عربي - Arabic English Qafár af - Afar Afrikaans - Afrikanns Akan Shqip - Albanian አማርኛ - Amharic Հայերեն - Armenian অসমীয়া - Assamese Azərbaycanca - Azerbaijani Bamanankan - Bambara Bassa Bemba বাংলা - Bengali Bosanski - Bosnian Български - Bulgarian မြန်မာဘာသာ - Burmese Bisaya - Cebuano Cham Нохчий - Chechen chiCheŵa - Chewa 中文 - Chinese Адыгэбзэ - Circassian Hrvatski - Croatian Česky - Czech Dagbani Dansk - Danish فارسی دری - Dari Dendi ދިވެހި ބަސް - Dhivehi Nederlands - Dutch إستوني - Estonian Suomi - Finnish Français - French Fulfulde - Fula ქართული - Georgian Deutsch - German Ελληνικά - Greek ગુજરાતી - Gujrati Kreyòl ayisyen - Haitian Creole Hausa हिन्दी - Hindi Magyar - Hungarian Igbo Indonesia - Indonesian Italiano - Italian 日本語 - Japanese Jóola - Jola ಕನ್ನಡ - Kannada Қазақша - Kazakh ភាសាខ្មែរ - Khmer Kikuyu Ikinyarwanda - Kinyarwanda Ikirundi - Kirundi 한국어 - Korean كوردی سۆرانی - kurdish كوردي kurmancî - Kurmanji Kyrgyz ລາວ - Lao latviešu - Latvian Lingala lietuvių - Lithuanian Luganda Македонски - Macedonian Maguindanaon Malagasy - Malagasy Bahasa Melayu - Malay മലയാളം - Malayalam Mandinka मराठी - Marathi Mõõré - Moore नेपाली - Nepali أنكو - NKo Norwegian ଓଡ଼ିଆ - Odia oromoo - Oromo پښتو - Pashto فارسی - Persian Polski - Polish Portuguese ਪੰਜਾਬੀ - Punjabi Română - Romanian Русский - Russian Српски - Serbian Shona සිංහල - Sinhala Slovenščina - Slovenian Soomaaliga - Somali Soninke Sesotho - Sotho Español - Spanish Kiswahili - Swahili Svenska - Swedish Tagalog Тоҷикӣ - Tajik தமிழ் - Tamil తెలుగు - Telugu ไทย - Thai ትግረኛ - Tigrinya Türkçe - Turkish Ukrainian اردو - Urdu ئۇيغۇرچە - Uyghur Ўзбек - Uzbek Việt Nam - Vietnamese Wolof Yao Yorùbá - Yoruba Zarma زولو - Zulu
839 Hadis
Ensiklopedia Hadis Nabi
Kategori
Derajat hadis
Diriwayatkan dalam
Perawi
Tampilkan semua perawi (234)
"Siapa pun yang menemui Allah (wafat) dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, ia pasti masuk surga. Siapa saja yang menemui-Nya (wafat) dalam keadaan berbuat kesyirikan, ia pasti masuk neraka."
Sahih HR. Muslim
"Siapa yang mengucapkan: subḥānallāh wa biḥamdih (Mahasuci Allah dan aku memuji-Nya), maka akan ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga."
Sahih HR. Tirmizi
"Setiap kebaikan itu adalah sedekah."
Sahih HR. Bukhari dari riwayat Jābir, dan Muslim dari riwayat Ḥużaifah
"Janganlah kalian belajar ilmu untuk membanggakan diri di hadapan ulama untuk mendebat orang-orang bodoh, maupun meraih keunggulan dalam majelis. Siapa yang melakukan hal itu, maka balasannya ialah neraka, neraka."
Sahih HR. Ibnu Majah
"Aku diberi lima keistimewaan yang tidak diberikan kepada satu nabi pun sebelumku. Aku diberi kemenangan dengan rasa gentar musuh sejauh perjalanan satu bulan. Bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan alat bersuci; maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu salat, hendaknya ia melaksanakan salat. Dihalalkan untukku harta rampasan perang, sementara hal itu tidak dihalalkan untuk siapa pun sebelumku. Aku juga diberi syafaat. Juga, biasanya nabi itu diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia."
Sahih Muttafaq 'alaih
Rasulullah ﷺ mengajari kami istikharah dalam semua urusan sebagaimana beliau mengajari kami surah Al-Qur`an. Beliau bersabda, "Apabila salah seorang kalian menginginkan suatu urusan, hendaklah ia salat dua rakaat di luar salat wajib, kemudian membaca doa: Allāhumma innī astakhīruka bi 'ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as`aluka min faḍlikal-'aẓīm, fa innaka taqdiru wa lā aqdiru, wa ta'lamu wa lā a'lamu, wa anta 'allāmul-guyūb. Allāhumma in kunta ta'lam anna hāżal-amra khairun lī fī dīnī wa ma'āsyī wa 'āqibati amrī (Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan luasnya ilmu-Mu supaya diberikan pilihan yang terbaik. Aku memohon kepada-Mu dengan besarnya kekuasaan-Mu agar diberikan kemampuan. Aku memohon kepada-Mu sebagian dari karunia-Mu yang besar. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedang aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha mengetahui yang gaib. Ya Allah! Jika Engkau mengetahui perkara ini lebih baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku) .. Atau beliau mengatakan: 'ājili amrī wa ājilihi (dalam urusanku sekarang maupun yang akan datang), fa-qdurhu lī, wa yassirhu lī, ṡumma bārik lī fīhi, wa in kunta ta'lam anna hāżal-amra syarrun lī fī dīnī wa ma'āsyī wa 'āqibati amrī (maka tetapkanlah ia untukku dan mudahkanlah, kemudian berkahilah ia untukku. Jika Engkau mengetahui perkara ini buruk bagi agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku) .. Atau beliau mengatakan: 'ājili amrī wa ājilihi (dalam urusanku sekarang maupun yang akan datang), fa-ṣrifhu 'annī, wa-ṣrifnī 'anhu, wa-qdur liyal-khaira haiṡu kāna, ṡumma raḍḍinī bihī (maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya, dan tetapkanlah untukku yang lebih baik di mana pun berada, kemudian buatlah aku rida kepadanya)." Perawi berkata, "Hendaklah dia menyebutkan kebutuhannya."
Sahih HR. Bukhari
Kami pernah sedang dalam suatu peperangan, lalu seorang Muhajirin memukul bokong seseorang dari Ansar. Merasa tersinggung, laki-laki Ansar itu memanggil kawannya dengan berkata, "Wahai orang-orang Ansar!" Laki-laki Muhajirin itu juga berkata, "Wahai orang-orang Muhajirin!" Lantas Allah memperdengarkan (kegaduhan mereka) kepada Rasul-Nya ﷺ. Beliau bertanya, "Ada apa ini?" Mereka menjawab, "Seorang Muhajirin memukul bokong seorang Ansar. Sehingga laki-laki Ansar itu menyeru kawannya, 'Wahai orang-orang Ansar!' Laki-laki Muhajirin itu juga berkata, 'Wahai orang-orang Muhajirin!'" Maka Nabi ﷺ bersabda, "Tinggalkan perbuatan itu, karena sangat keji." Tatkala Nabi ﷺ baru datang (ke Madinah), jumlah kaum Ansar lebih banyak, namun kemudian kaum Muhajirin menjadi lebih banyak. Maka Abdullah bin Ubay berkata, "Mereka telah melakukannya? Demi Allah, kalau kita telah kembali ke Madinah, maka orang yang paling mulia akan mengusir yang hina." Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Wahai Rasulullah, biarkan saya memukul leher si munafik itu." Nabi ﷺ bersabda, "Wahai Umar, biarkan dia. Jangan sampai orang-orang berkomentar bahwa Muhammad telah membunuh sahabat-sahabatnya."
Sahih Muttafaq 'alaih
"Jangan sekali-kali kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah."
Sahih HR. Muslim