رسالة في الأذكار

رسالة في الأذكار

الكتاب اشتمل على بيان الأذكار وفضلها وأوقاتها ونصوصها وفوائدها وثمراتها في الدنيا والآخرة والتي كانت محررة بكتابات الشيخ محمد بن صالح العثيمين -رحمه الله تعالى- ومؤلفاته أو في ثنايا محاضراته وخطبه ودروسه العلمية المتعددة، واستخرجها في هذا الكتاب القسم العلمي في مؤسسة الشيخ محمد بن صالح العثيمين الخيرية.

Language: lang_id
Prepared by:
Version: 1.0
Translations 4
English Persian Indonesian Russian
Attachments 7
PDF
Audio
Video
+3

KUMPULAN ZIKIR

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan meminta ampunan dari-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tidak akan ada yang bisa menyesatkannya. Sebaliknya, siapa yang disesatkan oleh-Nya, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada beliau beserta seluruh keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amabakdu.

Sungguh, di antara peninggalan ilmiah Syekh kami Muhammad bin Ṣāliḥ Al-'Uṡaimīn -raḥimahullāh ta'ālā- adalah karya-karya dalam bentuk nasihat-nasihat indah, berkesan serta menyentuh yang berlandaskan ilmu syariat, penetapan akidah salaf saleh, keterangan adab-adab syariat dalam ibadah, muamalah, dan akhlak, serta anjuran untuk bersegera mengerjakan kebaikan dan mengisi waktu dengan amal saleh.

Di antaranya pembahasan zikir yang ada di dalam buku ini terkait keutamaan, waktu, nas, dan faedah-faedahnya di dunia dan akhirat yang tertuang dalam tulisan serta karya-karya beliau -raḥimahullāh ta'ālā- atau di sela-sela berbagai kuliah, khotbah, dan kajian-kajian ilmiah beliau.

Kami memohon kepada Allah -Ta'ālā- semoga menjadikan usaha kita ini berguna dan diterima. Dan semoga Allah memberikan ganjaran terbaik kepada Syekh kami atas sumbangsih yang diberikannya untuk Islam dan umat Islam, melipatgandakan pahala untuk beliau, serta mengangkat derajatnya di antara orang-orang yang diberi petunjuk, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan selawat, salam, serta keberkahan untuk hamba dan utusan-Nya, penutup para nabi, imam orang-orang yang bertakwa, serta pemimpin seluruh manusia pertama hingga terakhir, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga, sahabat-sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Divisi Ilmiah

Yayasan Sosial Syekh Muhammad bin Ṣāliḥ Al-'Uṡaimīn.

18/8/1433 H

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Bab Pertama: Keutamaan Zikir Secara Umum

Bab Kedua: Keutamaan Zikir yang Dibatasai dengan Jumlah

Bab Ketiga: Keutamaan Zikir Pagi dan Sore

Bab Keempat: Keutamaan Zikir yang Dibatasi dengan Situasi dan Kondisi Zikir ini ada beberapa macam:

Pertama: Zikir Makan dan Minum

Kedua: Zikir Ketika Hendak Buang Hajat

Ketiga: Zikir Sebelum Tidur, Bangun Tidur, Susah Tidur, Mimpi Buruk dan lainnya.

Keempat: Zikir Masuk dan Keluar Rumah, Serta Masuk Masjid

Kelima: Zikir Ketika Mengalami Kesusahan

Bab Kelima: Zikir-zikir Ketika Beribadah

Pertama: Zikir Wudu

Kedua: Zikir Salat

Zikir Iftitah

Zikir Rukuk

Zikir Sujud

Zikir Duduk di antara Dua Sujud

Zikir Tasyahud

Zikir Setelah Salat

Ketiga: Zikir Terkait Zakat

Keempat: Zikir Terkait Puasa

Kelima: Zikir Terkait Haji

Bab Keenam: Zikir-zikir Bersifat Situasional

Zikir Istikharah

Zikir Safar

Zikir Naik Kendaraan

Zikir Ketika Singgah di Sebuah Tempat

Zikir Ketika Sampai di Kampung atau Negerinya

Zikir Saat Melihat Hilal

Zikir Ketika Angin Berhembus Kencang

Zikir Ketika Halilintar Menggelegar

Zikir Ketika Hujan Lebat

Keutamaan Berselawat kepada Nabi ﷺ

BAB PERTAMA: KEUTAMAAN BERZIKIR KEPADA ALLAH SECARA UMUM

Berzikir kepada Allah -Ta'ālā- bisa dilakukan dengan hati, lisan, dan bisa juga dengan keduanya secara bersamaan. Zikir yang paling afdal adalah yang dilakukan dengan hati dan lisan. Tidak sepatutnya hati lengah dan lalai ketika berzikir kepada Allah -'Azza wa Jalla-, karena roh zikir adalah kehadiran hati. Zikir tanpa kehadiran hati ibarat jasad tanpa roh, layaknya rangka, dan ia tidak akan mendapatkan pahala sempurna yang disiapkan untuk zikir tersebut.

Banyak orang yang berzikir kepada Allah, tetapi hatinya sibuk dengan pikiran-pikiran di luar zikirnya. Anda mendapatinya sibuk dengan apa yang ia lihat dan dengar dari orang-orang sekitarnya. Semua itu bertolak belakang dengan kesempurnaan zikir serta menghalanginya meraih pahala zikir secara sempurna.

Ketahuilah, zikir kepada Allah terbagi dua: umum dan khusus.

Zikir dengan definisi yang umum ialah semua ucapan, perbuatan, atau pikiran yang digunakan oleh hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya, termasuk belajar, amar makruf nahi mungkar, dan lain sebagainya.

Sedangkan definisi zikir yang khusus ialah zikir-zikir yang ingin kita bahas di sini berupa takbir, tahlil, tasbih, tahmid, dan semisalnya.

Allah -Ta'ālā- berfirman, "Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu! Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku!." (QS. Al-Baqarah: 152). Allah -Ta'ālā- juga berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya." (QS. Al-Aḥzāb: 41). Allah -Ta'ālā- juga berfirman, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang berzikir kepada Allah ketika berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'" (QS. Āli 'Imrān: 190-191). Demikian juga Allah -Ta'ālā- berfirman, "Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan zikir kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan zikir kepada Allah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik." (QS. Ar-Ra'd: 28-29).

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, Allah -Ta'ālā- berfirman, "Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya jika dia berzikir kepada-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku dalam dirinya, Aku pun menyebutnya dalam diri-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku di tengah-tengah kumpulan manusia, Aku pun menyebutnya di tengah-tengah kumpulan makhluk yang lebih baik daripada mereka." (Muttafaq 'alaih).

Abu Mūsā Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ-bersabda, "Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir kepada-Nya, seperti orang hidup dan orang mati." (HR. Al-Bukhari).

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Al-Mufarridūn telah menjadi yang terdepan." Para sahabat bertanya, "Siapakah Al-Mufarridūn itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah." (HR. Muslim).

Samurah bin Jundub -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Perkataan yang paling dicintai Allah ada empat, yakni: subḥānallāh (Mahasuci Allah), alḥamdulillāh (segala puji bagi Allah), lā ilāha illallāh (tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah), dan allāhu akbar (Allah Mahabesar). Tidak masalah dari mana pun engkau mulai." (HR. Muslim).

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh bila aku mengucapkan, 'Subḥānallāh wal-ḥamdulillāh wa lā ilāha illallāh wallāhu akbar (Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada sesembahan yang hak selain Allah, dan Allah Mahabesar)', itu lebih aku cintai dari segala yang disinari matahari (dunia beserta isinya)." (HR. Muslim).

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- juga meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Ada dua kalimat yang ringan di lisan namun berat dalam timbangan dan dicintai oleh Allah yang Maha Penyayang, yakni: Subḥānallāh wa biḥamdih (Mahasuci Allah dan aku memuji-Nya), Subḥānallāhil-'Aẓīm (Mahasuci Allah Yang Mahaagung)." (Muttafaq 'alaih).

Abu Mālik Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Bacaan "alḥamdulillāh" memenuhi timbangan. Sedangkan "subḥānallāh wal-ḥamdulillāh", keduanya memenuhi -atau ia memenuhi- antara langit dan bumi." (HR. Muslim).

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak hari kiamat ialah orang yang mengucapkan "lā ilāha illallāh" secara tulus dari dalam hatinya -atau jiwanya-." (HR. Bukhari).

Abu Mūsā Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Maukah engkau aku tunjukkan salah satu perbendaharaan surga?" Aku menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Ucapkanlah: lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh (tiada daya serta upaya melainkan dengan pertolongan Allah)." (HR. Muslim).

Muṣ'ab bin Sa'ad berkata, ayahku bercerita kepadaku, "Kami sedang berada di sisi Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, 'Apakah salah satu dari kalian tidak mampu untuk mendapatkan seribu kebaikan setiap hari?' Ada seseorang yang hadir dalam majelis itu bertanya, 'Bagaimana caranya salah satu dari kami bisa memperoleh seribu kebaikan?' Beliau bersabda, 'Hendaklah ia bertasbih seratus kali, sehingga dicatat baginya seribu kebaikan atau dihapus darinya seribu kesalahan'." (HR. Muslim).

BAB KEDUA: ZIKIR-ZIKIR YANG TERIKAT OLEH JUMLAH

Zikir-zikir yang Terikat dengan Jumlah Seratus Kali

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang membaca, 'Lā ilāha illallāh waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku walahul-ḥamdu, wahuwa 'alā kulli syai`in qadīr' (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya seluruh kerajaan, milik-Nya seluruh pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu), dalam sehari seratus kali, hal itu baginya setara memerdekakan 10 budak, dituliskan baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 keburukan, dan menjadi tamengnya dari setan hari itu hingga sore. Tidak ada seorang pun yang bisa meraih pahala yang lebih utama dari apa yang ia raih kecuali orang yang mengamalkannya lebih banyak dari jumlah itu." (Muttafaq 'alaih).

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- juga meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Siapa yang membaca 'Subḥānallāh wa biḥamdihi' (Mahasuci Allah dan segala puji hanya milik-Nya) sebanyak seratus kali sehari, maka dosa-dosanya dihapuskan walaupun sebanyak buih di lautan." (Muttafaq 'alaih).

Zikir yang Terikat dengan Jumlah Sepuluh Kali

Abu Ayyūb Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang mengucapkan 'Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr' (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu) sebanyak sepuluh kali, maka dia seperti orang yang telah memerdekakan empat jiwa dari anak keturunan Ismail." (Muttafaq 'alaih).

Zikir-zikir yang Terikat Jumlah Tiga Kali

Juwairiyah, Ibunda kaum mukmin, -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ berkata kepadanya, "Sungguh aku telah mengucapkan setelah meninggalkanmu empat kalimat sebanyak tiga kali, seandainya ia ditimbang dengan semua yang engkau ucapkan sejak pagi tadi niscaya ia lebih berat; yakni: subḥānallāhi wa biḥamdihi 'adada khalqihi, wa riḍa nafsihi, wa zinata 'arsyihi, wa midāda kalimātihi (Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya, sejumlah makhluk-Nya, sejauh keridaan diri-Nya, seberat 'Arasy-Nya dan sebanyak tinta tulisan kalimat-kalimat-Nya)." (HR. Muslim).

Di dalam riwayat lain disebutkan, "Subḥānallāhi 'adada khalqihi, subḥānallāhi riḍa nafsihi, subḥānallāhi zinata 'arsyihi, subḥānallāhi midāda kalimātihi (Mahasuci Allah sejumlah makhluk-Nya, Mahasuci Allah sebesar keridaan diri-Nya, Mahasuci Allah seberat Arasy-Nya, Mahasuci Allah sebanyak tinta tulisan kalimat-kalimat-Nya)."

Menggabungkan keduanya lebih utama, yaitu dengan membaca sebanyak tiga kali "subḥānallāhi wa biḥamdihi 'adada khalqihi", dan sebanyak tiga kali: "subḥānallāhi wa biḥamdihi riḍā nafsihi". Demikian seterusnya pada sisanya.

Kami tidak mengetahui ada sebuah zikir yang terikat oleh jumlah lebih dari seratus kali. Sehingga, penyebutan seribu kali di sebagian buku-buku yang ditulis dalam zikir tidak memiliki dasar dalil.

Ada disebutkan zikir-zikir yang terikat oleh jumlah selain itu, tetapi itu pada zikir pagi atau sore, atau di dalam salat atau setelahnya, atau lainnya, sehingga kita akan sebutkan pada tempatnya, insya Allah.

*

BAB KETIGA: ZIKIR PAGI DAN SORE

Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (QS. Al-Aḥzāb: 42). Allah -Ta'ālā- juga berfirman, "Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam." (QS. Ṭāhā: 130). Allah -Ta'ālā- juga berfirman, "Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah." (QS. Al-A'rāf: 205).

Di antaranya:

1- Membaca awal surah Al-Baqarah. Alif lām mīm. Żālikal-kitābu lā raiba fīh, hudallil-muttaqīn. Allażīna yu`minūna bil gaibi wa yuqīmūnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn. Wallażīna yu`minūna bimā unzila ilaika wamā unzila min qablika wabil-ākhirati hum yūqinūn. Ulā `ika 'alā hudammirrabbihim wa ulā `ika humul-mufliḥūn. Artinya: "Alif Lām Mīm. Kitab (Al-Qur`an) itu tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur`an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Baqarah: 1-5).

2- Membaca ayat Kursi Allāhu lā ilāha illā huwal-ḥayyul-qayyūm lā ta`khużuhū sinatuw-walā naum, lahū mā fis-samāwāti wamā fil-arḍ, manżallażī yasyfa'u 'indahū illā bi`iżnih ya'lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum wa lā yuḥīṭūna bisyai`in min 'ilmihī illā bimā syā` wa si'a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ wa lā ya`ūduhū ḥifẓuhumā wa huwal-'aliyyul aẓīm. Artinya: "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar." (QS. Al-Baqarah: 255). Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang membaca: "Ḥā Mīm", surah Al-Mukmin, hingga "ilaihil-maṣīr" serta ayat Kursi ketika pagi hari maka dia akan dijaga dengan keduanya hingga sore. Dan siapa yang membaca keduanya ketika sore hari, dia akan dijaga dengan keduanya hingga pagi." (HR. At-Tirmizi dan dia berkata, "Hadis garīb").

Saya katakan: Hadis ini dikuatkan oleh hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, terkait sebuah kisah, kemudian disebutkan, "Bila kamu hendak tidur, bacalah ayat Kursi, niscaya akan selalu ada penjaga yang berasal dari Allah bersamamu, dan kamu tidak akan bisa didekati oleh setan hingga pagi."

3- Membaca dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah Āmanar-rasūlu bimā unzila ilaihi mir-rabihī wal-mu`minūn, kullun āmana billāhi wa malā`ikatihī wa kutubihī wa rusulih, lā nufarriqu baina aḥadim-mir-rusulih, wa qālū sami'nā wa aṭa'nā gufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr, lā yukallifullāhu nafsan illā wus'ahā, lahā mā kasabat wa 'alaihā maktasabat, rabbanā lā tu`ākhiżnā innasīnā aw akhṭa`nā, rabbanā wa lā taḥmil 'alainā iṣran kamā ḥamaltahū 'alal-lażīna min qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa'fu 'annā wag-firlanā war-ḥamnā anta maulānā fan-ṣurnā 'alal-qaumil-kāfirīn. Artinya: "Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), "Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya." Dan mereka berkata, "Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.' Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir'." (QS. Al-Baqarah: 285-286). Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa saja yang membaca dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah pada malam hari, niscaya kedua ayat itu telah mencukupinya." (Muttafaq 'alaih).

4- Membaca: Ḥā mīm, tanzīlul-kitābi minallāhil-azīzil-'alīm, gāfiriż-żanbi wa qābilit-taubi syadīdil-'iqābi żiṭ-ṭauli lā ilāha illā huwa ilaihil-maṣīr. Artinya: "Ḥā Mīm. Kitab ini (Al-Qur`an) diturunkan dari Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. Yang mengampuni dosa dan menerima taubat dan keras hukuman-Nya; yang memiliki karunia. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Hanya kepada-Nyalah (semua makhluk) kembali." (QS. Gāfir: 1-3).

5- Membaca tiga ayat terakhir dari surah Al-Ḥasyr Huwallāhullażī lā ilāha ilā huwa 'ālimul-gaibi wasy-syahādah, huwarraḥmānurraḥīm. Huwallāhullażī lā ilāha illā huwal-malikul quddūs, as-salāmul-mu`minul muhaiminul-azīzul jabbār, al-mutakabbiru subḥānallāhi 'ammā yusyrikūn. Huwallāhul khāliqul bāri`ul mushawwiru lahul `asmā`ul-ḥusnā, yusabbiḥu lahu mā fis-samāwāti wal-arḍ wahuwal azīzul ḥakīm. Artinya: "Dialah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maharaja Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala Keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Al-Ḥasyr: 22-24). Ma'qil bin Yasār -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang membaca: 'A'ūżu billāhis-samī'il-'alīm minasy-syaiṭānir-rajīm, (artinya: Aku berlindung kepada Allah, Zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk)', serta membaca tiga ayat terakhir dari surah Al-Ḥasyr, Allah menugaskan padanya 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga sore. Jika dia meninggal pada hari itu, maka dia meninggal sebagai syahid. Dan siapa yang membacanya ketika sore, maka dia mendapatkan kedudukan seperti itu juga." (HR. Ahmad).

6- Membaca: "Qul huwallāhu aḥad" (QS. Al-Ikhlāṣ: 1), "Qul a'ūżu bi rabbil falaq" (QS. Al-Falaq: 1), dan "Qul a'ūżu bi rabbinnās" (QS. AN-Nās: 1), masing-masing surah secara lengkap sebanyak tiga kali. Abdullah bin Khubaib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ berkata kepadanya, "Ucapkanlah!" Dia menjawab, "Apa yang harus aku ucapkan?" Beliau bersabda, "Surah Qul huwallāhu aḥad dan Al-Mu'awwiżatain (Al-Falaq dan An-Nās) ketika sore dan pagi sebanyak tiga kali, niscaya ia akan mencukupimu dari segala sesuatu." (HR. Abu Daud, An-Nasā`i dan At-Tirmizi. At-Tirmizi berkata, "Hadis hasan sahih").

7- A'użu bikalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq. Artinya: "Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan mahluk-Nya." Dibaca sebanyak tiga kali.

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Aku merasakan sakit sekali akibat kalajengking yang menyengatku kemarin malam." Beliau bersabda, "Ketahuilah, sekiranya ketika memasuki sore engkau membaca doa, 'A'użu bikalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq', maka kalajengking tersebut tidak akan mencelakakanmu." (HR. Muslim).

8- Bismillāhillażī lā yaḍurru ma'as mihi syai`un fil `arḍi walā fis-samā`i wa huwas-samī'ul 'alīm. Artinya: "Dengan menyebut nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit akan membahayakan bersama nama-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Dibaca sebanyak tiga kali.

Uṡmān bin 'Affān -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah seorang hamba yang setiap pagi dan sore hari mengucapkan, 'Bismillāhillażī lā yaḍurru ma'as mihi syai`un fil `arḍi walā fis-samā`i wa huwas-samī'ul 'alīm' (Dengan menyebut nama Allah yang tidak akan membahayakan bersama nama-Nya sesuatu apa pun di bumi dan di langit, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)', sebanyak tiga kali, melainkan dia tidak akan dicelakai oleh apa pun." (HR. At-Tirmizi; At-Tirmizi berkata, "Hadis hasan sahih").

Juga diriwayatkan oleh Abu Daud, tetapi dengan redaksi, "... dia tidak akan ditimpa musibah yang datang tiba-tiba."

9- Membaca: Raḍītu billāhi rabban wa bil islāmi dīnan wa bi muḥammadin ṣallallāhu 'alaihi wa sallama nabiyyan. Artinya: "Aku rida Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabi." Dibaca sebanyak tiga kali.

Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang membaca ketika sore: 'Raḍītu billāhi rabban wa bil islāmi dīnan wa bi muḥammadin ṣallallāhu 'alaihi wa sallama nabiyyan (Aku rida Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabi)', maka ia berhak mendapatkan rida Allah."

HR. At-Tirmizi. Abu Daud dan lainnya meriwayatkan dengan redaksi, "... wa bi muḥammadin ṣallallāhu 'alaihi wa sallama rasūlan."

10- Aṣbaḥnā wa aṣbaḥal-mulku lillāh, wal-ḥamdulillāh. Lā ilāha illallāh waḥdahū lā syarīkalah, lahul-mulku walahul-ḥamdu wa huwa 'alā kulli sya`in qadīr. Rabbi as`aluka khaira mā fī hāżal-yaumi wa khaira mā ba'dahu, wa a'ūżubika min syarri mā fī hāżal-yaumi wa syarri mā ba'dahu. Rabbi a'ūżubika minal-kasali wal-harami wa sū`il-kibar. Rabbi a'ūżubika min 'ażābin fin-nāri wa 'ażābin fil-qabri. Artinya: (Kami memasuki waktu pagi dan seluruh kerajaan milik Allah, segala puji milik Allah. Tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya seluruh kerajaan dan hanya milik-Nya seluruh pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tuhanku! Aku memohon kepada-Mu kebaikan yang ada pada hari ini dan kebaikan yang ada setelahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang ada pada hari ini dan keburukan yang ada setelahnya. Tuhanku! Aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, kelemahan dan kepikunan saat renta. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa di neraka dan siksa di kubur).

Ketika sore membaca: "Amsainā wa amsal-mulku lillāh," serta membaca, "Rabbi as`aluka khaira mā fi hāżihil-lailah ..." dan seterusnya, sebagai ganti dari: Aṣbahnā wa aṣbaha, dan: Hāżal-yaumi

Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Nabi ﷺ ketika sore biasa membaca, "Amsainā wa amsal-mulku lillāh, wal-ḥamdulillāh. Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr. Rabbi as`aluka khaira mā fī hāżihil-lailah wa khaira mā ba'dahā, wa a'ūżubika min syarri mā fī hāżihil-lailah wa syarri mā ba'dahā. Rabbi a'ūżubika minal-kasali wa sū`il-kibar. Rabbi a'ūżu bika min 'ażābin fin-nār, wa 'ażābin fil-qabri. Artinyaa: (Kami memasuki waktu sore dan segala kekuasaan milik Allah, segala puji milik Allah. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya segala kerajaan dan hanya bagi-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku! Aku memohon kepada-Mu kebaikan yang ada di malam ini dan kebaikan setelahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang ada di malam ini dan keburukan setelahnya. Wahai Rabbku! Aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, kelemahan dan kepikunan saat renta. Wahai Rabbku! Aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan azab kubur). Apabila beliau memasuki waktu pagi, beliau mengucapkan zikir itu juga (dengan mengganti di awalnya), "Aṣbaḥnā wa aṣbaḥal-mulku lillāh (Kami memasuki waktu pagi dan segala kekuasaan milik Allah)." (HR. Muslim).

11- Allāhumma bika aṣbaḥnā, wa bika amsainā, wa bika naḥyā wa bika namūtu wa ilaikan-nusyūr. Artinya: (Ya Allah! Dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami memasuki waktu pagi, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami memasuki waktu sore, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami hidup dan dengan pertolongan serta rahmat-Mu kami mati, dan hanya kepada-Mu kebangkitan semua makhluk.) Sedangkan di waktu sore membaca: Allāhumma bika amsainā, wa bika aṣbaḥnā, wa bika naḥyā wa bika namūtu wa ilaikal-maṣīr. Artinya: (Ya Allah! Dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami memasuki waktu sore, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami memasuki waktu pagi, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami mati, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami hidup, dan hanya kepada-Mu semua makhluk kembali).

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ ketika memasuki pagi biasa membaca, "Allāhumma bika aṣbaḥnā, wa bika amsainā, wa bika naḥyā, wa bika namūtu, wa ilaikan-nusyūr." (Ya Allah! Dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami memasuki pagi hari, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami memasuki sore hari, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami hidup, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami mati, dan hanya kepada-Mu kebangkitan semua makhluk). Dan ketika sore hari beliau membaca, "Allāhumma bika amsainā, wa bika aṣbaḥnā, wa bika naḥyā, wa bika namūtu, wa ilaikal-maṣīr." (Ya Allah! Dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami memasuki sore hari, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami hidup, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami mati, dan hanya kepada-Mu semua makhluk kembali). (HR. Abu Daud, At-Tirmizi, dan Ibnu Majah).

Dan di dalam riwayat lain, beliau memerintahkan para sahabatnya untuk mengucapkan hal itu.

12- Allāhumma mā aṣbaḥa bī min ni'matin au bi aḥadin min khalqika, fa minka waḥdaka lā syarīka lah, falakal-ḥamdu wa lakasy-syukru. Artinya: (Ya Allah! Tidaklah ada suatu nikmat padaku di waktu pagi atau pada siapa pun di antara makhluk-Mu, maka ia berasal dari Engkau semata, tidak ada sekutu bagi-Mu; hanya milik-Mu seluruh pujian dan hanya milik-Mu semua syukur). Sedangkan di waktu sore membaca: mā amsā bī.

Abdullah bin Gannām -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang membaca ketika memasuki waktu pagi, 'Allāhumma mā aṣbaḥa bī min ni'matin, au bi`aḥadin min khalqik, fa minka waḥdaka, lā syarīka lak, falakal-ḥamdu wa lakasy-syukru.' (Ya Allah, tidaklah ada padaku suatu nikmat, atau pada seorang makhluk ciptaan-Mu, melainkan berasal dari-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Hanya milik-Mu segala pujian dan hanya milik-Mu semua syukur)', sungguh dia telah menunaikan syukurnya pada hari itu. Dan siapa yang membaca seperti itu ketika memasuki sore, sungguh ia telah menunaikan syukurnya pada malam itu." Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang bagus, dan beliau tidak menyebutnya ḍa'īf (lemah); pernyataannya tertera di dalam kitab Al-Ażkār.

13- Allāhumma innī aṣbaḥtu minka fī ni'matin wa 'āfiyatin wa sitrin fa`atimma 'alayya ni'mataka wa 'āfiyataka wa sitraka fid-dun-yā wal-`ākhirah. Artinya: (Ya Allah! Sungguh aku memasuki waktu pagi dalam kenikmatan, kesehatan, dan ampunan dari-Mu, maka sempurnakanlah padaku semua nikmat, kesehatan, dan ampunan-Mu ini di dunia dan akhirat). Dibaca sebanyak tiga kali. Sedangkan pada waktu sore membaca: Allāhumma innī amsaitu.

Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang membaca ketika memasuki watu pagi, 'Allāhumma innī aṣbaḥtu minka fī ni'matin wa 'āfiyatin wa sitrin, fa`atimma 'alayya ni'mataka wa 'āfiyataka wa sitraka fid-dun-yā wal-`ākhirah.' (Ya Allah! Sungguh aku memasuki waktu pagi dalam kenikmatan, kesehatan, dan ampunan dari-Mu, maka sempurnakanlah padaku semua nikmat, kesehatan, dan ampunan-Mu ini di dunia dan akhirat), sebanyak tiga kali ketika memasuki waktu pagi dan sore, maka ia berhak di sisi Allah untuk meraih kesempurnaan nikmat-Nya." (HR. Ibnu As-Sunni).

14- Allāhumma innī a'ūżubika minal-hammi wal-ḥazan, wa a'ūżubika minal-'ajzi wal-kasali, wa a'ūżubika minal-jubni wal-bukhli, wa a'ūżubika min galabatid-daini wa qahri-rijāl. Artinya: (Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari rasa gundah dan sedih. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan penguasaan orang lain).

Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda kepada seorang laki-laki Ansar, "Maukah engkau aku ajari sebuah doa, jika engkau membacanya niscaya Allah -'Azza wa Jalla- akan menghilangkan kesusahanmu serta menyelesaikan utangmu?" Dia berkata, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Bacalah ketika engkau memasuki waktu pagi dan sore, 'Allāhumma innī a'ūżubika minal-hammi wal-ḥazani, wa a'ūżubika minal-'ajzi wal-kasali, wa a'ūżubika minal-jubni wal-bukhli, wa a'ūżubika min galabatid-daini wa qahri-rijāl.' (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan. Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan penguasaan orang)." (HR. Abu Daud).

15- Allāhumma innī as`alukal-'āfiyata fid-dun-yā wal-ākhirah. Allāhumma innī as`alukal-'afwa wal-'āfiyata fī dīnī wa dun-yāya wa ahlī wa mālī, allāhummas-tur 'aurātī wa āmin rau'ātī. Allāhummaḥ-faẓnī min baini yadayya wa min khalfī wa 'an yamīnī wa 'an syimālī wa min fauqī, wa a'ūżu bi 'aẓamatika an ugtāla min taḥtī. Artinya: (Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah! Tutuplah auratku, berilah rasa aman terhadap ketakutanku. Ya Allah! Jagalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku, dan dari atasku. Aku berlindung dengan keagungan-Mu dari dibinasakan secara tiba-tiba dari bawahku).

Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan doa-doa berikut ketika memasuki waktu sore dan pagi, "Allāhumma innī as`alukal-'āfiyata fid-dun-yā wal-ākhirah. Allāhumma innī as`alukal-'afwa wal-'āfiyata fī dīnī wa dun-yāya wa ahlī wa mālī, allāhummas-tur 'aurātī wa āmin rau'ātī. Allāhummaḥ-faẓnī min baini yadayya wa min khalfī wa 'an yamīnī wa 'an syimālī wa min fauqī, wa a'ūżu bi 'aẓamatika an ugtāla min taḥtī." (Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah! Tutuplah auratku, berilah rasa aman terhadap ketakutanku. Ya Allah! Jagalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku, dan dari atasku. Aku berlindung dengan keagungan-Mu dari dibinasakan secara tiba-tiba dari bawahku). (HR. Abu Daud, An-Nasā`i, dan Ibnu Majah. Hakim berkata, "Hadis sahih").

16- Allāhumma anta rabbī lā`ilāha illā anta, khalaqtanī wa anā 'abduka, wa anā 'alā 'ahdika wa wa'dika mastaṭa'tu. A'ūżu bika min syarri mā ṣana'tu. Abū`u laka bi ni'matika 'alayya, wa abū`u bi żanbī, fagfir lī fa innahū lā yagfiruż-żunūba illā anta. Artinya: (Ya Allah! Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang hak kecuali Engkau. Engkau menciptakanku, aku adalah hamba-Mu, aku yakin terhadap janji-Mu dan aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semaksimal mungkin. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui nikmat-Mu atas diriku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa selain Engkau).

Syaddād bin Aus -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Sesungguhnya sayyidul-istigfār (istigfar yang paling agung) adalah engkau mengucapkan, 'Allāhumma anta rabbī lā`ilāha illā anta, khalaqtanī wa anā 'abduka, wa anā 'alā 'ahdika wa wa'dika mastaṭa'tu. A'ūżu bika min syarri mā ṣana'tu. Abū`u laka bi ni'matika 'alayya, wa abū`u bi żanbī, fagfir lī fa innahū lā yagfiruż-żunūba illā anta.'" Artinya: (Ya Allah! Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang hak kecuali Engkau. Engkau menciptakanku, aku adalah hamba-Mu, aku yakin terhadap janji-Mu dan aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semaksimal mungkin. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui nikmat-Mu atas diriku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa selain Engkau). Siapa yang mengucapkan ini di siang hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Dan siapa yang mengucapkannya di waktu malam dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga. (HR. Al-Bukhari).

17- Allāhumma fāṭiras-samāwāti wal-arḍi, 'ālimal-gaibi wasy-syahādah, rabba kulli syai`in wa malīkahu. Asyhadu allā ilāha illā anta, a'ūżubika min syarri nafsī wa syarrisy-syaiṭāni wa syirkihi, wa an aqtarifa 'alā nafsī sū`an aw ajurrahū ilā muslim. Artinya: (Ya Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui alam gaib dan yang tampak, Tuhan segala sesuatu dan rajanya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan jiwaku, kejelekan setan dan kesyirikannya, serta (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat keburukan terhadap diriku sendiri atau menimpakannya kepada sesama muslim).

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Wahai Rasulullah! Beritahukan kepadaku kalimat-kalimat yang harus aku baca ketika memasuki pagi hari dan ketika memasuki sore." Beliau bersabda, "Ucapkanlah, 'Allāhumma fāṭiras-samāwāti wal-arḍi, 'ālimal-gaibi wasy-syahādah, rabba kulli syai`in wa malīkahu. Asyhadu allā ilāha illā anta, a'ūżubika min syarri nafsī wa syarrisy-syaiṭāni wa syirkihi'. ([1]) Artinya: (Ya Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui alam gaib dan yang tampak, Tuhan segala sesuatu dan rajanya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan jiwaku, kejelekan setan dan kesyirikannya). (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi; At-Tirmidzi berkata, "Hadisnya hasan sahih"). ([1]) Huruf syīn berharakat kasrah dan huruf rā berharakat sukun, sesuai wazan (pola) "fi'lah", yaitu kesyirikan yang ia seru. Juga diriwayatkan dengan harakat fathah pada huruf syīn dan rā, sesuai wazan "sababah", maknanya: perangkapnya. (Penulis).

Ditambahkan oleh Abu Daud dalam riwayat dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu-, "... wa an naqtarifa sū`an 'alā anfusinā aw najurrahu ilā muslim. (Serta (kami berlindung kepada-Mu) dari berbuat keburukan terhadap diri kami senidri atau menimpakannya kepada sesama muslim)."

18- Allāhumma innī aṣbaḥtu usyhiduka wa usyhidu ḥamalata 'arsyika wa malā`ikataka wa jamī'a khalqika, annaka antallāhu lā ilāha illā anta wa anna muḥammadan 'abduka wa rasūluka. Artinya: (Ya Allah, aku memasuki waktu pagi. Aku menjadikan-Mu sebagai saksi serta menjadikan malaikat-malaikat pemikul Arasy-Mu dan malaikat-malaikat-Mu serta semua makhluk-Mu, bahwa Engkaulah Allah, tidak ada sembahan yang benar kecuali Engkau, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Mu). Sedangkan pada waktu sore membaca: "Allāhumma innī amsaitu..." Dibaca sebanyak empat kali.

Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang membaca ketika memasuki waktu pagi atau sore, 'Allāhumma innī aṣbaḥtu usyhiduka wa usyhidu ḥamalata 'arsyika wa malā`ikataka wa jamī'a khalqika, annaka antallāhu lā ilāha illā anta wa anna muḥammadan 'abduka wa rasūluka.'" Artinya: (Ya Allah, aku memasuki waktu pagi. Aku menjadikan-Mu sebagai saksi serta menjadikan malaikat-malaikat pemikul Arasy-Mu dan malaikat-malaikat-Mu serta semua makhluk-Mu, bahwa Engkaulah Allah, tidak ada sembahan yang benar kecuali Engkau, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Mu), niscaya Allah akan membebaskan seperempatnya dari neraka. Siapa yang membacanya dua kali, niscaya Allah membebaskan setengahnya. Siapa yang membacanya tiga kali, niscaya Allah membebaskan tiga perempatnya. Maka, jika dia membacanya empat kali, niscaya Allah membebaskannya dari api neraka). An-Nawawi berkata, "Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang jayyid (baik), dan beliau tidak menyatakannya ḍa'īf (lemah)."

19- Lā ilāha illallāh waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku walahul-ḥamdu, wahuwa 'alā kulli syai`in qadīr. Artinya: (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan, segala pujian milik-Nya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu). Dibaca seratus kali di waktu pagi atau sore.

20- Ḥasbiyallāhu lā ilāha illā huwa 'alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul 'arsyil-'aẓīm. Artinya: (Cukuplah Allah sebagai penolongku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Hanya kepada-Nya aku berserah diri dan Dia adalah Tuhan Arasy yang agung). Dibaca sebanyak tujuh kali.

21- Ḥasbiyallāhu wa kafā, sami'allāhu liman da'ā, laisa warā`allāhi marmā. Artinya: (Cukuplah Allah sebagai penolongku dan cukuplah hanya Dia. Allah mendengar siapa pun yang berdoa. Tidak ada tempat tujuan lain selain Allah).

22- Subḥānallāhi wa biḥamdih. Artinya: (Mahasuci Allah dan segala puji milik-Nya). Dibaca seratus kali di waktu pagi atau sore, atau keduanya sekalian.

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa yang ketika memasuki pagi dan petang membaca, 'Subḥānallāhi wa biḥamdih' (Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya) sebanyak 100 kali, kelak pada hari kiamat tidak ada seorang pun yang datang dengan membawa sesuatu yang lebih baik dari yang dia bawa, kecuali seseorang yang mengucapkan sebanyak yang dia baca atau lebih dari itu." (HR. Muslim).

23- Astagfirullāha wa atūbu ilaih. Artinya: (Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya). Dibaca seratus kali.

24- Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, "Siapa saja yang membaca ketika memasuki waktu pagi, Fa subḥānallāhi ḥīna tumsūna wa ḥīna tusbiḥūn, wa lahul ḥamdu fis samāwāti wal-`arḍi wa 'asyiyyan wa ḥīna tuẓhirūn. Artinya: (Maka bertasbihlah kepada Allah pada petang hari dan pada pagi hari (waktu shubuh). Dan segala puji bagi-Nya baik di langit dan di bumi, pada malam hari maupun pada waktu zuhur). (QS. Ar-Rūm: 17-18), niscaya dia akan mendapatkan apa yang terlewatkan darinya pada hari itu. Dan siapa saja yang membacanya ketika memasuki waktu sore, niscaya dia akan mendapatkan apa yang terlewatkan darinya pada malam itu." (HR. Abu Daud; dinyatakan daif oleh Bukhari).

Saya katakan, "Jika hadis ini sahih, dia akan mendapatkan pahala itu. Akan tetapi jika tidak, dia mendapatkan pahala membaca ayat Al-Qur`an."

25- Abu Mālik Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Jika salah seorang kalian memasuki waktu pagi, hendaklah dia membaca: 'Aṣbaḥnā wa aṣbaḥal-mulku lillāhi rabbil 'alamin. Allāhumma innī as`aluka khaira hāżal-yaumi; fatḥahu wa naṣrahu wa nūrahu wa barakatahu wa hudāhu, wa a'ūżubika min syarri mā fīhi wa syarri mā ba'dah.' Artinya: (Kami memasuki waktu pagi dan kerajaan seluruhnya milik Allah Tuhan alam semesta. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini; kemenangan, pertolongan, cahaya, keberkahan, dan petunjuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang ada padanya serta keburukan setelahnya). Dan ketika memasuki waktu sore, hendaklah membaca seperti itu juga." (HR. Abu Daud dengan sanad yang tidak beliau nyatakan daif).

26- Abdurrahman bin Abu Bakrah meriwayatkan dari ayahnya bahwa dia berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah! Aku mendengar Anda setiap pagi berdoa: Allāhumma 'āfinī fī badanī, allāhumma 'āfinī fī sam'ī, allāhumma 'āfinī fī baṣarī, allāhumma a'ūżubika minal kufri wal faqri, allāhumma a'ūżubika min 'ażabil qabri, lā ilāha illā anta. Artinya: (Ya Allah, berikan aku keselamatan pada badanku. Ya Allah, berikan aku keselamatan pada pendengaranku. Ya Allah, berikan aku keselamatan pada penglihatanku. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Tidak ada Tuhan yang hak kecuali Engkau); Anda ulangi sebanyak tiga kali ketika pagi dan tiga kali ketika sore." Dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ membaca doa itu. Sehingga aku ingin mengikuti sunnahnya." (HR. Abu Daud).

27- Salah satu putri Nabi ﷺ meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ biasa mengajarinya, beliau bersabda, "Bacalah ketika memasuki waktu pagi, Subḥānallāhi wa biḥamdihi lā quwwata illā billāh, mā syā`allāhu kāna wa mā lam yasya` lam yakun. Artinya: (Mahasuci Allah, dan segala puji bagi-Nya. Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi); siapa saja yang membacanya ketika pagi maka akan dijaga hingga sore, dan siapa pun yang membacanya ketika sore maka akan dijaga hingga pagi." (HR. Abu Daud).

28- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ berkata kepada Fatimah, "Apa yang menghalangimu untuk mendengarkan apa yang aku wasiatkan kepadamu? Yaitu ketika memasuki waktu pagi dan sore agar engkau membaca: 'Yā ḥayyu yā qayyūm, biraḥmatika astagīṡ, aṣliḥ lī sya'nī kullahu wa lā takilnī ilā nafsī ṭarfata ainin.'" (Wahai Tuhan Yang Mahahidup, wahai Tuhan yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, perbaikilah semua urusanku, dan jangan Engkau serahkan kepada diriku sendiri walau sekejap mata). (HR. Ibnu As-Sunni).

29- Abu Ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ bersabda tentang beberapa kalimat, "Siapa saja yang membacanya di pagi hari maka tidak akan ditimpa suatu musibah hingga sore, dan siapa yang membacanya di sore hari maka tidak akan ditimpa suatu musibah hingga pagi, yaitu: Allāhumma anta rabbī, lā ilāha illā anta, 'alaika tawakkaltu, wa anta rabbul 'arsyil 'aẓīmi, mā syā`allāhu kāna, wa mā lam yasyā` lam yakun. Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil 'aliyyil 'aẓīm, a'lamu annallāha 'alā kulli syay`in qadīr, wa annallāha qad aḥāṭa bikulli syay`in 'ilman. Allāhumma innī a'ūżubika min syarri nafsī wa min syarri kulli dābbatin anta ākhiżun bināṣiyatihā, inna rabbī 'alā ṣirātin mustaqīm." (Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tidak ada Tuhan yang hak kecuali Engkau. Hanya kepada-Mu aku berserah diri, dan Engkau adalah Tuhan Arasy yang agung. Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Tidak ada upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Aku mengetahui Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku, serta keburukan semua binatang di mana Engkau memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus). (HR. Ibnu As-Sunni).

BAB KEEMPAT: ZIKIR YANG DIBATASI DENGAN SITUASI DAN KONDISI

Zikir ini ada beberapa macam:

Pertama: Zikir Makan dan Minum Serta Memakai Pakaian

Sebaiknya seorang mukmin ketika makan, minum, dan memakai pakaian tetap mengingat nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, berupa kemudahan mendapatkannya serta dihalalkan baginya secara khusus kelak di hari kiamat; karena Allah -Ta'ālā- telah menghalangi banyak orang dari nikmat tersebut, entah itu berupa pengharaman secara syariat, seperti orang-orang kafir dan munafik. Sekali pun mereka terlihat bersenang-senang dengan nikmat itu, tetapi mereka kelak akan dihisab dan disiksa terkait nikmat tersebut. Hal ini berdasarkan firman Allah -Ta'ālā-, "Katakanlah, 'Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat.'" (QS. Al-A'rāf: 32). Juga firman Allah -Ta'ālā-, "Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan, tentang apa yang mereka makan (dahulu)." (QS. Al-Mā`idah: 93). Atau berupa pengharaman (terhalang) secara takdir, yaitu mereka tidak mendapatkannya, atau mereka mendapatkannya, tetapi tidak mampu menikmatinya karena sakit dan semisalnya.

Demikian juga, sebaiknya ia membaca zikir yang bersumber dari syariat. Di antaranya: Ketika hendak makan dan minum, ia membaca "bismillāh", dan ketika selesai darinya membaca "alḥamdulillāh". Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia menyebut nama Allah -Ta'ālā-. Jika ia lupa menyebut nama Allah -Ta'ālā- di awal, maka hendaklah ia mengucapkan, 'Bismillāhi awwalahu wa ākhirahu' (dengan nama Allah di awal dan di akhirnya)." (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi; At-Tirmizi berkata, "Hadis hasan sahih").

Membaca "bismillāh" ketika makan dan minum hukumnya wajib, hal ini berdasarkan perintah Nabi ﷺ. Juga karena setan akan makan bersamanya jika tidak membaca "bismillāh". Ini berdasarkan hadis riwayat Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya setan akan ikut menyantap makanan yang tidak disebut nama Allah -Ta'ālā- padanya." (HR. Muslim).

Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah rida kepada seorang hamba ketika dia menyantap makanan lalu dia memuji Allah atas makanan itu, atau minum lalu dia memuji Allah atas minuman itu." (HR. Muslim).

Abu Umāmah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ ketika selesai makan mengucapkan, "Alḥamdulillāhi ḥamdan kaṡīran ṭayyiban mubārakan fīhi, gaira makfiyyin wa lā muwadda'in wa lā mustagnan 'anhu rabbanā (Segala puji ‎milik Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah; Dia tidak membutuhkan (sesuatu pun), tidak ditinggalkan, dan selalu dibutuhkan, wahai ‎Rabb kami)."‎ (HR. Bukhari).

Mu'āż bin Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa yang menyantap makanan lalu mengucapkan, 'Alḥamdulillāhillażī aṭ'amanī hāżā wa razaqanīhi min gairi ḥaulin minnī wa lā quwwah (segala puji hanya milik Allah yang telah memberiku makanan ini dan menganugerahkannya kepadaku tanpa ada daya dan kekuatan dariku)', niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan At-Tirmizi; At-Tirmizi berkata, "Hadis hasan").

Seorang laki-laki yang melayani Nabi ﷺ selama delapan tahun meriwayatkan bahwa dia biasa mendengar Nabi ﷺ ketika didekatkan kepadanya makanannya, beliau membaca, 'Bismillāh'. Lalu ketika selesai dari makanannya, beliau membaca, "Allāhumma aṭ'amta wa asqaita wa agnaita wa aqnaita wa hadaita wa aḥyaita, falakal-ḥamdu 'alā mā a'ṭaita." (Ya Allah, Engkau telah memberi makan dan minum, memberi kekayaan dan kecukupan, memberi petunjuk dan menghidupkan. Hanya bagi-Mu segala pujian atas apa yang Engkau berikan). (HR. An-Nasā`i).

Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Apabila Rasulullah ﷺ mendapatkan pakaian baru, maka beliau menyebutnya dengan namanya, baik serban, gamis, atau selendang, kemudian membaca doa, "Allāhumma lakal-ḥamdu anta kasautanīhi, as`aluka khairahu wa khaira mā ṣuni'a lahu, wa a'ūżubika min syarrihi wa syarri mā ṣuni'a lahu." (Ya Allah! Hanya milik-Mu segala pujian. Engkaulah yang telah memberikannya kepadaku. Aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan penggunaannya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan penggunaannya). (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi; At-Tirmizi berkata, "Hadisnya hasan").

Mu'āż bin Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa yang mengenakan pakaian lalu membaca, 'Al-ḥamdulillāhillażī kasānī hāżaṡ-ṡauba warazaqanīhi min gairi ḥaulin minnī wa lā quwwah.' (Segala puji bagi Allah yang telah memberikanku pakaian ini serta menganugerahkannya kepadaku tanpa upaya dan kekuatan dariku), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Ibnu As-Sunni).

Kedua: Zikir Ketika Hendak Buang Hajat

Keluarnya sisa makanan dan minuman serta udara termasuk nikmat Allah kepada seorang hamba yang patut dipanjatkan rasa syukur kepada-Nya. Manakala tempat buang hajat adalah tempat berdiam setan lantaran keburukannya, di mana tempat yang kotor adalah bagi orang yang kotor, maka Nabi ﷺ ketika masuk tempat buang hajat beliau berdoa dengan doa yang sesuai.

Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ ketika masuk kamar kecil beliau membaca, "Allāhumma innī a'użubika minal-khubuṡi wal-khabā`iṡ." (Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan perempuan). (Muttafaq 'alaih).

Al-'Umari meriwayatkan hadis ini dari jalur Abdul Aziz bin Al-Mukhtār dengan redaksi, "Apabila kalian masuk tempat buang air, maka ucapkanlah, 'Bismillāh, a'ūżubillāhi minal-khubuṡi wal-khabā`iṡ (Dengan nama Allah, aku berlindung kepada Allah dari setan laki-laki dan perempuan)." Sanadnya sesuai dengan syarat Muslim, sebagaimana disebutkan di dalam Fatḥul Bāri, (1/244).

Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Nabi ﷺ setelah keluar dari kamar kecil, beliau membaca, 'Gufrānaka' (Aku memohon ampun kepada-Mu)." (HR. Abu Daud, At-Tirmizi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Nabi ﷺ, setelah keluar dari kamar kecil, beliau membaca, 'Alḥamdulillāhillażī ażhaba 'annīl-`ażā wa 'āfānī' (Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan dariku kotoran serta memberiku keselamatan)." (HR. Ibnu Majah).

Ketiga: Zikir Tidur

Zikir Sebelum Tidur

1- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan tentang kisahnya yang ditugaskan oleh Nabi ﷺ untuk menjaga zakat Ramadan. Dikatakan kepada Abu Hurairah, "Jika engkau mendatangi tempat tidurmu, maka bacalah ayat Kursi, niscaya kamu akan selalui didampingi oleh penjaga yang berasal dari Allah dan engkau tidak akan mampu didekati oleh setan hingga pagi." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Untuk kali ini ia berkata benar kepadamu, meski sejatinya ia adalah pembohong." (HR. Bukhari).

Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ ketika mendatangi tempat tidurnya di setiap malam, beliau merapatkan kedua telapak tangannya kemudian meniupnya (disertai percikan ludah) seraya membaca, surah qul huwallāhu aḥad, qul a'ūżu birabbil-falaq, dan qul a'ūżu birabbin-nās. Lalu beliau mengusapkan keduanya ke semua organ yang dapat dijangkau dari tubuhnya, dimulai dari kepala, muka dan bagian depan badannya. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali. (Muttafaq 'alaih).

Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, apabila Nabi ﷺ mendatangi tempat tidurnya, beliau membaca, "Al-ḥamdulillāhil-lażī aṭ'amanā wa saqānā, wa kafānā wa āwānā, fakam min man lā kāfiya lahu wa lā mu`wī. (Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, minum, kecukupan, dan perlindungan. Betapa banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan perlindungan)." (HR. Muslim, Abu Daud, dan At-Tirmizi).

4- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ketika Nabi ﷺ berada di tempat tidurnya, beliau membaca, "Allāhumma rabbas-samāwāti, wa rabbal-`arḍi, wa rabbal-'arsyil 'azīm, rabbanā wa rabba kulli sya`in, fāliqal ḥabbi wan-nawā, wa munzilat-taurāti wal-injīl wal-furqān, a'ūżubika min syarri kulli sya`in anta ākhiżun bināṣiyatihi. Allāhumma antal awwalu fa laysa qablaka syai`, wa antal ākhiru fa laysa ba'daka syai`, wa antaẓ-ẓāhiru fa laysa fauqaka syai`, wa antal-bāṭinu fa laysa dūnaka syai`, iqḍi 'annad-dayna wa agninā minal faqri." (Ya Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan Arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, yang menumbuhkan biji-bijian dan yang menurunkan kitab Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan segala sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya (menguasainya). Ya Allah, Engkau Yang Mahaawal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu, dan Engkau Yang Mahaakhir, tidak ada sesuatu setelah-Mu, Engkau Yang Zahir tidak ada sesuatu di atas-Mu, dan Engkau Yang Batin tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Mu. Lunaskanlah utang kami dan bebaskan kami dari kefakiran). (HR. Muslim dan Abu Daud).

5- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seseorang di antara kalian datang ke tempat tidurnya, hendaklah dia mengibaskan tempat tidurnya dengan ujung bagian dalam sarungnya, karena dia tidak tahu apa yang ada padanya, lalu membaca, 'Bismika rabbī, waḍa'tu janbī, wabika arfa'uhu, in amsakta nafsī farḥamhā, wa in arsaltahā faḥfaẓhā bimā taḥfaẓu bihī 'ibādakaṣ-ṣāliḥīn." (Dengan nama-Mu, wahai Tuhanku, aku rebahkan tubuhku dan dengan nama-Mu aku mengangkatnya. Jika Engkau ambil nyawaku, maka kasihanilah ia. Jika Engkau melepaskannya, maka jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang saleh). (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain masih di dalam kitab Bukhari dan Muslim, ".. fagfir lahā (maka ampunilah ia)." Kedua redaksi itu digabungkan oleh Ismā'īl Umayyah, sebagaimana disebutkan di dalam Fatḥul Bāri (13/380).

Di dalam redaksi riwayat Bukhari lainnya, "Hendaklah dia mengibaskan tempat tidurya dengan ujung pakaiannya sebanyak tiga kali."

Sedangkan dalam riwayat Muslim, "Hendaklah dia mengibaskan tempat tidurnya dengannya dan menyebut nama Allah, karena dia tidak tahu ..."

6- Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- memerintahkan seorang laki-laki jika dia hendak tidur agar membaca, Allāhumma khalaqta nafsī wa anta tawaffāhā, laka mamātuhā wa maḥyāhā, in aḥyaytahā faḥfaẓhā, wa in amattaha fagfir lahā, allāhumma innī as`alukal 'āfiyah. "Ya Allah, Engkau menciptakan nyawaku dan Engkau pula yang akan mematikannya. Milik-Mu kematian dan kehidupannya. Jika Engkau menghidupkannya, maka jagalah ia. Dan jika Engkau mematikannya, maka ampunilah ia. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu keselamatan." Ibnu Umar mengatakan bahwa ia mendengar langsung dari Rasulullah ﷺ. (HR. Muslim).

7- Ḥafṣah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ ketika hendak tidur, beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya, kemudian beliau membaca, "Allāhumma qinī 'ażābaka yauma tab'aṡu 'ibādaka." (Ya Allah! Lindungilah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu). (HR. Abu Daud an At-Tirmizi; hadis ini hasan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Ādāb Asy-Syar'iyah).

8- Ali -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda kepadanya dan kepada Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Apabila kalian berdua telah berada di tempat tidur, bertakbirlah 33 kali, bertasbihlah 33 kali, dan bertahmidlah 33 kali. Itu lebih baik bagi kalian dari pada seorang pembantu." Dalam riwayat lain bahwa takbir sebanyak 34 kali.

9- Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, ketika Nabi ﷺ datang ke tempat tidurnya di malam hari, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya, kemudian membaca, "Allāhumma, bismika amūtu wa aḥyā." (Ya Allah! Dengan nama-Mu kami mati, dan dengan nama-Mu kami hidup). Dan ketika bangun tidur, beliau membaca, "Alḥamdulillāhillażī aḥyānā ba'da mā amātanā wa ilahin-nusyūr." (Segala puji milik Allah, Tuhan yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan, dan hanya kepada-Nya kami kembali). (HR. Bukhari).

Juga diriwayatkan oleh Muslim dari Al-Barā` -raḍiyallāhu 'anhu-.

10- Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, ketika Rasulullah ﷺ datang ke tempat tidur, beliau berbaring ke sebelah kanan kemudian membaca, "Allāhumma aslamtu nafsī ilaika, wa wajjahtu wajhī ilaika, wa fawwaḍtu amrī ilaika, wa alja`tu ẓahrī ilaika, ragbatan wa rahbatan ilaika, lā malja`a wa lā manjā minka illā ilaika. Allāhumma āmantu bi kitābikallażī anzalta, wa binabiyyikallażī arsalta." (Ya Allah! Aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan penuh harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak pula menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada Kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus). (HR. Bukhari).

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Bukhari bersama Muslim dari Al-Barā` -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi ﷺ berkata kepadanya, "Bila engkau hendak tidur, maka berwudulah seperti wudu untuk salat. Kemudian berbaringlah ke sisi kanan, lalu bacalah..." Beliau menyebutkan hal yang semisal, lalu beliau berkata, "Jadikanlah bacaan-bacaan itu termasuk akhir ucapanmu (pada hari itu). Seandainya engkau wafat di malam itu, engkau wafat di atas fitrah."

Dalam riwayat yang lain bahwa Nabi ﷺ memerintahkan hal itu kepada seorang laki-laki, dan ditambahkan (redaksi), "Dan bila engkau bangun di pagi hari, maka pagi harimu dalam kebaikan."

Zikir Setelah Bangun Tidur

1- Ḥużaifah bin Al-Yamān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ketika Nabi ﷺ bangun tidur, beliau membaca, "Alḥamdulillāhillazī aḥyānā ba'da mā amātanā wa ilahin-nusyūr (Segala puji milik Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, dan hanya kepada-Nya kami dibangkitkan)." (HR. Bukhari).

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari jalur Al-Barā` -raḍiyallāhu 'anhu-.

2- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Apabila seseorang di antara kalian bangun dari tidur, hendaklah dia membaca, 'Al-ḥamdu lillāhil-lażī radda 'alayya rūḥī wa 'āfānī fī jasadī wa ażina lī biżikrihi'." (Segala puji bagi Allah yang masih mengembalikan rohku dan memberikan keselamatan pada badanku serta memperkenankanku untuk berzikir kepada-Nya). (HR. Ibnu As-Sunni; disebutkan dalam Al-Ażkār, "Dengan sanad yang sahih." Juga diriwayatkan oleh At-Tirmizi, dan dia berkata, "Hadis hasan").

3- Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa dia menginap di rumah bibinya, Maimunah -raḍiyallāhu 'anhā-, istri Nabi ﷺ, "Lalu Rasulullah ﷺ tidur, hingga ketika tengah malam atau sebelumnya sedikit atau setelahnya sedikit beliau bangun dari tidurnya, beliau mengusap bekas tidur dari mukanya dengan tangan -dalam riwayat lain: lalu beliau duduk seraya menatap ke langit- kemudian membaca sepuluh ayat penutup surah Āli 'Imrān ..." hadis. (Muttafaq 'alaih).

4- 'Ubādah bin Aṣ-Ṣāmit -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Siapa pun yang terbangun di waktu malam lalu membaca: Lā ilāha illallāh waḥdahū lā syarīka lah lahul mulku walahul-ḥamdu wahuwa 'alā kulli syai`in qadīr. Alḥamdulillāh wasubḥānallāh walā ilāha illallāhu wallāhu akbar, walā ḥaula walā quwwata illā billāh, kemudian berdoa, 'Allāhummagfir lī. (Ya Allah, berilah ampunan untukku),' atau doa lainnya, niscaya doanya akan dikabulkan; lalu kalau dia berwudu dan mengerjakan salat, maka salatnya diterima." (HR. Bukhari).

Zikir Ketika Susah Tidur

Hadis-hadis dalam pembahasan ini derajatnya daif, di antaranya:

1- Zaid bin Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Aku mengeluhkan susah tidur kepada Nabi ﷺ, maka beliau bersabda, "Bacalah, 'Allāhumma gāratin-nujūm, wa hada`atil-'uyūn, wa anta ḥayyun qayyūm, lā ta`khużuka sinatun walā naum, yā ḥayyu yā qayyūm, ahdi` lailī wa anim 'ainī'." (Ya Allah, bintang-bintang mulai hilang, mata telah tentram, sedangkan Engkau Tuhan Yang Mahahidup dan Yang terus-menerus (mengurus) makhluk-Nya, Engkau tidak dihinggapi kantuk maupun tidur. Wahai Yang Mahahidup, wahai Tuhan Yang terus-menerus (mengurus) makhluk-Nya, tenangkanlah malamku dan tidurkanlah mataku). Lantas aku membacanya, maka Allah -'Azza wa Jalla- menghilangkan apa yang kualami." (HR. Ibnu As-Sunni).

2- Hadis riwayat At-Tirmizi dengan sanad yang daif dari Khālid bin Al-Walīd -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa dia mengeluh kepada Nabi ﷺ tidak bisa tidur, maka Nabi ﷺ bersabda, "Jika engkau hendak tidur, maka bacalah, 'Allāhumma rabbassamāwātis-sab'i wa mā aẓallat, wa rabbal-araḍīna wa mā aqallat, wa rabbasy-syayāṭīni wa mā aḍallat, kun lī jāran min syarri khalqika kullihim jamī'an an yafruṭa 'alayya aḥadun minhum au yabgī 'alayya, 'azza jāruka wa jalla ṡanā`uka, wa lā ilāha gairuka, wa lā ilāha illā anta." (Ya Allah, Tuhan langit yang tujuh dan semua yang dinaunginya, Tuhan tujuh bumi dan semua yang dipikulnya, Tuhan setan dan semua yang disesatkannya, jadilah Engkau sebagai pelindungku dari keburukan makhluk-Mu seluruhnya, agar tidak seorangpun di antara mereka menyiksaku atau menzalimiku, sungguh agung perlindungan-Mu dan muliau pujian-Mu. Tidak ada Tuhan yang hak selain-Mu, tidak ada Tuhan yang hak kecuali Engkau).

Zikir Ketika Takut Dalam Tidur

Hadis-hadis dalam pembahasan ini derajatnya daif, di antaranya:

Hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmizi; 'Amr bin Syu'aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata, "Nabi ﷺ mengajari kami beberapa kalimat untuk dibaca ketika merasa takut saat bangun tidur, 'Bismillāh, a'ūżu bi kalimātillāhit-tāmmah min gaḍabihi wa 'iqābihi, wa syarri 'ibādihi, wa min hamazātisy-syayāṭīni wa an yaḥḍurūn'." (Dengan menyebut nama Allah, aku berlindung melalui kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka dan siksa-Nya, dari keburukan hamba-hamba-Nya serta bisikan-bisikan setan dan agar mereka tidak menghampiriku).

Dalam riwayat Ibnu As-Sunni disebutkan bahwa seorang laki-laki menyampaikan kepada Nabi ﷺ keluhan sering merasa takut dalam tidurnya, maka beliau berkata kepadanya, "Jika engkau hendak tidur, maka bacalah, ...." dan beliau menyebutkan bacaan semisal.

Zikir Ketika Melihat Mimpi Yang Disukai Atau Yang Dibenci

Abu Salamah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku pernah melihat mimpi, dan mimpi itu membuatku sakit. Lalu aku bertemu Abu Qatādah. Dia berkata, 'Sungguh, aku pun pernah melihat mimpi, dan mimpi itu membuatku sakit, sampai aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Mimpi yang bagus -dalam riwayat Bukhari: mimpi yang indah- berasal dari Allah. Karenanya, jika ada di antara kalian melihat mimpi yang dia sukai, janganlah dia menceritakannya kecuali kepada orang yang dia sukai. Tetapi jika dia melihat mimpi yang tidak dia sukai, hendaklah dia meludah ringan ke samping kirinya sebanyak tiga kali, lalu memohon perlidungan kepada Allah dari keburukan setan dan keburukan mimpi itu, dan janganlah dia menceritakannya kepada siapa pun, karena sungguh mimpi itu tidak akan memudaratkannya." (Muttafaq 'alaih).

Dalam riwayat Muslim, "Apabila dia melihat sebuah mimpi baik, maka hendaklah dia bergembira, dan janganlah dia menceritakannya kecuali kepada orang yang dia sukai."

Juga dalam riwayat Muslim, "Hendaklah dia meludah ke samping kirinya sebanyak tiga kali di saat dia kaget terbangun dari tidurnya."

Muslim juga meriwayatkan dari Abu Qatadah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa dia berkata, "Begitu aku mendengar hadis tersebut maka aku langsung tidak memedulikannya lagi."

Di dalam riwayat Bukhari dari Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu- (disebutkan), "Apabila ada di antara kalian melihat mimpi yang dia senangi, sesungguhnya mimpi itu berasal dari Allah, maka hendaklah dia memuji Allah dan hendaklah dia menceritakannya."

Di dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- (disebutkan), "Mimpi itu ada tiga macam: mimpi yang bagus adalah berita gembira yang berasal dari Allah; mimpi yang menyedihkan berasal dari setan; dan mimpi tentang apa yang dipikirkan oleh seseorang dalam dirinya. Apabila salah seorang kalian melihat mimpi yang tidak disukai, hendaklah dia bangun lalu mengerjakan salat, dan janganlah dia menceritakannya kepada siapa pun."

Dan juga masih di dalam riwayat Muslim dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, (Nabi) berkata, "Jika ada salah satu dari kalian melihat mimpi yang dia benci, hendaklah dia meludah ke samping kirinya sebanyak tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari setan sebanyak tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya."

Keempat: Zikir Masuk dan Keluar Rumah

Zikir ketika Keluar Rumah

1- 'Uṡmān bin 'Affān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah seorang muslim yang keluar dari rumahnya karena akan melakukan perjalanan jauh (safar) atau lainnya, lalu ketika keluar dia membaca, 'Bismillāh, āmantu billāh, i'taṣamtu billāh, tawakkaltu 'alallāh, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh, (Dengan menyebut Allah, aku beriman kepada Allah. Aku berlindung kepada Allah. Aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)', kecuali dia dianugerahi kebaikan tujuan keluarnya itu serta dijauhkan darinya keburukan tujuan keluarnya itu." (HR. Ahmad; di dalamnya terdapat perawi yang majhūl).

Di dalam kitab-kitab Sunan, Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan seperti itu secara marfu', di dalamnya disebutkan, "Siapa saja yang mengucapkan -maksudnya ketika keluar rumah-, 'Bismillāhi tawakkaltu 'alallāhi, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah dan tidak ada daya serta kekuatan selain dengan pertolongan Allah),' maka dikatakan kepadanya, 'Engkau telah diberi petunjuk, telah dicukupi, dan telah dijaga.' Dan setan pun menjauh darinya." At-Tirmizi berkata: Hadis hasan. Sementara Al-Albāni berkata: sahih.

2- Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Tidak pernah sama sekali Nabi ﷺ keluar dari rumahku kecuali beliau memandang ke atas seraya berdoa, 'Allāhumma innī a'ūżubika an aḍilla aw uḍalla aw azilla aw uzalla aw aẓlima aw uẓlama aw ajhala aw yujhala 'alayya'." (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar tidak tersesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, berbuat zalim atau dizalimi, dan berbuat bodoh atau dibodohi orang). (HR. Abu Daud -redaksi ini miliknya-, An-Nasā`i, Ibnu Majah dan At-Tirmizi; At-Tirmizi berkata, "Hadis sahih").

3- Dalam Ṣaḥīḥ Muslim dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- dalam salah satu riwayatnya, ketika dia menginap di rumah Rasulullah ﷺ, dia berkata, "Lalu muazin mengumandangkan azan, lantas beliau keluar untuk salat seraya membaca, 'Allāhumma ij'al fī qalbī nūran, wa fī lisānī nūran, waj'al fī sam'ī nūran, waj'al fī baṣarī nūran, waj'al min khalfī nūran, wa min amāmī nūran, waj'al min fauqī nūran wa min taḥtī nūran, allāhumma a'ṭinī nūran'." (Ya Allah! Berikanlah cahaya di hati dan lisanku. Berikanlah cahaya pada pendengaran dan penglihatanku. Berikanlah cahaya cahaya di belakang dan di depanku. Berikanlah cahaya di atas dan di bawahku. Ya Allah! Berikanlah aku cahaya).

Zikir ketika Masuk Rumah

1- Abu Mālik al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seseorang akan masuk ke rumahnya, hendaklah dia membaca, 'Allāhumma innī as`aluka khairal-mauliji wa khairal-makhraj, bismillāhi walajnā, wa bismillāhi kharajnā, wa 'alallāhi rabbinā tawakkalnā'. (Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepadamu sebaik-baik tempat masuk dan sebaik-baik tempat keluar. Dengan nama Allah kami masuk, dan dengan nama Allah kami keluar, dan kami berserah diri hanya kepada Allah tuhan kami)', kemudian hendaknya dia mengucapkan salam kepada keluarganya." (HR. Abu Daud dengan sanad yang sahih).

2- Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seseorang masuk ke rumahnya lalu menyebut nama Allah ketika masuk dan ketika makan, maka setan berkata kepada teman-temannya, 'Tidak ada tempat bermalam dan makan malam bagi kalian.' Jika dia masuk tanpa menyebut nama Allah ketika masuk, setan berkata, 'Kalian telah menemukan tempat bermalam.' Dan jika dia tidak menyebut nama Allah ketika makan, setan berkata, 'Kalian telah menemukan tempat bermalam dan makan malam'." (HR. Muslim).

Zikir Ketika Masuk dan Keluar Masjid

1- Abu Ḥumaid atau Abu Usaid -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian akan masuk masjid, bacalah, 'Allāhummaftaḥ lī abwāba raḥmatik' (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).' Sedangkan saat hendak keluar masjid, bacalah, 'Allāhumma innī as`aluka min faḍlik'." (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu). Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah. Keduanya menambahkan, "Jika ada di antara kalian hendak masuk masjid, ucapkanlah salam kepada Nabi ﷺ kemudian membaca ..."

Juga diriwayatkan oleh Abu 'Awānah dengan menambahkan salam ketika keluar juga; Al-Albāni berkata, "Sanadnya hasan atau sahih."

Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi ﷺ bersabda, ... dia menyebutkan redaksi yang sama, kecuali ketika akan keluar beliau bersabda, "... hendaklah dia mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ dan membaca, 'Allāhumma i'ṣimnī minasy-syaiṭānirrajīm'." (Ya Allah, jagalah aku dari setan yang terkutuk).

Demikian juga dalam riwayat Ibnu Majah dari Fāṭimah -raḍiyallāhu 'anhā- dengan tambahan bacaan basmalah ketika masuk dan keluar.

Dan dalam riwayat At-Tirmizi dengan tambahan bacaan selawat dan salam kepada Nabi ﷺ.

2- Abdullah bin 'Amr bin Al-Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, ia berkata, Nabi ﷺ ketika masuk masjid senantiasa membaca, "A'ūżu billāhil-'Aẓīm wa biwajhihil-karīm wa sulṭānihil qadīm minasy,-syaiṭānirrajīm (Aku berlindung pada Allah Yang Mahaagung, wajah-Nya yang Mahamulia, dan kekuasaan-Nya yang azali dari setan yang terkutuk)". Beliau bersabda, "Siapa pun yang mengucapkannya, setan berkata, 'Dia telah dijaga dariku sepanjang hari ini'." (HR. Abu Daud; An-Nawawi berkata, "Dengan sanad yang baik").

3- Ibnu As-Sunni meriwayatkan dari Abu Umāmah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', ketika keluar dari masjid bacalah, "Allāhumma innī a'ūżubika min iblīs wa junūdih." (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari iblis dan bala tentaranya)."

BAB KELIMA: ZIKIR-ZIKIR KETIKA IBADAH

Pertama: Zikir Wudu

Di Awal Wudu

Membaca "bismillāh"; berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidak sempurna wudu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah padanya." (HR. Abu Daud dan lainnya dengan sanad yang daif). Imam Ahmad -raḥimahullāh- berkata, "Tidak ada satu pun hadis yang sahih dalam pembahasan ini."

Di Akhir Wudu

Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang berwudu kemudian mengucapkan, 'Asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna muḥammadan 'abduhu wa rasūluh', niscaya dibukakan baginya kedelapan pintu surga; dia boleh masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki." Diriwayatkan oleh Muslim dan At-Tirmizi; At-Tirmizi menambahkan, "Allāhummaj-'alnī minat-tawwābīn, waj-'alnī minal-mutaṭahhirīn." (Ya Allah! Jadikanlah aku ke dalam golongan orang yang bertobat, dan jadikan pula aku ke dalam golongan orang yang menyucikan diri)."

Kedua: Zikir Salat

Azan dan Ikamah

Abu Maḥżūrah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mengajarinya azan berikut: "Allāhu akbar, allāhu akbar. Asyahdu allā ilāha illallāh (2 kali), asyhadu anna muḥammadar-rasūlullāh (2 kali). Kemudian mengulangi kedua syahadat, masing-masing 2 kali. Ḥayya 'alaṣṣalāh, ḥayya 'alal-falāḥ (masing-masing 2 kali). Allāhu akbar, allāhu akbar. Lā ilāha illallāh." (HR. Muslim).

Juga diriwayatkan oleh An-Nasā`i dengan lafaz seperti ini, tetapi takbir di awalnya dijadikan 4 kali.

Sedangkan dalam hadis riwayat Abdullah bin Zaid bin Abdurabbih -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa seseorang mengajarinya azan dalam mimpi: takbir di awalnya 4 kali, sedangkan sisanya masing-masing 2 kali, dan terakhir: lā ilāha illallāh. Lalu dia menyebutkan ikamah dengan membaca takbir di awal dan di akhir serta lafaz "qad qāmatiṣṣalāh", masing-masing 2 kali, sedangkan sisanya, masing-masing 1 kali. Maka Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh ia adalah mimpi yang benar." (HR. Ahmad; hadis sahih).

Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Jika kalian mendengar muazin (mengumandangkan azan), maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan. Kemudian berselawatlah kepadaku, sesungguhnya siapa saja yang berselawat kepadaku satu kali, Allah akan membalas selawatnya itu sepuluh kali. Kemudian mintakanlah kepada Allah untukku al-waṣīlah. Sesungguhnya al-waṣīlah itu kedudukan dalam surga yang tidak patut kecuali untuk salah satu hamba Allah, dan aku berharap akulah hamba itu. Siapa pun yang meminta al-waṣīlah untukku, maka berhak mendapatkan syafaatku." (HR. Muslim dan para penulis kitab-kitab Sunan, kecuali Ibnu Majah).

Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Apabila muazin mengucapkan "Allāhu akbar allāhu akbar", lantas salah seorang dari kalian turut mengucapkan "Allāhu akbar allāhu akbar" -lalu beliau menyebutkan sisa lafaz azan lainnya dengan bacaan yang semisalnya, kecuali pada lafaz ḥai'alatain, yaitu membaca, 'Lā ḥaula walā quwwata illā billāh'- dengan tulus dari hatinya, niscaya dia akan masuk surga." (HR. Muslim).

Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa pun yang ketika (selesai) mendengar azan membaca doa, 'Allāhumma rabba hāżihid-da'watit-tāmmah waṣ-ṣalātil-qā`imah, āti muḥammadanil-wasīlah wal-faḍīlah, wab'aṡ-hu maqāman maḥmudan al-lażī wa'adtah. (Ya Allah! Tuhan pemilik seruan yang sempurna dan salat yang akan ditegakkan ini. Limpahkanlah kepada Muhammad al-waṣīlah dan keutamaan, dan bangkitkanlah dia pada tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya),' niscaya dia mendapatkan syafaatku kelak di hari kiamat." (HR. Bukhari).

Juga diriwayatkan oleh An-Nasā`i seperti ini, tetapi dengan lafaz "al-maqāmal-maḥmūd".

Dan ditambahkan dalam riwayat Al-Baihaqi, "... innaka lā tukhliful-mī'ād (sesungguhnya Engkau tidak mengingkari janji)."

Sa'ad bin Abi Waqqāṣ -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, "Barang siapa yang mendengar muazin lalu mengucapkan, 'Asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, wa anna muḥammadan 'abduhū wa rasūluh, raḍītu billāhi rabban, wa bi muḥammadin rasūlan, wa bil-islāmi dīnan', (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang hak selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Aku rida Allah sebagai Tuhanku, Muhammad sebagai rasulku, dan Islam sebagai agamaku),' maka dosanya akan diampuni." (HR. Muslim).

Dalam riwayat Muslim yang lain dengan lafaz, "... wa ana asyhad."

Zikir Iftitah

1- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ di antara takbiratulihram dan Al-Fātiḥah, beliau membaca, "Allāhumma bā'id bainī wa baina khaṭāyāya kamā bā'adta bainal-masyriqi wal-magribi. Allāhumma naqqinī min khaṭāyāya kamā yunaqqaṡ-ṡaubul-abyaḍu minad-danas. Allāhummagsilnī min khaṭāyāya bil-mā`i waṡ-ṡalji wal-barad." (Ya Allah! Jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain putih yang dibersihkan dari noda. Ya Allah, basuhlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan es). (Muttafaq 'alaih).

2- Ali bin Abu Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ ketika memulai salat, beliau bertakbir kemudian membaca, “Wajjahtu wajhiya lillażī faṭaras-samāwāti wal-arḍi ḥanīfan wa mā ana minal-musyrikīn. Inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil-'ālamīn, lā syarīka lahu wa biżālika umirtu wa ana awwalul-muslimīn -dalam riwayat lain: wa ana minal-muslimīn-. Allāhumma antal-malik, lā ilāha illā anta, anta rabbī, wa ana 'abduka, ẓalamtu nafsī wa'taraftu bi żanbī, fagfirlī żunūbī jamī'an, innahu lā yagfiruż-żunūba illā anta. Wahdinī li aḥsanil-akhlāq, lā yahdī li aḥsanihā illā anta. Waṣrif 'annī sayyi`ahā, lā yaṣrifu 'annī sayyi`ahā illā anta. Labbaika wa sa'daik, wal-khairu kulluhu fī yadaik, wasy-syarru laisa ilaik, ana bika wa ilaik, tabārakta wa ta'ālait, astagfiruka wa atūbu ilaik" (Aku hadapkan wajahku kepada Allah Yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh ikhlas dan aku tidaklah termasuk yang mempersekutukan-Nya. Sesungguhnya salatku, segala ibadahku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Seperti itulah aku diperintahkan dan aku adalah yang pertama-tama berserah diri kepada-Nya -dalam riwayat lain: dan aku termasuk yang menyerahkan diri kepada-Nya-. Ya Allah, Engkaulah Yang Maharaja. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku dan aku mengakui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku, semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang berwenang untuk mengampuni dosa melainkan Engkau. Dan tunjukilah kepadaku akhlak yang paling bagus. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Dan jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Aku memenuhi perintah-Mu dan menaati-Nya. Seluruh kebaikan ada di tangan-Mu, sedangkan kejahatan tidak disandarkan kepada-Mu. Aku memohon pertolongan dan bersandar kepada-Mu. Mahasuci Engkau dan Mahatinggi. Aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu)." (HR. Muslim, Abu Daud, dan An-Nasā`i).

Dan di dalam riwayat Abu Daud yang lain, "Ketika beliau telah berdiri mengerjakan salat fardu ..."

3- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ ketika memulai salatnya, beliau membaca, “Subḥānakallāhumma wa biḥamdika wa tabārakasmuka wa ta'ālā jadduka wa lā ilāha gairuka." (Ya Allah! Mahasuci Engkau dan segala puji milik-Mu, Mahaberkah nama-Mu, Mahatinggi kemuliaan-Mu, dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau). Diriwayatkan oleh Abu Daud dan di dalam sanadnya ada sisi daif.

Namun hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dari 'Abdah, Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa dia mengeraskan bacaan ini: "Subḥānakallāhumma ....", tetapi 'Abdah -raḥimahullāh- tidak mendengarnya langsung dari Umar -raḍiyallāhu 'anhu- sehingga hadis ini munqaṭi'.

4- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, ia berkata, "Beliau -maksudnya Nabi ﷺ- ketika bangun salat malam memulai salatnya dengan membaca, 'Allāhumma rabba jibrā`īl wa mīkā`īl wa isrāfīl, fāṭiras-samāwāti wal-arḍi, 'ālimal-gaibi wasy-syahādah, anta taḥkumu baina 'ibādika fīmā kānū fīhi yakhtalifūn, ihdinī limā ukhtulifa fīhi minal-ḥaqqi bi iżnika, innaka tahdī man tasyā`u ilā ṣirātim-mustaqīm'." (Ya Allah! Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui perkara yang gaib dan yang tampak. Engkaulah yang menetapkan keputusan atas apa yang diperselisihkan di antara hamba-Mu. Tunjukilah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan (manusia) dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa pun yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus). (HR. Muslim).

5- Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ ketika bangun untuk mengerjakan salat di tengah malam biasa membaca, "Allāumma lakal-ḥamdu, anta nūrus-samāwāti wal-arḍi, wa lakal-ḥamdu, anta qayyāmus-samāwāti wal-arḍi -dalam riwayat lain: qayyimu- wa lakal-ḥamdu, anta rabbus-samāwāti wal-arḍi wa man fīhinna, antal-ḥaqqu, wa wa'dukal-ḥaqqu wa qaulukal-ḥaqqu wa liqā`ukal-ḥaqqu wal-jannatu ḥaqqun wan-nāru ḥaqqun was-sā'atu ḥaqqun, allāhumma laka aslamtu, wa bika āmantu wa 'alaika tawakkaltu wa ilaika anabtu wa bika khāṣamtu wa ilaika ḥākamtu, fagfir lī mā qaddamtu wa akhkhartu wa asrartu wa a'lantu, anta ilāhī lā ilāha illā anta." (Ya Allah! Hanya milik-Mu seluruh pujian, Engkaulah cahaya langit dan bumi. Hanya milik-Mu seluruh pujian, Engkaulah yang selalu mengurus langit dan bumi. Hanya milik-Mu seluruh pujian, Engkaulah tuhan langit dan bumi beserta semua yang ada padanya. Engkau Yang Mahabenar, janji-Mu benar, kalam-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar, surga itu hak, neraka itu hak, dan kiamat itu hak. Ya Allah! Hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bersandar, hanya kepada-Mu aku kembali, demi membela agama-Mu aku melawan (kaum kafir), dan hanya kepada-Mu aku berhakim. Maka ampunilah aku dosaku yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, yang aku sembuyikan dan yang aku tampakkan, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang hak kecuali Engkau." (HR. Muslim dan Abu Daud).

Dalam riwayat Abu Daud yang lain disebutkan, "Di dalam tahajud setelah mengucapkan "Allāhu akbar" beliau membaca, ...." dan seterusnya.

Ditambahkan oleh Bukhari di sebagian riwayatnya, "... wa man fīhinna" pada kalimat pertama dan kedua. Lalu setelah kalimat "wan-nāru ḥaqq": "... wan-nabiyyūna ḥaqq, wa muḥammadun ﷺ ḥaqq." (Para nabi itu benar dan Muhammad itu benar).

Zikir Rukuk

1- 'Uqbah bin 'Āmir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Ketika turun kepada Rasulullah ﷺ ayat "Fasabbiḥ bismi rabbikal-aẓīm" (Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar). (QS. Al-Wāqi'ah: 74), beliau bersabda, "Letakkanlah ia di dalam rukuk kalian." Dan ketika turun ayat "Sabbiḥisma rabbikal-a'lā" (Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi). (QS. Al-A'lā: 1), beliau bersabda, "Letakkanlah ia di dalam sujud kalian." (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah).

2- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Nabi ﷺ sering di dalam rukuk dan sujudnya membaca, 'Subḥānaka allāhumma rabbanā wa biḥamdika, allāhummagfir lī'." (Mahasuci Engkau, ya Allah Tuhan kami, dan segala puji bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku)', yaitu beliau mengamalkan perintah Al-Qur`an. (Muttafaq 'alaih).

3- Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Adapun rukuk, maka agungkanlah Tuhan di dalamnya." (HR. Ahmad dan Muslim).

4- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ biasanya di dalam rukuk dan sujudnya membaca, "Subbūḥun quddūsun, rabbul-malā`ikati war-rūḥ (Mahasuci lagi Mahaagung, Tuhan para malaikat dan Jibril).” (HR. Ahmad dan Muslim).

5- Ali -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Nabi ﷺ membaca ketika rukuk, "Allāhumma laka raka'tu, wa bika āmantu, wa laka aslamtu, khasya'a laka sam'ī wa baṣarī wa mukhkhī wa 'aẓmī wa 'aṣabī." (Ya Allah, hanya untuk-Mu aku rukuk, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri, pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, dan sarafku tunduk kepada-Mu). (HR. Muslim).

6- 'Auf bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Aku pernah salat malam bersama Nabi ﷺ di suatu malam, kemudian beliau rukuk yang durasinya setara dengan berdirinya, di dalam rukuknya beliau membaca, 'Subḥāna żil-jabarūt wal-malakūt wal-kibriyā` wal-'aẓamah.' (Mahasuci Zat yang memiliki sifat kekuasaan, kerajaan, kebesaran, dan keagungan).' Kemudian di dalam sujudnya beliau juga membaca zikir yang sama." (HR. Abu Daud dan An-Nasā`i).

Zikir Setelah Rukuk

1- Abdullah bin Abī Aufā -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Apabila Rasulullah ﷺ mengangkat punggungnya dari rukuk, beliau membaca, "Sami'allāhu liman ḥamidah. Allāhumma rabbanā lakal-ḥamdu, mil`as-samāwāti wal-arḍi wa mil`a mā syi`ta min syai`in ba'du." (Allah Maha Mendengar siapa pun yang memuji-Nya. Ya Allah, Tuhan kami! Hanya milik-Mu seluruh pujian, sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh apa pun yang Engkau kehendaki setelahnya). (HR. Muslim).

2- Muslim juga meriwayatkan dari Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu- dengan redaksi yang semisal, tetapi dengan tambahan, "Ahlaṡ-ṡanā`i wal-majdi, aḥaqqu mā qālal-'abdu, wa kullunā laka 'abdun, allāhumma lā māni'a limā a'ṭaita wa lā mu'ṭiya limā mana'ta, wa lā yanfa'u żal-jaddi minkal-jaddu." (Engkau yang berhak terhadap semua pujian dan pengagungan, paling patut yang dikatakan oleh hamba. Kami seluruhnya adalah hamba-Mu. Ya Allah! Tidak ada yang mampu menghalangi apa yang Engkau beri, dan tidak ada pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Kekayaan atau kemuliaan seseorang tidak bisa digunakan untuk menghindari siksa-Mu).

Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- semisal dengan hadis riwayat Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu-, tetapi di dalamnya, "Mil`as-samāwāti wa mil`al-arḍi wa mā bainahumā." (Sepenuh langit dan sepenuh bumi serta antara keduanya).

Juga hadis riwayat Muslim dari hadis riwayat Ali -raḍiyallāhu 'anhu- semisal dengan hadis riwayat Ibnu Abi Aufā -raḍiyallāhu 'anhu-, di dalamnya, "Wa mil`a mā bainahumā." (dan sepenuh antara keduanya).

3- Rifā'ah bin Rāfi' -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Suatu hari kami salat di belakang Nabi ﷺ. Ketika beliau mengangkat kepala dari rukuk, beliau mengucapkan, 'Sami'allāhu liman ḥamidah' (Allah Maha Mendengar siapa pun yang memuji-Nya). Lantas seorang laki-laki di belakang beliau mengucapkan, 'Rabbanā walakal-ḥamdu ḥamdan kaṡīran ṭayyiban mubārakan fīh.' (Wahai Tuhan kami, segala puji hanya milik-Mu, dengan pujian yang banyak, penuh kebaikan, dan keberkahan di dalamnya). Maka Nabi ﷺ bersabda, 'Aku melihat tiga puluhan malaikat saling berebut, siapa di antara mereka yang pertama menulisnya'." (HR. Bukhari).

Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi ﷺ setelah mengucapkan "Sami'allāhu liman ḥamidah", beliau membaca, "Allāhumma rabbanā walakal-ḥamdu."

Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Hurairah dalam riwayat yang lain, "Kemudian beliau dalam posisi berdiri mengucapkan, 'Rabbanā lakal-ḥamdu' tanpa huruf "wāw". Sehingga ada empat redaksi.

Zikir Sujud

1- Telah disebutkan sebelumnya hadis riwayat 'Uqbah bin 'Āmir, dua hadis riwayat Aisyah, dan hadis riwayat 'Auf bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhum-.

2- Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Adapun di dalam sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdoa, karena sangat pantas untuk dikabulkan." (HR. Ahmad dan Muslim).

Muslim juga meriwayatkan dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, “Keadaan terdekat hamba dengan Tuhannya adalah ketika dia bersujud, maka perbanyaklah doa.”

3- Muslim juga meriwayatkan dari Ali -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ketika sujud, beliau membaca, 'Allāhumma laka sajadtu, wa bika āmantu, walaka aslamtu, sajada wajhī lillażī khalaqahu wa ṣawwarahu, wa syaqqa sam'ahu wa baṣarahu, tabārakallāhu aḥsanal khāliqīn'." (Ya Allah! Kepada-Mu aku bersujud, kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku menyerahkan diri. Wajahku bersujud kepada Tuhan yang menciptakannya dan memberikannya rupa, yang memberikannya pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah, Pencipta paling baik).

4- Muslim juga meriwayatkan dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi ﷺ di dalam sujudnya membaca, "Allāhummagfirlī żanbī kullahu; diqqahu wa jullahu, wa awwalahu wa ākhirahu, wa 'alāniyyatahu wa sirrahu." (Ya Allah! Ampuni dosaku semuanya, yang kecil maupun yang besar, yang pertama maupun yang terakhir, yang tampak maupun yang tersembunyi).

Seseorang yang mengerjakan salat boleh berdoa dengan doa apa saja yang dia inginkan setelah berdoa dengan doa yang bersumber dari Nabi ﷺ, karena beliau memerintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam doa serta memperbanyaknya di dalam sujud tanpa pembatasan.

Doa Duduk Antara Dua Sujud

1- Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Nabi ﷺ ketika antara dua sujud membaca, 'Rabbigfirlī, rabbigfir lī'." (Ya Tuhanku, ampunilah aku. Ya Tuhanku, ampunilah aku). (HR. An-Nasā`i dan Ibnu Majah).

2- Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ membaca ketika (duduk) di antara dua sujud, "Allāhummagfir lī warḥamnī wajburnī wahdinī warzuqnī." (Ya Allah! ampunilah aku, beri aku rahmat, pertolongan, petunjuk, dan rezeki). (HR. At-Tirmizi).

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abu Daud dengan redaksi "wa'āfinī" (dan selamatkanlah aku), sebagai ganti: "wajburnī".

Zikir Tasyahud

1- Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Apabila salah satu dari kalian mengerjakan salat, maka bacalah, 'At-taḥiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu 'alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan 'abduhu wa rasūluh'." (Segala ucapan penghormatan, selawat, dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan terlimpah kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta berkah-Nya. Semoga keselamatan terlimpah pada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain, “Lalu ia memilih doa yang paling ia sukai kemudian berdoa dengannya.”

Dalam riwayat yang lain lagi, "Apabila kalian duduk di dalam salat, bacalah, ...." Kemudian beliau bersabda, "Lalu dia memilih setelah itu di antara ucapan yang dia mau."

Dalam riwayat lain, "... di antara pujian yang dia mau."

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim dengan redaksi yang semakna.

2- Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ mengajari kami bacaan tasyahud seperti beliau mengajari kami surah Al-Qur`an. Beliau membaca, 'At-taḥiyyātul-mubārakātuṣ-ṣalawātuṭ-ṭayyibātu lillāh, assalāmu'alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh, assalāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn, asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna muḥammadarrasūlullāh'." (Seluruh ucapan selamat, keberkahan, selawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah). (HR. Muslim).

3- Abu Mūsā Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan sebuah hadis yang panjang dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Ketika duduk, maka bacaan pertama kalian adalah, 'At-taḥiyyātuṭ-ṭayyibāt aṣ-ṣalawātu lillāh. Assalāmu'alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. Assalāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna muḥammadarrasūlullāh' ."(Seluruh ucapan selamat, kebaikan, dan selawat adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah). (HR. Muslim).

4- Ka'ab bin 'Ujrah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Kami bertanya kepada Rasulullah, 'Wahai Rasulullah, bagaimana kami berselawat kepada Anda, para ahlul bait, sedangkan kami telah diajari oleh Allah bagaimana mengucapkan salam?' Beliau bersabda, 'Ucapkan, 'Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā ṣallaita 'alā ibrāhīm wa 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Allāhumma bārik 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā bārakta 'alā ibrāhīm wa 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd'." (Ya Allah, limpahkanlah selawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan selawat atas Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Zat yang Maha Terpuji lagi Mahamulia. Dan curahkanlah keberkahan atas Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau mencurahkan keberkahan atas Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia).'" (HR. Bukhari).

5- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Apabila seseorang di antara kalian selesai dari tasyahud akhir, mohonlah perlindungan dari empat perkara: siksa Jahanam, siksa kubur, fitnah kehidupan dan kematian, dan keburukan Al-Masīḥ Ad-Dajjāl." (HR. Muslim).

Diriwayatkan juga oleh An-Nasā`i, dengan redaksi yang semakna disertai tambahan, "Kemudian dia berdoa untuk dirinya dengan doa yang dia inginkan."

Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Nabi ﷺ mengajari mereka doa ini sebagaimana beliau mengajari mereka surah Al-Qur`an, beliau bersabda, "Bacalah ...." Lalu Ibnu 'Abbās menyebutkan taawuz di atas.

6- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ berdoa di dalam salatnya; dia menyebutkan istiazah di atas, dan dia menambahkan, "... allāhumma innī a'ūżubika minalma`ṡami wal-magram." (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan lilitan utang). (Muttafaq 'alaih).

7- Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa dia berkata kepada Nabi ﷺ, "Ajarilah aku sebuah doa yang aku baca di dalam salatku." Beliau bersabda, "Ucapkanlah, 'Allāhumma innī ẓalamtu nafsī ẓulman kaṡīran, wa lā yagfiruż-żunūba illā anta, fagfirlī magfiratan min 'indika, warḥamnī, innaka antal-gafūrur-raḥīm." (Ya Allah! Sungguh aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau, maka berilah aku ampunan dari sisi-Mu dan limpahkan rahmat-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). (HR. Bukhari dan Muslim).

8- Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Nabi ﷺ bertemu denganku lalu beliau bersabda, "Aku wasiatkan kepadamu beberapa kalimat agar engkau baca di setiap salat: Allāhumma a'innī 'alā żikrika wa syukrika wa ḥusni 'ibādatika." (Ya Allah! Bantulah aku untuk berzikir mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan benar kepada-Mu). (HR. Ahmad, An-Nasā`i, dan Abu Daud).

Zikir Setelah Salam

1- Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Bila Rasulullah ﷺ selesai dari salatnya, beliau beristigfar tiga kali dan membaca, 'Allāhumma antas-salām, wa minkas-salām, tabārakta yā żal-jalāli wal-ikrām'." (Ya Allah! Engkaulah As-Salām dan dari-Mu keselamatan. Mahatinggi Engkau, wahai Zat Pemilik kebesaran dan keagungan). Al-Auzā'i pernah ditanya, "Bagaimana lafaz istigfar itu?" Dia menjawab, "Yaitu engkau mengucapkan, 'Astagfirullāh, astagfirullāh'." (HR. Muslim).

Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa Nabi ﷺ setelah salam tidak diam duduk kecuali sebatas membaca ... lalu Aisyah menyebutkan bacaan di atas.

2- Al-Mugīrah bin Syu'bah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ biasa membaca di akhir setiap salat wajib, "Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr. Allāhumma lā māni'a limā a'ṭaita, wa lā mu'ṭiya limā mana'ta, wa lā yanfa'u żal-jaddi minkal-jaddu." (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Semua kerajaan milik-Nya dan semua pujian hanya bagi-Nya. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah! Tidak ada yang mampu menghalangi apa yang Engkau beri dan tidak ada yang dapat memberi siapa yang Engkau halangi. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya untuk menghindar dari siksa-Mu)." (Muttafaq 'alaih, dan ini redaksi Bukhari).

3- Abdullah bin Az-Zubair -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa dia dahulu biasa membaca di akhir setiap salat setelah salam, "Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr. Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh. Lā ilāha illallāh, wa lā na'budu illā iyyāhu, lahun-ni'matu wa lahul-faḍlu, wa lahuṡ-ṡanā`ul-ḥasan. Lā ilāha illallāh mukhliṣīna lahud-dīn wa law karihal-kāfirūn." (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya semua kerajaan dan hanya bagi-Nya semua pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Kita tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya. Hanya milik-Nya semua nikmat, hanya milik-Nya semua kebaikan, dan hanya milik-Nya semua pujian yang baik. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dengan memurnikan ibadah seluruhnya hanya kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya). Dia berkata, "Rasulullah ﷺ biasa membacanya di akhir setiap salat." (HR. Muslim).

4- Diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin, "Maukah kalian kuajarkan sesuatu, dengannya kalian dapat mengejar orang yang telah mendahului kalian, dan mendahului orang yang datang belakangan setelah kalian, serta tidak akan ada orang yang lebih utama dari kalian kecuali yang mengerjakan seperti yang kalian kerjakan?" Mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Yaitu kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid di akhir setiap salat sebanyak 33 kali." Ini adalah redaksi Bukhari.

5- Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa pun yang bertasbih sebanyak 33 kali, bertahmid sebanyak 33 kali, dan bertakbir sebanyak 33 kali di setiap akhir salat, lalu menggenapkannya 100 dengan membaca, 'Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr', (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan dan segala pujian hanya milik-Nya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu)', maka akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan."

6- Muslim juga meriwayatkan dari Ka'ab bin 'Ujrah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Ada beberapa zikir pengiring, tidak akan rugi orang yang mengucapkannya, yaitu bertasbih sebanyak 33 kali, bertahmid sebanyak 33 kali, dan bertakbir sebanyak 34 kali."

7- Sa'ad bin Abi Waqqāṣ -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Nabi ﷺ biasa bertaawuz (berlindung kepada Allah) di akhir salat dengan doa-doa berikut: 'Allāhumma innī a'ūżubika minal-bukhli, wa a'ūżubika minal-jubni, wa a'ūżubika an uradda ilā arżalil-'umuri, wa a'ūżubika min fitnatid-dunyā, wa a'ūżubika min ażābil-qabri.' (Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan pada usia yang paling rendah (pikun), aku berlindung kepada-Mu dari ujian dunia, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur). (HR. Bukhari).

8- Mu'āż bin Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda kepadanya, "Wahai Mu'āż! Demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu'āż! Jangan sekali-kali engkau tinggalkan di akhir setiap salat untuk membaca, 'Allāhumma a'innī 'alā żikrika wa syukrika wa ḥusni 'ibādatika'." (Ya Allah! Bantulah aku untuk berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah kepada-Mu dengan benar). (HR. Abu Daud dan An-Nasā`i; An-Nawawi berkata, "Sanadnya sahih").

9- Uqbah bin 'Āmir -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Rasulullah ﷺ memerintahkanku agar membaca Al-Mu'awwiżāt (Surah Al-Ikhlāṣ, Al-Falaq, dan An-Nās) di akhir setiap salat." (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmizi, dan An-Nasā`i; dinyatakan sahih oleh Ibnu Ḥibbān).

10- Muslim bin Al-Ḥāriṡ At-Tamimiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ membisikinya, "Apabila engkau selesai salat Magrib, maka ucapkanlah, 'Allāmumma ajirnī minannār', (Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka)' sebanyak tujuh kali. Sungguh, jika engkau mengucapkan hal itu kemudian engkau meninggal di malam itu, niscaya akan dituliskan bagimu perlindungan dari neraka. Dan apabila engkau telah mengerjakan salat Subuh, maka ucapkanlah seperti itu juga. Sungguh, jika engkau meninggal di hari itu, niscaya akan dituliskan bagimu perlindungan dari neraka." (HR. Abu Daud).

Juga diriwayatkan oleh An-Nasā`i dengan yang semakna, disertai tambahan, "Maka ucapkanlah sebelum engkau berbicara ...."

11- Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang membaca setelah salat Subuh sebelum berbicara, 'Lā ilāha illallāhu waḥdahu la syarīka lah, lahul-mulku walahul-ḥamdu, bi yadikal-khairi, wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr', (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan dan bagi-Nya seluruh pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu) sebanyak sepuluh kali, niscaya dia akan diberikan tujuh perkara: dituliskan baginya sepuluh kebaikan, dihapuskan darinya sepuluh keburukan, diangkat untuknya sepuluh derajat, baginya pahala setara memerdekakan sepuluh jiwa, dijaga dari setan, dilindungi dari perkara yang tidak disukai, dan dia tidak dikenai oleh sebuah dosa di hari itu kecuali kesyirikan kepada Allah. Dan siapa yang membacanya setelah salam dari salat Magrib, maka dia akan diberikan semisal itu juga di malam itu." (HR. Ibnu Abi Ad-Dunyā dan Aṭ-Ṭabrāni dengan sanad hasan, dan ia memiliki banyak penguat).

Ketiga: Zikir-Zikir Terkait Zakat

Ketika Menyerahkan Zakat

Muzaki (pembayar zakat) ketika menyerahkan zakat mengucapkan, "Allāhumma taqabbal minnī inaka antas-samī'ul 'alīm." (Ya Allah, terimalah zakat ini dariku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).

Diriwayatkan juga bahwa dia mengucapkan, "Allāhummaj'alhā magnaman, wa lā taj'alhā magraman." (Ya Allah, jadikanlah zakat ini sebagai keuntungan, dan janganlah Engkau menjadikannya sebagai kerugian). Tetapi hadis ini daif.

Ketika Menerima Zakat

Orang yang menerima berkata orang yang memberi, "Allāhumma ṣalli 'alaika." (Ya Allah, semoga Allah melimpahkan berkah dan ampunan kepadamu)." Atau berdoa dengan doa yang dia pandang sesuai. Hal itu karena Allah -Ta'ālā- berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ, "Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdo'alah untuk mereka." (QS. At-Taubah: 103).

Keempat: Zikir-Zikir Terkait Puasa

Zikir Ketika Berbuka

"Allāhumma laka ṣumtu, wa 'alā rizqika afṭartu, fataqabbal minnī innaka antas-samī'ul-'alīm." (Ya Allah, untukmu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka, maka terimalah puasa ini dariku, sesungguhnya Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).

Terdapat beberapa asar lainnya dan di dalam sanad seluruhnya terdapat cacat, tetapi jika seseorang mengucapkannya maka tidak mengapa.

Jika hari itu cuaca panas dan dia minum setelah berbuka, maka dia membaca, "Żahabaẓ-ẓama`u wabtallatil-urūqu wa ṡabatal`ajru in syā`allāh." (Dahaga telah hilang, urat-urat telah basah, pahala sudah ditetapkan, insya Allah).

Ucapan Kepada Orang Yang Mencaci Atau Menyerang

Disunahkan agar dia mengucapkan, "Saya sedang berpuasa." Hal itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ, "Jika seseorang mencacinya atau menyerangnya hendaklah dia mengatakan, 'Aku sedang berpuasa'."

Pendapat yang sahih ialah agar dia mengucapkannya dengan suara keras, dalam puasa sunnah dan puasa wajib, karena di dalamnya terdapat tiga faedah:

Pertama: Menjelaskan bahwa orang yang dicaci tidak membalas cacian orang yang mencacinya, dan ini tidak ada alasan lain kecuali memang sedang berpuasa, bukan karena ketidakmampuannya untuk membalas. Kalau dia tidak melakukannya disebabkan karena ketidakmampuan untuk membalas, maka pihak lain akan meremehkannya dan dia dalam posisi mendapatkan kehinaan. Tetapi kalau dia mengatakan, "Saya sedang berpuasa", seakan-akan dia mengatakan, "Saya bukan tidak mampu membalas cacianmu, tetapi saya sedang berpuasa."

Kedua: Mengingatkan orang itu bahwa orang yang berpuasa tidak diperkenankan mencaci orang lain, dan bisa jadi orang yang mencaci ini adalah orang yang berpuasa, sehingga ucapannya tersebut sekaligus melarang orang tersebut untuk mencaci maki.

Ketiga: Celaan terhadap orang yang mencaci dan menyerang.

Doa Lailatulqadar

Dianjurkan agar berdoa di malam itu dengan doa yang bersumber dari Nabi ﷺ, di antaranya: "Allāhumma innaka 'afuwwun tuḥibbul-'afwa fa-'fu 'annī." (Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku). Ini berdasarkan hadis riwayat Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dia berkata, "Wahai Rasulullah! Jika aku bertepatan mendapatkan lailatulqadar, maka apa doa yang aku baca?" Beliau bersabda, "Bacalah, 'Allāhumma innaka 'afuwun tuḥibbul-'afwa, fa'fu 'annī'." (Ya Allah! Sesungguhnya Engka Maha Pemaaf, dan Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah aku). Demikian juga doa-doa lainnya yang bersumber dari Nabi ﷺ.

Ketahuilah, doa-doa yang datang dari Nabi ﷺ lebih baik dan lebih sempurna daripada doa-doa bersajak yang dibuat oleh manusia.

Kelima: Zikir-Zikir Terkait Haji

Ketika Niat Manasik

Ketika akan melakukan umrah diucapkan, "Labbaikallāhumma 'umratan." (Ya Allah, aku sambut panggilan-Mu untuk melaksanakan ibadah umrah). Ketika akan melakukan haji diucapkan, "Labbaikallāhumma ḥajjan." (Ya Allah, aku sambut panggilan-Mu untuk melaksanakan ibadah haji). Sedangkan ketika akan melakukan haji qirān diucapkan, "Labbaika 'umratan wa ḥajjan." (Aku sambut panggilan-Mu untuk melaksanakan ibadah umrah dan haji).

Catatan: Rasulullah ﷺ tidak pernah mengucapkan ketika akan berihram haji dan umrah: "Allāhuma innī urīdul-'umrah", atau: "Allāhumma innī urīdul-ḥajj". (Ya Allah! Aku hendak umrah, atau Ya Allah! Aku hendak haji).

Ketika Mewakili Orang Lain

Sebaiknya, orang yang bertindak sebagai wakil menyebut langsung nama orang yang mewakilkan dengan mengatakan, "Labbaika 'an fulān." (Aku sambut panggilan-Mu mewakili si polan). Jika yang mewakilkan seorang perempuan, ia mengatakan, "Labbaika 'an ummi fulān." (Aku sambut panggilan-Mu mewakili ummu si polan), atau "Labbaika 'an binti fulān." (Aku sambut panggilan-Mu mewakili binti polan). Seandainya ia niatkan di dalam hati dan tidak menyebutkan namanya maka tidak mengapa.

Menyebutkan Syarat Saat Hendak Ihram

Apabila orang yang hendak berihram merasa khawatir akan ada penghalang yang dapat menghalanginya menyelesaikan manasik, seperti sakit atau lainnya, maka disunahkan agar dia menyatakan syarat ketika berniat ihram, dengan mengucapkan ketika ihram, "In ḥabasanī ḥābisun famaḥillī ḥaiṡu ḥabastanī." (Apabila aku dihalangi oleh suatu rintangan, maka aku bertahalul di tempat Engkau menghentikanku). Hal itu karena Nabi ﷺ datang menemui Ḍubā'ah binti Az-Zubair -raḍiyallāhu 'anhā- lalu beliau bersabda, "Sepertinya engkau ingin turut berhaji?" Dia menjawab, "Demi Allah, aku sedang sakit." Beliau bersabda, Berhajilah dan ucapkan persyaratan. Ucapkanlah, 'Allāhumma, maḥillī ḥaiṡu ḥabastanī'." (Ya Allah, aku bertahalul di tempat Engkau menghentikanku).

Adapun orang yang tidak merasa khawatir akan ada penghalang yang dapat menghalanginya menyelesaikan manasik, maka tidak sepatutnya dia menyatakan persyaratan. karena Nabi ﷺ pernah berihram dan tidak mengucapkan persyaratan, serta tidak memerintahkan setiap orang untuk membuat persyaratan dengan perintah yang bersifat umum.

Faedah membuat persyaratan yaitu ketika ada penghalang maka dia bertahalul dari ihramnya tanpa biaya, yakni tanpa menyembelih hadyu.

Talbiah

"Labbaikallāhumma labbaik, labbaika lā syarīka laka labbaik. Innal-ḥamda wan-ni'mata laka wal-mulka, lā syarīka laka." (Aku penuhi panggilan-Mu, wahai Allah, aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).

Disunahkan untuk bertasbih, bertakbir, dan bertahlil di awal talbiah, dengan mengucapkan: "Subḥānallāhi, wallāhu akbar, labbaikallāhumma labbaik."

Imam Ahmad -raḥimahullāh- meriwayatkan dalam Al-Musnad bahwa Nabi ﷺ dahulu membaca, "Labbaika ilāhal-ḥaqq." (Aku penuhi panggilan-Mu, wahai Tuhan kebenaran).

Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- menambahkan, "Labbaika wa sa'daik, wal-khairu fī yadaik, war-ragbā`u ilaika wal-'amal." (Aku penuhi panggilan-Mu dengan senang hati. Seluruh kebaikan di kedua tangan-Mu. Seluruh keinginan dan perbuatan kepada-Mu).

Ketika seseorang menambahkan kalimat-kalimat semisal ini, kita berharap hal itu tidak masalah, sebagai wujud mengikuti Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, tetapi yang lebih utama ialah tetap mengikuti apa yang datang dari Nabi ﷺ.

Seseorang boleh takbir sebagai ganti talbiah jika pada waktu-waktu takbir, seperti tanggal 10 Zulhijah; berdasarkan ucapan Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, "Kami berhaji bersama Nabi ﷺ. Sebagian kami ada yang bertakbir dan ada yang bertahlil."

Talbiah disyariatkan dalam ibadah umrah sejak berihram hingga ketika akan memulai tawaf, sedangkan dalam ibadah haji, maka sejak berihram hingga ketika akan melontar Jamrah Aqabah pada hari raya (Iduladha).

Disunahkan memperbanyak talbiah, khususnya ketika dalam perubahan keadaan dan waktu, misalnya ketika naik ke tempat yang tinggi atau turun ke tempat yang rendah, atau ketika datang malam atau siang, lalu setelah itu memohon rida dan surga kepada Allah serta memohon perlindungan dengan rahmat-Nya dari api neraka.

Ketika Masuk Masjidilharam

"Bismillāhi waṣ-ṣalātu was-salāmu 'alā rasūlillāh. Allāhummagfir lī żunūbī, waftaḥ lī abwāba raḥmatika. A'ūżu billāhil-'aẓīmi, wa biwaj-hihil-karīmi, wa bisulṭānihil-qadīmi minasy-syaiṭānir-rajīm." (Dengan menyebut nama Allah. Semoga selawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah. Ya Allah! Ampunilah dosa-dosaku dan bukakan untukku pintu-pintu rahmat-Mu. Aku berlindung kepada Allah Yang Mahaagung dan dengan Wajah-Nya yang mulia serta kekuasan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk).

Ketika Memulai Tawaf

Ketika memulai tawaf membaca, "Bismillāhi wallāhu akbar. Allāhumma īmānan bika wa taṣdīqan bi kitābika, wa wafā`an bi 'ahdika, wattibā'an li sunnati nabiyyika muhammadin ṣallallāhu 'alaihi wa sallam." (Dengan menyebut nama Allah, Allah Mahabesar. Yā Allah, aku beriman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, memenuhi janjiku kepada-Mu, dan mengikuti sunnah Nabi-Mu, Muhammad ﷺ).

Adapun di putaran-putaran berikutnya, maka dengan bertakbir setiap kali sejajar dengan Hajar Aswad sebagai wujud mengikuti Rasulullah ﷺ.

Tidak ada doa khusus untuk setiap putaran yang datang dari Nabi ﷺ.

Bacaan di Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad

"Rabbanā ātinā fid-dun-yā ḥasanah wa fil-ākhirati ḥasanah wa qinā 'aẓāban-nār." (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka).

Demikian juga diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau membaca, "Allāhumma innī as`alukal-'afwa wal-'āfiyah." (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan).

Zikir Ketika Menuju Maqam Ibrahim ﷺ

Ketika itu membaca, "Wattakhiżū mim-maqāmi Ibrāhīma muṣallā." (Dan jadikanlah maqām Ibrahim itu tempat salat). (QS. Al-Baqarah: 125).

Zikir Ketika Mendekati Safa

"Innaṣ-ṣafā wal-marwata min sya'ā`irillāh. Abda`u bimā bada`allāhu bihi." (Sesungguhnya Safa dan Marwa merupakan sebagian syi'ar (agama) Allah). (QS. Al-Baqarah: 158). Aku mulai dengan apa yang dimulai oleh Allah. Dan tidak membaca ayat tersebut di selain tempat ini.

Zikir di Safa dan Marwa

Bertakbir dan bertahmid kepada Allah dengan mengangkat kedua tangan sebagaimana yang dilakukan saat berdoa sebanyak tiga kali dengan membaca bacaan yang bersumber dari Sunnah, di antaranya: "Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr. Lā ilāha illallāhu waḥdahu, anjaza wa'dahu, wa naṣara 'abdahu, wa hazamal-aḥzāb waḥdahu." (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya seluruh kerajaan, hanya bagi-Nya segala pujian, Dia berkuasa atas segala sesuatu. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata. Dia telah menunaikan janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan pasukan Ahzab dengan sendiri-Nya). Lalu berdoa dengan doa yang dia inginkan. Kemudian zikir di atas diulang lagi untuk yang kedua kalinya, lalu berdoa dengan doa yang dia inginkan. Kemudian zikir di atas diulang lagi yang ketiga kalinya.

Zikir di Arafah

Doa yang paling banyak dipanjatkan oleh Nabi ﷺ di tempat yang agung tersebut ialah: "Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr." (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Hanya kepunyaan-Nya seluruh kerajaan dan hanya milik-Nya semua pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu).

Orang yang berhaji disunnahkan agar fokus di akhir hari Arafah untuk berdoa, berzikir, dan membaca Al-Qur`an serta antusias terhadap zikir-zikir dan doa-doa yang datang dari Nabi ﷺ, karena doa-doa tersebut termasuk di antara doa-doa yang paling komprehensif dan paling berguna.

Jika dia tidak menguasai doa-doa yang bersumber dari Rasulullah ﷺ, maka dia dapat berdoa dengan doa yang diketahuinya dari doa-doa yang dibolehkan.

Zikir di Masy'arilharam Muzdalifah

Mengesakan Allah, bertahmid, bertakbir, bertahlil, dan berdoa lalu membaca, "Fa iżā afaḍtum min 'Arafāt ...." (Maka apabila kamu bertolak dari Arafah) (QS. Al-Baqarah: 198). Saya tidak mengetahui ada tuntunan untuk membaca kedua ayat tersebut di dalam sunnah, tetapi sesuai situasinya, sebab manusia mengingatkan dirinya dengan apa yang Allah perintahkan di dalam Kitab-Nya.

Zikir Ketika Melontar Jamrah

"Allāhu akbar", yaitu setiap satu lemparan kerikil.

Redaksi Bacaan Takbir Hari Raya

Pertama: Allāhu akbar, allāhu akbar, lā ilāha illallāhu, wallāhu akbar, allāhu akbar, wa lillāhil-ḥamd. (Allah Mahabesar, Allah Mahabesar; tidak ada Tuhan yang hak kecuali Allah. Allah Mahabesar, Allah Mahabesar; hanya bagi Allah seluruh pujian).

Kedua: Allāhu akbar, allāhu akbar, allāhu akbar, lā ilāha illallāhu, wallāhu akbar, allāhu akbar, allāhu akbar, wa lillāhil-ḥamd. (Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar; tidak ada Tuhan yang hak kecuali Allah. Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar; hanya bagi Allah seluruh pujian).

Ketiga: Allāhu akbar, allāhu akbar, allāhu akbar, lā ilāha illallāhu, wallāhu akbar, allāhu akbar, allāhu akbar, wa lillāhil-ḥamd. (Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar; tidak ada Tuhan yang hak kecuali Allah. Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar; hanya bagi Allah seluruh pujian).

Bacaan Ketika Menyembelih Hadyu

"Bismillāhi, wallāhu akbar, allāhumma hāżā minka walak" (Dengan menyebut nama Allah, Allah Mahabesar. Ya Allah, ini berasal dari-Mu dan untuk-Mu). "Minka" (Dari-Mu) yaitu sebagai sebuah pemberian dan rezeki dari-Mu. Sedangkan "walaka" (Untuk-Mu), yaitu sebagai sebuah peribadatan, syariat dan keikhlasan.

Disunahkan untuk mengucapkan: "Allāhumma taqabbal minnī, hāżā 'annī wa 'an ahli baitī." (Ya Allah, terimalah sembelihan ini dariku. Ini untukku dan untuk keluargaku).

BAB KEENAM: ZIKIR-ZIKIR BERSIFAT SITUASIONAL

Zikir Istikharah

Jābir bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhumā- menuturkan, "Rasulullah ﷺ mengajari kami melakukan istikharah dalam segala urusan seperti halnya mengajarkan surah dari Al-Qur`an. Beliau bersabda, 'Apabila ada di antara kalian menginginkan suatu urusan, salatlah dua rakaat di luar salat wajib, kemudian membaca doa: Allāhumma innī astakhīruka bi 'ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as`aluka min faḍlikal-aẓīm, fa innaka taqdiru wa lā aqdir, wa ta'lamu wa lā a'lam, wa anta 'allāmul-guyūb. Allāhumma in kunta ta'lam anna hāżal-amra khairun lī fī dīnī wa ma'āsyī wa 'āqibati amrī -atau beliau mengatakan: 'ājili amrī wa ājilihi- faqdurhu lī, wa yassirhu lī, ṡumma bārik lī fīhi, wa in kunta ta'lamu anna hāżal-amra syarrun lī fī dīnī wa ma'āsyī wa 'āqibati amrī -atau beliau mengatakan: 'ājili amrī wa ājilihi- faṣrifhu 'annī, waṣrifnī 'anhu, waqdur liyal-khaira haiṡu kāna, ṡumma raḍḍinī bihī'. (Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan luasnya ilmu-Mu supaya diberikan pilihan yang terbaik. Dan aku memohon kepada-Mu dengan besarnya kekuasaan-Mu agar diberikan kemampuan. Aku memohon kepada-Mu sebagian dari karunia-Mu yang besar. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedang aku tidak mampu, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha mengetahui yang gaib. Ya Allah! Jika Engkau mengetahui perkara ini lebih baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku -atau beliau mengatakan: dalam dunia dan akhiratku- maka tetapkanlah ia untukku dan mudahkanlah, kemudian berkahilah ia untukku. Jika Engkau mengetahui perkara ini buruk bagi agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku -atau beliau mengatakan: dalam dunia dan akhiratku- maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya, dan tetapkanlah untukku yang lebih baik di mana pun berada, kemudian buatlah aku rida kepadanya.'' (HR. Bukhari).

Istikharah disunahkan ketika menginginkan sesuatu namun tidak diketahui kelebihan antara mengerjakan atau meninggalkannya. Adapun sesuatu yang diketahui kelebihan antara mengerjakan atau meninggalkannya, maka tidak disyariatkan melakukan istikharah padanya. Oleh karena itu, dahulu Nabi ﷺ melakukan banyak hal dan tidak diriwayatkan beliau mengerjakan salat istikharah.

Zikir Safar

a) Ketika meletakkan kaki di kendaraan, membaca "bismillāh". Setelah naik dan berada di atas, ingatlah nikmat Allah yang telah memudahkan kendaraan itu untuknya, lalu membaca, “Allāhu akbar, allāhu akbar, allāhu akbar. Subḥānallażī sakhkhara lanā hāżā wa mā kunnā lahū muqrinīna, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn. Allāhumma innā nas`aluka fī safarinā hāżāl-birra wat-taqwā, wa minal-'amali mā tarḍā. Allāhumma hawwin 'alainā safaranā hāżā waṭwī 'annā bu'dah. Allāhumma antaṣ-ṣāḥibu fis-safari, wal-khalīfatu fil-ahli. Allāhumma innī a'ūżubika min wa'ṡā`is-safar, wa ka`ābatil-manẓar, wa sū`il-munqalabi fil-māli wal-ahli." (Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Mahasuci Allah yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedangkan sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari kiamat). Ya Allah! Sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebajikan, ketakwaan, dan amal perbuatan yang Engkau ridai. Ya Allah! Mudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah! Engkaulah yang menyertai dalam perjalanan dan yang menggantikan di keluarga. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan perubahan yang buruk pada harta dan keluarga). Ketika pulang, membaca doa di atas dan menambahkan, “Āyibūna tā`ibūna 'ābidūn, li rabbinā ḥāmidūn." (Kami kembali kepada Allah, bertobat kepada-Nya, beribadah kepada-Nya, dan hanya kepada Allah kami memuji).

b) Abdullah bin Sarjis -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Apabila Rasulullah ﷺ bepergian, beliau berlindung dari kesulitan safar, duka ketika pulang, "al-ḥaur ba'da al-kaun" (kembali pada keburukan setelah tadinya dalam kebaikan), doa orang yang dizalimi, dan pemandangan yang buruk pada keluarga dan harta." (HR. Muslim).

c) Disunahkan untuk bertakbir setiap kali naik ke tempat yang tinggi dan bertasbih ketika turun ke tempat yang rendah. Anjuran ini berdasarkan perkataan Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Dahulu, ketika menanjak kami bertakbir dan ketika turun kami bertasbih."

Demikian juga di pesawat; Anda bertakbir ketika ia naik, dan Anda bertasbih ketika ia mendarat di bandara.

Penjelasannya, ketika seseorang naik maka ia akan melihat dirinya berada di tempat yang tinggi sehingga mungkin ia merasa dirinya besar, maka ia mengucapkan "Allāhu akbar", yaitu ia menarik dirinya untuk meredahkan diri di hadapan kebesaran Allah ﷻ.

Sedangkan ketika turun, turun itu rendah dan hina, maka ia mengucapkan "Subḥānallāh"; artinya, Aku meyakini kesucian Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dari kerendahan dan kehinaan.

d) Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Apabila Rasulullah ﷺ pulang dari menunaikan haji atau umrah, setiap kali beliau menaiki bukit atau tempat tinggi maka beliau bertakbir tiga kali, kemudian membaca: 'Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr, āyibūna tā`ibūna 'ābidūna sājidūna li rabbinā ḥāmidūn, ṣadaqallāhu wa'dahu wa naṣara 'abdahu wa hazamal-aḥzāba waḥdah'." (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya seluruh kerajaan, hanya bagi-Nya segala pujian, dan Allah berkuasa atas segala sesuatu. Kami kembali kepada Allah, kami bertobat, kami beribadah, dan kami bersujud. Hanya kepada Allah kami memuji. Mahabenar Allah dalam janji-Nya, Dia telah memenangkan hamba-Nya dan mengalahkan pasukan Ahzab sendiri). (Muttafaq 'alaih).

Di dalam riwayat lain, redaksi Muslim, “Apabila beliau pulang dari peperangan dengan pasukan besar ataupun kecil, atau dari menunaikan haji atau umrah ....”

Zikir Naik Kendaraan

Ali bin Rabī'ah meriwayatkan, ia berkata, "Aku telah menyaksikan Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- dibawakan hewan kendaraan agar mengendarainya. Ketika meletakkan kakinya di kaki pelana, ia membaca, 'Bismillāh.' Kemudian setelah berada tegak di atas punggung kendaraannya dia membaca, 'Alḥamdulillāh.' Kemudian ia membaca, 'Subḥānallażī sakhkhara lanā hāżā wa mā kunnā lahu muqrinīn, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn.' (Mahasuci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami). Kemudian ia mengucapkan, 'Alḥamdulillāh' sebanyak tiga kali. Lalu mengucapkan, 'Allāhu Akbar' sebanyak tiga kali. Kemudian mengucapkan, 'Subḥānaka innī ẓalamtu nafsī, fagfir lī, fa innahu lā yagfiruż-żunūba illā anta.' (Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku, karena tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau). Lantas ia tertawa. Maka ia ditanya, 'Wahai Amirulmukminin! Kenapa engkau tertawa?' Ia menjawab, 'Aku pernah melihat Nabi ﷺ melakukan seperti apa yang aku lakukan ini, kemudian beliau tertawa, maka aku bertanya, 'Wahai Rasulullah! Kenapa Anda tertawa?' Beliau bersabda, 'Sesungguhnya Tuhanmu merasa takjub terhadap hamba-Nya ketika ia mengatakan, 'Ampunilah dosa-dosaku.' Allah berfirman, 'Dia (hamba-Ku) tahu bahwa tidak ada yang dapat mengampuni dosanya kecuali Aku'." HR. Abu Daud dan At-Tirmizi; At-Tirmizi berkata, "Hadis ini hasan". Dalam sebagian naskah tertera "Hasan sahih". Redaksi ini riwayat Abu Daud.

Zikir Ketika Singgah di Sebuah Tempat

a) Khaulah binti Ḥakīm -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Siapa pun yang singgah di suatu tempat, lalu dia berdoa: A'ūżubi kalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq (Aku berlindung melalui kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Dia ciptakan), tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya sampai dia beranjak dari tempatnya itu'." (HR. Muslim).

b) Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, ia berkata, "Apabila Rasulullah ﷺ melakukan safar lalu tiba waktu malam, beliau membaca, 'Yā arḍu, rabbī wa rabbukillāh. A'ūżubillāhi min syarriki wa syarri mā fīki, wa syarri mā khuliqa fīki, wa syarri mā yadibbu 'alaiki, wa a'ūżubillāhi min asadin wa aswada, wa minal-ḥayyati wal-'aqrabi, wa min sākinil-baladi, wa min wālidin wa mā walada'." (Wahai bumi! Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah. Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu, kejahatan apa yang ada padamu, dari kejahatan apa yang diciptakan di dalammu, dan kejahatan segala yang merayap di atasmu. Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan singa dan seseorang, kejahatan ular dan kalajengking, kejahatan penghuni negeri ini, dan dari kejahatan yang melahirkan dan yang ia lahirkan).

Zikir Saat Tiba di Suatu Kampung atau Negeri

1) Ṣuhaib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Tidaklah Nabi ﷺ melihat sebuah perkampungan yang ingin beliau datangi kecuali beliau berdoa ketika melihatnya, 'Allāhumma rabbas-samāwātis-sab'i wa mā aẓlalna, wa rabbal araḍīnas-sab'i wa mā aqlalna, wa rabbisy-syayāṭīni wa mā aḍlalna, wa rabbir-riyāḥi wa mā żaraina, fa innā nas`aluka khaira hāżihil-qaryah wa khaira ahlihā, wa nau'ūżubika min syarrihā wa syarri ahlihā wa syarri mā fīhā'." (Ya Allah, Tuhan tujuh lapis langit beserta yang dinaunginya, Tuhan tujuh lapis bumi beserta yang ditopangnya, Tuhan setan-setan dan yang disesatkannya, Tuhan angin beserta semua yang diterbangkannya, kami memohon kepada-Mu kebaikan perkampungan ini dan kebaikan penghuninya, serta kami berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan penghuninya serta keburukan semua yang ada padanya). (HR. An-Nasā`i).

2) Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Kami pulang bersama Nabi ﷺ, dan ketika kami telah sampai di luar Madinah, beliau membaca, 'Āyibūna tā`ibūna 'ābidūna li rabbinā ḥāmidūn'." (Kami kembali kepada Allah, kami bertobat, dan kami beribadah. Hanya kepada Allah kami memuji). (HR. Muslim).

3- Biasanya ketika Nabi ﷺ tiba di sebuah negeri, beliau membaca, "Allāhumma ḥabbibnā ilā ahlihā wa ḥabbib ṣāliḥī ahlihā ilainā." (Ya Allah, jadikanlah kami dicintai penduduknya dan jadikanlah kami mencintai orang-orang yang saleh di antara penduduknya). Tetapi hadis ini daif.

Zikir Melihat Hilal

Ṭalḥah bin Ubaidillah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa ketika Nabi ﷺ melihat hilal, beliau membaca, "Allāhumma ahillahu 'alainā bil-`amni wal-īmān, was-salāmati wal-islām. Rabbī wa rabbukallāh, hilālu rusydin wa khairin." (Ya Allah! Terbitkanlah hilal ini kepada kami bersama keamanan dan keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah (wahai bulan). Semoga menjadi hilal petunjuk dan kebaikan). (HR. At-Tirmizi dan dia berkata, "Hadis hasan").

Ketika Angin Berhembus Kencang

Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Apabila angin berhembus kencang, Rasulullah ﷺ membaca, 'Allāhumma innī as`aluka khairahā, wa khaira mā fīhā, wa khaira mā ursilat bih, wa a'ūżubika min syarrihā, wa syarri mā fīhā, wa syarri mā ursilat bih.' (Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya, kebaikan yang terkandung di dalamnya, dan kebaikan yang dengannya ia dikirim. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburukan yang terkandung di dalamnya, dan keburukan yang dengannya ia dikirim)." (HR. Muslim).

Ketika Halilintar Menggelegar

a) Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa apabila Rasulullah ﷺ mendengar suara guruh dan halilintar beliau membaca, "Allāhumma lā taqtulnā bigaḍabika, wa lā tuhliknā bi 'ażābika, wa 'āfin‎‎ā qabla żālika." (Ya Allah! Jangan bunuh kami dengan murka-Mu, jangan binasakan kami dengan siksa-Mu, dan maafkanlah kami sebelum itu).

b) Diriwayatkan dari Abdullah bin Az-Zubair -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa dia membaca, "Subḥāna man yusabbiḥur-ra'du biḥamdihi, wal-malā`ikatu min khīfatih." (Mahasuci Tuhan, petir dan para malaikat bertasbih kepada-Nya serta memuji-Nya, karena rasa takut kepada-Nya).

Ketika Hujan Lebat

Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, "Ada seorang laki-laki masuk masjid di hari Jumat saat Rasulullah ﷺ berdiri menyampaikan khotbah kepada para sahabat, dia berkata, 'Wahai Rasulullah, hewan ternak telah binasa dan jalan-jalan terputus, maka berdoalah kepada Allah agar menurunkan hujan untuk kami.' Lantas Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya kemudian berdoa, 'Allāhumma agiṡnā, allāhumma agiṡnā, allāhumma agiṡnā.' (Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami! Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami! Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami!) Anas berkata, “Demi Allah! Sebelumnya kami tidak melihat awan sedikit pun, padahal tiada satu rumah pun, baik rumah besar maupun kecil, yang menghalangi antara tempat kami dan gunung Sala’, mendadak dari balik gunung muncul awan tebal seperti perisai. Ketika awan itu berada di tengah-tengah langit, dengan cepat ia menyebar, kemudian hujan turun. Demi Allah! Kami tidak melihat matahari selama seminggu. Kemudian seorang lelaki masuk dari pintu yang sama di hari Jumat berikutnya saat Rasulullah ﷺ sedang berdiri menyampaikan khotbah. Laki-laki itu menghadap Rasulullah seraya berkata, 'Wahai Rasulullah! Hewan ternak telah binasa dan jalan-jalan terputus, berdoalah kepada Allah untuk menghentikan hujan ini.' Maka Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya lalu berdoa, 'Allāhumma ḥawālainā wa lā 'alainā, allāhumma 'alal-ākām waẓẓirāb wa buṭūnil-audiyati wa manābitisy-syajar.' (Ya Allah! Turunkan hujan ini di sekitar tempat kami dan jangan turunkan sebagai bencana untuk kami. Ya Allah! Pindahkanlah ia ke gunung, bukit, lembah, dan tempat-tempat tumbuhnya pepohonan). Anas berkata, "Seketika itu hujan berhenti dan kami pun keluar dari masjid, berjalan di bawah terik matahari."

BAB KETUJUH: SELAWAT KEPADA NABI ﷺ

TC "Keutamaan Selawat Kepada Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam" \2" I\ C f" Keutamaan Selawat Kepada Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam:

Allah -Ta'ālā- berfirman, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Aḥzāb: 56).

Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang berselawat kepadaku satu selawat, maka Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali." (HR. Muslim).

Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang yang paling berhak mendapat syafaatku pada hari kiamat adalah yang paling banyak berselawat kepadaku." (HR. At-Tirmizi dan dia berkata, "Hadis hasan").

Aus bin Aus -raḍiyallāhu 'anhu-meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya hari-hari terbaik kalian adalah hari Jumat. Maka perbanyaklah bacaan selawat kepadaku pada hari itu, karena selawat kalian akan diperlihatkan kepadaku." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Bagaimana selawat kami diperlihatkan kepada Anda sementara jasad Anda telah hancur?" Beliau bersabda, "Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi." (HR. Abu Daud dengan sanad sahih).

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan. Ucapkanlah selawat kepadaku, karena sesungguhnya ucapan selawat kalian akan sampai kepadaku di mana saja kalian berada." (HR. Abu Daud dengan sanad sahih).

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada seorang pun yang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah akan mengembalikan rohku kepadaku hingga aku membalas salamnya." (HR. Abu Daud dengan sanad sahih).

Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang bakhil itu adalah orang yang saat namaku disebut di dekatnya namun ia tidak berselawat kepadaku." (HR. At-Tirmizi dan dia berkata, "Hadis hasan sahih").

Faḍālah bin 'Ubaid -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah ﷺ mendengar seseorang berdoa dalam salatnya tanpa memuji Allah -Ta'ālā- dan tanpa berselawat kepada Nabi ﷺ, maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang ini telah terburu-buru.” Kemudian beliau memanggilnya lalu berkata kepadanya -atau kepada selainnya-, "Apabila seseorang di antara kalian berdoa, hendaklah dimulai dengan memuja dan memuji Allah, kemudian hendaklah membaca selawat untuk Nabi ﷺ, setelah itu silakan berdoa sekehendaknya.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi; At-Tirmidzi berkata, "Hadis hasan sahih").

Ubay bin Ka'ab -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan, "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku banyak berselawat kepadamu, maka berapa banyak aku harus berselawat untukmu dalam doaku?' Beliau menjawab, 'Sekehendakmu saja.' Aku bertanya, 'Seperempat?' Beliau menjawab, 'Sekehendakmu, tetapi kalau engkau tambah maka itu lebih baik bagimu.' Aku bertanya lagi, 'Bagaimana kalau setengahnya?' Beliau menjawab, 'Sekehendakmu, tetapi kalau engkau tambah maka itu lebih baik lagi untukmu.' Aku bertanya lagi, 'Kalau begitu, dua pertiganya bagaimana?' Beliau menjawab, 'Sekehendakmu saja, tetapi kalau engkau tambah maka itu lebih baik untukmu.' Aku berkata, 'Aku akan menjadikan semua waktu doaku untuk berselawat kepadamu.' Beliau bersabda, 'Jika demikian maka akan dihilangkan kegelisahanmu serta diampuni dosamu'."

Seandainya seseorang menjadikan semua doa yang dipanjatkannya disertai dengan selawat kepada Nabi ﷺ, niscaya akan dihilangkan kegelisahannya serta diampuni dosanya, sebagaimana disebutkan dalam hadis ini.

Selawat kepada Nabi ﷺ wajib dalam beberapa situasi dan kondisi, di antaranya:

1- Ketika nama beliau disebutkan di sisi Anda; karena Rasulullah ﷺ bersabda, "Terhinalah seseorang yang namaku disebut di sisinya namun ia tidak berselawat padaku."

2- Ketika tasyahud akhir di dalam salat. Menurut kebanyakan ulama ia adalah rukun, sehingga salat tidak sah kecuali dengannya. Menurut sebagian yang lain hukumnya sunah, dan sebagian yang lain lagi berpendapat hukumnya wajib. Dan sebagai sikap hati-hati, sebaiknya seseorang tidak meninggalkannya di dalam salatnya.

TC "Redaksi Selawat Kepada Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam" \2" I\ C f" Redaksi Selawat Kepada Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam:

1- Ka'ab bin 'Ujrah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Nabi ﷺ keluar menemui kami, maka kami berkata, 'Wahai Rasulullah! Sungguh kami telah mengetahui bagaimana mengucapkan salam kepada Anda, lantas bagaimana kami berselawat kepada Anda?' Beliau bersabda, 'Ucapkanlah: Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā ṣallaita 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Allāhumma bārik 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā bārakta 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd'." (Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan selawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Sang Maha Terpuji lagi Mahamulia. Dan curahkanlah keberkahan atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau mencurahkan keberkahan atas keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia). (Muttafaq 'alaih).

2- Abu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang menemui kami ketika kami di majelis Sa'ad bin 'Ubadah -raḍiyallāhu 'anhu-. Lalu Basyīr bin Sa'ad berkata kepada beliau, 'Allah telah memerintahkan kami untuk berselawat kepada Anda, lalu bagaimanakah kami berselawat kepada Anda?' Rasulullah ﷺ diam, sehingga kami berharap andaikan dia tidak pernah bertanya. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, 'Ucapkanlah: Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā ṣallaita 'alā āli ibrāhīm, wa bārik 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā bārakta 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.' (Ya Allah! Limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan selawat kepada keluarga Ibrahim. Dan curahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau mencurahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia).' Sedangkan ucapan salam, adalah seperti yang telah kalian ketahui." (HR. Muslim).

3- Abu Ḥumaid As-Sā'idiy -raḍiyallāhu 'anhu- bercerita, para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Bagaimanakah kami berselawat kepadamu?" Beliau bersabda, "Ucapkanlah: Allāhumma ṣalli 'alā Muḥammad, wa 'alā azwājihi wa żurriyyatihi, kamā ṣallaita 'alā āli Ibrāhīm. Wa bārik 'alā Muḥammad, wa 'alā azwājihi wa żurriyyatihi, kamā bārakta 'alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd." (Ya Allah! Limpahkanlah selawat pada Muhammad beserta istri dan anak keturunannya, sebagaimana Engkau melimpahkan selawat pada keluarga Ibrahim. Dan curahkanlah keberkahan kepada Muhammad beserta istri dan anak keturunannya, sebagaimana Engkau mencurahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia). (Muttafaq 'alaih).

Allāhumma ṣalli 'alā Muḥammad (Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad); maksudnya: Ya Allah, pujilah ia di hadapan para pemuka makhluk tertinggi. Yaitu sebutlah ia dengan sifat-sifat terpuji. Sedangkan pemuka makhluk tertinggi yaitu para malaikat. Ketika Anda mengucapkan: "allāhumma ṣalli 'alā Muḥammad", seolah-olah Anda sedang mengatakan: Ya Tuhan kami, pujilah ia dengan sifat-sifat terpuji, dan sebutlah ia di sisi para malaikat sehingga mereka bertambah cinta kepadanya serta pahalanya bertambah dengan sebab itu.

Wallāhu a'lam. Segala puji bagi Allah, dengan karunia-Nya kebaikan-kebaikan terwujudkan. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam serta keberkahan kepada Nabi kita Muhammad beserta seluruh keluarga dan sahabat-sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.