan.
- Kita harus mengisi jiwa dengan wahyu supaya kita meraih seluruh kebaikan, keberkahan, dan kemuliaan dari Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
2- Allah telah memuliakan manusia dengan menciptakannya dalam rupa paling sempurna. Mahasuci Allah Yang Maha Menciptakan!
"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
Kita tidak boleh mencukupkan diri dengan menjaga fisik dan rupa lahiriah kita saja, tetapi kita juga mesti menjaga fitrah kita yang sehat sebagaimana yang Allah fitrahkan pada kita secara batin dan kita tidak mengotorinya dengan keyakinan-keyakinan yang batil.
3- Manusia yang telah Allah ciptakan dan perindah rupanya ini, bila tidak diberi petunjuk oleh Allah, maka akan berada di tingkatan yang lebih rendah daripada tingkatan hewan. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman dalam hadis qudsi,
"Wahai hamba-hamba-Ku! Kamu sekalian tersesat kecuali yang Aku beri petunjuk. Sebab itu, mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu petunjuk."[25] [25] HR. Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya (4/1994 no. 2577).
"Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya."
Saya akan meminta sebab-sebab hidayah supaya saya dapat keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya serta naik dari tempat yang paling rendah ke tingkatan yang tinggi, yaitu tingkatan ubudiah kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
4- Kedudukan tinggi di sisi Allah dan karunia yang tiada putus-putusnya hanyalah didapat dengan iman dan amal, tidak dengan pangkat, nasab, dan lainnya.
"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya."
Kita harus bersungguh-sungguh supaya bisa mendapatkan surga dan kenikmatannya yang abadi karena ia tidak akan kita dapatkan hanya dengan keimanan saja, tetapi harus disertai dengan amal saleh yang akan menambah dan memperkuat iman, lantaran iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
5- Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah memberikan banyak dalil tentang adanya kebangkitan, di antaranya adalah penciptaan manusia. Sebab itu, tidak pantas bagi seorang hamba yang sebelumnya tidak ada hingga Allah menciptakannya untuk mendustakan hari Kiamat.
"Maka apa yang menyebabkanmu mendustakan hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu?"
Kita menggunakan akal yang Allah istimewakan kita dengannya untuk memikirkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang menunjukkan keagungan Allah Yang Maha Menciptakan, karena berpikir inilah yang akan menuntun kita untuk mengimani hari perhitungan dan pembalasan.
6- Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah hakim yang paling bijaksana. Di antara bentuk kebijaksanaan-Nya ialah membuat satu hari sebagai momen mereka kembali kepada-Nya, lalu Dia memberikan balasan amal mereka, baik amal yang baik ataupun yang buruk.
"Bukankah Allah adalah hakim yang paling adil?"
Kita mengimani keadilan dan kebijaksanaan Allah -Ta'ālā- yang menjadikan hari Kiamat sebagai hari pembalasan, di dalamnya Dia memberi orang yang berbuat baik balasan kebaikannya dan orang yang berbuat buruk balasan keburukannya.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan meletakkan visi masuk surga di hadapan mata saya, lalu saya memperbanyak ketaatan demi hal itu agar iman saya bertambah, sebab di dalam surga terdapat berbagai kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan bahkan belum pernah terlintas dalam pikiran manusia[26], sebagaimana disabdakan oleh Nabi ﷺ dan dipertegas oleh firman Allah -Ta'ālā-: "Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa (jenis-jenis nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan." [QS. As-Sajadah] [26] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (4/11 no. 3244) dan Muslim (4/2174 no. 2824).
- ......................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan mempelajari akidah yang benar yang diperintahkan oleh Allah kepada kita di dalam Kitab-Nya serta oleh Rasulullah di dalam Sunnahnya. Lalu saya akan mengajarkannya pada keluarga saya serta mengingatkan mereka dari keyakinan-keyakinan batil yang merusak fitrah supaya tidak menjadi sebab kebinasaan kita. Hal ini sebagai implementasi firman Allah -Ta'ālā-: "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." [QS. At-Taḥrīm]
- ......................................................
SURAH AL-'ALAQ
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pembelajar tentang ayat Al-Qur`an paling pertama turun?
2- Kisah turunnya surah Al-'Alaq.
Pengenalan Surah
1- Apa sajakah nama surah Al-'Alaq?
Surah Al-'Alaq, surah Iqra` bismi Rabbika, dan surah Iqra` bismi Rabbikal-lażī Khalaq[27]. Para ulama tafsir juga menyebutnya dengan nama surah Al-Qalam dan surah Iqra`[28]. [27] Lihat: Ṣaḥīḥ Bukhari (6/173), Kitāb Tafsīr Al-Qur'ān, Bāb Mā Wadda'aka Rabbuka wa Mā Qalā. [28] Lihat: Al-Kasyf wal-Bayān (10/242), Zādul-Masīr (4/466), dan at-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/433).
2- Di mana surah Al-'Alaq turun?
Surah Al-'Alaq turun di Makkah berdasarkan ijmak para ulama.[29] [29] Al-Muḥarrar al-Wajīz (5/501) dan al-Jāmi'li Aḥkāmil-Qur`ān (20/117).
3- Apa sebab turunnya surah Al-'Alaq?
Dalam aṣ-Ṣaḥīḥain pada kisah permulaan turunnya wahyu yang diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah, bahwa dia berkata, Wahyu pertama kepada Rasulullah ﷺ ialah berupa mimpi yang benar dalam tidur. Tidaklah beliau melihat suatu mimpi kecuali ia terwujud secara nyata seperti cahaya subuh. Kemudian beliau dianugerahi rasa senang menyendiri, yaitu beliau menyendiri di gua Hira demi melakukan taḥannuṡ -yaitu beribadah di waktu malam sekian hari- sebelum pulang ke keluarganya serta mengambil bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang lagi ke Khadijah untuk mengambil bekal baru seperti sebelumnya, hingga datang kepadanya kebenaran ketika beliau di gua Hira. Seorang malaikat (yaitu Jibril) menemuinya dan berkata, "Bacalah." Beliau menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Beliau menjelaskan: Lantas dia (Jibril) memegangku dan memelukku sampai aku mencapai puncak kelelahan, kemudian ia melepaskanku seraya berkata, "Bacalah." Aku menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Maka ia memegangku dan memelukku untuk yang kedua kalinya sampai aku mencapai puncak kelelahan, kemudian ia melepaskanku seraya berkata, "Bacalah." Aku menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Maka ia memegangku dan memelukku untuk ketiga kalinya lalu melepaskanku seraya berkata, "Iqra` bismi rabbikal-lażī khalaq, khalaqal insāna min 'alaq, iqra` warabbukal-akram ..."[30] [30] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (1/7 no. 3)
Dalam Musnad Ahmad dan Sunan Tirmizi diriwayatkan dari Ibnu 'Abbās bahwa dia meriwayatkan, Suatu saat, Nabi ﷺ sedang salat, lalu Abu Jahal datang dan berkata, "Bukankah aku telah melarangmu dari hal ini? Bukankah aku telah melarangmu dari hal ini?" Maka Nabi ﷺ pergi seraya menghardiknya. Lantas Abu Jahal mengancamnya dengan berkata, "Kamu sungguh tahu bahwa tidak ada di Makkah ini orang yang lebih banyak perkumpulannya daripada aku." Maka Allah menurunkan ayat: "Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya). Kelak kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah (penyiksa orang-orang yang berdosa." Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Demi Allah, sekiranya dia panggil golongannya, pasti dia akan disiksa oleh Malaikat Zabaniyah."[31] [31] HR. Tirmizi dalam Sunan-nya (5/444 no. 3349), Ahmad dalam Musnad-nya (4/165 no. 2322), dan lainnya, serta disahihkan oleh al-Albaniy dalam as-Silsilah aṣ-Ṣaḥīḥah (1/557 no. 275).
4- Apa tema pembahasan surah Al-'Alaq?
Di dalam surah ini terkandung penjelasan bahwa kesempurnaan seseorang tergantung hubungannya dengan wahyu dan ilmu[32]. Di dalamnya juga terkandung penjelasan tentang asal muasal penciptaan manusia sebagai peringatan dari tindakan zalim dan berpaling dari Allah, sebab Allah yang menciptakannya dari awal akan mengembalikannya lagi dan memberinya balasan perbuatannya. [32] Lihat: Maqāṣid Suwar al-Mufaṣṣal (hal. 9).
Majelis Ke-5: Meraih Kemuliaan dengan Bacaan dan Ilmu
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. (4) Yang mengajar (manusia) dengan pena. (5) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-'Alaq: 1-5)
Tafsir
Iqra` bismi rabbikal-lażī khalaq (bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan). Bacalah -wahai Rasul- apa yang Allah wahyukan kepadamu, dimulai dengan nama Tuhanmu yang menciptakan semua makhluk.
Khalaqal-insāna min 'alaq (Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah). Dia telah menciptakan manusia dari sepotong darah yang menggumpal setelah sebelumnya berupa air mani.
Iqra` warabbukal-akram (Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia). Bacalah -wahai Rasul- apa yang Allah wahyukan kepadamu, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia; kemuliaan-Nya tidak mungkin disamai oleh seorang mulia manapun karena Dialah yang melimpah kebaikannya.
Allażī 'allama bil-qalam (Yang mengajar manusia dengan pena). Yaitu yang mengajar menulis dengan pena.
'Allamal-insāna mā lam ya'lam (Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang sebelumnya tidak diketahuinya.
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menciptakan manusia dari kondisi lemah, lalu memuliakannya dengan memahami wahyu dan ilmu serta menganugerahinya berbagai media belajar.
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan; Dia menciptakan manusia dari segumpal darah."
Saya akan belajar ilmu agama dari Al-Qur'ān dan Sunnah supaya bisa keluar dari kegelapan menuju cahaya dan supaya bisa berpindah dari kelemahan menuju kekuatan.
2- Pelajarilah ilmu, amalkanlah, dan jagalah ilmu itu dengan berbagai sarana ilmu yang ada, karena sesungguhnya Tuhanmulah Yang Mahamulia; bila engkau mengikhlaskannya kepada-Nya maka Dia akan memberikan kepadamu tambahan ilmu dan pahala.
"Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia; Yang mengajarkan (manusia) dengan pena."
- Kita hendaknya mengingat nikmat Allah pada diri kita berupa anugerah kemampuan menulis dengan pena. Dengan pena, ilmu dapat dijaga dan mutiara hikmah dapat dicatat. Dengan pena pula, kisah orang-orang terdahulu serta keadaan dan sejarah mereka dapat diketahui.
- Kita menggunakan tulisan dalam menjaga ilmu yang kita pelajari agar kita tidak melupakan dan menyia-nyiakannya.
3- Ilmu berasal dari Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- karena Dialah Yang Maha Mengetahui. Orang yang bertauhid akan meminta ilmu kepada Allah dengan berserah diri kepada-Nya serta mengambil ilmu dari Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya.
"Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
Saya tidak menyombongkan diri dengan ilmu yang saya miliki, tidak mendebat untuk menandingi orang yang berilmu, dan tidak pula mendebat kusir orang yang tidak berilmu. Saya juga tidak akan menyembunyikan ilmu dari orang yang mau belajar karena ilmu tersebut adalah nikmat yang Allah karuniakan kepadaku tanpa ada daya upaya dan kekuatan dariku.
Majelis Ke-6: Buah Kejahilan dan Penolakan terhadap Wahyu
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (6) Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, (7) apabila melihat dirinya serba cukup. (8) Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu). (9) Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang (10) seorang hamba ketika dia melaksanakan salat? (11) Bagaimana pendapatmu jika dia (yang dilarang salat itu) berada di atas kebenaran (petunjuk), (12) atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? (13) Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang) itu mendustakan dan berpaling? (14) Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)? (15) Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (ke dalam neraka), (16) (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka. (17) Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya). (18) Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah (penyiksa orang-orang yang berdosa). (19) Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah). (QS. Al-'Alaq: 6-19)
Tafsir
Kallā innal-insāna layaṭgā (Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu melampaui batas). Sejatinya, orang yang durjana semisal Abu Jahal itu benar-benar melampaui batas dalam melanggar batasan-batasan Allah.
Arra`āhu-stagnā (apabila melihat dirinya serba cukup). Disebabkan ia melihat dirinya telah cukup dengan harta yang dimilikinya.
Inna ilā rabbika-rruj'ā (Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu)). Sesungguhnya -wahai Rasul-, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali kelak hari Kiamat, lalu Dia memberi balasan kepada masing-masing sesuai dengan haknya.
Ara`aital-lażī yanhā (Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang). Yaitu adakah engkau melihat yang lebih aneh daripada perkara Abu Jahal yang membuat larangan.
'abdan iżā ṣallā (seorang hamba ketika dia mengerjakan salat?). Yaitu melarang seorang hamba ketika dia mengerjakan salat kepada Allah? Orang yang dilarang itu ialah Rasulullah ﷺ.
Ara`aita in kāna 'alal-hudā (Bagaimana pendapatmu jika dia itu berada di atas kebenaran (petunjuk)). Bagaimana pendapatmu jika dia yang dilarang itu berada di atas petunjuk dan ilmu dari Tuhannya?
Aw amara bit-taqwā (atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)). Atau dia menyuruh manusia supaya bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhkan larangan-larangan-Nya. Apakah orang yang seperti ini patut dilarang?
Ara`aita in każżaba wa tawallā (Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang) itu mendustakan dan berpaling). Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan apa yang dibawa oleh Rasul serta dia berpaling darinya, tidakkah dia patut takut kepada Allah?
Alam ya'lam bi annallāha yarā (Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya))?. Tidakkah orang yang melarang hamba tersebut dari salat mengetahui bahwa Allah melihat semua yang dia perbuat, tidak ada sedikit pun yang samar bagi-Nya?
Kallā la `in lam yantahi lanasfa'an bin-nāṣiyah (Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (ke dalam neraka)). Tidaklah perkaranya seperti yang digambarkan oleh orang yang jahil itu! Sungguh, jika dia tidak berhenti menyakiti hamba Kami dan mendustakannya, kami akan ambil dia dengan ditarik ke dalam neraka pada bagian depan kepalanya dengan kasar.
Nāṣiyatin kāżibatin khāṭi`ah (yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan dan berdosa). Ubun-ubun tersebut berdusta dalam perkataan dan berdosa dalam perbuatan.
Fal-yad'u nādiyah (Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya)). Hendaklah dia memanggil rekan-rekan serta teman-temannya ketika ubun-ubunnya ditarik ke dalam neraka untuk menolongnya dalam rangka menyelamatkannya dari siksa.
Sanad'uz-Zabāniyah (Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah ((penyiksa orang-orang yang berdosa)). Kami sendiri akan memanggil para penjaga neraka, yaitu malaikat-malaikat yang keras, yang tidak pernah bermaksiat kepada Allah pada perkara yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan perintah-Nya. Hendaklah dia lihat; yang manakah di antara dua golongan tersebut yang lebih kuat dan lebih kuasa.
Kallā lā tuṭi'hu was-jud wa-qtarib (Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada-Nya)). Tidaklah perkaranya seperti yang disangka oleh orang yang zalim itu bahwa keburukan akan menimpamu. Sebab itu, janganlah kamu patuh kepadanya dalam urusan perintah maupun larangan, dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu) kepada Allah dengan mengerjakan berbagai ketaatan, sesungguhnya ketaatan tersebut mendekatkan kamu kepada-Nya. [33] Al-Mukhtaṣar fit-Tafsīr (hal. 597-598).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Kekayaan mendorong seoang hamba kepada sikap zalim dan melampaui batas, sehingga dia seharusnya mengekang hawa nafsunya dengan mengingat akhirat.
"Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup. Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali (mu)."
- Kita mesti menyadari bahwa di kala kaya dan lapang, banyak daya dukung, dan luasnya kedudukan adalah momen kita paling butuh kepada Allah serta pertolongan dan taufik-Nya.
- Kita merenungkan tempat kembali dan ujung perjalanan kita karena yang demikian itu lebih mendukung supaya kita tidak melampaui batasan Allah dan tidak terlena dengan nikmat harta yang Allah anugerahkan pada kita.
2- Merintangi jalan Allah adalah perilaku musuh-musuh Allah, oleh sebab itu seorang muslim harus menjauhinya.
"Bagaimanakah pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan salat."
Kita mesti menempuh jalannya para rasul, yaitu kita mengajak kepada yang makruf dan melarang yang mungkar serta mengajarkan orang tentang agama mereka.
3- Pencegah paling besar bagi seorang hamba dari maksiat ialah selalu mengingat pengawasan Allah kepadanya. Ini adalah tingkatan ihsan, yaitu engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu.[35] [34] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (1/19 no. 50) dan Muslim (1/36 no. 8).
"Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?"
Kita menyadari bahwa Allah mengawasi perbuatan dan perkataan kita. Siapa yang menyadari pengawasan Allah maka ia akan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi kedurhakaan kepada-Nya. Sungguh, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- melihat semua perbuatan kita dan mendengar seluruh perkataan kita.
Tidak boleh ada ketaatan kepada seorang makhluk dalam maksiat kepada Sang Pencipta. Larangan taat kepada orang yang menzalimi hamba Allah akan mendorong orang beriman untuk meningkatkan ibadah kepada Allah -Ta'ālā-.
"Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah)."
Kita bersungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada rida Allah -Ta'ālā- serta kita meyakini dan berserah diri kepada-Nya. Allahlah yang akan menuntut balasan bagi kita terhadap orang yang mencoba menghalangi kita dari menegakkan syiar agama.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan bersungguh-sungguh untuk menuntut ilmu serta mengamalkannya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ, "Siapa yang menempuh sebuah jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga."[35] Yang demikian itu adalah jalan keselamatan di dunia dan kemenangan di akhirat. [35] HR. Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya (4/2075 no. 2699).
- ......................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan serius menuntut ilmu dan menyebarluaskannya di tengah masyarakat, karena pada yang demikian itu terkandung kejayaan umat, dan seseorang diperintahkan dengan hal tersebut berdasarkan sabda Nabi ﷺ, "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat."[36] [36] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (4/170 no. 3461).
- ......................................................
SURAH AL-QADR
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pelajar tentang keutamaan malam Lailatul Qadar.
2- Mendiskusikan buah positif membersamai Al-Qur'ān.
3- Bertanya kepada para pelajar tentang nama-nama surah ini.
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Al-Qadr turun?
Ulama tafsir berbeda pendapat tentang tempat turunnya. Sebagian berpendapat bahwa ia makkiyah[37], dan sebagian yang lain berpendapat bahwa ia madaniyah[38]. [37] An-Nukat wal-'Uyūn (6/311), al-Muḥarrar al-Wajīz (5/504), dan Zādul-Masīr (4/469). [38] Al-Kasyf wal-Bayān (10/247), al-Muḥarrar al-Wajīz (5/504), dan Zādul-Masīr (4/469).
2- Apa saja nama surah ini?
- Surah Al-Qadr.
- Surah Innā Anzalnāhu fī Lailatil-Qadr[39]. [39] Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 572).
- Surah Lailatul Qadr [40]. [40] Al-Muḥarrar al-Wajīz (5/504), Aḥkāmul-Qur`ān karya al-Jaṣṣāṣ (5/373), dan at-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/455).
- Surah Innā Anzalnāhu.[41] [41] Lihat: Ṣaḥīḥ Bukhari (6/175), Kitāb Tafsīr Al-Qur'ān, Bāb Kallā La`in Lam Yantahi Lanasfa'an bin-Nāṣiyah Nāṣiyatin Kāżibatin Khāṭi`ah.
3- Apa tema pembahasan surah Al-Qadr?
Surah ini menjelaskan keagungan malam Lailatulqadar, yaitu ia lebih baik dari seribu bulan. Pada malam ini, Allah menganugerahi kita semua dengan penurunan Al-Qur`ān sekaligus ke langit dunia dari Lauh Mahfuz. Allah telah memuliakan Al-Qur'ān dengan menisbahkan penurunannya kepada diri-Nya Yang Mahasuci.
Majelis Ke-7: Keutamaan Malam Lailatulqadar Sebagai Waktu Diturunkannya Al-Qur`ān
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`ān) pada malam Lailatulqadar. (2) Dan tahukah kamu apakah malam Lailatulqadar itu? (3) Malam Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. (4) Pada malam itu turun para malaikat dan Rūh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. (5) Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr: 1-5)
Tafsir
Innā anzalnāhu fī lailatil-qadr (Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`ān) pada malam Lailatulqadar). Sesungguhnya Kami mulai menurunkan Al-Qur'ān kepada Nabi ﷺ pada malam Lailatulqadar di bulan Ramadan.
Wamā adrāka mā lailatul-qadr (Dan tahukah kamu apa malam Lailatulqadar itu?). Apakah engkau tahu, wahai Nabi, kebaikan dan keberkahan yang ada pada malam itu?
Lailatul-qadri khairun min alfi syahr (Malam Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan). Malam itu adalah malam yang memiliki kebaikan yang agung, yaitu lebih baik daripada seribu bulan bagi orang yang beribadah padanya atas dasar iman dan mengharap pahala.
Tanazzalul-malā`ikatu war-rūḥu fīhā bi iżni rabbihim min kulli amr (Pada malam itu turun para malaikat dan Rūh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan). Para malaikat turun dalam jumlah banyak, pun Jibril -'alaihissalām- turun pada malam itu dengan izin Tuhan mereka dalam rangka membawa semua urusan yang Allah tetapkan pada tahun tersebut, berupa rezeki, kematian, kelahiran, ataupun ketetapan Allah lainnya.
Salāmun hiya ḥattā maṭla'il-fajr (Sejahteralah malam itu hingga terbit fajar). Malam yang diberkahi ini dipenuhi oleh seluruh kebaikan, dari permulaan hingga penghujungnya ketika terbit fajar.[42] [33] Al-Mukhtaṣar fit-Tafsīr (hal. 598).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Al-Qur`ān agung ini yang diturunkan pada malam yang agung di bulan yang agung, wajib kita agungkan.
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`ān) pada malam Lailatulqadar."
Kita menghadirkan dalam jiwa tentang keluhuran Al-Qur`ān yang diturunkan kepada kita karena Al-Qur`ān adalah kalam Allah -Ta'ālā-. Allah menurunkannya kepada kita untuk mengangkat derajat diri kita dengannya serta memberikan kita kemuliaan yang besar dan kedudukan yang mulia di dunia dan akhirat.
2- Malam tersebut adalah malam yang memiliki kemuliaan agung dan kedudukan tinggi. Allah memuliakannya dan melebihkannya di antara malam-malam lain, lalu menganugerahkannya pada kita. Maka hanya milik-Nya segala pujian dan karunia.
"Dan tahukah kamu apa malam Lailatulqadar itu?"
Kita harus mengagungkan perihal malam tersebut karena Dia menganugerahkannya pada kita sembari mengabarkan tentang besarnya keutamaannya.
3- Tolok ukur kebaikan bukan pada panjangnya usia, tetapi pada baiknya amal perbuatan. Sungguh, inilah malam yang keutamaan amal baik di dalamnya mengalahkan keutamaan amal baik seribu bulan. Mahasuci Tuhan Yang Mahamulia!
"Malam Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan."
Kita mesti memburu malam Lailatulqadar dengan mengerjakan salat malam, berdoa, dan beramal saleh karena ia merupakan waktu yang agung.
4- Malaikat adalah satu di antara makhluk ciptaan Allah yang rapi dan teratur, mereka merupakan hamba-hamba yang Allah muliakan, tidak mendahului-Nya dalam ucapan, dan mereka selalu mengerjakan apa yang Dia perintahkan.
"Pada malam itu turun para malaikat dan Rūh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan."
Kita hendaknya merasa malu kepada malaikat-malaikat Allah yang mulia, supaya mereka jangan melihat pada kita sesuatu yang mendatangkan murka Allah.
5- Malam ini Allah bebaskan dari berbagai cacat sehingga di dalamnya tidak ada keburukan. Ia juga terdapat di bulan kebaikan dan keberkahan sehingga merupakan waktu paling utama dalam setahun. Siapa yang menyia-nyiakannya maka dialah yang sebenarnya terhalangi dari berbagai kebaikan.
"Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar."
Hendaknya kita menyibukkan diri di malam itu dengan sesuatu yang mendatangkan rida Allah dan hendaknya setiap orang beriman selamat dari kita dengan tidak menyakitinya dengan ucapan maupun tindakan.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan memburu malam Lailatulqadar dengan melakukan qiamulail di sepuluh malam terakhir Ramadan demi mendapatkan keutamaannya. Dalam qiamulail di sepuluh malam tersebut terdapat ampunan dosa, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, "Siapa yang salat pada malam Lailatulqadar karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu."[43] [43] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (3/26 no. 1901).
- ......................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan mendirikan satu halakah pengajaran Al-Qur'ān al-Karīm di masjid lingkungan yang kami miliki untuk mendapatkan kemuliaan membersamai Al-Qur'ān dan agar termasuk orang-orang yang mendapat kebaikan. Hal ini sebagai implementasi sabda Nabi ﷺ, "Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur`ān dan mengajarkannya."[44] [44] HR. Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya (6/192 no. 5027).
- ......................................................
SURAH AL-BAYYINAH
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pembelajar tentang nama-nama surah ini.
2- Kisah yang terjadi antara Ubay bin Ka'ab bersama Nabi ﷺ terkait surah ini.
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada Ubay, "Sungguh, Allah memerintahkanku untuk membacakan padamu surah "Lam yakunillażīna kafarū"." Ubay berkata, "Allah menyebut namaku?" Beliau bersabda, "Ya." Lantas Ubay menangis.[45] [45] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (4/170 no. 3461).
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Al-Bayyinah turun?
2- Surah Al-Bayyinah turun di Madinah, menurut pendapat mayoritas ulama.[46] [46] An-Nukat wal-'Uyūn (6/315), al-Muḥarrar al-Wajīz (5/507), dan Zādul-Masīr (4/475).
2- Apa saja nama surah ini?
- Surah Al-Bayyinah.
- Surah Lam Yakunillażīna Kafarū.
- Surah Lam Yakun.[47] [47] Lihat: Ṣaḥīḥ Bukhari (6/175), Kitāb Tafsīr Al-Qur'ān, Bāb Kallā La`in Lam Yantahi Lanasfa'an bin-Nāṣiyah Nāṣiyatin Kāżibatin Khāṭi`ah.
- Surah Al-Qayyimah.
- Surah Al-Bariyyah.
- Surah Al-Munfakkīn.
- Surah Ahlul-Kitāb.[48] [48] Lihat: Maḥāsin at-Ta`wīl (9/520), at-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/467), dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 573-579).
4- Apa tema pembahasan surah Al-Bayyinah?
Surah Al-Bayyinah datang untuk menetapkan kerasulan Sang Nabi terakhir ﷺ sembari menerangkan sikap Ahli Kitab terhadap kerasulan beliau, serta memfokuskan temanya pada pemurnian ibadah kepada Allah dan menerangkan tempat kembali orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang sengsara.
Majelis Ke-8: Kesempurnaan dan Kejelasan Risalah Nabi Muhammad
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata, (2) (yaitu) seorang rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang suci (Al-Qur`ān). (3) Di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus (benar). (4) Dan tidaklah terpecah-belah orang-orang Ahli Kitab melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata. (5) Padahal, mereka hanya diperintahkan menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama yang lurus, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; yang demikian itulah agama yang benar. (QS. Al-Bayyinah: 1-5)
Tafsir
Ayat 1: Orang-orang kafir dari golongan Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrik tidak mungkin meninggalkan ijmak dan kesepakatan mereka dalam kekufuran hingga datang kepada mereka keterangan yang jelas dan bukti kebenaran yang nyata.
Ayat 2: Keterangan yang jelas dan bukti kebenaran yang nyata itu ialah seorang rasul dari sisi Allah yang diutus-Nya dengan membacakan lembaran-lembaran yang disucikan, yang tidak disentuh kecuali oleh orang-orang yang disucikan.
Ayat 3: Di dalam lembaran-lembaran itu terdapat berita-berita yang benar dan hukum-hukum yang adil, untuk menunjuki manusia kepada kebaikan mereka.
Ayat 4: Orang-orang Yahudi yang diberi Taurat dan orang-orang Nasrani yang diberi Injil tidak berselisih kecuali setelah Allah mengutus Nabi-Nya kepada mereka. Maka di antara mereka ada yang masuk Islam dan di antara mereka ada yang tetap bertahan di dalam kekafirannya padahal ia mengetahui kebenaran Nabi-Nya.
Ayat 5: Kejahatan dan pembangkangan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi nyata, karena mereka tidak diperintahkan di dalam Al-Qur`ān kecuali dengan apa yang diperintahkan kepada mereka di dalam kitab mereka berupa ibadah kepada Allah semata, menghindari syirik, mendirikan salat, dan menunaikan zakat. Apa yang diperintahkan kepada mereka itulah agama yang lurus, yang tidak ada penyelewengan di dalamnya.
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Kekufuran yang dilakukan oleh orang berilmu lebih buruk daripada yang lainnya, dan celaan itu lebih patut didahulukan kepada orang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya, sebagaimana keadaan Ahli Kitab yang telah diberi kabar gembira dalam kitab mereka tentang pengutusan Nabi ﷺ serta mereka diperintahkan untuk mengimaninya, tetapi mereka malah kafir kepadanya.
"Orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata."
Kita harus waspada terhadap ilmu tanpa amal karena itu jalan orang-orang yang dimurkai. Sebaliknya, kita harus mengamalkan ilmu kita supaya kita diberikan keberkahan padanya serta kita mendapatkan pahalanya.
2- Jalan keselamatan dalam agama kita ialah dengan mengikuti dua perkara dan berpegang kuat padanya. Keduanya adalah bukti yang nyata, yaitu Rasulullah ﷺ dan Kalam Allah -Ta'ālā- yang beliau baca.
"(Yaitu) seorang rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang suci (Al-Qur`ān), di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus (benar)."
Kita bersungguh-sungguh mempelajari wahyu berupa Al-Qur`ān dan Sunnah, baik secara penghafalan, pemahaman, maupun penadaburan, karena inilah jalan keberuntungan.
3- Kerugian terbesar bagi seorang hamba ialah bila Kitābullāh menjadi hujah yang memberatkannya, bukan membelanya, serta bila Kitābullāh yang seharusnya mengumpulkan dan menyatukan justru sebagai sebab perpecahan dan saling bermusuhan.
"Dan tidaklah terpecah-belah orang-orang Ahli Kitab melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata."
Hendaknya kita tidak mengikuti hawa nafsu yang menyebabkan kita saling berselisih setelah kebenaran terlihat nyata dan semua dalih terputus.
4- Tuhan kita satu dan agama kita satu, lalu mengapa terjadi perpecahan?!
"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama yang lurus, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang benar."
Kita ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain, karena ikhlas dalam ibadah termasuk syarat diterimanya ibadah.
Majelis Ke-9: Manusia Terbaik dan Manusia Terburuk
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (6) Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk. (7) Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (8) Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS. Al-Bayyinah: 6-8)
Tafsir
Ayat 6: Sesungguhnya orang-orang yang kafir -dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrikin pada hari Kiamat kelak- akan masuk neraka Jahanam, mereka menetap di dalamnya selama-lamanya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk karena kekufuran mereka terhadap Allah dan pendustaan mereka terhadap Rasul-Nya.
Ayat 7: Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan melakukan amal saleh, mereka adalah sebaik-baik makhluk.
Ayat 8: Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawah istana-istana dan pepohonannya, mereka menetap di dalamnya selama-lamanya. Allah rida pada mereka karena mereka beriman kepada-Nya dan menaati-Nya, dan mereka pun rida pada Allah karena rahmat yang Allah berikan kepada mereka. Rahmat ini hanya didapat oleh orang yang takut kepada Tuhannya dengan mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.[49] [49] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān al-Karīm (hal. 598).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Orang yang fitrahnya terbalik dan akalnya rusak lalu kafir kepada Penciptanya dan mendustakan Kitab-Nya, maka dia itu lebih buruk dari binatang yang tidak memiliki akal, walaupun dia tampil dalam rupa orang-orang berakal.
"Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk."
Kita terus berusaha melepas diri kita dari neraka dengan cara beriman kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, serta mengamalkan konsekuensi seluruh keimanan tersebut.
2- Balasan setimpal dengan perbuatan. Siapa yang rida kepada Allah sebagai tuhan dan sembahannya di dunia ini, maka Allah akan membalasnya dengan meridainya serta menjadikannya diridai di akhirat. Sungguh, ini adalah sebuah kemuliaan luar biasa!
"Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya."
Apa yang ada di sisi Allah hanya akan didapat dengan amal saleh, sebab itu hendaknya kita antusias mengerjakan kebajikan demi mendapatkan balasan yang besar itu.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan mengikuti bukti nyata yang dikirimkan oleh Allah -Ta'ālā- untuk kita demi mewujudkan tauhid kepada Allah serta ikhlas kepada-Nya dalam peribadatan seperti salat, zakat, dan ibadah-ibadah lainnya, supaya saya sukses mendapatkan surga dan rida-Nya. Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang meninggal dunia di antara umatku dalam keadaan tidak membawa kesyirikan kepada Allah sedikit pun, maka ia pasti akan masuk surga."[50] [50] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (2/71 no. 1237).
- ......................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan jelaskan kepada masyarakat tentang besarnya kedudukan takut kepada Allah, yaitu sesekali dengan mengingatkan mereka terhadap neraka Jahanam dan siksanya bagi orang yang kafir dan berpaling, dan pada kali yang lain dengan memotivasi mereka untuk meraih balasan di sisi Allah berupa surga-surga, kenikmatan, dan keridaan abadi bagi orang yang beriman dan beramal. Hal itu sebagai bentuk implementasi firman Allah -Ta'ālā-: "Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Sungguh, mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS. Al-Anbiyā`)
- ......................................................
SURAH AZ-ZALZALAH
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pembelajar tentang nama-nama surah Az-Zalzalah.
2- Kisah Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- bersama surah ini.
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Az-Zalzalah turun?
Surah Az-Zalzalah turun di Madinah, menurut mayoritas ulama.[51] [51] An-Nukat wal-'Uyūn (6/318), al-Muḥarrar al-Wajīz (5/510), dan Zādul-Masīr (4/477).
2- Apa saja nama surah ini?
- Surah Az-Zalzalah.
- Surah Iżā Zulzilatil-Arḍu Zilzālahā.[52] [52] Lihat: Ṣaḥīḥ Bukhari (6/175), Kitāb Tafsīr Al-Qur'ān, Bāb Kallā La`in Lam Yantahi Lanasfa'an bin-Nāṣiyah Nāṣiyatin Kāżibatin Khāṭi`ah.
- Surah Iżā Zulzilat.
- Surah Az-Zilzāl.
- Surah Zulzilat.[53] [53] Lihat: at-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/489), Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 580-583).
3- Apa kisah Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- bersama surah ini?
Aṭ-Ṭabariy di dalam Kitab Tafsirnya meriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ bahwa dia berkata, "Surah Iżā Zulzilatil-Arḍu Zilzālahā diturunkan sementara Abu Bakar sedang duduk. Seketika dia menangis ketika surah ini diturunkan, sehingga Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Bakar?" Abu Bakar menjawab, "Aku dibuat menangis oleh surah ini." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Kalaulah kalian tidak berbuat salah dan dosa sehingga Allah mengampuni kalian, niscaya Allah akan menciptakan sekelompok orang yang berbuat salah dan dosa lalu Dia mengampuni mereka."[54] [54] HR. Aṭ-Ṭabariy di dalam Tafsirnya (24/553), al-Baihaqiy dalam asy-Syu'ab (5/41017 no. 7103), dan lainnya. Hadis ini dihasankan oleh penyunting buku al-Maṭālib al-'Āliyah bi Zawā`id al-Masānīd aṡ-Ṡamāniyah karya Ibnu Ḥajar (15/443 no. 237) karena memiliki jalur yang banyak.
4- Apa tema pembahasan surah Az-Zalzalah?
Surah Az-Zalzalah mengingatkan bahwa akan datang kepada manusia sebuah hari yang memiliki kedahsyatan besar. Pada hari itu, bumi berguncang dan menceritakan semua yang dikerjakan di atas permukaannya, berupa kebaikan ataupun keburukan. Pada hari itu pula, amalan manusia akan dihisab dengan timbangan amalan yang detail.
Majelis Ke-10: Peringatan Terhadap Akhirat dan Detailnya Perhitungan Amalan Hari Itu
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, (2) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandungnya), (3) dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?” (4) Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, (5) karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) padanya. (6) Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya. (7) Maka barang siapa mengerjakan kebajikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (8) Sebaliknya, barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (QS. Az-Zalzalah: 1-8)
Tafsir
Ayat 1: Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan keras yang terjadi padanya di hari Kiamat.
Ayat 2: Dan bumi mengeluarkan mayat-mayat yang dikandung dalam perutnya.
Ayat 3: Dan manusia berkata dalam kondisi bingung, “Kenapa bumi bergerak dan berguncang?”
Ayat 4: Pada hari yang luar biasa itu, bumi mengabarkan perbuatan yang pernah dilakukan di atasnya, yang baik maupun yang buruk.
Ayat 5: Karena Allah memberitahukannya dan memerintahkannya untuk itu.
Ayat 6: Pada hari luar biasa yang membuat bumi berguncang itu, manusia keluar secara berkelompok-kelompok dari tempat hisab amal mereka untuk menyaksikan amal perbuatan yang pernah mereka lakukan di dunia.
Ayat 7: Maka siapa yang berbuat kebaikan dan kebajikan seberat semut kecil sekalipun, maka dia akan melihatnya terpampang di hadapannya.
Ayat 8: Dan siapa yang berbuat kejahatan seberat semut kecil sekalipun, maka ia pun akan melihatnya. [55] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 599).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang telah menjadikan alam ini tenang dan seimbang, kelak pada hari kebangkitan akan menjadikannya berguncang.
"Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat."
Kita memberikan perhatian kepada wahyu yang memberi petunjuk pada jiwa dan mengantarkannya untuk bersiap menghadapi hari saat bumi berguncang (hari Kiamat).
2- Bumi tidak akan menyembunyikan siapa pun kepada Tuhannya, sehingga tidak ada bagimu tempat melarikan diri dari hisab amalan, wahai anak Adam!
"Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandungnya)."
Kita mengimani bahwa suatu hari kita akan dibangkitkan dari kubur untuk menghadapi hisab amalan dan kita mesti mempersiapkan diri untuk itu dengan amal saleh.
3- Wahai anak Adam! Ada banyak saksi di sekitarmu yang mengawasimu. Bahkan, bumi yang engkau tinggali dan engkau hiasi pun menjadi saksi bagimu. Oleh karena itu, malulah kepada Tuhanmu dan tinggalkanlah kemaksiatan kepada-Nya.
"Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya."
Kita jadikan bumi ini sebagai saksi yang membela kita, bukan yang memberatkan, dengan mengerjakan amal saleh dan menjauhi dosa-dosa yang membinasakan di atasnya.
4- Setiap orang akan bersua dengan amalnya pada hari Kiamat kelak. Duhai, betapa bahagia orang yang sungguh-sungguh dan betapa menyesal orang yang malas!
"Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya."
Kita memanfaatkan kehidupan dunia ini dengan mengumpulkan bekal berupa amal saleh yang berpahala kekal. Hari ini adalah kesempatan beramal tanpa hisab, sedang esok adalah momen hisab tanpa ada amalan.
5- Tolok ukur beratnya mizan kebaikan ialah amalan, bukan keturunan, nasab, maupun kedudukan. Mizan amalan ini menimbang amalan apa pun meskipun seberat biji zarah. Ya Allah! Selamatkanlah kami.
"Maka siapa yang mengerjakan kebajikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Sebaliknya, siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
Kita senantiasa memuji Allah -Ta'ālā- atas sikap adil-Nya. Dia tidak menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan amal saleh sekalipun kecil. Kita juga hendaknya tidak meremehkan sebuah dosa karena bisa jadi ia menjadi sebab kebinasaan kita di hari Kiamat kelak.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Di kehidupan dunia ini, saya akan selalu kembali kepada Allah -Ta'ālā- dan mengisinya untuk menambah bekal berupa ketaatan dan amal saleh supaya saya termasuk golongan orang yang aman di hari keguncangan yang dahsyat itu. Allah -Ta'ālā- menggambarkan orang-orang beriman pada hari itu dengan firman-Nya, "Sedang mereka merasakan keamanan dari kejutan (yang dahsyat) pada hari itu." (QS. An-Naml: 89)
- ......................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan menasihati teman-temanku serta keluargaku supaya tidak menyepelekan kebaikan sedikit pun sehingga meninggalkannya, dan tidak pula keburukan sehingga mengerjakannya. Karena amalan yang paling kecil sekalipun akan dihitung bagi anak Adam, sebagaimana yang diucapkan oleh Luqman kepada putranya tatkala ia menasihatinya dalam firman Allah -Ta'ālā-, "(Luqman berkata), 'Wahai anakku! Sungguh, jika ada (suatu perbuatan) seberat semut kecil dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.'" (QS. Luqman: 16)
- ......................................................
SURAH AL-'ĀDIYĀT
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pembelajar tentang makna "al-'ādiyāt".
2- Membahas tentang kuda dan mendiskusikan keutamaannya.
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Al-'Ādiyāt turun?
Ulama tafsir terbagi ke dalam dua pendapat tentang tempat turunnya.[56] [56] An-Nukat wal-'Uyūn (6/323), al-Muḥarrar al-Wajīz (5/513), dan Zādul-Masīr (4/480).
2- Apa saja nama surah Al-'Ādiyāt?
Surah Al-'Ādiyāt [57] dan surah Wal-'Ādiyāt dengan menambahkan huruf wāw.[58] [57] Baṣā`ir Żawit-Tamyīz (1/537), at-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/497), dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 585-586). [58] Lihat: Ṣaḥīḥ Bukhari (6/176), Bāb Tafsīr Al-Qur'ān, Bāb Man Ya'mal Miṡqāl Żarratin Syarran Yarah, At-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/497), dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 585-586).
3- Apa tema pembahasan surah Al-'Ādiyāt?
Di dalam surah ini Allah bersumpah dengan kuda yang berlari kencang untuk mengangkat kemuliannya lantaran ia mematuhi tuannya dan masuk ke tengah-tengah musuh. Selanjutnya Allah -Ta'ālā- menyebutkan hakikat manusia ketika ia menanggalkan nilai-nilai keimanan; yaitu dia suka mengingkari nikmat Tuhannya yang tidak terhitung dan sebaliknya tamak terhadap harta serta pelit mengeluarkannya lantaran kecintaannya yang berlebihan pada harta.
Majelis Ke-11: Kelalaian Manusia dari Tujuan Hidup dan Akhiratnya
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Demi kuda perang yang berlari kencang terengah-engah, (2) dan kuda yang memercikkan bunga api (dengan pukulan kuku kakinya), (3) dan kuda yang menyerang (dengan tiba-tiba) pada waktu pagi, (4) sehingga menerbangkan debu, (5) lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh. (6) Sungguh, manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya, (7) Dan sesungguhnya dia (manusia) menyaksikan (mengakui) keingkarannya. (8) Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan. (9) Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan, (10) dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan? (11) Sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Mahateliti terhadap keadaan mereka. (QS. Al-'Ādiyāt: 1-11)
Tafsir
(1) Allah bersumpah dengan kuda yang berlari hingga terdengar suara nafasnya karena larinya yang kencang.
(2) Allah juga bersumpah dengan kuda yang memercikkan bunga api pada kuku-kukunya ketika bertumbuk dengan bebatuan dikarenakan kuatnya tumbukan kukunya dengan batu.
(3) Allah juga bersumpah dengan kuda yang menyerang musuh di pagi hari.
(4) Karena (begitu kencang) larinya, ia pun menerbangkan debu-debu.
(5) Lalu ia menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.
(6) Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar untuk melakukan kebaikan yang Tuhannya inginkan padanya.
(7) Dan sesungguhnya ia menjadi saksi atas keingkarannya terhadap kebaikan, ia tidak bisa mengingkari kenyataan ini karena sudah sangat jelas.
(8) Dan sungguh, lantaran ia sangat berlebihan dalam mencintai hartanya maka ia pun kikir dengannya.
(9) Tidakkah orang yang tertipu dengan kehidupan duniawi ini tahu bahwa apabila Allah telah membangkitkan mayat-mayat yang ada di alam kubur dan mengeluarkannya dari perut bumi untuk mendapatkan perhitungan dan pembalasan amalan, maka urusannya tidak sebagaimana yang pernah mereka sangka?!
Ayat 10: Dan juga apabila ditampakkan serta diperjelas segala niat, keyakinan, dan lainnya yang ada di dalam hati.
(11) Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka, tidak ada sesuatu pun dari urusan hamba-hamba-Nya yang tersembunyi dari-Nya dan Dia akan membalas mereka karenanya. [59] [59] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 599).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memuliakan jihad sehingga Dia bersumpah dengan kuda para mujahid serta menyebutkan kedahsyatan serangannya.
"Demi kuda perang yang berlari kencang terengah-engah."
Kita patut bersegera dalam kebaikan dan berlari untuk itu.
2- Obsesi, kekuatan, dan maju adalah sarana untuk mengejar dan mendapatkan kebaikan.
"Dan kuda yang memercikkan bunga api (dengan pukulan kuku kakinya)."
Hendaknya perjalanan kita kepada kebenaran serta pengamalan kita terhadapnya dilakukan dengan kuat dan kemauan keras.
3- Pagi adalah waktu berkah yang patut dimanfaatkan seorang hamba.
"Dan kuda yang menyerang (dengan tiba-tiba) pada waktu pagi."
Kita memanfaatkan waktu pagi dalam pekerjaan kita.
4- Kuda dalam medan perang memiliki pengaruh besar.
"Sehingga menerbangkan debu."
Kita harusnya memiliki jejak kebaikan di masyarakat.
5- Kedudukan tinggi dalam agama adalah dambaan bagi seseorang yang menginginkan keselamatan dirinya serta mengajak orang lain kepada kebaikan.
"Lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.'
Hendaknya kita berupaya menempati kedudukan tinggi dan terdepan di tengah masyarakat supaya kita menjadi teladan mereka dalam kebaikan.
6- Tidak boleh tunduk dan patuh kepada setiap hasrat jiwa karena pada dasarnya jiwa itu menahan kebaikan.
"Sungguh, manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya."
Kita berjuang menaklukkan jiwa kita dalam rangka menyucikan dan membersihkannya dari semua perangai tercela serta memperbaikinya dengan penuh bijaksana dan ketegasan.
7- Manusia difitrahkan suka mengumpulkan harta dan pelit dengannya, oleh karena itu sedekah adalah bukti keimanan.
"Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan."
Kita menggunakan nikmat-nikmat Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang diberikan kepada kita sebagai sarana kebaikan. Jika tidak, maka nikmat-nikmat tersebut akan menjadi sumber petaka, fitnah, dan siksa.
8- Seorang hamba akan tahu seyakin-yakinnya manakala ia telah dibangkitkan dari kubur bahwa dunia ini tidak pantas untuk dikejar, apalagi melenakan, tetapi pengetahuan ini ketika itu tidak berguna lagi.
"Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan."
Kita mengingat akhirat guna membantu kita untuk menyucikan jiwa karena di dalamnya terkandung obat bagi penyakit-penyakit hati.
9- Rahasia itu tidak akan kekal sebagai rahasia, tetapi akan tampak dan terlihat tatkala hari Kiamat.
"Dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan?"
Kita mengimani bahwa Allah -Ta'ālā- Maha Melihat rahasia serta niat-niat yang terletak dalam hati. Oleh sebab itu, hendaknya kita menghiasinya dengan cinta keimanan serta baik sangka kepada Allah, sebab sesuatu yang rahasia itu nyata di sisi Allah.
10- Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- Maha Mengetahui batin hamba-hamba-Nya, tidak ada sedikit pun dari mereka yang tersembunyi bagi-Nya, tidak di dunia ataupun di akhirat.
"Sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Mahateliti terhadap keadaan mereka."
Kita malu kepada Allah, lalu berusaha agar Allah tidak melihat sebuah kemaksiatan pada diri kita supaya termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang saleh.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan berusaha maksimal melatih diri untuk menyelisihi hawa nafsu serta tabiatnya seperti mendahulukan yang ia suka, karena pada yang demikian itu terdapat realisasi kesempurnaan iman. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Umar bin Khattab -raḍiyallāhu 'anhu- tatkala memaksa dirinya untuk menjadikan cintanya pada Nabi ﷺ lebih tinggi daripada cintanya kepada dirinya sendiri. Lalu Nabi ﷺ bersabda, "Sekarang (engkau benar-benar mencintaiku), wahai Umar."[60] [60] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (8/129 no. 6632).
- ......................................................
Pada masyarakat saya:
Saya akan memotivasi diri saya serta orang-orang yang beriman untuk berjuang di jalan Allah serta mempersiapkan diri untuk itu sebagai bentuk implementasi perintah Allah -Ta'ālā- dalam firman-Nya, "Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dengan pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah dan musuhmu." (QS. Al-Anfāl: 60)
- ......................................................
SURAH AL-QĀRI'AH
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pelajar tentang surah-surah Al-Qur`ān yang diberi nama dengan nama-nama hari Kiamat.
2- Makna "Al-Qāri'ah".
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Al-Qāri'ah turun?
Surah Al-Qāri'ah turun di Makkah menurut ijmak para ulama.[61] [61] An-Nukat wal-'Uyūn (6/327), al-Muḥarrar al-Wajīz (5/516), dan Zādul-Masīr (4/483).
2- Apa tema pembahasan surah Al-Qāri'ah?
Surah Al-Qāri'ah berbicara tentang huru hara kedahsyatan hari Kiamat yang mengguncang jiwa, manusia bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu; siapa yang saat itu timbangan kebaikannya lebih berat maka ia akan selamat, sebaliknya siapa yang ringan timbangan kebaikannya maka ia akan binasa.
Majelis Ke-12: Timbangan Akhirat Berdasarkan Amal
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Hari Kiamat. (2) Apakah hari Kiamat itu? (3) Dan tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? (4) Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan, (5) dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (6) Maka, adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, (7) maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). (8) Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, (9) maka tempat kembalinya adalah neraka Hāwiyah. (10) Dan tahukah kamu apakah neraka Hāwiyah itu? (11) (Yaitu) api yang sangat panas. (QS. Al-Qāri'ah: 1-11)
Tafsir
Ayat 1: Kiamat, hari yang mengguncang hati manusia karena kedahsyatan huru-haranya.
Ayat 2: Apakah hari yang mengguncang hati manusia karena kedahsyatan huru-haranya itu?
Ayat 3: Tahukah kamu -wahai Rasul-, hari apakah itu yang mengguncang hati manusia karena kedahsyatan huru-haranya? Itulah hari Kiamat.
Ayat 4: Pada hari yang mengguncang hati manusia itu, mereka seperti anai-anai yang beterbangan dan berserakan di sana sini.
Ayat 5: Gunung-gunung menjadi seperti bulu yang diterbangkan angin karena ringan jalan dan gerakannya.
Ayat 6: Adapun orang yang amal salehnya lebih berat daripada amal buruknya,
Ayat 7: maka dia berada dalam kehidupan memuaskan yang ia raih di dalam surga.
Ayat 8: Adapun orang yang amal buruknya lebih berat daripada amal salehnya,
Ayat 9: maka rumah dan tempat tinggalnya pada hari Kiamat adalah neraka Jahanam.
Ayat 10: Tahukah kamu -wahai Rasul- apakah neraka Jahanam itu?
Ayat 11: Yaitu neraka yang sangat panas.[62] [62] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 600).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengagungkan kondisi hari Kiamat dan mengingatkan bahayanya berulang kali.
"Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu? Dan tahukah kamu apa hari Kiamat itu?"
Hati kita hendaknya bergetar takut terhadap hari itu, lalu kita bersegera menuju Allah serta menggantungkan hati kepada-Nya. Tidak ada yang mengetahui kedahsyatan hari itu kecuali Allah, dan Dialah yang akan menyelamatkan kita darinya.
2- Pada hari itu, manusia akan berada pada puncak kelemahan yang disertai dengan ketakutan.
"Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan."
Kita menanamkan dalam jiwa keagungan dan kemahakuasaan Allah untuk menghidupkan hamba dan mengeluarkan mereka dari kubur yang bertebaran di waktu yang sama.
3- Pada hari itu, gunung-gunung yang kokoh dan besar akan berada pada puncak kelemahan.
"Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan."
Kita menanamkan dalam jiwa keagungan dan kemahakuasaan Allah untuk menjadikan gunung-gunung yang kokoh seperti bulu yang berterbangan.
4- Pada hari itu, tidak ada lagi pangkat, nasab, maupun kedudukan, yang ada hanyalah keadilan dan amal perbuatan.
"Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang)."
Kita bersungguh-sungguh demi meraih kehidupan baik yang kosong dari susah dan lelah, yaitu dengan memperbanyak kebaikan yang akan memberatkan timbangan kita.
5- Siapa yang rida dengan kehidupan dunia yang rendah serta meninggalkan kemuliaan beribadah menuju kehinaan bermaksiat, maka ia akan masuk neraka di hari Kiamat.
"Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hāwiyah."
Kita bersungguh-sungguh meninggalkan kemaksiatan secara umum serta bersungguh-sungguh menjauhi dosa yang menghanguskan pahala amalan seperti ria, ujub, mengungkit pemberian, dan lain sebagainya.
6- Anak Adam tidak berdaya menghadapi lalapan api dunia, padahal api dunia itu hanyalah satu bagian dari 70 bagian api Jahanam. Lalu bagaimana ia bisa tinggal di dalam api Jahanam itu sendiri?!
"Dan tahukah kamu apa neraka Hāwiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas."
Kita bersungguh-sungguh menghindari api neraka walaupun dengan amal yang sedikit, sebagaimana Nabi ﷺ bersabda, "Berlindunglah dari api neraka walaupun dengan (sedekah) setengah butir kurma."[63] [63] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (2/109 no. 1417) dan Muslim (2/704 no. 1016).
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan berusaha memberatkan timbangan saya dengan mengerjakan berbagai ketaatan secara umum, dan khususnya mengerjakan amalan-amalan yang akan memberatkan timbangan. Amalan-amalan itu telah dikabarkan oleh Nabi ﷺ, yaitu: merealisasikan tauhid, mengerjakan konsekuensi dua kalimat syahadat "Asyhadu allā ilāha illallāh wa asyhadu anna Muḥammadar-rasūlullāh", berzikir kepada Allah -Ta'ālā- berupa bacaan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir, berakhlak yang baik, dan mengiringi jenazah sampai penguburannya selesai.
- .....................................................
Pada masyarakat saya:
Saya akan memotivasi diri dan kerabat serta keluarga saya untuk menimbang ucapan sebelum diucapkan serta perbuatan sebelum dilakukan dengan timbangan Kitābullāh dan Sunnah Nabi ﷺ, karena kita tidak tahu, bisa jadi satu kalimat menjadi sebab kebinasaan kita, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya, "Sungguh, seorang hamba benar-benar akan mengucapkan sebuah kata, ia tidak mengetahui jelas kandungannya, namun dengan sebab itu ia terjun ke dalam neraka, lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat."[64] [64] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (8/100 no. 6477) dan Muslim (4/2290 no. 2988).
- ......................................................
SURAH AT-TAKĀṠUR
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pelajar tentang nama-nama surah ini berikut maknanya.
2- Kisah turunnya surah At-Takāṡur.
Pengenalan Surah
1- Di mana surah At-Takāṡur turun?
Surah At-Takāṡur adalah surah makkiyah berdasarkan ijmak ulama tafsir.[65] [65] Al-Muḥarrar al-Wajīz (5/518), Zādul-Masīr (4/485), dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/168).
2- Apa sebab turunnya surah At-Takāṡur?
Surah At-Takāṡur turun pada dua kabilah Quraisy, yaitu Bani Abdi Manāf dan Bani Sahm, yang saling berbangga diri di antara mereka, sampai mereka berbangga dalam menyebut-nyebut orang-orang yang sudah mati.[66] [66] Al-Kasyf wal-Bayān (10/276), an-Nukat wal-'Uyūn (6/331), dan Asbāb an-Nuzūl karya al-Wāḥidiy (hal. 464).
3- Apa saja nama surah ini?
- Surah At-Takāṡur.
- Surah Alhākum.[67] [67] Lihat: Ṣaḥīḥ Bukhari (6/176), Kitāb Tafsīr Al-Qur`ān, Bāb Waman Ya'mal Miṡqāla Żarratin Syarran Yarah.
- Surah Alhākumut-Takāṡur.[68] [68] Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 590).
- Surah Al-Maqbarah.[69] [69] Rūḥul-Ma'āniy (15/451), at-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/517), dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 590).
4- Apa tema pembahasan surah At-Takāṡur?
Surah ini membahas tentang kesibukan manusia dengan dunia dan anak-anak hingga lalai terhadap ketaatan kepada Allah sampai kematian menghampiri mereka tiba-tiba. Hisab amalan ada di hadapan mereka secara pasti, dan mereka akan ditanya tentang nikmat-nikmat yang diberikan pada mereka ketika di dunia: apakah mereka menjadikannya sebagai sarana yang mendekatkan mereka kepada Allah?
Majelis Ke-13: Celaan Terhadap Kesibukan dengan Dunia dan Peringatan untuk Beryukur kepada Pemberi Nikmat
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, (2) sampai kalian masuk ke dalam kubur. (3) Sekali-kali tidak! Kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu). (4) Kemudian sekali-kali tidak! Kelak kalian akan mengetahui. (5) Sekali-kali tidak! Sekiranya kalian mengetahui dengan pasti, (6) niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahīm. (7) Kemudian kalian benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri. (8) Kemudian kalian benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu). (QS. At-Takāṡur: 1-8)
Tafsir
Ayat 1: Wahai manusia! Bermegah-megahan dengan harta dan keturunan telah melalaikan kalian dari melakukan ketaatan kepada Allah.
Ayat 2: Hingga kalian mati dan masuk ke dalam kubur kalian.
Ayat 3: Tidak layak kalian lalai melakukan ketaatan kepada Allah karena bermegah-megahan dengan harta dan keturunan. Kalian pasti akan mengetahui akibat dari kelalaian tersebut.
Ayat 4: Kemudian sungguh kalian akan mengetahui akibatnya.
Ayat 5: Pasti! Andai kalian mengetahui dengan pasti bahwa kalian akan dibangkitkan kepada Allah dan bahwa Dia akan memberikan balasan sesuai dengan amal kalian, maka kalian tidak akan lalai dengan bermegah-megahan dengan harta dan keturunan.
Ayat 6: Demi Allah! Sungguh kalian akan menyaksikan neraka pada hari Kiamat.
Ayat 7: Kemudian kalian benar-benar akan menyaksikannya dengan penuh keyakinan, tidak ada keraguan padanya.
Ayat 8: Kemudian, sungguh Allah akan bertanya kepada kalian pada hari itu tentang nikmat sehat, kekayaan, dan lainnya yang telah diberikan kepada kalian.[70] [70] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 600).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Memperbanyak harta dunia dan bermegah-megahan dengannya termasuk senjata setan yang paling besar untuk menyibukkan manusia agar lupa dari Allah dan negeri akhirat.
"Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur."
Hendaknya obsesi kita di dunia bukan memperbanyak harta dan anak-anak serta bermegah-megahan dengan hal tersebut, karena perkara itu telah dicela oleh Allah -Ta'ālā-.
2- Bila seorang hamba tidak sadar dari kelalaiannya akibat bermegah-megahan di dunia lalu bertobat kepada Tuhannya, maka ia akan tersadar ketika kematiannya yang saat itu kesadarannya tidak lagi berguna baginya, bahkan waktu itu ia akan mengetahui akibat kelalaiannya dari tujuan penciptaannya.
"Sekali-kali tidak! Kelak kalian akan mengetahui akibat dari perbuatan kalian itu. Kemudian, sekali-kali tidak! Kelak kalian akan mengetahui."
Kita merenungkan ujung dari kehidupan kita serta meyakini bahwa dunia ini fana. Hal itu lebih memungkinkan seorang hamba untuk menjadikan dunia ini sebagai sarana akhirat, dan bukan larut di dalamnya.
3- Menadaburi ayat-ayat kauniah dan syariat akan mengantarkan hati pada sifat yakin dengan Allah dan pertemuan dengan-Nya, sehingga ia akan bergerak kepada ketaatan serta meninggalkan kemaksiatan.
"Sekali-kali tidak! Sekiranya kalian mengetahui dengan pasti."
Kita berusaha meningkatkan keyakinan kita dengan mengingat hari kebangkitan di semua keadaan. Hal itu akan mendatangkan peringatan bagi jiwa agar tidak sibuk dan bermegah-megahan dengan dunia dan kesenangannya.
4- Sibuk bermegah-megahan akan membawa pada kelalaian,
serta membuat hati berpaling dari melihat akibat kemaksiatan. Pada ujungnya, seorang hamba akan mendapatkan akibat buruknya, melihatnya dengan mata kepala langsung, dan meyakininya.
"Niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim. Kemudian, kalian benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri."
Kita harus waspada terhadap siksa Allah yang pasti ditimpakan kepada orang yang melenceng dari jalan-Nya dan menyelisihi perintah-Nya, serta kita meletakkan realitas itu di depan kedua mata kita supaya kita istikamah di atas jalan Allah.
5- Pertanyaan itu tidak akan berhenti pada perbuatan maksiat saja, tetapi berlanjut kepada pertanyaan tentang nikmat yang digunakan untuk bermegah-megahan oleh manusia serta yang melalaikan mereka dari akhirat.
"Kemudian kalian benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)."
Kita meyakini bahwa kita akan ditanya tentang semua nikmat yang Allah berikan kepada kita; apakah kita bersyukur kepada Allah -Ta'ālā- atas nikmat-nikmat tersebut dan menggunakannya demi mengerjakan ketaatan kepada-Nya ataukah tidak?
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan melakukan ziarah kubur untuk mengingat kematian dan berlindung kepada Allah dari siksa-Nya agar saya bertambah yakin bahwa semua yang dimegah-megahkan oleh manusia selain ketaatan kepada Allah akan berujung pada kecelakaan dan kesirnaan. Nabi ﷺ bersabda, "Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka kini berziarahlah ke kubur karena kubur itu mengingatkan kalian kepada akhirat."[71] [71] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (2/398 no. 1237), Ibnu Abi Syaibah dalam Muṣannaf-nya (1/212 no. 313), dan lainnya, serta disahihkan oleh al-Albaniy dalam Irwā`ul-Galīl (3/224 no. 772).
- ......................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan menasihati saudara, kerabat, dan semua orang yang berinteraksi denganku supaya berziarah kubur, lebih-lebih di masa yang kita jalani sekarang yang lebih didominasi materi dan manusia sibuk dengan dunia dan kemewahannya.
- ......................................................
SURAH AL-'AṢR
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pelajar tentang waktu-waktu yang dijadikan objek sumpah oleh Allah.
2- Apa pernyataan Imam asy-Syāfi'iy tentang surah ini?
Imam asy-Syāfi'iy -raḥimahullāh- berkata, "Sekiranya manusia merenungkan surah ini, niscaya surah ini mencukupi mereka."[72] [72] Tafsīr Ibni Kaṡīr (1/203)
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Al-'Aṣr turun?
Surah Al-'Aṣr turun di Makkah menurut pendapat mayoritas ulama.[73] [73] An-Nukat wal-'Uyūn (6/333), Zādul-Masīr (4/487), dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/178).
2- Apa saja nama surah ini?
Surah ini dinamakan surah Al-'Aṣr. Juga disebutkan dalam riwayat sebagian ulama tafsir dengan nama surah Wal-'Aṣr, dengan menambahkan huruf wāw.[74] [74] Lihat: Ṣaḥīḥ Bukhari (6/177), Kitāb Tafsīr Al-Qur`ān, Bāb Waman Ya'mal Miṡqāl Żarratin Syarran Yarah, al-Hidāyah Ilā Bulūgin-Nihāyah (12/8423), al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/178), dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 592-593).
3- Apa tema pembahasan surah Al-'Aṣr?
Surah Al-'Aṣr mengingatkan bahwa waktu adalah hal termahal yang dimiliki seseorang. Oleh karena itu, manusia itu berada dalam kerugian kecuali bila ia menjaga waktunya untuk akhiratnya serta mengingatkan saudaranya pada kebenaran dan kesabaran.
Majelis Ke-14: Sebab-sebab Keuntungan di Dunia dan Akhirat
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Demi masa! (2) Sesungguhya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. (3) Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, dan saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-'Aṣr: 1-3)
Tafsir
Ayat 1: Allah bersumpah dengan waktu asar.
Ayat 2: Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian dan kehancuran.
Ayat 3: Kecuali orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mengerjakan amal saleh, saling berwasiat di antara mereka dengan kebenaran dan kesabaran dalam menjalani kebenaran. Orang-orang yang mempunyai sifat-sifat ini pasti selamat dari kerugian dan bencana.[75] [75] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 601).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Waktu asar adalah permulaan waktu amalan umat Muhammad ﷺ. Hal ini disebutkan dalam Ṣaḥīḥ Bukhari dari Ibnu Umar bahwa beliau ﷺ bersabda, "Sesungguhnya masa kalian dibandingkan masa umat-umat sebelum kalian seperti masa antara salat Asar hingga waktu tenggelam matahari."[76] Dalam ayat ini, Allah -Ta'ālā- mengingatkan urgensinya waktu asar ini. [76] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (4/170 no. 3459).
"Demi waktu Asar."
Kita hendaknya memahami nilai waktu, khususnya keutamaan asar, serta mengisinya dalam rangka taat kepada Allah.
2- Hukum asal pada anak Adam ialah berada dalam kerugian kecuali bila Allah memberikannya taufik kepada kebaikan.
"Sesungguhya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian."
Kita berusaha menjauhkan kerugian dari diri kita dengan menjaga waktu kita dan mengisinya pada sesuatu yang diridai Allah -Ta'ālā-.
3- Keselamatan itu memiliki beberapa syarat, siapa yang memenuhi syarat-syarat tersebut maka keselamatan akan terwujud untuknya, yaitu berilmu, beramal, berdakwah, dan bersabar.
"Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, dan saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran."
Kita berusaha merealisasikan syarat-syarat keselamatan dengan mempelajari ilmu, mengajarkannya, mendakwahkannya, dan bersabar atas berbagai rintangan di jalan tersebut.
4- Ilmu menuntut supaya diamalkan, bila dikabulkan maka dia akan menetap dalam hati, tetapi jika tidak maka ia akan meninggalkan orang itu.
"Dan mereka mengerjakan amal saleh."
Kita berusaha mengamalkan apa yang telah kita ketahui supaya ilmu itu berguna, karena tanda seorang hamba mendapatkan manfaat dari ilmunya ialah bila efeknya terlihat pada implementasinya.
5- Berilmu dan beramal saja belum cukup sampai seseorang memerintahkan orang lain pada kebaikan dan melarangnya dari keburukan.
"Dan saling menasihati supaya menaati kebenaran."
Kita melaksanakan perintah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dengan melakukan amar makruf dan nahi mungkar.
6- Seorang hamba tidak boleh berprasangka bahwa jalan dakwah itu dihiasi dengan bunga-bunga indah, tetapi ia merupakan jalan yang ditempuh dengan ujian. Pendahulu di jalan itu ialah para rasul dan nabi yang mendapatkan berbagai penderitaan dan gangguan, namun mereka tetap bersabar.
"Dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran."
Kita bersungguh-sungguh menghiasi diri dengan kesabaran dan tidak meninggalkan kebaikan lantaran gangguan yang menimpa kita karena ujung kesabaran itu terpuji.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan menjaga waktu saya dan memanfaatkannya dengan ketaatan, ibadah, dan apa saja yang akan mendukung kepentingan hidup saya, karena yang demikian itu adalah pencegah kerugian dan kebinasaan. Nabi ﷺ telah mewasiatkan kepada kita supaya memaksimalkan waktu seraya bersabda, "Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya", kemudian beliau menyebutkan di antaranya: "Masa lapangmu sebelum engkau sibuk."[77] [77] HR. Nasai dalam Sunan-nya (10/400 no. 11832), al-Ḥākim dalam Mustadrak-nya (5/341 no. 7846), dan lainnya, serta disahihkan oleh al-Albaniy dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi' (1/244 no. 1078).
- .....................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan saling menasihati dengan keluarga dan masyarakat saya dengan sesuatu yang akan memperbaiki keadaan kami berupa ilmu yang bermanfaat, amal saleh, dan merealisasikan peribadatan kepada Allah -Ta'ālā- di muka bumi serta mencari penerus di dalamnya, karena menggapai tujuan bersama itu membutuhkan saling bahu-membahu dan saling nasihat di antara sesama. Diriwayatkan bahwa orang beriman itu lemah ketika sendiri dan kuat bersama saudaranya.
- .....................................................
SURAH AL-HUMAZAH
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pembelajar tentang nama-nama surah ini.
2- Menyebutkan nama-nama api neraka dan mengenal lebih jauh makna "Al-Ḥuṭamah".
2- Kisah turunnya surah Al-Humazah.
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Al-Humazah turun?
Surah Al-Humazah turun di Makkah tanpa ada beda pendapat antara ulama.[78] [78] Al-Muḥarrar al-Wajīz (5/521), Zādul-Masīr (4/488), dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/181).
2- Sebab turunnya surah Al-Humazah:
Ada yang berpendapat bahwa surah Al-Humazah turun terkait Umayyah bin Khalaf. Dia seringkali mengolok-olok Rasulullah ﷺ dengan ucapan dan perbuatan manakala melihat beliau, maka Allah menurunkan: "Wailul-likulli humazatil-lumazah..." sampai akhir surah seluruhnya.[79] Pendapat lain menyebutkan bahwa surah ini tidak khusus diturunkan terkait seseorang, tetapi umum pada semua orang yang memiliki sifat tersebut.[80] [79] Al-Kasyf wal-Bayān (10/286) dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/183). [80] Al-Kasyf wal-Bayān (10/286), an-Nukat wal-'Uyūn (6/336), dan Zādul-Masīr (4/488).
3- Apa saja nama surah ini?
- Surah Al-Humazah.
- Surah Wailul-likulli Humazatil-Lumazah.[81] [81] Lihat: Ṣaḥīḥ Bukhari (6/177), Kitāb Tafsīr Al-Qur`ān, Bāb Waman Ya'mal Miṡqāla Żarratin Syarran Yarah.
- Surah Al-Ḥuṭamah.[82] [82] Baṣā`ir Żawit-Tamyīz (1/543), at-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/535), dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 595-596).
4- Apa tema pembahasan surah Al-Humazah?
Surah ini datang menyampaikan ancaman keras bagi orang yang sombong dan suka mengolok-olok dengan ucapan maupun perbuatan, serta orang yang sibuk dengan harta dan menimbunnya seakan-akan ia akan kekal di dunia tanpa fana, kemudian menyombongkan diri dan angkuh terhadap orang lain dengan harta dan kedudukannya. Ayat ini juga menegaskan bahwa tidak ada keselamatan bagi orang yang seperti ini keadaannya di hari Kiamat kelak lantaran api neraka telah menantinya sebagai balasan amalan yang telah ia lakukan.
Majelis Ke-15: Hukuman Mengolok-olok Agama
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, (2) yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. (3) Dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. (4) Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Ḥuṭamah. (5) Dan tahukah kamu apakah (neraka) Ḥuṭamah itu? (6) (Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan, (7) yang (membakar) sampai ke hati. (8) Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka, (9) (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang. (QS. Al-Humazah: 1-9)
Tafsir
Ayat 1: Celaka dan siksa yang pedih bagi orang yang banyak menggunjing dan mencela manusia.
Ayat 2: Yaitu orang yang tujuannya hanya mengumpulkan harta dan menghitungnya, ia tidak mempunyai tujuan lain selain itu.
Ayat 3: Ia mengira bahwa harta yang dikumpulkannya bisa menyelamatkannya dari kematian sehingga ia bisa hidup kekal di kehidupan dunia.
Ayat 4: Urusannya tidak sebagaimana yang dibayangkan oleh orang bodoh ini. Sungguh, ia akan dilemparkan ke dalam neraka yang menghanguskan dan menghancurkan segala sesuatu yang dilemparkan ke dalamnya karena kedahsyatan siksanya.
Ayat 5: Tahukah kamu -wahai Rasul- neraka apakah itu yang menghancurkan segala sesuatu yang dilemparkan ke dalamnya?
Ayat 6: Itulah neraka Allah yang menyala-nyala.
Ayat 7: Yang membakar tubuh manusia hingga tembus ke hati mereka.
Ayat 8: Sesungguhnya neraka Huṭamah itu tertutup terhadap orang-orang yang disiksa di dalamnya,
Ayat 9: dengan tiang yang panjang sehingga mereka tidak bisa keluar darinya. [83] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 601).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Mengolok-olok orang dengan ucapan dan perbuatan termasuk dosa besar yang diancam oleh Allah dengan siksa.
"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela."
Kita mengetahui bahwa mengolok-olok, mengumpat, dan mencela Nabi ﷺ serta orang beriman, orang saleh, dan mujahid bukan sifat orang beriman, melainkan karakter orang kafir dan orang munafik di setiap masa.
2- Sibuk mengumpulkan harta dan bermegah-megahan dengannya merupakan faktor pemicu kezaliman dan merendahkan orang lain.
"Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya."
Hendaknya tujuan kita di dunia ini bukan hanya mengumpulkan harta, lalu menghitung-hitungnya dan bermegah-megahan dengannya karena hal itu menjadi sebab kebinasaan. Akan tetapi, hendaklah yang menjadi tujuan kita ialah akhirat dan mengerjakan ketaatan kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
3- Orang yang telah dibutakan oleh harta, semua urusannya baginya terbalik; dia mengira hartanya akan mengekalkannya di dunia sementara ia lupa dengan orang-orang yang telah binasa sebelumnya dari para pemuja harta seperti Qārūn dan lainnya.
"Dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya."
Kita mengimani bahwa kita akan dihisab tentang semua perbuatan yang kita kerjakan dan bahwa harta yang kita kumpulkan tidak menjamin kita kekal di dunia atau lolos dari hisab di hari Kiamat.
4- Dia dihukum dengan dilemparkan ke neraka yang menghancurkan segala sesuatu setelah sebelumnya dia dikelilingi oleh para pengikut dan pelayan karena dia mengira hartanya akan melindunginya dari segala keburukan.
"Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Ḥuṭamah."
Kita serius menjaga diri dari neraka yang menghancurkan dengan meminimalisir perhatian terhadap dunia dan bersegera kepada akhirat.
5- Api neraka di akhirat luar biasa dahsyat, tidak seperti api dunia yang hanya membakar bagian tubuh yang disentuhnya saja, selanjutnya akan padam dan mati, melainkan api yang menyala abadi dan tidak padam, serta panasnya membakar hati dan seluruh badan.
"Dan tahukah engkau apa neraka Ḥuṭamah itu? Yaitu api (azab) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) hingga ke hati."
Kita mengambil pelajaran dengan mengingat neraka dan kedahsyatan siksanya lalu kita mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan Allah.
6- Tidak ada harapan keluar bagi penghuni neraka karena neraka itu memenjara mereka.
"Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang."
Kita mengimani keabadian neraka dan bahwa penghuninya dari kalangan orang-orang kafir tidak akan dapat keluar darinya.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan menjauhi sifat-sifat buruk dan akhlak rendahan berupa mencela orang lain dengan perkataan dan perbuatan karena tolok ukur keutamaan di dalam Islam ialah ketakwaan; Allah -Ta'ālā- berfirman, "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti." (QS. Al-Ḥujurāt)
- .....................................................
Pada masyarakat saya:
Saya akan mengajarkan keluargaku, teman-temanku, dan orang-orang yang ada di sekelilingku bahwa sumber sifat-sifat tercela ini ialah cinta dunia dan tenggelam di dalamnya serta berujung pada murka Allah -Ta'ālā- dan masuk neraka. Oleh karena itu, ia wajib diwaspadai. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Taḥrīm)
- .....................................................
SURAH AL-FĪL
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pembelajar tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi menjelang diutusnya Nabi ﷺ.
2- Kisah turunnya surah Al-Fīl.
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Al-Fīl turun?
Surah Al-Fīl turun di Makkah berdasarkan ijmak para ulama.[84] [84] Al-Muḥarrar al-Wajīz (5/523), Zādul-Masīr (4/437), dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/187).
2- Apa sebab turunnya surah Al-Fīl?
Surah Al-Fīl turun untuk menjelaskan kisah pasukan gajah yang bertujuan menghancurkan Ka'bah serta apa yang dilakukan oleh Allah -Ta'ālā- terhadap mereka berupa membinasakan mereka dan menghalau mereka dari Ka'bah. Kisah ini sangat populer.[85] [85] Sīrah Ibni Hisyām (1/52-54) dan Asbāb an-Nuzūl karya al-Wāḥidiy (hal. 464).
3- Apa saja nama surah ini?
Surah Al-Fīl, surah Alam Tara,[86], dan surah Alam Tara Kaifa.[87] [86] Ṣaḥīḥ Bukhari (6/177), Kitāb Tafsīr Al-Qur`ān, Bāb Waman Ya'mal Miṡqāl Żarratin Syarran Yarah dan at-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/543). [87] Al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/200) dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 599).
4- Apa tema pembahasan surah Al-Fīl?
Surah Al-Fīl menceritakan kisah Allah -Ta'ālā- membinasakan sekelompok orang yang ingin menghancurkan Baitulharam. Di dalam surah ini terlihat jelas perhatian Allah kepada Ka'bah al-Musyarrafah.
Majelis Ke-16: Ka'bah Memiliki Tuhan yang Menjaganya
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? (2) Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? (3) Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, (4) yang melempari mereka bebatuan dari tanah liat yang dibakar, (5) sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (QS. Al-Fīl: 1-5)
Tafsir
Ayat 1: Tidakkah engkau -wahai Rasul- mengetahui bagaimana Tuhanmu bertindak terhadap Abrahah dan bala tentaranya (pasukan gajah) ketika mereka hendak menghancurkan Ka'bah?
Ayat 2: Allah telah menggagalkan rencana jahat mereka untuk menghancurkan Ka'bah sehingga mereka tidak berhasil mencapai tujuan mereka sedikit pun untuk memalingkan manusia dari Ka'bah.
Ayat 3: Dan Allah mengirimkan kepada mereka burung-burung yang menyerang mereka secara berbondong-bondong.
Ayat 4: Burung-burung itu melempar mereka dengan bebatuan dari tanah yang membatu.
Ayat 5: Maka Allah menjadikan mereka seperti daun tanaman yang dimakan dan dihancurkan oleh ulat.[88] [88] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 601).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Allah menceritakan kisah-kisah dan berita orang-orang terdahulu sebagai peringatan dan pelajaran.
2- Kekuasaan Allah pasti menang dan kehendak-Nya pasti terlaksana; bila Dia menghendaki sesuatu maka pasti terjadi.
“Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?"
- Kita mengambil pelajaran dari kisah-kisah orang-orang terdahulu.
- Kita mengagungkan Baitulharam dan mengetahui kemuliaannya.
3- Sebesar apa pun tipu daya dan makar orang kafir, Allah pasti akan menggagalkannya.
"Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia?"
Kita tidak membuat tipu daya terhadap seorang muslim maupun nonmuslim tanpa alasan yang benar, karena tipu daya pelaku kebatilan pasti berujung gagal.
4- Allah memiliki pasukan yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Dia. Dia sanggup memenangkan makhluk ciptaan-Nya yang paling lemah atas makhluk ciptaan-Nya yang paling besar dan paling kuat tanpa ada seorang pun yang kuasa menggagalkannya.
"Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung-burung yang berbondong-bondong."
Kita berlindung dari murka dan siksa Allah karena siksa-Nya dapat datang tanpa kita sangka.
5- Bila Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berkehendak untuk membinasakan suatu kaum, maka tidak berguna bagi mereka kekuatan mereka serta mereka tidak mampu menolak sebab-sebab kebinasaan dari diri mereka.
"Yang melempari mereka dengan bebatuan dari tanah liat yang dibakar."
Kita menjaga kesucian Baitullah dan tidak melampaui batas terhadapnya, karena bila tidak, maka dapat berakibat Allah menghukum kita dengan sebab melanggar kesuciannya.
6- Tidak ada nilai orang kafir di sisi Allah dan tidak ada kehormatannya.
"Sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”
Kita memuliakan diri kita dengan menghambakannya kepada Allah Yang Mahasuci dan tidak menghinakannya dengan kemaksiatan.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan berusaha meningkatkan keimanan dan keyakinan saya kepada Allah dan saya percaya bahwa Allah memiliki hikmah yang tinggi di dalam pengaturan-Nya walaupun yang saya harapkan tertunda.
- ....................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan berdiskusi dengan jemaah masjid tentang kisah umat-umat terdahulu serta apa yang menimpa mereka lantaran menyelisihi perintah Allah -Ta'ālā- karena di dalamnya terkandung pelajaran dan peringatan. Saya akan terangkan bahwa pembelaan masyarakat terhadap tempat-tempat yang disucikan Allah dan agama-Nya adalah kemuliaan bagi masyarakat tersebut serta bentuk taufik dari Allah -Ta'ālā- terhadap mereka. Kalaupun mereka tidak lakukan, maka Allah tidak membutuhkan pertolongan mereka terhadap agama-Nya. Bahkan, sepatutnya kita bersyukur kepada Allah bila Allah membimbing kita untuk berkhidmat kepada agama-Nya. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur`ān) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Yūsuf)
- .....................................................
SURAH QURAISY
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Mengenalkan suku Quraisy dan kedudukan mereka di tengah bangsa Arab.
2- Kehebatan suku Quraisy dalam berdagang dan perjalanan dagang mereka.
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Quraisy turun?
Surah Quraisy turun di Makkah menurut pendapat mayoritas ulama.[89] [89] An-Nukat wal-'Uyūn (6/345), Zādul Masīr (4/493), dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/200).
2- Apa saja nama surah ini?
Surah Quraisy, surah Li`īlāfi Quraisy,[90] dan surah Li`īlāf.[91] [90] Ṣaḥīḥ Bukhari (6/177), Kitāb Tafsīr Al-Qur`ān, Bāb Waman Ya'mal Miṡqāla Żarratin Syarran Yarah. [91] Lihat: Rūḥul-Ma'ānī (15/470), at-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/543), dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 601-603).
3- Apa keutamaan surah Quraisy?
Ummu Hāni` binti Abu Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah telah memuliakan suku Quraisy dengan tujuh perkara yang belum pernah diberikan kepada siapa pun sebelum mereka..." Lalu beliau menyebutkannya, di antaranya: "Tentang mereka turun satu surah Al-Qur`ān yang di dalamnya tidak disebutkan seorang pun selain mereka, yaitu Li`īlāfi Quraisy."[92] [92] HR. aṭ-Ṭabarāniy dalam al-Awsaṭ (9/79 no. 9173), al-Ḥākim dalam Al-Mustadrak (2/584 no. 3975), dan lainnya, serta dihasankan oleh al-Albāniy dalam as-Silsilah aṣ-Ṣaḥīḥah (4/585 no. 1944).
4- Apa tema pembahasan surah Quraisy?
Allah mengingatkan suku Quraisy tentang nikmat-nikmat yang diberikan-Nya kepada mereka. Secara khusus, Allah menyebutkan nikmat aman dari rasa lapar dan aman dari rasa takut karena besarnya urgensi keduanya dalam kehidupan manusia dan kebaikan kondisi masyarakat. Di dalamnya, Dia juga menegaskan kewajiban mereka terhadap nikmat-nikmat Allah pada mereka berupa syukur kepada-Nya dan mengakui kebaikan-Nya.
Majelis Ke-17: Ibadah dan Syukur serta Pengaruh Keduanya terhadap Keamanan dan Kenikmatan Hidup
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (2) (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. (3) Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka‘bah), (4) yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan. (QS. Quraisy: 1-4)
Tafsir
Ayat 1: Karena kebiasaan kaum Quraisy dan adat mereka.
Ayat 2: Yaitu melakukan perjalanan pada musim dingin ke Yaman dan perjalanan pada musim panas ke negeri Syam dengan aman.
Ayat 3: Maka hendaknya mereka menyembah Allah Pemilik Baitulharam ini semata, yang telah memudahkan perjalanan tersebut bagi mereka, dan hendaknya mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
Ayat 4: Yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan rasa lapar dan memberi mereka rasa aman dari ketakutan, dengan menanamkan di dalam hati bangsa Arab pengagungan tanah haram dan penduduknya.[93] [93] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 602).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Termasuk bentuk kesempurnaan karunia Allah Yang Mahasuci ialah Dia menjadikan sebagian nikmat yang dikehendaki-Nya sebagai kebiasaan seorang hamba. Sungguh, Mahasuci Allah Tuhan Yang Mahaagung.
"Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas."
Kita hendaknya bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya, khususnya nikmat yang berkelanjutan, dan terus-menerus mengingatkan diri kita bahwa nikmat-nikmat tersebut murni berasal dari Allah, bukan karena kita berhak mendapatkannya, sebab ketika seorang hamba terbiasa dengan suatu nikmat terkadang menjadikannya lupa kepada Tuhan Pemberi nikmat.
2- Asas mensyukuri nikmat ialah bersyukur kepada Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dengan menauhidkan-Nya; siapa yang tidak menauhidkan Allah, sejatinya tidak mensyukuri nikmat, walaupun lisannya melantunkan kata syukur.
"Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka‘bah)."
Kita mengagungkan Baitulharam secara lahir dan batin, yaitu dengan mengagungkannya dalam diri kita, mengakui kemuliannya, menjauhi dosa dan maksiat di tanah suci, dan tidak berbuat kezaliman atau menampung orang yang berbuat kezaliman di sana.
3- Dua nikmat paling besar ialah rezeki dan keamanan, oleh sebab itu keduanya diingatkan di tempat ini.
"Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan."
Kita percaya bahwa hanya di tangan Allah saja sumber rezeki dan keamanan para hamba, sehingga kita meminta keduanya kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- serta melakukan sebab-sebabnya.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan bersyukur kepada Allah -Ta'ālā- atas nikmat aman dan makanan serta mewujudkan peribadatan kepada Allah -Ta'ālā- dalam hal tersebut. Nabi ﷺ pernah bersabda, “Siapa di antara kalian ketika pagi merasakan aman pada dirinya, sehat jasmaninya, dan memiliki makanan pokok hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia ini telah diberikan kepadanya.”[94] [94] HR. Tirmizi dalam Sunan-nya (4/574 no. 2346), Ibnu Mājah (5/253 no. 3975), dan lainnya, serta dihasankan oleh al-Albāniy dalam as-Silsilah aṣ-Ṣaḥīḥaḥ (5/408 no. 2317).
- .............................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan mengajarkan saudara-saudara saya tentang cara menghargai nikmat aman dan rezeki, kewajiban menjaga dan tidak melalaikannya, serta kewajiban mensyukurinya kepada Allah -Ta'ālā- supaya nikmat tersebut langgeng dan bertambah, karena Allah berfirman, "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'" (QS. Ibrāhīm)
- .......................................................
SURAH AL-MĀ'ŪN
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pelajar tentang makna "Al-Mā'ūn".
2- Kisah turunnya surah Al-Mā'ūn.
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Al-Mā'ūn turun?
Surah Al-Mā'ūn turun di Makkah menurut pendapat mayoritas ulama.[95] [95] An-Nukat wal-'Uyūn (6/350), Zādul-Masīr (4/495), dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/210).
2- Apa sebab turunnya surah Al-Mā'ūn?
Ulama tafsir berbeda pendapat tentang sebab turunnya surah Al-Mā'ūn. Ada yang mengatakan bahwa surah Al-Mā'ūn turun karena kisah Abu Sufyān, yaitu dia biasa menyembelih dua ekor unta setiap pekan, lalu dia didatangi oleh seorang anak yatim dan meminta daging kepadanya, tetapi dia menghardiknya menggunakan cambuknya. Ada yang berpendapat bahwa surah ini turun karena kisah al-'Āṣ bin Wā`il as-Sahmiy, yaitu di antara sifatnya ialah menggabungkan antara pendustaan terhadap hari Kiamat dan perbuatan-perbuatan buruk. Ada juga yang berpendapat bahwa surah ini turun karena kisah Abu Jahal, yaitu dia diamanahi seorang anak yatim lalu anak yatim tersebut datang menemuinya dalam keadaan tidak berpakaian untuk meminta kepadanya sebagian harta miliknya, tetapi dia menolaknya.
Juga diriwayatkan dari Ibnu 'Abbās bahwa surah ini turun karena ada seorang munafik yang menggabungkan antara sifat pelit dan ria.[96] [96] Lihat: an-Nukat wal-'Uyūn (6/350), Zādul-Masīr (4/495), dan Mafātīḥul-Gaib (32/302).
3- Apa saja nama surah ini?
Surah Al-Mā'ūn, surah Ara`aita,[97] surah Ad-Dīn, surah Al-Yatīm, dan surah At-Takżīb.[98] [97] Ṣaḥīḥ Bukhari (6/177), Kitāb Tafsīr Al-Qur`ān, Bāb Waman Ya'mal Miṡqāla Żarratin Syarran Yarah, Jāmi' al-Bayān (24/629), dan Zādul-Masīr (4/495). [98] Lihat: Rūḥul-Ma'ānī (15/474), at-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/563), dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 604-608).
4- Apa tema pembahasan surah Al-Mā'ūn?
Surah Al-Mā'ūn datang mengingkari sejumlah perilaku tercela, yaitu: perilaku mengingkari hari pembalasan, menolak anak yatim dan berlaku kasar kepadanya, dan tidak menganjurkan diri sendiri dan orang lain untuk melakukan kebaikan serta memberi makan orang fakir. Kemudian ada penyebutan ancaman bagi orang yang menunda penunaian salat hingga habis waktunya dan bersikap ria di dalamnya.
Majelis Ke-18: Sifat Orang yang Mendustakan Hari Pembalasan
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan pembalasan? (2) Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, (3) dan tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin. (4) Maka celakalah orang-orang yang salat, (5) (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, (6) yang berbuat ria, (7) dan enggan (memberikan) bantuan. (QS. Al-Mā'ūn: 1-7)
Tafsir
Ayat 1: Tahukah kamu orang yang mendustakan adanya pembalasan amalan pada hari Kiamat?
Ayat 2: Dialah orang yang dengan kasar menolak anak yatim untuk memenuhi kebutuhannya.
Ayat 3: Dia juga tidak menganjurkan dirinya maupun orang lain untuk memberi makan kepada orang yang fakir.
Ayat 4: Maka kehancuran dan siksa bagi orang-orang yang mendirikan salat.
Ayat 5: Yaitu orang-orang yang lalai melaksanakan salatnya, tidak peduli dengannya hingga habis waktunya.
Ayat 6: Mereka orang-orang yang ria dalam salat dan amal perbuatannya serta tidak mengikhlaskan amalnya untuk Allah.
Ayat 7: Mereka juga enggan menolong orang lain dengan sesuatu yang sama sekali tidak menimbulkan dampak buruk bila memberi pertolongan dengannya. [99] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 602).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Beriman kepada perjumpaan dengan Allah merupakan faktor terbesar yang akan membantu seorang hamba untuk mengerjakan amal kebajikan. Sebaliknya, orang yang mendustakan kebangkitan akan tertutup baginya pintu kebaikan.
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan pembalasan?"
Kita mengingatkan diri secara terus-menerus tentang pertemuan dengan Allah Yang Mahasuci, karena hal itu menjadi pendorong kita untuk mengerjakan amal kebajikan.
2- Besarnya hak anak yatim dan orang miskin, baik hak materiel berupa bantuan harta dan membela mereka, maupun hak imateriel dengan sikap baik, iba, dan kasih sayang kepada mereka.
"Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin."
Kita hendaknya menunaikan hak orang-orang lemah dari kalangan anak yatim dan orang miskin. Hak orang lemah di masyarak muslim itu besar, karena Allah -Ta'ālā- telah menegaskan hak ini di banyak ayat. Allah berfirman dalam surah Aḍ-Ḍuḥā, "Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik(nya)." Lalu di surah ini, Allah menegaskan kembali hak itu.
3- Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengancam orang-orang yang mengakhirkan salat dan melalaikannya, lalu bagaimana dengan orang yang meninggalkannya secara total?!
"Maka celakalah orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya."
Kita hendaknya menjaga salat pada waktunya dan tidak melalaikannya sebagai bentuk implementasi perintah Allah, bahkan kita mesti menempatkannya di daftar prioritas tertinggi.
4- Menunaikan salat tepat waktu secara berjemaah menjadi penolak sifat riya dengan izin Allah. Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mengerjakan salat selama 40 hari secara berjemaah dengan mendapatkan takbir pertama, niscaya dituliskan baginya dua kebebasan: bebas dari neraka dan bebas dari kemunafikan."[100] [100] HR. Tirmizi dalam Sunan-nya (1/321 no. 242), al-Baihaqiy dalam Syu'ab al-Īmān (4/354 no. 2612), dan lainnya, serta dihasankan oleh al-Albāniy dalam as-Silsilah aṣ-Ṣaḥīḥah (4/628 no. 1979).
"Yang berbuat riya."
Kita merealisasikan keikhlasan kepada Allah -Ta'ālā- karena agama kita bukan sekadar agama yang bersifat lahiriah dan ritual semata.
5- Bila sebuah masyarakat sampai ke tingkat tidak memberikan sesuatu yang sama sekali tidak mendatangkan keburukan dengan memberikannya, baik dalam bentuk hibah maupun pinjaman, maka masyarakat tersebut terancam dengan hukuman.
"Dan mereka enggan (memberikan) bantuan.”
Kita berbuat baik kepada orang lain dengan memberikan apa yang mereka butuhkan, khususnya sesuatu yang sudah biasa menjadi bahan pemberian.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan berusaha sungguh-sungguh untuk merealisasikan keikhlasan kepada Allah dan meningkatkan keimanan serta keyakinan saya tentang hari akhirat, sebab yang demikian itu akan menjadi pemacu saya untuk mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan.
- .....................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan saling mengingatkan dengan saudara-saudara saya tentang pentingnya hak anak yatim dan orang miskin; bahwa menunaikan kebutuhan mereka akan mendatangkan kebaikan bagi pribadi dan masyarakat serta merupakan salah satu sebab adanya pertolongan dan rezeki. Nabi ﷺ bersabda, "Bukankah kalian diberi pertolongan dan rezeki karena adanya orang-orang yang lemah di antara kalian?!"[101] [101] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (4/36 no. 2896).
- .....................................................
SURAH AL-KAUṠAR
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pelajar tentang nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada Nabi-Nya ﷺ.
2- Kisah turunnya surah Al-Kauṡar.
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Al-Kauṡar turun?
Surah Al-Kauṡar turun di Makkah, dan ini pendapat mayoritas ulama.[102] [102] Zādul-Masīr (4/497) dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/216).
2- Apa sebab turunnya surah Al-Kauṡar?
Disebutkan bahwa surah Al-Kauṡar turun karena kisah al-Āṣ bin Wā`il, yaitu saat dia melihat Rasulullah ﷺ keluar dari masjid ketika dia sedang masuk, lalu keduanya bertemu di depan pintu Bani Sahm dan saling berbicara, sementara tokoh-tokoh Quraisy duduk di dalam masjid. Ketika al-Āṣ telah masuk, mereka bertanya, "Siapa yang tadi berbincang denganmu?" Dia menjawab, "Dialah al-abtar (orang yang terputus kebaikannya)." Maksudnya, dia menghina Nabi ﷺ lantaran tak memiliki putra karena saat itu Abdullah yang merupakan putra beliau dengan Khadijah telah wafat. Mereka biasa menyebut orang yang tidak memiliki anak laki-laki dengan nama "abtar". Sebab itu, Allah -Ta'ālā- menurunkan surah ini.[103] [103] Asbāb an-Nuzūl karya al-Wāḥidiy (hal. 466), Zādul-Masīr (4/497), dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/222).
3- Apa saja nama surah ini?
Surah Al-Kauṡar, surah Innā A'ṭainākal-Kauṡar,[104] dan surah An-Naḥr.[105] [104] Ṣaḥīḥ Bukhari (6/178), Kitāb Tafsīr Al-Qur`ān, Bāb Waman Ya'mal Miṡqāla Żarratin Syarran Yarah. [105] Lihat: as-Sirāj al-Munīr karya asy-Syarbīniy (4/595), al-Ḥāsyiyah asy-Syihāb 'Alā Tafsīr al-Baiḍāwiy (8/401), dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 609-611).
4- Apa keutamaan surah Al-Kauṡar?
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- bercerita: Suatu hari ketika Rasulullah ﷺ berada di tengah-tengah kami, tiba-tiba beliau tertidur sejenak, lalu mengangkat kepala sambil tersenyum. Kami bertanya, "Apa yang membuatmu tersenyum, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Tadi diturunkan kepadaku sebuah surah." Lalu beliau membaca, "Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Innā a'ṭainākal-kauṡar. Faṣalli lirabbika wan-ḥar. Inna syāni`aka huwal-abtar." (Surah Al-Kauṡar). Kemudian beliau bertanya, "Tahukah kalian, apakah Al-Kauṡar itu?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Ia adalah sebuah sungai yang dijanjikan untukku oleh Tuhanku -'Azza wa Jalla-. Padanya terdapat kebaikan yang banyak, ia berupa sebuah telaga yang akan didatangi oleh umatku kelak hari Kiamat; bejananya sebanyak bintang. Lalu seorang hamba di antara mereka dihalau dari telaga itu, sehingga aku katakan, 'Tuhanku, sungguh dia termasuk umatku.' Maka Dia menjawab, 'Engkau tidak tahu apa yang diada-adakan sepeninggalmu.'"[106] [106] HR. Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya (4/300 no. 400).
5- Apa tema pembahasan surah Al-Kauṡar?
Surah Al-Kauṡar datang untuk membantah orang yang merendahkan Nabi ﷺ, sekaligus menghibur beliau dengan nikmat yang Allah berikan kepadanya berupa kebaikan yang melimpah serta karunia dikhususkan untuk beliau, terutama sungai al-Kauṡar. Surah ini juga mendorong beliau untuk mensyukuri nikmat tersebut dengan banyak memberi dan terus-menerus mendekatkan diri kepada-Nya.
Majelis Ke-19: Hiburan dan Pembelaan untuk Nabi ﷺ
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) Al-Kauṡar (nikmat yang banyak). (2) Maka dirikanlah salat untuk Tuhanmu dan sembelihlah kurban (untuk-Nya). (3) Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah). (QS. Al-Kauṡar: 1-3)
Tafsir
Ayat 1: Sesungguhnya -wahai Rasul-, Kami telah memberimu kebaikan yang banyak, di antaranya sungai Al-Kauṡar di surga.
Ayat 2: Sebab itu, tunaikan rasa syukur kepada Allah atas nikmat ini dengan melaksanakan salat dan menyembelih (kurban) untuk Allah semata. Ini berbeda dengan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik berupa pendekatan diri kepada patung-patung mereka dengan menyembelih.
Ayat 3: Sesungguhnya orang yang membencimu justru dialah yang terputus dari seluruh kebaikan dan yang terlupakan, yang bila disebut maka dia akan disebut dengan keburukan.[107] [107] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 602).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Paripurnanya perhatian dan pembelaan Allah kepada Nabi yang mulia ﷺ.
2- Allah -Ta'ālā- telah melebihkan Nabi-Nya, Muhammad ﷺ serta mengistimewakan beliau dengan berbagai hal tanpa nabi-nabi yang lain, di antaranya ialah karunia sungai al-Kauṡar dalam surga.
“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) Al-Kauṡar (nikmat yang banyak)."
- Kita mengenal kemuliaan Nabi yang mulia ﷺ dan berusaha dengan semua sarana yang memungkinkan untuk membela beliau, menampilkan sosok beliau yang bersinar, dan mengenalkan kepribadian beliau yang penyayang nan agung.
- Kita mengikuti Sunnah Nabi ﷺ demi berkesempatan meminum air di telaga beliau yang dialiri dari sungai Al-Kauṡar.
3- Urgensi dua ibadah ini, yaitu salat dan menyembelih (kurban), karena keduanya termasuk bentuk syukur nikmat kepada Allah yang paling nyata.
"Maka dirikanlah salat untuk Tuhanmu dan sembelihlah kurban (untuk-Nya)."
- Kita mengikhlaskan salat kita kepada Allah -Ta'ālā-, menyembelih kurban untuk-Nya, dan menyebut nama-Nya ketika menyembelih.
- Kita mengerjakan ibadah -sebagai bentuk syukur kepada Allah- setiap kali mendapatkan nikmat.
4- Pembenci Nabi ﷺ akan berujung pada kesirnaan, kerugian, dan kecelakaan.
"Sungguh, orang yang membencimu itu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”
Kita membuktikan cinta Nabi ﷺ dengan mengikuti Sunnah beliau. Adapun orang yang membenci beliau, dialah yang terputus dari segala kebaikan.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan sungguh-sungguh mengikuti Nabi ﷺ demi mendapatkan kemuliaan datang ke telaga beliau yang dialiri dari sungai al-Kauṡar, karena orang yang mengubah syariat akan dihalau dari telaga tersebut, sebagaimana Nabi ﷺ bersabda, "Aku yang paling pertama menunggu kalian di atas telaga. Siapa yang datang ke sana ia akan minum airnya dan siapa yang meminumnya ia tidak akan merasakan dahaga selamanya. Sungguh, akan datang kepadaku orang-orang yang aku kenal mereka dan mereka pun mengenalku, tetapi kemudian dihalangi antara aku dan mereka. Lalu kukatakan, 'Sungguh, mereka itu termasuk umatku.' Namun dikatakan, 'Sungguh, engkau tidak tahu apa yang mereka ubah (dari syariat) sepeninggalmu.' Aku katakan, 'Menjauhlah, menjauhlah, bagi orang yang mengubah-ubah (syariat) sepeninggalku.'"[108] [108] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (9/46 no. 7050) dan Muslim (4/1793-1795 no. 2290-2291). Lafal hadis ini dari Bukhari.
- ......................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan saling mengingatkan dengan jemaah masjid tentang kedudukan dan keutamaan Nabi ﷺ yang Allah karuniakan kepada beliau, serta menyampaikan bahwa orang yang mencela beliau akan berujung pada kebinasaan. Juga mengingatkan bahwa manusia itu bila mencintai seseorang maka mereka akan mengikutinya, bahkan syarat mencintai ialah mengikuti. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Āli 'Imrān: 31)
- .....................................................
SURAH AL-KĀFIRŪN
Pendahuluan
Prakata Motivasi Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pelajar tentang nama-nama surah ini.
2- Kisah turunnya surah Al-Kāfirūn.
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Al-Kāfirūn turun?
Surah Al-Kāfirūn turun di Makkah menurut pendapat mayoritas ulama.[109] [109] An-Nukat wal-'Uyūn (6/357), Zādul-Masīr (4/499), dan Al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/224).
2- Apa sebab turunnya surah Al-Kāfirūn?
Surah Al-Kāfirūn turun mengenai beberapa orang Quraisy yang menawarkan kepada Nabi ﷺ agar mereka menyembah Tuhannya selama satu tahun, lalu beliau akan menyembah tuhan-tuhan mereka setahun berikutnya. Dengan sebab ini, Allah menurunkan surah ini.[110] [110] Al-Kasyf wal-Bayān (10/315), Asbāb an-Nuzūl karya al-Wāḥidiy (hal. 467), dan al-Muḥarrar al-Wajīz (5/531).
3- Apa saja nama surah ini?
Surah Al-Kāfirūn, surah Qul Yā Ayyuhal-Kāfirūn,[111] surah Al-Muqasyqisyah,[112] surah Al-Ikhlāṣ,[113] surah Al-'Ibādah,[114] surah Al-Munābiżah,[115] dan surah Ad-Dīn.[116] [111] Ṣaḥīḥ Bukhari (6/178), Kitāb Tafsīr Al-Qur`ān, Bāb Waman Ya'mal Miṡqāla Żarratin Syarran Yarah. [112] Al-Kasysyāf (4/808), Mafātīḥ al-Gaib (32/323), dan ad-Durr al-Manṡūr (8/655). [113] Tafsir as-Sam'āniy (6/303), Mafātīḥ al-Gaib (32/323), dan at-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/579). [114] At-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/579) dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 616). [115] Mafātīḥ al-Gaib (32/323), Garā`ib Al-Qur`ān wa Ragā`ib al-Furqān (6/581), dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 617). [116] Baṣā`ir Żawit-Tamyīz (1/548), at-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/579), dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 617).
4- Apa keutamaan surah Al-Kāfirūn?
Tirmizi meriwayatkan dari Farwah bin Naufal -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa dia pernah datang menemui Nabi ﷺ seraya berkata, "Wahai Rasulullah! Ajarkan kepadaku sesuatu yang aku baca ketika datang ke tempat tidurku." Beliau bersabda, "Bacalah surah Qul Yā Ayyuhal-Kāfirūn, sesungguhnya ia adalah bentuk berlepas diri dari kesyirikan."[117] [117] HR. Tirmizi dalam Sunan-nya (5/345 no. 3403), Nasai dalam al-Kubrā (9/295 no. 10569), dan lainnya, serta dihasankan oleh al-Albāniy dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi' (1/115 no. 288).
5- Apa tema pembahasan surah Al-Kāfirūn?
Surah ini menitikberatkan pada penguatan tauhid ibadah, pelepasan diri dari kesyirikan dan pelakunya, dan kewajiban berbeda total antara kesyirikan dan keimanan, sebab bagaimana mungkin seorang mukmin menyepakati orang-orang musyrik di sebagian perkataan dan perbuatannya?!
Majelis Ke-20: Al-Walā` dan Al-Barā` serta Merasa Mulia dengan Agama
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Katakanlah (Muhammad), "Wahai orang-orang kafir! (2) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. (3) Sebaliknya, kamu bukan penyembah apa yang aku sembah. (4) Aku pun tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. (5) Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. (6) Untukmu agamamu dan untukku agamaku." (QS. Al-Kāfirūn: 1-6)
Tafsir
Ayat 1: Katakan -wahai Rasul-, “Wahai orang-orang yang kafir kepada Allah!
Ayat 2: Aku tidak akan menyembah, baik saat ini maupun di waktu yang akan datang, berhala-berhala yang kalian sembah.
Ayat 3: Kalian pun tidak menyembah Tuhan yang aku sembah, yaitu Allah semata.
Ayat 4: Aku tidak menyembah berhala-berhala yang kalian sembah.
Ayat 5: Kalian pun tidak menyembah Tuhan yang aku sembah, yaitu Allah semata.
Ayat 6: Bagi kalian agama kalian yang telah kalian buat untuk diri kalian sendiri dan bagiku agamaku yang diturunkan Allah kepadaku."[118] [118] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 603).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mendiktekan kepada Nabi-Nya jawaban terhadap pelaku kesyirikan. Ini menunjukkan bahwa Kitab Allah juga berisikan bantahan terhadap orang-orang yang menyelisihi kebenaran.
"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai orang-orang kafir!'"
Kita berjuang keras untuk mengukuhkan kebenaran dan membantah lawan-lawannya dengan menggunakan hujah-hujah Al-Qur`ān karena hujan Al-Qur`ān lebih jelas dan lebih faktual.
2- Menyatakan keberlepasan dari kesyirikan dan pelakunya adalah perintah syariat.
"Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah."
Kita berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya secara totalitas.
3- Waspada terhadap janji-janji orang kafir dan penawaran mereka kepada umat Islam sebab mereka akan bertindak mengikuti arahan agama mereka yang batil.
"Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah."
Kita tidak menerima penawaran yang mempertaruhkan agama dan akidah kita, melainkan kita pegang teguh agama kita yang benar.
4- Pengumuman terpisahnya antara agama Islam dengan agama-agama syirik adalah cara untuk melindungi Islam dari distorsi dan penyelewengan.
"Untukmu agamamu dan untukku agamaku."
Kita menolak slogan penyatuan agama karena merupakan ajakan yang batil secara agama dan tidak mungkin secara logika dan fakta.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan memberikan peringatan terhadap orang-orang kafir dan mengajak berlepas diri dari mereka hingga mereka masuk agama Islam, karena Islam adalah agama Allah yang Dia ridai bagi hamba-hamba-Nya. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Siapa yang mencari agama selain Islam, sekali-kali (agamanya) itu tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Āli 'Imrān: 85)
- .....................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan saling mengingatkan dengan saudara-saudara saya tentang bahaya tipu daya orang kafir terhadap masyarakat kita serta upaya mereka untuk memalingkan kita dari agama kita dengan berbagai sarana. Kami juga saling berpesan untuk konsisten di atas agama ini dan berusaha mengingatkan seluruh umat Islam dari bahaya orang-orang yang membuat makar terhadap Islam dan pemeluknya dengan merancukan Islam serta menyebarkan kesesatan dan kekafirannya di tengah-tengah umat Islam.
- .....................................................
SURAH AN-NAṢR
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pembelajar tentang nama-nama surah ini.
2- Waktu turunnya surah An-Naṣr.
Pengenalan Surah
1- Di mana surah An-Naṣr turun?
Surah An-Naṣr turun di Madinah berdasarkan ijmak ulama.[119] [119] Al-Muḥarrar al-Wajīz (5/532), Zādul-Masīr (4/501), dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/229).
2- Apa saja nama surah ini?
- Surah An-Naṣr.
- Surah Iżā Jā`a Naṣrullāh.[120] [120] Ṣaḥīḥ Bukhari (6/178), Kitāb Tafsīr Al-Qur`ān, Bāb Waman Ya'mal Miṡqāla Żarratin Syarran Yarah.
- Surah At-Taudī' (Perpisahan).[121] [121] An-Nukat wal-'Uyūn (6/362), Mafātīḥ al-Gaib (32/939), dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/229).
- Surah Al-Fatḥ.[122] [122] Sunan Tirmizi (5/450 no. 3362), Bāb Wamin Sūratil-Fatḥ, at-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/587), dan Asmā Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 622).
3- Apa tema pembahasan surah An-Naṣr?
Surah An-Naṣr berisikan janji Allah -Ta'ālā- kepada Rasul-Nya ﷺ berupa kemenangan dan kekuasaan serta apa yang sepatutnya dilakukan seorang hamba ketika mendapatkan hal itu.
Majelis 21: Kewajiban Kita Tatkala Menang
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, (2) dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah, (3) maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat. (QS. An-Naṣr: 1-3)
Tafsir
Ayat 1: Wahai Rasul! Jika pertolongan dan pemenangan Allah untuk agamamu telah tiba dan penaklukan Kota Makkah telah terwujud.
Ayat 2: Dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Islam secara berbondong-bondong.
Ayat 3: Maka ketahuilah bahwa itu adalah tanda tugas yang dibebankan kepadamu segera berakhir. Sebab itu, bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebagai bentuk syukur kepada-Nya atas nikmat pertolongan dan kemenangan. Mohonlah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat, yang menerima tobat hamba-Nya dan mengampuni mereka.[123] [123] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 603).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Kemenangan tidak datang kecuali dari sisi Allah, di waktu yang Dia kehendaki dan tentukan, karena kemenangan hanya di tangan Allah semata.
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan."
Kita berupaya melakukan sebab-sebab kemenangan demi mendapatkannya sebab Allah menggantungkan kemenangan dengan sebab-sebabnya.
2- Kemenangan dan kekuasaan tidak akan diberikan kecuali untuk agama Allah. Oleh karena itu, manusia akan terus-menerus masuk ke dalam agama Allah walaupun orang kafir tidak suka.
"Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah."
- Kita bersungguh-sungguh merealisasikan Islam dalam kehidupan kita, baik ucapan maupun perbuatan, supaya ia tampak kepada manusia menurut hakikatnya yang cerah.
- Kita berupaya mendakwahi manusia
untuk masuk ke dalam agama yang agung ini.
3- Setiap kali seorang hamba melakukan ketaatan serta semakin dekat ia dari ajalnya, maka yang disyariatkan baginya ialah beristigfar (memohon ampun) dan memperbarui tobat untuk menambal kekurangannya.
"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat."
- Kita membalas nikmat Allah dengan syukur yaitu bertasbih dan bertahmid, serta terus-menerus bersitigfar di semua urusan kita.
- Kita menutup setiap ketaatan dengan pujian kepada Allah dan istigfar atas kelalaian dan ketidaksempurnaan.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan mengorbankan semua yang berharga demi membela agama Allah; Nabi ﷺ dan para sahabatnya telah mempertaruhkan nyawa mereka demi sampainya agama ini ke kita. Sungguh, bila kita menolong agama Allah, Allah -Ta'ālā- pasti menolong kita, sebagaimana yang telah Allah janjikan dalam firman-Nya, "Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)
- ...................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan saling mengingatkan dengan saudara, keluarga, dan kerabat saya untuk melakukan perubahan dari diri kami serta berpegang kuat pada Kitab Allah dan Sunnah Nabi; siapa yang berbuat maksiat hendaklah bertobat dan memohon ampun kepada Allah dan siapa yang lalai hendaklah mengintrospeksi dirinya, karena pada yang demikian itu terkandung upaya untuk mendapatkan pertolongan Allah -Ta'ālā- atas musuh-musuh kita. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
- ...................................................
SURAH AL-MASAD
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pembelajar tentang peristiwa-peristiwa yang di dalamnya Nabi ﷺ mengalami rintangan.
2- Kisah turunnya surah Al-Masad.
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Al-Masad turun?
Surah Al-Masad turun di Makkah berdasarkan kesepakatan ulama.[124] [124] Al-Muḥarrar al-Wajīz (5/534), Zādul-Masīr (4/502), dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/234).
2- Apa sebab turunnya surah Al-Masad?
Surah Al-Masad turun karena perbuatan Abu Lahab yang menyakiti Nabi ﷺ tatkala beliau berdakwah secara terbuka.[125] [125] Lihat: al-Kasyf wal-Bayān (10/323), Asbāb an-Nuzūl karya al-Wāḥidiy (hal. 469-470), dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/234-235).
3- Apa saja nama surah ini?
Surah Al-Masad, surah Tabbat,[126] surah Abī Lahab,[127] surah Al-Lahab,[128] dan surah Tabbat Yadā Abī Lahab.[129] [126] Jāmi' al-Bayān (24/673), al-Kasyf wal-Bayān (10/323), dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/234). [127] Mafātīḥ al-Gaib (32/348), Baṣā`ir Żawī at-Tamyīz (1/552), dan Maḥāsin at-Ta`wīl (9/563). [128] Al-Baḥrul-Muḥīṭ (21/515), Tafsīr al-Ījiy (4/541), dan at-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/599). [129] Ṣaḥīḥ Bukhari (6/179), Kitāb Tafsīr Al-Qur`ān, Bāb Qaulihi: "Fasabbiḥ Biḥamdi Rabbika Wa-stagfirhu Innahū Kāna Tawwābā".
4- Apa tema pembahasan surah Al-Masad?
Surah ini berisi ancaman keras terhadap musuh Allah, Abu Lahab, dan setiap orang yang melawan dan memusuhi agama ini sebagai peringatan terhadap pembalasan Allah dengan azab yang pedih, yang tidak dapat ditolak oleh harta yang dikumpulkannya maupun kedudukan yang disandangnya. Juga sebagai peringatan bahwa penundaan Allah kepada orang-orang yang membangkang hanyalah bentuk "pembiaran" sehingga mereka tambah melampaui batas supaya bertambah siksa Allah kepada mereka di akhirat.
Majelis Ke-21: Hukuman terhadap Orang yang Menghalangi Agama Allah -Ta'ālā-
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar dia binasa! (2) Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. (3) Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). (4) Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). (5) Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal. (QS. Al-Masad: 1-5)
Tafsir
Ayat 1: Telah merugi kedua tangan Abu Lahab bin Abdul-Muṭṭalib karena kerugian perbuatannya sebab ia menyakiti Nabi ﷺ.
Ayat 2: Apa faedah harta dan anaknya baginya? Keduanya tidak bisa mencegah siksa dari dirinya dan tidak pula mendatangkan rahmat untuknya.
Ayat 3: Kelak hari Kiamat ia akan masuk ke neraka yang apinya bergejolak, ia akan merasakan panasnya.
Ayat 4: Juga istrinya, Ummu Jamil, yang telah menyakiti Nabi ﷺ dengan menabur duri di jalan beliau.
Ayat 5: Di lehernya terdapat tali yang kuat ikatannya, dengannya ia digiring menuju neraka.[130] [130] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 603)
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Ancaman kebinasaan bagi orang yang memusuhi Rasulullah dan dakwah beliau.
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan ia benar-benar binasa!"
Kita waspada jangan sampai menyelisihi Nabi ﷺ, serta kita mengingatkan masyarakat dari para pengusung westernisasi yang mengajak meninggalkan Sunnah beliau ﷺ.
2- Tidak ada nilai harta dan nasab di sisi Allah karena sebenarnya yang menjadi tolok ukur kemuliaan ialah keimanan dan sikap mengikuti Nabi ﷺ.
"Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan."
Kita bersungguh-sungguh untuk beriman dan bertakwa karena keduanyalah merupakan barometer kesuksesan dan keberuntungan.
3- Teman yang buruk memiliki keburukan besar, yaitu keduanya bekerjasama dalam dosa dan kezaliman sehingga Allah menjerumuskan keduanya dalam neraka.
"Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal."
- Kita percaya bahwa Abu Lahab dan istrinya di neraka sebagai balasan penolakan mereka terhadap agama Allah serta pengingkaran dan gangguan mereka kepada Nabi ﷺ. Kita juga meyakini bahwa hal ini menjadi balasan bagi siapa pun yang melakukan seperti kelakuan mereka berdua.
- Kita bersungguh-sungguh mencari teman saleh nan baik yang akan mengingatkan kepada Allah -Ta'ālā- serta membantu taat kepada-Nya.
4- Menyakiti Nabi ﷺ akan mendatangkan siksa Allah. Bentuk menyakiti beliau yang paling besar ialah menghalangi Sunnah beliau. Siapa yang menghalangi orang lain dari Sunnah beliau, maka ia telah mengantarkan dirinya pada siksa Allah.
"Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal."
Kita berupaya sungguh-sungguh untuk mengikuti Sunnah beliau ﷺ serta menjadikannya dicintai oleh manusia sembari berhati-hati jangan sampai menghalangi orang darinya.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan meningkatkan hubungan dan keyakinan saya dengan Allah dan saya meyakini bahwa siapa saja yang memusuhi umat Islam pasti rugi dan binasa. Saya tidak akan putus asa dari rahmat Allah karena agama Allah pasti akan tersebar dan akan menang. Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh, agama ini pasti sampai ke semua tempat yang dilalui oleh siang dan malam. Allah tidak akan menyisakan sebuah rumah di kota maupun pedesaan kecuali Allah masukkan padanya agama ini dengan kemuliaan orang yang mulia ataupun kehinaan orang yang hina; kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan pemeluknya, dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekafiran.[131] [131] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (28/154 no. 16957), al-Baihaqiy dalam al-Kubrā (9/305 no. 18619), dan lainnya, serta disahihkan oleh al-Albāniy dalam as-Silsilah aṣ-Ṣaḥīḥah (1/32 no. 3).
- .....................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan saling mengingatkan dengan saudara-saudara saya tentang sebab hukuman yang Allah turunkan kepada Abu Lahab dan istrinya itu, karena di dalamnya terkandung pelajaran dan peringatan bagi jiwa. Sungguh, ketetapan Allah kekal bagi orang-orang yang mendustakan agama-Nya. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, orang yang membencimu itu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. Al-Kauṡar: 3) Bila seperti ini akhir dari orang yang membenci Nabi ﷺ, lalu bagaimana dengan orang yang menyakiti jasad mulia beliau!?
- .....................................................
SURAH AL-IKHLĀṢ
Pendahuluan
Prakata Motivasi Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pembelajar tentang keutamaan-keutamaan surah ini.
2- Kisah turunnya surah Al-Ikhlāṣ.
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Al-Ikhlāṣ turun?
Surah Al-Ikhlāṣ turun di Makkah menurut salah satu pendapat ahli tafsir.[132] [32] An-Nukat wal-'Uyūn (6/369), al-Muḥarrar al-Wajīz (5/536), dan Zādul-Masīr (4/505).
2- Apa sebab turunnya surah Al-Ikhlāṣ?
Ahmad dan Tirmizi meriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Nabi ﷺ, "Wahai Muhammad! Sebutkan kepada kami nasab Tuhanmu." Maka Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- menurunkan: "Katakanlah, 'Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah (Tuhan) yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia'." (QS. Al-Ikhlāṣ: 1-4)[133] [133] HR. Tirmizi dalam Sunan-nya (5/308 no. 3364), Ahmad dalam Musnad-nya (35/143 no. 21219), dan lainnya, serta dihasankan oleh al-Albāniy dalam Ṣaḥīḥ wa Ḍa'īf Sunan at-Tirmiżiy (7/364 no. 3364).
3- Apa saja nama surah ini?
Surah Al-Ikhlāṣ, surah Qul Huwallāhu Aḥad,[134] surah Al-Asās,[135] surah At-Tauḥīd,[136] dan surah Aṣ-Ṣamad,[137]. Ar-Rāziy telah menyusun satu pasal khusus nama-nama surah Al-Ikhlāṣ dan dia menyebutkan 20 nama.[138] [134] Ṣaḥīḥ Bukhari (6/180], Kitāb Tafsīr Al-Qur`ān, Bāb Qaulihi: Wa-mra'atuhū Ḥammālatal-ḥaṭab. [135] Al-Kasysyāf (4/819), Mafātīḥ al-Gaib (32/357), dan al-Lubāb fī 'Ulūmil-Kitāb (20/567). [136] Mafātīḥ al-Gaib (32/357), al-Lubāb fī 'Ulūmil-Kitāb (6/369), dan as-Sirāj al-Munīr karya asy-Syarbīniy (4/611). [137] Mafātīḥ al-Gaib (32/357), as-Sirāj al-Munīr karya asy-Syarbīniy (4/611), dan Rūḥul-Ma'ānī (15/503). [138] Lihat: Mafātīḥ al-Gaib (32/357-358) dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 628-634).
4- Apa keutamaan surah Al-Ikhlāṣ?
Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwasanya Nabi ﷺ ketika pergi ke tempat tidurnya di setiap malam, beliau merapatkan kedua telapak tangannya kemudian meniupnya (disertai percikan ludah) seraya membaca surah Qul Huwallāhu Aḥad, Qul A'ūżu Birabbil-Falaq, dan Qul A'ūżu Birabbin-Nās, lalu beliau mengusapkan keduanya ke semua yang dapat dijangkau dari tubuhnya, dimulai dari kepala dan mukanya dan bagian depan badannya. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali.[139] [139] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (6/190 no. 5017).
Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Sa'īd al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa seorang laki-laki mendengar seseorang membaca surah Qul Huwallāhu Aḥad dengan mengulang-ulangnya, lalu pada pagi harinya ia datang menemui Rasulullah ﷺ dan menceritakan hal itu, seolah-olah laki-laki itu menganggapnya terlalu sedikit. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya! Sungguh surah itu benar-benar setara sepertiga Al-Qur`ān."[140] [140] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (6/189 no. 5013).
5- Apa tema pembahasan surah Al-Ikhlāṣ?
Surah Al-Ikhlāṣ secara keseluruhan menetapkan keesaan Allah -Ta'ālā-, yaitu bahwa Dia tidak memiliki ayah maupun anak karena Dia tidak membutuhkannya. Dialah Yang Mahaawal dan Mahaakhir. Semua makhluk butuh kepada-Nya, sedangkan Dia sama sekali tidak butuh kepada makhluk-makhluk-Nya. Mahasuci Allah Yang Mahatinggi.
Majelis Ke-23: Keesaan Allah -Ta'ālā- dalam Uluhiyah (Keilahian) dan Hajat Makhluk kepada-Nya
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Esa. (2) Allah adalah (Tuhan) yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu. (3) Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. (4) Tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlās: 1-4)
Tafsir
Ayat 1: Katakan -wahai Rasul-, “Dialah Allah yang esa dalam uluhiyah (keilahian), tiada tuhan yang berhak disembah selain-Nya.
Ayat 2: Dialah Tuhan yang kepada-Nya berakhir sifat-sifat kesempurnaan dan keindahan.
Ayat 3: Yang tidak melahirkan seorang anak pun dan tidak pula dilahirkan oleh seseorang; Allah Yang Mahasuci tidak mempunyai anak dan tidak pula mempunyai bapak.
Ayat 4: Tidak pula ada yang menyamai-Nya di antara makhluk ciptaan-Nya.”[141] [141] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 604).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- tunggal dalam keesaan-Nya. Dia tunggal dalam zat-Nya dan tunggal dalam nama dan sifat-sifat-Nya.
"Katakanlah, 'Dialah Allah Yang Maha Esa.'"
Kita berupaya sungguh-sungguh untuk menauhidkan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, melaksanakan peribadatan kepada-Nya, dan mewaspadai kesyirikan.
2- Allah sajalah tempat bergantung semua makhluk; makhluk semuanya meminta kebutuhan mereka kepada-Nya lalu Dia menunaikannya untuk mereka dan Dia tidak butuh kepada mereka.
"Allah adalah (Tuhan) yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu."
Kita menggantungkan hati kepada Allah-Subḥānahu wa Ta'ālā- saja; Dialah yang kita minta untuk mendapatkan semua kebaikan dan menolak semua keburukan.
3- Allah -Ta'ālā- tidak memiliki anak dan tidak pula bapak; Allah dengan keagungan-Nya yang sempurna tidak membutuhkan itu.
"Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan."
Kita menafikan dari Allah segala kekurangan dan keburukan, karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- Mahasempurna dari semua sisi.
4- Tidak ada yang semisal ataupun yang serupa dengan Allah di antara makhluk-Nya, tidak pada zat-Nya, perbuatan-Nya, dan tidak pula pada nama dan sifat-sifat-Nya.
"Tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia."
Kita menyucikan Allah dari sekutu dan tandingan, dan berusaha sungguh-sungguh untuk memperdalam hal itu dalam jiwa kita.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan mengagungkan dan memuliakan Allah -Ta'ālā- serta mewujudkan tauhid dalam diri saya, sebagaimana yang Allah -Ta'ālā- jelaskan dalam surah ini karena Dia berfirman, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Aż-Żāriyāt: 56) Ibadah itu sendiri tidak akan terealisasi secara sah dan tidak diterima bila ada cacat dalam tauhid pelakunya.
- .....................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan mendorong saudara-saudara saya untuk hadir ke pengajian-pengajian, acara-acara keislaman, dan pesantren-pesantren yang mengajarkan akidah seorang muslim karena agama ini juga berupa akidah sedangkan perbuatan lisan adalah terjemahan akidah dalam hati. Iman itu adalah pengucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati, dan pengamalan dengan anggota badan. Sebab itu, pelajaran akidah termasuk jenis ilmu yang paling agung. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu." (QS. Muḥammad: 19)
- .....................................................
SURAH AL-FALAQ
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pembelajar tentang kisah Nabi ﷺ disihir orang.
2- Kisah turunnya surah Al-Falaq.
Pengenalan Surah
1- Di mana surah Al-Falaq turun?
Surah Al-Falaq turun di Madinah menurut mayoritas ulama.[142] [242] An-Nukat wal-'Uyūn (6/373), al-Muḥarrar al-Wajīz (5/538), dan Zādul-Masīr (4/507).
2- Apa sebab turunnya surah Al-Falaq?
Disebutkan bahwa surah Al-Falaq turun karena Nabi ﷺ disihir, dan beliau dibacakan ruqyah oleh Jibril dengan surah ini.[143] [143] Al-Kasyf wal-Bayān (10/338-339), Asbāb an-Nuzūl karya al-Wāḥidiy (hal. 473), dan Zādul-Masīr (4/507).
3- Apa saja nama surah ini?
Surah Al-Falaq dan surah Qul A'ūżu Birabbil-Falaq.[144] Bersama surah An-Nās ia juga disebut dengan Al-Mu'awwiżatān,[145] Al-Musyaqsyiqatān,[146] dan Al-Muqasyqisyatān.[157] [144] Ṣaḥīḥ Bukhari (6/181), Kitāb Tafsīr Al-Qur`ān, Bāb Qaulihi: Allāhuṣ-Ṣamad. [145] Al-Kasyf wal-Bayān (10/337), an-Nukat wal-'Uyūn (6/373), dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/251). [146] An-Nukat wal-'Uyūn (6/373), al-Kasysyāf (4/824), dan al-Jāmi' li Aḥkāmil-Qur`ān (20/251). [147] At-Taḥrīr wat-Tanwīr (30/623-624) dan Asmā` Suwaril-Qur`ān wa Faḍā`iluhā (hal. 640-641).
3- Apa tema pembahasan surah Al-Falaq?
Surah ini membimbing kita untuk berlindung kepada Allah -Ta'ālā- dari seluruh keburukan. Termasuk keburukan yang paling besar yang seharusnya seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah -Ta'ālā- darinya ialah keburukan hasad, penyakit 'ain, dan sihir.
Majelis Ke-24: Berlindung kepada Allah dari Keburukan
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), (2) dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, (3) dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, (4) dan dari kejahatan para (perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), (5) dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS. Al-Falaq: 1-5)
Tafsir
Ayat 1: Katakanlah -wahai Rasul-, “Aku berlindung dan memohon keamanan kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar).
Ayat 2: Dari kejahatan makhluk-makhluk yang mengganggu.
Ayat 3: Dan aku berlindung kepada Allah dari kejahatan yang muncul pada malam hari, berupa binatang maupun pencuri.
Ayat 4: Dan aku berlindung kepada Allah dari kejahatan para perempuan penyihir yang meniup pada ikatan-ikatan tali.
Ayat 5: Dan aku berlindung kepada Allah dari kejahatan pendengki bila ia berbuat sesuatu atas dorongan dengki.”[148] [148] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 604).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Siapa yang memohon keamanan kepada Tuhannya maka Dia akan menjamin keamanannya, dan siapa yang berlindung kepada-Nya maka Dia akan menjaganya dan mengangkat keburukan yang menimpanya sebagaimana gelap malam diangkat dengan cahaya siang.
"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh.'"
Kita bergantung kepada Allah saja, Tuhan dan Maha Penguasa segala sesuatu, yang mengeluarkan kebaikan dan cahaya dari gelapnya ujian dan kesempitan.
2- Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah pencipta segala sesuatu. Di tangan-Nyalah segala sesuatu sehingga tidak ada sesuatu pun yang memudaratkan maupun memberi manfaat kecuali dengan seizin-Nya.
"Dari kejahatan makhluk-Nya."
Kita berlindung kepada Allah -Ta'ālā- saja dari seluruh keburukan yang tampak dan yang tersembunyi.
3- Gelap diduga kuat sebagai tempat bagi keburukan berupa binatang dan lainnya, demikian pula hati yang gelap dari wahyu diduga sebagai tempat penyebaran keburukan.
"Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita."
- Kita bersungguh-sungguh mengikuti Kitabullah dan Sunnah Nabi kita ﷺ supaya kita selamat dari kegelapan dan keburukan.
- Kita berlindung dengan bacaan Al-Mu'awwiżatān serta membentengi diri dengan zikir untuk melindungi diri dari keburukan pelaku 'ain, sihir, dan hasad.
4- Sihir memiliki wujud nyata yang dilakukan dengan cara-cara kotor. Kalangan paling banyak yang dijerumuskan oleh setan dengan sihir ialah para wanita disebabkan lemahnya akal dan kerasnya tipu dayanya.
"Dan dari kejahatan para (perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya)."
Kita berlindung kepada Allah dari sihir dan tukang sihir serta kita terangkan kepada manusia bahaya mereka terhadap masyarakat.
5- Hasad adalah penyakit besar, kadang terjadi di kalangan orang-orang mulia. Bila terjadi, maka ia berkewajiban menghilangkannya dari orang yang mengalaminya dengan cara mandi dan semisalnya.
"Dan dari kejahatan orang yang hasad (dengki) apabila dia dengki."
Kita harus berhati-hati agar tidak hasad kepada orang lain atas nikmat yang Allah berikan kepada mereka karena nikmat itu berasal dari Allah dan dengan ketetapan-Nya.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya akan bergantung hanya kepada Allah saja dalam meraih semua keinginan dan menolak semua keburukan karena hanya di tangan-Nyalah keburukan dan kebaikan. Nabi ﷺ pernah bersabda kepada Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Ketahuilah bahwa bila suatu umat bersatu untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan bagimu. Pun bila mereka bersatu untuk menimpakan suatu mudarat, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering."[149] [149] HR. Tirmizi dalam Sunan-nya (4/248 no. 2516), Ahmad dalam Musnad-nya (4/410), dan lainnya, serta disahihkan oleh al-Albāniy dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi' (2/1317 no. 7957).
- ................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan saling mengingatkan dengan saudara-saudara saya tentang bahaya hasad dan sihir pada masyarakat dan cara melawan dua fenomena ini serta cara mengantisipasinya. Hal itu lantaran Nabi ﷺ telah melarang hasad seraya bersabda, "Janganlah kalian saling hasad."[150] Selain itu, beliau juga memasukkan sihir sebagai salah satu dari tujuh dosa yang membinasakan.[151] [150] HR. Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya (4/1986 no. 2564). [151] Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan." Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah! Dosa-dosa apakah itu?" Beliau bersabda, "Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah lindungi kecuali dengan alasan benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, menuduh zina wanita beriman yang suci dan menutup diri." HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (4/10 no. 2766) dan Muslim (1/92 no. 89).
- ...............................................
SURAH AN-NĀS
Pendahuluan
Prakata Motivasi
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1- Bertanya kepada para pelajar tentang nama yang menggabungkan surah Al-Falaq dan surah An-Nās.
2- Kisah turunnya surah An-Nās.
Pengenalan Surah
1- Di mana turunnya surah An-Nās?
Surah An-Nās turun di Makkah menurut pendapat mayoritas.[152] [152] Al-Muḥarrar al-Wajīz (5/540) dan Zādul-Masīr (4/510).
2- Apa sebab turunnya surah An-Nās?
Surah An-Nās turun dengan sebab Nabi ﷺ disihir dan beliau dibacakan ruqyah oleh JIbril dengan surah ini.[153] [153] Al-Kasyf wal-Bayān (10/338-339), Asbāb an-Nuzūl karya al-Wāḥidiy (hal. 473), dan Zādul-Masīr (4/507).
3- Dengan apa saja surah ini dinamakan?
Surah An-Nās dan surah Qul A'ūżu bi Rabbin-Nās[154]. Ia juga memiliki nama-nama yang lain bersama surah Al-Falaq, sebagaimana telah disebutkan.[155] [154] Ṣaḥīḥ Bukhari (6/181), Kitāb Tafsīr Al-Qur`ān, Bāb Qaulihi: Allāhuṣ-Ṣamad. [155] Lihatlah lagi nama-nama surah Al-Falaq.
4- Apa keutamaan Al-Mu'awwiżatān?
1) 'Uqbah bin 'Āmir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidakkah engkau melihat beberapa ayat yang diturunkan semalam yang tak ada yang semisal dengannya?! Yaitu Qul A'ūżu bi Rabbil-Falaq dan Qul A'ūżu bi Rabbin-Nās."[156] [256] HR. Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya (1/558 no. 814).
2) Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah ﷺ biasa berlindung dari 'ain jin dan manusia. Ketika Al-Mu'awwiżatān turun, beliau menggunakan keduanya dan meninggalkan doa yang lain.[157] [157] HR. Ibnu Mājah dalam Sunan-nya (4/544 no. 3511), Nasai dalam al-Kubrā (7/224 no. 7877), dan lainnya, serta dinyatakan sahih oleh al-Albāniy dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi' (2/882 no. 4901).
3) Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, "Ketika Rasulullah ﷺ mengalami sakit, beliau membacakan Al-Mu'awwiżāt untuk diri beliau dan meniup (disertai dengan percikan ludah). Ketika sakit beliau semakin parah, akulah yang membacakannya dan aku mengusap menggunakan tangan beliau dengan mengharap keberkahannya."[158] [158] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (6/190 no. 5016) dan Muslim (4/1723 no. 2192).
5- Apa tema pembahasan surah An-Nās?
Surah ini berisi bimbingan Allah -Ta'ālā- bagi kita untuk berlindung kepada-Nya dari kejahatan setan manusia dan jin serta bisikannya. Tujuannya agar seorang hamba berada dalam penjagaan Allah -Ta'ālā- dari kejahatan setan jin beserta pasukannya dari kalangan manusia.
Majelis Ke-25: Perlindungan dari Setan dan Bisikannya
Tilawah
Allah -Ta'ālā- berfirman, (1) Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, (2) Raja manusia, (3) sembahan manusia, (4) dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, (5) yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, (6) dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nās: 1-6)
Tafsir
Ayat 1: Katakanlah -wahai Rasul-, “Aku berlindung kepada Tuhan manusia dan meminta keamanan kepada-Nya."
Ayat 2: Raja manusia yang bertindak pada mereka sekehendak-Nya, tidak ada raja bagi mereka selain-Nya.
Ayat 3: Sesembahan mereka yang benar, tidak ada sesembahan lain yang benar bagi manusia selain Dia.
Ayat 4: Dari kejahatan setan yang melontarkan bisikannya kepada manusia tatkala ia lalai dari zikir kepada Allah dan yang lari dari manusia jika ia mengingat Allah.
Ayat 5: Ia melontarkan bisikannya ke dalam hati manusia.
Ayat 6: Setan itu dari golongan jin, juga dari golongan manusia.[159] [159] Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān (hal. 604).
Tadabur dan Tazkiah
Tadabur
Tazkiah
Apa yang dapat kita pelajari dari surah ini?
Apa ayat yang menunjukkan hal tersebut?
Bagaimana cara kita mengaplikasikan ayat-ayat surah ini?
1- Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah Tuhan seluruh manusia, dan Dia pula penguasa dan sembahan mereka, lalu mengapa berlindung kepada selain-Nya?!
"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia'."
Kita berlindung kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- saja serta menggantungkan hati hanya kepada-Nya semata karena di tangan-Nyalah segala kebaikan dan keburukan.
2- Tipu daya setan itu lemah, ia membisiki manusia manakala manusia itu lalai. Tetapi, bila dia mengingat Allah, setan itu bersembunyi karena ia tidak memiliki kuasa atas hamba-hamba-Nya yang saleh.
"Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi."
Hendaknya kita menyibukkan diri dengan zikir kepada Allah dan menjaga zikir untuk mengusir bisikan setan dari diri kita.
3- Bisikan setan itu terus-menerus dan selalu diperbarui sehingga tidak boleh ada angan-angan ia akan berhenti.
"Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia."
Kita memperbarui doa perlindungan kepada Allah di setiap waktu karena musuh kita selalu mengintai, tidak pernah bosan dan lelah!
4- Keburukan tidak terbatas pada jin. Sebagaimana jin memiliki keburukan, manusia pun memiliki keburukan; sebagaimana jin memiliki setan, manusia pun memiliki setan.
"Dari (golongan) jin dan manusia.”
Kita berlindung kepada Allah dari keburukan para perusak dari kalangan manusia yang menjadi pasukan setan.
Petiklah dari surah ini pelajaran-pelajaran lainnya, serta jelaskan ayat yang menunjukkannya beserta sisi pengaplikasiannya!
√ Bagaimana cara kita mengaplikasikan surah ini setelah mempelajarinya?
Pada diri saya:
- Saya berlindung kepada Tuhan saya supaya memalingkan tipu daya setan dan pasukannya dari saya dan menjaga diri dengan rutin membaca Al-Mu'awwiżatān. Rasulullah ﷺ biasa berlindung dari jin dan mata manusia hingga Al-Mu'awwiżatān (Al-Falaq dan An-Nās) turun; ketika kedua surat itu turun, beliau menggunakan keduanya dan meninggalkan selainnya.[160] [160] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (6/190 no. 5016) dan Muslim (4/1723 no. 2192).
- ...........................................................
Pada masyarakat saya:
- Saya akan berupaya semampuku untuk menjelaskan kepada umat Islam tentang besarnya bahaya setan terhadap mereka, yaitu bahwa setan mengalir pada diri manusia seperti aliran darah dan bahwa peperangan setan dengan manusia terjadi sejak lama dan akan abadi, serta permusuhannya kepada manusia nyata dan terang benderang. Oleh karena itu, Al-Qur`ān mengarahkan kita supaya menjadikannya sebagai musuh. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh." (QS. Fāṭir: 6) Allah -Ta'ālā- juga berfirman, "Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia." (QS. Yūsuf: 5)
- .....................................................