Skip to content
839 Hadis

Ensiklopedia Hadis Nabi

Saring hasil

22 dari 839 kartu

Hapus filter

Derajat hadis

"Siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah iman yang paling lemah."
Sahih HR. Muslim
"Kalian semua adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Seorang amir yang mengurus banyak orang adalah pemimpin dan akan ditanya tentang mereka. Laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan akan ditanya tentang mereka. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak-anaknya dan akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin pada harta majikannya dan akan ditanya tentang itu. Jadi, setiap kalian adalah pemimpin, dan kalian semua bertanggung jawab atas yang dipimpin."
Sahih Muttafaq 'alaih
"Ada seorang raja yang hidup sebelum kalian. Ia memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah lanjut usia, ia berkata kepada raja, 'Aku telah tua, maka kirimlah seorang pemuda kepadaku agar aku dapat mengajarinya sihir.' Lalu raja mengirim seorang pemuda kepadanya. Dalam perjalanannya, pemuda tersebut melewati seorang pendeta. Ia pun menemuinya dan mendengar nasihat-nasihatnya, lalu ia pun menyukainya. Setiap kali hendak pergi ke tukang sihir, ia pasti melewati pendeta itu dan duduk mendengarkan ajarannya. Apabila ia datang terlambat, tukang sihir memukulnya. Ia pun mengeluhkan hal itu kepada pendeta. Pendeta berkata, 'Jika engkau takut dipukul tukang sihir, katakan, 'Keluargaku menahanku.' Namun, jika engkau takut pada keluargamu (karena terlambat pulang), katakan, 'Si tukang sihir menahanku.' Pada suatu hari, dalam keadaan seperti biasa, tiba-tiba ia menjumpai seekor binatang besar yang menghalangi jalan orang banyak. Ia berkata, 'Hari ini aku akan mengetahui siapa yang lebih utama, tukang sihir ataukah pendeta?' Lalu ia mengambil sebuah batu lalu berdoa, 'Ya Allah, jika ajaran pendeta lebih Engkau sukai daripada ajaran tukang sihir itu, maka bunuhlah binatang ini agar orang-orang bisa lewat.' Ia pun melemparnya dengan batu tersebut dan berhasil membunuhnya. Orang-orang pun bisa lewat. Kemudian ia mendatangi pendeta dan menceritakan peristiwa itu. Pendeta berkata, 'Wahai anakku, hari ini engkau lebih unggul daripadaku. Aku melihat engkau telah mencapai derajat yang tinggi dan engkau pasti akan diuji. Jika engkau diuji, maka jangan menyebutkan namaku.' Pemuda itu dikaruniai kemampuan mengobati orang yang buta dan belang, serta mengobati orang banyak dari berbagai penyakit lainnya. Salah seorang menteri raja yang buta mendengar kehebatan pemuda itu. Ia pun datang dengan membawa banyak hadiah seraya berkata, 'Semua yang ada di sini menjadi milikmu jika engkau bisa menyembuhkanku.' Pemuda itu berkata, 'Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Hanya Allah yang dapat menyembuhkan. Jika engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada-Nya, lalu Dia akan menyembuhkanmu.' Akhirnya Sang menteri beriman kepada Allah, dan Allah pun menyembuhkannya. Kemudian ia kembali ke istana dan duduk di sisi raja seperti biasanya. Raja berkata, 'Siapa yang menyembuhkan matamu?' Ia menjawab, 'Tuhanku.' Raja berkata, 'Engkau memiliki Tuhan selain aku?' Ia berkata, 'Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.' Lalu raja pun menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menyampaikan perihal pemuda itu. Pemuda itu kemudian dijemput dan dibawa menghadap raja. Raja berkata, 'Wahai anakku, ilmu sihirmu sungguh tinggi sampai bisa menyembuhkan orang buta dan belang, serta engkau bisa melakukan ini dan itu.' Namun pemuda itu menjawab, 'Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Hanya Allah yang dapat menyembuhkan.' Lalu raja menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menyebutkan nama sang pendeta. Pendeta pun didatangkan dan dikatakan kepadanya, 'Tinggalkan agamamu!' Namun ia menolak. Maka raja meminta gergaji, lalu diletakkan tepat di tengah kepalanya, kemudian dia dibelah hingga kedua sisi tubuhnya jatuh. Setelah itu, menteri raja didatangkan dan dikatakan kepadanya, 'Tinggalkan agamamu!' Ia pun menolak. Maka raja meminta gergaji lalu diletakkan tepat di tengah kepalanya sampai ia terbelah dua hingga kedua sisi tubuhnya jatuh. Selanjutnya pemuda itu didatangkan dan dikatakan padanya, 'Tinggalkan agamamu!' Ia pun menolak. Maka raja menyerahkannya ke sekelompok tentaranya dan berpesan, 'Bawalah ia ke gunung ini dan ini. Bawalah ia naik. Jika di puncaknya ia mau meninggalkan agamanya, lepaskan dia. Jika tidak, lemparkan dia dari atas.' Mereka pun membawanya naik hingga ke puncak gunung. Pemuda itu berdoa, 'Ya Allah, Selamatkan aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki.' Gunung itu pun mengguncang mereka hingga jatuh. Pemuda itu lalu datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, 'Apa yang terjadi dengan orang-orang yang membawamu?' Pemuda itu menjawab, 'Allah telah menyelamatkanku dari mereka.' Lalu raja menyerahkannya ke kelompok tentara yang lain. Raja berkata, 'Bawalah ia pergi ke tengah laut, lalu naikkan ia ke sebuah perahu. Jika ia mau meninggalkan agamanya, bawalah ia pulang. Namun jika ia tidak, lemparkan dia.' Mereka pun membawanya ke tengah laut. Pemuda itu berdoa, 'Ya Allah, selamatkan aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki.' Perahu itu akhirnya terbalik dan mereka semua tenggelam. Pemuda itu pun datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, 'Apa yang terjadi pada orang-orang yang membawamu?' Ia menjawab, 'Allah telah menyelamatkanku dari mereka.' Maka ia berkata kepada raja, 'Engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali jika engkau mau melakukan apa yang aku perintahkan.' Raja bertanya, 'Apa yang kau perintahkan?' Pemuda itu berkata, 'Engkau kumpulkan semua orang di satu tanah lapang. Lalu salib aku pada batang kayu. Lalu ambil satu anak panah dari tempat anak panahku, letakkan di tengah busur, lalu ucapkan, 'Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.' Kemudian bidiklah aku. Jika engkau melakukannya pasti engkau bisa membunuhku.' Raja pun mengumpulkan orang-orang di satu tanah lapang dan menyalib pemuda itu pada batang kayu. Kemudian ia mengambil satu anak panah dari tempat anak panahnya, selanjutnya meletakkan anak panah itu di tengah-tengah busur. Kemudian ia mengucapkan, 'Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.' Kemudian ia membidiknya hingga anak panah itu tepat mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya tepat di tempat panah menancap, lalu ia meninggal dunia. Orang-orang pun berkata, 'Kami beriman pada Tuhan pemuda itu. Kami beriman pada Tuhan pemuda itu. Kami beriman pada Tuhan pemuda itu.' Lalu Raja didatangi dan diberi laporan, 'Tahukah Anda apa yang Anda khawatirkan? Demi Allah, apa yang Anda khawatirkan telah terjadi. Orang-orang telah beriman.' Sebab itu, raja memerintahkan pembuatan parit di jalanan. Parit-parit pun dibuat dan api dinyalakan di dalamnya. Raja berkata, 'Siapa yang tidak mau meninggalkan agamanya, lemparkan dia ke dalamnya.' Atau dikatakan padanya, 'Masuklah.' Mereka pun melaksanakan perintah tersebut. Hingga datang giliran seorang wanita yang membawa bayinya. Ia mundur agar tidak terjatuh dalam parit api. Maka bayi itu berkata, 'Wahai ibuku, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.'"
Sahih HR. Muslim
"Kami berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk selalu mendengar dan taat dalam kesulitan dan kemudahan, ketika semangat dan malas (benci), serta dalam kondisi monopoli atas kami, agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya, dan agar kami mengucapkan yang benar di mana pun berada, tidak takut di jalan Allah terhadap celaan orang yang mencela."
Sahih Muttafaq 'alaih
"Agama itu nasihat (ketulusan)." Kami bertanya, "Kepada siapa?" Nabi menjawab, "Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan semua kaum muslimin pada umumnya."
Sahih HR. Muslim
"Setiap persendian manusia wajib mengeluarkan satu sedekah setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang yang sedang berselisih secara adil adalah sedekah, menolong seseorang pada kendaraannya dengan menaikkannya ke kendaraan atau membantu mengangkat barangnya ke atas kendaraannya itu adalah sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah berjalan untuk melaksanakan salat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah."
Sahih Muttafaq 'alaih
"Agama itu nasihat (ketulusan)." Kami bertanya, "Kepada siapa?" Nabi menjawab, "Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan semua kaum muslimin pada umumnya."
Sahih HR. Muslim
"Tidaklah seorang hamba dibebani amanah untuk memimpin rakyat lalu dia meninggal dalam keadaan berkhianat ‎kepada rakyatnya, melainkan Allah akan mengharamkan surga baginya.‎"
Sahih Muttafaq 'alaih