مختصر نظـرات حول اضطرابات النفس وعلاجها من منظور شرعي
TINJAUAN RINGKAS SEPUTAR GANGGUAN JIWA DAN PENGOBATANNYA DARI SUDUT PANDANG ISLAM
TINJAUAN RINGKAS SEPUTAR GANGGUAN JIWA DAN PENGOBATANNYA DARI SUDUT PANDANG ISLAM
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Mukadimah
Segala puji hanya milik Allah dan semoga selawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah. Amabakdu:
Saya merasa bahagia karena bisa menyajikan kepada pembaca beberapa tinjauan seputar penyakit 'ain, sihir, kesurupan jin, dan gangguan jiwa, juga gejala dan penyakit-penyakit yang ditimbulkannya berikut pengobatannya dari sudut pandang agama. Tinjauan ini berdasarkan berbagai pengalaman, kesaksian, dan praktik nyata di bidang profesi saya di RS Jiwa Iradah di Kota Riyad dan juga berbagai pengalaman di luar rumah sakit.
Dalam hadis Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- disebutkan: "Berita itu tidak seperti melihat langsung."[1]
[1] HR. Imam Ahmad dalam Al-Musnad (3/341); para perawinya ṡiqah dan merupakan perawi Bukhari dan Muslim.
Buku sederhana ini berisi beberapa pandangan yang bertujuan menghentikan dualisme sikap pasien dalam memandang peruqyah dan psikiater.
Di samping itu, buku ini memprakarsai langkah pengobatan yang terbatas pada sebagian kisah dan uji coba seputar persoalan-persoalan yang mencerminkan realita kekinian di sela-sela pekerjaan saya di bidang ini selama rentang waktu antara tahun 1419 H hingga tahun 1442 H.
Di mukadimah buku ini saya tidak lupa untuk menghaturkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pemerintah negeri kita -semoga Allah menjaga mereka- atas berbagai usaha penuh berkah yang mereka kerahkan untuk pelayanan orang-orang yang sakit.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Yang Mulia Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdul Aziz Alu Su'ud -ḥafiẓahullāh-, Gubernur Propinsi Riyad, yang telah menghiasi isi buku saya dengan telegram terima kasih. Semoga Allah menganugerahkan beliau ganjaran yang terbaik.
Saya juga tak henti-hentinya mengucapan terima kasih dan doa untuk semua pihak yang telah mendukung saya secara tertulis -dalam bentuk rekomendasi dan lainnya berupa kata terima kasih dan kata pengantar[2]-, maupun secara lisan berupa ide dan saran atau kritik terarah dan membangun.
[2] Lihat: hal. 136.
Alhamdulillah, ketika buku ini cukup mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak yang kompeten, serta diterima oleh sebagian ulama dengan karunia dan taufik dari Allah -'Azza wa Jalla-,
saya berpikir untuk menulis versi ringkasnya agar lebih mudah beredar serta siap diterjemahkan ke berbagai bahasa. Sebab itu, saya pun memohon pertolongan kepada Allah -'Azza wa Jalla- untuk meringkasnya semampunya.
Namun, siapa yang ingin membaca dengan pembahasan yang lebih rinci dan luas, silakan merujuk ke buku aslinya pada link: https://bit.ly3b9dl16
Demikian pula para pembaca yang memiliki tambahan ilmu berupa saran dan kritikan, kami sangat berterima kasih supaya bermurah hati untuk menyampaikannya kepada kami.
Penulis: Muhammad bin Zaid al-Kaṡīriy
( Pembina Spiritual RS Jiwa Iradah - Kota Riyad )
20 / 10 / 1442 H
E-mail: [email protected]
WA: 00966534020030
Twitter: @alkathirimoh
Akun YT: https://www.youtube.com/channel/UC3Wx48Z1FTyK6AmjWtWfNhA 1- Tinjauan Seputar Dokter Profesional Di antara hikmah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang besar ialah Dia membuat adanya berbagai perbedaan di antara makhluk serta profesi mereka dalam kehidupan ini. Namun, masing-masing mereka dimudahkan melakukan hal yang ditetapkan baginya. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Sungguh, usahamu memang beraneka macam."
Allah -Ta'ālā- juga berfirman,
"Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki."
[3] QS. Al-Lail: 4
[4] QS. Al-Qaṣaṣ: 68
Di waktu yang sama, kedokteran adalah profesi mulia sekaligus berisiko karena berkaitan dengan kehidupan dan kesehatan manusia. Kedokteran tidak seperti profesi lainnya, karena kesalahan di dalamnya demikian fatal dan pertanggungjawabannya lumayan besar.
Oleh karena itu, ketika Imam Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- membahas tentang kedokteran berikut kemuliaannya serta jenis-jenis dan persoalan-persoalannya yang harus diperhatikan oleh seorang dokter dalam profesinya, beliau menyebutkan berbagai kriteria dokter yang profesional hingga mencapai 20 kriteria.
Beliau berkata, Dokter yang profesional adalah yang memperhatikan 20 perkara dalam tindakan pengobatannya:
Pertama: menganalisa jenis penyakit; apa kategori penyakit tersebut?
Kedua: menganalisa penyebabnya; dari mana asal muasal munculnya? Apa penyebab aktif timbulnya penyakit tersebut?
Ketiga: menganalisa kekuatan orang yang sakit; apakah kekuatan yang dimilikinya mampu melawan penyakit atau lebih lemah? Apabila kekuatannya mampu melawan penyakit dan mengalahkannya, maka dia membiarkannya melawan sendiri penyakit tersebut dan tidak perlu menggunakan obat.
Keempat: mengetahui kondisi alami badan orang sakit.
Kelima: mengetahui kondisi aneh pada badan yang tak sesuai dengan kondisi normalnya.
Keenam: mengetahui usia orang yang sakit.
Ketujuh: mengetahui kebiasaannya.
Kedelapan: mengetahui musim yang sedang berjalan dan kondisi yang sesuai dengannya.
Kesembilan: mengetahui negeri orang yang sakit dan tanahnya.
Kesepuluh: mengetahui kondisi udara di waktu sakit.
Kesebelas: menganalisa obat penangkal penyakit tersebut.
Kedua belas: menganalisa kekuatan dan level obat serta mengkomparasikannya dengan kekuatan orang yang sakit. Ketiga belas: tidak menjadikan seluruh tujuannya menghilangkan penyakit itu saja, tetapi hendaknya menghilangkan penyakit itu pada taraf adanya jaminan aman dari munculnya penyakit yang lebih besar. Jika menghilangkannya tidak disertai jaminan tidak akan muncul penyakit lain yang lebih berbahaya, maka penyakit tersebut dibiarkan apa adanya, sembari tetap wajib menjinakkannya. Misalnya: penyakit lingual varices, kalau diobati dengan cara dipotong dan ditutup, dikhawatirkan akan muncul kondisi yang lebih berbahaya.
Keempat belas: melakukan pengobatan secara bertahap dimulai dari yang paling mudah. Ia tidak berpindah dari pengobatan dengan pemberian asupan makanan kepada pemberian obat kecuali ketika hal itu tidak memungkinkan. Ia juga tidak berpindah kepada obat racikan kecuali ketika tidak memungkinkan menggunakan obat standar. Salah satu yang menunjukkan keprofesionalan dokter ialah ketika dia melakukan pengobatan dengan asupan gizi sebagai ganti obat-obatan dan menggunakan obat-obatan standar sebagai ganti obat-obat racikan.
Kelima belas: menganalisa penyakit, apakah penyakit itu bisa diobati atau tidak? Jika tidak mungkin diobati, hendaknya dia menjaga profesi dan kehormatannya dengan tidak terbawa keserakahan untuk melakukan pengobatan yang tidak berguna sedikit pun[5]. [5] Sungguh, ini nasihat tulus yang sangat luar biasa! Adakah dokter yang menyadarinya?!
Jika masih mungkin diobati, agar dilihat lagi; apakah bisa dihilangkan atau tidak? Jika dia tahu penyakit itu tidak bisa hilang, dia lihat lagi; apakah bisa diminimalisir atau tidak?
Jika tidak mungkin diminimalisir dan dia melihat maksimal yang bisa dilakukan ialah menghentikannya supaya tidak bertambah, maka pengobatan dilakukan untuk tujuan itu serta dia membantu kekuatan pasien dan melemahkan jenis penyakitnya.
Keenam belas: hendaknya tidak mengambil tindakan keliru dengan mengeluarkannya sebelum ia matang, melainkan targetnya ialah mematangkannya, kemudian segera mengeluarkannya jika telah matang.
Ketujuh belas: hendaknya dia memiliki pengetahuan tentang penyakit hati dan jiwa serta obatnya. Ini adalah prinsip besar di dalam pengobatan badan, karena reaksi dan kenormalan fisik bersumber dari jiwa dan hati adalah perkara yang sudah terbukti[6]. Ketika seorang dokter memahami penyakit hati dan jiwa berikut pengobatannya, maka dialah dokter yang sempurna. Sedangkan yang tidak memiliki pengetahuan tentang itu, walaupun dia pintar dalam mengobati penyakit badan, adalah setengah dokter.
Setiap dokter yang tidak mengobati orang sakit dengan memeriksa kesehatan hatinya serta menguatkan jiwanya dengan sedekah, mengerjakan kebaikan, berbuat baik, serta kembali kepada Allah dan negeri akhirat, bukanlah seorang dokter hakiki, melainkan dokter yang belum matang. Di antara tindakan mengobati penyakit yang paling besar ialah mengerjakan kebaikan, berbuat baik, zikir, dan doa[7], merendahkan diri (dalam memohon kesembuhan) kepada Allah, dan tobat. Perkara-perkara ini lebih efektif mengobati penyakit dan memberikan kesembuhan daripada obat-obatan alami, tetapi harus sesuai dengan tingkat kesiapan jiwa dan penerimaannya serta keyakinannya tentang hal tersebut dan manfaatnya.
[6] Akan ada pembahasan tentang korelasi jiwa dengan tubuh ketika mendefinisikan gangguan psikosomotik di hal. 13.
[7] Saya menyebutkan sebagiannya di dalam pembahasan "Pengaruh Doa", akan ada di hal. 123.
Kedelapan belas: bersikap lembut kepada orang yang sakit seperti sikap lembut kepada anak kecil.
Kesembilan belas: menggunakan aneka macam pengobatan alami dan ilahi serta pengobatan dengan takhyīl (memainkan pikiran)[8]. Dokter-dokter yang pintar memainkan pikiran memiliki berbagai efek luar biasa yang tidak diberikan oleh obat-obatan. Dokter yang pintar akan menggunakan semua cara untuk mengobati penyakit.
[8] Pengobatan menggunakan takhyīl akan dibahas di hal. 51.
Kedua puluh (yang merupakan kunci profesi dokter): hendaknya menjadikan pengobatan dan pengaturannya terpusat pada 6 pilar: 1- menjaga kesehatan yang ada; 2- mengembalikan kesehatan yang hilang sesuai kemampuan; 3- menghilangkan penyakit; 4- sebisa mungkin meminimalisir penyakit; 5- mengambil risiko yang lebih rendah untuk menghilangkan risiko yang lebih besar; 6- mengorbankan maslahat yang lebih kecil untuk mewujudkan maslahat yang lebih besar. Pada enam pilar inilah pengobatan berporos. Setiap dokter yang tidak menjadikan ini sebagai karakternya[9], bukanlah dokter sebenarnya. Wallāhu a'lam.[10]
[9] Ukhayyah ialah karakter dan kebiasaan dalam tindakan pengobatan. [10] Aṭ-Ṭibb an-Nabawiy karya Ibnul-Qayyim, Dār al-Hilāl, Beirut (Hal. 106 dengan penyesuaian).
2- Tinjauan Seputar Kepercayaan pada Dokter
Kepercayaan pasien kepada dokter sangat diperlukan dan tidak kalah urgennya dari tindakan-tindakan pengobatan lainnya. Kepercayaan ini bertumpu pada sejumlah faktor:
Di antaranya ialah terkait hubungan pengobatan dan profesionalisme (saling memahami, menerima, dan menghargai) antara dokter dan pasien.
Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair: Sungguh guru dan dokter itu, keduanya
tidak akan menasihati jika tidak dihormati
Bersabarlah terhadap penyakitmu jika kau hinakan dokternya
dan bersabarlah terhadap kebodohanmu jika kau tidak menghargai guru[11]
[11] Saya tidak menemukan siapa pemilik bait-bait syair ini, namun sebagian penulis menisbahkannya kepada Abul-'Alā` al-Ma'arriy. Di antara faktornya juga ialah kapabilitas seorang dokter dan pengalamannya, termasuk kemasyhuran dan ketenarannya di masyarakat. Sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-:
"Siapa yang melakukan praktik pengobatan sementara dia tidak dikenal sebagai ahlinya, maka dia wajib membayar ganti rugi (jika terjadi malpraktik)."[12]
[12] HR. Abu Daud (no. 4578) dan Nasai (no. 4748); redaksi ini milik Nasai.
Abu 'Ubaid berkata, "Makna asal kata "aṭ-ṭibb" ialah mahir dan terampil. Dikatakan: seseorang ṭibb atau ṭabīb jika dia mahir, walaupun kemahirannya bukan pada mengobati orang sakit. Ada juga yang menyatakan bahwa makna "seorang ṭabīb" ialah orang cerdas. Dia disebut ṭabīb karena kepintaran dan kecerdasannya. 'Alqamah berkata,
'Jika kalian menanyaiku tentang perempuan, sungguh aku sangat mengerti tentang penyakit perempuan.
Jika kepala seorang laki-laki telah beruban atau hartanya berkurang, tidak ada lagi baginya cinta mereka'[13]".
[13] Aṭ-Ṭibb an-Nabawiy (hal. 97).
Sisi pendalilan hal tersebut ialah penggalan sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-:
"Sementara dia tidak dikenal sebagai ahlinya (pengobatan)".
Jika ia dikenal sebagai ahli kedokteran serta masyhur dengan itu, maka dia tidak berkewajiban memberi ganti rugi bila terjadi malpraktik, kecuali jika dia sengaja berbuat zalim dan melakukan kelalaian yang mengakibatkan kecelakaan pada pasien. Pada kondisi seperti ini seorang dokter harus menjamin hak pasien, sebagaimana hal ini sudah makruf di dalam buku-buku fikih.
Karena pentingnya kemasyhuran dan kepopuleran ini, kita saksikan pada umumnya sebagian dokter atau terapis berlomba-lomba menggunakan media informasi untuk menyajikan acara-acara kesehatan dan berusaha penuh untuk memajang papan reklame dan baliho di tempat-tempat praktik mereka yang memuat kualifikasi akademik mereka, sertifikat penghargaan mereka, dan semacamnya.
Demikian juga curriculum vitae yang dimunculkan di cover luar buku mereka untuk mendapatkan kepercayaan pasien, serta menempel rekomendasi dan piagam penghargaan yang mereka raih adalah iklan gaya baru di kebanyakan klinik medis dan bidang profesi lainnya; masing-masing sesuai dengan karakter dan profesinya.
Di dalam Sunan-nya, Abu Daud meriwayatkan hadis Mujahid dari Sa'ad, dia berkata, "Aku pernah sakit. Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang menjengukku. Ia kemudian meletakkan tangannya di dadaku sehingga aku merasakan dingin tangannya di hatiku. Beliau berpesan kepadaku,
'Kamu memiliki penyakit jantung. Pergilah ke al-Ḥāriṡ bin Kaladah dari kabilah Ṡaqīf karena dia mahir dalam pengobatan; supaya dia mengambil 7 biji kurma ajwa Madinah lalu ditumbuk bersama bijinya kemudian diminumkan kepadamu.'"[14]
[14] HR. Abu Daud (no. 3875).
Al-Maf`ūd: orang yang mengalami sakit dan keluhan di jantung. Sama seperti kata "al-Mabṭūn" yaitu orang yang mengalami keluhan di perut.
Sedangkan "al-Ladūd" ialah cairan yang diminumkan kepada seseorang dari arah salah satu sisi mulut.[15]
[15] Aṭ-Ṭibb an-Nabawiy (hal. 69-71).
3- Tinjauan Seputar Diagnosis Penyakit
Deteksi dini penyakit pasien sangat penting karena akan memberikan hasil positif dalam menentukan nasibnya pada alur yang tepat dan mengantisipasi munculnya penyakit-penyakit jiwa yang kronis.
Tetapi, realitas praktik psikiatri saat ini dalam diagnosisnya didasarkan pada petunjuk diagnosis dan statistik, tanpa memuat pemeriksaan laboratorium yang biasanya hanya menjadi acuan seorang psikiater untuk mendeteksi keselamatan pasien penyakit jiwa dari kelainan organ apa pun secara medis.
Sebagai contoh, dokter penyakit dalam akan mengacu pada perangkat kamera untuk mendeteksi infeksi empedu pada pasien. Sedangkan dokter jiwa tidak memiliki perangkat atau media fisik apa pun seperti stetoskop yang bisa dijadikan acuan untuk memeriksa penyakit psikologi serta menentukan keluhan pasien, baik berupa gangguan mental seperti skizofrenia, gangguan saraf seperti kegelisahan atau fobia, gangguan emosional seperti mania, depresi, dan bipolar, ataupun gangguan psikosomatik[16].
[16] Pada masa kini, menurut klasifikasi internasional, psikosomatik ini dinamakan sebagai gangguan emosional dan perilaku sekunder yang menyertai gangguan psikologi karena kata psikosomatik berarti dualitas tubuh dan jiwa disebabkan karena jiwa adalah bagian dari tubuh dan otak sehingga tidak bisa dipisahkan. (Aṭ-Ṭibb an-Nafsiy al-Mu'āṣir, Dr. Ahmad Ukasyah, hal. 537) Psikiater saat ini dalam diagnosisnya mengacu pada panduan diagnosis gangguan mental dengan klasifikasi gangguan jiwa tertentu menurut referensi normatif untuk praktik klinis di bidang kesehatan akal sesuai standar internasional[17].
[17] Lihat: metode diagnosa, hal. 46.
Psikoterapi Penafsiran kata psikoterapi bervariasi sesuai dengan aliran medis yang diikuti oleh seorang psikoterapis. Tetapi, semua sepakat pada makna umum bahwa tujuan utamanya adalah untuk menenteramkan pikiran dan emosi pasien, menemukan sumber gangguan mental dan stres, dan mencoba adaptasi pasien bersama masyarakat dalam batas kemampuan pribadinya, sambil membangun respons emosional antara terapis dan pasien serta menggunakannya dalam rangka kesembuhannya.
Para dokter memiliki metode yang berbeda untuk mencapai tujuan ini. Masing-masing mengikuti aliran medisnya sendiri dan percaya bahwa itu adalah cara terbaik untuk menghilangkan gangguan mental dan mengubah kepribadian pasien. Bahkan, masing-masing memberikan bukti bahwa hanya teorinya yang umum berlaku dalam psikoterapi. Bisa saja setiap terapis jujur dalam kata-katanya tentang teorinya karena keyakinannya pada teorinya akan membawa pengaruh positif dan sugesti kepada pasien. Oleh karena itu, saya yakin bahwa keberhasilan psikoterapi tergantung pada kepribadian terapis dan sejauh mana keyakinannya pada metode pengobatannya, lebih dari sekadar mengandalkan isi teori itu sendiri dan perbedaannya dengan teori lain[18]. [19] Aṭ-Ṭibb an-nasfsiy al-Mu'āṣir, Dr. Ahmad Ukāsyah (hal. 222), Maktabah al-Anglo al-Miṣriyyah, 1998 M.
Demikian halnya peruqyah, dia tidak bisa mendiagnosis pasien yang terpapar gangguan jin, sihir, ataupun penyakit 'ain dengan sekadar rasa yakin. Tetapi, diagnosisnya mesti didasarkan pada upaya dan uji coba yang bertumpu pada indikator-indikator yang dibangun di atas pengalaman personal yang tampak pada pasien saat dia dipengaruhi oleh ruqyah yang sesuai syariat. Dari hal inilah peruqyah menerbitkan diagnosis yang didasari oleh dugaan kuat.
Hasil diagnosis ini akan berbeda antara satu peruqyah dengan yang lainnya berdasarkan pengalaman dan kemampuan meramunya dengan indikator-indikator yang ada, dengan tetap mengharapkan taufik dan bimbingan dari Allah.
Kredibilitas indikator akan berbeda-beda antara satu peruqyah dengan peruqyah yang lain sesuai tingkat kepopuleran masing-masing peruqyah. Kepopuleran[19] -dengan taufik Allah- memiliki andil paling besar pada kedudukan seorang peruqyah di mata kebanyakan pasien gangguan mental. Seorang peruqyah bisa terkenal seketika ketika sebagian orang melihat andilnya dalam menyembuhkan sebagian pasien -dengan izin Allah- dari penyakit jasad setelah dia meruqyahnya. Informasi tersebut pasti langsung tersebar di kalangan orang-orang yang sakit.
[19] Kemasyhuran dan kepopuleran telah dibahas di hal. 11. Ketika itu banyak pasien gangguan mental akan mengikuti arahannya dan meninggalkan peruqyah yang lain!
Meskipun ada kalanya peruqyah tersebut tidak paham tentang persoalan gangguan mental! Faktor kepopuleran juga memainkan peran penting dalam hal tingkat kepercayaan pasien gangguan mental terhadap salah seorang dokter jiwa atas dokter jiwa lainnya sesuai perbedaan kepopuleran antara keduanya.
Ketiadaan praktik diagnosis yang meyakinkan oleh masing-masing peruqyah atau dokter merupakan sebab terpenting yang membedakan pandangan pasien terhadap keduanya. Sebagai contoh:
Pasien penyakit jasad tidak akan salah langkah ketika patah tulang dengan segera pergi ke dokter tulang, tanpa harus menoleh pada dokter yang lain. Ketika dokter tulang memutuskan tindakan operasi atau bidai dengan mengacu pada diagnosis fisik seperti foto rontgen untuk menentukan lokasi patah dan jenisnya, maka pasien akan menerima sepenuhnya tindakan tersebut. Sementara, penerimaan seperti itu tidak akan Anda temukan pada pasien gangguan mental pada saat dia keluar dari psikiater. Bahkan, mungkin Anda akan temukan dia beralih kepada psikiater lain. Setinggi apa pun kualitas ilmu psikiatri, ia mesti berhenti pada batas tertentu yang tidak mungkin dilampaui dalam mendeteksi keluhan pasien berupa gangguan jin, sihir, atau penyakit 'ain. Dari uraian ini, bukan berarti saya menutup mata dari sisi positif ilmu psikiatri yang telah terbukti. Hanya saja, dapat disimpulkan bahwa beberapa diagnosis psikiatri hanya bersifat dugaan semata. Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Tidaklah kalian diberikan ilmu kecuali sedikit."[20] [20] QS. Al-Isrā`: 85
Meskipun demikian, seorang psikiater yang profesional pasti akan sampai pada hasil diagnosis yang positif. Demikian juga seorang peruqyah yang profesional dan tak kenal lelah. Tentu, semua itu atas berkat taufik dari Allah. Betapa banyak pasien yang diberikan kesembuhan oleh Allah -'Azza wa Jalla- lewat penanganan para psikiater. Juga betapa banyak pasien yang diberikan kesembuhan oleh Allah lewat perantaraan para peruqyah. Secara umum, ini semua adalah sarana-sarana yang disyariatkan oleh Allah -'Azza wa Jalla-. Adapun kesembuhan maka datangnya hanya dari sisi Allah. Betapa banyak orang yang sakit disembuhkan oleh Allah tanpa sebab. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam ayat:
"Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku."[21]
[21] QS. Asy-Syu'arā`: 80 Syaikhul-Islām Ibnu Taimiyah -raḥimahullāh- berkata, "Banyak orang sakit atau kebanyakan orang sakit diberikan kesembuhan tanpa berobat, terutama penduduk pedalaman, perkampungan, dan yang tinggal di pelosok. Allah menyembuhkan mereka lewat kekuatan alami yang Allah ciptakan pada tubuh mereka yang dapat mengangkat penyakit. Juga lewat perkara yang Allah mudahkan bagi mereka berupa jenis gerakan dan aktivitas, atau doa yang mustajab, atau ruqyah bermanfaat, atau kekuatan hati, tawakal yang baik, dan banyak lagi sebab-sebab lainnya selain obat."[22] [22] Majmū' al-Fatāwā (21/563). Yang ingin saya sampaikan pada pembahasan tentang diagnosis ini ialah bahwa mau tidak mau saya akan menggunakan istilah-istilah tertentu untuk menguatkan statemen saya. Tujuannya, agar saya tidak dianggap menggeneralisir saat menggunakan ungkapan-ungkapan berikut: saya meyakini, saya kira, saya duga, biasanya, kemungkinan, kadang, barang kali, bisa jadi, yang benar menurut saya, menurut saya. Allāhu a'lam. 4- Tinjauan Seputar Penyakit Hati
Allah -Ta'āla- berfirman, "Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu."[23] [23] QS. Al-Baqarah: 10 Nabi -șallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh akan baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati."[24] [24] HR. Bukhari, Bāb Faḍlu Man Istabra`a li Dīnihī (1/20, no. 52) dan Muslim, Bāb Akhżul-Ḥalāl wa Tarkusy-Syubuhāt (3/1319, no. 107). Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Penyakit hati ialah keadaan hati yang keluar dari kondisi sehat dan lurus. Sehatnya hati ialah bila ia mengenal kebenaran, mencintainya, serta mengedepankannya di atas selainnya. Adapun sakitnya hati maka berupa keraguan pada kebenaran[25] atau mengedepankan kesalahan di atas kebenaran."[26] [25] Maksudnya: hati memiliki keraguan dan ketidakyakinan pada kebenaran.
[26] At-Tafsīr al-Qayyim karya Ibnul-Qayyim (hal. 125). Syaikhul-Islām -raḥimahullāh- berkata,
"Ketika hati seorang laki-laki terikat dengan seorang perempuan, walaupun perempuan itu halal baginya, hatinya tetap akan menjadi tawanannya yang bisa diatur dan diperlakukan sesukanya oleh wanita itu. Secara lahiriah, laki-laki itu adalah pemimpinnya karena merupakan suaminya, tetapi sebenarnya dialah tawanan dan budak wanita itu. Terlebih jika dia mengetahui suaminya cinta mati dan mabuk kepayang kepadanya serta tidak akan memilih wanita lain. Ketika itu, wanita itu akan menguasainya seperti penguasaan pemimpin yang perkasa dan zalim terhadap budak miliknya yang dia kuasai dan tidak bisa melepaskan diri darinya. Bahkan, mungkin lebih dari itu. Ini lantaran tertawannya hati lebih berat daripada tertawannya raga dan penguasaan hati lebih besar dari penguasaan raga."[27] [18] Lihat: Majmū’ al-Fatāwā (10/186).
Syaikhul-Islām -raḥimahullāh- juga berkata,
"Kikir dan hasad adalah penyakit yang melahirkan kebencian jiwa kepada sesuatu yang berguna untuknya, bahkan menyukai sesuatu yang mencelakakannya. Karena itu, hasad digandengkan dengan dendam dan nafsu amarah. Sedangkan penyakit syahwat dan kasmaran adalah kesukaan jiwa kepada sesuatu yang mencelakakannya, kadang disertai oleh kebencian terhadap sesuatu yang berguna baginya. Asmara adalah penyakit mental, jika kuat akan berdampak terhadap badan sehingga bisa berubah menjadi penyakit pada tubuh; bisa berupa penyakit otak seperti melankolia[28], sebab itu, dikatakan ia adalah penyakit waswas yang mirip melankolia, atau berupa penyakit badan seperti lemah, kurus, dan semisalnya. Maksudnya di sini ialah penyakit hati karena penyakit hati adalah sumber kecintaan jiwa kepada sesuatu yang mencelakakannya, seperti penderita obesitas yang menyukai sesuatu yang mencelakakannya; jika dia tidak mengonsumsinya maka dia akan merasakan sakit, tetapi jika dia mengonsumsinya maka penyakitnya akan semakin berat dan bertambah."[29]
[28] Ini adalah istilah psikologi Yunani kuno.
[18] Lihat: Majmū’ al-Fatāwā (10/130).
Mālik bin Dinār -raḥimahullāh- berkata,
"Tidaklah seorang hamba diberikan hukuman yang lebih besar dari kerasnya hati."[30]
[30] Az-Zuhd karya Imam Ahmad (hal. 536).
Umar bin Ṣāliḥ -raḥimahullāh- berkata,
"Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah -yaitu Imam Ahmad raḥimahullāh-, 'Apa yang dapat melembutkan hati?' Beliau memandangiku, kemudian kembali memandangiku, kemudian beliau tertunduk sejenak, lalu berkata, 'Dengan apa?! Dengan memakan yang halal.'"[31]
[31] Ṭabaqāt al-Ḥanābilah (1/219).
5- Tinjauan Seputar Kemuliaan Jiwa
Jiwa manusia adalah unsur yang mengatur badannya. Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Maka dia didorong oleh jiwanya untuk membunuh saudaranya."[32]
Allah -Ta'ālā- juga berfirman,
"Dan demikianlah jiwaku membujukku.”[33]
Sedangkan badan adalah pengikut bagi jiwa[34] dan menjadi sumber kehidupannya. Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai batas yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir."[35]
[32] QS. Al-Mā`idah: 30
[33] QS. Ṭāhā: 96
[34] Abu aṭ-Ṭayyib al-Mutanabbiy menggambarkan jiwa dalam syairnya: Jika jiwa bercita-cita besar, tubuh akan lelah dalam meraihnya.
[35] QS. Az-Zumar: 42
Jiwa adalah salah satu rahasia Allah di dalam ciptaan-Nya. Tidak seorang pun mengetahui hakikatnya. Lantaran keagungannya, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah bersumpah dengannya dalam Al-Qur`ān, padahal Allah tidak akan bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung. Bahkan, Allah menggandengkan penyebutannya bersama makhluk-makhluk-Nya yang besar dalam Surah Asy-Syams. Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari.
Demi bulan apabila mengiringinya.
Demi siang apabila menampakkannya.
Demi malam apabila menutupinya (gelap gulita).
Demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan).
Demi bumi serta penghamparannya.
Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya."[36]
Sebab itu, jiwa adalah makhluk agung yang tersembunyi, yang tidak mungkin dilihat dengan mata telanjang, tetapi kita dapat melihat jejaknya yang menunjukkan keberadaannya. Seluruh dunia medis tidak bisa dan tidak akan bisa mengungkap hakikatnya, semaju apa pun perangkat dan teknologi modern yang digunakannya. Oleh karena itu, kita melihat ketidakmampuan ilmu psikiatri dalam pemeriksaan laboratorium[37] dan lainnya untuk mendeteksi karakter-karakter gaibnya. Jiwa memiliki sifat-sifat yang melekat padanya.[38]
[36] QS. Asy-Syams: 1-7
[37] Lihat hal. 13
[38] Sifat-sifatnya akan dibahas di hal. 106.
Ibnul Qayyim -raḥimahullāh- menggambarkan keadaan orang yang tidur dengan mengatakan,
"Kenikmatan maupun siksaan yang diberikan kepada seseorang di dalam tidurnya berlaku pada ruhnya, sedangkan badan mengikuti. Hal itu bisa menguat hingga meninggalkan efek nyata di badan. Misalnya, orang yang tidur bermimpi dipukul lalu pagi harinya dia melihat bekas pukulan di tubuhnya[39], atau dia bermimpi makan atau minum lalu dia bangun dan mendapatkan bekas makanan dan minuman di mulutnya serta hilang lapar dan dahaganya."[40] [39] Ibnul Qayyim -raḥimahullāh- telah menghilangkan kerancuan yang terjadi pada sebagian pasien yang mengesankan diri mereka mengalami gangguan jin atau sihir sesuai pernyataan mereka, yaitu ketika bangun tidur mereka melihat bekas pukulan di badannya. Saya pernah melihat bekas pukulan tersebut di tubuh sebagian pasien yang muncul seperti memar-memar beraneka warna dan ukuran.
[40] Ar-Rūḥ karya Ibnul-Qayyim (hal. 81-82).
Jiwa manusia yang menjadi penggerak badan ini adalah makhluk lemah; sebagaimana Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Dan manusia diciptakan (bersifat) lemah."[41]
[49] QS. An-Nisā`: 28
Saya katakan, "Lantaran ini jiwa bisa dihinggapi penyakit dan keguncangan yang membutuhkan obat untuk menghilangkannya dengan izin Allah. Tidaklah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menurunkan penyakit kecuali memiliki obat."
Obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit jiwa adalah firman Allah (Al-Qur`ān) karena Dia lah yang menciptakan jiwa itu dari sebelumnya tidak ada, serta Dia pula yang mengatur dan mengetahuinya; sebagaimana Dia berfirman,
"Dia mengetahui tentang kamu sejak Dia menjadikan kamu dari tanah, lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu."[42]
[42] QS. An-Najm: 32
6- Tinjauan Seputar Gangguan Mental
Sebelum saya mulai pada pembahasan tentang pasien yang mengalami gangguan jin, sihir, atau 'ain, harus ada pembahasan tentang gangguan mental, walaupun sedikit, untuk mengetahui perbedaan antara keduanya.
Kesadaran dan penyuluhan kesehatan memiliki peran aktif pada tidak adanya sikap dualisme pasien terhadap peruqyah dan psikiater. Sebab itu, kita harus membedakan antara penyakit mental dan gangguan jin, sihir, atau 'ain supaya kita bisa mengambil tindakan yang benar terhadap pasien. Dari berbagai penelitian pada buku-buku kesehatan mental, saya belum menemukan yang lebih komplit dari buletin ringkas yang diterbitkan oleh RS Jiwa Iradah di Kota Riyad. Ketika buletin penyuluhan seperti ini diterbitkan oleh lembaga besar di bawah Kementerian Kesehatan, biasanya lebih dekat kepada kebenaran daripada yang lain. Oleh karena itu, pembahasan tersebut saya selipkan ke dalam pembahasan paling penting buku ini dengan tujuan ikut ambil andil menyebarkannya supaya manfaatnya luas dan banyak orang bisa membacanya.
Setelah pemaparan ringkas tentang penyakit hati dan kemuliaan jiwa manusia, saya pindah kepada pemaparan ringkas seputar gangguan mental yang disebutkan oleh para psikiater; sebagaimana dikatakan: "Cukup bagimu kalung seukuran yang melingkari leher."[43]
[43] Ini adalah pepatah populer bangsa Arab, diungkapkan untuk mencukupkan diri dengan sesuatu yang bagus walaupun sedikit.
Pembaca yang budiman! Berikut saya lampirkan isi buletin tersebut dengan urutan sebagai berikut:
Cemas - Fobia - Depresi - Mania - Skizofrenia - Gangguan psikosomatik Cemas[44]
[44] Buletin penyuluhan tentang gangguan mental ini diterbitkan oleh RS Jiwa Iradah - Kota Riyad.
Pertama: Definisi Cemas
Cemas adalah keadaan tegang yang bersifat menyeluruh sebagai akibat dari perasaan adanya ancaman bahaya yang nyata, simbolis atau khayalan, dan selalu disertai dengan ketakutan yang samar dan gejala psikologis dan fisik. Cemas tercatat sebagai gangguan saraf paling banyak terjadi, yaitu berkisar antara 30%-40% dari keseluruhan gangguan saraf. Ia banyak terjadi di kalangan perempuan, anak-anak, usia pubertas, usia pensiun, dan lansia.
Kedua: Klasifikasi Cemas
Cemas diklasifikasikan berdasarkan tingkatan dan sumbernya menjadi:
1- Kecemasan Biasa. Cemas jenis ini sumbernya dari luar jiwa dan ada secara nyata. Kadang juga disebut cemas yang nyata. Cemas tipe ini terjadi pada saat memprediksikan sesuatu atau khawatir kehilangan sesuatu, seperti cemas terhadap kesuksesan dalam pekerjaan atau ujian, atau ketika maju melamar, atau ada bahaya tertentu. Cemas jenis ini selalu dihadapi orang dan terhitung normal.
2-Kecemasan Neurotik. Ia adalah kecemasan yang bersumber dari dalam jiwa dan penyebabnya tidak disadari, tidak diketahui, dan tidak beralasan. Ia juga tidak sejalan dengan keadaan yang memicunya serta menghalangi adaptasi bersama masyarakat dan kemampuan untuk berkarya dan maju.
3- Kecemasan Umum. Ia adalah kecemasan yang tidak terikat dengan masalah tertentu, melainkan ia adalah cemas yang samar, bersifat umum, dan mengambang.
4- Kecemasan Sekunder. Ia adalah rasa cemas sebagai salah satu gejala gangguan mental lainnya, seperti depresi.
Ketiga: Penyebab Cemas
1- Faktor keturunan.
2- Faktor kejiwaan; seperti perasaan terancam dari dalam jiwa atau dari luarnya yang diakibatkan oleh kondisi lingkungan terhadap kedudukan seseorang, keguncangan mental yang besar, krisis, kesusahan, kerugian mendadak, benturan mental, ketakutan yang tinggi di awal masa kecil, dan perasaan lemah dan serba kekurangan.
3- Faktor lainnya; seperti tekanan peradaban, budaya, dan lingkungan modern, ambisi masyarakat yang berubah, gejolak lingkungan keluarga, dan disintegrasi sosial, di samping permasalahan masa kanak-kanak, remaja, dan lanjut usia serta cara yang salah dalam pendidikan anak-anak seperti kasar, otoriter, proteksi berlebihan, pengekangan, dan hubungan personal yang tidak baik dengan orang lain.[45]
[45] Saya katakan, "Semua faktor ini bagian dari sunatullah dalam kehidupan; bahwa kehidupan ini ditakdirkan keruh sebagai bagian dari ujian. Hanya Allah tempat meminta pertolongan."
Keempat: Gejala Cemas
1- Gejala Fisik. Gejala ini seperti lemah menyeluruh, kurang tenaga, semangat, dan kesabaran, tegang otot, semangat gerak yang berlebihan, lelah, kejang berkelanjutan, cucuran keringat, jari-jari gemetar, muka pucat, detak nadi dan jantung kencang, nyeri dada, sulit bernapas, tekanan darah naik, pusing, mual, hilang selera, berat badan turun, di samping sulit tidur, insomnia, dan mimpi buruk.[46]
[46] Seharusnya seorang mukmin tidak menghiraukan mimpi-mimpi yang buruk karena ia berasal dari setan. Hal ini disebutkan dalam hadis Qatādah bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Mimpi yang bagus -dalam riwayat lain: mimpi yang baik- berasal dari Allah, sedang mimpi yang buruk berasal dari setan. Siapa yang bermimpi melihat sesuatu yang tidak disukainya, agar meludah ke sebelah kirinya tiga kali dan berlindung dari setan, niscaya mimpi itu tidak mencelakakannya." (Muttafaq 'Alaih; HR. Bukhari dalam Kitāb at-Ta'bīr, Bāb ar-Ru`yā Minallāh: no. 6984, dan Muslim, Kitāb ar-Ru`yā, Bāb Minhu: no. 2261). Syekh Muhammad bin al-'Uṡaimīn -raḥimahullāh- berkata ketika menjelaskan hadis ini, "Sebagian orang ketika bermimpi yang tidak disukai segera mencari orang yang bisa menafsirkan mimpinya itu. Kita katakan: jangan lakukan itu. Dahulu, para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- juga melihat mimpi yang buruk. Namun, ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wasallam- menyampaikan hadis ini kepada mereka, mereka menjadi tenang. Alasannya ialah karena setiap dari mereka melihat mimpi yang tidak disukainya, dia meludah ke sebelah kirinya tiga kali, lalu berlindung kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut dan keburukan setan, serta tidak menceritakannya kepada siapa pun. Sebab itu, mimpi itu tidak akan mencelakakannya dan bahkan seakan-akan tidak pernah ada." (Syarḥ Riyāḍ aṣ-Ṣāliḥīn min Kalām Sayyidil-Mursalīn karya Syekh Muhammad bin Ṣāliḥ al-'Uṡaimīn: 4/376).
2- Gejala Psikis. Gejala ini mencakup cemas yang menyeluruh, mencemaskan kesehatan, pekerjaan, dan masa depan, gugup, tegang menyeluruh, tidak tenang, merasa tidak nyaman, kadang takut, ragu, bingung, bimbang mengambil keputusan, susah, depresi ringan, pesimis, terkungkung kesalahan masa lalu dan bencana masa depan, membayangkan sakit, merasa ajal dekat, takut mati, lemah konsentrasi, pikiran bercabang, lemahnya kemampuan bekerja dan berkarya, serta buruknya adaptasi sosial.
Kelima: Terapi Pengobatan Gangguan Kecemasan
1- Psikoterapi. Ia bertujuan mengembangkan kepribadian penderita, meningkatkan wawasannya, dan mewujudkan adaptasi jiwanya.
2- Konseling Terapeutik dan Interpersonal. Ia bertujuan memecahkan masalah pasien dan mengajarinya cara dan metode dalam menghadapi masalah.
3- Terapi Lewat Lingkungan. Caranya dengan menetralisasi pemicu-pemicu gangguan kecemasan yang memiliki efek signifikan, seperti mengubah jenis pekerjaan pasien, mengurangi beban, tekanan, dan pemicu-pemicu stres yang menimpanya, serta menerapkan terapi yang bersifat sosial, olahraga, piknik, persahabatan, dan profesi.
4- Terapi Medis. Terapi ini ditujukan untuk gejala fisik yang menyertai gangguan kecemasan dan untuk menenangkan pasien dengan menggunakan obat anticemas atau antidepresan.
Keenam: Akhir dari Penyakit
Jika jiwa pasien sebelum terkena penyakit itu stabil, kemudian ditambah kondisi kehidupannya lebih ringan dan motivasinya untuk sembuh serta kerjasamanya dengan terapis tinggi, maka akhir penyakit tersebut akan bagus dan dapat membaik.
Fobia
Rasa takut[47] terhadap binatang buas yang mengancam kehidupan manusia, atau terhadap wajah menakutkan yang muncul di hadapan Anda secara tiba-tiba di tempat gelap adalah perkara biasa yang berupa rasa takut alami dan normal. Ini merupakan rasa takut yang manusiawi sekaligus nyata. Ia berbeda dengan ketakutan patologis yang merupakan keadaan abnormal, yaitu takut yang terus-menerus, berulang, dan meningkat terhadap sesuatu yang biasanya tidak menakutkan dan pasien tidak mengetahui sebabnya. Jenis rasa takut inilah yang akan kita bahas secara rinci.
[47] Akan ada penjelasan tentang jenis-jenis rasa takut di hal. 112.
Pertama: Definisi Fobia
Ia merupakan kondisi takut yang menguasai individu di hadapan situasi atau objek yang biasanya tidak berkarakter bahaya.
Orang yang merasakannya menyadari bahwa ketakutannya itu tidak dilatarbelakangi alasan logis, tetapi kendati demikian dia tidak dapat menghindarinya. Hal ini menyebabkan seseorang menghindari interaksi terhadap situasi atau objek tersebut yang membuatnya takut dan selalu berusaha bersama orang lain yang akan membuatnya merasa tenang. Fobia biasanya muncul pada usia muda dan lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Penelitian menunjukkan bahwa fobia terdapat pada sekitar 20% dari semua pasien neurosis.
Kedua: Faktor Penyebab Fobia
1- Faktor genetik
2- Peningkatan sekresi bahan kimia di beberapa pusat otak.
3- Pengalaman menakutkan di masa kecil.
4- Lingkungan bermasalah pada keluarga yang dinodai oleh pertengkaran dan ancaman perceraian, atau hukuman terhadap anak-anak dan menakut-nakuti mereka dengan cerita dan kisah-kisah seram dan menakutkan.
5- Rasa takut yang menular melalui partisipasi emosional, dimensi, dan budaya (penularan rasa takut dari pasien fobia kepada orang-orang sekitar dan teman kontak).
Ketiga: Gejala-gejala Fobia
Fobia disertai sejumlah gejala, di antaranya:
1- Rasa cemas, tegang, merasa lelah, pingsan, jantung berdebar, berkeringat, dan gemetar.
2- Berbicara gemetar dan sering buang air kecil.
3- Tidak merasa aman dan membayangkan keburukan.
4- Menarik diri dari partisipasi sosial sampai-sampai menjadi hambatan nyata dalam kehidupan pasien.
Keempat: Jenis-jenis Fobia
1- Fobia pada Ruang Terbuka
Fobia terhadap ruang terbuka dan tempat-tempat lapang merupakan jenis fobia yang paling umum, yaitu pasien takut terhadap jalanan yang padat, tempat umum yang luas, atau bahkan tempat-tempat yang tertutup (lift, ruang tertutup, pesawat, dan bus). Di tempat-tempat tersebut pasien ditimpa rasa cemas karena tidak bisa keluar dengan mudah.
Ketika berada pada tempat-tempat ini dia merasa pusing dan sesak, bahkan kadang dihinggapi kekhawatiran akan pingsan atau mati.
2- Fobia Sosial
Jenis ini biasanya muncul pada usia pubertas remaja laki-laki dan wanita. Ia terkadang bersifat alami dan sementara, tetapi dapat bertahan dan meningkat hingga menjadi penyakit yang menyebabkan gangguan sosial bagi orang-orang tersebut yang sangat sensitif terhadap kritik dan takut tampil di depan orang banyak lantaran khawatir dianggap orang bodoh atau naif dan kesan negatif lainnya. Hal tersebut tampak dalam berbagai bentuk: gagap bicara, wajah memerah, tangan gemetar, kebelet buang air kecil, berkeringat, tenggorokan kering, jantung berdebar, merasa pusing , jatuh, dan tidak mampu terus berdiri.[48]
[48] Lihat: hal. 115.
Fobia ini dapat menyebabkan gangguan psikologis lainnya seperti: depresi atau kecanduan alkohol dan narkoba yang dikonsumsi untuk mengurangi ketakutan itu.
3- Fobia Spesifik
Fobia jenis ini terbatas pada situasi tunggal atau spesifik; seperti fobia mendekati binatang tertentu, fobia tempat tinggi, fobia kilat, fobia guntur, fobia gelap, fobia terbang, fobia makanan tertentu, fobia terpapar penyakit tertentu[49] seperti fobia AIDS, fobia polusi lingkungan atau radiasi, fobia melihat darah atau luka, dan fobia menggunakan toilet umum.
[49] Fobia wabah Covid-19 merupakan contoh paling nyata bagi kita semua.
Kelima: Terapi Pengobatan Fobia
Terdapat banyak sarana dan cara untuk terapi pengobatan penyakit ini, dimulai dengan langkah pertama berupa menghadirkan pasien dan memotivasinya untuk berobat. Di antara cara yang digunakan ialah:
1- Psikoterapi (termasuk terapi psikoanalitik atau terapi perilaku kognitif).
2- Terapi interpersonal dan lingkungan.
3- Mengembangkan interaksi sosial yang sehat dan menggunakan terapi keluarga dalam kasus fobia menular.
4- Terapi medis, yaitu dengan menggunakan sebagian obat sesuai keadaan pasien seperti obat antidepresan dan anticemas.
Keenam: Akhir dari Fobia
Akhir fobia akan baik dan mendorong sifat optimis ketika sukses melakukan diagnosis dini dan akurat dan memilih jenis terapi yang tepat, di samping adanya kerja sama yang baik dari pasien.
Terdapat beberapa risiko dari fobia ini, seperti kecanduan narkoba lantaran pasien mengonsumsinya demi mengurangi rasa ketakutannya.
Depresi
Pertama: Definisi Depresi
Ia merupakan gangguan psikologis yang menyebabkan seseorang kehilangan rasa senang, di samping suka malas, merasakan lesu dan lelah, mengalami gangguan tidur, adanya nafsu makan yang bertambah atau berkurang disertai perasaan menihilkan diri, mencela diri, dan lain-lain. Pada tingkat yang ekstrem, pasien depresi berpikir tentang kematian dan kadang-kadang melakukan bunuh diri[50] sebagai sarana untuk membebaskan diri darinya.
[50] Padahal orang yang bunuh diri seperti orang yang berlindung dari panas padang pasir dengan api. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Janganlah kalian membunuh diri kalian. Sungguh Allah menyayangi kalian." (QS. An-Nisā: 29).
Kedua: Jenis-jenis Depresi
1- Depresi Neurotik atau Reaktif
Kasus-kasus depresi jenis ini memiliki ciri khas adanya faktor penyebab yang jelas, seperti kehilangan orang tercinta dan kerugian materi. Gejala depresi ini ringan atau sedang dan hanya berlangsung untuk jangka waktu sementara karena kasusnya akan membaik dengan berlalunya waktu.
2- Depresi Psikotik Berat
Depresi jenis ini seringkali penyebabnya tidak jelas karena biasanya didominasi oleh faktor genetik dalam keluarga.
3- Depresi Terselubung atau Tersembunyi
Ia merupakan jenis depresi umum yang sulit dikenali dan didiagnosis karena fenomenanya tidak jelas. Biasanya pasien mengeluhkan gejala-gejala fisik seperti sakit kepala atau sesak dada, dan kondisi ini akan membaik ketika teridentifikasi dan diterapi dengan obat-obat antidepresan.
Faktor Penyebab Depresi
Faktornya bisa berupa faktor eksternal seperti kondisi sosial (pertengkaran suami istri), kondisi materi, atau peristiwa-peristiwa menyedihkan (kematian orang tercinta). Faktornya juga bisa berupa faktor internal yang dapat menyebabkan cacat pada fungsi otak dan vektor kimia di dalamnya.
Ketiga: Terapi Pengobatan Depresi
Depresi sebagai sebuah penyakit harus diperlakukan seperti penyakit-penyakit yang menimpa organ lain. Dengan perkembangan ilmu kedokteran dan farmasi belakangan ini, mengobati depresi memberikan hasil yang baik hingga 85-90%. Setelah itu, orang yang terkena dapat hidup lebih baik dengan kehidupan yang penuh harapan dan semangat.
Sebaiknya langsung segera dikonsultasikan ke dokter yang berkompeten ketika melihat gejala-gejala yang telah disebutkan di atas, baik oleh pasien sendiri, keluarganya, atau teman-teman dekatnya yang merupakan kewajiban mereka untuk menasihati pasien atau menemaninya jika dia tidak ingin berobat. Juga hendaknya membantu dokter dengan memberinya informasi yang cukup tentang kondisi pasien, disiplin dalam menghadiri jadwal terapi, dan mengikuti petunjuk medis demi menyukseskan rencana pengobatan secara lebih baik dan lebih cepat.
Perlu dicatat bahwa obat antidepresan efektif, tetapi hasilnya tidak muncul sebelum dua atau tiga minggu sejak memulai pengobatan, bahkan setelah membaik sekalipun. Pengobatan dapat berlanjut untuk jangka waktu yang ditentukan oleh dokter tergantung pada sifat kasusnya.
Apa efek samping pengobatan?
Obat antidepresan sama seperti obat lainnya, kadang dapat menyebabkan efek yang tidak menyenangkan ketika diminum, yang biasanya akan hilang pada jangka waktu tertentu sejak awal pengobatan. Jika keadaan tersebut terus berlanjut, maka harus melaporkan hal itu ke dokter dan mengikuti instruksi-instruksinya.
Apakah pengobatan hanya mengandalkankan obat saja?
Kadang-kadang dokter terpaksa mengganti jenis obat. Ketika tidak mendapatkan hasil yang diinginkan, maka metode pengobatan lainnya dapat disertakan[51] seperti psikoterapi yang terbukti memberikan hasil positif dan efektif dalam banyak kasus.
[51] Adapun metode-metode lain, maka yang tidak kalah penting adalah pengobatan dengan Al-Qur`an. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Katakanlah, '(Al-Qur`an) itu untuk orang-orang yang beriman adalah petunjuk dan penyembuhan.'" Mungkin pembaca yang terhormat atau orang yang memiliki gangguan mental mengira ada kontradiksi antara terapi menggunakan kalam Allah -'Azza wa Jalla- dengan pengobatan menggunakanan obat fisik yang dibolehkan. Ini adalah anggapan yang salah karena semua itu berasal dari Allah menurut hukum syariat, sunatullah, dan hukum takdirnya. Silakan, wahai pembaca yang budiman, mengikuti pesan kenabian yang mulia ini, niscaya Anda akan menemukan pengobatan efektif yang akan diikuti oleh kenyamanan psikologis, ketenangan, obsesi tinggi, tekad dan semangat, dengan izin Allah. Nabi -ṣallallāhu'alaihi 'alaihi wa sallam-bersabda, "Setan membuat tiga ikatan di belakang kepala salah seorang kalian tatkala dia tidur; dia tepuk setiap ikatan dengan mengatakan: malammu masih panjang, tidurlah. Jika dia bangun lalu berzikir kepada Allah, terlepaslah satu ikatan. Jika dia berwudu, maka terlepas satu ikatan lainnya. Jika dia salat, maka terlepas lagi satu ikatan lainnya. Maka, ia memasuki waktu pagi dengan semangat dan jiwa yang baik. Jika tidak demikian, pasti ia memasuki waktu pagi dengan jiwa yang jelek dan malas." (HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya, Bāb 'Aqdusy-Syaiṭān 'alā Qāfiyatir-Ra`si Iżā Lam Yuṣalli [2/52 No. 1142], dan Muslim, Bāb Mā Ruwiya fī Man Nāma al-Laila Ajma' Ḥattā Aṣbaḥa [1/538 No. 207]).
Mania
Pertama: Definisi Mania
Mania diklasifikasikan sebagai gangguan afektif. Ia berupa adanya perubahan pada suasana hati atau perasaan, baik ke arah kegembiraan atau depresi. Gangguan mania biasanya terjadi dalam bentuk episode-episode berulang. Episode mania lebih langka daripada depresi. Terkadang bergantian dengan episode depresi; sekali depresi lalu di kali lain senang. Terkadang episode mania berulang tanpa episode depresi. Kedua episode tersebut merupakan bagian dari gangguan bipolar. Gejala psikosis mania akan bervariasi sesuai dengan tingkat keparahan kondisinya.
Persentase Sebaran
Gangguan afektif menyebar dengan presentase 1 - 5% di antara individu, tanpa melihat perbedaan budaya dan lokasi geografis. Pada episode mania, pasien tampak dalam keadaan sangat gembira disertai perasaan membaik atau merasa mulia, banyak aktivitas, banyak berbicara dengan pikiran cepat, memulai beberapa proyek tanpa persiapan, dan boros berlebihan dengan kemewahan yang jauh dari sifat bijak dan sifat alami manusia. Sebagai akibat dari peningkatan ini, pasien menderita insomnia, kehilangan nafsu makan, dan berakhir pada kelelahan dan keletihan total.
Episode mania dapat terjadi sangat parah sehingga menjadi hambatan bagi pasien dalam aspek sosial dan pekerjaan. Bahkan, dapat berlangsung setidaknya selama satu pekan. Perubahan suasana hati tersebut disertai dengan peningkatan aktivitas, energi, dan beberapa dari gejala-gejala tersebut di atas.
Kedua: Faktor Penyebab Mania
Terdapat sejumlah teori tentang penyebab penyakit ini, di antaranya:
1- Adanya peran faktor genetik pada penyakit ini, yaitu persentasenya di kalangan anak orang-orang yang mengalami penyakit ini berkisar antara 10 - 13%.
2- Adanya faktor organ, yaitu terdapat cacat pada sensitivitas reseptor saraf. Oleh karena itu, pengobatan menggunakanan obat-obatan dapat mengubah proporsi konduktor.
Ketiga: Gejala-gejala Mania
1- Peningkatan suasana hati yang tidak proporsional dengan kondisi penyakit: berkisar antara optimisme yang berlebihan hingga euforia dan kesombongan, dan dapat mencapai agitasi yang tidak terkendali.
2- Rasa percaya diri berlebihan atau merasa mulia dan agung yang sampai pada delusi.
3- Kurang tidur.
4- Tekanan bicara meningkat saat pikiran berpacu.
5- Pecahnya perhatian.
6- Hiperaktif.
7- Melampaui batas kesusilaan sosial yang alami.
Keempat: Pengobatan Mania dan Metodenya
- Pengobatan Menggunakan Obat-obatan Di antara obatnya adalah obat penetral mod, seperti: lithium dan antipsikotik. Pada kondisi tertentu, kadang menuntut pasien agar dirawat di rumah sakit.
2- Psikoterapi dan Konseling
Tujuannya ialah untuk membangun hubungan baik antara pasien dan dokter, serta memahami permasalahan pasien dan pertikaian batinnya.
3- Memahamkan Pasien dan Keluarganya tentang Karakter Penyakitnya[52].
[52] Memahamkan pasien dan keluarganya tentang karakter penyakitnya dapat membantu kesembuhan, dengan izin Allah.
Proses memahamkan ini termasuk pada persoalan hasil akhirnya, urgensi pengobatannya, dan evaluasi berkelanjutan terhadapnya, bahkan pada saat ia telah membaik. Ini juga termasuk mengenalkan ciri awal kekambuhan, seperti kurang tidur dan gejala lainnya
Kelima: Akhir dari Penyakit - Proses penyembuhan penyakit akan berbeda mengikuti karakter pasien serta jenis episode dan tingkatannya. Akan tetapi, gangguan psikotik biasanya berakhir sembuh dan membaik total.
- Lama penyakit akan sangat bervariasi, umumnya berkisar antara 6 bulan sampai 1 tahun penuh jika pasien dibiarkan tanpa pengobatan ataupun campur tangan. Tetapi, dengan berbagai pengobatan modern tingkat lamanya berkurang menjadi 4 - 8 pekan.
- Gangguan afektif bersifat siklis dan berulang; episode mania bisa berulang pada pasien, kadang-kadang sekali atau dua kali, dan pada sebagian pasien berulang beberapa kali dalam setahun atau di sebagian musim.
Skizofrenia
Pertama: Definisi Skizofrenia
Ia merupakan salah satu bentuk gangguan akal yang menimpa manusia, dan terlihat jelas pada gangguan pikiran, emosi, dan perilaku. Prevalensinya tidak lebih dari 1% di kalangan anggota masyarakat. Gejalanya biasa mulai muncul sejak usia 15 - 25 tahun.
Kedua: Gejala-gejala Skizofrenia
Pasien skizofrenia akan mengalami gangguan pada:
1- Pikiran
Gangguan berpikir dapat terjadi pada isi pikiran atau kerangkanya. Karena ucapan adalah cermin dari pikiran, maka tingkat gangguan dapat diukur menurut adanya delusi, tingkat keparahannya, kepatuhan pasien terhadapnya, dan kegagalan upaya untuk meyakinkannya. Di antara delusi yang paling terkenal adalah: delusi penganiayaan, kebesaran, referensi, kontrol, dan sangkaan.
2- Emosi
Pasien skizofrenia, terutama dengan sakit yang berkepanjangan, dapat kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan emosinya. Bahkan, bisa saja ia menjadi berpikiran dangkal atau memiliki perasaan yang kontradiktif. Pada kasus yang parah, perasaannya akan tumpul.
3- Indra
Gangguan pada indra ini disebut halusinasi. Yang paling terkenal adalah halusinasi pendengaran[53] yang ditemukan pada kasus-kasus skizofrenia. Ada juga beberapa jenis halusinasi lainnya seperti halusinasi penglihatan dan halusinasi penciuman yang sebagian besarnya berpeluang terjadi pada penyakit-penyakit organ. Ada kalanya Anda menemukan pasien pada sebagian waktu berbicara atau tertawa sendiri.
[53] Pembahasan tentang delusi penglihatan dan suara-suara waham akan disebutkan di hal. 102.
4- Perilaku
Seorang pasien skizofrenia mungkin akan menunjukkan perilaku abnormal atau aneh sebagai akibat dari responnya terhadap delusi dan halusinasi yang dialaminya. Terkadang dia melakukan gerakan aneh atau tidak normal. Terkadang dia tampak introvert dalam beberapa keadaan, terkadang tubuhnya keras, dan terkadang dia menunjukkan perilaku agresif dan lekas marah pada lain keadaan.
5- Hasrat dan Semangat
Kasus gangguan jenis ini ialah tidak bergairah melakukan apa pun dan tidak memiliki motivasi untuk menghasilkan sesuatu. Inilah yang membuatnya tidak produktif dan mungkin meninggalkan pekerjaannya dan hanya duduk diam sepanjang hari.
Ketiga: Faktor Penyebab Skizofrenia
Belum diketahui secara pasti tentang penyebab gangguan penyakit ini. Tetapi, terdapat sejumlah teori yang membahas sejumlah faktor yang bisa jadi memiliki peran terjadinya skizofrenia. Di antaranya:
1- Faktor Biologis
Maksudnya terdapat cacat pada vektor otak (vektor saraf).
2- Faktor Genetik
Ditemukan adanya hubungan erat antara faktor genetik dengan kejadian skizofrenia. Penelitian ilmiah membuktikan bahwa 40 - 50% anak mengalaminya ketika kedua orang tuanya penderita skizofrenia dan 10 - 15% ketika yang menderitanya ialah salah satunya.
3- Faktor Kepribadian
Terdapat korelasi antara skizofrenia dan bentuk kepribadian. Orang-orang yang memiliki karakter introvert dan minder sejak kecil lebih dominan mengalami skizofrenia.
4- Faktor Keluarga
Sebagian jenis dan pola pendidikan keluarga kadang turut menyebabkan seseorang mengalami skizofrenia, seperti sikap keras yang berlebihan, pengekangan emosional, dan pemberian perintah yang bertentangan antara ayah dan ibu di waktu bersamaan kepada anak. Begitu juga sebaliknya, memanjakan anak secara berlebihan dan memberinya kasih sayang yang berlebihan.
5- Faktor Lainnya
Faktor-faktor ini seperti tekanan berat psikologis yang berujung pada munculnya gejala psikotik dan menjadi awal dari skizofrenia. Demikian juga penyalahgunaan obat-obatan, narkoba, dan alkohol.
Keempat: Pengobatan Skizofrenia
Proses pengobatan selalu diutamakan dalam bentuk program yang terintegrasi antara farmakologis, psikologis, dan sosial. Di antara tahapannya adalah:
1- Terapi Farmakologis
Terapi ini dalam bentuk antipsikotik yang terbagi menjadi obat-obatan tradisional dan obat-obatan modern yang memiliki efek samping lebih sedikit dibandingkan dengan obat-obatan tradisional dan mungkin lebih efektif dalam beberapa kasus.
Pasien maupun pendampingnya wajib mengenal aturan pakai obat dan dosisnya, rencana pengobatan, dan efek samping obat.
2- Pengobatan Psikiatris
Bentuk yang paling terkenalnya adalah pemberian motivasi, konseling, dan tes psikologis yang diperlukan yang akan membantu pasien dalam proses diagnosis. Demikian juga terapi keluarga yang diperlukan, perubahan pola perilaku keluarga dalam memperlakukan pasien gangguan jiwa untuk memastikan perawatannya dan kesinambungannya dalam menjalankan profesinya, dan memberinya perhatian, cinta, dan kasih sayang sebagai ganti dari kritik yang berlebihan atau pengabaian yang berlebihan.[54]
[54] Lihat: hal. 129.
3- Terapi Sosial
Terapi ini bertumpu pada pemecahan masalah sosial pasien dan mengubah suasana tempat pasien terpapar. Bahkan jika perlu, dokter melakukan visitasi kepada pasien di tempat tinggalnya untuk mengecek dan memantau kondisinya, memecahkan permasalahannya, dan memberikan penanganan bermanfaat seperti mempelajari keterampilan sosial.
4- Terapi Rehabilitasi
Seperti pendekatan hibah ekonomi dan terapi olahraga[55], yang akan membantu pasien untuk mendapatkan wawasan tentang kondisinya dan kembali ke masyarakat dalam keadaan sembuh sebagai orang yang berguna dan produktif.
[55] Pembahasan tentang dampak positif olahraga terhadap kesehatan tubuh dan jiwa akan disebutkan pada hal. 126.
Gangguan Psikosomotik[56]
[56] Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Reaksi tubuh dan bawaannya yang dipengaruhi oleh jiwa dan hati adalah perkara nyata yang bisa disaksikan." (Lihat: hal. 9) Gangguan psikosomatik telah didefinisikan sebelumnya di hal. 13.
Penyakit Psikosomatis
Definisi Psikosomatis
Ia adalah penyakit kronis yang muncul dengan beberapa gejala fisik selama bertahun-tahun yang menyebabkan dampak negatif pada kinerja manusia. Sumbernya disebabkan karena faktor psikologis, dan tidak ditemukan sebab fisik untuk terjadinya. Ciri yang membedakan penyakit ini adalah seringnya keluhan gejala fisik dan permintaan pemeriksaan medis yang terus-menerus meskipun hasilnya berulang-ulang negatif dan dokter telah meyakinkan pasien bahwa gejala yang dikeluhkannya tidak memiliki dasar fisik. Pasien biasanya menolak mendiskusikan kemungkinan penyebab kondisi tersebut bersifat psikologis. Terkadang keadaan tersebut disertai gejala depresi dan cemas yang terlihat jelas.
Gangguan ini biasanya tidak lepas dari tingkat perilaku yang menarik perhatian, terutama pada pasien yang terganggu oleh kegagalan mereka untuk meyakinkan dokter mereka tentang sifat fisik yang pasti pada penyakit mereka.
Diketahui bahwa keluhan ini sering berubah-ubah, multipel, berkepanjangan untuk waktu yang lama, dan mencakup semua sistem tubuh. Gangguan ini memiliki ciri-ciri kronis dan fluktuatif, dan sering disertai dengan dampak negatif pada perilaku sosial, pribadi, dan keluarga. Gejala dapat muncul seakan-akan sebagai akibat dari gangguan fisik pada sistem atau organ tertentu. Sistem yang paling banyak terdampak adalah sistem saraf otonom, yang berdampak memunculkan gejala pada sistem peredaran darah atau sistem saraf.
Gejala yang menunjukkan hal ini antara lain: jantung berdebar, keringat, kongesti di wajah, tremor di tangan, atau rasa sakit, dan nyeri sementara seperti gangguan pencernaan, gangguan kencing, kembung, peningkatan buang air kecil, kontraksi lambung dan usus besar.
Penyakit-penyakit Psikosomatik
1- Nyeri Psikosomatik Ia berupa keluhan nyeri yang tidak disertai bukti fisik yang menunjukkan penyebabnya tetapi terdapat bukti psikologis yang mendukung interpretasinya. Lokasi nyeri dan penyebarannya biasanya tidak sejalan dengan nyeri yang memiliki sumber fisik dan berkepanjangan sepanjang hari, bahkan kadang mengakibatkan kurang tidur dan respons terhadap obat psikiatri lebih baik daripada obat biasa. Gejalanya sering berupa nyeri di kepala, leher, perut, dan bawah punggung, dan lebih umum terjadi di kalangan wanita.
Dalam semua kasus, kemungkinan penyebab fisik harus disingkirkan sebelum mendiagnosis kondisi tersebut sebagai nyeri psikosomatik, dengan mempertimbangkan berbagai macam kondisi dan tekanan psikologis dan sosial, dari sana kemudian memberikan penanganan yang tepat (antidepresan, misalnya) selain psikoterapi perilaku kognitif. 2- Gangguan Mental Transformasional (Histeria)
Ia merupakan gangguan psikologis di tingkat bawah sadar terhadap beberapa tekanan psikologis yang sulit untuk dipecahkan atau dihadapi, sehingga diekspresikan (secara tidak sadar) dengan gejala fisik. Hal ini sering kali terjadi untuk mencapai keuntungan utama untuk mengatasi situasi psikologis yang penuh tekanan (dengan alasan fisik yang dapat diterima, kehilangan suara, kelumpuhan satu anggota badan, misalnya) dan untuk mencapai keuntungan sekunder, yaitu untuk menarik perhatian dan simpati orang lain terhadap pasien.
Di antara contoh kasus histeria ialah:
1- Lupa situasi atau peristiwa tertentu, tersesat, dan berjalan kebingungan.
2- Adanya gejala transformasional: kehilangan suara, kehilangan penglihatan, kejang psikogenik, berjalan tidak seimbang, kelumpuhan, muntah, dan kehamilan palsu.
3- Sindrom histeris lain: mengeluhkan beberapa gejala (9 - 10 gejala) pada saat yang sama dan tidak dapat dijelaskan sebagai penyakit fisik yang dikenal, adanya gejala dan tanda penyakit fisik yang berlebihan, atau pasien berulang kali datang ke dokter dengan gejala penyakit serius dengan tujuan ingin dirawat di rumah sakit (hospital adiksi).
4- Gangguan histeria lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria dan mewakili 3 - 4 % dari gangguan mental. Pemberian respon berimbas positif terhadap psikoterapi nonfarmakologis pada kasus akut dengan korelasi yang jelas dengan situasi psikologis yang penuh tekanan.
Delusi Penyakit
Penampakan gangguan psikologis pada kasus ini ada pada penjelasan pasien tentang gejala dan tanda-tanda fisik normal sebagai gejala abnormal yang menunjukkan adanya penyakit serius. Keyakinan adanya penyakit ini berlanjut meskipun pemeriksaan medis dan analisis yang diperlukan membuktikan sebaliknya. Hal ini menjadi faktor yang mempengaruhi kinerja sosial, akademik, dan aktivitas harian pasien. Oleh karena itu, pada kasus seperti ini, keberadaan penyakit fisik harus disangkal secara penuh. Selanjutnya, melakukan pengobatan gangguan psikologis sekunder (seperti depresi) yang dialaminya dan penilaian sosial secara penuh terhadap kondisi penyakitnya. Langkah selanjutnya ialah bersikap tegas dan transparan terhadap pasien dan tidak mengamini keinginannya untuk terus melakukan analisis atau pemeriksaan medis baru yang berbelit-belit.
Sindrom Kelelahan Kronis
Ia berupa perasaan kelelahan yang luar biasa tanpa sebab yang jelas disertai dengan gejala fisik dan psikologis yang terbagi. Lebih sering dialami pasien antara usia 20-50 tahun dengan perbandingan 4,7 per seratus ribu orang. Ia lebih umum terjadi di kalangan wanita dari berbagai lapisan masyarakat.
Ada dugaan bahwa kasus ini mengikuti beberapa infeksi pada sistem saraf, tetapi tidak ada bukti untuk itu. Ia juga terkait dengan beberapa gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.
Tidak ada penanganan farmakologis tertentu untuk kondisi ini. Akan tetapi, beberapa obat antidepresan, antiradang, obat penenang, dan vitamin mungkin berguna pada beberapa kasus. Sebagaimana terapi perilaku kognitif, terapi pemulihan, terapi stres, dan sejumlah motivasi pribadi untuk sembuh dapat membantu di beberapa kasus juga.
Gangguan mental memiliki lebih dari satu klasifikasi yang membantu psikiater untuk mempercepat diagnosis dan pengobatannya. Psikiater mengambil tindakan mendiagnosis dan mengobati gangguan-gangguan berikut:
1- Gangguan mental pada anak; seperti keterbelakangan akademik, gangguan perilaku atau emosional.
2- Gangguan mental yang bersumber dari organ, seperti delirium akut dan penuaan kronis.
3- Kecanduan obat dan alkohol serta gangguan-gangguan yang ditimbulkannya. 4- Gangguan mental seperti skizofrenia dan gangguan delusi. 5- Gangguan suasana hati, seperti depresi dan kesombongan (mania).
6- Gangguan kecemasan, seperti kecemasan yang umum dan ketakutan dengan berbagai jenisnya, fobia, atau gangguan obsesif-kompulsif.
7- Gangguan psikologis yang bersifat fisik; seperti delusi penyakit dan histeria transformasional.
8- Gangguan seksual, baik kecacatan fungsi seksual atau penyimpangan fungsi seksual. 9- Gangguan psikologis yang berhubungan dengan sifat makan; seperti penyakit ketipisan neurotik. 10- Gangguan tidur secara umum. 11- Ketidakmampuan untuk mengendalikan naluri.
12- Gangguan psikologis akibat sulit beradaptasi. 13- Gangguan kepribadian secara umum. Perlu dicatat bahwa banyak dari gangguan yang disebutkan di atas tidak ada hubungannya dengan kegilaan, bahkan orang tersebut mungkin sangat normal, tetapi kecemasan, ketakutan atau depresi, misalnya, telah mempengaruhi kehidupan dan pekerjaan orang tersebut.
Penyebab Gangguan Mental Sampai sekarang belum diketahui penyebab utama dan langsung pada gangguan mental. Namun, ada beberapa faktor yang mungkin berperan besar terhadap kemunculannya, seperti:
1- Faktor genetik.
2- Faktor gangguan keseimbangan beberapa senyawa kimia atau beberapa hormon dalam tubuh. 3- Fluktuasi kehidupan sosial dan fungsional individu dan tekanan hidup. Di samping itu, ada juga beberapa penyakit fisik dan obat-obatan medis yang dapat menyebabkan munculnya gangguan dan gejala psikologis. Metode Diagnosis
Metode yang digunakan oleh psikiater dalam proses diagnosis tergantung pada:
1- Pengumpulan informasi dari pasien atau kerabatnya.
2- Pengamatan terhadap keluhan pasien, baik terkait dengan suasana hati, pikiran, ataupun ingatannya.
3- Tes dan standarisasi psikologis.
4- Penggunaan laboratorium medis atau analisis radiologis, jika kondisinya memerlukan hal tersebut.
Metode Pengobatan Adapun terkait metode pengobatan, maka dokter adalah orang yang bertanggung jawab untuk membuat rencana pengobatan yang tepat dan evaluasinya, serta mengetahui sejauh mana perbaikan kondisi pasien di samping memperkirakan perbaikan itu di masa depan. Psikiater seharusnya menggunakan rencana yang komprehensif untuk penanganan pasien yang akan dilaksanakan oleh tim medis... ( Disadur sempurna dari Buletin Penyuluhan Kesehatan[57] ). [57] Buletin ini diterbitkan oleh RS. Jiwa Iradah - Kota Riyad.
7- Tinjauan Seputar Gejala Gangguan Mental, Penyakit 'Ain, Sihir, dan Kerasukan Jin
Kita akan mencermti, insya Allah, sisi kemiripan antara gejala penyakit 'ain , sihir, dan kerasukan jin dengan gejala gangguan psikologis yang membingungkan banyak orang. Gejala gangguan otak bukanlah yang umum terjadi pada penderita psikologis seperti yang dibayangkan oleh banyak pasien. Ketika kita mencermati secara saksama gejala gangguan otak seperti skizofrenia, kita menemukannya sangat jauh berbeda dari gejala gangguan neurotik, seperti cemas dan fobia. Demikian juga dengan gejala gangguan emosional seperti mania, depresi dan bipolar, serta gejala gangguan psikosomatik., sebagaimana yang kita cermati dalam buletin penyuluhan sebelumnya.
Apabila kita memahami gejala gangguan psikologis dengan baik,
ketika itu kita akan memahami perbedaannya dengan gejala gangguan 'ain, sihir, dan kerasukan jin dan akan hilang sebagian kerancuan antara keduanya, Insya Allah.
Kita juga bisa menghubungkan antara gejala gangguan mental dengan gelaja gangguan 'ain, kerasukan jin, dan sihir melalui konteks yang ada pada poin-poin berikut:
8- Tinjauan Seputar Efek Waham Wahm (waham) didefinisikan sebagai hal-hal yang terlintas dalam hati. Bentuk jamaknya: auhām. Hati memiliki waham. Kalimat "tawahhamasy-syai`a" artinya: mengkhayalkan sesuatu dan membayangkannya, baik ia ada di alam nyata ataupun tidak ada. Kalimat "tawahhamtusy-syai`a - tafarrastu - tawassamtu - tabayyantu"; semua maknanya sama. Zuhair berkata terkait makna tawahhum (delusi): Aku menemukannya setelah lelah dua puluh tahun, aku mengenal rumahnya setelah berdelusi.[58] [58] Lihat: Al-Mu'jam al-Wasīṭ (2/1060)
Dr. Mahmud Mandūh Muhammad berkata, "Berkhayal atau imajinasi adalah bagian penting dalam kehidupan otak manusia. Imajinasi lahir dari proses logika dan kognitif yang berbentuk pemahaman, pemikiran, pengingatan, perhatian, lupa, dan seterusnya.
Imajinasi masuk dalam ranah berpikir secara eksklusif. Dalam imajinasi seseorang dapat menghindari tekanan yang menimpanya dari lingkungan eksternal dan membantu mengurangi ketegangan dirinya dengan cara menghilangkannya. Imajinasi dapat meringankan banyak tekanan yang menimpa seseorang. Seseorang dapat merumuskan banyak skenario dalam pikirannya dan dengan itu ia menemukan banyak solusi jika imajinasi digunakan secara optimal untuk mencapai hasil yang dapat mewujudkan kenyamanan psikologis. Akan tetapi, imajinasi bisa menjadi kondisi tidak sehat ketika terjadi terus-menerus dan mengubah realitas menjadi sekadar lamunan dan fantasi."[59]
[59] Aṣ-Ṣiḥḥah an-Nafsiyah karya Mahmud Mandūh Muhammad. Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata,
"Telah diketahui pasti bahwa objek khayalan-khayalan ini tidak memiliki wujud secara hakiki, melainkan hanya diasumsikan oleh pikiran[60] serta tidak stabil dalam jiwa. Ilmu-ilmu yang memiliki wujud nyata saja seringkali tidak sesuai bentuknya dalam asumsi jiwa[61], apalagi hanya sekadar khayalan yang tidak nyata?![62]
[60] Kita sering mendengar kata "psikologi" dari para psikiater, seakan-akan istilah ini diperoleh dari para ilmuwan Barat. Padahal, bisa jadi mereka mendapatkannya dari sosok ulama besar ini. Sungguh, banyak sekali mereka mengambil ilmu dari ulama-ulama Islam!
[61] Akan ada pembahasan tambahan tentang hal ini di hal. 105.
[62] Ar-Rūḥ karya Ibnul-Qayyim (hal. 254), Dār Ibn Ḥazm, cet. 1, 1425 H, Beirut, Libanon.
Allah -'Azza wa Jalla- telah membuat permisalan paling indah di dalam Kitab-Nya yang agung tentang mengikuti waham (delusi). Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman,
"Dan orang-orang yang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi tidak ada apa pun. Dan didapatinya Allah di sisinya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya." [QS. An-Nūr: 30]
Dari ayat yang mulia ini dapat ditarik kesimpulan berupa hubungan waham dengan dampaknya terhadap kerusakan akal disebabkan oleh kondisi sulit yang menimpa seseorang.
Kita ketahui bahwa fatamorgana tidak akan berubah menjadi air di pandangan orang berakal yang tidak sedang melawan rasa haus yang hebat. Sebaliknya, dia pasti yakin bahwa hal tersebut adalah tipu daya pandangan. Sementara fatamorgana akan berubah menjadi air di mata orang yang hilang akalnya disebabkan rasa haus yang hebat.
Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul-Islām -raḥimahullāh-, "Ketika indra merasakan rasa yang tepat, ia tidak akan salah karena ia dibersamai akal."[63] [63] Lihat: hal. 107
Di sini juga terdapat petunjuk bahwa orang yang sakit kadang hilang kesadarannya sesuai tingkat penderitaannya lantaran penyakitnya yang berat. Akibatnya dia akan melihat sesuatu tidak sesuai dengan hakikatnya dan jiwanya akan bergantung pada harapan tertentu sekecil apa pun itu demi meraih kesembuhan, sehingga ia pun mengejar waham yang dirasakannya.
Ada kisah menarik seputar hal ini. Saya diceritakan oleh salah seorang teman tentang sebuah kisah yang dialami oleh ibunya ketika mengadukan keluhan kesehatan kepada saudaranya.
Dia bercerita, "Ibuku memintai darinya air yang dibacakan ayat-ayat Al-Quran disertai tiupan dari salah seorang peruqyah. Saudaraku bercerita, 'Maka aku pun keluar untuk menunaikan suatu keperluan sekaligus akan mampir pada tempat peruqyah. Namun, ternyata aku lupa untuk singgah pada peruqyah itu hingga aku telah jalan pulang dan meninggalkan rumah peruqyah itu jauh di belakangku. Aku baru ingat keperluan ibuku setelah berada dekat dari rumah kami. Aku tidak punya pilihan kecuali membeli sebotol air di toko kelontong, lalu aku membukanya kemudian menutupnya kembali. Aku tidak menceritakan kepada ibuku perihal apa yang terjadi. Ketika sampai, aku memberikannya botol air tersebut lalu dia minum hingga kenyang kemudian berkata: Alhamdulillah. Allah telah menyembuhkanku.[64]
[64] Kisah-kisah semisal ini banyak beredar di berbagai majelis masyarakat awam.
Ini sama halnya dengan permintaan terus-menerus sebagian besar pasien di rumah sakit untuk diruqyah ketika mereka menyaksikan pasien lain yang ditimpa gangguan jin atau sihir mengalami kesurupan ketika diruqyah. Mereka membayangkan bahwa mereka juga mengalami gangguan yang sama. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa waham telah menguasai sebagian penderita gangguan psikologi dengan berbagai macamnya. Ini dapat disaksikan dan diketahui lewat realitas.
9- Tinjauan Seputar Terapi Imajinasi
Pengobatan menggunakan terapi imajinasi telah digunakan sejak lama. Hukumnya dalam syariat Islam ialah boleh[65]. Ia merupakan bagian dari rukhsah (dispensasi) syariat yang tidak mengandung bahaya bagi siapa pun serta tidak ada pelanggaran hak siapa pun. Jenis terapi ini berupa penggambaran khayalan yang tidak nyata untuk kebaikan dan manfaat pasien dengan izin Allah.
[65] Membohongi pasien penyakit mental hukumnya boleh karena di dalamnya terkandung maslahat bagi pasien. Imam Nawawi -raḥimahullāh- memiliki pembahasan seputar bohong yang diperbolehkan demi maslahat. Beliau memaparkannya dalam kitab Riyāḍu aṣ-Ṣāliḥīn dan Al-Ażkār pada penjelasan bohong yang diperbolehkan (hal. 592). Akan ada juga nukilan fatwa Syekh Sa'ad al-Khaṡlān di hal. 65.
Imajinasi dan praktik imajinasi merupakan kekhususan manusia dan merupakan bagian dari nikmat Allah. Bahkan, terapi imajinasi termasuk pengobatan yang efektif dan penting yang tidak bisa dipungkiri. Ia merupakan salah satu bentuk pengobatan.
Imam Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata ketika mendeskripsikan karakter dokter profesional pada poin ke-19: Ia menggunakan aneka macam pengobatan alami, ilahi, dan pengobatan dengan terapi imajinasi[8]. Dokter-dokter yang profesional menemukan bahwa terapi imajinasi memiliki banyak efek luar biasa yang tidak diberikan oleh obat-obatan. Sebab itu, dokter profesional akan menggunakan semua cara untuk menyembuhkan penyakit."[66]
[66] Lihat: hal. 10
Seorang terapis profesional yang memiliki kecerdasan otak, kekuatan mental, serta terlatih dan berpengalaman dalam terapi imajinasi, dengan izin Allah ia dapat menghilangkan ilusi pasien dengan memberikan imajinasi yang sebaliknya, tanpa menyentuh obat-obatan, seperti yang disebutkan oleh Ibnul-Qayyim -raḥimaḥullāh-.
Di antara yang perlu diingat ialah bahwa faedah terapi imajinasi tidak bisa disamaratakan kepada semua orang sakit.
Hal ini ditegaskan oleh Dr. Suhbā Bandaq dalam pernyataannya, "Tinggal kita tekankan bahwa metode pengobatan ini -terapi imajinasi- sama seperti motode-metode pengobatan alternatif lainnya. Ia tidak bisa disamaratakan pada semua pasien karena bisa cocok di sebagian pasien tetapi tidak cocok pada pasien lainnya[67], sebagaimana tingkat penyembuhan setiap orang dengannya juga berbeda-beda. Sebab itu, tidak mungkin semua kasus sakit ditangani dengan terapi imajinasi."[68]
[67] Hal ini sama dengan metode yang saya gunakan pada wanita yang saya sebutkan sebelumnya [di hal. 64]. Di sisi lain, metode ini tidak membuahkan hasil pada sebagian pasien yang akalnya telah dikuasai oleh pikiran kerasukan jin manakala hal itu telah berlangsung lama. Wallāhu a'lam.
[68] Disadur dari buku kumpulan makalah dengan judul: Majmū'ah min al-Maqālāt Ḥaula al-'Ilāj bit-Taṣawwur wat-Takhayyul.
Oleh sebab itu, kita wajib tahu bahwa membahas topik terapi imajinasi tanpa ilmu adalah hal berbahaya dan rentan terjerumus dalam kesalahan. Ia merupakan topik yang sangat luas dan banyak dibahas oleh sembarang orang. Alasan berbahayanya tema ini adalah karena sumbernya berasal dari akal, sementara akal memiliki batas yang tidak mungkin dilewati. Di samping itu, terapi imajinasi terikat dengan batasan syariat. Jika imajinasi ini telah melampaui batasnya, maka dia akan menyimpang. Hal inilah yang menjadi faktor kesesatan para ahli filsafat, kaum ateis, dan kaum sesat, sejak dahulu kala hingga sekarang.
Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Siapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun."[69]
Marilah kita senantiasa memohon kepada Allah supaya diteguhkan di atas kebenaran.
[69] QS. An-Nur: 40 10- Tinjauan Seputar Melihat Jin Sebatas yang pernah saya baca, saya belum tahu bahwa ada dari salah satu generasi salaf (pendahulu umat Islam) yang melihat jin dalam bentuk asli penciptaannya seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur`ān dan Sunnah. Justru, banyak sekali dalil-dalil agama yang menunjukkan bahwa tidak mungkin melihat jin dalam bentuk aslinya dalam kehidupan dunia ini. Imam asy-Syāfi'iy -raḥimahullāh- berkata, “Siapa di antara orang yang terpercaya mengaku melihat jin, maka kesaksiannya ditolak, dan dia pantas diberikan sanksi karena melanggar firman Allah -Ta'ālā-:
'Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.'[70] Kecuali jika yang mengklaim tersebut seorang nabi."[71]
[70] QS. Al-A'rāf: 27
[71] Ḥayātul-Ḥayawān karya Ad-Damīriy (1/191). Allah -Ta'ālā- juga berfirman,
"Mayangnya seperti kepala-kepala setan."[72] Beliau berkata, "Allah menyerupakannya seperti itu. Jika seseorang berkata, 'Apa sisi penyerupaan Allah antara mayang pohon ini dengan kepala setan dalam keburukan? Padahal kita tidak tahu sejauh mana keburukan kepala setan'. Jawabannya adalah bahwa sesuatu akan diserupakan dengan sesuatu lainnya dalam rangka menjelaskan dekatnya kemiripannya satu sama lain ketika orang yang dijelaskan mengetahui keduanya atau salah satunya."[73]
[72] QS. Aṣ-Ṣāffāt: 64
[73] Lihat: Tafsīr aṭ-Ṭabariy, Jāmi'ul-Bayān, cet. Hajar (19/553).
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,
"Jangan tepatkan salat kalian dengan waktu terbitnya matahari maupun waktu tenggelamnya karena matahari itu terbit di antara dua tanduk setan."[74] [74] Lihat: Ṣaḥīḥ Muslim (1/567).
Juga telah valid di dalam Al-Qur`ān dan Sunnah bahwa jin memiliki kemampuan berkamuflase -dengan izin Allah- dalam bentuk manusia dan hewan. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mengabarkan bahwa anjing hitam yang lewat di depan orang salat akan membatalkan salat dan beliau menerangkan alasannya karena anjing hitam itu adalah setan.[75]
[75] HR. Muslim (1/510 no. 510).
Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, "Iblis hadir dalam perang Badar bersama pasukan setan dengan panji perang di tangan seseorang mirip seorang laki-laki dari Bani Mudlij, yaitu Surāqah bin Malik bin Ju'syum. Setan berkata kepada orang-orang musyrikin, 'Hari ini kalian tidak akan terkalahkan oleh orang-orang itu. Aku akan menjadi pembela kalian.' Ketika orang-orang telah berbaris, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambil segenggam tanah dan melemparkannya ke hadapan orang-orang musyrikin sehingga mereka berlari mundur. Lantas Jibril datang kepada Iblis. Ketika melihatnya -ketika itu Iblis berpegangan tangan dengan seorang laki-laki dari kalangan musyrikin-, Iblis menarik tangannya lalu dia bersama pasukannya mundur melarikan diri. Laki-laki tersebut berkata, 'Wahai Surāqah! Bukankah kamu telah bersumpah sebagai pembela kami?!' Dia lantas menjawab,
"'Sungguh aku dapat melihat apa yang kalian tidak dapat lihat. Sesungguhnya aku takut kepada Allah.' Allah sangat keras siksa-Nya."[76]
Yaitu tatkala dia melihat para malaikat."[77] [76] QS. Al-Anfāl: 48 [77] Lihat: Tafsīr Aṭ-Ṭabariy, Jāmi'ul-Bayān, cet. Hajar (11/221).
Ini juga sama dengan kisah setan di Dār an-Nadwah dan kisah setan bersama Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- ketika menjaga harta zakat di masjid.
11- Tinjauan Seputar Hakikat Kerasukan Jin Saya pernah berhadapan dengan beberapa psikiater yang menyangkal adanya kerasukan jin. Suatu hari diskusi memanas antara saya dan salah seorang mereka seputar topik ini. Dia tidak memiliki argumen kecuali hanya sekadar pertanyaan menggunakan bahasa nonbaku (yang artinya): Mana sih jinnya? Kalau emang ada, saya pengen melihatnya! Syaikhul-Islām -raḥimahullāh- berkata, “Tidak ada di antara ulama Islam yang mengingkari kemungkinan jin masuk ke dalam tubuh orang yang kerasukan dan lainnya. Siapa yang mengingkari hal tersebut dan mengklaim bahwa agama mendustakannya, sungguh dia telah berdusta atas nama agama. Tidak ada dalam dalil-dalil syariat yang menafikan hal tersebut."[78]
[78] Al-Fatāwā al-Kubrā karya Ibnu Taimiyah (3/13), cet. 1 th. 1408 H, Dār al-Kutub al-'Ilmiyyah.
Dalam permasalah kerasukan jin ini terdapat penjelasan dan fatwa dari Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi (no. 21518) dengan teks sebagai berikut:
Kitab Allah -'Azza wa Jalla-, Sunnah Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan ijmak (konsensus) umat Islam menunjukkan adanya jin yang merasuk ke tubuh manusia. Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila."[79]
Ibnu Jarīr -raḥimahullāh- menjelaskan, "Maksudnya ialah jin masuk kepadanya di dunia. Jinlah yang mencekiknya lalu membuatnya kesurupan. "Minal-mass" maksudnya: karena gila."[80]
[79] QS. Al-Baqarah: 275
[80] Fatāwā al-Lajnah ad-Dā`imah Lil-Buḥūts al-'Ilmiyyah wal-Iftā` (1/115).
Anggota: Bakr Abu Zaid - Ṣāliḥ al-Fauzān - Abdullah bin Gudayyan. Wakil Ketua: Abdul Aziz Ālu asy-Syaikh. Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz.
Syekh Ṣāliḥ bin Fauzān al-Fauzān (anggota Komite Tetap Fatwa dan Lembaga Ulama Senior Kerajaan Arab Saudi) pernah ditanya tentang kesurupan, berikut jawaban beliau:
"Hilang kesadaran terbagi menjadi dua: Jenis pertama: hilang kesadaran karena gangguan saraf (epilepsi); jenis ini pengobatannya ditangani oleh dokter.
Adapun jenis hilang kesadaran yang kedua ialah yang disebabkan oleh gangguan jin (kesurupan); jenis ini pengobatannya ialah menggunakan ruqyah syar'iyah (ruqyah yang sesuai syariat)"[81]. [81] Ar-Ruqyah asy-Syar'iyyah - Ḍawābiṭuhā wa Maḥāẓiruhā (hal. 53), cet. Kantor Penyuluhan Agama - Departemen Kesehatan di Riyad.
Ya'lā bin Murrah meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau pernah didatangi oleh seorang perempuan yang membawa putranya yang kerasukan jin, maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,
"Keluarlah, wahai musuh Allah! Aku adalah utusan Allah."
Dia berkata, "Lantas dia pun sembuh lalu dia menghadiahkan kepada beliau dua ekor kibas bersama sedikit keju dan samin. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Wahai Ya'lā! Ambil keju, samin, dan salah satu kibas itu, dan kembalikan satu ekor yang lain.'"[82] [82] HR. Ahmad (Musnad Ahmad: 4/172) dan Al-Ḥākim serta dia menyatakannya ṣaḥīḥ. Al-Munżiriy berkata, "Sanadnya jayyid. Al-Haiṡamiy dalam Al-Majma' (6/9) berkata, "Diriwayatkan oleh Ahmad dan para perawinya adalah para perawi kitab Aṣ-Ṣaḥīḥ". 'Aṭā` bin Abi Rabāḥ mengisahkan: Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata kepadaku, "Maukah engkau aku tunjuki seorang wanita penghuni surga?" Aku berkata, "Tentu." Dia menjelaskan, "Dialah wanita berkulit hitam yang datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, seraya berkata, 'Aku mengalami penyakit kesurupan, akibatnya auratku tersingkap. Berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku.' Beliau bersabda, 'Jika engkau mau bersabar maka engkau mendapat surga. Jika engkau mau, aku pun akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu.' Wanita itu menjawab, 'Aku akan bersabar.' Kemudian dia berkata, 'Wahai Rasulullah! Auratku terbuka karenanya, maka mohonkanlah kepada Allah agar auratku tidak terbuka.' Maka Rasulullah pun berdoa untuknya." Imam Bukhari mengatakan: Muhammad bercerita kepada kami, kami dikabari oleh Makhlad, dari Ibnu Juraij, kami dikabari oleh 'Aṭā`: bahwa dia melihat Ummu Zufar, wanita tinggi hitam itu di atas tirai Ka'bah."[83]
[83] Ṣaḥīḥ Al-Bukhāri (7/116). Imam Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Perempuan yang disebutkan di dalam hadis ini bahwa dia menderita hilang kesadaran dan tersingkap auratnya, bisa saja hilang kesadarannya berasal dari jenis (gangguan saraf) ini[84]".
[84] Maksud beliau -raḥimahullāh-: hilang kesadaran akibat gangguan saraf, yaitu yang dikenal di zaman sekarang sebagai epilepsi. (Aṭ-Ṭibb an-Nabawiy karya Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh-: hal. 54)
Syaikhul-Islām -raḥimahullāh- berkata, "Kerasukan jin memiliki tiga sebab:
Kadang jin suka kepada orang tersebut lalu merasukinya untuk sekadar menjadikannya sebagai media kesenangannya. Kerasukan jenis ini lebih ringan dan lebih mudah dari yang lain. Kadang manusia menyakitinya ketika mengencingi mereka, menuangkan air panas atau membunuh sebagian mereka dan berbagai bentuk gangguan lainnya. Kerasukan jenis ini paling berat, dan seringkali jin membunuh orang yang kerasukan. Kadang sebagai tindakan main-main sebagaimana orang-orang yang jahil mempermainkan orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan[85]." [85] Majmū' al-Fatāwā (13/82).
Abdullah bin Imam Ahmad bin Hanbal mengisahkan: Aku pernah bertanya kepada ayahku, "Sebagian orang mengatakan bahwa jin tidak masuk ke badan orang yang kerasukan". Maka beliau berkata, "Anakku, mereka berbohong. Inilah jin yang berbicara lewat lisannya[86]." [86] Majmū' Fatāwā Ibni Bāz (3/304). Pernah ada satu pertanyaan kepada Syekh Abdul Aziz bin Bāz -raḥimahullāh- dalam acara Fatāwā Nūr 'alā ad-Darb, yaitu sebagai berikut:
Pertanyaan: Apakah setan bisa berbicara lewat lisan manusia? Jawaban beliau: Setan mungkin berbicara lewat lisan manusia dan membohongi mereka. Setan dapat menipu manusia dalam banyak hal yang dia dustakan[87]. [87] Fatāwā Nūr 'alā ad-Darb versi fatwa Syekh Abdul Aziz bin Bāz (1/232).
Syaikhul-Islām Ibnu Taimiyah -raḥimahullāh- pernah menyebutkan perihal jin merasuki manusia. Beliau berkata, "Jin dapat merasuki seseorang lalu dia berbicara dengan bahasa yang tidak dipahami maknanya. Kadang dia dipukul dengan pukulan keras di badannya, seandainya pukulan itu ditujukan kepada unta pasti akan menyisakan bekas luar biasa. Tetapi meskipun demikian, orang yang kerasukan tidak merasakan pukulan tersebut maupun ucapan yang diucapkannya. Kadang orang yang kerasukan dan yang tidak kerasukan diseret, dia menarik tikar alas duduknya, memindahkan berbagai peralatan... dan melakukan perkara-perkara lainnya tanpa sadar. Bagi orang yang menyaksikannya akan memperoleh keyakinan pasti bahwa yang berbicara lewat lisan orang tersebut serta yang menggerakkan tubuhnya ialah makhluk lain selain manusia[88]".
[88] Al-Fatāwā al-Kubrā karya Ibnu Taimiyah (3/13), cet. 1, 1408, Dār al-Kutub al-'Ilmiyyah.
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- mengisahkan,
"Beliau (Ibnu Taimiyah)[89] mengabariku bahwa beliau pernah sekali membacakannya ke telinga orang yang kerasukan. Ruh yang merasukinya melenguh panjang dengan ucapan 'ya'. Beliau berkata, 'Lantas aku mengambil sebuah tongkat dan memukulkannya di urat lehernya sampai kedua tanganku kaku akibat pukulan tersebut. Orang-orang yang hadir yakin bahwa dia bisa mati dengan pukulan tersebut. Di sela-sela pukulan itu, jin berkata, 'Aku mencintainya.' Kukatakan kepadanya, 'Tapi dia tidak menyukaimu.' Dia membalas, 'Aku ingin berhaji dengannya.' Kukatakan lagi kepadanya, 'Dia tidak mau berhaji bersamamu.' Dia berkata, 'Aku akan tinggalkan dia sebagai bentuk memuliakanmu.' Aku katakan, 'Jangan. Tetapi keluarlah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.' Dia berkata, 'Aku akan keluar darinya.' Maka pasien kerasukan tersebut menoleh ke kanan dan kiri lalu berkata, 'Apa yang membuatku dibawa kepada Syekh?' Orang-orang berkata, 'Apakah kamu tidak sadar dengan semua pukulan tadi?!' Dia berkata, 'Atas salah apa aku dipukul oleh Syekh, padahal aku tidak pernah salah?!' Dia sama sekali tidak merasakan pukulan. Beliau (Ibnu Taimiyah) mengobati menggunakan ayat Kursi. Beliau memerintahkan orang yang kerasukan supaya banyak membacanya serta orang yang menggunakannya untuk mengobati orang kerasukan. Begitu juga dengan membacakan al-Mu'awwiẓatain (Surah Al-Falaq dan An-Nās)[90].
[89] Ucapan ini adalah kisah Ibnul-Qayyim tentang gurunya, Ibnu Taimiyah -semoga Allah mengangkat derajat keduanya-. [90] Aṭ-Ṭibb an-Nabawiy karya Ibnul-Qayyim, hal. 53, Dār al-Hilāl, Beirut. Tanggapan terhadap penyangkalan kemungkinan jin merasuki manusia oleh beberapa ahli psikologi: Dr. Muhammad bin Jamal Holdar, pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Dammam, mengatakan dalam kesimpulan penelitiannya tentang hal ini:
Dengan berbagai manfaatnya yang besar, psikiatri tetaplah pengobatan yang bersifat fisik, tidak memperhitungkan perkara gaib, sehingga tidak diperbolehkan dari sisi profesionalisme -apalagi dari sisi syariah- mengandalkannya dalam menyangkal kemungkinan jin merasuk kepada manusia. Tidak ada keraguan bahwa di antara sikap profesionalisme dan menghormati spesialisasi ialah tidak berbicara di luar spesialisasi kita dan tidak menyangkal hal-hal yang spesialisasi kita tidak memiliki alat untuk menilainya dalam bentuk negasi maupun afirmasi. Pembahasan tema agama dan penafsiran nas-nasnya oleh orang yang tidak dikenal mumpuni dalam ilmu agama serta menguasai kaidah-kaidahnya, merupakan bahaya besar bagi agamanya. Bila ia masuk ke pembahasan tentang dalil-dalil agama serta memberikan pendapat pribadi padanya, maka itu bukan hanya sekadar tidak menghargai spesialisasi, bahkan hal itu termasuk berbicara atas nama Allah tanpa ilmu. Betapa hal ini sangat membinasakan! Aku berlindung kepada Allah untuk diriku dan rekan-rekanku darinya[91]".
[91] Ditulis oleh Muhammad bin Jamal Holdar, Kesaksian Spesialis Psikiatri Kanada (Dewan Kanada, 23 Safar 1438 H). https://twitter.com/mohammad_holdar/status/801266701027393536?s=12.
12- Tinjauan Seputar Dugaan Kerasukan Jin
Tingkat sugestibilitas pasien gangguan mental berupa dugaan diganggu oleh jin, sihir, atau 'ain termasuk jenis gangguan disosiatif transformasional dan merupakan salah satu karakteristik kepribadian histeris. Menurut pengamatan saya, tingkat sugestibilitas diganggu oleh jin, sihir, atau 'ain pada pasien gangguan mental rendah dan tidak mutlak seperti yang diklaim oleh sebagian psikiater. Hal ini sesuai pengalaman saya di dalam dan di luar rumah sakit.
Ketika pertama kali gejala gangguan mental muncul pada pasien gangguan jiwa, ia akan menyangkal menderita gangguan jiwa. Bisa jadi ia hilang kesadaran, lalu hal itu berakibat penolakannya untuk berobat, baik dengan pergi ke peruqyah maupun psikiater, sehingga pada awalnya sulit bagi keluarga pasien tersebut untuk merujuk ke psikiater. Hal ini disebabkan oleh beberapa kesalahan umum, yaitu: 1- Kekhawatiran tersebarnya kabar bahwa si polan pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Kemungkinan besar mereka akan berpikir bahwa hal itu akan menjadi batu sandungan dalam pernikahan atau evaluasi akademis atau karir si pasien. 2- Perasaan gundah terhadap stigma penyakit mental dan adanya kepercayaan mereka bahwa hal itu terkait dengan kegilaan dan keterbelakangan mental. Tentu pikiran semacam ini adalah tipu daya setan terhadap manusia.
3- Tingginya biaya klinik spesialis psikiatri serta adanya jadwal pemeriksaan yang padat dan harus antri lama.
4- Tidak bisa membedakan antara obat-obatan psikiatri dan efek sampingnya serta kesalahpahaman bahwa obat-obatan itu hanyalah narkotika yang bisa menyebabkan kecanduan.
5- Putus asa terhadap kesembuhan penyakit mental dengan meyakini bahwa ia berkelanjutan seumur hidup.
6- Keyakinan banyak orang bahwa serangan 'ain, sihir, atau kerasukan jin lebih minim bahaya daripada gangguan mental.
Kurang lebih hambatan-hambatan ini merupakan sebab terpenting yang menghalangi keluarga pasien untuk merujuk ke psikiater dan meyakini lebih baik berobat ke peruqyah. Tentu tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur`ān adalah obat. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Katakanlah, Al-Qur`ān itu bagi orang-orang yang beriman ialah petunjuk dan kesembuhan."[92]
[92] QS. Fuṣṣilat: 44.
Barangkali saya mengajak Anda berimajinasi tentang apa yang terjadi pada pasien psikiatri ketika dia menghadapi kondisi-kondisi berikut ini di sebagian peruqyah yang banyak didatangi pasien:
1- Ketika pasien gangguan jiwa menolak ruqyah pada sesi pertama, sebagian peruqyah mungkin akan berpikir bahwa penolakan ini disebabkan oleh ketakutan jin yang merasuki pasien tersebut saat akan diruqyah. Hal ini membuat keluarga pasien tersebut semakin memaksanya untuk melanjutkan ruqyah.
Padahal, rasa takut orang-orang yang mengalami gangguan jin atau sihir terhadap sebagian peruqyah tidak bersifat mutlak seperti yang diyakini banyak orang. Sebab itu, banyak sekali antrian orang-orang yang mengalami gangguan jin, sihir, atau 'ain -semoga Allah menyembuhkan mereka- pada sebagian peruqyah.
Bahkan, kebanyakan dari mereka datang berulang kali ke sebagian peruqyah atas kemauan sendiri setelah mereka merasakan keberkahan Al-Qur`ān.
2- Seorang psikopat akan terpengaruh ketika dia melihat orang-orang yang bingung di sekitarnya atau yang mengalami kerasukan, berteriak, menangis atau muntah selama ruqyah massal, lalu pengaruh tersebut berubah menjadi kenyataan ketika terjadi terus-menerus sehingga orang yang mengalami gangguan mental tersebut pun turut kerasukan dan berteriak-teriak.
3- Tingkat sugesti seorang psikopat akan berbeda-beda dari satu pasien ke pasien lainnya sesuai dengan tingkat perbedaan keadaan psikologis serta persepsinya tentang jenis gangguan itu. Sebagian mereka merasa mengalami gangguan 'ain, sebagian merasa mengalami gangguan sihir, dan sebagian lagi merasa mengalami kerasukan jin. 4- Sugesti tersebut akan semakin menguat ketika penderita gangguan jiwa mendapatkan perlakuan keras dari sebagian peruqyah, yaitu setiap kali peruqyah membentaknya dengan kata "keluar" dan sejenisnya, dan ketika dia memaksakan diri untuk meninggikan suara. Di samping itu, meninggikan suara bertentangan dengan sikap merendahkan diri di hadapan Allah -'Azza wa Jalla- sebagaimana penjelasan-Nya terkait doa Nabi Zakaria -'alaihissalām-; Dia berfirman,
"(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria(2),
(yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut(3)."[93]
Juga sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada para sahabat tatkala beliau mendengar mereka meninggikan suara dalam doa di salah satu peperangan,
"Wahai sekalian manusia! Tenangkanlah diri kalian karena kalian tidak berdoa kepada Tuhan yang tuli dan tidak ada! Yang kalian mintai doa itu adalah Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat."[94]
[93] QS. Maryam: 2-3
[94] Ṣaḥīḥ Al-Bukhāri (8/125).
Adapun ruqyah maka ia bagian dari doa dan permintaan tolong dan kesembuhan kepada Allah. Allah -'Azza wa Jalla- berfirman,
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut."[95]
[95] QS. Al-A'rāf: 55
5- Sebagian keluarga pasien dan sebagian peruqyah meyakini bahwa bila orang yang memiliki gangguan jiwa semakin buruk kondisi psikisnya, maka itu adalah bukti lemahnya jin yang merasuki pasien. Padahal, kenyataannya adalah kebalikan darinya. Ketika jin yang merasuki pasien menjadi lemah karena sebab ruqyah, maka akan membaik pula kondisi psikis dan fisiknya secara bersamaan. Andai pada tubuh ada pengaruh luar seperti gangguan jin, sihir, atau 'ain, maka ia tidak akan bertahan di hadapan Al-Qur`ān, dengan izin Allah.
Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur`ān) yang dibacakan kepada mereka?"
[96] QS. Al-'Ankabūt: 51
Imam Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Siapa yang tidak disembuhkan oleh Al-Qur`ān, Allah tidak akan menyembuhkannya. Siapa yang tidak dicukupkan oleh Al-Qur`ān, maka tidak akan dicukupkan oleh Allah."[97]
[97] Zādul-Ma’ād karya Ibnul-Qayyim (3/875).
Sebaliknya, memburuknya kondisi psikologis pasien setelah diruqyah terkadang merupakan indikasi ia terbebani ilusi ketika sebagian peruqyah menyatakannya sebagai korban jin, sihir atau 'ain. Oleh sebab itu, kita menemukan sebagian peruqyah baru memastikan jin berbicara lewat lisan pasien setelah empat puluh hari! Peruqyah yang lain berkata: setelah tiga bulan sejak pasien rutin diruqyah! Hal ini terjadi ketika sugestibilitas kerasukan pada pasien benar-benar menguasainya selama periode ruqyah ini! Pertanyaannya: Apa bukti penetapan waktu selama ini untuk memastikan kerasukan jin?!
Barangkali saya dapat bercerita sebuah kisah seputar topik ini:
Salah seorang teman meminta saya untuk meruqyah istrinya yang diyakininya menderita kerasukan jin, setelah sebelumnya rutin berobat pada seorang peruqyah selama hampir satu tahun.
Saya perhatikan tatkala meruqyahnya bahwa kesurupan dan teriakannya dibuat-buat dan semakin meningkat setelah setiap sesi selama tiga hari, sampai-sampai kami khawatir mengganggu tetangga. Padahal biasanya, selama meruqyah orang yang menderita gangguan jin atau sihir, yang terjadi adalah semakin lemahnya kesurupan pasien sedikit demi sedikit -dengan izin Allah- setelah setiap sesi. Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah."[98]
[98] QS. An-Nisā`: 76. Saya lalu sampaikan kepada suaminya bahwa dia tidak sedang mengalami kerasukan jin, tetapi dia sedang mengalami gangguan psikologis. Pada sesi keempat, saya bersepakat dengan suaminya untuk menghancurkan sugesti psikologisnya[99]. Lantas saya mulai membacakan ruqyah dengan suara tinggi hingga ia larut dalam pikiran. Kemudian saya membaca dengan suara pelan hingga dia tenang. Saya melanjutkan metode tersebut sampai dia diam dengan tenang di tengah-tengah bacaan saya dengan suara pelan supaya dia mendengarkan dan penasaran menanti apa yang saya katakan. [99] Metode ini bagian dari terapi menggunakan metode imajinasi. Lihat hal. 51. Saya berkata, "Siapa kamu?" Dia menjawab, "Saya Barjas -atau nama yang mirip dengan itu." Saya bertanya, "Dari mana Anda berasal?" Dia menjawab, "Dari Irak." Saya berkata, "Apakah Anda datang dengan pesawat atau mobil?" Dia berkata, "Tentu, saya terbang." Saya berkata, "Apa yang Anda minta supaya Anda keluar?" Dia menolak untuk menjawab. Lantas saya berkata, "Apakah Anda mau kami bawakan es krim supaya Anda keluar?" Dia berkata, "Anda bercanda."[100] Maka saya katakan, "Keluarlah dari kaki?" Tiba-tiba kakinya bergetar dan dia benar-benar tertutup. Lantas saya berkata kepada suaminya, "Apakah Anda setuju dengan saya bahwa jinnya keluar?" Dia menjawab, "Ya."[101]
[100] "Tanakkatta" berasal dari kata "naktah", maksudnya: candaan dan tawaan. Ini maknanya di pemakaian masyarakat awam. Adapun maknanya di kalangan ulama ialah berbagai persoalan ilmu. [101] Pastinya, waham bahwa dia kerasukan jin hilang dari pikirannya. Aku pernah bertanya kepada Syekh Prof. Dr. Sa'ad bin Turkiy al-Khaṡlān tentang bolehnya berdusta kepada pasien psikiatri? Maka beliau menjawab bahwa hukumnya boleh disertai dengan penakwilan, yaitu memaksudkannya pada makna yang benar padahal yang ditampakkan kepadanya adalah makna lain.
Saya tidak menemukan gangguan jin apa pun selama meruqyahnya setelah tiga sesi. Setelah itu, saya mencoba meyakinkannya -dengan cara lain-, yaitu supaya berobat ke psikiater untuk diberikan obat yang tepat. Selang beberapa waktu suaminya menelepon saya memberikan kabar gembira bahwa kondisi psikologisnya telah banyak membaik dan telah pergi ke Makkah untuk menunaikan umrah. Jadi, kita tidak boleh hanya memperhatikan reaksi pasien ketika diruqyah tanpa fokus pada perbaikan kesehatannya setelah itu agar kita tidak bingung dengan sugesti psikologis pasien.
13- Tinjauan Seputar Ruqyah Syar'i
Setiap muslim pasti mengetahui pengaruh aktif Al-Qur`ān al-Karīm dalam penyembuhan penyakit-penyakit hati dan badan. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur`ān) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman."
[QS. Yūnus: 57]
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Al-Qur`ān itu obat bagi hati dari penyakit kejahilan dan keraguan. Allah -Suhānahu wa Ta'ālā- tidak pernah menurunkan sebuah obat yang lebih universal, lebih bermanfaat, lebih agung, ataupun lebih cepat di dalam mengangkat penyakit daripada Al-Qur`ān."[102]
[102] Al-Jawāb al-Kāfī (hal. 3).
Allah -Ta'ālā- juga berfirman,
"Sekali-kali tidak! Apabila (nyawa) telah sampai ke kerongkongan (26),
dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa yang dapat menyembuhkan?'"(27)[103]
[103] QS. Al-Qiyāmah: 26.
Al-'Allāmah Abdur Rahman as-Sa'diy -raḥimahullāh- memberikan catatan penjelasan pada ayat ini:
"Allah -Ta'ālā- mengingatkan hamba-Nya dengan menyebutkan keadaan orang yang sekarat, yaitu ketika rohnya telah mencapai puncak dada, yaitu tulang yang mengapit lobang leher bawah, pada saat itu penderitaannya semakin meningkat serta dia mencari semua sarana dan sebab yang dia kira akan mendatangkan kesembuhan dan kenyamanan. Oleh karena itu, Allah berfirman, "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa yang dapat menyembuhkan?'. Maksudnya: siapa yang dapat membacakannya ruqyah? Karena saat itu mereka tidak memiliki harapan lagi pada sebab-sebab biasa dan tidak tersisa kecuali sebab ilahi."[104]
[104] Tafsīr as-Sa'diy - Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān (hal. 900).
Pernah ada pertanyaan yang ditujukan kepada Komite Tetap Untuk Riset Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia (no. 18450), sebagai berikut:
Pertanyaan: Saat ini banyak orang mengaku sebagai tabib bukan dari kalangan dokter yang diberi lisensi oleh Kementerian Kesehatan. Mengingat bahaya sebagian mereka terhadap akidah Islam, saya berharap dapat mendengar pandangan agama Islam yang benar tentang orang yang mengklaim bahwa dia mengobati dengan Kitab dan Sunnah; dia memeriksa pasien, laki-laki maupun perempuan, mendiagnosis penyakit mereka dan memberikannya pengobatan; membacakan mereka ruqyah pada air, madu, dan lainnya, padahal dia mungkin tidak mengetahui pokok-pokok agama atau metode mengambil hukum dari Kitab dan Sunnah. Misalnya, saya mendengar rekaman salah seorang syekh mengatakan: Obat cemas adalah pasien membaca satu juz Al-Qur`ān setiap hari beserta tafsirnya dari Kitab Tafsir Ibni Kaṡīr. Apa dasar pengobatan ini dari Kitab dan Sunnah?
Jawaban: Meruqyah orang yang sakit fisik atau psikis, atau akibat 'ain atau sihir[105] atau lainnya, hukumnya boleh jika menggunakan Al-Qur'ān atau doa-doa yang sahih, dan dilakukan oleh orang yang memiliki akidah lurus serta taat kepada syariat, juga memiliki pengetahuan tentang urusan pengobatan, khususnya pengobatan menggunakan obat-obatan yang dibolehkan.
[105] Akan ada pembahasan tentang meruqyah orang yang disihir di hal. 100.
Ibnu Ḥajar -raḥimahullāh- berkata, 'Para ulama telah berijmak tentang diperbolehkannya ruqyah ketika terpenuhi 3 syarat:
1- Menggunakan kalam Allah -Ta'ālā- atau nama-nama dan sifat-Nya.
2- Menggunakan Bahasa Arab atau bahasa lainnya yang dapat dipahami maknanya.
3- Meyakini bahwa rukiah tersebut tidak menyembuhkan sendiri, melainkan menyembuhkan dengan takdir Allah Ta'ālā.
Para ulama berbeda pendapat dalam hal menjadikan 3 poin ini sebagai syarat. Namun, pendapat yang kuat ialah bahwa diharuskan memperhatikan semua syarat-syarat yang disebutkan di atas. Dalam Ṣaḥīḥ Muslim, 'Auf bin Mālik -radiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, 'Dahulu kami biasa melakukan ruqyah di masa jahiliyah. Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapat Anda tentang hal itu?' Beliau bersabda,
'Paparkanlah kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Ruqyah itu tidak mengapa selama tidak mengandung kesyirikan."[106]
[106] HR. Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya, Bāb Lā Ba`sa bir-Ruqā Mā Lam Yakun Fīhi Syirkun (4/1727 no. 64).
Juga dalam Ṣaḥīḥ Muslim, Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, 'Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang ruqyah, sehingga datang kepada beliau keluarga 'Amr bin Ḥazm seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, kami memiliki ruqyah yang dibacakan pada sengatan kalajengking.' Mereka kemudian memaparkannya kepada beliau, lalu beliau bersabda,
'Aku memandangnya boleh. Siapa yang bisa memberi manfaat kepada saudaranya dengannya, hendaknya dia lakukan.''[107]
[107] HR. Abu Daud dalam As-Sunan, Bāb fī Syurbit-Tiryāq (no. 3869, 6/17) dan Aṭ-Ṭabarāniy dalam Al-Mu'jam al-Kabīr (no. 74, 17/37). Sebagian orang berpegang dengan keumuman hadis ini lalu membolehkan semua ruqyah yang terbukti bermanfaat sekalipun maknanya tidak dipahami. Hanya saja, hadis 'Auf menunjukkan bahwa ruqyah apa pun yang dapat mengantarkan kepada kesyirikan maka dilarang. Sedangkan ruqyah yang tidak dipahami maknanya tidak dapat dijamin tidak akan mengantarkan kepada kesyirikan sehingga hukumnya dilarang sebagai bentuk kehati-hatian. Begitu juga syarat yang lain harus terpenuhi."[108]
[108] Al-Fatḥ (10/195)
Ruqyah yang tidak dipahami maknanya, jika tidak mengantarkan kepada kesyirikan, maka akan membuka pintu hipnotis dan pelegalan praktik para penyihir, ahli bidah, dan takhayul.
Adapun orang yang mengklaim mengetahui gaib atau mampu menghadirkan jin atau yang semisal mereka dari kalangan para pesulap dan orang-orang yang tidak jelas, mereka itu tidak boleh didatangi, tidak boleh ditanyai, dan tidak boleh juga berobat kepada mereka. Ini berdasarkan sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-: "Barang siapa mendatangi tukang tenung lalu dia bertanya kepadanya tentang suatu hal, maka salatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam."
(HR. Muslim)
Juga sabda beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-:
"Siapa yang mendatangi peramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."[109]
[109] HR. Imam Ahmad dalam Al-Musnad, Bāb Ḥadīṡ Ba'ḍi Azwājin-Nabiy -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (27/197 no. 1638).
Selain hadis di atas, ada juga beberapa hadis lainnya dalam masalah ini yang menunjukkan pengharaman bertanya kepada dukun dan peramal serta mempercayai mereka, yaitu orang-orang yang mengklaim mengetahui gaib atau meminta bantuan kepada jin atau ada di antara perbuatan dan perilaku mereka yang menunjukkan hal tersebut.
Kepada merekalah serta orang-orang yang semisal mereka berlaku hadis masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud dengan sanad jayyid dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ia meriwayatkan: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ditanya tentang nusyrah, maka beliau bersabda,
"Ini termasuk perbuatan setan."[110] [110] Musnad Al-Bazzār - Al-Baḥr az-Zakhkhār (13/224 no. 6709).
Para ulama menjelaskan bahwa nusyrah itu ialah praktik melepas sihir dengan sihir yang biasa dilakukan di masa jahiliah. Ia sama hukumnya dengan bentuk pengobatan yang berisikan permintaan bantuan kepada para dukun, peramal, dan pesulap.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sendiri biasa meruqyah sahabat-sahabatnya. Di antara bacaan ruqyah yang diriwayatkan dari beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ialah:
Rabbanā, Allāhul-lażī fis-samā`, taqaddasa-smuka, amruka fis-samā`i wal-arḍi, kamā raḥmatuka fis-samā`i, fa-j'al raḥmataka fil-`arḍi, anzil raḥmatan min raḥmatika wa syifā`an min syifā`ika 'alā hāżal-waja' fa-yabra` (Tuhan kami adalah Allah yang ada di langit, Mahasuci nama-Mu, perintah-Mu di langit dan di bumi. Sebagaimana rahmat-Mu di langit, maka jadikanlah rahmat-Mu di bumi. Turunkan satu di antara rahmat-Mu dan satu di antara kesembuhan-Mu kepada penyakit ini agar ia sembuh).[111]
[111] HR. Abu Daud dalam As-Sunan, Bāb Kaifa ar-Ruqā (4/12 no. 3892). Di antara doa yang disyariatkan ialah:
Bismillāhi arqīka, min kulli dā`in yu`żīka, wa min syarri kulli nafsin `aw 'ain ḥāsidin, Allāhu yasyfīka, bismillāhi `arqīka (Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala penyakit yang mengganggumu dan dari kejelekan setiap jiwa atau pandangan yang hasad. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu). Juga di antaranya:
Allāhumma rabban-nās, ażhibil-ba`sa, wa-syfi anta asy-syāfī, lā syifā`a illā syifā`uka, syifā`an lā yugādiru saqaman (Ya Allah, Tuhan seluruh manusia! Hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah. Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tiada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit).[112] [112] HR. Bukhari dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ, Bāb Ruqyatun-Nabiy -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (7/132 no. 5743).
Termasuk dengan meletakkan tangan pada bagian badan yang sakit seraya membaca: Bismillāh, a'ūżu bi 'izzatillāhi wa qudratihi min syarri mā ajidu wa uḥāżir (Dengan nama Allah, aku berlindung dengan kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan yang aku dapatkan dan aku takutkan). Ini dibaca sebanyak tujuh kali. [113] Boleh juga membaca doa-doa lainnya.
[113] HR. Ibnu Mājah dalam As-Sunan, Bāb Mā 'Awważa bihin-Nabiy -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (2/1163 no. 3522). Al-Albāniy berkata, "Hadis ini sahih." Adapun menulis ayat dan zikir lalu menggantungkannya pada orang yang sakit, maka hukumnya tidak boleh menurut pendapat yang sahih karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang hal tersebut. Beliau bersabda, "Sesungguhnya ruqyah, tamīmah (jimat), dan tiwalah (jimat pengasihan) adalah syirik." Namun, tentunya dikecualikan ruqyah yang dibolehkan oleh syariat.
Adapun meniup pada air yang disertai ludah, jika tujuannya ialah mencari keberkahan pada ludah orang yang menjampi, maka hukumnya haram dan termasuk sarana kesyirikan karena ludah seseorang tidak mengandung keberkahan maupun kesembuhan. Tidak ada orang yang dibenarkan bertabaruk dengan ludahnya kecuali Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Adapun tiupan beserta sedikit ludah yang disertai bacaan Al-Qur`ān dan doa-doa, seperti membaca Surah Al-Fātiḥah yang merupakan bacaan ruqyah paling agung pada orang sakit, maka ini hukumnya boleh. Hal ini pernah dilakukan para sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tatkala meruqyah orang yang tersengat hewan berbisa lalu Allah menyembuhkan orang tersebut. Ketika mereka mengabarkan hal itu kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau malah menyetujuinya seraya bersabda, "Kalian telah melakukan sesuatu yang benar." Ruqyah ini terbukti bermanfaat -dengan izin Allah-. Nabi -sallallāhu 'alaihi wa sallam- seringkali meniup pada kedua tangan beliau ketika akan tidur disertai membaca Surah 'Qul Huwallāhu Aḥad', 'Qul A'ūżu bi Rabbil-Falaq', dan 'Qul A'ūżu bi Rabbin-Nās', lalu keduanya beliau usapkan pada muka dan bagian tubuh beliau yang bisa dijangkau sebanyak tiga kali.
Adapun yang disebutkan dalam pertanyaan bahwa obat cemas ialah membaca satu juz Al-Qur`ān berikut tafsirnya dari Tafsīr Ibni Kaṡīr, maka tidak ada dasar dalilnya. Tetapi, Al-Qur`ān itu seluruhnya dapat digunakan merukiah dan dapat memberi manfaat.
Sedangkan menentukan ayat-ayat tertentu untuk meruqyah sebagian penyakit tanpa dasar dalil, hukumnya tidak boleh karena Al-Qur`ān itu seluruhnya mengandung kebaikan dan kesembuhan bagi orang-orang beriman. Bagian Al-Qur`ān yang paling agung untuk digunakan meruqyah adalah Surah Al-Fātiḥah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.[114]
[114] Di antara nama lain Surah Al-Fātiḥah ialah ar-Ruqyah.
Wajib diperhatikan bahwa Al-Qur`ān tidak diturunkan sebatas sebagai obat penyakit fisik. Akan tetapi, Al-Qur`ān turun untuk perkara besar dan urusan mulia, yaitu sebagai peringatan bagi seluruh alam, petunjuk kepada jalan Allah yang lurus, pemutus di antara manusia pada perkara yang mereka perselisihkan, dan peringatan terhadap jalan kekafiran dan orang-orang kafir. Di samping itu, melalui Al-Qur`ān, Allah -Ta'ālā- memberikan manfaat kepada hamba-hamba-Nya yang beriman terkait penyakit agama dan fisik mereka, sebagaimana Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Katakanlah, 'Al-Qur`ān adalah petunjuk dan penyembuh.'"[115]
Allah -Ta'ālā- juga berfirman,
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur`ān suatu yang menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`ān itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian."[116], [117]
[115] QS. Fuṣṣilat: 44.
[116] Ibnul-Qayyim -rahimahullāh- berkata, "Kata 'dari (ْْمِنْ)' di ayat ini berfungsi untuk menerangkan jenis, bukan menunjukkan makna sebagian; karena seluruh ayat Al-Qur`ān adalah obat." (Al-Jawāb al-Kāfī: hal. 3).
[117] QS. Al-Isrā`: 82.
Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad beserta keluarga dan para sahabat beliau.[118]
[118] Fatāwā al-Lajnah ad-Dā`imah lil-Buḥūṡ al-'Ilmiyyah wal-Iftā` (1/72).
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz. Wakil Ketua: Abdul Aziz Ālu asy-Syaikh. Anggota: Bakr Abu Zaid - Ṣāliḥ al-Fauzān - Abdullah bin Gudayyān.
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Siapa yang membaca empat ayat dari awal Surah Al-Baqarah, Ayat Kursi, 2 ayat setelah Ayat Kursi, dan 3 ayat terakhir Surah Al-Baqarah, niscaya dia dan keluarganya tidak akan didekati oleh setan atau apa pun yang tidak dia sukai pada keluarga dan hartanya, serta tidaklah dibacakan pada orang yang gila kecuali dia pasti sembuh."[119]
[119] Ad-Durr al-Manṡūr fit-Tafsīr bil-Ma`ṡūr (1/70).
Dalam Ṣaḥīḥ Muslim, Ma'dān bin Ṭalḥah meriwayatkan dari Abū ad-Dardā` bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,
"Apakah salah seorang kalian tak sanggup untuk membaca sepertiga Al-Qur`ān dalam satu malam?" Para sahabat bertanya, "Bagaimana caranya membaca sepertiga Al-Qur`ān?" Beliau menjawab, " Surah 'Qul Huwallāhu Aḥad' setara sepertiga Al-Qur`ān."[120]
[120] Ini HR. Tirmizi dari hadis Anas (no. 2893) dan hadis Ibnu 'Abbās (no. 2804).
Ibnul Qayyim-raḥimahullāh- mengisahkan tentang gurunya, Ibnu Taimiyah -raḥimahullāh-, "Beliau sering membacakan di telinga orang yang kerasukan:
"Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?"
[QS. Al-Mu`minūn: 115][121]
[121] Aṭ-Ṭibb an-Nabawiy (hal. 53), penerbit: Dār al-Hilāl, Beirut.
Ibnul-Qayyim-raḥimahullāh- juga berkata ketika menjelaskan keutamaan Surah Al-Fātiḥah yang berisikan penyembuhan penyakit fisik,
"Adapun keutamaan Al-Fātiḥah yang mengandung penyembuhan penyakit badan, kita akan sebutkan sebagian contohnya yang terdapat dalam hadis, serta yang dibuktikan oleh kaidah medis dan eksperimennya.
Adapun yang ditunjukkan oleh Sunnah, yaitu hadis dalam aṣ-Ṣaḥīḥ riwayat Abū al-Mutawakkil an-Nājiy dari Ibnu 'Abbās: bahwa beberapa orang sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melewati sebuah kabilah yang salah seorang masyarakatnya disengat hewan berbisa. Lantas mereka didatangi seorang laki-laki dari penduduk kabilah tersebut seraya bertanya, "Adakah di antara kalian yang bisa meruqyah? Salah seorang penduduk kabilah ini tersengat hewan berbisa." Salah satu sahabat kemudian beranjak pergi lalu membacakan Al-Fātiḥah dengan imbalan kambing. Ternyata orang tersebut sembuh[122]. Lalu dia pun pulang membawa kambing kepada teman-temannya. Akan tetapi, mereka tidak menyukai hal tersebut sambil berkata, "Engkau telah mengambil upah pada bacaan Kitābullāh." Ketika tiba di Madinah, mereka bertanya, "Wahai Rasulullah! Dia mengambil upah pada Kitābullāh?" Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sungguh yang paling pantas kalian ambil upah padanya ialah Kitābullāh."[123]
[122] Maksudnya: laki-laki yang disengat itu sembuh.
[123] HR. Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya (7/121).
Hadis ini memberikan informasi tentang sembuhnya orang yang mengalami sengatan ini dengan bacaan Al-Fātiḥah padanya dan tidak butuh obat lain, bahkan bisa jadi kesembuhan yang dihasilkannya tidak digapai oleh obat. Padahal, pasiennya tidak potensial untuk disembuhkan dengan Al-Fātiḥah, baik karena penduduk kampung tersebut bukan umat Islam ataupun orang-orang pelit. Lalu bagaimana kiranya kemujaraban Al-Fātiḥah ini jika pasiennya benar-benar potensial?!."[124]
[124] Madārijus-Sālikīn (hal. 39), cet. 1, tahun 1434 H, Dār Ibnu Ḥazm, Beirut, Libanon. 14- Tinjauan Seputar Pengaruh Ruqyah
Permisalan paling indah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh ruqyah pada pasien ialah ungkapan terkenal yang diucapkan oleh Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh-, "Rukiah itu tergantung pada orang yang meruqyah dan tingkat penerimaan objeknya, sebagaimana pedang itu tergantung orang yang menggunakannya serta kesiapan objek yang akan dipotong."[125] [125] Madārijus-Sālikīn (hal. 41).
Kita mesti memahami ucapan ini secara baik agar bisa membedakan antara perbedaan tingkat kuat dan lemahnya pengaruh ruqyah pada pasien penderita psikis dan pasien penderita kerasukan jin, sihir, atau 'ain. Ucapan beliau "Ruqyah itu tergantung pada orang yang meruqyah"; menunjukkan bahwa pengaruh ruqyah dalam hal menyembuhkan sebagian pasien dapat berbeda antara peruqyah yang satu dan peruqyah yang lain. Hal ini merupakan karunia yang Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya karena Allah Maha Pemilik karunia yang agung.
Syaikhul-Islām -raḥimahullāh- berkata, "Sebagian ulama meruqyah menggunakan Surah 'Qul Huwallāhu Aḥad', dan ternyata memberikan keberkahan besar. Lalu yang lain meruqyah menggunakan surah tersebut, tetapi hal itu tidak terwujud. Ketika itu dia berkata, 'Tidaklah bacaan Surah 'Qul Huwallāhu Aḥad' dari setiap orang dapat memberi manfaat pada setiap orang'."[126]
[126] Majmū' al-Fatāwā (17/139). Maksud ucapan Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- tersebut bukanlah seperti yang dipahami sebagian orang awam, yaitu dengan memaknai perkataan ini bukan pada tempatnya. Sebagian mereka berkeyakinan bahwa perbedaan tingkat pengaruh dan manfaat ruqyah antar para peruqyah berdasarkan tingkat kekuatan fisik dan tinggi suara peruqyah.
Salah seorang pasien pernah mengeluhkan suara dengung di salah satu telinganya yang berlangsung hampir 5 hari sebagai akibat dari ruqyah dengan suara tinggi di salah satu telinganya, padahal orang yang sakit biasanya mendapat manfaat ruqyah begitu mendengarnya, dengan izin Allah. Allah -Ta'ālā- berfirman mengisahkan perkataan jin,
"Dan sesungguhnya ketika kami (jin) mendengar petunjuk (Al-Qur`ān), kami beriman kepadanya."[127] [127] QS. Al-Jin: 13.
Pernah viral cuplikan suara ruqyah Syekh Abdul Aziz bin Bāz -raḥimahullāh- terhadap seseorang dengan Surah Al-Fātiḥah menggunakan suara pelan disertai tiupan (yang disertai sedikit ludah). Adakalanya kondisi menuntut suara ditinggikan supaya terdengar tanpa menimbulkan masalah di telinga pasien kerasukan jin, sebagaimana yang dilakukan oleh Syaikhul-Islām -raḥimahullāh-.[128] [128] Lihat: hal. 58. Adapun ucapan Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh-: "dan tingkat penerimaan objeknya"; maka maknanya terbagi dua:
Pertama: jenis penyakitnya bersifat fisik dan orang yang diruqyah yakin dengan manfaat Al-Qur`ān, sekalipun dia bukan muslim, sebagaimana yang terjadi pada kisah laki-laki yang tersengat hewan berbisa.[129] [129] Telah disebutkan di hal. 73.
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Sekiranya jiwa orang yang tersengat itu tidak reaktif untuk menerima ruqyah, dan jiwa orang yang meruqyah tidak kuat untuk memberi pengaruh, maka kesembuhan itu tidak akan terjadi. Sebab itu, dalam hal ini terdapat tiga perkara: kesesuaian obat pada penyakit, upaya tabib (dokter) untuk kesembuhannya, dan kesiapan mental orang yang sakit. Ketika salah satunya tidak terwujud, kesembuhan tidak akan terlaksana. Tetapi jika semuanya terkumpul, kesembuhan dapat terlaksana dan pasti, dengan izin Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-."[130] [130] Madārijus-Sālikīn (hal. 41).
Kedua: sebab utama pada keluhan pasien yang dirukiah ialah akibat dari gangguan 'ain atau sihir atau kerasukan jin sekalipun gejala-gejalanya berbeda, baik dalam bentuk penyakit fisik ataupun psikis.
Ucapan Ibnul-Qayiim -raḥimahullāh-: "sebagaimana pedang itu tergantung orang yang menggunakannya serta kesiapan objek yang akan dipotong"; menganalogikan perbedaan pengaruh ruqyah pada pasien antara peruqyah yang satu dan yang lain seperti perbedaan pengaruh pukulan pedang antara satu orang dengan yang lainnya ketika perang. Semakin hebat ketangkasan seseorang mengalahkan ketangkasan lawannya, maka pukulan pedangnya akan mantap di atas hāmm[131] (kepala musuh), dan melukainya selama tidak ada penghalang antara pukulan pedangnya dengan objek tebasan pada leher ataupun pada al-banān[132].
[131] Bentuk majemuk kata "hāmmah", artinya: bagian atas kepala.
[132] Maknanya: jari-jemari dan semua persendian.
Terlepas dari tingkat kekuatan badan, Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- menyatakan, "Tidak ada keterkaitan antara kekuatan fisik dan kekuatan jiwa, tidak juga antara kelemahan fisik dan kelemahan jiwa. Bisa jadi seseorang kuat fisik tetapi lemah jiwa dan pengecut. Sebaliknya, bisa jadi dia lemah fisik tetapi kuat jiwa sehingga dia pemberani dan terdepan sekalipun fisiknya lemah."[133]
[133] Kitāb ar-Rūḥ (hal. 255).
Ketika pukulan pedang mengenai pedang atau baju perang dan semisalnya, maka pengaruh itu tidak akan muncul sekalipun pukulannya banyak. Ini sama halnya dengan lemahnya pengaruh rukiah pada pasien penderita sebagian penyakit keras.
Ketika kita memahami ucapan Ibnul-Qayyim ini dengan baik, maka kita pasti memahami kuatnya pengaruh ruqyah pada kesembuhan sebagian penyakit serta lemahnya pengaruhnya di sebagian lainnya.
Di samping itu, kita harus meyakini bahwa Allah -'Azza wa Jalla- Mahakuasa atas segala perkara dan mengimani bahwa Dialah yang menetapkan penyakit-penyakit ini, serta Dia pula yang kuasa menolak dan mengangkatnya.
Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Tidaklah bencana yang menimpa di bumi dan tidak pula yang menimpa dirimu sendiri kecuali semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah."[134]
[134] QS. Al-Ḥadīd: 22.
Al-Bagawiy menafsirkan: Firman Allah -'Azza wa Jalla-: "Tidaklah bencana yang menimpa di bumi"; yaitu bencana berupa langkanya hujan, sedikitnya tumbuhan, dan minimnya buah-buahan. Firmannya: "Dan tidak pula yang menimpa dirimu sendiri"; yaitu bencana berupa berbagai penyakit dan kehilangan anak. Firmannya: "Kecuali semuanya telah tertulis dalam Kitab"; yaitu Kitab Lauḥ Maḥfūẓ. Firmannya: "Sebelum kami mewujudkannya"; yaitu sebelum kami menciptakan bumi dan seluruh jiwa.
15- Tinjauan Seputar Perbandingan Antara Pengaruh Rukiah dan Pengaruh Obat Psikiatri pada Pasien
Setelah membahas tentang perbedaan pengaruh ruqyah dari aspek kekuatan dan kelemahannya terhadap pasien,
di sini saya harus sedikit menerangkan perbedaan pengaruh antara beberapa obat psikiatri dari aspek kekuatan dan kelemahan pengaruhnya pada pasien penderita gangguan jin, sihir, atau 'ain.
Tujuannya, agar kita bisa mengetahui perbedaan antara kekuatan pengaruh ruqyah dan kelemahannya pada penyakit-penyakit psikis. Ketika saya membandingkan antara keduanya, maka tidak berarti bahwa keduanya sama. Perbandingan keduanya digambarkan oleh perumpamaan dalam syair[135]:
[135] Abyāt Mukhtārah Tasytamilu 'Ala 'Aqīdah, Naṣā`iḥ, Mawā'iẓ, Waṣāyā, Ḥikam, Amṡāl, wa Adab (hal. 80).
Tidakkah engkau lihat, pedang akan kurang nilainya jika dikatakan pedang lebih tajam dari tongkat?!
Hal itu karena tidak ada yang mampu menghitung sejauh mana pengaruh Al-Qur`ān kecuali Allah -'Azza wa Jalla-. Dia berfirman,
"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur`ān ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah."[136] Di samping itu, besarnya pengaruh Al-Qur`ān juga tidak memiliki batasan. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan sekiranya ada suatu bacaan (Kitab Suci) yang dengan itu gunung-gunung dapat diguncangkan, atau bumi jadi terbelah, atau orang yang sudah mati dapat berbicara, (itulah Al-Qur`ān). Sebenarnya segala urusan itu milik Allah."[137] [136] QS. Al-Ḥasyr: 21. [137] QS. Ar-Ra'd: 31. Allah -Ta'ālā- juga berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur`ān ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain'."[138]
[138] QS. Al-Isrā`: 88. Ruqyah berguna bagi orang yang sakit di semua keadaannya[139] -dengan izin Allah-. Bahkan, ia tidak memiliki efek samping buruk. Sebaliknya, efek samping buruk pada sebagian obat psikiatri tertutupi oleh lautan kebaikannya, sebagaimana pengakuan para dokter profesional. Obat-obatan tersebut khusus bagi orang-orang yang mengalami gangguan mental yang parah. Ini sama halnya dengan pasien penyakit gula yang tidak lagi mempertimbangkan efek samping obat gula (insulin) demi kesembuhannya -dengan izin Allah- ketika kadar gula darah naik; karena hidupnya rawan bahaya setiap saat bila tidak diberi obat tersebut, bahkan terkadang dia bisa saja tidak sadarkan diri. Oleh karena itu, dia harus mengikuti petunjuk dokter dan mengambil dosis obat yang tepat sampai kondisinya normal dan membaik, dengan izin Allah.
[139] Lihat: Aṡaru Istimā' Al-Qur`ān (hal. 122). Oleh sebab itu, selain Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan ruqyah, beliau juga memerintahkan berobat. Di antara hadis tentang hal ini ialah
sabda beliau: "Berobatlah, sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- tidak menciptakan penyakit melainkan menciptakan juga obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu pikun."[140] [140] Sunan Abī Dāūd (4/3 no. 3855). Dalam hadis yang mulia ini terkandung kabar gembira dan harapan kesembuhan bagi setiap orang sakit.
Perbandingan antara pengaruh ruqyah dan pengaruh obat psikiatri terbagi menjadi dua: Pertama: Kuatnya pengaruh ruqyah berbanding dengan lemahnya pengaruh obat-obatan psikiatri yang bersifat fisik dan mubah pada orang sakit. Sebagian besar pasien yang menderita gangguan jin, sihir, atau 'ain dengan gangguan kronis akan mengalami beberapa gejala penyerta seperti gejala depresi. Pada kasus komplikasi seperti itu, maka harus ada kombinasi antara pengobatan ruqyah yang bertujuan untuk mengobati penyebab utama penyakit, dan pengobatan psikiatri untuk mendapatkan resep antidepresan yang tepat untuk mengobati gejala-gejala penyerta pada pasien sampai Allah memberinya kesembuhan. Standar yang tepat pada efek ruqyah ialah membaiknya kondisi pasien setelah diruqyah secara kontinu, bukan kondisi membaik yang bersifat semu yang terkadang hanya berlangsung beberapa hari.
Perlu diketahui bahwa obat-obatan psikiatri yang dikonsumsi oleh pasien, sebesar apa pun pengaruhnya, tidak mungkin menghalangi kekuatan pengaruh ruqyah. Ini tidak seperti yang diyakini sebagian peruqyah, yang bahkan sampai-sampai sebagian mereka mempersyaratkan pasien meninggalkan pengobatan psikiatri sekitar sepuluh hari sebelum diruqyah. Ruqyah adalah salah satu sebab kesembuhan penyakit -dengan izin Allah Ta'ālā-, tetapi bukan sebab satu-satunya. Melakukan ruqyah sebagai salah satu sebab kesembuhan tidak menghalangi adanya bentuk pengobatan lainnya. Semua sebab kesembuhan itu berasal dari Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan kesembuhan pun berasal dari-Nya. Berikut ini ada kisah menarik seputar persoalan ini:
Saya pernah meruqyah pasien gangguan jin di hadapan tim dokter. Ketika sedang diruqyah, pasien berdiri dan bertindak tanpa sadar secara mengerikan, sehingga membuat takut sebagian anggota tim. Salah seorang mereka hampir lari kalau saja pasien tidak bersembunyi di bawah meja. Kemudian saya mengikutinya di bawah meja untuk melanjutkan ruqyah. Ternyata seorang dokter terlatih ikut turun bersama saya di bawah meja sambil bergumam keheranan, sampai-sampai igal dan syimāg (kain penutup kepala laki-laki Arab) miliknya lepas dari kepalanya saking semangatnya.
Saya pun heran terhadap tindakan dokter ini. Saat itu, saya tidak tahu; apakah tujuan tindakannya untuk mengkritik praktik ruqyah sebagaimana yang dilakukan oleh banyak dokter,
ataukah dengan cara ini ia bertujuan untuk membuktikan pada anggota tim dokter bahwa pasien sedang mengalami kondisi sugesti psikologis?[141]
[141] Maksudnya: pasien bersugesti bahwa dia sedang dirasuki jin, sebagaimana telah dibahas di hal. 60.
Lantas saya membacakan pada pasien tersebut sebagian syair mengikuti gaya ruqyah disertai tiupan, sehingga pasien diam tidak bergerak.
Tidak berapa lama dokter memberikan informasi kepada kami tentang kondisi pasien dengan mengatakan, "Atas berkat Allah, kondisi pasien segera pulih setelah dirukiah." Saat itu, aku pun merekomendasikannya untuk keluar dari rumah sakit.
Kedua: lemahnya pengaruh ruqyah berbanding dengan kuatnya pengaruh sebagian obat psikiatri[142] pada sebagian pasien. Tentu, semua jenis pengobatan ini berasal dari sisi Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan atas perintah-Nya.
[142] Lihat poin ke-14, hal. 8.
Pengaruh sebagian obat psikiatri lebih efektif -dengan izin Allah- daripada pengaruh ruqyah pada sebagian pasien yang menderita penyakit mental menahun, meskipun keduanya diperintahkan secara syariat.
Buktinya, sebagian besar pasien gangguan jiwa yang dirawat inap di rumah sakit membaik hingga skala besar setelah mendapatkan obat psikiatri tanpa ruqyah, apalagi para pasien yang dirujuk ke poliklinik rawat jalan.
Ruqyah bukanlah pengganti obat psikiatri pada kasus psikologi menahun, seperti yang diyakini banyak orang, tetapi ruqyah bisa meredakan ketegangan psikologis [143] -insya Allah-.
[143] Lihat: hal. 122. Mengupayakan kesembuhan merupakan metode Nabi. Di dalam hadis Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- disebutkan: ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- disihir oleh seorang yahudi, beliau berdoa hingga disembuhkan. Allah -'Azza wa Jalla- lalu memberitahu beliau lewat wahyu perihal sihir tersebut beserta tempatnya. Aisyah berkata, "Wahai Rasulullah! Tidakkah engkau mengeluarkannya?" Beliau bersabda, "Tidak. Adapun aku, Allah telah memberikanku keafiatan dan menyembukanku. Aku khawatir akan menyulut orang-orang melakukan keburukan."[144]
[144] HR. Bukhari (no. 5766).
Sisi pendalilannya ialah bahwa Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengarahkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk menempuh jalan lain. Tetapi, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-bersabda, "Tidak. Allah telah memberikanku keafiatan dan menyembuhkanku." Kesembuhan inilah yang diupayakan.
Jika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak mengetahui dirinya disihir hingga wahyu turun kepadanya dan memberitahukannya tentang sihir tersebut beserta tempatnya[145], lalu bagaimana dengan kondisi banyak orang yang sakit hari ini sembari berprasangka disihir dan disertai lemahnya keyakinan mereka kepada Allah?! Sungguh, hanya Allah tempat memohon pertolongan. [145] Lihat: hal. 96.
Di sini saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya yang berkaitan dengan topik ini, saat pertama kali beraktivitas di maqra`ah (klinik ruqyah)[146].
[146] Makna "maqra`ah" (klinik ruqyah) di sini ialah tempat khusus praktik rukiah yang dikelola oleh seorang peruqyah.
Setelah saya bertekad untuk menyusun buku ini, maka kewajiban saya ialah memenuhi hak pembahasan topik ini -dengan taufik dan pertolongan Allah- agar ia menjadi pesan yang mahal untuk setiap pasien dan keluarganya.
Saya lalu memutuskan untuk melakukan praktik lapangan dengan tujuan memantau beberapa pasien gangguan jiwa secara ketat, termasuk pasien dengan penyakit fisik. Saya pun bergabung dengan salah satu klinik ruqyah.
Saya menyediakan tempat khusus bagi pasien perempuan beserta pendamping mereka. Tempat ini memiliki sekat yang memisahkan saya dengan mereka, di bagian tengahnya ada tiga celah seukuran telapak tangan sejajar kepala supaya ada tiupan yang sampai kepada mereka pada saat ruqyah agar aurat mereka tidak tersingkap ketika kesurupan, sebagaimana disebutkan dalam hadis:
"Saya kesurupan dan saya tersingkap."[147]
[147] Lihat: hal. 56.
Tetapi, cara ini tidak biasa dilakukan di kalangan para peruqyah pada umumnya. Oleh karena itu, ia ditolak oleh banyak pengunjung, bahkan membuat mereka semakin tidak mau datang.
Di kemudian hari, salah seorang peruqyah dan sebagian pengunjung mengklaim bahwa cara ruqyah seperti ini, sepengetahuan mereka, mengurangi efek ruqyah[148]. Tetapi, klaim ini tidak benar karena didapatkan adanya berbagai efek besar dari ruqyah terhadap sebagian pasien perempuan, seperti suara tangisan, histeris, suara sendawa, dan muntah saat praktik ruqyah dari balik sekat tersebut.
[148] Akan ada bahasan khusus tentang efek mendengar Al-Qur`ān (hal. 121).
Allah -'Azza wa Jalla- berfirman mengisahkan perkataan jin:
"Mereka berkata, 'Wahai kaum kami! Sungguh, kami telah mendengarkan Kitab (Al-Qur`ān) yang diturunkan setelah Musa, membenarkan (kitab-kitab) yang datang sebelumnya, membimbing kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.'"[149]
[149] QS. Al-Aḥqāf: 30-31.
Di klinik ruqyah tersebut, saya juga memperhatikan bahwa beberapa pengunjung merasa tidak senang dengan metode saya yang menggunakan istilah-istilah psikologis yang sedikit berbeda dengan cara wawancara mereka dengan sebagian peruqyah.
Sebab itu, saya menghadapi kesulitan dalam menyelisihi cara normatif sebagian perukiah, sehingga saya tidak kuasa untuk menghilangkan waham adanya gangguan jin, sihir, atau 'ain yang menggelayuti pikiran banyak pasien gangguan psikis di sela-sela wawancara bersama mereka, baik sebelum ruqyah atau setelahnya. Saya tidak bisa memahamkan banyak pasien psikiatri -semoga Allah menyembuhkan mereka- tentang pentingnya berobat kepada para psikiater. Hal ini mengakibatkan banyak pasien enggan ke klinik ruqyah kami dan lebih memilih pergi ke peruqyah lain yang juga mempercayai halusinasi, keraguan, dan was-was mereka tersebut.
Saya melihat sebagian besar pasien psikiatri berulangkali mengunjunginya selama saya bekerja di klinik ruqyah. Sebaliknya, sebagian kecil pasien psikiatri yang merespon saran saya dengan berobat ke psikiater menemukan efek positif dari pengobatan psikiatri. Sebagian mereka ada yang telah menderita gangguan psikis selama dua tahun, yang lainnya lima tahun, dan yang lain lagi kurang lebih sepuluh tahun. Saya pernah bertemu dengan salah satu pasien ini pada jam kerja saya di poliklinik rawat jalan, dia mengalami gangguan kecemasan kronis selama tiga puluh tahun. Saat bertemu, dia mengatakan padaku, "Semoga Allah memberikan Anda balasan terbaik atas saran-saranmu".
16- Tinjauan Seputar 'Ain dan Hasad
Sebagian orang menggunakan istilah nafs (jiwa) sebagai kiasan gangguan 'ain; mereka mengatakan: fulan mengalami "nafs". Hal ini karena pengaruh jiwa orang yang hasad terhadap orang yang dihasadi melalui perantara 'ain (mata). Sebagian lain lagi berkata: fulan mengalami 'ain.
Syaikhul-Islām -raḥimahullāh- berkata, "Hasad merupakan salah satu penyakit jiwa. Ia juga adalah penyakit umum, sehingga orang yang selamat darinya hanya sedikit saja. Oleh karena itu dikatakan, 'Tidak ada jasad yang kosong dari hasad. Hanya saja, orang yang buruk menampakkannya dan orang yang mulia menyembunyikannya.'
Pernah dikatakan kepada al-Ḥasan al-Baṣriy, 'Apakah seorang mukmin memiliki hasad?' Dia menjawab, '(Tentu). Apa yang membuatmu lupa terhadap sifat hasad saudara-saudara Nabi Yusuf? Tetapi, sembunyikanlah ia dalam dadamu. Sungguh, hasad tidak akan mencelakakanmu selama engkau tidak menampakkannya dengan tangan dan lisan...'
Siapa yang bertakwa kepada Allah dan bersabar sehingga tidak masuk ke dalam golongan orang yang zalim lantaran hasad, maka Allah akan memberinya manfaat dengan sebab ketakwaannya. Hal ini pernah terjadi pada Zainab binti Jaḥsyi -raḍiyallāhu 'anhā- karena hanya dirinya di antara istri-istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang bisa menyamai Aisyah. Hasad di antara perempuan banyak dan umum terjadi, khususnya di antara para istri yang bersuamikan satu orang. Seorang perempuan akan cemburu kepada suaminya karena memiliki kedudukan dalam hatinya, sementara dengan adanya istri lain maka sebagian kedudukannya dapat hilang.
Hasad juga banyak terjadi di antara orang-orang yang berkongsi dalam kepemimpinan atau harta manakala sebagian mereka mendapatkannya sedang yang lain tidak mendapatkannya."
[150] Lihat: Majmū' al-Fatāwā (10/125).
Kesombongan akan muncul dari seseorang setelah menemukan satu kekurangan pada dirinya, dan hasad terhadap orang lain dapat muncul sesuai dengan kadar kekurangan tersebut.
Umar bin Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Seseorang tidak akan mendapatkan kesombongan dalam dirinya kecuali akibat kehinaan yang ditemukannya pada dirinya."[151] [151] Nihāyatul-Arab fī Funūnil-Adab (hal. 371). Abdullah Ibnul-Mu'tazz -raḥimahullāh- berkata,
"Siapa yang banyak bercanda maka dia tidak akan lepas dari pelecehan atau dihasadi."[152] [152] Al-Wāfī bil-Wafiyyāt (17/242).
Mu'āwiyah bin Abī Sufyān -raḍiyallāhu 'anhu- berkata,
"Semua orang bisa aku buat rida kecuali orang yang hasad karena kenikmatan, karena tidak ada yang membuatnya rida kecuali hilangnya nikmat itu."[153] [153] Diriwayatkan oleh Ibnu 'Asākir fī Tārīkh Dimasyq (200/59). Selain memiliki pengaruh pada organ fisik manusia, 'ain juga memiliki pengaruh terhadap jiwa. Oleh karena itu, Allah -'Azza wa Jalla- memerintahkan kita agar berlindung dari keburukan mata yang hasad dan pemiliknya. Dia berfirman,
"... dan dari kejahatan orang yang hasad (dengki) apabila dia dengki."[154]
Karena itu, seorang muslim diperintahkan supaya membacanya dalam zikir pagi dan petangnya.
[154] QS. Al-Falaq: 5.
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata,
"Banyak ahli tafsir berkata dalam menafsirkan firman Allah -Ta'ālā-:
"Dan sungguh, orang-orang kafir itu hampir-hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mata mereka ketika mereka mendengar Al-Qur`an."[155]
Yaitu gangguan dengan mata ('ain). Mereka hendak menyerang Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan hal itu. Lalu sekelompok orang-orang yang hasad memandangi beliau dan berkata, 'Kami belum pernah melihat yang semisalnya dan tidak pula seperti hujahnya.' Sebagian orang itu ketika ada unta dan sapi yang gemuk melintas lantas dia hasad dan berkata kepada budaknya, 'Ambilkan wadah dan uang dirham, dan bawakan kita sebagian dagingnya.' Seketika itu juga ia jatuh lalu disembelih."[156] [155] QS. Al-Qalam: 51.
[156] Saya berkata, "Ini merupakan kezaliman terbesar karena syariat telah memberikan obat mujarab untuk menolak gangguan dan keburukan orang yang hasad."
17- Tinjauan Seputar Dampak Gangguan 'Ain Jika kita berasumsi bahwa seorang pemain sepak bola hebat dan terkenal mengalami gangguan 'ain dari salah satu penonton saat dia berlari di lapangan, sehingga dia terjatuh atau bertabrakan dengan pemain lain, akibatnya kaki kanannya mengalami patah tulang ganda lalu dibawa ke rumah sakit dan menjalani operasi. Setelah itu, ia melanjutkan pengobatannya dengan terapi ruqyah agar cederanya tidak bertambah serta kondisi sakitnya tidak semakin parah yang berakibat cacat, sampai dia pulih setelah jangka waktu tertentu. Kemudian setelah itu dia kembali melakoni olahraga lagi. Saya yakin level profesionalnya tidak akan kembali seperti sebelumnya karena adanya cedera parah ini. Allāhu a'lam.
Demikian pula hilangnya ketenaran pemain ini ketika level permainannya turun, pasti akan membawa dampak buruk terhadap jiwanya hari demi hari hingga bercampur dengan gangguan psikis dan berkamuflase menjadi keluhan fisik yang berpindah-pindah. Inilah yang disebut dalam ilmu psikologi sebagai gangguan psikosomatik.[157] Persis seperti perpindahan rasa sakit dari kaki kanan yang mengalami patah sebelumnya ke kaki kiri yang sehat atau mengeluhkan sakit di organ lain tanpa sebab medis yang jelas.
[157] Telah didefinisikan sebelumnya di hal. 13 serta dibahas di hal. 41.
Seperti inilah dampak gangguan penyakit 'ain tatkala disertai dengan gangguan psikologis dan meninggalkan beberapa gejala pada pasien yang muncul dalam bentuk penyakit psikologis meskipun setelah diruqyah.
Apa yang dirasakan oleh pasien pada kasus ini berupa perpindahan rasa sakit dari satu tempat ke tempat lain di seluruh tubuh bukanlah efek langsung dari gangguan 'ain, seperti yang dibayangkan banyak orang. Akan tetapi, itu merupakan gejala penyerta akibat kecemasan atau depresi[158] yang muncul pada pasien setelah mengalami gangguan 'ain dalam jangka waktu tidak kurang dari dua atau tiga bulan. Allāhu a'lam.
[158] Telah dibahas di hal. 41.
Di samping itu, sebagian peruqyah berbeda pendapat pada beberapa indikator yang menunjukkan bahwa pasien mengalami gangguan 'ain ketika sebagian indikator itu muncul di diri pasien saat sedang diruqyah.
Sebagian peruqyah ada yang memerintahkan pasien dengan mengatakan, "Bayangkan rupa pelaku 'ain saat diruqyah; jika ia tampak, maka ambillah sebagian barang bekasnya." Peruqyah yang lain mengatakan, "Anda akan melihat pelaku 'ain saat tidur setelah ruqyah." Ada juga peruqyah yang mengatakan bahwa pasien akan merasakan panas di sebagian organ tubuhnya ketika diruqyah. Ada juga yang memastikan bahwa pasien benar-benar mengalami 'ain apabila dia menangis saat diruqyah. Ada juga yang menyimpulkan bahwa pasien mengalami 'ain ketika rasa sakit berpindah-pindah dari satu bagian tubuh ke bagian lainnya saat diruqyah. Ada juga yang berpendapat bahwa keluhan sakit kepala akan semakin berat pada pasien selama diruqyah. Yang lain mengatakan bahwa 'ain akan terlihat jelas ketika pasien menguap saat sedang rukiah.
Saya meyakini bahwa sebagian indikator ini perlu diteliti kembali! Seperti pembacaan ruqyah untuk melihat rupa pelaku 'ain dan pandangan bahwa rupa pelaku 'ain dapat dibayangkan saat pasien sedang dirukiah. Terkait hal ini, telah terbit sebuah fatwa yang tidak membolehkannya.[159]
[159] Fatāwā al-Lajnah ad-Dā`imah li al-Buḥūṡ al-'Ilmiyyah wal-Iftā` (hal. 90).
Adapun beberapa indikator lain, maka sangat mirip dengan gejala depresi dan gejala psikosomatis -seperti yang telah kita bahas sebelumnya- pada gangguan psikologis[160] seperti sakit di kepala, leher, dan punggung bawah serta gangguan iritasi usus dan gejala-gejala pada organ fisik lainnya.
[160] Lihat: hal. 41.
Adapun gangguan akut pada saraf usus yang sering merespon kasus depresi kronis, pasien psikiatri mungkin akan mengalaminya ketika diruqyah disertai sesak napas, seperti yang akan dibahas[161], di samping keinginan muntah tanpa hasil.
[161] Lihat: hal. 111, 113.
Seorang peruqyah pada kasus-kasus yang samar seperti ini, perlu melihat rekam jejak pasien, di samping penting juga memeriksa kemungkinan pasien kecanduan narkoba[162]; karena hal ini mungkin menjadi faktor gangguan psikologis yang dihadapinya. Allāhu a'lam.
[162] Lihat: gejala konsumsi narkoba (hal. 117).
Berikut salah satu kisah terkait topik ini:
Seorang pengunjung meminta saya untuk meruqyah putranya yang berusia sekitar 25 tahun. Dia menginformasikan bahwa kondisi psikologisnya memburuk dengan cepat baru-baru ini, ketika dia menghadiri acara pernikahan, atau ikut serta dalam pesta dan acara sejenisnya.
Pastinya, keluhan seperti ini sering terdengar dari banyak keluarga pasien kecanduan narkoba. Mereka mungkin lalai menyelamatkan anak-anak mereka sebelum tergelincir ke dalam cengkeraman narkoba. Problemnya, di antara faktor yang ikut berperan meningkatkan sugesti psikologi pada pasien ini ialah bahwa ketika dia berkonsultasi pada salah seorang peruqyah melalui telepon, peruqyah tersebut sependapat dengannya bahwa dia terkena gangguan 'ain.
Bagaimanapun juga, faktor-faktor ini dapat mendorong sebagian orang sakit untuk semakin terjerumus ke dalam konsumsi narkoba dan menjadi dalih dirinya untuk terus mengonsumsi narkoba meskipun bukan karena keinginannya.
Ketika saya tanyakan kepada pasien tentang sebagian gejala yang dihadapinya, dia menyebutkan bahwa dia menghadapi depresi sejak empat tahun, berbeda dari yang diceritakan kepada saya oleh ayahnya.
Ketika saya membacakan ruqyah kepada pasien, maka sugesti bahwa dia mengalami gangguan 'ain bersatu padu dengan sindrom iritasi usus pada saat yang sama.
Sebab itu, dia memutar tubuhnya ke kanan dan kiri, dan menekankan kedua tangannya di perut bagian bawahnya dengan cara yang tidak bisa digambarkan disertai keinginan muntah tanpa hasil.
Saya pun menyampaikan kepada orang tuanya bahwa dia harus diperiksa terkait konsumsi narkoba. Setelah diperiksa, orang tuanya terkejut dengan hasil laboratorium yang menunjukkan anaknya positif sebagai pengguna heroin. Anaknya tersebut hampir binasa akibat kecanduan ini kalau bukan adanya pertolongan Allah -'Azza wa Jalla-.
Lantas dia pun menjalani pengobatan kecanduan narkoba yang tepat. Alhamdulillah, setelah beberapa waktu, saya diminta untuk meruqyahnya kembali, tetapi tidak tampak padanya sedikit pun indikator yang dia keluhkan sebelumnya. Allāhu a'lam.
Adapun keluhan sakit kepala yang dirasakan meningkat oleh pasien saat diruqyah padahal tidak ada sebab medisnya yang jelas, maka ini terlihat pada sebagian pasien, dan bisa jadi itu adalah akibat dari gangguan 'ain. Allāhu a'lam.
Ibnul-Qayyim -rahimahullah- menyebutkan beberapa penyebab sakit kepala, di antaranya: "gejala-gejala psikologis yang muncul seperti: khawatir, cemas, sedih, was-was, pikiran buruk, insomnia, dan banyak bicara, yang mengakibatkan kekuatan otak lemah."[163]
[163] Lihat: Zādul-Ma'ād (hal. 749), penerbit: Dār al-Kitāb al-'Arabiy, Beirut, Libanon, 1427 H.
Adapun sebagian pasien yang merasakan panas di sekujur tubuhnya atau sebagiannya pada saat diruqyah, hal ini terlihat pada banyak pasien. Hal ini sama dengan sebagian pasien yang merasakan kedinginan, namun ini jauh lebih sedikit dibandingkan pasien yang merasakan panas. Sebagian pasien merasakan panas dari pundak sampai kedua lengannya, atau di bawah kedua telapak kaki maupun salah satu jari. Sebagian yang lain kadang merasakan panas di sekujur tubuh.
Saya juga menemukan sebagian pasien menangis hebat saat diruqyah, kadang disertai dengan keringat di tubuhnya, atau gemetaran di salah satu organ tubuh atau seluruhnya, atau pusing, nyeri berat, atau mati rasa di seluruh tubuh atau sebagian organ, disamping sulit berdiri dan merasakan kelelahan menyeluruh sesudah ruqyah. Demikian juga perasaan sebagian mereka bahwa ada beban berat di dada, denyut nadi di tangan atau sebagian organ tubuh, jantung berdebar, atau mengantuk di tengah-tengah ruqyah.
Demikian juga munculnya ruam tanpa sebab medis yang jelas sebelum ruqyah.
Juga kram pada tangan dan kaki, atau sendawa saat diruqyah.
Sebagian pasien juga ada yang merasa kesulitan bernapas selama ruqyah, seolah ada orang mencekiknya sampai kekuatannya melemah sehingga dia terpaksa sering duduk sejenak setelah ruqyah, tidak lebih dari dua puluh menit. Terkadang sebagian indikator ini disertai oleh sebagian rasa takut.
Adapun kaitannya dengan pasien yang menguap saat diruqyah, ada kemungkinan pasien itu menderita insomnia atau sejenisnya. Wallāhu a'lam.
Ada ungkapan populer yang menarik perhatian saya, yaitu "hidupku tak lagi berguna". Ungkapan ini sering diucapkan oleh sebagian pasien ketika salah seorang mereka mengeluhkan orang-orang yang memintanya untuk diruqyah karena takut diklaim terkena 'ain, padahal tidak tampak pada mereka sebagian indikator tersebut selama ruqyah. Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."[164]
[164] QS. Yūnus: 107. Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda, "'Ain (penyakit yang timbul dari pengaruh jahat pandangan mata) memang ada. Seandainya ada yang dapat mendahului kadar, tentulah itu pengaruh pandangan mata."[165] [165] HR. Imam Muslim dalam aṣ-Ṣaḥīḥ (no. 2188).
Ibnu 'Abdil-Barr -raḥimahullāh- berkata, "Sabda beliau 'Seandainya ada yang dapat mendahului kadar, tentulah itu pengaruh pandangan mata' menunjukkan bahwa sehat dan sakit telah diketahui oleh Allah -Ta'ālā-. Sesuatu yang telah diketahui-Nya pasti akan terjadi seperti yang diketahui-Nya, tidak akan melewati waktunya. Akan tetapi, jiwa lebih tenang bila melakukan pengobatan, medis, dan ruqyah. Setiap sebab merupakan bagian dari sebab-sebab ketetapan Allah dan ilmu-Nya."[166] [166] Lihat: al-Istiżkār (8/403).
Al-Qāḍī 'Iyāḍ -raḥimahullāh- berkata, "Hadis 'Seandainya ada yang mendahului kadar, tentulah itu pengaruh pandangan mata' ialah penjelasan bahwa tidak ada sesuatu pun kecuali ditakdirkan oleh Allah. Segala sesuatu, 'ain ataupun lainnya, tidak akan ada melainkan dengan takdir dan kehendak Allah. Namun dalam hadis ini, terdapat petunjuk perihal benar adanya pengaruh mata serta kekuatan penyakitnya."[167] [167] Ikmālul-Mu'lim (7/85). Sebab itu, seorang perukiah harus berusaha mencari sebab-sebab gangguan lain yang mungkin dialami oleh pasien[168], seperti kecelakaan lalu lintas yang mengerikan, kasus teror dalam situasi yang menakutkan, kematian kerabat, tekanan psikologis berkepanjangan, dan bentuk trauma psikologis lainnya yang dihadapi pasien dalam hidupnya, atau penyakit keturunan.
[168] Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- pada poin 1 dan 2 (hal. 7) Semua informasi ini bisa membantu memberikan hasil positif dalam rangka mengetahui penyakit pasien, insya Allah. Ini lebih baik daripada pasien mengaitkan kegagalannya dalam pernikahan, pendidikan, pekerjaan, bisnis, dan lain sebagainya pada pikiran bahwa dia terkena 'ain. Bisa jadi pikiran ini melekat dalam pikiran pasien hingga dia terkungkung lemah, lalu jatuh frustasi hingga ilusi terkena 'ain menjadi buah bibirnya sepanjang hidup. Bahkan, mungkin saja hal ini akan menghalanginya untuk melanjutkan jalan kesuksesan hidupnya. Padahal, itu semua hanyalah sugesti yang bersumber dari setan. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu termasuk (perbuatan) setan, agar orang-orang yang beriman itu bersedih hati, sedang (pembicaraan) itu tidaklah memberi bencana sedikit pun kepada mereka kecuali dengan izin Allah."[169] [169] QS. Al-A'rāf: 201. 18- Tinjauan Seputar Dampak Sihir[170] [170] Sihir secara bahasa artinya sesuatu yang samar penyebabnya. Termasuk dalam hal ini penamaan "saḥar" untuk waktu akhir malam karena perbuatan yang terjadi padanya samar. Demikian juga penggunaan istilah "saḥūr" untuk makanan yang disantap di akhir malam karena ia samar. Sebab itu, segala sesuatu yang memiliki sebab yang samar disebut sihir. Adapun secara syariat, sihir terbagi menjadi dua: Pertama: buhul dan mantra, yaitu bacaan dan jimat yang digunakan oleh penyihir supaya dapat memanfaatkan setan pada sesuatu yang dia inginkan untuk mencelakakan orang yang disihir. Tetapi, Allah -Ta'ālā- berfirman, "Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah." (QS. Al-Baqarah: 102) Kedua: obat-obatan dan ramuan yang dapat berpengaruh pada fisik, akal, kemauan, dan kecenderungan orang yang disihir sehingga Anda mendapatinya berpaling dan condong pada sesuatu. Inilah yang mereka istilahkan sebagai ṣarf dan 'aṭaf (pelet). 'Aṭaf artinya menjadikan orang berubah cinta kepada istrinya ataupun perempuan lain sampai ia seperti hewan yang dituntun sesuka Anda, sedangkan ṣarf kebalikannya. Obat-obatan tersebut berpengaruh ke fisik orang yang disihir, yaitu melemahkannya sedikit demi sedikit hingga binasa. Ia juga berpengaruh pada pikirannya sehingga dia berimajinasi sesuatu sebalik dari keadaan nyatanya. Juga ia berpengaruh pada akalnya, bahkan tidak jarang sampai kepada kegilaan. Wal-'iyāżu billāh. (Al-Qaul al-Mufīd 'alā Kitābit-Tauḥīd karya Syekh Muhammad bin Ṣāliḥ al-'Uṡaimīn: hal. 313) Sebagian orang yang terkena sihir diperlihatkan padanya sesuatu yang tidak sesuai hakikatnya[171]. Ini berbeda dengan para penderita gangguan psikologis, yaitu mereka melihat sesuatu yang tidak ada. Laki-laki yang terkena sihir dapat melihat istrinya dalam rupa yang jelek, atau perempuan yang terkena sihir melihat suaminya dalam rupa yang menakutkan. Sebab itu, masing-masing mereka tidak bisa bergaul dengan yang lain sesuai tingkat sihir pada salah satu atau keduanya. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Maka mereka mempelajari dari keduanya apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya."[172] [171] Sihir pasti memberikan dampak. Tetapi, dampaknya tidak sampai ke tingkat mengubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain karena tidak ada yang menyanggupi hal itu kecuali Allah -'Azza wa Jalla-. Akan tetapi, ia hanya berupa pemberian halusinasi kepada orang yang disihir bahwa sesuatu berubah, bergerak, berjalan, dan lain sebagainya. Hal ini seperti yang terjadi pada Musa -'alaihiṣ-ṣalātu was-salām- di hadapan para penyihir Firaun, saat diperlihatkan kepadanya hasil rekayasa sihir mereka, yaitu seakan-akan tali-tali yang mereka lempar adalah ular yang berjalan. (Al-Qaul al-Mufīd 'alā Kitābit-Tauḥīd karya Syekh Muhammad bin Ṣāliḥ al-'Uṡaimīn: hal. 314)
[172] QS. Al-Baqarah: 102.
Ketakutan yang diciptakan oleh para penyihir dan pesulap tersebut akan sirna -atas izin Allah- pada banyak orang ketika mereka menadaburi firman Allah -'Azza wa Jalla-:
"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah."[173] Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- mengatakan,
"Dia (yang dijaga itu) ialah seorang raja di antara raja dunia yang memiliki pengawal berlipat."[174]
[173] QS. Ar-Ra'd: 13.
[174] Tafsīr aṭ-Ṭabariy, Jāmi'ul-Bayān, taḥqīq: Syākir (16/373). "Mereka menjaganya atas perintah Allah".
Dia berkata, "Para malaikat itu menjaganya dari depan dan belakangnya. Tetapi, jika telah datang takdirnya, mereka akan meninggalkannya."[175] [175] Tafsīr aṭ-Ṭabariy, Jāmi'ul-Bayān, taḥqīq: Syākir (16/371).
Sebagaimana sihir tidak berpengaruh pada seseorang secara serta-merta ketika penyihir mendapatkan pasfotonya atau foto lewat hp dan semisalnya, maka penyihir juga tidak bisa berbuat sihir sekalipun lewat percakapan telepon, sebagaimana yang disangka oleh sebagian penyihir tatkala menelepon dari luar negeri guna mengambil harta orang lain dengan cara yang batil. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah."[176]
Yaitu dengan izin Allah yang bersifat kauni dan takdir.
[176] QS. Al-Baqarah: 102.
Bangsa Arab biasa menyebut orang yang terkena sihir menggunakan bentuk kiasan, mereka mengatakan "si polan mengalami kesembuhan" sebagai bentuk optimisme terhadap kesembuhannya.
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata,
"Makna ucapan 'orang yang mengalami kesembuhan' ialah orang yang terkena sihir. Dalam aṣ-Ṣaḥīḥ[177] dari riwayat Aisyah disebutkan: Ketika orang-orang Yahudi menyihir Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sementara dua malaikat duduk di sisi kepalanya dan sisi kakinya, salah satunya berkata, 'Ada apa dengan laki-laki ini?' Yang lain menjawab, 'Dia mengalami kesembuhan (yakni terkena sihir).' Malaikat pertama bertanya lagi, 'Siapa yang menyihirnya'? Yang lain menjawab, 'Si polan yang beragama Yahudi.'
[177] HR. Bukhari (no. 5763) dan Muslim (no. 2189).
Abu 'Ubaid berkata, 'Mereka menyebut orang yang terkena sihir menggunakan kata kiasan 'maṭbūb (terkena kesembuhan)' karena mereka menyebut sihir dengan istilah ṭibb. Sebagaimana mereka menyebut orang yang terkena sengatan hewan berbisa dengan istilah "salīm" (orang yang selamat) sebagai bentuk optimisme pada keselamatannya. Mereka juga menggunakan istilah "mafāzah" (tempat keselamatan) pada gurun membinasakan yang tidak memiliki air. Mereka menyebutnya "mafāzah" sebagai bentuk optimisme pada selamat dari kebinasaan. Mereka juga menyebut istilah "ṭibb" pada penyakit itu sendiri.'"[178]
[178] Zādul-Ma'ād fī Hadyi Khairil-'Ibād (4/126).
Ada kisah menarik yang akan saya sampaikan terkait topik ini. Kisah ini menggambarkan fakta umum di kalangan banyak peruqyah tentang jin yang berbicara lewat lisan manusia menggunakan berbagai bahasa saat praktik ruqyah. Saya pernah membacakan ruqyah pada seorang pasien yang tampak tidak berpendidikan di salah satu unit di RS Jiwa Iradah di Kota Riyad. Dia meletakkan kedua tangannya di kedua telinganya ketika diruqyah. Dia kemudian muntah dan linglung serta berteriak dengan suara paling keras, "Love you... Love you... Love you..."[179]. Dia terus mengulang-ulangnya hingga jatuh pingsan. Salah seorang tim perawat lalu menyiram kepalanya dengan air hingga dia siuman. Dia lantas memandangi kami dengan pandangan bingung dan merasa aneh. Dia berkata, "Kalian siapa? Apa yang menyebabkan saya dibawa ke tempat ini? Pakaian apa yang saya pakai ini?" Dia menunjuk logo Kementerian Kesehatan pada baju khusus pasien.
[179] Di HP salah seorang pengunjung klinik ruqyah, saya pernah melihat sebuah kaligrafi asing yang dilukis di dinding kamar tidur dengan bentuk kalimat "saya mencintaimu" ketika diterjemahkan dari Bahasa Persia ke Bahasa Arab. Itu ditulis oleh istrinya beberapa saat sebelum ia kerasukan pada waktu dia diruqyah, padahal tempat tinggal kedua suami-istri tersebut sangat jauh dari negeri Persia.
Mungkin ada yang menyangka bahwa ada kemungkinan pasien ini pandai berbicara Bahasa Inggris dan mengalami gangguan mental sehingga ia berilusi disihir pada saat ruqyah.
Jawabannya ialah ya.[180] Akan tetapi, jika kita perhatikan lebih jauh sebagian indikator yang tampak pada pasien saat diruqyah, kita dapat membedakan antara ilusi dan kenyataan pada pasien ini.
[180] Saya juga pernah menerima telepon dari seorang perempuan yang kelihatannya lanjut usia. Dia berkata, "Apakah Anda bisa meruqyah dengan Bahasa Inggris, wahai Syekh?" Saya katakan, "Sungguh Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, 'Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai bacaan yang berbahasa Arab.' (QS. Yūsuf: 2) Dia berkata, "Jin yang ada di putriku dapat berbicara Bahasa Inggris." Saya bertanya kepadanya, "Apakah anakmu pandai berbahasa Inggris?" Dia menjawab, "Ya." Saat berdiskusi bersamanya, saya tahu bahwa putrinya mengalami kasus psikologi -semoga Allah menyembuhkannya- serta berobat ke psikiater, tetapi sesuai pengakuannya, dia tidak disiplin melakukan melakukan pengobatan psikiatri. Wallāhu a'lam.
Pertama: apa yang membuat pasien segera muntah saat dirukiah? Padahal, orang akan sangat kesulitan untuk muntah dengan sekadar ingin muntah tanpa memasukkan jari di bagian dalam tenggorokannya.
Kedua: kenapa pasien berbicara menggunakan Bahasa Inggris saja saat diruqyah tanpa berbicara satu kata pun dengan bahasa ibunya?
Syaikhul-Islām -raḥimahullāh- berkata, "Sungguh jin itu merasuki seseorang sehingga dia berbicara menggunakan bahasa yang tidak diketahui maknanya...."[181]
[181] Lihat: hal. 58.
Ketiga: kenapa kata "cinta" berulang-ulang pada ucapan pasien dengan suaranya yang paling tinggi saat diruqyah?
Syaikhul-Islām -raḥimahullāh- pernah menyatakan bahwa kadang salah satu sebab kesurupan jin ialah karena jin itu suka kepada orang yang dirasukinya.[182] [182] Lihat: hal. 57. Keempat: kenapa pakaian pasien tidak dikotori oleh air kencing setelah dia sadar dari kerasukan?
Padahal, ini kadang terjadi pada kasus ayan saraf pada sebagian pasien. Juga, kenapa kita tidak menemukan sebagian gejala penyerta seperti kejang dan muncul buih dari mulut pasien, sebagaimana pemaparan Ibnul-Qayyim -rahimahullah- tentang epileptikus [183] (yaitu epilepsi)?
[183] Ibnul-Qayyim-raḥimahullāh- berkata, "... Ia disusul kejang di semua organ dan seseorang tidak akan bisa bertahan tegak, ia pasti jatuh, dan biasanya ada buih di mulutnya." (Aṭ-Ṭibb an-Nabawiy: hal. 53)
Epilepsi juga kadang datang kepada pasien secara tiba-tiba kapan saja, baik pada saat ruqyah ataupun lainnya.
Kelima: apa yang membuat pasien menutup kedua telinganya dengan tangan sehingga dia tidak mendengar Al-Qur`ān?
Terakhir: kenapa pasien tidak sadar berada di rumah sakit lalu menolak seragam rawat inap ketika ingatannya kembali pada saat ia sadar dari kerasukan di saat ruqyah?
Syaikhul-Islām -raḥimahullāh- menggambarkan ini dengan ucapannya, "Orang yang kesurupan itu lalu menoleh ke kanan dan kiri dan berkata, 'Kenapa saya berada di hadapan Syekh?'"[184]
[184] Kondisi pasien ini mirip dengan kondisi pasien yang dibacakan ruqyah oleh Syaikhul-Islām, sebagaimana telah diceritakan di hal. 58.
Syekh Abdul Aziz bin Bāz -raḥimahullāh- pernah ditanya tentang bahasa jin, maka beliau menjawab sebagai berikut:
"Yang tampak bahwa mereka seperti manusia. Mereka memiliki banyak ragam bahasa. Ada yang berbahasa Inggris, Prancis, Arab, Nonarab, dan bahasa-bahasa lainnya. Mereka juga terdiri dari banyak bangsa karena Allah telah berfirman tentang mereka,
"Dan sesungguhnya di antara kami (jin) ada yang saleh dan ada (pula) kebalikannya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda."[185] Jadi, mereka terbagi ke dalam banyak kelompok. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- juga berfirman tentang mereka,
"Dan sesungguhnya di antara kami ada yang taat dan ada (pula) yang menyimpang dari kebenaran."[186]
Yaitu mereka banyak macam dan kelompok. Di antara mereka ada yang baik dan ada yang buruk. Ada yang beraliran Jahmiyah, Ahli Sunnah, dan Rafidah. Ada yang Nasrani dan Yahudi. Mereka terdiri dari banyak macam dan aneka ragam kelompok.
"Dan sesungguhnya di antara kami ada yang taat dan ada (pula) yang menyimpang dari kebenaran."[188] Firman Allah -Ta'ālā-: "Ada pula kebalikannya", mencakup semua kelompok lainnya.[189]
[185] QS. Al-Jinn: 11
[QS] QS. Al-Jinn: 14 [187] Salah satu pengunjung klinik ruqyah berteriak keras sekali pada saat diruqyah. Dia meletakkan salah satu tangannya di wajahnya dan menciumnya, lalu menggerakkannya di antara kedua bahunya (gerakan salib). Dia terus-menerus mengulang gerakan yang biasa dilakukan sebagian Nasrani tersebut, padahal dia seorang muslim dan hidup di tengah masyarakat muslim. Kemudian dia kembali melakukan gerakan itu pada saat ruqyah di sesi lain, seraya berkata: keluar… keluar… keluar…! Setelah itu, kondisinya stabil dengan rahmat Allah -'Azza wa Jalla- pada saat ruqyah di sesi yang lain. Saya lantas bertanya, "Mengapa Anda melakukan kebiasaan orang Kristen pada saat ruqyah sementara Anda seorang muslim?" Dia pun menyangkal apa yang dia lakukan selama ruqyah, dan berkata, "Sekarang, saya merasakan saat-saat paling bahagia dalam hidup saya setelah melawan depresi yang berlangsung hampir 7 tahun. Hanya milik Allah segala pujian." Dia lantas mengeluarkan dari sakunya obat-obat psikiatri yang biasa dia minum dan berkata, "Sekarang, saya tidak lagi membutuhkannya." Saya menasihatinya supaya berkonsultasi kepada psikiater yang memberikannya obat tersebut. Pada sesi terakhir, dia menyampaikan bahwa dia telah pergi ke psikiater tersebut dan dia melihat ada peningkatan kesehatan yang nyata -dengan karunia Allah-, sehingga dia menyetujuinya untuk meninggalkannya secara bertahap dengan mempertimbangkan gejala-gejala habisnya penyakit tersebut. Allāhu a'lam.
[188] QS. Al-Jinn: 11
[189] Fatāwā Samāḥah asy-Syaikh 'Abdil 'Azīz bin Bāz - Nūr 'ala Ad-Darb (1/236).
Syekh Abdul Aziz bin Bāz -raḥimahullāh- juga berkata,
"Adapun pengobatan sihir, maka diobati dengan ruqyah syar'iyah dan obat-obatan bermanfaat yang mubah. Di antara pengobatan paling ampuh ialah mengobati orang yang disihir dengan membacakannya Surah Al-Fātiḥah disertai tiupan, ayat Kursi, dan ayat-ayat sihir di dalam Surah Al-A'rāf dan Surah Ṭāhā. Juga dibacakan Surah 'Qul Yā Ayyuhal-Kāfirūn', 'Qul Huwallāhu Aḥad', 'Qul A'ūẓu bi Rabbil-Falaq', dan 'Qul A'ūẓu bi Rabbin-Nās'. Dianjurkan supaya mengulang tiga surah ini sebanyak tiga kali disertai dengan doa masyhur yang biasa dibaca oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mengobati orang sakit, yaitu:
Allāhumma rabban-nās, ażhibil-ba`sa, isyfi anta asy-syāfī, lā syifā`a illā syifā`uka, syifā`an lā yugādiru saqaman (Ya Allah, Tuhan seluruh manusia! Hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah ia, karena Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tiada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit).[190]
Hendaknya diulangi tiga kali. [190] Muttafaq 'Alaih dari hadis Aisyah; HR. Bukhari dalam Kitāb aṭ-Ṭibb, Bāb Ruqyatin-Nabiy -Ṣallallāhu 'Alaihi wa Sallam- (no. 5351) dan Muslim dalam Kitāb as-Salām, Bāb Istiḥbāb Ruqyatil-Marīḍ (no. 2191). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dari riwayat Anas (no. 5410). Juga membaca doa ruqyah yang digunakan oleh Jibril untuk meruqyah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, yaitu: Bismillāhi arqīka min kulli syai`in yu`ẓīka min syarri kulli nafsin aw 'ainin ḥāsidin, Allahu yasyfīka, bismillāhi arqīka (Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala hal yang menyakitimu, dari kejelekan setiap jiwa atau mata yang hasad. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu). [191] Dia mengulanginya tiga kali. Doa rukiah ini termasuk pengobatan yang paling berguna, dengan izin Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. [191] HR. Muslim dalam Kitāb as-Salām, Bāb aṭ-Ṭibb wal-Marḍā war-Ruqyah (no. 2186) dari riwayat Abū Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu-. Pengobatan lainnya ialah dengan memusnahkan sesuatu yang diduga sebagai media sihir, berupa sutra atau benang yang dipintal, atau lainnya yang diduga sebagai media sihir, disertai perlindungan diri bagi orang yang disihir dengan ta'awwuẓāt yang disyariatkan. Di antaranya doa ta'awwuẓ:
"A'ūẓu bi kalimātillāhi at-tāmmāti min syarri mā khalaqa" (Saya berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya)[192]. Ini dibaca tiga kali ketika pagi dan sore.
Membaca tiga surah tersebut setelah Subuh dan Magrib sebanyak tiga kali, membaca Ayat Kursi setelah salat dan ketika akan tidur.
[192] HR. Muslim dalam Kitāb aẓ-Ẓikr wad-Du'ā` wat-Taubah wal-Istigfār, Bāb at-Ta'awwuẓ min Sū`il-Qaḍā`(no. 2708) dari riwayat Khaulah binti al-Ḥakīm as-Sulamiyyah -raḍiyallāhu 'anhā-.
Dianjurkan setiap pagi dan sore untuk membaca:
Bismillāhillaẓī lā yaḍurru ma'a-smihi syai`un fil-arḍi walā fis-samā`i wa huwas-samī'ul-'alīm (Dengan menyebut nama Allah yang tidak akan berbahaya sesuatu apa pun di bumi dan di langit bersama nama-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui). Dibaca tiga kali.[193]
Semua bisa dipraktikkan karena berasal dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- secara sahih. Bacaannya mesti disertai husnuzan kepada Allah dan keyakinan bahwa Dia pencipta semua sebab, dan Dia yang menyembuhkan orang sakit jika Dia menghendaki, sedangkan ta'awwuẓ dan obat hanyalah sebab karena Allahlah Yang Maha Penyembuh. Sebab itu, kita bertumpu kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- saja, tidak kepada sebab-sebab tersebut. Kita meyakininya sebagai sebab; Allah akan menjadikannya berguna jika Dia menghendaki, dan akan mencabut manfaatnya jika Dia menghendaki atas dasar hikmah-Nya yang besar pada segala sesuatu. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Tidak ada yang dapat menahan apa yang Dia beri, tidak ada yang dapat memberi apa yang Dia tahan, dan tidak ada yang dapat menolak apa yang Dia tetapkan. Hanya milik-Nya segala kerajaan dan hanya milik-Nya segala pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah yang Maha Pemberi taufik.[194]
[193] HR. Abu Daud dari riwayat 'Uṡmān bin 'Affān dalam Kitāb al-Adab, Bāb Mā Yaqūl Iẓā Aṣbaḥa (no. 5088) dan Tirmizi dalam Kitāb ad-Da'awāt 'an Rasūlillāh -Ṣallallāhu 'Alaihi wa Sallam-, Bāb Mā Jā`a fīd-Du'ā`i Iẓā Aṣbaḥa (no. 3388). Tirmizi berkata, "Ḥasan saḥīḥ."
[194] Masā`il fil-'Aqīdah wa Ṣifatil-Wuḍū` wa Ṣifati Ṣalātin-Nabiy -Ṣallallāhu 'Alaihi wa Sallam-; wat-Taḥqīq wal-Īḍāḥ li Kaṡīrin min Masā`ilil-Ḥajj wal-'Umrah waz-Ziyārah karya Syekh al-'Allāmah Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz (hal. 21).
19- Tinjauan Seputar Halusinasi Penglihatan dan Suara Palsu
Mungkin saja yang dapat memahami urgensi topik ini adalah keluarga pasien yang mengalami halusinasi dengan berbagai macamnya.
Saya meyakini bahwa melebarnya ruang perdebatan yang buntu antara sebagian peruqyah dengan sebagian psikiater yang menjadikan orang-orang terbagi dua dalam menyikapinya, mengerucut pada keragu-raguan yang diangkat oleh sebagian dokter tentang hakikat kerasukan jin dan penafsiran gangguan yang dihadapi oleh pasien psikiatri sebagai hasil ketidakseimbangan kimiawi pada tubuh dan tidak ada kaitannya dengan 'ain, sihir, atau kerasukan jin, sekalipun hal itu disebutkan secara jelas di dalam Al-Qur`ān dan Sunnah.
Di sisi lain, sebagian peruqyah menolak keterangan dokter serta menegaskan bahwa apa yang dialami oleh pasien psikiatri secara khusus berupa ilusi optik dan suara-suara tidak nyata adalah disebabkan gangguan jin atau sihir. Perdebatan seputar topik ini tampak semakin bertambah tajam dan sengit tanpa memberikan hasil positif apa pun.
Dengan izin Allah sembari memohon pertolongan pada-Nya, saya akan rincikan silang pendapat ini dalam paparan berikut:
Saya mendengar pernyataan dari sebagian besar psikiater di RS Jiwa Iradah di Kota Riyad bahwa halusinasi penglihatan dan suara palsu adalah salah satu gejala gangguan mental seperti skizofrenia.
Sebaliknya, saya juga mendengar pernyataan sebagian peruqyah bahwa halusinasi penglihatan dan suara palsu tersebut disebabkan oleh gangguan jin.
Barangkali di sini saya akan bawakan pernyataan yang saya dengar dari salah seorang dokter psikologi supaya gambarannya lebih jelas.
Pasien skizofrenia di beberapa negara Amerika Selatan akan melihat sihir dan setan, sementara pasien skizofrenia di beberapa negara Amerika Utara melihat UFO dan satelit-satelit luar angkasa.
Ketika kita menyadari bahwa lingkungan adalah salah satu yang mempengaruhi jenis halusinasi penglihatan dan suara palsu pada pasien skizofrenia, serta melukis potretnya sesuai dengan apa yang diceritakan oleh masyarakat pada pikirannya, maka kita tidak terkejut dengan halusinasi melihat jin di pasien skizofrenia dalam masyarakat Islam lantaran ini berdasarkan budaya mereka[195] yang merupakan di antara sumber yang berpengaruh dalam imajinasinya.
[195] Yaitu budaya lingkungan tempat tinggal pasien. Manusia adalah anak lingkungannya; dapat dipengaruhi dan memengaruhi.
Mari kita renungkan apa yang dikatakan Ibnul-Qayim -raḥimahullāh- ketika menerangkan kondisi psikis ahli bidah dari kalangan ekstrem sufi serta bagaimana halusinasi penglihatan dan suara palsu muncul pada mereka. Ini dapat disaksikan hingga di zaman ini, bahkan salah satu syekh mereka menyangka bahwa Nabi -ṡallallāhu 'alaihi wa sallam- menelponnya langsung [196]. Wal-'iyāżu billāh.
[196] Lihat: https://www.youtube.com/watch?v=UdkrpwPd69E .
Tentang halusinasi percakapan ini, Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata,
"Awalnya ia berasal dari hati dan kembali lagi ke hati. Dia mengiranya datang dari luar dirinya, padahal sebenarnya dari dalam dirinya.
Ini seringkali terjadi pada sālik (seorang sufi)[197] sehingga membuatnya keliru di dalamnya, yaitu dia meyakininya sebagai panggilan dari Allah -'Azza wa Jalla-; bahwa Allah yang mengatakan itu kepadanya[198]. Penyebab kelirunya ialah laṭīfah (baca: jiwa) manusia ketika telah jernih melalui latihan[199] dan telah putus keterkaitannya dari kesibukan-kesibukan yang padat[200], maka keputusan akan menjadi miliknya, seperti halnya penguasaan ruh dan hati terhadap badan serta beralihnya kendali keputusan menjadi milik keduanya[201]. Sebab itu, perhatian jiwa dan hati beralih kepada pengabstrakan pikiran[202] yang tidak lain terkait dengan keduanya. Perhatian ruh kepadanya juga meningkat dan ia mengambil posisi keterkaitan dan kesibukan-kesibukan tersebut sehingga menguasai hati[203] lalu mendorong pikiran-pikiran tersebut ke bentuk ucapan dan pembicaraan hati dan ruh berdasarkan hukum kebiasaan[204] dan bertepatan dengan pengabstrakan ruh, sehingga pikiran-pikiran tersebut akan menjelma pada kekuatan pendengaran sebagai suara yang terdengar dan pada kekuatan penglihatan sebagai wujud orang-orang yang terlihat. Dia pun dapat melihat potretnya[205] dan dapat mendengar suaranya. Padahal, semua itu ada dalam dirinya, sama sekali tidak berwujud dalam realitas. Dia akan bersumpah telah melihat dan mendengar, dan dia benar dalam sumpahnya. Akan tetapi, apakah dia melihat dan mendengar sesuatu di alam realitas atau hanya ada dalam dirinya? Pada saat itu, terkumpul secara bersamaan antara lemahnya kemampuan membedakan, minimnya ilmu, penguasaan makna tersebut terhadap ruh, serta kosongnya ruh dari berbagai kesibukan."[206]
[197] Yaitu orang yang menempuh jalan kelompok ini. Penggunaan kata sālik merupakan istilah kelompok sufi. Akan tetapi, di sini Ibnul-Qayim sedang berbicara kepada mereka menggunakan istilah-istilah mereka.
[198] Ini merupakan salah satu penyimpangan kaum sufi. Seorang sufi berimajinasi bahwa Allah berbicara kepadanya. Tentu ini adalah bisikan dan penyesatan oleh setan. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Sesungguhnya setan-setan itu akan membisikkan kepada kawan-kawannya agar membantah kamu." (QS. Al-An'ām: 121). Sungguh, saya mencermati sebagian pasien psikiatri -semoga Allah memberi mereka kesembuhan- mengaku bahwa Allah -'Azza wa Jalla- berbicara kepadanya.
[199] Maksudnya bahwa kekuatan yang tersembunyi dalam tubuh manusia akan muncul jika telah kosong dengan cara melatih badan menghadapi lapar dan haus. Cara ini termasuk bidah kelompok sufi yang menyiksa diri dengan lapar dan haus. Syaikhul-Islām -raḥimahullāh- menerangkan banyak dari kalangan yang memiliki keyakinan batil, jika telah terlatih, latihan tersebut akan mengosongkan jiwa mereka, lalu akan muncul keyakinan-keyakinan yang mereka sangka sebagai kasyaf (pembukaan tabir gaib). Maksud beliau -raḥimahullāh-: kasyaf terhadap gaib. (Majmū' al-Fatāwā: 6/547)
[200] Yaitu dia beruzlah dari masyarakat dan lebih memilih menyendiri.
[201] Laṭīfah adalah unsur yang berkuasa pada badan, sebagai pengganti ruh dan hati.
[202] Pengabstrakan pikiran ialah pemurnian sesuatu yang dibayangkannya serta yang disangkanya dengan kuat. Penjelasan ini telah diisyaratkan oleh Syaikhul-Islām dengan ungkapan beliau: "Orang-orang mengatakan: 'Indra salah.' Padahal, kesalahan kadang berasal dari indra dan kadang berasal dari orangnya (manusia). Indra melihat perkara tertentu, sedangkan orangnya mengiranya sesuatu yang lain, maka dia pun dikuasai oleh prasangkanya. Pada saat itu, ia harus menggunakan akalnya." (Lihat: hal. 106)
[203] Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan hati ibu Musa menjadi kosong." (QS. Al-Qaṣaṣ: 10). Yaitu kosong dari segala sesuatu kecuali Musa -'alaihissalām- setelah berpisah dengannya. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah)." (QS. Al-Qaṣaṣ: 10)
[204] Cermatilah, pembaca yang budiman, kesesuaian antara perkataan para psikiater dengan perkataan Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh-.
[205] Yaitu potret bagi pikiran-pikiran yang ia pendam dalam dirinya manakala pikiran-pikiran tersebut dalam pandangannya menjelma sebagai realitas. Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata juga, "Telah diketahui secara pasti bahwa semua imajinasi ini tidak memiliki wujud secara zat. Akan tetapi, pikiranlah yang mengasumsikannya ada, dan tidak spesifik dalam jiwa. Sungguh, ilmu pengetahuan yang bersifat eksternal saja, potretnya tidak terekam dalam jiwa, lalu bagaimana dengan imajinasi yang semu?!" (Lihat: hal. 49)
[206] Madārijus-Sālikīn (1/47).
Ketika teori pengikut tarekat ini kita analogikan dengan logika psikologi, kita dapat mencermati bahwa teori ini memberi petunjuk bahwa imajinasi penglihatan dan suara-suara palsu dimunculkan oleh pikiran seseorang saat melewati kondisi-kondisi sulit[207]. Kondisi sulit ini semisal perjuangan badan melawan lapar dan dahaga, beruzlah dari orang banyak, dan menjauhi kesibukan-kesibukan yang padat dan kebisingan kota hingga jiwa bersiap menerima pengaruh waham dan keyakinan-keyakinan batil yang didiktekan oleh masyarakat (pada dirinya), seperti perbedaan jenis imajinasi antara satu negeri dengan negeri lainnya hingga waham tersebut menguasainya.
[207] Lihat: hal. 49.
Hal ini diterangkan oleh Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- dalam perkataannya:
"Jiwa memiliki kaifiat khusus yang tidak disamai oleh badan. Ia juga memiliki sifat ringan dan berat, panas dan dingin, serta keras dan lembut. Anda kadang menemukan seseorang sangat berat, padahal badannya sangat kurus sekali. Sebaliknya, Anda kadang mendapatkannya sangat ringan padahal badannya berat. Anda juga menemukan ada jiwa yang lembut nan tenang dan ada jiwa yang keras dan tidak simpatik.
Jadi, jiwalah yang menjadi indra inti, walaupun ia tidak dilihat oleh indra yang lain. Sebaliknya, tubuh dan karakter dapat dirasa, dan jiwa dapat juga merasakannya. Jiwalah yang mengetahui berbagai karakter yang datang silih berganti kepadanya berupa kemuliaan dan keburukan seperti halnya penerimaan fisik terhadap berbagai hal yang silih berganti kepadanya. Ia yang bergerak dengan pilihannya dan yang menggerakkan badan secara paksa. Ia memengaruhi badan dan terpengaruh dengannya. Ia merasakan sakit dan enak, senang dan sedih, rida dan marah, nikmat dan sakit, suka dan benci, ingat dan lupa, naik dan turun, kenal dan tidak kenal."[208]
[208] Kitāb ar-Rūḥ (hal. 260).
Syaikhul-Islām Ibnu Taimiyah -raḥimahullāh- berkata ketika memetakan orang yang lemah akal, sekalipun penamaan gangguan psikis di zaman ini berbeda-beda, di antaranya: depresi, sebagaimana istilah populernya dalam istilah kesehatan psikis:
"Orang-orang mengatakan: 'Indra salah.' Padahal, kesalahan kadang berasal dari indra dan kadang berasal dari orangnya (manusia). Indra melihat perkara tertentu, sedangkan orangnya mengiranya sesuatu yang lain, maka dia pun dikuasai oleh prasangkanya. Pada saat itu, ia harus menggunakan akalnya."
Oleh karena itu, orang yang tidur kadang melihat sesuatu yang memiliki wujud[209] dan taḥqīq (bentuk)[210], tetapi semuanya hanyalah khayalan dan penampakan dalam mimpi. Ketika akalnya hilang, orang itu mengiranya sebagai hakikat yang nyata. Seperti halnya orang yang melihat dirinya di tempat lain sedang berbicara kepada orang-orang mati dan mereka pun berbicara kepadanya. Dia kadang mengerjakan banyak hal dalam mimpi sembari meyakini bahwa dirinya itu berucap dan berbuat (di alam nyata). Hal itu terjadi karena akalnya hilang darinya. Rupa[211] yang dilihatnya itu adalah rupa dirinya dan khayalan rupa itu. Akan tetapi, akalnya hilang dari dirinya sehingga dia mengira bahwa penampakan dalam mimpi tersebut adalah dirinya. Ketika akalnya kembali kepadanya, dia baru meyakini bahwa itu adalah khayalan dan penampakan mimpi. Sebagian orang ada yang akalnya tidak hilang; ketika ia bermimpi dia tahu bahwa itu ada dalam mimpi. Ini sama seperti orang yang melihat rupanya atau rupa orang lain di cermin; jika dia lemah akal, dia akan mengira rupa itu adalah orang, sehingga dia akan memperlakukannya seperti perlakuannya kepada orang.
[209] Wujud ialah yang ada di pikiran dan di alam nyata. Sebagai contoh, orang mati yang kita kenal, ada dalam pikiran, namun tidak memiliki wujud di alam nyata.
[210] Taḥqīq: bentuk.
[211] Yaitu rupa orang mati yang dilihatnya dalam mimpi.
Ini terjadi pada anak-anak dan al-bulh (orang cacat akal)[212]. Sebagaimana juga ditampakkan kepada sebagian orang pada cahaya[213] seakan-akan ada orang bergerak, naik dan turun, lantas dia mengiranya orang benaran dan dia tidak tahu bahwa itu hanya khayalan. Ketika indra mengindra dengan benar, ia tidak akan salah, tetapi akalnya tidak bisa membedakan antara benda itu dan penampakannya."[214]
[212] Al-Bulh ialah bentuk plural, bentuk tunggalnya "ablah", yaitu kata sifat bagi orang yang lemah akal atau gila, seperti orang pikun yang berkurang akalnya.
[213] Pantulan bayangan.
[214] Majmū' al-Fatāwā (7/43).
Halusinasi penglihatan dan suara-suara palsu terbagi menjadi dua:
Pertama: Halusinasi penglihatan dan suara palsu kronis.
Hal ini muncul pada pasien skizofrenia -pada umumnya- pada kasus-kasus yang kronis, seperti yang dijelaskan oleh Syaikhul-Islām -raḥimahullāh-[215]. Bahkan, kadang hal ini tidak diketahui oleh sebagian mereka ketika mereka disiplin minum obat psikiatri.
[215] Lihat: hal. 107.
Kedua: Halusinasi penglihatan dan suara palsu temporer, dan ini terbagi dua:
a. Halusinasi penglihatan dan suara palsu yang muncul pada pasien psikiatri ketika unsur kimia dalam tubuh tidak seimbang sebagai akibat dari latihan lapar dan haus (buruk gizi) dan menyendiri, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh-[216]. Halusinasi penglihatan dan suara palsu dapat berlanjut dari satu masa ke masa yang lain, dan bisa hilang ketika pasien kembali disiplin makan dan minum serta berbaur dengan masyarakat. Ia bisa juga berlanjut hingga waktu yang Allah kehendaki, meskipun setelah disiplin makan dan minum.
[216] Lihat: hal. 104.
b. Halusinasi penglihatan dan suara palsu akibat mengonsumsi zat psikotropika. Ini dapat muncul pada pasien ketika terus-menerus mengonsumsinya dan dapat hilang ketika ditinggalkan.
Seringkali sebagian orang tidak mengetahui hubungan zat psikotropika dengan ketidakseimbangan akal, khususnya ketika muncul halusinasi penglihatan dan suara palsu pada pasien kecanduan. Semoga Allah memberikan hidayah dan kesembuhan pada mereka.
Yang tampak bagi saya -wallāhu a'lam- bahwa kebanyakan orang yang sering mengeluh melihat orang, hantu, atau jin secara berulang kali, atau mendengar berbagai suara yang mengganggu seperti alarm telepon, alarm mobil, atau suara radio, atau mendengar suara seperti gesekan besi, seperti yang terjadi pada peralatan rumah tangga ketika dipukulkan satu sama lain, atau dia mendengar seseorang berbicara kepadanya dan menyuruhnya melakukan ini dan itu, atau dia mendengar suara batuk atau panggilan: "kamu gila" dan sejenisnya[217] secara terus-menerus, sembari membayangkan bahwa dia sedang dianiaya atau seseorang mengejarnya, atau bahwa konspirasi sedang dibuat untuk melawannya, sebenarnya dia tidak sedang terkena gangguan jin atau sihir. Petunjuknya ialah bahwa halusinasi penglihatan dan suara palsu ini sebagian besar akan hilang pada sebagian pasien ketika dokter memberikannya obat penenang tanpa diruqyah, tetapi akan segera muncul ketika pasien berhenti berobat.
[217] Sebagai contoh: jika pasiennya gagal dalam bidang studi tertentu, pikirannya mungkin disibukkan dengan hal itu dan igauannya selalu seputar itu, sehingga dia mengulang-ulang kata "ujianku" atau kata lainnya yang terkait dengan materi ini tanpa mempersiapkan ujian ulang. Bahkan, dia bisa saja berhenti total dari sekolah atau kuliah. Syaikhul-Islām -raḥimahullāh- menggambarkan hal ini dengan mengatakan, "Ketika indra mengindra dengan benar, ia tidak akan salah, tetapi syaratnya harus disadari oleh akal." (Lihat: hal. 107)
Adapun halusinasi dengan berbagai macamnya, maka hampir tidak pernah muncul pada sebagian pasien gangguan jin atau sihir. Sangat langka baginya melihat orang atau hewan, atau melihat khayalan seperti bayangan, atau mendengar suara memanggil namanya, atau seakan ada orang berbisik di telinganya dengan bahasa yang tidak dipahami, atau mendengar suara gonggongan anjing dan semisalnya, sehingga terkadang akan muncul padanya suara secara berkala dan di waktu berbeda. Bahkan, sampai pada kasus-kasus yang kronis hal ini tetap langka. Akan tetapi, atas izin Allah, biasanya akan hilang dengan perantara ruqyah tanpa kembali lagi.
20- Tinjauan Seputar Perbandingan antara Orang yang Ditimpa Gangguan Jin, Sihir, atau 'Ain dan Pasien Psikiatri pada Saat Ruqyah
Pada umumnya, orang yang mengalami gangguan psikis tidak menunjukkan reaksi apa pun selama diruqyah -wallāhu a'lam- selain gerakan-gerakan sadar seperti sugesti[218] tanpa ditemukan adanya tekanan fisik meskipun setelah ruqyah kecuali ketenangan sebagai buah dari mendengarkan Al-Qur'ān. Dalam hal ini, tidak ada perbedaannya antara orang sakit dan yang tidak sakit, sebagaimana Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman (dengan sempurna) itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka karenanya, serta hanya kepada Tuhan mereka mereka bertawakal."[219]
[218] Lihat: hal. 60.
[219] QS. Al-Anfāl: 2.
Ini berbeda dengan reaksi bawah sadar pada saat ruqyah yang dialami oleh orang yang ditimpa gangguan jin, sihir, atau 'ain seperti berteriak, guling-guling, sendawa, menangis, muntah, pingsan, ataupun kejang yang membuatnya roboh ke tanah, ditambah dengan tekanan fisik yang menghalangi pasien untuk bangkit sekian waktu atau untuk menggerakkan salah satu jari kaki kisaran antara 5-20 menit secara umum setelah ruqyah selesai.[220]
[220] Lihat: hal. 91.
Terdapat keterkaitan yang kuat antara serangan kronis pada orang yang ditimpa gangguan jin, sihir, atau 'ain dengan penyakit-penyakit psikis, terutama ketika pasien dengan gangguan jin atau sihir lebih mendominankan aspek pengobatan ruqyah daripada aspek terapi psikologis.
Hal yang sama berlaku bagi psikopat yang lebih menonjolkan aspek perawatan psikologis daripada aspek ruqyah, seperti ketika seseorang menderita skizofrenia dan gangguan jin pada saat yang bersamaan. Dia dapat membaik signifikan dengan ruqyah yang kontinu, kecuali beberapa gejala psikotik yang mungkin hilang dengan pengobatan psikologis, seperti halunisasi penglihatan, suara palsu, atau paranoia, yang bisa membuat pasien merasa sebagai Imam Mahdi yang ditunggu, atau pasien menganggap dirinya reinkarnasi dari sejumlah tokoh terkemuka yang sesuai dengan lingkungannya.[221]
[221] Telah disebutkan pada hal. 103.
Mungkin keluarga pasien atau sebagian peruqyah akan menduga kuat pada kasus-kasus seperti ini di saat ruqyah dan berbicara dengan pasien bahwa ia ditimpa gangguan sejumlah jin.
Sebab itu, kita harus memperhatikan beberapa gejala psikologis yang menyertai psikopat, seperti fobia yang mengakibatkan detak jantung cepat dan sesak napas tanpa cacat medis pada organ seperti alergi dada atau asma.
Rasa takut ini bisa menimpa pasien kapan saja, baik ketika berhadapan dengan situasi menakutkan di tempat tertentu, atau efek dari ketegangan tekanan psikis, atau ketika diruqyah atau sebelumnya, khususnya setelah mendengar teriakan pasien sebelumnya di dalam ruangan peruqyah pada saat menunggu.
Dia mungkin mengalami serangan panik dan berlanjut pada pasien sampai waktu menghadap peruqyah disertai usaha menghirup udara dengan kuat. Lalu ketika pasien menghadapi gejala-gejala ini dia berpikir bahwa itu adalah efek dari serangan sihir atau gangguan jin! Pembahasan tentang rasa takut ini akan dibahas pada pembahasan berikut.
21- Tinjauan Seputar Jenis-jenis Rasa Takut
Pertama: Takut yang bersifat ibadah. Ini tidak diperbolehkan kecuali kepada Allah -'Azza wa Jalla-. Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan penuh harap."[222]
'Āmir bin Qais -raḥimahullāh- berkata,
"Siapa yang takut kepada Allah, maka segala sesuatu akan takut kepadanya. Sebaliknya, siapa yang tidak takut kepada Allah, maka Allah akan menjadikannya takut kepada segala sesuatu."[223]
[222] QS. As-Sajdah: 16.
[223] Lihat: Ṣifah aṣ-Ṣafwah (2/122).
Kedua: Takut yang berbentuk syirik kepada Allah -Ta'ālā-. Allah -Ta'ālā- berfirman menceritakan perkataan Ibrāhīm -'alaihissalām-,
"Bagaimana aku takut kepada apa yang kamu persekutukan (dengan Allah) padahal kamu tidak takut dengan apa yang Allah sendiri tidak menurunkan pegangan kepadamu untuk mempersekutukan-Nya?"[224]
[224] QS. Al-An'ām: 81.
Ketiga: Takut yang bersifat manusiawi
Takut yang merupakan sifat manusiawi ini tidak seorang pun selamat darinya. Ia biasanya terjadi sebentar saja dan akan hilang pengaruhnya bersama hilangnya situasi menakutkan yang dihadapi seseorang. Takut jenis ini bagian dari sifat fitrah manusia. Abu Sa'īd al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata,
"Kami berkata pada saat Perang Khandaq, 'Wahai Rasulullah! Adakah sesuatu yang harus kami baca (agar tidak takut), sungguh hati telah membuncah ke tenggorokan.' Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Ya. Bacalah: Allāhumma-stur 'aurātinā, wa āmin rau'ātinā (Ya Allah! Tutuplah kekurangan kami dan tenangkan rasa takut kami).'" Abu Sa'īd berkata, "Maka Allah -Ta'ālā- menghalau musuh-musuh-Nya dengan angin dan kaum muslimin pun mengalahkan mereka."[225]
Sebab itu, sepantasnya bagi seorang mukmin membaca doa ini ketika takut.
[225] HR. Imam Ahmad dalam Musnad-nya (17/27 no. 10996).
Keempat: Takut yang berupa penyakit
Takut jenis ini tidak memiliki sebab kasatmata, tetapi dapat berpengaruh nyata pada sebagian anggota tubuh manusia dan hampir tidak pernah hilang di sebagian waktu sampai serangannya terhadap jiwa menjadi ringan setelah banyak membaca Al-Qur`ān al-Karīm, memperbanyak doa dan zikir-zikir yang disyariatkan, bersedekah, atau menggunakan terapi obat atau terapi perilaku kognitif.
(Respon fisik) - Detak jantung bertambah cepat - (Pikiran) - Saya memiliki serangan jantung
(Respon fisik) - Pernapasan bertambah dangkal - Kekurangan oksigen ke jantung dan otak - Penambahan takikardia - (Pikiran) - Ini berarti saya benar-benar mengalami serangan jantung
(Respon fisik) - Sensitifitas tubuh bertambah - (Pikiran) - Serangan panik
Barangkali ini[226] sejalan dengan keterangan Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh-:
[226] Dikutip dari penjelasan grafik dari buku Mind Over Affection (hal. 31).
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Pangkal kepengecutan berasal dari buruk sangka dan bisikan buruk jiwa. Ia lahir dari paru-paru. Jika prasangka buruk dan jiwa membisikkan keburukan, paru-paru akan mengembang lalu menyerobot jantung pada tempatnya serta mempersempitnya sampai menghalaunya dari tempatnya sehingga ia mengalami guncang dan takut disebabkan oleh gangguan dan penyempitan oleh paru-paru. Oleh sebab itu, disebutkan dalam hadis 'Amr bin al-'Āṣ yang diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-:
'Seburuk-buruk yang ada pada seseorang ialah kepengecutan yang mencopot (yakni: sangat besar) dan kekikiran yang disertai keluhan.' [HR. Ahmad (no. 302 & 320) dan Abu Daud (no. 2511)] Sifat pengecut disebut sebagai "yang mencopot" karena ia mencopot jantung dari tempatnya disebabkan paru-paru yang mengembang. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Jahl kepada 'Utbah bin Rabī'ah pada Perang Badar, 'Paru-parumu menggelembung.' Jika jantung bergeser dari tempatnya, maka pengelolaan hati akan hilang. Sebab itu, kerusakan akan tampak pada anggota tubuh lalu ditempatkan bukan pada tempatnya."[227]
Seorang pengecut akan menemui ajalnya sebelum waktunya. Di antara pepatah Arab: "Kematian seorang pengecut dari atasnya". Artinya: dia melihat keinginannya seolah-olah hanya berputar di atas kepalanya, seperti yang difirmankan Allah -Ta'ala- tentang orang-orang munafik ketika Allah menyifati mereka dengan sifat pengecut:
"Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan ditujukan kepada mereka."[228], [229]
[227] Ar-Rūḥ (hal. 291).
[228] QS. Al-Munāfiqūn: 4.
[229] Lihat: al-Amṡāl karya al-Qāsim bin Sallām (316) dan al-'Iqd al-Farīd karya Ibnu 'Abdi Rabbih (3/72).
Jika kita cermati saksama penjelasan Alamah Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- tentang sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-: "Jubnun khāli' (kepengecutan yang mencopot)", tampak bagi kita ketidakmampuan pemeriksaan laboratorium untuk mengungkap korelasi rasa takut dengan kerusakan anggota tubuh tatkala muncul dalam bentuk penyakit-penyakit organ.
Saya cermati pada sebagian pengunjung di saat mereka diruqyah, mereka mengeluhkan batuk tanpa sebab medis yang jelas. Ketika saya bertanya kepada mereka tentang rasa takut kehilangan ibu di masa kecil lantaran perselisihan antara kedua orang tua, atau perceraian, saya dapati sebagian mereka terkejut terhadap pertanyaan saya ini, meskipun akhirnya jawaban mereka seputar itu pada umumnya. Hal ini juga disebutkan oleh dr. Ahmad 'Ukāsyah:
"Asma bronkial: suara atau desis penderita asma saat bernapas mirip dengan tangisan seorang anak memanggil ibunya. Kenyataannya, banyak di antara penderita asma memiliki hubungan yang dangkal dan buruk dengan ibu mereka, dan bahwa salah satu penyebab serangan asma adalah ancaman kehilangan atau berpisah dari ibu, atau yang semisalnya seperti istri atau teman... dll. Kontradiksi mencolok dalam hubungan penderita dengan ibu atau yang semisalnya tampak pada takut jauh atau berpisah, dan pada saat yang sama keinginan untuk mandiri dan tidak bergantung menyebabkan pertikaian psikologis yang membuat seseorang rentan terhadap kejang bronkial dan serangan asma."[230]
[230] Aṭ-Ṭibb an-Nafsiy al-Mu'āṣir (hal. 539).
Terkait hal ini, saya akan bawakan sebuah kisah yang barangkali dapat menceritakan hubungan takut dengan kerusakan anggota tubuh, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh-. Kisah ini juga mungkin dapat mencerminkan catatan seputar data-data buku ini di lapangan setelah diterbitkan -dengan karunia dan taufik Allah-.
Seorang pengunjung datang membawa saudarinya yang tidak bisa berjalan kaki sejak sekitar tiga tahun ketika melahirkan anak ketiganya.
Dia dikuasai oleh frustrasi setelah menyerah terhadap semua proses pemeriksaan laboratorium yang gagal menunjukkan penyebab cacat ini, sesuai pengakuannya.
Terkadang dia pasrah sepanjang waktu tersebut pada pandangan seorang perempuan yang melakukan praktik pengobatan yang membacakannya ruqyah dan meyakinkannya bahwa kedua kakinya dirasuki jin.
Di sela-sela diskusi bersamanya sebelum ruqyah, saya simpulkan bahwa dia mengalami rasa takut penyakit akibat kesalahan diagnosis oleh perempuan yang mengobatinya tersebut. Wallāhu a'lam.
Saya lalu membacakannya sebagian Al-Qur`ān dengan dihadiri oleh saudaranya dan dia mengeluhkan sakit di kedua kakinya pada saat ruqyah.[231]
[231] Lihat: hal. 91.
Setelah itu, saudaranya saya berikan satu eksemplar buku ini dengan judul lamanya[232] dan menunjukkan padanya pembahasan yang spesifik dengan penyakitnya di halaman 113.
[232] Naẓarāt Ḥaula al-'Ain wa as-Siḥr wal-Iḍṭirābāt an-Nafsiyyah.
Dia lalu menyatakan bahwa apa yang disebutkan di tulisan tersebut banyak yang sesuai dengan gejala yang dia keluhkan. Gejala-gejala ini juga sesuai dengan penjelasan Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh-.
Saya juga memperlihatkan pada keduanya halaman lain (hal. 29), sehingga ketika mereka berdua membaca gejala-gejala ini (jatuh dan tidak kuat melanjutkan berdiri), saya membiarkan mereka bebas menentukan jawaban. Saya katakan, "Apakah penyebabnya telah tampak bagi kalian sekarang?" Mereka menjawab, "Ya." Ini seperti dikatakan dalam pepatah: Jika sebab telah diketahui, tidak ada lagi keheranan.
Setelah itu, dia segera mengikuti terapi bersama psikiater dan melakukan pengobatan yang tepat. Setelah beberapa pekan, dia datang bersama suaminya di pertemuan yang lain sementara dia berjalan kaki. Alhamdulillah.
22- Tinjauan Seputar Efek Negatif Psikologis
Ketika salah seorang anggota keluarga mengalami sakit organ, bahaya yang ditimbulkan sakit itu pada umumnya tidak menular ke anggota keluarga lainnya, seberat apa pun orang sakit itu melawan rasa sakit dan sebesar apa pun simpati keluarganya pada dirinya. Ini berbeda dengan bahaya yang bisa ditimbulkan oleh orang yang mengalami gangguan psikis.
Bahaya penyakit gangguan psikis bisa sangat besar terhadap keluarga penderitanya ketika ia menunjukkan perilaku kekerasan. Bahkan, bisa jadi bahaya ini turut menimpa para kerabat dan lingkungan sekitarnya.
Sebab itu, perhatian kepada pasien psikopat tidak seperti perhatian terhadap pasien penyakit lainnya, terutama bila dia pemegang kendali keluarga seperti ayah dan semisalnya. Ketika dia membayangkan sebuah konspirasi dibuat untuk melawannya, atau seseorang mengusirnya, mengancam kehidupannya, atau ada sihir yang dilakukan oleh seseorang, sebagian anggota keluarga dapat ikut serta dalam delusi ini.
Barangkali dapat saya perkuat dengan salah satu kisah seputar topik ini. Pernah salah seorang rekan meminta saya untuk meruqyah istri temannya dengan dihadiri oleh suaminya di rumah mereka. Ketika sedang diruqyah, istrinya berteriak sekuat suaranya dan mengatakan, "Media sihirnya di tempat ini dan ini".
Spontan suaminya menukas, "Siapa yang melakukannya?"
Lalu terjadi diskusi sengit antara keduanya dan tidak seorang pun menoleh kepada saya. Saya kemudian meminta izin keluar setelah mengamati bahwa si suami mengalami beberapa gejala kecanduan narkoba[233].
[233] Tentang gejala kecanduan narkoba ini, disebutkan dalam buletin RS Jiwa Iradah di Kota Riyadh pada judul stimulan zat narkotika, yaitu: 1- Peningkatan gerakan dan aktivitas, suasana hati dan kewaspadaan tinggi selama berjam-jam, dan kurang selera makan, diikuti oleh sifat lesu, malas, depresi, beberapa waktu dan bahkan bisa terjadi selama berjam-jam. 2- Peningkatan bicara, serta keinginan dan impulsif untuk berbicara dengan orang lain. 3- Penyalahgunaan narkoba yang terus-menerus membuat suasana hati pengguna tajam dan tidak stabil, cenderung ragu dan curiga, dihinggapi obsesi, menjadi agresif, dan cenderung bertengkar tanpa memperhitungkan konsekuensinya. 4- Mengabaikan penampilan dirinya dan kehilangan peran sosial dan aspek keagamaan.
Pada hari berikutnya, rekan saya kembali menelepon dan meminta saya sekali lagi untuk merukiahnya. Dia berkata menyampaikan pesan temannya, "Jin yang merasuki istri saya hampir keluar atau mengakui tempat media sihirnya setelah sejumlah perukiah menyerah."
Saya katakan kepada rekan saya, "Menurut saya, wallāhu a'lam, istri temanmu sedang mengalami kasus sugesti akibat tekanan psikologis yang dipicu oleh gangguan mental yang dimiliki suaminya."
Dia berkata, "Lalu apa yang harus dilakukan?" Saya katakan, "Sampaikan kepadanya apa yang kamu dengar dan saya akan berkomunikasi dengannya."
Lalu terbuktilah apa yang saya duga. Ibu si istri menelepon saya dan menggambarkan keruntuhan psikologis putrinya karena kecurigaan suaminya, terutama sikapnya yang bersiteguh bahwa ada sihir kiriman orang lain untuk memisahkan mereka sejak hubungan mereka tegang.
Setelah saya bertemu si suami, dia tidak mengelak dari mengonsumsi narkoba. Saya pun duduk bersamanya sekian kali demi menasihatinya sehingga Allah memberikannya petunjuk dan dia menyatakan untuk berhenti. Secara bertahap, psikologisnya membaik bersama waktu dan berefek positif pada keluarganya. Setelah sekian waktu, dia memintaku untuk meruqyah istrinya sekali lagi. Ketika saya membacakannya, sepertinya dia tidak pernah mengalami gangguan sama sekali. Alhamdulillah.
23- Tinjauan Seputar Efek Permainan Elektronik (Game Online)
Permainan atau game elektronik yang merebak di masa belakangan ini telah menjadi sumber kekhawatiran bagi banyak keluarga ketika melihat anak-anak mereka sangat ketergantungan dengannya. Anak-anak seringkali bermain dengannya selama berjam-jam. Ini merupakan salah satu masalah terbesar era ini yang dihadapi sebagian besar negara di dunia. Sejumlah menteri di Uni Eropa menuntut pelarangan game yang bergenre kekerasan dan pembunuhan, dan pengenaan hukuman yang seragam terhadap penjualan game ini kepada para remaja.[234]
[234] Majalah al-'Ālam, edisi 193, 26/1/2007.
Saya menyaksikan banyak pengunjung yang meminta ruqyah untuk anak-anak mereka karena mereka menyangka bahwa anak-anak itu mendapatkan gangguan jin, sihir, atau 'ain.
Saya segera bertanya tentang rentang waktu yang dihabiskan oleh pasien pada permainan online dan saya dikagetkan oleh jawaban kebanyakan mereka bahwa ia duduk di sebagian besar waktunya, mulai 5 jam hingga 9 jam setiap hari pada permainan online.
Saya mencermati pada diri mereka hal-hal yang menyedihkan; gejala cemas, cepat marah, tidak bisa fokus pada tugas sekolah, banyak alpa, takut, dan sedih padahal tidak berpisah dari ibu, emosi tidak stabil[235], sedikit tidur, dan rendah selera makan, padahal usia mereka kisaran antara 5 - 12 tahun.
[235] Yaitu cenderung menangis disertai ketidakstabilan suasana hati. Kasus ini terkenal di kalangan psikiater.
Saya meyakini bahwa sebagian pasien tersebut butuh rehabilitasi ulang berdasarkan program terapi perilaku supaya tidak kecanduan permainan ini, di samping pengobatan ruqyah. Insya Allah, hasilnya akan lebih bagus.
Gangguan Akibat Game Online
Gangguan ini berupa pola permainan internet berlebihan dan berkepanjangan, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai kesimpulan melalui sejumlah gejala kognitif dan perilaku. Hal ini termasuk hilangnya kontrol diri secara bertahap pada saat memainkan kebanyakan permainan tersebut serta terjadi toleransi dan gejala penarikan yang mirip dengan gejala inti konsumsi doping. Sebab itu, orang-orang akan terus bermain secara online dengan duduk di hadapan komputer dan larut dalam aktivitas game meskipun mengabaikan semua aktivitas lainnya.
Mereka biasanya menghabiskan 8 - 10 jam atau lebih dalam sehari untuk kegiatan ini, setidaknya 30 jam seminggu. Jika mereka dilarang menggunakan perangkat komputer dan bermain game, mereka akan berteriak penuh emosi dan murka. Mereka sering duduk untuk waktu yang lama tanpa makan dan tidur, dan wajar jika dia mengabaikan tugas, seperti tugas sekolah atau pekerjaan, atau kewajiban keluarga lainnya[236].
[236] Ad-Dalīl at-Tasykhīṣiy wal-Ihṣā`iy al-Amrīkiy al-Khāmis lil-Iḍṭirābāt an-Nafsiyyah wal-'Aqliyah (hlm. 1418), cet. 1 th. 1436, Dār az-Zahrā` - Riyadh, Dr. Ali Musthafa, Dr. Muhammad Yusuf.
24- Tinjauan Seputar Efek Positif Mendengarkan Al-Qur`ān
Pengaruh mendengarkan Al-Qur`ān lebih keras terhadap orang-orang kafir Quraisy daripada tebasan pedang. Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Berjuanglah terhadap mereka dengannya (Al-Qur`ān) dengan perjuangan yang besar."
(QS. Al-Furqān: 52)
Ibnu 'Abbās berkata, "Yaitu dengan Al-Qur`ān."[237]
[237] Tafsīr aṭ-Ṭabariy, Jāmi'ul-Bayān, taḥqīq: Syākir (19/280).
Ketika orang-orang musyrik Quraisy memahami kuatnya pengaruh Al-Qur`ān terhadap kaum mereka, mereka lantas segera membuat kebisingan terhadap bacaan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Dan orang-orang yang kafir berkata, 'Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur`ān ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya.'"
"Buatlah hiruk-pikuk terhadapnya" maksudnya dengan bersiul dan mengacaukan ucapan.[238]
[238] QS. Fuṣṣilat: 26; Tafsīr aṭ-Ṭabariy, Jāmi'ul-Bayān, taḥqīq: Syākir (21/460).
Al-Qur`ān memiliki pengaruh yang menakjubkan. Hal itu dibuktikan oleh kisah yang disebutkan oleh Allah -'Azza wa Jalla- tentang bangsa jin, sebagaimana dalam firman-Nya:
"Katakanlah (hai Muhammad), 'Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur`ān), lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur`ān yang menakjubkan,
(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan menyekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.''"
(QS. Al-Jinn: 1-2)
Terdapat hubungan kuat antara pendengaran dan hati. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan Kami mengunci hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran)."[239] Demikian juga halnya hubungan antara hati dan penglihatan. Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya."[240]
Allah -Ta'ālā- juga berfirman,
"Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada."
(QS. Al-Ḥajj: 46)
Allah -Ta'ālā- juga berfirman,
"Hati manusia pada waktu itu merasa sangat takut,
pandangannya tunduk."
(QS. An-Nāzi'āt: 8-9)
[239] QS. Al-A'rāf: 100
[240] QS. An-Najm: 11.
Selain itu, mukjizat Al-Qur`ān al-Karīm juga tidak tertandingi dan akan terus ada sepanjang masa hingga Allah menghancurkan bumi dan semua yang ada padanya. Dr. Mahmud Yusuf Abduh telah menyebutkan dalam penelitiannya yang berjudul "Mukjizat Suara Al-Qur`ān Al-Karīm" sebagai berikut ini:
Sebuah tim medis melakukan penelitian Al-Qur`ān di klinik-klinik besar di Panama City, Florida, Amerika. Penelitian ini dipresentasikan pada Muktamar Kedokteran Islami Internasional III yang diadakan di Istanbul, Turki. Tujuan dari tahap pertama penelitian ini adalah untuk membuktikan apakah Al-Qur`ān memiliki efek melalui pemantauan elektronik yang dilengkapi komputer dalam mengukur perubahan fisiologis pada sejumlah relawan sehat saat mereka mendengarkan rekaman bacaan Al-Qur`ān, dan pengaruh Al-Qur`ān pada sejumlah muslim yang berbahasa Arab dan Nonarab, serta pada sejumlah nonmuslim setelah ayat-ayat Al-Qur`ān dibacakan kepada mereka dalam Bahasa Arab, kemudian terjemahan ayat-ayat ini dibacakan kepada mereka dalam Bahasa Inggris. Penelitian tersebut dilakukan dalam dua tahap.
Hasil awal penelitian ini menunjukkan bahwa Al-Qur`ān memiliki efek positif dan pasti untuk menenangkan ketegangan jiwa. Efek ini dapat direkam, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Efek ini tampak dalam bentuk perubahan arus listrik pada otot, perubahan kerentanan kulit terhadap konduktivitas listrik, perubahan sirkulasi darah, dan perubahan jumlah detak jantung yang menyertainya, jumlah darah yang mengalir melalui kulit, dan suhu kulit.
Pada kelompok yang menyimak dan memahaminya, baik muslim maupun nonmuslim, atau berbahasa arab atau lainnya, hasilnya positif sebesar 97%. Sedangkan pada kelompok tahap kedua terbukti bahwa mendengarkan tilawah ayat-ayat Al-Qur`āīn al-Karīm memiliki efek yang jelas dalam menenangkan ketegangan, bahkan walaupun dia tidak memahami artinya karena ia mencapai tingkat positif 65%.[241]
[241] Lihat: Majallah al-I'jāz al-'Imiy fil-Qur`ān was-Sunnah, volume 09, tahun 1422 H.
25- Tinjauan Seputar Pengaruh Doa
Doa memiliki pengaruh yang besar. Ia merupakan senjata paling besar bagi seorang mukmin, dengan taufik Allah -'Azza wa Jalla-. Allah -Ta'ala- berfirman, "Katakanlah (Muhammad, kepada orang-orang musyrik), 'Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, kalau tidak karena doamu.'"[242]
[242] QS. Al-Furqān: 77.
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata,
"Doa adalah sebab kesembuhan. Doa merupakan obat paling ampuh. Doa adalah lawan bala; ia menolaknya, menghilangkannya, mencegahnya, dan menghalanginya supaya tidak turun, serta meringankannya jika telah turun. Doa adalah senjata orang beriman."[243]
[243] Ad-Dā` wad-Dawā` (hal. 9).
Ketika saya membaca sebagian buku-buku pengobatan psikiatri serta mencermati gejala-gejala depresi, saya mendapatinya terkumpul dalam doa perlindungan yang diajarkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-:
Abu Sa'īd al-Khudriy meriwayatkan: suatu hari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk masjid. Ternyata beliau bertemu seorang laki-laki Ansar yang biasa dipanggil: Abu Umāmah. Beliau bertanya, "Wahai Abu Umāmah! Ada apa gerangan aku melihatmu di masjid di luar waktu salat?" Dia menjawab, "Aku terbelenggu susah dan hutang, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Maukah engkau aku ajari sebuah doa, jika engkau membacanya niscaya Allah -'Azza wa Jalla- akan menghilangkan kesusahanmu serta menyelesaikan hutangmu?" Abu Umamah berkata, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Bacalah ketika engkau memasuki pagi dan ketika memasuki sore: Allāhumma innī a'ūżu bika minal-hammi wal-ḥazan, wa a'ūżu bika minal-'ajzi wal-kasali, wa a'ūzubika minal-jubni wal-bukhli, wa a'ūżu bika min galabatid-dain wa qahrir-rijāl." (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari kesusahan dan kesedihan. Aku berlindung kepada Engkau dari kelemah dan kemalasan. Aku berlindung kepada Engkau dari sifat pengecut dan bakhil. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan penguasaan orang). Dia berkata, "Saya pun mengerjakannya sehingga Allah -'Azza wa Jalla- mengangkat kesusahanku serta melunasi seluruh hutangku."[244]
[244] HR. Abu Daud dalam as-Sunan (2/93 no. 1555) dan al-Baihaqiy dalam as-Sunan (no. 179).
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- berkata,
"Al-hamm (kesusahan) dan al-ḥazan (kesedihan) adalah dua hal yang bergandengan. Keduanya adalah penderitaan jiwa dan penyiksanya, tetapi perbedaannya bahwa kesusahan adalah membayangkan keburukan di masa depan sedangkan kesedihan adalah penderitaan atas keburukan yang terjadi di masa lalu atau kehilangan sesuatu yang diinginkan. Keduanya adalah penderitaan dan siksaan terhadap jiwa; jika terkait masa lalu disebut kesedihan dan jika terkait masa depan disebut kesusahan.
Al-'ajz (kelemahan) dan al-kasal (kemalasan) juga merupakan dua hal yang bergandengan. Keduanya adalah penyebab derita karena keduanya berakibat luputnya sesuatu yang diinginkan. Kelemahan berkonsekuensi tidak memiliki kemampuan, sedangkan kemalasan berkonseksuensi tidak memiliki tekad.
Jiwa akan menderita ketika tidak mendapatkannya sejauh mana ia menginginkannya serta menikmatinya saat mendapatkannya seandainya terwujud.
Al-jubn (sifat pengecut) dan al-bukhl (sifat bakhil) juga merupakan dua hal yang bergandengan karena keduanya berarti tidak mendapatkan manfaat dengan harta dan badan.
Keduanya termasuk sebab derita karena seorang pengecut akan kehilangan kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan-kenikmatan besar yang tidak didapat kecuali dengan pengorbanan dan keberanian, sedangkan bakhil menjadi penghalangnya. Sebab itu, dua perangai ini termasuk sebab derita yang paling besar.
Galabatud-dain (lilitan hutang) dan qahrur-rijāl (penguasaan orang) adalah dua hal yang bergandengan; keduanya menyiksa dan menyakiti jiwa. Salah satunya pemaksaan yang sesuai jalan yang benar, yaitu lilitan hutang. Sedangkan yang kedua, pemaksaan yang tidak beralasan, yaitu penguasaan oleh orang.
Juga, lilitan hutang adalah keterpaksaan yang umumnya disebabkan oleh pilihan hamba, sedangkan dikuasai orang adalah keterpaksaan yang bukan pilihannya.
Doa lain ialah doa perlindungan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- "dari dosa dan terlilit hutang" karena keduanya dapat menyebabkan derita yang disegerakan."[245]
[245] At-Tafsīrul-Qayyim karya Ibnul-Qayyim (hal. 525).
Al-hamm (kesusahan) adalah buruk sangka kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang di tangan-Nyalah segala urusan.
Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Dan kamu telah berprasangka dengan prasangka yang buruk."
(QS. Al-Fatḥ: 12)
Doa yang komprehensif ini akan mengangkat dan menolak penderitaan-penderitaan ini dari jiwa, dengan izin Allah.
26- Tinjauan Seputar Efek Positif Majelis Zikir
Keluarnya jin yang merasuki manusia tidak terbatas pada faktor ruqyah saja. Sebaliknya, sebagian orang yang mengalami gangguan jin tidak dapat duduk lama di majelis zikir.
Al-Hasan al-Baṣriy -raḥimahullāh- berkata, "Dengan zikir seorang hamba dapat menyerang setan, sebagaimana setan akan menyerang orang-orang yang lalai dan alpa."
Sebagian salaf -raḥimahumullāh- berkata, "Jika zikir telah menguasai hati, ketika setan mendekat kepadanya maka setan itu akan hilang kesadaran sebagaimana manusia hilang kesadaran ketika setan mendekat kepadanya, sehingga setan-setan akan mengerumuninya dan bertanya, 'Ada apa dengannya?' Dikatakan, 'Ia kerasukan manusia.'"[246]
[246] Madārijus-Sālikīn (hal. 595-596).
Barangkali saya bisa sampaikan sebuah kisah terkait topik ini:
Saya pernah berada di salah satu majelis zikir bersama para pasien bagian kecanduan narkoba di RS Jiwa Iradah di Kota Riyadh. Seorang pasien berteriak sekeras-kerasnya; sambil menatapku dia mengatakan, "Keluarlah!" Saya tidak keluar dari majelis tersebut hingga dia yang keluar mundur[247] dengan cara aneh dan berjalan dengan kedua ujung telapak kakinya. Setelah kami selesai dari majelis zikir tersebut, tiba-tiba seorang pasien lainnya berkata, "Pasien yang mengangkat suaranya di tengah-tengah majelis tadi meminta diruqyah." Saya pun datang dan membacakannya Surah Al-Fātiḥah dan Mu'awwiżāt, lantas dia berdiri sempoyongan dan mengucapkan ucapan yang tidak dipahami.[248]
[247] Berjalan mundur.
[248] Lihat: hal. 58.
Pada hari ketiga setelah libur pekanan, rekanku yang turut menghadiri majelis itu berkata, "Pasien tersebut muntah sepanjang hari sejak diruqyah." Setelahnya, sekali lagi saya membacakannya ruqyah, namun saya tidak mengamati lagi gejala aneh padanya -dengan karunia Allah-, dan kemudian dokter merekomendasikannya untuk keluar.
27- Tinjauan Seputar Pengaruh Aktivitas Olahraga
Rutin berolahraga fisik adalah faktor penting dalam kehidupan seseorang. Allah -Ta'ālā- berifrman,
"Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka."[249]
Ibnu Zaid berkata, "Makna al-asr ialah kekuatan."[250]
[249] QS. Al-Insān: 28.
[250] Tafsir aṭ-Ṭabariy (24/118).
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Sejumlah orang mengeluhkan berjalan kaki kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lantas beliau memanggil mereka dan bersabda, "Hendaklah kalian berjalan (dengan langkah) pendek." Maka kami berjalan pendek[251] dan kami mendapatkannya lebih ringan bagi kami.[252]
[251] An-Naslān ialah memendekkan langkah dengan berjalan lebih cepat. (Garībul-Ḥadīṡ karya Ibnu Qutaibah, 1/517). Hal ini juga ada dalam firman Allah -Ta'ālā-, "Maka seketika itu mereka keluar (dengan cepat) dari kuburnya, menuju kepada Tuhannya." Firman Allah: "yansilūn" maksudnya, bahwa mereka keluar berjalan kaki dengan berjalan cepat. Sebagaimana dikatakan seorang penyair: Serigala bergerak cepat ke air, tampaknya malam terasa dingin maka ia keluar dengan cepat Lihat: Jāmi'ul-Bayān (18/532).
[252] HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan al-Kubrā (5/420 no. 10346).
Syekh Abdurrahman as-Sa'diy -raḥimahullāh- berkata, "Adapun olahraga fisik, yaitu dengan memperkuat badan dengan gerakan-gerakan yang variatif, berjalan kaki, menunggang, dan berbagai gerakan lainnya, maka setiap kaum memiliki kebiasaan yang tidak perlu diperdebatkan tentang pengistilahannya selama tidak mengandung larangan. Jika engkau memperhatikan kebiasaan-kebiasaan syariat dalam gerakan fisik, engkau akan tahu bahwa gerakan-gerakan tersebut telah cukup menggantikan yang lainnya. Gerakan bersuci, salat, berjalan menuju ibadah serta mengerjakannya, terutama ketika hal itu dinikmati, beragam gerakan haji dan umrah serta jihad, gerakan belajar, mengajar, dan latihan berbicara dan menulis, berbagai jenis tindakan produksi dan profesi, seluruhnya masuk dalam olahraga fisik."[253]
[253] Ar-Riyāḍ an-Nāẓirah karya al-'Allāmah Abdurraḥmān bin Sa'diy (hal. 173).
Setelah semua informasi ini, juga arahan-arahan agama, sosial, psikologi, kesehatan, dan olahraga, kita semua harus mengubah pola kehidupan dan perilaku kita sehari-hari, serta merutinkan olahraga dan aktivitas fisik.
Barangkali perlu saya sampaikan nasihat kesehatan berikut ini:
“Dalam rangka mengentaskan gangguan jiwa ... depresi ... cemas ... takut ... maka lakukan aktivitas olahraga.
Berbagai studi dan penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan medis modern telah mengonfirmasikan bahwa pengaruh latihan dan permainan olahraga serta melakukan salah satu aktivitas dasar sama sekali tidak kalah dari pengaruh positif terapi psikis, terutama berjalan, berlari, jogging, permainan, latihan kebugaran, dan diet, dengan mempertimbangkan faktor usia. Sebab itu, engkau mesti berupaya untuk berolahraga.
Mengalokasikan waktu sepuluh menit setiap hari untuk melakukan aktivitas olahraga yang akan bekerja mengeluarkan sebanyak mungkin keringat dari tubuh, termasuk yang membantu menghilangkan semua efek gangguan mental dan memiliki efek yang tidak kalah penting dari berbagai perawatan psikologis yang diketahui.
Adapun alasannya, karena ketika tubuh berhadapan dengan kelelahan, apapun bentuknya, maka tubuh akan mengeluarkan hormon endorfin dalam jumlah berlipat yang disebut hormon kebahagiaan. Juga pada saat yang sama, latihan dan permainan-permainan ini membantu mengaktifkan hormon saraf dalam tubuh dan meningkatkan produksinya.”[254]
[254] Buletin penyuluhan terbitan RS Jiwa Iradah Kota Riyadh.
28- Tinjauan Seputar Pengaruh Maksiat
Maksiat memiliki pengaruh buruk terhadap agama, dunia, badan, jiwa, dan negeri. Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia."[255], [256]
[255] QS. Ar-Rūm: 41.
[256] Ibnu Zaid berkata, "Telah tampak kerusakan di darat dan laut" maksudnya dosa. (At-Tafsīr al-Qayyim karya Ibnul-Qayyim: hal. 391).
Kita benar-benar heran terhadap sebagian kasus bunuh diri. Bagaimana bisa seseorang membinasakan dirinya hanya karena keinginannya, padahal Allah -'Azza wa Jalla- telah memberikan manusia akal dan cinta kehidupan. Tetapi, ketika keyakinan kepada Allah lemah serta bumi yang luas terasa sempit baginya, dia lantas melakukan perbuatan tersebut. Semoga Allah menjauhkan kita semua dari hal ini.
Berdasarkan ini, seorang muslim dapat memahami perbedaan besar antara keburukan maksiat dan keberkahan taat.
Allah-Ta'ālā- berfirman,
"Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu."[257]
[257] QS. Al-Jāṡiyyah: 21.
Tuhan kita sama sekali tidak menzalimi seorang pun karena balasan dari-Nya sejenis dengan perbuatan hamba. Allah-Ta'ālā- berfirman, "Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku mengingat kalian."[258] Di sisi lain, ada juga firman Allah -Ta'ālā-, "Mereka lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka."[259]
[258] QS. Al-Baqarah: 152.
[259] QS. At-Taubah: 67.
Sungguh berbeda antara kehidupan orang beriman dengan kehidupan orang kafir. Allah -Ta'ālā- berfirman,
"Dan apakah orang yang mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat ke luar dari sana?"[260]
[260] QS. Al-An'ām: 122.
Saya meyakini bahwa tidak tepat, bahkan tidak boleh mencela seorang psikopat lantaran dampak dosa yang dideritanya. Sebaliknya, keluarganya atau sebagian peruqyah berusaha menasihatinya pada saat ruqyah, khususnya pada kondisi-kondisi mental lanjut semisal depresi. Nasihat yang dilakukan tidak pada waktunya dapat berubah menjadi cercaan pada pandangan pasien yang akan menyulut rasa cemas sehingga akalnya tidak jernih dan menambah tajam depresi.
Sebagaimana dikatakan dalam pepatah, "Daripada engkau menyalahkan kegelapan, lebih baik nyalakan lilin."
Jadi, pasien sama seperti orang yang terluka bersimbah darah akibat kecelakaan lalu lintas. Dalam kondisi seperti ini seharusnya orang yang menolong[261] segera mengangkut korban ke rumah sakit terdekat saat itu juga, bukan memberi teguran tidak berguna kepada korban atas tindakan ugal-ugalannya ketika berkendara, karena kecelakaan itu sendiri merupakan jaminan supaya dia kapok dari bentuk pelanggaran lalu lintas apa pun di kali yang lain.
[261] Hal ini persis yang diterangkan oleh Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh-, "Bersikap lembut kepada pasien sakit seperti sikap lembut kepada anak kecil." Lihat: hal. 10.
Tindakan yang benar terhadap pasien ialah memperlakukannya dengan cara terbaik. Pelajaran yang didapat oleh pasien dari penyakit yang menimpanya lebih mengena daripada menasihatinya terkait kelalaiannya. Mungkin dia membutuhkan seseorang yang menuntun dan membimbingnya tentang cara menghadapi penderitaannya dan cara melewati proses pemulihan kesehatannya supaya hatinya tenang melawan depresi dan mengenali karakter penyakitnya di samping melakukan ruqyah. Dia juga hendaknya dimotivasi untuk menjaga hubungan permanen dengan Allah -'Azza wa Jalla- melalui doa, wirid, zikir, membaca Al-Qur`ān, dan salat; karena siapa yang merutinkan semua ini, niscaya akan mencegahnya dari kekejian dan kemungkaran.
Cara Agar Bebas dari Kecemasan
Di sini, saya pilihkan sebuah pembahasan bermanfaat tentang pengobatan rasa cemas, tulisan Syekh Zaid bin Abdul Aziz al-Fayyāḍ -raḥimahullāh-. Berikut naskahnya:
"Pada hakikatnya, agama adalah obat kecemasan paling hebat dan faktor terbesar untuk terjauhkan darinya. Allah berfirman, "(Orang-orang yang kembali kepada-Nya ialah) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28). Agama yang mengakar dalam jiwa memunculkan sikap rida terhadap takdir, memberikan ketenangan dan ketenteraman dalam jiwa, dan memperkuat iman yang akan menanam sikap tawakal kepada Allah. Seorang hamba pun meyakini bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, sedangkan yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi, dan bahwa apa yang telah ditetapkan menimpa hamba tidak akan menyalahinya, sedangkan yang ditetapkan menyalahinya tidak akan menimpanya. Ia meyakini bahwa dunia ini hanyalah ladang bagi akhirat dan sarana untuk mengerjakan kebaikan dan mengumpulkan bekal ketakwaan untuk hari yang tidak berguna padanya harta maupun anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang baik. Salat yang merupakan salah satu buah agama dan iman adalah bagian dari sebab terbesar untuk ketenangan hati dan ketenteraman jiwa. Oleh sebab itu, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Wahai Bilal! Tenteramkan kami dengan salat."
Di dalam Al-Qur`ān disebutkan:
"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, (salat) itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."
(QS. Al-Baqarah: 45)
Membaca Al-Qur`ān dengan khusyuk dan tadabur adalah obat penenang jiwa yang sangat menakjubkan, menenteramkan hati, dan mengisi hati seorang mukmin dengan keyakinan kepada Allah serta menganggap mudah kesulitan hingga seakan-akan kesulitan tersebut sesuatu yang sepele dan gampang."[262]
Allah -Ta'āla- berfirman,
"Kami tidak menurunkan Al-Qur`ān ini kepadamu agar kamu menjadi susah."[263]
[262] Fī Sabīlil-Islām karya Syekh Zaid al-Fayyāḍ (hal. 249).
[263] QS. Ṭāhā: 2.
Al-Ḥasan al-Baṣriy -raḥimahullāh- berkata,
"Al-Qur`ān turun untuk ditadaburi dan diamalkan. Sebab itu, jadikanlah membacanya sebagai amal. Tidak ada sesuatu yang lebih berguna bagi hamba dalam kehidupan dunia dan akhiratnya dan yang lebih dekat pada keselamatannya daripada menadaburi Al-Qur`ān, menelaahnya lebih lama, dan mengonsentrasikan pikiran pada makna ayat-ayatnya ... Hal itu akan memberikannya kekuatan dalam hati, kehidupan, kelapangan, ketenteraman, dan kebahagiaan sehingga membawanya pada suatu urusan sedangkan manusia pada urusan lain."[264]
[264] Madārijus-Sālikīn (hal. 279-280).
Imam Ibnul-Qayyim -raḥimahullāh- telah menerangkan tahapan-tahapan masuknya kecemasan ke jiwa seseorang sedikit demi sedikit. Beliau berkata, "Ketahuilah bahwa lintasan pikiran dan was-was akan diantarkan kepada pikiran, maka pikiran menerimanya lalu mengantarkannya kepada ingatan, maka ingatan menerimanya lalu mengantarkannya kepada keinginan, maka keinginan menerimanya lalu mengantarkannya kepada anggota tubuh dan perbuatan sehingga menjadi kokoh dalam diri dan menjadi kebiasaan. Jadi, menolak lintasan pikiran dan was-was dari pangkalnya lebih mudah daripada memotongnya setelah ia kuat dan sempurna. Sebab itu, ketika engkau menolak lintasan pikiran yang melintas, akan lenyap darimu semua tahapan setelahnya. Sebaliknya, ketika engkau menerimanya, maka ia menjadi pikiran yang berputar lalu menunggangi keinginan, lantas saling bahu-membahu dengan pikiran untuk menunggangi anggota tubuh. Ketika ia gagal menungganginya, keduanya kembali lagi ke hati menjadi angan-angan dan syahwat serta mengarahkannya kepada arah lain yang diinginkannya.
Sudah menjadi hal lumrah bahwa memperbaiki lintasan pikiran dan was-was lebih mudah dari memperbaiki pikiran itu sendiri. Memperbaiki pikiran lebih mudah dari memperbaiki keinginan. Memperbaiki keinginan lebih mudah dari memperbaiki kerusakan amal dan memperbaiki kerusakan amal lebih mudah dari memangkas kebiasaan. Jadi, obat yang paling mujarab ialah engkau menyibukkan jiwamu pada sesuatu yang berguna untukmu, bukan pada yang tidak berguna. Memikirkan sesuatu yang tidak penting adalah pintu seluruh keburukan. Siapa yang memikirkan sesuatu yang tidak berguna akan luput darinya hal-hal yang berguna, serta disibukkan oleh sesuatu yang tidak ada manfaat untuk dirinya."[256]
[265] Al-Fawā`id karya Imam Ibnul-Qayyim (hal. 225-228).
Suara Hati Seorang Pasien
Seorang menulis sebuah surat dengan redaksi: "Terima kasih kepada orang-orang yang mau berterus terang sekalipun menyakitkan."
Betapa surat ini membangkitkan semangat saya ketika keputusasaan hampir merasuki jiwaku karena ketidakpercayaan sebagian pengunjung klinik ruqyah yang menderita gangguan psikologis tentang perlunya berkonsultasi dengan psikiater untuk mengambil perawatan yang tepat sebelum kondisinya memburuk.
Seperti yang dikatakan: "Sangat mudah menghancurkan gedung-gedung menjulang, tetapi sulit untuk menghancurkan keyakinan."
Penulis surat ini menghubungkan gangguan 'ain dengan pembekuan di jantung yang dialaminya setelah hampir merenggut nyawanya jika bukan karena kasih sayang Allah -'Azza wa Jalla- kepadanya, sehingga dia bersikeras melanjutkan ruqyah saja setelah saya mencoba meyakinkannya "bahwa jeramilah yang mematahkan punggung unta".[266] Maksudnya: apa yang dialaminya ini disebabkan oleh akumulasi tekanan psikologis, yaitu setelah tampak bagi saya melalui dialog dengannya bahwa dia menderita kecemasan kronis. Hingga tidak ada lagi baginya pilihan di pertemuan lain kecuali membawa sampel obat-obatan yang dia minum, termasuk obat tidur yang diberikan oleh dokter jantung karena keluhan insomnianya yang parah.
[266] Pepatah ini merujuk kepada peristiwa kecil yang menimbulkan efek besar (biasanya bukan fisik), bukan karena peristiwa itu saja, tetapi karena ia datang setelah akumulasi banyak peristiwa. Hal itu sama seperti unta yang dipikulkan berbagai beban berat sampai tidak lagi bisa memikul beban lain, kemudian dipikulkan di atasnya beban yang kecil (seperti jerami, misalnya) sehingga punggungnya patah. Secara kasatmata hal itu disebabkan oleh jerami tersebut, tetapi sebenarnya disebabkan ketidakmampuannya memikul seluruh beban-beban tersebut. (Disadur dari beberapa situs internet)
Kemudian dia memintaku memberikan konseling psikologi. Lantas pada hari berikutnya, ketika jam kerja, saya bertemu dengan salah seorang psikiater -semoga Allah memberinya balasan pahala- dan menginformasikannya tentang apa yang terjadi serta memperlihatkan obat-obatan itu kepadanya.
Dia mengatakan bahwa obat tidur tersebut merupakan salah satu yang menyebabkan kecanduan dan tidak memenuhi harapan pengobatan yang diinginkan. Harus berkonsultasi kepada dokter psikolog untuk diberikan antidepresan yang sesuai guna mengobati gangguan utama (yaitu kecemasan) sampai kondisinya stabil, dari sana kemudian gejala-gejala ini dapat hilang, terutama insomnia -dengan izin Allah-.
Saya lalu menyampaikan hasil konsultasi dengan dokter kepadanya sambil mendorongnya lebih cepat melakukan pencegahan dari gangguan yang semisalnya. Tidak lama setelahnya, hanya beberapa bulan, tiba-tiba dia mengirim surat berharga ini.
Saat itu, saya menyadari adanya kesulitan sebagian pengunjung klinik ruqyah dalam memahami anjuran saya agar mereka berkonsultasi ke psikiater, meskipun saya berusaha memilih kata-kata terbaik dalam anjuran itu. Saya juga menemukan bahwa inilah rahasia "bentrokan" saya dengan sebagian mereka ketika salah seorang mereka menyerang saya dengan mengatakan: "Saya tidak gila" dan sejenisnya. Terutama dengan sebagian pasien perempuan ketika ia mengalihkan perselisihan dengan suaminya akibat penderitaan psikologis lanjutan sebagai 'ain atau sihir.
Mungkin keangkuhan membawanya untuk menolak dirawat. Hal ini dapat menyebabkan eskalasi perselisihan keluarga, bahkan kehidupan suaminya bersamanya mungkin menjadi sulit. Sebaliknya juga benar, ketika suami menderita gangguan psikologis lanjut, kehidupan istrinya bersamanya mungkin menjadi sulit.
Saya percaya bahwa tanggung jawab paling utama ada pada keluarga karena pasien mungkin tidak mengerti. Pada kasus ini dia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Sebab itu, pada kasus psikologis lanjut seperti ini, keluarga harus memaksa pasien dengan berbagai cara untuk berkonsultasi dengan psikiater dan menempuh perawatan yang tepat.
Saya tidak akan pernah lupa selamanya ungkapan yang keluar dari hati salah seorang pengunjung klinik ruqyah, "Jangan tinggalkan saya... anak-anak kecilku tergantung Anda." Susah, sedih, was-was, dan pikiran bunuh diri[267] kadang berhamburan menyerangnya disebabkan beratnya depresi yang dihadapinya. Dia berusaha menolaknya seorang diri. Perlawanan kepadanya mengambil sebagian besar waktunya sampai membuatnya lelah dan menguasai akalnya. Sebab itu, dia pun pasrah untuk menyendiri dan tidak berminat untuk berbaur bersama orang banyak hingga berakibat ia meninggalkan profesinya.
[267] Telah dibahas di hal. 31.
Aku segera menggandeng tangannya, mengingatkannya kepada Allah, serta membacakannya ayat-ayat Al-Qur`ān sehingga rasa cemasnya reda. Saya lalu menasihatinya supaya merujuk ke psikiater. Setelah itu, saya mengikuti perkembangannya melalui dokter lewat telepon sampai dokter memberikannya obat yang sesuai. Setelah itu, dia tidak pernah meninggalkanku selama jam kerja di klinik ruqyah, dia selalu duduk di sampingku hingga tiba giliran bertemu pengunjung lain, maka dia keluar kemudian menunggu hingga pengunjung tersebut keluar lalu dia kembali lagi di sampingku. Begitu seterusnya sekian hari sampai ada efek pengobatan psikologi tersebut, tentunya dengan karunia Allah.
Pembaca yang budiman! Mungkin Anda dapat melihat secara jelas bagaimana usaha besar seorang peruqyah bersama psikiater dan berkontribusi dalam membantunya keluar dari tahap kritis ini dengan taufik Allah.
Anda juga dapat melihat kembali untuk menimbang antara dampak positif obat-obatan psikiatri dan dampak negatifnya terhadap pasian seperti ini yang telah berpikir bunuh diri.
Di akhir bahasan ini saya katakan:
Wahai pembaca yang budiman! Mungkin Anda mencermati bahwa problem sebagian pasien -yang sebagian mereka telah menderita bertahun-tahun dan maslahat dalam hidup mereka banyak terbengkalaikan[268]- bermuara pada diagnosis yang telah saya isyaratkan sebelumnya.[269]
[268] Saya mencermati pada sebagian psikopat ada sikap suka menyendiri yang berimbas dirinya meninggalkan salat berjemaaah di masjid, bacaan Al-Qur`ān, profesi, sekolah, dan aktivitas-aktivitas bisnis, juga berimbas pada ketidakmampuan memenuhi tuntutan keluarga dan memperhatikannya, dan luputnya berbagai maslahat mereka. Maslahat-maslahat ini kembali kepada sebagian mereka -dengan karunia Allah- setelah mereka menggabungkan antara terapi ruqyah dan terapi psikologi.
[269] Telah dibahas di hal. 13.
Saya berharap kepada para dokter yang mulia supaya tidak menghalangi pasien mereka untuk berobat dengan Kalam Allah -'Azza wa Jalla- dan Sunnah Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- disertai mengerahkan usaha medis yang bersifat materiel karena secara hukum syariat dan hukum alam, semuanya berasal dari Allah.
Sebaliknya, saya juga mengharapkan keikutsertaan saudara-saudara yang terhormat dari kalangan peruqyah pada berbagai seminar pembekalan tentang gangguan mental dan gangguan kecanduan narkoba.
Rekomendasi, Sertifikat Penghargaan, dan Ucapan Terima Kasih
Melihat tuntutan maslahat tentang pengalaman di medan ruqyah syar'i,
saya memutuskan untuk menempuh metode yang dapat mendatangkan sugesti dan motivasi pada pembaca yang budiman serta menambah kepercayaan diri penulis. Metode ini telah ditempuh oleh banyak penulis, masing-masing pada bidang spesialisasinya[270], yaitu menampilkan sebagian rekomendasi dan sertifikat terima kasih dan penghargaan yang pernah saya peroleh, demikian juga berbagai sertifikat, partisipasi, seminar/pelatihan, pesan terima kasih, dan kata pengantar. Seluruhnya ada atas berkat taufik Allah. Berikut saya sebutkan:
[270] Lihat: hal. 11.
1-
Sertifikat dari Lembaga Pusat Pengkajian Ilmu Al-Qur`ān di Kota Riyadh di bawah pengawasan Kementerian Urusan Islam selama empat tahun; dari tahun ajaran 1419/1420 H sampai tahun ajaran 1422/1423 H.
2-
Sertifikat ucapan terima kasih dan penghargaan dari Direktur Umum RS Jiwa Al-Amal di Kota Riyadh tahun 1422 H.
3-
Partisipasi dalam Konferensi Persatuan Dokter Tanah Haramain ke-3 yang diakreditasi oleh Komisi Arab Saudi untuk Spesialisasi Kesehatan dengan slogan “Kedokteran dan Dakwah Adalah Dua Profesi yang Tak Terpisahkan” yang diselenggarakan di RS Raja Khalid Spesialis Mata di Riyadh tahun 1423 H.
4-
Seminar Manajemen Dakwah yang diakreditasi oleh Komisi Arab Saudi untuk Spesialisasi Kesehatan di RS Militer di Kota Riyadh tahun 1424 H.
5-
Menghadiri Penataran Terakreditasi oleh Komisi Arab Saudi untuk Spesialisasi Kesehatan tentang Gangguan Jiwa dan Kecanduan Narkoba yang diselenggarakan di RS Jiwa al-Amal di Riyadh tahun 1424 H.
6-
Sertifikat ucapan terima kasih dan penghargaan atas kontribusi dalam suksesnya Seminar Kode Etik Petugas Kesehatan yang diadakan di King Fahd Medical City pada tahun 1425 H di bawah pengawasan Departemen Penyuluhan Agama Kementerian Kesehatan di Riyadh.
7-
Sertifikat ucapan terima kasih dari Kepala Departemen Bimbingan Agama RS Jiwa Al-Amal atas partisipasi dalam mengaktifkan program pengobatan bersama pasien dengan mendakwahi mereka dan meluruskan perilaku keagamaan mereka pada tahun 1431 H.
8-
Sertifikat Keterangan Lulus dari Jurusan Ilmu Agama Islam di Sekolah Tinggi Keguruan bekerjasama dengan Kantor Penyuluhan Agama Bidang Kesehatan Wilayah Riyadh dalam ujian buku Syarḥ Ṭahāratil-Marīḍ wa Ṣalātihi tahun 1432 H.
9-
Menghadiri Simposium Perlakuan Baik terhadap Pasien yang diadakan di Pusat Kebudayaan Raja Fahd pada tahun 1427 H.
10-
Mengikuti Seminar "Fikih Orang Sakit" yang diadakan di RSU Al-Īmān tahun 1424 H.
11-
Menghadiri pertemuan dan lokakarya untuk mendakwahi pasien yang diadakan di RS Raja Salman bin Abdul Aziz Alu Sa'ud pada tahun 1425 H, di bawah pengawasan Kantor Penyuluhan Agama dari Direktorat Kesehatan Riyadh.
12-
Menghadiri Simposium Ilmiah yang diadakan dalam rangka Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia dengan slogan "Hubungan Antara Kesehatan Mental dan Fisik" di RS Jiwa Al-Amal di Riyadh pada tahun 1425 H.
13-
Sertifikat ucapan terima kasih dan penghargaan dari Kepala Departemen Bimbingan Agama RS Jiwa Al-Amal di Riyadh atas partisipasi bersama pasien dalam program haji dan terapi pengobatan bersama tamu rumah singgah pada tahun 1429 H.
14-
Sertifikat keikutsertaan dalam kursus pelatihan berjudul Berpikir Kreatif (CoRT untuk Pengajaran Berpikir) pada tahun 1432 H.
15-
Surat ucapan terima kasih dari Kepala Departemen Bimbingan Agama RS Jiwa Al-Amal di Riyadh atas pelaksanaan ruqyah syar'iyah dan dampak positifnya pada proses terapeutik pada tahun 1435 H.
16-
Sertifikat menghadiri Seminar Metode Syariah dalam Memberikan Dukungan Agamis kepada Pasien Rawat Inap di RS Jiwa Al-Amal di Riyadh pada tahun 1437 H, di bawah pengawasan Kantor Penyuluhan Agama di Direktorat Kesehatan Riyadh.
17-
Sertifikat menghadiri seminar dengan tema "Kecanduan Narkoba dan Cara Pengobatannya" di Muṭmainnah Centre pada tahun 1439 H.
18-
Sertifikat menghadiri Pertemuan Ilmiah dengan tema "Bekal Para Pemilik Uzur terkait Hukum-Hukum Bersuci dan Salat Orang Sakit" di bawah pengawasan Kantor Penyuluhan Agama Bidang Kesehatan Wilayah Riyadh, yang disampaikan oleh anggota Dewan Ulama Senior, Syekh Dr. Saleh bin Abdullah al-'Uṣaimiy di RS Jiwa al-Amal di Riyadh pada tahun 1439 H.
19-
Kata pengantar dari Syekh Dr. Hamd bin Muhammad al-Wuhaibiy -semoga Allah memberinya taufik- untuk buku ini dengan judul lamanya “Naẓarāt Ḥaulal-'Ain was-Siḥri wal-Iḍṭirābāt an-Nafsiyyah” tertanggal 15/9/1439 H.
20-
Kata pengantar dari Syekh Muhammad bin Abdullah an-Nayil -semoga Allah memberinya taufik- (Kepala Departemen Bimbingan Agama RS Jiwa Al-Amal di Riyadh) dengan judul lamanya “Naẓarāt Ḥaulal-'Ain was-Siḥri wal-Iḍṭirābāt an-Nafsiyyah” tertanggal 14/11/1439 H.
21-
Menghadiri kursus pengembangan keterampilan pembina spiritual di bidang kesehatan yang diselenggarakan di wilayah Riyadh pada tahun 1440 H, di bawah bimbingan Kantor Penyuluhan Agama di Direktorat Kesehatan Riyadh.
22-
Sertifikat menghadiri forum peningkatan kinerja khusus untuk seluruh karyawan dan karyawati Departemen Bimbingan Agama dan Spiritual di berbagai rumah sakit dan lembaga kesehatan pada tahun 1440 H, di bawah pengawasan kantor Penyuluhan Agama di Direktorat Kesehatan Riyadh.
23-
Sertifikat ucapan terima kasih dan penghargaan atas kontribusi aktif mengajarkan peserta kursus "Penyuluhan Islam dan Pemberantasan Narkoba dan Alkohol di Institut Urusan Agama Militer pada tahun 1440 H.
24-
Sertifikat ucapan terima kasih dan penghargaan serta nominasi untuk buku saya, dengan judul lama, pada Hari Buku Sedunia 2019, dari Direktur Eksekutif RS Jiwa Al-Amal di Kota Riyadh pada tanggal 23/8/1440 H.
25-
Sertifikat ucapan terima kasih dan penghargaan dari Dirjen Kesehatan Wilayah Riyadh mewakili Kantor Penyuluhan Agama, atas karya tulis yang diterbitkan dengan judul “Naẓarāt Ḥaulal-'Ain was-Siḥri wal-Iḍṭirābāt an-Nafsiyyah” pada tahun 1440 H.
26-
Sertifikat menghadiri majelis ilmiah dengan tema "Dukungan Keagamaan untuk Pasien dan Berobat dengan Al-Qur`ān" yang diadakan di Aula Besar RS Jiwa Iradah di Riyadh pada tanggal 28-30/3/1441 H.
27-
Plakat penghargaan dari Asisten Dirjen Pelayanan Terapeutik, Dr. Ali bin Sulaiman al-Jum'ah, atas partisipasi aktif dalam Simposium Dukungan Keagamaan bagi Pasien dan Berobat dengan Al-Qur'an dengan menyampaikan sesi khusus berjudul "Kebingungan dalam Diagnosis antara Penyakit Spiritual, Psikologis, dan Ruqyah Syar'iyah" di RS Jiwa Iradah di Riyadh pada tanggal 28-30/3/1441 H.
28-
Kata pengantar untuk buku ini pada cetakan pertama oleh Syekh Prof. Dr. Muhammad bin Abdullah as-Samhariy -semoga Allah memberinya taufik- (Guru Besar Jurusan Akidah dan Aliran-aliran Kontemporer Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud) pada tanggal 18/4/1441 H.
29-
Sertifikat menghadiri kuliah umum dengan judul "Kecanduan dan Hubungannya dengan Gangguan Jiwa di Muṭma`innah Centre pada tanggal 28/5/1441 H.
30-
Sertifikat ucapan terima kasih dan penghargaan dari Kantor Penyuluhan Agama di Direktorat Kesehatan Riyadh atas penyampaian materi pada Kursus Pelatihan Ruqyah Syar'iyah kepada pasien, yaitu untuk karyawan Kantor Penyuluhan Agama Wilayah Riyadh pada tanggal 19/6/1441 H.
31-
Kursus kesehatan online di Al-Ahsā` dengan judul "Kreativitas dan Inovasi Pembimbing Agama dalam Pelayanan Pasien Covid-19" pada tanggal 13/9/1441 H.
32-
Surat ucapan terima kasih dari Kepala Departemen Bimbingan Agama RS Jiwa Iradah Riyadh, Syekh Dr. Muhammad bin Abdullah an-Nayil -semoga Allah memberinya taufik- atas diterbitkannya buku ini, tertanggal 11/2/1442 H.
33-
Sertifikat menghadiri kursus online dengan judul "Manajemen Stres pada Layanan Kesehatan" yang diakreditasi oleh Komisi Spesialisasi Kesehatan pada tanggal 28-29/6/1442 H.
34-
Sertifikat menghadiri kursus online dengan judul "Manajemen Rumah Sakit dan Keselamatan Pasien" yang diakreditasi oleh Komisi Spesialisasi Kesehatan, tertanggal 10 - 13/7/1442 H.
35-
Sertifikat menghadiri Seminar Online dengan judul "Kesiapsiagaan dan Manajemen Darurat untuk Praktisi Kesehatan" yang diakreditasi oleh Komisi Spesialisasi Kesehatan pada tanggal 10-12/8/1442 H.
36- Rekomendasi yang ditulis oleh Syekh Abdurrahman bin Abdullah Ālu Furayyān -raḥimahullāh- (Ketua Lembaga Taḥfiż Al-Qur`ān).
37- Rekomendasi yang ditulis oleh Syekh Abdullah bin Abdurrahman Ālu Furayyān -semoga Allah memberinya taufik- (Anggota Lembaga Dakwah dan Bimbingan Riyadh).
38- Rekomendasi yang ditulis oleh Syekh Prof. Dr. Sa'ad bin Turki al-Khaṡlān -semoga Allah memberinya taufik- (Mantan Anggota Majelis Ulama Senior dan Guru Besar di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud).
Saya akhiri buku saya ini dengan doa penuh berkah
yang disebutkan Allah -'Azza wa Jalla- dalam firman-Nya:
“Ya Tuhanku! Anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”
(QS. An-Naml: 19)
Hanya kepada Allah saya memohon agar Dia memuliakan Islam dan kaum muslimin, menjaga negeri, para pemimpin, serta para ulama kita dari segala keburukan, menjaga kita dari keburukan orang-orang yang buruk dan para pengetuk siang dan malam, kecuali pengetuk yang datang membawa kebaikan.
Akhir kata, semoga selawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada nabi kita, Muhammad, beserta segenap keluarga dan para sahabatnya.