رسالة في الدعوة إلى الله

رسالة في الدعوة إلى الله

رسالة لطيفة في بيان أحكام الدعوة إلى الله، وحكمها وفضلها ووسائلها وكيفيتها ومجالها، مع تفصيل للصفات والأفعال التي ينبغي للداعية أن يتخلق بها، وختمت ببيان الأسباب المعينة على نجاحها بين المدعوين.

Language: lang_id
Prepared by:
Version: 1.0
Translations 5
English Spanish Persian Indonesian +1
Attachments 7
PDF
Audio
Video
+3

PANDUAN RINGKAS DALAM BERDAKWAH

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

MUKADIMAH Penyusun -raḥimahullāh- menyusun tulisan ini pada saat menghadiri Muktamar Internasional Pembekalan Dakwah Dan Kaderisasi Dai yang diadakan di Universitas Islam Madinah pada tanggal 24-29 Safar 1397 H.

Segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta bertobat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan dari keburukan amal kita. Siapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, tidak akan ada yang bisa menyesatkannya. Sebaliknya, siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada beliau beserta keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan semua yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat.

Amabakdu:

Kedudukan dakwah kepada Allah -Ta'ālā- sangat besar dan tinggi karena merupakan kedudukan orang-orang pilihan Allah -Ta'ālā- dari kalangan para rasul mulia serta para penerus mereka yang diberi petunjuk, yang menggantikan mereka dalam mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan mendakwahkannya. Sudah seharusnya kita mengarahkan kemampuan yang kita miliki pada hal ini serta memperjuangkannya dengan maksimal sembari mengikhlaskan hati kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya ﷺ supaya usaha kita diberikan pahala dan diterima oleh Allah.

Pembahasan ini saya susun sesuai dengan pasal-pasal berikut:

Pasal Pertama: Kewajiban Berdakwah dan Penjelasan Keutamaannya

Pasal Kedua: Sarana-sarana Dakwah dan Tata Caranya

Pasal Ketiga: Ruang Lingkup Dakwah

Pasal Keempat: Sifat-sifat dan Perilaku yang Harus Dimiliki Oleh Dai

Pasal Kelima: Penyebab Keberhasilan Dakwah

Hanya kepada Allah, kita memohon petunjuk.

Penulis

PASAL PERTAMA

KEWAJIBAN BERDAKWAH DAN PENJELASAN KEUTAMAANNYA

Dakwah kepada Allah -Ta'ālā- adalah ajakan kebaikan dan kebenaran karena ia mengajak kepada keadilan dan perbuatan baik serta menyeru kepada sesuatu yang sesuai dengan fitrah yang lurus, dibenarkan oleh akal sehat, dan disenangi oleh jiwa yang suci.

Ia merupakan ajakan untuk mengimani Allah -Ta'ālā- dan semua akidah yang lurus, yang dapat dirasakan dengan tenteram oleh hati serta diterima dengan lapang oleh dada. Ia adalah ajakan untuk menauhidkan Allah dalam rububiah, uluhiah, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta ajakan untuk meyakini bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- Maha Esa dalam rububiah-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya; tidak ada pencipta maupun pengatur pada alam semesta ini secara mutlak kecuali Allah semata. Dengan keyakinan tersebut, ketergantungan hati kepada selain Allah -Ta'ālā- menjadi putus, lalu rasa takut, harap, dan tawakal hanya ditujukan kepada Allah ﷻ. Dakwah kepada Allah -Ta'ālā- ialah ajakan untuk meyakini bahwa tidak ada hakim terhadap para hamba dan di antara mereka kecuali Allah semata melalui takdir yang ditetapkan-Nya serta syariat-syariat yang diturunkan-Nya. Dengan keyakinan tersebut, semua upaya berhukum kepada selain syariat Allah menjadi putus, dan semua keputusan yang menyelisihi hukum Allah dan Rasul-Nya dibuang, karena semua hukum yang menyelisihinya adalah kezaliman dan kebatilan lantaran mendatangkan kerusakan bagi negeri dan umat manusia. "Tidak ada yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin." (QS. Al-Mā`idah: 50)

Dengan keyakinan tersebut, semua hamba tunduk kepada hukum syariat Allah serta melaksanakannya menurut yang diinginkan oleh Allah, baik ia sejalan dengan kemauan mereka ataupun berbeda. Mereka juga tunduk kepada ketetapan takdir Allah karena ketetapan Allah pasti terjadi pada mereka, dan mereka pun berserah diri kepadanya, baik mereka rida ataupun benci. "Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi tunduk kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan!?" (QS. Āli `Imrān: 83)

Dakwah kepada Allah -Ta'ālā- ialah ajakan untuk beribadah kepada Allah semata dengan penuh iman dan yakin bahwa tidak ada satu pun selain-Nya yang berhak diibadahi, baik malaikat, nabi, maupun wali dan yang lainnya; karena Allah adalah Pencipta satu-satunya, maka Dialah satu-satunya yang berhak diibadahi.

Dakwah kepada Allah ialah ajakan untuk mengimani secara bulat semua nama-nama dan sifat-sifat Allah -Ta'ālā-, baik yang disebutkan melalui Kitābullāh ataupun Sunnah Rasulullah ﷺ. Semua sifat-Nya adalah sifat-sifat hakiki dan sahih bagi Allah menurut yang patut dengan-Nya, tanpa diselewengkan maupun ditolak, dan tanpa diberikan kaifiat maupun permisalan: "Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat." (QS. Asy-Syūrā: 11)

Dakwah kepada Allah -Ta'ālā- ialah ajakan untuk mengikuti jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah dari kalangan para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Ia adalah jalan Allah yang diletakkan untuk hamba-hamba-Nya, yang akan mengantarkan mereka kepada-Nya serta memperbaiki urusan agama dan dunia mereka.

Dengan mengikuti jalan yang lurus tersebut, terputuslah semua jalan bidah yang para penganutnya saling menyesatkan satu sama lain, saling tercerai-berai dari agama Allah, dan mengikuti jalan yang tidak diperintahkan oleh Tuhan mereka dalam firman-Nya: "Bahwa (yang diperintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-An'ām: 53) Lalu mereka terjatuh ke dalam larangan berpecah-belah yang Allah larang tersebut. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Dia (Allah) telah mensyariatkan padamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya." (QS. Asy-Syūrā: 13)

Dakwah kepada Allah -Ta'ālā- ialah ajakan kepada akhlak mulia, perbuatan baik, penjagaan hak, dan penegakan keadilan di tengah-tengah manusia dengan memberikan hak setiap orang dan menempatkannya pada tempat yang berhak didapatkannya. Dengan cara seperti itu, persaudaraan dan saling cinta di antara orang-orang mukmin akan terwujud, keamanan yang sempurna serta ketertiban paripurna dalam bingkai syariat Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- akan terealisasi. Sebaliknya, semua akhlak rendahan, perbuatan buruk, serta peraturan-peraturan jahiliah yang diturunkan dari undang-undang buatan manusia dan akidah-akidah yang batil akan terkikis. Bahkan, semua kalangan yang melakukannya dan mengajak orang lain kepadanya serta berupaya untuk memalingkan hamba Allah dari jalan-Nya kepada jalan mereka akan tunduk hina.

Disebabkan karena perkara-perkara ini dan berbagai kemaslahatan lainnya serta juga untuk menolak berbagai kerusakan, maka dakwah memiliki kedudukan besar dalam Islam, dan orang yang menegakkannya menjadi ahli waris para rasul yang mulia dalam hal tersebut. Banyak sekali dalil Al-Qur`ān dan Sunnah yang memerintahkan untuk berdakwah serta menjelaskan keutamaannya:

Allah -Ta'ālā- berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ, "Bagi setiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang (harus) mereka amalkan, maka tidak sepantasnya mereka berbantahan dengan engkau dalam urusan (syariat) ini, dan ajaklah (mereka) kepada Tuhanmu. Sungguh, engkau (Muhammad) berada di jalan yang lurus." (QS. Al-Ḥajj: 67)

Allah -Ta'ālā- berfirman, "Jangan sampai mereka menghalang-halangi engkau (Muhammad) untuk (menyampaikan) ayat-ayat Allah, setelah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan ajaklah (manusia) agar (beriman) kepada Tuhanmu, dan janganlah engkau termasuk orang-orang musyrik." (QS. Al-Qaṣaṣ: 87)

Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dia (Allah) telah mensyariatkan padamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu dakwahkan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya). Mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka ilmu (kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka. Jika tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dahulunya dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pastilah hukuman atas mereka telah dilaksanakan. Sesungguhnya orang-orang yang mewarisi Kitab (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Muhammad), benar-benar berada dalam keraguan yang mendalam tentang Kitab (Al-Qur`ān) itu. Karena itu, ajaklah (mereka untuk beriman) dan tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti keinginan mereka dan katakanlah, 'Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu.'" (QS. Asy-Syūrā: 13-15)

Allah -Ta'ālā- berfirman, "Hendaklah di antara kalian ada segolongan orang yang mengajak kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat." (QS. Āli 'Imrān: 104-105)

Allah -Ta'ālā- berfirman, "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, 'Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri).'" (QS. Fuṣṣilat: 33)

Dalam aṣ-Ṣaḥīḥain, Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mengutus Mu'āż ke Yaman dan memerintahkannya untuk mendakwahi penduduknya kepada Islam, menegakkan salat, dan menunaikan zakat. Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ berkata kepada Ali bin Abī Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- pada waktu perang Khaibar, "Majulah secara perlahan-lahan sampai engkau tiba di arena mereka, lalu serulah mereka kepada Islam dan beritahukan kepada mereka tentang kewajiban yang harus ditunaikan terkait hak Allah -Ta'ālā-. Demi Allah! Bila Allah memberi hidayah kepada seseorang lewat perantaramu, itu lebih baik bagimu dari unta merah." (Muttafaq 'Alaih)

Tamīm bin Aus ad-Dāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Agama ini adalah nasihat." Kami bertanya, "Untuk siapa, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk rasul-Nya, dan untuk pemimpin-pemimpin umat Islam serta masyarakat umumnya." (HR. Muslim)

Dakwah termasuk nasihat untuk Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.

Abū Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang mengajak kepada petunjuk (kebajikan), maka ia mendapatkan pahala sebesar pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosa sebesar dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun." (HR. Muslim)

Ayat-ayat dan hadis-hadis ini menunjukkan kewajiban berdakwah serta keutamaannya. Dakwah itu sangat utama karena besarnya kebaikan yang dilahirkannya berupa penyampaian dan penjagaan syariat Allah serta tercapainya kemaslahatan besar bagi umat manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat mereka, demikian juga dalam urusan agama dan dunia mereka, serta terangkatnya keburukan yang besar dari mereka bila mereka menerima dan mengamalkannya. Hanya kepada Allah, kita memohon taufik.

PASAL KEDUA

SARANA-SARANA DAKWAH DAN TATA CARANYA

Yang saya maksud dengan sarana dakwah ialah media-media yang dapat dimanfaatkan oleh dai untuk menyampaikan dakwahnya. Sarana dakwah terbagi menjadi tiga macam, masing-masing memiliki keutamaan tersendiri:

Pertama:

Komunikasi verbal yang bersifat langsung; yaitu seorang dai bertemu dan berbicara langsung dengan orang-orang yang didakwahi, lalu memberi mereka penjelasan tentang hakikat, keutamaan, dan manfaat dakwahnya, baik yang dapat disaksikan langsung maupun yang dijanjikan.

Kelebihan dakwah jenis ini: seorang dai dapat mengetahui sejauh mana penerimaan orang yang didakwahi serta kelapangan dada mereka terhadap dakwah yang disampaikannya melalui raut muka mereka, untuk selanjutnya dia menyikapi mereka sesuai dengan keadaan mereka. Ia juga dapat berdiskusi secara langsung sehingga mereka dapat menerima dakwah dan meyakini kebenarannya. Dakwah jenis ini umumnya memiliki pengaruh lebih kuat dibandingkan dengan jenis dakwah berikut ini.

Kedua:

Komunikasi verbal yang bersifat tidak langsung; seperti dakwah lewat media radio.

Kelebihan jenis ini: ia lebih merata dan lebih luas jangkauannya dibandingkan dengan sebelumnya lantaran ia mampu menjangkau apa yang tidak bisa dijangkau lewat komunikasi langsung.

Ketiga:

Media tulisan dengan cara menulis dan menerbitkannya di koran, majalah, spanduk, dan media lainnya.

Kelebihan jenis ini: orang yang didakwahi dapat memahami dakwah yang disampaikan kepadanya dengan cara membaca berulang-ulang serta merenungkan keutamaan dan manfaatnya.

Adapun cara berdakwah dari sisi penyampaiannya, maka ia berbeda-beda sesuai keadaan orang-orang yang didakwahi. Keadaan orang-orang yang didakwahi ada tiga, yaitu:

Pertama: orang yang menginginkan kebaikan dan menyambutnya, tetapi mungkin dia tidak mengetahuinya atau samar baginya. Orang yang seperti ini cukup dengan disampaikan materi dakwah padanya.

Misalnya dengan mengatakan: ini termasuk yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka kerjakanlah. Atau: ini termasuk yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tinggalkanlah.

Ini disebabkan adanya keinginan dirinya terhadap kebaikan, maka dia akan menerima dan menaatinya.

Kedua: orang yang memiliki kelalaian dan rasa jenuh terhadap kebaikan, bahkan sebaliknya menyambut serta menyenangi keburukan!

Orang seperti ini tidak cukup hanya diajak, tetapi harus ditambahkan kepadanya nasihat yang baik dengan memotivasinya pada kebaikan, menjelaskan padanya keutamaannya serta pahalanya, dan memberikannya contoh-contoh untuk hasil yang terpuji. Demikian juga nasihat yang baik dengan memberinya peringatan terhadap keburukan dan kefasikan, menjelaskan dosanya serta buruknya hasilnya, dan memberikan contoh-contoh untuk hasil yang buruk bagi orang-orang yang fasik: "Kemudian, azab yang lebih buruk adalah kesudahan bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan; karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olokkannya." (QS. Ar-Rūm: 10)

Ketiga: orang yang memiliki kecenderungan berpaling dari kebaikan dan sebaliknya menyambut keburukan serta membelanya.

Orang yang seperti ini tidak cukup diajak dan dinasihati, tetapi harus ditambahkan dengan mendebatnya dengan cara yang terbaik. Bersikap baiklah dalam berdebat dan menjelaskan kebenaran supaya dalilnya kalah dan metodenya takluk.

Tiga keadaan ini telah diisyaratkan oleh firman Allah -Ta'ālā-: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik." (QS. An-Naḥl: 125)

Syekh Islam Ibnu Taimiyah -raḥimahullāh- berkata,

"Manusia terbagi menjadi tiga: orang yang mengakui kebenaran dan mengikutinya, maka orang yang seperti ini haknya ialah diajak dengan hikmah; atau orang yang mengakui kebenaran tetapi tidak mengamalkannya, maka orang yang seperti ini haknya dinasihati supaya dia beramal; atau orang yang tidak mengakuinya, maka orang yang seperti ini haknya untuk didebat dengan cara yang lebih baik karena perdebatan berpotensi menyulut amarah, sehingga ketika dilakukan dengan yang lebih baik maka akan terwujud manfaatnya semaksimal mungkin, sama seperti melumpuhkan orang yang mau mencelakai."

Bila orang yang didakwahi setelah perdebatan dengan cara yang terbaik bersikap objektif dan mengakui kebenaran serta tunduk kepadanya, maka dicukupkan dengan yang demikian itu. Tetapi jika tidak, maka kita pindah pada cara berikut:

Keempat: Diisyaratkan oleh firman Allah -Ta'ālā-: "Janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka." (QS. Al-'Ankabūt: 46)

Ibnu Katsīr -raḥimahullāh- berkata, "Yaitu mereka menyimpang dari jalan kebenaran, tidak melihat jalan yang terang, serta membangkang dan bersikap sombong. Maka ketika itu, dialihkan dari perdebatan kepada penyerangan, yaitu mereka diserang dengan sesuatu yang akan menghentikan dan menahan mereka."

Cara yang keempat ini bisa jadi bukan tugas individu yang tidak memiliki kuasa karena cara ini ketika ditempuh oleh orang-orang yang bukan pemilik kuasa akan melahirkan kekacauan yang membawa banyak keburukan dan kerusakan besar.

Inilah empat cara berdakwah dilihat dari sisi metode penyampaiannya, yaitu dengan mempertimbangkan keadaan orang yang didakwahi dari sisi kesiapannya untuk menerimanya atau menolaknya.

Adapun cara berdakwah dilihat dari sisi urutan konten yang disampaikan, maka dimulai dari yang paling penting dan asas yang menjadi pengantar untuk yang selanjutnya. Orang yang didakwahi dibawa berpindah tahap demi tahap dalam konten dakwah tersebut.

Contohnya: jika kita akan mendakwahi orang yang mengingkari eksistensi Khalik -Subḥānahu wa Ta'ālā- supaya dia mengakuinya, menyembah-Nya dan mengikuti utusan-Nya. Maka kita mulai bersamanya dengan menetapkan adanya Khalik, yaitu dengan menyebutkan dalil-dalil logika serta memberikan contoh-contoh riil yang menunjukkan adanya Khalik -Subḥānahu wa Ta'ālā- sampai dia mengakui dan membenarkannya dan bahwa Dia semata yang menciptakan, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Kemudian kita menggiringnya pada penetapan uluhiah (keilahian) Allah serta kewajiban beribadah kepada-Nya, karena mengakui rububiah Allah melazimkan untuk mengakui uluhiah-Nya. Oleh karena itu, Allah sering melazimkannya dalam Al-Qur`ān, semisal firman-Nya: "Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelum kamu." (QS. Al-Baqarah: 21) Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- juga mengingkari orang yang menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang tidak pernah menciptakan; seperti dalam firman-Nya: "Mengapa mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu (berhala) yang tidak dapat menciptakan apa pun? Padahal (berhala) itu sendiri diciptakan." (QS. Al-A'rāf: 191) Juga firman Allah -Ta'ālā-: "Namun mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia (untuk disembah), padahal mereka (tuhan-tuhan itu) tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan, dan tidak kuasa untuk (menolak) bahaya terhadap dirinya dan tidak dapat (mendatangkan) manfaat serta tidak kuasa mematikan, menghidupkan, dan tidak (pula) membangkitkan." (QS. Al-Furqān: 3)

Kemudian kita mengalihkannya pada penetapan metode menuju peribadatan kepada-Nya serta kewajiban untuk menempuhnya, yaitu jalan para rasul yang diutus oleh Allah -Ta'ālā- kepada umat manusia serta diteguhkan dengan berbagai mukjizat; agar mereka mengajari umat manusia apa yang berguna bagi mereka berupa perkara gaib serta menjelaskan kepada mereka cara beribadah kepada Allah ﷻ karena ibadah adalah hak Allah yang diwajibkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya mengikuti cara yang diridai-Nya pada mereka. Tentunya, mereka tidak mungkin mengetahui hal itu kecuali melalui para rasul. Bila dia telah mengakui bahwa beribadah kepada Allah mengharuskan adanya jalan yang dilalui -dan yang demikian itu tidak dapat diketahui kecuali melalui jalan para rasul-, maka kita membawanya berpindah kepada jalan yang lebih khusus, yaitu jalan rasul tertentu yang wajib diikuti, yaitu Rasulullah, Muḥammad bin Abdullah al-Qurasyiy al-Hāsyimiy yang diutus kepada segenap manusia.

Kita jelaskan kepadanya ayat-ayat yang menunjukkan hal itu dan bahwa iman kepadanya mengandung unsur iman kepada rasul-rasul sebelumnya, tetapi tidak sebaliknya. Jika dia telah mengakui hal itu, maka kita membawanya berpindah kepada perincian yang dibawa oleh syariat Nabi ﷺ supaya dia mengakuinya dan berkomitmen untuk mengamalkannya, dimulai dari yang paling penting secara berurutan, seperti salat, kemudian zakat, dan demikian seterusnya.

PASAL KETIGA

RUANG LINGKUP DAKWAH

Maksud ruang lingkup dakwah ialah bidangnya yang beraneka ragam karena dakwah tidak terbatas pada satu bidang tertentu, melainkan memiliki banyak bidang, di antaranya:

1- Interaksi personal; yaitu seorang dai mendatangi orang tertentu lalu mendakwahinya kepada Allah -Ta'ālā- sesuai cara yang telah dijelaskan sebelumnya pada pasal kedua, dari sisi metode penyampaian maupun urutan konten.

2- Tempat-tempat umum; seperti di masjid dan pada momen-momen perkumpulan seperti musim haji, tempat pertemuan, kedai, rumah makan, dan semisalnya sesuai dengan tuntutan maslahat dan kebutuhan. Oleh karena itu, Nabi ﷺ menawarkan diri ke kabilah-kabilah pada pertemuan dan perkumpulan mereka di setiap musim haji dengan tujuan mendakwahi mereka kepada Allah -Ta'ālā-. Imam Ahmad -raḥimahullāh- meriwayatkan dari Rabī'ah bin 'Abbād ad-Dailiy bahwa dia mengisahkan: Aku melihat Nabi ﷺ di perkumpulan żil majāz sambil berkata, "Wahai sekalian manusia! Ucapkanlah: Lā ilāha illallāh, niscaya kalian beruntung." Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- juga meriwayatkan: Nabi ﷺ menawarkan diri kepada jemaah haji di tempat wukuf lalu berkata, "Adakah yang mau membawaku kepada kaumnya? Karena orang-orang Quraisy menghalangiku dari menyampaikan firman Tuhanku ﷻ." Ibnu Kaṡīr -raḥimahullāh- berkata, "Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmizi, Nasai, dan Ibnu Majah; Tirmizi berkata, 'Hasan sahih'."

Ibnu Isḥāq berkata, "Rasulullah ﷺ biasa seperti itu. Setiap kali orang-orang berkumpul di musim haji, beliau mendatangi kabilah-kabilah untuk mendakwahi mereka kepada Allah ﷻ dan kepada Islam serta menawarkan diri kepada mereka dan menawarkan petunjuk dan rahmat yang beliau bawa. Setiap kali beliau mendengar ada seseorang yang memiliki kedudukan dari bangsa Arab datang ke Makkah maka beliau mendatanginya untuk mendakwahinya kepada Allah dan menawarkan agama yang beliau bawa."

3- Tempat-tempat belajar; seperti akademi, sekolah, dan universitas, baik melalui kuliah dan seminar umum maupun pelajaran-pelajaran yang khusus. Seorang guru yang ikhlas untuk agamanya dapat berdakwah kepada Allah -Ta'ālā- dengan bahasa lisannya melalui penyampaian pelajaran, atau dengan perbuatannya berupa ibadah, muamalah yang tulus, dan semisalnya karena seorang guru adalah teladan bagi murid-muridnya. Perbuatan dan akhlaknya akan terpatri dalam benak mereka dan tampak pada perbuatan dan akhlak mereka.

*

PASAL KEEMPAT

SIFAT-SIFAT DAN PERILAKU YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG DAI

Kedudukan seorang dai adalah kedudukan pemimpin yang penting. Ia seharusnya menjunjung dan memperhatikannya. Supaya hal itu terwujud, hendaklah dia memperhatikan hal-hal berikut:

1- Ikhlas kepada Allah -Ta'ālā- dalam amalnya.

Maksudnya adalah ia meniatkan dakwahnya untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, membela agama-Nya, dan memperbaiki hamba-hamba-Nya dengan mengeluarkan mereka dari gelapnya kejahilan dan kemaksiatan kepada cahaya ilmu dan ketaatan, sehingga dakwahnya lahir dari kecintaan kepada Allah dan kepada agama-Nya serta menginginkan kebaikan untuk seluruh manusia.

Dakwah yang lahir dari keikhlasan yang disertai kekuatan dan tekad serta berserah diri kepada Allah pasti akan memberikan buah dan melahirkan hasil. Tidakkah Anda melihat kisah Musa -'alaihiṣṣalātu wassalām- ketika orang-orang dikumpulkan untuk menyaksikannya di pagi hari raya dan Firaun mengatur tipu dayanya lalu datang dengan semua kebesaran dan kesombongannya: Musa berkata kepada mereka, “Celakalah kamu! Janganlah kamu mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, nanti Dia membinasakan kamu dengan azab. Sungguh rugi orang yang mengada-adakan kebohongan." (QS. Ṭāhā: 61) Apa yang dilahirkan oleh kata-kata ini? Kata-kata ini menceraiberaikan persatuan mereka seketika: "Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka." (QS. Ṭāhā: 62)

Pertikaian dan bantah-bantahan adalah sebab terbesar timbulnya kegagalan dan hilangnya kekuatan. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang." (QS. Al-Anfāl: 46)

Sebab itu, keikhlasan seorang dai dalam dakwahnya adalah perkara penting demi keberhasilannya dan untuk mendapatkan pahala dalam dakwahnya. Adapun kalau dia meniatkan ria kepada manusia atau menginginkan sebagian dunia berupa harta, kedudukan, atau jabatan, maka amalnya akan batal serta manfaatnya minim. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Hūd: 15-16)

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Orang yang paling pertama diberikan putusan pada hari Kiamat ialah -kemudian dia menyebutkan hadis tersebut, di antaranya- seorang laki-laki yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur`ān. Laki-laki itu dihadirkan kepada Allah, lalu Allah mengenalkan kepadanya nikmat-Nya, maka ia pun mengenalnya. Allah bertanya, 'Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?' Ia menjawab, 'Aku mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur`ān karena-Mu.' Allah berfirman, 'Engkau berdusta. Engkau belajar agar disebut seorang yang berilmu dan engkau membaca Al-Qur`ān agar dikatakan qari. Sungguh semua itu telah dikatakan.' Lalu ia diperintahkan untuk dibawa, maka ia diseret di atas mukanya sampai dilemparkan ke neraka." (HR. Muslim)

2- Meyakini bahwa dengan dakwahnya dia menjadi pewaris Nabi Muhammad ﷺ dalam menyebarkan sunnah dan petunjuk beliau.

Hal itu hendaknya memotivasinya untuk mengikuti beliau dalam berdakwah kepada Allah -Ta'ālā- serta bersabar di dalamnya dan mengharapkan pahalanya. serta agar termasuk ke dalam golongan yang disebutkan pada firman Allah -Ta'ālā-: "Katakanlah (Muhammad), 'Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah." (QS. Yūsuf: 108)

3- Teguh dalam jalan dakwahnya, tidak terombang-ambing oleh tekanan dan tidak hancur oleh pesimisme.

Hal itu karena ia yakin dengan kebenaran jalan dakwahnya dan optimis dengan hasilnya. Dia yakin akan meraih dua kebaikan disertai rasa optimistis mendapatkan tambahan. Dia yakin dengan penjelasan kebenaran dan adanya balasan akhirat dengan mengikhlaskan niat dan memperbaiki amal, serta optimis pada kebaikan umat melalui dakwahnya, walaupun setelah sekian waktu.

4- Sabar dan menguatkan kesabaran.

Ia hendaknya bersabar menghadapi gangguan yang didapatkannya karena siapa pun yang menjalankan tugas ini pasti akan mengalami gangguan dari orang-orang jahat yang menyelisihi dakwahnya, baik gangguan yang bersifat verbal maupun gangguan fisik, baik gangguan kepada dirinya maupun kepada dakwahnya. Ambillah pelajaran dari apa yang dialami oleh Nabi ﷺ dan para rasul yang mulia sebelumnya: "Sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (ketetapan) Allah." (QS. Al-An'ām: 34) Sabar adalah derajat tinggi yang tidak akan diraih kecuali dengan sebab-sebab yang mengharuskan seorang hamba menelan pahitnya kesabaran serta memikul kesulitannya: "Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)

Hendaklah dia menguatkan kesabarannya dalam menjelaskan kebenaran, mendakwahkannya, dan mendiskusikannya, serta membekali diri dengan nafas panjang dan pandangan jauh supaya ia meraih tujuan yang diinginkannya.

5- Menempuh cara hikmah dalam berdakwah.

Dia harus menggunakan metode yang sesuai dengan kondisi dan tempat berdakwah karena manusia berbeda-beda dalam pemahaman dan pengetahuannya, tidak sama dalam kelembutan maupun kekasarannya, serta tidak sama dalam sikap tunduk kepada kebenaran maupun angkuh kepadanya. Hendaklah dia menggunakan metode dakwah yang sesuai untuk setiap orang dengan memilih yang lebih dekat kepada penerimaan dan pengamalannya. Hal ini merupakan bagian dari berdakwah kepada Allah dengan hikmah.

Hendaklah dia bisa bersikap fleksibel dan bersabar. Dia tidak boleh lari dari seseorang yang dia pandang menyimpang lalu meninggalkannya di tempat penyimpangannya untuk setan. Tetapi, dia harus membangun komunikasi dengannya, lalu menjelaskan kebenaran kepadanya serta memotivasinya. Betapa banyak orang yang dianggap jauh kemungkinan untuk mendapat petunjuk, namun ternyata Allah ﷻ memberinya hidayah!

Di antara sikap hikmah adalah tidak berkonfrontasi dengan orang yang didakwahi dengan mengingkari kebatilan yang dilakukannya jika hal itu akan menjadikannya tambah lari dari kebenaran serta larut dalam kemungkaran. Allah telah mengarahkan kepada hal itu dalam firman-Nya: "Janganlah kamu memaki sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka." (QS. Al-An'ām: 108) Hanya saja, dia hendaknya menyampaikan kebenaran kepadanya dan membuatnya menyukai kebenaran itu sehingga bisa mengakar dalam hatinya, supaya dia mudah meninggalkan kebiasaan batilnya; karena meninggalkan sesuatu yang telah menjadi kebiasaan adalah sulit bagi jiwa, tidak mudah bagi seseorang untuk meninggalkannya kecuali dengan perjuangan besar. Lihatlah sifat hikmah Allah -Ta'ālā- dalam pengharaman khamar manakala hal itu telah mengakar pada masyarakat. Pengharamannya terbagi dalam beberapa tahapan setelah ditanyakan oleh orang-orang mukmin:

Tahap pertama:

Terkait jawaban untuk pertanyaan mereka: "Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, 'Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya.'" (QS. Al-Baqarah: 219) Allah tidak menyebutkan "sebuah manfaat", tetapi Allah menyebutkan "banyak manfaat"; supaya mencakup semua kegunaannya yang benar-benar ada, maupun yang dibayangkan. Semua manfaat itu kecil dibandingkan dengan dosa besar yang ada padanya. Ini adalah bentuk pengungkapan hakikat khamar.

Setiap orang yang merenungkannya akan tergerak untuk meninggalkannya sekalipun tidak diharamkan untuknya karena ia mengetahui bahwa dosanya lebih besar dari kegunaannya. Lebih dari itu, ungkapan itu mengandung isyarat terhadap pengharamannya: karena di antara kaidah syariat adalah bahwa sesuatu yang mudaratnya lebih dominan dibandingkan manfaatnya maka hukumnya haram. Sebab itu, jiwa akan berpikir bahwa ia akan diharamkan, maka ketika pengharaman itu datang, ia menemukan jiwa-jiwa yang telah siap untuk itu, sehingga ia mudah menerimanya.

Tahap kedua:

Larangan mendekati salat dalam keadaan mabuk: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu menyadari apa yang kamu ucapkan." (QS. An-Nisā`: 42) Dengan asumsi minimal, hal ini berisikan ajakan untuk menjauhinya pada lima waktu dalam sehari semalam, sehingga jiwa menjadi terlatih meninggalkannya di sebagian waktu, supaya ia mudah meninggalkannya secara total di kemudian waktu.

Tahapan ketiga:

Melarangnya di semua waktu dan keadaan, yaitu dalam firman Allah -Ta'ālā- di surah Al-Mā`idah yang merupakan surah yang terakhir turun: "Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung. Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat, maka tidakkah kamu mau berhenti?" (QS. Al-Mā`idah: 90-91) Maka para sahabat meninggalkannya dengan segala kemudahan setelah adanya pengantar-pengantar pengharamannya tersebut. Mahasuci Allah Yang Mahabijaksana dan Maha Penyayang!

Kabilah Tsaqīf berbaiat kepada Rasulullah ﷺ dengan syarat tidak diwajibkan berzakat dan berjihad, maka beliau menerima syarat itu dan bersabda, "Mereka akan membayar zakat dan berjihad." (HR. Abu Daud) Yang demikian itu karena jika iman telah masuk dalam hati, maka ia akan melazimkan orang yang beriman untuk menjalankan semua syariat Islam. Bila imannya semakin kuat, maka ia akan melaksanakan kewajiban-kewajiban iman dan penyempurnanya dengan lebih sempurna.

6- Seorang dai harus memiliki ilmu tentang syariat Allah -Ta'ālā- yang dia dakwahkan, serta memiliki ilmu tentang kondisi kejiwaan, keilmuan, dan pengamalan orang yang didakwahi.

Dia harus memiliki ilmu tentang syariat Allah agar dia berdakwah kepada Allah berdasarkan ilmu dan dalil, sehingga dia tidak tersesat atau menyesatkan, dan agar dia termasuk golongan yang disebutkan dalam firman Allah -Ta'ālā-: "Katakanlah (Muhammad), 'Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah." (QS. Yūsuf: 108) Ia juga harus mampu membela dakwahnya dan meyakinkan lawannya. Betapa banyak dai yang tidak memiliki ilmu, lalu banyak kemudaratan yang dialaminya maupun yang dialami oleh dakwahnya karena dia kalah di depan kebatilan lantaran minimnya ilmu yang ia miliki tentang kebenaran! Oleh karena itu, tidak boleh membiarkan orang-orang jahil seperti mereka untuk berdakwah, sebagaimana tidak boleh membiarkan anak-anak untuk berjihad.

Seorang dai harus memiliki ilmu tentang kondisi kejiwaan, pengetahuan, dan pengamalan orang yang didakwahi adalah agar dia siap menghadapi mereka serta dalam berdakwah dia menempuh cara yang sesuai dengan keadaan mereka. Oleh karena itu, ketika Nabi ﷺ mengutus Mu'āż ke Yaman, beliau berkata kepadanya, "Sungguh, engkau akan menemui orang-orang Ahli Kitab." Beliau mengabarinya tentang keadaan orang-orang yang akan ia dakwahi untuk dua tujuan yang telah disebutkan. Seorang dai yang berdakwah tanpa mengetahui keadaan orang-orang yang dia dakwahi, dapat mengakibatkan tujuannya tidak tercapai dan bisa jadi dia akan memulai dengan sesuatu yang tidak penting atau bukan paling penting lalu meninggalkan yang lebih utama.

7- Seorang dai harus memiliki agama dan akhlak yang tinggi;

Tujuannya agar dia bisa menjadi teladan yang baik dalam masalah ilmu dan amal. Dia hendaknya melaksanakan ketaatan ataupun akhlak mulia yang dia perintahkan dan menjauhi kemaksiatan atau akhlak hina yang dia larang. Bukan sikap beragama yang baik bila dia memerintahkan sesuatu lalu dia tidak mengerjakannya atau melarang sesuatu lalu dia jatuh di dalamnya. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Aṣ-Ṣaff: 2-3)

Dalam aṣ-Ṣaḥīḥain dan lainnya, Usāmah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Seseorang akan didatangkan pada hari Kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka sehingga usus-ususnya terburai di neraka dan dia membawanya berputar seperti keledai yang berputar pada penggilingannya, lantas penghuni neraka mengerumuninya dan berkata, 'Wahai Fulan! Ada apa denganmu? Bukankah engkau dulu mengajak kami kepada kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran?!' Dia menjawab, 'Dulu saya mengajak kalian kepada kebaikan namun saya tidak melakukannya dan saya melarang kalian dari kemungkaran namun saya melanggarnya.'"

Tindakannya menyelisihi apa yang dia perintahkan serta jatuh pada apa yang dia larang merupakan perbuatan yang menyelisihi agama, sekaligus juga menyelisihi akal. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu berakal?" (QS. Al-Baqarah: 44)

Yang demikian itu karena ajakannya kepada sesuatu tidak terlepas dari dua kondisi: (1) Dakwahnya didasari oleh keyakinan terhadap manfaat dan maslahatnya; maka perbuatannya menyelisihi hal itu akan jatuh dalam suatu mudarat jika merupakan sesuatu yang dia larang, atau menelantarkan suatu maslahat jika merupakan sesuatu yang dia perintahkan, dan keduanya bertentangan dengan akal; karena orang yang berakal tidak akan melewatkan maslahat dari dirinya serta tidak akan menjerumuskannya ke dalam mudarat. (2) Dakwahnya kepada hal itu tidak didasari oleh keyakinan terhadap manfaat dan maslahatnya, maka ini lebih besar kerugiannya karena dia telah melelahkan dirinya pada sesuatu yang tidak dia pandang bermanfaat serta memaksakan diri memakai pakaian yang bukan haknya.

Jika dia berdakwah karena ria, maka dia telah menipu dan memperdaya dirinya sendiri karena pahala dakwahnya akan hilang dan keadaannya akan tersingkap. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Adapun buih, maka akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya. Tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi." (QS. Ar-Ra'd: 17) Seorang penyair berkata,

Pakaian ria memperlihatkan apa yang ada di dalamnya,

bila kau kenakan, sebenarnya engkau tak berbusana.

Seorang dai harus menyadari bahwa tindakannya melalaikan ketaatan kepada Allah tidak sama dengan tindakan lalai dari orang selainnya, karena dia panutan bagi orang banyak; bila mereka melihatnya lalai, mereka akan sama seperti dia atau bahkan lebih lalai. Oleh karena itu, sesuatu yang sunah bisa menjadi wajib bagi seorang dai, jika tegaknya sunah itu tergantung pada pengamalan dirinya.

Demikian juga keberanian seorang dai melakukan kemaksiatan kepada Allah tidak sama seperti keberanian orang lainnya, karena orang banyak akan mengikutinya dalam hal itu sehingga akan berdampak pada merebaknya kemaksiatan di tengah-tengah umat Islam serta akan dianggap biasa. Maka maksiat yang tidak biasa menjadi biasa disebabkan oleh keberanian dai itu dalam melakukannya. Oleh karena itu, sesuatu yang makruh bisa menjadi haram bagi seorang dai, jika tindakannya mengerjakan perbuatan itu akan membuat orang lain meyakini hukumnya boleh. Sebab itu, di pundak seorang dai terdapat amanah yang berat dan tanggung jawab yang besar. Kita memohon kepada Allah semoga kita semua ditolong untuk melaksanakannya menurut yang diridai-Nya, sungguh Dia Mahadermawan dan Maha Pemurah.

8- Seorang dai harus berwibawa dalam penampilan, perkataan, dan perbuatannya tanpa sikap keras dan kaku.

Hal itu bertujuan agar dia pantas untuk dijunjung, tidak dimanfaatkan oleh para pelaku kebatilan, dan tidak dipandang remeh oleh orang-orang yang ikhlas. Ia serius pada tempat serius dan bercanda pada tempat bercanda, serta berbicara jika berbicara itu yang baik, dan memilih diam jika berbicara tidak mengandung kebaikan.

Di samping sikap wibawa, dia harus lapang dada, bermuka riang, tawaduk, serta bersahabat dengan orang banyak dan mereka pun nyaman dengannya, supaya mereka tidak lari darinya. Betapa sering sikap lapang dada, muka bersahabat, dan tawaduk menjadikan banyak manusia berduyun-duyun masuk ke dalam agama Allah!

PASAL KELIMA

PENYEBAB KEBERHASILAN DAKWAH

Kesuksesan dakwah adalah tujuan yang berusaha dikejar oleh para dai. Kalaulah bukan karena optimistis mereka tentang kesuksesan dakwah, kekuatan mereka pasti ambruk dan dakwah mereka akan berhenti.

Setiap dai harus mengenal penyebab kesuksesan dakwahnya untuk dia upayakan supaya bisa sampai kepada hasil yang memuaskan. Di antara sebab-sebab kesuksesan dakwah ialah:

1- Mengaplikasikan apa yang telah disebutkan pada pasal kedua dan keempat.

2- Dakwah hendaknya mendapatkan dukungan dari pemerintah di sebuah negara.

Alasannya adalah karena dakwah dan kekuasaan merupakan dua fondasi perbaikan umat. Bila keduanya bertemu dan bersatu, tujuan dan target akan dapat terwujud, dengan izin Allah. Namun jika keduanya bertolak belakang, maka semua upaya akan sirna atau lemah sampai ke level yang besar. Oleh karena itu, setiap negara yang menginginkan kejayaan sejati nan kokoh serta kekuasaan di muka bumi wajib untuk mengambil agama Allah ﷻ serta berjalan di atas petunjuk Rasul-Nya ﷺ dengan mencukupkan diri dengan hal itu dari semua panduan dan perundang-undangan yang tidak sejalan dengan agama Allah -Ta'ālā- dan petunjuk Rasulullah ﷺ. Kalimat Allah itulah yang paling tinggi dan agama-Nyalah yang menang; siapa yang berpegang teguh pada kalimat Allah dan agama-Nya, maka ia akan meraih kejayaan dan kemenangan atas semua pihak yang menyelisihinya. "(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai." (QS. Ar-Rūm: 6-7)

Setiap negara yang menginginkan kejayaan sejati nan kokoh dan kekuasaan di atas muka bumi wajib menolong dakwah kepada Allah ﷻ dengan segala yang ia mampu di antara sebab-sebab kemenangan yang bersifat ucapan maupun tindakan, serta anjuran dan peringatan. Allah kadang mencegah lewat tangan penguasa apa yang tidak bisa dicegah lewat Al-Qur`ān. Ketika iman lemah dalam hati manusia, maka cegahan penguasa lebih mampu menahan mereka dari kemaksiatan dan lebih meluruskan mereka dalam ketaatan hingga mereka lurus dan baik.

Demikian halnya para dai yang berdakwah kepada Allah di atas ilmu, mereka wajib menjalin hubungan dengan pemerintah dan mendorong mereka untuk menjalankan kebenaran. Para dai hendaknya memberikan penjelasan kepada mereka tentang buah menjalankan kebenaran berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, juga mengingatkan mereka dari menyelisihi hal itu, dan penjelasan kepada mereka tentang dampak menyelisihi kebenaran berupa kesudahan yang buruk dan kesengsaraan di dunia dan akhirat, serta mendorong mereka untuk membela dakwah kepada Allah -Ta'ālā- dengan semua yang mereka mampu lewat berbagai dukungan. Juga mengingatkan mereka dari meninggalkannya dan melakukan sesuatu yang melawan dan menentangnya.

3- Mendapatkan masyarakat yang mau menerima dakwah dan menjadi lahan subur baginya. Masyarakat yang didakwahi tersebut telah siap untuk menerimanya, tidak mendapatkan penghalang dan pengalih yang menghalangi mereka untuk menerimanya. Pada umumnya, hal ini terdapat dalam masyarakat yang telah mengetahui dampak dari kebatilan mereka dan sedang menanti orang yang akan menyelamatkan mereka dari hal itu.

Lihatlah apa yang ditemukan oleh dakwah Nabi ﷺ berupa tempat dan momen yang tepat saat terhentinya pengutusan para rasul dan jalan hidayah gelap gulita, sementara masyarakat menanti cahaya kerasulan dan penghilang dahaganya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memandang penduduk bumi, maka Allah murka kepada mereka, baik bangsa Arab maupun non-Arab, kecuali sisa-sisa Ahli Kitab. Sebab itu, pengutusan Nabi ﷺ ibarat hujan yang turun di tanah yang kering kerontang, lalu tanah itu mengambil dan mengisapnya. Permisalan paling nyata untuk hal itu ialah apa yang terjadi antara kabilah Aus dan Khazraj dalam perang Bu'āṡ lima tahun sebelum hijrah. Di dalamnya, banyak orang terbunuh dari kedua kabilah tersebut, bahkan termasuk tokoh-tokoh mereka, sehingga mereka sangat membutuhkan sesuatu yang dapat menyatukan dan mendamaikan mereka. Dalam Ṣaḥīḥ Bukhari, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Perang Bu'āṡ adalah peristiwa yang dihadirkan oleh Allah -Ta'ālā- kepada Rasul-Nya ﷺ. Rasulullah ﷺ datang ke mereka sementara pemuka mereka telah berselisih dan masyarakat banyak dibunuh dan dilukai. Lalu Allah -Ta'ālā- menghadirkannya untuk Rasul-Nya ﷺ agar mereka masuk ke dalam Islam."

Ibnu Isḥāq menyebutkan bahwa ketika Nabi ﷺ berbicara dengan sebagian kaum Khazraj pada musim haji dan menawarkan Islam kepada mereka, mereka langsung menerimanya. Mereka berkata, "Kami meninggalkan kaum kami, dan tidak ada kaum yang memiliki permusuhan dan keburukan di antara sesama mereka seperti yang ada di tengah-tengah mereka (kaum kami). Semoga Allah menyatukan mereka dengan perantaramu."

Adapun jika dakwah itu dilakukan terhadap masyarakat yang menyongsong kebatilan, mabuk dalam candunya, terlena dengan kemewahannya, dan tertipu oleh fatamorgananya, maka kesuksesan dakwah di tengah mereka akan lambat karena arus dorongan kebatilan di tengah-tengah mereka kuat, seperti air yang tertahan bila penahannya hilang. Oleh karena itu, mereka membutuhkan kekuatan besar dalam dakwah yang mampu menghadapi kekuatan arus yang mereka itu tumbuh di atasnya, dan hendaklah dakwah itu memanfaatkan semua bentuk sarana dan pada semua tingkatan. Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.

4- Seorang dai harus memiliki sikap optimistis yang besar, jauh dari pesimistis terhadap kesuksesan dakwahnya; karena optimistis adalah pendorong kuat untuk konsisten dalam dakwah dan mengupayakan kenyuksesannya. Sebaliknya, pesimistis adalah sebab kegagalan dan kemunduran dalam dakwah. Oleh karena itu, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- membuka banyak pintu optimistis untuk Nabi-Nya. Seperti firman Allah -Ta'ālā-: "Tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin." (QS. Aż-Żāriyāt: 55) "Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama." (QS. Al-Fatḥ: 28) "Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah, sungguh, kesudahan yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa." (QS. Hūd: 49) Dan berbagai ayat lainnya. Lihatlah jiwa optimis Nabi ﷺ yang besar dan pandangan beliau yang jauh pada hari paling berat yang beliau dapatkan dari kaumnya, yaitu hari beliau pulang dari Taif saat mendakwahi mereka, tetapi mereka menolak dakwahnya dan memprovokasi orang-orang jahil mereka. Ketika beliau sampai di Qarn aṡ-ṡa'ālib, Jibril memanggilnya dan berkata, "Sungguh Allah telah mendengar perkataan kaummu serta penolakan mereka kepadamu, sungguh Allah telah mengutus Malaikat Gunung kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu terhadap mereka." Nabi ﷺ bersabda, "Aku dipanggil oleh Malaikat Gunung lalu mengucapkan salam kepadaku. Kemudian dia berkata, 'Wahai Muhammad! Terserah engkau. Bila engkau mau, aku akan ratakan pada mereka dua gunung itu.' Nabi ﷺ menjawab, "Tetapi aku berharap Allah akan mengeluarkan dari sulbi mereka anak keturunan yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun."

Optimistis adalah pendorong kuat untuk konsisten di atas dakwah, upaya menyukseskannya, dan berkelanjutan di atasnya.

Kami memohon kepada Allah -Ta'ālā- semoga menjadikan kita semua sebagai juru dakwah kepada kebaikan dan yang melarang keburukan. Semoga Allah memunculkan para pejuang kebaikan bagi urusan umat Islam, yaitu para penguasa yang membimbing kepada kebaikan dan para pemimpin yang saleh lagi melakukan perbaikan, yang menggunakan kebenaran dalam memberikan keputusan dan keadilan. Sungguh Dia Mahadermawan dan Maha Pemurah. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan alam semesta. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada nabi kita, Muhammad, beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya.

Ditulis pada tanggal 19-23 tahun 1397 H.