مادة العقيدة الإسلامية

مادة العقيدة الإسلامية

MATERI AKIDAH ISLAM

Language: lang_id
Prepared by: Dr. Abu Zaid bin Muhammad Makkiy
Version: 2.1
Translations 1
Indonesian
Attachments 7
PDF
Audio
Video
+3

MATERI AKIDAH ISLAM

Penulis

Dr. Abu Zaid bin Muhammad Makkiy

Dosen Universitas Ummul-Qurā

Fakultas Dakwah dan Usuludin - Prodi Akidah

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah. Kami senantiasa memuji-Nya, serta memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami juga berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa kami dan keburukan amal kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang akan menyesatkannya. Sebaliknya, siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang akan memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada beliau.

Sesungguhnya nikmat paling besar yang Allah anugerahkan kepada manusia ialah nikmat hidayah kepada Islam dan iman. Dengan nikmat ini, Allah memindahkan kita dari kematian kepada kehidupan; dengan nikmat ini, Allah mengeluarkan kita dari kegelapan kepada cahaya; dan dengan nikmat ini, terwujud kebaikan dunia dan akhirat, kebahagiaan kalbu dan jasmani, serta kebaikan individu dan masyarakat.

Allah Ta'ala berfirman, "Apakah orang yang mati (hatinya) lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah, dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir apa yang mereka kerjakan." [QS. Al-An'ām: 122]

Allah Ta'ala juga berfirman, "Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." [QS. An-Naḥl: 97]

Allah Ta'ala juga berfirman, "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai bagi mereka, dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa..." [QS. An-Nūr: 55]

Sesungguhnya nikmat hidayah iman tidak akan kokoh pada diri seseorang kecuali jika ia mempelajari pokok-pokoknya dari wahyu ilahi dan mengetahui dalil-dalilnya melaluinya, sehingga ia beriman kepada pokok-pokok tersebut tanpa keraguan, mempelajari dalil-dalilnya tanpa mendahului ketetapan-Nya, bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya tanpa syirik, penentangan, atau bidah, serta berpegang teguh pada manhaj Islam dalam menyucikan diri dan masyarakatnya, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-Ḥujurāt: 1]

Sebab itu, dalam buku yang berjudul "Materi Akidah Islam" ini, saya ingin menjelaskan enam rukun iman, pembahasan-pembahasan yang terkandung di bawahnya, serta berbagai masalah yang berkaitan dengannya. Saya menyusunnya dalam empat level agar mudah dipelajari dalam empat semester, seraya berusaha sebisa mungkin untuk menjaga keringkasan dan kemudahan redaksinya. Hanya kepada Allah Ta'ala harapan disandarkan agar buku ini bermanfaat bagi penulis, pengajar, dan pembelajarnya. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.

Rancangan Materi

Materi ini dibagi ke dalam empat level berikut:

Level 1, berisi:

1- Pengantar Studi Akidah

2- Tauhid Rububiyah

Level 2, berisi:

1- Tauhid Uluhiyah

2. Tauhid Asma` dan Sifat

Level 3, berisi:

1- Iman kepada Para Malaikat, Kitab-Kitab, Para Rasul, dan Hari Akhir

2- Iman kepada Qada dan Qadar

Level 4, berisi:

1- Hakikat Keimanan, Hakikat Kekafiran, dan Hukum Pelaku Dosa Besar

2- Persoalan-Persoalan Akidah Lainnya

Saya memohon kepada Allah agar dianugerahi ketepatan dan kebenaran, kemampuan untuk mengikuti Rasulullah ﷺ, keikhlasan, kelurusan tujuan, dan penerimaan, serta menjadikan materi ini bermanfaat dan penuh berkah. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi Muhammad beserta keluarga beliau.

Level 1

PENGANTAR STUDI AKIDAH

DAN TAUHID RUBUBIYAH

Pertama: Pengantar Studi Akidah

Di dalam pasal ini terdapat pembahasan:

1- Pengertian akidah secara bahasa dan istilah serta makna akidah Islam.

2- Makna syariat secara bahasa dan istilah serta perbedaan antara akidah dan syariat.

3- Urgensi akidah Islam

4- Tema-tema pembahasan akidah

5- Keistimewaan akidah Islam

6- Sumber-sumber talaqqi (pengambilan ilmu) dan metode Istidlāl (pendalilan)

7- Makna sunnah, Ahli sunnah waljamaah, dan kriteria utama mereka

8- Makna bidah, ahli bidah, kesesatan, dan sifat-sifat mereka yang menonjol

9- Nama lain ilmu akidah dan kitab-kitab tentangnya

10- Buah positif berpegang teguh pada akidah bagi individu dan masyarakat

1. Pengertian akidah secara bahasa dan istilah serta makna akidah Islam

Secara bahasa, kata akidah itu

berasal dari kata al-'aqd (akad/ikatan), yakni menyatukan ujung-ujung sesuatu dengan kencang dan kuat. Pada asalnya, kata ini digunakan untuk benda-benda fisik seperti tali dan bangunan. Dikatakan: 'aqdu al-ḥabl, yakni ikatan tali, dan 'aqdu al-binā', yakni ikatan bangunan.

Kemudian lafaz ini digunakan untuk hal-hal yang bersifat maknawi saat menguatkannya, seperti: akad sumpah, akad janji, akad jual beli, dan akad nikah.[1]. [1] Lihat: Maqāyīs al-Lugah karya Ibn Fāris, (Hal: 4/86), dan Mufradāt Alfāẓil-Qur`ān karya ar-Rāgib al-Aṣfahāniy, (Hal. 576).

Secara istilah, akidah adalah:

adalah prinsip-prinsip yang diyakini oleh seseorang dengan keyakinan yang mantap dan teguh, seakan-akan ia mengikat hati dan nuraninya dengannya. Karena itu, ia tidak menerima adanya keraguan terhadapnya; ia beragama dengan beriman kepadanya dan tidak berpaling darinya, sebab prinsip-prinsip tersebut telah tertanam kuat dan mengakar kokoh di dalam hatinya.[2] [2] Lihat: Al-Miṣbāḥ al-Munīr, (Hal. 421).

Jadi, makna akidah Islam sama dengan makna iman yang disebutkan dalam hadis Jibril,[3] yaitu berupa aspek gaib dari agama yang berkaitan dengan hati dan berlandaskan pada enam rukun iman, yaitu: beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk. [3] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari, Kitāb al-Īmān, Bāb Su'āl Jibrīl ar-Rasūl ﷺ ‘an al-Īmān wal-Islām wal-Iḥsān, (No. 37) dan Muslim, Kitāb al-Īmān, Bāb Bayān al-Islām wal-Īmān, (No. 1).

Iman juga mencakup pembenaran terhadap berita dari Allah tanpa keraguan dan meyakini untuk mematuhi perintah Allah tanpa dicampuri syirik.

Ia adalah iman kepada berita dan ketundukan kepada perintah.[4] [4] Lihat: Arkān al-Īmān karya Ibnu ‘Uṡaimīn, (Hal. 3-4).

Atas dasar ini maka amalan anggota badan masuk ke dalam akidah dari sisi kewajiban mengimani bahwa amalan tersebut adalah bagian dari agama, kewajiban mengikhlaskan ibadah kepada Allah dengannya, kewajiban melaksanakan yang fardu darinya, dan kewajiban meninggalkan syirik dengan semua jenisnya.[5] [5] Lihat: Waqafāt ma'a 'Aqīdat as-Salaf, karya Dr. Nāṣir al-'Aql, (Hal. 5).

2- Makna syariat secara bahasa dan istilah serta perbedaan antara akidah dan syariat

Asy-Syarī'ah (syariat) secara bahasa

berasal dari kata asy-syar'u, yaitu: jalan yang jelas.[6] [6] Lihat: Mufradāt Alfāẓ Al-Qur`an, karya ar-Rāgib al-Aṣfahānī, (Hal. 450).

Adapun syariat secara istilah adalah:

agama yang disyariatkan dan diperintahkan Allah.[7] Allah Ta'ala berfirman, "Dia (Allah) telah mensyariatkan agama untuk kalian." [QS. Asy-Syūrā: 13]. [7] Lihat: Al-Miṣbāḥ al-Munīr karya al-Fayyūmī, (Hal. 310).

Allah Ta'ala juga berfirman, "Untuk setiap umat di antara kalian, Kami berikan syariat (aturan) dan jalan yang terang." [QS. Al-Mā`idah: 48].

Allah Ta'ala juga berfirman, "Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu." [QS. Al-Jāṡiyah: 18]

Istilah "Syariat Islam" dalam ilmu akidah memiliki dua bentuk pemakaian:

- Pertama: maknanya sama dengan akidah. Ini seperti yang dilakukan oleh al-Ajurriy ketika menulis kitabnya tentang akidah dengan judul "asy-Syari'ah", sebuah kitab yang dikhususkan untuk menguraikan akidah Ahli Sunnah Waljama'ah.[8] [8] Lihat: Mukadimah Muḥaqqiq, Dr. ‘Abdullāh ad-Dumaijiy, untuk kitab asy-Syarī’ah, (Hal. 1/172-173).

- Kedua: makna yang sering dipakai yaitu sama dengan makna Islam yang terdapat dalam hadis Jibril. Jadi, syariat adalah aspek lahiriah dari agama, yang berkaitan dengan amalan anggota badan, dan yang ditegakkan di atas lima rukun Islam, yaitu: syahadat bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, dan haji ke Baitullah.

Agama Islam adalah beribadah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dengan agama penutup lagi menasakh seluruh syariat sebelumnya, yang dibawa oleh Rasul, Muhammad bin Abdullah ﷺ, dari sisi Allah Ta'ala, dalam seluruh aspek kehidupan.

Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah, 'Hanya Allah yang aku sembah dengan memurnikan ibadahku kepada-Nya'." [QS. Az-Zumar: 14]

Kita meyakini bahwa di dalamnya terdapat kebaikan bagi dunia dan akhirat, bagi ruh dan jasad, serta bagi individu dan masyarakat. Kita juga meyakini kewajiban al-walā` (loyalitas) dan al-barā` (keberlepasan diri) di atasnya.

Agama Islam memiliki tiga tingkatan, yaitu: Islam, Iman, dan Ihsan.

Kesimpulan Yang dimaksud dengan akidah adalah dua tingkatan iman dan ihsan, dan yang dimaksud dengan syariat adalah tingkatan Islam.

Pohon agama Islam:

- Dua Kalimat Syahadat

- Zakat

- Salat

- Puasa

- Haji

Islam [syariat] adalah aspek lahiriah yang berkaitan dengan anggota badan, dan kelahiriahannya bersumber dari iman (ihsan dalam Islam).

Iman adalah aspek gaib yang berkaitan dengan hati. Bukti kebenaran keberadaannya (ihsan dalam beriman) tercermin pada

- Iman kepada Allah

- Iman kepada para rasul

- Iman kepada hari akhir

- Iman kepada para malaikat

- Iman kepada kitab-kitab

- Iman kepada qada dan qadar.

Tingkatan agama Islam:

- Ihsan

- Iman

- Islam

3- Urgensi Akidah Islam

Mempelajari akidah islamiah harus dilakukan dengan penuh semangat karena berbagai sebab, di antaranya:

a. Agar keislaman yang sahih terwujud. Jika seseorang mengaku muslim namun ragu akan wujud (keberadaan) Allah atau salah satu rukun iman, maka keislamannya tidak diterima.

Allah Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Muhammad), dan kitab (Al-Qur`an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Siapa yang ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh." [QS. An-Nisā`: 136]

b. Agar amalan saleh bisa diterima. Seandainya ada orang yang salat, puasa, dan melakukan berbagai macam kebaikan, namun ia berada dalam keadaan syirik, maka ketaatannya tidak akan diterima.

Allah Ta'ala berfirman tentang para nabi-Nya, "Itulah petunjuk Allah, dengan itu Dia memberi petunjuk kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Sekiranya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan." [QS. Al-An'ām: 88].

Allah juga berfirman tentang Nabi-Nya, Muhammad ﷺ, "Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, 'Jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi'." [QS. Az-Zumar: 65]

c. Agar istikamah menjadi mudah. Kokohnya iman membuat rasa berpegang teguh pada agama sebagai kenikmatan di dalam dada dan kesenangan dalam kehidupan.

Al-'Abbās bin Abdul Muṭṭalib meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Pasti akan mengecap kenikmatan iman orang yang rida Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya."[9] [9] HR. Muslim, Kitāb al-Īmān, Bāb Man Raḍiya billāhi Rabban wa bil-Islāmi Dīnan wa bi Muḥammadin Rasūlan, (No. 56).

d. Agar mewujudkan sikap pertengahan dalam berpegang teguh pada agama, dan tidak menyimpang bersama golongan yang guluw (berlebihan) atau yang lalai.

Allah Ta'ala berfirman, "Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (lain) yang akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepada kalian agar kalian bertakwa." [QS. Al-An'ām: 153]

e. Agar pengetahuan dan pemahaman tentang diri, kehidupan, dan alam semesta menjadi benar. Rukun-rukun iman akan mengenalkan Anda pada hakikat diri Anda, rahasia keberadaan Anda, hakikat dunia, dan hakikat alam semesta.

Allah Ta'ala berfirman, "Bagaimana kalian ingkar kepada Allah, padahal kalian (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kalian, kemudian Dia mematikan kalian lalu Dia menghidupkan kalian kembali, kemudian kepada-Nyalah kalian dikembalikan. Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kalian kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dia Maha mengetahui segala sesuatu." [QS. Al-Baqarah: 28-29]

f. Agar anggota badan menjadi baik. Kokohnya iman akan memperbaiki anggota badan, mendorong untuk berbuat kebaikan, dan meninggalkan kemungkaran.

An-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas. Di antara keduanya terdapat hal-hal syubhat (samar) yang umumnya manusia tidak mengetahuinya. Siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agamanya dan kehormatannya. Sebaliknya, siapa yang terjatuh dalam perkara syubhat, maka ia akan jatuh dalam perkara yang haram; bagaikan seorang penggembala yang menggembala hewan ternaknya di sekitar kawasan terlarang, besar kemungkinan ia akan masuk dan makan di dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap penguasa mempunyai daerah larangan. Ketahuilah bahwa larangan Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati."[10] [10] Muttafaq 'alaih, HR. Bukhari, Kitāb al-Īmān, Bāb Faḍlu Man Istabra`a li Dīnihī, (No. 52); dan Muslim, Kitāb al-Musāqāh, Bāb Akhżul-Ḥalāl wa Tarkul-Musytabah, (No. 1599).

g. Agar bahagia di dunia. Iman akan memberi kehidupan yang bahagia bagi seorang insan.

Allah Ta'ala berfirman, "Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." [QS. An-Naḥl: 97]

h. Agar memperoleh kemenangan di akhirat berupa surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Allah Ta'ala berfirman, "... kecuali orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dizalimi (dirugikan) sedikit pun, yaitu surga 'Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih kepada hamba-Nya, sekalipun (surga itu) tidak tampak. Sungguh, janji-Nya itu pasti ditepati." [QS. Maryam: 60-61].

Urgensi mempelajari akidah:

a. Agar bisa beragama dengan benar

b. Agar amalan saleh bisa diterima

c. Agar istikamah menjadi mudah

d. Untuk mewujudkan sikap moderat dalam beragama

e. Agar pengetahuan dan persepsi menjadi benar

f. Agar anggota badan menjadi baik

g. Agar bahagia di dunia

h. Agar memperoleh kemenangan di akhirat

4- Tema-tema pembahasan akidah

Tema-tema bahasan akidah berkisar pada rukun iman yang enam, hal-hal yang tercakup di dalamnya dan yang berkaitan dengannya, serta apa yang membedakan akidah Ahli Sunah Waljamaah dari akidah sekte-sekte sesat.

Pokok-pokok utama tema pembahasan akidah:

- Pertama: Iman kepada Allah Di dalamnya dipelajari tentang iman pada keberadaan-Nya, keesaan-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, serta nama-nama dan sifat-Nya.

Di dalamnya juga dipelajari rukun-rukun peribadatan kepada Allah, syarat-syaratnya, pembatal-pembatalnya, dan semisalnya.

- Kedua: Iman kepada para malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, dan iman kepada qada dan qadar.

- Ketiga: Sumber-sumber pengambilan akidah, tata cara penerimaan informasi dan ilmu, dan pelaksanaan perintah Di dalamnya dikaji metode Ahli Sunnah Waljamaah dalam berdalil atas masalah-masalah akidah.

- Keempat: Penjelasan hakikat iman dan kufur menurut Ahli Sunnah Waljamaah, dan hukum pelaku dosa besar.

- Kelima: Penjelasan sikap moderat Ahli Sunnah Waljamaah di antara berbagai kelompok.

- Keenam: Cinta kepada para sahabat dan ahli bait, walā` dan barā`, serta permasalahan yang berkaitan dengan imamah dan khilafah.

- Ketujuh: Akhlak-akhlak islami yang menunjukkan ketulusan iman dan kebaikan Islam seseorang, seperti: mencintai kaum mukminin, menghormati mereka, memberikan loyalitas kepada mereka, menahan diri dari menyakiti mereka, memerintahkan kepada yang makruf, melarang dari yang mungkar, dan yang semisalnya.

Inilah tema-tema paling menonjol yang dipelajari dalam materi akidah.

5- Keistimewaan Akidah Islam

a. Tauhid

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Ketika aku bersama Rasulullah ﷺ, terdengarlah seseorang membaca: 'Qul huwallāhu aḥad. Allāhuṣ-Ṣamad. Lam yalid wa lam yūlad. Wa lam yakul-lahū kufuwan aḥad.' Rasulullah ﷺ lalu bersabda, 'Telah wajib.' Aku lantas bertanya, 'Apa itu, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Surga.'"[11] [11] HR. An-Nasa`i, (No. 994), Kitāb al-Iftitāḥ, Bāb al-Faḍl fī Qirā`ati "Qul huwallāhu aḥad."

b. Bersifat Tauqīfiy (Berdasarkan Nas)

Allah Ta'ala berfirman, "Pada hari ini, telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu." [QS. Al-Mā`idah: 3]

Nabi ﷺ juga bersabda, "Siapa yang membuat perkara baru dalam agama kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak."[12] [12] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari dalam Kitāb aṣ-Ṣulḥ, Bāb Iżā Iṣṭalaḥū 'alā Jaurin, (No. 2697) dan Muslim dalam Kitāb al-Aqḍiyah, Bāb Naqḍil-Aḥkām al-Bāṭilah wa Raddi Muḥdaṡātil-Umūr, (No. 1718).

c. Kesesuaian dengan fitrah dan akal serta tidak kontradiksi

Allah Ta'ala berfirman, "Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)." [QS. Aṭ-Ṭūr: 36-37]

c. Ia didasarkan pada bukti

"(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar, menghalalkan segala yang baik bagi mereka, mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." [QS. Al-A'rāf: 157]

d. Komprehensif (Lengkap) Dia menjelaskan akidah tentang Allah, alam semesta, manusia, dunia, dan akhirat. "Demi masa. "Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." [QS. Al-'Aṣr: 1-3]

e. Al-Wasaṭiyyah (Moderat) Dia adalah akidah yang benar, jauh dari keyakinan-keyakinan yang bersifat ekstrem, baik dalam sikap berlebihan (ifrāṭ) maupun meremehkan (tafrīṭ). Allah Ta'ala berfirman, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

6- Sumber-sumber talaqqi (pengambilan ilmu) dan metode Istidlāl (pendalilan)

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Nikmat iman adalah nikmat paling besar yang diberikan Allah kepada seorang manusia.

"Allah dan Rasul-Nya" adalah dua sumber pengambilan agama.

"Jangan mengedepankan", yakni jangan mendahului atau mengabaikan manhaj pengambilan ilmu dari Allah dan Rasul-Nya.

"Bertakwalah kepada Allah" adalah metode pelaksanaan perintah dari Allah dan Rasul-Nya.

"Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" adalah manhaj tazkiyah (penyucian diri).

Cara penerimaan ilmu dan informasi dari Allah:

- Cara Pertama: Mengimani ilmu yang sahih, yaitu Al-Qur'an dan hadis-hadis Rasulullah ﷺ yang sahih.

Uraian: Baik itu hadis mutawatir maupun ahad. Kebenarannya harus dipastikan dari sisi sanad dan matan. Hadis yang mauḍū' (palsu) maupun yang ḍa'īf (lemah) tidak bisa diterima.

Dalam mempelajari akidah, mereka berpatokan pada Al-Qur`an dan hadis yang valid dari Rasulullah ﷺ, serta menerima hadis āḥād sebagai sumber dalam mengambil ilmu agama.

- Cara Kedua: Memahami wahyu ilahi secara sahih, yaitu berlandaskan pemahaman para salaf saleh dari kalangan para sahabat dan para imam dari generasi-generasi yang utama.

Uraian: Memahami Al-Qur`an dan Sunnah lewat pemahaman para pendahulu umat ini merupakan standar pemahaman yang benar, sehingga mereka tidak memahaminya dengan pemahaman yang menyelisihi pemahaman para salaf.

Para salaf adalah para sahabat dan para imam dari generasi abad terbaik. Mereka berpegang pada pemahaman para salaf dalam memahami nas-nas agama.

-Cara Ketiga: Menyikapi wahyu ilahi dengan pandangan yang benar.

Uraian: Sebagaimana wahyu ilahi itu berisi berbagai pembahasan, ia juga berisi dalil-dalil. Sebab itu, setiap permasalahan akidah yang membutuhkan dalil-dalil logis akan disebutkan beriringan dengannya.

Demikian pula, tidak mungkin terjadi pertentangan antara permasalahan-permasalahan akidah dengan akal yang sehat. Mereka berpandangan bahwa banyak perkara yang ditunjukkan oleh syariat dapat dipahami dengan akal dan fitrah yang lurus, hanya saja keduanya bukanlah dua sumber yang berdiri sendiri, melainkan keduanya mengikuti wahyu.

- Cara Keempat: Keimanan yang tanpa diiringi keraguan.

Uraian: Keimanan ini harus didahulukan dari: 1- Logika, ilmu pengetahuan, peradaban, dan hawa nafsu.

2- Rasa-rasa subjektif, pengalaman-pengalaman batin, serta perkataan manusia.

3- Adat, politik, dan aturan.

Wahyu tidak boleh diukur dengan ilmu kalam, manhaj kebatinan, penerawangan, dan tidak juga dengan pemikiran barat kontemporer.

- Cara Kelima: Tidak berbuat ilhad (penyimpangan).

Uraian: Penyimpangan tersebut bisa terjadi dengan cara: 1- Penyelewengan nas, 2- Prasangka-prasangka yang rusak.

Cara merespon perintah ilahi:

-Cara Pertama: Mengamalkan dalil yang sahih dari Al-Qur'an atau Sunnah yang sahih dari Rasulullah ﷺ.

Uraian: Maksudnya wahyu yang sahih, baik yang mutawatir maupun ahad. Kesahihan suatu hadis harus dipastikan dari sisi sanad dan matan. Hadis yang mauḍū' (palsu) maupun yang ḍa'īf (lemah) tidak bisa diterima.

-Cara Kedua: Memahami wahyu secara benar berdasarkan pemahaman para salaf saleh, yaitu para sahabat dan para imam dari generasi-generasi utama.

Uraian: Pemahaman yang benar adalah melalui Al-Qur`an dan Sunnah, dan melalui pemahaman para pendahulu umat ini. Inilah standar-standar pemahaman mereka yang benar, sehingga mereka tidak memahaminya dengan pemahaman yang menyelisihi pemahaman para pendahulu umat ini.

- Cara Ketiga: Menyikapi perintah ilahi dengan benar, dan menjadikannya sebagai tolok ukur, bukan yang diukur oleh budaya maupun pendapat.

Uraian: Inilah yang mewujudkan kemaslahatan: kemaslahatan bagi jasad dan kalbu, kemaslahatan dunia dan akhirat, serta kemaslahatan individu dan masyarakat.

Ia selaras dengan fitrah yang sehat dan akal yang jernih. Apa pun hikmahnya yang tersembunyi dari kita, kita tetap meyakini kebenarannya.

- Cara Keempat: Tidak melakukan penentangan.

Uraian: Tidak mempertentangkan wahyu dengan: 1- Takdir.

2- Kemaslahatan semu atau syahwat yang haram, hawa nafsu, logika, dan peradaban-peradaban yang ada.

3- Aturan, kebijakan, dan adat istiadat.

- Cara Kelima: Tidak melakukan kesyirikan

Uraian: Tidak melakukan kesyirikan dengan cara: 1. Tidak berbuat syirik dalam salah satu jenis tauhid.

2- Beribadah dengan ikhlas untuk mengharapkan rida Allah, disertai rasa cinta, takut, dan harapan.

- Cara Keenam: Tidak melakukan bidah.

Uraian: Kita tidak mengubah apa pun dalam ibadah, baik terkait waktu dan tempatnya, jumlah dan kadarnya, maupun jenis dan tata caranya.

7- Makna Sunnah dan Ahlussunah, serta sifat-sifat utama mereka.

Sunnah adalah:

mengikuti Nabi ﷺ dalam ibadah dan akidah, tanpa penambahan ataupun pengurangan.

Juga bisa dimaknai: petunjuk Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya yang mulia -raḍiyallāhu 'anhum- dalam akidah, ibadah, dan muamalah.

Juga bisa bermakna: Islam murni yang bersih dari bidah.

Ahli Sunnah Waljamaah adalah:

golongan yang bersepakat untuk mengambil Sunnah Nabi ﷺ dalam akidah, ibadah, dan muamalah.

Sifat-sifat utama mereka:

- Mengambil apa yang terdapat dalam Al-Qur`an dan Sunnah, dan mendahulukan keduanya atas logika, hawa nafsu, perasaan, gejolak batin, politik, tradisi, dan adat-istiadat.

- Meninggalkan bidah dalam akidah atau ibadah, bahkan menjadikan keduanya bersumber hanya pada apa yang ditetapkan syariat, serta berpegang teguh pada dalil-dalil yang muhkam (jelas) dan mengembalikan yang mutasyābih (samar) kepada yang muhkam (jelas).

8- Makna Bidah, Ahli Bidah, dan Sifat-Sifat Utama Mereka

Bidah adalah:

semua amalan ibadah yang tidak ada bersumber dari Kitab dan sunnah.

Bisa juga bermakna: metode dalam urusan agama yang dibuat-buat yang menyerupai syariat, yang tujuan pengerjaannya adalah bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.[13] [13] Lihat: Al-I’tiṣām karya asy-Syāṭibiy, (Hal. 371).

Dari definisi ini, dapat dipahami bahwa bidah:

terkhusus dalam perkara agama, bukan dunia, yang tidak diperintahkan oleh Rasul ﷺ, tidak pula dianjurkan oleh para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum-, dan tidak disepakati oleh empat khalifah.

Ahli bidah dan kesesatan adalah: orang-orang yang bersatu dalam bidah, memperindahnya bagi manusia, dan membelanya, yaitu bidah yang telah masyhur di kalangan salaf sebagai perkara yang diada-adakan.

Sifat-sifat mereka yang paling menonjol adalah:

- Mendahulukan logika di atas dalil.

- Meninggalkan yang muhkam (jelas) dan mengikuti yang mutasyābih (samar).

- Meremehkan nas-nas Al-Qur`an dan Sunnah.

9. Nama-Nama Lain Ilmu Akidah dan Kitab-Kitab yang Menggunakan Nama-Nama Tersebut

Ringkasan Istilah dan Kitab Akidah

1- Ilmu Akidah (al-'Aqīdah/al-I'tiqād)

Catatan: Di sini, dia sebagai disiplin yang dibedakan dari ilmu syariat.

Beberapa kitab dengan sebutan "akidah":

• Syarḥu Uṣūl I'tiqād Ahlis-Sunnah wal-Jamā'ah, karya Hibatullāh al-Lālakā`iy (w. 418 H).

• 'Aqīdah as-Salaf wa Aṣḥābil-Ḥadīṡ, karya Abī 'Uṡmān aṣ-Ṣābūniy (w. 449H).

• Al-Ḥujjah fī Bayān al-Maḥajjah wa Syarḥ 'Aqīdah Ahl as-Sunnah karya al-Aṣbahāniy (w. 535 H).

• Al-'Aqīdah al-Wāsiṭiyah / at-Tadmuriyyah / al-Ḥamawiyyah, karya Ibnu Taimiyah (w. 728 H).

2- Iman (al-Īmān)

Catatan: Dalam makna khususnya yang berkaitan dengan Islam.

Di antara kitab-kitab dengan sebutan "iman" ini:

• Kitāb al-Īmān, karya Abu ‘Ubaid al-Qāsim bin Sallām (w. 224 H).

• Kitāb al-Īmān, karya Abu Bakar bin Abi Syaibah (w.235 H).

• Kitāb al-Īmān, karya Ahmad bin Hanbal (w. 241 H).

• Kitāb al-Īmān, karya Ibnu Mandah (w. 395 H).

3- Al-Fiqh al-Akbar

Catatan: Di sini, dia sebagai disiplin yang dibedakan dari fikih furuk.

Di antara kitab-kitab dengan sebutan "al-fiqh al-akbar" ini:

• al-Fiqh al-Akbar, karya Abu Hanifah (w. 150H).

4- Sunnah (as-Sunnah)

Catatan: Di antara maknanya adalah lawan dari bidah.

Beberapa kitab dengan sebutan "Sunnah" ini:

• As-Sunnah karya Ibnu Abi Syaibah.

• As-Sunnah, karya Imam Aḥmad.

• As-Sunnah, karya al-Ašram (w. 273 H).

• As-Sunnah, karya Ibnu Abī 'Āṣim (w. 287H).

• Bayān as-Sunnah wa al-Jamā'ah (Aqidah aṭ-Ṭaḥāwiyyah) (w. 321 H).

5- Tauhid (at-Tauḥīd)

Catatan: Ini termasuk penamaan sesuatu dengan bagiannya yang paling mulia.

Di antara kitab-kitab dengan sebutan "tauhid" ini:

• Kitab at-Tauḥīd, karya Ibnu Khuzaimah (w. 311 H).

• At-Tauḥīd, karya Ibnu Mandah (w. 395 H).

• Tajrīd at-Tauhīd al-Mufīd, karya al-Maqrīziy (w. 845 H).

• Kitāb at-Tauḥīd, karya Muhammad bin ‘Abd al-Wahhāb (w. 1206 H).

6- Syariat (asy-Syarī'ah)

Catatan: Kata "syariah" terkadang disebut dengan makna akidah juga.

Beberapa kitab dengan sebutan "syariah" ini:

• Asy-Syarī'ah, karya al-Ājurriy (w. 311 H).

• Al-Ibānah 'an Syarī'ah al-Firqah an-Nājiyah, karya Ibnu Baṭṭah (w. 387 H).

7- Usuludin (Uṣūl ad-Dīn)

Catatan: Lawan dari kata "furu", sebuah penamaan yang tidak baku karena terkadang dimasukkan ke dalamnya hal yang bukan bagian darinya, seperti persoalan "tasalsul al-ḥawādiṡ", dan dikeluarkan darinya hal yang tergolong pokok-pokok agama, seperti salat dan puasa.

Beberapa kitab di bawah sebutan "usuludin" ini:

• Al-Ibānah ‘an Uṣūl ad-Diyānah, karya Abu al-Hasan al-Asy'ariy (w. 329 H).

10- Dampak Positif Berpegang Teguh pada Akidah Bagi Individu dan Masyarakat

Sesungguhnya akidah yang benar memiliki buah yang agung, di antaranya: kebaikan dan keistiqamahan individu, kebahagiaan hati dan badannya, serta kebaikan pemikiran dan dunianya. Dengannya, ia akan berusaha mencari harta, memperbaiki keluarga, mengabdi kepada masyarakat, dan membangun peradaban yang bermanfaat, jauh dari sikap berlebihan (guluw) dalam beragama dan sikap meremehkannya. Akidah itu akan membuahkan kebaikan untuk akhiratnya, jauh dari angan-angan kosong dan khurafat. Ia berikhtiar dengan badannya, sementara hatinya bergantung kepada Tuhannya, beribadah kepada Allah dengan rasa cinta, takut, dan harap, serta mengikuti sunah Nabi-Nya ﷺ, jauh dari bidah.

Masyarakat yang berpegang teguh pada akidah Islam: di dalamnya tersebar keimanan dan amal saleh, serta dicegah segala sesuatu yang menjadi lawannya; ditegakkan hukum dengan syariat; dan nilai-nilai akhlak sosial Islam berlaku secara menyeluruh, seperti keadilan, kejujuran, loyalitas, dan sikap saling menghormati. Di dalamnya tampak persatuan dan keharmonisan, serta dilarang perpecahan; masyarakatnya berpegang teguh pada agama; bersatu dan bernaung di sekitar para ulama; mendengar dan menaati para pemimpin dalam perkara yang makruf; serta terjaga hak-hak dan kehormatan.

Guru kami, Ibnu 'Uṡaimīn -raḥimahullāh-, telah menyebutkan beberapa buah positif dari berpegang teguh dengan rukun-rukun Islam, di antaranya:

1- Iman kepada Allah Ta'ala serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya membuahkan:

a- Cinta dan pengagungan kepada Allah.

b- Implementasi permintaan Allah dengan melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

c- Tercapainya kebahagiaan di dunia dan akhirat bagi individu dan masyarakat. "Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." [QS. An-Naḥl: 97]

2- Di antara buah positif iman kepada para malaikat:

a- Mengetahui keagungan, kekuatan, dan kekuasaan pencipta mereka, yaitu Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-.

b- Bersyukur kepada Allah Ta'ala atas penjagaan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, karena Allah telah menugaskan di antara malaikat-malaikat tersebut untuk menjaga mereka, mencatat amal mereka, dan mengurus berbagai kemaslahatan mereka yang lainnya.

c- Mencintai para malaikat karena mereka beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya dan memohon ampunan untuk orang-orang beriman.

3- Di antara buah positif iman kepada kitab-kitab:

a- Mengetahui kasih sayang dan perhatian Allah Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya, yaitu Allah menurunkan sebuah kitab kepada masing-masing umat untuk membimbing mereka.

b- Tampaknya hikmah Allah Ta'ala, karena di dalam kitab-kitab tersebut Allah menetapkan bagi setiap umat syariat yang sesuai dengan mereka Penutup kitab-kitab itu adalah Al-Qur`anul-'Aẓīm yang relevan untuk semua manusia di setiap masa dan tempat hingga hari kiamat.

c- Mensyukuri nikmat Allah Ta'ala atas hal tersebut.

4- Di antara buah positif iman kepada para rasul:

a- Mengetahui kasih sayang dan perhatian Allah Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya, yaitu Allah mengutus kepada mereka rasul-rasul tersebut untuk memberi petunjuk dan bimbingan.

b- Bersyukur kepada Allah Ta'ala atas nikmat yang besar ini.

c- Mencintai, menjunjung, dan memuji para rasul menurut yang patut bagi mereka, karena mereka adalah para utusan dan hamba-hamba pilihan Allah. Mereka beribadah kepada-Nya, menyampaikan agama-Nya, menasihati hamba-hamba-Nya, dan bersabar atas gangguan mereka.

5- Di antara buah positif iman kepada hari akhir:

a- Bersemangat melakukan ketaatan kepada Allah Ta'ala karena mengharapkan balasan pada hari itu serta menjauhi kemaksiatan kepada-Nya karena takut terhadap siksa pada hari itu.

b- Menghibur orang beriman dengan kenikmatan dan balasan akhirat yang mereka harapkan, sehingga mereka tidak bersedih atas kenikmatan dan perhiasan dunia yang tidak mereka dapatkan.

6- Di antara buah positif iman kepada takdir:

a- Bersandar kepada Allah Ta'ala ketika melakukan sebab, karena sebab dan musababnya terlaksana dengan ketetapan dan takdir Allah.

b- Ketenangan jiwa dan ketenteraman hati, karena ketika ia mengetahui bahwa hal itu terjadi dengan ketetapan Allah Ta'ala, dan bahwa takdir yang tidak disukainya pasti terjadi, maka jiwa menjadi tenang, hati menjadi tenteram, dan ia rida dengan ketetapan Tuhan, sehingga tidak ada yang lebih baik hidupnya, lebih tenang jiwanya, dan lebih tinggi ketenteramannya daripada orang yang beriman kepada takdir.

c- Menghilangkan sikap ujub terhadap diri sendiri ketika keinginan tercapai, karena tercapainya hal tersebut merupakan nikmat dari Allah melalui sebab-sebab kebaikan dan keberhasilan yang telah Dia tetapkan. Oleh karena itu, ia bersyukur kepada Allah Ta‘ala atas nikmat tersebut dan meninggalkan sikap membanggakan diri.

d- Mengusir sikap gundah dan kesal ketika tidak mendapatkan apa yang diharapkan atau justru mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, karena semua itu terjadi dengan ketetapan Allah Ta'ala yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan hal itu pasti terjadi, sehingga ia bersabar atas hal itu dan mengharapkan pahala. Allah Ta'ala telah mengisyaratkan hal ini melalui firman-Nya, "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Loh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah." [QS. Al-Ḥadīd: 22].[14] [14] Lihat: 'Aqīdah Ahl as-Sunnah wal-Jamā'ah, karya Ibnu 'Uṡaimīn, (Hal. 45-48).

Kedua: Tauhid Rububiyah

Di dalam pasal ini terdapat beberapa pembahasan:

1- Pengertian tauhid secara bahasa dan istilah

2- Jenis-jenis tauhid dan kewajiban kita pada setiap jenisnya

3- Dalil-dalil keberadaan Allah

4- Pengertian tauhid rububiyah dan dalil-dalilnya

5- Kedudukan tauhid rububiyah

6- Konsekuensi tauhid rububiyah

7- Pembatal tauhid rububiyah

8- Orang ateis dan sikap muslim terhadap mereka

9- Buah tauhid rububiyah

1- Pengertian Tauhid Secara Bahasa dan Istilah

a- Makna tauhid secara bahasa berkisar pada pengesaan, kesendirian, serta tidak adanya yang serupa dan tandingan.[15] [15] Lihat: Maqāyīs al-Lughah karya Ibn Fāris, (Hal. 6/90).

Al-Jurjaniy berkata, "At-Tauḥīd secara bahasa adalah menetapkan bahwa sesuatu itu satu, serta mengetahui bahwa ia adalah satu."[16] [16] Kitāb at-Ta'rīfāt karya al-Jurjāniy, (Hal. 73).

b. Makna tauhid secara istilah:

mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya sehingga tidak ada Tuhan selain Dia; mengesakan-Nya dalam uluhiyah-Nya sehingga tidak ada yang berhak disembah selain Dia; serta mengesakan-Nya dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya sehingga tidak ada sekutu dan tidak ada yang menyerupai-Nya di dalamnya.

Tauhid yang dengannya Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya adalah perwujudan makna lā ilāha illallāh, yaitu beribadah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sesuai dengan apa yang Dia syariatkan, karena Dialah yang tunggal dalam rububiyah-Nya, yang tiada tandingan bagi-Nya dalam nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya.[17] [17] Lihat: Majmū’ al-Fatāwā karya Ibnu Taimiyah, (Hal. 14/378), dan Tajrīd at-Tawḥīd karya al-Maqrīziy, (Hal. 37-38).

Hakikat tauhid adalah ucapan dan amalan.

1- Ucapan Hati Yaitu membenarkan dan mengakui keberadaan Allah, bahwa Dia —Yang Maha Suci dan Maha Tinggi— adalah satu-satunya yang menciptakan alam semesta, yang memilikinya, dan yang mengaturnya; bahwa tidak ada satu pun dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya, dan Dia pun tidak menyerupai sesuatu apa pun dari makhluk-Nya. Dia adalah Sang Pencipta, sedangkan selain-Nya adalah makhluk. Karena itu, diakui bagi Allah apa yang telah ditetapkan bagi-Nya dalam wahyu berupa nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dengan menafikan adanya keserupaan dan tandingan, serta diyakini bahwa hanya Dialah satu-satunya yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.

2- Amalan Hati Yaitu ketundukan hati dan penghambaannya kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dengan penuh cinta, takut, dan harap; serta menyucikan hati dari syirik dengan segala jenisnya dan dari bergantung kepada selain Allah dalam mendatangkan manfaat atau menolak mudarat.

3- Ucapan Lisan Yaitu menafikan adanya sekutu bagi Allah dan mengakui keesaan-Nya. Karena itu, ia melafalkan dua kalimat syahadat untuk menyatakan komitmennya terhadap penghambaan yang murni kepada Allah sesuai dengan syariat-Nya dalam seluruh aspek kehidupannya. Hal ini mencakup pernyataan bahwa Allah semata yang esa dalam rububiyah-Nya, serta dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

4- Amalan Anggota Tubuh Yaitu melaksanakan apa yang diperintahkan Allah, baik berupa perbuatan maupun meninggalkan larangan, tanpa penolakan, tanpa kesyirikan, dan tanpa perbuatan bidah. Ia berpegang teguh pada syariat yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ sebagai bentuk penghambaan yang murni kepada Allah, dilandasi cinta kepada-Nya, rasa takut akan kemurkaan-Nya, dan harapan terhadap rahmat-Nya, dengan keyakinan penuh bahwa di dalamnya terdapat kebahagiaan bagi ruh dan jasad, serta kebaikan dan kemaslahatan bagi kehidupan dunia dan akhirat, baik bagi individu maupun masyarakat.

As-Sa'diy berkata, "Ketahuilah bahwa tauhid yang mutlak adalah pengetahuan dan pengakuan terhadap keesaan Tuhan dalam sifat-sifat kesempurnaan, pengakuan atas keesaan-Nya dalam sifat-sifat keagungan dan kemuliaan, serta mengesakan-Nya semata dalam ibadah."[18] [18] Al-Qaul as-Sadīd, (Hal. 10)

2/ Jenis-Jenis Tauhid dan Kewajiban Kita pada Setiap Jenisnya

Tauhid dapat ditinjau dari dua sisi, yaitu: dari sisi perbuatan hamba dan sisi hak Allah. 1. Pembagian tauhid dari sis perbuatan hamba.

Tauhid dari sisi ini terbagi menjadi dua jenis:

a. Tauhid qaulī dan 'ilmī, yaitu seorang hamba mengetahui bahwa Allah itu tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Allah Ta'ala berfirman, "Sebab itu, ketahuilah bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah." [QS. Muḥammad: 19]. Maknanya adalah meyakini bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- adalah satu-satunya yang berhak disembah; dan bahwa penyembahan kepada selain-Nya adalah batil. Hal itu karena Dialah satu-satunya yang mencipta, memiliki, dan mengatur seluruh alam semesta, tanpa sekutu sedikit pun dalam hal tersebut. Dialah tempat bergantung seluruh makhluk untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Juga keyakinan bahwa Allah adalah Yang Maha Akhir, yang tidak ada sesuatu pun setelah-Nya. Oleh karena itu, Dia tidak melahirkan karena kesempurnaan-Nya berkonsekuensi tidak membutuhkan anak. Dia Yang Maha Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, oleh karena itu, Dia tidak dilahirkan karena kesempurnaan-Nya berkonsekuensi tidak membutuhkan orang tua. Dialah Sang Pencipta Yang Maha Kaya dengan zat-Nya sendiri, sehingga tidak membutuhkan siapa pun yang menciptakan-Nya atau menggantikan-Nya, sedangkan selain-Nya adalah makhluk yang fakir (butuh) kepada-Nya. Juga meyakini bahwa Allah tidak memiliki tandingan maupun padanan, baik dalam zat-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah, Yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu, (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia'.” [QS. Al-Ikhlās: 1-4]. Tauhid ini disebut juga tauhid khabarī, juga disebut tauhid ma'rifah dan iṡbāt.

b- Tauhid 'amalī-irādī, yaitu seorang hamba meninggalkan ibadah kepada semua selain Allah dan mengarahkan ibadah hanya kepada Allah semata.

Maknanya adalah penghambaan diri yang tulus kepada Allah —dengan dasar cinta, takut, dan harap— dengan mematuhi perintah dan larangan-Nya dalam bentuk perkataan dan perbuatan, baik yang lahir maupun yang batin, tanpa penentangan, syirik, atau bidah.

Tauhid ini adalah konsekuensi dari tauhid 'ilmī sebelumnya. Sebab itu, siapa yang mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya yang menciptakan, memiliki, dan mengatur, serta satu-satunya yang berhak diibadahi, maka dia wajib melaksanakan hal itu dengan memurnikan ibadah hanya untuk Allah. Tauhid ini disebut juga: tauhid ṭalabī dan tauhid ibadah. Allah berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Kalian pun bukan penyembah apa yang aku sembah. Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Kalian pun bukan penyembah apa yang aku sembah. Untuk kalian sendiri agama kalian dan untukku agamaku.” [QS. Al-Kāfirūn: 1-6] [19] [19] Lihat: Al-'Ubūdiyyah karya Ibnu Taimiyyah, (Hal. 228-229) dan Madārij as-Sālikīn karya Ibnul-Qayyim, (Hal. 1/24).

b. Jenis-jenis tauhid ditinjau dari sisi hak-hak Allah

Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- tunggal dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Allah berfirman, "Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." [QS. Al-Fātiḥah: 1-5].

Allah Ta'ala juga berfirman, "Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, sembahan manusia." [QS. An-Nās: 1-3] Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- berkata dalam mendeskripsikan haji Nabi ﷺ sebagaimana dalam Sahih Muslim: Lalu beliau pun bertalbiyah dengan kalimat tauhid: "Labbaikallāhumma labbaik, labbaika lā syarīka laka labbaik, innal-ḥamda wan-ni'mata laka wal-mulk, lā syarīka laka." Artinya: "Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kenikmatan, dan kerajaan milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu."[20] Berdasarkan nas-nas ini dan banyak nas lainnya, para ulama menyebutkan bahwa tauhid terbagi menjadi tiga jenis: [20] HR. Imam Muslim, (No. 147), Kitāb al-Ḥajj, Bāb Ḥajjatin-Nabiy.

1- Tauhid rububiyah, yaitu mengesakan Allah ﷻ dalam rububiyah-Nya atas seluruh alam. Maksudnya meyakini keesaan-Nya dalam penciptaan, kepemilikan, dan pengaturan.

2- Tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah. Maksudnya meyakini bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah dan meyakini batilnya ibadah kepada selain-Nya.

3- Tauhid Asma` wa Sifat, yaitu mengesakan Allah dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan bagi-Nya. Maksudnya: kita mengimani semua yang Allah kabarkan tentang diri-Nya dalam Al-Qur`an atau sunnah, baik berupa penafian maupun penetapan, tanpa melakukan tamṡīl (menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk), sehingga kita menafikan dari-Nya sesuatu yang sepadan dan setara.

Ibnu Abil-‘Izz berkata, "Tauhid mencakup tiga macam, pertama: pembahasan tentang sifat-sifat; kedua: tauhid rububiyah, yaitu penjelasan bahwa Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu; ketiga: tauhid uluhiyah, yaitu keberhakkan-Nya untuk diibadahi, tanpa ada sekutu bagi-Nya."[21] [21] Syarḥ al-'Aqīdah aṭ-Ṭaḥāwiyah karya Ibnu Abil-'Izz al-Ḥanafiy, (Hal. 1/125)

Jenis-jenis tauhid

dari sisi perbuatan hamba:

1- Tauhid 'amalī-irādī

2. Tauhid qaulī 'ilmī

dari sisi keberhakkan Allah untuk disembah:

1. Tauhid Uluhiyah

2. Tauhid Asma` wa Sifat

3. Tauhid Rububiyyah

d) Kewajiban kita pada setiap jenis tauhid:

1/ Kewajiban dalam hal rububiyah serta nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah mengimani semua yang Allah kabarkan kepada kita tentang diri-Nya, baik berupa penafian maupun penetapan. Hal itu karena pembahasan dalam bab nama-nama, sifat-sifat, dan rububiyah adalah termasuk kategori kabar yang berkisar antara penafian dan penetapan, maka tidak ada pilihan bagi kita sebagai hamba selain membenarkan dan mengimaninya.

2/ Kewajiban dalam tauhid uluhiyah adalah mematuhi apa yang Allah perintahkan kepada kita berupa ibadah dan menjauhi apa yang Dia larang berupa syirik. Hal itu karena pembahasan dalam bab tauhid uluhiyah adalah dari bab tuntutan, maka tidak ada jalan lain bagi kita sebagai pihak yang diseru, yang mendengar firman Allah selain tunduk dan patuh dengan mengerjakan perintah atau meninggalkan larangan.[22] [22] Lihat: at-Tadmuriyyah karya Ibnu Taimiyyah, (Hal. 3-5).

Kewajiban Kita dalam Tauhid

Ucapan:

1. Permintaan:

- Perintah

- Larangan

2. Berita

- Penetapan

- Penafian

- Membenarkan

Penyimak:

- Membenarkan

- Mendustakan

- Mematuhi

- Tidak mematuhi

3- Dalil-Dalil Terkait Keberadaan Allah

1. Dalil fitrah

2. Dalil penciptaan

3. Dalil iḥkām dan itqān (ketelitian dan kesempurnaan)

4. Dalil takhṣīṣ (pengkhususan)

5. Dalil taqdīr.

6. Dalil petunjuk kenabian para nabi.

7. Dalil kemuliaan akhlak.

1. Dalil Pertama Terkait Keberadaan Allah adalah Dalil Fitrah

Maksud Dalil Fitrah

Sesungguhnya Allah -Subḥānahū wa Ta'ālā- menciptakan kita dan membekali kita kekuatan ilmu dan kehendak yang mengharuskan pengakuan akan wujud dan keesaan-Nya. Sebab itu, keyakinan bahwa alam semesta ini pasti memiliki pencipta, bahwa pencipta ini adalah zat yang dicintai, dan bahwa zat yang dicintai ini wajib diibadahi, merupakan persoalan-persoalan yang telah Allah tanamkan di dalam hati kita sejak Dia menciptakan kita.[23] [23] Lihat: Al-Ma'rifah fil-Islām karya Dr. 'Abdullāh al-Qarniy, (Hal. 213-242).

Cara Berdalil dengan Dalil Fitrah

Maksudnya: Dalil atas keberadaan Allah dan keesaan-Nya adalah “fitrah”. Yakni, bahwa hal itu adalah sebuah naluri aksiomatik yang telah tertanam dalam benak, sehingga tidak memerlukan proses pembuktian dan penalaran yang rumit selain sekadar pemahaman. Maka dengan sekadar memperhatikan makhluk-makhluk ciptaan, seseorang akan mengetahui dengan yakin bahwa semuanya memiliki Sang Pencipta.

Seorang Arab Badui berkata, "Kotoran unta menunjukkan adanya unta, dan jejak menunjukkan adanya perjalanan. Jadi, langit yang memiliki gugusan bintang dan bumi yang memiliki jalan-jalan yang terhampar, tidakkah semua itu menunjukkan adanya Tuhan Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui?"

Abu Hanifah -raḥimahullāh- berkata, "Beritahukan kepadaku tentang sebuah kapal di Dajlah yang berlayar, lalu terisi dengan makanan, barang-barang, dan lainnya dengan sendirinya, lalu kembali dengan sendirinya, berlabuh dengan sendirinya, membongkar muatan lalu kembali lagi; semua itu tanpa ada seorang pun yang mengaturnya?"

Orang-orang menjawab, "Ini mustahil dan tidak akan pernah mungkin."

Beliau berkata kepada mereka, "Jika ini mustahil dalam sebuah kapal, maka bagaimana dengan seluruh alam ini, bagian atas maupun bawahnya!"[24] [24] Lihat: Dalā`il al-Islām, Dr. Ahmad Sa'ad Hamdan, (Hal. 15); dan al-'Aqīdah fī Allāh, al-Asyqar, (Hal. 68).

Nas-nas syariat tentang fitrah mengenal Allah dan tauhid:

a) Allah Ta'ala berfirman, "Sebab itu, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." [QS. Ar-Rūm: 30]

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memfitrahkan makhluk-Nya untuk mengenal-Nya dan menauhidkan-Nya, dan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain-Nya.

Juga firman-Nya: "Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah."

Sebagian ulama mengatakan, "Maknanya adalah jangan mengubah ciptaan Allah, yaitu dengan mengubah manusia dari fitrah yang Allah ciptakan untuk mereka."

Jadi, ayat ini merupakan berita yang bermakna perintah.

Ulama yang lain berkata, "Ini adalah kabar yang harus dipahami sesuai makna lahiriahnya, yaitu: bahwa Dia telah menyamakan seluruh makhluk-Nya dalam fitrah di atas tabiat yang lurus. Tidak ada seorang pun yang dilahirkan kecuali dalam keadaan demikian, dan tidak ada perbedaan di antara manusia dalam hal itu."[25] [25] Lihat: Tafsir Ibn Kaṡīr, (Hal. 6/320) dan Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān karya as-Sa'diy, (Hal. 640).

b) Allah Ta'ala berfirman, "Rasul-rasul mereka berkata, 'Apakah ada keraguan terhadap Allah, pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kalian (untuk beriman) agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai waktu yang ditentukan?' Mereka berkata, 'Kalian hanyalah manusia seperti kami juga. Kalian ingin menghalangi kami (menyembah) apa yang dari dahulu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.” [QS. Ibrāhīm: 10]

Hal ini mengandung dua kemungkinan. - Makna Pertama: Adakah keraguan tentang wujud-Nya? Padahal fitrah menjadi saksi atas wujud-Nya dan diciptakan dengan kecenderungan untuk mengakui-Nya, karena pengakuan terhadap-Nya adalah sebuah keniscayaan bagi fitrah yang lurus. Akan tetapi, terkadang sebagiannya ditimpa keragu-raguan dan kebimbangan, sehingga ia perlu mengkaji dalil yang dapat mengantarkan kepada wujud-Nya.

Oleh karena itu, para rasul berkata kepada mereka seraya memberi petunjuk untuk mengenal-Nya, bahwa dia adalah: "Pencipta langit dan bumi." Dialah yang menciptakan dan mengadakannya tanpa ada contoh sebelumnya, karena tanda-tanda kebaruan, penciptaan, dan ketertundukan tampak jelas padanya, maka ia pasti memiliki pencipta, yaitu Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, Maha Pencipta segala sesuatu, sembahannya, dan pemiliknya.

- Makna Kedua: Apakah ada keraguan terhadap Allah?

Maksudnya: Apakah ada keraguan tentang keilahian-Nya dan keesaan-Nya sebagai satu-satunya yang berhak disembah, padahal Dialah pencipta semua yang ada? Sebab itu, tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Mayoritas umat manusia mengakui adanya Sang Pencipta, tetapi mereka menyembah selain-Nya bersama-Nya, berupa perantara-perantara yang mereka sangka dapat memberi manfaat atau mendekatkan mereka kepada Allah sedekat-dekatnya.[26] [26] Lihat: Tafsīr Ibni Kaṡīr, (Hal. 6/320) dan Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān karya as-Sa'diy, (Hal. 640).

c) Firman Allah: "(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Tuhan kalian?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan, 'Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini'.” [QS. Al-A'rāf: 172]

Ayat ini merupakan penjelasan gamblang mengenai pengakuan dan persaksian mereka atas diri mereka sendiri tentang pengetahuan yang difitrahkan kepada mereka, yaitu bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Sekelompok ahli ilmu berpendapat bahwa pengakuan ini terjadi ketika mereka dikeluarkan dari sulbi Adam, dan bahwasanya Allah membuat mereka berbicara serta mengambil persaksian dari mereka.

Baik pengakuan ini berupa ucapan di alam zar, ataupun pengakuan berupa keadaan, yaitu mengenal Allah dan tauhid kepada-Nya yang telah difitrahkan kepada mereka, keduanya tetap menunjukkan bahwa pengenalan Allah dan tauhid adalah fitrah.[27] [27] Lihat: Dar`u Ta'āruḍ al-'Aql wa an-Naql karya Ibnu Taimiyyah, (Hal. 8/487).

d) Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, lalu kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."[28] [28] Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, Kitāb al-Janā`iz, Bāb Mā Qīla fī Awlād al-Musyrikīn, (No. 1385); dan Muslim, Kitāb al-Qadar, Bāb Ma‘nā Kulli Mawlūdin Yūladu ‘alā al-Fiṭrah, (No. 2658). Lafaz “al-Millah” dalam riwayat Tirmizi, (No. 2138), dan lafaz “ ‘alā hāżihi al-millah” dalam riwayat Ahmad, (No. 7443).

Sabda beliau ﷺ, "Menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi", dan tidak mengatakan, "menjadikannya seorang muslim", menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah mengenal Allah dan tauhid-Nya.

Dalam sebuah riwayat [dilahirkan di atas al-millah] dan dalam riwayat lainnya: [di atas millah ini]. Hal ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan manusia dalam keadaan memiliki fitrah untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan mengarahkan tujuan hidupnya untuk beribadah kepada-Nya.[29] [29] Lihat: Fatḥul-Bārī, (Hal. 3/250) dan Syarḥ Muslim karya an-Nawawi, (Hal. 4/84).

Kewajiban pertama bagi seorang mukalaf adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, karena pengakuan akan wujud Allah adalah fitrah dalam jiwa. Oleh karena itu, para nabi tidak datang untuk membuktikannya, melainkan mereka menggunakannya sebagai sarana untuk mengingatkan akan apa yang telah tertanam dalam jiwa mereka, untuk memerintahkan manusia agar beribadah hanya kepada Allah Ta'ala.

Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Mu'āż bin Jabal ketika beliau mengutusnya ke Yaman, "Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab. Jika engkau telah sampai kepada mereka, maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka menaatimu dalam hal itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka salat lima waktu sehari semalam..." Seterusnya sampai akhir hadis.[30] [30] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari, (No. 1496), Kitāb az-Zakāh, Bāb Akhżiṣ-Ṣadaqah min al-Agniyā`; dan Muslim (No. 29), Kitāb al-Īmān, Bāb Ad-Du'ā` ilā asy-Syahādatain wa Syarā`i' al-Islām.

Tidak ada seorang pun di antara rasul yang ketika pertama kali mendakwahi kaumnya berkata, "Sesungguhnya kalian diperintahkan untuk mencari pengetahuan tentang sang pencipta, maka renungkanlah dan carilah dalil hingga kalian mengenal-Nya." Mereka tidak dibebani pada awalnya dengan pengetahuan itu sendiri, tidak pula dengan dalil-dalil yang mengantarkan kepada pengetahuan tersebut, sebab hati mereka telah mengenal-Nya dan mengakuinya. Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, akan tetapi, fitrah itu kemudian ditimpa oleh sesuatu yang mengubahnya. Adapun manusia, apabila diingatkan, ia akan teringat kembali apa yang ada dalam fitrahnya. Oleh karena itu, Allah berfirman kepada Musa -'alaihissalām-, "Berbicaralah kalian berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” [QS. Ṭāhā: 44] Pengetahuan yang ada dalam fitrahnya yang membuatnya mengenal Tuhannya, anugerah dan kebaikan-Nya kepadanya, serta kebutuhannya kepada-Nya, akan mendorongnya kepada keimanan. Makna "atau ia takut": terhadap ancaman azab dari-Nya yang bisa mendorongnya kepada keimanan, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik." [QS. An-Naḥl: 125] Sebab itu, sikap yang bijak adalah menjelaskan kebenaran sehingga ia akan diterima oleh orang yang mau menerima kebenaran tanpa sanggahan. Adapun orang yang ditentang oleh hawa nafsunya, maka ia dinasihati dengan motivasi dan ancaman,[31] karena pengetahuan tentang kebenaran akan mengajak pemiliknya untuk mengikutinya, lantaran kebenaran itu dicintai oleh fitrah. Kebenaran lebih dicintai, lebih diagungkan, dan lebih dinikmati oleh fitrah daripada kebatilan yang tidak memiliki hakikat, karena fitrah tidak menyukai hal tersebut. [31] Lihat: Dar`u Ta'āruḍ al-'Aql wan-Naql karya Ibnu Taimiyyah, (Hal. 8/6-10).

2- Dalil Kedua Terkait Keberadaan Allah: Dalil Penciptaan

Maksudnya adalah bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menjadikan keberadaan setiap makhluk ciptaan-Nya sebagai dalil atas keberadaan-Nya.

Ibnu Taimiyah berkata, "Al-'Ālam (alam) dengan fatḥah itu seperti al-khātam (stempel): alat untuk mengetahui, sebagaimana al-khātam adalah alat untuk menyegel.

Setiap jenis makhluk disebut 'ālam' (alam), karena ia merupakan tanda dan dalil atas Sang Pencipta."[32] [32] Lihat: An-Nubuwāt karya Ibnu Taimiyyah, (Hal. 268).

Nas-nas syariat tentang penciptaan:

a) Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu?'" [QS. Al-An'ām: 164]

Aspek penunjukan (dalālah) dari ayat tersebut terletak pada lafaz rubūbiyyah, karena di dalamnya terkandung makna kekuasaan, kepemilikan, dan pengaturan; sedangkan penciptaan merupakan konsekuensi yang melekat dari semua itu.[33] [33] Syarḥ al-'Aqīdah aṭ-Ṭaḥāwiyyah, (Hal. 1/136).

Ibnu Abil-'Izz al-Ḥanafiy berkata, "Semakin manusia membutuhkan suatu ilmu, semakin jelas pula dalil-dalilnya, sebagai rahmat dari Allah kepada makhluk-Nya."[34] [34] Ibid

Cara Berdalil dengan Dalil Penciptaan

Alam adalah makhluk

Dalil / Kesaksian:

1- Manusia ini yang pada mulanya tidak ada lalu diadakan, kemudian setelah ia ada akan ditiadakan kembali, ia adalah makhluk. Semua manusia pun demikian.

2- Demikian pula dengan seluruh makhluk. Kita telah menyaksikan satu per satunya: ia berasal dari ketiadaan, kemudian menjadi ada, lalu akan tiada lagi setelah keberadaannya; maka ia adalah makhluk (ciptaan), sehingga kita pun menghukumi semuanya (sebagai makhluk).

3- Mengiaskan apa yang gaib dari kita berdasarkan apa yang kita saksikan.

Makhluk mesti memiliki pencipta.

Dalil / Kepastian Rasional:

1- Tidak ada yang memperdebatkan bahwa setiap sesuatu yang baru pasti memiliki pencipta, kecuali orang yang kehilangan akal.

2- Kita lakukan percobaan pada seorang anak dengan menamparnya dari belakang, lalu dikatakan kepadanya: “Ini adalah tamparan yang terbentuk di udara dan menimpamu tanpa ada yang menampar.” Apakah ia akan menerimanya?

Ketiadaan / Hal itu mustahil, karena ia sendiri tidak ada; maka bagaimana mungkin ia dapat mewujudkan selain dirinya, sementara pada hakikatnya ia pun tidak mampu mewujudkan dirinya sendiri.

Alam / Maksudnya adalah hukum-hukum, sunatullah, dan sebab-sebab; maka penjelasan tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan “bagaimana”, bukan atas pertanyaan “siapa”.

Mustahil Ḍarūrah 'Aqliyyah (Hal Mustahil Merupakan Kepastian Rasional)

Makhluk yang lain/ Hal ini mustahil. Sebab ketika dikatakan “makhluk”, berarti ia sebelumnya tidak ada, sehingga ia membutuhkan pihak yang mewujudkannya. Adapun rangkaian sebab atau pelaku yang saling bergantung tanpa ujung (tasalsul al-fā‘ilīn) adalah sesuatu yang mustahil berdasarkan kepastian rasional.

Bersifat qadīm (tidak bermula, tidak diciptakan): 1. Keberadaan-Nya tidak didahului ketiadaan dan tidak diakhiri oleh kefanaan (kebinasaan).

2. Terkait zat, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya, tidak ada tandingan maupun padanan bagi-Nya. Dialah Allah ﷻ.

2- Allah Ta'ala berfirman, "Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)." [QS. Aṭ-Ṭūr: 36-37]

Allah Ta'ala berfirman: Mereka ini diciptakan setelah sebelumnya tiada. Lantas, apakah mereka diciptakan tanpa ada yang menciptakan? Hal ini adalah suatu kemustahilan yang tidak dapat diterima oleh siapa pun yang memiliki pemahaman dan akal, yaitu bahwa sesuatu yang dibuat ada tanpa pembuatnya, dan makhluk ada tanpa penciptanya. Seandainya seseorang melewati sebidang tanah tandus yang tiada bangunan di atasnya, lalu ia melewatinya kembali dan melihat di sana telah berdiri bangunan-bangunan, istana-istana, dan gedung-gedung yang kokoh, niscaya tiada keraguan sedikit pun yang terlintas dalam benaknya bahwa ada seorang pembuat yang telah membuatnya dan seorang pembangun yang telah membangunnya.

Kemudian Dia berfirman: Ataukah mereka adalah para pencipta? Ini juga mustahil, yaitu seorang hamba menciptakan dirinya sendiri, sebab orang yang tidak kuasa menambah umurnya setelah ia ada serta tidak kuasa menghidupkan dirinya meskipun satu jam, tidak pula menghidupkan satu jari, satu kuku, ataupun sehelai rambut, bagaimana mungkin ia menjadi pencipta bagi dirinya sendiri ketika ia dalam keadaan tiada?!

Kesimpulannya: Jika kedua kemungkinan tersebut batil, maka dipastikan bahwa mereka memiliki Sang Pencipta yang telah menciptakan mereka. Dialah Tuhan hakiki yang berhak atas ibadah dan syukur mereka, maka bagaimana mungkin mereka menyekutukan-Nya dengan tuhan lain, padahal Dialah satu-satunya pencipta mereka?[35] [35] Lihat: Aṣ-Ṣawā'iq al-Mursalah, (Hal. 2/493).

Ibnu Taimiyah -raḥimahullāh- berkata, "Ini adalah sebuah pembagian yang tuntas: Apakah mereka diciptakan tanpa pencipta? Hal ini mustahil menurut akal sehat. Ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri? Hal ini lebih mustahil lagi. Maka dapat dipastikan bahwa mereka memiliki pencipta yang menciptakan mereka, dan Dia adalah Allah ﷻ.

Penyebutan dalil dalam bentuk pertanyaan pengingkaran untuk menjelaskan bahwa permasalahan yang dijadikan sebagai dalil ini adalah perkara fitrah yang aksiomatis dan tertanam kuat dalam jiwa, yang tidak mungkin diingkari oleh seorang pun. Sebab itu, orang yang lurus fitrahnya tidak mungkin mengklaim adanya sesuatu yang baru tanpa ada yang mengadakannya dan tidak mungkin pula mengatakan bahwa ia mengadakan dirinya sendiri.[36] [36] Ar-Radd 'alā al-Manṭiqiyyīn, (Hal. 253).

3- Dalil Ketiga Terkait Keberadaan Allah: Dalil Iḥkām dan Itqān (Ketelitian dan Kesempurnaan)

Maksudnya adalah bahwa hanya dengan memperhatikan salah satu makhluk ciptaan Allah, kita akan menyaksikan padanya tanda-tanda ketelitian dan kesempurnaan. Hal ini menunjukkan bahwa di baliknya ada pencipta yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, yaitu Allah.

Cara Berdalil dengan Dalil Ketelitian dan Kesempurnaan

Mukadimah Pertama / Adanya ketelitian dan kesempurnaan pada setiap makhluk. / Dalil: Pengamatan (persepsi indrawi)

Mukadimah Kedua: Ketelitian dan kesempurnaan yang dapat ditangkap oleh indra tidak mungkin: a. ada tanpa sebab. b. ada dengan sendirinya. Dalilnya: Kepastian rasional.

Kesimpulan: Terdapat pencipta yang berilmu lagi bijaksana, yang menciptakan makhluk-makhluk dengan penuh kesempurnaan dan ketelitian. Dialah Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Inilah yang hendak dibuktikan.

Nas-nas syariat tentang ketelitian dan kesempurnaan penciptaan

"(Dialah) yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan." [QS. As-Sajdah: 7].

"(Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu." [QS. An-Naml: 88]

Renungkanlah ketelitian dan kesempurnaan dalam penciptaan manusia.

Perhatikanlah penciptaan kedua mata: letaknya, perlindungannya oleh pelupuk mata, dan hiasannya dengan alis dan bulu mata.

Renungkanlah penciptaan kedua telinga.

Renungkanlah penciptaan mulut dan apa yang ada di dalamnya berupa gigi dan lidah.

Renungkanlah penciptaan kedua tangan.

Renungkanlah ketelitian dan kesempurnaan dalam penciptaan makhluk-makhluk darat, laut, dan burung-burung.

Renungkanlah penciptaan unta dan kambing.

Renungkanlah penciptaan burung dan lebah.

Renungkanlah penciptaan ikan-ikan.

Renungkanlah penciptaan hewan laut.

Renungkanlah keteraturan dan kesempurnaan di alam semesta

Seandainya matahari mendekat sedikit saja dari posisinya saat ini, niscaya rusaklah kehidupan.

Atau jika ia menjauh sedikit saja, niscaya lautan akan membeku dan musnahlah kehidupan.

Seandainya bulan mendekat sedikit, niscaya air akan meluap; atau menjauh sedikit, niscaya lautan akan mengering.

Seandainya kadar oksigen bertambah, niscaya engkau tidak akan mampu menyalakan korek api, dan seandainya ia berkurang, niscaya engkau tidak akan mampu bernapas.

Apakah semua ini kebetulan tanpa ada Tuhan Yang Maha Bijaksana, Maha Pencipta, Maha Teliti, Maha Lembut, Maha Mengetahui, lagi Maha Kuasa?

4- Dalil Keempat Terkait Keberadaan Allah: Dalil Takhṣīṣ (Pengkhususan)

Cara berdalil dengan dalil takhṣīṣ:

Premis pertama (mayor): Adanya sifat-sifat khusus yang khas pada setiap makhluk ciptaan, dan masing-masing memiliki bentuk serta struktur tertentu, sehingga apabila tidak memiliki sifat-sifat tersebut, niscaya ia akan rusak. Dalil: pengamatan empiris.

Premis kedua (minor): Adanya kekhususan yang dapat ditangkap oleh indera ini tidak mungkin: a) terjadi tanpa sebab, atau b) ada dengan sendirinya. Dalil: keniscayaan akal.

Kesimpulan: Adanya Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, yang menciptakan makhluk-makhluk dengan sifat-sifat khusus tersebut agar terwujud keteraturan di alam semesta serta terhindar dari kekacauan dan kontradiksi. Dialah Allah -Subḥānahu wa Ta‘ālā-. Inilah yang hendak dibuktikan.

5- Dalil Kelima Terkait Keberadaan Allah: Dalil Takdir

Cara Berdalil dengan Dalil Takdir:

Premis pertama (mayor): Adanya manifestasi penentuan dan pengukuran yang tepat, tanpa kelebihan dan tanpa kekurangan, pada setiap makhluk ciptaan. Dalil: pengamatan empiris.

Premis kedua (minor): Penentuan yang rapi, kokoh, dan sempurna, yang dapat ditangkap oleh indera ini, tidak mungkin: a) terjadi tanpa sebab, atau b) ada dengan sendirinya . Dalil: keniscayaan akal.

Kesimpulan: Adanya Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, yang menciptakan makhluk-makhluk dengan penentuan dan pengukuran yang rapi serta sempurna tersebut, yaitu Allah -Subḥānahu wa Ta‘ālā-. Inilah yang hendak dibuktikan.

6- Dalil Keenam Terkait Keberadaan Allah: Dalil Bukti Kenabian

Maksudnya adalah: setiap dalil yang menunjukkan kebenaran Rasul ﷺ adalah juga dalil atas wujud Allah, seperti:

1- Tanda-tanda dan bukti-bukti yang dengannya Allah mengokohkan mereka.

2- Pengabulan doa mereka.

3- Pertolongan atas musuh-musuh mereka.

4- Agama yang mereka bawa.

5- Akhlak mereka yang dengannya Allah mengistimewakan mereka.

7- Dalil Ketujuh Terkait Keberadaan Allah: Kemuliaan Akhlak

Maksudnya adalah menjadikan keteraturan kehidupan manusia yang ditopang oleh akhlak sosial sebagai dasar penalaran atas keberadaan Sang Pencipta, yang memberikan pahala atas kebaikan akhlak tersebut dan menjatuhkan hukuman kepada siapa pun yang berbuat buruk di dalamnya.

1- Akhlak adalah bagian dari kebaikan yang difitrahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya. (Dorongan Internal).

2- Akhlak-akhlak ini sendiri menuntut agar orang yang berbuat baik diberi balasan atas kebaikannya dan orang yang berbuat buruk dihukum atas keburukannya. (Rasional).

3- Pahala ini tidak selalu didapatkan di dunia sebagaimana yang kita saksikan, maka dari itu ia tidak mungkin didapatkan kecuali pada kehidupan lain setelah kehidupan ini.

4- Kehidupan kedua itu tidak akan terwujud kecuali jika ada Tuhan Yang Maha Mengetahui, Maha Adil, lagi Maha Bijaksana, yang mengetahui apa yang dikerjakan manusia saat ini untuk membalasnya kelak.

4- Pengertian Tauhid Rububiyah dan Dalil-Dalilnya

Definisi Tauhid Rububiyah:

Ia adalah keyakinan akan keesaan Allah dalam rubbiyah-Nya atas seluruh makhluk, sehingga tidak ada Tuhan (Rabb) bagi mereka selain Dia. Yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menguasai penciptaan, kepemilikan, dan perintah. Dalam perintah (al-amr) ini tercakup perintah kosmik (amr kaunī) dan perintah syariat (amr syar‘ī).

Ibnu Taimiyah berkata, "Sesungguhnya hanya untuk Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- segala penciptaan dan perintah. Ini sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, 'Sesungguhnya Tuhan kalian (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayan (tinggi) di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan perintah menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah, Tuhan seluruh alam.'" [37] Majmū' al-Fatāwā karya Ibnu Taimiyah, (Hal. 11/251).

As-Sa'diy berkata, "Dia adalah pencipta segala sesuatu, Tuhannya, dan pemiliknya. Tidak ada pencipta selain-Nya dan tidak ada tuhan selain-Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi. Segala yang ada, baik yang bergerak maupun yang diam, adalah dengan ketetapan-Nya, takdir-Nya, kehendak-Nya, kekuasaan-Nya, dan ciptaan-Nya."[38] [38] Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān, as-Sa'diy, (Hal. 954).

Tauhid rububiyah berdiri di atas dua pilar besar:

1- Keumuman penciptaan dan rububiyah-Nya.

2- Keumuman kebaikan dan kebijaksanaan-Nya.

Allah Ta'ala berfirman, "(Dia) yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah." [QS. As-Sajdah: 7]

Allah juga berfirman, "Dia (Musa) menjawab, 'Tuhan kami ialah (Tuhan) yang menganugerahkan kepada segala sesuatu bentuk penciptaannya (yang layak), kemudian memberinya petunjuk'.” [QS. Ṭāhā: 50]

Kita meyakini bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam, dan bahwa Dia adalah Tuhan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, serta Tuhan bagi Arasy yang agung. Dialah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. Dialah Tuhan dan pemilik segala sesuatu. Dialah Pemilik kerajaan (kekuasaan), memberi kerajaan kepada siapa yang Dia kehendaki, mencabut kerajaan dari siapa yang Dia kehendaki, memuliakan siapa yang Dia kehendaki, dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki. Di tangan-Nya berada seluruh kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah. Hati dan ubun-ubun para hamba berada di tangan-Nya. Tidak ada satu hati pun melainkan ia berada di antara dua jari dari jari-jemari ar-Raḥmān (Tuhan Yang Maha Pengasih); jika Dia berkehendak untuk meluruskannya, niscaya Dia akan meluruskannya, dan jika Dia berkehendak untuk menyesatkannya, niscaya Dia akan menyesatkannya. Dialah yang membuat tertawa dan menangis, yang memberi kekayaan dan kecukupan. Dialah yang mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya, dan menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah matinya, dan Dia sebarkan di dalamnya segala jenis hewan. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan tidak ada tempat berlindung dari-Nya kecuali kepada-Nya.

Kita juga meyakini bahwa Dia telah menganugerahkan kepada segala sesuatu bentuk penciptaannya (yang layak), kemudian memberinya petunjuk, memperindah segala sesuatu yang diciptakan-Nya, dan menyempurnakan segala sesuatu yang dibuat-Nya. Semua kebaikan berada di tangan-Nya dan Dia adalah Yang Paling Penyayang di antara para penyayang. Dia lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anaknya. Kita mengimani makna-makna semisal ini yang menunjukkan keluasan hikmah-Nya, kesempurnaan ciptaan-Nya, kebaikan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu, serta keluasan dan keagungan rahmat-Nya.[39] [39] Majmū' al-Fatāwā karya Ibnu Taimiyah, (Hal. 2/400).

Rububiyah (sisi ketuhanan) Allah bagi makhluk-Nya ada dua macam: umum dan khusus.

As-Sa'diy berkata, ”Adapun yang umum: untuk semua makhluk, yaitu penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan-Nya atas mereka.

Adapun yang bersifat khusus maka ia merupakan tambahan dari rububiyah yang bersifat umum, berupa pemberian taufik untuk berbuat kebaikan dan pertolongan dalam merealisasikannya. Rububiyah khusus ini diperuntukkan bagi orang-orang beriman saja.[40] [40] Lihat: Tafsīr as-Sa'diy, (Hal. 945).

Dalil-dalil Tauhid Rububiyah:

Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Tuhan kalian (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayan (tinggi) di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia menciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan perintah menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah, Tuhan seluruh alam." [QS. Al-A'rāf: 54]

Dia juga berfirman, "Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap. Masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Dia menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, tidak ada yang dapat menahannya. (Demikian pula) apa saja yang ditahan-Nya, tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah kepada kalian! Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia. Lalu, bagaimana kamu dapat dipalingkan (dari ketauhidan)?" [QS. Fāṭir: 1-3]

Dia juga berfirman, "Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam (tinggi)di atas Arasy, Dia mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin-Nya. Itulah Allah, Tuhan kalian, maka sembahlah Dia. Apakah kalian tidak mengambil pelajaran? Hanya kepada-Nya kalian semua akan kembali. Itu merupakan janji Allah yang benar dan pasti. Sesungguhnya Dialah yang memulai penciptaan makhluk kemudian mengulanginya (menghidupkannya kembali setelah berbangkit), agar Dia memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan dengan adil. Sedangkan untuk orang-orang kafir (disediakan) minuman air yang mendidih dan siksaan yang pedih karena kekufuran mereka. Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa." [QS. Yūnus: 3-6]

Dia juga berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Lantas mereka akan menjawab, 'Allah.' Katakanlah, 'Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?' Itulah Allah, Tuhan kalian yang sebenarnya, maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Lalu mengapa kalian berpaling (dari kebenaran)?" [QS. Yūnus: 31-32]

Dalil at-Tamānu' (kemustahilan dua tuhan) Merupakan Salah Satu Dalil Tauhid Rububiyah

Allah Ta'ala berfirman, "Allah tidak mempunyai anak dan tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya. (Sekiranya tuhan banyak), maka masing-masing tuhan itu akan membawa apa yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu. (Dialah Tuhan) yang mengetahui semua yang gaib dan semua yang tampak. Maha Tinggi (Allah) dari apa yang mereka persekutukan." [QS. Al-Mu`minūn: 91-92]

Ilah yang hak (benar) niscaya harus Maha Pencipta dan Maha Berbuat, yang menyampaikan manfaat kepada para penyembah-Nya dan menolak mudarat dari mereka. Maka, seandainya bersama-Nya —Yang Maha Suci—ada tuhan lain yang menyekutui-Nya dalam kekuasaan, tentu tuhan tersebut juga memiliki ciptaan dan perbuatan.

Ketika itu, ia tidak akan rela dengan persekutuan tersebut. Bahkan, jika ia mampu menundukkan sekutunya itu dan berkuasa sendiri atas kerajaan dan ketuhanan, niscaya ia akan melakukannya. Jika tidak mampu, maka ia akan menyendiri dengan makhluk ciptaannya dan pergi membawanya, sebagaimana para penguasa di dunia memisahkan diri satu sama lain dengan kerajaannya masing-masing apabila salah seorang dari mereka tidak mampu menundukkan dan mengalahkan yang lain.

Sebab itu, harus ada salah satu dari tiga perkara:

- Masing-masing tuhan akan membawa ciptaannya dan kekuasaannya.

- Atau sebagian mereka mengalahkan sebagian yang lain.

- Atau mereka berada di bawah dominasi satu raja yang berbuat terhadap mereka sekehendak-Nya, sedangkan mereka tidak dapat berbuat apa pun terhadap-Nya. Dia semata yang menjadi Tuhan, sedangkan mereka adalah para hamba yang dikuasai dan ditundukkan dari segala sisi.

Keteraturan seluruh urusan alam semesta dan ketepatan pengaturannya merupakan bukti yang paling jelas bahwa Pengaturnya adalah satu Tuhan, satu Raja, dan satu Rabb. Tidak ada sesembahan bagi makhluk selain Dia, dan tidak ada Rabb bagi mereka selain-Nya.

Pengetahuan bahwa keberadaan alam semesta yang berasal dari dua pencipta yang setara adalah sesuatu yang mustahil secara esensial, telah tertanam dan mapan dalam fitrah, dan diketahui dengan akal yang jernih akan kebatilannya. Demikian pula batillah anggapan ketuhanan dua tuhan. Dengan demikian, ayat yang mulia ini sejalan dengan apa yang telah tetap dan mengakar dalam fitrah berupa tauhid rububiyah, serta menunjukkan, menegaskan, dan mengharuskan adanya tauhid uluhiyah.

5- Kedudukan Tauhid Rububiyah:=

Kedudukan Tauhid Rububiyah dalam Islam

- Sebagai Rukun Dia sebagai salah satu rukun tauhid. Tauhid tidak sempurna kecuali dengannya.

- Dia Sebagai Wasilah dan Tujuan Ia berfungsi sebagai sarana untuk mencapai tujuan utama, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah.

- Hubungan implikasi dan keterkandungan (At-Taḍammun wal-Iltizām) Tauhid rububiyah meniscayakan adanya tauhid uluhiyah, dan tauhid uluhiyah terkandung di dalamnya.

- Kebahagiaan dan Keselamatan Tauhid rububiyah saja tidak cukup untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Harus disertai dengan mengesakan Allah dalam peribadatan sesuai dengan syariat-Nya, serta berlepas diri dari penyembahan terhadap segala sesuatu selain-Nya.

Tauhid Rububiyah bersifat fitrah dalam jiwa manusia

“Hati manusia diciptakan dalam keadaan mengakui keberadaan-Nya, bahkan lebih kuat dan lebih mendasar daripada pengakuannya terhadap keberadaan makhluk-makhluk lain. Hal ini sebagaimana yang dikatakan para rasul dalam firman Allah yang menceritakan tentang mereka: "Rasul-rasul mereka berkata, 'Apakah ada keraguan terhadap Allah, pencipta langit dan bumi?'” [41] Syarḥ al-'Aqīdah aṭ-Ṭaḥāwiyyah karya Ibnu Abil-'Izz al-Ḥanafiy, (Hal. 1/127).

Tauhid Rububiyyah adalah wasilah, bukan tujuan

Kaum musyrikin bangsa Arab mengakui tauhid rububiyah dan bahwa pencipta langit dan bumi adalah satu, sebagaimana Allah berfirman tentang mereka, "Sungguh, jika engkau tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Mereka pasti menjawab, 'Allah.' Katakanlah (Muhammad), 'Milik siapakah bumi dan semua yang ada di dalamnya jika kalian mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Milik Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kalian tidak ingat?'" Mereka tidaklah meyakini bahwa berhala-berhala itu adalah sekutu bagi Allah dalam penciptaan alam semesta, melainkan keyakinan mereka terkait berhala-berhala itu sama seperti keyakinan kaum musyrikin lain yang serupa dari bangsa India, Turki, Barbar, dan lainnya. Terkadang mereka meyakini bahwa ini adalah patung-patung orang-orang saleh dari kalangan para nabi dan orang-orang saleh, lalu mereka menjadikannya sebagai pemberi syafaat dan bertawasul dengannya kepada Allah. Inilah asal mula kesyirikan bangsa Arab. Allah Ta'ala berfirman menceritakan tentang kaum Nuh, "Mereka berkata, 'Jangan sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwā’, Yagūṡ, Ya`ūq, dan Nasr.'”

Disebutkan dalam Sahih Bukhari, kitab-kitab tafsir, kisah-kisah para nabi, dan selainnya, dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- dan selainnya dari kalangan salaf, bahwa ini adalah nama orang-orang saleh dari kalangan kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, kaumnya berdiam di kuburan mereka, kemudian mereka membuat patung-patung mereka. Seiring berlalunya masa yang panjang, mereka pun menyembahnya. Lalu patung-patung ini sampai ke kabilah-kabilah Arab yang namanya disebutkan oleh Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- satu per satu.”[42] [42] Syarḥ al-'Aqīdah aṭ-Ṭaḥāwiyyah karya Ibnu al-'Izz al-Ḥanafiy, (Hal. 1/129-130).

Jadi, tujuan utamanya adalah penetapan tauhid uluhiyah. Di antaranya adalah bahwa Allah menetapkan tauhid rububiyah dan menjelaskan bahwa tidak ada Pencipta selain Allah, dan bahwa hal tersebut mengharuskan agar tidak ada yang disembah kecuali Allah semata. Dengan demikian, Dia menjadikan yang pertama sebagai dalil atas yang kedua. Hal itu karena mereka mengakui yang pertama (tauhid rububiyah), tetapi memperdebatkan yang kedua (tauhid uluhiyah). Maka Allah Ta'ala menjelaskan kepada mereka, “Jika kalian mengetahui bahwa tidak ada Pencipta selain Allah semata, dan bahwa Dialah yang mendatangkan kepada para hamba segala sesuatu yang bermanfaat bagi mereka serta menolak dari mereka segala sesuatu yang membahayakan, tanpa sekutu bagi-Nya dalam hal itu, maka mengapa kalian menyembah selain Dia dan menjadikan bersama-Nya tuhan-tuhan yang lain?”

Seperti firman Allah Ta'ala, "Katakanlah (Muhammad), 'Segala puji bagi Allah dan salam sejahtera atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik ataukah apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)?' Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi, dan yang menurunkan air dari langit untuk kalian, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kalian tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran)." Demikian pula ayat-ayat setelahnya. Allah Ta'ala berfirman di akhir setiap ayat tersebut, "Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?" Maksudnya: Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah yang melakukan ini? Ini adalah pertanyaan pengingkaran yang mengandung penafian terhadap hal tersebut. Padahal, mereka mengakui bahwa tidak ada yang melakukan hal itu selain Allah, maka Dia pun berhujah atas mereka dengan hal itu.”[43] [43] Syarḥ al-‘Aqīdah aṭ-Ṭaḥāwiyyah karya Ibnu al-'Izz al-Ḥanafiy, (Hal. 1/136-137).

Tauhid uluhiyah mencakup tauhid rububiyah, bukan sebaliknya

Tauhid uluhiyah mencakup tauhid rububiyah, bukan sebaliknya. Siapa yang tidak mampu menciptakan pastilah lemah, dan yang lemah tidak pantas menjadi ilah. Allah Ta'ala berfirman, "Mengapa mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu (berhala) yang tidak dapat menciptakan apa pun? Padahal (berhala) itu sendiri diciptakan." Allah Ta'ala juga berfirman, "Maka apakah (Allah) yang menciptakan sama dengan yang tidak dapat menciptakan (sesuatu)? Maka mengapa kalian tidak memikirkan?" Dia juga berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Jika ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai Arasy'.”

Dalam tafsir ayat ini, ulama generasi akhir memiliki dua pendapat:

- Pertama: Niscaya tuhan-tuhan itu akan menempuh jalan untuk mengalahkan Allah.

- Kedua, dan ini adalah pendapat yang sahih yang dinukil dari para salaf, seperti Qatadah dan selainnya, dan ini pula yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dan beliau tidak menyebutkan selainnya, bahwa: mereka akan mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, seperti firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya ini adalah peringatan. Siapa yang menghendaki, niscaya dia mengambil jalan (yang lurus) kepada Tuhannya." Hal itu karena Allah berfirman sebelumnya, "Katakanlah (Muhammad), 'Jika ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan...." Mereka tidak mengatakan bahwa alam semesta ini memiliki dua pencipta, melainkan mereka menjadikan tuhan-tuhan lain bersama-Nya sebagai pemberi syafaat. Mereka berkata, "Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." Ini berbeda dengan ayat yang pertama.[44] [44] Syarḥ al-'Aqīdah aṭ-Ṭaḥāwiyyah karya Ibnu al-'Izz al-Ḥanafiy, (Hal. 1/140-141).

Kaum musyrikin mengakui tauhid rububiyah, namun pengakuan itu tidak bermanfaat bagi mereka.

Allah Ta'ala berfirman, "Wahai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu, janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 21-22] Allah berhujah atas manusia dengan pengetahuan mereka bahwa Allah semata yang menguasai penciptaan, kepemilikan, dan pengaturan, sebagai dasar kewajiban mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa tauhid rububiyah berfungsi sebagai hujah (argumen), bukan tujuan akhir, dan tidaklah cukup dengan sendirinya untuk mewujudkan tauhid yang sempurna, untuk selamat dari kesyirikan, maupun untuk meraih surga dan selamat dari neraka. Allah telah menyebutkan dalam banyak ayat pengakuan orang-orang musyrik terhadap tauhid rububiyah secara umum, namun meskipun demikian mereka tetap tergolong musyrik, seperti dalam firman-Nya: "Jika engkau bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?' Mereka pasti akan menjawab, 'Allah.' Lantas, mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran)?" [QS. Al-'Ankabūt: 61]

"Allah melapangkan rezeki bagi orang yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang membatasinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menurunkan air dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu setelah matinya?' Pasti mereka akan menjawab, 'Allah.' Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah,' tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti." [QS. Al-'Ankabūt: 62-63]

Allah berfirman, "Sungguh, jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' pasti mereka akan menjawab, 'Allah.' Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah,' tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." [QS. Luqmān: 25] Dia juga berfirman, "Sungguh, jika engkau tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Niscaya mereka menjawab, 'Allah.' Katakanlah, 'Kalau begitu, terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian sembah selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan bencana kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bencana itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya?' Katakanlah, 'Cukuplah Allah bagiku. Hanya kepada-Nyalah orang-orang bertawakal berserah diri'.” [QS. Az-Zumar: 38] Dia juga berfirman, "Sungguh, jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Mereka pasti akan menjawab, 'Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui'." [QS. Az-Zukhruf: 9]

Dia juga berfirman, "Allah yang menciptakan kalian, kemudian memberi kalian rezeki, lalu mematikan kalian, kemudian menghidupkan kalian (kembali). Adakah di antara mereka yang kalian sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu yang demikian itu? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan." [QS. Ar-Rūm: 40]

Sesungguhnya tauhid rububiyah saja tidak menyelamatkan dari neraka dan tidak memasukkan ke dalam surga, karena tauhid yang menyelamatkan adalah syahadat "Lā ilāha illallāh Muḥammad Rasulullāh", yaitu mengakui bahwa hanya Allah yang berhak diibadahi dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, lalu beribadah kepada Allah sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.

Tidak ada seorang pun dari bani Adam yang memperselisihkan pokok tauhid rububiyah, mereka hanyalah memperselisihkan sebagian perinciannya.

6- Konsekuensi Tauhid Rububiyah

1) Menauhidkan-Nya dalam zat, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya.

Allah tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak akan mengalami kefanaan. Dialah al-Awwal yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, Dialah al-Ākhir yang tidak ada sesuatu pun setelah-Nya, Dialah aẓ-Ẓāhir yang tidak ada sesuatu pun di atas-Nya, dan Dialah al-Bāṭin yang tidak ada sesuatu pun di bawah-Nya.

2) Mengesakan-Nya dalam tujuan, niat, dan doa sesuai dengan syariat-Nya.

Di antara konsekuensi tububiyah yang paling agung adalah mengesakan-Nya dengan peribadatan yang murni hanya untuk-Nya, sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Muhammad ﷺ. Allah berfirman, "Wahai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 21-22]

3) Menauhidkan Allah dalam qada dan qadar-Nya.

Yaitu dengan meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya yang mengatur alam semesta ini, tidak ada sesuatu pun yang bergerak maupun diam kecuali dengan izin dan perintah-Nya. Dialah yang telah menetapkan takdir para makhluk sejak zaman azali, Dia mengetahuinya, menuliskannya, menghendaki kejadiannya, dan menciptakannya satu demi satu. Allah Ta'ala berfirman, "Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya, tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut." [QS. Al-An'ām: 59]

4) Mengesakan-Nya dalam penetapan syariat.

Seorang penguasa, menteri, ulama, maupun ahli ibadah tidak boleh menjadi pembuat syariat bersama Allah, karena menghalalkan dan mengharamkan hanyalah hak Allah. Allah Ta'ala berfirman, "Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridai) Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda (hukuman dari Allah) tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan. Sesungguhnya orang-orang zalim itu akan mendapat azab yang sangat pedih." [QS. Asy-Syūrā: 21]

7- Pembatal-pembatal tauhid rububiyah

Contoh-contoh pembatal yang menjadikan selain Allah memiliki kekuasaan dalam penciptaan, pengaturan, atau pengendalian alam semesta bersama Allah

Contoh orang yang terjerumus ke dalam pembatal tauhid rububiyyah:

1) Menyekutukan-Nya dalam penciptaan, yaitu menetapkan adanya pelaku independen selain Allah.

Contoh orang yang terjerumus dalam pembatal tauhid rubūbiyyah adalah: sekte Ṡanawiyyah (dualistik), kaum Majusi, dan orang-orang Nasrani yang meyakini trinitas, serta konsekuensi dari sekte Qadariyah. Misalnya, orang yang menganggap hewan menciptakan perbuatannya secara mandiri, menganggap planet-planet, akal, jiwa, malaikat, atau selainnya dapat menciptakan sesuatu secara mandiri. Jadi, hakikat dari perkataan mereka adalah meniadakan pelaku bagi segala peristiwa.

2) Meyakini sesuatu selain Allah memiliki kekuasaan atau pengaturan alam bersama-Nya.

Contoh orang yang melakukan pembatal tauhid rububiyah: - Kelompok Rāfiḍah (Syiah), karena keyakinan mereka bahwa dunia dan akhirat adalah milik imam yang ia kelola sekehendak hatinya, dan bahwa tanah kuburan Husein adalah penyembuh dari segala penyakit serta pelindung dari segala ketakutan; juga keyakinan mereka bahwa imam-imam mereka mengetahui perkara yang gaib, mengetahui kapan mereka akan mati, dan tidak mati kecuali dengan izin mereka.

- Kaum Nuṣairiyah, karena keyakinan mereka akan ketuhanan Ali bin Abi Ṭālib dan bahwa dialah pengatur alam semesta, serta karena mereka menyifatinya dengan sifat-sifat yang tidak boleh disematkan kepada siapa pun kecuali kepada Allah ﷻ, meskipun terdapat perbedaan pendapat di antara mereka mengenai hal ini.

- Kaum ekstremis sufi, karena sikap guluw (berlebihannya) mereka dalam mengultuskan para wali dan anggapan mereka bahwa para wali dapat memberi mudarat dan manfaat, mengatur alam semesta, dan mengetahui perkara gaib.

3) (Dalam masalah) mengesakan-Nya Terkait penetapan syariat, yaitu dengan menjadikan sekutu bagi Allah yang menetapkan hukum halal dan haram.

Contoh orang yang terjerumus dalam pembatal tauhid rububiyah adalah para pembuat undang-undang yang menyelisihi syariat, yaitu mereka yang menetapkan hukum-hukum buatan manusia, berhukum dengannya, dan menuntut agar manusia berhukum kepadanya.

8- Kaum Ateis dan Sikap Muslim terhadap Mereka

Jenis-jenis kaum ateis di zaman modern

1. Penganut ateisme positif, yaitu mereka yang mengklaim memiliki teori-teori yang dianggap dapat membuktikan tidak adanya Allah. Jumlah mereka sangat sedikit.

Definisi ilḥād (ateisme):

Secara bahasa: condong, menyimpang, dan melenceng dari pokok sesuatu.

Secara istilah: condong, berpaling, dan menyimpang dari kebenaran yang wajib diyakini atau diamalkan.

Pada masa sekarang: pengingkaran terhadap keberadaan Allah Ta'ala.

Para pengikut jenis ateis ini berjalan dalam dua arah

- Filosofis: berlandaskan pada perdebatan dan kajian filsafat.

- Ilmiah: berdasarkan pada perdebatan ilmiah, seperti fisika dan semisalnya.

2. Penganut ateisme negatif, yaitu mereka yang mengatakan, "Dalil-dalil tidak bisa membuktikan keberadaan Allah."

Mereka ini adalah mayoritas kaum ateis. Mereka pada umumnya bersikap skeptis (ragu), mengikuti hawa nafsu dan syahwat, serta menjadikan ateisme sebagai reaksi terhadap kondisi psikologis tertentu. Mereka juga sering disebut sebagai ateis agnostik. Sebagian dari mereka ada yang menganut paham deisme (rububiyah), yakni mengakui adanya Sang Pencipta, tetapi mengklaim bahwa Dia telah “tiada” setelah menciptakan, atau tidak lagi memiliki hubungan dengan ciptaan-Nya. Oleh karena itu, mereka bersikap menentang agama-agama yang ada.

Sikap Muslim Terhadap Persoalan Ilḥād:

Persoalan ilhad ditolak oleh kaum muslimin berdasarkan fitrah, akal, dan agama, dan tidak ada satu pun pembenarannya. Allah telah menganugerahkan kepada mereka nikmat-nikmat yang tidak terhitung jumlahnya. Di antara nikmat-Nya dalam hal ini adalah:

a) Allah menjamin untuk menjaga Kitab-Nya. Dia berfirman, "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur`an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya." [QS. Al-Ḥijr: 9]

Di antara kesempurnaan nikmat ini adalah bahwa Allah menyiapkan para ulama untuk menjaga sunnah Nabi-Nya ﷺ, sehingga dijelaskanlah hadis-hadis palsu yang disisipkan ke dalamnya. Jadi, sumber-sumber pengambilan agama ini terjaga dan makna-maknanya pun telah jelas atas karunia Allah Ta'ala.

b) Tidak ada satu pun dalam wahyu dari Allah yang kontradiktif dengan akal sehat maupun sains modern. Bahkan, sains modern terkadang datang dengan perincian-perincian yang telah diisyaratkan oleh wahyu secara garis besar. Di dalam wahyu ilahi sendiri terdapat seruan yang jelas untuk menuntut ilmu, berpikir, dan melakukan tadabur.

c) Tidak ada satu pun dari apa yang Allah perintahkan kepada kita, baik untuk dikerjakan maupun ditinggalkan, yang bertentangan dengan kemaslahatan manusia dalam urusan dunia mereka, tidak pula menghilangkan kebahagiaan pada badan mereka. Bahkan, di dalamnya terdapat jaminan bagi kebahagiaan ruh dan badan, kebaikan dunia dan akhirat, serta kebaikan individu dan masyarakat.

d) Syirik adalah kebalikan dari Islam. Allah mengharamkan setiap sarana yang dapat mengantarkan kepadanya. Di antaranya adalah sikap berlebihan (guluw) terhadap orang-orang saleh dan kubur-kubur mereka, serta pengharaman pembuatan patung-patung. Dalam Islam tidak ada perantara antara seorang hamba dengan Allah dalam ibadah maupun tobat, dan tidak ada kelas pemuka yang berkuasa menindas manusia dalam urusan rezeki, ilmu, atau kehidupan pribadi mereka. Yang ada hanyalah para ulama dalam agama Islam, yang diwajibkan oleh Allah untuk menjelaskan ajaran agama kepada manusia.

e) Di dalam Islam tidak ada pengharaman terhadap hal-hal yang baik dan tidak pula ada rahbaniyah (hanya fokus beribadah). Islam hanya memerintahkan pengendalian naluri dan memandang dunia sebagai ladang untuk akhirat. Kita diperintahkan agar pada setiap waktu yang kita miliki, kita menjadikannya layak untuk beribadah kepada Allah, berhukum dengan syariat-Nya, dan membangun di dalamnya peradaban yang bermanfaat bagi manusia dan juga hewan. Allah berfirman, "Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian sebagai pemakmurnya. Karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya)."

9- Buah Positif Tauhid Rubūbiyyah

Dampak positif kekuatan tauhid rububiyah dalam jiwa manusia

a) Merasakan kenikmatan berpegang teguh pada agama Islam, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

b) Adanya keberanian dan kekuatan dalam kehidupan. Kematian ada di tangan Allah, kehidupan ada di tangan Allah, dan rezeki ada di tangan Allah. Lantas, mengapa harus takut kepada para makhluk dan bergantung kepada mereka? Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketahuilah, bahwa sekiranya umat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan bagimu. Sebaliknya, sekiranya mereka bersatu untuk menimpakan mudarat kepadamu, mereka tidak akan bisa menimpakan mudarat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran takdir telah kering."[45] [45] HR. Tirmizi, (No. 2516). Tirmizi berkata, "Hadis hasan sahih.

c) Rida kepada takdir Allah, sehingga tidak ada kesombongan saat meraih yang diinginkan dan tidak ada kemarahan maupun keluh kesah saat kehilangannya.

d) Menjunjung tinggi syariat dan berbangga dengannya, serta tidak menentangnya, baik dengan dalih takdir, adat, perasaan, politik, hawa nafsu, maupun logika.

e) Adanya ketergantungan hati kepada Allah dalam meraih manfaat dan menolak mudarat, karena meyakini bahwa segala sesuatu berada di tangan Allah.

f) Banyak berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah ﷻ.

Level Kedua

Tauhid Uluhiyah

dan Tauhid Asma` wa Sifat

Pertama: Tauhid Uluhiyah

Di dalam tema ini terdapat beberapa pembahasan, yaitu:

- Definisi tauhid uluhiyah dan batasan syirik di dalamnya.

- Urgensi tauhid uluhiyah.

- Keutamaan tauhid ulūhiyyah.

- Tafsir "Lā ilāha illallāh"

- Contoh-contoh ibadah dan kaidah syirik di dalamnya.

- Kaidah tentang kausalitas (sebab musabab)

- Contoh-contoh syirik dalam masalah kausalitas.

- Contoh-contoh syirik dalam bentuk ucapan.

1- Definisi Tauhid Uluhiyah dan Batasan Syirik di Dalamnya

Al-Ulūhiyyah secara bahasa berasal dari kata "al-ilāh" mengikuti wazan (pola) fi'āl dengan arti maf'ūl, yakni ma'lūh. Jadi, al-ilāh adalah al-ma'lūh, yakni sesuatu yang disembah.

Tauhid uluhiyah secara istilah adalah mengesakan Allah dalam peribadatan atau mengesakan Allah dalam seluruh bentuk ibadah kepada-Nya.

Allah Ta'ala berfirman, "Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia." [QS. Al-Isrā`: 23]

Ibadah adalah setiap ucapan atau perbuatan yang perintahnya, anjurannya, atau pujian bagi pelakunya telah ditetapkan dalam syariat.

Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah, 'Hanya Allah yang aku sembah dengan memurnikan ibadahku kepada-Nya.'" [QS. Az-Zumar: 14]

Kaidah kesyirikan dalam tauhid uluhiyah adalah memalingkan salah satu jenis ibadah kepada selain Allah.

"Sebab itu, sembahlah selain-Nya sesuka kalian (wahai kaum musyrik)! Katakanlah, 'Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada hari kiamat.' Ingatlah! Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." [QS. Az-Zumar: 15]

Allah berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Wahai manusia, jika kalian masih dalam keraguan tentang agamaku, maka (ketahuilah), aku tidak menyembah yang kalian sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kalian dan aku telah diperintah agar termasuk orang yang beriman.' Juga hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan tulus dan ikhlas, dan jangan sekali-kali engkau termasuk orang yang musyrik. Janganlah engkau menyembah selain Allah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudarat kepadamu, sebab jika engkau melakukan (itu), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang zalim.” [QS. Yūnus: 104-106]

Kaidahnya adalah sebagai berikut:

Segala sesuatu yang telah ditetapkan sebagai ibadah, maka mengarahkannya kepada Allah adalah keikhlasan dan tauhid, dan mengarahkannya kepada selain Allah adalah syirik dan penyekutuan Allah.

2- Urgensi Tauhid Uluhiyah

a. Allah menciptakan kita untuk tujuan tauhid ini. "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." [QS. Aż-Żāriyāt: 56]

b. Untuk mewujudkan tauhid ini, Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya. "Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah saja dan jauhilah tagut'.” [QS. An-Naḥl: 36]

c. Tauhid ini adalah hak Allah terhadap hamba. Ini berdasarkan hadis, "Hak Allah terhadap hamba ialah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."[46] [46] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari, Kitāb al-Jihād, Bāb Ismu al-Faras wa al-Ḥimār (No. 2856) dan Muslim, Kitāb al-Īmān, Bāb ad-Dalīl 'alā Anna Man Māta 'alat-Tauḥīd Dakhalal-Jannah (No. 49).

Jadi, tauhid uluhiyah menurut Ahli Sunnah wal-Jamā'ah adalah:

- Salah satu dari rukun tauhid.

- Tujuan tauhid

- Mengandung semua jenis tauhid

- Menyelamatkan dari siksa di akhirat

- Menjadi sebab kebahagiaan di dunia.

3- Jenis-jenis Manusia dalam Tauhid Uluhiyah

Pertama: Orang yang memiliki tauhid yang sempurna

Orang yang bertauhid sempurna maksudnya:

- Meninggal dalam keadaan bertauhid dan bertobat.

- Merealisasikan tauhidnya sehingga memurnikannya dari kesyirikan, bidah, dan kemaksiatan.

- Selamat dari tiga macam kezaliman: kemusyrikan, kezaliman terhadap sesama hamba, dan kezaliman terhadap diri sendiri.

Dampak positif tauhid yang sempurna:

- Pelakunya akan masuk surga secara langsung dan mendapatkan keamanan yang sempurna di akhirat sehingga kulitnya tidak akan tersentuh api neraka.

- Meraih kebahagiaan dunia.

- Dia langsung mendapat petunjuk menuju tempat tinggalnya di surga.

- Mendapat petunjuk di dunia untuk mengerjakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan dan kemungkaran.

Dalilnya adalah:

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk." [QS. Al-An'ām: 82]

Juga disebutkan dalam hadis 'Itban: “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dengan hanya mengharapkan wajah Allah.”

Kedua: Orang yang memiliki tauhid yang kurang sempurna

Orang yang bertauhid kurang sempurna maksudnya:

- Meninggal dalam keadaan bertauhid, tapi tidak bertobat dari dosa.

- Memurnikan tauhidnya dari syirik besar, namun tidak terlepas dari bidah dan maksiat.

- Selamat dari kezaliman terbesar, namun tidak selamat dari selainnya.

Dampak positif tauhid yang kurang sempurna:

- Pelakunya meraih keamanan di akhirat dari kekekalan di neraka, tetapi ia tidak aman dari memasukinya disebabkan dosa-dosa besarnya.

- Kebahagiaan dan hidayahnya di dunia akan berkurang sesuai dengan tingkat kekurangan tauhid dalam dirinya.

- Tidak langsung mendapat petunjuk ke tempatnya di surga, melainkan dihentikan dan dihisab terlebih dahulu.

Dalilnya adalah

hadis 'Ubādah: "Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga apa pun amalnya."

Ketiga: Orang yang tidak bertauhid

Ia adalah orang musyrik.

Dampak kesyirikan ini adalah bahwa pelakunya tidak mendapatkan keamanan dan tidak pula mendapatkan petunjuk, baik di dunia maupun di akhirat.

Dalilnya adalah:

"Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya." [QS. Al-Mā`idah: 72]

"Siapa yang mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit..." [QS. Al-Ḥajj: 31]

Tauhid uluhiyyah memiliki dua keadaan: sempurna dan kurang. Bagi pemilik tauhid yang sempurna, ada keamanan sempurna dan petunjuk sempurna di dunia dan di akhirat. Bagi pemilik tauhid yang kurang, ada keamanan dan petunjuk yang kurang di dunia dan di akhirat. Adapun orang yang tidak bertauhid, maka tidak ada keamanan dan petunjuk baginya, baik di dunia maupun di akhirat.

4- Tafsir "Lā Ilāha Illallāh"

Terdapat silang pendapat antara Ahli Sunah Waljamaah dengan ahli kalam dan kaum sufi mengenai makna Lā ilāha illallāh.

a- Ahli Sunah Waljamaah mengatakan bahwa maknanya: tidak ada sembahan (yang benar) kecuali Allah.

b- Ahli kalam dan kaum sufi mengatakan bahwa maknanya: tidak ada pencipta kecuali Allah.

Perbedaan pendapat ini memiliki implikasi dalam praktik nyata yang tampak dalam permasalahan berikut:

Apa hukum menujukan doa, penyembelihan, nazar, istiazah, istigasah, dan semisalnya kepada orang mati jika perbuatan itu dilakukan tanpa keyakinan bahwa mereka dengan sendirinya dapat mendatangkan manfaat atau menolak mudarat, dan tanpa keyakinan bahwa mereka memiliki andil dalam penciptaan, kepemilikan, atau pengaturan alam semesta; melainkan hanya didasari keyakinan bahwa orang-orang mati ini memiliki kedudukan dan martabat di sisi Allah, sehingga ia menujukan amalan-amalan tersebut kepada mereka agar mereka menjadi perantara syafaat baginya di sisi Allah untuk mengampuni dosanya atau mengangkat kesusahannya?

Jawabannya: Menurut kalangan ahli kalam dan kaum sufi: hal itu diperbolehkan. Siapa yang menganggap perbuatan ini tidak boleh dan pelakunya menjadi kafir, maka dia termasuk golongan Khawarij. Adapun Ahli Sunah Waljamaah, maka berpendapat: perbuatan ini adalah syirik dalam uluhiyah yang mengeluarkan dari agama Islam, dan siapa yang melakukannya, maka dia adalah seorang musyrik pengultus kuburan. Lalu, manakah pendapat yang benar mengenai makna lā ilāha illallāh berdasarkan dalil-dalil?

Dalil-dalil ahli kalam dan kaum sufi:

Al-Ilāh itu berpola fi'āl, yang bermakna fā'il (pelaku); yakni Sang Pencipta. Sebab itu, mereka mengatakan bahwa makna al-ilāh adalah: Sang Pencipta, atau Tuhan Yang Maha Mampu untuk menciptakan, atau Sang Pembuat Yang Maha Mampu lagi Maha Memiliki, atau Tuhan Yang Maha Terdahulu yang sempurna kekuasaan-Nya, dan yang semisalnya. Mereka berdalil untuk itu dengan firman-Nya: "(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya. Sebab itu, sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?" [QS. Maryam: 65]

Jadi, ar-rabb di sini bermakna: Maha Pencipta, Maha Pemilik, dan Maha Pengatur. Ini adalah makna al-ilāh; tidak ada perbedaan di antara keduanya, dan tidak ada makna tambahan pada al-ilāh selain itu.

Dalil-dalil Ahli Sunah Waljamaah:

1- Dalil Bahasa. Al-ilāh dalam bahasa Arab mengikuti wazan fi'āl dengan arti maf'ūl, yakni ma`lūh. Jadi, al-ilāh adalah al-ma`lūh, artinya yang disembah. Ia dinamakan ilāh lantaran ia disembah, sebagaimana seorang laki-laki disebut imām jika ia mengimami orang-orang dan mereka mengikutinya. Demikian juga dengan pakaian disebut ridā` dan liḥāf jika dikenakan dan dipakai untuk berselimut. Sebab itu, seharusnya menurut kaidah maka polanya adalah ma'lūh, sebagaimana dikatakan ma'būd. Akan tetapi, para ahli bahasa menyalahi bentuk ini agar menjadi sebuah nama, lalu mereka mengatakan: ilāh, sebagaimana dikatakan untuk al-maktūb (yang ditulis): kitāb, dan untuk al-maḥsūb (yang dihitung): ḥisāb.

Al-Ilāh adalah sosok yang dijadikan sembahan oleh hati. Maksudnya, hati bergantung kepada-Nya dengan rasa cinta, takut, dan harap, karena Dia memiliki sifat-sifat sempurna dan nama-nama yang indah, serta karena Dia mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Secara bahasa, makna ilāh bukanlah Yang Maha Kuasa atau Sang Pencipta, meskipun makna tersebut terkandung di dalamnya. Tidak boleh dikatakan: ilāh, (mengikuti wazan) fi'āl, bermakna fā'il, yakni ālih, karena al-ālih adalah hamba, bukan yang disembah. Dari nama ini tidak bisa diturunkan sifat fi'liyyah bagi Allah, seperti ar-Raḥmān dan ar-Raḥīm. Nama ini hanyalah menunjukkan sifat żātiyyah bagi Allah, yaitu keberadaan-Nya sebagai yang disembah dan yang dijadikan sesembahan.

2. Dalil dari Al-Qur`an.

- Dalil: "Mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan." [QS. At-Taubah: 31]

Sisi pendalilannya: Penyembahan kepada sembahan yang esa ditafsirkan dengan 'lā ilāha illā huwa' (tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Dia) menunjukkan bahwa makna 'ilah' dalam syahadat adalah sembahan.

- Dalil: "Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Ahli Kitab, marilah kalian menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah.' Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka), 'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim'.” [QS. Āli 'Imrān: 64]

Sisi pendalilannya: "Kalimat pegangan yang sama" adalah lā ilāha illallāh, yang ditafsirkan sebagai ibadah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.

- Dalil: "(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah kecuali Allah yang menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.' Lalu (Ibrahim) menjadikan (kalimat tauhid) itu kalimat yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali (kepada kalimat tauhid itu)." [QS. Az-Zukhruf: 28]

Sisi pendalilannya: Kalimat yang kekal adalah lā ilāha illallāh, yang ditafsirkan sebagai berlepas diri dari ibadah kepada seluruh sesembahan, dan menetapkan bahwa hanya Allah semata yang berhak mendapatkan ibadah.

- Dalil: "Siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 265]

Sisi pendalilannya: Al-'urwah al-wuṡqā (tali yang sangat kuat) adalah lā ilāha illallāh, dan tafsirnya adalah mengingkari peribadatan kepada semua sesembahan, dan menetapkan ibadah hanya untuk Allah semata.

- Dalil: "Lalu kepada kaum 'Ad, (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, 'Wahai kaumku, sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagi kalian selain Dia. Sebab itu, mengapa kalian tidak bertakwa?'” [QS. Al-A'rāf: 65]

"Mereka berkata, 'Apakah kedatanganmu kepada kami agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami? Sebab itu, buktikanlah ancamanmu kepada kami, jika kamu termasuk orang yang benar!” [QS. Al-A'rāf: 70]

Sisi pendalilannya: Kalimat "Tidak ada tuhan (sembahan) bagi kalian selain Dia" ditafsirkan sebagai ibadah kepada Allah semata. Mereka pun memahaminya sebagai ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain Allah yang disembah oleh nenek moyang.

3- Dalil-dalil dari Sunnah dan Sirah:

Dalil hadis: Dalam kisah wafatnya Abu Ṭālib, Rasulullah -ﷺ bersabda kepadanya, "Wahai pamanku, ucapkanlah 'Lā ilāha illallāh', suatu kalimat yang dengannya aku akan menjadi saksi atasmu di sisi Allah." Akan tetapi, Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah berkata, "Wahai Abu Ṭālib, apakah engkau akan meninggalkan agama 'Abdul-Muṭṭalib?" Sebab itu, akhir perkataan yang diucapkannya adalah bahwa dia berada di atas agama 'Abdul-Muṭṭalib.

Sisi pendalilannya: Agama 'Abdul-Muṭṭalib adalah mengesakan Allah dalam rububiyah dan menyekutukan-Nya dalam ibadah.

"Jika engkau bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Pasti mereka akan menjawab, 'Allah'.” [QS. Az-Zumar: 38]

"Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." [QS. Az-Zumar: 3]

"Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan." [QS. Ṣād: 5]

Kisah ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan lā ilāha illallāh adalah: tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Karena seandainya maknanya adalah 'tidak ada pencipta kecuali Allah', tentu ia akan sesuai dengan agama 'Abdul-Muṭṭalib, bukan menentangnya.

Dalil hadis: Nabi ﷺ bersabda, "Aku diutus dengan pedang hingga hanya Allah yang diibadahi tanpa ada sekutu bagi-Nya." Beliau juga bersabda, "Aku diperintahkan memerangi manusia sehingga mereka mengatakan: Lā ilāha illallāh."

Sisi pendalilannya: Hal ini menunjukkan bahwa makna lā ilāha illallāh adalah beribadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Karena makna dari "aku diutus dengan pedang" adalah "aku diperintahkan untuk memerangi manusia", maka tujuan dari keduanya adalah satu, yaitu ucapan lā ilāha illallāh, yakni beribadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Dari nas-nas ini dan selainnya yang banyak, dapat ditarik dalil yang pasti bahwa makna lā ilāha illallāh adalah: tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan tidak dapat diragukan bahwa ilah yang hak pastilah sosok yang esa dalam penciptaan, kerajaan, dan pengaturan.

5- Contoh-Contoh Ibadah dan Kaidah Syirik di Dalamnya

- Perbuatan: Cinta

Dalil bahwa ia ibadah[47] adalah: "Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kalian yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya." [QS. Al-Mā`idah: 54] [47] Dalil pertama bahwa cinta itu ibadah ialah firman Allah Ta'ala: “Di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan. Mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” [QS. Al-Baqarah: 165]

Parameter kesyirikan dalam hal ini ialah: menyamakan selain Allah dengan Allah dalam cinta ibadah, yaitu keterikatan hati kepada yang dicintai yang mendorong orangnya melakukan salah satu bentuk ibadah karena dia.

Ada beberapa jenis cinta (al-maḥabbah), seperti:

1- Cinta alami: seperti cinta orang tua kepada anaknya dan cinta orang yang lapar kepada makanan.

2- Cinta yang diharamkan: seperti cinta kepada kemaksiatan dan kemungkaran, serta mendahulukan apa yang dicintai hawa nafsu daripada apa yang dicintai Allah.

3- Cinta ibadah: yaitu cinta kepada Allah dan cinta karena Allah, yaitu cinta terhadap apa yang dicintai Allah terkait orang, sifat-sifat, dan amalan-amalan.

- Perbuatan: Takut

Dalil bahwa rasa takut itu ibadah adalah: "Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kalian) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian orang-orang yang beriman." [QS. Āli 'Imrān: 175]

Parameter kesyirikan dalam hal ini adalah: engkau takut kepada selain Allah bahwa ia dapat menimpakan suatu keburukan kepadamu dengan kehendak dan kekuasaannya, sekalipun ia tidak melakukannya secara langsung.

Takut terbagi menjadi beberapa macam:

1- Takut kepada Allah. Takut ini terbagi menjadi dua:

a. Terpuji, yaitu rasa takut yang mendorongmu untuk mengerjakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan dan kemungkaran.

b. Tercela, yaitu rasa takut yang menjerumuskanmu ke dalam sikap berputus asa dari rahmat Allah.

2- Takut kepada selain Allah. Ini terbagi menjadi beberapa bagian:

a. Terpuji, yaitu rasa takut terhadap sesuatu yang memang berpotensi membahayakan, seperti takut pada mobil yang melaju kencang ke arah Anda.

b- Tercela, yaitu rasa takut dari sebab yang bersifat ilusi, yang tidak mengandung pemicu rasa takut.

c- Haram, yaitu rasa takut kepada makhluk yang membuatnya meninggalkan kewajiban-kewajiban atau melakukan dosa-dosa besar, sementara perkaranya belum sampai pada tingkat paksaan atau pembunuhan.

- Perbuatan: Tawakal

Dalil bahwa tawakal itu ibadah adalah: "Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa yang telah diberi nikmat oleh Allah, 'Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kalian memasukinya niscaya kalian akan menang. Hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal jika kalian benar-benar orang-orang beriman'.” [QS. Al-Mā`idah: 23]

Parameter kesyirikan dalam hal ini: tawakal kepada selain Allah dalam perkara yang tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah.

Adapun bertawakal kepada makhluk dalam hal-hal yang mampu ia lakukan termasuk syirik kecil.

Perwakilan yang dibolehkan adalah: mewakilkan seseorang untuk menunaikan suatu tugas dan bertawakal kepada Allah atas keberhasilannya.

- Perbuatan: al-Qaṣd (Tujuan) dan al-Irādah (Kehendak)

Dalilnya sebagai ibadah adalah: "Sebab itu, siapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya." [QS. Al-Kahf: 110]

Parameter kesyirikan dalam hal ini: sifat ria dan menginginkan dunia dengan amal-amal saleh, atau mencari keridaan Allah dengan ibadah-ibadah yang disertai ria, sum'ah, dan tujuan-tujuan duniawi.

Syirik kecil membatalkan amal yang disertainya jika ia menyertainya sejak awal, atau muncul di tengah-tengahnya lalu ia tidak berusaha menghilangkannya dan terus melanjutkannya, dan amal tersebut merupakan satu kesatuan yang bersambung antara awal dan akhirnya, seperti salat.

- Perbuatan: Doa dan Istigasah

Dalilnya sebagai ibadah adalah: "Tuhan kalian berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagi kalian'.” [QS. Gāfir: 60]

Parameter kesyirikan dalam hal ini adalah: engkau berdoa kepada selain Allah dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, atau engkau berdoa kepada orang yang gaib (tidak hadir) atau orang mati untuk memenuhi sesuatu dari kebutuhanmu.

Adapun menyeru makhluk dan meminta pertolongan kepadanya dalam perkara yang mampu ia lakukan, maka hukumnya boleh,[48] tetapi menjaga adab dengan tidak mengatakan kepadanya, "Aku beristigasah kepadamu," adalah lebih utama. [48] Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala, "Lantas orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya, lalu Musa meninjunya, sehingga matilah musuhnya itu." [QS. Al-Qaṣaṣ: 15]

- Perbuatan: Penyembelihan

Dalilnya sebagai ibadah adalah: "Sebab itu, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)." [QS. Al-Kauṡar: 2]

Parameter kesyirikan dalam hal ini adalah: menyembelih untuk selain Allah dengan niat beribadah kepadanya, seperti menyembelih untuk jin dan orang yang telah meninggal.

Adapun menyembelih untuk memuliakan tamu dengan daging, hukumnya boleh, bahkan dianjurkan.

- Perbuatan: Tawaf

Dalil tawaf sebagai ibadah adalah: "... dan hendaklah mereka melakukan tawaf di sekeliling rumah tua (Baitullah)." [QS. Al-Ḥajj: 29]

Parameter kesyirikan padanya adalah melakukan tawaf di selain Baitullah dengan niat beribadah kepada penghuninya.

Contohnya: Tawaf mengelilingi kuburan dengan penuh kehinaan dan ketundukan, seperti halnya orang yang tawaf di Ka'bah.

- Perbuatan: Ketaatan

Dalil ketaatan ini sebagai ibadah adalah: "Katakanlah (Muhammad), 'Taatilah Allah dan Rasul'." [QS. Āli 'Imrān: 32]

Parameter kesyirikan dalam hal ini adalah: menaati selain Allah dalam kemaksiatan kepada Allah dengan meyakini kehalalan perbuatan tersebut.

Ketaatan dalam kemaksiatan adalah suatu kemaksiatan sesuai dengan jenisnya jika orang yang taat tidak meyakini bahwa si pemberi perintah memiliki hak untuk menghalalkan dan mengharamkan bersama Allah atau selain-Nya.

6- Kaidah Tentang Kausalitas (Sebab Musabab)

Jika kita ingin memahami hakikat sebab musabab menurut Ahli Sunnah wal Jamaah, maka kita wajib mengenal dua sifat di antara sifat-sifat Allah, yaitu:

a. Sifat Hikmah. Di antara hikmah-Nya ialah Dia menjadikan sebab bagi segala sesuatu.

b. Sifat Qudrah (Kuasa). Di antara kekuasaan Allah Ta'ala ialah mendatangkan sesuatu tanpa sebabnya atau meniadakan pengaruh sebab.

Jadi, kaidahnya adalah:

1- Sebab-sebab itu memiliki pengaruh.

2- Pengaruhnya ada dengan izin Allah.

3- Mengerahkan segenap kemampuan dalam melakukan berbagai sebab dan melaksanakannya dengan jasad kita.

4- Kita tidak menggantungkan hati kepada sebab-sebab, melainkan kita menggantungkan hati kepada Tuhan segala sebab.

Macam-Macam Sebab

a. Hakiki, yaitu yang kausalitasnya telah ditetapkan, baik melalui syariat maupun pengalaman. Disyaratkan padanya bahwa pengaruh sebab terhadap akibatnya bersifat langsung dan ada keterkaitan di antara keduanya, atau pengaruhnya bersifat jelas, tidak tersembunyi, yang diketahui oleh masyarakat umum atau para ahli di bidangnya.

b. Ilusi, yaitu sesuatu yang tidak ada dalil syariat maupun eksperimentalnya.

7- Contoh-Contoh Masuknya Syirik pada Sebab Musabab

Sebab: Jimat

Definisinya: Sesuatu yang digantung dengan tujuan untuk mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya.

Hukumnya:

Selain ayat-ayat Al-Qur`an: Tidak boleh

Dalil-dalilnya:

Hadis Nabi ﷺ "Sesungguhnya ruqyah (yang mengandung syirik), tamīmah (jimat), dan tiwalah (jimat pengasihan) adalah kesyirikan."

Hadis Nabi ﷺ "Siapa yang menggantungkan tamīmah (jimat), maka ia telah berbuat kesyirikan."

Hukum jimat dari Al-Qur`an:

Tetap tidak diperbolehkan karena keumuman nas larangan jimat dan tidak adanya dalil pengecualiannya, juga untuk menutup celah keburukan (menggunakan Al-Qur`an pada hal-hal hina) dan mencegah penghinaan terhadap Al-Qur`an. Inilah pendapat yang benar.

Ada juga ulama yang berpendapat boleh, tetapi pendapat ini tidak sahih; sebab tidak ada dalil sahih yang mengkhususkan pembolehan jimat ayat-ayat Al-Qur`an dari seluruh nas keumuman larangan memakai jimat.

Sebab: Ruqyah

Definisinya: Membacakan bacaan tertentu kepada orang yang sakit.

Hukumnya:

Ruqyah yang mengandung kesyirikan: tidak diperbolehkan.

Ruqyah yang tidak mengandung syirik: boleh.

Di antara dalilnya adalah hadis Nabi ﷺ: "Paparkanlah kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Ruqyah itu tidak mengapa selama tidak mengandung kesyirikan."[49] [49] HR. Muslim, Kitāb as-Salām, Bāb Lā Ba`sa bir-Ruqā Mā Lam Takun Syirk (No. 2200).

Sebab: Meminta Ruqyah

Definisinya: meminta ruqyah pada orang lain.

Hukumnya: Makruh.

Dalil makruhnya adalah hadis Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhu- tentang tujuh puluh ribu orang yang masuk surga: “mereka tidak meminta diruqyah.”[50] [50] HR. Bukhari, Kitāb aṭ-Ṭibb, Bāb Man Lam Yarqi (No. 5752) dan Muslim, Kitāb al-Īmān, Bāb ad-Dalīl ‘alā Dukhūl Ṭawā`if min al-Muslimīn al-Jannah bi Gairi Ḥisāb (No. 220).

Sebab: Al-Kayy (Kauterisasi)

Definisinya: pengobatan dengan menempelkan besi panas pada tubuh.

Hukumnya:

Haram kalau tanpa ada kebutuhan.

Makruh kalau memungkinkan berobat dengan yang lain.

Boleh kalau menjadi pengobatan terbaik (untuk luka).

Dalil-dalilnya:

1- Ini berdasarkan hadis bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang berobat dengan kauterisasi atau meminta untuk diruqyah, maka sungguh ia telah berlepas diri dari sifat tawakal."[51] [51] HR. Tirmizi dalam al-Jāmi' (No. 2055), Kitāb aṭ-Ṭibb, Bāb Mā Jā`a fī Karāhiyati ar-Ruqyah; dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (No. 3489), Kitāb aṭ-Ṭibb, Bāb al-Kayy. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi' (No. 6081).

2- Rasulullah ﷺ mengobati ayah Jābir bin Abdillāh -raḍiyallāhu 'anhu- dengan kauterisasi.[52] [52] Lihat: Sunan Abī Dāwud (No. 3866), Kitāb aṭ-Ṭibb, Bāb al-Kayy.

Sebab: Tabaruk

Definisinya: mencari tambahan dan kebaikan.

Hukumnya:

Bertabaruk dari Allah:

- dengan doa, maka ia ibadah.

- atau dengan sebab tertentu: apabila sebabnya ditetapkan syariat maka hukumnya ibadah, sedangkan apabila tidak ditetapkan syariat maka hukumnya bidah.

Bertabaruk dari selain Allah adalah syirik

Di sini kita mengatakan:

1- Tabaruk dengan kubur dengan cara beribadah kepada Allah di sisinya adalah syirik kecil.

2- Mengusap-usap tanah kubur dan bagian-bagiannya: syirik kecil.

3- Tabaruk dengan diri seseorang atau apa yang terpisah darinya: syirik kecil.

Semua hal tersebut termasuk sebab-sebab yang bidah.

Sebab: Ilmu Perbintangan.

Definisinya: Mengklaim dapat mengetahui perkara gaib melalui ilmu perbintangan.

Hukumnya:

1- Digunakan sebagai ilmu at-ta`ṡīr (keyakinan bahwa benda-benda langit memberi pengaruh pada nasib). Ini terbagi 2: a- meyakini bahwa ia memberi pengaruh secara sendirinya (tanpa izin Allah). Ini hukumnya syirik besar. b- meyakini bahwa ia memberi pengaruh dengan izin Allah. Ini hukumnya syirik kecil.

2- Digunakan sebagi ilmu at-tas-yīr (untuk mengetahui peredaran waktu). Ini hukumnya boleh.

Di sini, kita mengatakan bahwa:

1- Keyakinan bahwa bintang-bintang dengan sendirinya memengaruhi peristiwa-peristiwa di bumi: syirik besar.

2- Keyakinan bahwa ia sebagai sebab yang memengaruhi (kejadian di alam): syirik kecil.

3- Keyakinan bahwa ia hanyalah sekadar tanda bagi terwujudnya takdir, maka hal ini diperbolehkan, dan inilah ilmu at-tas-yīr.

4- Terkadang bintang-bintang itu dibuatkan bangunan-bangunan di bumi, kemudian dijadikan sarana untuk mendekatkan diri dengan beribadah kepadanya. Ini syirik besar.

5- Ilmu abajadun dan astrologi termasuk dalam ilmu at-ta’ṡīr yang dilarang.[53] [53] Terdapat riwayat dari aṭ-Ṭabāraniy dalam al-Mu'jam al-Kabīr yang berisi larangan mempelajari huruf-huruf abjad untuk ramalan. Ibnu 'Abbās meriwayatkan secara marfū': "Betapa banyak orang yang mempelajari ilmu abajad (tentang huruf-huruf abjad) untuk (ilmu) ramalan perbintangan, tetapi tidak ada bagian untuknya di sisi Allah pada hari kiamat." Hadis ini palsu. Yang sahih, riwayat ini berstatus mauqūf dari ucapan Ibnu Ibnu 'Abbās (sebagaimana diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Muṣannaf (11/36) dan al-Baihaqiy dalam as-Sunan (8/139)).

Sebab: Jin, Perdukunan, dan Ramalan

Definisinya: klaim mengetahui perkara gaib, menyingkap isi hati orang lain, menunjukkan tempat barang yang hilang, dan menimpakan mudarat pada orang lain melalui perantaraan jin.

Hukumnya:

Jika jin memberikan informasi atau memberikan layanan kepada orang yang meminta bantuan mereka,

atau manusia meminta bantuan kepada jin muslim dalam mengobati sihir;

semua ini dilarang karena biasanya manusia wajib mempersembahkan tumbal atau tebusan kepada jin.

Tumbal hakikinya adalah iman dan tauhid, karena ia mendekatkan diri kepada para jin tersebut dengan kemusyrikan dan kefasikan yang menyenangkan mereka, lantas mereka pun memberinya dan melayaninya.

Oleh karena itu, kita katakan di sini:

1- Mendekatkan diri atau beribadah kepada para jin tersebut: "Ya Tuhan kami, kami (para jin dengan manusia) telah saling mendapatkan kesenangan..." [QS. Al-An'ām: 128] Hal ini adalah syirik besar yang dilakukan oleh dukun, tukang ramal, dan penyihir kepada jin.

2- Klaim mengetahui perkara gaib dari dukun dan peramal adalah klaim menyekutukan Allah dalam rububiah-Nya, dan orang yang memercayainya dalam hal itu adalah kafir dengan kekufuran besar. Adapun orang yang mendatanginya untuk minta tolong tanpa memercayainya dan hanya untuk coba-coba, maka salatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari. Sedangkan orang yang mendatanginya untuk membongkar kedustaannya, maka hal itu diperbolehkan.

Sebab: Taṭayyur (Klaim Kesialan)

Definisinya: Mengklaim adanya kesialan lewat media burung-burung, sebagian yang dilihat dan didengar, sehingga membuatmu melanjutkan rencana atau menghentikannya.

Hukumnya:

Syirik besar jika meyakini bahwa burung-burung dan hal-hal yang dianggap sial dapat mendatangkan mudarat dengan sendirinya. Adapun jika ia meyakini bahwa hal itu adalah sebab atau pertanda datangnya mudarat, maka hukumnya syirik kecil.

Dalilnya adalah hadis: "Ṭiyarah adalah kesyirikan."[54] Penawarnya adalah dengan tawakal kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- serta berdoa kepada-Nya agar Dia menghilangkan perasaan pesimis tersebut. [54] HR. Tirmizi dalam al-Jāmi', Kitāb as-Sirr, Bāb Mā Jā`a fī aṭ-Ṭiyarah (No. 1614) dan Abu Daud dalam as-Sunan, Kitāb aṭ-Ṭibb, Bāb fī aṭ-Ṭiyarah (No. 3910). Hadi ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi' (No. 3960).

Taṭayyur adalah meramalkan sesuatu yang akan membuatmu terus maju atau yang membuatmu membatalkannya.

Adapun fa`l adalah sifat optimis yang menambah semangatmu pada urusan yang sedang kamu kerjakan. Ini adalah perkara yang dianjurkan oleh syariat.

Ini berdasarkan hadis: "Saya suka al-fa`l." [55] [55] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari, Kitāb aṭ-Ṭibb, Bāb al-Fā`l (No. 5756) dan Muslim, Kitāb as-Salām, Bāb aṭ-Ṭiyarah wal-Fā`l wa Mā Yakūnu fīhi min asy-Syu`m (No. 2224).

8- Contoh-Contoh Kesyirikan dalam Bentuk Ucapan

Di antara contoh ucapan syirik tersebut adalah:

a. Bersumpah dengan selain Allah.

Contohnya: Demi Nabi - Demi hidup si Fulan - saya menjatuhkan talak

Hukumnya: Syirik besar jika di dalam hati orang yang bersumpah terdapat pengagungan terhadap yang disumpahkannya seperti pengagungan kepada Allah.

Syirik kecil jika pengagungan pada yang disumpahkan tidak sampai pada derajat pengagungan Allah.

b. Bersumpah mendahului Allah.

Contohnya: Demi Allah, tidak akan terjadi begini dan begitu; Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni si fulan; Demi Allah, sesungguhnya Allah pasti akan menolong kita.

Hukumnya: Jika pendorong sumpah ini adalah kuatnya kepercayaan kepada Allah yang disertai pengakuan akan kelemahan diri, maka bersumpah kepada Allah dalam meraih kemenangan ini hukumnya diperbolehkan.

Adapun jika pendorongnya adalah kesombongan, berbangga diri, dan merasa berhak menuntut ini dan itu dari Allah, maka ini haram.

c. Menjadikan Allah sebagai perantara terhadap makhluk-Nya.

Contohnya: Kami meminta syafaat kepada Allah lewat perantaramu.

Hukumnya: Haram karena Allah Ta'ala memiliki kedudukan yang jauh lebih agung daripada dijadikan sebagai perantara untuk mendekati makhluk-Nya.

d. Meminta dengan menyebut "Atas nama wajah Allah".

Contohnya: Aku meminta kepadamu atas nama wajah Allah agar engkau memberiku begini dan begitu.

Hukumnya: Tidak boleh, karena wajah Allah lebih agung daripada dijadikan dalih untuk meminta suatu kepentingan dunia. Seseorang hanya boleh memohon kepada Allah dengan menyebut wajah-Nya agar dianugerahi Surga Firdaus yang tertinggi.

e. Menisbahkan nikmat Allah kepada selain-Nya.

Contohnya: Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu; Kalaulah bukan karena polan, niscaya terjadilah demikian; Kalaulah bukan karena Allah dan polan; Atas kehendak Allah dan kehendakmu.

Hukumnya: Lafaz-lafaz seperti ini tidak dibolehkan. Adapun untuk menyebutkan sebab yang hakiki, maka katakanlah: "Kalau bukan karena Allah kemudian si polan"; "Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu"; "Kalau bukan karena Allah semata" atau "Atas kehendak Allah semata".

f. Mencela waktu dan angin.

Contohnya: Melaknat hari-hari dan kondisi cuaca.

Hukumnya:

1. Jika didasari keyakinan bahwa waktu adalah pelaku, bukan Allah, maka ini adalah syirik besar.

2. Jika meyakini bahwa waktu menjadi tempat terjadinya hal yang makruh, maka ini haram.

3- Jika murni sebatas pemberitahuan: misalnya seseorang berkata, “Kami lelah karena cuaca yang sangat panas,” maka hal ini tidak mengapa.

Lafaz-lafaz yang tidak patut bagi Allah:

Contohnya: - "As-salāmu 'alallāh (semoga kesejahteraan untuk Allah)", karena sesungguhnya Allah adalah Maha Pemberi keselamatan.

- "Wudukanlah rabb-mu/ Beri makan rabb-mu)"; dengan maksud bahwa rabb di sini adalah majikan atau tuan.

Hukumnya: Lafaz-lafaz ini tidak pantas (diucapkan). Lafaz seperti ini dibolehkan dalam perkara yang layak bagi Allah, seperti: seorang hamba menaati rabb-nya, yakni: tuannya.

Lafaz-lafaz yang tidak patut bagi selain Allah:

Contoh dan Hukumnya:

- Malikul-Mulūk atau Qāḍil-Quḍāh: Lafaz yang universal seperti ini tidak diperbolehkan.

- As-Sayyid: Tidak boleh digunakan dengan maksud kekuasaan mutlak.

- Memberi nama dengan nama-nama Allah: Tidak dibolehkan jika menggunakan "al" (tanda makrifah), atau jika yang dimaksud adalah makna sifatnya.

- Tidak boleh memberi nama yang mengandung penghambaan kepada selain Allah, seperti: 'Abdun-Nabiy atau 'Abdul-Ḥusain.

Kedua: Tauhid Asma` dan Sifat

Di dalam dibahas:

1- Kedudukan Tauhid Asma` wa Sifat dalam akidah.

2- Kewajiban kita terkait Tauhid Asma` wa Sifat beserta penjelasan sebabnya.

3. Pengertian Tauhid Asma` wa Sifat dan penjelasan istilah-istilah yang terdapat di dalamnya.

4- Perbedaan antara Tamṡīl dan Takyīf.

5. Metode Ahli Sunah Waljamaah dalam pendalilan akal terhadap sifat-sifat Allah.

6- Metode Ahli Sunah Waljamaah dalam masalah nama dan sifat Allah.

7- Jenis-jenis sifat Allah disertai contoh dan penjelasan kewajiban kita pada setiap jenisnya.

8. Contoh-contoh nama dan sifat Allah.

1- Kedudukan Tauhid Asma` wa Sifat dalam Akidah

Tauhid Asma` wa Sifat adalah asas akidah Islam. Akidah berlandaskan pada iman kepada Allah sedangkan tauhid Asma` wa Sifat adalah sarana untuk mengenal Allah. Siapa yang tidak mengenal Tuhannya, bagaimana bisa sah ibadahnya kepada-Nya?

Siapa yang meniadakan sifat-sifat Allah, maka ia telah menyembah ketiadaan, bukan menyembah Allah. Siapa yang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan benda-benda mati, maka ia telah menyembah berhala, bukan menyembah Allah. Seorang hamba tidaklah dianggap menyembah Allah hingga ia menyembah sosok yang tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya; Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Yang Maha Esa, tempat bergantung segala sesuatu, yang tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.

Tauhid Asma` wa Sifat adalah salah satu rukun iman kepada Allah. Keimanan seseorang kepada Allah tidak sah kecuali dengannya. Jadi, iman kepada Allah ditegakkan di atas keimanan akan wujud-Nya, rububiah-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta uluhiyah-Nya. Sebab itu, siapa yang tidak menauhidkan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, sungguh ia telah meninggalkan satu rukun dari rukun-rukun iman kepada Allah. Oleh karena itu, harus meyakini Tauhid Asma` wa Sifat agar iman kepada Allah menjadi sempurna.

Tauhid Asma` wa Sifat adalah salah satu rukun tauhid. Tauhid seseorang tidak sah kecuali dengannya. Tauhid kepada Allah ditegakkan di atas pengesaan terhadap rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, serta dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Jadi, dalam menauhidkan Allah, wajib pula untuk menauhidkan-Nya dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Tauhid Asma` wa Sifat adalah pintu yang mesti dimasuki manusia untuk meraih penghambaan yang hakiki kepada Allah. Bagaimana mungkin orang yang tidak mengenal Allah dapat mencintai-Nya, takut terhadap azab-Nya, dan mengharapkan rahmat-Nya? Hal yang paling membuat kita mengenal terhadap Allah adalah dengan mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Tauhid Asma` wa Sifat adalah sarana paling besar bagi seorang muslim dalam mendidik dirinya, yaitu mendidiknya untuk senantiasa merasa diawasi Allah, tidak berputus asa dari rahmat Allah, mengagungkan Allah, serta untuk bertobat, bersabar, rida, dan yakin. Semua amalan hati yang dituntut dalam iman serta amalan anggota tubuh yang wajib, tidak mungkin dapat ditunaikan dan dibiasakan oleh seseorang kecuali dengan mengenal Tuhannya, melalui pengenalan terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Tuhan kita disifati dengan sifat ilmu, rahmat, kuasa, pemberi rezeki, dan sifat-sifat-Nya yang lain. Setiap kali seorang hamba mengenal salah satu dari sifat-sifat tersebut, niscaya hal itu akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada amalan hatinya, ucapan lisannya, dan perbuatan anggota tubuhnya.

Tauhid Asma` wa Sifat:

- Asas akidah Islam

- Ilmu yang memperbaiki hati manusia dan mendidik perilakunya.

- Salah satu rukun iman kepada Allah

- Salah satu rukun tauhid

- Sarana terbesar untuk mengenal Allah

2- Kewajiban Kita dalam Tauhid Asma` wa Sifat serta Penjelasan Sebabnya.

Kewajiban kita adalah mengimani semua yang diberitakan Allah kepada kita tentang diri-Nya, berupa nama-nama dan sifat-sifat, baik berupa penafian maupun penetapan, yang terdapat dalam Kitabullah maupun hadis yang sahih tanpa menyelewengkan maknanya.

Penyebabnya:

a. Pembahasan bab nama-nama dan sifat-sifat Allah termasuk kategori berita yang berkisar antara peniadaan dan penetapan, sehingga kewajiban kita adalah beriman pada berita dari Allah tentang diri-Nya, yaitu mengenai nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang ditiadakan dan yang ditetapkan, dan tidak mendustakan sedikit pun darinya.

b. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- lebih tahu tentang diri-Nya dan tentang selain diri-Nya, paling benar ucapan-Nya, dan paling bagus firman-Nya daripada makhluk-Nya, sehingga kita tidak boleh menentang kabar-kabar-Nya tentang diri-Nya dengan dasar logika maupun hawa nafsu.

c. Rasulullah ﷺ adalah sosok yang paling mengenal Allah melalui apa yang Allah kabarkan kepadanya terkait nama-nama dan sifat-sifat-Nya, sehingga wajib atas kita untuk menerima apa yang disebutkan dalam hadisnya terkait sifat-sifat Allah Ta'ala.

d. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- tidak memiliki yang semisal dengan-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada tandingan-Nya, dan tidak dapat dibandingkan dengan makhluk-Nya, sehingga kita wajib untuk memutuskan angan-angan dalam upaya mengetahui hakikat kaifiat sifat-sifat-Nya dari selain jalan Kitabullah dan sunnah.

Oleh karena itu, kita wajib berhenti dalam bab nama-nama dan sifat-sifat Allah pada apa yang disebutkan dalam Al-Qur`an dan sunnah, dan mempertahankan maknanya sesuai dengan yang dimaksud tanpa perubahan.

Karena pembahasan dalam bab nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah pembahasan tentang kabar yang berkisar antara penafian dan penetapan, juga karena yang mengabarkan hal tersebut adalah Allah, baik di dalam Al-Qur`an maupun sunnah, maka kita sebagai pendengar firman-Nya tidak punya pilihan lain selain membenarkannya, bahkan wajib mengimani semua kabar yang dinafikan maupun yang ditetapkan tersebut tanpa melakukan ilhad (penyimpangan) terhadapnya dalam bentuk apa pun.

3- Pengertian Tauhid Asma` wa Sifat dan Penjelasan Istilah-istilah yang Terdapat di Dalamnya.

Tauhid Asma` wa Sifat adalah mengesakan Allah Ta'ala terkait nama-nama dan sifat-sifat-Nya, yang terdapat dalam Al-Qur`an atau sunnah, tanpa melakukan penyimpangan padanya.

Ilḥād (Penyimpangan terhadap Nama-nama dan Sifat-sifat Allah)

Secara bahasa: miring dan menyimpang dari sesuatu.

Secara istilah: memalingkan nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan ayat-ayat-Nya dari kebenaran yang telah ditetapkan padanya.

Dalilnya:

"Allah memiliki asmaulhusna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." [QS. Al-A'rāf: 180]

Penyimpangan terkait Ayat-ayat Kauniyah (Tanda-tanda Kebesaran Allah di Alam Semesta)

Maksudnya adalah:

a- Mengingkari keberadaan Allah dan status-Nya sebagai pencipta seluruh makhluk yang merupakan tanda-tanda yang nyata atas keberadaan-Nya.

b- Menetapkan sekutu bagi Allah dalam ciptaan-Nya atau menyandarkannya kepada selain-Nya, padahal ada petunjuk yang jelas atas keesaan-Nya dalam menciptakan dan mengatur seluruh makhluk.

Ilḥād dalam Penamaan Allah

Maksudnya: a- menamai Allah dengan nama yang tidak Dia tetapkan untuk diri-Nya dan dengan nama yang tidak pantas bagi-Nya, seperti menamai-Nya dengan sebutan Bapa dan al-'Illah al-Fā'ilah (pengada secara aktif).

b. Penderivasian nama-nama sebagian makhluk-Nya dari nama-nama-Nya, seperti penamaan al-'Uzzā dari al-'Azīz.

Taḥrīf (Perubahan)

Secara bahasa: perubahan, pembelokan, dan penggantian.

Secara istilah: mengubah lafaz-lafaz nama-nama dan sifat-sifat Allah atau makna-maknanya.

Jenis-jenisnya:

a- Taḥrīf lafẓiy (perubahan lafaz). Seperti upaya sebagian ahli bidah dalam membaca firman Allah:

"Allah berbicara langsung kepada Musa." [QS. An-Nisā`: 164] Dengan memfatahkan kata "Allah" (sehingga bermakna: Musa berbicara langsung kepada Allah).

b- Taḥrīf ma'nawiy (perubahan makna). Seperti tafsir "istawā" dalam firman-Nya: "Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam (istawā) di atas Arasy." [QS. Al-A'rāf: 54] Kata istawā (bersemayam atau meninggi) ditakwilkan oleh ahli bid'ah dengan makna istawlā, yaitu menguasai. Ini adalah takwil yang batil dan tercela karena ia mengalihkan lafaz dari makna aslinya pada makna lainnya tanpa dalil.

Dalil pelarangannya adalah firman Allah Ta'ala: "Mereka mengubah firman (Allah) dari tempat-tempatnya." [QS. Al-Mā`idah: 13]

Ta'ṭīl (Peniadaan, Pengingkaran)

Secara bahasa: meniadakan dan meninggalkan.

Secara istilah: mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Jenis-jenisnya:

a- Ta'ṭīl kulliy (pengingkaran total): mengingkari seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah.

b- Ta'ṭīl juz`iy (pengingkaran parsial): mengingkari sifat-sifat Allah, bukan nama-nama-Nya,

atau mengingkari sebagian sifat Allah dan menetapkan sebagian yang lain.

Dalil pelarangannya:

"... padahal mereka ingkar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih." [QS. Ar-Ra'd: 30]

Takyīf (Penentuan Kaifiat)

Secara bahasa: permintaan untuk menentukan hakikat sifat.

Secara istilah: menyebutkan kaifiat sifat-sifat Allah, seperti ucapan seseorang: tangan Allah bentuknya begini dan begitu.

Catatan: Sifat-sifat Allah memiliki kaifiat, tetapi tidak kita ketahui, karena sifat mengikuti zat. Sebagaimana kita tidak mengetahui kaifiat zat Allah, maka kita pun tidak mengetahui kaifiat sifat-sifat-Nya. Kita menyerahkan pengetahuan tentang kaifiat sifat-sifat Allah kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Adapun maknanya, maka kita menetapkannya.

Dalilnya: "... sedang mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." [QS. Ṭāhā: 110]

Tamṡīl (Penyerupaan)

Secara bahasa: menetapkan keserupaan bagi sesuatu.

Menurut istilah: menetapkan sesuatu yang semisal bagi Allah terkait zat-Nya atau terkait sebagian sifat-sifat-Nya.

Catatan: Lafaz tasybīh memiliki makna yang global, bisa mengandung kebenaran dan kebatilan, berbeda dengan lafaz tamṡīl. Oleh karena itu, kami menggunakan lafaz tamṡīl, bukan tasybih, dan penjelasannya akan datang kemudian.

Dalil larangannya:

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11]

"Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?" [QS. Maryam: 65]

"Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.” [QS. Al-Ikhlās: 4]

4- Perbedaan antara Tamṡīl dan Takyīf

Perbedaannya: Setiap tamṡīl (penyerupaan) adalah takyīf (penentuan kaifiat), tetapi takyīf tidak mesti berupa tamṡīl. Orang yang berkata, "Tangan Allah seperti tangan makhluk," telah melakukan tamṡīl dan menetapkan suatu bentuk kaifiat tertentu baginya. Adapun orang yang berkata, "Tangan Allah begini dan begitu" tanpa mengaitkannya dengan sesuatu yang semisal, maka ia telah melakukan takyīf tanpa melakukan tamṡīl.

Mengapa Ahli Sunah Waljamaah tidak menentukan kaifiat sifat Allah?

1) Karena zat Allah adalah gaib, dan pembicaraan tentang sifat-sifat merupakan cabang dari pembicaraan tentang zat.

2) Karena Allah tidak memiliki kesamaan, sehingga Dia tidak dapat dianalogikan dengan apa pun.

3) Karena tidak ada kabar valid yang sampai kepada kita yang menjelaskan kaifiat sifat-sifat Allah, sehingga wajib memutus ambisi untuk dapat memahaminya.

Mengapa tamṡīl dilarang secara akal sebagaimana ia juga dilarang secara syariat?

Karena melakukan tamṡīl berarti terjatuh dalam kontradiksi.

Contohnya: Jika Anda mengatakan wujud Allah serupa dengan wujud makhluk, maka engkau menyifati wujud Allah dengan dua sifat yang kontradiktif, yaitu: bahwa Dia tidak didahului oleh ketiadaan dan didahului oleh ketiadaan; juga engkau menyifati-Nya bahwa Dia tidak akan fana dan akan fana.

Dengan demikian, Anda berarti juga menyifati makhluk dengan sifat yang kontradiktif ini.

5- Metode Ahli Sunah Waljamaah dalam Pendalilan Akal Terhadap Sifat-Sifat Allah

Metode Ahli Sunah Waljamaah mengenai dalil logika terhadap sifat-sifat Allah dapat diringkas pada poin-poin berikut:

1) Sifat-sifat Allah bersifat tauqīfiyah, artinya kita tidak menetapkan sifat apa pun bagi-Nya kecuali apa yang telah ditetapkan oleh syariat.

2) Kita tidak boleh menyifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak ditetapkan oleh syariat walaupun maknanya baik. Tetapi, boleh mengabarkan tentang Allah dengan sifat tersebut, karena bab pengabaran lebih luas daripada bab sifat, seperti ucapan kita tentang Allah: bahwa Dia terpisah dari makhluk-Nya, qadim tanpa permulaan, azali.

3) Banyak sifat Allah yang dapat ditetapkan dengan dalil akal, misalnya:

Ilmu, hikmah, kekuasaan, dan rahmat Allah dapat kita ketahui buktinya dengan memperhatikan makhluk-makhluk Allah, karena sebuah perbuatan menunjukkan banyak sifat dari pelakunya. Jadi, dengan memperhatikan makhluk apa pun dari makhluk Allah, kita akan melihat padanya jejak-jejak kesempurnaan, perhatian, dan keindahan penciptaan yang sudah pasti menunjukkan bahwa Sang Pencipta adalah Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan Maha Penyayang.

Sifat al-kalām (firman/perkataan), as-sam'u (pendengaran), dan al-baṣar (penglihatan) dapat kita buktikan melalui penyucian Allah dari sifat-sifat kekurangan. Inilah yang diistilahkan dengan dalil pertentangan (dalālah at-taqābul) antara kesempurnaan dan kekurangan. Jadi, penyucian Allah dari kekurangan meniscayakan kesempurnaan mutlak bagi zat-Nya. Karena aib-aib seperti buta, tuli, dan bisu adalah sebuah kekurangan, maka Allah disucikan dari hal itu, sehingga Dia ﷻ Maha Mendengar, Maha Melihat, lagi Maha Berbicara.

Adapun kehidupan, kekuatan, dan pengetahuan dapat dibuktikan dengan dalil qiyās al-awlā (analogi prioritas), yaitu bahwa setiap kesempurnaan yang tanpa kekurangan sedikit pun yang ada pada makhluk, maka Allah lebih utama untuk memilikinya, karena Dialah pemberi dan penganugerahnya ﷻ. Karena kehidupan, pengetahuan, dan kekuatan adalah sifat-sifat kesempurnaan tanpa kekurangan yang ada pada makhluk, maka Sang Pencipta lebih utama memilikinya.

4) Sifat-sifat khabariyah yang penetapannya hanya bersumber dari wahyu, maka kita harus mengimaninya. Akal juga menunjukkannya dari sisi pembuktiannya atas kebenaran Rasulullah ﷺ dan kewajiban mengimani semua yang beliau bawa, seperti: bersemayam di atas Arasy dan turun pada sepertiga malam terakhir.

5) Kita meyakini secara pasti bahwa akal yang sehat tidak mungkin menentang apa pun yang bersumber dari wahyu yang sahih, atau menghukuminya mustahil terjadi, sekalipun terkadang ia tidak mampu menjangkau kaifiat sebagiannya.

6- Metode Ahli Sunah Waljamaah dalam Masalah Nama dan Sifat Allah

Terkait pembahasan nama dan sifat Allah, Ahli Sunah Waljamaah berangkat dari firman Allah Ta'ala, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11] Mereka berpegang teguh pada manhaj Al-Qur`an ini dalam hal penetapan dan penafian sebagaimana berikut ini:

- Menetapkan apa yang termaktub tanpa membuat pemisalan, dan menyucikan Allah dari penyerupaan tanpa menolak maknanya.

- Ayat "Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat" dan "Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya"; mereka mengimplementasikannya tanpa melupakannya.

- Ayat "Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat"; mereka menetapkannya tanpa menolak maknanya.

Mereka juga melakukan perincian dalam penetapan sifat dan hanya membahas secara global dalam penafian sifat.

Contoh perinciannya: "Dialah Allah yang tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." [QS. Al-Ḥasyr: 22]

Jadi, dengan menetapkan sifat-sifat terpuji secara terperinci, akan tampak kesempurnaan sosok yang dipuji. Adapun contoh untuk menafikan sifat secara global: "Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.” [QS. Al-Ikhlās: 4] "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia." [QS. Asy-Syūrā: 11] Alasannya adalah karena dalam merinci penafian sifat-sifat tercela terdapat suatu perendahan terhadap sosok yang dipuji.

Mereka tidak melakukan perincian dalam penafian sifat kecuali karena beberapa faktor seperti:

a. Untuk membantah klaim para pendusta terhadap Allah, seperti menisbahkan anak kepada-Nya, maka Allah menafikan hal tersebut dari diri-Nya dengan firman-Nya, "Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan." [QS. Al-Ikhlās: 3]

"Tidak mungkin bagi (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak." [QS. Maryam: 92]

b. Untuk menepis anggapan adanya kekurangan pada sifat kesempurnaan-Nya, seperti firman-Nya, "Dia tidak mengantuk dan tidak pula tidur." [QS. Al-Baqarah: 255] Jadi, kehidupan dan kemandirian-Nya tidak dihinggapi sifat kekurangan dari sisi mana pun.

Mereka juga menetapkan kesempurnaan lawan sifat yang ditiadakan, karena setiap peniadaan sifat harus mengandung penetapan kesempurnaan untuk lawannya agar menjadi pujian yang mengandung penetapan sifat.

Misalnya: Firman Allah Ta'ala, "Kami tidak merasa letih sedikit pun." [QS. Qāf: 38] Hal itu karena kesempurnaan kekuasaan dan kekuatan-Nya. - Firman-Nya, "Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan." [QS. Al-Ikhlās: 3] Hal itu karena kesempurnaan kekayaan-Nya. - Firman-Nya, "Dia tidak mengantuk dan tidak pula tidur." [QS. Al-Baqarah: 255]

Hal itu karena kesempurnaan kehidupan dan kemandirian-Nya. - Firman-Nya, "Bertawakallah kepada Allah Yang Maha Hidup yang tidak mati." [QS. Al-Furqān: 58]

Hal itu karena kesempurnaan kehidupan-Nya.

Metode mereka dapat diringkas dalam tabel berikut sambil menyinggung secara ringkas metode orang-orang yang menyelisih Ahli Sunah Waljamaah dari kalangan Ahli Kalam.

Metode salaf dan metode Ahli Kalam terkait pembahasan nama-nama dan sifat-sifat Allah:

Bidang: 1. Iṡbāt (Penetapan)

Para salaf menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang terdapat di dalam nas-nas, akan tetapi penetapan mereka tersebut tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk. (Penetapan tanpa penyerupaan).

Ahli Kalam tidak memahami nama-nama dan sifat-sifat yang terdapat dalam nas-nas kecuali sebagai tamṡīl (penyerupaan dengan makhluk), seperti pemahaman kaum Mumaṡṡilah. Oleh karena itu, mereka menolak nas-nas atau melakukan taḥrīf terhadapnya dengan at-ta'ṭīl (pengingkaran) atau at-ta`wīl (penakwilan).

Bidang: 2. Tanzīh (Penyucian)

Para salaf menyucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk, tetapi penyucian mereka tidak mendorong mereka kepada ta'ṭīl (pengingkaran) terhadap nama-nama dan sifat-sifat yang termaktub dalam nas-nas. (Penyucian tanpa pengingkaran)

Ahli Kalam menyucikan Allah dari penyerupaan dengan makhluk, tetapi hal itu mendorong mereka untuk mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah yang ditetapkan bagi-Nya di dalam nas-nas.

Bidang: 3. Tafṣīl (Perincian) dan Ijmāl (Global)

Para salaf merinci dalam penetapan sifat, karena di dalamnya terdapat penjelasan kesempurnaan-kesempurnaan sosok yang dipuji. Sebaliknya, mereka menyebutkan secara global dalam peniadaan aib-aib dan kekurangan-kekurangan karena merincinya akan mengurangi kadar kemuliaan sosok yang dipuji. Mereka tidak merinci dalam penafian kecuali karena sebab-sebab tertentu sebagaimana pada contoh-contoh sebelumnya. Dalam penafian sifat, harus terkandung penetapan kesempurnaan sifat lawannya agar menjadi sebuah pujian.

Ahli Kalam menyebutkan secara global dalam hal penetapan sifat dan terperinci dalam hal penafian. Sebab itu, mereka tidak menyifati Allah kecuali dengan aș-șifāt as-salbiyah (sifat-sifat penafian) secara terperinci tanpa mengandung suatu penetapan.

- Hakikat Tasyābuh (Keserupaan) antara Nama-nama dan Sifat-sifat Sang Pencipta dengan Nama-nama dan Sifat-sifat Makhluk

Pendahuluan: Penjelasan Hakikat Tasybīh (Penyerupaan)

Jenis-jenis lafaz menurut para ahli mantik dan ahli kalam:

a. Kulliy (universal), yaitu lafaz yang konsepsi maknanya sendiri tidak mencegah terjadinya persekutuan di dalamnya. Seperti: manusia, pohon, buku. Ia adalah lafaz yang berlaku untuk banyak individu yang sama hakikatnya.

b. Juz'iy (partikular), yaitu lafaz yang konsep maknanya sendiri mencegah terjadinya persekutuan di dalamnya.

Lafaz-lafaz kulliy terbagi menjadi:

a. Mutabāyinah: berbeda dari segi lafaz dan makna, seperti: (pohon – salju).

b. Musytarakah (homonim): lafaznya sama, namun maknanya berbeda, seperti:

- al-musytarī: bisa bermakna planet atau manusia.

- al-'ain: bisa bermakna indra penglihatan, mata air, atau barang dagangan.

c. Mutarādifah (sinonim): berbeda lafaznya, tetapi maknanya sama.

Misalnya: as-saif, al-muhannad, dan al-faiṣal. Semuanya bermakna pedang.

Juga: al-Asad, al-hizbar, dan al-gaḍanfar. Semuanya bermakna singa.

d. Mutawāṭi`ah (Saling Ada Kesamaan):

- Umum: lafaz dan maknanya sama, seperti: ar-rujūlah (kelelakian) - al-unūṡah (keperempuanan).

- Khusus: lafaznya sama namun maknanya berbeda, seperti:

al-bayāḍ (putih), al-quwwah (kekuatan), al-qudrah (kemampuan)]. Semua ini disebut al-musyakkikah.

- Pertanyaan penting:

Nama-nama dan sifat-sifat yang ditetapkan bagi Sang Khāliq dan juga disematkan pada makhluk, seperti mendengar, melihat, mengetahui, berkehendak, kuasa, dan hidup; lafaz-lafaz umum ini, dalam penunjukannya kepada Khāliq dan makhluk, termasuk ke dalam jenis yang mana?

Apakah ia termasuk lafaz-lafaz yang berlainan?

Jawabannya: Hal itu tidak mungkin karena lafaznya sama, sedangkan lafaz-lafaz yang berbeda (berlainan), lafaznya pun berbeda.

Apakah ia tergolong lafaz-lafaz musytarak (homonim)?

Jawabannya: Salah. Ini adalah perkataan kaum al-Mufawwiḍah, karena maknanya adalah bahwa tidak ada persekutuan sama sekali kecuali pada penulisan huruf-hurufnya.

Oleh karena itu, kita tidak akan bisa memahami apa pun dari nama-nama dan sifat-sifat Allah sehingga ia menjadi seperti kata "al-musytarī" yang digunakan untuk planet dan manusia, yang tidak ada hubungan di antara keduanya selain kesamaan tulisan. Hal ini bertentangan dengan metode para salaf yang memahami makna nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Apakah ia tergolong lafaz al-mutarādifah (sinonim)?

Jawabannya: Tidak, karena lafaznya sama, sedangkan lafaz-lafaz yang sinonim itu berbeda lafaznya.

Apakah ia tergolong lafaz-lafaz mutawāṭi`ah umum?

Jawabannya: Tidak, ini adalah perkataan kaum al-Mumaṡṡilah, karena maknanya adalah bahwa tidak ada perbedaan sama sekali dari segi makna antara sifat Maha Pencipta dan sifat makhluk. Hal ini adalah kekufuran menurut Ahli Sunah Waljamaah, karena Allah tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya.

Apakah ia termasuk jenis lafaz-lafaz mutawāṭi`ah khusus (al-musyakkikah)?

Jawabannya: Ya, dan ini perkataan Ahli Sunah Waljamaah, yaitu bersekutu dalam lafaz, tetapi berbeda dalam makna.

- Penjelasan Konsep Tasyābuh menurut Ahli Sunah Waljamaah:

Contoh-Contoh Penjelasan:

1- As-Sam' (pendengaran). Makna universalnya: mengetahui hal-hal yang terdengar. Sifat ini digunakan unyuk pemuda dan orang tua yang sudah lanjut usia. Lafaznya satu, tetapi maknanya ada ketimpangan (kemampuan mendengar). Jadi, tidak ada perbandingan antara pendengaran seorang pemuda dan pendengaran orang yang sudah lanjut usia. Apabila ketimpangan itu mungkin terjadi antara sesama makhluk, maka ketimpangan makna antara Sang Pencipta dan makhluk tentu lebih mungkin.

2- Al-Quwwah (kekuatan). Bisa dinisbahkan kepada kekuatan gajah dan kekuatan semut, keduanya memiliki kesamaan dalam makna kekuatan secara umum ketika disebutkan secara mutlak. Akan tetapi, ketika dikhususkan, maka kekuatan masing-masing akan sesuai dengan hakikatnya, dan terjadilah ketimpangan dalam maknanya.

3- Kenikmatan surga dan kenikmatan dunia. Keduanya memiliki kesamaan dalam nama dan makna secara umum, tetapi di antara keduanya terdapat ketimpangan dalam hakikat kenikmatan yang hanya Allah yang mengetahuinya.

4- Ruh dan badan. Ruh naik dan turun, demikian pula badan. Akan tetapi, perbuatan masing-masing dari keduanya sesuai dengan hakikatnya, meskipun keduanya memiliki kesamaan dalam makna secara umum dan meskipun keduanya sama-sama makhluk.

Kesimpulannya: bahwa antara nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan nama-nama makhluk ada kadar kesamaan, yang di dalamnya terdapat keserupaan. Keserupaan itu ada pada makna universal yang ada dalam benak dan tidak ada wujudnya di alam nyata. Dengan kadar kesamaan inilah kita memahami makna nama-nama dan sifat-sifat Allah. Adapun ketika disandarkan, dibatasi, dan dikhususkan, maka nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan-Nya, tidak ada yang menyamai-Nya dalam hal itu. Adapun nama-nama dan sifat-sifat makhluk, maka sesuai dengannya, tidak serupa dengan sifat-sifat Sang Pencipta dari sisi mana pun.

Ringkasan Pengertian Tasybīh

Pertama: Tasyābuh Menurut Ahli Sunah Waljamaah:

a. Tasyābuh atau keserupaan total, yakni dalam hal yang wajib, yang boleh, dan yang mustahil; ini dinamakan tamṡīl. Ahli Sunah Waljamaah mengingkari tasybīh ini karena Allah berfirman, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11]

b. Tasyābuh atau keserupaan parsial, yaitu adanya kesamaan dalam makna universal yang ada dalam benak. Keserupaan ini ditetapkan oleh Ahli Sunah Waljamaah.

Kedua: Tasyābuh (Keserupaan) Menurut Ahli Bidah dan Kesesatan

Mereka berpandangan bahwa sekadar ada kesamaan dalam nama-nama, maka mengharuskan kesamaan pada para pemilik namanya. Misalnya:

a. Jahmiyah: mereka mengingkari semua nama dan sifat-Nya karena menghindari tasybīh (penyerupaan), kecuali nama-nama yang menurut mereka tidak boleh disematkan pada makhluk, seperti al-Khāliq dan al-Qādir.

b. Mu'tazilah: mereka mengingkari seluruh sifat dan menetapkan nama-nama Allah, karena menghindari tasybīh.

c. Asy'ariyah: mereka mengingkari sifat-sifat fi'liyah, karena menghindari tasybīh (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya).

7. Jenis-jenis Sifat Allah serta Contoh dan Penjelasan Kewajiban Kita pada Setiap Jenisnya.

Sifat-sifat:

a. Manfīyyah (sifat yang dinafikan).

b. Muṡbitah (sifat yang ditetapkan). Ini ada dua macam:

Pertama: Żātiyah: selalu melekat pada zat sejak azali dan akan abadi. Contohnya:

- al-wajhu (wajah)

- al-yadān (dua tangan)

- al-yamīn (tangan kanan), kedua tangan Allah ialah kanan.

- al-'ainān (dua mata)

- an-nafs (diri)

- al-qadam, ar-rijl (kaki)

- al-aṣābi' (jari-jari)

- al-ḥayāh (hidup)

- as-sāq (betis)

- al-'uluw wa al-fauqiyah (tinggi dan berada di atas).

- al-quwwah (kekuatan)

- al-'izzah (keperkasaan)

- al-irādah wa al-masyī`ah (keinginan dan kehendak)

- al-qudrah (kekuasaan)

Kedua: Fi'liyah: sifat Allah yang tergantung pada kehendak dan kekuasaan-Nya. Sifat ini terbagi menjadi beberapa jenis:

- Af'āl (perbuatan), semisal:

1- al-istiwā` (meninggi, bersemayam)

2- al-majī` (datang, kedatangan)

3- al-ityān (datang)

4- al-khalq (penciptaan)

5- ar-rizq (pemberian rezeki)

6- al-i'ṭā` (memberi)

7- al-ma'nu (menahan)

8- al-iḥsān (kebaikan)

9- al-'adl (keadilan)

10- al-basṭu (membentangkan)

11- al-qabḍ (menggenggam)

12- al-iḥyā` (menghidupkan)

13- al-imātah (mematikan)

14. al-qurb (dekat)

15- al-ma'iyyah (kebersamaan)

16- an-nuzūl (turun)

- Aqwāl (ucapan), semisal: 1- Perkataan. 2- Seruan. 3- Munajat. 4- Ucapan.

- Aḥwāl (kondisi), semisal: 1- Murka. 2- Rida. 3- Mahabbah (cinta). 4- Marah.

5- Benci. 6-Tertawa. 7- Ujub. 8- Murka.

- 'Ulūm wa Idrākāt (pengetahuan): 1- Pendengaran. 2- Penglihatan. 3- Ilmu.

Kewajiban: seluruh sifat ini harus diarahkan dan dipahami dalam satu konteks yang utuh; karena yang menetapkannya adalah satu, dan Zat yang disifati dengannya pun satu.

Maka kita menetapkannya sebagaimana Al-Qur`an dan sunnah telah menetapkannya, tanpa penyerupaan, tanpa penafian, tanpa penyimpangan (makna), dan tanpa mempertanyakan bagaimana hakikat kaifiatnya.

Sifat-sifat Perbuatan (Ikhtiyariyah)

Menurut Ahli Sunnah Waljamaah, sifat-sifat ini adalah:

a. Qadīmah an-Nau' (jenisnya azali). Allah berbuat sesuai kehendak-Nya.

b. Ḥādiṡah al-Āḥād (satuan perbuatan tersebut adalah baru). Allah ﷻ melakukan satu perbuatan tertentu pada waktunya sesuai dengan hikmah-Nya.

Perbedaan antara Nama dan Khabar serta antara Nama dan Sifat

Al-Khabar adalah setiap sifat yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an atau Sunnah yang sahih, tetapi tidak menunjukkan makna yang buruk. Ia boleh digunakan untuk mengabarkan tentang Allah ﷻ, seperti: Azalī (tanpa awal), Qadīm (tanpa permulaan), Bā`in (terpisah dari makhluk).

Sifat adalah setiap sifat yang Allah Ta'ala tetapkan untuk diri-Nya, baik itu sifat yang umum maupun sifat yang terbatas, dalam kitab-Nya atau Sunnah Nabi-Nya ﷺ.

Sifat terbagi menjadi dua jenis:

Pertama: Sifat-sifat umum, seperti: kehidupan, pendengaran, penglihatan, kalam, dan iradat.

Kedua: Sifat yang terbatas (muqayyadah), misalnya: makar, tipu daya, siasat, pembalasan, penumbuhan, dan penciptaan.

Al-Ism (nama) adalah setiap nama yang menunjuk pada zat Allah disertai sifat-sifat kesempurnaan yang ada pada zat-Nya.

Perlu diperhatikan bahwa dalil pada setiap nama dan sifat harus valid.

Disyaratkan pada sifat-sifat yang terbatas (muqayyadah): penyebutannya bagi Allah harus dengan batasannya yang disebutkan dalam Al-Qur`an dan Sunnah.

Nama memiliki kekhususan, yaitu harus menunjukkan kesempurnaan dari segala sisi. Oleh karena itu, dikatakan: pembahasan sifat lebih luas daripada pembahasan nama, sementara pembahasan khabar lebih luas daripada pembahasan sifat.

Apakah nama-nama Allah diambil dari sifat-sifat-Nya?

a. Aṡ-Ṡifāt al-Ma'nawiyyah: Ia adalah sifat-sifat yang kedudukannya setara dengan nama. Oleh karena itu, banyak ahli ilmu menetapkan nama Allah Ta'ala: al-Muḥsin, al-Jamīl, aṭ-Ṭayyib, dan al-Witr. Sifat-sifat ma'nawiyyah ini, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, menunjukkan kesempurnaan yang mutlak dari segala sisi. Ia adalah sifat dan pada saat yang sama juga merupakan nama, menurut pendapat yang benar.

b. Sifat-sifat yang terbagi menjadi pujian dan celaan atau kesempurnaan dan kekurangan:

- Tidak boleh menyifati Allah dengannya kecuali dalam konteks pujian dan kesempurnaan.

- Tidak boleh membentuk nama-nama bagi Allah Ta'ala darinya, karena ia tidak menunjukkan kesempurnaan mutlak dari segala sisi. Seperti al-Kaid, al-Makr, az-Zar', dan aż-Żar`. Ia tidak boleh disebutkan kecuali dengan redaksi yang termaktub dalam konteks Al-Qur`an dan tidak diperluas di selain itu.

Kata-Kata yang Global

Maksudnya adalah lafaz-lafaz yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an dan Sunnah untuk menyifati Allah dan ia mengandung makna yang benar dan yang batil.

Contohnya: arah, ruang, jisim, 'araḍ, ḥawādiṡ, gerak, perubahan.

Maksud ahli bid'ah dengan istilah tersebut adalah untuk menafikan sifat-sifat Allah Ta'ala yang ditetapkan dalam Al-Qur`an dan Sunnah. Mereka mengungkapkannya demi tujuan mereka, yaitu agar orang yang tidak mengetahui maksud mereka menyangka bahwa tujuan mereka adalah menyucikan dan mengesakan Tuhan.

Sikap Ahli Sunah Waljamaah terhadapnya adalah mereka tidak suka membicarakannya, karena ia merupakan lafaz-lafaz global yang mengandung kebenaran dan kebatilan. Sebab itu, menafikannya secara mutlak berarti menafikan kebenaran yang terkandung di dalamnya, dan menetapkannya secara mutlak berarti menetapkan kebatilan yang terkandung di dalamnya.

Jadi, mereka menahan diri dalam hal itu, baik dari penafian maupun penetapan, dan meminta perincian tentang maknanya. Lalu, makna yang hak mereka tetapkan, sedangkan makna yang batil mereka nafikan.

Contohnya:

(1) Al-Jauhar dan al-Jism, bisa berarti:

a. Sesuatu yang tersusun dari bagian-bagian tertentu, termasuk jenis makhluk, tersusun dari materi atau bentuk, atau tersusun dari jauhar-jauhar (atom) tunggal. Ini adalah makna batil yang kita tolak.

b. Sesuatu yang ada, yang berdiri sendiri, yang memiliki sifat-sifat, yang akan dilihat di akhirat. Makna ini benar dan kita menerimanya. Akan tetapi, yang mereka maksudkan dengan menafikan jauhar dan jism dari Allah adalah menafikan sifat-sifat żātiyyah khabariyyah seperti wajah, mata, kaki, kedua tangan, dan semisalnya.

(2) Al-A'rāḍ, bisa berarti:

a. Sesuatu yang menimpa manusia dalam bentuk berbagai macam penyakit dan bencana. Ini adalah makna yang batil dan kita tolak.

b. Sifat-sifat fi'liyyah (perbuatan) Allah. Ini adalah makna hak yang kita terima. Mereka menafikan al-a'rāḍ dari Allah dengan tujuan untuk menafikan sifat-sifat secara umum atau menafikan sifat-sifat fi'liyyah secara khusus.

(3) Hulūl al-Ḥawādiṡ, bisa berarti:

a. Menjadi tempat terjadinya perubahan-perubahan, transformasi, dan peristiwa-peristiwa sejenisnya yang menimpa para makhluk, sehingga mengubah dan merusaknya. Ini adalah makna batil yang kita tolak.

b. Perbuatan-perbuatan bersifat pilihan seperti: berbicara, istiwa, nuzul, datang, dan kedatangan. Ini adalah kebenaran yang kita terima.

(4) Al-Ḥarakah, bisa berarti:

a. Perpindahan jasad dari satu tempat ke tempat lainnya dengan mengosongkan ruang yang pertama dan menempati yang kedua. Ini adalah makna batil yang kita tolak.

b. Lafaz umum, yang mencakup perubahan dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dan meliputi sifat-sifat ikhtiyariyah yang berkaitan dengan zat seperti turun, datang, dan kedatangan. Ini adalah makna hak yang kita terima.

(5) At-Tagyīr, bisa berarti:

a. Perubahan yang terjadi pada sifat-sifat: dari sehat menjadi sakit, dari adil menjadi zalim, dari persahabatan menjadi permusuhan. Demikian pula terjadinya ketuaan, kegemukan, tidur, lupa, penyesalan, kegelisahan, dan kesedihan. Ini semua adalah makna batil yang kita tolak.

b. Apa yang tidak dikenal oleh orang Arab dalam bahasa mereka, semisal: makna al-Ḥarakah secara mutlak, terjadinya peristiwa-peristiwa baru secara mutlak, al-Kalām dan sifat-sifat fi'liyyah lainnya. Ini adalah makna hak yang kita terima.

Jumlah Nama-Nama Allah Yang Terindah

Nama-nama Allah tidak terbatas oleh bilangan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, "Tidaklah seorang hamba ditimpa kegelisahan maupun kesedihan, lalu ia berdoa, 'Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku ada di tangan-Mu, telah berlaku padaku hukum-Mu, dan adil padaku ketetapan-Mu. Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan di dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, ataupun yang Engkau simpan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur`an sebagai penawar hatiku...'"[56]

Akan tetapi, ada sembilan puluh sembilan nama Allah; siapa yang menghafalnya, berdoa dengannya, dan mengamalkan kandungannya, niscaya akan masuk surga. Nama-nama tersebut termasuk di antara nama-nama Allah yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah yang sahih, namun tidak terdapat hadis sahih yang merincinya. Beliau ﷺ bersabda, “Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, tidaklah seseorang menghafalnya melainkan ia akan masuk surga. Allah itu ganjil dan menyukai yang ganjil.”[57]

Perlu diperhatikan bahwa tidak boleh memastikan 99 nama yang disebutkan seorang ulama tertentu sebagai satu-satunya yang dimaksud, karena hal itu murni ijtihad. Semoga Allah memberi taufik pada kita semua.

Catatan terkait beberapa nama: [56] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (1/391) dari hadis Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-.

1- Al-Qadīm. Nama ini disebutkan dalam rangkaian hadis tentang nama-nama Allah dalam Sunan Ibnu Majah.[58] Akan tetapi, para ahli hadis sepakat bahwa rangkaian nama-nama tersebut adalah sisipan (mudraj), bukan sabda Nabi ﷺ. Penyebutan nama ini di antaranya menunjukkan hal tersebut. [57] HR. Bukhari dalam Kitāb ad-Da'awāt (No. 6410) dan Muslim dalam Kitāb aż-Żikr wad-Du'ā' (No. 2677).

2- Al-Bāqī, aż-Żārī, al-Mudabbir, al-Qāḍī, al-Gayyāṡ, al-Muḥyī, al-Mumīt, al-Wafī, al-Muqsiṭ, dan al-Bā’iṡ. Pendapat yang benar adalah bahwa nama-nama tersebut bukanlah termasuk nama-nama Allah, melainkan termasuk sifat-sifat fi'liyyah Allah Ta'ala.

3- Nama-nama yang disandarkan (iḍāfah) dan hanya disebutkan dalam bentuk demikian, seperti: Żūl-jalāli wal-ikrām (Pemilik keagungan dan kemuliaan), Żul-faḍlil-‘aẓīm (Pemilik karunia yang agung), Żul-quwwatil-matīn (Pemilik kekuatan yang kukuh), Żul-‘arsyil-majīd (Pemilik Arasy yang mulia), Żuṭ-ṭauli wal-iḥsān (Pemilik karunia dan kebaikan), Fāṭirus-samāwāti wal-arḍ (Pencipta langit dan bumi), Fāliqul-ḥabbi wan-nawā (Pembelah biji-bijian dan benih), Munzilul-kitāb (Penurun kitab), Sarī’ul-ḥisāb (Maha Cepat perhitungan-Nya), ‘Allāmul-guyūb (Maha Mengetahui segala yang gaib), Rabbul-‘arsyil-‘aẓīm ( Pemilik Arasy yang agung), Rabbul-‘arsyil-karīm (Pemilik Arasy yang mulia), Rabbus-samāwātis-sab’ (Pemilik tujuh langit), dan Khairur-rāḥimīn (sebaik-baik pemberi rahmat).

Pendapat yang benar: [58] HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitāb ad-Du'ā', Bab Asmā'ullāh 'Azza wa Jalla (No. 3861).

Semua ini tidak digolongkan sebagai al-Asmā` al-Ḥusnā karena beberapa sebab, di antaranya:

a- Adapun kata yang diawali dengan (Żū), maka ini adalah pengabaran tentang Allah bahwa Dia adalah pemilik perkara-perkara ini.

b- Di antaranya ada yang merupakan sifat perbuatan-Nya, seperti Sarī'ul-ḥisāb (Maha Cepat hisab-Nya).

c- Ada pula yang menunjukkan jenis perbuatan yang tidak bersifat umum dan menyeluruh, misalnya: Pembelah biji-bijian dan benih.

8. Contoh-Contoh Nama dan Sifat Allah

Dalilnya: "Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia'.” [QS. Al-Ikhlās: 1-4]

Nama, Sifat, dan Penjelasannya:

Allah adalah Ilah yang disembah dengan penuh cinta dan pengagungan.

Al-Aḥad: bersendiri tanpa memiliki sekutu maupun kesamaan.

Aṣ-Ṣamad: Maha Sempurna dalam sifat-sifat-Nya dan menjadi tempat bergantung seluruh makhluk-Nya.

Dia tidak melahirkan: karena kesempurnaan kecukupan sehingga tidak memerlukan anak.

Dia tidak diperanakkan: karena Dialah pencipta segala sesuatu sekaligus al-Awwal yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya.

Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya: karena kesempurnaan sifat-sifat-Nya.

Dalilnya:

"Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), Dia tidak mengantuk, dan tidak pula tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung." [QS. Al-Baqarah: 255]

Nama, Sifat, dan Penjelasannya:

Allah yang tiada tuhan selain-Nya: Keesaan-Nya dalam uluhiah (keilahian). Penjelasannya telah disampaikan pada pasal sebelumnya.

Al-Ḥayy: Tuhan yang memiliki kehidupan sempurna, yang tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak akan disusul oleh kefanaan.

Al-Qayyūm: Maha Berdiri Sendiri sekaligus yang mengatur makhluk-makhluk-Nya sesuai kehendak-Nya.

Dia tidak mengantuk dan tidak pula tidur: Penafian rasa kantuk dan tidur karena kesempurnaan sifat hidup dan kepengurusan-Nya.

Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi: sifat kerajaan-Nya.

Penafian syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya: karena kesempurnaan keagungan-Nya dan kekuasaan-Nya.

Sifat ilmu (pengetahuan): yang mencakup semua makhluk-Nya.

Kehendak: kehendak secara kauni. Penjelasannya akan disebutkan .

Al-Kursiy: tempat kedua kaki ar-Rahman.[59] Ia bukanlah Arasy. Ia bila dibandingkan dengan Arasy adalah seperti sebuah cincin yang dilemparkan di padang pasir.[60] Langit yang tujuh dan bumi-bumi bila dibandingkan dengan al-Kursiy adalah seperti sebuah cincin yang dilemparkan di padang pasir.

Dia tidak merasa berat memelihara keduanya: karena kesempurnaan ilmu, kuasa, penjagaan, dan rahmat-Nya.

Al-'Aliy: Maha Tinggi terkait zat dan sifat-Nya, dan tidak ada cela maupun kekurangan pada-Nya.

Al-'Aẓīm: pemilik kebesaran, keagungan, dan kesombongan. [59] Lihat: I'ānah al-Mustafīd Syarḥ Kitāb at-Tauḥīd (Hal. 455). [60] HR. Ibnu Abī Syaibah dalam Kitāb al-'Arsy (No. 58) dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam as-Silsilah aṣ-Ṣaḥīḥah (No. 109).

Dalilnya: "Bertawakallah kepada Allah Yang Maha Hidup, yang tidak mati." [QS. Al-Furqān: 58]

Nama, Sifat, dan Penjelasannya:

1. Al-Ḥayy (Yang Maha Hidup): penjelasannya telah disebutkan sebelumnya.

2. Yang tidak mati: karena kesempurnaan sifat hidup-Nya.

Dalilnya: "Dialah Yang Maha Awal, Maha Akhir, Maha Zahir, dan Maha Batin. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. Al-Ḥadīd: 3]

Nama, Sifat, dan Penjelasannya:

1. Al-Awwal: yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya.

2. Al-Ākhir: yang tidak ada sesuatu pun setelah-Nya.

3. Aẓ-Ẓāhir: yang tidak ada sesuatu pun di atas-Nya.

4. Al-Bāṭin: tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Nya.

5. Sifat Ilmu: mengetahui sesuatu sesuai hakikatnya. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, baik dari segi tempat, waktu, maupun sifat.

Dalilnya: "Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." [QS. At-Taḥrīm: 2]

Nama, Sifat, dan Penjelasannya:

1- Al-'Alīm (Maha Mengetahui): salah satu dari nama-nama Allah.

2- Al-Ḥakīm (Maha Bijaksana):

Yakni: yang memiliki kebijaksanaan dalam penciptaan-Nya, perbuatan-Nya, dan syariat-Nya.

Juga bermakna Maha Penguasa: Dia berhak menghukum sesuai kehendak-Nya dan tidak ada yang bisa mengubah keputusan-Nya.

Dalilnya: "Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar darinya, apa yang turun dari langit, dan apa yang naik kepadanya. Dialah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun." [QS. Saba`: 2]

Nama, Sifat, dan Penjelasannya:

Luasnya ilmu Allah Ta'ala: Telah dijelaskan sebelumnya.

Dalilnya: "Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya, tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Loh Mahfuz)." [QS. Al-An'ām: 59]

Nama, Sifat, dan Penjelasannya:

1- Luasnya ilmu Allah Ta'ala.

2- Kunci-kunci gaib tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Kunci-kunci Gaib "Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari kiamat, Dia yang menurunkan hujan, mengetahui apa yang ada dalam rahim, tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannnya besok, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." [QS. Luqmān: 34]

Dalilnya: "Tidak seorang perempuan pun yang mengandung dan yang melahirkan melainkan semuanya dengan sepengetahuan-Nya." [QS. Fāṭir: 11]

Nama, Sifat, dan Penjelasannya:

Sifat ilmu dan penjelasan keluasan ilmu Allah Ta'ala: telah dijelaskan sebelumnya.

LEVEL KETIGA

Iman Kepada Para Malaikat, Kitab-Kitab, Para Rasul, Hari Akhir, Serta Qada dan Qadar

Pertama: Iman Kepada Para Malaikat

Di dalam bab ini terdapat beberapa pembahasan:

- Definisi malaikat secara bahasa

- Definisi malaikat secara istilah syariat

- Pentingnya iman kepada para malaikat

- Informasi ringkas tentang para malaikat (nama-nama mereka – sifat-sifat mereka – tugas-tugas mereka)

- Apakah Iblis termasuk golongan malaikat?

- Apakah Hārut dan Mārut malaikat?

- Perbandingan keutamaan antara malaikat dan manusia

- Contoh-contoh pengaruh malaikat dalam melakukan amal-amal ketaatan dan meninggalkan kemungkaran.

- Beberapa manfaat beriman kepada malaikat

1. Makna Malaikat Secara Bahasa

Al-Malā`ikah secara bahasa adalah bentuk jamak dari "mal`ak" yang berasal dari kata "ma`lak", tetapi ia diubah dan hamzahnya diringankan, sehingga menjadi "malak".

Al-Ma`lakah dan al-Alūkah maknanya ialah surat/risalah, dan kata kerjanya adalah alaka, yaitu menyampaikan surat/risalah.[61]

Dinamakan "malaikat" karena mereka semuanya adalah utusan Allah, baik dalam menjalankan urusan-Nya yang bersifat kauni, maupun dalam menyampaikan perintah-Nya yang berupa syariat.[62]

Allah Ta'ala berfirman, "Segala puji bagi Allah, pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." [QS. Fāṭir: 1]

Al-Malā`ikah adalah bentuk jamak dari mal`ak, yang asalnya adalah ma`lak. Kata kerjanya adalah alaka, yang berarti menyampaikan risalah. Jadi, dinamakan "malaikat" karena mereka semua adalah utusan-utusan Allah. [61] Lihat: An-Nihāyah fī Garībil-Ḥadīṡ (Hal. 4/359) dan Arkānul-Īmān karya Ibnu 'Uṡaimīn (Hal. 23).

2. Makna Malaikat Secara Syariat [62] Lihat: Syarḥ al-'Aqīdah aṭ-Ṭaḥāwiyyah (Hal. 2/461).

Mereka adalah salah satu makhluk ciptaan Allah yang Dia ciptakan dari cahaya, bukan dari golongan jin dan bukan pula dari golongan manusia. Mereka berasal dari alam gaib, dibebani dengan tugas-tugas dan ibadah-ibadah khusus yang mereka laksanakan untuk Allah, dan diciptakan dengan tabiat untuk selalu taat. Oleh karena itu, mereka adalah hamba-hamba Allah yang mulia; mereka bukan anak-anak Allah, bukan sekutu bagi-Nya, dan bukan pula tandingan-Nya.[63]

Allah Ta'ala berfirman, "Mereka berkata, 'Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.' Maha Suci Dia. Sebenarnya mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan." [QS. Al-Anbiyā`: 26]

Imam Muslim meriwayatkan dalam Sahih-nya dengan sanadnya dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-: Rasulullah ﷺ bersabda, "Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepada kalian."[64]

Malaikat: [63] Lihat: Syarḥ aṭ-Ṭaḥāwiyyah (Hal. 2/460), Ma'ārij al-Qabūl (Hal. 2/656), dan Syarḥ Uṣūl al-Īmān karya Ibnu 'Uṡaimīn (Hal. 25).

Mereka bukanlah manusia, bukan pula jin.

(Diciptakan) dari cahaya. [64] HR. Muslim (No. 2996), Kitāb az-Zuhd, Bāb fī Āḥādīṡ Mutafarriqah.

Diciptakan dengan watak asli untuk taat.

Mereka diberikan tugas dan beban.

Berada di alam gaib

3. Pentingnya Iman kepada Para Malaikat

Pentingnya iman kepada para malaikat tampak dalam banyak perkara, di antaranya:

1. Iman kepada para malaikat adalah salah satu rukun iman dalam agama Islam. Seorang hamba tidak akan menjadi mukmin kecuali dengan beriman kepada para malaikat. Siapa yang mengingkari keberadaan mereka, mencela mereka, atau mengolok-olok mereka, maka dia bukan termasuk pemeluk Islam.

Allah Ta'ala berfirman, "Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya." [QS. Al-Baqarah: 285]

Allah Ta'ala juga berfirman, "Siapa yang ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh." [QS. An-Nisā`: 136] Allah Ta'ala juga berfirman, "Siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir." [QS. Al-Baqarah: 98] Dalam hadis Jibril yang masyhur, Nabi ﷺ menjelaskan tentang iman: "Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk."[65]

2. Beriman kepada mereka adalah pokok dalam keimanan kepada wahyu. Para malaikat adalah utusan Allah kepada nabi-nabi-Nya. Mereka menyampaikan kalam Allah dan menurunkan kitab-kitab-Nya kepada mereka. Oleh karena itu, kita dapati penyebutan mereka didahulukan daripada penyebutan kitab-kitab dan para rasul. Jadi, beriman kepada mereka adalah pokok dalam keimanan kepada wahyu.

3. Mereka memiliki kedudukan yang agung di sisi Allah. Oleh karena itu, kita dapati mereka sering disebut dalam Al-Qur`an dan sunnah, dijelaskan tugas-tugas mereka, disebutkan ibadah mereka kepada Allah dan kedudukan mereka di sisi-Nya, serta disifati dengan keikhlasan, kesucian, kemuliaan, kedermawanan, dan kekuatan.

4. Allah ﷻ menyandingkan nama-Nya dengan nama mereka, selawat-Nya dengan selawat mereka, dan menisbahkan mereka kepada-Nya di tempat-tempat kemuliaan. "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." [QS. Al-Aḥzāb: 56] [65] Penyebutan referensinya telah disebutkan sebelumnya.

Pentingnya iman kepada para malaikat:

- Salah satu rukun iman

- Asas iman kepada wahyu Allah

- Banyaknya penyebutan mereka dalam Al-Qur`an

- Allah menyandingkan nama mereka dengan nama-Nya, selawat mereka dengan selawat-Nya, dan menisbahkan mereka kepada-Nya.

Cara Keimanan kepada Para Malaikat secara Global

Pertama: Beriman pada keberadaan dan nama-nama mereka.

Kedua: Mengimani tugas-tugas mereka, di antaranya adalah menurunkan wahyu kepada para rasul.

Ketiga: Mengimani kedudukan yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Mereka adalah hamba-hamba yang diciptakan untuk taat kepada-Nya.

Jadi, kita tidak boleh berlebih-lebihan terhadap mereka dengan meyakini bahwa mereka adalah tuhan-tuhan, bintang-bintang yang mengatur, atau anak-anak perempuan Allah. Maha Suci Allah dari yang demikian itu.

Sebaliknya, kita tidak boleh bersikap buruk terhadap mereka, dengan meyakini bahwa mereka mendurhakai perintah-perintah Allah, atau menentang hukum-hukum dan syariat-Nya.

Cara Keimanan Kepada Para Malaikat Secara Terperinci

Pertama: Mengimani setiap nama yang Allah sebutkan dari mereka dalam Al-Qur`an dan sunnah.

Kedua: Mengimani semua sifat mereka yang disebutkan dalam Al-Qur`an atau sunnah.

Ketiga: Mengimani semua tugas mereka yang disebutkan dalam Al-Qur`an atau sunnah.

4. Informasi Ringkas Mengenai Para Malaikat

Di antara nama-nama para malaikat:

a. Jibril. Di antara namanya yang lain adalah: ar-Rūḥ, Rūḥul-Qudus, dan ar-Rūḥ al-Amīn. b. Mikail. Dia ditugaskan untuk menurunkan hujan.

Dalilnya: "Siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir." [QS. Al-Baqarah: 98]

c. Israfil. Dia ditugaskan meniup sangkakala.

Dalilnya: Abdurrahman bin 'Auf meriwayatkan: Aku bertanya kepada Aisyah, "Dengan apa Nabi Allah membuka salatnya apabila beliau salat di malam hari?" Ia menjawab, "Apabila beliau salat di malam hari, beliau membuka salatnya dengan: Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, pencipta langit dan bumi, yang mengetahui perkara yang gaib dan yang tampak."[66]

d. Mālik. Dia ditugaskan sebagai pemimpin penjaga neraka.

Dalilnya: "Mereka berseru, 'Wahai Malik, biarlah Tuhanmu mematikan kami saja.' Dia menjawab, 'Sesungguhnya kalian akan tetap tinggal (di neraka ini).'" [QS. Az-Zukhruf: 7798]

e. Munkar dan Nakir [66] HR. Muslim, Kitāb al-Masājid wa Mawāḍi'uṣ-Ṣalāh, Bāb ad-Du'ā` fī Ṣalātil-Lail wa Qiyāmih (No. 200).

Dalilnya: Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila mayat atau salah seorang dari kalian telah dikubur, dua malaikat hitam kebiru-biruan datang. Salah satu dari keduanya bernama Munkar, dan yang lain Nakir..."[67]

Di antara sifat-sifat para malaikat:

a. Fisik yang besar.

Dalilnya: "Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." [QS. At-Taḥrīm: 6] [67] HR. Tirmizi, Abwāb al-Janā`iz 'an Rasūlillāh, Bāb Mā Jā`a fī 'Ażābil-Qabri (No. 1071).

b. Kemampuan untuk berubah wujud.

Dalilnya: "Lalu dia (Maryam) memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna." [QS. Maryam: 17]

c. Tidak disifati sebagai laki-laki dan tidak pula sebagai perempuan.

Dalilnya: "Mereka menjadikan malaikat-malaikat yang merupakan hamba-hamba (Allah) Yang Maha Pengasih itu sebagai jenis perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan mereka (malaikat-malaikat itu)? Kelak akan dituliskan kesaksian mereka dan akan dimintai pertanggungjawaban." [QS. Az-Zukhruf: 18]

d. Mencatat perbuatan manusia.

Dalilnya: "Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan." [QS. Al-Infiṭār: 12]

e. Mencabut nyawa.

Dalilnya: "Katakanlah, 'Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) kalian akan mematikan kalian, kemudian kepada Tuhan kalianlah, kalian akan dikembalikan'.” [QS. As-Sajdah: 11]

f. Mereka tidak memakan dan tidak pula minum.

Dalilnya: "Lalu dia menghidangkannya kepada mereka (tetapi mereka malah tidak makan). Ia berkata, 'Mengapa kalian tidak makan?'” [QS. Aż-Żāriyāt: 27]

Beberapa tugas para malaikat:

a. Menurunkan wahyu kepada para nabi dan rasul.

Dalilnya: "Yang dibawa turun oleh ar-Rūḥ al-Amīn (Jibril)." [QS. Asy-Syu'arā`: 193]

b. Beribadah kepada Allah tanpa lesu ataupun bosan.

Dalilnya: "Milik-Nya siapa saja yang di langit dan di bumi. Adapun (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya, mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak pula merasa letih." [QS. Al-Anbiyā`: 19]

c. Meneguhkan dan menyampaika kabar gembira untuk orang-orang beriman.

Dalilnya: "(Ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman'.” [QS. Al-Anfāl: 12]

d. Mencatat perbuatan manusia.

Dalilnya: "Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan." [QS. Al-Infiṭār: 12]

e. Mencabut nyawa.

Dalilnya: "Katakanlah, 'Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) kalian akan mematikan kalian, kemudian kepada Tuhan kalian, kalian akan dikembalikan'.” [QS. As-Sajdah: 11]

f. Memikul Arasy.

Dalilnya: "Para malaikat berada di berbagai penjurunya (langit). Pada hari itu, delapan malaikat menjunjung Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka." [QS. Al-Ḥāqqah: 17]

Soal 5: Apakah Iblis termasuk malaikat?

Pendapat yang sahih dalam permasalahan ini dan dikuatkan oleh hujah-hujah yang nyata ialah bahwa Iblis berasal dari bangsa jin dan bukan dari golongan malaikat. Hal ini berdasarkan beberapa dalil, di antaranya:

1- Firman Allah Ta'ala: "(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kalian kepada Adam!” Lalu mereka pun bersujud kecuali Iblis. Dia adalah dari (golongan) jin." [QS. Al-Kahf: 50]

Juga firman-Nya: "Dia berfirman, 'Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?' (Iblis) menjawab, 'Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah'.” [QS. Al-A'rāf: 12] Telah diketahui bahwa jin diciptakan dari api, sementara malaikat diciptakan dari cahaya.

2- Banyak ayat yang menunjukkan bahwa para malaikat tidak mendurhakai Allah Ta'ala, seperti firman-Nya: "Penjaganya ialah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." [QS. At-Taḥrīm: 6]

3- Pengecualian yang terdapat dalam firman-Nya: "(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah Kalian kepada Adam!' Lalu mereka pun bersujud kecuali Iblis." [QS. Al-Baqarah: 34 dan Al-A'rāf: 12] Istiṡnā` munqaṭi': Dalam istiṡnā` munqaṭi' tidak disyaratkan mustaṡnā berasal dari jenis mustaṡnā minhu, seperti firman-Nya Ta'ala: "... tetapi mengikuti persangkaan belaka, jadi mereka tidak yakin telah membunuhnya." [QS. An-Nisā`: 157]

Jadi, illā bermakna: tetapi.

Adapun mengenai mengapa ia dilibatkan dalam perintah itu bersama mereka, jawabannya adalah: ia berada di antara mereka pada waktu perintah tersebut. Sebagian ulama salaf menyebutkan bahwa Iblis pernah beribadah bersama para malaikat, sehingga ia pun disebut dengan nama mereka karena ia adalah pengikut mereka, seperti seorang sekutu dalam sebuah kabilah yang disebut dengan nama kabilah itu, padahal asalnya bukan darinya. Allāhu a'lam.

6. Apakah Harut dan Marut dari kalangan malaikat?

Allah Ta'ala berfirman, "Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman tidak kufur tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, 'Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah engkau kufur.' Lantas mereka mempelajari dari kedua (malaikat) itu apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Sungguh, mereka sudah tahu, siapa yang membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir sekiranya mereka tahu." [QS. Al-Baqarah: 102]

Dalam ayat di atas terkandung dua pendapat:

Pendapat pertama: Keduanya adalah dua laki-laki di negeri Babilonia yang mengajarkan sihir kepada manusia.

Ayat ini dapat dipahami dengan dua cara:

- Cara pertama: Pada firman-Nya, (وما أنزل على الملكين), kalimat "mā" di sini adalah "mā nāfiyah" (bermakna negasi/penafian) yang dihubungkan dengan firman-Nya, (وما كفر سليمان). Adapun kedua malaikat tersebut adalah Jibril dan Mikail. Artinya, sihir tidak diturunkan kepada Jibril dan Mikail sebagaimana yang diklaim oleh para penyihir Yahudi.

- Cara kedua: dengan kasrah pada huruf lām (al-malikain), dan ini adalah bacaan yang tidak masyhur.

Pendapat kedua: Keduanya adalah dua malaikat. Ayat ini dapat dipahami sebagai berikut:

Keduanya diutus oleh Allah Ta'ala sebagai cobaan bagi para hamba-Nya, maka keduanya mengajarkan sihir kepada manusia setelah memperingatkan mereka agar tidak mempelajarinya.

Atau bahwa keduanya mendeskripsikan sihir, menyebutkan kebatilannya, dan memerintahkan untuk menjauhinya. Pengajaran di sini bermakna pemberitahuan.

Kita harus memahami ayat ini berdasarkan dalil yang jelas, yaitu bahwa para malaikat tidak mendurhakai Allah terkait apa yang diperintahkan kepada mereka, dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Pendapat yang paling benar -wallāhu a'lam- adalah bahwa Harut dan Marut bukanlah malaikat.

Ibnu Jarir berkata, “Tafsir ayat ini berdasarkan hal tersebut adalah: mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman berupa sihir, dan Sulaiman tidak kufur, dan Allah tidak menurunkan sihir kepada dua malaikat, tetapi setan-setan itulah yang kufur, mereka mengajarkan sihir kepada manusia di negeri Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Jadi, firman-Nya, '... di negeri Babilonia, yaitu Harut dan Marut', merupakan kalimat yang diakhirkan, yang maknanya adalah yang didahulukan."

Beliau melanjutkan, "Jika ada yang bertanya kepada kami: Apa landasan didahulukannya hal tersebut? Jawabannya adalah bahwa landasannya sebagai berikut: "Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman", yaitu berupa sihir. "Sulaiman tidaklah kufur." "Allah tidak menurunkan (sihir) kepada dua malaikat itu." "Akan tetapi, setan-setan itulah yang kufur, mereka mengajarkan sihir kepada manusia", di Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Jadi, yang dimaksud dengan dua malaikat itu adalah Jibril dan Mikail -‘alaihimas-salām-; karena para penyihir Yahudi, sebagaimana yang disebutkan, mengklaim bahwa Allah menurunkan sihir melalui lisan Jibril dan Mikail kepada Sulaiman bin Daud. Allah lantas membantah mereka dengan hal itu dan memberitahukan kepada Nabi-Nya, Muhammad ﷺ, bahwa Jibril dan Mikail tidak turun membawa sihir. Dia juga membersihkan Sulaiman, -‘alaihis-salām- dari sihir yang mereka nisbahkan kepadanya sekaligus memberitahukan kepada mereka bahwa sihir adalah perbuatan setan-setan, bahwa setan-setan itu mengajarkannya kepada manusia di Babilonia, dan bahwa yang mengajarkannya kepada mereka adalah dua orang laki-laki, nama salah satunya Harut, dan nama yang lainnya Marut.”[68]

7. Manakah yang Lebih Utama: Malaikat atau Manusia?

Di antara bentuk pengutamaan adalah:

Apakah para malaikat lebih utama ataukah para nabi? Tentang hal ini ada lima pendapat: [68] Lihat: Tafsīr Ibni Jarīr aṭ-Ṭabariy (1/519-544)

1. Para nabi lebih utama.

2. Para malaikat lebih utama.

3. Para malaikat lebih utama daripada semua nabi kecuali Muhammad ﷺ, beliau lebih utama daripada para malaikat.

4- Malaikat yang tidak memiliki maksiat lebih utama -untuk mengecualikan Harut dan Marut-.

5- Abstain (tidak menentukan pendapat).

Siapa yang lebih utama antara para malaikat khusus dan para wali? Tentang hal ini terdapat dua pendapat:

1. Malaikat-malaikat khusus lebih utama.

2. Para wali lebih utama.

Siapa yang lebih utama antara malaikat secara umum dan para wali? Tentang hal ini terdapat dua pendapat:

1. Malaikat umum lebih utama.

2. Para wali lebih utama.

Kesimpulan pembahasan hal Ini adalah:

1. Tidak perlu ada perbandingan keutamaan antara dua jenis makhluk yang berbeda dari segi penciptaan, tempat tinggal, kewajiban, dan lain sebagainya.

2. Mungkin dapat dibandingkan dari sisi ibadah, siapakah yang lebih banyak beribadah kepada Allah. Ada yang berpendapat bahwa karena para malaikat diciptakan untuk selalu taat dan tidak bermaksiat, sedangkan manusia diberi pilihan di antara keduanya, maka ibadah manusia kepada Allah mengangkat derajat keutamaannya di atas para malaikat.

3. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa orang-orang saleh dari kalangan manusia lebih utama daripada para malaikat, ditinjau dari kesempurnaan kondisi akhir mereka, yaitu masuknya mereka ke dalam surga dan diberikannya ilham untuk bertasbih; bukan berdasarkan apa yang mereka alami di dunia, seperti terjerumus ke dalam kemaksiatan dan yang semisalnya.

4. Hendaklah kita ketahui bahwa permasalahan ini termasuk permasalahan yang kurang utama, yang tidak seharusnya membuat manusia melampaui batasannya. Batasan tersebut adalah sebagai pendorong untuk beribadah kepada Allah, agar manusia terangkat ke suatu kedudukan yang lebih agung di sisi Allah daripada kedudukan para malaikat.

Ibnul-Qayyim berkata, “Beliau—yakni Ibnu Taimiyah—ditanya, siapakah yang lebih utama antara orang-orang saleh dari kalangan Bani Adam dan para malaikat?”

Beliau menjawab bahwa orang-orang saleh dari kalangan manusia lebih utama ditinjau dari kesempurnaan pada akhirnya, sedangkan para malaikat lebih utama ditinjau dari sisi permulaan. Alasannya, para malaikat saat ini berada di derajat tertinggi, tersucikan dari apa yang menyertai anak Adam, dan larut dalam beribadah kepada Allah. Tanpa ada keraguan bahwa keadaan mereka saat ini lebih sempurna daripada keadaan manusia.

Adapun pada hari kiamat, setelah memasuki surga, keadaan orang-orang saleh dari kalangan manusia akan menjadi lebih sempurna daripada keadaan para malaikat. Dengan perincian ini, menjadi jelaslah rahasia keutamaan tersebut, dan dalil-dalil dari kedua belah pihak pun menjadi selaras.”

8. Contoh-Contoh Pengaruh Iman Kepada Para Malaikat Dalam Melakukan Ketaatan

1. Salat

- Bersegera pergi salat Jumat. Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda, "Jika hari Jumat tiba, para malaikat berdiri di pintu masjid untuk mencatat orang yang pertama datang dan seterusnya. Orang yang pertama kali datang laksana orang yang berkurban dengan seekor unta, kemudian setelahnya seperti orang yang berkurban dengan seekor sapi, kemudian seekor domba, kemudian seekor ayam, kemudian sebutir telur. Jika imam sudah menuju mimbar, maka para malaikat melipat catatan mereka kemudian mendengarkan zikir (khotbah)."[69]

- Menjaga salat berjamaah. Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Para malaikat di malam dan siang hari saling bergantian dalam menjaga kalian. Mereka akan bertemu ketika salat asar dan salat subuh. Kemudian para malaikat yang bermalam bersama kalian akan naik, lalu Dia (Allah) bertanya kepada mereka padahal Dia lebih tahu tentang kalian. Dia berfirman, 'Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku ketika kalian tinggalkan?' Mereka menjawab, 'Kami meninggalkan mereka sedang mengerjakan salat dan kami mendatangi mereka sedang mengerjakan salat.'"[70]

2. Infak di jalan Allah.

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah para hamba memasuki waktu pagi hari melainkan ada dua malaikat turun (ke bumi). Lalu salah satu dari mereka berdoa, 'Ya Allah, berikanlah ganti (yang baik) kepada orang yang bersedekah.' Sebaliknya, malaikat yang satunya lagi mengatakan, 'Ya Allah, timpakanlah kehancuran pada orang yang menahan hartanya (kikir).'"[71] [69] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari (No. 929) dan Muslim (No. 850).

3. Belajar ilmu dan mengajarkannya. [70] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari (No. 555) dan Muslim (No. 632).

Kaṡīr bin Qais meriwayatkan: Aku pernah duduk bersama Abu ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu- di Masjid Damaskus, lantas seorang laki-laki mendatanginya seraya berkata, "Wahai Abu ad-Dardā`, sesungguhnya aku datang menemuimu dari Kota Rasul ﷺ demi satu hadis yang sampai kepadaku bahwa engkau meriwayatkannya dari Rasulullah ﷺ. Tidak ada tujuan lain yang membuatku datang menemuimu." Abu ad-Dardā` berkata, "Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Siapa yang menempuh sebuah jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya salah satu jalan surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena senang pada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang berilmu itu dimintakan ampunan oleh semua makhluk yang ada di langit dan di bumi hingga ikan di dasar air. Keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah laksana keutamaan rembulan di malam purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang melimpah.'"[72]

4. Membaca Al-Qur`an. [71] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari (No. 1442) dan Muslim (No. 1010).

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mengangkat satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan angkat darinya satu kesusahan hari kiamat. Siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang dilanda kesulitan, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat, dinaungi oleh para malaikat, dan disebut oleh Allah di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. Siapa yang diperlambat oleh amalnya tidak akan bisa dipercepat oleh nasabnya."[73]

5. Mendoakan saudara-saudaramu sesama muslim tanpa sepengetahuan mereka. [72] HR. Abu Daud (No. 3641), Kitab al-'Ilm, Bāb al-Ḥaṡṡ ‘alā Ṭalab al-‘Ilm.

Ummu ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan dari Abu ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah seorang muslim mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya melainkan malaikat akan berkata, 'Juga bagimu kebaikan yang sama.'"[74]

6. Menjenguk orang sakit. [73] HR. Muslim (No. 2699) dalam Kitāb aż-Żikr wad-Du'ā`, Bāb Faḍl al-Ijtimā' 'alā Tilāwah Al-Qur`an.

Ali -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah seseorang menjenguk orang yang sakit pada sore hari melainkan akan keluar tujuh puluh ribu malaikat yang memintakan ampunan untuknya hingga pagi hari, dan baginya kebun di Surga. Siapa yang mendatanginya pada pagi hari, maka keluar bersamanya tujuh puluh ribu malaikat yang memohonkan ampunan baginya hingga sore hari, dan baginya kebun di surga."[75]

Contoh-contoh buah iman kepada para malaikat dalam meninggalkan kemungkaran: [74] HR. Muslim, Kitāb aż-Żikr wad-Du'ā`, Bāb Faḍli ad-Du'ā` lil-Muslimīna bi Ẓahril-Gaib (No. 2732).

1- Menjauhi sikap menyembunyikan apa yang diturunkan Allah dan kufur terhadapnya.

Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al Qur’an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh mereka yang melaknat. Dikecualikan mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskannya, maka mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya orang-orang kafir dan mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Mereka kekal di dalamnya (laknat), tidak akan diringankan azabnya dan tidak diberi penangguhan." [QS. Al-Baqarah: 175-162] [75] HR. Abu Daud, Kitāb al-Janā`iz, Bāb Faḍl al-'Iyādah 'alā Wuḍū' (No. 3098).

2- Menjauhi sikap pencelaan sahabat Rasulullah ﷺ.

Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mencela sahabatku, maka dia patut mendapatkan laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia."[76] (HR. Aṭ-Ṭabarāniy)

3- Menjauhi bidah dan pembelaan terhadap para penjahat dan pelaku dosa.

Ali -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Kami tidak memiliki sesuatu (warisan) dari Nabi ﷺ kecuali Kitabullah dan lembaran ini, yaitu: Madinah adalah tanah haram (suci) antara 'Air sampai Ṡaur. Siapa yang melakukan bidah (atau kezaliman) di dalamnya atau melindungi pembuat bidah (atau pelaku kezaliman), maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Tidak akan diterima darinya tobat maupun tebusan. Jaminan keamanan kaum muslimin itu satu. Siapa yang melanggar jaminan keamanan seorang muslim, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Tidak akan diterima darinya tobat maupun tebusan. Siapa yang berafiliasi dengan suatu kaum tanpa izin dari walinya (orang yang memerdekakannya), maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Tidak akan diterima darinya tobat maupun tebusan."[77]

4- Istri tidak melakukan kedurhakaan kepada suaminya dalam kebaikan. [76] HR. Aṭ-Ṭabarāniy.

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, lalu ia enggan untuk memenuhi ajakan suaminya, maka ia akan dilaknat para malaikat hingga pagi."[78]

Dia juga meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda, "Apabila seorang wanita bermalam sementara ia tidak memenuhi ajakan suaminya di tempat tidur, maka para malaikat melaknatnya hingga ia kembali."[79] [77] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari (No. 6755) dan Muslim (No. 1370).

9- Di Antara Buah Iman Kepada Para Malaikat

a. Merasakan ketenangan dan kenyamanan karena adanya keyakinan bahwa para malaikat selalu bersamanya, mendoakannya, meneguhkannya, dan menyemangatinya. [78] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari (No. 5193) dan Muslim (No. 1436).

Allah Ta'ala berfirman, "Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, apa pun yang kurang sempurna dan apa yang bertambah dalam rahim. Segala sesuatu ada ukuran di sisi-Nya. (Dialah) yang mengetahui semua yang gaib dan yang nyata; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. Sama saja (bagi Allah) siapa di antara kalian yang merahasiakan ucapannya dan siapa yang berterus terang dengannya; juga siapa yang bersembunyi pada malam hari dan yang berjalan pada siang hari. Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." [QS. Ar-Ra'd: 8-11] [79] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari (No. 5194) dan Muslim (No. 1436).

b. Mencintai para malaikat, karena adanya keyakinan bahwa mereka memohonkan ampunan dan berdoa untuknya.

Allah Ta'ala berfirman, "(Para malaikat) yang memikul Arasy dan yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhan mereka, beriman kepada-Nya, serta memohon ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka ampunilah orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu, dan jagalah mereka dari azab neraka Jahim.'" [QS. Gāfir: 7]

Kedua: Iman Kepada Kitab-kitab

Di dalam tema ini terdapat beberapa bahasan:

- Makna kitab-kitab

- Dalil-dalil iman kepada kitab-kitab

- Cara beriman kepada kitab-kitab

- Perbandingan antara kitab-kitab terdahulu dan Al-Qur`an

1- Makna Kitab-Kitab

Maknanya adalah kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah Ta'ala kepada para rasul-Nya yang berisi petunjuk, kebenaran, dan cahaya agar manusia meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Kitab-kitab samawi yang diturunkan:

- Zabur

- Suhuf Ibrahim

- Taurat dan suhuf Musa

- Injil

- Al-Qur`an

Hikmah iman kepada kitab-kitab sebelum Al-Qur`an:

a. Memuat bukti kenabian Muhammad ﷺ,

b. Di dalamnya terdapat perintah untuk beriman kepadanya dan mengenalnya.

c. Adanya keselarasan isi kitab-kitab itu dalam masalah akidah dan akhlak.

d. Untuk meningkatkan keyakinan akan keuniversalan risalah Islam, pembatalannya terhadap semua agama yang terdahulu, komprehensifitasnya, dan supremasinya.

e. Untuk mendakwahi Ahli Kitab

f. Menambah iman kepada Allah dan merenungkan rahmat dan hikmah-Nya.

2- Dalil-Dalil Iman Kepada Kitab-Kitab

Allah Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada kitab (Al-Qur`an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Siapa yang ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, ia telah tersesat sangat jauh." [QS. An-Nisā`: 136]

Allah juga berfirman, "Katakanlah, 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami hanya berserah diri kepada-Nya.'" [QS. Al-Baqarah: 143]

Allah juga berfirman, "Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Lalu diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidak ada yang berselisih tentangnya kecuali orang-orang yang telah diberi (kitab), setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri. Sebab itu, dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus." [QS. Al-Baqarah: 213]

Allah juga berfirman, "Karena itu, serulah (mereka), tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad), janganlah mengikuti keinginan mereka, dan katakanlah, 'Aku beriman kepada kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kalian. Allah adalah Tuhan kami dan Tuhan kalian. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kalian perbuatan kalian. Tidak (perlu) ada pertengkaran antara kami dan kalian, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali.'” [QS. Asy-Syūrā: 15]

Allah Ta'ala juga berfirman, "Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." [QS. Al-Baqarah: 177]

Dalam hadis Jibril yang masyhur, Nabi ﷺ menjawab tentang iman: "Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk."[80]

3- Cara Beriman Kepada Kitab-Kitab

a- Kitab-kitab itu adalah firman Allah. Kita mengimani bahwa setiap kitab yang diturunkan Allah kepada para rasul-Nya, Allah telah berbicara dengannya secara hakiki dan mewahyukannya kepada rasul-Nya, baik dari balik tabir tanpa perantara, ataupun melalui Jibril -'alaihissalām-.

b. Kitab-kitab itu memiliki nama. Kita mengimani nama-nama kitab yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur`an. Ada lima: Suhuf Ibrahim -'alaihissalām-, Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur`an. [80] Sumbernya telah disebutkan sebelumnya.

c. Kitab-kitab (sebelum Al-Qur`an) itu terbatas dan tidak terjaga. Kita beriman bahwa kitab-kitab sebelum Al-Qur`an diturunkan untuk kaum-kaum tertentu dalam periode waktu tertentu. Oleh karena itu, Allah tidak menjamin untuk menjaganya dari kehilangan atau penyelewengan.

d. Al-Qur`an universal dan terjaga. Kita mengimani bahwa Al-Qur`an diturunkan untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat. Oleh karena itu, ia mengandung inti sari syariat-syariat terdahulu, sehingga ia datang sebagai pengganti kitab-kitab sebelumnya dan penjaga atasnya, dan Allah telah menjamin untuk menjaganya.

Perbandingan Antara Al-Qur`an dan Kitab-Kitab Terdahulu

Pokok-pokok perbandingan keduanya adalah:

a- Dari Segi Penjagaan Keasliannya

Al-Qur`an: seluruh ayatnya terjaga dari penambahan atau pengurangan. Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur`an dan pasti Kami pula yang memeliharanya." [QS. Al-Ḥijr: 9]

Kitab-kitab sebelumnya tidak terjaga, sehingga hilanglah Suhuf Ibrahim dan Zabur Daud, sedangkan Taurat dan Injil mengalami berbagai macam penyelewengan, pengubahan, dan penggantian, baik pada maknanya maupun lafaznya, dengan penambahan, penyembunyian, dan pengurangan. Contoh mengenai hal itu sangat banyak. Allah Ta'ala berfirman, "Di antara orang Yahudi ada orang yang mengubah perkataan (firman Allah) dari tempat-tempatnya." [QS. An-Nisā`: 46] Allah juga berfirman, "Wahai Ahli Kitab, Sungguh, Rasul Kami telah datang kepada kalian, menjelaskan kepada kalian banyak hal dari (isi) kitab yang kalian sembunyikan dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menjelaskan." [QS. Al-Mā`idah: 15]

b- Dari Segi Isi

Al-Qur`an: seluruh ayatnya adalah firman Allah, Dia mengucapkannya secara hakiki dengan huruf dan suara, sehingga kita meyakini dengan pasti penisbahannya kepada Allah secara lafaz dan makna. Allah Ta'ala berfirman, "Jika ada di antara kaum musyrikin yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia agar dia dapat mendengar firman Allah."

Kitab-kitab terdahulu:

1) Saat ini kita tidak dapat memastikan bahwa kitab-kitab tersebut seluruhnya adalah firman Allah karena telah tercampur dengan perkataan manusia dan mengalami perubahan serta penggantian.

2- Oleh karena itu, kewajiban kita adalah meninggalkannya dan tidak membacanya, karena Al-Qur`an telah membawa kebaikan dan petunjuk apa pun yang ada di dalamnya.

3- Terkait isinya, kita membenarkan apa yang dibenarkan oleh Al-Qur`an dan menafikan apa yang dinafikan oleh Al-Qur`an. Adapun terhadap apa yang tidak bertentangan dengan Al-Qur`an dan tidak pula disinggung dengan penafian atau penetapan, maka kita menahan diri (tawaqquf) dan menyerahkan urusannya kepada Allah.

c- Dari Segi Kewajiban Pengamalannya

Al-Qur`an: kita wajib meyakini berita-beritanya, baik yang bersifat menafikan maupun menetapkan. Kita wajib mematuhi tuntutannya, baik berupa perintah maupun larangan. Kita juga wajib beradab dengan adab-adabnya, berakhlak dengan akhlaknya, serta menjadikannya sebagai konsep hidup.

Kitab-kitab terdahulu: pengamalannya telah dimansukh oleh agama Islam dan Al-Qur`an, sehingga kita hanya mengamalkan darinya apa yang ditetapkan oleh Al-Qur`an. Oleh karena itu, kita tidak mengikuti apa yang ada di dalamnya terkait akhlak, syariat, dan akidah.

Al-Qur`an

Ia terjaga seluruhnya dari tambahan atau kekurangan.

Kita wajib meyakini beritanya, baik yang menafikan maupun menetapkan; kita wajib mematuhi perintah dan larangannya, dan kita wajib beradab dengan adabnya, berakhlak dengan akhlaknya, serta menjadikannya sebagai pedoman hidup.

Seluruh ayatnya adalah firman Allah, yang Dia ucapkan secara hakiki berupa huruf dan suara, sehingga kita menetapkan penisbahannya kepada Allah secara lafaz dan makna.

Keutamaan-Keutamaan Al-Qur`an:

- Firman Allah

- Hidayah

- Cahaya

- Mengingatkanmu kepada Allah

- Pembeda antara hak dan batil

- Mengandung berbagai kebaikan

- Pemberi syafaat

- Sumber keutamaan

- Faktor pengangkatan derajat di akhirat.

Akidah kita tentang firman Allah Ta'ala dan Al-Qur`an

1. Akidah kita tentang firman Allah Ta'ala

Firman Allah merupakan sifat hakiki yang ditetapkan bagi Allah, yaitu Allah berbicara dengan huruf dan suara dengan cara apa saja dan kapan saja sesuai kehendak-Nya; jenisnya qadīm (azali), sedangkan satuan-satuannya baru.

2. Akidah kita tentang Al-Qur`an

Ia adalah firman Allah. Allah berbicara dengannya secara hakiki, Jibril mendengarnya dari Allah, dan Rasul menyampaikannya.

Ia berasal dari Allah dan kepada-Nya kembali, sehingga ia adalah firman Allah, bukan makhluk.

4- Perbandingan Antara Kitab-Kitab Terdahulu Dengan Al-Qur`an.

Definisi At-Taurāh (Taurat)

Menurut Yahudi: secara bahasa, Taurat dari kata Ibrani yang berarti syariat atau an-nāmūs.

Secara istilah: ia adalah lima bagian kitab yang mereka yakini ditulis oleh Musa -'alaihis-salām- dengan tangannya dan mereka menamakannya 'Bintā Tūk'; Bintā: lima, Tūk: kitab. Terkadang mereka menyebut Taurat dengan maksud seluruh bagian kitab al-'Ahd al-Qadīm (Kitab Perjanjian Lama).

Menurut kaum muslimin: Taurat adalah kitab yang Allah turunkan kepada Musa -'alaihissalām- sebagai cahaya dan petunjuk bagi Bani Israil.

Lima bagian kitab Taurat:

1- Kitab Kejadian.

Membahas penciptaan langit, bumi, dan Adam.

Juga membahas kehidupan para nabi hingga wafatnya Nabi Yusuf -'alaihissalām-.

2- Kitab Keluaran.

Membahas kisah setelah kematian Nabi Yusuf hingga keluarnya Bani Israil dari Mesir.

Juga membahas peristiwa-peristiwa setelah mereka keluar dari Mesir.

3- Kitab Kaum Lewi (Imamah).

Kaum Lewi adalah anak keturunan Lewi bin Ya'kub yang di antara keturunannya adalah Musa dan Harun.

Kitab ini membahas hal-hal yang berkaitan dengan kaum Lewi dan keimaman pada keturunan Harun.

Sebagian syiar-syiar keagamaan.

4- Kitab Bilangan.

Membahas jumlah Bani Israil.

Juga menceritakan peristiwa-peristiwa setelah keluar (dari Mesir)

5- Kitab Ulangan.

Membahas tentang penegasan kembali syariat Taurat.

Pengulangan perintah dan larangan.

Juga menceritakan wafatnya Musa -'alaihis-salām- dan kuburannya.

Injil

Injil yang empat:

- Injil-injil para hawari

- Injil-injil murid-murid para hawari

Injil bermakna kabar gembira (al-bisyārah). Kita meyakini bahwa Allah menurunkan sebuah kitab kepada Almasih -'alaihissalām- yang dinamakan Injil, akan tetapi Allah tidak menetapkannya untuk tetap ada dan tidak menjamin pemeliharaannya, kemudian dimansukh oleh Al-Qur`an.

- Injil Barnabas

Profil singkat tentangnya:

1- Tidak dianggap sebagai bagian dari Injil kanonik menurut kaum Nasrani.

2- Barnabas: Namanya Yūsuf, dan dia adalah salah seorang kaum hawari.

3- Pada tahun 92 M, Paus Gelasius mengeluarkan perintah yang mengharamkan pengkajiannya.

4- Prinsip-prinsip utamanya:

a. Kemanusiaan Almasih.

b- Yang disembelih adalah Ismail, bukan Ishak.

c- Memberi kabar gembira tentang Muhammad ﷺ.

d- Penegasan bahwa Almasih tidak disalib melainkan diangkat kepada Allah.

Orang-orang Nasrani tidak mengetahui Injil yang ini. Mereka juga tidak memiliki dalil bahwa Injil-injil mereka adalah kitab-kitab yang benar penisbahannya kepada Isa -'alaihis-salām-, maupun kepada orang-orang yang kepadanya kitab-kitab itu dinisbahkan.

Kitab Suci Kaum Nasrani:

- Kitab Perjanjian Lama

- Kitab Perjanjian Baru

Jenis-jenis Injil:

- Injil Matius

- Injil Markus

- Injil Lukas

- Injil Yohanes

Surat-surat yang dilampirkan dengannya.

Pokok-pokok kesepakatan di antara kitab-kitab samawi:

a. Kesatuan sumber. Semuanya berasal dari Allah. Allah berfirman, "Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan menurunkan Taurat dan Injil sebelumnya, sebagai petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan Al-Furqān." [QS. Āli 'Imrān: 1-4] b. Masalah-masalah akidah. Kitab-kitab suci tersebut mencakup iman kepada yang gaib dan masalah-masalah akidah, seperti iman kepada para rasul, kebangkitan dan dihidupkannya kembali, iman kepada hari akhir, dan lain sebagainya.

c. Kesatuan tujuan. Yaitu dakwah kepada agama Islam dan ibadah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.

Allah berfirman, "Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah dan jauhilah tagut.'” [QS. An-Naḥl: 36]

Allah Ta'ala juga berfirman, "Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam." [QS. Āli 'Imrān: 19]

Islam (berserah diri kepada Allah) adalah agama yang diperintahkan kepada Ibrahim -'alaihissalām-: "(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya, 'Berserahdirilah!'" [QS. Al-Baqarah: 131]

Nabi Musa -'alaihissalām- berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, apabila kalian beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya jika kamu benar-benar orang muslim (berserah diri).” [QS. Yūnus: 84]

Para hawari berkata pada Isa -'alaihissalām-, "Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim." [QS. Āli 'Imrān: 52]

d. Adil. Seluruh nabi -'alaihimus-salām- membawa neraca keadilan. Allah Ta'ala berfirman, "Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil." [QS. Al-Ḥadīd: 25]

e. Memerangi kerusakan dan penyimpangan, baik itu kerusakan akidah maupun akhlak, penyimpangan dari fitrah, kezaliman terhadap sesama manusia, kecurangan dalam takaran dan timbangan, ataupun yang lainnya.

f. Dakwah kepada akhlak mulia. Semuanya mengajak kepada seluruh akhlak mulia, seperti memaafkan orang yang berbuat salah, sabar atas gangguan, perkataan yang baik, berbakti kepada kedua orang tua, menepati janji, menyambung tali silaturahmi, memuliakan tamu, rendah hati, berbelas kasih kepada orang-orang miskin, dan berbagai akhlak mulia lainnya.

g. Memuat kaidah-kaidah umum. Kitab-kitab samawi menetapkan kaidah-kaidah umum yang harus disadari oleh umat manusia; seperti kaidah pahala dan hukuman, yaitu bahwa manusia dihisab atas amalnya, maka ia dihukum karena dosa-dosanya dan tidak menanggung kesalahan orang lain, serta diberi pahala atas usahanya dan tidak mendapat (pahala) dari usaha orang lain.

Allah berfirman, "Ataukah belum diberitakan (kepadanya) apa yang ada dalam lembaran-lembaran (kitab suci yang diturunkan kepada) Musa? Juga (lembaran-lembaran) Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan bahwa usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian dia akan diberi balasan dengan balasan yang paling sempurna." [QS. An-Najm: 36-41]

h. Berisi anjuran untuk menyucikan jiwa dan penjelasan bahwa keselamatan yang hakiki tidak dapat diraih kecuali dengan penyucian jiwa melalui ketaatan kepada Allah, penghambaan kepada-Nya, dan mengutamakan akhirat daripada dunia. Allah berfirman, "Sungguh, telah beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman) dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat. Tetapi kalian lebih memilih kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini terdapat dalam suhuf-suhuf yang dahulu, (yaitu) suhuf Ibrahim dan Musa." [QS. Al-A'lā: 14-19]

Di antara kaidah tersebut adalah bahwa yang berhak mewarisi bumi ialah hamba-hamba Allah yang saleh. "Sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam aż-Żikr (Loh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh." [QS. Al-Anbiyā`: 105]

i. Berbagai macam ibadah. Banyak ibadah yang kita laksanakan telah dikenal di kalangan para rasul dan pengikut mereka, seperti salat dan zakat. Allah Ta'ala berfirman, "Kami telah wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah." [QS. Al-Anbiyā`: 73]

Demikian pula puasa yang diwajibkan atas kita sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kita. Allah Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." [QS. Al-Baqarah: 183]

Demikian pula ibadah haji, sebagaimana dalam firman Allah Ta'ala kepada Nabi Ibrahim -'alaihissalām-, "Serulah manusia untuk mengerjakan haji niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh." [QS. Al-Ḥajj: 27]

Allah telah menetapkan bagi setiap umat manasik dan ibadahnya. Allah ﷻ berfirman, "Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Jadi, Tuhan kalian ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kalian kepada-Nya. Sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)." [QS. Al-Ḥajj: 34][81]

Hal-hal yang menjadi perbedaan:

Allah Ta'ala berfirman, "Untuk setiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang." [QS. Al-Mā`idah: 48]

Sebab itu, syariat-syariat itu berbeda-beda dalam hal jumlah salat, rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, kadar-kadar zakat, tempat-tempat manasik, dan semisalnya. Satu syariat bisa berbeda dengan syariat lainnya. Allah dapat menghalalkan suatu perkara dalam suatu syariat karena sebuah hikmah, dan mengharamkannya dalam syariat lain karena hikmah yang Dia ﷻ ketahui, dan kita tidak mesti mengetahuinya.[82] [81] Lihat: Ar-Rusul war-Risālāt karya al-Asyqar (235-249) dan al-Īmān bil-Kutub karya Dr. Muhammad al-Hamd (12-17)

Ketiga: Iman Kepada Para Rasul

Di dalam tema ini terdapat beberapa pembahasan:

1- Definisi nabi dan rasul secara bahasa [82] Lihat: Ar-Rusul war-Risālāt, karya al-Asyqar (250) dan al-Īmān bil-Kutub, karya al-Hamd (18-21)

2- Definisi nabi dan rasul secara syariat

3-Hukum iman kepada para rasul dan tata caranya

4- Akidah yang sahih kepada para rasul

5- Keutamaan para rasul atas seluruh manusia

6. Perbandingan keutamaan para rasul

7- Kemaksuman para rasul

8- Bukti-bukti kenabian

9- Manfaat beriman kepada para rasul

1- Definisi Nabi dan Rasul Secara Bahasa

a) Nabi (an-nabiy) secara bahasa[83]

memiliki tiga derivasi:

1. Berasal dari kata "an-naba`" yang bermakna: kabar berita.

2. Berasal dari kata "an-nabwah" yang bermakna teratas dan tinggi. [83] Lihat: Mu'jam Maqāyīsil-Lugah (5/385), an-Nihāyah fī Garībil-Ḥadīṡ (5/3,4), dan Lisānul-'Arab (14/8-10).

3. Berasal dari kata "an-nabiy" yang bermakna jalan.

Asal kata yang paling benar adalah yang pertama.[84]

Alasannya, karena nabi diberikan kabar berita dari Allah, lalu dia memberitakan apa yang diberitakan Allah kepadanya. Tidak diragukan lagi bahwa dengan kenabian itu, ia memperoleh ketinggian dan keluhuran, serta menjadi jalan yang mengantarkan manusia kepada Allah.

b) Rasul (ar-rasūl).

Ia berasal dari kata al-irsāl, yaitu mengutus dengan sebuah risalah untuk dibawa kepada orang lain.[85] [84] Lihat: Kitāb an-Nubuwāt (2/688-690), taḥqīq Dr. aṭ-Ṭuwayyān.

2- Definisi Nabi dan Rasul Secara Syariat[86]

Terdapat perbedaan antara makna nabi dan rasul, berdasarkan dalil dari Al-Qur`an dan sunnah:

a) Allah Ta'ala berfirman tentang sifat Nabi Musa -'alaihissalām-, "Sungguh, ia seorang rasul sekaligus nabi." [QS. Maryam: 51] Demikian juga dalam menyifati Ismail -'alaihissalām-. [85] Lihat Lisānul-'Arab (11/283-284).

b- Allah Ta'ala juga berfirman, "Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak pula seorang nabi sebelum engkau (Muhammad) melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginannya itu. Tetapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu, kemudian Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." [QS. Al-Ḥajj: 52] [86] Lihat: Aṭ-Ṭaḥāwiyyah (155), an-Nubuwwāt (2/714-722), dan al-Farq Baina an-Nabīy war-Rasūl karya Dr. Aḥmad al-Ḥamd (102-104).

"(Yaitu) orang-orang yang mengikuti rasul, nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis)." [QS. Al-A'rāf: 157]

Dalam hadis disebutkan: Rasulullah ﷺ ditanya tentang jumlah para nabi dan rasul, maka beliau membedakan antara keduanya dalam hal jumlah, seraya bersabda, "124.000 nabi, sedangkan para rasul dari mereka berjumlah 315, suatu kelompok yang besar."[87]

Ada dua pendapat masyhur tentang perbedaan di antara keduanya:

Pertama: Rasul adalah orang yang diberikan wahyu berupa syariat baru dan diperintahkan untuk menyampaikannya, sedangkan nabi adalah orang yang diberikan wahyu dan tidak diperintahkan untuk menyampaikannya.

Akan tetapi, pendapat ini disanggah dengan beberapa hal: [87] HR. Imam Ahmad dalam Musnad-nya (Hal. 5/266). Lihat ‘Ālam ar-Rusul karya al-Asyqar.

1. Allah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa Dia juga telah mengutus para nabi. Allah Ta'ala berfirman, "Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak (pula) seorang nabi sebelum engkau (Muhammad)..." [QS. Al-Ḥajj: 52]

2- Allah telah mengambil perjanjian dari para ahli ilmu untuk menyampaikan dakwah, maka para nabi lebih pantas untuk itu. "(Ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab, 'Hendaklah kalian benar-benar menerangkannya kepada manusia dan janganlah kalian menyembunyikannya.' Tetapi, mereka malah melemparkannya (janji itu) ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga murah. Sungguh, itu seburuk-buruk jual-beli yang mereka lakukan." [QS. Āli 'Imrān: 187]

Kedua: Rasul ialah orang yang diberikan wahyu berupa syariat yang baru dan diperintahkan untuk menyampaikannya, sedangkan nabi ialah orang yang diutus untuk mengukuhkan syariat nabi sebelumnya.

Akan tetapi, pendapat ini disanggah dengan beberapa hal:

1- Adanya kerasulan Yusuf -'alaihissalām-, padahal dia berada di atas syariat Ibrahim -'alaihissalām-.

2- Adanya kerasulan Daud -'alaihissalām- dan Sulaiman -'alaihissalām-, padahal keduanya mengikuti syariat Taurat.

Pendapat yang rajih adalah apa yang disebutkan oleh Syekh Islam Ibnu Taimiyah -raḥimahullāh-, bahwa nabi adalah orang yang diutus kepada kaum yang sejalan dengannya dan mereka beriman kepadanya, sehingga ia menjadi pembaharu urusan agama mereka. Adapun rasul adalah orang yang diutus kepada kaum yang menentangnya dan kafir kepada Allah, lalu ia mengajak mereka untuk mengesakan Allah.

3- Hukum Iman Kepada Para Rasul dan Tata Caranya

a) Hukumnya.[88]

Ia merupakan salah satu rukun iman. Tidak sempurna iman seseorang kecuali beriman dengannya. Siapa yang mengingkari seorang rasul dari mereka, maka ia telah kafir kepada mereka semua. Ini berdasarkan firman Allah Ta'ala, "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul." [QS. Asy-Syu'arā`: 105] Padahal, Nuh -'alaihissalām- adalah rasul pertama bagi penduduk bumi.

Allah Ta'ala berfirman, "Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.' Mereka juga berkata, 'Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.'" [QS. Al-Baqarah: 285]

Juga firman-Nya: "Sesungguhnya orang-orang yang kufur kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya dengan mengatakan, 'Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain).' Mereka bermaksud mengambil jalan tengah (antara iman atau kufur)." [QS. An-Nisā`: 150] [88] Lihat: Ma'ārij al-Qabūl (2/676).

Disebutkan dalam hadis Jibril -'alaihissalām-, "Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk."[89]

b) Tata Caranya.[90]

1. Mengimani bahwa mereka benar-benar utusan Allah kepada kaum-kaum yang telah mereka sampaikan risalah kepada mereka. Dia berfirman, "Kepada kaum 'Ād (Kami utus) saudara mereka, Hud." [QS. Al-A'rāf: 65] "Kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka, Salih." [QS. Al-A'rāf: 73] "Kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib." [QS. Al-A'rāf: 85]

2. Beriman dengan mereka yang kita ketahui namanya, seperti delapan belas nama dalam firman-Nya Ta'ala, "Itulah keterangan Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-An'ām: 83] [89] Penyebutan sumbernya telah disebutkan sebelumnya.

3. Mengimani bahwa Muhammad ﷺ adalah nabi dan rasul Allah yang diutus kepada jin dan manusia, baik yang semasa dengan beliau maupun yang datang setelahnya hingga hari kiamat. Beliau adalah penutup para rasul, dan syariatnya menasakh seluruh syariat, serta wajib diamalkan hingga hari kiamat. Allah Ta'ala berfirman, "Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kalian, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. Al-Aḥzāb: 40] Allah Ta'ala juga berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Wahai manusia, sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kalian semua.'” [QS. Al-A'rāf: 158] [90] Al-Minhāj (1/237) dan Ma'ārij al-Qabūl (2/677).

4- Akidah yang Sahih tentang Para Rasul

1. Para rasul adalah manusia yang diciptakan. Orang-orang kafir telah mengingkari rasul mereka karena beranggapan utusan Allah tidak akan berasal dari kalangan manusia. Allah telah menyebutkan anggapan itu dan membantahnya dalam firman-Nya, "Tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang kepadanya selain perkataan mereka, 'Mengapa Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?' Katakanlah, 'Sekiranya di bumi ada malaikat-malaikat yang berjalan dengan tenang, niscaya Kami turunkan kepada mereka dari langit satu malaikat menjadi rasul.'” [QS. Al-Isrā`: 94-95]

2. Mereka tidak memiliki sedikit pun kekhususan rububiyah (ketuhanan) dan uluhiyah (keilahian). Allah berfirman tentang Nabi-Nya, Muhammad ﷺ, yang merupakan penghulu para rasul serta pemilik kedudukan paling agung di sisi Allah, "Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.'” [QS. Al-A'rāf: 188] Allah Ta'ala juga berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu.' Katakanlah, 'Sesungguhnya tidak ada yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.'” [QS. Al-Jinn: 21-22]

3. Mereka mengalami hal-hal yang dialami manusia, seperti: sakit, kematian, butuh makan dan minum, dan lain sebagainya. Allah Ta'ala berfirman mengisahkan Ibrahim ﷺ ketika ia menyebutkan sifat Allah, "(Dialah) juga yang memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku, dan yang mematikan aku, kemudian menghidupkanku." [QS. Asy-Syu'arā`: 79-81]

Nabi ﷺ juga bersabda, "Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian yang bisa lupa sebagaimana kalian juga lupa; maka apabila aku lupa, ingatkanlah aku."[91]

4. Allah Ta'ala telah menyifati mereka sebagai hamba-Nya pada kedudukan mereka yang paling tinggi serta dalam konteks pujian untuk mereka. Allah Ta'ala berfirman tentang Nuh -‘alaihis-salām-, "Keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” [QS. Al-Isrā`: 3]

Allah berfirman tentang Nabi Muhammad ﷺ, "Maha Suci Allah yang telah menurunkan Furqān (Al-Qur`an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia)." [QS. Al-Furqān: 1]

Allah berfirman tentang Ibrahim, Ishak, dan Yakub -'alaihimussalām-, "Ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Yakub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi). Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan menganugerahkan akhlak yang tinggi kepadanya, yaitu selalu mengingat negeri akhirat. Sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang terbaik." [QS. Ṣād: 45-47] [91] HR. Bukhari, Abwābul-Qiblah, Bāb at-Tawajjuh ilā al-Qiblah Ḥaiṡu Kāna (No. 392).

Allah juga berfirman tentang Isa bin Maryam -'alaihi as-salām-, "Dia (Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat (kenabian) kepadanya dan Kami jadikan dia sebagai contoh bagi Bani Israil." [QS. Az-Zukhruf: 59]

5. Tidak ada satu umat pun yang luput dari seorang rasul atau nabi. Allah Ta'ala berfirman, "Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah dan jauhilah tagut.'” [QS. An-Naḥl: 36] Allah berfirman, "Tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan." [QS. Fāṭir: 24]

5- Perbandingan Keutamaan di antara Para Rasul

Allah Ta'ala berfirman, "Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat. Kami beri Isa putra Maryam beberapa mukjizat dan Kami perkuat dia dengan Rūḥulqudus." [QS. Al-Baqarah: 253] Allah Ta'ala juga berfirman, "Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang di langit dan di bumi. Sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi atas sebagian yang lain dan Kami berikan Zabur kepada Daud." [QS. Al-Isrā`: 55] Dua ayat ini dan yang semisalnya menunjukkan bahwa ada perbedaan keutamaan di antara para rasul dan nabi. Meskipun mereka semua sama-sama berstatus nabi, tetapi mereka bertingkat-tingkat dalam perkara-perkara tambahan, seperti: diajak bicara Allah dari balik tabir, ditinggikannya derajat, diberi keutamaan dengan bukti-bukti nyata dan banyaknya mukjizat, atau dengan syariat, dan semisalnya.

Para rasul secara ijmak lebih utama daripada para nabi. Para rasul yang paling utama adalah rasul-rasul ulul azmi. Ini berdasarkan firman Allah Ta'ala, "Sebab itu, bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul ulul azmi (yang memiliki keteguhan hati)." [QS. Al-Aḥqāf: 35]

Pendapat yang paling masyhur di kalangan para ulama adalah bahwa rasul-rasul ulul azmi ada lima, yaitu: Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, dan Nuh. Adapun rasul ulul azmi yang paling utama adalah Rasul kita Muhammad ﷺ, kemudian Ibrahim -‘alaihis-salām-. Ini berdasarkan sabda beliau: "Saya adalah pemimpin anak Adam tanpa bersikap sombong."[92] Juga sabda beliau, "Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun dari nabi-nabi sebelumku..."[93] Juga sabda beliau, "Aku diberi keutamaan atas para nabi dengan enam perkara...." Dalam hadis Mikraj yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan, "Musa berada di langit ketujuh karena meraih keutamaan berbicara dengan Allah. Lalu Musa berkata, "Wahai Tuhanku, aku tidak menyangka Engkau akan mengangkat seorang pun di atasku." Kemudian ia (Jibril) membawaku naik ke tempat yang lebih tinggi dari itu, yang hanya Allah yang mengetahuinya."[94]

Adapun sabda Nabi ﷺ, "Jangan kalian membanding-bandingkan keutamaan di antara para nabi,"[95] juga sabda beliau, "Tidak pantas seorang hamba mengatakan bahwa aku lebih baik dari Yunus bin Matta,"[96] maka maksudnya adalah larangan mengutamakan dengan cara yang menimbulkan anggapan adanya kekurangan pada pihak yang tidak diutamakan, perendahan terhadapnya, atau penghinaan kepadanya.[97]

6- Memperbandingkan Keutamaan antara Para Nabi, Para Rasul, dan Seluruh Manusia.

Allah Ta'ala berfirman, "Allah memilih para utusan dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [QS. Al-Ḥajj: 75] [92] HR. Bukhari, Kitāb at-Tayammum, Bāb "Fa in lam tajidū mā`an fa tayammamū..." (No. 324), dan Muslim, Kitāb al-Masājid, Bāb Ibtinā` Masjid an-Nabiy (No. 520). [93] HR. Muslim, Kitāb al-Masājid, Bāb Ibtinā` Masjid an-Nabī` (No. 523). [94] HR. Bukhari, Kitāb at-Tauḥīd, Bab Qaulihī wa Kallamallāhu Mūsā Taklīmā (No. 7517).

Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya di sisi Kami mereka termasuk orang-orang pilihan yang paling baik." [QS. Ṣād: 47] [95] HR. Bukhari, Kitāb Aḥādīṡ al-Anbiyā`, Bāb Qaulihī Ta'ālā Wa Inna Yūnusa Laminal-Mursalīn (No. 3414); dan Muslim, Kitāb al-Faḍā`il, Bāb Min Faḍā`ili Mūsā (No. 3374). [96] HR. Bukhari, Kitāb Aḥādīṡ al-Anbiyā`, Bāb Qaulihī Ta'ālā Wa Inna Yūnusa Laminal-Mursalīn (No. 3416); dan Muslim, Kitāb al-Faḍā`il, Bāb fī Żikri Yūnus (No. 3376). [97] Lihat: Majmū' Fatāwā Ibni Taimiyyah (11/161-163).

Allah Ta'ala juga berfirman, "Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya." [QS. Al-An'ām: 124]

Allah berfirman, "Siapa yang menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para ṣiddīqīn (yang membenarkan para rasul), orang-orang yang mati syahid, dan orang orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." [QS. An-Nisā`: 69]

Nabi ﷺ bersabda, "Matahari tidak terbit dan tidak terbenam atas seorang pun -setelah para nabi dan para rasul- yang lebih utama dari Abu Bakar aṣ-Ṣiddīq."[98]

Jadi, ijmak telah menetapkan bahwa para rasul dan nabi adalah manusia yang paling utama secara mutlak, sehingga tidak boleh berpendapat bahwa sebagian wali ataupun sebagian imam lebih utama daripada para nabi, atau ucapan-ucapan batil semacamnya.[99]

7- Kemaksuman Para Rasul[100]

Definisi 'Iṣmah ar-Rusul Secara bahasa, 'iṣmah bermakna: menjaga, mencegah, dan melindungi. [98] HR. 'Abd bin Ḥumaid dalam al-Muntakhab (No. 209 & 216), Ibnu Abī 'Āṣim dalam as-Sunnah (No. 1224, 2/526), dan al-Ājurriy dalam asy-Syarī'ah (No. 1309, 4/1844). Hadisnya daif.

Secara istilah: Allah menjaga lahir dan batin para nabi dari apa yang dianggap tercela oleh fitrah yang sehat sebelum kenabian, menjaga mereka dari dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil yang hina sesudahnya, memberi mereka taufik untuk bertobat dan beristigfar dari dosa-dosa kecil, dan tidak membiarkan mereka terus-menerus berada di atasnya. [99] Lihat: Sumber sebelumnya (11/221) dan ar-Rusul wa ar-Risālāt karya al-Asyqar (212-216).

Ruang lingkup kemaksuman: penerimaan risalah [100] Lihat: Majmū' Fatāwā Ibni Taimiyyah (4/319), (10/289, 290), Fatḥ al-Bārī (13/174), dan ar-Rusul wa ar-Risālāt (97, 103).

Hukumnya: Tidak diragukan lagi bahwa mereka maksum dalam hal itu, sebab mereka menjaga apa yang mereka terima, maka mereka tidak melupakannya kecuali apa yang Allah kehendaki untuk dihapus.

Dalilnya: "Kami akan membacakan (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa, kecuali jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi."

Allah juga berfirman, "Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur`an) karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya."

Ruang lingkup kemaksuman: penyampaian risalah

Hukumnya: Mereka juga maksum dalam hal penyampaian, maka mereka tidak menyembunyikan maupun melupakannya.

Dalilnya: "Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu." [QS. Al-Mā`idah] Allah juga berfirman, "Dia tidak berucap sesuai hawa nafsunya. Itu (Al-Qur`an) tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." [QS. An-Najm]

Ruang lingkup kemaksuman: dosa-dosa besar

Hukumnya: mereka maksum darinya, tidak sebagaimana yang dikatakan oleh Yahudi dan Nasrani.

Dalilnya adalah ijmak.

Ruang lingkup kemaksuman: dosa-dosa kecil

Hukumnya: Mereka tidak maksum darinya, akan tetapi mereka tidak dibiarkan terus berada di atasnya, diberi taufik untuk segera bertobat, dan bagi mereka kesempurnaan di akhir hayat.

Dalilnya: Nabi Adam -'alaihissalām- memakan buah yang terlarang dan Nabi Musa -'alaihissalām- memukul seorang Qibti.

Ruang lingkup kemaksuman: tabiat kemanusiaan

Hukumnya: mereka tidak maksum darinya.

Dalilnya: Musa -'alaihis-salām- takut dan Musa -'alaihis-salām- tidak sabar terhadap Khiḍir.

Ruang lingkup kemaksuman: penetapan hukum.

Hukum: Mereka menghukum sesuai dengan apa yang tampak (zahir).

Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ, "Aku ini hanyalah manusia biasa. Adapun para pihak yang bersengketa yang datang kepadaku, mungkin sebagian kalian lebih pandai bersilat lidah daripada yang lain, sehingga aku mengira ia berkata benar, lalu aku memenangkan perkaranya. Sebab itu, siapa yang aku menangkan dengan mencederai hak seorang muslim, sesungguhnya itu adalah sepotong api dari neraka, maka hendaklah ia mengambilnya atau meninggalkannya."

8- Bukti-Bukti Kenabian.[101]

Jenis-jenis bukti kenabian sangat banyak:

1- Mukjizat yang Allah Ta'ala tunjukkan melalui tangan para rasul dan nabi sebagai pembenar bagi mereka,

seperti tongkat Musa -'alaihissalām- dan api Ibrahim -'alaihissalām-. [101] Lihat: Ar-Rusul war-Risālāt (119-205).

2- Berita-berita gembira dari para nabi terdahulu tentang para nabi sesudahnya. "(Ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, (Dia berfirman), 'Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepada kalian lalu datang kepada kalian seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.' Dia berfirman, 'Apakah kalian setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?' Mereka menjawab, 'Kami setuju.' Dia berfirman, 'Kalau begitu, bersaksilah kalian dan Aku menjadi saksi bersama kalian.'” [QS. Āli 'Imrān: 81]

3- Mengkaji keadaan para nabi menunjukkan kejujuran mereka.

4- Memperhatikan dakwah para rasul menunjukkan kebenaran mereka.

5- Dukungan Allah kepada para rasul-Nya, pertolongan-Nya untuk mereka, dan pengabulan doa mereka.

Bukti Kenabian Nabi Kita ﷺ Secara Khusus

a. Dari Al-Qur`an. Allah Ta'ala berfirman, "(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar, menghalalkan segala yang baik bagi mereka, mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." [QS. Al-A'rāf: 157]

Dalilnya: "(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis)."

Sisi pendalilannya ialah Al-Qur`an.

Dalilnya: "... (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka."

Sisi pendalilannya: hal tersebut ialah berita-berita gembira dalam kitab-kitab terdahulu.

Dalilnya: "... menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka."

Sisi pendalilannya: metode spesifik, yaitu dengan melihat kepada jenis apa yang dibawanya.

b. Dari hadis. Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Sahih-nya dari Sufyan bin Harb: Heraklius mengutus seseorang kepadanya (Abu Sufyan) dalam suatu kafilah dari Quraisy. Mereka adalah para pedagang yang sedang berada di Syam pada masa ketika Rasulullah ﷺ masih berada dalam masa perjanjian damai dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. Maka mereka pun datang menghadapnya sementara mereka berada di Iliya’ (Baitul Maqdis). Lalu Heraklius memanggil mereka ke dalam majelisnya, sementara di sekelilingnya hadir para pembesar Romawi. Kemudian ia memanggil mereka dan memanggil pula penerjemahnya. Heraklius berkata, “Siapakah di antara kalian yang paling dekat hubungan nasabnya dengan orang ini yang mengaku sebagai nabi?” Abu Sufyan berkata, “Aku pun menjawab, ‘Akulah yang paling dekat nasabnya dengannya.’” Heraklius berkata, “Dekatkan dia kepadaku, dan dekatkan pula para sahabatnya, lalu tempatkan mereka di belakangnya.” Kemudian ia berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada mereka bahwa aku akan menanyai orang ini tentang lelaki tersebut. Jika ia berdusta kepadaku, maka dustakanlah dia.” Demi Allah, kalau bukan karena rasa malu bila mereka menisbahkan kepadaku kebohongan, niscaya aku akan berdusta tentangnya. Pertanyaan pertama yang ia ajukan kepadaku adalah, “Bagaimana kedudukan nasabnya di tengah-tengah kalian?” Aku menjawab, “Ia berasal dari keturunan yang terpandang di kalangan kami.” Ia berkata, “Apakah ada seorang dari kalian yang pernah mengucapkan perkataan seperti ini sebelum dia?” Aku menjawab, “Tidak.” Ia berkata, “Apakah di antara nenek moyangnya ada yang pernah menjadi raja?” Aku menjawab, “Tidak.” Ia berkata, “Apakah yang mengikutinya itu orang-orang terpandang atau orang-orang lemah?” Aku menjawab, “Justru orang-orang lemahlah yang mengikutinya.” Ia berkata, “Apakah mereka bertambah banyak atau berkurang?” Aku menjawab, “Bahkan mereka terus bertambah.” Ia berkata, “Apakah ada seseorang di antara mereka yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah ia memeluknya?” Aku menjawab, “Tidak.” Ia berkata, “Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengucapkan apa yang ia ucapkan itu?” Aku menjawab, “Tidak.” Ia berkata, “Apakah ia pernah berkhianat?” Aku menjawab, “Tidak. Hanya saja kami sedang berada dalam masa perjanjian dengannya dan kami tidak tahu apa yang akan ia lakukan dalam masa itu.” Tidak ada satu kalimat pun selain ini yang dapat aku sisipkan (yang bernada merendahkannya). Ia berkata, “Apakah kalian pernah memeranginya?” Aku menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Bagaimana hasil peperangan kalian melawannya?” Aku menjawab, “Peperangan antara kami dan dia silih berganti; kadang ia mengalahkan kami dan kadang kami mengalahkannya.” Ia berkata, “Apa yang ia perintahkan kepada kalian?” Aku menjawab, “Ia berkata, ‘Sembahlah Allah semata dan jangan menyekutukan-Nya dengan apa pun, tinggalkanlah apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian.’ Ia juga memerintahkan kami untuk salat, berkata jujur, menjaga kehormatan diri, dan menyambung tali silaturahmi.” Lalu Heraklius berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepadanya: Aku telah menanyakan kepadamu tentang nasabnya, lalu engkau menyebutkan bahwa ia berasal dari keturunan terpandang di tengah-tengah kalian. Demikianlah para rasul, mereka diutus dari kalangan keturunan terhormat kaumnya. Aku bertanya kepadamu apakah ada seorang dari kalian yang pernah mengucapkan perkataan seperti ini sebelumnya, lalu engkau menjawab tidak. Maka aku berkata, seandainya ada seseorang yang telah mengatakan hal ini sebelumnya, niscaya aku akan mengatakan bahwa ia hanya meniru ucapan yang telah diucapkan sebelumnya. Aku bertanya kepadamu apakah di antara nenek moyangnya ada yang pernah menjadi raja, lalu engkau menjawab tidak. Maka aku berkata, seandainya di antara nenek moyangnya ada yang pernah menjadi raja, niscaya aku akan mengatakan bahwa ia hanya menuntut kembali kerajaan ayahnya. Aku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengatakan apa yang ia katakan, lalu engkau menjawab tidak. Maka aku pun mengetahui bahwa tidak mungkin ia meninggalkan kebohongan terhadap manusia, lalu berdusta atas nama Allah. Aku bertanya kepadamu apakah yang mengikutinya itu orang-orang terpandang atau orang-orang lemah, lalu engkau menyebutkan bahwa yang mengikutinya adalah orang-orang lemah. Dan merekalah para pengikut para rasul. Aku bertanya kepadamu apakah mereka bertambah atau berkurang, lalu engkau menyebutkan bahwa mereka terus bertambah. Demikianlah keadaan iman hingga ia menjadi sempurna. Aku bertanya kepadamu apakah ada di antara mereka yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah ia memeluknya, lalu engkau menjawab tidak. Demikianlah iman apabila manisnya telah meresap ke dalam hati. Aku bertanya kepadamu apakah ia berkhianat, lalu engkau menjawab tidak. Dan demikianlah para rasul, mereka tidak berkhianat. Aku bertanya kepadamu tentang apa yang ia perintahkan kepada kalian, lalu engkau menyebutkan bahwa ia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, melarang kalian menyembah berhala, serta memerintahkan kalian untuk shalat, berkata jujur, dan menjaga kehormatan diri. Jika apa yang engkau katakan itu benar, maka sungguh ia akan menguasai tempat pijakan kedua kakiku ini. Aku telah mengetahui bahwa ia akan muncul, namun aku tidak menyangka bahwa ia berasal dari kalangan kalian. Seandainya aku tahu bahwa aku dapat sampai kepadanya, niscaya aku akan berusaha (bersusah payah) untuk menemuinya. Seandainya aku berada di sisinya, niscaya aku akan membasuh kedua kakinya...”[102]

Dalilnya: "Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya, lalu engkau menyebutkan bahwa ia di antara kalian memiliki nasab yang terpandang, maka demikian pula para rasul diutus dari nasab kaumnya."

Sisi pendalilan: pendekatan personal

Dalilnya: "Apa yang diperintahkannya kepada kalian? Lalu engkau menyebutkan bahwa dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan melarang kalian dari penyembahan berhala." [102] HR. Bukhari (No. 7), Bāb Kaifa Kāna Bad`ul-Waḥyi.

Sisi pendalilannya: pendekatan kualitatif, yaitu dengan melihat pada jenis apa yang dibawanya.

Dalilnya: "Jika apa yang engkau katakan itu benar, pasti dia akan menguasai tempat kedua kaki saya ini."

Sisi pendalilannya: kabar gembira (berita kenabian)

Beberapa kekhususan yang Allah istimewakan untuk Nabi-Nya ﷺ di kehidupan dunia:

1. Pengambilan janji untuk beliau ﷺ dari seluruh nabi dan rasul.

2. Beliau adalah nabi yang paling banyak pengikutnya.

3. Generasinya adalah sebaik-baik generasi anak keturunan Adam.

4. Allah telah mengabarkan kepada beliau bahwa Dia telah mengampuni dosa beliau yang terdahulu dan yang akan datang saat beliau masih hidup dan sehat.

5. Allah meninggikan penyebutan namanya.

Beberapa kekhususan yang Allah istimewakan untuk Nabi-Nya ﷺ di akhirat:

1. Beliau adalah pemimpin (sayyid) anak keturunan Adam.

2. Orang pertama yang memberi syafaat serta orang pertama yang diberikan izin memberi syafaat.

3. Beliau adalah yang paling pertama melewati Sirat, yang paling pertama mengetuk pintu surga, dan yang paling pertama memasukinya.

4. Allah menjadikan bendera pujian di tangannya pada hari kiamat.

9. Manfaat Beriman Kepada Para Rasul

a. Mengetahui kasih sayang dan perhatian Allah Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya, yaitu Allah mengutus para rasul untuk membimbing mereka kepada jalan-Nya serta menjelaskan bagaimana mereka beribadah kepada-Nya, karena akal manusia tidak dapat mengetahui hal itu secara mandiri.

b. Bersyukur kepada Allah Ta'ala atas nikmat yang besar ini.

c. Mencintai, menjunjung, dan memuji para rasul -'alaihimuṣ-ṣalātu wassalām- menurut yang patut karena mereka adalah utusan Allah Ta'ala dan karena mereka beribadah kepada-Nya, menyampaikan agama-Nya, dan memberikan nasihat kepada hamba-hamba-Nya.

Keempat: Iman Kepada Hari Akhir

Di dalam bab ini terdapat beberapa pembahasan:

- Pengertian hari akhir

- Urgensi beriman kepada hari akhir.

- Fitnah kubur, pertanyaan dua malaikat, dan pembahasan tentang ruh

- Tanda-tanda kiamat kecil dan kiamat besar

- Kebangkitan

- Pengumpulan manusia

- Timbangan amal

- Hisab amal

- Telaga

- Sirat

- Jembatan (sebelum surga)

- Syafaat

- Surga dan neraka

1- Pengertian Hari Akhir

Terdapat dua pendapat mengenai makna hari akhir:

- Pendapat pertama: Hari terakhir dunia, setelahnya alam barzakh, kemudian hari kiamat.

Al-Ḥulaimiy berkata, “Yang dimaksud dengan hari akhir adalah hari terakhir di dunia, dan dunia adalah sebutan untuk kehidupan... Hari akhir ini adalah hari terakhir dari kehidupan dunia. Apabila sangkakala ditiup, maka binasalah semua yang ada di langit dan di bumi sehingga tidak ada seorang pun dari mereka yang tersisa. Jadi, hari di mana kehidupan dunia mereka berakhir adalah hari terakhir mereka. Lalu apabila sangkakala ditiup dengan tiupan kebangkitan, kemudian mereka dibangkitkan, maka itulah hari kiamat. Apa yang ada di antara keduanya bukanlah bagian dari dunia dan bukan pula bagian dari akhirat, tetapi itulah barzakh yang disebutkan oleh Allah ﷻ dalam kitab-Nya. Dia berfirman, "Di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan." [QS. Al-Mu`minūn: 100] [103]

- Pendapat kedua: Maksudnya adalah hari kiamat. Dinamakan akhir karena ia adalah hari terakhir yang tidak ada malam lagi sesudahnya. Ia adalah hari yang tidak berkesudahan, tidak ada batas maupun akhir baginya. Ia adalah hari terakhir dari hari-hari dunia dan permulaan akhirat.

Adapun barzakh adalah kehidupan di dalam kubur. Adapun tiupan kematian dan tiupan kebangkitan, semua itu hanya terjadi pada hari akhir, yaitu hari kiamat.[104] Allah berfirman, "Sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi, maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah)." [QS. Az-Zumar: 68] "Lalu apabila sangkakala ditiup sekali tiup dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan, maka pada hari itu terjadilah kiamat, dan terbelahlah langit, sehingga pada hari itu langit menjadi lemah." [QS. Al-Ḥāqqah: 13-16]

Makna iman kepada hari akhir adalah beriman dengan segala yang diberitahukan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ mengenai apa yang akan terjadi setelah kematian, berupa: fitnah kubur, pertanyaan dua malaikat, nikmat kubur dan siksanya, kebangkitan setelah kematian, pengumpulan, penampakan amal, hisab, timbangan, ṣirāṭ (jembatan), telaga, syafaat, surga dan neraka, serta apa yang telah Allah sediakan untuk penghuni keduanya,[105] [106]. [103] Al-Minhāj (2/238).

Hari Akhir

Ia adalah hari terakhir di dunia, lalu setelahnya adalah hari kiamat. [104] Lihat: Tafsīr Ibnu Jarīr aṭ-Ṭabariy (1/271, taḥqīq: Syākir), dan Tafsīr al-Bagawiy (1/65), dan Tafsīr Ibn Kaṡīr (5/488), cet. Asy-Sya'b.

Ia adalah hari kiamat, dan inilah pendapat yang benar. ([105]) Lihat: Al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah (Hal. 142), Syarḥ al-Fauzān, dan Kitāb al-Īmān karya Muḥammad Na’īm Yāsīn (Hal. 89). [106] Lihat: Majmū' Fatāwā Ibni Taimiyyah (4/262-263) dan Asyrāṭ as-Sā'ah karya al-Wābil (74, 75).

Iman kepada hari akhir adalah: beriman kepada segala yang diberitakan oleh Nabi ﷺ mengenai apa yang akan terjadi setelah kematian.

2. Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir[107]

a. Ia menjadi salah satu rukun iman. Iman seseorang tidak akan sempurna kecuali dengannya.

Allah Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada kitab (Al-Qur`an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Siapa yang ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh." [QS. An-Nisā`: 136]

Dalam hadis Jibril -'alaihissalām- disebutkan: "Iman adalah beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir baik dan buruk."[108] [107] Lihat: Al-Minhāj fī Syu'ab al-Īmān (1/336); Kitāb al-Īmān karya Muhammad Na'īm Yāsīn (91-93); dan Asyrāṭ as-Sā'ah karya al-Wābil (27-39).

b. Iman kepadanya selalu dikaitkan dengan iman kepada Allah.

Allah Ta'ala berfirman, "Tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir." [QS. Al-Baqarah: 177]

Allah Ta'ala juga berfirman, "Wahai kaumku, Sembahlah Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kalian berkeliaran di bumi dengan berbuat kerusakan." [QS. Al-'Ankabūt: 36] [108] Sumber hadisnya telah disebutkan sebelumnya.

Allah Ta'ala juga berfirman, "Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir." [QS. At-Taubah: 29]

c. Banyak penyebutannya dalam Al-Qur`an.

Jarang Anda temukan satu halaman dalam Al-Qur`an kecuali di dalamnya terdapat penyebutan tentang hari akhir.

d. Banyak namanya, di antaranya:

1- Al-Qiyāmah (kiamat) 6- Aṣ-Ṣākhkhah (hari suara keras sangkakala) 11- Yaum al-Ḥisāb (hari perhitungan) 16- Yaum al-Khulūd (hari kekekalan)

2- As-Sā'ah (hari tibanya kiamat) 7- Al-Ḥāqqah (hari yang pasti ada) 12- Yaum al-Fatḥ (hari kemenangan) 17- Yaum al-Khurūj (hari keluarnya makhluk)

3- Al-Ākhirah (hari akhirat) 8- Al-Gāsyiyah (hari yang menutupi; pembalasan) 13- Yaum at-Talāq (hari pertemuan seluruh makhluk) 18- Yaum al-Ḥasrah (hari penyesalan)

4- Al-Āzifah (hari yang dekat) 9- Al-Wāqi'ah (hari yang pasti terjadi) 14- Yaumul-Jam’i (hari pengumpulan makhluk) 19- Yaumut-Tanād (hari saling memanggil)

5- Aṭ-Ṭāmmah (peristiwa yang dahsyat) 10- Yaum ad-Dīn (hari pembalasan) 15- Yaum at-Tagābun (hari kebangkrutan)

e. Memberi pengaruh besar dalam membimbing kehidupan manusia dan mengatur perilakunya.

Allah berfirman, "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama (hari akhir)? Itulah orang yang menghardik anak yatim." [QS. Al-Mā'ūn: 1-2]

Allah juga berfirman, "Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk." [QS. At-Taubah: 18]

Allah Ta'ala juga berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa apabila dikatakan kepada kalian, 'Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,' kalian malah merasa berat dan ingin tinggal di tempat kalian? Apakah kalian lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. [QS. At-Taubah: 38]

Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir:

a. Salah satu rukun Iman.

b. Seringkali disebutkan bersama dengan iman kepada Allah.

c. Banyaknya penyebutannya di dalam Al-Qur`an.

d. Banyak namanya

e. Memberi pengaruh yang besar dalam mengarahkan kehidupan manusia dan mengendalikan perilakunya.

3. Fitnah Kubur, Pertanyaan Dua Malaikat, dan Pembahasan Tentang Ruh.[109]

(1) Kubur adalah tempat persinggahan pertama dari tempat-tempat persinggahan akhirat.

Uṡmān -raḍiyallāhu 'anhu- apabila berdiri di atas kubur, ia menangis hingga membasahi jenggotnya. Ditanyakan padanya, "Engkau menyebut surga dan neraka namun tidak menangis, tetapi engkau menangis karena ini?" Ia menjawab, "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah bersabda, 'Sesungguhnya kubur itu tempat persinggahan pertama dari tempat-tempat persinggahan akhirat, jika (seseorang) selamat darinya maka setelahnya lebih mudah, dan jika ia tidak selamat darinya maka setelahnya lebih sulit.'"[110]

(2) Fitnah kubur [109] Lihat: Al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah (142) dan Al-Ḥayāh al-Barzakhiyyah fī al-Islām karya Husain Jābir (97-105).

Asmā` -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada sesuatu pun yang belum pernah kulihat melainkan telah kulihat di tempatku ini, hingga surga dan neraka. Lantas diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan diuji di dalam kubur kalian seperti atau serupa dengan fitnah Almasih Dajjal.

- Jenis fitnahnya: pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada mayit, yaitu tiga pertanyaan tentang: Tuhan, agama, dan rasul beserta dalilnya. Setiap orang akan ditanya kecuali para rasul dan nabi. [110] HR. Tirmizi dalam Sunan-nya (4/553, No. 2308), serta disahihkan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi' (No. 1684).

Tiga Asas Agama

a. Allah [111] HR. Bukhari (1/182 No. 86) dan Muslim (2/624 No. 11).

b. Rasul

c. Agama

Dalam hadis Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhu- yang panjang, Nabi ﷺ bersabda, Lalu dua malaikat mendatanginya -yakni orang mukmin-. Lalu keduanya mendudukkannya dan berkata kepadanya, "Siapa Tuhanmu?" Ia menjawab, "Tuhanku adalah Allah." Keduanya bertanya, "Apa agamamu?" Ia menjawab, "Agamaku adalah Islam." Keduanya bertanya, "Siapakah orang ini yang telah diutus kepada kalian?" Ia menjawab, "Dia adalah Rasulullah." Keduanya bertanya, "Bagaimana engkau mengetahuinya?" Ia menjawab, "Aku membaca Kitabullah, lalu aku mengimaninya dan membenarkannya." Itulah makna firman Allah, "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh." [QS. Ibrāhīm:27]. Lalu penyeru dari langit menyerukan, "Hamba-Ku telah benar, maka berilah ia alas dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah untuknya pintu ke arah surga." Lalu pintu itu pun dibukakan. Beliau bersabda, "Lalu datanglah kepadanya aroma harum dan wewangian surga, dan dilapangkan untuknya di surga sejauh pandangannya."

Sedangkan orang kafir -saat beliau menyebutkan kematiannya-, beliau mengabarkan: Ruhnya dikembalikan ke dalam jasadnya dan dua malaikat mendatanginya lalu mendudukkannya. Keduanya bertanya, "Siapa Tuhanmu?" Ia menjawab, "Hah, hah, aku tidak tahu." Keduanya bertanya lagi kepadanya, "Apa agamamu?" Ia menjawab, "Hah, hah, aku tidak tahu." Keduanya bertanya lagi kepadanya, "Siapa orang ini yang diutus pada kalian?" Ia menjawab, "Hah, hah, aku tidak tahu." Lalu penyeru dari langit menyerukan, "Bahwa hamba-Ku telah berdusta, maka berilah ia alas dari neraka, berilah ia pakaian dari neraka, dan bukakan untuknya sebuah pintu ke arah neraka.' Lalu datanglah kepadanya panas dan angin panasnya, dan kuburnya disempitkan hingga tulang-tulang rusuknya bersilangan. Kemudian ditugaskan untuknya sosok yang buta lagi tuli yang membawa palu dari besi, yang seandainya dipukulkan pada gunung niscaya akan menjadi debu. Lalu sosok itu memukulnya satu kali pukulan yang didengar oleh semua yang ada di antara timur dan barat selain manusia dan jin, sehingga ia menjadi debu. Kemudian ruh dikembalikan kepadanya.[112]

(3) Sifat kedua malaikat ini:

Keduanya berkulit hitam kebiruan. Salah satunya bernama Munkar dan yang lainnya bernama Nakīr. Nabi ﷺ bersabda, "Apabila jenazah telah dikubur, ia akan didatangi oleh dua malaikat hitam kebiru-biruan. Salah satunya bernama Munkar dan yang lainnya Nakir ..."[113]

(4) Azab kubur benar-benar ada.[114] [112] HR. Abu Daud dalam as-Sunan (4/238, No. 4751), dan hadis ini ada di Ṣaḥīḥ al-Jāmi' (1671).

Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa seorang wanita Yahudi menemuinya dan menceritakan tentang siksa kubur. Dia berkata kepadanya, "Semoga Allah melindungimu dari siksa kubur." Lalu Aisyah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentangnya, maka beliau bersabda, "Ya, azab kubur itu benar (adanya)." Aisyah berkata, "Setelah itu, aku tidak melihat Rasulullah ﷺ mengerjakan sebuah salat kecuali berlindung kepada Allah dari azab kubur."[115]

Allah ﷻ juga berfirman, "Lalu kaum Fir'aun dikepung oleh azab yang sangat buruk. Mereka terpapar api neraka (di kubur) pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (kepada malaikat diperintahkan), 'Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang paling keras!'” [QS. Gāfir: 45-46] Banyak ulama salaf menafsirkan siksaan ini dengan siksa kubur. [113] HR. Tirmizi (3/372, No. 1071). Riwayat ini terdapat dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi' (No. 724).

(5) Nikmat kubur benar-benar ada. [114] Lihat: Al-Ḥayāh al-Barzakhiyyah fī al-Islām (14-61).

Dalam hadis al-Barā`, Rasulullah bersabda tentang orang mukmin, "Lalu penyeru dari langit menyerukan: 'Hamba-Ku telah benar, maka berilah ia alas dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah untuknya pintu ke arah surga.' Lantas dibukakanlah untuknya, lalu datanglah kepadanya aroma harum dan wewangiannya, dan dilapangkan untuknya sejauh pandangannya." [115] HR. Bukhari (No. 1372)

Keterkaitan roh dengan badan:

Di dunia: Roh adalah pengikut bagi badan.

Di alam barzakh: tubuh mengikuti roh.

Di akhirat: tubuh bersama roh

Catatan: Kehidupan alam barzakh adalah bagian dari kehidupan akhirat; maknanya diketahui, tetapi kaifiatnya tidak. Ia adalah perkara yang membingungkan akal, tetapi tidak dianggap mustahil olehnya, yakni tidak dihukumi mustahil.

(6) Pembahasan tentang ruh.[116]

Ruh termasuk alam gaib yang tidak diketahui kaifiatnya, tetapi ia menyebar di seluruh anggota badan sehingga badan hidup karenanya. Apabila ruh meninggalkan badan, maka terjadilah kematiannya. Ruh juga disifati dengan pergerakan, seperti naik, turun, dan semisalnya.

Ruh adalah salah satu makhluk ciptaan Allah, yang diatur dan dikuasai oleh Allah. Penisbahannya kepada Allah adalah penisbahan kemuliaan dan penghormatan.

Kematian ruh adalah manakala ia berpisah dari jasad, sebab ia adalah jiwa dan setiap jiwa akan merasakan kematian. Akan tetapi, ruh tidak fana seperti jasad, melainkan akan memiliki keadaan lain dan tempat menetap yang berbeda. [116] Lihat: Syarḥ aṭ-Ṭaḥāwiyyah (Hal. 391-396), Kitāb ar-Rūḥ karya Ibnul-Qayyim (Hal. 226-330), dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah wa Juhūduh fī ad-Difāʿ ʿan ʿAqīdah as-Salaf (Hal. 541-560).

Tempat menetapnya ruh-ruh

Ruh-ruh para nabi berada di 'Iliyyūn yang tertinggi (derajat yang paling tinggi).

Ruh para syuhada berada di dalam rongga burung hijau, terbang di surga sesuai keinginannya.

Ruh orang-orang mukmin lainnya berada di surga menurut pendapat yang benar, meskipun sebagiannya tertahan karena utang dan semisalnya. Perbedaan antara ruh syuhada dan ruh orang-orang mukmin lainnya adalah bahwa ruh syuhada diciptakan untuknya jasad-jasad, yaitu burung-burung yang ruh tersebut berada di dalam rongganya, agar dengan demikian sempurnalah kenikmatan mereka. Wallāhu a'lam.

Ruh-ruh orang-orang kafir berada di dalam neraka.

4. Tanda-Tanda Kiamat Kecil dan Besar

Tanda-tanda hari kiamat (asyrāṭ as-sā'ah) adalah ciri-ciri yang mendahuluinya dan menunjukkan kedekatannya.

Asy-Syaraṭ –dengan memfatahkan rā– (bentuk tunggal dari asyrāṭ) bermakna tanda.

As-Sā'ah adalah salah satu bagian masa: malam atau siang. (Waktu di mana Anda berada saat ini).

As-Sā'ah di sini bermakna: waktu terjadinya kiamat. Artinya, kiamat terjadi pada waktu itu karena dekatnya, atau karena datangnya secara tiba-tiba.

Tanda-Tanda Kiamat Kecil

Tanda-tanda kiamat kecil sangat banyak, kita akan menyebutkan beberapa di antaranya.

As-Sā'ah memiliki tiga makna:

1- Kiamat kubra (besar), yaitu kebangkitan manusia dari kubur mereka untuk hisab dan pembalasan.

Apabila as-sā'ah disebutkan secara mutlak di dalam Al-Qur`an, maka maksudnya adalah kiamat besar.

Allah berfirman, "Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang as-sā'ah", yakni tentang kiamat.

2- Kiamat wusta (pertengahan), yaitu kematian umat satu generasi.

3- Kiamat sugra (kecil), yaitu kematian seorang manusia. Siapa yang mati, maka kiamatnya telah terjadi karena ia telah memasuki alam akhirat.

1. Pengutusan Nabi ﷺ.

Nabi ﷺ bersabda, "(Jarak antara) aku diutus dan kiamat seperti dua jari ini." Beliau sambil melekatkan jari telunjuk dan jari tengah.[117]

2. Terbelahnya bulan.

Abdullah bin Mas'ūd meriwayatkan, "Saat kami bersama Rasulullah ﷺ di Mina, bulan terbelah menjadi dua bagian, salah satunya di belakang gunung dan yang lain di bawahnya, lalu Rasulullah ﷺ bersabda, 'Saksikanlah oleh kalian.'"[118]

3. Munculnya banyak fitnah. [117] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari (No. 6504), Kitāb ar-Riqāq, Bāb Qawli an-Nabiy ﷺ, "Bu'iṡtu Anā wa as-Sā'ah Kahātaini", dan Muslim (No. 2951), Kitāb al-Fitan, Bāb Qurbi as-Sā'ah.

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Bersegeralah untuk beramal saleh sebelum datangnya berbagai fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap, di mana pada pagi hari seseorang beriman namun di sore hari ia menjadi kafir, atau pada sore hari ia beriman namun di pagi hari ia menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan harta dunia."[119]

4. Berlomba-lomba meninggikan bangunan. [118] HR. Muslim (No. 2800), Kitāb Ṣifat al-Qiyāmah, Bāb Insyiqāq al-Qamar.

Dalam hadis Jibril yang panjang disebutkan: Jibril berkata, "Kabarkanlah kepadaku tentang hari kiamat." Nabi ﷺ menjawab, "Tidaklah yang ditanya itu lebih mengetahui daripada yang bertanya." Jibril berkata, "Maka kabarkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya." Beliau bersabda, "(Yaitu) seorang budak wanita melahirkan tuannya, terlihatnya para penggembala yang bertelanjang kaki, telanjang badan, dan miskin papa, saling bersaing membangun gedung tinggi..."[120]

5- Diangkatnya ilmu, banyaknya gempa bumi, dan maraknya pembunuhan. [119] HR. Muslim, Kitāb al-Īmān, Bāb al-Ḥaṡṡ 'alā al-Mubādarah bil-A'māl Qabla Ẓuhūr al-Fitan, (No. 118)

Nabi ﷺ bersabda, "Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali setelah hilangnya ilmu, banyak terjadi gempa, waktu seakan berjalan dengan cepat, timbul berbagai macam fitnah, dan banyak terjadi al-haraj, yaitu pembunuhan."[121]

Tanda-Tanda Kiamat Besar [120] HR. Muslim, Kitāb al-Īmān, Bāb Bayān al-Īmān wal-Islām wal-Iḥsān, (No. 8).

Tanda-tanda kiamat besar ada sepuluh yang disebutkan dalam hadis Hużaifah bin Asīd -raḍiyallāhu 'anhu-. Dia meriwayatkan, Nabi ﷺ menghampiri kami saat kami sedang berbincang-bincang. Lalu beliau bertanya, "Apa yang kalian bicarakan?" Kami menjawab, "Kami membicarakan tentang kiamat." Beliau bersabda, "Kiamat tidaklah terjadi hingga kalian melihat sepuluh tanda-tanda sebelumnya." Beliau menyebutkan, "Kabut, Dajjal, binatang besar, matahari terbit dari barat, turunnya Isa bin Maryam ﷺ, Yakjuj dan Makjuj, tiga peristiwa penenggelaman bumi: penenggelaman di timur, penenggelaman di barat, dan penenggelaman di Jazirah Arab, serta yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat perkumpulan mereka."[122]

Urutan Tanda-Tanda Kiamat Besar [121] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari (No. 85), Kitāb al-'Ilm, Bāb Man Ajāba al-Futyā bi Isyārah al-Yad war-Ra`s, dan Muslim (No. 157), Kitāb al-'Ilm, Bāb Raf' al-'Ilm wa Qabḍih.

Tanda-tanda besar yang pertanda perubahan kondisi umum di sebagian besar wilayah bumi:

1- Munculnya Dajjal [122] HR. Muslim (No. 2901), Kitāb al-Fitan, Bāb fī al-Āyāt al-Latī Takūnu Qabla as-Sā'ah.

2- Turunnya Isa

3- Munculnya Yakjuj dan Makjuj

4-6. Tiga kali khusuf (penenggelaman bumi)

7- Munculnya kabut asap

Tanda-tanda besar yang mengisyaratkan perubahan keadaan alam bagian atas (langit):

8- Terbitnya matahari dari barat

9- Munculnya hewan melata

10- Munculnya api yang menggiring manusia untuk berkumpul

1- Almasih Dajjal

Ia adalah masīḥ ad-ḍalālah (penyebar kesesatan) yang akan keluar di akhir zaman. Ia menggoda manusia dengan berbagai tanda dan keajaiban yang diberikan kepadanya, seperti menurunkan hujan, menghidupkan tanah dengan tumbuh-tumbuhan, dan hal-hal serupa lainnya.

Fitnah (godaan) Dajjal terbagi dua:

a- Dajjal yang sebenarnya (Dajjal akbar): Dajjal jenis ini, fitnahnya adalah fitnah yang paling besar.

b- Dajjal secara umum (yang bermakna pembangkang atau pendusta).

Dia adalah orang yang menyebarkan kebatilan yang menyelisihi syariat disertai dengan memunculkan hal-hal luar biasa dari dirinya.

Siapa yang membenarkan suatu perkara yang bertentangan dengan syariat karena adanya hal luar biasa itu, maka ia telah ditimpa fitnah sejenis ini. Hal ini banyak terjadi di setiap zaman dan tempat.

Ia dinamakan Almasih karena salah satu matanya buta. Dalam hadits disebutkan: "Sesungguhnya Dajjal matanya buta."

Apakah Ibnu Ṣayyād Dajjal Terbesar?

Namanya adalah Ṣāfiy. Ada yang berkata namanya: Abdullah bin Ṣayyād. Ia berasal dari kalangan Yahudi Madinah, dan dikatakan pula dari kalangan Ansar. Dia masih kecil ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah. Dikatakan bahwa ia masuk Islam. Dia adalah seorang pendusta, terkadang ia meramal, kadang benar dan kadang dusta. Lalu kabarnya pun tersebar di tengah masyarakat, dan tersiar kabar bahwa dialah Dajjal.

Yang benar—wallāhu a'lam—, ia bukanlah Dajjal akbar, melainkan termasuk golongan para dajal pada umumnya.

Sifat Dajjal:

- Seorang pemuda, kulitnya kemerahan, bertubuh pendek, rambutnya keriting, dahinya lebar, dan leher bidang (lebar).

- Mata kanannya terhapus, mata ini tidak menonjol dan tidak pula cekung, seolah-olah menyerupai buah anggur yang layu.

- Berjenis kelamin laki-laki dari keturunan Adam.

- Dia mandul, tidak beranak.

- Mata kirinya tertutup oleh selaput daging yang tebal.

- Tertulis di antara kedua matanya KA FA RA (ك ف ر) secara terpisah, atau KAFIR (كافر) secara bersambung, yang bisa dibaca oleh setiap muslim, baik yang bisa baca tulis maupun yang buta huruf.

Tempat Keluarnya, Kecepatan Perpindahannya di Muka Bumi, dan Fitnahnya

Dajjal keluar dari arah timur di Khurasan, dari wilayah Yahudi Asbahan. Lalu ia berjalan di muka bumi, hingga tidak ada satu negeri pun yang tidak ia masuki kecuali Makkah dan Madinah. Dia tidak dapat memasuki keduanya karena para malaikat menjaga keduanya.

Dajjal mengaku sebagai nabi, kemudian mengaku sebagai rabb (tuhan pengatur alam semesta) dan tuhan yang disembah. Ia menyeru manusia agar membenarkannya dan beriman bahwa ia adalah tuhan, hal itu disebabkan oleh berbagai tanda dan keajaiban yang diberikan kepadanya.

Fitnah Dajjal adalah fitnah paling besar sejak Allah menciptakan Adam hingga hari kiamat, hal itu karena Allah menciptakan bersamanya berbagai keajaiban besar yang memukau akal dan membingungkan pikiran.

Disebutkan dalam riwayat bahwa ia membawa surga dan neraka, yang kelihatan surga adalah nerakanya dan yang kelihatan neraka adalah surganya, dan bahwa bersamanya ada sungai-sungai air dan gunung-gunung roti. Ia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan maka hujan pun turun, dan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman maka bumi pun menumbuhkannya.

Diriwayatkan pula bahwa perbendaharaan-perbendaharaan bumi mengikutinya. Ia melintasi bumi dengan kecepatan dahsyat laksana hujan yang didorong angin, bahkan benda mati dan hewan mematuhinya. Ia membunuh seorang pemuda lalu menghidupkannya kembali, serta berbagai kejadian luar biasa lainnya yang disebutkan dalam hadis-hadis sahih.

Oleh karena itu, semua nabi telah memperingatkan kaum mereka dari fitnahnya, dan Rasul kita ﷺ adalah yang paling keras peringatannya.

Ia akan tinggal di bumi selama beberapa waktu. Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari an-Nawwās bin Sam'ān -raḍiyallāhu 'anhu- mengenai Dajjal, bahwa para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, berapa lama masa tinggalnya di bumi?" Beliau bersabda, "Empat puluh hari: satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti satu Jumat (pekan), dan hari-hari lainnya seperti hari-hari (biasa) kalian."[123]

Kebinasaan Dajjal adalah di tangan Isa bin Maryam -'alaihissalām-, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadis-hadis yang sahih.

Dajjal akan muncul di seluruh bumi selain Makkah dan Madinah. Pengikutnya akan menjadi banyak, fitnahnya menyebar luas, dan tidak ada yang selamat darinya kecuali sebagian kecil kaum mukminin.

Pada saat itu, turunlah Isa -'alaihissalām- di menara timur di Damaskus, sedangkan kaum mukminin berkumpul di sekelilingnya. Lalu beliau berjalan bersama mereka menuju Almasih Dajjal. Pada saat Isa turun, Dajjal sedang menuju ke arah Baitulmaqdis, lalu Isa menyusulnya di gerbang Ludd. [123] HR. Muslim (No. 2901), Kitāb al-Fitan, Bāb fī al-Āyāt al-Latī Takūnu Qabla as-Sā'ah.

Ketika Dajjal melihatnya, ia mencair sebagaimana garam mencair. Lalu Isa berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku memiliki satu pukulan untukmu yang tidak akan meleset."

Lalu Isa menyusulnya, kemudian membunuhnya dengan tombaknya, dan para pengikutnya pun kalah. Lalu orang-orang mukmin mengejar mereka dan membunuh mereka, sampai-sampai pohon dan batu berkata, "Wahai muslim, wahai hamba Allah! Ini seorang Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia," kecuali pohon garqad; karena ia adalah pohon Yahudi.

2- Turunnya Isa Putra Maryam

Ciri-ciri Isa -'alaihissalām-: perawakannya sedang (proporsional), tidak tinggi dan tidak pendek, kulitnya putih kemerah-merahan, rambutnya ikal, dadanya bidang, dan helai rambutnya terurai, seolah-olah baru keluar dari tempat pemandian. Rambut beliau yang panjangnya sebatas daun telinga telah disisir rapi dan lebatnya memenuhi bagian di antara kedua pundaknya.

Dapat disimpulkan dari nas-nas yang ada mengenai Isa -'alaihissalām- bahwa beliau pasti akan turun, dan bahwa nas-nas mengenai hal itu adalah mutawatir. Sebab itu, mendustakan turunnya beliau berarti mendustakan Rasulullah ﷺ.

Bahkan, itu adalah pendustaan terhadap Al-Qur`an yang menunjukkan turunnya Isa -'alaihissalām-.

Sifat turunnya beliau setelah keluarnya Dajjal dan tindakannya merusak di bumi. Allah mengutus Isa -'alaihissalām- dengan diturunkan ke bumi. Tempat beliau turun adalah di menara putih sebelah timur Damaskus, Syam. Beliau mengenakan dua helai kain yang diwantek dengan wars (tumbuhan penghasil pewarna alami) dan safron, sambil meletakkan kedua telapak tangannya di atas sayap dua malaikat. Jika beliau menundukkan kepala, maka (air) akan menetes, dan jika beliau mengangkatnya, maka berjatuhanlah butiran bening seperti mutiara. Tidaklah orang kafir mencium aroma napasnya melainkan ia akan mati, sedangkan napasnya berakhir sejauh jangkauan pandangannya.

Beliau turun kepada golongan yang mendapat pertolongan yang berperang di atas kebenaran dan mereka berkumpul untuk memerangi Dajjal. Beliau turun pada waktu salat Subuh hendak didirikan, dan salat di belakang komandan kelompok tersebut, setelah dikatakan kepadanya, "Mari, pimpinlah salat kami." Namun beliau berkata, "Tidak. Sesungguhnya sebagian kalian adalah menjadi pemimpin bagi lainnya," sebagai pemuliaan dari Allah untuk umat ini.

Sebagian ulama menyebutkan hikmah turunnya Isa ini, di antaranya adalah: - Sebagai bantahan terhadap kaum Yahudi.

- Turunnya Isa karena ajalnya telah dekat untuk dikubur di bumi.

- Nabi Isa -'alaihissalām- ingin menjadi umat Muhammad karena mendapati keutamaan umat Muhammad ﷺ di dalam Kitab Injil, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta'ala, "Sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya." [QS. Al-Fatḥ: 29]

- Beliau turun untuk membantah kaum Nasrani.

Isa -'alaihissalām- membunuh Dajjal, sehingga fitnah Dajjal berakhir di tangan beliau.

Isa -'alaihissalām- akan memutuskan hukum berdasarkan syariat Nabi Muhammad dan menjadi pengikut Muhammad ﷺ. Beliau tidak akan turun membawa agama yang baru, karena agama Islam adalah agama penutup.

Islam berlaku umum untuk seluruh makhluk, akan tetap ada hingga hari kiamat dan tidak akan dinasakh. Sebab itu, Isa -'alaihissalām- akan menjadi salah seorang hakim dari umat ini dan pembaru bagi ajaran Islam, karena tidak ada nabi setelah Muhammad ﷺ.

Apabila Isa turun, ia akan menghukum dengan adil, menghancurkan salib -yaitu lambang agama Nasrani yang telah diselewengkan-, membunuh babi, dan menghapuskan jizyah, sehingga ia tidak akan menerima dari orang-orang Yahudi, Nasrani, dan kaum kafir pada umumnya kecuali Islam.

3- Keluarnya Yakjuj dan Makjuj

Asal Yakjuj dan Makjuj adalah dari manusia, keturunan Adam dan Hawa. Mereka berasal dari keturunan Yāfiṡ, bapak bangsa Turk. Dia merupakan putra Nuh.

"Hingga apabila (tembok) Yakjuj dan Ma’juj dibukakan dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan (apabila) janji yang benar (hari berbangkit) telah dekat, maka tiba-tiba mata orang-orang yang kafir terbelalak. (Mereka berkata), 'Alangkah celakanya kami! Kami benar-benar lengah tentang ini, bahkan kami benar-benar orang yang zalim.'” [QS. Al-Anbiyā`: 96-97]

"Hingga ketika dia (Zulkarnain) sampai di antara dua gunung, dia mendapati di belakang keduanya suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan. Mereka berkata, 'Wahai Zulkarnain, sungguh, Yakjuj dan Ma’juj itu (makhluk yang) berbuat kerusakan di bumi, maka bolehkah kami membayarmu imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka?'” [QS. Al-Kahf: 93-94]

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Allah Ta'ala telah mengirim Zulkarnain, sang raja yang saleh, untuk membangun bendungan besar, untuk menjadi penghalang antara Yakjuj dan Makjuj yang berbuat kerusakan di muka bumi dan berbuat kerusakan di antara manusia. Namun, apabila waktu yang ditentukan telah tiba dan kiamat telah dekat, bendungan ini akan hancur. Lalu Yakjuj dan Makjuj akan keluar dengan kecepatan yang luar biasa dan dalam jumlah yang besar. Tidak ada seorang manusia pun yang mampu menghadapi mereka. Lalu mereka berbaur di tengah manusia dan berbuat kerusakan di muka bumi.

Ini menjadi tanda dekatnya peniupan sangkakala, kehancuran dunia, dan terjadinya kiamat.

Ciri-Ciri Mereka Adapun ciri-ciri mereka yang disebutkan dalam beberapa hadis adalah bahwa mereka menyerupai nenek moyang mereka dari kalangan Turk Mongol: bermata sipit, berhidung pesek, berambut pirang kemerah-merahan, berwajah lebar, dan wajah mereka seperti perisai yang dilapisi kulit, sebagaimana bentuk dan warna bangsa Turk. Riwayat-riwayat yang sahih menunjukkan bahwa mereka adalah kaum yang kuat, tidak ada seorang pun yang sanggup memerangi mereka.

Kerusakan Yang Mereka Timbulkan Apabila Yakjuj dan Makjuj keluar maka akan terjadi gangguan yang besar, fitnah yang dahsyat, dan keburukan yang merajalela di tangan mereka. Mereka adalah kelompok yang sangat banyak jumlahnya, hingga karena saking banyaknya, apabila rombongan pertama mereka melewati Danau Tiberias saat mereka keluar, mereka akan meminum seluruh air yang ada di dalamnya; dan ketika rombongan terakhir mereka lewat, mereka akan berkata, "Dahulu pernah ada air di danau ini."

Kebinasaan mereka terjadi setelah Isa membunuh Dajjal. Allah membinasakan Yakjuj dan Makjuj dengan keberkahan doa Isa -‘alaihissalām-, sebagaimana disebutkan dalam hadis an-Nawwas bin Sam'ān yang panjang. Di dalamnya disebutkan: "Lalu Nabi Isa dan para sahabatnya memohon kepada Allah, maka Allah mengirimkan burung seperti leher unta bukht _-yakni unta yang besar -. Lalu burung-burung itu membawa dan melemparkan mereka ke tempat yang Allah kehendaki.[124]

4- Penenggelaman Bumi di Wilayah Timur.

5- Penenggelaman Bumi di Wilayah Barat.

6- Penenggelaman Bumi di Jazirah Arab. [124] HR. Muslim (No. 2937), Kitāb al-Fitan, Bāb Żikrud-Dajjāl wa Ṣifātihi.

Dalil untuk tiga penenggelaman bumi ini adalah hadis Ḥużaifah bin Usaid -raḍiyallāhu 'anhu-. Dia meriwayatkan, Nabi ﷺ pernah menghampiri kami saat kami sedang membicarakan sesuatu. Beliau bertanya, "Apa yang kalian bicarakan?" Kami menjawab, "Kami membicarakan kiamat. Beliau bersabda, "Kiamat tidaklah terjadi hingga kalian melihat sepuluh tanda-tanda sebelumnya." Beliau menyebut: (..tiga penenggelaman bumi; penenggelaman di timur, penenggelaman di barat, dan penenggelaman di jazirah arab."[125]

7- Munculnya KabutAsap.

"Maka tunggulah (azab) pada hari ketika langit membawa kabut asap yang tampak jelas, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih." [QS. Ad-Dukhān: 10-11]

Abu Mālik al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Tuhan kalian telah memperingatkan kalian tentang tiga hal: kabut asap yang akan menimpa orang mukmin seperti pilek, dan dia menimpa orang kafir lalu ia membengkak hingga keluar dari setiap lubang telinganya..."[126] [125] Sumbernya telah disebutkan sebelumnya.

Para ulama memiliki dua pendapat mengenai maksud dari kabut asap ini:

- Pertama: Kabut ini adalah kesulitan dan kelaparan yang menimpa kaum Quraisy ketika Nabi ﷺ mendoakan keburukan atas mereka saat mereka tidak menyambut seruannya, sehingga mereka melihat di langit seperti wujud kabut asap.

Pendapat inilah yang dipegang oleh Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- dan diikuti oleh sejumlah ulama salaf. [126] Tafsīr aṭ-Ṭabariy (25/114) dan al-Mu'jam al-Kabīr (3/292).

- Kedua: Asap ini termasuk tanda-tanda yang dinantikan yang belum datang dan akan terjadi menjelang hari kiamat. Pendapat ini dianut oleh Ibnu 'Abbās, sebagian sahabat, dan para tabiin.

8- Matahari Terbit Dari Arah Barat.

Allah berfirman, "Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu (tanda-tanda kiamat) tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu." [QS. Al-An'ām: 158]

Hadis-hadis yang sahih menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan sebagian tanda-tanda yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah terbitnya matahari dari tempat terbenamnya. Ini adalah pendapat mayoritas ahli tafsir.

Dalam aṣ-Ṣaḥīḥain, Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Kiamat tidak akan terjadi hingga matahari terbit dari arah terbenamnya. Lantas jika manusia telah melihatnya, mereka akan beriman semua. Itulah hari ketika 'tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu.'" [127]

9- Munculnya Hewan Melata

Keluarnya hewan melata dari bumi di akhir zaman termasuk tanda-tanda kiamat besar yang ditetapkan berdasarkan Al-Qur`an dan Sunnah.

Allah mengeluarkannya dari bumi di akhir zaman saat manusia sudah rusak. Lalu ia berbicara kepada mereka tentang hal itu. Hal ini merupakan sesuatu yang luar biasa, bukti kebenaran bagi orang-orang beriman, dan hujah atas orang-orang yang durhaka. [127] HR. Bukhari (No. 6560), Kitāb ar-Riqāq, Bāb Ṭulū' asy-Syams min Magribihā.

Allah berfirman, "Apabila perkataan (ketentuan masa kehancuran alam) telah berlaku atas mereka, Kami keluarkan hewan melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami." [QS. An-Naml: 82]

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tiga hal yang jika ia keluar maka tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya: matahari terbit dari tempat terbenamnya, keluarnya Dajjal, dan keluarnya hewan melata bumi."[128]

Ia akan muncul di Makkah dari masjid yang paling agung. Dikatakan bahwa ia memiliki tiga kali kemunculan: pertama, ia muncul di sebagian daerah pedalaman, di kesempatan lain dia muncul sebagian perkampungan, kemudian ia muncul di Masjidilharam. Ada pendapat-pendapat lain yang mayoritasnya menyatakan bahwa kemunculannya adalah dari Makkah. Apabila hewan melata yang agung itu telah muncul, maka ia akan memberi tanda kepada orang mukmin dan orang kafir.

Adapun seorang mukmin, maka ia akan membuat wajahnya berseri hingga bersinar, dan itu menjadi tanda keimanannya. Adapun orang kafir, maka ia akan mencoreng hidungnya sebagai tanda kekafirannya.

10- Api yang menggiring manusia untuk berkumpul. [128] HR. Muslim (No. 158), Kitāb al-Īmān, Bāb az-Zamān allażī Lā Yuqbalu Fīhi al-Īmān.

Keluarnya api ini dari Yaman, dari dasar Aden dan keluar dari lautan di Hadramaut.

Ḥużaifah bin Asīd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "... yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat perkumpulan mereka."[129]

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Manusia dihimpun menjadi tiga kelompok: (1) dikumpulkan dalam keadaan berharap serta takut; (2) (mereka berkendaraan) dua orang di atas unta, tiga orang di atas unta, empat orang di atas unta, dan sepuluh orang di atas unta; (3) selebihnya digiring oleh api. Api itu selalu bersama mereka ketika mereka tidur siang, bermalam bersama mereka ketika mereka bermalam, berada di pagi hari bersama mereka ketika mereka di pagi hari, dan api itu berada di sore hari ketika mereka di sore hari."[130] Manusia lalu akan dikumpulkan ke Syam pada akhir zaman, yaitu tanah mahsyar (pengumpulan). Pengumpulan ini terjadi di dunia dan bukan pengumpulan manusia setelah dibangkitkan dari kubur.

Mereka akan dikumpulkan menjadi tiga kelompok:

- Pertama: Kelompok yang mendapat kemudahan, mendapat makanan dan pakaian, dan menunggang kendaraan. [129] Takhrij hadis ini sudah tercantum di hal. 181.

- Kedua: Kelompok yang terkadang berjalan kaki, dan di lain waktu bergantian menunggangi seekor unta. [130] HR. Bukhari (No. 6522), Kitāb ar-Riqāq, Bāb al-Ḥasyr.

- Ketiga: Kelompok yang akan dikumpulkan oleh api itu. Api mengepung mereka dari belakang dan menggiring mereka dari segala penjuru ke bumi tempat perkumpulan. Siapa saja yang tertinggal akan dilahap oleh api.

Manfaat Beriman Kepada Tanda-Tanda Hari Kiamat

- Iman kepada hari akhir (kebenaran, pembenaran, dan peringatan)

- Iman kepada hal gaib

- Beramal dengan syariat dan berperilaku baik

- Penguat Iman kepada Allah

- Bukti-bukti kenabian

- Penyaluran naluri fitrah dengan cara yang benar.

- Optimis

- Persiapan menghadapi hari perhitungan

5- Kebangkitan dan Penghimpunan[131]

Allah berfirman, "Lalu apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?" [QS. Al-Mu`minūn: 115] Allah Ta'ala juga berfirman, "Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?" [QS. Al-Qiyāmah: 36]

Kebangkitan merupakan konsekuensi dari keadilan dan kebijaksanaan Allah Ta'ala, yang ditegaskan oleh akal dan menenteramkan fitrah. Allah Ta'ala berfirman, "Orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), 'Tidak demikian, demi Tuhanku, kalian pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kalian kerjakan.' Yang demikian itu mudah bagi Allah." [QS. At-Tagābun: 7]

- Di antara dalil kebangkitan: [131] Lihat: Dar` Ta’āruḍ al-‘Aql wa an-Naql (1/30-35), (7/374-377).

(1) Keberadaan dan penyaksian langsung.

Tidak ada yang lebih menunjukkan kemungkinan sesuatu selain keberadaannya. Allah telah menyebutkan di dalam Kitab-Nya beberapa contoh tentang dihidupkannya orang-orang mati. Di antaranya:

Allah Ta'ala berfirman, "(Ingatlah) ketika kalian berkata, 'Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.' Lalu halilintar menyambar kalian, sedang kalian menyaksikannya. Kemudian Kami membangkitkan kalian setelah kalian mati, agar kalian bersyukur." [QS. Al-Baqarah: 55-56]

Allah Ta'ala juga berfirman, "Lalu Kami berfirman, 'Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi) itu!' Demikianlah Allah menghidupkan (orang) yang telah mati, dan Dia memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kalian memahami." [QS. Al-Baqarah: 73]

Allah berfirman, "Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena takut mati? Lalu Allah berfirman kepada mereka, 'Matilah kalian!' Kemudian Allah menghidupkan mereka." [QS. Al-Baqarah: 243] Allah berfirman, "Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata, 'Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?' Lalu Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya kembali." [QS. Al-Baqarah: 259]

Allah Ta'ala berfirman tentang Aṣḥābul-Kahfi: "Demikianlah Kami perlihatkan (keberadaan) mereka (kepada manusia), agar mereka mengetahui bahwa janji Allah itu benar dan bahwa (kedatangan) hari kiamat itu tidak ada keraguan padanya." [QS. Al-Kahfi: 21]

(2) I'tibar (penalaran), bukti, dan qiyas al-awla (qiyas prioritas)

1- Berdalil dengan penciptaan manusia yang pertama atas adanya penciptaan di akhirat, dan bahwa yang kedua lebih mudah bagi Allah Ta'ala.

2- Berdalil dengan pengetahuan Allah tentang rincian penciptaan pertama, bagian-bagiannya, materi-materinya, dan bentuknya.

3- Pembuktian melalui penciptaan tumbuhan, bahwa dikeluarkannya manusia dari kubur mereka adalah seperti dikeluarkannya tumbuhan dari bumi.

4. Berdalil dengan perkara yang lebih besar dan agung, yaitu penciptaan langit, bumi, dan semisalnya, atas perkara yang lebih mudah, yaitu membangkitkan manusia kembali.

Allah berfirman, "Dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya. Dia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?' Katakanlah (Muhammad), 'Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.' (Dialah) yang menjadikan api untuk kalian dari kayu yang hijau, maka seketika itu kalian nyalakan (api) dari kayu itu. Bukankah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi mampu menciptakan kembali yang serupa itu? Benar, dan Dia Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui." [QS. Yāsīn: 78-81]

Allah berfirman, "Wahai manusia, jika kalian meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kalian; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan. Kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kalian sampai kepada usia dewasa. Lalu di antara kalian ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kalian yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, bumi itu hidup lagi menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tumbuhan yang indah." [QS. Al-Ḥajj: 5]

"Sungguh, penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." [QS. Gāfir: 57]

- Tata cara kebangkitan setelah kematian.[132]

- Pendapat pertama: Mengumpulkan bagian-bagian yang terpisah hingga kembali ke bentuknya semula, kemudian Allah menjadikannya hidup kembali. Inilah pendapat yang masyhur (populer).

Tetapi, terdapat beberapa permasalahan dalam pendapat ini:

a- Apakah bagian-bagian tubuh yang telah terurai akan dikeluarkan dari jasad hewan-hewan yang memakannya dan dari jasad manusia lain apabila bagian-bagian itu berpindah kepada mereka melalui hewan yang mereka konsumsi? [132] Lihat: Majmū’ al-Fatāwā karya Ibnu Taimiyah (17/243-261), dan Dar’ at-Ta’āruḍ (4/135-136), (5/195-196).

b. Dalam bentuk apa ia dikembalikan, apakah sesuai dengan bentuk terakhirnya?

Pendapat kedua: Dari tulang ekornya. Manusia akan dibangkitkan kembali dalam penciptaan lain yang kekal dan abadi, dengan wujud seperti bapak mereka Adam, tinggi mereka masing-masing enam puluh hasta. Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak meludah, dan tidak membuang ingus. Jasadnya adalah jasad yang sama, tetapi tidak melalui proses penciptaannya untuk kedua kalinya sebagaimana yang dialami pada penciptaan pertamanya. Inilah pendapat yang sahih, yaitu diadakan kembali dari ketiadaan.

Kesimpu

a. Kebangkitan itu untuk jasad dan roh sekaligus.

b- Al-Ba'ṡ (kebangkitan) ialah mengeluarkan dan menciptakan manusia dari tanah yang menjadi wujudnya dengan cara mengubah hakikat tanah menjadi manusia.

c. Proses terbentuknya manusia dari tulang ekor,[133] hanya Allah yang mengetahui caranya. Allah menumbuhkannya dari bumi sebagaimana Dia menumbuhkan benih dengan air dari langit. Tulang ekor tersebut tetap menyimpan karakteristik pemiliknya.

6- Al-Ḥasyr (Pengumpulan Manusia) [134]

Kita beriman bahwa setelah para makhluk dibangkitkan dari kubur mereka, akan terjadi al-Ḥasyr, yaitu penggiringan mereka semua ke al-mauqif, yaitu tempat di mana mereka berdiri menunggu ketetapan dan keputusan Allah di antara mereka. Allah Ta'ala berfirman, "(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada (Allah) Yang Maha Pengasih bagaikan kafilah yang terhormat. Kami juga akan menggiring orang yang durhaka ke neraka Jahanam dalam keadaan dahaga." [QS. Maryam: 85-86] Allah Ta'ala juga berfirman, "(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi itu rata, dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia), dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka." [QS. Al-Kahfi: 47]

Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan bertelanjang kaki, bertelanjang badan, dan tidak berkhitan.[135] Allah berfirman, "Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi." [QS. Al-Anbiyā`: 104] [133] HR. Bukhari (No. 4814), Kitāb at-Tafsīr, Bāb Qawlihī, "Wa Nufikha fiṣ-Ṣuri fa Ṣ'iqa...", dan Muslim (No. 2955) dalam Sahih-nya, Kitāb al-Fitan, Bāb Mā Baina an-Nafkhatain.

Adapun keadaan manusia setelah dikumpulkan, disebutkan Allah dalam firman-Nya, "Tidakkah mereka itu mengira bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) pada hari (ketika) semua orang bangkit menghadap Tuhan alam semesta." [QS. Al-Muṭaffifīn: 4-6] Manusia berdiri menghadap Tuhan alam semesta hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai pertengahan kedua telinganya,[136] dan matahari didekatkan pada hari kiamat kepada para makhluk hingga jaraknya dari mereka sekadar satu mil. Manusia berkeringat sesuai amal mereka. Ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pinggang, dan ada yang benar-benar tenggelam oleh keringatnya -sembari Rasulullah ﷺ memberikan isyarat dengan tangan beliau ke mulutnya-."[137] [134] Lihat: Al-Īmān (Hal. 125-127).

Akan tetapi, ada orang yang akan mendapat naungan dari Allah di bawah naungan-Nya pada hari itu. Nabi ﷺ bersabda, "Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seseorang yang hatinya terikat dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah di atasnya, seseorang yang diajak berzina oleh perempuan terpandang nan cantik lalu dia mengatakan, 'Aku takut kepada Allah', seseorang yang memberi sedekah lalu dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian lalu air matanya mengucur."[138]

7- Al-Mīzān (Timbangan Amal) dan Nasyru ad-Dawāwīn (Pembagian Catatan Amal)[139] [135] HR. Bukhari (No. 6527)

Pertama: Timbangan Amal [136] Ibid. (No. 6531) [137] HR. Muslim (No. 2864)

Kita menetapkannya apa adanya, bahwa ia adalah mizan (timbangan) hakiki yang mempunyai dua daun, dan bahwa penimbangan itu akan ada yang lebih berat dan yang lebih ringan. [138] HR. Bukhari (No. 660) dan Muslim (No. 1031)

Apakah mizan itu satu atau beberapa? Semua itu mungkin, karena nas-nas terkadang datang dalam bentuk jamak dan terkadang dalam bentuk tunggal. Boleh jadi ia adalah satu timbangan untuk seluruh individu dan umat, atau boleh jadi timbangannya banyak sesuai dengan umat dan individu. Wallāhu a'lam. [139] Lihat: Minhājus-Salāmah fī Mīzānil-Qiyāmah karya Ibnu Nāṣirid-Dīn ad-Dimasyqiy, Syarḥ aṭ-Ṭaḥāwiyyah (417-420), dan al-Wāsiṭiyyah (147).

Yang ditimbang adalah amalan. Allah berfirman, "Siapa yang berat timbangannya (dalam kebaikan), maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Sebaliknya, siapa yang ringan timbangannya (dalam kebaikan), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam." [QS. Al-Mu`minūn: 102-103]

Allah Ta'ala juga berfirman, "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat. Maka tidak seorang pun dirugikan walaupun sedikit. Sekalipun (amalnya) hanya seberat biji sawi, pasti Kami akan mendatangkannya (pahala). Cukuplah Kami yang membuat perhitungan." [QS. Al-Anbiyā`: 47]

Kadang yang ditimbang adalah lembaran catatan amal, sebagaimana dalam hadis al-Biṭāqah.[140]

Terkadang yang ditimbang adalah orang yang beramal. Ini berdasarkan sabda beliau ﷺ tentang kedua betis Ibnu Mas'ūd: "Keduanya lebih berat timbangannya daripada gunung Uhud."[141]

Kedua: Pembagian Catatan Amal

Yang dimaksud dengannya adalah penyebaran dan pembagian buku catatan amal yang telah ditulis untuk manusia dan penerimaannya akan sesuai dengan hasilnya. Orang beriman menerimanya dengan tangan kanannya dalam keadaan gembira dan senang, serta mengangkatnya sambil berbangga dengannya. Adapun orang kafir, ia menerimanya dengan tangan kirinya atau dari arah belakang punggungnya dalam keadaan sedih dan murung, sambil menyerukan kecelakaan dan kebinasaan. Allah berfirman, "Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang kitabnya diberikan dari arah belakangnya, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku!' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." [QS. Al-Insyiqāq: 7-12] [140] HR. Tirmizi (No. 2639) dan Ibnu Majah (No. 4300).

Allah Ta'ala juga berfirman, "Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, 'Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku.'" [QS. Al-Ḥāqqah: 25] [141] HR. Ahmad dalam Musnadnya (1/421).

8- Pemaparan dan Perhitungan Amal [142]

Al-Ḥisāb (perhitungan amal) ialah tindakan Allah menghisab hamba-hamba-Nya terkait amalan-amalan mereka.

Tata caranya berbeda dari satu orang ke orang lainnya. Di antara mereka ada yang hisabnya berupa pemaparan ('arḍ), yaitu hisab yang mudah, dan ini berlaku bagi orang mukmin. Allah menyendiri bersamanya dan membuatnya mengakui dosa-dosanya, kemudian berfirman kepadanya, "Aku telah menutupinya untukmu di dunia dan Aku mengampuninya untukmu pada hari ini."[143] Ada pula yang dihisab secara munāqasyah (detail), dan inilah orang yang akan diazab dari kalangan pelaku dosa besar.[144]

Adapun orang kafir, maka ia akan dikukuhkan atas kekufuran dan kesyirikannya serta dibiarkan dalam kondisi itu, kemudian ia akan diberi balasan atasnya [142] Lihat: Al-Īmān, Muhammad Na'im Yasin (Hal. 128-133).

Di antara manusia ada yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Mereka adalah orang-orang yang sifatnya disebutkan dalam hadis bahwa mereka: "tidak meminta diruqyah, tidak berobat dengan kay (besi panas), tidak melakukan tatayyur (praktik sial), serta hanya kepada Tuhan mereka bertawakal."[145]

Bisa jadi hisab amalan dilakukan sebelum penimbangannya. Jika demikian, maka fungsi hisab untuk perhitungan amalan dan penetapannya, sedangkan fungsi mizan (timbangan amal) untuk menampakkan kadar amalan-amalan tersebut. Wallāhu a'lam. [143] HR. Bukhari (No. 2441), Kitāb al-Maẓālim, Bāb Qaulihi Ta'ālā: Alā La'natullāhi 'alā aẓ-Ẓālimīn; dan Muslim (No. 2768), Kitāb at-Taubah, Bāb Qabūlu Taubatil-Qātil wa In Kaṡura Qatluhu. [144] HR. Bukhari (No. 6536), Kitāb ar-Riqāq, Bab: Man Nūqisya al-Ḥisāb 'Użżib; dan Muslim (no. 2876), Kitāb al-Jannah, Bab: Iṡbāt al-Ḥisāb.

9- Telaga

Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak." [QS. Al-Kauṡar: 1] [145] HR. Bukhari (No. 5752) dan Muslim (No. 374)

Nabi ﷺ bersabda, "Telagaku sejauh perjalanan sebulan, airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih harum daripada misik, dan gelas-gelasnya sebanyak bintang di langit. Siapa yang minum darinya tidak akan haus selamanya." (Muttafaq 'alaih). Dalam riwayat Muslim: "Ia lebih manis daripada madu." Dalam riwayat lain: "Lebarnya sama seperti panjangnya."[146]

10- Sirat

Aṣ-Ṣirāṭ adalah jembatan yang dibentangkan di atas Jahanam, tempat manusia melintasinya setelah mereka dikumpulkan dan dihisab. Allah berfirman, "Tidak ada seorang pun di antara kalian yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah ketentuan yang sudah ditetapkan." [QS. Maryam: 71]

Nabi ﷺ bersabda, "Lalu dibentangkanlah jembatan Jahanam, maka aku adalah orang pertama yang melewatinya. Doa para rasul pada hari itu adalah, 'Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.' Di atasnya terdapat besi-besi pengait seperti duri as-Sa'dān (tumbuhan padang pasir berduri). Tidakkah kalian pernah melihat duri as-Sa'dān?" Mereka (para sahabat) menjawab, "Benar, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Sesungguhnya ia seperti duri as-Sa'dān, hanya saja tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah." [146] HR. Bukhari (No. 6579), Kitāb ar-Riqāb, Bāb fī al-Ḥauḍ; dan Muslim (No. 2292), Kitāb al-Faḍā`il, Bāb Iṡbāt Ḥauḍi Nabiyyinā. Tambahan di atas dari riwayat Muslim (No. 2300 dan 2301).

Sifat Aṣ-Ṣirāṭ: Dia sangat tajam dan halus. Abu Sa'īd berkata, "Telah sampai kepadaku bahwa jembatan ini lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang." Ia juga licin. Dalam hadis Abu Sa'īd juga disebutkan bahwa jembatan ini licin dan menggelincirkan.[147]

Di atasnya terdapat pengait-pengait, cangkuk-cangkuk, dan duri-duri yang besar yang akan menyambar siapa saja yang diperintahkan untuk disambar: "Di dalamnya ada cangkuk-cangkuk, pengait-pengait, dan duri-duri...."[148] Amanah dan rahim berdiri di kedua sisinya: "Lalu diutuslah amanah dan rahim. Lalu keduanya berdiri di kedua sisi sirat, di sebelah kanan dan kiri."[149]

Ada orang-orang yang binasa ketika baru menyeberanginya: di antara mereka ada yang terjungkal sejak langkah pertama; di antara mereka ada yang berhasil maju, lalu dicabik-cabik oleh pengait-pengait sirat sehingga kulitnya terkelupas dari dagingnya; di antara mereka ada pula para pelaku dosa besar dari kalangan ahli tauhid, tetapi mereka tidak kekal di dalam neraka; dan di antara mereka ada yang terluka, kemudian selamat: "ia merangkak dengan wajah, tangan, dan kakinya; diseret pada satu tangan dan digantung pada tangan lainnya; diseret pada satu kaki dan digantung pada kaki lainnya; sementara api menyambar sisi-sisi tubuhnya hingga akhirnya ia berhasil selamat."[150]

11- Al-Qanṭarah [147] HR. Bukhari (No. 6573), Kitāb ar-Riqāq, Bāb aṣ-Ṣirāṭ Jisr Jahannam.

Ia adalah suatu tempat di ujung sirat, di antara surga dan neraka. [148] HR. Muslim (No. 183), Kitāb al-Īmān, Bāb Ma'rifati Ṭarīq ar-Ru`yah. [149] HR. Muslim (No. 195), Kitāb al-Īmān, Bāb Adnā Ahlil-Jannati Manzilatan.

Abu Sa'īd al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dalam Sahih Bukhari: "Orang-orang mukmin selamat dari neraka, lalu dikisaslah sebagian mereka dari sebagian yang lain terkait kezaliman yang terjadi di antara mereka di dunia, sehingga jika mereka menjadi bersih dan suci, mereka diizinkan masuk surga. Demi (Allah) yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh seseorang di antara mereka lebih mengetahui rumahnya di surga daripada rumahnya di dunia."[151] [150] HR. Bukhari (No. 6571), Kitāb ar-Riqāq, Bāb Ṣifatul-Jannah wan-Nār; dan Muslim (No. 182), Kitāb al-Īmān, Bāb Ākhir Ahl an-Nār Khurūjan.

Orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab tidak akan berhenti di tempat itu. Demikian pula orang yang telah jatuh ke dalam neraka Jahanam. Yang berhenti di sana hanyalah orang yang selamat dari kejatuhan, tetapi ia memiliki kezaliman atau kedengkian terhadap sesama orang-orang mukmin. Lalu jiwa-jiwa mereka pun disucikan dan mereka saling berdamai, kemudian mereka masuk surga. Allah berfirman, "Lalu Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka, mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan." [QS. Al-Ḥijr: 47]

Menurut pendapat yang lebih kuat: Ahlul-A'rāf berada di al-Qanṭarah itu.

12. Syafaat [151] Sumbernya telah disebutkan pada halaman sebelumnya.

(1) Definisi Syafaat:

Secara bahasa: menjadikan yang ganjil menjadi genap, berasal dari kata syafa'a yasfa'u, yaitu menjadikan sesuatu yang satu menjadi dua, yang tiga menjadi empat, dan seterusnya.

Secara istilah: menjadi perantara bagi orang lain untuk mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya. Pemberi syafaat menjadi penggenap bagi si peminta setelah sebelumnya ia ganjil.

2. Syafaat dalam Al-Qur`an ada dua macam:

a. Syafaat yang dinafikan.

Ini seperti firman Allah Ta'ala, "Takutlah kalian pada hari (ketika) tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun, sedangkan syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima dan mereka tidak akan ditolong." [QS. Al-Baqarah: 48] Juga firman-Nya: "Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Orang-orang kafir itulah orang yang zalim." [QS. Al-Baqarah: 254] Juga firman-Nya: "Maka (sekarang) kita tidak mempunyai seorang pun pemberi syafaat (penolong)." [QS. Asy-Syu'arā`: 100] Juga firman-Nya: "Berilah mereka peringatan tentang hari yang semakin dekat (hari kiamat), yaitu ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan karena menahan kesedihan. Tidak ada seorang pun teman setia bagi orang zalim dan tidak ada baginya seorang pemberi syafaat yang diterima (syafaatnya)." [QS. Gāfir: 18]

b. Syafaat yang ditetapkan.

Ini seperti firman Allah Ta'ala, "Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya?" [QS. Al-Baqarah: 255] Juga firman-Nya: "Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin-Nya." [QS. Yūnus: 3] Juga firman-Nya: "Dia (Allah) mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (para malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai (Allah), dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya." [QS. Al-Anbiyā`: 28] Juga firman-Nya: "Betapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali apabila Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridai." [QS. An-Najm: 26]

Syafaat yang dinafikan adalah:

a- Syafaat yang mengandung kesyirikan, yaitu yang diminta kepada selain Allah, karena syafaat adalah hak murni milik Allah: "Katakanlah, 'Syafaat itu hanya milik Allah semuanya.'" [QS. Az-Zumar: 44]

b- Syafaat yang diperuntukkan bagi para penganut kesyirikan dan kekufuran, dan dikecualikan dari itu adalah syafaat Nabi ﷺ untuk pamannya, Abu Thalib, karena syafaat tersebut khusus untuk beliau.

Adapun syafaat yang ditetapkan adalah

syafaat yang diminta dari Allah. Ini harus memenuhi syarat-syarat berikut:

a. Adanya izin Allah bagi pemberi syafaat.

b. Rida Allah kepada orang yang memberi syafaat dan yang diberi syafaat. Allah tidak akan memberikan izin kecuali bagi orang-orang yang bertauhid dan tidak rida kecuali kepada mereka.

3. Jenis-jenis syafaat:

A. Syafaat khusus untuk Nabi ﷺ, yaitu:

- Syafaat al-'Uẓmā (terbesar) dari beliau untuk seluruh makhluk di padang Mahsyar agar urusan mereka diputuskan. Syaratnya adalah: adanya izin dari Allah ﷻ.[152]

- Syafaat beliau bagi para penghuni surga untuk masuk ke dalamnya.[153]

- Syafaat beliau untuk meringankan siksaan dari paman beliau, Abu Thalib, secara khusus.[154]

B. Syafaat umum dari beliau ﷺ dan dari selain beliau dari kalangan para nabi, orang-orang yang jujur, dan orang-orang yang saleh, yaitu: [152] HR. Bukhari (No. 6565), Kitāb ar-Riqāq, Bāb Ṣifatul-Jannah wan-Nār; dan Muslim (No. 192), Kitāb al-Īmān, Bāb Adnā Ahlil-Jannah Manzilatan.

- Syafaat bagi orang yang berhak masuk neraka dari kalangan ahli tauhid agar tidak masuk ke dalamnya. [153] HR. Bukhari (No. 7509), Kitāb at-Tauḥīd, Bāb Kalām ar-Rabb ﷻ Yaumal-Qiyāmah Ma'al-Anbiyā`.

- Syafaat bagi orang yang telah masuk ke dalam neraka dari kalangan orang-orang yang bertauhid supaya ia keluar darinya.[155] [154] HR. Bukhari (No. 3885), Kitāb Manāqib al-Anṣār, Bāb Qiṣṣah Abī Ṭālib; dan Muslim (No. 210), Kitāb al-Īmān, Bāb Syafā'atin-Nabiyyi li Abī Ṭālib.

- Syafaat dalam rangka pengangkatan derajat kaum mukminin.[156]

4. Hikmah dari adanya syafaat:

- Sebagai pemuliaan terhadap pemberi syafaat dan pemberian manfaat bagi penerima syafaat. [155] Lihat Sahih Muslim (No. 199), Kitāb al-Īmān, Bāb Ikhtibā’ an-Nabī Da’watasy-Syafā’ah li Ummatihī.

Hal ini berbeda dengan syafaat di sisi raja-raja dunia, [156] HR. Muslim (No. 920) dalam Kitāb al-Janā`iz, Bāb fī Igmāḍil-Mayyit.

yang terjadi karena keterbatasan ilmu, kurangnya kemampuan, atau keterbatasan kekuasaan mereka, sehingga mereka memerlukan bantuan para pemberi syafaat. Adapun Allah Ta'ala, maka Dia sempurna dalam ilmu, kekuasaan, dan otoritas-Nya, sehingga Dia tidak membutuhkan seorang pun untuk memberi syafaat di sisi-Nya. Oleh karena itu, syafaat di sisi-Nya tidak akan terjadi kecuali dengan izin-Nya dan untuk orang yang diridai-Nya.

(5) Cara untuk meraih syafaat pada hari kiamat:

- Pertama: Dengan memohonnya kepada Allah. Anda hendaknya berdoa kepada Allah dan mengucapkan: "Allāhumma syaffi' fiyya nabiyyaka, allāhumma-j'alhu syafī'an lī yaumal-qiyāmah" Artinya: "Ya Allah, berilah aku syafaat melalui Nabi-Mu. Ya Allah, jadikanlah beliau pemberi syafaat untukku pada hari kiamat."

- Kedua: Dengan menempuh sebab-sebab syar'i untuk meraihnya, yaitu:

a. Tauhid yang murni.

b. Banyak berselawat kepada Nabi ﷺ, khususnya setelah azan[157].

c. Meminta al-wasīlah (derajat tertinggi) untuk Nabi ﷺ setelah azan.[158]

Tawasul kepada Allah di dunia terbagi menjadi dua bagian:

a. Tawasul dengan perantara yang benar, seperti bertawasul kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta amal saleh yang telah dilakukannya, atau dengan menyebutkan keadaannya yang fakir dan membutuhkan, juga dengan doa seorang hamba saleh yang masih hidup. [157] Lihat riwayat Muslim (No. 384) dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitāb aṣ-Ṣalāh, Bāb Istiḥbāb al-Qawl Miṡla Qawlil-Mu`ażżin.

b- Tawasul dengan perantara yang tidak benar, seperti bertawasul dengan berdoa atau meminta kepada orang-orang mati, dan ini adalah syirik akbar; atau lewat kedudukan Nabi ﷺ atau kedudukan orang-orang yang saleh, atau dengan amal saleh orang lain, maka ini adalah tawasul yang bidah. [158] Idem.

13- Surga dan Neraka

Kita akhiri pembahasan tentang rukun ini dengan pembahasan tentang surga dan neraka.

Allah berfirman tentang surga, "Tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan." [QS. As-Sajdah: 17]

Allah berfirman tentang neraka, "Tahukah engkau apakah (neraka) Ḥuṭamah itu? (Ialah) api (azab) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya ia (api itu) ditutup rapat atas (diri) mereka." [QS. Al-Humazah: 5-8]

Surga dan neraka telah diciptakan dan telah ada sekarang. Keduanya tidak akan fana dan tidak akan binasa selama-lamanya.

Allah ﷻ berfirman, "Bersegeralah kalian untuk mencari ampunan dari Tuhan kalian dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa." [QS. Āli 'Imrān: 133] Allah Ta'ala juga berfirman, "Peliharalah diri kalian dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir." [QS. Āli 'Imrān: 131]

Allah Ta'ala juga berfirman, "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman." [QS. An-Nisā`: 57]

Allah Ta'ala juga berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah tidak akan mengampuni mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan kepada mereka jalan (yang lurus), kecuali jalan ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, hal itu (sangat) mudah bagi Allah." [QS. An-Nisā`: 168-169]

Neraka

Pintu Neraka Ada Tujuh "Sesungguhnya Jahanam itu benar-benar (tempat) yang telah dijanjikan untuk mereka (pengikut setan) semuanya. Ia mempunyai tujuh pintu. Setiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan tertentu dari mereka." [QS. Al-Ḥijr: 43-44]

Ketika orang-orang kafir mendatanginya, pintu-pintu itu dibukakan bagi mereka.

Apabila mereka telah memasukinya, maka neraka itu ditutup atas mereka. "Orang-orang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berombongan. Hingga apabila mereka sampai kepadanya, pintu-pintunya dibuka dan penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, 'Bukankah telah datang kepada kalian rasul-rasul dari kalangan kalian yang membacakan kalian ayat-ayat Tuhan kalian dan memperingatkan kepada kalian akan pertemuan (dengan) hari kalian ini?' Mereka menjawab, 'Benar". Tetapi ketetapan azab pasti berlaku terhadap orang-orang kafir. Dikatakan (kepada mereka), 'Masukilah pintu-pintu neraka Jahanam itu, (kalian) kekal di dalamnya.' Sungguh, itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang menyombongkan diri." [QS. Az-Zumar: 71-72]

"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Ḥuṭamah. Tahukah engkau apakah (neraka) Ḥuṭamah itu? (Ialah) api (azab) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya ia (neraka itu) ditutup rapat atas (diri) mereka, (sedangkan mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang." [QS. Al-Humazah: 1-9]

Luasnya Neraka dan Kedalaman Dasarnya "(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahanam, 'Apakah kamu sudah penuh?' Ia menjawab, 'Masih adakah tambahan?'" [QS. Qāf: 30]

Anas bin Mālik meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Neraka Jahanam tiada henti diisi lalu ia berkata, 'Masihkah ada tambahan?' Hingga Tuhan pemilik kemuliaan meletakkan kaki-Nya di dalamnya sehingga sebagiannya saling bertumpukan (bertautan) dan ia berkata, "Cukup, cukup, demi keperkasaan-Mu dan kemuliaan-Mu.' Surga senantiasa memiliki kelebihan tempat hingga Allah ﷻ menciptakan makhluk baru untuknya, lalu menempatkan mereka di kelebihan surga itu." [HR. Muslim]

Abu Hurairah meriwayatkan: Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba beliau mendengar suara sebuah benda jatuh, lalu Nabi ﷺ bersabda, "Tahukah kalian, apa ini?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun. Ia jatuh ke dalam neraka sekarang hingga berakhir di dasarnya." [HR. Muslim]

Neraka

Bahan bakar neraka adalah manusia dan batu. "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." [QS. At-Taḥrīm: 6]

"Jika kalian tidak mampu membuatnya dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kalian akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir." [QS. Al-Baqarah: 166]

Bunga apinya seperti unta atau istana. "Pergilah kalian mendapatkan naungan (asap api neraka) yang mempunyai tiga cabang, yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka. Sesungguhnya (neraka) itu menyemburkan bunga api laksana istana, seakan-akan iring-iringan unta yang kuning. Celakalah pada hari itu bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). [QS. Al-Mursalāt: 30-34]

Anginnya adalah udara yang beracun.

Airnya adalah nanah yang panas.

Naungannya adalah asap yang hitam.

"Juga ada golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. (Mereka) dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih. Juga naungan asap yang hitam, tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewahan." [QS. Al-Wāqi'ah: 41-45]

Makanannya: pohon yang berduri dan zaqqūm. "Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar." [QS. Al-Gāsyiyah: 6-7]

"Apakah (makanan surga) itu hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqūm? Sesungguhnya Kami menjadikannya (pohon zaqqūm) itu sebagai azab bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya itu adalah pohon yang keluar dari dasar neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala-kepala setan. Sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari (buah pohon) itu dan mereka memenuhi perut mereka dengan buahnya (zaqqūm). Kemudian, sesungguhnya (setelah makan buah zaqqūm) mereka mendapat minuman yang dicampur dengan air yang sangat panas." [QS. Aṣ-Ṣāffāt: 62-67]

Minumannya: air panas yang mendidih dan nanah.

"Mereka diberi minuman dengan air yang mendidih, sehingga usus mereka terpotong-potong." [QS. Muhammad: 15]

"Inilah (azab neraka), maka biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin." [QS. Ṣād: 57]

"Di hadapannya ada neraka Jahanam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah." [QS. Ibrahim: 16]

"Jika mereka meminta pertolongan (untuk minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." [QS. Al-Kahf: 29]

Makanannya: pohon yang berduri dan zaqqum: "Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar." [QS. Al-Gāsyiyah: 6-7]

"Apakah (makanan surga) itu hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqūm? Sesungguhnya Kami menjadikan (pohon zaqqūm) itu sebagai azab bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya itu adalah pohon yang keluar dari dasar neraka Jahim, mayangnya seperti kepala-kepala setan. Sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian darinya (buah pohon itu) dan mereka memenuhi perut mereka dengan buahnya (zaqqūm). Kemudian sesungguhnya (setelah makan buah zaqqūm) mereka mendapat minuman yang dicampur dengan air yang sangat panas." [QS. Aṣ-Ṣāffāt: 62-67]

Minumannya: al-ḥamīm, al-gassāq, aṣ-ṣadīd, dan al-muhl.

Al-Ḥamīm: air panas yang panasnya telah mencapai puncak.

Al-Gassāq: air yang mengalir dari nanah dan darah kotor.

Aṣ-Ṣadīd: cairan yang mengalir dari daging penduduk neraka.

Al-Muhl: seperti endapan minyak.

"Mereka diberi minuman dengan air yang mendidih, sehingga usus mereka terpotong-potong." [QS. Muhammad: 15]

"Inilah (azab neraka), maka biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air (nanah) yang sangat dingin." [QS. Ṣād: 57]

"Di hadapannya ada neraka Jahanam dan dia akan diberi minuman dari air nanah." [QS. Ibrahim: 16]

"Jika mereka meminta pertolongan (untuk minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." [QS. Al-Kahf: 29]

Pakaiannya: baju dari api dan celana panjang dari ter (cairan hitam/aspal).

"Bagi orang-orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api (neraka) untuk mereka. Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang mendidih." [QS. Al-Hajj: 19]

"Pada hari itu engkau akan melihat orang yang berdosa bersama-sama diikat dengan belenggu. Pakaian mereka dari cairan aspal dan wajah mereka ditutup oleh api neraka." [QS. Ibrahim: 49-50]

Pembakaran kulit penghuni neraka "Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [QS. An-Nisā`: 56]

Aṣ-Ṣihr (Penghancurleburan) "Inilah dua golongan (golongan mukmin dan kafir) yang bertengkar, mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka. Orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api (neraka) untuk mereka. Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang mendidih. Dengan (air mendidih) itu, akan dihancurluluhkan apa yang ada dalam perut dan kulit mereka. Juga (azab) untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar darinya (neraka) karena tersiksa, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), Rasakanlah azab yang membakar ini!'" [QS. Al-Hajj: 19-22]

Pembakaran wajah penghuni neraka "Siapa yang ringan timbangannya (dalam kebaikan), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam. Wajah mereka dibakar api neraka dan mereka di dalamnya dalam keadaan muram dengan bibir yang cacat." [QS. Al-Mu`minūn: 103-104]

Pembolak-balikan wajah penghuni neraka "Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka). Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong. Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, 'Aduhai kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat pula kepada Rasul.'” [QS. Al-Aḥzāb: 64-66]

Penyeretan penghuni neraka "Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka (di akhirat). Pada hari mereka diseret ke neraka di atas wajah mereka. (Dikatakan kepada mereka), 'Rasakanlah sentuhan api neraka.'" [QS. Al-Qamar: 47-48]

Kesedihan dan penyesalan penduduk neraka "Kalau setiap orang yang zalim itu mempunyai segala yang ada di bumi, tentu dia menebus dirinya dengan itu. Mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Kemudian diberi keputusan di antara mereka dengan adil dan mereka tidak dizalimi." [QS. Yunus: 54]

Penghuni neraka melakukan segala sesuatu demi keselamatan "Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang gemuruh karena marahnya. Lalu apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka dengan dibelenggu, mereka di sana berteriak mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka), 'Janganlah kalian mengharapkan pada hari ini satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang berulang-ulang.'” [QS. Al-Furqān: 13-14]

Penghuni neraka berdoa meminta kebinasaan dan kehancuran "Siapa yang ringan timbangannya (dalam kebaikan), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam. Wajah mereka dibakar api neraka dan mereka di neraka dalam keadaan muram dengan bibir yang cacat." [QS. Al-Mu`minūn: 103-104]

Erangan Penghuni Neraka "Orang-orang yang kafir itu, bagi mereka neraka Jahanam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. Mereka berteriak di dalam neraka itu, 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu.' (Dikatakan kepada mereka), “Bukankah Kami telah memanjangkan umur kalian untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepada kalian seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.” [QS. Fāṭir: 36-37]

Meminta Kembali ke Dunia "(Alangkah ngerinya) jika kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepala mereka di hadapan Tuhan mereka (sembari berkata), 'Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.'" [QS. As-Sajdah: 12]

"Mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami dan kami adalah orang-orang yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami darinya (agar kembali ke dunia), jika kami masih juga kembali (kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.' Dia berfirman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya dan janganlah kalian berbicara dengan-Ku.'” [QS. Al-Mu`minūn: 107-108]

Surga

Pintu-Pintu Surga "Lalu orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka diantar ke dalam surga secara berombongan. Hingga apabila mereka sampai kepadanya dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, 'Kesejahteraan atas kalian, berbahagialah kalian! Lalu masuklah kalian dalam keadaan kekal di dalamnya.' Mereka pun berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati surga di mana saja yang kami kehendaki.' Sungguh, ia sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal." [QS. Az-Zumar: 73-74]

Pintunya ada delapan: Pintu Salat, Jihad, Puasa, dan Sedekah.

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang menginfakkan sepasang hartanya di jalan Allah, maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, 'Wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan.' Siapa yang termasuk ahli salat, ia akan dipanggil dari pintu salat; siapa yang termasuk ahli jihad, ia akan dipanggil dari pintu jihad; siapa yang termasuk ahli puasa, ia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyān; dan siapa yang termasuk ahli sedekah, ia akan dipanggil dari pintu sedekah." Lalu Abu Bakar berkata, "Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah, tidak ada kerugian bagi orang yang dipanggil dari salah satu pintu tersebut. Namun, adakah seseorang yang akan dipanggil dari semua pintu itu?" Beliau menjawab, "Ya, dan aku berharap engkau termasuk dari mereka." [HR. Bukhari]

Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Di surga ada delapan pintu, di antaranya ada yang dinamakan pintu ar-Rayyān yang tidak akan dimasuki kecuali oleh orang-orang yang berpuasa." [HR. Bukhari]

Di dalamnya tidak ada kematian, muda yang abadi, tidak ada penyakit, tidak ada kebosanan, dan pakaian tidak pernah usang.

Abu Sa'īd al-Khudriy dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Seorang penyeru berseru, 'Sesungguhnya kalian tetap akan sehat dan tidak sakit selama-lamanya. Sesungguhnya kalian tetap akan hidup dan tidak mati selama-lamanya. Sesungguhnya kalian tetap akan muda dan tidak menjadi tua untuk selama-lamanya. Sesungguhnya kalian akan terus bersenang-senang dan tidak sengsara selama-lamanya." [HR. Muslim]

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Siapa saja yang masuk surga, ia bersenang-senang dan tidak bersedih, pakaiannya tidak usang, dan kemudaannya tidak lenyap." [HR. Muslim]

Istana-Istana dan Sungai-Sungai Surga "Akan tetapi, orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka, mereka mendapat kamar-kamar (di surga), di atasnya terdapat pula kamar-kamar yang dibangun (bertingkat-tingkat), yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Itulah) janji Allah. Allah tidak akan memungkiri janji." [QS. Az-Zumar: 20]

"Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa adalah: di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai khamar (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai madu yang murni. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka. Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih, sehingga ususnya terpotong-potong?" [QS. Muhammad: 15]

Makanan Surga "Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam berbagai kesibukan. Mereka dan pasangan-pasangan mereka berada dalam di yang teduh sembari bersandar di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa saja yang mereka inginkan. Salām (selamat), sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang." [QS. Yāsīn: 55-58]

Buah-Buahan dan Daging "Buah-buahan apa pun yang mereka pilih dan daging burung apa pun yang mereka inginkan." [QS. Al-Wāqi'ah: 21]

Minuman Surga "Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih dilak. Laknya dari kasturi. Untuk yang demikian itulah, hendaknya orang berlomba-lomba. Campurannya dari tasnīm, (yaitu) mata air yang darinya orang-orang yang didekatkan (kepada Allah) minum." [QS. Al-Muṭaffifīn: 22-28]

Pasangan Mereka Bidadari Surga "Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). Mereka itu memperoleh rezeki yang sudah ditentukan, (yaitu) buah-buahan. Juga mereka orang yang dimuliakan di dalam surga yang penuh kenikmatan. Mereka berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Kepada mereka diedarkan gelas (khamar) dari mata air (surga). (Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada di dalamnya efek khamar dan mereka tidak mabuk karenanya. Di sisi mereka ada (bidadari-bidadari) yang bermata indah dan membatasi pandangannya, seakan-akan mereka adalah telur yang tesimpan dengan baik." [QS. Aṣ-Ṣāffāt: 40-49]

"Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, 'Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.' Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Di sana pula mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci dan mereka kekal di dalamnya." [QS. Al-Baqarah: 25]

Melihat Wajah Allah

Ṣuhaib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, 'Apakah kalian menginginkan sesuatu untuk Aku tambahkan bagi kalian?' Lantas mereka menjawab, 'Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?' Kemudian Allah membuka hijab, maka tidaklah mereka diberi sesuatu yang lebih mereka sukai daripada kenikmatan melihat Tuhan mereka ﷻ." [HR. Muslim]

Keridaan Allah

Abu Sa'īd al-Khudriy meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah berfirman kepada penghuni surga, 'Wahai penghuni surga!' Mereka menjawab, 'Kami menyambut panggilan-Mu, wahai Tuhan kami, demi keridaan-Mu.' Allah bertanya, 'Apakah kalian rida?' Mereka menjawab, 'Bagaimana mungkin kami tidak rida, padahal Engkau telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun di antara makhluk-Mu!' Allah berfirman, 'Aku akan berikan kepada kalian yang lebih utama dari itu.' Mereka bertanya, 'Wahai Tuhan kami, apakah ada sesuatu yang lebih utama dari itu?' Allah berfirman, 'Aku turunkan keridaan-Ku pada kalian, maka Aku tidak akan murka kepada kalian setelahnya selama-lamanya.'" [HR. Bukhari]

Tempat Duduk dan Bantal Sandaran

"Pada hari itu banyak wajah yang berseri-seri, merasa senang karena usahanya sendiri, di dalam surga yang tinggi. Di sana kamu tidak mendengar perkataan yang tidak berguna. Di sana ada mata air yang mengalir. Di sana ada dipan-dipan yang ditinggikan, gelas-gelas yang tersedia (di dekatnya), bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar." [QS. Al-Gāsyiyah: 8-16]

Obrolan Malam

"Orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang-orang yang didekatkan (kepada Allah) di dalam surga yang penuh kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata. Mereka bersandar di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Juga (ada) buah-buahan apa pun yang mereka pilih, daging burung apa pun yang mereka inginkan, dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah laksana mutiara yang tersimpan baik. (Itu) sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan. Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia maupun yang menimbulkan dosa, kecuali ucapan-ucapan salām (selamat)." [QS. Al-Qiyāmah: 10-26]

Kelima: Iman Kepada Qada dan Qadar

Di dalam bab ini terdapat beberapa pembahasan:

- Makna iman kepada qada dan qadar

- Kedudukan iman kepada qada dan qadar

- Tingkatan-tingkatan iman kepada qada dan qadar

- Pelajaran dari hadis "mukmin yang kuat dan mukmin yang lemah"

- Bantuan untuk berbuat

- Intervensi qadar

- Berhujah dengan qadar (takdir)

- Kewajiban terhadap syariat dan qadar

- Pandangan berbagai sekte mengenai qadar

Takdir, sebab, dan perbuatan hamba

1- Makna Iman kepada Qada dan Qadar

a. Pengertian Qada dan Qadar Secara Bahasa

Al-Qaḍā` secara bahasa artinya: hukum.

Al-Qadar secara bahasa artinya perkiraan.

b. Pengertian Iman Kepada Qada dan Qadar Secara Syar'i

Maknanya adalah beriman bahwa Allah Ta'ala telah menetapkan takdir seluruh makhluk sejak azali, maka Dia -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengetahui bahwa semua itu akan terjadi pada waktu-waktu yang telah Dia ketahui dan dengan sifat-sifat tertentu, lalu Dia menulis itu semua, menghendaki terjadinya, dan menciptakannya satu demi satu. Juga beriman bahwa segala sesuatu di alam semesta adalah ciptaan Allah, yang telah Dia ketahui, tuliskan, dan kehendaki terjadinya. Juga beriman bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tidak akan pernah meleset darimu, dan apa yang ditakdirkan luput darimu tidak akan pernah menimpamu.

Maksud Iman kepada Qada dan Qadar

Qaḍā` secara bahasa artinya hukum, penguatan, dan penyempurnaan.

Qadar secara bahasa artinya takdir dan pengetahuan yang meliputi kadar-kadar segala urusan.

Secara terminologi:

Beriman bahwa segala yang ada di alam semesta adalah ciptaan Allah, yang telah Dia ketahui, Dia tulis, dan Dia kehendaki terjadinya, dan bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tidak akan pernah meleset darimu, dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tidak akan pernah menimpamu.

Iman kepada takdir ialah meyakini ketetapan Allah Ta'ala atas seluruh makhluk sejak zaman azali, serta pengetahuan-Nya bahwa ia akan terjadi di zaman yang telah ditentukan di sisi-Nya dan menurut cara-cara tertentu. Yaitu mengimani bahwa Allah Ta'ala telah menetapkan takdir seluruh makhluk sejak zaman azali, di mana Dia -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengetahui bahwa segala sesuatu itu akan terjadi pada waktu-waktu yang telah diketahui di sisi-Nya dan dengan sifat-sifat yang khusus.

2- Kedudukan Iman kepada Qada dan Qadar dalam Agama

Ia merupakan salah satu rukun iman yang enam. Iman tidak akan sempurna kecuali dengannya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk."

Ia merupakan bagian dari rangkaian tauhid. Sebab itu, siapa yang menauhidkan Allah tetapi mendustakan takdir, maka pendustaannya itu telah membatalkan tauhidnya, karena iman kepada takdir berkaitan dengan penauhidan Allah dalam rububiyah-Nya. Akibatnya, siapa yang mengingkari takdir berarti ia mengingkari penciptaan Allah atas perbuatan para hamba dan mengklaim adanya pencipta lain bersama Allah. Iman kepada takdir juga berkaitan dengan penauhidan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, khususnya sifat ilmu, kekuasaan, kebijaksanaan, kehendak, dan keadilan.

- Pengajaran Nabi ﷺ kepada para sahabat tentang permasalahan takdir.

Hal ini ditunjukkan oleh hadis Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia meriwayatkan: Pada suatu hari, aku berada di belakang Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, "Wahai Ananda, aku akan mengajarimu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan bisa memberikannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah takdirkan untukmu. Sebaliknya, seandainya mereka berkumpul untuk mencelakaimu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa mencelakaimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah takdirkan atasmu. Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering." [159]

3- Tingkatan Takdir dan Mazhab Ahli Sunnah Serta Ahli Bid'ah Tentangnya

Tingkatan 1: Ilmu (Pengetahuan)

Maksudnya ialah: mengimani bahwa Allah telah mengetahui apa yang akan diperbuat oleh makhluk-Nya dengan ilmu-Nya yang qadim, yang menjadi sifat-Nya sejak azali dan abadi, dan Dia telah mengetahui seluruh keadaan mereka, mulai dari ketaatan, kemaksiatan, rezeki, dan ajal mereka. [159] HR. Tirmizi, Kitāb Abwāb Ṣifatil-Qiyāmah (4/667). Beliau berkata, "Hadis ini hasan sahih." Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani. Lihat: Ṣaḥīḥ Sunan at-Tirmiżiy (2/308).

Dalil-dalilnya: - Firman Allah Ta'ala, "Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya. Tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut..." [QS. Al-An'ām: 59] - Juga firman-Nya, "... dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu." [QS. Aṭ-Ṭalāq: 12]

Tingkatan 2: Penulisan Takdir

Maksudnya ialah: Allah telah menulis takdir para makhluk di Loh Mahfuz.

Dalilnya: - Firman Allah Ta'ala, "Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Loh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah." [QS. Al-Ḥajj: 70]

Tingkatan 3: Kehendak, Keinginan, dan Kekuasaan

Maksudnya adalah: mengimani bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi; bahwa tidak ada satu pun gerakan maupun diam di langit dan di bumi kecuali dengan kehendak Allah; bahwa tidak ada yang terjadi di dalam kerajaan-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki; dan bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, baik yang ada maupun yang tiada.

Dalil-dalilnya: - Firman Allah Ta'ala, "Bagi siapa di antara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Kalian tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam." [QS. At-Takwīr: 28-29] - Juga firman-Nya: "Siapa yang dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk)..." [QS. Al-An'ām: 125]

Tingkatan 4: Penciptaan

Maksudnya adalah: mengimani bahwa tidak ada satu makhluk pun di bumi maupun di langit, melainkan Allahlah penciptanya. Tidak ada pencipta selain-Nya, dan tidak ada tuhan selain Dia. Juga mengimani bahwa Allah adalah pencipta para hamba sekaligus pencipta kemampuan mereka, kehendak mereka, dan perbuatan-perbuatan mereka.

Dalil-dalilnya: - Firman Allah Ta'ala, "Dia menciptakan segala sesuatu." [QS. Al-An'ām: 101]

- Juga firman-Nya, "Padahal Allahlah yang menciptakan kalian dan yang kalian perbuat.” [QS. Aṣ-Ṣāffāt: 96]

Tingkatan 1: Ilmu (Pengetahuan)

Penjelasannya menurut Ahli Sunnah Waljamaah adalah: meyakini adanya keluasan ilmu Allah dan cakupannya terhadap apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi, yang seandainya terjadi, bagaimana ia akan terjadi.

Ilmu Allah yang terdahulu bukan berarti adanya paksaan (al-jabr). Akan tetapi, itu berarti bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengetahui apa yang akan diperbuat oleh para hamba-Nya berdasarkan pilihan dan kehendak mereka sebelum mereka melakukannya. Maka, ilmu Allah tersebut bersifat menyingkap hal gaib (kāsyif al-gaib), bukan memaksa hamba.

Orang yang mengingkari hal ini adalah Qadariyah Ekstrem

Tingkatan 2: Penulisan Takdir

Penjelasannya menurut Ahli Sunnah Waljamaah: Penulisan takdir yang telah lebih dulu ada tidak mengandung paksaan, melainkan justru menjadi pendorong untuk beramal, karena setiap orang dimudahkan untuk melakukan apa yang telah ditetapkan untuknya.

Maknanya adalah: bahwa Allah telah menulis apa yang Dia ketahui akan dikerjakan oleh para hamba dengan pilihan dan keinginan mereka.

Orang yang mengingkarinya: Qadariyah Ekstrem.

Tingkatan 3: Kehendak, Keinginan, dan Kekuasaan

Penjelasannya menurut Ahli Sunnah Waljamaah: Allah memiliki dua iradah (kehendak), yaitu: kauniyah dan syar’iyyah. Perbuatan maksiat dikehendaki-Nya secara kauniyah, tetapi tidak dikehendaki-Nya secara syar’iyyah. Adapun ketaatan, dikehendaki-Nya secara syar’iyyah dan kauniyah.

Orang yang mengingkarinya: Qadariyah-Mu'tazilah mengingkari iradah kauniah dan mengimani iradah syar'iyyah. Jabariyah mengimani iradah kauniah dan menjadikannya sebagai iradah syar'iah.

Tingkatan 4: Penciptaan

Penjelasannya menurut Ahli Sunnah Waljamaah: Amal perbuatan para hamba adalah makhluk (ciptaan) Allah, melalui perantara kemampuan (qudrah) dan kehendak (iradah) yang telah Allah ciptakan di dalam diri para hamba tersebut. Maka, amal perbuatan itu adalah objek ciptaan (maf'ūl) bagi Allah, sekaligus merupakan perbuatan nyata (fi'il) bagi hamba.

Sebab itu, perbuatan itu dinisbahkan kepada hamba sebagai perbuatan dan usahanya, ia diberi pahala dan hukuman atasnya sesuai jenis perbuatannya, dan dinisbahkan kepada Allah sebagai pencipta.

Keburukan tidak dinisbahkan kepada Allah: Jika ditinjau dari sisi perbuatan Allah, maka seluruhnya mengandung hikmah dan kebaikan. Namun, jika ditinjau dari sisi hamba, maka di dalamnya terdapat keburukan baginya.

Orang yang mengingkarinya: Muktazilah

4- Renungan Tentang Hadis Mukmin yang Kuat dan Mukmin yang Lemah

Abu Hurairah meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun masing-masing memiliki sisi kebaikan. Sebab itu, fokuslah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah! Jika ada sesuatu yang menimpamu, maka jangan katakan, 'Andai aku melakukan ini itu, tentu hasilnya seperti ini.' Tetapi ucapkanlah, 'Ini ketetapan Allah. Apa yang Allah kehendaki, maka Dia melakukannya.' Karena kata-kata 'andai' bisa membuka peluang untuk setan."[160]

Ibadah dan Istianah

Bagian 1: Mukmin yang kuat

Ibadah (untuk Allah): Ya [160] HR. Muslim (No. 2664), Kitāb al-Qadar, Bāb fī al-Amr bil-Quwwah wa Tarki al-‘Ajzi.

Memohon pertolongan (kepada Allah): Ya

Catatan: menyelaraskan perintah dan takdir; serta kesesuaian dengan syariat dan keikhlasan.

Bagian 2: Mukmin yang lemah

Ibadah (kepada Allah): Ya

Mohon pertolongan (kepada Allah): tidak.

Catatan: berkeluh kesah dan tidak sabar

Bagian 3: Ahli bid'ah

Ibadah (kepada Allah): Ya, namun tidak sesuai Sunnah.

Mohon pertolongan (kepada Allah): Ya

Catatan: Sesat

Bagian 4: Manusia terburuk

Ibadah (kepada Allah): Tidak

Mohon pertolongan (kepada Allah): Tidak

Catatan: Orang yang dimurkai

5- Pertolongan untuk berbuat

Ahli Sunnah Waljamaah:

Sebelumnya:

(Allah telah menganugerahkan kepada mereka) akal yang mampu membedakan (baik dan buruk), fitrah yang dapat memahami (kebenaran), mengutus para Rasul kepada mereka, serta memberikan mereka kemampuan (qudrah) untuk melaksanakan apa yang telah Dia wajibkan atas mereka.

Siapa yang terhalang dari salah satu hal tersebut, Allah mengangkat beban syariat darinya, seperti orang gila, ahli fatrah, orang yang kehilangan pendengaran dan penglihatan, serta orang yang dipaksa. Semua golongan ini tidak dibebani Allah dengan syariat karena mereka tidak diberi kemampuan untuk melaksanakannya.

Bersamanya:

Sesungguhnya Allah memuliakan orang yang menginginkan jalan hidayah dan menempuhnya, dengan melapangkan dadanya, memudahkan urusannya, dan menambah hidayah baginya. Sebaliknya, siapa yang menolak jalan hidayah setelah Allah menolongnya, maka Allah akan membiarkannya, menyesatkan hatinya, dan mengunci pendengaran dan penglihatannya.

6- Intervensi Takdir

Al-'Adl (keadilan): Pemberian bantuan (sarana) sebelum perbuatan dilakukan

Al-'Aql (Akal)

Anggota Badan

Kehendak

Syar' (Syarak)

Hikmah: Pemberian bantuan (taufik) bersamaan dengan dilakukannya perbuatan.

Allah memberikannya kepada siapa yang menempuh sebab-sebab untuk meraihnya: kelapangan dada, kemudahan urusan, dan kekuatan untuk berbuat.

7- Beralasan dengan takdir atas musibah, bukan atas perbuatan tercela

Ahli Sunnah Waljamaah meyakini bahwa perbuatan dosa seorang hamba adalah sebuah aib dan dia wajib untuk beristigfar darinya sebagaimana yang dilakukan oleh Adam, Nuh, dan Musa -‘alaihimussalām-. Masing-masing dari mereka bertobat dan beristigfar dari kesalahannya, maka Allah pun menerima tobat mereka.

Adapun apa yang telah ditetapkan Allah Ta'ala sebagai dampak dari kesalahan tersebut berupa musibah-musibah yang menimpa manusia karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ﷻ, maka ini termasuk takdir Allah. Seseorang boleh berdalih dengan takdir atas musibah tersebut, sebagaimana Adam -'alaihissalām- [161] berdalih dengan takdir atas peristiwa atas keluarnya beliau dari surga; karena keluarnya beliau dari surga adalah ketetapan Allah Ta'ala yang ditetapkan sebagai konsekuensi atas tindakannya memakan buah dari pohon (larangan). Maka untuk urusan keluar dari surga ini, beliau tidak memiliki dosa di dalamnya.

Demikian pula, apabila seseorang mengalami kecelakaan karena kecepatannya lalu mobilnya hancur dan ia menderita akibatnya, kemudian ia menyesali kecepatannya dan mengakui dosanya, tetapi ia beralasan dengan takdir atas musibah yang menimpanya, maka hal itu diperbolehkan.

Demikian pula, jika ada seseorang yang mencapai usia empat puluh tahun lalu Allah memberinya hidayah untuk salat, kemudian seseorang mencelanya karena ia meninggalkan salat pada masa itu, lalu ia berkata, "Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan," maka hal itu dibolehkan, karena ia telah bertobat dari perbuatan tercela tersebut dan kembali kepada Allah.

Adapun orang yang tidak salat, ketika diperintahkan untuk salat ia berkata, "Ini takdir Allah", maka ia telah beralasan dengan takdir dalam melakukan kemaksiatannya. Ini adalah sebuah kesalahan dan kesesatan, sebab beralasan dengan takdir itu berlaku untuk musibah, sedangkan untuk kemaksiatan, kewajibannya adalah bertobat darinya, menyesali perbuatannya, dan memohon ampun darinya. Wallāhu a'lam. [161] Nabi ﷺ bersabda, "Adam dan Musa berdebat. Musa berkata kepadanya, 'Engkaulah Adam yang kesalahanmu telah mengeluarkanmu dari surga?' Lalu Adam berkata kepadanya, 'Engkaulah Musa yang telah dipilih Allah dengan risalah-Nya dan kalam-Nya, kemudian engkau mencelaku atas suatu perkara yang telah ditakdirkan atasku sebelum aku diciptakan?' Nabi ﷺ bersabda, "Lalu Adam berhasil mengalahkan Musa dengan hujah." Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari (No. 3409) dan Muslim (No. 2652).

Berargumen dengan Takdir

Musa:

Mencela Adam karena memakan buah larangan --> Tidak

Menyalahkan Adam atas dikeluarkannya dari surga --> Ya.

Adam:

Berargumen dengan takdir atas perbuatan memakan buah larangan --> Tidak.

Berargumen dengan takdir atas dikeluarkannya dari surga --> Ya

Berargumen dengan Takdir

Saat tertimpa musibah --> Boleh

Pada kelakuan buruk --> Tidak boleh.

8. Kewajiban Terhadap Syariat dan Takdir

Pertama: Terhadap Syariat

Ijtihad dalam ketaatan

Istigfar atas kekurangan dan kelalaian

Kedua: Terhadap Takdir

Mohon pertolongan kepada Allah dan bertawakal

Bersabar terhadap ketetapan

9- Pendapat Sekte-Sekte Tentang Qadar

Sekte: al-Majūsiyyah al-Gulāt (Qadariyyah Generasi Awal)

Qadar:

Ilmu dan penulisan: Tidak

Kehendak dan penciptaan: Tidak

Pengagungan pyariat Islam: Ya

Sebab-sebab dan perbuatan hamba: Ya

Penerapan sifat-sifat:

Al-'Adl (keadilan): Ya

Hikmah: Ya

Al-Qudrah (kekuasaan): Tidak

Sekte: al-Majūsiyyah al-Mu'tazilah (Majusi Muktazilah)

Qadar:

Ilmu dan penulisan: Ya

Kehendak dan penciptaan: Tidak

Pengagungan syariat Islam: Ya

Sebab-sebab dan perbuatan hamba: Ya

Penerapan sifat-sifat:

Al-'Adl (keadilan): Ya

Hikmah: Ya

Al-Qudrah (kekuasaan): Tidak

Sekte: al-Musyrikiah al-Jabriyyah al-Mutaṣawwifah

Qadar:

Ilmu dan penulisan: Ya

Kehendak dan penciptaan: Ya

Pengagungan syariat: Tidak

Sebab-sebab dan perbuatan hamba: Tidak

Penerapan sifat-sifat:

Al-'Adl (keadilan): Tidak

Hikmah: Tidak

Al-Qudrah (kekuasaan): Ya

Sekte: al-Iblisiyyah al-Jabriyyah al-Jahmiyyah

Qadar:

Ilmu dan penulisan: Ya

Kehendak dan penciptaan: Ya

Pengagungan syariat: Tidak - Kontradiktif

Sebab-sebab dan perbuatan hamba: Tidak

Penerapan sifat-sifat:

Al-'Adl (keadilan): Tidak

Hikmah: Tidak

Kemampuan: Ya

Sekte: Asy'ariyyah

Qadar:

Ilmu dan penulisan: Ya

Kehendak dan penciptaan: Ya

Pengagungan syariat: Ya

Sebab-sebab dan perbuatan hamba: Sebagai tanda

Penerapan sifat-sifat: Ya

Al-'Adl (keadilan): Ya

Hikmah: Tidak ada

Kemampuan: Ya

Golongan: Ahli Sunnah Waljamaah

Qadar:

Ilmu dan penulisan: Ya

Kehendak dan penciptaan: Ya

Pengagungan syariat: Ya

Sebab-sebab dan perbuatan hamba: Ya

Penerapan sifat-sifat:

Al-'Adl (keadilan): Ya

Hikmah: Ya

Kemampuan: Ya

Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari 'Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhu-, ia menceritakan: Seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah penghuni surga dan penghuni neraka telah diketahui?" Beliau ﷺ menjawab, "Ya." Ia bertanya lagi, "Lalu untuk apa orang-orang beramal?" Beliau ﷺ menjawab, "Setiap orang beramal sesuai dengan tujuan ia diciptakan, atau sesuai dengan apa yang dimudahkan baginya."[162]

Ahli Sunnah Waljamaah:

1- Tidak ada pertentangan antara penciptaan dan keadilan: Allah adalah Sang Pencipta segala sesuatu dan tidak menzalimi manusia sedikit pun.

2- Tidak ada pertentangan antara syariat dan takdir: Allah memerintahkan kita dan melarang kita, serta memberi kita kemampuan dan pilihan atas perbuatan-perbuatan kita. [162] HR. Bukhari (No. 4945) Kitāb at-Tafsīr, Bāb Qawlihi Fa ammā man a'ṭā wattaqā.

3- Tidak ada pertentangan antara penciptaan Allah atas perbuatan para hamba dan kekuatan mereka atas perbuatan mereka: Allah adalah pencipta para hamba, dan para hamba memiliki kekuatan atas perbuatan mereka.

Tidak ada pertentangan antara takdir dan sebab: Allah telah menakdirkan segala sesuatu, sebab-sebab memiliki pengaruh, dan ia termasuk bagian dari takdir Allah.

10- Takdir, Sebab-sebab, dan Perbuatan-perbuatan Hamba

- (Hasilnya) terjadi ketika adanya sebab tersebut, bukan oleh sebab itu sendiri (Pada hakikatnya, hasil terjadi melalui sebab tersebut dengan izin Allah).

1. Menyelisihi apa yang ada dalam Al-Qur`an

2. Mengingkari kekuatan dan tabiat

- Hal-hal baru (syirik kepada Allah)

Level Keempat

1 - Hakikat iman, hakikat kekafiran, dan hukum pelaku dosa besar.

2- Persoalan akidah lainnya.

Pertama: Permasalahan Tentang Nama-Nama, Hukum-Hukum, Hakikat Iman, Hakikat Kufur, dan Hukum Pelaku Dosa Besar

Di dalam bab ini terdapat beberapa pembahasan:

- Masalah-masalah tentang nama dan hukum

- Definisi agama Islam

- Hakikat iman mutlak menurut Ahli Sunnah Waljamaah

- Hakikat kekufuran

- Hukum Pelaku Dosa Besar

Rukun-rukun Iman yang Mutlak dan Pembatal-pembatalnya Beserta Dalil-dalilnya

1. Maksud Permasalahan Nama dan Hukum

Yang dimaksud dengan 'nama-nama' dalam ilmu akidah adalah: nama-nama yang disebutkan dalam syariat untuk tingkatan-tingkatan agama Islam, yaitu: Islam, Iman, dan Ihsan; serta istilah serupa seperti: tauhid, ikhlas, serta lawannya seperti: kufur, syirik, nifak, dan fasik.

Maksud dari hukum adalah: penerapan nama-nama syariat ini kepada individu tertentu, sehingga ia dihukumi sebagai muslim, mukmin, muhsin, kafir, musyrik, munafik, atau fasik, serta konsekuensi hukum yang ditimbulkannya di dunia, seperti: al-walā` wal-barā` (loyalitas dan berlepas diri), akad nikah, kewarisan, penerimaan kesaksian, pemakaman di pekuburan kaum muslimin, dan hukum-hukum sejenisnya yang berkaitan dengan Islam dan kekufuran. Demikian pula hukum-hukum di akhirat: seperti penetapan masuk surga atau neraka, persoalan kekekalan di neraka, serta nikmat maupun azab kubur.

Ibnu Taimiyah berkata tentang istilah al-asmā` wal-aḥkām, "Ia adalah istilah-istilah agama: seperti muslim, mukmin, kafir, dan fasik, dan hukum-hukum mereka di dunia dan akhirat."[163]

Beliau juga berkata, “Persoalan-persoalan pengafiran (takfīr) dan pemfasikan (tafsīq) adalah bagian dari persoalan ‘al-asmā` wa al-aḥkām’ yang berkaitan dengan janji dan ancaman di akhirat. Persoalan ini juga berkaitan dengan loyalitas, permusuhan, hukuman mati, perlindungan jiwa, dan lain sebagainya di dunia.”[164]

2- Definisi Agama Islam

Definisi agama atau din secara bahasa: [163] Majmū' al-Fatāwā (13/38).

Ia berasal dari kata "dāna". Ia adalah kata kerja transitif tanpa perantara. Misalnya: dānahu, artinya: menguasainya, memerintahnya, atau menundukkannya. [164] Majmū' al-Fatāwā (12/468).

Kata "dāna" bisa menjadi kata kerja transitif kepada objeknya dengan perantara preposisi:

- Preposisi "al-bā`", semisal: dāna bihi, artinya: ia tunduk dan patuh padanya.

- Preposisi "al-lām", semisal: dāna lahu, artinya: tunduk dan patuh kepadanya.

Jadi, makna ad-dīn (agama) dalam bahasa Arab berkisar pada: tunduk dan patuh.

Definisi agama dalam istilah ahli agama:

Hubungan suci antara dua pihak: yang satu menguasai, memerintah, dan menundukkan, sementara yang lain tunduk dan taat sesuai syariat (peraturan) di antara keduanya.

Definisi agama Islam:

Hubungan penghambaan antara dua zat:

Pertama: Allah, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, Yang Maha Esa dalam penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan, sesuai dengan agama penutup dan penghapus (syariat sebelumnya) yang dibawa oleh Rasulullah, Muhammad bin Abdullah, dalam seluruh aspek kehidupan.

Kedua: seorang hamba yang berserah diri, tunduk, dan patuh kepada Allah Ta'ala karena rasa cinta, takut, dan harap, sesuai dengan agama penutup dan penghapus (syariat sebelumnya) yang dibawa oleh Rasulullah, Muhammad bin Abdullah, dalam seluruh aspek kehidupan.

Agama Islam adalah beribadah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sesuai dengan agama penutup dan penghapus (syariat sebelumnya) yang dibawa oleh Rasul, Muhammad bin Abdullah ﷺ dari sisi Allah Ta'ala, dalam seluruh aspek kehidupan.

Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah, 'Hanya Allah yang aku sembah dengan memurnikan ibadahku kepada-Nya.'" [QS. Az-Zumar: 14]

Kita meyakini bahwa di dalamnya terdapat kemaslahatan dunia dan akhirat, ruh dan jasad, serta individu dan masyarakat, dan kita meyakini kewajiban al-walā` wal-barā` atasnya.

3- Hakikat Iman Mutlak Menurut Ahli Sunnah Waljamaah

Iman mutlak menurut Ahli Sunnah Waljamaah adalah hakikat yang tersusun dari ucapan dan perbuatan. Hakikat ini tidak sah kecuali dengan keduanya secara bersamaan. Jika ucapan hilang seluruhnya, hilang pula iman seluruhnya, dan jika perbuatan hilang seluruhnya, hilang pula iman seluruhnya. Akan tetapi, karena ia merupakan hakikat yang tersusun, maka jika hilang sebagian ucapan atau hilang sebagian perbuatan —yang hilangnya tidak dianggap sebagai pembatal-pembatal keimanan—, maka masih tersisa sebagian yang lain.

Jadi, iman adalah hakikat yang tersusun, sebagaimana perkataan Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh-, "Semua mereka itu tidak mengetahui hakikat iman... padahal iman melampaui semua itu. Ia adalah sebuah hakikat yang tersusun dari pengetahuan tentang apa yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ, pembenaran dengan keyakinan, pengakuan dengan lisan, ketundukan dengan rasa cinta dan kepatuhan, pengamalan secara lahir dan batin, serta pelaksanaan dan pendakwahannya sesuai kemampuan..."[165]

Tidak sedikit yang menukilkan ijmak -sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Taimiyah- bahwa iman menurut Ahli Sunnah Waljamaah adalah ucapan dan perbuatan, dan telah menjadi syiar Sunnah.[166]

Sufyān bin 'Uyainah berkata, "Sunnah itu ada sepuluh perkara. Siapa yang memiliki semuanya, maka sungguh ia telah menyempurnakan Sunnah. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan salah satu darinya, maka sungguh ia telah meninggalkan Sunnah. Sunnah itu adaah menetapkan takdir, mendahulukan Abu Bakar dan Umar, (mengimani) adanya telaga, syafaat, mizan (timbangan amal), sirat, dan iman adalah ucapan dan perbuatan...."[167]

Imam Ahmad berkata, "Pokok-pokok Sunnah menurut kami adalah: berpegang teguh dengan apa yang dianut oleh para sahabat Rasulullah ﷺ dan meneladan mereka... dan iman adalah ucapan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang...."[168] [165] Al-Fawā`id (Hal. 159).

Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim -raḥimahumallāh- telah menjelaskan maksud para Salaf dengan perkataan mereka, "Iman adalah ucapan dan perbuatan," bahwa ia adalah: ucapan hati, perbuatan hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan. [166] Lihat: Majmū’ al-Fatāwā (7/308).

Ibnu Taimiyah -raḥimahullāh- berkata, "Para salaf telah berijmak bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan; ia bertambah dan berkurang. Maksudnya adalah: perkataan hati dan perbuatan hati, kemudian perkataan lisan, dan perbuatan anggota badan."[169] ([167]) Syarḥ Uṣūl I'tiqād Ahlis-Sunnah wal-Jamā'ah karya al-Lālakā`iy (1/155-156).

Ibnul-Qayyim berkata, "Iman memiliki aspek lahir dan batin. Aspek lahirnya adalah ucapan lisan dan amalan anggota badan, sedangkan aspek batinnya adalah pembenaran hati, ketundukannya, dan kecintaannya. Jadi, tidaklah bermanfaat aspek lahir tanpa aspek batin, sekalipun dengannya darah, harta, dan keturunan jadi terpelihara. Tidaklah cukup aspek batin tanpa aspek lahir, kecuali jika terhalang oleh ketidakmampuan, paksaan, atau takut akan kebinasaan. Ketiadaan amal lahiriah padahal tidak ada penghalang adalah bukti rusaknya batin dan kosongnya dari keimanan. Berkurangnya amal adalah bukti berkurangnya iman, dan kuatnya amal adalah bukti kuatnya iman."[170] [168] Ibid (1/156-164) dan perkataannya: “Iman adalah perkataan dan perbuatan” (159).

Jika kita menelaah hadis Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- tentang cabang-cabang iman,[171] maka di antara sabda Nabi ﷺ adalah, "Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang." Maka kita dapat memahami bahwa iman adalah sebuah hakikat yang tersusun dari beberapa cabang dan bagian, dan bukan satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Inilah pembeda terbesar antara Ahli Sunnah Waljamaah dengan ahli bid'ah dan kesesatan. Semua kelompok sesat dari kalangan Khawarij, Mu'tazilah, dan Murji'ah berpendapat bahwa iman adalah sesuatu yang satu dan tidak terbagi-bagi, sehingga jika hilang sebagiannya, maka hilang seluruhnya. Berbeda dengan Ahli Sunnah Waljamaah, mereka mengatakan bahwa iman tersusun dari beberapa cabang dan bagian, sehingga ia bertambah dan berkurang. Setiap kali satu cabangnya bertambah, iman pun bertambah, dan setiap kali satu cabangnya berkurang, iman pun berkurang, dengan syarat cabang tersebut bukanlah sesuatu yang hilangnya dapat membatalkan keimanan.

Demikian pula dari sabda Nabi ﷺ, "(Iman) yang paling tinggi..... dan yang paling rendah.... "; dengannya kita memahami bahwa cabang-cabang ini berbeda-beda tingkatan dan kedudukannya dalam agama Islam dan tidak semuanya berada dalam satu tingkatan. Begitu pula dari sabda Nabi ﷺ, "(Iman) yang paling tinggi adalah syahadat.... yang paling rendah adalah menyingkirkan duri... dan rasa malu adalah salah satu cabang iman"; darinya kita memahami bahwa iman adalah hakikat yang tersusun dari ucapan yang berkaitan dengan lisan dan hati, serta dari perbuatan yang berkaitan dengan hati dan anggota tubuh. [169] Majmū' al-Fatāwā (7/672).

Jadi, mazhab Ahli Sunnah Waljamaah itu mudah dan jelas, bersumber dari nas-nas Al-Qur`an dan Sunnah. [170] Al-Fawā`id (128-129).

Hakikat Iman Mutlak serta Bertambah dan Berkurangnya [171] Lihat: Ṣaḥīḥ Muslim (No. 57), Kitāb Al-Īmān, Bab Penjelasan Jumlah Cabang-cabang Iman (1/63).

Hakikat yang tersusun dari berbagai cabang dan bagian.

Memiliki tingkatan tertinggi dan terendah.

Di dalamnya terdapat ucapan lisan, keyakinan hati, dan amalan anggota badan.

Ucapan dan amalan: ucapan hati dan amalan hati, serta ucapan lisan dan amalan anggota badan.

Apabila ucapan hilang seluruhnya, maka hilanglah hakikat iman. Demikian juga apabila perbuatan hilang seluruhnya, maka hilanglah hakikat iman, karena hakikat iman terdiri dari perkataan dan perbuatan.

Apabila hilang sebagian amalan atau sebagian perkataan yang hilangnya tidak dianggap sebagai pembatal keimanan, maka sebagian yang lain tetap ada.

Hakikat keimanan bertambah dengan bertambahnya cabang-cabangnya dan berkurang dengan berkurangnya.

Iman:

- Tujuh puluhan cabang.

- Cabang yang paling utama adalah kesaksian bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.

- Malu adalah salah satu cabang keimanan.

Hakikat iman mutlak: ucapan dan perbuatan. Ia dapat bertambah dan berkurang.

Rukun-rukun Iman Mutlak:

Hakikat Iman: 1 - Perkataan hati

Maksudnya adalah membenarkan, meyakini, dan mengakui rukun-rukun Iman dan semua yang dibawa oleh Rasul ﷺ.

Dalilnya: "Wahai Rasul, janganlah engkau disedihkan oleh mereka yang berlomba-lomba dalam kekafirannya, yaitu orang-orang (munafik) yang mengatakan dengan mulut mereka, 'Kami telah beriman', padahal hati mereka belum beriman..." [QS. Al-Mā`idah: 41]

Hakikat Iman: 2- Amalan Hati

Maksudnya adalah ketundukan dan kepatuhan hati dengan mewujudkan amalan-amalan hati, seperti ikhlas kepada Allah dalam seluruh jenis ibadah, cinta, takut, harap, rida, dan tawakal.

Dalilnya:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal." [QS. Al-Anfāl: 2]

"Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya..." [QS. Al-Bayyinah: 5]

"Bertawakallah kalian hanya kepada Allah jika kalian benar-benar orang-orang beriman." [QS. Al-Mā`idah: 23]

"... Karena itu, janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian orang-orang yang beriman." [QS. Āli 'Imrān: 175]

Hakikat Iman: 3- Ucapan Lisan

Maksudnya adalah mengucapkan kalimat Islam dan mengakui konsekuensi-konsekuensinya.

Dalilnya:

"Katakanlah, 'Kami beriman kepada Allah...'." [QS. Al-Baqarah: 136]

"Katakanlah, 'Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah ...'." [QS. Asy-Syūrā: 15]

"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia... ."

Hakikat Iman: 4- Amalan Anggota Badan

Maksudnya adalah ketaatan yang tampak dalam perbuatan berupa mengerjakan amalan-amalan wajib dan meninggalkan perbuatan-perbuatan haram, seperti salat, puasa, zakat, dan haji, dan sebagainya.

Dalilnya:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. (Merekalah) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhan mereka dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia." [QS. Al-Anfāl: 2-4]

"Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian." [QS. Al-Baqarah: 143]

"Iman itu ada tujuh puluhan cabang... ." Juga hadis delegasi kabilah Abdul-Qais.

"Jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya) jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir." [QS. An-Nisā`: 59]

6- Hakikat Kufur Menurut Ahli Sunnah Waljamaah

Kufur secara bahasa:

Ia adalah menutup dan menyembunyikan. Dikatakan kepada orang yang menutupi baju besinya dengan kain: ia telah mengufuri baju besinya. Jadi, siapa yang menutupi kebenaran, sungguh ia telah mengufurinya. Siapa yang mengingkari nikmat dan menutupinya, sungguh ia telah mengufurinya. Siapa yang menutupi biji-bijian dengan tanah, sungguh ia telah mengufurinya.[172]

Kufur menurut syariat:

Ketiadaan iman, atau dapat dikatakan: kebalikan dari iman.

Sebagaimana telah dijelaskan, iman menurut Ahli Sunnah Waljamaah adalah ucapan dan perbuatan, yaitu ucapan hati dan perbuatannya, serta ucapan lisan dan perbuatan anggota badan. Demikian pula kufur, karena ia adalah ketiadaan iman, maka menurut mereka, ia adalah ketiadaan ucapan dan perbuatan, atau ketiadaan salah satunya. [172] Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala, “Tanamannya mengagumkan orang-orang yang kufur.” [QS. Al-Hadid: 20]. Maksudnya: mengagumkan para petani. Petani disebut orang yang kufur karena ia menutupi benih di dalam tanah dan menutupinya.

Karena kufur juga adalah kebalikan iman, maka ia adalah perbuatan yang membatalkan keyakinan hati, amalan hati, ucapan lisan, atau perbuatan anggota badan seseorang, yang telah ditunjukkan oleh syariat sebagai salah satu dari pembatal-pembatal iman.

Jadi, kufur tidak hanya dalam bentuk perkataan atau amalan hati, tetapi bisa juga berupa ucapan lisan dan amalan anggota badan. Setiap perkataan atau perbuatan yang merusak salah satu dari empat rukun iman yang mutlak dianggap merusak keimanan secara keseluruhan.

Syekh Ibnu Baz -rahimahullāh- berkata, "Jadi, pembatal-pembatal keislaman adalah yang menyebabkan kemurtadan. Ini disebut sebagai pembatal-pembatal iman. Pembatal itu bisa berupa ucapan, perbuatan, keyakinan, dan keraguan. Seseorang bisa murtad karena ucapan yang ia katakan, perbuatan yang ia lakukan, keyakinan yang ia anut, atau karena keraguan yang muncul pada dirinya. Keempat perkara ini merupakan sumber pembatal yang merusak akidah dan membatalkannya."

Hakikat Kufur: 1- Ucapan Hati

Maksudnya adalah mendustakan dan mengingkari Allah, Rasul ﷺ, agama, atau sesuatu yang diketahui secara pasti bahwa itu bagian dari agama.

Dalilnya:

"Mereka mengingkarinya padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya...." [QS. An-Naml: 14]

"Bahkan (yang sebenarnya), mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna..." [QS. Yūnus: 39]

Hakikat Kufur: 2- Amalan Hati

Maksudnya adalah syirik, nifak, membenci Allah, Rasulullah ﷺ, agama atau sesuatu dari ajaran agama.

Meyakini bahwa ada syariat semisal Islam atau lebih baik daripada syariat Allah, atau meyakini bolehnya berhukum dengan selain syariat Allah.

Dalilnya:

"Sungguh, jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu." [QS. Az-Zumar: 65]

"Di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,' padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman." [QS. Al-Baqarah: 8]

Hakikat Kufur: 3 - Ucapan Lisan

Maksudnya adalah mencela Allah, mencela Rasul, mencela agama, memperolok-olok dan mengejek Allah, Rasul ﷺ, atau agama, sekalipun tidak menghalalkannya.

Dalilnya: "Jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, 'Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja.' Katakanlah, 'Mengapa kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?'" [QS. At-Taubah: 65]

Hakikat Kufur: 4 - Amalan Anggota Badan

Maksudnya adalah meninggalkan seluruh amalan secara total, terutama salat, membunuh seorang nabi, membantu pembunuhannya, menginjak mushaf dengan sengaja, dan bersujud kepada berhala sekalipun tidak menghalalkannya.

Dalilnya:

"Katakanlah (Muhammad), 'Taatilah Allah dan Rasul.' Jika mereka berpaling, maka (ketahuilah) bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir." [QS. Āli 'Imrān: 32]

"Mereka (orang-orang munafik) berkata, 'Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul (Muhammad), dan kami menaati (keduanya).' Kemudian sebagian dari mereka berpaling setelah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang beriman." [QS. An-Nūr: 47]

"Karena dia (dahulu) tidak mau membenarkan (Al-Qur`an dan Rasul) dan tidak mau melaksanakan salat, tetapi justru dia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran)." [QS. Al-Qiyāmah: 31-32]

Jenis-Jenis Kekufuran

Kekufuran itu ada dua jenis: kufur besar yang mengeluarkan dari agama dan kufur kecil yang tidak mengeluarkan dari agama.

Kufur besar adalah yang telah dibahas sebelumnya, yaitu tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, baik berupa pendustaan, keraguan, kesombongan, maupun penolakan.

Kufur kecil adalah perbuatan yang disebut sebagai kekufuran, namun dalil-dalil menunjukkan bahwa pelakunya tidak keluar dari agama. Ada pula yang membagi kufur dengan pembagian lain, yaitu: kufur keyakinan dan kufur amalan.

Yang bersifat keyakinan adalah yang berkaitan dengan ucapan dan amalan hati, sedangkan yang bersifat amalan adalah yang berkaitan dengan lisan dan anggota badan.

Sebagian orang memiliki anggapan keliru bahwa Ahli Sunnah Waljamaah menjadikan bagian kedua, yaitu kufur amali, seluruhnya sebagai kufur kecil, sehingga setiap amal perbuatan atau ucapan lisan yang telah ditetapkan dalam syariat sebagai kufur, menurut mereka adalah kufur kecil, selama ia tidak menghalalkannya, karena ia tergolong kufur amali. Ini adalah anggapan yang keliru, sebab Ahli Sunnah Waljamaah yang menyatakan pembagian ini, telah menjelaskan maksud mereka dengannya. Ibnu Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Adapun kufur amali terbagi menjadi yang bertentangan dengan iman dan yang tidak bertentangan dengannya. Sujud kepada berhala, meremehkan mushaf, membunuh nabi, dan mencelanya bertentangan dengan iman."[173] Hal itu menunjukkan bahwa mereka berpandangan bahwa kufur amali ada yang mengeluarkan dari agama dan ada yang tidak mengeluarkan darinya, bukan berarti seluruhnya tidak mengeluarkan dari agama.

Dr. Abdurraḥmān al-Maḥmūd -ḥafiẓahullāh- berkata, "Akan tetapi, pada masa-masa belakangan ditemukan orang yang telah menyerap sebagian pandangan Murji`ah, baik secara umum maupun dalam masalah tertentu saja. Lalu ia mengambil ungkapan-ungkapan yang datang dari sebagian imam tentang pembedaan antara kufur besar dan kufur kecil, yaitu ungkapan kufur i'tiqādi (keyakinan) dan kufur 'amali (perbuatan), lalu menjadikannya sebagai kaidah dan menggeneralisasikannya. Ia membangun syubhat berikut di atasnya, yaitu bahwa seseorang tidak dikafirkan kecuali jika ia menghalalkannya. Ia menggeneralisasikan syubhat ini pada semua hal yang menyebabkan kekafiran. Sebab itu, metodologi mereka dalam menjelaskan masalah-masalah iman atau dalam membantah kelompok Khawarij adalah dengan mendatangkan kaidah ini untuk mengatakan, 'Ini termasuk kufur 'amali, dan kufur 'amali tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama.' Misalnya, seseorang berkata, 'Berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan berupa undang-undang buatan manusia -tanpa menganggapnya halal- adalah termasuk kufur 'amali, dan kufur 'amali tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama.' Dengan demikian, ia telah menyelesaikan permasalahan ini secara tuntas, karena ia membangunnya -sebagaimana klaimnya- di atas salah satu prinsip dasar kaum salaf."[174]

Ada pula yang membagi kufur besar menjadi bagian-bagian berikut:

1- Kufur pendustaan, yaitu: meyakini kekafiran para rasul dan mengingkari kebenaran mereka dengan lisan.

2- Kufur keraguan, yaitu: kebimbangan dan tidak adanya ketegasan dalam perkara para rasul, dengan tidak membenarkan dan tidak pula mendustakan mereka.

3- Kufur penolakan, yaitu: menolak untuk tunduk kepada kebenaran yang dibawa oleh para rasul karena hasad, kesombongan, takut, atau karena cinta kepada agama nenek moyang dan hawa nafsu lainnya yang memalingkan dari mengikuti para rasul.

4- Kufur keberpalingan, yaitu: menolak dan berpaling sepenuhnya dari mempelajari agama Allah.

Makna at-takfīr (pengafiran):

Memvonis seorang muslim sebagai kafir karena suatu sebab yang mengharuskannya.

Takfīr tanpa hak ialah: memberi vonis kafir kepada orang yang keislamannya telah terbukti secara yakin dan mengeluarkan seorang muslim dari Islam tanpa dalil yang sahih dan jelas.

Bahaya Takfīr Tanpa Hak [173] Kitāb aṣ-Ṣalāh (55).

Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa pun orang yang berkata kepada saudaranya, 'Wahai kafir', maka tuduhan tersebut kembali kepada salah satu dari keduanya."[175] [174] Al-Ḥukmu bi Gairi Mā Anzalallāh (979).

Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan atau kekafiran, melainkan kalimat tersebut akan kembali kepadanya jika orang yang dituduh tidak pantas menyandangnya."[176]

Perkataan kafir kepada orang tertentu:

- Jika dia memang berhak atasnya, maka itu benar.

- Jika ia tidak berhak atasnya, maka hal itu berbalik kepada penuduh.

Penghalal takfīr kaum muslimin:

Engkau mengkafirkan dirimu sendiri, karena engkau menganggap orang yang sepertimu kafir.

Perbuatan-perbuatan orang Kafir

Mengantarkan pelakunya kepada kekafiran.

Kaidah-Kaidah Vonis Kafir

- Validnya pengafiran berdasarkan syariat [175] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari (No. 6104), Kitāb al-Adab, Bāb Man Kaffara Akhāhu bi Gairi Ta`wīl Fa Huwa Kamā Qāla, dan Muslim (No. 60), Kitāb al-Īmān, Bāb Man Qāla li Akhīhi Yā Kāfir.

- Setiap orang yang keislamannya telah tetap dengan kepastian, maka tidak akan hilang kecuali dengan kepastian. [176] HR. Bukhari (No. 6045), Kitāb al-Adab, Bāb Mā Yunhā min as-Sibāb wa al-La'n.

- Bagi kita adalah apa yang tampak (zahir), sedangkan perkara batin diserahkan kepada Allah.

- Kewajiban bersikap hati-hati sebelum menjatuhkan vonis kafir kepada seseorang.

- Hukum kafir hanya boleh ditetapkan oleh seorang ulama yang mengetahui syarat-syarat takfir serta tidak ada penghalangnya.

Pertama: Ketetapan bahwa ucapan, perbuatan, atau sikap meninggalkan suatu amalan adalah kufur berdasarkan dalil Al-Qur`an atau Sunnah.

"Katakanlah (Muhammad), 'Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yag terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kalian berkata-kata atas nama Allah apa yang tidak kalian ketahui'.”

Kedua: Tetapnya hukum tersebut pada mukalaf.

Dalam dua kitab sahih dari hadis Abdullah bin 'Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, Nabi ﷺ bersabda, "Siapa pun orang yang berkata kepada saudaranya, 'Wahai kafir', maka perkataan tersebut kembali kepada salah satu dari mereka berdua. Bila saudaranya itu benar seperti yang dikatakannya, (maka perkataan itu berlaku padanya). Namun jika tidak benar, perkataan itu kembali kepada dirinya sendiri."

3- Tegaknya hujah.

"Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul." [QS. Al-Isrā`: 15]

Dalam Sahih Muslim, Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Demi (Tuhan) yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidak ada seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang diriku lalu ia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang aku bawa, melainkan ia adalah penghuni neraka.”

Kaidah-Kaidah Takfir:

Kejahilan atau kebodohan

Kekeliruan tanpa disengaja

Takwil

Pemaksaan

Pertama: Kebodohan (al-Jahl)

Seseorang harus mengetahui bahwa perkataan atau perbuatan ini adalah penyebab kekafiran.

Allah berfirman, "Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul." [QS. Al-Isrā`: 15]

Contohnya: Orang yang baru masuk Islam dan belum sempat mengenal hukum-hukum syariat, atau hidup di negeri terpencil sehingga Al-Qur`an tidak sampai kepadanya dengan cara yang bisa ia pahami, atau hukumnya samar yang memerlukan penjelasan.

Kedua: Kekeliruan tanpa disengaja (al-Khaṭa`)

Keinginan atau niat terhadap sesuatu, lalu terjadi hal yang tidak dimaksudkan.

Dalam dua kitab sahih terkait kisah seorang laki-laki yang kehilangan untanya yang di atasnya terdapat makanan dan minumannya, lalu tiba-tiba ia mendapatinya berdiri di sisinya. Ia pun mengambil tali kekangnya, kemudian berkata, "Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu!" Nabi ﷺ bersabda, "Dia keliru karena saking gembiranya." Nabi ﷺ juga bersabda, "Sesungguhnya Allah akan menggugurkan dari umatku sesuatu yang dilakukan karena salah tanpa sengaja, lupa, dan sesuatu yang dipaksakan kepadanya." [HR. Ibnu Majah. Al-Albani menilainya sahih).

Allah Ta'ala berfirman, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan." [QS. Al-Baqarah: 286]

Ketiga: Takwil (at-Ta`wīl)

Menempatkan dalil syar'i tidak pada tempatnya; karena tidak memahaminya, atau memahaminya dengan pemahaman yang keliru. Takwil secara umum adalah salah satu jenis kesalahan:

"Tidak ada dosa atas kalian jika kalian khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengajai oleh hati kalian." [QS. Al-Aḥzāb: 5]

Adapun jika ia melakukan takwil yang dianggapnya sahih, maka harus dijelaskan kepadanya kesalahan takwilnya.

Keempat: Pemaksaan (al-Ikrāh)

Memaksa orang untuk melakukan apa yang tidak disukainya dan tidak dipilihnya untuk dia lakukan.

Bukan orang yang dipaksa yang semata-mata ingin terbebas dari keterpaksaan.

Allah Ta'ala berfirman, "Siapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar." [QS. An-Naḥl: 106]

Kisah 'Ammār bin Yāsir -raḍiyallāhu 'anhu- masyhur. Ketika kaum musyrikin menangkapnya, dan mereka tidak melepaskannya hingga ia mencela Nabi ﷺ. Lalu ketika ia mendatangi Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, "Bagaimana engkau dapati hatimu?" Dia menjawab, "Tenteram dengan iman." Beliau ﷺ bersabda, "Jika mereka ulang (memaksamu), maka ulangilah (ucapanmu)." [HR. Hakim dan dia menyatakannya sahih].

Abu Bakar al-Jaṣṣāṣ -raḥimahullāh- berkata, "Ini adalah landasan bolehnya mengucapkan kalimat kufur dalam kondisi Ikrāh (terpaksa)."

Ringkasan Kaidah-Kaidah dalam Permasalahan Nama dan Hukum

- Wajib berpegang pada makna syar'i nama-nama ini, bukan makna bahasanya.

- Pernyataan bahwa iman adalah hakikat yang majemuk, bukan tunggal.

- Mengamalkan semua nas, baik janji maupun ancaman, tanpa mengabaikan salah satu sisi dengan mengorbankan sisi yang lain.

- Hukum keislaman berlaku bagi setiap orang yang berilmu dan beramal; yaitu bagi siapa saja yang mengucapkan dua kalimat syahadat dengan mengetahui maknanya dan patuh mengamalkan konsekuensinya. Adapun orang yang berilmu tetapi tidak patuh mengamalkannya, atau beramal tanpa ilmu, seperti orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat tanpa mengetahui maknanya, maka keislaman keduanya tidak diterima.

- Siapa yang telah ditetapkan Islamnya dengan keyakinan, maka Islam tidak dicabut darinya kecuali dengan keyakinan.

- Melalui pembatal keislaman yang syar'i, dengan kajian yang saksama, dan oleh para ulama yang dalam keilmuannya.

Kelima: Hukum Pelaku Dosa Besar

Definisi al-Kabīrah (Dosa Besar)

Ia adalah dosa yang menyebabkan hukuman hudud, laknat, amarah, pernyataan berlepas diri, atau ancaman neraka, dengan tetap adanya status Islam bagi pelakunya.

Golongan: (1) Ahli Sunnah Waljamaah

Status di dunia:

- Fasik, mukmin dengan sebab keimanan, fasik dengan sebab dosa besar.

- Tidak dicabut keimanan secara umum dan tidak disandangkan iman yang menyeluruh.

Hukum di akhirat: di bawah kehendak Allah, tetapi tidak kekal di neraka.

Golongan: (2) Khawārij

Status di dunia: kafir

Hukum di akhirat: kekal di neraka.

Golongan: (3) Muktazilah

Status di dunia: tidak mukmin dan tidak pula kafir, ia berada di antara status kafir dan status mukmin.

Hukum di akhirat: kekal di neraka.

Golongan: (4) Murji`ah

Status di dunia: mukmin yang sempurna imannya.

Hukum di akhirat: di bawah kehendak Allah

Level Keempat

Kedua - Masalah-Masalah Akidah Lainnya

Pertama: Sikap Terhadap Para Sahabat

Di dalam bab ini terdapat beberapa pembahasan:

- Definisi sahabat

- Mengapa kita mencintai para sahabat

- Kewajiban kita kepada para sahabat

- Dalil-dalil tentang kewajiban sucinya hati dan lisan dari mencela para sahabat.

- Perbedaan para sahabat dalam keutamaan dan tingkatan

- Kesaksian bagi sahabat yang dijamin masuk surga secara personal oleh Rasul ﷺ.

- Urutan keutamaan para khalifah

- Permasalahan urutan keempat khalifah dalam kekhalifahan

- Sikap terhadap perselisihan di antara sahabat

- Sikap terhadap riwayat-riwayat tentang keburukan-keburukan mereka

- Permasalahan kemaksuman para sahabat

1- Definisi Sahabat (Ṣaḥābiy)

Dia adalah orang yang bertemu Nabi ﷺ dalam keadaan terjaga, bukan dalam mimpi, beriman kepada beliau, dan meninggal dunia dalam keadaan demikian.[177]

Catatan:

1- Tidak termasuk sebagai sahabat orang yang hanya menemui Nabi tanpa beriman, yang merupakan makna umum dari persahabatan. Akan tetapi, disyaratkan bersamaan dengan pertemuan itu: keimanan dan keteguhan di atasnya hingga wafat.

2- Orang-orang munafik tidak termasuk dalam golongan sahabat.

3- Orang-orang munafik itu dikenal oleh Rasulullah, dan beliau telah mengabarkan tentang mereka kepada sebagian sahabat, seperti Huzaifah.

4- Tidak ada orang munafik di kalangan kaum Muhajirin, tidak pula di kalangan Ahli Badar, dan tidak pula di kalangan para sahabat yang masyhur atau yang mengemban tugas-tugas untuk Rasulullah.

5- Orang-orang munafik besar masyhur dan dikenal dengan kenifakan mereka, sedangkan para pengikut mereka tidak menonjol dan tidak dikenal di kalangan umat.

6. Kita tidak dibebani untuk mengetahui orang-orang munafik; orang munafik yang memiliki pengaruh telah dijelaskan individunya, sedangkan orang munafik yang tidak memiliki pengaruh maka tidak dikenal sama sekali, ia binasa dan tidak tercatat dalam golongan sahabat.

Kewajiban Kita kepada Para Sahabat

Dua kewajiban: terkait hati dan terkait lisan.

Pertama: Kewajiban Hati [177] Lihat: Qawā’id at-Taḥdīṡ karya al-Qāsimiy (Hal. 200); al-Bā’iṡ al-Ḥaṡīṡ (Hal. 176); at-Taqyīd wal-Īḍāḥ karya al-‘Irāqiy (Hal. 291); dan Uṣūl al-Ḥadīṡ karya Doktor ‘Ajjāj al-Khaṭīb (Hal. 385).

- Memurnikan hati dari segala noda kebencian.

- Cinta sepenuh hati

- Membenci orang yang membenci mereka

Kedua: Kewajiban Lisan

- Menahan lisan dari kata apa saja yang merendahkan mereka.

Sanjungan: 1. Kebaikan dan keutamaan mereka

2. Akidah yang benar

3. Beristigfar dan berdoa

2- Kewajiban Kita kepada Para Sahabat Rasulullah ﷺ

a. Memenuhi hati dengan kecintaan kepada para sahabat.

b. Penyucian hati dari segala noda kedengkian atau kebencian terhadap mereka atau sebagian dari mereka.

c. Memuji mereka —semoga Allah meridai mereka—, menyebutkan kebaikan-kebaikan, keutamaan-keutamaan, dan jihad mereka bersama Rasulullah ﷺ dengan harta, jiwa, dan anak-anak mereka, serta mendoakan dan memohonkan ampunan untuk mereka.

d. Menjaga lisan dari semua ucapan yang dapat menimbulkan kesan merendahkan derajat dan kedudukan mereka, apalagi mencela dan menghina mereka, mengafirkan mereka atau mengafirkan sebagian dari mereka, atau memfasikkan mereka. Kita berlindung kepada Allah dari semua itu.

e- Membenci orang yang membenci mereka dan memusuhinya dalam hal itu.

f- Menyebarkan keutamaan-keutamaan mereka, membela kehormatan mereka, dan menjelaskan akidah yang wajib diyakini tentang mereka.

3- Dalil-Dalil Tentang Kewajiban Sucinya Hati dan Lisan terhadap Para Sahabat Rasulullah ﷺ

1. Allah Ta'ala berfirman, "Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang'." [QS. Al-Ḥasyr: 10]

Manusia terbagi menjadi tiga golongan: Muhajirin dan Ansar, yang merupakan orang-orang terdahulu yang telah berlalu, dan golongan ketiga adalah orang-orang yang datang sesudah mereka. Golongan ketiga ini tidak dianggap mengikuti para pendahulu mereka dengan baik kecuali jika mereka memiliki sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat, yaitu hati yang bersih dari kedengkian dan memohonkan ampunan untuk mereka.

Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengatakan, "Mereka diperintahkan untuk memohonkan ampunan bagi mereka, tetapi mereka malah mencela mereka."[178]

Sa'ad bin Abi Waqqāṣ -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Manusia itu ada tiga tingkatan, dua tingkatan telah berlalu dan tersisa satu. Sebab itu, sebaik-baik keadaan kalian adalah berada pada tingkatan yang tersisa ini." Kemudian beliau membaca ayat-ayat Surah Al-Hasyr.

2- Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Demi (Tuhan) yang jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya salah seorang dari kalian menginfakkan emas semisal Uhud, hal itu tidak akan menyamai infak satu mud mereka ataupun setengahnya." Muttafaq 'alaih.[179]

Imam Ahmad berkata, “Siapa yang merendahkan salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ, membencinya karena suatu perbuatan yang dilakukannya, atau mengungkit kesalahannya, maka dia adalah seorang ahli bid'ah sampai dia mendoakan rahmat untuk mereka semua dan hatinya bersih terhadap mereka.”

Beliau juga berkata, "Jika Anda melihat seseorang menyebut para sahabat Rasulullah ﷺ dengan keburukan, maka curigailah agamanya."

4- Perbedaan Para Sahabat dalam Keutamaan dan Tingkatan

Ahli Sunnah Waljamaah menetapkan keutamaan bagi seluruh sahabat Rasulullah ﷺ, baik yang menyertai beliau selama setahun, sebulan, sehari, sesaat, atau lebih lama maupun lebih singkat dari itu. Akan tetapi, mereka menetapkan adanya tingkatan keutamaan di antara mereka sesuai kadar persahabatan, ilmu, dan amal mereka.

Mereka berpandangan bahwa sahabat yang paling utama adalah para Khulafaurrasyidin, kemudian lima anggota dewan syura, kemudian sisa kaum Muhajirin, kemudian kaum Ansar, sesuai kadar senioritas dalam Islam, ilmu, dan amal. Mereka lebih mengutamakan peserta Perang Badar daripada yang lain, lebih mengutamakan peserta Baiat ar-Riḍwān daripada yang lain, dan lebih mengutamakan orang yang berjihad dan berinfak sebelum Perjanjian Hudaibiyah. Kemudian setelah mereka barulah para sahabat lainnya. Mereka lebih mengutamakan sahabat yang pernah melihat Nabi ﷺ daripada seorang tabiin karena status sebagai sahabat, sekalipun tabiin tersebut mengerjakan semua amal kebaikan.

Allah berfirman, "Mengapa kalian tidak menginfakkan harta kalian di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi? Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kalian dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kalian kerjakan." [QS. Al-Ḥadīd: 10]

Ayat ini adalah nas yang menjelaskan perbedaan tingkatan para sahabat. Yang dimaksud dengan 'al-Fatḥ' di sini adalah Perjanjian Hudaibiyah. Jadi, orang-orang yang masuk Islam sebelum Hudaibiyah adalah orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama, dan orang-orang yang masuk Islam setelahnya adalah para pengikut mereka dengan baik.

Allah berfirman, "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung." [QS. At-Taubah: 100] [178] Disebutkan oleh al-Ājurriy (No.1988) dalam asy-Syarī'ah (5/2497). Hadis ini daif.

Terkadang seorang tabiin atau orang dari generasi setelahnya melakukan amalan yang pahalanya lebih besar dari pahala sebagian sahabat. Akan tetapi, tambahan pahala itu tidak menunjukkan bahwa ia lebih utama dari sahabat, karena kedudukan sebagai sahabat tidak ada sesuatu pun yang menandinginya.

Para Khalifah yang Empat [179] HR. Bukhari (No. 3673), Kitāb Faḍā`il aṣ-Ṣaḥābah, Bāb Qaulihī ﷺ: Law Kuntu Muttakhiżan Khalīlā, dan Muslim (No. 2540), Kitāb Faḍā`il aṣ-Ṣaḥābah, Bāb Taḥrīm Sabbi aṣ-Ṣaḥābah .

Empat Anggota Majelis Syura [Ṭalḥah, az-Zubair, Sa'ad, 'Abdurraḥmān bin 'Auf]

Kaum Muhajirin

Kaum Ansar

Orang yang masuk Islam sebelum Pembebasan Makkah

Para sahabat lainnya

Imam Ahmad -raḥimahullāh- berkata dalam risalah Uṣūl as-Sunnah,[180]

"Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya adalah: Abu Bakar aṣ-Ṣiddīq, kemudian Umar bin al-Khaṭṭāb, kemudian Usman bin Affan. Kami mendahulukan ketiga orang ini sebagaimana para sahabat Rasulullah ﷺ mendahulukan mereka, dan mereka tidak berselisih pendapat dalam hal itu. Kemudian setelah ketiga orang ini adalah lima anggota syura: Ali bin Abi Ṭālib, Ṭalḥah, az-Zubair, Abdurraḥmān bin 'Auf, dan Sa'ad. Semuanya layak untuk menjabat sebagai khalifah dan semuanya adalah imam. Dalam hal ini kami berpegang pada hadis Ibnu Umar: “Dahulu kami menghitung saat Rasulullah ﷺ masih hidup dan para sahabatnya masih banyak: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Usman, kemudian kami diam.”[181]

Setelah anggota Majelis Syura adalah Ahli Badar dari kalangan Muhajirin, lalu Ahli Badar dari kalangan Ansar dari para sahabat Rasulullah ﷺ, sesuai urutan hijrah dan keutamaan mereka yang terdahulu. Kemudian manusia yang paling utama setelah para sahabat Rasulullah ﷺ adalah generasi di mana beliau diutus. Setiap orang yang menyertainya selama setahun, sebulan, sehari, sesaat, atau pernah melihatnya, maka ia termasuk sahabatnya. Ia mendapatkan keutamaan sebagai sahabat sesuai dengan kadar kebersamaannya, keutamaannya yang terdahulu bersamanya, apa yang ia dengar darinya, dan pandangannya kepadanya. Jadi, sahabat yang paling singkat kebersamaannya adalah lebih utama daripada generasi yang tidak pernah melihat beliau, sekalipun generasi tersebut bertemu Allah dengan membawa seluruh amalan. Mereka yang menyertai Nabi ﷺ, melihatnya, dan mendengar darinya—bahkan siapa saja yang melihatnya walau sesaat dengan mata kepala dan beriman kepadanya—adalah lebih utama karena status persahabatannya daripada para tabiin, meskipun mereka (para tabiin) mengerjakan seluruh amal kebaikan.

5- Kesaksian bagi orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah ﷺ dari kalangan mereka.

Persaksian akan masuk surga ada dua macam:

1- Kesaksian umum yang digantungkan pada sifat.

2- Kesaksian khusus yang terkait dengan pribadi.

Kita bersaksi bahwa Allah telah menjanjikan surga untuk para sahabat seluruhnya dalam firman-Nya: "Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik (surga)." [QS. Al-Ḥadīd: 10] Demikian pula, Allah menjanjikan surga kepada seluruh orang-orang beriman.

Adapun kesaksian untuk individu tertentu, kita memberi kesaksian bagi setiap orang yang dijamin masuk surga oleh Rasul ﷺ, atau yang beliau kabarkan kepadanya tentang apa yang telah Allah siapkan untuknya di surga, atau yang beliau lihat di surga, dan semisalnya dari kabar-kabar gembira.

Di antara orang-orang yang diberi kabar gembira oleh Allah dengan surga adalah sebagai berikut:

Orang-orang yang dijanjikan masuk surga: 1- Sepuluh orang yang dijamin masuk surga [180] HR. Bukhari dalam Sahihnya ( No. 3698) dengan lafaz: “Kami di zaman Nabi ﷺ tidak menyetarakan seorang pun dengan Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Usman...” Kitāb al-Faḍā`il. Bāb Faḍli Abī Bakr Ba'da an-Nabiy ﷺ. Lihat: As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad: 2/590 (1400-1401).

Catatan: Mereka adalah Khulafaurrasyidun, empat anggota Majelis Syura, Sa'īd bin Zaid bin 'Amr bin Nufail (Abul-A'war), dan Abu 'Ubaidah. [181] Lihat HR. Muslim (No. 2535), Kitāb Faḍā`il aṣ-Ṣaḥābah, Bāb Faḍl aṣ-Ṣaḥābah Ṡumma Allażīna Yalūnahum.

Dalil: Sa'īd bin Zaid meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sepuluh orang masuk surga: Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Ali, Usman, Zubair, Talhah, Abdurrahman, Abu 'Ubaidah, dan Sa'ad bin Abi Waqas." Ia (perawi) berkata, "Lalu ia (Sa'īd) menyebutkan sembilan orang ini dan diam mengenai yang kesepuluh," maka sebagian orang berkata, "Kami bersumpah atas nama Allah siapa yang kesepuluh wahai Abul-A'war!" Ia berkata, "Kalian telah bersumpah dengan nama Allah kepadaku. Ya, Abul-A'war masuk dalam surga." [HR. Tirmizi]

Orang-orang yang dijanjikan masuk surga: 2- Para Pahlawan Perang Badar

Catatan: Jumlah mereka: tiga ratus sekian belas orang.

Dalilnya: "Sesungguhnya Allah telah melihat Ahli Badar dan berfirman, 'Silakan kalian berbuat apa yang kalian suka, karena telah wajib bagi kalian surga, atau sungguh Aku telah mengampuni kalian." [HR. Bukhari]

Orang-orang yang dijanjikan masuk surga: 3- Para peserta Baiat Ridwan

Catatan: Jumlah mereka lebih dari 1.400 orang

Dalilnya: "Insyaallah, tidak akan masuk neraka seorang pun dari Aṣḥāb asy-Syajarah (para sahabat yang berbaiat di bawah pohon)." [HR. Muslim]

Orang-orang yang dijanjikan masuk surga: 4- Ṡābit bin Qais

Dalilnya: Nabi ﷺ bersabda tentangnya, "Pergilah menemuinya dan katakan kepadanya bahwa ia bukan penghuni neraka, tapi ia penghuni surga." [HR. Bukhari]

Orang-orang yang dijanjikan masuk surga:

5 - Bilāl bin Rabāḥ

6 - Zaid bin Ḥāriṡah

7 - Ḥāṭib bin Abi Balta'ah

8- 'Ukāsyah bin Miḥṣan

9 - Sa'ad bin Mu'āż

10- Ummu Sulaim binti Milḥān

Dalilnya: Lihat ‘Aqīdah Ahlis-Sunnah wal-Jamā‘ah fī aṣ-Ṣaḥābah al-Kirām (2/776 dan setelahnya).

6- Urutan Keutamaan Para Khalifah

Ahli Sunnah Waljamaah telah sepakat terkait keutamaan empat khalifah di atas para sahabat lainnya dan mereka sepakat untuk mendahulukan Abu Bakar kemudian Umar. Perbedaan pendapat terjadi pada Usman dan Ali. Jumhur Ahli Sunnah mendahulukan Usman atas Ali, sebagian Ahli Sunnah bersikap abstain, dan sebagian lainnya mendahulukan Ali. Akan tetapi, perkara yang telah menjadi ketetapan Ahli Sunnah Waljamaah adalah bahwa urutan mereka dalam keutamaan sama seperti urutan mereka dalam kekhalifahan. Namun, mereka tidak menganggap masalah pengedepanan Ali atas Usman sebagai salah satu pokok akidah yang menyebabkan orang yang menyelisihinya dianggap sesat, karena adanya sebagian Ahli Sunnah Waljamaah yang berpendapat demikian.

7- Permasalahan Urutan Mereka dalam Kekhalifahan

Ahli Sunnah Waljamaah telah memasukkan permasalahan urutan kekhalifahan bagi khalifah yang empat ke dalam akidah dan menganggap sesat orang yang menyelisihinya, karena ia menyelisihi ijmak para sahabat dan Ahli Sunnah Waljamaah.

Imam aṭ-Ṭaḥāwiy -raḥimahullāh- berkata dalam buku akidahnya yang masyhur, "Kita menetapkan kekhalifahan setelah Rasulullah ﷺ pertama-tama untuk Abu Bakar aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu- karena mengutamakan dan mendahulukannya atas seluruh umat, kemudian untuk Umar bin al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-, kemudian untuk 'Uṡmān bin 'Affān -raḍiyallāhu 'anhu-, kemudian untuk 'Aliy bin Abī Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu-. Mereka adalah para Khulafaurrasyidin dan para imam yang mendapat petunjuk."[182]

Abu 'Uṡmān aṣ-Ṣābūnī -raḥimahullāh- berkata, "Mereka bersaksi dan meyakini bahwa sahabat Rasulullah ﷺ yang paling utama adalah: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Usman, kemudian Ali, dan bahwa mereka adalah para Khulafaurrasyidin yang Rasulullah ﷺ sebutkan kekhalifahan mereka, melalui sabda beliau dalam riwayat Sa'īd bin Jumhān dari Safīnah: "Kekhalifahan setelahku berlangsung selama tiga puluh tahun."[183] Setelah masa mereka berakhir, urusan pemerintahan beralih menjadi kerajaan yang sewenang-wenang, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ.

Ahli Hadis menetapkan kekhalifahan Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- setelah wafatnya Rasulullah ﷺ berdasarkan pilihan para sahabat dan kesepakatan mereka atasnya, serta perkataan mereka seluruhnya: "Rasulullah ﷺ telah meridainya untuk urusan agama kami, maka kami pun meridainya untuk urusan dunia kami"... Juga Rasulullah ﷺ semasa hidupnya berbicara mengenai Abu Bakar dengan hal-hal yang menjelaskan kepada para sahabat bahwa beliau adalah orang yang paling berhak atas khilafah setelahnya...[184]

Kemudian kekhalifahan Umar bin al-Khaṭṭāb melalui penunjukan Abu Bakar terhadapnya dan kesepakatan para sahabat atasnya setelah beliau, serta tertunainya janji Allah melalui kedudukan beliau dalam meninggikan Islam dan mengagungkan urusannya.

Kemudian kekhalifahan Usman -raḍiyallāhu 'anhu- ditegakkan dengan ijmak Ahli Syura dan ijmak seluruh sahabat mengenai serta keridaan mereka terhadapnya, hingga urusan itu diserahkan kepadanya.

Kemudian kekhalifahan Ali -raḍiyallāhu 'anhu- ditegakkan dengan baiat para sahabat kepadanya. Setiap dari mereka -raḍiyallāhu 'anhum- mengetahui dan memandangnya sebagai makhluk yang paling berhak dan paling utama atas khilafah pada waktu itu, dan mereka tidak membenarkan kedurhakaan dan penentangan terhadapnya.

Jadi, keempat orang inilah Khulafaurrasyidin yang dengannya Allah memenangkan agama ini.

8- Sikap Kita Terhadap Perselisihan di antara Para Sahabat

Sikap Ahli Sunnah Waljamaah: Menahan diri dari membicarakan permasalahan terjadi di antara mereka, baik itu yang terjadi antara Ali -raḍiyallāhu 'anhu-, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu-, dan az-Zubair -raḍiyallāhu 'anhu- dalam perang Jamal, maupun yang terjadi antara Ali -raḍiyallāhu 'anhu- dan Mu'āwiyah -raḍiyallāhu 'anhu- di Ṣiffīn.

Kita meyakini bahwa masing-masing dari mereka adalah seorang mujtahid yang meyakini bahwa kebenaran ada di pihaknya, maka perselisihan di antara mereka bukanlah karena persaingan dalam urusan dunia, melainkan demi menegakkan syariat-syariat Islam.

Sebagian salaf ditanya tentang peristiwa-peristiwa fitnah seperti ini, lalu ia menjawab, "Itu adalah umat yang telah berlalu. Bagi mereka apa yang telah mereka usahakan dan bagi kalian apa yang telah kalian usahakan. Kalian juga tidak akan ditanyai tentang apa yang dahulu mereka kerjakan." [QS. Al-Baqarah: 134] [182] Lihat: Syarḥ aṭ-Ṭaḥāwiyyah karya al-Barrāk (Hal. 364).

Ibnu al-Mubārak berkata, "Sebuah fitnah yang Allah telah jaga pedang-pedang kita darinya, maka hendaknya kita juga menjaga lisan-lisan kita darinya." Al-Ājurriy berkata dalam kitabnya, asy-Syarī'ah, “Orang yang merenungkan apa yang telah kami paparkan tentang keutamaan-keutamaan para sahabat Rasulullah ﷺ dan keutamaan-keutamaan ahli baitnya -semoga Allah meridai mereka semua- hendaknya mencintai mereka, mendoakan rahmat untuk mereka, memohonkan ampunan bagi mereka, bertawasul kepada Allah Yang Maha Mulia untuk mereka, dan bersyukur kepada Yang Maha Agung karena telah memberinya taufik untuk hal ini, serta tidak mengungkit perselisihan yang terjadi di antara mereka, tidak mengorek-ngoreknya, dan tidak pula membahasnya. [183] HR. Tirmizi (N±o. 2226) dalam al-Jāmi', Kitāb al-Fitan, Bāb Mā Jā`a fī al-Khilāfah. Abu 'Īsā berkata, "Hadis ini hasan dan diriwayatkan oleh lebih dari satu perawi." Lihat Ṣaḥīḥ al-Jāmi' (No. 3341).

Jika kita ditentang oleh orang jahil yang terfitnah dan menyimpang dari jalan petunjuk, lalu ia berkata, 'Mengapa si fulan memerangi si fulan? Mengapa si fulan dibunuh oleh si fulan dan si fulan?', maka katakanlah kepadanya, 'Apa urusan kami dan kamu dengan menyebutkan hal ini, suatu perkara yang tidak bermanfaat bagi kami, dan kami pun tidak terpaksa untuk mengetahuinya.' Jika ia bertanya, 'Mengapa?' Maka katakanlah, 'Karena itu adalah fitnah-fitnah yang disaksikan oleh para sahabat, maka mereka di dalamnya bersikap sesuai dengan ilmu yang mereka miliki tentangnya. Mereka lebih mengetahui takwilnya daripada selain mereka dan jalan mereka lebih lurus daripada orang-orang yang datang setelah mereka, karena mereka adalah penghuni surga dan kepada merekalah Al-Qur`an diturunkan...."[185] [184] Lihat: ‘Aqīdah as-Salaf wa Aṣḥābil-Ḥadīṡ (289-290).

9- Sikap Kita Terhadap Riwayat-Riwayat Tentang Keburukan Mereka

Riwayat-riwayat tersebut terbagi dua:

Pertama: Jenis yang paling banyak, yaitu kedustaan murni atas nama mereka, atau di dalamnya terdapat penambahan dan pengurangan, atau pengubahan dari bentuk aslinya, maka semua ini tertolak dan bāṭil.

Kedua: Jenis yang jumlahnya sedikit, yaitu riwayat yang sahih. Dalam hal ini mereka terbagi menjadi dua keadaan:

a. Mujtahid yang benar, namun penukil menyangka bahwa mereka telah keliru dalam hal itu.

b. Orang yang berijtihad namun salah, ia dimaafkan atas ijtihadnya dan baginya pahala ijtihad.

10- Permasalahan Kemaksuman Para Sahabat

Kita meyakini bahwa para sahabat tidak maksum dari kesalahan dan dosa. Akan tetapi, kita juga meyakini bahwa mereka adalah sebaik-baik makhluk setelah para nabi dan merupakan generasi pilihan terbaik dari umat ini. Sebab itu, kesalahan yang muncul dari mereka akan lebur dalam kebaikan dan keutamaan mereka, dan mereka adalah orang yang paling dekat untuk mendapatkan ampunan Allah karena sebab-sebab berikut:

- Mereka memiliki kebaikan-kebaikan yang menghapuskan dosa-dosa.

- Mereka memiliki kebaikan-kebaikan yang dilipatgandakan bagi mereka. [185] Lihat: Asy-Syarī'ah (5/2485-2486).

- Mereka memiliki keutamaan membersamai Nabi dan yang terdahulu dalam Islam.

- Mereka adalah orang-orang yang paling berhak mendapat syafaat Rasul ﷺ.

- Mereka mendapatkan berbagai macam ujian di dunia.

- Mereka diberi taufik oleh Allah mereka untuk bertobat, rujuk dari kesalahan, dan yang semisalnya.

Kedua: Sikap Terhadap Ahlulbait

Di dalam bahasan ini terdapat beberapa poin bahasan:

- Pengertian ahlulbait

- Keutamaan ahlulbait dalam nasab

- Wasiat Rasulullah ﷺ terkait ahlulbait

- Kewajiban terhadap ahlulbait

- Sikap moderat Ahli Sunnah Waljamaah terhadap para sahabat dan ahlulbait

- Hukum mencela para sahabat dan ahlulbait

1- Siapakah Ahlulbait?

Ahlulbait adalah istri-istri Rasulullah ﷺ, keturunan beliau, dan kerabat beliau yang diharamkan bagi mereka sedekah, seperti keluarga Ali, Ja'far, dan al-Abbās.[186]

Al-Ḥulaimiy berkata, "Adapun istilah ahlulbait, maka ia mencakup kerabat dan para istri sekaligus."[187]

Ibnu Hajar berkata, "Makna al-Āl (ahlulbait) adalah para istri dan orang-orang yang haram menerima sedekah, dan termasuk di dalamnya adalah keturunan. Dengan demikian hadis-hadis dapat dikompromikan.[188].

2- Keutamaan Ahlulbait dari Sisi Nasab

Muslim meriwayatkan dalam Sahihnya dari Wā`ilah bin al-Asqa', ia menceritakan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah telah memilih Kinānah dari keturunan Ismail, lalu memilih Quraisy dari Kinānah, lalu memilih Bani Hāsyim dari Quraisy, lalu memilihku dari Bani Hāsyim."[189]

3- Wasiat Rasulullah ﷺ Terkait Ahlulbait

Zaid bin Arqam meriwayatkan: Pada suatu hari, Rasulullah ﷺ berdiri di tengah-tengah kami di suatu tempat (persinggahan) yang memiliki air bernama Khum, yang terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau lalu memuji dan menyanjung Allah, menyampaikan peringatan dan nasihat. Kemudian bersabda, "Amabakdu: Ketahuilah wahai manusia, sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia, hampir tiba masanya utusan Tuhanku datang padaku. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang berat: Pertama adalah Kitabullah ﷻ yang mengandung petunjuk dan cahaya, maka ambillah Kitabullah dan berpegang teguhlah padanya." Lantas beliau memotivasi dan menganjurkan untuk berpegang teguh pada Kitabullah. Beliau melanjutkan, "Juga ahlulbaitku, aku ingatkan kalian dengan Allah terkait ahlulbaitku, aku ingatkan kalian dengan Allah terkait ahlulbaitku, aku ingatkan kalian dengan Allah terkait ahlulbaitku."[190]

Kewajiban kita terhadap Ahlulbait:

Pertama: Kewajiban Hati

- Menghilangkan kebencian dan dengki terhadap mereka

- Penuh cinta dan pengagungan terhadap mereka [186] HR. Bukhari (No. 1491), Kitāb az-Zakāh, Bāb Mā Yużkaru fī aṣ-Ṣadaqah li an-Nabiy ﷺ.

Kedua: Kewajiban Lisan [187] Al-Minhāj fī Syu'ab al-Īmān (2/140)

- Menahan diri dari mencela mereka [188] Lihat: Fatḥul-Bārī (3/446).

Pujian: 1. Kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan 2. Akidah yang benar

4- Kewajiban terhadap Ahlulbait [189] HR. Muslim (no. 2276), Kitāb al-Faḍā`il, Bāb Faḍl Nasab an-Nabiy ﷺ.

- Sucinya hati dari kebencian dan dengki kepada mereka. Nabi ﷺ bersabda, "Demi (Tuhan) yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, tidak ada seorang pun yang membenci kami, ahlulbait, melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam neraka." HR. Al-Ḥākim dalam al-Mustadrak.[191]

- Mencintai dan memuliakan mereka. Nabi ﷺ bersabda, "Cintailah Allah karena nikmat yang telah diberikan oleh-Nya, cintailah aku karena cinta kepada Allah, dan cintailah ahlulbaitku karena cinta kepadaku." HR. Al-Ḥākim dalam al-Mustadrak.[192] [190] HR. Muslim (No. 2408), Kitāb Faḍā`il aṣ-Ṣaḥābah, Bāb min Faḍā`il 'Aliy Ibni Abī Ṭālib.

- Berloyalitas kepada mereka, tidak memusuhi mereka, dan menjaga kehormatan mereka. Nabi ﷺ bersabda, "Aku ingatkan kalian dengan Allah terkait ahlulbaitku."[193]

- Mengikuti petunjuk dan sirah mereka apabila tidak bertentangan dengan agama, berdasarkan hadis sebelumnya.

Ini semua berlaku bagi orang muslim di antara mereka dan orang yang nasabnya telah terbukti. Adapun orang kafir di antara mereka, maka nasabnya tidak akan memberinya manfaat, baik di dunia maupun di akhirat.

5- Sikap Moderat Ahli Sunnah Waljamaah di antara Rāfiḍah dan Nāṣibah Terkait Sahabat dan Ahlulbait

Telah dijelaskan sebelumnya sikap Ahli Sunnah Waljamaah terhadap para sahabat dan keluarga Rasulullah ﷺ bahwa mereka tidak mengultuskan sosok-sosok mereka dengan mengangkatnya melebihi kedudukan mereka, menempatkannya pada derajat ketuhanan, atau mengklaim bahwa mereka maksum. Mereka juga tidak bersikap kasar dengan memusuhi dan membenci mereka, melainkan mencintai dan loyal kepada mereka.

Dengan cara ini, mereka bersikap moderat terhadap ahlulbait, antara kaum yang berlebihan dan kaum yang meremehkan. Kelompok Rafidah bersikap berlebihan, sedangkan Nawāṣib bersikap meremehkan. Mereka juga bersikap moderat terhadap para sahabat Rasulullah ﷺ, antara kaum yang berlebihan dan kaum yang meremehkan. Kelompok Rafidah bersikap meremehkan, sedangkan sebagian Nawāṣib bersikap berlebihan.

6- Hukum Mencela Para Sahabat dan Ahlulbait

Menghina para sahabat dan ahlulbait terbagi dalam beberapa jenis:

Pertama: Mencaci mereka dengan mengafirkan dan menfasikkan seluruh mereka atau sebagian besar mereka. Perbuatan jenis ini adalah kekufuran dan kemurtadan.[194] [191] HR. Al-Ḥākim (No. 4700), Kitāb Ma'rifah aṣ-Ṣaḥābah -raḍiyallāhu 'anhum-, Bāb: Manāqib Ahl Rasūlillāh ﷺ.

Kedua: Mencela sebagian dari mereka yang keutamaannya telah mutawatir, seperti para khalifah, dengan mengafirkan atau memfasikkan. Ini juga merupakan kekufuran dan kemurtadan. [192] HR. Tirmizi (No. 3789), Kitāb al-Manāqib, Bāb Manāqib Ahli Bait an-Nabiy ﷺ. Ini dinyatakan daif oleh Al-Albani dalam Ḍa'īf al-Jāmi' (176).

Ketiga: Mencela sahabat yang keutamaannya tidak dinukilkan secara mutawatir dengan mencela agamanya adalah kefasikan dan salah satu dosa besar. [193] Sumbernya telah disebutkan pada halaman sebelumnya.

Keempat: Mencaci sebagian mereka dengan cacian kepada selain agama dan integritas mereka, seperti menuduhnya sebagai pengecut, kikir, kurang berilmu, atau tidak zuhud. Pelakunya adalah seorang fasik, yang berhak mendapatkan hukuman takzir dan pendisiplinan.

Ketiga: Sikap Terhadap Istri-Istri Rasul ﷺ

Di dalam topik ini terdapat beberapa pembahasan:

1. Penyebutan nama istri-istri Rasul ﷺ

2- Kewajiban kita terhadap istri-istri Rasulullah ﷺ

1- Nama-nama Istri Rasulullah ﷺ Rasulullah telah menikahi tiga belas orang wanita:

Pertama: Khadijah binti Khuwailid -raḍiyallāhu 'anhā-. Beliau meninggal dunia tiga tahun sebelum hijrah. Beliau adalah ibu dari sebagian besar putra-putri Nabi, orang pertama yang beriman kepada beliau, dan yang mendukung beliau dalam urusan dakwah. Beliau memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Nabi.[195]

Kedua: Saudah binti Zam'ah -raḍiyallāhu 'anhā-. Beliau adalah wanita pertama yang dinikahi Nabi ﷺ setelah Khadijah dan menjadi satu-satunya istri beliau selama kurang lebih tiga tahun atau lebih, hingga menikah dengan Aisyah. Beliaulah yang ketika usianya telah lanjut menghibahkan hari gilirannya kepada Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- demi menjaga hati Rasulullah.[196] [194] Mencaci mereka dianggap murtad, karena hal itu merupakan penentangan yang nyata terhadap pemuliaan Allah dan penyucian Nabi ﷺ terhadap mereka. Penolakan terhadap wahyu adalah kekufuran yang nyata.

Ketiga: Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-. Rasulullah ﷺ menikahinya ketika ia berumur enam tahun dan beliau mulai tinggal bersamanya ketika ia berumur sembilan tahun. Beliau tidak menikahi seorang gadis pun selainnya. Ia adalah istri beliau yang paling utama dan yang paling beliau cintai setelah Khadijah.[197]

Keempat: Ḥafṣah binti Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-. Rasulullah ﷺ menikahinya pada tahun ketiga Hijriah. Beliau adalah seorang wanita yang rajin berpuasa dan salat malam. Disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah menceraikannya dengan satu talak, lalu Jibril -'alaihissalām- datang kepadanya dan berkata, "Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk merujuk Ḥafṣah, karena sesungguhnya dia adalah wanita yang rajin berpuasa dan salat malam, serta dia adalah istrimu di surga."[198]

Kelima: Zainab binti Khuzaimah (Ummul-Masākīn) -raḍiyallāhu 'anhā- . Ia dijuluki demikian karena ia biasa memberi makan dan bersedekah kepada mereka. Ia tinggal bersama Rasulullah ﷺ selama dua atau tiga bulan, kemudian wafat pada tahun keempat Hijriah.

Keenam: Ummu Salamah Hindun binti Umayyah -raḍiyallāhu 'anhā-. Beliau adalah wanita tercantik dan paling mulia nasabnya. Beliau wafat pada tahun 61 H.

Ketujuh: Zainab binti Jaḥsy -raḍiyallāhu 'anhā-. Rasulullah menikahinya setelah diceraikan oleh suaminya yang merupakan mantan budak beliau, Zaid bin Ḥāriṡah. Ia termasuk pemuka kaum wanita dalam hal agama, sifat warak, kedermawanan, dan kebaikan. Ia membanggakan dirinya di hadapan istri-istri Rasulullah ﷺ yang lain bahwa Allah menikahkannya dari atas tujuh lapis langit.

Kedelapan: Juwairiyah binti al-Hāriṡ -raḍiyallāhu 'anhā-. Ia menjadi tawanan setelah Perang Bani al-Muṣṭaliq, lalu Rasulullah ﷺ memerdekakannya dan menikahinya. Karena pernikahan Nabi ﷺ dengannya, kaum muslimin membebaskan seratus orang budak Bani al-Muṣṭaliq. Mereka berkata, “Karena mereka adalah para ipar Rasulullah ﷺ.” Hal itu merupakan salah satu keberkahannya bagi kaumnya.

Kesembilan: Ummu Ḥabībah Ramlah binti Abi Sufyān -raḍiyallāhu 'anhumā-. Ia berpegang teguh pada agamanya setelah suaminya, Ubaidullah bin Jaḥsy, murtad, lalu Allah menggantikannya dengan manusia terbaik dan paling utama. Ia adalah istri Nabi ﷺ yang paling dekat nasabnya dengan beliau, dan yang paling besar maharnya. Rasulullah ﷺ menikahinya ketika ia berada di Habasyah.

Kesepuluh: Ṣafiyyah binti Ḥuyay bin Akhṭab -raḍiyallāhu 'anhā-. Rasulullah ﷺ memerdekakannya setelah Perang Khaibar dan menikahinya. Beliau adalah salah seorang wanita terkemuka dalam hal ibadah, sifat warak, zuhud, kebaikan, dan sedekah. Beliau memiliki nasab yang mulia, kecantikan, dan ketaatan beragama. Semoga Allah meridai mereka dan meridainya.

Kesebelas: Maimūnah binti al-Ḥāriṡ -raḍiyallāhu 'anhā-. Ia adalah istri terakhir Rasulullah ﷺ, dan beliau menamainya Maimūnah. Ia adalah seorang wanita yang bertakwa dan gemar menyambung silaturahmi. [195] HR. Muslim (No. 2435), Kitāb Faḍā`il aṣ-Ṣaḥābah, Bab Keutamaan Khadijah Ummul Mukminin.

Kedua belas dan Ketiga belas: Asmā` binti an-Nu'mān al-Kindiyyah dan 'Amrah binti Yazid al-Kilābiyyah. [196] HR. Bukhari, Kitāb an-Nikāḥ (No. 5212); dan Muslim, Kitāb al-Ijtimāʿ (No. 1463).

Rasulullah ﷺ mengembalikan keduanya sebelum menggauli mereka berdua. [197] HR. Bukhari (2384), Kitāb Faḍā`il Aṣḥābin-Nabiy ﷺ, Bāb: Min Faḍā`il Abī Bakr aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu 'anhu.

2- Kewajiban Kita Terhadap Para Istri Rasulullah ﷺ [198] HR. Aṭ-Ṭabarāniy (No. 18828) dan al-Ḥākim dalam al-Mustadrak.

Kewajiban kita terhadap para istri Nabi:

Pertama: Kewajiban Hati

- Menghilangkan sikap meremehkan mereka

- Memunculkan: 1. Cinta dan penghormatan pada mereka. 2. Meyakini mereka adalah istri-istrinya di dunia dan akhirat

Kedua: Kewajiban Lisan

- Tidak mencela mereka, terutama Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-.

- Memberi sanjungan: 1. Kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan mereka 2. Keyakinan yang benar

- Meyakini bahwa mereka adalah Ummahātul-Mu`minīn (ibunda kaum mukminin), sehingga mereka berhak dihormati dan dimuliakan, serta haram dinikahi sebagaimana seorang ibu. Akan tetapi, mereka diwajibkan berhijab, berbeda dengan para ibu kandung. Keharaman tersebut tidak meluas kepada putri-putri dan saudari-saudari mereka.

- Meyakini bahwa mereka adalah istri-istri beliau di dunia dan di akhirat.

- Meyakini kesucian Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- dari tuduhan yang dialamatkan kepadanya, dan bahwa orang yang menuduhnya setelah turunnya pembebasan untuknya dari langit adalah kafir tanpa adanya ikhtilaf, karena ia telah mendustakan Al-Qur`an.

- Waspada agar tidak merendahkan kedudukan dan keutamaan mereka, serta menyakiti mereka, karena hal itu menyakiti Rasulullah ﷺ.

Keempat: Karamah

Di dalam topik ini terdapat beberapa pembahasan:

1. Definisi karamah

2. Jenis-jenis karamah

1. Definisi Karamah

Karamah adalah kejadian luar biasa yang Allah munculkan lewat para wali.[199]

Adapun apa yang Allah tunjukkan melalui tangan para nabi, maka dinamakan mukjizat dan ayat.

Karamah para wali adalah bagian dari mukjizat para nabi, karena para wali itu tidaklah dimuliakan oleh Allah dengan karamah-karamah tersebut, kecuali karena mereka mengikuti nabi-nabi mereka.

2. Jenis-Jenis Karamah

Karamah ini ada beberapa macam:

Di antaranya ada yang berkaitan dengan ilmu dan kasyaf, maka ia mendengar apa yang tidak didengar oleh selainnya, atau melihat apa yang tidak dilihat oleh selainnya. Contohnya: penglihatan Umar terhadap Sāriyah di Nahawand di timur dan seruannya kepadanya, sementara beliau berada di atas mimbar Madinah, dan Sāriyah mendengar arahannya sehingga selamat dari tipu daya musuh.[200]

Di antaranya ada yang berkaitan dengan kemampuan dan pengaruh. Contohnya: kebinasaan musuhnya tanpa campur tangan darinya, tunduknya jiwa-jiwa kepadanya, dan kecintaan mereka terhadapnya. Misalnya kisah Safīnah, mantan budak Rasulullah ﷺ, bersama singa,[201] dan kisah Abu Muslim al-Khaulāniy –raḥimahullāh– bersama Abul-Aswad al-'Ansiy.[202]

Kelima: Ahli Sunnah Waljamaah

Di dalam topik ini terdapat beberapa pembahasan:

1- Definisi Ahli Sunnah Waljamaah

2- Sifat-sifat Ahli Sunnah Waljamaah yang paling menonjol [199] Lihat: Tafsīr al-Qurṭubiy (1/69)

3- Timbangan Ahli Sunnah Waljamaah.

4- Akhlak Ahli Sunnah Waljamaah

5- Perbandingan sifat-sifat utama antara Ahli Sunnah Waljamaah dan ahli bidah.

1. Siapakah Ahli Sunnah Waljamaah?

Pembahasan ini telah dibahas sebelumnya, namun di sini kami akan meringkas perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -raḥimahullāh-. [200] HR. Al-Baihaqiy dalam al-I'tiqād wal-Hidāyah ilā Sabīl ar-Rasyād, Bab Tentang Karamah Para Wali (Hal. 381).

Mereka adalah penganut Islam yang murni dan bersih dari segala kotoran. [201] Lihat: Al-Bidāyah wan-Nihāyah karya Ibnu Kaṡīr (8/263). [202] Lihat: Majmū' al-Fatāwā (11/279).

Merekalah kelompok yang selamat, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Umatku akan terpecah belah......” [203]

Mereka adalah kelompok yang ditolong. Ini berdasarkan hadis Nabi ﷺ: "Akan selalu ada sekelompok orang.... "[204]

Di antara mereka ada aṣ-ṣiddīqūn, yaitu orang-orang yang benar lagi jujur dalam keyakinan, ucapan, dan perbuatan mereka, serta orang-orang yang membenarkan surga.

Di antara mereka ada syuhada, yaitu orang-orang yang gugur di jalan Allah.

Di antara mereka ada orang-orang yang saleh, yaitu mereka yang hati dan anggota tubuhnya menjadi baik dengan amal-amal saleh yang mereka kerjakan.

Di antara mereka ada abdāl, yaitu mereka yang saling menggantikan satu sama lain dalam menolong dan membela agama. Setiap kali salah seorang dari mereka wafat, maka yang lain akan menggantikan posisinya.

Sifat-Sifat Ilmiah Ahli Sunnah Waljamaah yang Paling Menonjol

1. Mengedepankan firman Allah di atas perkataan semua manusia.

2. Mendahulukan tuntunan Muhammad ﷺ atas tuntunan siapa pun.

3. Mengikuti jalan generasi pertama yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Ansar, berpegang dengan Sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk, serta mengamalkan apa yang telah disepakati oleh para sahabat yang mulia.

Oleh karena itu, di antara nama-nama mereka adalah Ahli Sunnah Waljamaah. Maka al-jamā'ah adalah persatuan dan berpegang pada ijmak. [203] HR. Tirmizi (no. 2641), Kitāb al-Īmān, Bāb Mā Jā`a fī Iftirāq Hāżihil-Ummah. Tirmizi berkata, "Ḥasan garīb." Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam as-Silsilah aṣ-Ṣaḥīḥah (No. 203, 204).

Timbangan Ahli Sunnah Waljamaah dalam Menilai Perkataan dan Perbuatan [204] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari (No. 71), Kitābu al-’Ilmi, Bāb: Man yuridillāhu bihi khayran yufaqqih-hu fīd-dīn, dan Muslim (No. 157), Kitāb al-Īmān, Bāb: Nuzūli ‘Īsā.

1. Kitabullah

2. Sunnah

3. Ijmak yang sesuai kaidah: yaitu apa yang menjadi ketetapan para salaf saleh.

Jadi, perkataan dan perbuatan manusia yang batin dan lahir yang berkaitan dengan agama ditimbang dengan neraca ini. Apa yang sesuai dengannya adalah kebenaran dan apa yang menyalahinya adalah kebatilan.

Beberapa Akhlak Ahli Sunnah Waljamaah

1- Amar makruf dan nahi mungkar harus sesuai dengan yang diwajibkan syariat. Di antaranya adalah harus dengan ilmu, sabar, dan hikmah.

2- Memelihara jamaah kaum muslimin dengan mendengar dan taat kepada para pemimpin kaum muslimin, baik mereka saleh maupun fajir, selama mereka tidak memerintahkan kemaksiatan kepada Allah. Juga menegakkan haji, jihad, salat Jumat, dan hari raya bersama mereka, serta menunaikan nasihat kepada para penguasa dan nasihat kepada umat.

3- Menyebarkan cinta dan keakraban di antara kaum muslimin, sebagai bentuk pengamalan sabda beliau ﷺ, "Orang beriman terhadap orang beriman lainnya bagaikan satu bangunan, mereka satu sama lain saling menguatkan."[205] Lalu beliau ﷺ menyilangkan jari-jemarinya. Juga sabda beliau, "Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi laksana satu tubuh."[206]

4- Memerintahkan untuk bersabar atas cobaan, bersyukur ketika kondisi lapang, dan rida dengan pahitnya takdir-Nya.

5- Memperhatikan dakwah kepada akhlak-akhlak mulia dan perbuatan-perbuatan terpuji. Mereka juga meyakini bahwa terdapat keterkaitan antara kebenaran akidah dan akhlak yang baik, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi ﷺ, "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya."[207]

Oleh karena itu, di antara dakwah mereka adalah ajakan untuk menyambung silaturahmi, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada tetangga, berbuat baik kepada anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil, serta berlemah lembut kepada para pekerja dan pelayan.

Di antara seruan mereka adalah larangan melakukan akhlak buruk, seperti kesombongan, keangkuhan, perbuatan zalim, dan kezaliman.

5- Perbandingan antara Ciri Paling Menonjol Ahli Sunnah Waljamaah dan Ahli Bidah

Aspek perbandingan: Sikap terhadap dalil-dalil agama.

Ahli Sunnah Waljamaah: Pengagungan dan penyerahan diri.

Ahli Bidah dan Kesesatan: Peremehan, penolakan, dan pengubahan maknanya.

Aspek perbandingan: Faktor penyebab

Ahli Sunnah Waljamaah: [205] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari (No. 481), Kitāb aṣ-Ṣalāh, Bāb Tasybīk al-Aṣābi' fil-Masjid wa Gairih, dan Muslim (No. 2585), Kitāb al-Yusr, Bāb Tarāḥum al-Mu`minīn. Redaksinya milik Muslim. [206] Muttafaq 'alaih. HR. Bukhari (No. 6011), Kitāb al-Adab, Bāb Raḥmatin-Nās wal-Bahā`im, dan Muslim (No. 2586), Kitāb al-Yusr, Bāb Tarāḥum al-Mu`minīn.

Firman Allah Ta'ala, "Tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata." [QS. Al-Aḥzāb: 36]

Firman Allah Ta'ala, "Ucapan orang-orang mukmin apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, 'Kami mendengar, dan kami taat.' Mereka itulah orang-orang yang beruntung." [QS. An-Nūr: 51] [207] HR. Tirmizi (No. 1162) dalam al-Jāmi', Kitāb ar-Raḍā', Bāb Mā Jā`a fī Ḥaqqil-Mar`ah 'alā Zaujihā. Abu Isa berkata, "Hadis ini hasan sahih". Abu Daud (No. 4682) dalam as-Sunan, Kitāb as-Sunnah, Bāb ad-Dalīl 'alā Ziyādatil-Īmān. Dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi' (No. 1230).

Firman Allah Ta'ala, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-Ḥujurāt: 1]

Firman Allah Ta'ala, "Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." [QS. An-Nisā`: 65]

Ahli bidah dan kesesatan:

Menyelisihi prinsip-prinsip rasional mereka. Contoh: sekte-sekte ahli kalam.

Menyelisihi pokok-pokok ajaran kasyaf mereka. Contoh: sekte-sekte sufi.

Menyelisihi prinsip-prinsip filosofis mereka. Contoh: sekte-sekte kebatinan.

Aspek perbandingan: Kumpulan dalil-dalil syariat

Ahli Sunnah Waljamaah: Mengamalkan keseluruhannya.

Ahli bidah dan Kesesatan: Beramal dengan sebagian dalil dan meninggalkan sebagian lainnya.

Bidang perbandingan: Faktor penyebab

Ahli Sunnah Waljamaah:

Abdullah bin 'Amr bin al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tenanglah wahai kaumku! Karena hal inilah umat-umat sebelum kalian binasa, yaitu karena perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka dan karena mereka membenturkan kitab-kitab Allah satu sama lain. Sesungguhnya Al-Qur`an tidak turun dalam keadaan sebagiannya mendustakan sebagian yang lain, melainkan saling membenarkan satu sama lain. Sebab itu, apa yang kalian ketahui darinya maka amalkanlah, dan apa yang tidak kalian ketahui darinya maka kembalikanlah kepada ahlinya." [HR. Ahmad; disahihkan oleh al-Arnā`ūṭ]

Ahli bidah dan kesesatan:

Karena sesuai dengan bidah mereka: 1- AQadariyah dan Jabriyah 2- Khawārij dan Murjiah

Aspek perbandingan: Muḥkam (nas yang jelas) dan mutasyābih (nas yang samar) dalam dalil-dalil syariat

Ahli Sunnah Waljamaah: Menafsirkan nas-nas mutasyābih berdasarkan nas-nas muḥkam

Ahli bidah dan kesesatan: Menafsirkan nas-nas muḥkam berdasarkan nas-nas mutasyābih

Aspek perbandingan: Faktor Penyebab

Ahli Sunnah Waljamaah:

Firman Allah Ta'ala, "Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muḥkamāt, itulah pokok-pokok kitab (Al-Qur`an), dan yang lain mutasyābihāt. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyābihāt untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Adapun orang-orang yang ilmunya mendalam, mereka berkata, 'Kami beriman kepadanya (Al-Qur`an), semuanya dari sisi Tuhan kami.' Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal." [QS. Āli 'Imrān: 7]

Ahli bidah dan kesesatan:

Karena sesuai dengan bidah mereka: 1- Murji'ah 2- Sufiyah

Aspek perbandingan: Akal dan nas-nas syariat

Ahli Sunnah Waljamaah: Berpegang teguh dengan nas-nas syariat.

Ahli bidah dan kesesatan: Berpegang pada logika dan hawa nafsu

Aspek perbandingan: Faktor penyebab

Ahli Sunnah Waljamaah:

Firman Allah Ta'ala, "Dengannya (kitab itu), Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, Dia mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan Dia menunjukkan mereka ke jalan yang lurus." [QS. Al-Mā`idah: 16]

Firman Allah Ta'ala: "Pada hari ini, telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu." [QS. Al-Mā`idah: 3]

Firman Allah Ta'ala: "Kami turunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim)." [QS. An-Naḥl: 89]

Zaid bin Arqam -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Amabakdu. Ketahuilah, wahai sekalian manusia! Aku hanyalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Tuhanku (malaikat maut) akan datang dan aku harus memperkenankannya. Aku tinggalkan untuk kalian aṡ-ṡaqalain (dua hal yang berat). Pertama, Kitābullāh (Al-Qur`an) yang di dalamnya terkandung petunjuk dan cahaya. Sebab itu, ambillah Kitab Allah dan berpegang teguhlah kepadanya!" [HR. Muslim]

Ahli bidah dan kesesatan: Karena sesuai dengan bidah-bidah mereka