Skip to content
839 Hadis

Ensiklopedia Hadis Nabi

Saring hasil

16 dari 839 kartu

Hapus filter

Derajat hadis

"Menjelang Abu Ṭālib wafat, Rasulullah ﷺ datang menjenguknya dan beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mugīrah ada di sisinya. Beliau berkata, "Wahai pamanku! Ucapkanlah, 'Lā ilāha illallāh'; sebuah kalimat yang dapat aku gunakan untuk membelamu di sisi Allah." Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah berkata, "Apakah kamu membenci agama Abdul Muṭṭalib?" Rasulullah ﷺ terus mengajaknya mengucapkan itu, dan kedua orang tersebut juga mengulangi kata itu kepadanya. Hingga Abu Ṭālib berkata di akhir ucapannya kepada mereka, "Tetap di atas agama Abdul Muṭṭalib." Dia enggan mengucapkan "lā ilāha illallāh". Rasulullah ﷺ bersabda, "Demi Allah, sungguh aku akan memohon ampunan untukmu selama aku tidak dilarang memintanya untukmu." Maka Allah menurunkan, "Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik." [QS. At-Taubah: 113] Allah juga menurunkan ayat tentang Abu Ṭālib, yaitu Allah berfirman kepada Rasulullah ﷺ, "Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki." [QS. Al-Qaṣaṣ: 56]."
Sahih Muttafaq 'alaih
"Setiap persendian manusia wajib bersedekah setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang (yang sedang berselisih) merupakan sedekah, menolong seseorang pada kendaraannya, yaitu menaikkannya ke atas kendaraan atau membantunya mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya itu sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah berjalan untuk melaksanakan salat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah."
Sahih HR. Bukhari dan Muslim
Nabi ﷺ mengutus sekompi pasukan dan mengangkat seorang lelaki Ansar sebagai komandan mereka, dan beliau menyuruh mereka agar taat kepadanya. Komandan tersebut marah, lantas ia bertanya kepada mereka, "Bukankah Nabi ﷺ telah memerintahkan kalian supaya taat kepadaku?" Mereka menjawab, "Ya, tentu." Kemudian dia berkata, "Kumpulkan kayu bakar." Mereka pun mengumpulkannya. Lalu ia berkata, "Nyalakan kayunya dengan api." Mereka pun mematuhinya. Kemudian ia berkata, "Masuklah kalian ke dalamnya." Mereka hampir saja masuk, tetapi mereka saling berpegangan, seraya berkata, "Kita melarikan diri menuju Nabi ﷺ adalah untuk menghindar dari api." Mereka masih menahan diri sampai akhirnya api pun padam dan kemarahan komandam reda. Peristiwa tersebut terdengar oleh Nabi ﷺ, lantas beliau bersabda, "Jika mereka memasukinya, niscaya mereka tidak akan keluar sampai hari kiamat. Ketaatan itu hanya dalam hal yang makruf (benar)."
Sahih Muttafaq 'alaih
"Perumpamaan orang yang tegak di atas batasan-batasan Allah dan yang terjerumus di dalamnya seperti suatu kaum yang berundi di atas sebuah kapal, lalu sebagian mendapatkan tingkat atas dan sebagian lainnya mendapatkan tingkat bawah. Orang-orang yang di lantai bawah jika mengambil air, mereka melewati orang-orang yang di atas mereka. Mereka berkata, 'Seandainya kita membuat lubang kecil di bagian kita ini hingga kita tidak perlu mengganggu orang-orang di atas kita.' Jika orang-orang yang di atas membiarkan apa yang mereka inginkan, niscaya mereka semua binasa. Namun, jika mereka mencegahnya, niscaya mereka selamat dan semuanya selamat."
Sahih HR. Bukhari
"Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah riwayat dari Bani Israil, tidak apa-apa. Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka."
Sahih HR. Bukhari
"Akan ada (penguasa) yang mementingkan diri sendiri serta perkara-perkara yang kalian ingkari." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau menjawab, "Tunaikanlah hak yang menjadi kewajiban kalian dan mohonlah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian."
Sahih Muttafaq 'alaih
"Ketika kami sedang duduk bersama Nabi ﷺ di masjid, datang seorang laki-laki dengan mengendarai unta lalu menderumkannya di masjid, kemudian mengikatnya lantas ia berkata, "Siapa di antara kalian yang bernama Muhammad?" Saat itu Nabi ﷺ duduk bersandar di tengah para sahabat. Kami berkata, "Ini, laki-laki putih yang bersandar." Laki-laki itu berkata, "Wahai anak Abdul Muṭṭalib!" Nabi ﷺ bersabda, "Silakan, aku mendengarmu." Laki-laki itu berkata kepada Nabi ﷺ, "Sungguh aku akan bertanya kepadamu, suatu pertanyaan yang terasa berat bagimu, maka janganlah kaumarah kepadaku." Nabi ﷺ bersabda, "Bertanyalah semaumu." Laki-laki itu berkata, "Aku bertanya dengan menyebut Tuhanmu yang juga merupakan Tuhan orang-orang sebelummu, apakah Allah mengutusmu kepada semua manusia?" Nabi ﷺ bersabda, "Demi Allah, iya." Laki-laki itu kembali bertanya, "Aku bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah Allah yang memerintahkanmu agar kami menunaikan salat lima waktu dalam sehari semalam?" Beliau menjawab, "Demi Allah, iya." Laki-laki itu kembali bertanya, "Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, apakah Allah yang memerintahkanmu agar kami berpuasa satu bulan penuh dalam setahun?" Beliau menjawab, "Demi Allah, iya." Laki-laki itu kembali bertanya, "Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, apakah Allah yang memerintahkanmu untuk mengambil zakat dari orang-orang yang kaya di antara kami lalu memberikannya kepada orang-orang miskin di antara kami?", Nabi ﷺ berkata, "Demi Allah, iya." Laki-laki itu berkata, "Aku beriman kepada apa yang kaubawa, aku adalah utusan dari kaumku. Aku adalah Ḍimām bin Ṡa'labah dari Bani Sa'ad bin Bakar."
Sahih Muttafaq 'alaih
"Sesungguhnya agama ini mudah. Tidaklah seseorang berlebih-lebihan dalam urusan agama melainkan dia akan kalah. Sebab itu, hendaklah kalian melakukan yang seharusnya atau berusahalah mendekati, serta bergembiralah. Manfaatkanlah waktu pagi, sore, dan sebagian malam hari (untuk melakukan ketaatan)."
Sahih HR. Bukhari